
Rintik-rintik hujan yang turun semakin deras, bahkan membuat suasana dalam kelas terasa begitu dingin. Dan sekarang seperti biasa di jam mata pelajaran pertama, di bimbing oleh bu Aera sang guru Fisika. Beliau nampak selesai mengabsen daftar nama para muridnya di kelas XI IPA 2, walaupun ada satu murid bu Aera yang tidak hadir. Freya Septiara Anesha.
Gadis itu tak berangkat tanpa keterangannya sama sekali, entah surat atau izin melalui pesan yang dikirim oleh salah satu kedua orangtuanya. Hari ini sungguhlah hari yang berat dan buruk bagi ketiga sahabat Freya yang dirundung rasa bingung beserta sedih. Sedih melihat sikap Freya seperti kemarin. Sebelumnya, gadis cantik tersebut adalah suka lemah lembut, tetapi sekarang malah sebuah kebalikan, Freya menjadi perempuan yang kasar semenjak melakukan hubungan cinta kasih dengan Gerald.
“Astaga dingin sekali hari ini. Ayo tugas rumah yang Ibu berikan kemarin, sekarang silahkan kumpulkan di meja Ibu, agar Ibu bisa menilai hasil kerjaan PR kalian.”
Para siswa-siswi bangkit dari kursinya sembari membawa buku tugas Fisika yang akan mereka kumpulkan ke meja guru nang beliau suruh. Sementara Angga tengah sedang membuka-buka lembaran kertas dalam buku tugas yang di sampul warna biru dengan kondisi tubuhnya yang lemas bahkan mukanya terlihat sangat pucat daripada kemarin. Mungkin ini akibatnya karena dirinya terlalu memaksakan diri untuk datang ke sekolah.
Angga mengaduh dalam relung hatinya. Pemuda tampan tersebut menatap nanar tugasnya yang beberapa soal tanpa adanya jawaban di sana. Kesimpulannya, Angga belum sama sekali mengerjakan PR dari bu Aera. Ia menyalahkan diri sendiri karena tadi malam ia tidak mengecek tugasnya ini tetapi malah langsung istirahat tidur dikarenakan kepalanya begitu pusing disertakan badan yang amat lemas hingga ia malam tadi hanya mampu berbaring saja, sementara tubuh lemahnya sudah tidak bisa menopang Angga untuk bangkit melakukan aktivitas ringannya.
Angga memejamkan matanya. Betapa bodohnya tugas itu terlupakan karena oleh keadaannya sendiri, sedangkan para siswa dan siswi kembali ke tempat bangkunya masing-masing usai menumpuk tugasnya kepada bu Aera, termasuk kedua sahabatnya.
Reyhan yang melihat Angga diam saja tanpa mengumpulkan buku tugas Fisikanya ke depan, sedikit mencondongkan badannya ke depan dengan berbisik pada sahabatnya yang nampak kondisinya belum sehat. “Angga, bukunya gak lo tumpuk? Semuanya udah ngumpulin.”
Angga membuka matanya lalu dengan jiwa nyali keberaniannya, hendak mengangkat tangan kanannya dan meminta maaf dengan bu Aera karena dirinya lupa mengerjakan tugas pentingnya. Akan namun, beliau sudah lebih duluan menatap ke arah Angga dengan pandangan serius lumayan memakai mata sorot tajamnya.
“Angga, kenapa buku tugas yang ada di atas mejamu tidak kamu kumpulkan ke sini? Tidak mungkin, kan kamu tidak mengerjakan PR dari Ibu waktu kemarin pagi?”
Angga menundukkan kepalanya. “Maafkan saya, Bu. Saya hari ini belum sama sekali mengerjakan tugas PR dari beliau berikan waktu kemarin ...”
Semuanya yang ada di dalam kelas XI IPA 2 termasuk bu Aera terkejut tak menyangka apa yang dikatakan oleh Angga bersama nada lemahnya. Baru pertama kali ini, mereka melihat bahwa Angga tak mengerjakan tugas yang guru berikan. Karena pasal aslinya, Angga selalu mengerjakan tugas PR yang dikasihkan oleh para guru apalagi seperti bu Aera.
Bu Aera menautkan kedua alisnya lalu mulai menggebrak mejanya. Guru wanita tersebut paling tidak suka kalau ada muridnya yang kurang disiplin, tak peduli memandang sang murid kebanggaan sekolah atau apalah itu. “Kenapa kamu bisa tidak mengerjakannya, Angga?! Kamu tahu kan PR itu juga termasuk dari kewajiban siswa?! Tumben sekali kamu nggak ngerjain PR dari saya?”
Angga menutup matanya dengan masih kepala yang menunduk bersama bibir pucat-nya. “Tolong maafkan saya, Bu. Saya janji akan ...”
Tidak sanggup menyelesaikan permintaan maaf pada sang beliau, lelaki Indigo itu menyentuh bagian keningnya dengan mulut yang kembali bungkam. Suara riuh kebisingan dari beberapa siswa-siswi, langsung berubah menjadi sayup-sayup dan lama kelamaan kedua telinga Angga berdenging. Tubuhnya oleng seakan-akan ingin melayang ke udara.
BRUGH !
Raga Angga ujungnya ambruk ke samping dari bangkunya dan sekarang tubuhnya tergelimpang lemah hilang kesadaran di lantai kelas. Membuat mereka yang menyaksikan pemuda itu yang secara tiba-tiba, amat terkesiap bukan main.
“ANGGA!!!”
Para siswa-siswi yang khawatir dengan Angga langsung bangkit kompak dari bangkunya lalu gesit mendatangi Angga yang tergolek lemah di situ. Sebagian ada yang jongkok macam Aji contohnya. Pemuda nang rambutnya lumayan model ikal dan berwarna coklat, menepuk-nepuk lengan tangan kanan temannya.
“Angga! Jangan bercanda! Canda lo nggak lucu bener, sumpah! Lo begini karena takut kena hukuman dari bu Aera, kan?!”
Sampai akhirnya Rangga yang ada di atas kepala Angga, memukul kencang kepala Aji dengan mendengus kesal karena telah berbicara sembarangan. “Ini Angga pingsan beneran!!”
“Tau, tuh! Angga mana bisa bercanda apalagi separah ini! Duh, sadar dong, Ngga! Sudah dibilangin kemaren, lo jangan paksa diri buat berangkat ke sekolah. Taunya jadi gini akhirnya. Angga, ayo bangun!” protesnya untuk Aji dan pintanya Reyhan meminta sahabatnya segera sadarkan diri sembari mengguncang-guncang tubuh Angga.
Bu Aera yang setengah berlari menghampiri Angga dengan suara sepatu heels hak tingginya, siswa-siswa yang menutupi jalan, mulai memberikan jalan untuk beliau. Kemudian bu Aera berjongkok tepat di samping Angga dan mengecek keadaannya. Beliau begitu cemas melihat wajah pucat muridnya yang setengah pasi.
Bu Aera mencoba menepuk pipi Angga berkali-kali buat menyadarkan kesadarannya balik. “Angga, Nak, ayo sadarlah! Apa sebenarnya yang sudah terjadi denganmu sampai kamu pingsan mendadak begini?!”
Joshua yang memandang kondisi tubuh Angga nang telah dibuat terlentang oleh beberapa temannya, mulai mengusulkan tindakan. “Lebih baik Angga segera di bawa dan dibaringkan di kasur ruangan UKS saja!”
Reyhan yang sudah menopang punggung Angga, pandangannya beralih menatap para siswa-siswa dengan wajah risau. “Siapa yang mau bantuin gue bawa Angga ke UKS?”
Pertanyaan gundah Reyhan langsung ditanggapi singkat oleh Jevran, Aji, Raka, Andra, dan Joshua secara saling bersahutan ingin mau membantu Reyhan untuk membawa sahabatnya ke ruangan UKS yang letaknya agak lumayan jauh dari kelas ini.
“Enam orang sudah cukup untuk membawa Angga ke ruang UKS, mending cepatlah bawa Angga segera ke sana. Kasihan sekali Ibu melihatnya, dan setelah ini Ibu akan memberitahu wali kelas kalian sekaligus kepala sekolah mengenai kondisi Angga sekarang.”
Keenam murid beliau mengangguk patuh lalu sekarang mereka mulai mengangkat tubuh lemas Angga dengan hati-hati serta perlahan lepau membawanya lekas pemuda tersebut ke ruang UKS. Sementara yang lain seperti Jova memperhatikan mereka dengan tampang muka khawatir dan laranya kepada kondisi keadaan Angga yang kedua matanya tengah tertutup tenang.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Galaxy Admara - UKS
Usai membawa Angga ke ruangan UKS Dengan bersama-sama, kini mereka mulai meletakkan tubuh lelaki tersebut di salah satu kasur ruangan itu untuk membaringkan raga lemahnya yang tak berdaya. Namun karena Raka begitu sudah tidak bisa menahan beban berat temannya, tak sengaja-nya Raka meletakkan kepala Angga kasar di atas bantal.
“Hati-hati sama kepalanya Angga, woi! Itu kalau lo misalnya besok jadi perawat, cedera otot pasiennya! Yang pelan-pelan, napa?!” protes Andra.
“Idih amit-amit tralalatrilili gue jadi perawat! Gue aja sama darah takut banget kalau misalnya suruh jadi petugas tim di ruang Operasi atau menangani pasien yang sekarat, contohnya kek abis kecelakaan.”
Aji menatap sinis Raka setelah menurunkan kedua kaki Angga perlahan di atas ranjang kasur. “Banci amat lo, sama darah aja takut.”
__ADS_1
Raka menolehkan kepalanya cepat lalu memberikan tatapan mata pisau belati pada Aji yang pintar sekali dalam cakapan tersebut. “Coba ulangi lagi ngomongnya tadi, gue budeg!!!”
Reyhan yang merasa kesal pada kebisingan kedua temannya itu, mulai mengeluarkan nada tingginya, “Lo berdua bisa anteng dikit gak mulutnya?! Gue sepak lu pada ke Australia, mampus kalian gak bisa balik ke negara Indonesia!”
“Kebangetan lo, Rey! Jangan jauh-jauh, napa? Emangnya kaki lo meriam Belanda yang buat ngelakuin perang? Sepak ke Bogor aja, dong. Kan gampang balik ke kota Jakarta-nya,” komentar Raka.
“Aduh, kalian apa nggak bisa melihat kondisi, ya? Ini ruang UKS apalagi keadaan teman kalian sedang pingsan. Pengertian dikit, lah.”
Joshua melerai beberapa temannya lalu sang ketua kelas kembali melepas ikatan tali sepatu Angga dan sesudahnya lelaki berkacamata tersebut melepaskan sepasang sepatu hitam temannya dari kedua kakinya. Sedangkan ketiga pemuda ialah Reyhan, Jevran, serta pula Aji tengah melebarkan sebuah selimut yang lumayan tebal untuk menyelimuti tubuhnya Angga, mereka menarik selimut tersebut hingga mencapai batas ulu hati lelaki itu yang masih belum sadarkan diri.
Setelah tugas mereka telah selesai, mereka berenam diam berdiri seraya menatap wajah Angga. Sampai puncaknya kesepian ruangan, Raka menggelengkan kepalanya dengan berdecak. “Ini orang? Atau mayat, ya? Pucet bener kayak mau dimakamkan ke tanah kuburan.”
“Lo bilang apa tadi, Rakato?! Gue gebuk, lo sampe modar! Mau, lo?!” tawar Reyhan dengan menaikkan oktaf nada.
“Mati lo, Ka. Suruh siapa ngomong kayak begitu di depannya Reyhan? Kena semprot sahabatnya, kan jadinya. Lagian itu lambe gak bisa dikontrol, sih. Pucet-pucet gitu tapi Angga masih punya nyawa, geblek!”
“Diem lu, Ji! Itu juga si Reyhan suka sadis kalau nawarin, kayak cowok sikopet!” keluh Raka dengan muka menekuk.
Jevran mendekati Raka sampai bagian pundaknya menempel di bahu temannya tersebut. “Mangkanya lo jangan coba macem-macem sama tetangga gue satu ini, dia kalau ngamuk udah persis seperti monster-monster yang di dalem dunia khayangan.”
Reyhan mendengus tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun dari mulutnya, bibir pemuda itu bungkam. Ada di dua antara yang membuat Reyhan hari ini enggan diajak senda gurau, yaitu pertama sangat lara memandang sahabatnya yang tengah sedang sakit hingga pingsan. Kedua, hatinya begitu emosi karena perkataan tak berguna dari Gerald kemarin yang mengacau hati Angga nang persoalan tentang masa lalu pahitnya.
Joshua menilik jam lengannya yang bertengger di pergelangan tangannya lalu menatap Reyhan yang wakil kelasnya itu sedari tadi cuma diam usai menawari Raka dengan ucapan sadisnya. “Reyhan, gue sama yang lain mau balik ke kelas buat ngikutin pelajarannya bu Aera kembali. Lo sendiri gimana? Mau ikut balik ke kelas juga bareng kami berlima?”
Reyhan menggelengkan kepalanya kemudian memutuskan menarik satu kursi yang ada di sisi kasur ranjang tempat tubuh sahabatnya terbujur lemah di situ. “Nggak. Kalian aja yang balik ke kelas, gue tetep di sini buat nemenin Angga.”
Joshua tersenyum ramah dengan menepuk atas bahu kiri Reyhan lalu menganggukkan kepalanya pelan seraya menatap wakil kelasnya yang amat peduli dan setia kepada sahabatnya nang kesehatannya sedang menurun hingga mengakibatkan turunnya kadar oksigen dalam tubuh sahabat wakil kelasnya.
“Oke yasudah kalau mau lo tetap di sini sama Angga, kami tinggal dulu, ya?”
“Oke. Semangat belajarnya, jangan sampai ngantuk pula di kelas beliau.”
Aji menghela napasnya dengan memutar bola matanya malas ke sembarang arah. Jelas sekali tergambar bahwa pemuda itu sangat tidak meminati mata pelajaran yang seiras mata pelajaran Matematika soal hitungan serta rumus.
“Gimana ngantuk-nya? Kalau guru killer itu matanya cukup memiliki sinyal yang kuat. Bakal ketauan dah siapa yang gak konsentrasi, ngantuk, apalagi tidur di dalem kelas. Mana masih muda itu si beliau alias belum nikah. Jadi kebanyakan marahnya dibanding sabarnya. Huft ...”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Lelaki humoris itu tak terlepas dari pandangannya menatap wajah pucat sahabatnya yang nyaris pucat seperti mayat. Hatinya sangat getir dikarenakan telah 2 jam Angga belum kunjung bangun, Reyhan yakin bukan masalah cedera kepalanya yang membuat sahabatnya seperti ini. Akibat dari banyak pikiran, Stress, ditambah Depresi ulah Gerald yang selama ini meremukkan hidupnya Angga.
Reyhan memejamkan matanya bersama muka gundahnya lalu kepalanya menunduk ke bawah. Pemuda itu tetap di sini menemani Angga sampai benar-benar sang sahabatnya tersebut kesadarannya kembali pulih. Hingga beberapa menit kemudian pintu UKS yang posisinya tertutup, kini dibuka oleh seorang guru pria nang mengenakan setelan jas rapi berdasinya.
Klap !
Reyhan membuka matanya sekaligus mendongakkan kepalanya kemudian memutar tubuhnya sedikit ke belakang. Rupanya itu adalah pak Harry yang usai menutup pintu putih lalu melangkah mendekatinya dan juga Angga yang masih terkulai lemah di atas ranjang kasur. Dengan raut khawatirnya sebagai guru wali kelas, beliau semakin mendekati ranjang kasur Angga kemudian berhenti sembari memegang bagian pinggir kasur di sebelah Reyhan yang tengah duduk.
“Selamat pagi, Pak Harry.” Reyhan dengan sopan meskipun dari nadanya sedih lirih, menyapa gurunya yang baru saja tiba.
“Selamat pagi juga, Reyhan. Bagaimana dengan keadaannya Angga? Apakah sahabatmu sudah sadar?” tanya beliau bersama wajah cemas.
Reyhan menggeleng lambat. “Belum, Bapak. Sampai sekarang ini, Angga belum siuman.”
Pak Harry menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya keluar dari mulut. “Memangnya, apa yang terjadi dengan Angga? Hingga Angga bisa pingsan seperti itu?”
Reyhan lumayan berdeham seraya mengalihkan wajahnya dari pak Harry ke muka Angga, setelah itu muridnya kembali bertatapan dengan beliau. “Sebenarnya dari awal kemarin, Angga sudah sakit, Pak. Saya dan Jova yang menjenguk Angga di rumah, menyarankan bersama untuk sementara Angga jangan berangkat ke sekolah karena kondisinya yang belum cukup memungkinkan. Tetapi, sahabat saya sangat keras kepala.”
Pak Harry manggut-manggut paham. “Kalau tidak salah kemarin hari Selasa, Angga izin pulang ke rumah dan kamu yang mengantarkannya, ya? Bapak kemarin diberi tahu oleh pak Sobri guru Biologi kelas kalian. Apakah betul?”
“Betul, Pak. Sepertinya Bapak waktu itu belum tahu, ya? Karena Bapak kemarin tidak datang ke sekolah karena ada suatu keperluan diluar.”
“Iya, Rey. Kalau Bapak boleh tahu, apakah kedua orangtuanya Angga tahu kalau Angga sedang sakit?”
“Tidak tahu, Pak. Sebab, orangtuanya Angga tengah berada di kota Semarang karena tugas kantor,” tanggap Reyhan jujur.
“Astaga itu sangat jauh sekali. Kira-kira jika tugas kedua orangtuanya Angga telah selesai, kapan akan kembali ke kota Jakarta, Reyhan?”
“Beberapa bulan ke depan, Pak Harry. Maka dari itu selama mama dan ayahnya Angga masih berada diluar kota, saya yang menjaga Angga termasuk disaat keadaaan kesehatan Angga turun begini. Kalaupun misalnya bertambah parah, saya yang bakal bertanggung jawab, Pak. Karena saya sudah berjanji kepada ayahnya Angga terutama dengan mamanya Angga. Seperti itu, Pak.”
__ADS_1
Pak Harry kagum dengan sifat muridnya yang terkenal populer, humoris, penghibur hati, sang komedi, bahkan penggoda adik-adik kelasnya beserta para gurunya apalagi yang wanita. Yang membuat beliau kagum kali ini adalah selain mempunyai sikap menyenangkannya, Reyhan juga siswa yang penuh rasa tanggung jawab yang besar.
“Baiklah Reyhan, terimakasih atas jawaban dan penjelasanmu tadi. Bapak menjadi mengerti sekarang. Kalau begitu, Bapak keluar dulu, ya? Nanti Pak Harry akan datang ke ruang UKS lagi.”
“Baik, Pak.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
15.30 PM
Cklek !
Sesudah bel pulang telah berbunyi dengan nyarinya bersama sorak-sorak gembira para siswa-siswi karena jam-jam yang mereka tunggu telah tiba untuk pergi pulang ke rumah masing-masing. Tak juga dengan Reyhan yang balik ke ruang UKS seraya menenteng tas punggung abu-abu miliknya.
“Lah, belum sadar juga ...?”
Reyhan melangkah usai menutup pintu dari dalam, pemuda berambut coklat itu menghampiri Angga tanpa duduk di kursi. Reyhan berhenti jalan setelah berada di samping sahabatnya yang masih saja pejam mata. “Bro, kapan lo bangun? Udah berjam-jam lo gini mulu. Ini sudah jam pulang sekolah, lho. Eh tapi masih ada sebagian siswa-siswi yang ngikutin ekstrakurikuler, sih.”
Cklek !
“Gila, ini anak satu lagi dimana sih, sebenernya? Telepon gak di angkat, chat gak dibales.”
Kepala Reyhan menoleh ke belakang saat mendengar suara gumaman kecil dari seorang perempuan di dekat pintu UKS. Mata Reyhan membulat sedikit kaget. “Jovata? Ngapain ke sini??”
Jova yang mulutnya manyun karena tak ada jawaban dari seseorang yang ia hubungi di ponselnya, kepalanya mendongak mengarah ke Reyhan yang tengah berdiri di sisi ranjang kasur Angga. “Hai, Sob! Ya mau lihat Angga, lah masa mau kemah di sini.”
Jova melangkah menghampiri kedua lelaki sahabatnya dengan wajah yang ia balikkan menjadi murung campur kesal. Reyhan yang melihat itu langsung mengernyitkan dahi. “Wajahmu napa begitu? Ini kan pulang sekolah, seneng dikit, dong.”
“Sedih aku tuh!” Jova berhenti berjalan setelah berada di sebelah sahabat friendly-nya. “Aku dari tadi nyoba telpon Freya yang gak hadir tanpa ada keterangan, ditelpon nggak di angkat, apalagi pas aku kirim chat, cuman centang satu doang. Tau gak, saking jengkelnya karena gak ada balesan, aku spam WhatsApp-nya!”
Reyhan nyengir. “Mungkin dia lagi sibuk, atau ... karena saking terbuai sama cintanya cowok goblok itu, Freya jalan sama dia sampe bela-belain nggak sekolah. Itu mungkin ya, Va. Aku gak mau Suudzon.”
Jova mendengus, lalu kepalanya menoleh ke arah Angga yang masih terbaring lemah di ranjang kasur UKS. “Kondisi Angga gimana?”
Reyhan menghembuskan napasnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. “Dia sampe sekarang masih belum sadarkan diri. Sumpah, bingung bener aku kalau Angga keadaannya masih tetep begini.”
Jova menggembungkan pipi sebelahnya dengan menciutkan kedua bahunya. Wajah cantiknya mendadak lesu, rasa pilunya terhadap Angga sekarang pula ada di hatinya. Reyhan meletakkan tas punggungnya di kursi lalu pemuda tersebut yang dipertengahan antara gundah dan emosinya, mulai mengajak Jova pergi dari ruang UKS.
Sampai di ambang pintu. Jova mengomel, “Alah, Rey! Aku mau di sini nunggu Angga sadar!”
“Udah ayo sana pulang. Inget, cewek nggak boleh pulang sore-sore, nanti diculik sama Wewe Gombel.”
“Bisa aja nakutin! Aku udah dewasa tau, bukan anak kecil lagi! Huh! Oke aku bakal pulang, tapi kalau Angga udah siuman, kabarin aku, ya?!”
“Iya-iya. Bakal aku kabarin, deh. Aku kan sahabatmu yang baik.”
“Pret!” sembur Jova.
Reyhan mendengus kesal atas tanggapan sahabat nakalnya itu. “Yaudah gih ayo kita keluar, aku juga mau pergi.”
“Lah, berarti maksudnya Angga mau kamu tinggal di sini? Kamu langsung pergi pulang, gitu??” tanya Jova butuh kepastian perkataan Reyhan.
“Ya Allah! Ya enggak, lah! Tega bener aku ninggalin Angga sendirian dengan kondisinya yang lagi lemah begitu. Aku pergi ke kelas buat ambil tas Angga, abis itu aku balik ke sini lagi nunggu Angga bangun.”
“Oalah gitu, toh. Mangkanya kalau ngomong jangan setengah-setengah, kek! Kan aku-nya jadi salah paham.”
“Iye, Neng cantik Bidadari sumur!”
“Dasar lelaki buaya darat!” Jova langsung melengos meninggalkan Reyhan yang sikapnya suka rese itu. Membuat Reyhan yang dilontarkan ucapan tersebut sungguh begitu tidak terima, karena baginya ia lelaki yang sejati.
“Enak aja ngatain aku lelaki buaya darat! Eh, mulut kalengan! Aku tuh cowok yang nggak pernah mempermainkan hati perempuan, ya!”
Jova yang sembari melangkah menjauh dari Reyhan menolehkan kepalanya dengan tangan menenteng tas punggungnya di bahu kanan. “Wilih, emangnya percaya?!”
Jova kembali menghadap depan terus berjalan meskipun dari relung hatinya tertawa karena puas mengatakan sahabatnya seperti tadi, dan dari nada tak terimanya Reyhan membuat Jova mampu cekikan. Reyhan pun yang diam memperhatikan langkah kepergian Jova mulai mengikutinya kendatipun ia akan membelok ke arah kiri untuk menaiki undakan anak tangga buat mengambilkan tas ransel hitam Angga di kelas XI IPA 2
Walaupun kondisi Angga masih dalam yang lemah, tetapi tak sedikitpun Reyhan merasa keberatan hati untuk menemaninya bahkan menjaganya. Dikarenakan lelaki friendly tersebut ada rasa tanggung jawab yang besar buat sahabatnya.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››