
Jam pukul 16.00 Freya yang telah menghabiskan waktunya bersama kekasihnya yang ia cintai, kini tengah memarkirkan motor Honda Beat putihnya di teras rumah. Setelah itu usai melepaskan helm dan menggantungnya di atas kaca spion bagian kiri, gadis tersebut berjalan masuk membuka pintu rumahnya yang dua daun pintu.
“Assalamualaikum, Ayah, Mama. Freya pulang!” salam gadis itu dengan tersenyum lebar menatap kedua orangtuanya sambil menutup pintu rumah.
“Waalaikumsalam, Sayang. Wah, sekarang sudah punya pacar, pulangnya suka telat, ya? Ngapain saja kamu di sana, Nak?” tanya Rani yang tengah meletakkan secangkir kopi panas di atas meja untuk Lucas.
“Ehm, cuman diajak jalan-jalan sama makan-makan kok, Ma. Nggak ada yang lain selain itu,” respon Freya lembut jujur pada sang ibu.
Rani menganggukkan kepalanya dengan mengukirkan senyuman lebar yang beliau patri. “Baguslah, sepertinya kekasihmu sangat perhatian padamu. Mama lega sekali, karena jaman sekarang lelaki suka main belakang sama perempuan lain.”
“Mama jangan nakutin Freya, dong. Gerald cowoknya nggak seperti itu kok, Ma. Dia malah setia banget sama Freya, dan juga ramah seperti Reyhan.”
“Ngomong-ngomong soal Reyhan, kok Mama jadi rindu sama sahabatmu yang suka melawak itu, ya? Hahahaha! Yasudah, sekarang Freya mandi ya, Sayang.”
“Oke, Mama!”
Baru saja akan melangkah pergi ke atas tangga untuk beraktivitas membersihkan tubuhnya, Freya tersadar bahwa sedari tadi Lucas hanya diam saja bahkan tadi tidak menjawab salam dari anak putrinya. Freya dengan berani mendekati Lucas yang tampang wajahnya dingin di balik koran yang sedang beliau baca.
“Ayah? Ayah kok diam aja ada Freya? Ayah pasti lagi sibuk sama berita-berita terkini di koran itu, ya?”
Lucas menurunkan kertas korannya lalu matanya menatap anak semata wayangnya yang bertanya pada pria paruh baya tersebut. “Kamu pasti sore ini bahagia sekali ya dengan pacarmu yang bernama Gerald itu? Kamu tidak merasa khawatir atau sedih dengan seseorang yang tadi juga bersamamu?”
“Dengan seseorang yang tadi juga bersama Freya? Siapa emangnya, Yah? Perasaan tadi Freya cuman bersama pacarnya Freya doang.”
Mulut Lucas menganga kemudian beliau bungkam-kan dengan mendengus menatap Freya. “Cuman bersama pacarmu doang? Lah kamu tadi pagi menganggap Angga ada gak di sana?! Itu kalau kamu ingin tahu, sahabatmu habis kecelakaan! Sekarang Angga lagi istirahat di rumah, kamu bisa-bisanya nggak tau kalau Angga mengalami kecelakaan motor!”
“Angga habis ngalamin kecelakaan??!!”
Freya memutar tubuhnya dan berlari membuka pintu untuk menuju ke rumahnya Angga. Tentu saja meskipun sore ini gadis itu bahagia karena telah bersama Gerald sepanjang jam, tetapi begitu tahu sahabat kecilnya usai mengalami musibah, raut wajahnya menjadi panik dan hatinya amat risau.
Setelah membuka gerbang hitam rumah sahabatnya dengan cara di geser, Freya kembali berlari lalu menekan bel rumah Angga dua kali. Gadis lugu tersebut sedikit lompat-lompat dengan menggigit bawah bibirnya seraya menunggu Angga membukakan pintu rumahnya.
Cklek !
Pintu akhirnya dibuka, dan menampilkan sosok Angga yang dari wajahnya lumayan pucat. Pemuda itu menatap Freya nang baru saja pulang dari perginya bersama Gerald. “Freya?”
“Angga! Tadi Ayahku ngasih tau aku kalau kamu habis kecelakaan motor! Sekarang kamu udah baik-baik saja?! Ada yang luka-luka nggak?!”
“Jangan khawatirkan aku, aku sekarang baik-baik saja. Kamu baru saja pulang, ya? Kalau begitu mending kamu pulang saja ke rumah. Hari juga sudah sore, nggak pantas sore-sore kamu keluar dari rumah.”
Mata indah Freya berkedip-kedip pada perkataan Angga apalagi dari nadanya terdengar agak dingin. “Kamu mau ngusir aku, Ngga?”
Angga menggelengkan kepala tanpa senyum yang terbit. “Bukan begitu maksudku. Aku ingin istirahat, jadi tolong pulang sajalah. Kita bertemu lagi di sekolah, ya? Nggak apa-apa, kan?”
Freya menipiskan bibirnya dengan ekspresi wajah gundahnya. Kemudian gadis tersebut menganggukkan kepalanya. “Iya, deh kalau begitu. Aku pulang dulu, ya? Kamu banyak-banyak istirahat di dalem, mukamu juga dikit rada pucat.”
Angga hanya menganggukkan kepalanya saja untuk membalas perhatian Freya padanya yang dari hati begitu khawatir dengan keadaan kondisinya. Freya melambaikan tangannya kecil tak semangat lalu berbalik badan meninggalkan Angga yang masih berdiri di ambang pintu. Saat Freya menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap wajah Angga sekali lagi, namun sayangnya pemuda tampan itu sudah menutup pintu rumahnya dan memutuskan untuk memperbanyak istirahatnya buat persiapan sekolah esok hari Senin.
Freya balik menoleh ke depan dengan mata berkaca-kaca ingin mengeluarkan air matanya pada sikap Angga padanya yang jauh berbeda dibanding sebelumnya saat Sabtu kemarin dan tadi pagi saat pergi bersamanya. Kedua tangannya gadis itu angkat yang tangan kanannya mengepal sementara tangan kiri memegang kepalan tangannya ia sendiri di depan dadanya.
“Angga, kamu ada masalah apa? Aku yakin karena bukan kecelakaan motor itu yang buat sikapmu sama aku berbeda. Apa kamu lagi marah sama aku? Senyummu juga tidak ada sama sekali.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Walaupun dunianya masih terasa hancur dan hampa, Angga harus tetap berangkat ke sekolah meski ia merasakan tidak enak badan dikarenakan tadi malam pemuda tersebut kurang tidur. Berusaha menghempaskan memori buruk itu namun amat rekat seumpama seperti lem Fox.
Angga menghembuskan napasnya lalu mulai menentang tas punggung hitamnya di bagian pundak kanannya lalu kemudian berjalan dengan masih langkah yang pincang ke motornya nang ia parkirkan di teras rumahnya, sementara pintu rumahnya telah Angga kunci.
Angga mengangkat wajah tampan pucat-nya ke atas langit. Nampak jelas cuaca langit tak mendukung harinya yang penuh suram, mendungnya bahkan suasana dingin dikarenakan berangin. Kini Angga mendorong standar motornya agar naik ke atas. Setelah itu, dengan perlahan dan hati-hati dalam kondisi kakinya yang belum membaik, ia menggiring motor Vario hitamnya menuju depan gerbang yang masih tertutup.
Terdapat ada dua suara antara perempuan dan lelaki di sebrang rumahnya, namun Angga acuh tak acuh tidak memedulikannya. Usai membuka gerbang, dan kembali mendorong kendaraannya keluar dari gerbang, Angga memutar badannya ke belakang untuk menutup balik gerbangnya dengan rapat lalu menguncinya dari luar.
Suara-suara riuh bahagia itu terdengar di kedua telinganya Angga, pemuda tersebut kembali menggiring motornya beberapa sentimeter menjauh dari gerbang rumahnya. Dan dari situlah, baru terlihat jelas bahwa yang berbincang-bincang itu adalah antara Freya dan Gerald yang pacarnya tersebut ingin hendak mengantarnya ke sekolah. Angga juga sadar bahwa ada mereka berdua.
Gerald yang tersadar ada Angga di sebrang sana, menjadi tahu kalau alamat rumah musuh bebuyutannya tersebut dari SD itu terletak berada di komplek Permata apalagi rumahnya yang berhadapan dengan rumah kekasihnya.
Angga menatap dingin Gerald, sementara Gerald menunjukkan wajah sinis iblisnya dengan tersenyum miring di depan rumah sahabat kecilnya. Angga beralih menatap Freya sekilas lalu pemuda tersebut segera menaiki motor Honda matic-nya selanjutnya mengenakan helmnya serta memasang pengait di helm miliknya. Baru saja Freya ingin menyapanya, tetapi Angga sudah menutup kaca helmnya. Setelah itu tanpa memedulikan Freya yang menatapnya sedih, Angga menarik gas motornya lalu melaju meninggalkan mereka berdua serta gang komplek.
Gerald semakin senang bahkan semakin menarik senyuman dari satu sudut bibirnya untuk senyum smirk. ‘Lo habis kecelakaan, ya? Hebat, berarti mereka sudah menepati atas suruhan gue.’
Flashback On
Gerald memasukkan salah satu tangannya di dalam saku celana jeansnya bagian depan, seraya terus memperhatikan kepergian Angga yang semakin menjauh. Lelaki berkulit kuning langsat itu kemudian berniat merogoh saku celana panjangnya untuk mengeluarkan sebuah ponselnya lalu menelpon seseorang.
Dengan wajah sinis senyumnya pada Angga, Gerald mulai mengangkat handphone-nya lalu ia tempelkan di telinga kanannya. Hingga sambungan telepon pun terhubung di sebrang telepon sana.
__ADS_1
...----------------...
...TEIVEL...
^^^Heh, lo berdua dimana?^^^
Ya di alun-alun, Rald. Masa di alam baka
^^^Goblok!! Maksud gue lo berdua di sebelah mana?!^^^
Oalah, kalau ngomong jangan setengah-setengah mangkanya, gue ama Rain ada di deket parkiran. Biasa nongkrong sambil ngerokok, napa emang?
^^^Sebelum itu gue tadi bertemu Anggara Vincent Kavindra, lo inget kan cowok dulu yang di SD Bakti Siswa?^^^
Beuh! Yang bener, lo? Lo ketemu lagi sama manusia edan itu?! Wah mantap nih! Terus-terus apa yang pengen lo mau dari kami berdua?
^^^Gue punya tugas buat lo sama Rain, lo ikuti Angga yang sekarang lagi menuju ke parkiran lalu lo berdua juga ikuti motornya. Terserah kalian mau ngelakuin apa buat si pembunuh itu, yang penting gue mau dia celaka hari ini. Ngerti?!^^^
Mantap, Rald! Eh tapi gue sama Rain nggak tau Angga yang mana? Kasih ciri-cirinya lah, biar semuanya lancar jaya
^^^Dia pake baju coklat, jaketnya warna hitam, bersepatu putih. Cepetan lo berdua lakukan tugas yang gue suruh, jangan sampai meleset. Kalau meleset awas saja kalian berdua^^^
Ngancem-ngancem. Santai, semuanya bakal beres. Gue perlu bilang dulu sama si rambut ungu, biar dia lah yang ngelakuin buat orang sakit jiwa itu, Rain kan paling hebat kalau soal mencelakai orang
^^^Oke, bagus^^^
...----------------...
Gerald langsung menutup telponnya lalu ada seraut wajah bahagia tak sabar menunggu kabar musibah Angga sang lelaki yang sama sekali tak mempunyai salah dengannya. Tidak cuma membenci cerdasnya pada prestasi Angga dulu, tetapi juga dendam besar terhadapnya karena diduga kalau Angga lah yang membunuh Zhendy sahabatnya Gerald.
Flashback Off
Gerald melipat kedua tangannya di dada yang dibungkus oleh seragam putih SMA-nya. Sedangkan di sisi lain, Freya begitu amat gundah karena tidak bisa menyapa Angga yang sahabat kecilnya sendiri seakan seperti tidak memedulikannya, bahkan melemparkan senyumannya sedikitpun juga tidak.
“Angga ...”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di SMA Galaxy Admara tepatnya di dalam kelas XI IPA 2, Reyhan tengah asyik membaca buku novelnya yang ia bawa dari rumah sembari menikmati lagu POP tahun 2000-an dengan bahasa campuran yaitu Indo dan Barat melalui headset-nya.
Namun pandangannya tak sengaja mengarah ke Angga sahabatnya yang melangkah mendekati bangkunya yang ada di sebelah bangku Reyhan. “Eh, baru dateng lo, Ngg- lah?! Kaki lo kenapa, Cuy?! Kok jalannya sampe pincang gitu?!”
“Lo habis kenapa, Ngga?” tanya Reyhan dengan mendekatkan kepalanya ke arah dekat wajah pucat sahabatnya.
“Kecelakaan motor.”
Mata Reyhan langsung terbelalak terkejut mendengar respon Angga yang singkat padat dan jelas. “Hah?! K-kecelakaan motor?! Kok bisa, ceritanya gimana, Ngga?! Lo kecelakaannya dimana?!”
“Jalan pembelokan menuju tempat halte sama komplek Permata,” jawab Angga dengan nada dingin.
“Aduh, Astagfirullah! Tapi elo udah nggak kenapa-napa kan, Angga?! Gak ada luka atau cedera, kan?!” tanya Joshua celetuk saat ketua kelas berkacamata tersebut sedang menyapu lantai yang kotor.
“Gak ada.”
“Huh, Alhamdulillah deh kalau nggak ada. Gue kaget bener sumpah, apalagi tadi gue ngeliat lo jalannya kayak pincang gitu. Ini si Reyhan juga.”
“Apaan, Jo?” tanya wakil kelasnya dengan menyusutkan jidatnya yang agak tertutupi oleh rambutnya.
“Sahabat elo kecelakaan tapi lo-nya sendiri nggak tau. Eh, kecelakaan motornya pas kapan, Ngga?” Joshua bertanya lagi.
“Kemarin pagi.”
“Weh, Joshua. Masa lo piketnya pagi, sih? Bukannya harusnya pas waktu pulang sekolah?” tanya Reyhan.
“Gue gak nyaman sama kelas yang kotor, aktivitas belajar kita di ruang kelas ini menjadi terganggu entar. Nah mangkanya gue piket sekarang. Oh iya Ngga, nanti pas Upacara gimana? Masa lo tetep ikut dengan kondisi kaki lo yang masih sakit?”
“Gue bisa.”
“Enggak-enggak! Upacara itu agak lama, apalagi berdiri aja bikin pegel, mending lo gak usah ikut Upacara dah kalau gue saranin. Nanti malah bermasalah tuh kaki kanannya. Entar gue bilangin ke bang Johan, oke?”
Angga menghembuskan napasnya sejenak pada ujaran Reyhan yang memberikan saran untuknya, apalagi rasa kepedulian terhadap sahabatnya begitu mencolok terlebihnya Reyhan tak ingin dirinya kenapa-napa selain ini.
“Bener tuh kata Reyhan, Ngga. Mending kamu sementara jangan ikut Upacara dulu, kasian ama kakinya,” ucap Jova yang sudah nongol di samping lelaki humoris itu.
“Eh, tapi kamu kok mukanya pucet lagi sih, Ngga? Are you okay? Kayaknya pas Sabtu kami di rumahmu, mukamu nggak kayak gini, deh. Mana diluar cuacanya lagi gak sehat.”
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Angga, pemuda tampan itu hanya bungkam seolah tidak ada niatan untuk menanggapi pertanyaan Jova yang mengenai kondisinya saat ini. Kepala dan pandangannya menghadap depan dengan termenung.
Reyhan dan Jova saling melempar pandangan lalu menatap Angga bersamaan. Jujur, mereka bingung dengan sikapnya Angga hari ini, padahal kemarin-kemarin sahabatnya mereka tidak lagi seperti ini. Reyhan dengan penasaran mulai bertanya kepada Angga dengan tangan menyentuh atas bahu kirinya.
“Ngga, lo kenapa?”
Tak disangka oleh Reyhan, Angga menepis tangannya yang menyentuh bahunya begitu saja tanpa berkata-kata. Tidak biasanya Angga begini dengan sahabatnya. Seperti yang Angga lakukan tadi saat hendak duduk di kursinya, ia menutup pikiran Reyhan yang mampu membaca pikiran orang termasuk pikiran Angga. Hal itu membuat Reyhan tidak bisa membaca apa yang sedang sahabatnya pikirkan hari ini.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
07.50 AM
Setelah melaksanakan kegiatan Upacara terkecuali Angga, kini para siswa dan siswi mulai mengambil pakaian olahraganya karena sebentar lagi pelajaran praktek Olahraga akan dimulai. Sedangkan Angga nampak membuka-buka buku-bukunya yang ada di dalam tasnya. Dan malangnya, ia tak menemukan pakaian olahraganya di dalam. Tatkala Angga baru ingat bahwa ia lupa membawa pakaian olahraganya dari rumah.
“Angga, ayo ganti baju. Lo kenapa sibuk sama dalem tas lo? Lo nyari apaan, dah?” tanya Reyhan yang membawa pakaian olahraga.
Baru saja para siswa hendak keluar dari kelas untuk mengganti baju di toilet, hadirlah seorang guru mata pelajaran Olahraga ialah pak Robby. Semuanya hening dan menatap kedatangan beliau yang memasuki kelas.
“Lah belum ada yang ganti baju sama sekali?”
“Kami mau ganti baju Olahraga tapi Bapak malah udah dateng ke kelas, jadi tertunda lah, Pak.” Raka berucap.
“Oalah begitu, toh. Yasudah sana ganti dulu.”
Sampai tiba-tiba Angga yang duduk diam di bangkunya, mengangkat tangan kanannya ke atas agar pak Robby melihatnya. “Kenapa, Ngga?”
“Mohon maafkan saya, Pak. Saya hari ini lupa membawa pakaian olahraga.”
Semuanya terkejut pada permintaan maaf kepada pak Robby. Baru pertama kali ini seorang Anggara Vincent Kavindra yang selalu membawa apa yang harus di bawa ke sekolah kini malah lupa apalagi pakaian olahraga yang dikenakan hari ini. Hingga tibalah bisikan-bisikan gosip para siswi terkecuali Freya, Jova, Rena, Lala, Zara. Tak hanya siswi saja sebagian siswa pun juga ada.
Pak Robby mendatangi Angga yang masih duduk di kursinya. “Lho, kenapa lupa bawa? Kamu pasti tahu kan kalau ini jadwalnya pelajaran Olahraga.”
“Maafkan saya sekali, Pak. Lain kali saya akan membawanya. Bapak jika ingin menghukum saya, boleh saja, Pak. Saya terima.”
Pak Robby menggaruk keningnya dengan mendesis bersama mata yang beliau pejamkan. Kemudian pak Robby membuka matanya dan menatap muridnya, sebenarnya beliau tidak pernah menghukum murid dan pak Robby sering memberikan luang kesempatan untuk muridnya jika melakukan kesalahan atau lupa membawa sesuatu.
“Kamu sehat-sehat saja kan, Angga? Kenapa Senin ini mukamu terlihat pucat apalagi terlihat di bibirmu, sini coba Bapak cek.”
Pak Robby mulai menyentuh keningnya Angga yang tertutupi rambut hitamnya, selanjutnya pipi dan terakhir leher muridnya. Yang pak Robby rasakan, kening, pipi, serta leher Angga terasa rada hangat. Membuat guru pria tersebut berdecak dengan mengubah raut ekspresinya menjadi khawatir.
“Lah, tubuhmu agak hangat seperti ini, kok. Pantesan saja dari mukamu kelihatan pucat, apalagi kamu kayak lemes begitu. Mau Bapak antar ke UKS apa gimana? Atau tetep mau ikut ke lapangan?”
“Saya ikut ke lapangan saja, Pak. Supaya saya tahu materi apa yang akan beliau praktekkan di lapangan nanti.”
Pak Robby mempertimbangkan pilihan anak murid siswanya, namun pada kemudian beliau menganggukkan kepalanya. “Oke kalau begitu. Ayo yang cowok-cowok segera keluar dan ganti pakaian. Jangan di sini gantinya, kelasnya khusus cewek.”
“Ya tau kali Pak, kami. Nanti kalau kami yang cowok ganti pakaiannya di sini sama aja dong kami ngeliat cewek-cewek ganti bajunya. Auto jadi para cowok mesum, dong,” ucap Aji.
Pak Robby menepuk keningnya mendengar perkataan lantang dari Aji, sementara Angga mulai bangkit beranjak dari kursinya lalu melangkah dengan kaki pincangnya untuk menuju luar ruang kelas XI IPA 2. Hal tersebut jalannya Angga menjadi pusat perhatian pada para siswa dan siswi kecuali ketiga sahabatnya yang sudah tahu kalau kemarin pagi Angga mengalami kecelakaan motor.
Termasuk pak Robby yang melongo memperhatikan langkah pincang Angga. “Angga? Kaki kamu kenapa? Kok jalannya sampai pincang seperti itu?”
Angga berhenti melangkah dan menoleh ke belakang menatap gurunya tanpa menjawabnya. Tetapi Reyhan yang masih ada di sebelahnya beliau langsung mewakili Angga. “Gara-gara kecelakaan motor, Pak. Kemarin pagi hari Minggu.”
“Innalillahi! Waduh, kok bisa kecelakaan motor?! Kecelakaan dimana itu?!” kejut pak Robby tak menyangka.
“Jalan pembelokan tempat arah menuju halte dan komplek Permata, Pak.” Angga merespon tanpa adanya ekspresi muka.
“Parah tidak kecelakaannya?! Kamu sampai pincang begitu kakinya, pasti ada lukanya, ya?!”
“Kalau parah, udah masuk rumah sakit, Pak. Ini buktinya Angga bisa masuk sekolah, berarti nggak parah.”
“Ini bocah dari tadi nyaut mulu dah perasaan si Ajinomoto satu, gue ketapel mulut lo pake batu, mampus lo! Diem bentar, napa?!” jengkel Reyhan.
“Tidak parah juga kok, Pak. Kaki saya hanya terkilir saja.”
“Syukurlah kalau nggak parah. Yasudah ayo sini Bapak tuntun jalannya, biar tidak kesusahan.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di pertengahan melakukan sebuah permainan Olahraga yang sedang beliau praktekkan pada seluruh muridnya, Reyhan menoleh ke belakang arah kursi tribun yang di sana terdapat Angga tengah duduk bersama kepala menunduk.
‘Lo sebenernya lagi kenapa sih, Ngga? Gak biasanya lo kayak gitu. Bahkan saat gue minta lo cerita apa yang terjadi, lo cuman bisu nggak mau jawab. Kalau ada suatu permasalahan, kita bisa menyelesaikan bersama-sama, kan.’
Ingin sekali Reyhan bersikeras meminta penjelasan dari sahabatnya tersebut, namun sepertinya itu sangat tidak tepat. Dikarenakan jika ia meminta cerita apa yang sedang terjadi dengannya, Angga hanya diam membisu bahkan kalau Reyhan sampai memaksa, pemuda tampan itu bisa membentak Reyhan untuk tak memaksa dirinya buat bercerita.
__ADS_1
Angga memang lelaki yang cuek dan dingin. Tetapi ini melebihi wataknya dari kedua itu membuat ketiga sahabatnya tidak mampu mendekati dirinya lepau sekedar memberikan hiburan. Yang jelasnya, Angga butuh waktu sendiri untuk hari ini. Angga juga memerlukan waktu buat menjelaskannya kepada ketiga sahabatnya. Jujur, berat sekali jika Angga menceritakan kisah latar belakang masa lalunya nang sesungguhnya.
Indigo To Be Continued ›››