
Sinar mentari pagi masuk ke dalam jendela kamar no 001 yang telah dibuka dengan lebar. Sinar matahari tersebut mampu sedikit menerpa wajah tampan Angga yang saat ini memang terlihat pucat akibat kejadian insiden diluar nalar tersebut tadi malam. Di dalam kamar, tak hanya Angga saja di situ tetapi ada Freya, Jova, Jevran dan Aji untuk menemani pemuda Introvert tersebut.
Sementara seperti Rena dan Lala tengah berada di ruang dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dibawah. Freya yang bermuka sendu, menyeret telapak tangannya untuk meraih telapak tangan kekasihnya dan menggenggamnya lembut. Sudah berjam-jam pujaan hatinya belum buka mata sementara tubuhnya dihangatkan oleh selimut tebal berwarna cokelat peanut.
Beberapa saat kemudian, keempat remaja yang diam membisu menanti kesadarannya Angga kembali, tiba-tiba mendengar suara lenguhan yang berasal dari Angga. Freya yang balik menatap pacarnya seketika matanya membulat dengan hati senang melihat kedua mata kekasihnya terbuka lemah.
“Angga?! Kamu sudah sadar?!”
Jevran dan Aji yang posisinya tengah bersandar bersama di dinding pojok kamar samping pintu yang keadaannya tertutup, mulai berdiri tegak dengan terkejut bahagia melihat teman Indigo mereka telah siuman. Segera kedua pemuda itu berlari-lari kecil menghampiri Angga yang masih terbaring lemah di atas kasur kamar villa no 001
Angga memejamkan matanya sejenak saat merasakan ada yang menempel di keningnya, lekas ia ambil dari kening lalu membuka matanya kembali. Yang dirinya pegang saat ini adalah sebuah kain handuk kecil putih. Dan sekarang bola matanya bergerak mengarah ke Freya yang sedang duduk di pinggir kasur sebelahnya dengan masih menggenggam telapak tangannya lembut.
“Freya ...”
Freya tersenyum manis dan hangat kepada Angga yang menyebut namanya dengan cukup lemah. “Aku dan lainnya senang melihat kamu yang sudah sadar dari pingsan-mu dari semalam. Apa yang sekarang kamu rasakan?”
“Aku pingsan? Kenapa ...?” tanya Angga linglung.
Jevran menghela napasnya. “Gue nggak tahu kenapa tadi malam lo tiba-tiba langsung pingsan di tanah pekarangan bangunan villa.”
“Tanah pekarangan bangunan villa ...?”
Aji menganggukkan kepalanya tanpa tersenyum. “Iya. Tepatnya setelah lo menatap mata Bapak penjaga bangunan villa ini, jika gue boleh tahu ... lo kenapa tadi malam pingsan, Ngga? Apa ada gejala aneh di tubuh lo yang membuat tubuh lo melemas hingga berakhir hilang kesadaran?”
Angga menggelengkan kepalanya. “Gue nggak tahu, dan yang lo maksud bapak penjaga bangunan villa itu, siapa? Memangnya tadi malam ada orang penjaga bangunan villa ini?”
Aji, Jova, dan Jevran melongo kompak dengan kepala reflek mereka bertiga condongkan ke depan karena terkejut pada pertanyaan Angga yang seolah memang seperti tidak ingat kejadian semalam. Freya yang masih setia duduk dan menggenggam kekasihnya, tersenyum lembut.
“Kamu sudah tidak ingat, ya?”
Angga menolehkan kepalanya lemah pada Freya yang bertanya padanya bersama senyuman cantik yang merekah di wajahnya. “Tidak ingat apa?”
Freya hanya menggelengkan kepalanya untuk tidak membahas kejadian tadi malam yang menimpa diri Angga. Hingga pujaan hatinya kembali menoleh ke depan karena baginya masih ada yang kurang di antara mereka berempat nang di kamarnya. “Hanya kalian bertiga? Rena sama Lala?”
“Oh ... kalau dua cewek itu lagi di ruang dapur, noh. Katanya sih mau buatin sarapan pagi buat kita semua. Nah nanti kamu juga harus sarapan ya, Ngga? Sarapannya tetap di kamar saja, jangan keluar-keluar dulu. Kondisimu belum membaik.”
Angga tersenyum tipis mengangguk pada penuturan sahabatnya ialah Jovata Zea Felcia. Kemudian setelah itu, pemuda tampan tersebut yang masih terbaring di atas kasur menolehkan kepalanya ke arah Aji dan Jevran nang berdiri di hadapannya.
“Reyhan? Reyhan dimana?” tanya Angga pada kedua pemuda tersebut yang sekarang terdiam seribu kata dari atas pertanyaan Angga yang menanyai dimana keberadaan sosok sahabat humorisnya.
Setelah cukup lama mereka terdiam, akhirnya salah satu di antara mereka berdua menjawab pertanyaan Angga dengan melegakan tenggorokannya. “Gue dan Jevran sudah mencari Reyhan di seluruh dalam villa begitupun di luar villa, tapi kami gak menemukannya.”
Mata Angga seketika terbelalak lebar dan spontan bangkit dalam posisi duduk. “Maksud lo, Reyhan hilang?!”
“I-iya, Ngga ... Reyhan hilang entah kemana,” tanggap respon Jevran lirih usai menganggukkan kepalanya.
“Tapi bagaimana ceritanya sahabat gue bisa hilang?!” khawatir Angga dengan mata masih melotot karena tidak menduga bahwa Reyhan menghilang bahkan sampai sekarang tak nampak batang hidungnya.
Freya segera memegang kedua bahu lemas kekasihnya dari belakang sambil berkata, “Angga. Kamu yang tenang dulu, kamu baru saja sadar dari pingsan. Sekarang berbaring lagi, yuk.”
Angga menolehkan kepalanya ke Freya yang berbicara amat lemah lembut padanya. “Tapi bagaimana dengan Reyhan?! Aku harus mencarinya!”
Freya menggelengkan kepalanya tegas. “Gak boleh! Kamu masih sakit, Angga. Nanti kondisimu yang dalam proses penyembuhan ini malah jadi kembali buruk, turuti kemauanku ... tetaplah beristirahat. Pentingkan terlebih dahulu kesehatanmu, nanti Jevran dan Aji bakal berusaha lagi untuk mencari Reyhan sama lainnya juga.”
“Bener, Ngga. Gak seharusnya kamu pake keras kepala buat nyariin sahabat kita bertiga. Kesehatanmu lebih penting daripada kamu yang mencari Reyhan hingga ketemu.”
“Yang kamu bicarakan barusan itu apakah benar?!”
Jova membungkamkan mulutnya seketika dengan kedua mata berkedip-kedip saat telah mendengar suara Angga yang meninggi untuknya, bahkan pemuda itu sempat menatap tajam padanya. Sementara Freya mengomandoi Angga untuk kembali berbaring seraya dibantu perlahan oleh gadis polos cantik tersebut.
“Lo santai saja, Ngga! Setelah mengisi perut, kami bakal pergi dari villa buat mencari sahabat lo. Jangan khawatirkan Reyhan, gue yakin Reyhan gak jauh dari wilayah jalan hutan ini,” ujar Jevran untuk menenangkan Angga yang hatinya tengah buncah.
“Gue ngerti lo bersikukuh mencari Reyhan dengan terawangan mata batin elo itu. Tapi dari semua itu menggunakan tenaga, Ngga. Lo belum mampu memakainya untuk sementara terlebih kondisi lo masih lemah. Freya benar, lo lebih baik istirahat saja. Kami juga gak ingin lo lebih kenapa-napa daripada sebelumnya yang terjadi di malam itu,” tutur Aji serius panjang lebar.
Angga memejamkan matanya lalu menghembuskan napasnya dengan perlahan, sedangkan Freya membelai-belai lembut rambut hitam pujaan hatinya bersama tersenyum manis. “Kamu di sini dulu, ya? Aku mau ambilkan kamu sarapan dulu ke sini. Jangan pikirkan Reyhan ...”
“Andaikan gue ada di posisinya si Angga, terus di situ gue dielus-elus sayang sama cowok. Pasti sepanjang menit hati gue terus meleleh kayak es krim,” celoteh Jova menatap nanar sepasang kekasih tersebut.
Jevran tertawa kecil. “Yasudah sih, Va. Pacaran saja sama aku, yuk. Kebetulan temanmu ini sedang menjomblo.”
Jova memutar badannya ke samping dengan menatap Jevran tidak suka. “Idih, ogah! Mending sama si R-”
Aji tersenyum meledek. “R siapa hayooo?? Reyhan, ya? Hahaha!”
Jova terkejut sampai melotot pada Aji. “Ih, apaan sih kamu?! Bukan Reyhan, kali! Tapi Roy Kiyoshi! Jangan ngaco napa, deh!”
“Masa? Cocok lho kalau semisalnya pasangan hidupmu adalah Reyhan. Warna rambutnya sama, warna matanya sama, apalagi watak sengleknya juga sama, tuh. Cuman ... kalian bedanya dari gender. Kamu cewek, Reyhan cowok.”
__ADS_1
Jova mendengus sebal pada perkataan Aji. “Ini bocah lama-lama gue pites juga dua matanya! Biar sekalian gak bisa lihat indahnya dunia!”
Freya terkekeh geli. “Sudah dong, Aji. Emangnya kamu nggak lihat, pipinya Jova memerah begitu? Nanti yang ada detak jantungnya Jova berdebar-debar seperti habis lari marathon, lagi.”
“Hah?! Berarti bener dong kalau si Jova itu suka sama Reyhan?! Alamak berita yang heboh!” pekik bahagia Aji seraya bertepuk tangan.
“Berita apaan kalau belum masuk TV dan sosial media, hah?! Situ malah langsung ngomong berita-berita aja! Dengerin aku, ya! Reyhan and I are just friends. I like him because of the attachment of friends not because of love !”
“Ngerti, gak?!”
Aji terkesiap dengan mata terbelalak setelah teman perempuannya bertutur kata kalimat menggunakan bahasa asing seperti itu. “Gimana mau ngerti? Bahasa Inggris aja, gue koplak. Heh, Vran! Lo tolong jermahin bahasa Inggris kalimatnya Jova ke bahasa Indonesia, dong. Orang kalau sudah ngomong pake bahasa asing kek begini, otak gue langsung jadi korsleting parah.”
“Teruk, lo! Masa kalimat bahasa Inggris aja minta dijermahin, itu anak SMA apa anak TK?”
Aji yang telah terlanjur kesal, segera menginjak kaki kiri Jevran dengan sangat kencang. “Cepetan napa, sih?! Keburu ngambek itu si Jova ...!”
Jevran yang kakinya diinjak kencang oleh temannya di samping, langsung mengeluarkan umpatan lantang untuk melampiaskan kesakitannya. “Anjing! Babi! Tolol! Kaki gue juga gak perlu lo injek kayak rumput segala, kali!”
Aji gesit mengangkat kakinya lalu menatap tajam Jevran agar tetangganya Reyhan segera menterjemahkan kalimat bahasa asingnya si Jova. Setelah Aji paham apa artinya berkat Jevran meskipun tadi sempat berdebat dahulu, Aji menolehkan kepalanya ke depan.
“Iya, deh. Iya. Aku minta maaf banget sama kamu,” mohon pinta Aji kepada Jova yang melipatkan kedua tangan di dada sembari berjalan keluar dari kamar no 001
“Terserah! Cowok pe'ak banget sama bahasa Inggris doang! Pantesan nilai KKM Inggrisnya anjlok ke sumur tua yang dipenuhi tai-tai kebo!”
Aji melongo dalam sekejap. “Anjir ... itu mulut apa mulut? Pedes banget omongannya, nyaingin bon cabe level seratus malahan yang biasa gue cemil.”
Jevran tertawa keras. “Mampus, lo! Jova marah, kan jadinya. Elo sih nyari masalah sama cewek! Hahahaha!”
“Gak usah ketawa kayak Genderuwo ya, lo! Ini semua juga gara-gara elo yang kelamaan ngasih arti bahasanya!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di ruang dapur villa, keenam remaja tengah berunding tentang kemisteriusannya Kenzo begitupun Reyhan yang belum kunjung ditemukan. Mereka berdua seolah-olah menghilang secara misterius, bahkan mereka sama sekali tidak meninggalkan jejak satupun dan sedikitpun.
“Aji, lo nggak ada inisiatif buat nelpon Reyhan apa gimana gitu? Daripada elo juga cemas kemana sebenarnya teman kita.”
Aji yang telah duduk dengan bersedekap di atas meja makan, mendengus pada temannya itu. “Gimana gue nelpon Reyhan?! HP-nya saja ada di dalam kamarnya! Gue juga bingung, kenapa Reyhan tiba-tiba hilang seperti ini. Look, sampai sekarang pun Reyhan gak dateng-dateng juga ke villa.”
Jevran nyengir. “Bisa ngomong bahasa Inggris juga rupanya ini anak satu.”
Rena meletakkan piring berisi beberapa porsi mie goreng di atas meja secara tidak santai. “Oke! Kenzo belum ada tanda-tanda kalau kita bisa menemukannya, dan sekarang ditambah Reyhan yang menghilang misterius!”
“Pelan-pelan, Neng taruh piringnya! Entar kalau retak apa pecah, ganti rugi, lho. Terlebih piring itu bukan punyamu tapi punya yang menjaga bangunan villa gede ini,” protes tegur Jevran.
“Menjaga apaan? Kalau Bapak penjaga villa ini aja udah gak kelihatan lagi. Seharusnya pagi jam segini beliau sudah berada di sekitar luar villa, ngelakuin tugas apaan kek gitu,” timpal omel Lala.
Jova yang sibuk mengoles bagian roti tawar pakai selai rasa kacang, terhenti dan menatap keempat temannya dan juga sahabat lugunya yang sedang meletakkan nampan di atas meja untuk Angga sarapan nanti di atas kamar.
“Guys, soal Bapak penjaga bangunan villa yang kita tempati ini ... Angga sudah gak ingat apa yang terjadi dengannya waktu tadi malam, bahkan untuk kenal beliau tidak sedikitpun dia ingat. Kenapa, ya? Nggak mungkin Angga mengalami hilang ingatan ke masa flashback.”
Rena dan Lala spontan menatap Jova gegau. “Hah?! Yang bener?!”
Jova mengangguk antusias dengan tampang curiga. Sedangkan Jevran yang duduk di sebelahnya Aji, diam berpikir. Lama-lama jika diingat ke waktu tadi malam dengan putaran otak mereka, terasa aneh juga dengan sikap pria paruh baya penjaga bangunan megah tersebut.
“Lama-lama gue juga semakin curiga setelah hati gue bertanya-tanya. Gue kasihan banget sama Angga pas tadi malem, pasti dia kesakitan banget hingga sampai berakhir pingsan,” buras Jevran.
“Terus sekarang kondisi Angga di kamar gimana?” tanya Rena yang hendak duduk di kursi.
“Dia memang sudah sadar, tapi keadaannya masih cukup lemah. Mukanya juga masih pucat, heran saja sih ... Angga kan gak ngelakuin aktivitas apapun yang bikin dirinya lelah, tapi bagaimana kejadian itu bisa terjadi? Huh, pusing aku!” ungkap Aji lalu memijat kedua pelipis matanya untuk mengurangi rasa pusingnya di kepala karena akibat terus memikirkan Reyhan apalagi Kenzo.
Rena yang mendengar penuturan teman lelakinya nang duduk di hadapannya, mengubah mukanya menjadi sendu seketika. Ia yang tak memiliki indera kepekaan, kelebihan apapun yang bersifat spirit atau supernatural hanya bisa pasrah atas semua ini. Bahkan sepertinya Rena tidak bisa berbuat apa-apa untuk kedua temannya.
“Hmmm ... tadi sekitar antara jam dua pagi, dari kamar, gue denger suara pintu villa utama yang dibuka sama orang. Tapi bodohnya gue, gue mengacuhkannya saja. Gak sampe berpikir jauh kalau yang buka pintu itu adalah tetangga gue.”
Freya yang sedang menuangkan susu murni dari teko kaca ke gelas untuk kekasihnya, menoleh menatap Jevran. “Andai saja kamu keluar dari kamarmu buat mengecek sebentar, barangkali itu adalah Reyhan ...”
Jevran menghela napasnya dengan wajah penuh penyesalan. “Maafin aku, Frey. Aku kalau sama orang lain emang kurang peka. Kayaknya ini termasuk salahku, sih.”
Freya menggelengkan kepalanya sedih. “Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Gak peka itu wajar, jadi itu bukan salah kamu.”
“Kalau emang Reyhan keluar dari villa di jam yang masih sangat pagi, kenapa? Dia mau cari Kenzo sendirian? Terlebih gue sendiri gak denger kalau pintu villa utama dibuka. Mungkin karena tidur gue terlalu pulas saat tadi,” ujar Aji usai meredakan pusingnya yang ada di dalam kepala.
Jova menundukkan kepalanya dengan hati amat dilumuri rasa bimbang pada sahabat lelakinya. “Gue takut Reyhan kenapa-napa. Kemana dia sebenernya? Kenapa gak balik-balik?”
“Kalian berdua tenang saja, gak usah panik dan gak usah khawatir. Setelah ini, aku dan Jevran bakal kembali cari Reyhan, berusaha mencari sahabat kalian berdua hingga ketemu,” timpal Aji seraya menatap kedua sahabat perempuan Reyhan dengan sekaligus melemparkan senyumannya agar dua gadis itu ada ketenangan yang masuk ke dalam hati.
“Aku sama Rena boleh ikut nyari Reyhan dengan kalian berdua ya, Ji?!”
__ADS_1
Jevran menggelengkan kepalanya untuk menolak permintaan Lala yang ingin campur tangan buat mencari Reyhan. “Jangan. Kalian berdua tetap di dalam villa, biar aku sama Aji saja yang nyari Reyhan. Bahaya juga buat kalian, apalagi pasti menyusuri jalan hutan yang panjang.”
Lala menghela napasnya panjang pasrah hanya bisa menuruti Jevran yang telah menolak dari bantuan ia begitupun Rena. Kemudian Lala menolehkan bola matanya ke Freya yang kembali sibuk dengan kegiatannya nang sempat terhenti. Dilihat Freya sedang menaruh dua roti tawar isi selai kacang beserta segelas susu penuh ke dalam atas nampan plastik berwarna merah.
“Freya, tugasmu yang itu buat anterin sarapan untuk pacarmu, kan?” tanya Lala lembut dan dijawab utama oleh Freya dengan senyuman manisnya.
“Iya, La. Sebentar lagi nampan yang berisi dua roti tawar dan satu gelas susu ini bakal aku bawa ke atas untuk Angga, buat saat ini Angga jangan banyak gerak dulu sebelum kembali pulih seperti semula.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di dalam kamar no 001, Angga tengah sedang merenung di sana. Menatap langit-langit dinding yang berwarna cat cokelat muda. Ia tak bisa beristirahat dengan tenang sebelum Reyhan berhasil ditemukan oleh teman-temannya, mengapa? Mengapa semua berakhir menjadi seperti ini? Bahkan Angga masih belum mengetahui keberadaan Kenzo sampai sekarang, kini ditambah sahabatnya yang menghilang usai dikabarkan oleh Jevran.
Angga memejamkan matanya lemah dengan menghembuskan napasnya, sampai tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara getaran-getaran yang berasal dari dalam ponselnya di meja nakas samping tempat tidur. Angga membuka matanya dan menolehkan kepalanya ke arahnya, meraih untuk mengambil ponselnya di sana.
Angga mengerutkan keningnya bingung. Tak ada yang menelponnya bahkan tanda-tanda notifikasi masuk. Lalu kenapa ponselnya bergetar? Baru saja jari jempolnya menekan tombol untuk menghidupkan layar ponsel, tetapi dengan sendirinya tombol itu terpencet sendirinya. Angga hanya terdiam di posisi baring lemahnya, menatap layar ponselnya yang dibuka oleh sesuatu tak kasat mata baginya, hingga arah itu menuju ke sebuah album galeri.
Angga mengedipkan kedua matanya satu kali saat salah satu foto dipencet oleh sesuatu, yang jelasnya pekerjaan gaib tersebut yang melakukannya. Angga semakin tidak mengerti mengapa ia dihadapkan sebuah foto Reyhan yang seorang diri tanpa ada lainnya selain sahabatnya.
Hingga sudah waktunya mata Angga melotot karena bayangan masa silam muncul yang membuat raganya seolah ditarik ke belakang.
Angga melihat sesosok wanita cantik berbadan tinggi dengan bermuka orang Prancis. Ia mengenakan sebuah gaun krem ciamik bersama senyuman miringnya menatap pintu kamar Reyhan yang bernomor 002
Tiba-tiba sosok wanita cantik Prancis itu dikepung sebuah banyaknya asap hitam yang menutupi sekujur tubuhnya. Hingga beberapa detik kemudian setelah seluruh para asap-asap hitam yang berkumpul di sosok tersebut, asap gaib hitam itu menghilang dengan sendirinya. Dan Angga terkejutnya wanita Prancis cantik bak seorang putri dari Kerajaan itu, berubah menjadi sosok rupanya Aji.
Sosok yang menjadi Aji itu, tersenyum iblis lalu membuka pintu kamar Reyhan begitu lebar. Setelahnya, Aji melangkah berjalan masuk ke dalam kamar yang di sana ada Reyhan sedang tidur nyaman di atas kasur empuknya bersama selimut tebal yang dikenakannya.
Angga melihat sosok wanita yang sudah menjadi temannya, membangunkan Reyhan dari tidurnya hingga sahabatnya itupun akhirnya terbangun karena goyangan yang diberikan Aji lumayan kencang.
“Oh, Ajinomoto! Ngapain sih, lo?! Buta, apa itu matanya kalau gue lagi tidur? Ada apa bangunin gue??”
“Rey! Ada yang pengen gue tunjukin lo sesuatu di luar villa! Ayo cepetan, penting banget soalnya! Daripada ketinggalan momen !”
“Momen apaan, Anjir?! Di sono gelap banget! Gue ogah keluar malem-malem- eh gak tau ini masih malem apa udah pagi. Besok aja, dah !”
“Hadeh! Bentar doang, Nyuk! Habis itu lo tidur lagi gakpapa, deh! Kan sayang banget kalau momen yang lo lihat nanti ketinggalan.”
“Ini bocah, ya! Hhh ... yaudah-yaudah! Sebentar, gue mau pake kaos kaki sama sepatu dulu! Lo tunggu di luar kamar gue, sono! Gangguin orang aja !”
“Hehehehe! Siap, Bos !!”
Rahang Angga mengeras hingga tanpa sadar ia mengepalkan kedua telapak tangannya kuat. Singkat waktu, pemuda Indigo yang telah masuk ke dalam dimensi masa lampau, melihat Reyhan yang berjalan di belakang punggungnya Aji dijalan hutan yang suasananya cukup mencekam nyali.
Kedua mata Angga terpaku langsung saat melihat Reyhan berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya yang terlepas, dan pandangan mata Angga langsung teralihkan ke Aji yang lagi-lagi tersenyum iblis untuk Reyhan. Angga cepatnya tahu serta peka, bahwa niatan wanita Prancis itu adalah menjebak diri salah satu sahabatnya.
Angga menekan seluruh gigi putihnya bagian atas dan bawahnya saat mengetahui sosok wanita wujud Aji menghilang meninggalkan Reyhan sendirian di jalan hutan gelap menggentarkan ini. Angga ingin mengeluarkan suara untuk melampiaskan amarahnya pada sosok hantu wanita Prancis sang pemilik energi negatif, namun mulutnya seakan seperti dikunci nan digembok.
“Aji?!”
“Woi! Lo jangan bercanda, dong!! Gak lucu, sumpah! Tau kalau endingnya bakal gini, gue gak akan mau ikut sama lo! Sekalipun lo paksa gue !”
Angga sangat merasa kasihan pada Reyhan yang tengah kebingungan mencari Aji dalam perasaan hati yang diselimuti tebal rasa ketakutan hebat. Padahal sesungguhnya itu bukan Aji yang asli, tetapi arwah beraura negatif itulah yang menjelma menjadi sosok temannya.
Ingin rasanya Angga maju mendekati Reyhan untuk mengajaknya kembali ke dalam bangunan villa bersamanya, namun semua itu sudah mustahil. Angga sudah tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong sahabatnya yang tengah dalam bimbang dan bahaya tersebut.
Mata Angga mencuat seketika saat Reyhan didatangi oleh seorang pemuda berbadan tinggi sepadan ia begitupun sang sahabat. Pemuda yang merupakan seorang pemangsa korban nang menjadi targetnya, menyalakan mesin gergaji mesinnya di tepat belakangnya Reyhan yang sedang menyentuh tengkuknya yang terasa dingin.
Reyhan dengan wajah kagetnya, perlahan memutar tubuhnya ke belakang dan di mata Angga sahabatnya itu nampak Syok melihat senjata besar mematikan yang dibawanya. Angga di jauh sana berdekatan pada beberapa pepohonan yang saling berjejeran, menggelengkan kepalanya kuat, ia tidak mau Reyhan dibunuh mengenaskan oleh pembunuh tersebut.
“Hahahaha! Target spesial yang gue dapatkan kali ini adalah elo. Dan lo gak akan bisa melarikan diri dari sini, Sobat !”
“Jangan! Jangan! Tolong jangan bunuh gue- waaaa !!!”
Tangan Angga terangkat sedikit ke atas saat kaki Reyhan terpeleset dari tanah yang becek pinggir jurang karena pemuda tersebut saking takutnya dibunuh terus berjalan mundur sampai tidak tahu kalau di belakangnya telah ada jurang dibawahnya. Seperti dorongan waktu, Angga tiba-tiba berada berdiri di tepi jurang. Mata abu-abunya spontan terbentur pada Reyhan yang tidak sadarkan diri dibawah sana dengan kondisi kening kanannya sedikit mengeluarkan darah akibat terbentur kuat di bebatuan yang tertancap di atas tanah.
Angga memicingkan matanya fokus pada ketibaan kedua sosok lelaki yang memakai pakaian serba hitam bersama masker kain hitam seperti pemuda yang sedang berdiri di sebelahnya Angga, dan itupun mesin tombol gergajinya telah dirinya off-kan.
Kedua pemuda yang ada dibawah jurang itu, tengah menyeret kasar tubuh tak berdayanya milik Reyhan. Entah ingin dibawa kemana sahabatnya yang matanya telah terpejam tenang.
“Bawa segera mangsa kita ke markas! Setelah itu kita bertiga akan bergembira-gembira bersama untuk menganiaya korban target yang telah menjadi milik kita ini semua, hahahaha !”
Angga melimbai kepalanya kencang ke arah pemuda berjiwa psikopat itu dengan wajah dipenuhi ekspresi murka besar terhadapnya yang ingin melakukan nang tidak-tidak oleh Reyhan. Dalam hati Angga ingin bertekad mengikuti arah kemana mereka berdua membawa tubuh Reyhan, tetapi waktu Angga di dimensi masa lampau telah berakhir dan saatnya raga Angga ditarik ke masa sekarang.
Seakan-akan Angga habis tidak bisa bernapas dengan baik setelah dirinya masuk ke dalam rotasi perputaran dimensi masa yang telah berlalu. Perlahan pemuda tampan berkulit putih bersih itu meraih kepalanya yang tiba-tiba mendadak seperti dihujam oleh ribuan pisau di dalam kepala, amat sangat sakit sekali. Kedua matanya saling ia pejamkan erat sampai tidak sadar ada sebuah aliran darah yang keluar dari dua lubang hidungnya nang merembes menuju ke bibirnya.
Beberapa detik kemudian saat Angga tengah sekuat coba menahan rasa sakitnya yang terdalam, kepala Angga pusing berputar-putar hingga pada akhirnya ia ambruk terbaring di kasurnya dengan tangan kanan terkulai jatuh di atas kasur yang di genggamannya ada sebuah ponselnya nang masih berlayar gambar foto Reyhan sang sahabatnya.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1