Indigo

Indigo
Chapter 171 | I'm Back


__ADS_3

Reyhan yang sudah berada di dalam mobilnya, mengetuk-ketuk jarinya di atas stir sembari memperhatikan Angga yang mematung di depan villa bersama pak Richard nang seperti sudah membisiki sesuatu di telinga sahabatnya.


Pada kemudian, Reyhan menekan tombol kotak kecil di bagian pintu kemudinya untuk membuka jendela kaca mobilnya. Lalu lelaki Friendly tersebut segera menyembulkan kepalanya dan setengah badannya dari dalam mobil.


“Wey, Ngga! Ngapain lo masih berdiri di situ sama pak Richard? Nggak mau pulang sama kami, nih?” panggil Reyhan dengan suara agak kencang.


Akibat suara teriakannya Reyhan, Angga tersadar dari lamunannya lalu mengerjapkan matanya. Sementara sahabatnya yang posisi kepala dan separuh badannya berada di luar kaca jendela mobil, tersenyum ramah pada pak Richard.


“Pulang ya, Pak! Terimakasih untuk semuanya yang telah beliau lakukan dengan jasa Bapak buat kami,” ucap Reyhan.


Pria penjaga bangunan villa Ghosmara itu, tersenyum lebar. “Iya, sama-sama. Kalian berhati-hatilah dijalan nanti, semoga kalian bisa kembali ke kota Jakarta dengan selamat.”


“Aamiin! Terimakasih banyak dan banget, Pak Richard!” respon Jova yang telah juga ikut menatap beliau dari luar jendela kaca mobil belakang.


Angga memejamkan matanya sejenak untuk menghembuskan napasnya lirih lalu membukanya kembali dan mulai menatap wajah pak Richard dengan tetap datar. “Ya, Pak. Terimakasih atas info yang Bapak berikan pada saya.”


Pak Richard mengangguk pelan dengan wajah gundah setengah cemas yang terlihat di rautnya. “Hati-hati, ya? Sekarang pergilah.”


Angga tersenyum tipis. “Baik, Pak. Kalau begitu saya dan lainnya pamit. Terimakasih untuk semuanya, saya akan mengingat kebaikan dari beliau yang telah menuangkannya kepada kami.”


Pak Richard menganggukkan kepalanya lagi lalu melepaskan telapak tangannya yang menggenggam lengan pergelangan tangan kiri Angga. Membiarkan anak muda lelaki Indigo itu pergi bersama mereka.


Di saat Angga membuka pintu mobil, Reyhan mencondongkan badannya untuk memanggil Kenzo yang sedang berdiri dan bersandar kaku di samping pintu kemudi mobil Pajero putihnya. “Zo! Lo kalau mau duluan, duluan saja nggak apa-apa! Entar kami bakal nyusul lo dari belakang!”


Kenzo menoleh ke arah Reyhan yang ada di dalam mobil kemudian mengacungkan jari jempolnya sebelum membuka pintu mobilnya dan menyalakan mesinnya untuk meninggalkan wilayah villa begitupun jalan hutan.


“Kami berangkat untuk pulang ya, Pak! Assalammualaikum!”


“Iya, Waalaikumsalam.”


Reyhan memberikan senyuman terakhir untuk pak Richard yang telah merespon salamnya sebelum dirinya memasukkan kepada dan badannya ke dalam mobil untuk melaju meninggalkan beliau yang masih setia berada di depan bangunan villa Ghosmara.


Setelah memundurkan mobil Xenia-nya dan membelokkan arah mobilnya ke arah kanan untuk keluar dari kawasan hutan kota Bandung, Reyhan lekas meng-klakson mobilnya pada pak Richard sebagai simbol pamitan. Beliau yang di sana paham, menganggukkan kepalanya mantap dengan senyuman yang terukir sambil melambaikan tangan kanannya di atas untuk para remaja nang semua auranya terlihat jelas positif.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di perjalanan untuk meninggalkan kota Bandung dan menuju ke kota Jakarta meski akan memakan banyak waktu karena jarak tibanya sangat jauh yaitu 150 kilometer perjalanan.


“Akhirnyaaaa! Setelah melewati masa beberapa tragedi yang bikin mau jantungan sama diluar nalar, kita bisa kembali ke kota Jakarta! Bahagia banget gue, asli! Pengen melepas kangen sama bokap dan nyokap yang menanti anak tercintanya di rumah!” riang Reyhan berteriak sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kemudi.


Semuanya tertawa kecuali Angga yang hanya diam seperti patung, pandangan matanya kosong di depan. Membuat Reyhan yang menatapnya, langsung menepuk kencang bahu kanannya.


Mata Angga langsung melotot dengan tubuh nyaris melompat tinggi karena ulah jahilnya Reyhan. Freya pun yang menyaksikannya, tak tinggal diam. Gadis itu langsung mencubit tangan Reyhan dengan mendesis disebabkan kesal.


“Kamu gak bisa menghargai kapasitas jantungnya Angga?! Untung orangnya gak langsung kena serangan jantung.”


“Pft, hahahaha! Sukurin, dimarahin ama pacarnya Angga! Emang enak?!” seru Jova.


“Iya-iya, maap! Habisnya itu pacar tercinta kamu malah ngelamun gak jelas. Nggak tahu apa yang lagi ini anak pikirin. Mantan, kali.”


“Hah? Masa mikirin mantan?” tanggap Freya tidak percaya pada perkataan Reyhan.


Angga langsung menolehkan kepalanya dengan wajah ekspresi jengah. “Suka sembarangan kalau ngomong, gue gak punya yang namanya mantan. Punya pacar saja baru ini, lo pikir gue apaan?”


“Tuh, dengerin!” semprot Freya.


“Hahahaha! Iye-iye. Terus lo kenapa? Itu muka lesu banget kayak gak pernah dikasih uang saku sama ortu. Kalau ada masalah, jabarkan saja dengan kami. Bakal Ikhlas nolongin, kok.”


Angga mengembalikan posisinya dan menjadi kembali menghadap depan dengan melegakan tenggorokannya yang kering. “Bukan apa-apa. Dan gue nggak kenapa-napa, sudah mending lo fokus saja nyetirnya biar cepat sampai ke kota asal kita.”

__ADS_1


Reyhan mengerutkan keningnya. Melihat raut wajah pucat Angga, sahabatnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu hal darinya. Tetapi karena tidak ingin memusingkan, Reyhan menghela napasnya lalu memilih fokus menyetir agar sampai pada tujuan.


50 menit kemudian dengan masih melakukan perjalanan menuju ke kota Jakarta, Angga menutup matanya saat ia merasakan kepalanya kembali di serang dengan rasa sakit hebatnya. Ia memang bisa menahannya kali ini, tetapi cairan merah pekatnya meluncur merembes keluar dari salah satu lubang hidungnya.


“Angga, diam saj- Angga?! Kok hidungmu keluar darahnya lagi?!” Freya terkejut saat kepalanya mencondong ke depan untuk menatap wajah kekasihnya.


“Rey! Ambil tisu!!!” pekik lengking Freya memerintah Reyhan segera.


“Eh, iya-iya! Sebentar, aku ambilkan dulu!!” panik Reyhan dengan melepaskan satu tangannya dari stir untuk mencabut selembar tisu kering yang ada di atas wadah berbentuk kotak.


“Nih-nih, Ngga!! Lo bersihkan saja dulu darahnya! Duh, bikin takut saja, sih!” kalut Reyhan seraya menyodorkan tisu pada sahabatnya.


“Thanks ...” Angga dengan suara nada yang lemah, menerima secarik tisu itu dari tangan Reyhan lalu membersihkan darah hidungnya dengan lamban hingga tak ada bekasnya.


Tangan Angga yang menggenggam tisu yang telah bernoda darahnya, terkulai lemas ke pahanya dengan kepalanya sekaligus sampai membentur pelan di pada jendela kaca mobil. Matanya nampak terpejam dengan napas yang agak terengah-engah.


“Ngga? Apa lebih baik kita ke rumah sakit? Di depan ada rumah sakit. Kalau mau, gue bakal belok ke kiri buat ke sana. Gimana?” tanya Reyhan dengan nada khawatir.


Angga menggeleng lemah. “Nggak usah. Gue nggak kenapa-napa, bagi gue ini sudah biasa ... bablas saja gak perlu mampir ke rumah sakit segala.”


Freya mengangkat pantatnya untuk mengambil tisu yang Angga genggam di telapak tangannya dengan kondisi kedua mata mengembun. “Dibuat tidur saja, ya? Kalau kepalamu udah mulai sakit banget, bilang aku. Biar aku langsung ambilkan obatnya.”


Angga mengangguk samar. “Iya ... makasih, ya? Kamu sudah terlalu banyak perhatian sama aku.”


Freya tersenyum pilu lalu menganggukkan kepalanya lembut. Gadis cantik tersebut kemudian menarik gagang alat untuk menurunkan ke bawah posisi sandaran kursi yang Angga duduki. Tak lupa setelah itu menyandarkan pelan punggung lelaki tampannya di sandaran yang telah Freya ubah.


“Agar kamu tidurnya nyaman terus tubuhmu gak tertekuk karena posisi tidurmu. Dibuat tidur saja, ya? Supaya nanti bila bangun, kamu sudah lumayan enakan.”


Angga hanya tersenyum lemah lalu menuruti titah lembut dari Freya lepau tidur. Sedangkan seperti lainnya yang menatap aktivitas sayang gadis itu teruntuk Angga, amat terenyuh dikarenakan rasa empati perhatiannya Freya begitu luar biasa.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


‘Perasaan, kok di jalan sini sepi banget? Gak ada gitu motor-motor atau mobil-mobil yang berlalu lalang melintasi jalan di daerah ini? Masa pada demo? Ya, kali. Emangnya kayak angkot?’ batin Reyhan bingung seraya menyapu pandangan melihat sekitar luarnya yang sunyi tanpa ada kendaraan apapun.


Angga yang sedang tidur, tiba-tiba terbangun cepat lalu membungkukkan badannya dan langsung muntah dengan air merah yang tak lain darah. Suara muntahannya Angga terdengar keras, membuat kesemua remaja yang ada di dalam mobil menoleh ke arahnya dan terkejut apa yang telah terjadi dengan Angga.


“ANGGARA!!! ASTAGHFIRULLAH!!! LO KENAPA BISA BEGITU??!!” Tiba-tiba saat Reyhan berteriak dengan detak jantung yang tak beraturan, entah apa penyebabnya mobil yang ia kendarai melaju dengan sangat maksimal. Padahal dirinya tidak menginjak gas untuk mempercepat laju mobilnya.


“Nyari mati lo, Rey?! Mobilnya jangan dibuat maksimum gini bisa gak, sih?! NOH! DI DEPAN ADA DUA TRUK YANG MENGHADANG JALAN!!!” pekik Jevran dengan menunjuk kedua mobil truk yang memang menghalangi jalan mobil Reyhan.


“Truk-truk itu kenapa bisa ada di depan?! Bukannya tadi gak ada sama sekali?!” panik Reyhan dengan langsung menepik gas mobilnya untuk mengerem singkat.


“Lho-lho! Ini kenapa?!”


“Apanya yang kenapa?!” panik Jova melihat kegusaran wajah Reyhan.


“Gawat!! REMNYA BLONG!!!”


Angga yang tak tahu harus berbuat apa untuk menghindari kedua mobil truk yang memang disengaja menghalangi jalan, kedua tangannya sigap saling memutar stir dari samping untuk membantingnya ke arah kiri.


BRUAKH !!!


Mobil Reyhan berakhir menghantam tembok pembatas hutan di kota itu dengan sangat keras, sampai sang pengendara dan Angga yang tidak mengenakan sabuk pengaman, tubuhnya terdorong kencang hingga keningnya membentur kuat di depannya. Akibat benturan yang mereka alami, membuat kedua lelaki itu kehilangan kesadarannya seketika.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Ckiiiiiiiiiiitt !!!


Agra yang sedang mengendarai santai mobilnya di dalam jalan pintas JL. Jiaulingga Mawar, tiba-tiba meminggirkan mobil hitam Toyota Avanza miliknya membuat Andrana yang duduk di kursi samping kursi kemudi, Syok tidak karuan akibat perilaku suaminya yang mendadak.

__ADS_1


Napas Agra kini terputus-putus dengan keringat dinginnya, pandangan bola matanya nampak menunduk. ‘Ada apa ini? Kenapa firasatku menjadi sangat tidak enak?! Ya Allah ... apa yang terjadi dengan anakku di sana?’


“Ayah! Kenapa, sih?! Tiba-tiba mendadak asal minggir begitu?! Untung saja mobil kita tidak anjlok ke bawah jurang!”


Agra langsung mendongakkan kepalanya dengan napas yang tak beraturan lalu menatap wajah istrinya. “Ma! Telpon Angga sekarang!!!”


“Memangnya Angga kenapa, Yah?! Y-yasudah, Mama akan menelpon putra kita sekarang juga!”


Dengan panik, Andrana mengeluarkan ponselnya dari tas kecilnya untuk menghubungi Angga. Sementara Agra yang menunggu, mengelap keringat pelipisnya pakai punggung tangan. Entah mengapa feeling buruk pembawa malapetaka itu tertuju pada putra semata wayangnya. Detak jantung beliau terus berdegup tidak menentu, pria paruh baya berusia 50-an tahun itu berusaha tenang tetapi ia tahu jika tidak mampu menepis kerisauannya terhadap Angga.


Andrana berupaya terus menelpon anak lelakinya setelah beberapa kali tidak diangkat dari sebrang sana. Bawah bibirnya beliau gigit karena bimbangnya semakin menyelimuti hatinya.


“Duh, angkat dong, Angga! Kamu lagi dimana, sih?! Mama dan ayah khawatir sekali denganmu!” gerutu Andrana tetap setia menghubungi putranya yang sudah banyak tidak diangkat olehnya.


Pada akhirnya dengan wajah resahnya, Andrana menjauhkan layar ponselnya dari telinga, membuat Agra yang diam tak berkutik menyongsong badannya untuk menghadap ke arah istrinya.


“Bagaimana, Ma?”


Andrana menggelengkan kepalanya dengan wajah paniknya. “Meskipun berdering, tetapi Angga tidak mengangkat telponnya Mama! Kita berdua harus bagaimana?! Sekarang hati Mama begitu risau pada Angga!”


Rahang Agra mengeras lalu tangannya memukul ujung atas stir-nya. Lalu kemudian Andrana mematikan layar ponselnya pada tombol sembari meneguk salivanya.


“Daripada kita diserang rasa kepanikan dan kegusaran seperti ini, lebih baik kita segera pergi ke komplek Permata. Agar kita berdua tahu, seperti apa kondisi Angga di sana!”


Suaminya menganggukkan kepalanya cepat lalu kembali menyalakan mesin mobilnya dan membelokkan arah mobil sedikit untuk segera melaju ke gang komplek Permata dengan menggunakan laju kecepatan maksimal.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Reyhan melenguh lemah dengan menggerakkan kepalanya ke atas yang tertunduk dibawah. Kedua matanya perlahan-lahan kembali terbuka bersama pandangan yang masih buram dan belum sepenuhnya jelas ia sedang berada dimana. Mungkin masih berada di lokasi kejadian tempat ia berserta lainnya mengalami kecelakaan tunggal.


Tapi ternyata ia salah, dirinya bukan lagi berada di dalam mobilnya, tetapi di salah satu tempat yang dikasih remang-remang cahaya lampu. Tempatnya lumayan kumuh dan suntuk.


‘Gue ada dimana?!’


Reyhan ingin menggerakkan kedua tangannya tapi sepertinya sedang dikunci oleh belenggu tali agar ia tak bisa pergi kemana-mana. Ia juga tidak mampu membuka mulutnya untuk meminta tolong karena dibekap oleh lakban. Hingga Reyhan tak sengaja menoleh ke samping yang terdapat seseorang.


Terdapat sosok Angga yang terduduk di kursi dengan ikatan tali memiting tubuhnya. Mulutnya juga ditempel oleh lakban seperti Reyhan, ditambah pemuda tampan itu belum sadarkan diri.


‘Angga?! Sial! Siapa yang sudah menyekap kami di dalam ruangan lingkup ini?!’


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki sepatu dari arah depan, membuat Reyhan segera menolehkan kepalanya ke sendang suara. Sorot matanya menjadi tajam dan rahangnya mengeras saat melihat seorang lelaki berambut hitam dengan gaya rapi, berpakaian baju navy oblong lengan panjang bersama jeans abu-abunya. Pemuda asing tersebut nampak mengenakan kalung titanium yang menggantung di lehernya beserta gelangnya.


Setelah mendekati Reyhan, lelaki bertubuh postur jangkung itu, berjongkok dan menatap Reyhan sesaat lalu melepaskan lakban yang membekap mulut pemuda Friendly tersebut.


“Lepaskan gue dan sahabat gue dari sini!”


“Cih! Lo gak tahu, ya gue siapa?”


Reyhan sedikit tersentak kaget. ‘Kenapa dari suaranya, gue kayak pernah denger? Tapi gue lupa ini cowok suaranya siapa.’


Pemuda tersebut langsung membuka topeng wajahnya dengan santai. Lelaki itu tersenyum iblis bersama menaikkan kedua alisnya sambil menatap Reyhan sinis.


“Hai, gue kembali.”


DEG


“Gerald Avaran Dedaka?!”


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2