Indigo

Indigo
Chapter 109 | Physical Revenge


__ADS_3

Reyhan lekas membuka pintu rumah Angga dengan bertepatan seorang gadis dari luar menekan bel rumah pemuda Indigo tersebut. Alhasilnya membuat mereka berdua kompak terkejut nyaris terlompat.


“Ya Allah Ya Robbi! Freya, toh?! Pagi-pagi udah ngagetin orang aja!” pekik Reyhan seraya menormalkan detak jantungnya yang hampir lepas dari tempatnya.


“Maaf, hehehe! Aku juga sama kaget, kok. Tapi, kamu mau kemana? Keliatannya buru-buru banget?” tanya Freya yang mengenakan baju lengan panjang berwarna ungu lavender-nya bersama rambut yang tetap tergerai.


“Oh aku mau pergi ke toko apotik yang udah dibuka! Itu di dalem kamar, si Angga lagi Demam! Mangkanya aku mau beliin obat buat Angga, soalnya obat penurun Demam yang ada di rumah udah habis. Kamu kalau mau jenguk, jenguk aja. Aku pergi dulu, ya!”


“Demam??!!” gegau Freya tak menyangka.


Gadis tersebut dengan panik, langsung berlari masuk ke dalam rumah sahabat kecilnya lalu gegas menaiki undakan anak tangga untuk menghampiri Angga yang tengah berbaring lemah di kasur kamarnya. Sementara itu, si Reyhan melangkahkan kaki panjangnya ke teras untuk mendatangi motor Vario Silver-nya yang terparkir di sana di sebelah motornya Angga.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Sesampainya di salah satu ruang kamar, ialah kamarnya Angga. Freya berhenti sebentar untuk menormalkan aturan napasnya, dikarenakan gadis itu tak bisa lari terlalu lama. Bola mata manik Freya menatap sahabat TK-nya yang terkulai lemas di atas kasurnya bersama wajah pucat nan mata yang terpejam. Perlahan, gadis cantik tersebut melangkahkan kedua kakinya memasuki kamar Angga yang nampak sepi.


Dengan muka gundahnya, Freya menduduki pantatnya di sisi kasur Angga yang disertakan seprai warna hitamnya. Gadis tersebut mengangkat salah satu tangannya lalu mengulurkannya untuk menyentuh kening Angga yang tertutup oleh rambutnya. Amat panas sekali saat disentuhnya.


Freya menolehkan kepalanya ke arah meja nakas Angga yang belum ada baskom air serta handuk kecil untuk sebagai pengompres. Freya melepaskan tangannya dari jidat sahabat lelakinya, kemudian memutuskan pergi ke ruang dapur bawah tangga lepau membawakan baskom air kecil begitu juga kain kompres.


Usai mengambilkan baskom kecil tersebut yang telah Freya isikan dengan air hangat beserta ada kain kompres yang ia sampirkan di sisi atas baskom, gadis tersebut yang masih memiliki rasa peduli terhadap Angga, kembali ke kamar. Freya meletakkan baskom itu di atas meja nakas sahabatnya, saat hendak mencelupkan kain kompres putih di dalam air baskom, HP Freya bergetar-getar menandakan ada yang sedang menelponnya.


Gadis cantik yang mukanya nyaris seiras boneka itu, menunda aktivitasnya sebentar dan merogoh ponselnya yang berada di kantong celana krem panjangnya bagian depan. Disaat tahu kalau yang menelpon adalah dari Gerald kekasihnya, Freya segera menggesek tombol hijau pada layar HP untuk mengangkatnya.


...----------------...


...GERALD SAYANGKU...


^^^Assalammualaikum, Gerald ku Sayang. Hehehe, kenapa kok pagi-pagi gini udah nelpon?^^^


Hai juga, Freya ku Sayang. Kamu ada dimana? Aku udah ada di depan gerbang rumahmu


^^^Eh, ngapain kok ada di depan gerbang rumahku? Ini masih terlalu pagi lho^^^


Kamu lupa? Aku pengen ngajak kamu jalan-jalan bersama. Ingat gak waktu aku chat kamu tadi malem? Kebangetan kalau kamu sampe lupa


^^^... Oh ya ampun! Maaf, Gerald! Iya-iya, aku baru inget! Tapi kayaknya nggak bisa hari ini deh, Rald^^^


Lho?! Kenapa?? Kamu sibuk hari ini?? Atau ada acara keluarga sampe kamu gak bisa jalan sama aku?


^^^Enggak sibuk, enggak ada acara keluarga juga, sih. Aku nggak bisa jalan bareng kamu karena Angga sahabatku lagi sakit, Demam, pula. Jadi maafin aku ya, Rald ... kita jalannya besok Minggu aja kalau Angga udah sehat, apalagi di rumah cuman hanya ada dia. Sementara orangtuanya lagi di luar kota^^^


....


^^^Gerald? Kamu denger yang aku omong, nggak?^^^


Iya. Aku denger


^^^Oh atau gini aja, mending kamu temui aku di rumahnya Angga. Aku sekarang lagi di kamarnya Angga, kamu cukup masuk terus naik tangga, nah di jalan pembelokan kiri itu kamar sahabatku^^^


Emangnya gue sudi injek rumah cowok pembunuh itu ...


^^^Apa, Rald?! Kamu ngatain Angga apa tadi?! Pembunuh?!^^^


Eh- enggak kok! Enggak! Tadi aku cuman ngelantur karena habis lihat film di TV. Kalau gitu, aku ke sana


^^^Oke! Aku tun-^^^


...----------------...


Freya melepaskan ponsel Androidnya yang ia tempelkan di telinga kanannya dengan kening berkerut heran. “Lho, belum selesai jawab, malah langsung dimatiin, sih?”


Freya mencoba tidak menghiraukan ada apa dengan Gerald, kini gadis tersebut meletakkan ponselnya di atas kasur tepat sebelahnya lalu mulai mencelupkan kain kompres kering itu ke dalam air hangat. Setelah mencelupkannya, kain kompresnya ia peras dengan kedua tangan.

__ADS_1


Tangan kanan Freya sedikit menyingkap rambut hitam Angga yang menutupi keningnya, kemudian kain kompres putih tersebut ia tempelkan di jidat sahabat pemuda tampan kecilnya. Gadis itu yang agak mempunyai indera feeling perasaan, merasakan bahwa kondisi tubuhnya lelaki tersebut tengah sedang sangat Drop.


Di situ Freya terdiam seketika saat ingat pada ucapannya Gerald yang menurutnya sang pacar miliknya itu ngelantur tidak jelas. ‘Aku yakin Gerald memang tadi ngomongnya ngelantur, mana mungkin Angga yang aku kenal selama ini seorang cowok pembunuh. Angga aja dulu pernah bilang, kalau dia paling nggak tega membunuh orang apalagi hewan. Mustahil kalau beneran iya.’


Sekarang kedua tangan Freya menggenggam telapak tangan kanan Angga yang masih begitu panas. “Panas banget ya, Ngga? Kamu kok bisa Demam gini, sih? Untung aja kamu enggak sampai Demam tinggi kayak waktu dulu itu.”


Freya melepaskan salah satu tangannya dari telapak tangan Angga, kemudian tangan yang telah dirinya lepaskan dari sahabatnya, ia bentangkan ke arah meja nakas untuk mengambil HP-nya kembali. Kini gadis tersebut tengah menyalakan layar ponselnya dan hendak mengirim sebuah pesan chat di aplikasi online miliknya.


“Kayaknya lebih baik aku kasih tau tante Andrana aja, deh kalau sekarang ini Angga lagi sakit Demam.”


“Jangan ...”


Freya sontak kaget mendengar suara nada lemah dari Angga yang menurunkan ponselnya Freya perlahan menggunakan tangan kirinya. Mata gadis tersebut yang berada di dekatnya pemuda tampan pucat tersebut berkedip-kedip beberapa kali, sementara itu posisi kedua mata Angga yang tadi terlihat menutup sekarang membuka dengan sorot sayu lemahnya.


“Lho, kamu nggak tidur?” lirih Freya seraya sedikit menggeser tempatnya untuk lebih dekat dengan sahabat kecilnya.


“Enggak, aku hanya merem. Kamu jangan kasih tau soal keadaan ku sama mamaku atau ayahku, ya ...? Aku nggak mau mereka berdua mencemaskan aku, apalagi aku gak ingin tugas pekerjaan beliau di kantor jadi terganggu karena mengetahui kondisiku yang sekarang ...”


Freya menganggukkan kepala menuruti Angga lalu mematikan layar handphone-nya. “Oke-oke, nggak akan aku kasih tau! Tapi yang sekarang kamu rasain apa? Harus jujur sama aku.”


“Maksa banget ...” lengai Angga dengan mulut lumayan nyengir.


“Yang aku rasain hari ini, pusing kliyengan sama lemes di tubuh doang. Nggak ada lagi yang selain aku sebutkan dua tadi. Kamu jangan khawatir, ya? Oh iya, baru sadar ... kamu kok kelihatannya masih ada peduli sama aku? Bukannya udah gak mau peduli, ya?”


Freya langsung terdiam seribu kata pada pertanyaan Angga untuknya. Ya jelas saja, gadis tersebut amat merasa bersalah terhadap sahabatnya satu ini, bahkan saking bingung mau menjawab apa, Freya memalingkan wajahnya dari Angga ke sembarang arah. Namun di situ Angga yang baring lemah, sangat tahu sahabat kecil cantiknya ini sedang dilanda hati rasa salah padanya.


“Sudah, nggak apa-apa. Aku udah maafin kamu, kok. Aku ngerti, sikapmu yang tiba-tiba kemarin itu secara spontan dan nggak sadar. Aku telah mengenalmu dari kecil, Frey, jadinya aku paham dengan sifat aslimu ...”


Freya menolehkan kepalanya pelan ke arah Angga dah menatapnya sejenak lalu menunduk sedih. “Maaf, aku kemarin yang keterlaluan sama kalian bertiga. Aku lega, karena permintaan maafku sudah terbayarkan, meskipun setengah.”


“Lho, kok setengah?”


“Iya.” Freya menghela napasnya berat dengan muka lesunya. “Aku memang udah dimaafin Reyhan dan terutama juga kamu, tapi ... Jova belum.”


“Bicara aja pelan-pelan sama Jova, dia pasti mau maafin dirimu ...”


“Pasti, dong ...”


Bola mata Angga tak sengaja memandang luar kamar tepatnya di ambang pintu. Terlihat sosok Gerald tengah berdiri dengan menatap dirinya sinis. Angga kemudian memutar kedua bola matanya kembali ke Freya yang tengah tersenyum menatapnya.


“Frey, obrolan kita cukup sampai di sini aja, ya? Di sana ada Gerald yang lagi nungguin kamu.”


“Gerald?” tanya Freya seraya menoleh ke belakang.


“Mending kamu tinggalin aku aja di sini, nggak ada masalah, kok kalau kamu pergi. Jangan terlalu pedulikan aku, oke? Nanti pacarmu bisa cemburu.”


Freya menoleh menghadap sahabat kecilnya yang menyuruh ia untuk pergi meninggalkannya. “Tapi kamu lagi sakit kayak gini, Ngga. Aku sebagai sahabatmu nggak mungkin ninggalin kamu dalam keadaan begini.”


Angga tersenyum lemah. “Kan ada Reyhan. Pergi saja sana, harusnya di hari libur ini kamu menghabiskan waktumu sama Gerald, bukan menghabiskan waktumu dengan aku. Apa gak kebalik, itu namanya?”


Gerald yang masih bisa mendengar suara pelan lemah musuh bebuyutannya itu dari SD, bersedekap di dada dengan berdecih sinis bersama wajah tampang angkuh bencinya. ‘Basi, banyak bacot.’


Gerald menatap detail kedua remaja itu yang saling bertatapan pilu, membuat rasa di hatinya Gerald ada dua antara yaitu cemburu dan benci. Sungguh, Gerald merasa muak melihat tampang wajah Angga sekaligus sosoknya sang musuh bebuyutan itu. Dengan hati kesal beserta kacau, Gerald melengos balik badan pergi dari rumah Angga tanpa berpamitan terlebih dahulu pada kekasihnya.


“Eh lho, Gerald?! Kamu mau kemana?!” teriak Freya dengan suara nada lengking saat melihat lelakinya pergi begitu saja.


Freya semakin bingung ada apa dengan sang pacarnya tersebut, sementara Angga paham mengapa Gerald pergi begitu saja. Bukan hanya sekedar cemburu, namun juga benci serta muak melihatnya. Angga pun yang sikapnya cuek, mengacuhkannya saja dan tidak peduli pada orang itu yang dulu sampai sekarang masih menyakitinya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Reyhan akhirnya tiba kembali di komplek Permata tepatnya di rumahnya Angga sesudah membelikan tablet obat penurun Demam. Saat dirinya melepas pengait helmnya, mata Reyhan menangkap salah satu pemuda yang matanya berwarna hijau layaknya seperti orang negara Eropa, tengah berjalan keluar dari dalam rumah Angga dan melangkah turun ke lantai pekarangan rumah sahabatnya yang bentuknya terbuat dari batu alam.


Raut warna muka ekspresi Reyhan menjadi merah padam waktu memperhatikan kepergian Gerald, yang Gerald sendiri tidak sadar bahwa di teras ada Reyhan yang dulu menang melawannya saat empat hari tersebut. Teringat akan penglihatannya yang muncul, membuat lelaki humoris berambut coklat itu ingin menerjang Gerald untuk melampiaskan amarahnya karena telah melukai fisik sahabat SMP-nya.

__ADS_1


Di sisi lain saat menuju gerbang keluar, Gerald rasanya ingin memberikan pelajaran lagi untuk diri Angga. Tidak ada puasnya ia melakukan hal keji tersebut yang padahal kondisi Angga telah sangat lemah karena ulah yang Gerald perbuat. Hingga tiba-tiba, Gerald tersentak kaget saat tudung jaketnya di tarik ke belakang oleh seseorang dengan tenaga kuat sampai akhirnya Gerald jatuh tersungkur ke belakang.


Brugh !


Gerald mengeluarkan umpatan kesalnya, lalu melimbai kepalanya kencang ke belakang bersama kedua mata yang mendelik tajam. Gerald menggertakkan giginya saat ia mengetahui yang membuat dirinya tersungkur adalah Reyhan.


“Akhirnya kita bertemu lagi juga buat kesekian kalinya. Berdiri, lo brengsek!!” Reyhan dengan kasar menarik kerah jaket biru laut Gerald hingga otomatis pemuda bermata iris hijau itu menjadi berdiri paksa.


Reyhan kemudian mendorong tubuh Gerald hingga terpojok di salah satu tembok pekarangan rumah Angga. Tatapan mata Reyhan sungguh tajam, bahkan rahangnya mengeras. “Maksud lo apa buat sahabat gue kayak yang lo lakuin kemaren??!! Gara-gara lo, sahabat gue jadi lemah kayak sekarang! Bahkan lo sempet bikin Angga pingsan, anjing!!”


Reyhan semakin menarik kerah jaket Gerald ke atas sekaligus mencengkeramnya erat hingga timbul urat di dua pergelangan tangannya. “Apa gue perlu ngasih pelajaran buat lo yang sama seperti elo perbuat sama Angga waktu itu?! Biar impas!!!”


BUGH !!!


Reyhan dengan hati emosi yang menggebu-gebu, menonjok perut Gerald tepatnya di bagian ulu hatinya. Merasa belum puas pada perilakunya terhadap Angga kemarin, Reyhan menempelkan telapak kaki kanannya di dada Gerald kemudian kedua tangannya beralih mencekik leher Gerald dengan sekuat tenaga maksimal.


“Begini kan cara lo menyiksa fisik Angga?!” tutur sarkas Reyhan seraya menekan telapak kakinya di dada Gerald beserta menggencet leher pemuda berhati bengis itu, membuat dirinya tak bisa bernapas.


Napas Reyhan naik turun mode cepat dengan mata super melotot pada Gerald. Wajah Gerald yang semulanya tidak memerah, kini memerah karena ia tak bisa menghirup oksigen. Reyhan yang melihat Gerald seperti ini, begitu puas sekali dikarenakan ia telah berhasil menyamakan kesakitan Angga yang sahabatnya terima.


BRUGH !!!


Reyhan dengan tanpa belas kasihan sedikitpun, mengangkat tubuh Gerald lalu membantingnya hebat di lantai pekarangan rumah. Di situlah, Gerald baru merasakan kesakitan yang amat-amat hingga berteriak karena tangannya tertindih oleh badannya nyaris tulang tangan punyanya patah. Tetapi di pikirannya Gerald cuma satu, darimana Reyhan tahu bahwa ia kemarin menyiksa raga fisik Angga. Duganya, mesti Angga menceritakannya semua pada Reyhan soal tentang dirinya yang memperlakukannya seperti itu. Padahal juga tidak, dugaan pemuda pedar tersebut sangatlah salah.


Reyhan menatap dingin Gerald. “Lo nggak perlu tau darimana gue tau atas perbuatan bangsat lo sama Angga! Sekarang, gimana? Lo udah ngerasain sakit yang persis seperti sahabat gue, kan? Hahahahaha!”


Gerald ingin sekali menerjang tubuh Reyhan dengan segala caranya, namun malangnya si lelaki itu telah tak bisa apa-apa untuk menyerang balik Reyhan yang tenaganya jauh lebih dahsyat dibanding tenaga miliknya.


Reyhan sekarang menginjak dada kiri Gerald dengan senyuman menyeringai. “Kasihan yang udah lemah. Ini balasan gue buat lo yang telah merusak reputasi hidup Angga, cowok goblok bajingan!!!”


DUAGH !!!


Reyhan ujungnya setelah menyelesaikan luapan murka dari perkataannya, menendang kencang dada Gerald hingga sampai membuat tubuh pemuda tersebut terguling dua kali ke belakang. Reyhan menatap santai Gerald dengan melipat kedua tangannya di dada bidangnya.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk! Sialan!!” umpat Gerald seraya bangkit berdiri mangkir dari pemuda sangar dalam soal tinjuan seperti Reyhan Lintang Ellvano.


Gerald dengan langkah besarnya meninggalkan Reyhan yang berdiri di jarak jauhnya bersama tertatih-tatih karena beberapa serangan Reyhan yang membuat dirinya kalah bertarung dengan lelaki bermata iris coklat tersebut. Beberapa menit kemudian Reyhan mendengar suara mesin motor Ninja Gerald dan tarikan gas motor yang akan membuat motornya melaju bersama kecepatan maksimalnya meninggalkan gang komplek Permata.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Freya masih melongok melihat ambang pintu dari pinggir kasur sahabat kecilnya, sampai detik kemudian gadis cantik berkulit putih bersih tersebut membungkamkan mulutnya dengan menggaruk-garuk kepalanya bagian samping pakai tangan jari telunjuknya. Pergi begitu saja tanpa sepatah kata apapun, tak mungkin ada urusan mendadak. Relung Freya bertanya, iya kah ada suatu permasalahan atau pertengkaran antara Angga dan Gerald secara diam-diam hingga Freya tidak tahu sama sekalipun?


Freya melepaskan garukannya dari kepala lalu kemudian menoleh ke Angga yang berbaring lemah. Terlihat, lelaki tampan itu tengah kembali tidur. Melihat kondisi sahabatnya yang memperihatinkan membuat otak Freya terputar pada 4 hari yang lalu. Sikapnya yang berbeda pada sahabat-sahabatnya terutama Angga. Angga memberikan cara halus kepadanya, namun gadis lugu tersebut membalasnya dengan cara tanggapan kasar.


Flashback On


“Itu kesalahan dia sendiri yang pertama membuat keonaran di sini apalagi sama Angga! Masalahnya kamu gak tau apa-apa soal yang tadi, Frey! Apa kamu ingin tau apa yang dilakukan Gerald pacar buruk-mu itu? Dia udah main nuduh-nuduh sahabat kecilmu! Bahkan dia dengan songong-nya mencaci maki Angga nggak memandang tempat apalagi melukai hatinya!!”


“Freya! Harusnya yang kamu belain Angga dong, bukan pacarmu yang sifatnya brengsek itu!! Selama ini Gerald yang udah buat Angga hancur kayak gini! Kedatangannya di kehidupan sahabat kita, Angga makin gak karuan! Dan pacarmu yang dulu telah merusak reputasi Angga!! Andaikan kamu tadi ada di sini, semuanya akan jelas bahkan kamu juga akan mengerti kalau hati pacarmu bener-bener bengis sama sahabat kecilmu yang selalu ada buat kamu!!”


Flashback Off


Teringat jelas suara-suara percakapan antara Reyhan dan Jova untuknya. Hal itu membuat Freya memejamkan matanya bahkan merapatkan bibirnya, sangat bodoh sekali melakukan kekasaran itu begitupun sempat tak memedulikan Angga dalam kondisi apapun.


“Apa yang telah aku lakukan waktu itu dan apa yang telah aku pikirkan?!”


“Ucapan mereka berdua seakan-akan memang fakta, Jova sama Reyhan nggak mungkin berbohong tentang Gerald kemarin. Apa aku perlu butuh penjelasan ke mereka berdua??”


“Apalagi Gerald kayak benci lihat Angga. Apa aku terlalu dekat sama Angga? Perasaan enggak, kok. Dianya aja yang terlalu sensitif kalau aku deket cowok lain contohnya seperti sahabatku sendiri.”


“Lagian, aku sama Angga udah dekat dari kecil, jadi wajar, kan kalau kami kelihatan erat bahkan ada rasa saling peduli dan terbuka satu sama lain?”


Sampai saat ini, Freya sedang berpikir kritis tentang ujaran kata-kata keyakinan dari Jova beserta Reyhan waktu hari-hari yang telah berlalu. Gerald yang dulu sudah merusak reputasi Angga, membuat jiwanya Freya penasaran kisah apa yang telah terjadi antara kekasihnya dan sahabat kecilnya.

__ADS_1


Sepertinya gadis manis polos itu harus melakukan suatu aksi lancaran penyelidikan khusus hanya untuk seorang satu lelaki yakni Gerald sang pacarnya dimulai esok hari.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2