Indigo

Indigo
Chapter 83 | Terror In Dreams Is Far More Dangerous


__ADS_3

Usai dirawat dalam rumah sakit selama 1 minggu, akhirnya Reyhan diperbolehkan pulang. Dan sekarang ini, lelaki tersebut tengah bersandar di kepala ranjang kasur dengan tubuh yang sangat lemas. Baru beberapa hari sembuh dari Demamnya, dirinya kembali merasakan sakit yang sama. Sungguh meresahkan.


“Uhuk uhuk uhuk! Agh, sial! Batuk jadi kering tenggorokan gue!” rutuk jengkel Reyhan sembari memegang leher bagian tenggorokannya yang terasa kering.


Kepala dan wajahnya yang pucat ia tolehkan ke meja nakas yang terdapat beberapa tumpukan buku novelnya begitupun ponsel miliknya, namun Reyhan tak melihat gelas air putih di situ. Rasa keringnya tenggorokannya, membuat Reyhan berinisiatif untuk turun dari ranjang tidurnya dan melangkah keluar untuk meminum air putih di ruang dapur.


Reyhan diam sejenak di pinggir kasur yang sementara kedua kakinya sudah menginjak lantai. Ia tak mungkin langsung berdiri karena kalau dirinya cepat segera berdiri bisa menyebabkan Reyhan limbung. Reyhan menghembuskan napasnya, sebenarnya dirinya tidak mampu untuk berdiri bahkan berjalan keluar sana, namun ia tidak ingin merepotkan Farhan atau Jihan apalagi di tengah malam ini, walaupun kedua orangtuanya pernah bilang kalau butuh apa-apa harus menghubungi di salah satu antara mereka. Ya, tidak akan Reyhan lakukan selagi lelaki itu bisa melakukannya sendiri.


Perlahan Reyhan bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar dengan gontai, tangan kanannya menyentuh kepalanya bersama mendesis. Tangan kiri Reyhan mengulur menggenggam gagang pintu untuk dirinya buka.


Cklek !


Nampaknya suasana lumayan sunyi meskipun di bawah tangga sana terdapat suara televisi yang masih menyala tepat di ruang keluarga. Dari luar Reyhan menarik gagang pintunya lalu ia tutup.


Klap !


Dingin mulai menusuk di kulit tubuh pemuda tersebut yang tengah sakit Demam, bahkan dirinya sampai mendekap tubuhnya sendiri untuk mengatasi kedinginannya. Mungkin seharusnya Reyhan mengenakan baju lengan panjang, bukan lengan pendek.


Sesampainya di tangga, salah satu tangan Reyhan memegang erat railing tangga agar ia tak terjatuh. Kepala mulai terasa keliyengan dan saat Reyhan melihat ke bawah undakan anak tangga, ia langsung cepat-cepat menarik wajahnya semula.


“Jangan lihat ke bawah, jangan lihat ke bawah. Bisa jadi nanti gue jatuh dari tangga buat kedua kalinya,” gumam lirih lemah pemuda itu.


Tatapan dan kepala Reyhan menghadap depan dan salah satu kakinya mulai turun menginjak satu undakan tangga. “Eh, tapi kalau cara gue turunnya begini ... nanti gue kesandung terus gelinding, lagi! Ah bodo amat lah, toh selagi gue hati-hati pasti aman-aman aja. Ribet amat idup lo, Rey.”


Reyhan turun menginjak seluruh undakan anak tangga dengan hati-hati tanpa melihat ke bawah, dikarenakan kalau iya, mestinya ia langsung seketika jatuh di dalam keadaan kepalanya sakit serta ditambah keliyengan seperti orang tengah mabuk.


Sesampainya tiba menginjak lantai bawah tangga yang tertuju ruang dapur, Reyhan melanjutkan langkahnya menuju ke ruang tersebut. Meskipun pusing berputar-putar membuat Reyhan kesulitan untuk meneruskan jalannya. Lelaki itu mengambil satu gelas untuk dirinya isi air putih melalui dispenser sebelah kulkas.


Reyhan menekan tombol lingkaran kecil warna biru untuk mengeluarkan air putih biasa yang sementara di kiri adalah tombol merah khusus air panas. Usai Reyhan mengisi gelas itu dengan air putih, perlahan ia meneguk air putihnya untuk melegakan tenggorokannya yang sudah kering hingga air minum miliknya tandas.


Saat Reyhan memutar tubuhnya ke belakang untuk kembali usai meletakkan gelasnya, secara tidak sengaja Reyhan menyenggol gelas lainnya yang ada di atas cucian piring sampai jatuh ke lantai.


PYARR !!


“Aduh dasar teledor! Dasar teledor!” gerutu Reyhan dengan menepuk kening panasnya beberapa kali.


Farhan dan Jihan yang sedang menonton film di televisi bersama di ruang keluarga, seketika menolehkan kepalanya kompak ke arah ruang dapur dengan tampang raut wajah terkejut. Di sisi lain, Reyhan menatap nanar pecahan gelas tersebut yang berserakan di lantai dan setengah hatinya ia juga takut kalau terkena marah oleh sang ibu apalagi sanga ayahnya.


“Nak?!” panggil Jihan seraya mendekatinya dengan langkah hati-hati pada serpihan kaca gelas tersebut.


Reyhan sontak kaget dan menatap Jihan. “M-maaf, Ma! Reyhan bener-bener nggak sengaja kesenggol tadi.”


Farhan menatap intens pada Reyhan yang masih berdiri, matanya sampai menyipit karena sedikit curiga dengan anak putranya itu. “Ini Reyhan, kan? Bukan hantu yang menyamar jadi anak saya?”


Reyhan melongo pada pertanyaan Farhan yang dari ekspresi wajahnya menatap dirinya dengan serius. “Papa habis makan rumput kambing, ya? Pertanyaannya kok aneh, sih? Ini anakmu lah, masa anaknya setan. Lagian Reyhan lahir dari kandungannya siapa? Kuyang?”


“Eh beneran anaknya Papa dong, hehehe ... habisnya kamu datang di dapur pas banget jam dua belas malem, kan Papa jadi trauma yang dulu.”


Reyhan tersenyum hambar pada muka pucat-nya. “Oh, yang itu. Ini anakmu beneran kok, kalau Papa nggak percaya, coba aja deh Papa bacain ayat kursi buat Reyhan.”


“Eh gak perlu! Papa percaya kok, percaya!” Jawaban spontan dari Farhan membuat Reyhan terkekeh walau anaknya tengah sedang sakit. Namun detik kemudian Reyhan yang hampir limbung ke samping langsung tangkas di tangkap oleh pria paruh baya itu dari belakang.


“Haduh! Ngapain kamu turun dari kamar?! Hampir aja kamu jatuh!” protes Farhan kemudian.


“Reyhan tuh haus banget, Pa ...”


“Kenapa nggak bilang Papa atau mama lewat HP? Kan bisa mama apa Papa yang bantuin kamu.” Farhan menggiring pelan tubuh lemas anaknya ke kursi ruang makan yang ada di belakangnya beliau. Lalu Farhan mendudukkan si Reyhan di kursi yang pandangan putranya sudah mulai sayu.


“Reyhan nggak mau ngerepotin kalian berdua apalagi malem menjelang dini begini. Lagipula Reyhan bisa ngelakuin sendiri, kok. Anak kalian juga punya kaki, kalau sekiranya bisa ngapain minta tolong?”


Farhan menatap anaknya sendu sedangkan Jihan sibuk memunguti kepingan-kepingan kaca gelas dan beliau masukkan ke dalam kantong plastik hitam ukuran kecil tepat di sampingnya. “Nak, mendingan kamu balik ke kamar saja, ya? Harusnya kamu istirahat total jangan malah banyak jalan. Pecahan ini biar Mama yang urusin.”


Reyhan mengangguk lemah. “Iya, Ma. Maafin Reyhan ya, udah gangguin santai kalian berdua. Reyhan balik tidur ...”


“Iya, Sayang.” Jihan meresponnya dengan senyuman tetapi bersama muka laranya.


Reyhan beranjak dari kursi dan meninggalkan kedua orangtuanya di ruang dapur. “Rey, mau Papa- eh lah Reyhan!!”


Farhan berlari saat melihat putranya jatuh di lantai sementara Jihan langsung menegakkan badannya di posisi keadaannya sedang jongkok. Sang ayah Reyhan menyentuh punggung anaknya yang putranya telah tak sanggup untuk bangkit berdiri.


“Rey, kamu baik-baik saja, kan?!“ Tak menunggu jawaban suara dari Reyhan, Farhan langsung mengangkat tangan kanan sang anak. “Ayo sini Papa bantu sekalian Papa antar ke kamar, oke?”


Dengan hati-hati Farhan kemudian mengangkat badan milik Reyhan lalu setelah berhasil berdiri, pria paruh baya tersebut merangkulkan tangan anaknya di tengkuknya untuk menuntunnya naik tangga dan menuju ke dalam kamar hingga sampai di ranjang kasurnya.

__ADS_1


Jihan yang memandanginya hingga tidak tega dan sedih melihat Reyhan yang kembali lemah seperti dulu. Padahal sebelumnya anaknya tersebut nampak terlihat sehat-sehat saja tanpa ada keluhan sakit yang Reyhan rasakan. Jihan rencana setelah menuntaskan tugasnya ini, pergi ke kamar anaknya untuk memastikan kondisinya.


Harapnya beliau, keadaan Reyhan tidak memburuk.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Hari Sabtu - Pukul 10.00


Di dalam kamar tepatnya di atas kasur, Reyhan masih terlelap dalam tidurnya meskipun pagi buta tadi dirinya memaksakan untuk mandi dan mengenakan pakaian lengan panjang. Meskipun cuaca terlihat sehat dan panas, tak juga bagi Reyhan sendiri, ia malah justru menurutnya dingin. Suhu tubuhnya jika diukur kembali masih sama dan belum kunjung turun. Satu masalah mengapa dirinya bisa Demam, akibat menggabungkan dua insiden tersebut melalui pikiran benak otaknya dengan maksimal penuh.


Di dalam kamar, Reyhan ditemani oleh ketiga sahabatnya yang duduk di kasur miliknya. Keadaannya rupanya bertambah lemah hingga untuk berdiri pun rasanya mungkin tidak mampu alias menjadi keliyengan dan ingin tumbang.


“Dibilang nggak usah mikirin soal hal itu, malah ngeyel. Jadi demam lagi, kan. Keras kepala,” gumam Angga.


“Gak kayak kamu aja yang keras kepala,” sindir Freya bersama tatapan jahilnya dengan mulut nyengir.


“Eh?” Sontak saja Angga langsung menoleh ke arah sahabat kecilnya yang tiba-tiba celetuk.


Jova yang mendengarnya sampai terkekeh sambil menggeleng-geleng kepalanya, namun mata coklatnya fokus melihat layar ponselnya yang tertera banyak konten video nang ia scroll. Freya melihat sahabatnya yang asyik melihat konten di aplikasi online menghibur tersebut, menghela napasnya.


“Jova, dari tadi main TikTok mulu, deh. Nggak bosen, apa?” tanya Freya bersama kerutan kening.


“Mumpung masih di rumahnya Reyhan, loh Frey. Untung ae password WIFI-nya nggak itu cowok ganti-ganti,” jawab Jova santai.


“Ya ampun, kamu ini ke rumahnya Reyhan aslinya mau ikut jenguk bersama atau cuman numpang tethering, sih?”


“Tethering WiFI Reyhan sama jenguk dia, hehehe. Lagian emangnya ada yang larang kah main HP di kamarnya? Ini kan bukan ruang ICU yang dikasih peraturan nggak boleh mainan HP.”


Freya berakhir menepuk jidatnya. “Aduh, bukan begitu maksudku. Sudah deh terserah kamu saja, pusing aku sama kamu.”


“Emangnya aku wahana bermain yang modelnya muter-muter gitu? Aku makhluk manusia, lho tapi hebat memikat hati cowok eaaaa!”


“Ih jangan keras-keras! Reyhan tuh lagi tidur, nanti bisa keganggu tidurnya!” protes Freya.


“Halah! Biarin aja keganggu terus habis itu dia bangun. Habisnya tidur mulu ini anak, kayak ngalamin Koma.”


“Astaga, mulutnya!” kesal Freya sambil mencubit paha kaki Jova yang terbungkus jeans panjangnya.


Angga yang ada di pojok tembok kasur Reyhan hanya menatap kedua gadis sahabat cantiknya dengan menggelengkan kepalanya pada tingkah laku mereka berdua. Angga di situ bersedekap di dada tanpa membuka pembicaraan ataupun obrolan ringan, biarkan saja Freya dan Jova yang mengatasi kesenyapan ruang kamar Reyhan.


Tak sengaja Angga mengalihkan bola matanya ke arah Reyhan yang sedang tidur, namun setelah itu kedua mata Angga saling memicing saat melihat ada sebuah basahan keringat di kening dan leher milik sahabatnya, bahkan tidurnya mulai tidak nyaman layaknya terganggu dalam dunia alam mimpinya. Kedua telapak tangan Reyhan juga saling mengepal kuat di atas selimutnya yang ia kenakan hingga batas dadanya.


Kedua matanya yang memejam menjadi sedikit mengernyit dan hela napasnya mulai naik turun cepat yang nampak terlihat di dadanya. Angga menatap sahabatnya intens dan langsung memiliki insting teruk pada Reyhan. Tak ingin roh sahabatnya terjadi yang tidak-tidak, tangan Angga langsung menepuk kencang lengan tangan bagian kiri Reyhan serta menggenggamnya. Karena tepukannya cukup kuat, justru itulah Reyhan membuka matanya cepat seraya bangkit dari baring tidurnya dengan napas ngos-ngosan seperti habis dikejar oleh makhluk gaib.


Seketika tersebut membuat Freya dan Jova tersentak kaget dengan kompak memutar badannya ke belakang untuk menatap Reyhan yang tiba-tiba bangun. Jova segera melepas headset-nya yang ia pasang di kedua kupingnya sambil mengomentari Reyhan.


“Buset dah! Udah kayak mayat bangkit dari kematian, bae! Kaget gue, Cuy!”


Muka Reyhan yang pucat dicampur linglung dari raut wajahnya, dirinya langsung menoleh ke arah Jova yang telah komplain dengannya. “A-apa?! Gue kenapa?!”


“Reyhan habis mimpi buruk ya?! Sampe keringetan begitu!” pekik Freya.


“Mimpi?! Eh aku mimpi buruk?! Cuman dunia itu, kan? Huh!” gusar Reyhan dengan mengusap-usap wajahnya.


Angga yang usai melepaskan genggamannya dari lengan kiri Reyhan, kemudian beralih mengelus punggungnya perlahan. “Tenang, semua baik-baik saja. Lo hanya mimpi buruk doang, kok.”


Angga sudah tahu apa yang sudah dialami Reyhan di dalam dunia mimpinya itu. Ya, sahabatnya diteror secara bertubi-tubi di alam bawah sadarnya. Beruntung saja Angga cekatan membangunkan Reyhan dari tidurnya yang dilanda penderitaan beserta marabahaya, kalau saja lelaki Indigo tersebut tak segera menyadarkan sahabatnya, kemungkinan besar hal lain akan terjadi yang mana suatu keburukan di raganya Reyhan.


Reyhan melemaskan badannya dan bernapas lega karena hanya mimpi, meski nyawanya masih terkumpul setengah. Jova yang mulai penasaran sahabat ramahnya mimpi apa, langsung menanya sang sahabat. “Kunyuk! Kamu habis mimpi apaan, sih?! Situ kek ketakutan kayak gitu.”


Reyhan membuka mulutnya dan mengeluarkan suaranya yang bergetar. “A-a-aku ... t-tadi ... b-b-barusa-”


“Sudah, nggak perlu dibahas. Mending sekarang lo tidur balik aja. Soal mimpi itu gak usah lo panik apalagi takut, otomatis karena lo bangun, mimpi yang tadi lo datengin bakal tertutup.”


“B-b-begitu ... y-ya?” Angga mengangguk dengan memberikan senyuman simpelnya untuk mengasih ketenangan sahabatnya. Angga lalu merebahkan tubuh Reyhan di kasurnya kembali dan memintanya untuk pemuda itu tidur lagi.


Reyhan menuruti perintah dari sahabatnya. Yang lagipula, tubuhnya sangat begitu lemas. Angga yang sudah melihat mata Reyhan memejam tidur, kembali ke posisi tempat awal.


“Mojok lagi!” Angga menatap tajam Jova yang dari perkataannya seolah lantang sewot. “Kamu kenapa sewot sama aku?”


“Abisnya mojok mulu di tembok pojok pinggir kasur! Tau gak sih, kamu dah persis kayak stiker!”


“Stiker apa dulu? Stiker di WA atau stiker buat tembok dinding?” tanya Angga dengan polosnya, kendatipun lelaki tampan itu mengerti maksud dari Jova. Ia hanya memakai pertanyaan obrolan karena Angga sudah lumayan kesal pada sikap sahabat gadis tomboy-nya tersebut.

__ADS_1


“Hihihi, Angga ngelawak, ya? Itu pertanyaannya kok pakai nada ketus?” Freya terkekeh geli dengan menutup mulutnya bersama mata yang gadis itu sipitkan.


“Eh woi muka es batu! Gak usah pura-pura bego, deh! Aku tau kok tanpa kamu nanya pasti kamu udah ngerti!” judes Jova.


“Yasudah kalau tahu.”


“Hei kalian berdua. Kalian itu nggak pantes loh main perang mulut begitu. Mending kamu kalau ngajak perang sama si Reyhan aja, Va. Jangan Angga.”


“Gak seru, ah! Toh pasti kalau diajak ngomong pasti suka gak nyambung, apalagi kan itu bocah lagi sakit.”


“Maksud aku kalau Reyhan sudah sembuh! Ehm, oh iya Ngga? Aku mau tanya deh sama kamu soal Reyhan.”


Angga menaikkan alis kanannya. “Kamu mau nanya soal mimpinya Reyhan, kan?”


“Wah, ternyata orang yang punya kelebihan Indigo, luar biasa banget ya. Hm'em aku mau tanya soal itu. Eee, si Reyhan kenapa bisa seperti itu sih? Dari raut mukanya udah keliatan jelas kalau Reyhan ketakutan. Pasti mimpi buruk, ya?”


“Iya, mimpi buruk. Tapi bukan sekedar mimpi buruk juga,” jawab Angga.


“Hm? Lalu?” tanya penasaran kedua gadis sahabatnya.


“Kalian masih ingat tentang Reyhan diteror satu arwah yang pernah aku kasih tau waktu di rumah sakit Wijaya? Waktu Reyhan Koma.”


Freya dan Jova mengangguk antusias yang mata mereka menatap sungguh-sungguh mata abu-abu tulen milik Angga. Lelaki itu melanjutkan penjelasannya, “Di dalam mimpinya, Reyhan kembali diteror secara menyakitkan dan bertubi-tubi. Arwah itu sebenarnya ingin menamatkan nyawa Reyhan melalui dalam mimpi-”


“APA?! Kok bisa, Ngga?!”


“Sebentar, dengerin penjelasan aku dulu. Baru nanti kalian terserah mau komplain apa.”


Jova serta Freya menjadi diam dan lebih memilih menyimak mendengarkan penjelasan dari sahabat mata batinnya. Angga menghela napasnya dan sekilas menengok Reyhan yang sudah kembali tidur. “Ada yang perlu aku sampaikan ke kalian berdua. Kalian pasti tau perbedaan roh dan raga. Semisalnya roh kita menjalankan mimpi dan di di sana kita diberikan jebakan ataupun lainnya yang sekiranya membahayakan. Coba kalian bayangkan saja ...”


“Bentar-bentar, Ngga. Aku baru tau deh kalau roh sama raga itu beda, bukannya roh meniru wujud raganya, ya? Pastinya sama dong tanpa perbedaan,” ujar Jova.


Freya memiringkan kepalanya. “Roh? Kayaknya aku pernah denger deh, hmm ... di film-film gitu atau gak salah pernah baca di buku-buku novel. Emangnya, roh itu apaan sih, Ngga?”


“Sudah aku duga kamu nggak tau. Roh itu suatu pengendali jiwa dan serta raga kita, tanpa roh kita nggak bisa melakukan apa-apa.”


“Oh iya astaga! Bener katamu, Ngga! Aku tuh pernah lihat film luar negeri gitu soal roh dan raga. Ceritanya tuh tentang raganya yang terbaring Koma terus rohnya gentayangan pas keluar dari tubuh raganya.”


“Oh, kalau itu sudah lain, Va. Itu maksudnya soal jiwa yang terpisah dari raganya. Ya, emang dibilang Koma-”


“Aku tanya lagi sama kamu, Koma bisa denger suara yang ngajak ngobrol, kan??” Jova bertanya seraya mendekatkan mukanya di wajah Angga usai berjalan menghampirinya.


Angga yang didekatkan muka gadis tomboy tersebut seketika memundurkan kepalanya hingga menyentuh tembok yang ada di belakangnya. “Bisa, hanya aja otaknya gak mampu merespon orang yang mengajak komunikasi.”


“Loh, berarti itu artinya rohnya Angga pernah gentayangan dong! Sedangkan raganya terbaring Koma, kan Angga pernah Koma nyampe dua bulan. Iya kan, Ngga?! Wah pasti seru nih berpetualangan kayak di cerita-cerita gitu!” ucap Freya dengan nada seronok.


Angga hanya tersenyum bera. Padahal dirinya tidak tahu apa yang terjadi pada rohnya saat raganya mengalami Koma hingga menginjak 2 bulan lamanya, entah berpetualangan mendapatkan pengalaman baru atau terjebak di suatu alam yang mengharuskan rohnya mencari jalan keluar ampuh untuk kembali ke raganya seperti sediakala.


Sudah tentunya antara roh dan raga dimensi alamnya sudah sangatlah berbeda.


Kini Angga yang bingung, perasaan tadi ia sedang menjelaskan soal bahayanya teror dalam mimpi contohnya seperti Reyhan layaknya. Namun mengapa kedua gadis sahabatnya tersebut malah heboh membahas soal orang yang mengalami Koma dan jiwa serta raganya terpisah.


‘Ini kenapa mereka berpindah ke topik yang lain? Apa mereka sudah paham betul penjelasan gue tadi soal buruknya mimpi Reyhan?’


“Ehem!”


Jova serta Freya yang sibuk merumpi soal topiknya mereka berdua seketika berhenti saat mendengar deheman keras dari Angga. Kedua gadis cantik berambut panjang tergerai lembut tersebut kemudian menoleh ke arah sahabat Introvert-nya yang tengah melipat tangannya di dada sementara kepala dan punggungnya bersandar di tembok pojok kasurnya Reyhan.


“Kalian udah paham soal tadi yang aku jelaskan, sebelum kalian membahas soal roh dan raga?” tanya Angga sambil menatap Freya dan Jova satu persatu.


Kedua sahabat gadisnya mengangguk cepat dengan otaknya sudah menangkap ucapan penjelasan Angga tentang Reyhan tadi. “Setelah aku nalar maksud omonganmu, aku jadi ngerti deh ... berarti sama saja dong jiwanya Reyhan terancam diteror mimpi buruknya itu?”


Angga mengangguk pelan pada penuturan sahabat kecilnya, dan sekarang Jova yang membuka suara, “Teror mimpi lebih bahaya? Kamu pernah punya pengalaman seperti itu, Ngga? Maksudku sudah pernah mengalami kejadian kayak gitu. Sama aja kamu mau mati.”


“Iya. Aku sudah berkali-kali mengalami gangguan astral seperti itu.” Angga menghentikan ucapannya kemudian melanjutkan kalimatnya, “Kejadian bahaya itu saat aku waktu masih bersekolah di SD, sekitar umur dua belas tahun.”


Freya dan Jova saling menatap dengan muka terkejutnya bahkan mulut mereka berdua sedikit menganga mendengar pengalaman Angga dulu waktu masih kecil. Kedua gadis itu membayangkan kejadian mengerikan tersebut yang menimpa Angga.


Lepau Reyhan, Arseno tak ada henti-hentinya mempermainkan nyawa manusia itu yang butuh sekali tenang hidup. Reyhan tidak tahu kapan semua ini akan berakhir dengan lancar, meski dirinya sudah yakin dua pria pembunuh itulah yang telah membantai arwah negatif tersebut hingga mati.


Menunggu waktu datang ia pulih total dari sakitnya, Reyhan akan memaksakan diri untuk mengampukan penderitaan yang ia alami tersebut dan membuka kunci yang digembok untuk Arseno supaya hantu itu bisa merasakan ketenangan di alam abadi yang hanya ada kebahagiaan di atas sana.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2