Indigo

Indigo
Chapter 39 | Tragedy At 21.00


__ADS_3

Hari minggu adalah hari dimana Anggara terbebas dari rumah sakit selama berminggu-minggu. Kini Anggara sedang bersandar di sandaran kursi mobil belakang sembari melihat pemandangan kota dari lewat jendela kaca mobil.


Sementara itu Agra lah yang tengah menyetir mobil dan Andrana sedang memutar musik di layar kecil mobil, lantunan lagu mulai terdengar yaitu lagu berjenis POP tahun 2000-an. Sekeluarga yang memiliki kemampuan untuk melihat makhluk gaib, seiras menyukai lagu POP tahun 2000-an yang sangat enak di dengar apalagi pagi sejuk seperti ini.


Anggara menempelkan sisi kepalanya di jendela kaca mobil dengan wajah lemas membuat Andrana yang merasakan langsung menyerong badannya ke belakang.


"Anggara, kamu kenapa kok lemes gitu?"


Anggara menegakkan kepalanya. "Ehm, Anggara cuman lagi kurang enak badan kok Ma, Tapi masih kuat kok."


"Hmm tadi kata dokter kamu pas nyampe di rumah harus segera istirahat total, baringan aja karena kondisimu masih belum sepenuhnya pulih. Nanti kalau sudah sampai, Ayah buatkan teh hangat ya Ngga."


"Iya Yah, kayaknya nanti Anggara perlu banyak istirahat soalnya tadi jalan udah lemes banget. Jangan dibuat capek-capek tubuhmu kamu ya Nak."


"Iya Ma, iya Yah .. Anggara ngerti kok."


Tak terasa kini sudah memasuki jalan kota Jakarta, Anggara memutuskan kembali melihat suasana kota Jakarta yang nampak sedikit berbeda. Di sana terdapat ruko-ruko dalam masa pembangunan, banyak toko-toko yang sedang di renovasi agar terlihat mewah.


Beruntung saja pagi ini jalan kota tak terlalu padat dan macet, hingga mereka sampai menuju ke sebuah gang komplek Permata. Rupanya suasana tempat kompleknya masih seperti dulu, selalu ramai jika pagi dan terlihat bersih rapi tak ada sampah yang berserakan di jalan.


Mobil yang di kendarai Agra menelusuri melewati beberapa rumah-rumah hingga ayah Anggara mengerem mobilnya tak mendadak karena mereka telah tiba di rumahnya yang sudah lama tak dihuni.


Diseberang rumah Anggara ternampak Freya duduk manis di teras dengan menyisir bulu putih lembut kucing yang bernama Kouko.


"Freya, ada mobil tuh di depan." Lucas yang sedang menyirami tanaman memanggil Freya untuk menengok ke depan.


"Emangnya kenapa sih Yah? Yaudah biarin aja lagian toh Freya gak bisa mengendarai mobil bisanya juga motor."


Lucas terkekeh mendengar jawaban dari anak putrinya yang lebih memfokuskan dirinya ke hewan peliharaan kesayangannya, sentuhan lembut yang diberikan oleh Freya kucing berjenis Persia itu mendengkur bahagia di belai-belai manis sayang.


"Yaelah lagian siapa juga yang suruh kamu mengendarai mobil? Itu loh coba kamu lihat ke depan ada siapa aja di seberang rumah kita," titah Rani yang menyirami seluruh bunga-bunga di pot.


"Apaan sih Ma- eh?! Anggara?! Tante Andrana?! Om Agra?!"


Freya meletakkan sisir kucingnya di lantai lalu mulai mengambil sandal di rak kemudian berlari ke mereka dengan posisi gerbang rumah terbuka lebar. Anggara nampak menutup pintu mobil belakang serta menenteng tas punggung hitamnya di pundak kanan, melihat Freya yang telah di hadapannya Anggara hanya tersenyum padanya.


"Ih aku seneng banget kamu akhirnya bisa kembali pulang ke rumah hehehe."


"Iya, kamu nungguin ya?"


"Ya pasti dong! Kan sahabatku mau pulang .. eeehm ngomong-ngomong mukamu masih agak pucet yah, tapi kamu oke-oke aja nih??"


Anggara tersenyum pahit sembari mengusap tengkuknya. "Aku kurang enak badan, makanya mukaku seperti ini. Habis ini aku mau istirahat di kamar."


"Tuh kan masih kurang enak badan kok pulang sih??"


"Oh jadi kamu lebih ingin aku di rumah sakit terus? Iya?" tanya Anggara.


"E-eh enggak bukan gitu! Aduh salah ucap ya aku?!" Freya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan tak berpaling dari Anggara.


Pemuda itu mendengus tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putih atasnya. "Udah gak usah kamu pikirin aja, gak penting. Yaudah ya aku istirahat di kamar dulu."


Disaat Anggara mengusap lembut puncak kepala Freya, gadis itu bisa merasakan bahwa telapak tangan sahabatnya begitu hangat membuat Freya menghentikan langkahnya Anggara yang akan berjalan masuk ke gerbang rumahnya.


"Anggara, langsung istirahat atau tidur loh ya! Jangan malah mainan HP laptop, sama baca buku."


Anggara memutarkan kepalanya setengah dan matanya melirik ke Freya yang ada di belakangnya. "Santai."


Anggara menghadap kepalanya ke depan kembali lalu melangkah memasuki gerbang rumahnya dengan lunglai serta lemas. Sementara Agra dan Andrana sedang berbincang-bincang ramah bersama kedua orangtuanya Freya yaitu Lucas serta Rani. Gadis polos berpakaian baju lengan pendek kasual santai tersebut memperhatikan sahabat kecilnya yang memutar kunci rumahnya lalu membuka pintu dua daun kemudian memasukinya tak lupa menutup pintu setelah berada di dalam.


"Nanti kan pasti Anggara naik tangga, gak capek kan ya? Mau aku anter sampe depan pintu kamar dianya malah sudah masuk rumah."


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Anggara memegang kursi meja belajarnya dengan mengatur napasnya imbas dari naik tangga tadi. Kini Anggara merasakan begitu letih hingga bibirnya memucat, namun Anggara tak menyadarinya karena ia tak melihat dirinya di pantulan cermin.


Pemuda itu cepat-cepat mengambil bungkusan obat kapsul di dalam tas punggungnya dikarenakan lagi-lagi ia menerima penderitaan sakit kepala yang membuat Anggara setiap detik memejamkan matanya kuat. Anggara mengangkat obat tersebut, namun alangkah bingungnya mengapa disaat ia melihat bungkusan obat kapsul itu blur layaknya memburam.


Anggara mengucek matanya beberapa kali barangkali pandangannya sedikit bermasalah, namun hal itu tak berpengaruh sama sekali. Tidak, bukan karena tulisan obat yang tertera, tetapi pandangannya yang memburam berkunang-kunang, ibaratnya kepala Anggara pusing berputar seperti wahana bianglala di pasar malam.


Anggara memukul-mukul kepalanya dengan pergelangan tangannya untuk mengembalikan semula pandangannya menjadi menjelas, siapa tahu juga pusing kepalanya menghilang. Sayangnya semua yang Anggara lakukan sia-sia saja, Anggara mendongakkan kepalanya ke atas dan tak sengaja menatap bolam lampu yang terpajang di atas dinding, lampu tersebut bersilih menjadi dua bagian dan tiba-tiba saja pandangan Anggara menggelap gulita serta tubuhnya limbung ambruk jatuh ke lantai sementara kursi yang Anggara topang terjungkal.


Di sisi lain, usai mengeluarkan semua barang dari mobil Andrana dan Agra mulai sibuk diri di dapur. Sang ibu menggoreng telur dadar di wajan atas kompor, sang ayah membuatkan teh hangat. Semuanya yang dilakukan sepasang suami dan istri ini di dapur untuk anak satu-satunya yang menurut mereka sedang berbaring di atas kasur.


Setelah semuanya tuntas, kedua orangtua Anggara berjalan santai menaiki undakan anak tangga untuk menuju ke kamar Anggara. Kesunyian di dalam kamar Anggara terasa, pikirnya mereka Anggara sedang beristirahat tidur.


Andrana membuka pintu kamar Anggara, mata pandangannya langsung ke tempat tidur Anggara namun anaknya tak ada di sana. Andrana mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Anggara yang tak ada di atas kasur, hingga sampailah Andrana mencuatkan kedua matanya serta terbelalak lebar.


Anaknya yang mengenakan sweater coklat tua tanpa motif, celana jeans berwarna hitam, serta memakai sepatu sneaker coklat peanut tergeletak di lantai dengan menggenggam bungkusan obat di tangannya.


Andrana berlari menghampiri Anggara dengan mendahulukan meletakkan piring berisi nasi dan telur di atas meja belajar Anggara, melihat mata Anggara terpejam sang ibu langsung berjongkok.


"Nak? Nak?" Andrana mendesis disaat menepuk pipi Anggara bagian samping mulut bibir yang pucat.


"Ya Allah kamu kenapa lagi sih Nak?!"


"Ayaaaaaaahh!!!"


Mendengar suara istrinya yang berteriak, Agra yang berjalan menaiki tangga dengan santai menjadi terburu-buru namun ia menutupi atas gelasnya bersama telapak tangan agar teh untuk anaknya tidak tumpah. Agra berlari kecil memasuki kamar Anggara dan pandangannya langsung menangkap Andrana yang panik serta mengguncang-guncang tubuh Anggara yang tergeletak terbaring di lantai. Agra meletakkan gelasnya di atas meja nakas sebelah kasur Anggara lalu mendatangi istri dan anak semata wayangnya.


"Kenapa Ma?! Itu Anggara kenapa?!"


Andrana menoleh kepalanya ke Agra dengan air mata terus berjatuhan. "Hiks, pingsan Yah! Anggara pingsan ini loh!! Gak peka banget sih!!"


"Astaghfirullah iya Ma iya, Mama tenang dulu jangan dibawa panik seperti itu."


Agra yang usai mengusap punggung istrinya lalu beralih mengambil bungkusan obat di genggaman tangan Anggara yang lemas, tangan Anggara begitu hangat membuat Agra berdecak setelah mengambilnya.


"Sudah Ayah duga anak kita bakal seperti ini, seharusnya Ayah antar Anggara sampai kamar biar gak begini Ma."


"M-memangnya Anggara kenapa Yah? Anggara juga nggak bangun-bangun."


"Anggara dibaringkan ke kasur dulu aja Ma, kalau dibiarin di sini Anggara bisa kedinginan dan sakit semua badannya nanti."


Agra mengangkat kepala Anggara perlahan yang tetap belum sadarkan diri. "Ayah, Mama ikut bantu angkat Anggara?" tanya Andrana pada suaminya.


"Nggak usah Ma, Ayah saja yang angkat Anggara."


"Ayah kuat?"


"Mama tenang saja sama Ayah, Ayah kuat kok. Mama mendingan ambil semua obatnya Anggara deh di tas terus kalau sudah di ambil taruh di meja ya Ma."


Andrana mengangguk patuh lalu beranjak dari jongkoknya kemudian mengambil obat di dalam tas Anggara, sementara Agra memapah punggung Anggara sekaligus menopang kedua kaki Anggara dengan tangan satunya, hal itu membantu untuk mengangkat Anggara dan membaringkannya di atas kasur empuk tersebut.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Freya di luar kamar balkon menggigit jari telunjuknya dengan mata pandangan tertuju di kamar balkon atas milik sahabatnya yang pintu serta gorden jendela masih tertutup.


"Haduh, itu didalem kenapa ribut-ribut ya? Mana suaranya di tepat kamarnya Anggara lagi. Ck duh, apa jangan-jangan Anggara kenapa-napa?!"


"Yang terdengar suaranya tante Andrana sama om Agra tapi suaranya Anggara nggak ada. Hmm, apa aku telpon Anggara kali ya buat mastiin kalau dia baik-baik saja- eh tapi pasti aku malah di anggap pengganggu kalau ternyata Anggara lagi tidur. Duh gimana dong???"


Gadis polos yang selalu panikan tersebut bingung menghubungi Anggara atau tidak, namun suara keributan apalagi teriakan Andrana yang memanggil Agra membuat gadis ini menjadi risau kalau sahabat kecilnya terjadi apa-apa, apalagi firasat ia malah berubah jadi tidak enak.


Drrrtt !


Drrrtt !


Drrrtt !


Drrrtt !


Suara getaran ringtone yang ponsel Freya sang empu silent speaker. Freya berbalik badan dan bergegas berlari mengambil HP-nya yang ada di kasur sprei pics non motif, Freya mematung seketika disaat melihat layar ponselnya tertera kontak telepon WhatsApp 'Tante Andrana.' Freya menghembuskan napasnya cepat lantas itu menggesek layar pada tombol hijau untuk mengangkat teleponnya.


...----------------...


...TANTE ANDRANA...


^^^H-halo Assalamualaikum Tante^^^


Waalaikumsalam Sayang


Freya, hari ini kamu sibuk?


^^^Ehm enggak kok Tan, Freya senggang hari minggu ini^^^


Oh begitu ya. Ehm sebenarnya Tante ragu mau ngomongin hal ini ke Freya


^^^Memangnya Tante mau ngomong apa sama Freya, Tan?^^^


Tapi jangan panik ya Nak ..


^^^Iya Tante iya, apa Tante ada apa??^^^


Tadi pas Tante masuk ke kamar Anggara, Tante lihat Anggara terbaring di lantai. Tante kira Anggara ketiduran di situ karena terlalu capek, tapi rupanya ... Anggara pingsan lagi Nak


^^^APA TAN?! ANGGARA PINGSAN LAGI?!^^^


Eh Ya Allah tenang Nak tenang, sekarang Anggara udah di baringkan sama om Agra kok


^^^Anggara kenapa bisa pingsan lagi Tan?! Bukan karna overdosis terlalu banyak minum obat kan Tante?!^^^


Aduh ya ampun, tidak kok Nak. Ceritanya panjang jadinya Tante harus cerita mulai dari awal, Nak


^^^Ehm, huh yaudah deh gini aja .. Freya ke rumahnya Anggara sekarang ya Tan!^^^


Oh iya Nak iya. Kebetulan om Agra lagi di bawah beresin dapur jadinya nanti kalau Freya ngebel, om Agra pasti bukain kok


^^^Iya Tante, sebetulnya sebelum Tante nelpon Freya, Freya udah ada feeling gak baik. Dan ternyata benar Anggara ada apa-apa^^^


Hmmm begitu ya Nak, yaudah kamu ke sini ya. Tante tungguin oke?


^^^Oke Tante Andrana, Assalamualaikum^^^


Waalaikumsalam, Sayang


...----------------...


Freya mematikan ponselnya dan ia gembol di celana panjangnya kemudian berlari membuka pintu kamar dan keluar, Freya tak perlu meminta izin pergi ke rumahnya Anggara pada Lucas dan Rani dikarenakan kedua orangtuanya sedang pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan masakan menggunakan motor sang anak.


Freya menelusuri ruang keluarga dan membuka pintu rumahnya dan tak lupa setelah berada di luar teras ia tutup kembali. Gadis itu berlalu meninggalkan rumahnya dan menuju ke rumah Anggara dengan pertama membuka perlahan gerbang rumahnya Anggara sedikit sesuai muat badannya, lalu memasukinya.


Freya menekan bel rumah Anggara di samping pintu, hingga tak berapa menunggu lama pintu dibuka oleh pria paruh bawa berumur 50-an tahun dengan senyuman sumringah saat mengetahui sahabat kecil anaknya yang datang.


"Eh Freya, mau jenguk Anggara kan di kamar?" tanya Agra to the point.


"Loh, kok Om Agra bisa tau??"


"Bisa dong, kan baca hati nurani kecilmu hehe. Yaudah yuk masuk ke dalem jangan di luar terlalu lama nanti kulitmu gosong."


Freya menganggukkan kepalanya senyum manis, Agra menarik tengkuk Freya lembut untuk mengajaknya ke dalam rumah. Usai itu Agra kembali menutup pintunya lalu berjalan bersama Freya menaiki tangga untuk menuju ke kamar Anggara. Mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang begitu senyap sementara pintu serta gorden telah dibuka oleh Andrana tadi.


Senyuman Freya menjadi pudar disaat melihat sahabatnya kembali terbaring tak sadarkan diri, hal itu semestinya sudah berulang-ulang kali terjadi faktor cedera kepalanya yang begitu terbilang cukup parah.


Freya berjalan perlahan dan duduk di pinggir kasur Anggara yang Andrana sedang sibuk memijat lengan Anggara dengan penuh perasaan kasih sayang. Freya menatap bibir Anggara yang pucat dan beralih dari bibir ke matanya yang tertutup.


"Freya? Loh kapan datangnya?" tanya Andrana usai memijat lengan tangan Anggara yang begitu hangat.


"Barusan kok Tan, ehm muka Anggara keliatan pucet ya Tante. Atau karena sakit Anggara kambuh makanya Anggara menjadi seperti ini?"


"Terlebihnya enggak Frey, Anggara terlalu letih hanya karena menaiki tangga tadi."


"Hah? Letih karena menaiki tangga, Om?? Kok bisa begitu? Bukannya Anggara paling kuat ya kalau naik tangga?"


"Itu dulu Nak, untuk sementara ini Anggara belum kuat naik tangga apalagi pada kondisinya yang seperti sekarang," timpal Andrana.


"Sebenarnya Anggara kenapa Tan? Apa semua itu ada hubungannya pada ucapan dokter, dokter Ello?"


"Benar sekali Nak tapi ceritanya panjang. Intinya Anggara jangan boleh sampai kelelahan kalau itu sampai terjadi contohnya ini, kesadaran Anggara bisa menurun. Tante yang paling sedih karena pastinya pingsan Anggara sampai berjam-jam."


"L-lho?! Kok gitu Tan?! Itu yang di ucapin sama dokter ya??"


"Iya Nak, tapi kalau kondisi Anggara sedang fit tetapi kelelahan karena aktivitas beratnya, Anggara akan pingsan hanya berangsur beberapa menit saja. Hhh, sampai kapan ya Yah Anggara seperti ini? Sembuh instan juga nggak mungkin, pasti itu bertahap-tahap tergantung kondisi."


Freya menghela napasnya dengan kepala menunduk. "Freya sebenarnya juga nggak mau lihat Anggara sakit-sakit kayak begini Tan, Om. Tapi walaupun Anggara gak sesehat dulu Freya tetap terima apa adanya kok. Freya juga yakin seratus persen, suatu hari kemudian Anggara bakal sembuh."


Agra dan Andrana saling tersenyum menatap hangat Freya. "Aamiin terimakasih ya Nak, Tante seneng denger ucapan Freya barusan. Maafin Anggara kalau nantinya selalu ngerepotin Freya dalam sakitnya ya Nak."


Freya mendongak pada Andrana yang barusan berucap. "Kenapa minta maaf Tan? Freya malah suka direpotkan kok, bahkan Anggara sendiri kan suka mandiri apa-apa selalu sendiri nggak mau nyusahin orang lain termasuk sama tiga sahabatnya."


"Anggara memang seperti itu dari dulu Nak .. bahkan kalau bicara suka irit-irit sekarang. Padahal dulu Anggara suka bertukar cerita sama Om dan Tante, tapi sekarang Anggara sukanya diam bahkan kalau tertawa apalagi bercanda suka kadang-kadang saja gak sering."


"Nggak apa-apa Tante, Freya udah terbiasa sama sifatnya Anggara. Meskipun bikin jengkel dikit tapi Anggara cowoknya unik bener."


"Iya unik seperti fenomena alam di langit Frey, oh iya Freya mau di sini? Atau mau pulang?"


"Freya di sini saja Om sambil nunggu Anggara sadar, mau sampe jam berapa tetap Freya tunggu kok. Lagi pula rumah Freya dan Anggara deketan."


"Namanya juga tetangga hehe, yaudah deh kalau begitu. Tante sama Om turun ke bawah dulu ya Nak. Kalau ada perlu apa-apa langsung bilang aja ke Om atau nggak Tante. Anggap saja rumah sendiri."


"Ehehehe, iya Om iya."


Andrana dan Agra tersenyum lalu sang ibu Anggara beranjak dari kasur dan mengikuti Agra yang berjalan keluar dari kamar Anggara. Sedangkan kini Freya menatap wajah sahabat kecilnya yang masih senantiasa menutup mata, tangan kecil mungilnya Freya mengusap telapak tangan kanan Anggara yang hangat dengan senyuman pilu.


"Bangun ya."


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di dalam rumah Reyhan, pemuda hati ramah itu sedang mengaca dirinya di sebuah cermin. Ia merapikan kemejanya yang ia kenakan beserta merapikan kaus oblong abu-abu mudanya, dengan tampang gantengnya ia menyisir rambutnya agar terlihat nampak keren.


"Payah, ganteng-ganteng gini kayak pangeran Cinderella tapi masih jomblo ae. Emang ya, cowok lebih sengsara daripada cewek."


Pemuda itu nampak berpakaian rapi dan lengkap pada sepatunya yang ia pakai, sekarang Reyhan membuka WhatsApp kontak Anggara dan akan menelponnya. Ia pastinya telah tahu bahwa Anggara telah berada di rumahnya.


Di sisi lain, Freya melepaskan dua-duanya sepatu Anggara begitupun kaus kakinya, kemudian gadis itu dengan rasa persahabatannya melebarkan selimut tebal hitam Anggara sepadan sprei kasurnya lalu setelah itu ia tarik untuk menyelimuti Anggara hingga batasan ulu hatinya.


Tiba-tiba Freya sedikit tersentak kaget mendengar suara ringtone ponsel Anggara di atas meja nakas, Freya mencondongkan badannya untuk melihat siapakah itu yang menelponnya.


"Aduh, Reyhan yang nelpon!"


"Angkat nggak ya? Eeeerr yaudah deh angkat saja siapa tahu penting."


Freya mengangkat ponsel Anggara lalu mulai mengangkatnya untuk berbicara pada Reyhan lewat telepon.


...----------------...


...REYHAN...


Assalamualaikum Bang Anggara ganteng!!


^^^Ehm Rey-^^^


Eh buset suara lo kok lembut banget kayak cewek?? Jangan-jangan lo abis operasi pemotongan leher yak buat ngilangin jakun seperti Lucinta Luna??!!


^^^Astaghfirullahaladzim Reyhan! Ini aku Freya, bukan Anggara. Masa Anggara operasi pemotongan leher sih, aneh tau^^^


Loh ini Freya toh?! Eh sorry-sorry, abisnya ini kan nomornya Anggara ya aku kira Anggara yang angkat telponnya, eh ternyata kamu hehe. Ehm by the way si Anggara lagi ngapain emang? Sibuk ya sampai kamu yang angkat telponnya?


^^^Eeee ... enggak sih gak lagi sibuk^^^


Lah terus kenapa dong???


Jangan bilang Anggara lagi marah sama aku?!


^^^Ya nggak lah, mana ada Anggara marah sama kamu. Jadi sebenernya aku angkat telepon karna ...^^^


Karna apa cantik?


Oh karna Anggara suaranya hilang


^^^Eh bukan! Ehm, anu itu eeee si Anggara ...^^^


Apa Freya? Udah tinggal ngomong aja, gak usah pakai ragu-ragu begitu


^^^Eeehmm ... Anggara ... pingsan Rey^^^


Ooohh pingsan toh oke-oke


Eh apa-apa tadi?! Anggara pingsan?! Kok bisa kejadian lagi??!!


^^^Iya Rey, kata tante Andrana sama om Agra Anggara terlalu letih terus badannya lagi kurang enak ditambah tubuhnya anget banget. Sebetulnya Anggara nggak boleh beraktivitas yang membuat Anggara kehabisan tenaga atau membuatnya dia keringat^^^


Aduh payah! Parah banget! Terus-terus Anggara masih di keadaan yang sama?!


Iya Rey, sudah dipastikan Anggara bangunnya beberapa jam lagi


Gilak! Jam berapa tuh?!


^^^Aku juga nggak tau Reyhan. Yang jelas muka Anggara keliatan pucet hangat badannya juga belum turun, aku juga bingung harus gimana^^^

__ADS_1


Ck, lalu kamu sekarang lagi di rumahnya Anggara kan??


^^^Iya Rey, ini aku lagi duduk di kamarnya Anggara. Nungguin dia bangun^^^


Huh, oke-oke gini aja. Sebenernya aku udah feeling Anggara pulang ke rumah, dan aku sekarang mau OTW ke rumah sahabat kecilmu


^^^Sama Jova juga Rey?^^^


Iya, sebelum itu aku mau ajak bareng Jova ke rumahnya Anggara mumpung katanya dia bilangnya bosen di rumah karna cuman ada dia sama Novaro. Aku sama Jova ke sana ya?


^^^Iya Reyhan, aku tunggu ya^^^


Oke siap. Mungkin aku sampai sana sekitar jam satu-an siang, oke?


^^^Oke Rey gakpapa kok^^^


Yaudah aku tutup ya telponnya, Assalamualaikum


^^^Waalaikumsalam^^^


...----------------...


Freya mematikan telpon dari Reyhan lalu menekan tombol sisi kiri ponsel Anggara untuk mematikan layarnya, selepas itu Freya letakkan handphone tersebut di atas meja nakas.


Gadis itu mengeluarkan kedua tangan Anggara dari dalam selimut satu persatu lalu di letakkan pelan atas selimut tebal warna hitam. Meskipun pakaian Anggara berlengan panjang namun Freya masih bisa merasakan bahkan tangannya terasa lebih hangat.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Usai mendapatkan izin dari kedua orangtuanya untuk pergi ke rumahnya Anggara dan sedikit bercerita random soal kondisi Anggara, kini Reyhan setelah menempuh perjalanan menggunakan motor tibanya ia di depan gerbang rumahnya Jova yang lumayan terbuka lebar.


Reyhan mematikan mesin motornya kemudian melepaskan helmnya dari kepala serta mencabut kunci motor. Sebelum itu Reyhan telah standar-kan motor agar tak terjatuh.


Reyhan melangkah memasuki gerbang kemudian dilanjutkan berjalan sampai teras lalu hendak menekan bel, begitu tahu menyadari bahwa di tembok samping pintu yang tertutup tak ada bel rumah, Reyhan menggeser tangannya dan mengetuk pintu sahabatnya.


Tok...


Tok...


Tok...


Tok...


"Assalamualaikum! Jovataaaa!!"


Teriakan Reyhan yang kencang membuat gadis sahabatnya yang ada di dalam rumah berteriak juga bermaksud menjawabnya.


Cklek !


"Apa apaan sih teriak-teriak gak gelas?! Ini rumahku, bukan hutan!!"


"Anjir! Buka-buka pintu langsung keluar khodam singa betinanya, santai napa Bleng?!"


"Napa kamu ke sini?! Ganggu doang kerjaannya!" sarkas Jova.


"Astaghfirullah, kenapa? Gak suka aku dateng ke rumahmu buat keempat kalinya? Yaudah fine aku pergi aja."


"E-eh jangan dong!" Jova menahan tangan Reyhan yang hendak balik badan. "Gak gitu maksudku. Huh, gitu aja ngambek. Jadi cepet kakek cangkul, kapok!"


"Setan dong?! Sialan kamu!" Reyhan melipat tangannya di dada dengan menatap sinis pada Jova.


Namun Reyhan tersadar ada yang membuat dirinya sangat tercengang melihat penampilan Jova kali ini, Reyhan menuding ke arahnya dengan mata terbelalak lebar.


"WEH ANJIR PLAGIAT!!!"


Jova tersentak sekaligus mengerjapkan matanya beberapa kali melihat dan mendengar reaksi Reyhan tiba-tiba.


"Apaan-nya yang plagiat woi?!"


"Itu ngapain kamu ngembar-ngembarin sama penampilanku?!"


"Hah, ngembar-ngembarin?" Jova menundukkan kepalanya untuk menengok pakaiannya serta sepatunya lalu kepalanya mendongak untuk melihat apa yang Reyhan kenakan.


"Lah kok kembar Jir?! Wah-wah gak bener nih, pasti kamu diem-diem mata-matai aku pas lagi pake baju kan?! Ngaku kamu?!"


Reyhan sedikit terlompat kaget dengan ekspresi terkejut tak menyangka pada ucapannya Jova.


"K-kamu pikir aku cowok mesum hah?!" geram Reyhan.


"Heh denger nih, se-sesat sesatnya aku tapi jalan pikiran otakku masih normal! Kamu pikir aku cowok apaan sampe ngeliat cewek lagi posisi pake baju?! dasar gaje (Gak jelas) kamu!" tambah Reyhan.


Jova memajukan bibir bawahnya layaknya sedang mencibir ocehan Reyhan, sementara mendengus kesal pada ekspresi menjengkelkan dari Jova.


"Hhh sabar .. sabar .. sabar, jangan emosi .. jangan emosi. Oke ya, debat selesai!"


"Ter-se-rah!"


"Anjir! Capek aku sama kelakuanmu!"


"Lah? Katanya sabar, jangan emosi? Ini malah membalikan kata."


"Udah-udah, by the way itu kamu rapi bener mau ke mana?" tanya Reyhan menutup perdebatan antara ia dan sahabat tomboy-nya.


"Mau ke rumahnya Freya, lah kamu. Ngapain dateng ke rumahku? Mau mampir apa gimana??"


"Mampir semenit doang sih tapi gara-gara ngajak ribut bukannya di suruh masuk jadi hampir setengah jam! Jadi sebenernya tujuan aku ke sini utamanya mau ajak kamu ke rumahnya Anggara, bisa sekalian ketemu Freya di sana soalnya dia ada di rumahnya Anggara."


"Eit tunggu-tunggu dulu, memangnya Anggara udah pulang dari rumah sakit?"


"Iya dong, tapi masalahnya ..."


"Kenapa? Tapi apa masalahnya?"


Reyhan menggaruk tengkuknya dengan tersenyum pahit. "Itu si Anggara saat ini lagi pingsan."


"Hah?! Eh yang bener kamu dong?! Jangan bercanda mulu kalau lagi serius!" tegas Jova.


"Eh aku serius! Aku kalau ngomong begini gak bisa bercanda, aku bisa ngerti kondisi kali."


"Ih kenapa Anggara bisa pingsan lagi?! Perasaan pingsan mulu dah si Anggara tuh, seolah emang sakitnya parah."


"Yang penting gak kena penyakit mematikan. Yaudah yuk kita berangkat, kamu ambil ponselmu dulu gih."


"Oke bentar aku ambil dulu sekalian ambil kunci motor."


"Eh gak usah! Hari ini aku nebeng kamu, lumayanlah irit bensin motormu hehehe."


"Hmmm, ide bagus juga tuh. Okelah aku mau ambil HP ku dulu- oh iya mau masuk dalem?"


"Nggak lah aku di sini aja, toh juga di sini cocok berteduh diri dari sinar matahari. Cepetan gih sana ambil HP-nya."


Jova memberikan acungan jempol yang ia angkat lalu segera berbalik badan untuk mengambil handphonenya yang terletak di atas meja makan, jelasnya Jova usai tuntas sarapan sebelum Reyhan mengetuk-ketuk pintunya. Gadis mandiri itu memasukan ponselnya ke dalam saku celana jeans panjangnya bagian kantong belakang kemudian selanjutnya mengambil piring bekas ia sarapan serta gelas susu murninya.


Sementara di Reyhan, pemuda tersebut tengah bersandar di tembok teras sembari scroll video Youtube beranda barangkali keberuntungan Reyhan mendapatkan sebuah film horor terseru menurutnya.


Langkah kaki terdengar dari depan Reyhan, bibir Reyhan yang tetap tersenyum sedari memegang ponselnya, ia melirik siapa yang datang di mari.


"Eh, Bang Reyhan? Kok dateng ke sini gak kabar-kabar?"


Itu adalah Novaro, Novaro Anggres Neswandra. Remaja yang duduk di bangku kelas VIII SMP Erlangga kota Jakarta dimana dulu kakak perempuannya pernah bersekolah di sana termasuk para sahabatnya sang kakak.


"Eh ada anak SMP nih, sini-sini Nov." Reyhan mengangkat satu tangannya dan melambaikan tangannya agar Novaro menghampirinya.


Novaro berlari kecil yang mengenakan celana pendek berwarna hijau army serta baju biru laut bergambar karakter Iron Man.


"Habis darimana Dek?" tanya Reyhan.


"Biasa lah Bang, rumah temen."


"Ngapain? Panas-panas gini main keluar? Ada kerja kelompok tugas dari sekolahmu?"


"Bukan Bang, tapi mabar (Main bareng) game Mobile Lagends. Seru loh Bang, Abang minat game aplikasi itu gak??"


"Kagak. Abang lebih suka nonton sih daripada main game, main game kalau kadang-kadang aja. Game juga cuman buat atasi kegabutan Abang doang kok."


"Jangan bilang game khusus cewek yang make up make up gitu lagi."


"Sembarangan kalau ngomong! Ya gak lah, paling ya Abang kalau main game yang super duper ringan ae gak usah berat-berat daripada puyeng otak."


"Apaan tuh contohnya game yang super duper ringan Bang maksud??"


"Game Angry Bird Space dan Abang juga punya game Angry Bird Wars."


"Hmmm kalau game Angry Bird Space sama Angry Bird, Abang levelnya dah selesai alias tamat."


"Anjir?! Keren banget Bang!! Novaro ae level dua puluh sudah kewalahan loh."


"Hahahaha mampoz! Oh iya Abang juga punya game satu lagi sih, game bubble shooter yang permainannya nembak bola sesuai jodohnya."


"Iya Bang, seperti Abang menembak hati kak Jova hingga menjadi jodoh kekasihnya selamanya kelak abadi dunia akhirat."


"Mulutmu belum pernah Kakak sumpelin busa sabun ya?! Ngomong apa hah kamu barusan?! Cepetan ulangi!!"


Novaro tersentak terkejut lalu menyengir takut pada suara amukan Jova yang muncul tiba-tiba usai meninggalkan dapur, mata Jova nampak mencuat tajam seperti akan menerkam adiknya habis-habisan.


"Eh Kak Jova hehehehe, bercanda kok Kak- eh loh bentar-bentar, kok kalian kembaran?! Hah, jangan-jangan kak Jova sama bang Reyhan mau ngedate ya?! Sampe pake acara pakaian couple-couple segala begini."


"Hah- enggak! Kami gak mau ngedate!!" pekik serempak Jova dan Reyhan.


"Terus mau ke mana??" tanya Novaro heran.


"Ke rumah sahabat! Ayo Rey buruan ke sana, daripada malah kesiangan. Mana panas lagi cuacanya, ayo-ayo buruan!"


Reyhan tak menjawab Jova tetapi ia malah memandang gaya model rambut Jova yang bentukannya di gulung rapi seperti pasis anak kampus kuliah, jujur saja Reyhan malah terpukau pada sahabat tomboy-nya dengan rambutnya. Terkesan bahwa Jova terlihat menawan di pandang meskipun wajah galaknya membuat orang yang memandanginya auto balik badan saking takutnya.


"Cantik ..." gumam lirih Reyhan.


"CANGKIR?! Kamu ngatain aku cangkir?! Sumpah matamu ada di mana, bego!? Muka manusia begini dibilang cangkir!" Jova salah dengar.


"Kak, tadi bang Reyhan bilangnya ca- ehmmpp!"


Reyhan membekap mulut Novaro agar tak meneruskannya. "Udah deh kamu diem ae gak usah benerin hehehe! Ayo Va kita berangkat!"


Reyhan melepaskan bekapan dari mulut Novaro lalu mulai menarik tangan Jova pergi meninggalkan Novaro. Di luar gerbang, Reyhan menaiki motornya kemudian memakai helm termasuk Jova mengenakan helm miliknya sendiri. Usai Reyhan telah mengunci pengait helm serta memasangkan kunci motor untuk menyalakan mesin motor, Jova menaiki motor sahabatnya.


Mereka berdua pergi meninggalkan rumah begitupun meninggalkan gang komplek United, di sepanjang perjalanan tempuh menuju ke komplek Permata depan halte bis sahabat sejoli tersebut saling mengeluarkan senda guraunya untuk mengatasi kesepian, kesunyian dan kecanggungan.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Freya menghela napasnya menatap wajah Anggara yang masih damai akan mata yang terpejam tenang, hela napas dada memang terlihat normal namun pemuda itu masih tetap dalam kondisi tak sadarkan diri. Jika emang sahabat kecilnya Freya akan seperti itu dan untuk pemulihan totalnya menunggu jangka waktu yang lama, gadis ini tak akan pernah sedikitpun sekalipun enggan untuk menemani pemuda yang kini tengah terbaring sakit.


Freya menepuk-tepuk telapak tangan kanan Anggara dengan pelan. "Aku harap banget setelah kamu sadar, sakit kamu reda lagi ya Ngga. Jujur aja nih, aku sebenernya gak mau kamu seperti ini terus aku pengennya kamu sehat gak sakit-sakit begini .. tapi gakpapa lah, apapun kondisimu aku tetep di sini kok."


Freya tersenyum sendu lalu menghembuskan napasnya lembut. Tak berapa selang menit kemudian, pintu kamar Anggara di buka oleh seseorang yang tak lain adalah Reyhan. Freya reflek menoleh ke arah ambang pintu, terdapat ada dua sahabat lainnya yaitu Jova dan Reyhan. Gadis polos tersebut mengukirkan senyuman lebarnya atas kehadiran para sahabat sejoli ini.


"Hehehe selamat pagi menjelang siang cantik," sapa Jova dengan tersenyum menampilkan deretan gigi putih atasnya.


Freya mengangguk. "Aku kira kalian nggak dateng."


"Dateng kok, tapi sengitnya tadi kota macet banget. Heran aku tuh setiap mau ke rumahnya Anggara pasti kendalanya jelas duluan, macet di jalan," ucap Reyhan sambil meregangkan ototnya yang pegal.


"Emang udah nasib seorang Reyhan keknya, kan kamu selalu sial di hidup," timpal Jova tersenyum menyeringai meledek.


Reyhan hanya memberikan tatapan lirik sinis pada Jova yang ada di kirinya tanpa mengeluarkan kata-kata. Freya mengangguk lagi dan tiba-tiba pandangannya tak terlepas pada penampilan pakaian Jova dan Reyhan yang nampak sangat kompak.


"Wah, kalian habis darimana? Kok mulai dari baju, celana, dan sepatu mirip bener. Kalian tumben pake kembar-kembaran begini hehe."


"Ini loh yang meniru!" Freya memundurkan badannya sedikit disaat melihat Reyhan Jova saling menunjuk satu sama lain.


"Loh kok bisa aku yang meniru pakaianmu?!" kejut Reyhan.


"Yaiyalah kan pasti aku duluan yang pake baju, celana, sama sepatu ini. Berarti kamu dong yang plagiarisme!"


"Heh! Kalau mau ngarang mending di dunia halu aja, jangan di dunia nyata!"


Freya memperhatikan sepatu si sahabat gadis tomboy serta si sahabat pemuda rese yang mengenakan sepatu berjenis sepadan ialah merk Converse original. Dan semestinya gadis polos ini kembali bisa mendengarkan suara gaduhan perdebatan dua sahabat sejoli.


Reyhan mendengus. "Dah lah, capek aku debat samamu!"


"Aku jauh lebih capek debat sama kamu tingkat gunung Bromo!"


Reyhan mengacuhkan Jova dan berjalan menduduki pinggir kasur Anggara, dirinya mengalihkan pandangannya ke Anggara yang rupanya benar-benar belum siuman sama sekali. Jova yang sudah duduk di sampingnya Reyhan ikut menatapi Anggara begitupun Freya.


"Njir, mukanya pucet ... udah pingsan dari kapan si Anggara?"


Freya menghela napasnya lalu menjawab Reyhan. "Sudah satu jam Rey, belum juga ada tanda-tanda untuk Anggara sadar."


Jova menyongsong badannya sedikit ke belakang lalu menepuk kaki tulang kering Anggara yang ditutupi oleh selimutnya.


"Yaelah Ngga, gini banget sih takdirmu? Kami emang belum ngerasain sakit-mu sih, tapi kami malah bisa ngerasain apa yang kamu rasain." Jova mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedih meratapi keadaan Anggara.


"Pinter banget kata-katanya, habis belajar dari browsing pasti."


Ucapan Reyhan yang spontan tanpa menoleh ke Jova yang ada di tepat belakangnya membuat Jova reflek dengan kesal mendorong kepala Reyhan bagian belakang menggunakan satu tangannya dengan keras.


"Diem, gak usah bacot!"


Freya mengerutkan keningnya dan menghadap ke Jova. "Bacot itu apaan, Va?"


"E-eh jangan di tanyakan dan jangan di ucapin oke? Itu omongan kotor yang gak pantas kamu lontarkan. Jadi gak usah di ucapin lagi ya, nanti kena marah Anggara loh kalau Anggara denger kamu ngomong begitu. Gak boleh ya cantik, gadis manis mulutnya harus lembut seperti kue bolu hehehehe."


Freya menggaruk kepalanya yang tak gatal, namun gadis itu mengerti apa yang dimaksud Reyhan barusan tadi. Akhirnya pun Freya mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Nah anak pintar," kata Reyhan dengan mengusap-usap pucuk kepala Freya sama yang dilakukan Anggara setiap memuji sahabat kecilnya atau jika berbagai hal apapun.


"Kenapa kok wajahnya sedih lagi?" tanya Reyhan hati-hati dengan Freya.


"Anggara kapan sadarnya ya Rey, sudah kutunggu-tunggu Anggara juga belum siuman. Ini juga sudah hampir dua jam- eh oh iya aku lupa kan Anggara bakal seperti ini selama berjam-jam."


Perkataan suara nada cicit Freya berhasil membuat kedua sahabatnya menoleh ke arahnya dengan tampang muka terkejut.


"Apa? Berjam-jam?! Gilak apa, masa selama itu dah?!" ujar Reyhan tak percaya.


"Anjir bener! Bangunnya pagi ini, siang, sore, apa malem nih?! Parah banget sampe berjam-jam dong!" kaget Jova dengan mata terbelalak sempurna.


"Andai kalau tubuh Anggara fit, pastinya Anggara pingsannya berangsur hanya beberapa menit doang. Tapi, coba deh kalian pegang Anggara .. hangat banget tubuhnya si Anggara."


Reyhan mengangguk lalu mulai sedikit menggenggam pergelangan tangan Anggara. "Sssshh, beneran anget banget Frey. Eh BTW (Bye the way) Anggara udah minum obat demam belum? Harus diminumkan nih kalau gak, bisa gak turun-turun demamnya Anggara."


"Waktu di rumah sakit, Tante dan om mau panggil dokter untuk memeriksa Anggara yang demam Nak, tapi Anggara nolak. Anggara bilangnya baik-baik saja disaat kemarin hari jumat pagi."


Ketiga remaja tersebut tersentak mendengar suara Andrana yang muncul dan berjalan sembari membawa baskom berisi air hangat serta kain kompres untuk anaknya.


"Lagi-lagi Anggara seperti itu ya Tan, lemahnya Anggara tapi Anggara berusaha menunjukan kalau dia itu kuat ... tapi saat ini Anggara gak bisa, apalagi sekarang sakitnya cukup parah."


"Iya Nak Freya Sayang, akibat cidera kepala yang dialami Anggara buat Anggara jadi sering sakit-sakitan. Bahkan untuk sementara kata dokter, Anggara dilarang melakukan aktivitas yang menguras tenaga."


Freya, Jova, dan Reyhan terdiam dan menatap fokus Andrana yang duduk di dekat Anggara lalu menaruh baskom di meja nakas kemudian memeras kain kompres, lantas itu Andrana menyingkap rambut Anggara yang menutupi seluruh keningnya dan menempelkan kain tersebut di dahi Anggara.


"Tan, Anggara kenapa bisa demam? Bukannya waktu itu Anggara gak kenapa-napa ya Tan?"


Andrana menggeser tempatnya ke hadapan Jova yang nampak ingin tahu pada keadaan Anggara yang bisa tiba-tiba seperti itu.


"Haduh bagaimana ya Nak, soalnya ini ada hubungannya kenapa Anggara bisa demam." Andrana menjawab dengan nada kikuk serta senyuman yang menyengir bingung.


"Ada hubungannya, Tan? Apa hubungannya Tante? Tante bisa jelaskan ke kami kan? Biar kami tau kenapa Anggara bisa seperti ini."


Andrana meringis dengan memalingkan wajahnya dari Freya pada ucapan barusan, wanita paruh baya ini nampak bingung harus menjawab bagaimana bahkan menjelaskannya bagaimana. Menurut mamanya Anggara, sang ibu tersebut ketiga sahabat anaknya belum mengetahui bahwa anaknya memiliki kemampuan istimewa di jiwanya.


Reyhan terdiam mencoba menerawang apa yang sedang Andrana pikirkan hingga pemuda itu fokus pada mata Andrana agar ia mampu membaca pikirannya walau Andrana sendiri tidak sedang berbicara dalam hatinya.


Suatu hal yang membuat Reyhan sedikit tersontak kaget, dirinya malah mengetahui bahwa Andrana tengah bingung dan merasa takut menjelaskan bahwa ada hubungannya mengapa sahabat Introvert tersebut sakit demam sampai sekarang. Ya, Anggara mimpi buruk yang membuat ia begitu depresi. Hal tersebut mempengaruhi kesehatan Anggara.


"Tan?" Reyhan memiringkan kepalanya sedikit. "Anggara mimpi buruk kan ya? Mimpi buruk itu membuat Anggara depresi banget?"


Andrana begitu terkejut rupanya Reyhan sudah tahu apa yang terjadi dengan Anggara. "Nak Reyhan?! Kok kamu bisa tau?! K-kamu di kasih tau sama Anggara??"


"Enggak kok Tan, mana ada Anggara mau membocorkan soal itu dong. Reyhan tahu sekali sikap Anggara, selalu tertutup gak mau bercerita tentang masalahnya."


Andrana tersenyum hambar seketika mendengar pengucapan Reyhan yang merupakan sang anak sahabat Andrana yaitu Jihan Agnes Sahanawa dan Farhan Lintanugraha Dellvano.


Reyhan nampak mengusap-usap dua sisi dagunya menggunakan satu tangan antara jari telunjuk serta ibu jarinya, pemuda friendly ini sedang merenungkan sesuatu sekaligus mencerna ucapan segala dari Andrana dengan konsentrasi.


"Tante Andrana, setelah Tante ngomong itu .. Reyhan baru inget kalau Anggara itu Indigo, jadi wajar kalau Anggara dapet mimpi buruk yang membuatnya depresi."


Mata Andrana berkaca-kaca dengan mulut bungkam lalu wanita itu membuka mulutnya betapa terkejutnya lagi. "Nak Reyhan, sudah tau kalau Anggara anak Indigo?!"


"Iya Tan, betul sekali."


"...?! Kamu tau darimana Nak?? Lalu, kenapa kamu bisa tau kalau Anggara Indigo? Atau apa Anggara sendiri yang membuka jati diri sebenarnya???"

__ADS_1


"Eeee, enggak kok Tan. Kami bertiga yang mengetahuinya, tetapi itu di kejadian ritual tumbal yang saat dulu Reyhan ceritakan sama Tante dan om Agra peristiwa itu. Tante inget, kan?"


Andrana mengangguk antusias. "Iya, Tante masih inget sekali. Tapi yang Tante tanya sama kalian, mengapa kalian bisa tahu Anggara Indigo, apakah makhluk Iblis itu yang membongkar semua tentang identitas Anggara?"


"Iya Tante, raja Iblis itu yang membongkar semua kalau Anggara tuh punya indera keenam. Tentunya kami tahu indera keenam itu adalah Indigo," timpal Jova angkat suara.


"Tidak sampai di situ saja Tan, setelah peristiwa kejadian yang hampir merenggangkan nyawa Anggara dan kami berempat berhasil keluar dari alam gaib, di tempat menuju luar gang hutan Bogor .. Anggara malah ambruk jatuh di tanah dan pingsan selama satu hari. Tetapi, disaat Anggara jatuh pingsan, ada dua bapak-bapak penjaga hutan Bogor membawa Anggara ke rumahnya salah satu bapak berumur lima puluh tahunan yang bernama pak Amir."


Andrana mendengar pengucapan Freya dengan di akhiri menganggukkan kepala mengerti. "Lalu setelah itu bagaimana?"


"Anggara sempet marah-marah sama Freya, Jova, Reyhan Tan."


"Eh loh marah-marah kenapa Nak Frey?"


"Karena kami bertiga sudah mengetahui kalau Anggara Indigo, Freya tahu pasti Anggara sangat kaget mendengar ucapan Reyhan bahwa Anggara Indigo."


"Maaf sebelumnya ya Nak, sebenernya Anggara dari awal waktu pada kelulusan SD .. Anggara ingin menutupi semua kemahirannya yang Anggara punya. Tante masih belum tahu kenapa Anggara bisa seperti itu, anak Tante memang cuek tetapi gak se-cuek dan gak sedingin seperti ini sifatnya."


"Dan kalau kalian penasaran Anggara keturunan dari siapa pada Indigo-nya, itu asal keturunan dari Tante dan om ya Nak-nak."


"Loh Tante sama om Agra Indigo juga dong?! Wah keren banget sekeluarga bisa lihat makhluk gaib yang kata orang-orang itu adalah mitos."


"Lah, emangnya makhluk gaib itu mitos kah Frey?" Reyhan mengerutkan keningnya. "Makhluk gaib itu ada loh," tambah Reyhan.


"Kan itu kata orang-orang kayak temen-temen sekolah kita semua Rey, kalau aku percaya lah. Kan makhluk-makhluk yang macam gitu fakta dan bukan mitos. Jadi kalau Anggara lihat arwah atau roh aku cuman kaget aja gak anggap Anggara orang sakit jiwa. Eh maaf ya Tan, Freya gak bermaksud menyindir Anggara kok."


"Iya Nak, Tante ngerti kok kamu gak bermaksud menyindir Anggara malah justru Tante ngerasa kamu menghargai Anggara apalagi kamu gak ada niatan buat menjauhi Anggara yang mempunyai kemampuan indera keenam yang tak semua orang bisa miliki. Makasih ya Sayangnya Tante."


Andrana mengelus-elus rambut hitam lurus lembut miliknya Freya seolah wanita itu seperti menganggap anaknya sendiri.


"Eh Tante, kami berdua juga menghargai Anggara dan gak ada niatan menjauhinya loh Tante."


Reyhan dan Jova langsung terdiam setelah mengutarakan kata yang sama, mereka saling menatap dengan mata terkejut sekaligus ekspresi mukanya. Andrana dan Freya hanya mendengus tersenyum melihat tingkah pada kedua remaja yang hampir setiap hari menampilkan aksi perdebatan seru tersebut.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Langit biru dongker tua yang mencolok dikarenakan maghrib kini berganti menjadi langit berwarna hitam menandakan malam hari telah tiba. Nampak ketiga sahabatnya Anggara masih setia menunggu kesadarannya Anggara kembali, gadis sahabatnya Anggara juga sesekali mendongakkan kepalanya untuk melihat jarum jam dinding berbentuk lingkaran yang terpasang di tembok kamar Anggara.


Sementara Reyhan menggerakkan telapak kakinya dengan tumit kaki tetap menapak di lantai sembari memainkan jari-jarinya, hingga pandangan Reyhan terpusat di hewan peliharaannya Anggara. Kucing hitam yang memiliki bulu lebat dan lembut serta sehat begitupun juga kedua matanya berlensa hijau agak kekuningan, kucing tersebut merupakan jenis kucing Anggora jantan.


"Takeshi, widih makin ganteng aja kucingnya Anggara kek majikannya."


Jova mendengus dan menoyor kepala Reyhan keras. "Terus maksudnya kamu samain Anggara dengan Takeshi gitu?! Manusia sama hewan beda jauhlah tampang-tampang gantengnya!"


"Hm'em iya aku tau! Tapi bisa gak jangan keseringan mukul kepalaku? Sakit ngerti?!"


"Gak ngerti."


Freya memperhatikan kucing Anggora jantan miliknya Anggara yang melompat ke kasurnya pemuda yang terbaring lemah tak sadarkan diri lalu Takeshi mendekati sang majikannya dengan menyenggol-nyenggol telapak tangannya Anggara bersama tangan berbulu-nya.


Tiba-tiba dari arah luar jendela datanglah hembusan angin yang meniup gorden jendela balkon serta rambut-rambut para keempat remaja tersebut serta bulu lebat kucing hitam menawan ini. Karena Takeshi ingin mencari nyamannya, ia meletakkan tubuhnya di atas kasur lalu mulai melingkarkan tubuhnya seperti ular sedang tidur beserta ekor hitam macam kemoceng itu juga ia lingkarkan agar kucing tersebut tak kedinginan akibat angin.


Takeshi nampak tidur di dekatnya majikannya, sangatlah dekat. Sudah jelas bahwa kucing yang dirawat oleh majikannya begitu nyaman berada di dekat sang pemuda majikan ini yang tengah terbaring sakit.


Hingga pada akhirnya ketiga sahabatnya Anggara mendengar suara lenguhan lemah di sekitarnya Anggara. Sontak bersamaan Freya, Jova, dan Reyhan menoleh ke Anggara. Benar saja, Anggara nampak membuka mulutnya sedikit lalu mulai mendesis yang artinya kesadaran Anggara juga mulai pulih sekaligus menaik.


Kedua mata Anggara yang sudah lama berjam-jam tertutup kini terbuka perlahan pada mata yang begitu sayu, pertama yang Anggara pandang adalah dinding atas putih yang masih blur belum jelas bahkan suara yang mampu Anggara tangkap pada pendengaran telinga masih samar-samar.


Setelah pandangan mata pemuda itu akhirnya jelas, Anggara mencoba memutarkan bola matanya perlahan untuk melihat sekeliling yang saat ini ia tatap. Ia posisinya baring di kasurnya serta dari luar jendela sudah ternampak gelap.


Reyhan melambaikan tangannya di dekat wajah Anggara. "Ngga ..."


Anggara menutup matanya sejenak dan mengambil sesuatu dari atas keningnya karena ia merasakan ada yang janggal di keningnya. Sebuah satu kain telah dingin tertempel di jidatnya Anggara. Anggara membuka matanya kembali dan melihat apa yang ia pegang.


Mata yang tetap sayu itu ia tolehkan bola matanya melirik Reyhan. "Gue ... kenapa?"


Reyhan tersenyum sedih. "Lu pingsan Ngga akibat demam, tapi Alhamdulillah deh gue dan sahabat-sahabat kita seneng lo siuman."


Freya berinisiatif mengambil lembut kain kompres yang Anggara genggam lemah. Gadis itu tersenyum saat menatap Anggara yang juga menatapnya dengan wajah lemas. Freya mencemplungkan kain kompres tersebut ke dalam air baskom yang sudah nyaris dingin.


Anggara yang akan hendak duduk, Reyhan sigap menangkap punggung Anggara. "Sini, pelan-pelan aja."


Reyhan menopang punggung Anggara untuk membantunya sahabatnya duduk dan kemudian Reyhan sandarkan punggung Anggara di kepala ranjang. Anggara masih bingung mengapa ia bisa tak sadarkan diri bahkan mukanya terlihat linglung dengan pandangan ke bawah.


Jova berniat untuk memijat kedua kaki Anggara untuk melancarkan peredaran darahnya supaya lancar. Melihat sikap Jova yang seperti itu yaitu 'tumben' Anggara hanya tetap diam saja tanpa mengeluarkan suaranya, diam membisu.


"Kepalanya masih sakit kah, Ngga? Kalau masih sakit aku ambilkan obat buat kamu," tawar Freya.


Anggara menggeleng tanpa sedikitpun melirik dan menoleh ke arah Freya. Sedangkan Reyhan menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya pelan lesu, dirinya merenungkan kembali pada keadaan Anggara yang sepertinya masih depresi pada mimpi buruknya, meskipun itu Reyhan tak mengetahuinya sahabat pendiam tersebut bermimpi buruk apa hingga membuat Anggara begitu depresi sampai demam.


Datanglah mamanya Andrana yang membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat untuk ketiga sahabatnya Anggara. Namun sontak itu mamanya Anggara terkejut pas tak sengaja melihat Anggara yang sedang posisi duduk sementara kepala dan punggungnya bersandar di kepala ranjang.


Andrana terkejut sangat senang pada akhirnya sekian lamanya menunggu, anak tunggalnya sadarkan diri walau Andrana tak tahu Anggara sadarnya dari kapan. Andrana tetap melangkahkan kakinya perlahan lalu meletakkan nampan di atas meja nakas lalu menangkup wajahnya Anggara yang tersenyum tipis melihat kehadiran Andrana.


"Nak," ucap lirih Andrana lalu segera memeluk Anggara yang bertubuh hangat dan Anggara mengangkat satu tangannya untuk membalas pelukan nyaman dari seorang ibunya.


Reyhan tersenyum lebay dengan menyentuh dadanya dengan kedua telapak yang ia tumpuk di atas dada. "Terharunya dari antara seorang anak dan ibu tersayang."


"Hilangin alay-nya anjay!" sarkas Jova bergidik geli pada suara nada Reyhan yang di buat-buat.


Andrana melepaskan pelukannya dari tubuh Anggara lalu memulai obrolan pembicaraan ialah menawarkan sesuatu.


"Nih minum tehnya dulu- aduh udah dingin lagi tehnya." Andrana melepaskan pegangan dari gelas teh buatan suaminya lalu menatap Anggara hendak pergi meninggalkannya.


"Sebentar ya Ngga, Mama buatkan teh hangat yang baru dulu. Anggara tunggu di sini oke."


"Eh gak usah Tan!" Reyhan mengangkat pantatnya untuk mengambil gelas teh yang ada di meja nakas Anggara. "Teh ademnya Reyhan minum aja Tan, nah teh anget yang di nampan satunya buat Anggara saja."


"Eh loh Nak Reyhan, teh yang itu kan sudah dingin apalagi ini sudah malem. Jadi minumnya yang hangat dong Nak."


"Halah gakpapa Tante, Reyhan udah terbiasa minum air dingin kok pas malem."


"Parah, masuk angin siapa yang repot?" tanya Jova.


"Setan!" Reyhan meninggikan nadanya dengan sembari langsung meneguk teh yang di buat oleh Agra tadi pagi.


Reyhan duduk kembali di pinggir kasur usai meletakkan gelas teh yang tinggal setengah. "Hampir hidrasi untung langsung minum."


Andrana tertawa kecil lalu menyongsong badannya mengambil satu cangkir mug teh hangat dan ia berikan kepada Anggara. Anggara dengan menerimanya sambil tersenyum kemudian meneguk perlahan teh tersebut agar tak tersedak.


"Oh iya ini teh hangat untuk kalian," ucap Andrana kemudian mengambil cangkir teh hangat buatannya satu persatu untuk ia kasihkan ke Freya dan Jova.


"Terimakasih Tante," sopan ramah antara Freya dan Jova bersamaan.


"Sama-sama Nak cantik-cantik."


Andrana mengangkat nampan yang ia taruh di atas meja nakas lalu beranjak dari tempat tidur Anggara. "Nak, kalau kepalamu sakit langsung minum obatnya ya. Obatnya sudah Mama letakkan di mejamu, yaudah Mama keluar dulu ya Nak, ngobrol lah sama sahabat-sahabatmu yang sudah setia nunggu kamu sadar."


Anggara hanya mengangguk tanpa bersuara sementara Andrana tersenyum lalu berbalik badan melangkah keluar dari kamar anaknya tanpa menutup pintu kamar.


Anggara tak sengaja menyentuh suatu yang berbulu lembut di samping tangannya, ia mencoba mengelusnya dan yang rupanya setelah Anggara tundukkan kepala itu adalah kucing hitamnya yang sedang tidur pulas dengan mendengkur bahagia. Majikan tersebut nampak senang melihat kucingnya tidur nyaman, tangannya yang ada di atas badannya ia angkat lalu membelai-belai si kepala Takeshi hingga Takeshi yang merasa di berikan belai kasih sayang terbangun lalu menggeliat sekaligus menguap dengan lebar sampai memperlihatkan dua taring kecil giginya bagian atas.


Kucing Anggora itu membuka matanya lalu mulai menaiki badan Anggara lantas itu kucingnya Anggara kembali tidur dalam posisi badan yang melingkar serta ekor lebatnya ia posisikan di dekat tubuhnya hingga menutupi hidung serta mulutnya.


"Yaahh malah tidur lagi deh kan pengen gue gendong si Takeshi," kecewa Reyhan.


Anggara melirik Reyhan. "Mau lo gendong? Tapi sudah tidur duluan."


"Yaudah lah gak usah, nanti kalau dibangunin gue yang kena lampiasan-nya."


"Pppfft pelampiasan apaan tuh?" tanya Jova dengan tahan tawa.


"Cakaran lah, masa ciuman. Ciuman indah pertama dari seekor kucing jantan."


"Stop ngomong itu nggak? Gue masih kuat buat lempar lo dari balkon kamar gue!"


"Buset dah Ngga?! Sadis banget lo ternyata kek psikopet ... ya jangan lah, kalau gue mati gimana?"


"Ya tinggal kubur, gitu aja ribet."


"Gusti Ya Allah! Heh, lu tega banget sih Ngga?! Nangis kek apa gimana, ngomongnya santai bener .. mentang-mentang lo ibaratnya air tapi MEMATIKAN!!"


"Oh, terus berarti maksud lo gue manusia di sahabat lo yang mematikan? Psikopat atau kanibal?"


"Dua-duanya! Apa? Kenapa? Gak terima?!"


"Gak tau." Anggara mengangkat kedua bahunya.


Reyhan mengepalkan telapak tangannya di dekat wajahnya ia sendiri. "Debat sama lo gak ada gunanya, percuma!"


"Memangnya gue minyak goreng? Yang ada gunanya untuk memasak makanan mentah?"


"Anying laaaahh!"


Freya dan Jova tertawa sedikit kencang atas ucapan Anggara yang terdengar santai, apalagi wajah datar Anggara membuat Reyhan ingin menggampar-nya menggunakan sepatunya tetapi ia sadar pasti akan sakit jika ia gampar muka Anggara menggunakan benda yang ia kenakan itu.


"Emang lu yak!"


Bugh !


Reyhan menyabit muka Anggara lumayan keras menggunakan guling, namun apa yang terjadi? Anggara hanya diam saja tanpa berniat membalasnya.


"Kok diam aja? Balas kek! Kayak patung perasaan."


"Gue gak mau bales lo."


"Laaaahh?? Kenapa?"


"Gue gak mau cari keributan. Lo ngajak gue adu baku hantam gue juga pasrah aja."


"P-pasrah?! Eh lo gak mau jaga diri lo, apa?! Gilak ya lo Ngga! Kalau misalnya ada orang yang berniat bunuh elo, lo cuman diem pasrah gitu aja?! Gak ada untuk membalas atau mencari cara agar lawan lo tau rasa?!"


Anggara menggeleng kepalanya.


Freya dan Jova saling menatap tanpa adanya ekspresi wajah sementara Reyhan mengerutkan keningnya lalu mendengus.


"Ngga, ayolah lo gak mungkin kan selamanya jadi cowok terlalu diem, cuek, dingin, pasrah, suka mengalah, terlalu sabar? Gue gak mau lo seperti itu sumpah. Lo kalau disakiti jangan terlalu sabar, dan lo jangan pernah lagi mengunci rasa amarah lo Anggara."


"Lo gak suka sikap gue yang seperti ini? Dan lo ingin gue rubah sifat jati diri gue? Ini gue yang asli, sampai kapanpun gue bakal tetep seperti ini. Asal lo tau saja Rey, ini diri gue, prinsip .. prinsip gue sendiri, watak kita berbeda jauh. Apa gue bisa seperti lo? Gak akan."


"Kenapa Ngga? Gue di sini pengen rubah lo agar lo gak terlalu sabar .. sabar itu ada batasnya Bro. Atau lo masih belum bisa melepas masa lalu gelap itu? Duh, buang kek ke mana .. tong sampah kek apa kagak lempar aja memori itu ke dalem lubang biru laut negara China Selatan biar di telen naga putih!"


"Heh Nyuk, perasaan yang ngalamin si Anggara deh .. lah kok kamu malah justru ribut dan emosi sendiri??"


Reyhan tak menggubris pertanyaan Jova, ia kini sekarang hanya fokus menatap Anggara dan akan mulai mengajarinya untuk tidak terlalu mengalah dan terus bersabar tanpa ada batas. Anggara tentu telah mencerna apa yang Reyhan maksud, Anggara tahu Reyhan sangat begitu peduli dengannya.


"Anggara, apa lo gak punya rasa emosional di dalam diri lo? Setiap manusia pasti ada rasa emosional, batas sabar dan lain-lainnya. Gue tau lo orang yang baik, tapi gak gitu caranya Ngga .. jika lo terus saja begitu, lo bakal gampang di manfaatkan dan dibodohi!"


Anggara hanya diam dengan memejamkan matanya, benar juga ucapannya Reyhan namun secara instan Anggara mustahil mengubah sikapnya yang begitu keterlaluan.


Reyhan memegang kedua pundaknya Anggara dengan kedua tangannya agar Anggara membuka matanya. "Ngga sekarang dengerin gue dan jawab pertanyaan gue. Apa lo betah disakiti? Apa lo betah dikhianati? Apa lo betah dikucilkan? Dan apa lo betah dihina habis-habisan?? Jawab Ngga."


Anggara membuka matanya dan menatap mata Reyhan yang begitu intens. "Gue betah Rey, karna gue sudah terbiasa di berikan cara seperti itu. Mau entah kapan ada orang yang memberikan sikap seperti itu, gue sudah kebal. Gue sudah diberikan cara terbaik mereka disaat waktu gue SD Reyhan. Jadi terserah ada yang mau memberikan cara yang begitu pada gue, gue gakpapa dan B (Biasa) aja."


"Kenapa lo bilang hal buruk itu lo bisa ngomong terbaik? Apa itu nggak terbalik? Tapi, sekarang lo udah gak sendiri Ngga .. ada gue, Freya, dan Jova. Dan jika itu terulang lagi, gue gak akan segan-segan kasih ngerti sama mereka. Jadi serahkan aja sama gue."


"Idih sok pahlawan!" sewot Jova.


Reyhan memutar posisinya menghadap Jova yang ada di belakangnya. "Aku begitu karna aku gak sudi Anggara dikasih yang gak pantas! Itu kan namanya main fisik dan mental! Gitu-gitu aku peduli loh sama Anggara, pokoknya kalau ada yang berani macem-macem sama Anggara lewati Reyhan Ivander Elvano dulu."


"Wah, ini ceritanya Reyhan jadi pelindungnya Anggara ya? Wih keren," kagum Freya.


"Dih apaan dah pake di puji-puji segala!"


Reyhan tersenyum miring. "Loh-loh kok kamu yang sewot? Ahay, syirik ya?"


"Apaan dah, dasar cowok gaje!"


Freya mengusap-usap punggung Jova. "Udah ampun jangan marah-marah, inget ini malem lho Va, bukan masih sore."


Anggara tersenyum tipis dan mendongakkan kepalanya ke arah Reyhan yang pada sebelumnya Anggara menundukkan kepala.


"Rey, gue mau nanya sesuatu tapi lo bisa jawab jujur kan?"


"Bisa lah, bisa. Apa? Lo mau nanya apa?"


"Gue mau lo jawab jujur ... disaat lo tahu gue menerima kejadian dirasuki arwah, apa lo menyebarkan semua itu ke seluruh temen-temen sekolah?"


"Eh nggak kok. Kejadian peristiwa lo gue simpen dan gue rahasiakan terkecuali Freya, Jova, dan Rangga. Tenang aja Ngga, gue gak mungkin nyebar berita kejadian itu kok. Mana ada sih gue tega ngelakuin itu? Gak mungkin gue lakuin dah."


"Oh iya gak hanya itu saja Ngga, gue juga menyembunyikan kelebihan luar biasa lo dari semua temen-temen kita termasuk Rangga. Karena gue tau, Indigo itu seharusnya dijadikan yang tersembunyi bukan yang terbongkar. Kami tau juga kalau kemahiran mampu melihat berbau-bau mistis, supranatural di ketahui semua orang .. gue yakin lo bisa disalah gunakan, dan image lo di sekolah langsung turun. Karna di sekolah pada percaya, hantu itu mitos bukan fakta kenyataan."


"Huh, dan sebelumnya maafin kami semua ya Ngga udah tau tentang lo yang sebenarnya. Maaf kalau mungkin udah buat lo depresi akan hal itu tadi."


"Nggak masalah bagi gue lagi, memang itu adalah waktunya untuk kalian bertiga mengetahui kalau sesungguhnya gue anak Indigo. Dan thanks ya Rey, Frey, Va kalian udah ngertiin gue. Thanks juga kalian telah peka terhadap gue."


Para sahabatnya Anggara tersenyum ramah dan mengangguk bersamaan sembari menatap Anggara. Anggara pun ikut tersenyum lumayan lebar dan sangat bersyukur pada sang Pencipta karena telah mempertemukan sahabat yang sesungguhnya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Kini jam menunjukkan pukul 20.30 dan sebentar lagi larut malam, kedua sahabatnya Anggara yang berumah jauh memutuskan untuk segera pergi pulang karena besok harus sekolah. Di luar gerbang rumah Anggara, Reyhan nampak melambai-lambaikan tangannya dan kepalanya mendongak ke atas balkon kamar Anggara yang di sana ada Anggara dan Freya berdiri. Sementara Jova mengunci pengait helmnya kemudian naik ke atas jok motor Reyhan, kedua remaja sejoli itu pada sebelumnya telah berpamitan pada kedua orangtuanya Anggara untuk pulang.


Di perjalanan menuju kompleknya Jova, Reyhan memegang tengkuknya lalu sedikit memijatnya.


"Kenapa Rey?" tanya Jova.


"Pegel Va, gak tau kenapa."


"Mau masuk angin jangan-jangan, ngeyel sih malah minum teh yang udah dingin. Nanti pas sampe rumah minum air hangat terus tidur, biar besok pas sekolah gak loyo."


"Waduh, ada yang perhatian nih sama aku."


"Apaan sih gitu doang langsung bermekaran bunganya di hatimu!" Jova memukul pelan punggung Reyhan dan Reyhan hanya tertawa.


Tak berselang lama menit kemudian, Reyhan membelokkan stang motornya dan tibalah di gang komplek United yang salah satunya komplek rumahnya Jova. Nampak komplek United begitu senyap karena hari semakin malam, dan ada beberapa warga-warga komplek tersebut sudah tidur.


Usai mengantarkan Jova pulang hingga gadis itu masuk ke dalam rumahnya, Reyhan kembali melanjutkan perjalanannya untuk menuju ke rumahnya yang masih perlu menempuh perjalanan jauh. Reyhan membelokkan stang motornya ke jalur jalan kiri untuk melewati jalan pintas Jiaulingga Mawar salah satu jalan penghalang kemacetan kota.


Mata Reyhan terfokus pada garis kuning polisi yang di tengah-tengah pohon gelap tersebut dan di dalamnya terdapat jurang sedalam 30 meter.


'Apa ada yang kecelakaan ya? Sampe-sampe dikasih garis polisi.'


Reyhan kembali menghadap ke depan dan ia tersontak terkejut ada sesosok laki-laki berseragam SMA putih abu-abu berjas almamater hitam. Reyhan seketika bingung lewat mana karena itu sangat mendadak.


"Mas-mas tolong minggir Mas!!"


Reyhan langsung tanpa berpikir banting stang kiri untuk menghindari mahasiswa SMA itu, namun karena Reyhan lupa kendali motor...


Motor Reyhan oleng-oleng dan Reyhan menjadi hilang mengontrol motornya.


"E-eh loh-loh Waaaaa!!!"


BRAKK SRAAAAKKK !!!


Karena jalan aspal licin akibat sorenya tadi sempat hujan turun mengguyur deras, roda motor Reyhan tergelincir membuat motor dan sang empu terjatuh bersamaan dan terseret beberapa sentimeter.


Reyhan terbaring di aspal sementara kaki kirinya terjepit oleh motornya hingga pemuda itu merintih kesakitan dan sesekali berteriak melampiaskan rasa kesakitan hebatnya yang menimpa kaki kirinya.


Reyhan berusaha bangkit dan mengangkat motornya yang beban berat, meskipun itu motornya ia sendiri namun Reyhan tak bisa mengangkat kuat motornya.


"Aaaaarrghh!! Sakiiiittt!!"


"Tolongin guee!!"


"Nggak ada yang akan menolong-mu."


Reyhan reflek menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang pasti, begitu Reyhan mendapatkan sendang suara itu Reyhan seakan-akan henti detak jantungnya melihat sosok lelaki menyeramkan yang berseragam SMA lumuran darah, dan kedua bola matanya bergelantungan di bawah lubang mata, wajah yang nampak terdapat goresan dalam.


"Hai, senang bertemu denganmu. Apakah kamu senang aku lakukan semauku?"


Lelaki menyeramkan itu langsung tanpa segan-segan mencekik leher Reyhan begitu amat erat, Reyhan menarik-narik kedua tangan lelaki tersebut namun sayangnya tenaga lelaki yang mencekiknya lebih kuat daripada Reyhan.


"Uhuk l-lepasin g-gue uhuk!!"


Napas Reyhan sebentar lagi akan menghilang jika lelaki itu tak segera melepaskan cekikan lehernya, Reyhan juga hampir kehabisan oksigen karena tak ada yang bisa ia hirup kali ini akibat cekikan leher kuat darinya. Wajah Reyhan memerah sementara bibirnya terlihat pucat karena berhadapan pada lelaki yang beraura hitam gelap tanpa ada putih terang.


Nasib Reyhan pada pukul 21.00 malam ini harus menerima takdir antara menahan ketakutan dan kesakitan pada lehernya dan kakinya yang masih terjepit di bawah motor.


Menatap wajah Reyhan yang sudah lemah tak berdaya, lelaki itu akhirnya melepaskan cekikan-nya yang dada Reyhan sudah sesak duluan akibat dirinya.


"Huk uhuk uhuk uhuk!!!"


Reyhan yang hampir limbung ambruk ke aspal, kerah kemejanya laki-laki tersebut tarik dan mulai berbicara sesuatu yang terdengar mengancam pada Reyhan yang sudah nyaris menutup mata.


"Karena kamu sudah melanggar aturan sebab kamu telah melewati jalan ini, aku akan siksa dirimu yaitu teror mengerikan yang sebentar lagi akan datang padamu."


DEG !


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2