Indigo

Indigo
Chapter 112 | Prohibited to Meet


__ADS_3

Reyhan mulai bangkit dari kursi seraya mengambil tas punggungnya, pemuda itu mendekati Angga yang belum ada tanda-tanda untuk bangun dari pingsannya. Wajahnya masih begitu pucat, membuat Reyhan yang melihatnya rada getir.


“Ngga, ini udah sore banget. Kalau gue tinggal lo pulang, nggak masalah kan, ya?” tanya Reyhan pada sahabatnya yang matanya masih terpejam tenang.


Reyhan menggigit dalam bibirnya. “Besok kalau ada waktu senggang, gue bakal dateng lagi ke sini. Tapi, elo cepet bangun ye, Bro? Gue sedih bener ngeliat lo yang begini. Udah ngerasa dejavu pas lo lagi Koma di RS Kusuma kota Bogor.”


Reyhan sebelum pergi meninggalkan Angga sekaligus kamar ruang rawatnya, menepuk dua kali bahu lemasnya, kemudian balik badan ke belakang dan melangkah keluar dari ruangan. Di situ, Reyhan mengusap-usap wajahnya gusar dengan rambut yang acak-acakan berantakan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Jova menurunkan ponselnya ke dua paha kakinya dengan memanyunkan bibirnya. Meskipun gadis menawan itu suka kesal dengan sikapnya Angga, namun di sisi hatinya ia begitu peduli pada lelaki sahabat Introvert-nya yang tengah tumbang terbaring lemah di RS Wijaya bersama bantuan alat oksigen untuk meningkatkan kadar oksigennya yang rendah di dalam tubuhnya. Jova mengira, Angga baik-baik saja di sana, tetapi setelah mendengar bahwa Angga di diagnosa dua antara seperti dikatakan oleh Reyhan, perempuan itu sangat sedih mengetahui kondisi keadaan sahabatnya.


Sampai tiba-tiba Jova mendengus sebal saat mendengar suara tembakan pistol yang volumenya sangat besar dari game ponsel adik lelaki kandungnya yang masih SMP kelas VIII. Jova memberikan tatapan tajamnya pada Nova yang adiknya sendiri tidak menggagas kakak perempuannya yang duduk di sebelahnya.


“Kecilin napa, volumenya?! Berisik, tau!” kesal Jova dengan muka tampang murka.


Nova melirik Jova dengan raut wajah nyeleneh. “Suruh siapa sibuk dengerin suara gamenya Nova?! Pasang tuh alat pendengar musik yang Kakak bawa, gitu aja ribet! Udah marah-marah, kayak ...”


“Kayak apa?! Kayak apa?! Cepetan ngomong!” sebal Jova seraya menarik telinga kiri adiknya.


“Aduh-aduh! Ampun, Kak! Ampun! Kan Nova nggak ngatain Kakak apa-apa, lhoooo!”


Echa yang duduk tenang di depan anak perempuan pertamanya, begitu tersentak kaget mendengar teriakan anak terakhirnya yang dijewer oleh Jova. Echa pun memutar badannya ke belakang. “Eh, Ya Allah! Jova lepasin telinga adiknya! Kalian itu juga kenapa masih diperjalanan malah ribut-ribut di mobil?! Papa lagi konsen nyetir, loh!”


“Kak Jova dulu, Ma yang mulai! Nova dari tadi cuman asyik main game, tapi Kak Jova yang ngajak perang dunia! Mama harusnya jangan nyalahin Nova juga, Kak Jova aja yang disalahin!”


“Heh enak aja! Kamu juga salah, lah! Salah sendiri itu game volumenya kayak salon speaker musik! Udah tau Kakak lagi Stress malah nambahin Stress-nya Kakak!” Jova tak mau kalah.


Echa menggelengkan kepalanya dengan melemparkan senyuman hambar-nya kepada kedua anaknya yang beda usia. “Anaknya Mama yang cantik, dan juga yang ganteng ... kalian ini kan saudara kandung, harusnya saling melengkapi, bukan bertengkar atau berdebat kayak gini. Kalian aja disuruh rukun sama Mama papa susahnya minta ampun.”


“Tuh, dengerin yang mama bilangin buat kalian. Papa sampai pusing terus dengar kalian ribut setiap hari! Untung saja Papa bukan orang jahat, kalau iya .. udah Papa suruh Jova sama Nova turun dari mobil, tanpa uang.”


“Jalan kaki dong, Pa?” tanya Nova anak lelakinya.


“Yaiyalah! Masa terbang?! Sudah, jangan ada keributan lagi! Kalian nggak kasian sama Papa yang lagi konsentrasi mengendarai mobil?”


“Hehehe, kasihan ...” jawab serempak pelan kedua anaknya yang nyengir pada pria paruh baya tersebut.


Agatha menghela napasnya dengan senyum tipis. “Oh Iya, Va. Tadi pas kamu nelpon Reyhan gimana? Angga di rumah sakit baik-baik aja, kan?”


Jova menghembuskan napasnya dengan menyadarkan punggungnya di sandaran kursi secara lesu. “Bakal baik-baik aja kok, Pa. Cuman saja, si Angga katanya si Reyhan belum sadar, gara-gara kekurangan oksigen. Kadar oksigen dalam tubuhnya juga rendah banget.”


“Astagfirullah! Berarti Angga mengalami Hipoksia, ya?!” kejut Echa bersamaan kejutnya Agatha tanpa mengeluarkan suara.


Jova menganggukkan kepalanya dengan menatap sang ibu. “Hm'em. Tapi Jova nggak tau juga kenapa Angga bisa kena begituan, Ma, Pa. Setau Jova, Angga tuh nggak memiliki suatu penyakit atau penyebab yang bikin sahabat Jova sakit seperti itu.”


“Tapi kalau Papa nggak salah ingat, Angga sahabatmu yang pendiam itu ... punya sakit cedera kepala kan, ya? Gara-gara peristiwa beberapa bulan lalu yang buat sahabatmu Koma selama dua bulan?”


Anak gadisnya itu manggut-manggut cepat dengan beralih menatap Agatha yang hadapannya tetap fokus di depan, sementara Echa menunjukkan wajah sedihnya mengenai sahabat anak pertamanya tersebut. Sedangkan anak terakhirnya ialah Nova melongo bersama mengerutkan jidatnya.


“Lah! Bang Angga masuk rumah sakit juga, Kak?! Yaelah, dulu bang Reyhan, eh sekarang gantian si bang Angga! Jangan-jangan abis itu gantian Kak Jova lagi, yang masuk rumah sakit!”


“Somplak banget itu mulut! Ucapan itu adalah Doa, lho! Kalau ngomong tuh sebaiknya diteliti dulu, biar gak asal nyeplos!”


Nova memanyunkan bibirnya dengan kedua bahu saling merosot ke bawah. “Maaf kali, Kak. Nova kan kaget, bang Angga masuk rumah sakit lagi. Mana kondisinya kek memprihatinkan gitu, belum siuman, pula.”


“Sudah. Lebih baik kita Doakan Angga biar cepat lekas sembuh, ya? Mama juga ingin sahabatmu sehat kembali seperti dulu.”


“Aamiin!” kompak serempak kedua anaknya beserta sang suaminya.


Jova kemudian untuk menghilangkan rasa Stress-nya bukan mendengarkan sebuah musik, melainkan memandang kota melalui kaca jendela mobil yang ditutup. Gadis berambut coklat tanpa memiliki poni di keningnya itu sibuk diam menikmati para kendaraan berlalu lalang, namun beberapa menit kemudian saat mobil yang ia tumpangi bersama keluarganya berhenti, begitupun juga dengan para kendaraan lainnya di luar karena harus mematuhi peraturan lampu lalu lintas yang kini berwarna merah, Jova nampak familiar pada salah satu pengendara motor yang tepat berhenti di sampingnya sembari menanti tibanya lampu hijau.


“Kok kayak kenal? Postur tubuh idealnya itu kayak ... eh! Sahabat gue!”


Jova dengan segera menekan tombol alat pembuka kaca mobilnya bersama senyuman sumringah bahagia. Setelah telah menurunkan kaca tersebut sepenuhnya, Jova mencolek-colek pundak kanan orang itu yang kepalanya terbungkus oleh helmnya.


“Kunyuk Sutres Reyhan!”


Pemuda itu sontak kaget menoleh sambil membuka kaca helmnya. “Lah? Nona Sableng?! Wah gak sangka kita bertemu di sini, hahahaha!”


Nova yang balik berkutat dengan game perangnya di HP-nya, menoleh ke arah kakaknya yang tengah mengobrol dengan satu lelaki yang suara nadanya Tenor. “Lho! Bang Reyhan?!”


“Eh ada muka gula aren juga, toh?! Apa kabar, Dek!!” teriak Reyhan ceria tak memedulikan para pengendara bahkan pejalan kaki yang ada di pinggir jalan melihat ke arah Reyhan.


“Baik dong, Bang! Abang, abis pulang dari rumah sakit, ya?” tanya Nova mendekati Jova agar bisa dekat juga dengan Reyhan yang berada di atas motor Vario silver-nya.

__ADS_1


“Ho'oh, nemenin bang Angga. Kok kamu tau?” Kini bergiliran Reyhan yang bertanya dengan kedua tangan ia letakkan di atas speedometer motornya.


“Denger suara Bang Reyhan tadi di dalem teleponnya kak Jova, hehehehe!” jawab Nova.


“Mantap-mantap!” Reyhan beralih menatap kedua orangtuanya Jova dan Nova yang juga tengah menatap lelaki ramah tersebut dengan pancaran senyuman menawannya, tak ayal pemuda itu tersenyum lebar pada Echa serta Agatha. “Sore Tante Echa yang cantik bak Bidadari, sore Om Agatha yang tampan bak pangeran di Surga! Om sama Tante gimana kabarnya? Sehat?!”


“Alhamdulillah, Om sama Tante dalem keadaan sehat-sehat saja kok, Rey. Kamu juga apa kabar? Lama Om nggak ketemu kamu.”


“Aduh, dikangenin nih. Hehehe, Reyhan baik-baik saja kok, Om. Eh iya ... Tante Echa makin hari makin cantik, yah,” puji Reyhan pada Echa.


“Kamu ini bisa aja Nak, hahaha! Oh iya, kamu habis ini mau pulang ke rumah, ya?” tanya Echa dijawab Reyhan dengan anggukan kepala antusias.


“Iya dong, Tante cantiknya Reyhan. Masa mau pulang ke bulan, kan gak mungkin. Emangnya Reyhan yang tampan kayak selebriti ini, makhluk alien?”


Echa, Agatha, dan Nova tertawa kompak karena merasa hatinya terhibur karena ucapannya Reyhan yang terdengar memakai lelucon bagi mereka bertiga, sementara Jova memajukan bibir bawahnya dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali seraya memejamkan matanya.


Pekanya Reyhan, pemuda itu melihat selintas bahwa lampu merah telah berubah menjadi warna hijau. “Eh udah lampu hijau, nih. Kalau gitu Rey-”


TIN !


Reyhan dikagetkan oleh suara klakson mobil truk yang ada di tepat belakangnya. Bahkan supir truk yang berumur 58 tahun tersebut, mencondongkan kepalanya ke luar kaca jendela mobil usai klakson mobil besarnya. “Woi! Kamu punya mata atau tidak sih?! Itu sudah lampu hijau, saya mau jalan!!”


Reyhan menoleh kesal pada supir truk tersebut dengan mendengus. “SABAR DONG, PAK! INI JUGA MAU JALAN, KOK!!”


Reyhan menghembuskan napasnya kasar. “Lagian Bapak sudah tua gitu masih aja baperan kayak anak ABG!”


Supir truk itu yang hatinya kesal karena ungkapan berani dari anak remaja lelaki SMA itu, kembali meng-klakson mobil truknya dengan tak santai, membuat tubuh Reyhan sedikit terlompat kaget. “KURANG AJAR KAMU, YA! BERANI BANGET NGOMONG SEPERTI ITU SAMA ORANG TUA! EMANG BENER, ANAK MUDA JAMAN SEKARANG SUKA GAK SOPAN DAN PEMBAWA MAKSIAT!!!”


Reyhan menyentuh dadanya dengan dramatis, seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali sembari berdecak-decak. “Jangan teriak-teriak gitu dong, Pak. Nanti suaranya bisa sempal, lho. Noh tuh, lihat. Di atas kepalanya si Bapak udah muncul tanduk merah iblisnya, hahahahaha!!”


“BILANG APA KAMU BARUSAN??!! Anak siapa sih kamu ini?!”


“Anak orang lah, Pak. Masa anaknya singa laut?” sahut Reyhan sengaja memancing emosi sang supir truk.


“Segera jalan, atau ... SAYA TABRAK KAMU DENGAN TRUK??!!”


“W-waduh jangan, Pak! Saya masih terlalu muda untuk ditabrak sama mobil truk, masa depan saya juga masih panjang banget, Pak. Lagian toh kalau Bapak ambil tekad nabrak saya, Bapak yang dapet Dosa gede, hehehehe!!”


TIN !


“Iya Pak! Iya! Ganas banget sih, kayak kodomo- eh komodo?!”


Wajah sang supir truk itu yang ada di belakangnya Reyhan kini telah berwarna merah padam karena emosinya sudah dibuat menggelora oleh pemuda 17 tahun tersebut. Supir truk itu dengan menggertakkan giginya, menunjuk Reyhan bersama tangan jari telunjuknya. “Kamu dari tadi terus memancing emosi saya, ya! Benar-benar saya remuk-remuk kamu nanti!!!”


“Kabur-kabur! Ada monster yang ngamok!” Sempatnya itu, Reyhan menatap satu keluarga yang ada di dalam mobil sebelahnya Reyhan.


“Jova, Nova, Om Agatha, Tante Echa! Duluan, ya! Sayonara (Selamat tinggal) semuanyaaaa!!!”


Reyhan kemudian menutup kaca helmnya lalu menarik gas motornya supaya melaju di kecepatan maksimal untuk menghindari sang supir truk yang terlihat sangat marah padanya karena laku rese sikapnya. Sementara seperti macam Agatha, Echa, Nova, begitupun termasuk Jova yang gadis itu tengah menaikkan kaca jendela mobil lepau menutupnya, melongok pada sifat sinting Reyhan.


“Ya ampun ... supir truk malah diajak debat? Astaga Reyhan, Reyhan.” Echa menggeleng-gelengkan kepalanya pada watak sahabat dari anak perempuannya.


“Otaknya bang Reyhan emang beda dari yang lain, sumpah!” tutur Nova gegau.


Agatha yang sedari tadi masih melongo dan menatap kepergian laju Reyhan bersama kendaraan motor matic miliknya, menggelengkan kepalanya kuat dengan membungkamkan mulutnya, lantas segera kembali menginjak pedal rem mobil untuk menjalankannya menuju ke rumahnya sang mertua.


Jova berakhir menutup mulutnya sekaligus menepuk kencang keningnya karena merasa Reyhan salah minum obat hingga berbuat seperti tadi. Sangat unik tapi menjengkelkan, bukan?


“Tobat deh gue punya sahabat kayak dia.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Hari esok pagi yang tiba, Freya yang nampak telah sehat bugar kembali tengah berjalan menuruni undakan anak tangga perlahan dengan anggunnya, kemudian menghampiri kedua orangtuanya yang berada di ruang dapur. Gadis manis cantik itu menyapa lembut Rani dan Lucas yang sedang di kursi meja makan.


Setelah dibalas sapanya Freya, gadis lugu tersebut bersama senyuman cerianya menduduki kursi dan siap menikmati sarapan yang disuguhi banyaknya aneka macam masakan buatan dari sang ibu. Aromanya pun menggugah selera saat tercium di indera penciumannya Freya.


“Baunya enak banget ... masakannya Mama emang gak ada tandingnya, deh!” puji seru anak berparas wajah cantiknya seraya mengangkat sendoknya untuk melahap nasi gorengnya yang dicampur toping telur mata sapi di atasnya.


Rani tersenyum pada anak gadisnya yang kini menikmati nasi goreng hangat hasil buatannya. “Mama seneng banget kalau Freya suka sama masakannya Mama.”


“Pasti dong, Ma! Masakannya Mama tuh udah seperti masakan chef andalan yang tayang di TV-TV gitu! Enak pol, pokoknya!”


Freya baru sadar Lucas sang ayahnya kini sedang berwajah sedikit gundah. “Ayah? Kenapa kok mukanya sedih gitu? Ayah ada masalah? Ceritain aja, Yah.”


Lucas mendongakkan kepalanya untuk menatap anak semata wayangnya yang bernada lemah lembut. “Nak, kamu ternyata belum tahu, ya? Pasti Mama juga belum ngasih tahu soal tentang itu ke kamu.”

__ADS_1


Mata indah gadis cantik itu berkedip-kedip karena bingung apa yang Lucas maksud. “Belum ngasih tau soal tentang itu apa? Oh iya, Freya lupa nanya. Kemarin Freya di kamar balkon nunggu Angga pulang lho, tapi kok nggak pulang-pulang? Freya coba telpon Angga, juga nggak diangkat. Kira-kira Angga dimana, ya Ma, Yah? Nggak mungkin kan di sekolah ada kegiatan persami.”


Rani menggenggam lengan tangan kiri Freya. “Aduh, maafkan Mama ya, Nak. Mama lupa kemarin ngasih tau soal itu sama kamu ... Angga, masuk rumah sakit.”


“Angga masuk rumah sakit, Ma??!! Kok bisa?!” pekik Freya amat terkejut sampai tanpa sadar meneteskan air matanya.


“Epilepsi dan terkena Hipoksia, Sayang ...” timpal Lucas.


“A-apa itu Hipoksia- ah bodo banget! Freya mau ke sana sekarang!!” Freya segera beranjak dari kursinya tanpa menghabiskan sarapannya terlebih dahulu dan susunya yang ada di dalam gelas.


Namun di situ, Lucas mencegah anaknya yang terburu-buru untuk ke rumah sakit menjumpai Angga sahabat kecilnya. “Freya, kamu nggak bisa ke rumah sakit sekarang buat jenguk Angga! Kamu harus sekolah dulu, Nak!”


“Hiks! Terus Angga gimana?! Kok baru ngasih taunya hari ini sih, Ma?! Kalau Mama ngasih taunya dari kemarin, udah pastinya Freya langsung ke sana buat Angga!” rengek anaknya dengan tangisannya.


Rani berlari menghampiri Freya lalu mengusap air mata anaknya yang melumuri kedua pipi putih halusnya. “Iya Nak, maafin Mama! Lagipula waktu kemarin, kamu masih belum sehat. Gini aja, nanti kamu bisa ke sana kok pas pulang sekolah. Minta anterin sama Gerald. Oke?”


Mendengar nama Gerald, Lucas membuang mukanya dari istrinya. Lucas terlihat sangat tidak menyukai kekasih dari anak gadis semata wayangnya tersebut. Disebabkan oleh, Gerald selalu saja mengajak atau mengantarkan Freya pulang ke komplek, secara tak tepat waktu. Bahkan pernah sampai pulang malam karena Gerald.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


RS Wijaya - Pukul Jam 15.45


Setelah memeriksa detak jantung Angga menggunakan stetoskop yang selalu dokter Atmaja bawa dan menyorotkan kedua mata pasiennya dengan cahaya senter kecil medis beliau, dokter Atmaja kemudian melenggang pergi usai melakukan pemeriksaan pada Angga yang nampak kondisinya masih tetap sama.


Dokter Atmaja tersenyum pamit kepada para tiga orang yang menemani Angga seraya melangkah keluar membuka pintu kamar rawat. Usai pergi, Reyhan kembali mendekati sahabatnya yang masker oksigennya masih terpasang di wajahnya nang amat pucat tersebut. Pemuda humoris itu menatap nanar Angga dengan memegang lengan tangan kanan sahabatnya.


“Apa lo terlalu banyak kekurangan oksigen? Sampai dokter bilang kalau lo hampir mati karena penyebab itu? Bangun, napa? Satu hari gak sadar, lo udah buat gue khawatir tau gak?” celoteh Reyhan.


Farhan dan Jihan yang tengah duduk bersama di kursi sofa biru dongker, mulai beranjak berdiri lalu memarani anak lelaki semata wayang milik mereka berdua. Tatapan mereka juga sama-sama pilu melihat kondisi anak dari dua sahabatnya yang mana tengah sibuk di kota Semarang, ialah Agra serta Andrana.


“Nak, apa Mama perlu beri tahu kedua orangtuanya Angga soal Angga yang ada di sini sekaligus tentang keadaannya?” tanya Jihan lirih.


“Kayaknya jangan, Ma. Om Agra sama tante Andrana, kan lagi sibuk banget sama pekerjaannya di luar kota. Kalau dikasih tahu tentang kabar buruknya Angga, yang ada menganggu banget tugasnya mereka berdua. Lagian kata dokter, Angga bakal baik-baik saja.”


“Semoga setelah ini, Angga nggak terjadi apa-apa lagi. Miris banget Papa lihat kondisi sahabatmu ini.”


Reyhan manggut-manggut dengan mengamini ucapannya Farhan. Di sisi lain, pemuda tampan Indigo tersebut sama sekali belum ada tanda-tanda untuk kembali sadarkan diri, yang padahal ini sudah 1 hari ia pingsan. Mata yang terpejam itu nampak tenang serta damai bersama alat oksigen nang sebagai pembantu lepau meningkatkan kadar oksigennya dalam tubuh lemahnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Galaxy Admara - Luar Gerbang Sekolah


Gerald menghentikan motor Ninja-nya usai berada di tepat samping kekasihnya yang menunggu ia menjemputnya pulang. Freya yang menyadari pacarnya telah datang, langsung mendekatinya dengan tampang wajah cemas.


“Ayo naik-”


“Gerald! Anterin aku ke rumah sakit Wijaya, ya?! Angga lagi dirawat di sana! Aku juga mau jenguk dia!” pinta gadisnya.


Gerald berdecak. “Ini udah sore, Freya! Kamu harus pulang, lagian buat apaan sih kamu urusin cowok yang gak becus jadi sahabat terdalam-mu?! Gak usah deh kamu peduliin lagi cowok kayak gitu! Aku selama ini gak terima, lho pacarku ini diperlakukan cuek gitu sama cowok gak genah itu!”


Itu hanya alasannya Gerald saja, supaya Freya tak menjumpai Angga yang tumbang terbaring lemah di rumah sakit.


“Kok kamu bilang gitu sih sama Angga?! Mananya Angga gak peduli sama aku?! Sahabatku tuh ya bukan nggak peduli denganku! Tapi hanya menjauhi karena gak ingin menganggu hubungan antara kita berdua, Rald!”


Gerald berdecih sinis. “Halah! Itu cuman modus! Dia aja keliatan gak baik buat kamu, apalagi menjadi seorang sahabat yang ada untukmu! Udah lah, yok! Kita pulang saja! Ini udah sore, nanti kamu bisa dicariin mama ayahmu.”


“Gerald! Kamu ini kenapa, sih?! Kalau kamu ada masalah sama Angga, bilang!! Karena kamu ini seolah-olah kayak melarang aku buat menemui Angga! Dan satu, aku gak cuman memprioritaskan kamu saja, Angga juga sama aku prioritaskan!”


“Tolong dong, izinkan aku buat ketemu sama Angga. Angga juga penting bagiku! Aku khawatir dia kenapa-napa, apalagi dia sampai masuk rumah sakit!” pinta Freya memohon sekali lagi.


Hati Gerald semakin menjadi kacau, bahkan raut wajahnya begitu berantakan karena terus mendengar nama Angga dan Angga. “Oke! Kalau kamu maunya begitu, tapi aku punya dua pilihan buat kamu, dan kamu harus pilih salah satu saja.”


“Dua pilihan apa?” tanya Freya curiga.


“Menuruti laranganku dan hubungan kita tetap masih lanjut atau menemui sahabatmu, tetapi kita putus hubungan?! Pilih mana?”


DEG !


Freya menelan ludahnya karena ternyata pilihannya sangat membuat dirinya terkesiap bukan main. Tapi karena dasarnya gadis itu sangat polos dan mudah dibodohi, pada akhirnya ia memilih pilihan pertama. Karena untuk menemui Angga bisa di hari lain waktu.


“Oke ... aku pilih menuruti laranganmu dan hubungan kita tetap masih lanjut,” jawab Freya dengan hati tak rela.


Gerald tersenyum iblis bahagia saat pacarnya menundukkan kepalanya dengan kedua tangan ia posisikan di depan roknya. Sementara si Freya yang sebenarnya merindukan Angga, hanya pasrah pada larangan ketat yang diberikan oleh sang kekasih.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2