Indigo

Indigo
Chapter 117 | Terrible Panic [Jovata]


__ADS_3

Cklek !


Seorang pria berjas putih membuka pintu kamar rawat no 111 yang ada di lantai 4 RS Wijaya. Siapa lagi kalau bukan dokter Atmaja yang akan melakukan pemeriksaan pada sang pasien remaja 17 tahun yang bernama Anggara Vincent Kavindra?


Tetapi alangkah terkejutnya, mata dokter Atmaja terbentur pada pasiennya yang tergeletak di lantai. Dokter tersebut gegas berlari menghampiri pemuda tampan itu begitupun juga beberapa perawat yang berada di belakangnya beliau.


Dokter Atmaja berjongkok dan berusaha untuk tenang tidak berhati panik, beliau kemudian menggoyang-goyangkan pelan bahu lemas Angga. Sementara salah satu perawat lelaki yang tetap berseragam putih sesuai prosedur, ikut berjongkok dan mendekatkan sisi jari telunjuknya di hidung Angga tepatnya di alat pernapasannya.


“Pasien masih bernafas, Dok. Hanya saja hembusan nafasnya begitu lemah!” ucap salah satu perawat itu dengan menatap dokter Atmaja.


Tanpa memakan waktu yang sangat lama, kedua perawat segera mengangkat perlahan tubuh lemah Angga ke ranjang pasien untuk segera diperiksa. Di situlah dalam ruangan yang agak gelap karena tak ada cahaya lampu yang meneranginya, pemuda nang hampir kehabisan napas itu langsung ditangani oleh dokter Atmaja. Dan seperti para perawat melakukan tugasnya masing-masing buat memberikan pertolongan medis terhadap sang pasien.


Yang paling utama, Angga terlebih dahulu kembali dipasang bantuan alat oksigen ialah masker oksigen habis itu, perawat yang telah memasang alat bantuan pelancar pernapasan di wajah Angga, kini beralih membuka pengatur aliran oksigen di regulator oksigen yang terpasang di tempat tertentu. Sedangkan perawat lainnya, menancap balik jarum infus di tengah telapak tangan kiri lelaki tersebut.


Di sisi lain, dokter Atmaja nampak fokus memeriksa kondisi irama detak jantung Angga usai menyorotkan mata satu persatu sang pasien menggunakan senter kecil medisnya yang selalu beliau gembol di kantung jas putih rapinya.


Bersyukurlah rupanya detak jantung Angga masih stabil tanpa ada permasalahan yang mengancam jiwanya, hanya saja akibat terlepas dari bantuan oksigen itu, sang pasien kembali kekurangan oksigen bahkan saturasi oksigen dalam tubuhnya begitu sangat rendah yang harusnya 95-100% tetapi ini kurang dari 90%


Usai dua perawat sekaligus menarik selimut tebal untuk tubuh Angga sampai batasan ulu hatinya, dokter Atmaja mengamati detail wajah sang pasien yang amat pucat bahkan terlihat jelas di bibirnya. Detak jantung memang benar stabil, akan namun sayangnya saturasi angka dalam kadar oksigen tubuh sangat turun. Bahkan jika pemuda tampan itu tak segera ditolong, kemungkinan besar nyawanya menjadi taruhan.


“Dokter, sepertinya ada seseorang yang berusaha ingin mencelakai pasien. Karena tidak mungkin juga kalau pasien melakukan hal membahayakan diri sendiri,” yakin sang perawat yang tadi sudah memasang alat bantu pernapasan untuk Angga.


“Dok, apakah pasien diberikan pemeriksaan lebih lanjut karena keadaan parahnya pasien?” tanya perawat lainnya.


Dokter Atmaja menolehkan kepalanya dan menatap perawat lelaki tersebut yang bertanya padanya. Beliau menggelengkan kepalanya pelan dengan menerbitkan senyuman. “Tidak perlu, kondisi Anggara masih bisa diatasi di ruangan ini bersama bantuan alat oksigen tersebut sampai kadar oksigennya kembali normal.”


Para perawat menganggukkan kepalanya secara kompak seraya memberikan sunggingan senyum pada dokter Atmaja. Sementara, Angga tetap berada di kondisi keadaan buruk yang masih sama. Apalagi selama kadar oksigen di dalam tubuhnya belum meningkat sampai saturasi angka rendah berhasil melampaui kurangnya dari 90 persen, kesadaran lelaki Indigo itu tak akan sanggup menanjak.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam kamar tidur yang ciamik dengan dipenuhi cat warna pics di seluruh tembok dinding bersama dekorasi-dekorasi indah yang menjadi nyaman dan suka bagi perempuan siapa saja yang melihatnya dari depan mata, terdapat gadis Nirmala yang tak lain adalah Freya sedang termenung di atas kasur empuknya bersama sebuah bingkai foto yang dirinya dekap.


Gundahnya dari wajah cantiknya seperti boneka, Freya terus memeluk bingkai foto tersebut dengan bulir air mata jatuh ke pipi putih kulit halusnya. Hati Freya sungguh benar-benar tidak tenang dan diliputi rasa kegelisahan terhadap salah satu sahabatnya.


“Angga ... kabar kamu di sana sekarang bagaimana? Sudah membaik atau belum, ya?” Freya bertanya tanpa ada yang menjawab pertanyaan gadis manis tersebut. Dan Freya lalu melonggarkan pelukannya dari bingkai foto ukuran sedang itu, kemudian menatap wajah tampan sahabat kecilnya yang posisinya berpose tersenyum simpel nang terlihat di sunggingan bibirnya.


“Udah lama banget kamu di rumah sakit, dan sampe sekarang kamu juga belum pulang. Aku sebenernya pengen banget ke sana buat jenguk kamu yang lagi sakit, tapi ... aku bingung bagaimana caranya, sedangkan Gerald terus ngancem aku kalau aku bertekad menjumpai-mu.”


“Kenapa sih dia? Apa Gerald terlalu cemburu karena aku bersama kamu bahkan aku menaruh rasa peduli terhadap-mu? Apalagi Gerald akhir-akhir ini jadi posesif banget sama aku, waktu dulu padahal nggak kayak gitu lho, Ngga.”


“Kamu tenang aja deh, aku pokoknya bakal berusaha gimana caranya dateng ke rumah sakit buat kamu!” ucap Freya yang dari nadanya berubah jadi semangat.


Freya setelah itu kembali memeluk bingkai foto yang bergambar sosok Angga nang memiliki postur tubuh semampai dengan tersenyum pilu.


“Kalau aku boleh jujur, aku kangen sama kamu sebagai sahabat terdalam-ku, Anggara ...”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Keesokan harinya, nampak Gerald tengah menghisap rokoknya dengan penuh nikmat bahkan mata pemuda aura hitam tersebut menutup untuk bersantai di hari liburnya. Namun Gerald hari ini ingin mengajak kekasihnya untuk pergi jalan-jalan bersamanya, intinya agar Freya lebih nyaman padanya daripada sahabat kecil yang sang pacar miliki.


Di sebuah dalam bangunan gelap yang mana tempat itu cukup lingkup yaitu markas, tak hanya Gerald saja di sana tetapi juga ada dua lelaki teman yang berperan sebagai suruhannya. Rain dan Teivel. Terlihat mereka berdua tengah asyik bermain catur seraya menyeduh minuman hangat mereka masing-masing.


“Rald, lo gak jalan sama cewek cantik elo itu? Perasaan di sini lo santai bener,” tanya Teivel yang menoleh ke belakang menatap Gerald.


Gerald menghembuskan asap rokoknya keluar dari dalam mulut sambil membuka matanya. “Sebentar lagi. Tetapi hari ini gue seneng banget karena cowok cupu itu telah gue celakai, mungkin sekarang dia udah mati dalam kondisi buruknya itu.”


Rain menghentikan permainannya dengan Teivel yang bermain catur kemudian menoleh cepat ke arah Gerald yang sedang duduk di kursi sofa single hitam. “Eh parah! Yang bener aja lo, Rald?! Lo udah lihat dan mastiin kalau Angga sudah mati??”


“Gak juga. Tapi gue yakin sekali, karena memang dari dasarnya ... keadaan dia sudah sangat lemah, dia pantes untuk mati.”

__ADS_1


“Eh, Bos! Lo jangan percaya diri gitu, lo tau kan Angga itu orangnya kuat dan tangguh, bahkan orang yang lo celakai itu gak gampang mati, nyawanya dia sudah persis kayak baja!” tegur Teivel.


Gerald melemparkan tatapan tajamnya pada Teivel yang telah usai menegurnya. “Kenapa? Lo mau belain cowok pembunuh itu yang dulunya udah bunuh sahabat gue?! Meskipun begitu, dendam gue di hati belum tuntas.”


Rain yang sang teman lama suruhannya dari Gerald sampai menggeleng-gelengkan kepala karena merasa tidak percaya kalau Angga telah tiada.


“Maaf, Rald. Gue bukannya mau belain diri Angga, sebaiknya lo jangan terlalu yakin. Karena insting gue, cowok itu masih beraga! Apalagi yang dikatain Teivel itu ada benernya, nyawa Angga itu gak bisa diremehkan sedikitpun. Gue aja juga heran kenapa bisa ada manusia yang jiwanya tangguh dan kuat banget kayak Anggara Vincent Kavindra.”


Gerald berdecih keki dengan melirik sinis Rain yang berkata panjang lebar untuknya, bahkan jika memang Angga masih hidup yang padahal ia sudah melakukan perbuatan nang membuat regang nyawa, itu artinya ia telah gagal membunuh musuhnya. Dan setelah Gerald pikir-pikir dari omongan kedua anak buahnya, sepertinya ada betul-nya pula bahwa nyawa Angga tak bisa diremehkan bahkan dianggap jiwa yang lemah. Lelaki pemilik indera keenam dari sejak dini itu, memiliki nyawa yang tangguh serta kuat layaknya sebuah baja nang tidak mampu mudah dihancurkan dengan apapun.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Jiwanya Angga terganggu?!” kejut Jova mendengar ceritanya dari sahabat lelaki Friendly-nya.


Reyhan mengangguk cepat dengan pandangan mata tak berpaling dari Jova yang matanya berkedip-kedip saking kurang percayanya dari cerita panjangnya mengenai tentang kisah Angga sebenarnya. “Iya, tapi terserah juga sih kamu mau percaya apa enggak. Aku udah ceritain tanpa ngarang kek ciptain cerpen atau novel.”


“Y-ya aku percaya sih! Cuman, kok jiwa Angga bisa terganggu?! Berarti secara fisik ... sahabat hebat kita ini udah mengalami sakit jiwa, dong?!”


“Innalillahi! Ya enggak lah, Bleng! Jiwanya Angga cuman terganggu doang, gak nyampe sakit jiwa segala! Ehmm ... itu dampak dari Depresinya gara-gara masa lalu kelam yang diungkit-ungkit sama cowok geblek pacarnya si Freya itu!”


“Oalah dasar tikus wirok!”


Karena Jova mengatakan 'dasar tikus wirok' dengan secara menatap Reyhan, pemuda itu mengira kalau dirinya diucapkan seperti tersebut. “Enak aja kamu ngatain aku tikus wirok! Aku manusia, woi! Bukan binatang!”


“Gak bermaksud, kali! Aku kan ngatain Gerald, bukan kamu, Kunyuk Sutres! His, suka salah paham mulu!”


Reyhan mendengus kemudian kepalanya melimbai ke arah Angga yang terbaring lemah di ranjang pasien, masker oksigennya itu belum terlepas dari wajahnya. Menyimpulkan kadar dan angka saturasi oksigen di dalam tubuhnya belum normal. Jova pun juga menatap Angga dari kursi sofa yang ia duduki bersama Reyhan yang ada di sebelahnya.


“Sampai kapan Angga terus pingsan begini? Dia tuh beneran pingsan atau Koma, sih? Lama amat bangunnya.”


“Heh mulutnya! Suka asal nyeplos gak jelas!” tegur kesal Reyhan sedikit melotot pada Jova.


Nampak di luar jendela yang terbuka lebar, angin berhembus dengan kencang, bahkan dedaunan dari pepohonan yang menjulang tinggi menjadi ikut terbang terbawa angin kencang tersebut. Pagi hari libur ini memang cuacanya sangat dingin apalagi di atas langit tak terdapat sedikit cahaya matahari. Hal itu membuat Jova yang diam, menguap tanpa menutup mulutnya.


Gadis itu merasakan kantuk tak juga dengan Reyhan yang memanfaatkan suasana dingin itu dengan memakan pop mie kuah yang tadi ia beli di kantin RS Wijaya. “Kok cuman satu doang sih, mienya? Aku nggak kamu beliin??”


Reyhan yang akan menyantap mienya tersebut menggunakan garpu putih plastik dengan ukuran kecil, mengarahkan bola matanya sekaligus menolehkan kepalanya ke arah Jova yang mengubahkan bibirnya menjadi mengerucutkan bersama kedua pipi yang menggembung.


“Lah, gimana sih? Tadi aku tawarin, kamu katanya 'nggak usah, aku masih kenyang' sekarang pas aku udah beli, kamu bilang seperti itu sama aku,” jawab Reyhan ditanggap Jova dengan nyengir kuda.


Reyhan menghembuskan napasnya pelan. “Mau pop mie juga? Tapi aku punyanya cuman satu, gimana dong?”


“Yaudah atuh, beliin di kantin, hehehe!”


“Idih, enteng banget nyuruhnya. Yasudah sini mana duitnya? Gak ada traktir-traktiran, ya! Uangku udah kembang kempis nih gara-gara kebanyakan jajan di luar.”


“Itu mah emang dasar kamu-nya aja yang tukang pemborosan uang! Gak kayak Angga, dia mah uangnya suka dia tabung,” tutur Jova seraya menyerahkan selembar uang kertas berwarna hijau.


“Ayo! Terus aja bandingin aku sama Angga, dia mah cowok yang gak bisa di heranin, karena itu anak emang kesehariannya penuh sistematis.”


“Iya deh. Iya, Tuan Reyhan buruk rupa. Yasudah sono beliin! Jangan lupa bilang 'kasih bumbu pedes' ya sama bibi penjualnya!”


“Asem! Muka ganteng gini kayak aktor Thailand, dibilang buruk rupa?! Huh, iye-iye siap! Tunggu bentar, jangan kemana-mana, lho! Jagain sama temenin Angga! Jangan malah melipir pulang!”


“Kamu pikir aku sahabat edan?! Gak mungkinlah aku pulang gitu aja, kasian si Angga tau!”


“Markotop!” Reyhan mengacungkan jari jempolnya dengan satu tangan bersama memajukan bawah bibirnya lalu segera lekas pergi dari kamar rawat untuk menuju sebuah kantin rumah sakit yang berada di lantai pertama.


Gadis Tomboy itu yang mengenakan topi baseball hat berwarna ungu violet kesukaannya, memperhatikan langkah kepergian Reyhan yang berpostur tubuh jangkung 180 sentimeter. Setelah lelaki Friendly tersebut telah tak terlihat lagi di ruang perawatan inap alias keluar dari ruangan, Jova memutuskan beranjak dari kursi sofa panjang lalu berjalan mendekati ranjang pasien Angga yang mana sahabat Introvert-nya itu belum kembali siuman.

__ADS_1


Jova menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya keluar dari mulut, Gadis itu menatap wajah pucat lelaki tampan tersebut bersama alat bantu pernapasan yang masih setia terpasang di sana. Terbesit langsung di benaknya Jova di waktu dokter Atmaja melakukan pemeriksaan sekitar 1 jam yang lalu. Menyampaikan bahwa tadi malam jiwa Angga nyaris saja menjadi taruhannya akibat kekurangan banyak oksigen bahkan hampir kehabisan napas.


“Ngga ... Ngga, mau mati ya tadi malem? Tapi aku heran deh sebagai sahabat cantikmu ini, nyawa kamu tuh kuat bener dah. Kayak besi- eh besi kan bisa penyok pas kena panas, ya! Oh baja! Waktu dulu aja kamu mau ke dunia akhirat gara-gara sikopet bangsat yang make topeng itu.”


“Tapi untung aja dah itu sikopet satu yang mau bunuh kamu udah death karena berkat arwah yang merasuki ragamu.”


Jova yang tengah berdiri si samping kanan Angga terus menggerakkan mulutnya untuk berceloteh panjang lebar dengan sahabatnya itu. Tapi, toh ngobrol begitu tidak akan mungkin direspon olehnya.


“Masa yang kayak kamu di syirik banyak orang, sih? Oh iya lupa! Kamu kan cowok serba bisa, udah gitu kamu ganteng and perfect. Ya gak? Ya gak?” Jova menyenggol-nyenggol lengan tangan bagian kanan Angga dengan siku tangannya.


Tatkala itu, Jova sadar. “Eh bego! Gue ngapain ngajak ngomong sama ini bocah?! Yang ada nanti kalau banyak ngoceh, mulut sempurna gue jadi keriting, lagi!”


Jova pun menyudahi obrolannya dengan Angga yang sama sekali tak ada respon. Gadis tersebut kemudian melangkah memarani jendela yang di luar sana begitu berangin. Ini yang Jova suka sebenarnya, gadis itu sudah jelasnya menyukai musim dingin atau hujan dibanding musim panas yang sedikit-sedikit membuat gerah tubuh.


Jova menghirup udara pagi yang dingin penuh dengan nikmat bersama senyuman menawannya. Suasana inilah yang menjadi favoritnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Reyhan yang telah tiba di dalam kantin rumah sakit yang difasilitasi banyaknya jendela untuk udara sejuk masuk, mengambil satu pop mie kuah rasa soto kemudian melangkah mendekati sang wanita bule penjual aneka makanan.


“Excuse me, aunt.”


Wanita bule itu yang sedang berkutat pada sesuatu, auto menoleh ke sang pembeli yang terdengar familiar di telinganya. Begitu tahu itu adalah langganan pembelinya, wanita tersebut yang memiliki rambut gelombang warna kuning pirang tersenyum lebar.


“Oh, Tuan Reyhan! Senang sekali bertemu denganmu lagi,” ucap sumringah sang penjual yang tak fasih dalam bercakap bahasa Indonesia bahkan logatnya masih kental dari luar negara Inggris-nya.


“Hahahaha! Aduh, Bi .. jangan panggil saya tuan, dong. Malah jadi merasa orang yang terhormat. Oh iya, Bi Amber, saya beli satu pop mie ini sama sekalian dibuatin kayak biasanya ya. Kasih bumbu pedasnya juga, hehehe!”


“Oke. Tunggu sebentar, ya? Bibi buatkan dulu pop mie kuahnya, tidak akan lama kok ini.”


Reyhan mengibaskan tangannya satu kali ke depan bersama wajah slow. “Yaelah, Bibi santai saja dengan saya. Saya pembeli yang mempunyai hati sabar, kok. Bakal saya tunggu seperti saya menunggu jodoh yang belum kesampaian.”


Bi Amber tertawa renyah pada lelucon sang pemuda remaja 17 tahun pelanggan pembelinya lalu kemudian menuju ke tempat khusus untuk membuat pop mie kuah rasa soto yang sedang beliau pegang. Sedangkan Reyhan memutar tubuhnya ke belakang lepau duduk di kursi meja kantin yang ada di pelosok kantin luas RS Wijaya.


Sampai tiba-tiba, kedua mata Reyhan saling memicing ke arah jalan pembelokan untuk masuk lobby rumah sakit, bahkan kepala lelaki berambut coklat tulen tersebut condong ke depan. “Itu cewek ... kok kayak Freya, ya?


Reyhan mengubahkan posisinya pada semula seraya menggelengkan kepalanya kuat. “Paling cuman perasaan gue aja. Gak mungkin dia ke rumah sakit, mestinya hari ini lagi kencan sama cowok kutu kupret itu.”


Reyhan menghembuskan napasnya ke atas sampai bagian rambut coklat yang agak menutupi kening kanannya tertiup karena hembusan napas dari dalam mulutnya. Tanpa memusingkan siapa gadis yang mirip sahabat Nirmala-nya tersebut, Reyhan mengeluarkan benda pipih miliknya lalu mulai memainkan sebuah game action yang telah naik tingkatan level tinggi.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Lantai 4 - Ruang Rawat no 111


Kruuuuukk...


Jova mengeluh dengan memegang perutnya yang bersuara keroncongan bahkan cacing-cacing di dalam perut banyak demo karena minta asupan makan. “Aduh, laper banget, gue ... ini si Reyhan lagi boker apa gimana, sih?! Lama amat dah. Nanti kalau gue mati kelaparan kek mana? Meninggal nggak secara estetik dong, namanya.”


Hingga tiba-tiba saat Jova tengah mengelus-elus perutnya tersebut, gadis itu dibuat Syok bukan main waktu melihat tubuh Angga gemetar hebat beserta muka tampannya yang bertambah pucat. Napasnya terlihat tak beraturan sama sekali.


“Buset dah, Angga!! Kamu kenapa, Ngga!!??” panik Jova sambil mencoba menangkup wajah pucat sahabat Introvert-nya yang matanya masih terpejam.


“Aduh gawat darurat! Mana mukanya ini cowok nambah pucet kayak calon mayat, lagi!”


Dengan melihat kondisi Angga yang begitu darurat sementara tubuh lelaki Indigo itu tak berhenti gemetar memaut, membuat Jova bingung bercampur rasa hati panik dahsyat tidak tahu harus berbuat apa untuk menyetop pergerakan gancang spontan sahabatnya.


“Huwaaa! Anggara mah selalu bikin deg-deg ser aja, ah!!”


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2