Indigo

Indigo
Chapter 193 | Battered


__ADS_3

“Good Boy ! Akhirnya lo mau berhenti juga dihadapannya kami berdua. Itu artinya elo memilih kehabisan uang daripada kehabisan nyawa, kan?”


Reyhan yang dibuat panik oleh Arseno dan kedua pemuda berandalan yang berusia lebih tua darinya, menolehkan kepalanya ke depan waktu mendengar suara mulut satu orang dari dua antara mereka yang rambutnya disemir tersendiri.


“Babi Mutan! Ini ceritanya mau palak semua duit saku sekolah gue?! Cih, definisi saudaranya Arkie sama Aditama,” geram Reyhan.


Lelaki tersebut kini sedang mencari amannya untuk melarikan diri dari dua pemuda yang seperti ingin menerkam jiwanya. Kedua telapak tangan Reyhan langsung menarik gas motornya, tetapi sayangnya kendaraan dirinya tak bisa ia gunakan dikarenakan salah satu dari dua pemuda berandalan itu, menahan ujung bagian belakang motor miliknya untuk agar Reyhan tidak bisa kabur kemana-mana lagi.


“Heh! Lepasin motor gue, gak?!” sarkas Reyhan dengan kepala menoleh ke belakang.


“Enteng bener mulut lo suruh gue lepasin, nih motor? Lo pengen kabur kemana, hah? Serahin semua uang lo dan habis itu elo boleh pergi dari sini.”


Rahang Reyhan mulai mengeras dengan kedua telapak tangan mengepal karena ingin rasanya menjotos wajah dari pemuda yang telah menahan motornya. Sementara rekannya nang tadi menembakkan peluru pistol ke atas langit, berjalan menghampiri lelaki remaja SMA tersebut dengan tangan kiri menggenggam pistolnya.


“Lo harus cepet serahin semua uang yang lo punya. Atau ... hidup lo berakhir di tempat ini. Pilih mana?” Reyhan mendengus dengan menatap tajam pemuda berambut semir hijau itu.


“Banyak bacot lo, Bangsat!”


Setelah meraung pada pemuda yang lebih dari satu kali mengintimidasi hati serta nyalinya, Reyhan lekas melepaskan pengait helmnya lalu mengambil helm itu dari kepalanya. Setelah helm miliknya telah berada di kedua tangannya, Reyhan dengan tanpa rasa gelabah langsung melemparkan kencang benda bulat tersebut hingga melayang ke wajah sangar dari pemuda yang telah memarani dirinya.


BUG !!!


“UAKH!!”


“Lah?! Kena pukul! Bos, gak apa-apa?!” kejut koleganya dengan mata terbelalak lebar.


“Hahahaha! Rasain lo, Sialan! Mangkanya, jangan banyak mulut. Minimal tahu kondisi kalau gak mau kena ampasnya!”


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Kota Bogor - RS Medistra Kusuma


Wajah sepasang suami-istri yang memiliki paras sempurna itu, terlihat lemas tak berdaya dengan menatap kepergian sang dokter pria serta beberapa perawat yang telah melangkah meninggalkan mereka berdua. Hal itu disebabkan karena beberapa menit yang lalu, lelaki tampan pemilik indera keenam kembali kehilangan detak jantungnya.


Sebenarnya sudah terbiasa, dikarenakan perihal itu telah terjadi secara berulang-ulang kali. Tetapi tentu saja kedua orangtuanya merasa amat resah bila hal tersebut terjadi.


Kini mereka berdua yang masih memakai baju hijau penjenguk pasien nang dirawat intensif, melangkah masuk ke dalam ruang ICU untuk menghampiri anak semata wayang serta tersayangnya. Begitu telah masuk balik ke ruangan dingin itu, sang ibu langsung berhamburan memeluk raga Angga yang terbaring lemah di sana.


“Huhu, Angga! Kamu jangan kembali seperti tadi, Nak! Mama takut sekali, hiks! Mama gak mau henti jantungmu mendatangkan duka, huhuhu!”


“Kamu telah terbaring Koma hingga tiga bulan ini. Tolonglah bangun, Sayang!” Setelah mengutarakan ujaran itu, Andrana mengguncang tubuh putranya.


“Kamu sedang bermimpi apa sih, Angga?! Kenapa sampai sejauh ini kamu belum kunjung membuka mata? Apakah Mama harus mendatangi rohmu di alam mimpi dan menggandeng tanganmu untuk mengajak dirimu pulang? Iya, Nak?!”


Agra yang ada di belakangnya Andrana, menggelengkan kepala karena semua itu akan terasa mustahil bila sang istri melakukannya untuk demi kebaikannya Angga. Kemudian pria paruh baya pemilik rambut hitam tersebut, mendekati Andrana dan merengkuh tubuhnya dengan lembut.


“Ma, sudah. Biarkan Angga istirahat dulu di sini. Tolong jangan tangisi anak kita seperti ini,” ucap lirih suaminya Andrana walau air matanya terus mengalir.


Andrana yang menangis tergugu, menoleh ke arah Agra dengan tatapan tajamnya. “Masalahnya Angga sudah terlalu lama beristirahat tidur di sini! Angga harus bangun, Ayah! Dan alasan kenapa Mama menangisi anak kita, karena Mama tidak ingin kehilangan sosok buah hati kita ini setelah Mama mendengar kabar buruk dokter Ello, bahwa Angga mengalami komplikasi otak!”


“Ayah pasti masih ingat, kan?! Tidak mungkin kabar itu langsung membuat Ayah lupa, terlebih itu tentang keadaan anak kita berdua sendiri!”


Perkataan tegas dengan gejolak amarah hati itu, membuat Agra hanya mampu terdiam saja tanpa bisa mengeluarkan suara untuk menjawab istrinya, sementara Andrana kembali menangis dengan menenggelamkan wajah sembabnya di dada Angga yang mana dari jantungnya berdetak sangat lamban.


Agra menekan seluruh giginya yang ada di dalam mulut dengan posisi kedua mata saling beliau pejamkan secara kuat. Rahangnya terlihat mengeras, rasa pedih itu dicampur rasa luapan emosi. Bagaimana jika rasa tersebut diaduk hingga menyatu? Sudah tentu mesti kalbunya sang ayah Angga akan berubah menjadi tidak karuan.


Sekarang Agra menundukkan kepalanya hingga muka tampannya terbenam di punggung milik Andrana, bahkan suara isakan itu telah terdengar dari sumbernya pria paruh baya tersebut. Saling berderai air mata dengan diisi suara mesin monitor yang ada di ruangan ICU-nya Angga.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Bibir Reyhan nyengir dengan hati berkecamuk hati rasa getir dalam posisi kedua kakinya berjalan mundur untuk menghindari orang-orang itu yang maju mendekatinya bersama muka sangar serta ekspresi jengkelnya. Saking paniknya, Reyhan sampai tak sadar kalau tubuhnya terbentur pohon besar yang ada di belakangnya.

__ADS_1


“Hahaha! Mau kemana lo, hah? Anak SMA yang kayak lo gini gak ada artinya bagi gue!” ungkap salah satu pemuda itu.


“Kalau gue gak ada artinya bagi lo, ngapain minta uang ke gue?! Mending sono, dah! Ngemis di jalan lalu lintas. Barangkali langsung dikasih sama pengendara di sana!”


“Brengsek!!” Saat menarik pelatuk dari senjata pistol yang di genggamannya untuk menyerang Reyhan secara fisik, pemuda berambut semir hijau itu terkejut karena pelurunya tak keluar.


“Kok ... gak bisa?!” pekiknya.


“Kenapa sama pistolnya, Bos?! Rusak?!” kaget anak buahnya yang berdiri di sampingnya.


“Eh? Kenapa? Habis, ya pelurunya? Kasian, haha! Jadi preman kok malah ujungnya jadi dagelan,” ejek Reyhan.


“His!” Pemuda yang gagal menembak Reyhan dengan senjata membahayakan itu, segera membanting pistolnya kasar lalu tangannya merogoh saku celana untuk mengeluarkan pisau dan ia lemparkan ke arah lelaki remaja SMA tersebut.


Reyhan dengan gesit, lekas jongkok untuk mengelak dari senjata tajam itu yang hampir menghujam dahi kepalanya. “Ups! Gak kena.”


Pemuda yang memiliki rambut semir cokelat pirang itu, menghentakkan kakinya. “Lah! Gimana sih, Bos?! Masa gitu aja pake acara meleset segala?!”


“Heh! Daripada lo ngomelin ketua, bantuin gue! Dia emang harus dikasih pelajaran!” kesalnya pada anak buahnya, sementara Reyhan memandang mereka dengan tatapan santai walau hatinya tetap waspada.


Reyhan membangkitkan tubuhnya dari posisi jongkok lalu mencabut paksa pisau yang telah menancap di pohon dengan kuat. Usai melepaskannya pakai tenaga yang ia punya, lelaki itu menyempatkan diri untuk menengok para orang berandalan yang ada di jarak dekatnya.


“Woi! Itu pisau gue! Cepetan balikin!” suruh pemuda itu dengan membentangkan tangannya agar Reyhan segera memberikan pisau tajam tersebut.


Bukannya melangkah untuk menyerahkan benda keramat itu, Reyhan justru menatap pisau yang ia genggam seraya menaikkan satu alis tebalnya. “Balikin ke elo? Hmmm ... gimana, ya? Enggak, deh! Buang aja.”


Yang benar saja, Reyhan melonggarkan genggamannya dari gagang pisau untuk menjatuhkannya ke jurang yang sedalam 30 meter. Mereka nang melihat aksinya Reyhan, membuka mulut dengan mata melotot tajam sementara pisau tersebut telah jatuh di dasar jurang.


“Bajingan, lo! Main-main sama gue?! Lo belum pernah ngerasain sekarat, ya?! Argh!”


“Ngerasain sekarat? Pernah, sih. Malahan berkali-kali, itupun gue mau kepleset ke Akhirat. Napa emang?” jawab Reyhan dengan wajah tanpa raut ekspresi.


“Gila, malah nyaut! Kita preman terhebat di kota Jakarta, dan gak ada satupun yang bisa membangkang instruksi dari kami! Serang saja, Bos! Habisin nyawanya sekalian!”


“Cieelah! Sok ngajarin, lagi! Lo siapa berani ngatur-ngatur hidup gue dan bos gue, hah?!” bentak dirinya yang matanya semakin melotot hingga bola matanya ingin sampai menyembul dari rongganya.


“Ya, lo siapa berani menghalangi jalan sama palak-palak uang gue, hah?! Jangan kalian pikir kalau gue bakal mau menuruti permintaan lo pada! Dan ... gue? Takut sama preman? Won't,” cibir Reyhan lalu mengangkat jari jempolnya dengan ia posisikan menggantung ke bawah.


“Hahaha. Dia meremehkan, ya rupanya?” ungkap kompak kedua pemuda berandalan itu dengan saling melemparkan pandangan.


Napas Reyhan seketika tercekat dengan pikiran sempit karena tidak tahu harus berbuat apa untuk melarikan diri dari kedua preman maksiat itu, apalagi mereka sekarang kembali berjalan menghampirinya bersama tampang sinisnya.


‘Mampus, gue hari ini! Mana mereka maju ke sini, lagi! Gue harus ngapain, coba?! Ya kali masa gue terjun ke jurang? Definisi bunuh diri, dong. Anjing, sumpah! Arseno kemana, sih?! Katanya mau cegah gue dari marabahaya? Gak tahunya malah ditinggalin sendiri di tempat angker ini. Auto my life is over.’


Di sisi lain, salah satu makhluk gaib yang tak bukan adalah Arseno Keindre, tengah tersenyum iblis dengan mata menatap Reyhan yang sedang dikepung untuk dihajar habis-habisan oleh mereka. Walau Reyhan berusaha untuk melawan, tetapi tenaganya terlalu tipis dibanding dua orang yang telah mencegatnya.


Arseno kini berubah tersenyum menyeringai dibawah pohon besar nan tinggi bersama raut muka hancurnya dan sekujur jiwanya yang terdapat banyak sekali bercak-bercak darah serta lumuran setengah. Lelaki hantu itu setelah menyaksikan tontonan menegangkan tersebut, lantas langsung mengangkat tangan kirinya ke udara untuk mencabut salah satu batang pohon yang ukurannya terbilang lumayan besar. Tentu saja arwah tersebut yang telah menjadi negatif melepaskan dahan pohon menggunakan mantra sihir hitamnya.


“Enyahlah!”


Reyhan yang tak memiliki daya tenaga lagi untuk menyerang, hanya bisa melindungi wajahnya sebatas pakai lengan tangannya saat kaki dari salah satu preman itu hendak menghentakkan telapak kakinya di wajah tampannya yang babak belur.


BUAGH !!!


Tunggu! Sepertinya tidak terjadi apa-apa, malahan terdengar suara hantaman pukulan di sekitarnya. Reyhan mencoba membuka matanya perlahan serta menurunkan tangannya dari jangkauan mukanya.


Mata lelaki Friendly itu mencuat saat raga dari sang pemuda semir rambut hijau, tergelimpang miris di atas aspal dengan tubuh terlungkup bahkan ada sedikit suara rintihan dari mulutnya.


“Bos! Siapa yang ngelakuin ini ke- S-SETAAAAAN!!!” teriak kemudian rekannya nang memiliki rambut warna cokelat pirang hasil dari semirannya.


Reyhan beralih menolehkan kepalanya untuk menelisik sosok yang disebut 'Setan' oleh preman satu itu. Meneguk salivanya dengan susah payah saat matanya terbentur pada Arseno yang telah hadir bersama kondisi rupa hancurnya serta berdarah. Auranya yang positif itu juga berbalik seperti dahulu, negatif.

__ADS_1


Namun karena badannya terlalu lemas usai dibuat oleh mereka berdua, Reyhan hanya bisa terbaring di tanah pinggir jurang. Sementara Arseno dengan wajah murkanya, melangkah laun untuk mendekati dua preman tersebut yang telah melukai fisik teman manusianya.


“Jika kalian ingin menghabisi nyawa temanku, lewati aku terlebih dahulu! Aku sedang ingin tahu seberapa kuatnya mental kalian menghadapiku.”


Pemuda yang memiliki rambut cokelat pirang itu termangu saat membaca name tag di samping jas almamater SMA milik Arseno. “B-bos! Namanya Arseno Keindre, lho! Bukannya anak itu dulu merupakan korban tewas yang mati secara misterius di dasar jurang tempat ini ...?!”


Arseno tertawa kencang dengan suara amat menyeramkan, kedua bola matanya yang saling bergelantungan diluar rongganya membuat mereka berdua yang telah membuat Reyhan tak berdaya, bergidik ngeri. Waktu akan kabur dari sosok hancur dari arwah negatif itu, Arseno sudah lebih dulu memakai kuasa sihir hitamnya untuk mengambangkan raga dua orang berandalan tukang pemalak uang tersebut ke atas udara.


“Hahahaha! Iya, aku adalah Arseno Keindre yang dulu mati karena dibunuh oleh dua orang psikopat itu. Kenapa? Apakah kalian juga ingin mati seperti diriku? Jika mau, aku akan dengan senang hati melakukannya detik ini juga.”


“Bos ... mukanya serem banget, takut!” ujarnya dengan nada bergetar, tak hanya nada saja tetapi pula tubuhnya.


“Jangan! Tolong jangan bunuh kami berdua, kami masih ingin menikmati kehidupan di dunia!” mohon pemuda yang berambut hijau itu.


Arseno memiringkan kepalanya dengan tersenyum miring. “Sanggup berjanji bila tidak lagi merampas uang dan mengintimidasi hati orang yang lewat ke sini? Jika kalian tidak mampu, tamatlah jiwa di raga kalian semua!”


Mata mereka membulat dengan detak jantung berdegup kencang bak usai lari maraton walau menganggukkan kepala untuk berjanji pada Arseno yang telah sengaja mengancam. Karena sudah melihat mereka yang sungguh-sungguh mengeluarkan sumpah janjinya, Arseno menurunkan tangannya dari udara ke bawah.


“Kalau begitu, pergilah kalian dari sini!”


Dengan terburu-buru, mereka lari cepat meninggalkan jalan pintas sepi tersebut menggunakan sebuah satu motor Sport yang terparkir di tepi jalan aspal. Mata Arseno menatap kepergiannya kedua preman itu yang ia gagalkan untuk menghabiskan nyawa Reyhan terutama uangnya sekalipun.


Setelah rasa amarah itu padam, wujud mengerikan dari sosok Arseno kembali menjadi seperti semula yang mana auranya berubah positif secara singkat termasuk rupa wajahnya. Lelaki hantu tersebut langsung berpaling dari kepergian mereka berdua ke Reyhan yang nampak tengah terbaring dengan juga kedua mata terpejam.


“Rey!” Arseno berlari ke teman manusianya yang ada di pinggir jurang, hatinya begitu resah melihat wajah lemas serta lebam dari Reyhan.


Arseno beringsut usai menjatuhkan kedua lututnya di atas tanah yang permukaannya kasar, menyentuh bahu manusia tersebut. “Hei! Kamu masih bisa mendengar suaraku?!”


“Ngh ... jangan teriak, pengang telinga gue.”


“Reyhan?! Kamu baik-baik saja?! Huh, Syukurlah ...” lega Arseno saat mendapati teman manusianya membuka matanya usai mengambil protes untuk dirinya yang dari nadanya benar panik.


“Emangnya lo kira gue udah mati? Lemah banget,” sahut Reyhan yang masih terlentang di atas tanah.


“Aku kira kamu sedang proses menuju menjadi arwah sepertiku. Maaf, ayo aku bantu.” Arseno menarik tangan kanannya Reyhan untuk membantunya supaya sanggup bangkit.


“Gila kali, lo! Gue masih manusia seutuhnya, Anjir! Sama gue pikir, elo ngasih jebakan maut lagi buat gue. Habisnya ngilang gitu aja.”


“Mana mungkin aku memberikan jebakan maut untukmu? Aku temanmu, mustahil jika aku melakukan sebuah kelicikan dibalik selimut. Tadi aku menghilang darimu karena sedang melancarkan suatu peluang emas yang paling berharga. Aku sengaja pergi sebab ingin mengumpulkan rasa amarahku sebelum auraku menjadi negatif.”


“Lo sengaja melakukan itu biar elo bisa membalas perbuatan dua preman yang tadi?” tanya Reyhan memastikan.


“Ya! Untung saja aku belum terlambat untuk menyelamatkan jiwamu dari mereka, meski tadi sempat jadi pahlawan kesiangan. Maaf, ya? Kamu malah menjadi terkena babak belur seperti ini.”


“It's okay, no problem. Ini belum seberapa, kok. Meski agak nyeri dikit, sih di bagian wajah dan kaki sebelah kiri gue. Tetapi dari semua itu, gue makasih banget sama lo, Sen. Padahal kurang separuh penyerangan lagi, diri gue bakal mati di tangan mereka.”


“Tidak akan aku biarkan jika itu terjadi. Masa kamu mati muda? Kasihan dengan keluarga, teman, dan juga sahabatmu. Memang ada manfaatnya menjadi hantu, namun lebih berarti manusia daripada makhluk gaib. Tapi, apakah kamu ingin pergi ke dokter?”


Reyhan mengernyitkan dahinya. “Buat apaan segala gue pergi ke dokter? Musibah kecil saja ini, tenang. Toh diobatin di rumah juga bakal sembuh.”


“Baiklah jika itu maumu. Ingin langsung pulang?” tanya Arseno dengan wajah cerahnya.


Reyhan melenguh. “Lima menit lagi, dah! Puyeng banget sekarang kepala gue gara-gara ditendang sama itu preman dagelan!”


Arseno nyengir dengan sembari mengangguk kepala pelan. “Istirahatlah dulu, aku ingin mengecek keadaan motormu sebentar.”


Lelaki arwah itu kemudian beranjak berdiri lalu berbalik badan untuk mengecek kondisi motor milik Reyhan yang berada di tengah jalan. Usai meneliti dengan bersama mata seriusnya, Arseno dari jarak rada jauh mengacungkan jari jempolnya pada Reyhan yang sedang sibuk memijat kakinya.


“Aman terkendali!”


Reyhan hanya menganggukkan kepala dengan menerbitkan senyumannya kepada Arseno. Tak mengira, rupanya teman arwahnya memang sungguh ingin mencegah dari sebuah marabahaya. Dan dugaan Reyhan jika Arseno menjebaknya, itu sangat salah.

__ADS_1


Ya, kendatipun ia mengalami babak belur dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh, tetapi ia begitu amat bersyukur karena jiwanya masih terselamatkan berkat ketangkasannya dari Arseno Keindre.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2