Indigo

Indigo
Chapter 32 | Possessed


__ADS_3

2 minggu kemudian, pada hilangnya langit Maghrib kini telah di ganti oleh langit hitam gelap. Dimana menunjukkan sebentar lagi akan hujan jika diperkirakan yang melihatnya.


Sekelompok remaja SMA berada di salah satu rumah luas untuk mengadakan kerja kelompok bersama tugas guru dari sekolah. Ya, beberapa remaja tersebut berada di rumahnya Joshua si ketua kelas XI IPA 2.


Reyhan mengacak-acak rambutnya dengan wajah konyolnya, tentunya pemuda hati friendly itu merasa kebingungan cara pengerjaan tugas Fisika dari gurunya. Sementara yang lain tengah diam berpikir memakai logika otaknya karena di banyak soal tugas Fisika itu ada suatu jebakan yang sulit ditemukan jawabannya yang paling tepat.


"Alamak ini soal apa tebak-tebakan kuis sih?! Perasaan soal esainya dari tadi susah-susah mulu!!" kesal Reyhan.


"Sabar Rey, ini gue lagi mikir nih pake otak .. kayaknya soal esai ini banyak jebakannya deh. Makanya kita semua sulit nemuin jawabannya," ujar Joshua.


"Siapa lagi kalo bukan Bu Aera si guru Killer sedunia itu? Udah ngasih PR-nya segudang, soalnya jebakan mulu, sampe konslet otak gue!" geram Aji memijit keningnya karena pusing.


"Ck cari di internet aja yok dah, biar kelar ini tugas Fisikanya. Kelamaan ngerjain bisa-bisa nginep kita semua di rumah lo, Jo."


"Jangan menyerah dulu napa Rey. Lagian kalo kita cari jawabannya di internet pasti suatu ketika bu Aera tau lah. Orang bu Aera apa-apa menyelidiki tugas kerjaan murid-muridnya termasuk kelas kita. Pasti ketahuan deh kalo kita semua nyontek di internet," detail Joshua.


"Hhhh andaikan ada Anggara disini, pasti dalam singkat kita semua langsung kelar tugas sama-sama mematikan otak ini. Anggara kan punya otak yang logikanya cerdas banget," ucap Raka lesu.


"Iya juga ya. Tapi kan Anggara belum sembuh noh di rumah sakit, meskipun Alhamdulillah temen cerdas kita itu udah bangun dari Koma. Gak nyangka sih pas gue diceritain sama si Reyhan, kalo si Anggara tuh dibantai abis-abisan sama sikopet itu. Kasian banget tuh sekarang si Anggara, malah kepalanya jadi cidera."


"Alhamdulillah kata dokter cidera Anggara ringan, Ndra. Tapi meskipun begitu kami disini juga sedih Anggara nggak sesehat dulu," tutur Freya bernada lirih gundah.


"Tapi itu semua salah gue, coba aja kalo gue gak salah paham dulu sama Anggara dan gue dengerin penjelasannya .. Anggara gak bakal masuk rumah sakit terus berakhir seperti itu."


Merasakan kembali kesalahan terbesarnya yang masih teringat dan membekas di benaknya, Reyhan langsung menunduk menyesal usai mengucapkan kesalahan besarnya. Melihat tetangganya sedih kembali, Rangga yang ada di sampingnya menepuk-nepuk punggung Reyhan.


"Udah-udah. Kejadian itu udah berlalu, Rey. Gak usah lo ingetin lagi, lagian juga Anggara udah maafin elo kan waktu itu. Anggara pasti udah memaklumi sikap lo yang berubah gitu."


"Nah iya tuh Rey, orang kamu kan gak dimarahin sama tante Andrana sama om Agra toh."


"Ya gak gitu juga kali Va, meskipun begitu aku tetep bersalah sama Anggara. Otakku emang dangkal ya, gak pake logika dulu kalo memecahkan masalah malah asal melukai sahabatnya sendiri. Tapi kalo Anggara beda banget dari aku, dia kalo bertindak mikir secara mateng-mateng dulu baru ambil tindak."


"Hmmm gitu, oh iya Rey si Anggara itu orangnya memang sabar apa perasaan gue aja sih?" tanya Andra.


"Kalo dari sikapnya dia memang suka sabar, walau kadang sifatnya ada nyebelin-nya juga. Tapi yang paling hebat dari Anggara itu, dia lebih sering mengorbankan diri. Contohnya pas gue, Rangga, Freya sama Jova mau di bunuh sama psikopat-psikopat tanah Jahanam itu. Anggara langsung dateng buat nyelamatin gitu."


"Iya, tapi sayangnya Anggara salah serang lawan. Jadinya nyawa Anggara hampir jadi taruhannya. Tapi wow ada juga ya orang yang banyak mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan sahabatnya."


"Iya La bener, salut betul aku sama Anggara." Rena bertepuk tangan bangga.


"Kebanyakan tuh kalo si korban kepalanya terkena benturan begitu keras, pasti langsung meninggal pada insiden itu. Tapi Anggara enggak, malah Koma dan di hari kemudian bangun lagi."


"Iya Ji, Anggara memang orangnya kuat."


"Emangnya kalian semua bersepuluh ngapain pergi ke tempat tapak tanah terlarang itu? Udah tau itu bahaya, kan."


"Kita bersepuluh kesana bukan niat liburan Jo, tapi ada suatu jebakan yang awalnya menjebak gue lewat WA."


"Hah? Jebakan apa? Boleh gue lihat?"


"Duh sorry banget Jo, udah gue hapus sampe kontak-kontaknya. Lagian itu gak penting juga kalo di simpen."


"Oh yaudah. Terus ceritanya bagaimana kok itu bisa terjadi?"


"Intinya tuh kita pergi ke Villa, dan ada sosok yang jebak gue kalo yang ngechat gue itu nenek gue. Tapi ternyata bukan, Jo. Ada dua arwah yang pengen miliki gue, tapi pas ada Anggara arwah itu ternyata lebih menginginkan Anggara karena dia ada mencium bau aura luar biasa gitu dari Anggara."


"Hah? 'Aura luar biasa' memangnya Anggara punya Khodam?? Iya Rey, Frey, Va??" tanya Joshua sedikit tersentak.


"Eh enggak woi, masa Anggara sahabat gue punya Khodam sih? Mana ada coba."


"Terus apa dong??" tanya Aji.


'Duh, gue gak mungkin kasih tau mereka kalau Anggara Indigo. Gue cuman nggak mau Image Anggara turun di rendahin sama orang-orang. Mampus, jawab apaan nih gue.'


"Ehm Anggara punya aura luar biasa karna Anggara punya jiwa pemberani, Ji, Ndra, Ka, Jo, Ga, La, Ren, Za." Freya menyengir berharap kesemua teman-temannya mempercayainya.


"Oooohh iya juga yak. Anggara kan cowoknya pemberani banget, oke-oke jadi paham aku. Tapi emangnya ada yak aura jiwa pemberani di bilang luar biasa?" tanya Aji.


"Eeee- oh ya tentu ada dong Ji! Kan ada tuh beberapa aura yang biasanya di sebutin .. misalnya aura pemarah, aura baik hati, aura penakut, dan aura pemberani." Jova menjelaskan Aji dengan jantung sedikit berdegup cepat.


Reyhan menepuk tangannya satu kali. "Nah ehm bener banget! Anggara tuh punya aura jiwa pemberani makanya arwah itu nyebutin aura Anggara luar biasa. Gitu guys!"


Kesemua temannya mengangguk dengan be-or-ria sangat mengerti. Reyhan, Freya, dan Jova terpaksa berbohong sedikit pada teman-teman sekelasnya. Sebetulnya Anggara memiliki aura luar biasa itu bukan karena hanya mempunyai jiwa pemberani tetapi suatu kelebihan istimewa dari Indigo-nya.


Pada akhirnya setelah membahas tragedi mengerikan puncak hutan Bogor tersebut, sekelompok anak SMA itu segera menyelesaikan tugas PR esai Fisikanya dengan secara tetap saling bekerja sama.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Setelah otak remaja itu di buat letih oleh tugas dari bu Aera, kini teman-temannya Joshua memutuskan berpamitan pada kedua orangtuanya pemuda yang selalu memakai kacamata itu lalu pergi ke rumah masing-masing.


Di luar gerbang rumah Joshua, Jova yang memasang pengait helmnya berbalik badan ke Reyhan yang akan menaiki motor bersama Rangga.


"Rey, ini kamu sama Rangga langsung pulang apa gimana?"


"Ke rumah sakit dulu buat jagain Anggara. Om Agra sama tante Andrana lagi pergi sebentar."


"Kamu di suruh kah?" tanya Freya.


"Enggak juga sih, aku sama Rangga aja sih yang pengen jagain Anggara di rumah sakit. Lagian kalo Anggara di tinggal sendiri, aku rasa itu malah jadi bahaya. Apalagi kondisi Anggara tuh belum sepenuhnya pulih."


"Hmmm kalau gitu kami berdua ikut kalian ya."


"Eh jangan Frey! Ini udah malem loh, gak baik cewek-cewek masih di luar, mending kalian langsung pulang terus istirahat. Pasti kalian berdua capek karna mikir sama ngerjain tugas Fisikanya bu Aera yang empat puluh soal esai itu."


"Yaaahh tapi aku sama Jova mau ikut Rey."


"Enggak boleh, bahaya gadis seperti kalian ini. Nanti kalo tiba-tiba kalian di begal dari belakang gimana hayo? Ngeri kan, nah yaudah kalian gak usah ikut aku sama Rangga. Lebih baik amannya kalian gegas pulang ke rumah abis itu istirahat, oke cantik-cantik?"


"Ck, yaudah deh iya-iya. Kami berdua langsung pulang. Tapi janji ya kalo ada kejadian apa-apa, jangan lupa ngomong sama sahabat-sahabatmu ini loh."


"Yaelah pake janji segala Va, iya deh iye. Nanti kalo ada kejadian atau tragedi lucu aku sebarin semua deh ke kalian berdua besok pas di sekolah. Tapi kalian hari ini harus pulang ke rumah gak boleh keluyuran kemana-mana, ngerti kan?"


"Iya ngerti. Yaudah kalo begitu mah, aku sama Freya balik dulu deh .. kalian berdua hati-hati dijalan."


"Siap Nona Sableng, yaudah kalian dulu gih."


"Ya oke, yuk Frey .. biar itu cowok-cowok berkelana sesukanya," sewot Jova.


"Ih kok sewot sih? Mana ada kami berkelana sesukanya, emangnya aku sama Rangga setan arwah?"


"Reyhan ... jangan ngomong tentang setan-setan gitu dong, dah malem nih jadi merinding aku kalau pulang sendiri," lirih Freya seraya mengusap-usap bahu kanannya dengan satu tangan sementara kepalanya lihat kanan kiri bergantian.


"Ulululu si manis takut pulang sendiri yak? Mau aku anter sampe depan rumah? Baru itu aku ke kota Bogor sama Rangga."


"Ih gak usah Rey, kan capek kalau bolak balik. Lagian aku juga mau mandiri kali, tanpa di anter sampe depan rumah."


CTAAAAAARR !


Reyhan lari ngacir berlindung di samping motornya dengan menangkup kepalanya dengan kedua tangan. Matanya mengernyit menunjukan pemuda itu sangat spontan terkejut dan ketakutan.


"Gue gak mau mati! Gue gak mau mati! Gue gak mau mati!"


Rangga melongo lalu menghampiri Reyhan yang tengah berjongkok dengan terus mengatakan 'gue gak mau mati' terus berulang-ulang. Rangga ikut berjongkok dan menggoyangkan bahu Reyhan.


"Hei cuman petir doang Reyhan."


Freya mendatangi Reyhan dan juga ikut berjongkok di samping sahabatnya. "Reyhan takut sama suara petir ya?"


"Buset ganteng-ganteng tapi Phobia petir anjay," kejut Jova.


"Bukan Phobia aku, tapi Insomnia!" kesal Reyhan sambil mendongak kepalanya ke arah Jova yang di depan jok motor Reyhan.


"Tumben kamu bilang aku ganteng? Biasanya buruk rupa tuh."


"Oh iya maaf ralat, buruk rupa maksudnya," ucap Jova terkekeh.


"Sialan!!"


Freya menatap Reyhan begitupula dengan Reyhan. "Kamu takut sama petir? Sejak kapan?"


Kening Reyhan berkerut. "Aku gak takut sama petir kok, malahan gak sama sekali."


"Lah orang tadi pas ada suara petir barusan kamu langsung ketakutan sampe ngibrit berlindung diri loh, itu apa namanya kalau lo gak takut sama suara petir?" tanya Rangga heran.


"Lah itu tadi suara petir?"


"Iyalah, kamu kira apaan?" Jova bertanya dengan kedua tangan melipat di dada.


"Aku kira itu suara setan. Habisnya tadi lagi ngomongin setan dikit, jadinya aku mengira suara itu dari setan yang ngamuk samaku."


"Jyah! Dasar aneh lo emang. Mana ada suara setan sampe begitu? Paling juga cekikikan kayak kuntilanak atau kalau itupun tawanya gede berarti suaranya genderuwo."


"Gini aja dah gue mau nanya sesuatu sama lo, elo tuh takut sama setan ya? Liat deh wajah lo langsung rada pucet gitu kek abis lihat sosok dedemit."


"Iya, gue takut sama setan. Semua jenis-jenis setan gue takut kalau itu serem, bahkan saking seremnya gue langsung lemah bukan semaput loh ya."


"Hah? Itu satu kelemahan lo? Memangnya lo bisa lihat wujud makhluk gaib? Lu Indigo kah?" introgasi Rangga.


"Kagak, gue gak punya kelebihan indra keenam. Gue bisa lihat mereka kalau posisi gue di teror atau apalah itu yang bisa bikin gue lihat wujud serem mereka terkecuali ngerasain keberadaannya."


"Biasanya paling sering kalau Reyhan habis lihat setan gak sengaja gitu, mesti Reyhan langsung demam."


"Ih anjir kamu Va, di bocorin aibku!"


"Lah gakpapa dong, kan sama tetangganya sendiri. Sama tetangga gak boleh main rahasia-rahasia."


"Oh gitu toh, wah parah juga ya."


"Tapi kalau film udah beda lagi ceritanya, gue gak takut dikit pun juga. Tapi kalau beneran, depan mata asli. Yaudah nasib gue, kena demam berhari-hari."


"Yaudah yok gas jalan, tentang gue gak usah di bahas lebih dalem lagi hehehe. Ayo buruan mau ujan keknya. Disini juga tinggal kita berempat doang yang lain udah pada go home."


"Yang cewek-cewek cakep pulang sana gih, nanti kalau kehujanan terus sampe rumah langsung masuk angin kan gak lucu."


"Gak lucu .. gak lucu, mana ada sih masuk angin tuh lucu. Orang kalau sampe bilang sakit itu lucu, otaknya udah mati."


"Astagfirullah Jova, ngomongnya jangan sembrono dong. Ini kalau sampe Anggara denger kamu bicara gitu, langsung kena tegur habis-habisan. Siapa yang mau nolong kamu?"


Jova terdiam pada penurutan kata dan satu pertanyaan dari Freya. Namun pada kemudian Jova menjawabnya dengan sifat rada gengsi.


"Ya gakpapa toh, malah nambah pembelajaran dari pak guru Anggara."


Jova berkata seperti itu namun dalam isi relung hatinya berbicara bahwa sebenarnya kalau dirinya sudah sampai di tegur Anggara apalagi diceramahi seperti guru ruang BK, Jova terdiam membungkam mulut seakan-akan gadis tomboy tersebut seketika kehilangan kata-kata yang ingin ia jawab untuk membalas teguran dan ceramahan dari sang Anggara Veincent Kaivandra.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Langit malam menggelap, angin berhembusan masuk ke jendela kamar rawat Anggara. Sementara Anggara tengah sibuk menggambar sketsa pada sesuai imajinasinya.


Sandaran punggungnya di bantal membuat pemuda itu nyaman untuk melakukan aktivitas bakat menggambarnya. Memasuki 2 minggu ini, Anggara sudah mulai mampu menggerakkan tangannya yang kaku tersebut belum anggota tubuhnya yang lainnya. Buku gambar miliknya nang masih kosong, pensil yang tengah Anggara pegang ia gerakkan untuk menggambar sesuatu dengan ditemani oleh angin sepoi-sepoi malam hingga angin tersebut meniup gorden putih di kaca jendela yang masih terbuka lebar.


Kini Anggara memberikan arsiran tebal pada kedua mata yang ia gambar. Ya, Anggara terlihat menggambar sesosok misterius si postur tubuh lelaki dengan mengenakan baju pasien berlengan panjang. Dilanjutkan setelah kedua mata adalah yakni Anggara menggambar sunggingan bibir tanpa senyuman di bawah hidung mancungnya. Anggara masih menggambar sketsanya belum sampai mewarnai gambar sosok misterius di imajinasi otak cerdasnya.


Namun ada hal sesuatu yang muncul secara tiba-tiba di benak otak Anggara, imajinasi sosok misterius yang ia ciptakan melalui gambaran yang ia rangkai, menjadi sosok begitu menyeramkan. Banyak bercak-bercak darah begitupula di bawah mulutnya berlumuran darah. Tak ingin siakan imajinasi mengerikan yang datang di benaknya, Anggara segera mengambil pensil warna merah maroon dari kotak pensil miliknya untuk mewarnai pada tepat bawah mulut sosok misterius pada gambarnya.


Hanya warna merah saja yang Anggara perlukan buat menambah kesan menyeramkan dari apa yang ia gambar saat ini di malam gelap sebentar lagi akan turun hujan deras melanda. Terakhir Anggara meletakkan alat pensil warna merah maroon-nya lalu mengambil spidol merah dari kotak pensil coklatnya untuk mencorat-coret baju pasien gambarnya yang tadi ia sudah memberi pensil warna biru sama persis warna sepadan baju pasien lengan panjang yang Anggara kenakan sampai sekarang selama ia masih dirawat dalam rumah sakit.


CTAAAAAAARR !!


Anggara tersontak terkejut sampai nyaris terlompat karena suara petir menggelar kuat dari atas langit. Sementara setelah itu hujan deras turun melanda dan mengguyur kota Bogor. Dan inilah Anggara merasakan hal janggal di sekitarnya, angin berhembusan kencang menusuk kulit putih Anggara hingga Anggara sangat kedinginan, ia menarik selimutnya dan melindungi beserta merapatkan tubuhnya dengan selimut sapphire blue tebalnya agar teratasi dari kedinginan.


Kamar rawat no 208 menjadi bernuansa mencekam, dan Anggara merasakan ada aura kegelapan di hadapannya. Tentunya jika seperti itu Anggara begitu peka terhadap berbagai hal berhubungan tentang aura serta hal-hal mengandung kejanggalan serta pikiran di luar nalar.


Mata sipit Anggara was-was dengan cara menengok-nengok kanan kiri bergiliran, sampai tiba-tiba datanglah angin berhembus satu kali di jauh depannya ia bersandar di kepala ranjang pasien. Dengan perlahan-lahan Anggara menolehkan kepalanya dari samping kanan ke hadapan depan.


DEG !


Seakan-akan detak jantung Anggara nyaris berhenti saat mata Anggara bertatapan dengan sosok lelaki misterius berbadan jangkung, bertubuh kulit pucat pasi serta bawah mulutnya yang tak ada sunggingan senyum itu berlumuran darah hingga sampai ujung dagunya. Bola mata Anggara bergerak turun untuk mengamati baju pasien berwarna biru yang sangat kusut seperti tidak di setrika serta banyak bercak-bercak darah segar yang menodai sekitar bajunya, tak juga dengan celana panjangnya.


Namun akan tetapi sorot mata dari lelaki menyeramkan umur 17 tahun itu tak menunjukan kalau ia tengah dendam dan marah pada Anggara. Anggara menatap sorot mata lelaki menyeramkan tersebut yang merupakan sosok arwah yang bergentayangan. Anggara langsung bisa mengetahuinya apa yang diinginkan dari arwah tersebut, ia meminta bantuan dari pemuda Indigo pemberani ini.


"Tolong ..." lirih arwah tersebut.


Anggara menghela napasnya tanpa ada rasa takut."Tolong apa?"


"Tolong bantu aku untuk menyelesaikan urusan kejam ini ..." lirihnya lagi dengan suara nada sangat lambat.


"Urusan kejam apa yang bisa gue bantu menolong elo?"


"Ada beberapa pembunuhan yang waktu silam menyiksaku hingga aku mati. Maka dari itu aku meminta izin padamu."


"Izin apa?" tanya Anggara mulai merasakan feeling tidak baik.


"Izinkan aku untuk memasuki ragamu."


Anggara begitu terkejut mendengarnya hingga matanya terbelalak lebar dengan menelan salivanya susah payah. Ia tak menyangka dari permintaan arwah yang sangat membutuhkan Anggara.


"A-apa?! Jangan aneh-aneh! Gue gak bisa kalau lo masuk ke raga gue, tentu saja gue gak bakal izinkan lo untuk masuk ke dalam tubuh raga gue!"


"Tolonglah, hanya itu satu cara agar masalah ini terselesaikan. Aku mohon, aku ingin beristirahat dengan tenang di alam sana setelah semuanya selesai. Jika kamu menerima permintaanku, aku akan bisa pergi dengan tenang tanpa ada urusan yang perlu aku selesaikan lagi," ujar arwah itu memohon dengan berwajah amat sendu.


"Lo gak bisa asal masuk ke dalam tubuh gue! Kondisi gue belum sehat, jadi susah buat lo memasuki tubuh gue yang lemah!"


"Enggak, kamu sangat cocok untuk aku masuki. Tolonglah aku, hanya sebentar saja lalu aku akan keluar dari ragamu dan aku berjanji tak akan menyakitimu, tugasku hanya balas dendam."


"Enggak! Gue bilang enggak! Pergi saja sana! Jangan lo pikir gue mau menerima permintaan lo yang ternyata ingin berbalas dendam!"


"Tolong aku ..."


"Enggak!"


"Tolong, aku mohon padamu sekali saja."


"Enggak! Gue gak mau!!"


"Tolong." Kini ucapan satu kata dari arwah itu menekan pada nadanya.


"Gue bilang enggak tetap enggak!!"


"TOLONG AKU!!!"


CTAAAAAAARR !!


Petir lagi-lagi bersuara menggelegar sangat kencang hingga memperlihatkan cahaya ungu dari langit. Hujan semakin lebih deras, hingga pada bentakan Anggara pada permintaan arwah itu yang memaksa menjadi tak terdengar dari luar karena hujan deras mengalahkan suara nada tinggi damprat Anggara.


"Oke, jika kamu nggak mau. Aku akan bertekad masuk ke dalam ragamu dengan paksa!"


Arwah lelaki itu berjalan melangkah mendekati ranjang kasur pasien yang tempat Anggara biasa berbaring. Di sisi lain, jantung Anggara berdegup sangat amat cepat lewat batas normal detak jantungnya. Anggara tak mempunyai pilihan lain selain ia melarikan diri dari arwah yang memaksa dirinya untuk masuk ke dalam raganya.


Anggara dengan gesit melompat ke kiri dari kasurnya. Namun karena tubuhnya terasa kaku akibat sudah lama di diamkan apalagi tak di gerakkan, Anggara terjatuh kuat di lantai sementara badannya terhantam kuat di lantai dingin.


Brugh !!


"Akh!"


TRANNGG !!


Tiang infus yang tegak berdiri jatuh ambruk menimpa punggung Anggara yang pada posisinya Anggara jatuh terlungkup. Anggara meringis kesakitan dengan mencoba bangkit duduk menyingkir tiang infus yang menimpa dirinya.


"Jangan mencoba kamu kabur dari aku. Kamu nggak bisa lari sekarang."


"Argh pergilah! Jangan ganggu gue!!"


Anggara ingin mengambil ponselnya untuk meminta bantuan pada orangtuanya namun benda pipih-nya ada di meja nakas samping kanan, tak segan-segan pula Anggara mencabut paksa jarum infus yang tertancap di telapak tangan kirinya lalu memaksa dirinya untuk bangkit berdiri dan berlari tergopoh-gopoh untuk mengambil handphonenya di atas meja nakas. Anggara sempat berhasil menghindar dari arwah itu yang terus mendekati Anggara.


Namun karena keseimbangan larinya kurang, pada akhirnya Anggara yang telah menggapai meja nakas terjatuh, sementara meja berwarna dominan putih tersebut berguncang mengakibatkan vas bunga kaca yang di atas meja nakas terjatuh mengenai kepala Anggara.


Pyaaaarr !


Sementara tangannya yang meleset menggapai HP-nya membuat ponselnya ikut terjatuh di samping Anggara. Akibat jatuhan dari vas bunga kaca tersebut yang mengenai kepalanya, hal itu pandangan Anggara langsung mengabur dan ia pun menjadi terbaring di lantai dengan keadaan penurunan kesadaran.


Mata pemuda Indigo itu yang sudah terpejam karena telah pingsan akibat pukulan keras tak sengaja dari benda vas bunga kaca, arwah itu mendekati Anggara sangat dekat.


"Maafkan aku."


Setelah mengucapkan nada sedih itu, arwah lelaki tersebut memasuki dalam raga Anggara yang pemuda itu sendiri masih belum sadarkan diri.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di lorong lantai 4, Reyhan dan Rangga berjalan secara beriringan menuju kamar rawat no 208 di lantai 5. Hanya beberapa kilometer lagi mereka berdua akan sampai pada tujuan, namun disaat tengah jalan santai...


GREP !


Satu orang menarik tudung jaket Reyhan dan juga Rangga bersamaan. Reyhan yang mendengus langsung menoleh ke belakang, dan apa yang ia tatap sungguh membuat Reyhan terkejut bukan main.


"Elo?! Sialan! Elo orang yang hampir buat sahabat gue mati waktu dulu itu kan??!!"


Psikopat yang memakai topeng itu tertawa. "Hahahaha! Iya kenapa? Lo kaget gue disini?"


"Brengsek! Lepasin gue!!" umpat Reyhan.


"Apa gue bakal iya-in? Gak, lo berdua akan mati di tangan gue sekarang juga!"


"Elo-"


BUAGH !!


Psikopat kejam itu menonjok perut Reyhan hingga pemuda itu jatuh tersungkur di lantai dengan merintih kesakitan. Rangga terkejut dan berusaha melepaskan tarikan jaketnya dari tangan psikopat tersebut, namun baru saja akan mulai meraihnya, tangan Rangga di pelintir kencang oleh manusia kejam itu.


"A-akh! Akh! Akh!!"


"Napa lo? Mau ngelawan gue? Mimpi aja dulu!"


BUAGH !!


Orang tersebut kemudian melepaskan tarikannya dari tudung jaket hijau tua Rangga lalu menendang dada Rangga hingga yang di tendang sedikit melanting ke belakang. Lorong itu nampak sepi tak ada orang sama sekalipun, dan kini posisi Reyhan dan Rangga tengah tak berdaya akibat serangan kuat psikopat tersebut.


Psikopat itu mengambil pisau cutter berukuran lumayan besar dari saku kantung celana jeans belakang. Pisau cutter itu pada kemudian di todong kan ke Reyhan dan Rangga satu persatu.


...---------->◎:☬☬☬:◎<----------...


Di dalam kamar rawat, Anggara yang tak sadarkan diri kini bangun dan bangkit posisi duduk dengan sorot mata yang sangat berbeda. Pandangan kosong tak seperti biasanya jauh berbeda dari seperti Anggara yang tengah ngelamun. Dengan tetap pandangan ke depan, Anggara bangkit berdiri dan keluar membuka pintu kamar rawatnya.


Di luar rupanya sudah ada banyak pengunjung yang berlalu lalang di lorong lantai 5, pandangan Anggara yang bersorot menyeramkan itu membuat anak gadis kecil yang sedang menjilat menikmati permen lollipop-nya mengeratkan baju di bagian pinggang sang bundanya.


"Bun, Kakak itu kenapa? kok matanya serem banget. Kayak bukan manusia."


"Eh gak boleh begitu Sayang, sini sama Bunda saja kalau kamu takut."

__ADS_1


Pandangan mata Anggara yang bersorot seperti hantu berjalan, menjadi pusat perhatian semua pengunjung rumah sakit bagian lorong lantai 5 yang luas tersebut.


Sementara itu di sisi lain, psikopat itu yang seperti menatap Reyhan penuh dendam, menghampiri Reyhan lalu mencekik lehernya seraya menodongkan pisau cutter-nya ke dekat wajah Reyhan yang tak berdaya.


"Lu tau pisau ini kan? Kalau gue bertindak sadis buat ngebunuh elo dengan benda maut ini, lu bakal mati hahahaha!!"


"Lebih enaknya gue congkel mata lo, atau gue gorok leher lo pake pisau ini yak? Hmmm kayaknya dua-duanya lebih seru."


"M-m-manusia biadab!! Lepasin Reyhan!"


Psikopat itu yang akan membunuh Reyhan tertunda gara-gara ucapan Rangga yang terlihat ingin melawannya. Psikopat itu mendengus marah dengan melepaskan cekikan dari leher Reyhan lalu mendatangi Rangga dan berjongkok di hadapannya.


"Lu kenapa ikut campur keseruan gue hah? Mau jadi pahlawan lo kek cowok gak tau diri itu yang gue buat sekarat dua bulan yang lalu?!"


Rangga mendengus dengan napas naik turun, ia merasa muak pada psikopat yang tak punya nurani hati.


Psikopat itu menarik rambut Rangga bagian atas dan membenturkan kepala Rangga di pas tembok di belakangnya. Rangga meringis kesakitan pada kepala yang di benturkan oleh manusia kejam tersebut.


"Heh dengerin ya. Lu mending diem aja deh, karna sebentar lagi Reyhan akan mati dan lo bakal menyusulnya setelah Reyhan mati!"


"Gue gak takut ancaman lo anjing!!" geram Reyhan masih bisa menguatkan diri.


Tangan psikopat itu nampak mengepal kuat lalu berdiri dan kemudian membogem wajah Reyhan hingga wajahnya sedikit lebam, sementara sudut bibirnya berdarah.


BUGH !!


"Kenapa? Segitu kah kemampuan lo buat habisin gue?" tanya Reyhan dengan senyuman miring.


Psikopat itu semakin geram kesal dan langsung menendang dada Reyhan lalu setelah Reyhan terbaring dengan tertatih tatih, psikopat itu bersama jiwa sadisnya menghentakkan kakinya yang bersepatu di dada Reyhan dan menekannya membuat napas dari Reyhan tercekat sementara dadanya menjadi sakit sesak.


"Mau masih lawan gue? Sekali lo nantang-nantang gue lagi, nyawa lo akan melayang!"


Kreeeekk !!


Psikopat yang tengah menyiksa Reyhan kini mengangkat pisau cutter-nya lalu dengan sadis psikopat itu hendak menusuk mata Reyhan dengan pisau membahayakan itu, Reyhan sudah tak bisa apa-apa lagi, suaranya serasa tertahan alias terhambat. Rangga yang ingin bangkit untuk menyelamatkan Reyhan, tak mampu karena tendangan maut dari psikopat itu sangat dahysat membuat Rangga sulit untuk berdiri.


Pisau itu dengan cepat di turunkan melesat ke arah mata Reyhan, tetapi namun ada seseorang yang mencekal kuat tangan psikopat itu yang akan menusuk mata Reyhan.


Grep !!


Mata Reyhan mencuat tajam, dirinya terkejut saat melihat Anggara lah yang menahan tangan psikopat itu, tak hanya Reyhan saja yang terkejut tetapi Rangga juga sama seperti Reyhan.


"A-anggara?! L-lo kenapa disini?! Pergi Ngga!!" komando Reyhan tegas.


Psikopat yang tangannya di cekal Anggara kuat begitu syok melihat seorang pasien yang ia bunuh itu ternyata masih hidup.


"Elo?! Lo masih hidup?!" Setelah mengutarakan keterkejutan psikopat itu, Anggara menyerong badannya menghadap manusia kejam yang dulu hampir membuat Anggara kehilangan nyawa. Tatapan sorot mata Anggara begitu tajam seolah-olah di mata Reyhan itu bukan sahabatnya.


Anggara tersenyum sinis. "Kamu ingin membunuh sahabat lelaki ini? Harusnya kamu yang akan di bunuh malam ini juga."


Suara Anggara begitu sangat berbeda bahkan Reyhan sampai merinding mendengar suara sahabatnya yang kini jiwanya bukan sang sahabat Reyhan. Rangga memaksa diri untuk bangkit lalu menghampiri Reyhan, setelah itu Reyhan dibantu oleh Rangga berdiri.


"Rey, lo gakpapa?!"


"Sans, gue gakpapa Ga."


Anggara menolehkan kepalanya ke arah Reyhan dan Rangga dengan wajah aura yang berbeda. "Mundur."


"Ng-ngga tapi Ngga-"


"Aku bilang kalian mundur, biar aku yang mengurus orang brengsek ini." Anggara memotong ucapan Reyhan yang belum terselesaikan.


Setelah di komando Anggara, Reyhan dan Rangga melangkah mundur menghindari Anggara dan satu psikopat yang masih mengenakan topeng wajahnya.


"Sok berani lo! Apa lo gak inget, gue dulu yang buat lo sekarat hah?! Lo mau langsung mati di tangan gue?"


"Ucapan-mu nggak ada artinya buat diriku."


Anggara melepaskan tangan psikopat itu yang menggenggam pisau cutter lalu Anggara menarik kerah hoodie hitam manusia itu dengan ditambah memojokkan psikopat kejam tersebut ke tembok.


Bersamaan dan bertepatan itu, rupanya para pengunjung lorong lantai 5 yang penasaran apa yang terjadi dengan Anggara, mengikuti pemuda tersebut. Di depan para pengunjung lorong lantai 5 RS Medistra Kusuma, ada Agra dan Andrana yang terkejut melihat anaknya berhadapan dengan psikopat itu, tentunya Agra mengenalnya.


Andrana menutup satu mulutnya melihat anaknya seperti akan berseteru pada satu psikopat yang kejam tersebut, sementara Agra yang ada di samping istrinya meremat tangannya kuat matanya terus menatap tajam pada psikopat itu yang telah dipojokkan oleh putranya.


"Gak usah semena-mena lo sama gue!! Dengan lo begini apa gue takut sama lo?!" Terlihat rahang psikopat lelaki muda itu mengeras saat meninggikan nada suaranya.


Anggara tersenyum licik. "Coba kamu pikir sendiri," singkatnya dengan nada menyeramkan.


Psikopat itu mengerang geram, amarahnya memuncak tak terkontrol. Ia menggenggam kuat pisau cutter yang ia bawa dan segera ia layangkan ke mata kiri Anggara, namun tangkas gesitnya Anggara berhasil mengelak serangan berbahaya itu dengan hanya telengkan kepalanya ke kanan untuk menghindarinya.


Agra yang takut anaknya terluka parah lagi seperti dulu hendak berlari menghampirinya. "Anggara-"


"Jangan dulu Pak! Anak Bapak saat ini posisinya lagi dirasuki arwah gentayangan yang arwahnya sedang tidak tenang. Kita hanya bisa membiarkannya dahulu."


"Pak tapi Pak, jika anak saya kenapa-napa bagaimana?! Tidak pokoknya saya harus-"


Satu orang pria paruh baya lagi menahan badan Agra untuk tidak menghampiri Anggara yang jiwanya bukan anaknya.


"Pak jangan Pak! Jika Bapak menolong anak Bapak dengan kondisi seperti itu, Bapak sendiri yang akan terluka olehnya!"


Andrana menggenggam tangan suaminya dan menatapnya. "Anak kita dirasuki arwah ..." lirih Andrana tak percaya.


Agra mengangguk, situasi seperti ini kedua orangtua Anggara tak bisa mencegah Anggara dalam keadaan ia sedang dirasuki oleh arwah lelaki pasien RS Medistra Kusuma yang awal di siksa oleh para pembunuhan hingga ia di bunuh dengan satu pembunuhan yang merupakan manusia paling kejam seluruh kota Bogor.


Reyhan dan Rangga juga cuma bisa melihat tanpa mencegah Anggara. Dua pemuda itu sama-sama sedang menahan sakit usai di hajar oleh psikopat yang dipojokkan oleh Anggara di tembok.


"Ayo kita lihat seberapa hebatnya dirimu hahahaha!" Tawa Anggara sungguh membuat yang mendengarnya meremang seketika termasuk kedua orangtuanya yang tengah panik dalam diam.


Anggara menarik kerah hoodie psikopat tersebut ke depan lalu membantingnya dengan begitu kuat.


BRUGH !!!


Satu kali banting rupanya sudah membuat psikopat terhebat itu tertatih-tatih karena ulah Anggara yang dirasuki arwah lelaki tersebut. Pisau cutter yang di genggam erat psikopat tersebut telah terlempar jauh setelah Anggara membantingnya.


Anggara berjongkok di hadapan psikopat itu yang memakai topeng wajah, tatapan mata Anggara benar-benar tengah menaruh dendam besar padanya.


"Waktu silam, kamu juga membanting diriku seperti ini kan. Biar adil dan impas selanjutnya kamu yang aku banting huahahahaha!!"


"Berdirilah brengsek!!"


Anggara menarik kerah hoodie psikopat itu hingga membuat ia berdiri. "Tenang saja, hanya beberapa kesakitan lagi kok yang kamu terima. Rasakan ini yang kedua!"


BRUGH !!!


"AAARRGHH!!"


Kesemua yang ada di sekitar Anggara begitu sangat amat terkejut pada apa yang dilakukan Anggara semeskipun itu bukan ulahnya Anggara, melainkan arwah tersebut.


"Katanya hebat, kok lemah? Bagaimana enak kan? Mau lagi?"


Psikopat itu menggeleng kuat seperti sudah menyerah dikarenakan sekujur tubuhnya sudah remuk sendi-sendinya akibat bantingan dahysat dari Anggara. Namun Anggara menggeleng kepalanya dengan tersenyum menyeringai, ia belum puas menghabiskan psikopat itu hingga benar-benar mati.


Anggara memaksakan berdiri si psikopat itu yang sudah lemah tak berdaya seperti sudah tak ada tenaga lagi. Anggara menarik kerah hoodie-nya kembali lalu membantingnya jauh lebih amat hebat dari sebelumnya.


BRUAGGGHH !!!


"HUAHAHAHAHAHA!!!"


Anggara tertawa puas melihat manusia kejam satu itu terkulai lemah sangat tak berdaya. Anggara berjongkok kembali dan mengangkat tangan kanan psikopat tersebut.


"Tangan ini gak berguna untuk lagi kamu gunakan, lebih baik aku ..."


Kretekk !!


"AAAAAGGGHH!!!"


Anggara memelintir tangan psikopat itu hingga tulang tangannya patah. Suara patahan tangan itu mampu mengagetkan jantung para yang menontonnya dengan raut wajah cemas sebagian ada yang ketakutan yaitu para anak-anak kecil. Karena tak baik dan mengerikan dilihat, para anak-anak berusia yang masih kecil di hindarkan penglihatan pandangannya melalui tutupan tangannya dengan orangtuanya masing-masing ada juga yang sampai membopong anaknya lalu kepalanya di tundukkan ke bahu agar tak melihat kejadian mengerikan dan sadis tersebut.


Mata Anggara melotot tajam namun senyuman menyeringai menyeramkan menghiasi wajahnya. Kini bergantian tangan kiri psikopat tersebut yang Anggara pelintir kencang hingga pergelangan tulang tangannya juga sama-sama patah.


Kretekk !!


Psikopat itu sudah tak bisa lagi menghajar Anggara dikarenakan kedua tulang tangannya yang patah, mustahil untuk ia gerakkan apalagi melawan Anggara yang bukan jiwa Anggara saat ini. Anggara kemudian beranjak berdiri lalu berjalan memutari psikopat tersebut yang terbaring lemah namun nyawanya masih berfungsi.


"Nyawamu banyak juga ya, seperti Iblis! Hahahahaha, masih sanggup kah kamu bangkit dan balik melawanku?" tantang Anggara tetap dengan nada seram.


"Mungkin hanya dua persen yang kamu miliki untuk melawanku. Tetapi maaf kamu akan pergi ke tempatmu sesungguhnya dan selama-lamanya huahahahahaha!!"


"Manusia biadab bajingan!!" umpat psikopat tersebut.


Anggara berhenti memutari psikopat itu dengan sambil menaikkan satu alisnya bersama senyuman smirk. Anggara berjongkok santai lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir smirk-nya.


"Ssstt .. hei mau menuju maut kenapa mulutmu masih belum kamu jaga hah? Kamu lupa kalau sebentar lagi hidupmu bakal berakhir di tanganku?"


Anggara dengan geram segera menarik kerah hoodie lawannya lalu ia dorong psikopat tersebut ke tembok lagi dengan kedua tangan mengeratkan di kerah hoodie hitam manusia kejam itu.


DUGH !!


Secara dorongan kuat Anggara, membuat belakang kepala lelaki pembunuhan tersebut terbentur lumayan kuat bagi yang menderita. Bola mata Anggara menunduk ke bawah untuk mengambil pisau cutter yang masih bersih tak ada lumuran darah bahkan pun bercak-bercak darah sedikit saja. Berikutnya, Anggara angkat pisau cutter milik pemuda psikopat tak ada nurani hati itu lalu ia todong ke dekat wajah ia sebatas 2 sentimeter.


"Pisaunya kurang menarik dan kurang mengerikan huahahaha!"


Anggara tertawa kembali lalu dengan santainya ia menjatuhkan pisau cutter tersebut ke lantai. Suara napas yang mendengus terdengar dari Anggara, serta mata mendelik kuat dengan mata mencuat tajam tak hanya itu saja, warna matanya menjadi merah menyala seolah-olah arwah itu sangat marah besar bercampur penuh dendam yang ia taruh di hatinya. Satu tangan kanan Anggara mencekik leher psikopat tersebut dengan cara mengangkatnya ke atas sehingga kaki psikopat itu tak menapak di lantai.


"Manusia hati buta!! Kamu sudah membunuhku waktu itu, dan ini saatnya kamu harus menerima apa yang dulu aku rasakan sebelum mati gara-gara dirimu!!"


Mata Anggara yang merah menyala itu apalagi wajahnya berubah menjadi menyeramkan, begitupula mukanya begitu pucat membuat Reyhan yang menatapnya sampai tak berdaya, mulutnya terbungkam rapat, keringat dingin dari dahi mengucur deras ke pelipis matanya. Dadanya masih ia pegang karena masih terasa amat sakit oleh akibat ulah bengis psikopat tersebut yang sekarang mulai kehabisan oksigen akibat cekikan Anggara yang sungguh kuat.


Tangan kiri Anggara merogoh kantong saku celana jeans hitam psikopat itu yang berada di bagian belakang. Setelah Anggara mendapatkan benda sesuatu yang panjang dari dalam saku celana pemuda tersebut, Anggara mengambilnya dengan kasar lalu mendekatkan benda itu ke wajahnya ia sendiri. Seperti sebuah tas kecil panjang berwarna abu-abu tanpa ada resliting tetapi ikatan tali dari pasangan tas tempat pengoleksi sesuatu yang membuat Anggara ingin menggeledah isi dalamnya.


Anggara melepaskan cekikikan pada leher pemuda psikopat itu begitu saja, psikopat tersebut jatuh ke lantai dengan terbatuk-batuk lalu menghirup udara yang tadi ia hampir kehabisan banyak oksigen saat Anggara mencekiknya.


Kini Anggara sedang melepaskan ikat tali yang membelenggu tas tempat pengoleksi sesuatu. Setelah tali tersebut telah melonggar di lepas Anggara, Anggara berikutnya membongkar isi tempat wadah tersebut dengan menjatuhkan isinya dari atas seraya mengguncangkan beberapa kali.


Clang clang clang clang !


Anggara membuka mulutnya berbentuk huruf O dengan menaikkan kedua alisnya, lalu ia duduk jongkok mengamati satu persatu jenis-jenis pisau yang jatuh berceceran.


"Jangan lo sentuh benda gue!!"


Anggara tak menghiraukan ucapan larang dari psikopat itu yang tengah sekarat. Beberapa jenis pisau tersebut nampak sangat tajam semua, namun mata Anggara tertuju oleh satu pisau yang menurut arwah itu sangat menarik dan seru.


'Apa yang Anggara lakuin sama pisau itu ?! ' batin Reyhan degdegan.


"Hmmm di antara banyak pisau yang ternyata kamu koleksi di tas ini, rupanya ada satu pisau yang bagiku menarik buat aku mainkan ke tubuhmu."


"Apa maksud lo bangs*t?!"


"Hahahaha! Habis ini kamu bakal tahu sendiri kok, tenang saja. Satu menit lagi kamu akan menyesal."


Agra dan Andrana tak bisa berkata apa-apa, namun kedua orangtuanya yang juga Indigo mengerti apa yang di katakan arwah yang ada di dalam tubuh raga anak semata wayangnya. Sementara di samping mereka lagi sudah ada dokter Ello yang memantau kondisi Anggara serta para perawat yang selalu berdampingan dengan sang dokter Ello.


Anggara bangkit berdiri lalu menarik leher psikopat itu dengan kencang ke atas kembali seperti semula.


"Hmmm pisau belati ini begitu tajam ya, aku ingin uji coba menusuknya di anggota tubuhmu. Jadi selamat merasakan kesakitan kedelapan hahahahaha!!"


JLEB !!!


Anggara menikam perut pemuda pembunuh tersebut dengan pisau belati hingga menembus perutnya sampai darahnya muncrat keluar mengenai baju pasien milik Anggara yang dikenakannya. Selanjutnya Anggara menarik paksa pisau belati tersebut keluar dari dalam perut psikopat itu, sementara tangan Anggara yang menggenggam pisau tersebut ternodai lumuran darah segar perut manusia bengis.


"Kurang ya? Kurang lah, nyawa milikmu kan banyak banget. Jadinya aku tusuk saja beberapa kali seperti kamu menusuk pisau ini ke perutku juga dulu .. aku hanya menirukan gerak-gerik mu aja waktu kamu menyiksaku berujung membunuhku sampai mati!!"


JLEB !!!


Anggara menusuk perut psikopat tersebut dengan pisau belati lagi tepat pada luka psikopat itu yang begitu dalam. Ya, arwah itu benar-benar sengaja. Darah itu yang mengalir deras dari perutnya sampai hingga menetes-netes mengenai lantai.


"Ini terakhir buatmu sebelum kamu meninggalkan dunia. Kenang lah momen kejahatan yang kamu lakukan semasa kamu hidup kawan, hahahaha! Selamat tinggal dan selamat menikmati Neraka tanah Jahanam huahahahaha!!!"


JLEBB !!!


Anggara tertawa kemenangan dengan suara yang mengerikan, kesemua orang yang melihatnya terkejut dengan mata terbelalak serta melongo. Anggara melepaskan cekikan kuat leher psikopat tersebut, dan yang dilepaskan lehernya langsung terjatuh lemah terbaring ke lantai.


Brugh !


Anggara dengan wajah datarnya tanpa lagi tertawa, berjalan dan membuka topeng wajah psikopat tersebut lalu membuangnya sembarang arah. Begitu di buka, Reyhan, Rangga, Andrana, Agra, dokter Ello para perawat, dan beberapa pengunjung lorong lantai 5 ini sangat lebih terkejut melihat kondisi psikopat itu telah tak bernyawa lagi, kedua matanya terbuka, hidungnya berdarah begitu juga mulutnya. Setelah insiden peristiwa tragedi ini telah berakhir sepenuhnya, arwah yang memasuki raga Anggara keluar dari tubuhnya membuat Anggara jatuh terbaring lemah di lantai sedangkan pisau yang ia pegang jatuh.


Clang !


Brugh !


"ANGGARA!!"


Teriak satu sahabat Anggara, satu teman sekolah Anggara yang berasal dari kota Bogor asli, serta kedua orangtua Anggara bersamaan berlari menghampiri Anggara yang telah jatuh terbaring di lantai dengan mata menutup.


Andrana menjatuhkan lebih dulu kedua lutut kakinya lalu mengangkat kepala Anggara kemudian meletakkannya di atas paha kaki sang ibu. Andrana beraut wajah panik disaat menatap anaknya yang kembali lemah tak sadarkan diri usai kejadian peristiwa barusan.


"Anggara, Nak Ya Allah bangun Sayang!" ucap Andrana cemas dengan menepuk pipi pucat Anggara beberapa kali namun nihilnya Anggara tak kunjung segera siuman.


Dokter Ello dan para perawat ikut berlari mendatangi satu pasien yang lemah hilang kesadaran. Setelah berada di sisi pasien yang bernama Anggara Veincent Kaivandra tersebut, dokter Ello berjongkok sementara kedua perawat yang kompak berinisiatif mengambilkan ranjang pasien Anggara yang ada di dalam kamar rawat no 208.


Satu perawat yang ada di kanan Anggara merogoh saku seragam baju putihnya untuk mengambil sapu tangan, kemudian perawat tersebut segera dengan perlahan dan telaten membersihkan darah tangan telapak kanan Anggara hingga bersih sediakala.


Andrana terus mengusap-usap lembut pipi dari Anggara dengan tatapan khawatir yang terlihat, Agra memijat tangan kiri anaknya, sedangkan Reyhan dan Rangga memijat masing-masing kaki Anggara, agar siapa tahu Anggara segera bangun dari pingsannya.


Suara kasur roda yang mendekat ke arah mereka, membuat para pengunjung memberi jalan untuk kedua perawat tersebut yang mendorong ranjang kasur pasien Anggara secara bersama-sama. Kedua perawat itu memberhentikan ranjang kasur pasien setelah di sebelah tepatnya Anggara terbaring lemah di lantai.


Beberapa perawat kemudian dengan berhati-hati mengangkat tubuh Anggara ke atas ranjang kasur pasien, melihat Anggara akan di bawa pergi oleh para perawat Andrana segera bangkit berdiri dan menatap dokter Ello yang juga berdiri dan menyentuh sisi bagian ranjang kasur pasien yang kini di tempati Anggara pada kondisi belum sadarkan diri.


"Dok, anak kami akan di bawa ke ruang mana?!"


"Tenang Ibu, Anggara akan kami bawa ke kamar rawat agar saya di dalam sana segera memeriksa keadaan Anggara yang belum kunjung siuman."


"Baik Dok kalau begitu," respon Agra sopan dengan bernapas lega.


Dokter Ello tersenyum lalu mulai mendorong ranjang kasur pasien milik Anggara bersama para perawat ikut mendorongnya. Beberapa pengunjung lorong lantai 5 memberikan jalan luas untuk dokter Ello dan para perawat yang membawa Angga ke kamar rawatnya. Andrana, Reyhan, dan Rangga mengikuti sang dokter serta beberapa perawat berseragam putih dari belakang, sementara Agra sang ayahnya Anggara membubarkan kerumunan para pengunjung yang nantinya jasad psikopat pemuda itu akan di bawa ke ruang Jenazah.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di dalam kamar rawat no 208 setelah Anggara digantikan oleh baju pasien yang sama dikarenakan baju sebelumnya telah ternodai darah, kini dokter Ello saatnya memeriksa keadaan Anggara yang juga belum sadarkan diri. Dokter Ello mulai membuka mata Anggara dan menyorotkan-nya satu persatu menggunakan senter kecil medis yang selalu dokter Ello gembol di kantung jas putih dokternya. Kemudian dokter Ello memasukkan senter kecilnya lalu memeriksa detak jantung Anggara dengan stetoskop alat pemeriksa utamanya yang selalu ia lingkarkan di lehernya.


Satu perawat nampak sibuk dan fokus mendirikan tiang infus serta membenarkan kantong cairan infus, lalu beliau segera menancapkan jarum selang infus ke telapak kiri Anggara yang lemas, pada sebelum itu satu perawat itu yang sudah profesional memberikan kapas alkohol antiseptik lalu di usap-usapkan pelan ke bagian tengah telapak si pasien tersebut.


Dua perawat tersebut terlihat duduk berjongkok untuk memunguti barang-barang yang jatuh dari atas meja nakas termasuk menyapu pecahan kaca vas bunga. Barang-barang Anggara termasuk ponselnya dan bungkus obat-obatan dari resep dokter, di letakkan kembali atas meja nakas dengan rapi. Kemudian satu perawat yang telah selesai menyalurkan urine cairan infus ke tubuh Anggara, selanjutnya beliau dan satu perawat lainnya melebarkan selimut warna sapphire blue dan dengan kompak mereka menyelimuti Anggara sama selimut tersebut hingga batasan kerah baju pasiennya yang telah di gantikan baru.


Usai tugas para tim medis selesai, dokter Ello berjalan keluar dari kamar rawat Anggara terlebih dahulu meninggalkan perawat-perawat. Di luar Andrana dan yang lainnya menghampiri dokter Ello dengan hati cemas begitupula raut wajahnya mereka.


"Dokter, bagaimana dengan Anggara? Apakah semuanya baik-baik saja?"


"Keadaan Anggara baik-baik saja kok Bu, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan. Saat ini kondisi Anggara begitu letih sehingga membuat Anggara belum siuman sampai sekarang."


"Lalu Dok, kapan anak kami akan sadar?" tanya Agra gundah.


Dokter Ello tersenyum. "Besok pagi Anggara akan segera sadar dari pingsannya, saya sudah memastikannya itu Bapak, Ibu."


"Huft baiklah Dok terimakasih, kami lega mendengarkannya," ungkap Andrana menyentuh dadanya merasakan lega.


"Baik sama-sama Ibu, sebelum saya pamit apakah ada yang ingin dipertanyakan lagi?" tanya dokter Ello ramah.


"Tidak ada Dok, sudah cukup."


"Baik Pak kalau begitu, saya dan semua suster disini permisi ya Pak, Bu, Nak. Assalamualaikum .."


"Waalaikumsallam Dokter," jawab salam kompak Andrana, Agra, Reyhan, dan Rangga.


Dokter Ello dan para perawat yang telah berada di luar segera melenggang pergi meninggalkan mereka. Andrana serta lainnya memasuki kamar rawat Anggara yang sunyi sepi tersebut, di dalam Andrana melangkah mendekati anaknya yang masih terbaring lemah disana. Andrana duduk di kursi samping ranjang kasur pasien anaknya lalu mengelus kepala Anggara bagian atas yang keningnya dikenakan oleh perban kasa melingkar hingga belakang kepalanya.


"Reyhan baru kali ini ngeliat Anggara dirasuki arwah sampe segitunya Tan, Om .. sadis banget."


"Yang penting Om lega psikopat gak tau diri itu udah mati," ucap Agra dengan bersedekap tangan di dada.


"Iya Om, Reyhan juga sama. Malahan puas banget psikopat yang celakai Anggara waktu itu udah is dead."


"Kota lo aman sekarang bro," ucap ramah Reyhan dengan menepuk pundak Rangga.


"Gue Alhamdulillah aja sih Rey, berkat si Anggara yang udah ngebunuh psikopat itu meski menurut gue semua mustahil."


"Sorry bro, salah ucap keknya lu haha. Yang jalanin tuh bukan Anggara tapi arwah yang tadinya masuk di dalem tubuhnya Anggara pastinya juga yang ngebunuh arwahnya tetapi dia memakai raganya Anggara buat bantu dia."


"Pinter juga otakmu Rey, padahal udah malem. Tapi otakmu masih terang kek lampu sepuluh watt."


"Waduh thanks banget pujiannya Om Agra ganteng hehehehe .. bakal terbang nih Reyhan."


"Heh, lebay banget jadi orang. Terbang oke asalkan masih hidup lo."


"Oh ya iya dong Ga, lagian kalo gue mati pasti gue nyesel bet."


"Lah kenapa?" tanya bingung Rangga.


"Yaiyalah gue belum tebus dosa gue tau, mana gue orang yang sulit jaga omongan apalagi kontrol emosi, bahkan gue kebanyakan ngutang sama Anggara, belum gue bayar-bayar sampe sekarang."


"Buset! Utang apaan lo sama Anggara?"


"Hehehe duit jajan di kantin sekolah."


"Parah anjir, tapi ngomong-ngomong si Anggara ngalah banget sama lo yak?"


"Hehehehe iyak sih, jadi gak tega kalo gak bayar-bayar. Tanggal tua deh gue bayar."


"Gilak ini orang. Sesat hahaha!"


"Kalo Reyhan udah gak bisa di heranin lagi Ga, emang sifatnya konyol sama tukang sesat."


"Yeh apaan dah Om, eh tapi emang gitu sih hehehe. Oh iya Om, Tante .. Reyhan sama Rangga mau balik dulu ya, soalnya udah jam sembilan, takutnya mama sama papa khawatir anak tampannya belum pulang-pulang seperti bang Toyib."


"Nah mulai lagi ini bocah satu."


"Iyakan Ga hehehe, yaudah yok balik dah balik nanti di cari Kakak lo yang cantik jelita itu."


"Iye-iye."


Reyhan kemudian berjalan mendekati Anggara yang terbaring di atas ranjang kasur pasien. "Bang, gue sama Rangga balik dulu ye. Cepet sembuh Babang, miss you."


"Bego stress homo lo njir!"


Rangga menoyor kencang kepala Reyhan dengan mimik risih. "Aduh!" pekik Reyhan sambil tertawa.


Andrana hanya menggelengkan kepalanya dengan menepuk keningnya, merasa tobat pada sahabatnya Anggara itu.

__ADS_1


"Kalau bukan Reyhan tuh gak ada yang seperti itu sifatnya, Nak Rangga. Reyhan minum aja nih obatnya Anggara biar kamu segera pulih hehehe."


"Makasih Tante cantek, tapi Reyhan udah kebanyakan minum obat loh sampe Overdosis."


"Lah malem-malem malah bikin ngakak kamu Rey ... Rey."


"Lo daritadi stress mulu gue denger. Kasian Anggara noh!"


"Halah biar Anggara cepet sadar bro, itu pasti si Anggara dapet denger tapi otaknya gak respon."


"Bujang! Lu pikir Anggara Koma lagi?! Ngadi-ngadi lo Rey!"


"Ehehehe enggak-enggak. Reyhan bercanda loh Tante, Om."


"Iya-iya Nak Reyhan. Tante sama Om tau kok, yaudah gih sana pulang hati-hati di jalan ya Nak Reyhan, Nak Rangga."


"Iya Tante kami berdua pamit ya," ucap Rangga ramah.


Dua pemuda itu bertaut tangan dan mencium telapak tangan kedua orangtua Anggara masing-masing dengan sangat menunjukan tata sopan. Kemudian dua pemuda remaja SMA tersebut keluar dari kamar rawatnya Anggara tak lupa setelah di luar Reyhan menutup perlahan pintu kamar rawat kemudian berlalu pergi pulang bersama tetangganya yang wajahnya nyaris persis seperti Anggara.


Di sisi lain, Andrana meletakkan kepalanya di atas dada anaknya yang tertutup oleh selimut tebalnya sementara tangan kanan anaknya di genggam hangat lembut oleh sang ibu, Andrana tidur lelap dengan kepala di atas dadanya Anggara sementara itu Agra mulai membaringkan dirinya di atas kursi sofa lalu juga tidur lelap setelah istri tercintanya tidur karena sangat lelah.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Udara angin sepoi-sepoi yang meniup pelan rambut hitam Anggara, membuat kesadaran Anggara mulai menaik. Perlahan demi perlahan, Anggara membuka matanya. Pandangan ia masih blur tidak jelas apa yang ia lihat di depannya, namun satu menit kemudian Angga mulai bisa melihat jelas dari pandangan matanya yang terlihat sayu begitu wajah pucatnya.


Bola mata Anggara mengarah ke Andrana yang tidur di sampingnya dengan kepala sang ibu letakkan di atas dada pemuda tersebut yang baru saja sadar dari ketidaksadaran dirinya. Dengan senyuman lemahnya yang Anggara ukirkan di bibir pucatnya, begitu pula gerakan lemah juga, Anggara mengangkat tangan kirinya lalu mengelus lembut rambut Andrana yang masih lelap dalam tidurnya tanpa terlepas genggamannya yang ia genggam tangan lengan kanan Anggara.


"M-ma ..." panggil lirih Anggara dengan nada serak.


Andrana seketika terbangun dari tidurnya dengan bangun duduk perlahan, melihat anaknya langsung dan bahagia menatap Anggara telah sadarkan diri.


Andrana membenarkan posisi duduknya di kursi dan menggenggam lembut tangan Anggara dengan cara mengangkatnya perlahan.


"Sayang, kamu sudah bangun Nak. Alhamdulillah deh .. bener kata dokter, bagaimana Nak keadaanmu sekarang?"


Anggara terlihat sedang menahan rasa sakit kepalanya yang tiba-tiba mendatang. "Kepala Anggara sedikit pusing Ma." Setelah mengatakan ujaran tersebut dengan nada lemah serak, Anggara menolehkan kepalanya ke arah jendela yang telah terbuka. Anggara begitu terkejut namun tak terlihat di ekspresi wajahnya, sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela menyimpulkan kalau sekarang telah sudah pagi.


"Kok udah pagi? Perasaan masih malem, cepet bener," gumam Anggara tak teralihkan dari pandangan luar jendela yang kini di luar nampak dedaunan pohon-pohon asri tertiup angin tenang sepoi-sepoi.


Agra mengusap kedua matanya lalu menguap seraya menutup mulutnya dengan tangannya yang ia kepalkan. Pria paruh baya ayahnya Anggara tersebut duduk menyender punggungnya santai sambil meregangkan otot tangannya, ibaratkan pemanasan sesudah bangun tidur.


Melihat putranya dengan posisi mata telah terbuka dan pandangannya tak terlepas dari jendela, Agra segera beranjak bangun berdiri dan menghampiri ranjang pasien milik anaknya dengan wajah sumringah.


Anggara melepaskan pandangannya tersebut lalu menolehkan kembali ke tatapan Andrana yang kini ditambah ada Agra di sebelah Andrana. Muka pemuda tersebut tergambar jelas kalau ia sedang tengah kebingungan tambah linglung.


"Ma, Yah .. Anggara habis kenapa? Kok Sekarang udah pagi? Bukannya sekarang masih malem terus hujan deres ya? Sama Anggara juga ada di lantai tempat Ayah Mama berdiri."


'Berarti anakku posisinya tadi malam minta bantuan sama aku dan Agra,' batin Andrana peka.


"Anggara bener-bener lupa apa gak inget, Anggara gak tau."


Andrana menghela napasnya dengan menoleh ke Agra lalu berbalik menghadap anaknya kembali. "Nak, tadi malem kamu pingsan. Beruntung aja kata dokter kamu hanya kelelahan doang."


"Pingsan? Anggara pingsan tadi malem?"


"Iya Ngga betul dan sebelum itu kamu dirasuki oleh arwah yang kata pengunjung lorong lantai lima tadi arwah yang gentayangan karena arwahnya gak tenang," jelas Agra menimpali.


"D-dirasuki arwah?"


Otak Anggara terputar dan langsung mengingat waktu pada kejadian malam hujan deras disertakan petir menggelegar di atas langit, dimana saat itu arwah lelaki yang mengenakan baju pasien RS Medistra Kusuma meminta bantuan pada Anggara yang sama sekali tidak disetujui oleh pemuda Indigo ini.


Splash !


Flashback On


"Izin apa?"


"Izinkan aku untuk memasuki ragamu."


"A-apa?! Jangan aneh-aneh! Gue gak bisa kalau lo masuk ke raga gue, tentu saja gue gak bakal izinkan lo buat masuk ke dalam tubuh raga gue!"


"Tolonglah, hanya itu satu cara agar masalah ini terselesaikan. Aku mohon, aku ingin beristirahat dengan tenang di alam sana setelah semua selesai. Jika kamu menerima permintaanku, aku akan bisa pergi dengan tenang tanpa ada urusan yang perlu aku selesaikan lagi."


"Lo gak bisa asal masuk ke dalam tubuh gue! Kondisi gue belum sehat, jadi susah buat lo memasuki tubuh gue yang lemah!"


"Enggak, kamu sangat cocok untuk aku masuki. Tolonglah aku, hanya sebentar saja lalu aku akan keluar dari ragamu dan aku berjanji tak akan menyakitimu, tugasku hanya balas dendam."


"Enggak! Gue bilang enggak! Pergi saja sana! Jangan lo pikir gue mau menerima permintaan lo yang ternyata ingin berbalas dendam!"


"Tolong aku ..."


"Enggak!"


"Tolong, aku mohon padamu sekali saja."


"Enggak! Gue gak mau!!"


"Tolong."


"Gue bilang enggak tetap enggak!!"


"TOLONG AKU!!!"


CTAAAAAAARR !!


Splash !


Flashback Off


"Anggara? Ngga, hei Nak??"


Ingatan bayangan Anggara yang tersirat di benak otak Anggara terbuyar disaat Andrana menggoyangkan satu bahu Anggara.


"Hm? Kenapa Ma?" tanya Anggara dengan mata mengerjap-ngerjap.


"Haduh, kamu kenapa malah ngelamun sih Nak? Mama panggil daritadi Anggara-nya gak nyaut mamanya."


"Maaf Ma, emangnya ada apa?"


"Anggara tadi habis mikirin apa sampe jadi ngelamun begitu?" tanya Andrana lembut.


"Halah paling mikirin Freya anak kita ini Ma. Jangan mikirin Freya dulu Ngga, dianya lagi sekolah."


Anggara mendengus sebal. "Siapa yang mikirin Freya coba," sewot Anggara.


"Anggara tadi keinget kenapa Anggara bisa dirasuki arwah yang gentayangan itu."


"Apa Nak?!" penasaran kedua orangtuanya.


Anggara menghela napasnya sebentar lalu mulai bercerita dengan random. "Jadi waktu malem itu Anggara lagi menggambar pas kalian udah pergi sebentar ninggalin Anggara sendiri disini, pas-pasan suara petir yang hujannya deres banget, tiba-tiba Anggara dihadapi sama arwah yang pake baju rumah sakit sama yang Anggara kenain ini. Intinya arwah itu nemuin Anggara hanya karna pengen masuk ke raga Anggara untuk menyelesaikan balas dendamnya ke seorang pembunuhan yang membunuh dia waktu silam."


Setelah mendengarkannya secara seksama pada ceritanya anaknya tentang kejadian tersebut, Agra mulai menanyai Anggara dengan wajah intens.


"Seorang pembunuhan yang memakai topeng wajah itu bukan?"


"Anggara gak tau Yah, waktu pas arwah itu minta izin masuk ke raga Anggara, Anggara nolak dan gak setuju pada arwah itu yang meminta tolong Anggara. Arwah itu pada akhirnya memaksa Anggara buat masuk ke tubuh Anggara, Anggara berusaha kabur dan cari bantuan lewat HP buat nelpon di antara Mama sama Ayah, tapi karna lari Anggara gak seimbang apalagi masih kaku, ya nasib Anggara jatuh lalu kejatuhan vas bunga meja nakas yang menimpa kepala Anggara. Habis itu Anggara sudah gak inget apa-apa lagi setelah kejadian itu."


"Hah?! Kejatuhan vas bunga?! Ya Allah terus kepalamu aman-aman saja kan Sayang? Gak luka apalagi berdarah?!"


"Mama gak usah panik gitu, kepala Anggara aman-aman saja kok. Gak ada luka-luka."


Andrana yang menyentuh kepala anaknya, ia turunkan dengan mengangguk paham. Namun bisa dilihat, sekarang bibir Anggara mengatup rapat layaknya menahan rasa sakit cederanya. Kesakitan tersebut mampu membuat wajah Anggara semakin memucat. Anggara tak bisa membohongi kedua orangtuanya perihal sakitnya yang ia rasakan, dikarenakan Agra dan Andrana sama-sama orangtua yang begitu amat peka terhadap anaknya.


"Nak mau kamu tahan seperti apapun kondisimu, Mama sama Ayah tetep tau. Kalau memang Anggara kesakitan lagi, keluhkan aja ke Mama atau nggak Ayah."


Anggara menghembuskan napasnya dalam kepalanya yang kembali seperti di pukul oleh palu beberapa kali, serasa berdenyutan hebat membuat Anggara meringis ringis kesakitan. Namun Anggara mencoba untuk menahannya dan melupakan kesakitan yang menyiksa hari aktivitasnya.


"Anggara berusaha tegar Ma, sebenernya Anggara gak mau seperti ini kalau bukan kecelakaan yang menimpa Anggara. Tapi lebih baik Anggara begini saja, daripada sahabat-sahabatnya Anggara meninggal dibunuh sama psikopat itu dua bulan yang lalu."


Agra menyengir getir pada pengucapan anaknya. "Kamu terlalu banyak berkorban diri Ngga, itu udah dua kali kan. Reyhan pernah cerita ke Ayah sama Mama kalau dulu itu kamu mau dijadiin tumbal, apa bener Ngga?"


Mata Anggara terbelalak, yang harusnya ini adalah rahasia namun malah terbongkar ulahnya Reyhan. Namun itu sudah bukan masalah lagi karena kejadian itu sudah berlalu.


"A- e- benar Yah. Tapi itu udah berlalu, gak usah di ungkit lagi aja, dan sebelumnya Anggara minta maaf udah menutupi tentang itu sama kalian. Bukan karna alasan Anggara takut kalian berdua marah, tetapi Anggara gak mau kalian khawatir dan memikir kejadian itu terus-menerus. Udah ya, gak usah dibahas."


Agra dan Andrana mengangguk mengiyakan Anggara, mereka tahu kondisi Anggara sedang seperti apa kini. Semakin lama di diamkan, rasa sakit kepala yang terus menerjang membuat Anggara bangkit dari baringnya lalu hendak duduk, akan namun saat hendak duduk malah justru kepala Anggara terasa berat dan tak mau di ajak kompromi pada pemuda tersebut. Anggara langsung memegang kepalanya dengan menekan, matanya yang mengernyit, suara yang mengerang buat diri kedua orangtuanya melebihkan fokus pada keadaan anaknya.


Agra menahan badan Anggara yang akan ambruk sedangkan Andrana mengambilkan bungkus obat pil dan kapsul dari atas meja nakas sampingnya ia duduk di sisi tempat tidur anak kesayangannya.


"Sakit banget kepalanya Ngga?! Mukamu langsung pucet banget!"


"S-s-sakit Y-y-yah," lirih Anggara terbata-bata.


"Yaudah sini-sini senderan dulu!" panik Agra dengan perlahan menyandarkan punggung Anggara yang ranjang pasien manual tersebut sudah dinaikkan oleh Andrana agar Anggara mudah bersandar di kasurnya beserta bantal yang ada di belakang punggung Anggara.


"Nih Nak diminum dulu obatnya biar sakitnya mereda!" titah panik Andrana dengan memberikan satu butir obat pil ke tangan Anggara agar yang diberikan segera menengadah tangannya.


Andrana lantas cepat mengambilkan gelas berisi air putih setelah Anggara memasukan obat pil putih ke dalam mulutnya, Andrana sodorkan gelas air putih tersebut ke anaknya lalu dengan cepat Anggara menerimanya kemudian meneguk air putih tersebut hingga tandas. Usai selesai Anggara meminum obat dari resep dokter, kini ia menarik selimutnya lagi hingga ke batasan dadanya karena ia merasakan kedinginan walau di luar cuacanya terik panas.


Anggara menundukkan kepalanya lemah. "Maafin Anggara ya Ma, Yah .. Anggara telah buat kalian kerepotan ngurusin Anggara yang sekarang mudah sakit-sakitan gak seperti dulu."


Andrana memegang tangan kanan Anggara dengan menatapnya dalam. "Tidak Sayang, Mama sama Ayah tulus kok ngerawat Anggara sampai pulih total. Anggara gak perlu minta maaf sama Mama Ayah."


"Tapi sekarang Anggara gampang lemah, kondisi Anggara gak seperti dulu lagi. Rasanya gak enak ngerepotin orangtua terus."


"Yaelah Ngga gitu banget ngomongnya, eh denger nih ya Nak .. separah-parahnya kondisimu seperti sekarang, itu gak buat Mama Ayah enggan merawat kamu. Ayah sama Mama suka direpotkan anaknya sendiri kok, itung-itung gak nganggur seharian dan sekarang merawat anaknya yang lagi sakit-sakitan hehe."


Anggara tersenyum hambar tanpa menanggapi ucapan Agra yang terdengar tulus.


"Mama sama Ayah gakpapa Anggara sakit seperti ini, yang terpenting dan paling kami syukuri .. Anggara masih bertahan hidup, belum pergi ninggalin Mama sama Ayah."


Dalam tundukan kepala, hati Anggara terenyuh mendengar tutur kata lembut dari sang ibunya bahkan setelah itu Andrana memeluk hangat tubuh Anggara begitupula dengan Agra. Terbukti kalau mereka berdua sangat menyayangi dirinya bahkan takut kehilangannya. Perlahan Anggara mematri senyuman lebarnya pada bibir pucat itu lalu membalas pelukan dari kedua orangtuanya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di rooftop sekolah SMA Galaxy Admara kota Jakarta, seorang pemuda yang mengenakan seragam rapi internasionalnya karena sekolahnya yang begitu elite dari sekolah kota Jakarta lain-lainnya, pemuda itu nampak berdiri diam menghirup udara segar pagi, sementara itu kedua tangannya ia tumpuk di atas dinding pembatas rooftop sekolah elite tersebut.


Ya, siapa lagi kalau pemuda itu bukan Reyhan. Dalam menikmati pemandangan kota Jakarta, Reyhan membayangi kejadian kelam mengerikan di tadi malam tepatnya lokasi RS Medistra Kusuma kota Bogor.


Splash !


Flashback On


"Hmmm pisau belati ini begitu tajam ya, aku ingin uji coba menusuknya di anggota tubuhmu. Jadi selamat merasakan kesakitan kedelapan hahahahaha!!"


JLEB !!!


"Kurang ya? Kurang lah, nyawa milikmu kan banyak banget. Jadinya aku tusuk saja beberapa kali seperti kamu menusuk pisau ini ke perutku juga dulu .. aku hanya menirukan gerak-gerik mu aja waktu kamu menyiksaku berujung membunuhku sampai mati!!"


JLEB !!!


"Ini terakhir buatmu sebelum kamu meninggalkan dunia. Kenang lah momen kejahatan yang kamu lakukan semasa kamu hidup kawan, hahahaha! Selamat tinggal dan selamat menikmati Neraka tanah Jahanam huahahahaha!!!"


JLEBB !!!


Splash !


Flashback Off


Membayangkan tragedi yang tak terlupakan itu apalagi Reyhan melihatnya dengan mata kepala ia sendiri, membuat hari ini bergidik ngeri serta bulu kuduknya berdiri.


"Beh anjir, bayangin kejadian itu kenapa gue sekarang malah merinding? Padahal ini masih pagi, belum sore apalagi malem."


"Tapi pasti hari ini Anggara udah tau kalau semalem dia dirasuki sama arwah yang gak bisa liat kondisi sahabat gue yang masih lemah. Hmm, apalagi ngerinya pas patahin sepasang dua tangan psikopat itu sampe bunyi mak 'kretekk' hih bisa ngerasain sakitnya sebagaimana!"


Reyhan berbicara sendiri tanpa menyadari di belakangnya sudah ada Freya dan Jova melangkah berjalan mendekati punggung Reyhan yang sang empu berdiam diri dengan bergumam-gumam.


"Oi Reyhan!" panggil Jova tak santai.


"Eh papa deketin mama janda!" latah Reyhan sambil membalikkan badannya ke belakang.


"Ck, Jova bahaya-in nyawa kamu tuh. Nanti kalau Reyhan jatuh dari sini bagaimana? Kan bisa jadi taruhan nyawa."


"Langsung mati Neng, gak pake acara sekarat-sekarat segala. Langsung auto dibawa ke dunia akhirat antara Surga atau Neraka."


"Hussstt mulutnya ih di jaga dong. Masih pagi juga," tegur Freya kesal.


"By the way kamu kalau lagi kesel, makin imut Abang liat dari mata hehehe," goda Reyhan.


"Eh Nyuk kamu ngapain disini? Mana lagi sendirian, gak ada orang." Jova mengatakan itu dengan melepas jas almamaternya lalu ia ikat bagian dari lengan-lengannya ke pinggang perut Jova, membuat terkesan gadis ini benar-benar tomboy dan barbar, tak seperti Freya yang selalu berpenampilan feminim dan anggun.


"Aku tau nih, pasti kamu lagi masalah sama Anggara kan. Orang kemaren kamu kesana sama Rangga," sambung Jova.


Reyhan menghela napasnya lalu mendengus pelan. "Aku gak ada masalah sama Anggara tadi malem, cewek sableng."


"Terus kalau begitu kenapa dong kamu-nya?" tanya Freya ingin tahu.


"Sebenernya ini sebuah kode agar kalian kesini nemuin aku di rooftop. Ada hal yang pengen aku ceritain ke kalian berdua, sesuai janjiku sama Jova dan aku gak bakal ingkari."


"Widih cowok tanggung jawab kamu Nyuk."


"Kamu mau ceritain tentang apa Rey?"


Reyhan celingak-celinguk ke depan memastikan hanya ada ia dan juga kedua sahabatnya di rooftop yang mereka injak.


"Ini tentang Anggara yang semalem dirasuki sama arwah."


"HAH?!" kaget tak nyangka dari Jova dan Freya kompakan.


"Ngadi-ngadi kamu Rey!" protes Jova tak percaya.


"Eh ini cerita nyata woi! Gak aku buat-buat, kalau gak percaya sana aja tanya Rangga. Rangga juga saksinya. Kalau masih gak percaya sono noh tanya om Agra apa gak tante Andrana."


"Emangnya Anggara bener-bener dirasuki sama arwah itu??" tanya Freya memastikan.


"Iya Frey, aku gak bohong sama kalian. Kalau aku berbohong fix dosaku bertambah banyak."


"Oke-oke kami percaya sama kamu, jadi terus kamu tau nggak kenapa Anggara bisa dirasuki arwah itu?"


"Kalau itu aku gak tau Va, mungkin kalau Anggara masih inget kamu bisa tanya dia. Kan Anggara yang ngalamin."


"Iya juga ya, terus keadaan Anggara sekarang gimana Rey?"


"Tadi malem pas arwah itu udah keluar dari raga Anggara, Anggara sempet pingsan Frey."


"Apa?! Pingsan?! T-terus kondisinya Anggara bagaimana?! Gak ada yang serius kan Rey?!" panik Freya.


"Tenang sahabatku yang cantik, Anggara baik-baik aja kok .. paling sekarang Anggara udah siuman, gak usah cemas samanya, lagian juga selama Anggara dirasuki semalem tadi Anggara gak terluka kok tapi malah justru psikopat itu yang terluka sampai mati."


"Tunggu-tunggu psikopat siapa yang kamu maksud barusan??" heran Jova.


Reyhan memejamkan matanya dengan menghembuskan napas lalu membuka matanya kembali.


"Kamu dan Freya masih inget kah Anggara yang dibantai habis-habisan sama psikopat bengis brengsek itu?"


"Yang- oh iya aku inget! Aku inget!"


"Nah itu yang dibunuh Anggara alias arwah yang di dalem tubuh Anggara. Sadis banget pokoknya, kalau semisalnya kalian kemarin disana .. kalian di rumah langsung Insomnia mendadak."


"Cingcong-mu lah!"


"Anjir sableng satu!"


"Hmmm, tapi kasian banget jadinya si Anggara .. pasti habis itu dia langsung letih, apalagi keadaan Anggara masih lemah kan Rey?"


"Iya Freya, bener banget. Kata-katamu sama persis yang di ucapin dokter Ello pas udah memeriksa Anggara."


Reyhan melipat tangannya di dada lalu melengos berjalan membelakangi kedua gadis cantik sahabatnya. Reyhan berhenti melangkah setelah mepet di dinding pembatas rooftop sekolah. Sementara Jova dan Freya ikut berjalan menghampiri Reyhan, mereka saling di sisi-sisinya Reyhan yang ada di tengah mereka berdua.


Jova melirik Reyhan dengan senyum manis. "Ngomong-ngomong makasih ya Rey kamu udah mau menceritakan semuanya tentang tragedi tadi malam itu. Soal percaya, kami berdua percaya kok. Ngeliat dari wajahmu bisa terbaca kalau kamu ini lagi gak bohong sama aku Freya.


"Hm'em sama-sama Va, lagian kalau aku udah janji aku gak bisa ingkari. Apalagi kamu sahabatku. Susah sih buat bohong dikit, soalnya otakmu peka banget."


"Peka apaan sih Kunyuk, masih peka juga si Anggara tuh yang nak Indigo."


Mendengar pengucapan sahabatnya itu, Reyhan menyongsong badannya ke hadapan Jova yang ada di kirinya.


"Oh iya soal Anggara yang Indigo, hampir ae semua identitas asli Anggara terbongkar abis sama temen-temen kita waktu kerja kelompok di rumahnya Joshua."


"Eh iya ya Rey, wah sumpah rasanya kek terjebak omongan semua temen kita walau gak semuanya," ujar Freya di kanannya.


"Tapi untung kita bertiga jago ambil kata agar temen-temen kita percaya sama omongan kita bertiga, ya gak guys?"


"Yups," serempak Reyhan dan Freya.


Reyhan kembali mengubah posisi berdirinya di awal, ia hadapkan ke depan lurus, kepalanya mendongak ke atas untuk memandang langit biru cerah pagi di jam istirahat.


"Kita bertiga gak bisa langsung ceritain dan bongkar siapa Anggara sebenarnya. Kelebihan di aura luar biasanya yang six sense itu, aku tergembok kata buat membongkar rahasia Anggara yang dia pendam selama bertahun-tahun. Aku cuman gak mau kalau semuanya terkuak, Anggara bakal jadi bahan gosipan seluruh SMA ini."


"Betul Rey, Anggara malah jadi kasihan," respon Freya menanggapi panjang lebar Reyhan.


"Takutnya aku malah jadi depresi itu loh .. aku paling gak suka liat sahabatnya sendiri menderita contohnya seperti Anggara yang dirawat dalem rumah sakit."


Reyhan mengangguk. "Pokoknya sebisa mungkin kita bertiga harus saling kerjasama untuk menjaga rahasianya Anggara ya, hanya kita bertiga saja yang boleh tau doang. Yang lainnya jangan sampe tau, aku gak disuruh Anggara tapi aku yang bertindak dan memutuskan, soalnya kalau itu terjadi Anggara bener-bener kemungkinan hancur hidupnya."


"Iya Rey. Aku tau kok, kita sama-sama jaga yak."


"Yoi Neng."


"Ho'oh semoga gak bakal ketauan siapapun kecuali musibah yang mendatang."


"Iya Va, semoga gak bakal ada musibah yang seperti itu."


"Oh iya Frey, Va .. soal cerita aku yang Anggara dirasuki tolong jangan sebarin ke mana-mana ya kecuali keluarga kalian boleh aja kok. Tapi jangan sama temen-temen, kalau Rangga kan udah tau. Dia juga aku suruh jangan bongkar kok."


"Perasaan daritadi main rahasia-rahasia deh," ucap Jova seraya tertawa.


"Halah Va, demi Anggara sahabat kita loh."


"Iya-iya Reyhan. Becanda aku tuh."


"Oke dah Bleng."


Mereka bertiga kemudian memandang langit biru serta awan putih yang begitu cerah dan indah, udara segar begitu membuat nyaman para tiga remaja tersebut disitu sampai bel masuk kelas berbunyi nyaring. Baru pertama kali ini mereka mengobrol-ngobrol bersama-sama di rooftop tanpa Anggara disitu. Mereka bertiga saling bersenda gurau di rooftop sekolah untuk menaikkan suasana hati menjadi lebih jauh gembira.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2