Indigo

Indigo
Chapter 197 | I Will Kill You!


__ADS_3

1 hari telah melewati masa Kritis, kini Reyhan tengah menyandarkan punggungnya di kepala ranjang bersama tubuh yang masih terasa lemas. Ya, memang belum sepenuhnya pulih dan ia harus beberapa hari lagi di RS Paviliun Wijaya untuk menjalani perawatan.


“Mau dipijet, kakinya?” tawar Jihan dengan nada yang penuh lemah lembut.


Reyhan membuka satu matanya untuk melirik wajah sang ibu yang senantiasa menemaninya dari pagi di kamar rawat inapnya. “Boleh, Ma.”


Jihan tersenyum lebar lalu mulai memijat-kan kedua kaki panjang lemas anaknya dengan bersama sepasang tangannya guna untuk melancarkan peredaran darah agar tak tersumbat.


“Kepalamu masih sakit, gak?” tanya Jihan seraya menatap muka pucat Reyhan.


Reyhan mengangguk pelan lalu menutup matanya untuk merilekskan tubuhnya dimana kepalanya masih terasa sakit akibat lukanya yang belum sembuh. Bahkan ia merasakan nikmat dan nyaman saat sedang dipijat oleh Jihan pakai perasaan.


“Nanti setelah makan, kamu minum obatnya, ya? Papa nanti sehabis pulang dari kantor, ke sini, kok.”


“Iya, Ma.” Jawaban Reyhan memang singkat, tapi dari nadanya jelas terdengar pasrah. Bagaimana tidak pasrah, jika dirinya harus meminum obat pil yang rasanya pahit itu? Apalagi ia tak jago dalam andal menelan obat secepat mungkin.


“Kamu gak pegal duduk begitu? Nggak rebahan saja?”


Reyhan menggeleng. “Enggak-”


Cklek !


“PAPA DATANG!!!”


Reyhan memegang dadanya yang mana jantungnya hampir anjlok dari organ tempatnya saat Farhan tiba dengan berteriak gembira seperti sifatnya sedang kembali ke masa muda antara usia 15 sampai 24 tahun.


“Astaghfirullah, Papa! Ucapin salam dulu, kek! Asal teriak-teriak gitu udah kayak orang utan saja!” omel Jihan dengan membentengi kedua telinganya.


“Ini rumah sakit, bukan hutan!” tambah istrinya Farhan lagi.


“Hehehehe! Maaf, Assalamualaikum.”


Reyhan menghela napasnya dengan senyum tipis sambil melepaskan tangannya dari dada bidangnya yang terbalut oleh baju biru pasiennya. Pandangan mata lelaki itu teralihkan ke tangan Farhan yang membawa plastik putih, tetapi Reyhan tak ingin memedulikannya apa isinya.


“Papa kenapa pulang awal? Bukannya harusnya pulangnya malem?” tanya Reyhan dengan menatap wajah tampan ayahnya.


“Ada suatu hal lain yang membuat Papa dan semua rekan kerja Papa pulang awal dari kantor. Oh, iya! Lihat, Papa belikan kamu apa!” riang Farhan sembari mengangkat kantong plastiknya.


“Nasi goreng?”


Farhan melongo saat Reyhan menjawabnya dengan yakin, karena memang benar kalau beliau membelikan putranya makanan nasi goreng.


“Lah?! Kok, kamu bisa tahu?”


“Dari baunya udah kelihatan kalau di plastik yang Papa bawa itu nasi goreng,” respon Reyhan tetap enggan mengubah posisinya.


“Penciumanmu kuat banget ternyata, ya? Sampai tahu kalau Papa belikan kamu nasi goreng. Iya! Ini nasi goreng buatmu, Papa tadi sepulang dari kantor mampir bentar ke restoran untuk beli makanan anget. Harganya juga lumayan, yang penting lezat dan halal,” oceh ujar panjang lebar Farhan dengan melangkah menuju ke ranjang pasien putranya.


Usai memberikannya, Reyhan membuka kantong plastik itu yang terasa hangat untuk mengintipnya. “Kok ... Papa beliin sampe tiga porsi segala? Reyhan seporsi sudah cukup, perut anakmu bukan sebesar sama seluas gentong.”


“Hahahaha!”


Farhan mendengus saat ditertawakan renyah oleh Jihan. “Ya, bukan buat kamu doang, Rey! Papa belikan tiga karena buat sekeluarga ini. Papa juga tahu kalau kamu makan-nya gak rakus seperti ulat kuning di kartun animasi Larva.”


“Halah, bilang saja kalau Papa gak mau kalah dari Reyhan. Lagian nama film kartun pake dibawa-bawa,” tukas Jihan.


“Oh, ulat kuning si temennya ulat merah ya, Pa?”


Jihan memukul pelan lengan tangan anak lelaki tunggalnya. “Malah kamu tanggepin!”


“Hahaha! Mantap, Rey. Tos dulu, kita!” Farhan membentangkan tangan kanannya yang telapaknya sudah terkepal duluan untuk mengajak tos pada Reyhan.


Reyhan pun dengan senyuman simpel, membalas dengan menyatukan kepalan tangannya pada kepalan tangan Farhan. Jihan yang melihat itu, menghempaskan napasnya sambil berkacak pinggang.


“Tidak anak, tidak ayah. Sama saja sikapnya! Dua belas banding dua belas, ya ampun.”


Suaminya Jihan menatap wanita paruh baya itu yang sibuk mengomel dengan mengukirkan senyuman sinis. “Kan, Reyhan anaknya Papa juga, Ma. Kenapa sih, Mama? Iri? Bilang Suhu!”


“Ha?!”


Reyhan mendengus senyum diikuti dengan gelengan kepala beberapa kali melihat kedua orangtuanya yang sangat penuh lelucon begitupun harmonis. Mungkin bersama pemandangan hangat ini, mampu meningkatkan atas dari turunnya suasana hati Reyhan.


Kini sekarang satu keluarga yang ada di dalam ruang kamar rawat inap no 144, menikmati hidangan makanan nasi hangat masing-masing dengan toping yang menggugah selera. Hingga sampai dua suapan, Reyhan menghentikan makan-nya lalu menoleh dan menatap Jihan.


“Ma, maafin Reyhan, ya? Gara-gara Reyhan kecelakaan, Mama jadi gak bisa masak buat makan malam.”


Sang ibu yang akan melahap nasi gorengnya, menurunkan sendok plastik bening miliknya lalu tersenyum lembut kepada Reyhan. “Tidak apa-apa kok, Nak. Kecelakaan itu, kan musibah. Lagipula kamu lebih penting daripada masakan.”


“Papa sudah mengerti semua tentang kronologi kecelakaan kamu waktu lima hari yang lalu. Gerald yang memang sengaja menabrakmu, kan? Soal korbanmu juga sempat ditayangkan di seluruh berita TV dan internet.”


Mata Reyhan membulat. “B-berarti namanya Reyhan kembali viral di berita, dong?! Lagi?! Gawat!”


“Tenang, Sayang. Viral sampai dua kali gak masalah, kok. Kamu malah menjadi terkenal di seluruh negara Indonesia. Benar, kan?”


“Terkenal, sih boleh, Ma. Tapi bukan berarti terkenalnya di saat Reyhan jadi korban! Apalagi sampe viral dimana-mana. Apa kabar di sosmed? Huh!” gusar racau Reyhan.


“Haha, panik banget itu muka. Justru itu kamu banyak disayang sama rakyat-rakyat. Jika kamu berani menonton berita tentang kamu bersama Angga dianiaya, banyak sekali netizen di komentar memuji kalian berdua. Sedangkan mereka yang melukaimu dan sahabatmu, dihujat habis-habisan.”


Reyhan menghembuskan napasnya dengan memejamkan matanya. “Kalau itu, Reyhan sudah baca semua komentar yang ada di kolom tersebut, Pa ...”


“Nah, bagus!”


‘Bagus apanya? Malu, iya.’


“Assalamualaikum!”


Farhan, Jihan, dan Reyhan kompak menolehkan kepalanya ke sumber suara yang mengucapkan salam. Rupanya terdapat sosok dua gadis cantik dengan tinggi seiras di daerah ambang pintu, adalah Jova dan Freya.


“Eh, kalian berdua?”


“Met afternoon, Nyuk! Wah, udah lama aku sama Freya gak jenguk kamu di rumah sakit. Gimana kabarnya? Udah mendingan?” sapa ramah Jova sambil melangkah masuk, dibuntuti oleh Freya dari belakang.


“Masih lemes. Ini sudah terlalu sore, kok malah ke sini? Entar pulang pasti malem. Anak perempuan malem-malem gak boleh keluar.”


“Gimana, sih?! Dateng-dateng sampe rela bensin motor nipis, malah langsung dikasih nasehat kayak abang!” protes Jova.


“Ya, suruh siapa bablas ke rumah sakit?” balas Reyhan.


“Heh! Maknyus banget nanyanya?! Tujuan kami datang ke sini, karena kangen sama kamu, gak boleh?! Tahu, gak? Sudah lima hari kami berdua nggak berjumpa denganmu.”


“Oh.”


“Ih, 'oh' doang?! Aku grepes juga itu jakun lehermu!” Freya mendesis setelah mendengar jawaban Jova yang ingin mengamuk pada Reyhan, dan tak segan-segan gadis lugu tersebut menyikut lengannya.


“Jangan dimarahin kayak gitu. Ingat, Reyhan masih sakit! Tujuan kamu dateng ke sini bukan untuk ngamuk sama Reyhan, kan?”


“B-bukan, sih. Habisnya itu cowok nyebelin!”


Reyhan mendengus. “Kalau aku gak nyebelin, berarti diriku bukan sahabatmu.”


“Lah? Ada benernya juga, sih ini si Reyhan Kunyuk Sutres,” kemam Jova meskipun lelaki Friendly tersebut mampu mendengar suara lirihnya.


Freya sang kekasihnya Angga, menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan wajah jengah. “Dasar kamu.”


Jova cengengesan dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal, hingga hadirlah suara nada dering telepon nang langsung memecahkan kediaman dari kamar rawat Reyhan.


“Eh, tumben nelpon? Sebentar, ya? Om mau angkat telepon dulu. Dari pak RT, nih!”


Setelah mendapatkan jawaban respon dari semuanya, Farhan mengangkat telepon tersebut dan segera menempelkan layar ponselnya di telinga.


“Assalamualaikum, Pak RT! Ada apa menelpon saya? Ada sesuatu keperluan yang membuat Bapak memanggil saya lewat telepon?”


Farhan membungkamkan mulutnya saat mendengar rentetan ucapan warga RT yang bernama pak Solikin. Hingga berselang detik kemudian, beliau membelalakkan matanya.


“Waduh! Harus sekarang ya, Pak? Tapi bagaimana? Saya dan istri sedang ada di rumah sakit untuk menjaga Reyhan anak kami yang beberapa hari lalu mengalami insiden kecelakaan. Saya tahu acara tersebut sangat penting, bahkan Bapak sampai mengundang seluruh warga komplek Kristal.”


Jova tanpa ada rasa ragu, langsung merebut ponsel yang sedang senantiasa dipegang oleh Farhan. Melihat perilaku yang mendadak itu, membuat pria paruh baya tersebut terkaget.


Jova meringis. “Biar Jova saja yang ngomong sama pak Solikin, Om!” Usai itu, gadis cantik Tomboy tersebut menempelkan layar ponsel milik ayahnya Reyhan di salah satu telinganya. “Assalamualaikum, Pak! Selamat sore, hehe. Tadi Pak RT bilang ada sebuah acara yang penting, ya? Gini saja, Pak. Saya sebagai sahabatnya Reyhan Lintang Ellvano akan menemaninya bersama sahabat saya satu lagi yang bernama Freya, jadinya om Farhan sama tante Jihan bisa pulang ke komplek Kristal untuk mengikuti acara yang Bapak selenggarakan. Bagaimana, Pak? Mumpung kami berdua sedang di dalam ruang rawat inap punyanya Reyhan.”


Mata Freya yang melebar karena memperhatikan sikapnya Jova nang barbar itu, membuat ia menghempaskan napasnya secara laun dengan sekaligus menepuk keningnya.


“Astaga, ini anak bener-bener! Dimana letak sopan santunnya sebagai cewek? Asal main serobot gitu, untung om Farhan gak sampe kena serangan jantung.”


Reyhan mengarahkan bola mata iris hazel menawannya ke arah Freya untuk meliriknya. “Sahabat kita, jangan heran.”


“Aku memang sudah gak heran lagi sama semua sikap sehari-harinya itu, tapi kadang watak ramainya Jova bikin Stress-ku kambuh.”


“Hh, gak cuman kamu doang, kok. Kalau ngeliat nyawanya yang petakilan kayak gini juga bikin Stress aku langsung kumat, gak hanya itu aja. Tapi otakku juga menggila!” ujar Reyhan dengan bersedekap di dada.


“Begitu ya, Pak? Makasih banyak, Bapak! Assalamualaikum.” Jova kemudian menyingkirkan handphone Farhan dari telinga lalu pencet tombol merah di layar untuk mematikan teleponnya pak Solikin.


Gadis berambut cokelat dengan model terurai lurus itu, menyerahkan ponsel kepada Farhan. “Nih, Om. Beres! Sekarang mendingan Tante dan Om pulang ke komplek buat mengikuti acara yang diadakan beliau, nah! Soal Reyhan biarkan Jova sama Freya yang nemenin plus jagain.”


“Wow, mantu idaman- eh?!” Jihan langsung menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.


“Mama tadi bilang apa? Mantu idaman?! Keren, Ma! Jova memang calon mantu idaman kita berdua!” timpal girang Farhan.


Reyhan yang tak bisa berkata-kata, memalingkan wajah tampannya ke arah kiri untuk menyembunyikan raut malunya yang telah dibuat oleh kedua orangtuanya sendiri. Sementara Freya nang sudah kaget, merapatkan bibirnya karena hendak tertawa.


“A-apaan, sih, Om, Tan? Lagipula Jova kurang cocok, kok kalau semisalnya menjadi mantunya Tante dan Om. Toh juga, kami berdua suka berselisih, hehehe.”


“Cocok saja,” jawab Jihan dan Farhan secara bersamaan, membuat Reyhan auto menolehkan kepalanya kencang ke arah orangtuanya dengan mata melotot.


Sepasang suami-istri itupun lalu bangkit dari kursi sofa panjang yang ada di pojok tembok putih dan mulai berpamitan kepada ketiga remaja tersebut. Bahkan sebelum pergi meninggalkan rumah sakit, sang ibu mencium kening Reyhan dengan rasa penuh kasih sayang.


Setelah mereka berdua pergi, terciptalah bak suasana kuburan di tengah malam hari. Jova diam menundukkan kepalanya, sementara pandangan Reyhan kosong. Membuat Freya yang menatap kedua sahabatnya, bingung.


“Kalian kenapa?”

__ADS_1


“Gak kenapa-napa!” sentak antara Jova dan Reyhan, membuat mereka saling berhati kesal.


“Ih, ngikutin! Pake kalimat yang lainnya, lah! Dasar orang tukang jiplak!” sembur Jova.


Reyhan mendengus sebal dengan menatap tajam Jova yang berhasil membuatnya naik darah. “Woi, tolong sedikit! Aku duluan yang jawab Freya. Kamu, kali yang tukang jiplak!”


“Stop, ayo stop ! Perkara sama kalimat, kalian ributin. Udah seperti anak TK, gak habis pikir aku dengan kamu berdua!” lerai Freya menutup perdebatan sahabat-sahabatnya yang melakukan aksi perang mulut.


Freya menghela napasnya panjang lalu melepaskan salah satu tentengan tas ranselnya dari bahu kanan untuk membuka resleting dan mengambil sesuatu yang ada di dalam. Usai merogoh kantong kecil tas di bagian paling depan, gadis cantik berambut hitam dengan poni belah sampingnya itu kembali menutup resleting.


“Reyhan, ini kartu memori HP-mu.”


Pemuda yang berjaya menetralkan emosinya, mengernyitkan jidatnya sambil menerima memory card abu-abu yang diberikan Freya.


“Kenapa bisa ada di kamu? Terus, HP aku dimana??”


“Setelah tragedi kecelakaan yang menimpa kamu, selamatnya cuma sebatas kartu memori ini doang. Kalau HP-mu udah gak bisa dipake lagi. Meskipun hanya rusak setengah, tapi kondisi HP kamu sudah mati dan gak bisa hidup kembali,” jelas Jova.


Wajah Reyhan menjadi lesu. “Oh, gitu? Kapan-kapan bisa beli lagi. Untung aja kartu memorinya gak ikut rusak kayak HP-ku. Kalau iya ... bisa hilang kenangan foto kita yang dari SMP sampe SMA ini.”


“Makasih ya, Freya? Untung kamu langsung kasih kartu memori ini ke aku,” ucap Reyhan dengan tersenyum lembut pada sahabat Nirmala-nya.


“Hei, kamu juga harus bilang makasih sama aku, ya! Karena aku yang udah lepasin kartu memorimu dari HP. Kalau enggak, keburu lost.”


“Iya ... makasih ya, Sahabatku Jova? HP gak bisa digunain lagi, nggak masalah. Yang penting kartu memoriku masih aman dan selamat, jadi kalau aku udah masang ke HP baru, foto-foto kita berempat gak akan mungkin hilang.”


Kedua sahabat perempuan cantiknya Reyhan, menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Dan kini saatnya, ia menyimpan kartu memori tersebut ke dalam laci dari meja nakas tepat sebelah ranjang pasien tempat ia beristirahat.


“Duh ... em, Rey? Di sini ada makanan, nggak? Aku laper banget. Tadi sebelum ke rumah sakit, aku gak sempet mampir makan,” keluh Jova sambil mengelus perutnya yang tiba-tiba keroncongan.


“Eee .. tadi ada, sih nasi goreng. Tapi sudah habis aku makan. Gimana? Atau kamu mau makan di kantin lantai utama? Freya ajak juga, tuh. Barangkali dia juga laper.”


“Ide bagus, sih. Ayo! Kamu sekalian ikut aja kami ke kantin.” Jova mengimbau.


Freya dengan tak segan-segan menyenggol tangan sahabatnya. “Kamu, Gila? Reyhan belum diperbolehkan keluar dari kamar rawatnya sama dokter, apalagi dia baru saja satu hari kemarin sadar dari Kritis.”


“No problem, kalian ke sana saja. Aku sendirian di sini gak apa-apa. Daripada kalian berdua terserang sakit Mag, malah bahaya.”


“Tapi ... kami tinggal kamu di sini, beneran gak masalah? Nanti kalau kamu kenapa-napa, gimana? Minta bantuan bakal susah, lho kalau aku sama Freya ke kantin.”


Reyhan menggeleng kepalanya dengan senyum tipis. “Santai, kalaupun aku memerlukan sesuatu pasti aku bisa ngelakuin sendiri, kok. Kalian pergi saja. Biar aku di dalem sini.”


“Hm, begitu? Yasudah, kalau gitu aku sama Jova ke kantin duluan, ya? Nanti kalau kamu mau apa-apa dan itu kamu kesulitan, telpon Jova atau enggak aku. Oke?”


Reyhan mengacungkan jari jempolnya bersama kepala yang manggut-manggut. Kemudian setelah itu, kedua gadis tersebut memutar langkah untuk pergi ke kantin yang patokannya terletak di lantai utama. Apalagi di situ, Reyhan merasa bahwa dirinya akan aman-aman saja.


Tapi, berselang menit selanjutnya ia menyentuh kepalanya waktu merasakan begitu pusing di sana. “Pusing banget, kepala gue. Langsung rebahan apa minum obat dulu, ya?”


Tanpa lama-lama, Reyhan memajukan pantatnya ke depan untuk segera membaringkan tubuh lemasnya di atas ranjang dan meletakkan kepalanya perlahan di bantal yang empuk tersebut. Ia mencoba memejamkan matanya sejenak, supaya rasa pusingnya sanggup mereda atau lebih baiknya menghilang.


Kini sekarang Reyhan kembali membuka matanya dimana rasa pusingnya sudah lumayan mereda setelah ia tunggu hingga 5 menit. Dan tatkala itu, kedua mata Reyhan langsung mencuat saat dirinya kedatangan dua makhluk yang berdiri tegak didekatnya.


“Elo berdua?!”


“Sendirian aja lo, Bro? Gak ada yang nemenin, kah?” tanya Rain dengan tersenyum iblis.


“Hahaha! Kejutan!! Akhirnya sekian lama setelah kami gagal bunuh lo, sekarang bertemu lagi. Kenapa itu muka? Panik, amat.”


Reyhan beralih menatap Teivel dengan kondisi mata masih melotot bersama detak jantungnya yang berpacu kencang. Kemudian pemuda berhidung mancung itu, meneguk ludahnya dengan susah payah.


“M-mau apa lo pada dateng ke sini, hah?! Pergi!!!” bentak Reyhan mengusir mereka.


Rain menertawakan kebimbangannya Reyhan sembari melipatkan kedua tangannya di dada. “Pergi? Gue gak salah denger? Kami sudah berhasil masuk ke sini dan akan menghabisi lo, jadi ... ayo kita bermain.”


Rain mengangkat kedua tangannya setinggi-tingginya yang mana telapak itu sudah terkepal kuat, lalu menurunkannya kencang untuk memukul keras dada Reyhan.


“Sialan!” umpat Reyhan lalu cepat mengelak bersama cara menggulingkan tubuhnya ke samping kiri hingga dirinya berakhir terperosok ke lantai dengan hebat.


BRUGH !!


“Argh!”


Sudah terjatuh di lantai, tercabut pula jarum infusnya dari tangan. Reyhan mengerang sedikit, kemudian gegas menyingkap selimut tebalnya saat ular kepala dua itu melangkah menghampirinya dengan senyuman ganasnya.


“Haha, lo mau kemana? Elo sudah gak bisa lagi kabur dari kami. Nyawa lo harus tamat hari ini!” buras Teivel.


“Gue gak ada salah apapun dengan kalian, Bajingan!!!” sungut Reyhan seraya melangkah mundur menghindari setiap mereka berdua berjalan memarani ia.


“Kalau Gerald mati, bukan berarti kalian seenak jidat melampiaskan semua itu ke gue! Dasar orang Sakit Jiwa!!!” Bukannya mengunci suara, Reyhan malah justru menantang ancaman dari Teivel dan Rain, walau kakinya tetap ia gunakan untuk menghindari.


“Hoooo, lu nantangin? Lo kagak tahu seberapa aksi kami akan nge-habisin nyawa lo sampe melayang?! Sangat disayangkan, gak ada satupun orang yang bakal nolongin elo,” ujar Rain.


Raga Reyhan menegang waktu punggungnya telah menabrak dinding tembok yang ada di pelosok ruangan. Matanya terus tetap satu pandangan, yaitu mereka berdua yang tetap bersikukuh mendekatinya walau tak ada satupun dari mereka yang membawa senjata tajam.


“Gue bukan bagian dari urusan kalian, jadi sekarang gue minta kalian pergi dari sini!”


Namun tanpa Reyhan sadari, tangan sebelahnya Teivel mencengkram kerah bajunya lalu mengangkatnya ke atas hingga tubuhnya terpelanting kencang ke depan dan mendarat dahsyat di lantai dingin.


BRUGH !!!


“Eeeeeeeeeerrgh!”


Reyhan memejamkan matanya erat dengan tertatih-tatih pada sekujur tubuhnya yang begitu terasa sakit, bahkan dirinya sampai mengerang. Baru saja akan bangkit, kerah baju pasien bagian belakangnya ditarik paksa oleh Rain membuat Reyhan tak ayal meronta-ronta.


“Argh, lepasin gue!”


Tanpa ingin melepaskan sesuai permintaannya Reyhan, dengan tenaga raksasa, Rain mengangkat tubuh lemas lelaki tersebut dan melemparkannya asal hingga menghantam tembok sampai mengeluarkan suara debuk dengan kuat.


“A-akh!” Reyhan memegang kepalanya waktu berhasil membentur dinding dengan sangat keras, pusing ini bertambah jauh lebih akibat perilaku Rain yang memainkan fisiknya.


“Sakit? Rasain! Suruh siapa sok jago?” Teivel kemudian kembali tertawa dengan rasa kemenangan saat temannya berhasil menyakiti Reyhan.


“Brengsek, hentikan!!!” geram Reyhan dengan tetap memegang kepalanya sambil memejamkan matanya rapat.


Bukannya menghentikan aksi tersebut, Rain malah justru membelenggu leher Reyhan dengan sempurna lalu menariknya ke atas hingga membuat tubuh korbannya berdiri secara paksa.


“Coba, lo bisa apa sekarang? Melawan? Menyerang? Atau ... mengusir gue dan Teivel? Tangan gue akan terus bekerja di luar leher lo sampai diri elo bener-bener kehabisan nafas!”


Rahang Reyhan semakin mengeras dimana Rain lebih memperkuat cekikan dari tangannya untuk leher dirinya. Berselang detik kemudian, wajah putih Reyhan memerah dikarenakan ia tak mampu meraup udara oksigen, sedangkan alat saluran pernapasannya tercekat.


Kini lelaki berambut semir merah itu, mengangkat tangannya ke atas dengan tenaga maksimalnya, hingga sampai berjaya membuat kedua kaki Reyhan tak menapak di lantai, alias mengambang di udara.


“Uhuk! Uhuk! T-tolong ...” lemah Reyhan dimana kurang sedetik lagi, ia akan kehilangan semua nafasnya di tubuh.


Ingin rasanya nyawa Reyhan terbang dari raga, sklera mata yang awalnya berwarna putih kini berubah menjadi warna merah akibat cekikan tersebut sangatlah amat kuat. Ia tak bisa bernapas dengan baik, dada sesak, napas terasa terputus-putus. Bahkan bibirnya bertambah kering nan pucat.


“Lo memang lemah seperti Angga!” pungkas Rain lalu menjatuhkan tubuh Reyhan begitu saja di lantai.


“Cowok gak tahu harga diri!” Teivel mengumpat dengan menendang perut Reyhan, walau lelaki Friendly itu tak mengeluarkan kata-kata lagi, hanya sisa rintihannya saja.


“Huk! Uhuk!” Tubuh Reyhan menggeliat yang mana ia merasakan perutnya bergejolak dan ingin mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.


“Sakit ...” Suara lirih yang keluar dari mulut Reyhan, mendatangkan keranuman yang mana kemudian tangannya terkulai lemas di lantai dari atas perutnya.


Melihat tubuh Reyhan yang sudah tak ada pergerakan apapun di sana, membuat Rain maju selangkah dan kedua jari antara telunjuk serta tengahnya mulai menekan denyut nadi leher pemuda tampan tersebut.


Setelah mengecek denyut nadi milik Reyhan, Rain menarik tangannya. “Ayo, cepet cabut! Keburu ada yang masuk sama lihat kita!”


Mereka yang mempunyai warna rambut berbeda dan terlihat mencolok, segera membuka pintu kamar rawat inap Reyhan untuk bergegas kabur dari ruangan itu, sebelum perilaku aksi mereka dipergoki oleh penjenguk.


Namun berselang menit kemudian, mata Reyhan yang tertutup damai, terbuka cepat dimana di situ menampilkan tatapan nang kosong.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Teivel bersama Rain tengah berjalan santai dengan seolah tanpa memiliki kesalahan yang telah mereka berdua perbuat pada salah satu pasien di dalam kamar rawat inap no. 114


“Kalian telah menjadi bagian dari urusanku, tataplah diriku!”


Rain dan Teivel saling menghentikan langkah, lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Kedua pemuda itu dibuat terkejut oleh kehadiran Reyhan yang berjalan mendekatinya dengan sorot mata nang sangat jauh berbeda, apalagi di tangan kirinya menggenggam sebuah gunting besar.


“Lo, mau n-ngapain?! Jatuhin gunting itu sekarang juga, atau gue gak segan-segan giring lo ke atas rooftop buat gue jatuhin elo ke bawah!”


Reyhan tersenyum menyeringai lalu tertawa, bermaksud meremehkan diri Rain. “Memangnya dengan kamu mengintimidasi-ku, semua langsung menjadi ada artinya untukku? Jangan bermimpi!”


Teivel menarik tangan Rain dengan memperlihatkan muka takutnya. “Cuy, kenapa gue rasa dia bukan Reyhan, ya? Dari bahasanya juga udah beda banget. Gak mungkin kalau dia reinkarnasi.”


Reyhan yang mendengar itu, semakin menambahkan sunggingan bibir miringnya seraya teleng-kan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu mempererat genggamannya pada benda membahayakan kulit tersebut.


“Mari kita bermain dengan seronok dibawah langit malam ini, pasti akan terasa menyenangkan.”


Mereka berdua menelan salivanya dengan kasar, membuat Reyhan yang merasakan ketakutan nang ada di ekspresi antara Rain dan Teivel, menaikkan satu alis tebalnya bersama masih tersenyum menyeringai.


“Kalian takut menghadapiku? Ayolah, kita hanya bermain-main saja. Nikmatilah hasil yang akan terjadi pada kalian semua, hahaha!”


Dari auranya saja sudah membuat kedua pemuda bengis tersebut merinding, bahkan kini sekarang Teivel menepuk-nepuk pundak Rain untuk mengajaknya berlari segera dari seorang pasien yang memiliki postur tubuh jangkung itu.


“Kalian memintaku untuk mengejar diri kalian? Baiklah!” Reyhan dengan tertawa yang tak seperti biasanya, mengejar kencang Rain dan Teivel.


Di depan sana, mereka berdua terlihat tengah berlari dengan sangat tergopoh-gopoh. Mungkin mereka tidak akan se-takut ini kepada Reyhan, kalau lelaki Friendly tersebut tak membawa senjata tajam di tangannya.


Kehadiran Reyhan membuat suasana hawa lorong lantai 4 menjadi terasa dingin dan mencekam, terlebih lorong itu begitu sepi. Sepertinya pemuda tersebut tak akan bisa menggapai dua makhluk titisan setan itu karena mereka telah memasuki lift.


Pintu lift tertutup otomatis, sedangkan Reyhan berhenti di depan lift. Rain begitupun Teivel di dalam, merasa terselamatkan dan aman dikarenakan Reyhan akan kesulitan menemukan keberadaan mereka.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Pintu lift terbuka, dan terlihat mereka berdua tiba di lantai utama. Sebelum melanjutkan langkah untuk keluar, mereka memutuskan melihat situasi dan memastikan jika Reyhan tidak ada di sekitarnya.


“Mana mungkin cowok itu berhasil nemuin kita berdua? Tapi, kenapa dia tiba-tiba langsung bangkit begitu. Bukannya gue sudah membuat dia gak berdaya?” tanya Rain.

__ADS_1


“Udahlah! Mending kita sekarang pulang aja, sebelum Reyhan berhasil menemukan kita berdua. Bisa habis, kita dikeroyok!”


Rain berdecih sinis lalu menatap Teivel yang sedang mengatur napas. “Lo takut?”


“Anjir! Pertanyaan lo bego banget, sih?! Lo kagak sadar kalau dari sorot matanya Reyhan jauh berbeda?! Bahkan dari auranya bikin gue merinding asli!” sentak Teivel.


“Ck! Gak peduli-”


Cap !


Cap !


Teivel dan Rain saling memekik kesakitan waktu ada benda tajam yang menusuk punggung mereka secara bergiliran. Dengan rintihan yang keluar dari mulut, para pemuda itu memutar tubuhnya ke belakang dalam posisi tangan menyeka luka.


“Hai.”


Jantung mereka berdua seakan ingin berhenti waktu ada Reyhan yang menyapa dengan menggenggam gunting besar nang ujungnya telah berlumuran darah. Sialnya saat ingin melarikan diri dari sosok Reyhan, kaki Rain maupun Teivel terpaku.


“Kalian ingin lari kemana lagi? Jika aku hitung dari sekarang ... Sebentar lagi maut akan menjemput kalian berdua.”


“B-berhenti untuk mencoba mengancam kami, Brengsek!” umpat Rain dengan menuding Reyhan.


“Aku sedang tidak mencoba mengancam, tetapi memang kurang sedikit lagi kalian akan mati di tanganku. Bersiaplah untuk meluncur ke api Neraka, huahahahaha!!!”


Wajah Reyhan yang ceria namun membuat bergidik ngeri, berubah menjadi dingin. Bahkan ia menggerakkan kakinya untuk melangkah maju ke mereka berdua yang masih tetap diam membeku.


“Gak! Gak, kita harus kabur!!” Teivel langsung menarik kasar tangan Rain untuk mengajaknya lari bersama.


Di sisi lain, Freya dan Jova sedang melangkah setelah menuntaskan rasa laparnya di kantin. Ya, mereka akan menuju ke lift untuk segera kembali ke kamar rawat sahabat lelakinya. Tetapi langkah dari kedua gadis cantik berbadan tinggi itu seketika langsung terhenti saat melihat beberapa pemuda berusia 17 tahun sedang saling berlari.


Namun fokus antara Jova dan Freya, ke salah satu pemuda yang lari di barisan paling belakang sendiri. Mereka dibuat terkejut pada Reyhan yang menggenggam gunting nang berdarah-darah.


“Reyhan?!” kompak mereka berdua.


Dengan cepat saat Reyhan melintasi gadis-gadis itu, Jova menahan lengan tangan kanan sahabat lelakinya, membuat pemuda tersebut terpaksa menghentikan langkahnya dengan perasaan yang merasa terganggu.


“Lepaskan aku!” bentak Reyhan, membuat Jova tersentak.


“Kamu mau kemana, sih?! Sama ... Itu di tanganmu, apa?! Kamu ngapain bawa gunting yang udah berdarah gitu. Kamu mau ngelakuin apa, Rey?!”


“Kamu menggangguku, hal ini juga bukan urusanmu!”


Freya memang diam, tetapi memperhatikan sorot tatapan mata Reyhan yang seolah jiwanya bukan sahabatnya. Melainkan sosok lain nang berada di dalam raganya.


“Ku mohon keluar dari tubuh sahabatku,” pinta Freya yang sangat peka.


Jova menolehkan kepalanya ke arah Freya dengan kondisi mata membelalak sempurna. “Maksudmu?!”


“Dia bukan Reyhan, melainkan sesosok yang sedang menggunakan raga sahabat kita.” Freya menjelaskan.


“Aku tidak akan keluar dari tubuh lelaki ini, sebelum urusanku selesai untuk menyelesaikan mereka berdua! Biarkan aku pergi, atau dirimu yang akan ku bunuh di sini?!”


Freya dengan cepat, menarik genggaman tangan Jova dari lengan Reyhan. “Tapi tolong jangan bunuh mereka ...”


“Aku tidak peduli.”


Sementara Rain dan Teivel yang telah di luar bangunan rumah sakit yakni adalah tempat parkiran, terhenti berlari waktu mereka merasakan lemas di sekujur tubuh. Bagaimana tidak lemas? Sedangkan darah dari luka punggung tersebut terus mengalir deras, disebabkan memang tadi Reyhan menghujam tusukan gunting itu begitu dalam.


Tatapan aneh dan terkejut dari para pengunjung yang berada di luar ruang IGD, membuat Teivel dan Rain merasa tidak nyaman. Pada akhirnya mereka memilih melanjutkan langkahnya dengan mempercepat meninggalkan parkiran luas dari RS Paviliun Wijaya.


“Eh, Ya Allah! Mas! Itu kenapa punggungnya bisa luka sampe berdarah kayak gitu?!” kejut satpam rumah sakit yang sedang akan menuju ke pos.


Mereka berdua hanya bungkam dan sangat enggan untuk menjawab satpam yang mengenakan seragam antara warna hitam dan putih itu. Bahkan satpam tersebut dibuat kaget lagi waktu melihat ada seseorang yang melewatinya beliau.


“Kerja bagus! Akhirnya kalian tiba di wilayah ini juga.”


Rangkulan dari seseorang dengan suara yang amat familiar tersebut, membuat raga Rain serta Teivel menegang hebat. Matanya mencuat. Apalagi Teivel sampai meneguk ludahnya saat menatap gunting yang dipegang oleh sosok di belakangnya.


Seseorang yang tidak bukan Reyhan itu, langsung membalikkan kasar tubuh mereka berdua dengan lemparan tatapan tajamnya nang menusuk.


“Tidak sia-sia aku mengejar kalian, ternyata kalian juga peka apa maksudku. Dengan kalian menginjak tempat ini, itu akan memudahkanku untuk membunuh kalian berdua.”


“Jangan!! Tolong jangan bunuh gue!” teriak Rain membuat ia menjadi banyak pusat perhatian para orang yang ada di sekitarnya.


“Kata itu, sudah tidak ada gunanya lagi untuk aku dengar. Kalian sudah terlambat, tak ada kata ampun yang membuatku menghentikan aksiku!”


“Eh! Itu di depan ada apa?! Kok dua anak cowok itu kayak ketakutan gitu, ya?!”


“Duh, ada apa sebenarnya?!”


“Anak muda yang lagi pegang gunting itu juga seperti ingin membunuh mereka berdua. Dia ingin melakukan tindakan kriminal?!”


“Apakah sebaiknya kita semua menghampiri tiga laki-laki itu dan menghentikan perbuatannya dia jika memang hendak membunuh jiwa?”


“Ya ampun! Tapi bahaya, dari mukanya saja dia kayak lagi marah besar. Kita akan menjadi terkena lampiasannya.”


“Langsung hubungi polisi saja kalau begitu!”


“Jangan dulu! Kita tidak tahu kebenaran yang asli, bagaimana kalau rupanya dia tidak membunuh mereka? Bisa saja hanya main prank.”


“Main prank gimana sih, Bu?!”


Di daerah seberang pinggir jalan sana, Reyhan tertawa menggelegar hingga membuat Rain dan Teivel seakan terkena hipnotis darinya. Kini Reyhan melirik sebuah mobil besar yaitu truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi, ini adalah momen spesial untuk melenyapkan mereka dari dunia dibawah langit malam.


Teivel begitupun Rain yang paham dari lirikan Reyhan, menggelengkan kepalanya dimana mereka tahu bahwa nyawa mereka sekarang ada diujung jalan. Kemudian lelaki Friendly tersebut dengan cekatan, mencengkram kerah jaket mereka tanpa menjatuhkan guntingnya.


“KALIAN HARUS MATI!!!”


Reyhan dengan tenaga non lazimnya, mendorong tubuh Rain dan Teivel ke depan tanpa ada rasa belas kasih sama sekali, dimana truk tersebut sedang melaju ke arahnya mereka.


DUAGKH !!!


CRAT !!!


Semua yang melihat tragedi mengerikan itu, berteriak histeris karena tubuh kedua lelaki tersebut terlindas hingga darahnya muncrat dimana-mana, bahkan sampai mengenai pakaian Reyhan dan wajah tampan sadisnya sekaligus. Beberapa anak yang masih dibawah umur, dihalangi penglihatannya saat otak dari kepala antara Rain dan Teivel menyembul keluar, sisa-sisa daging organ dari tubuhnya yang remuk juga berkecambah dan berceceran di jalan aspal tepat depan mobil truk.


Hingga detik kemudian, mata Reyhan perlahan terpejam dan raganya ambruk ke belakang. Tapi beruntungnya, ada seorang pria paruh baya yang langsung sigap menangkap badan lemas lelaki tampan itu. Siapa lagi kalau tidak Farhan?


“Reyhan!” Farhan langsung panik saat mengetahui bahwa putranya hilang akan kesadarannya.


Bahkan beliau membawa Reyhan berbaring terlentang di pangkuannya. Farhan mulai mengelap singkat darah dari wajah pucat putra miliknya lalu menepuk-nepuk pipi Reyhan.


“Reyhan, bangunlah! Astaga, bagaimana ini?! Aku harus apa?!” panik Farhan melihat anaknya tak merespon panggilannya.


Jihan yang ada di pinggir jalan dan posisinya sedang duduk tegang di kursi mobil, segera bergegas keluar dari kendaraan roda empat tersebut lalu berlari menghampiri suami dan anaknya.


“Naaaaaaaak!”


Jihan menjatuhkan keras para lutut kakinya lalu menatap mata Reyhan yang terpejam bersama lumuran darah nang ada di wajahnya. Jihan mulai mengeluarkan air matanya karena dari tadi hatinya telah diserang kepanikan waktu menonton adegan berdarah.


“Reyhan, Sayang?! Ayo sadarlah, Nak!” pekik Jihan lalu mencium kening putranya dengan derai air matanya.


Sementara Jova dan Freya berlari kencang bersama beberapa dokter dan beberapa perawat yang mendorong kasur roda dari ruang IGD untuk Reyhan yang terbaring lemah di atas kedua paha kaki sang ayah dengan sang ibu di sampingnya.


Bahkan Reyhan nyaris dikepung banyak orang saat telah mengetahui dirinya tumbang pingsan di tepi jalan raya. Kini setelah tiba di tujuan, tubuh pemuda tak bersalah apapun tersebut, diangkat perlahan lalu dibaringkan ke atas kasur roda.


“Aaaaaa!” Freya berteriak karena baru sadar ada para korban terlindas sebuah mobil truk dan kondisinya sangat mengenaskan yang mana organ-organ dagingnya berserakan di aspal.


Jova yang tersentak saat mendengar sahabat pekanya menjerit, langsung memeluknya dan menghindari penglihatan matanya dari pandangan itu.


“Jangan dilihat! Jangan dilihat!” instruksi Jova tetap mendekap erat tubuh mungilnya Freya.


“Va, aku takut!! Kecelakaannya ngeri banget!”


“Iya-iya, aku tahu. Mendingan kita nyusul Reyhan saja, ya ke dalem rumah sakit? Biarkan mereka dievakuasi sama polisi yang akan datang ke tempat lokasi kejadian. Yuk.” Jova kemudian memutarkan tubuh Freya dan menggiringnya menuju ke dalam rumah sakit.


Sedangkan Reyhan dimasukkan sejenak ke dalam ruang IGD untuk dibasuh wajahnya yang terkena muncratan darah dari para korban nang terlindas musnah oleh mobil truk, begitupun baju pasiennya yang terdapat bercak-bercak darah juga harus diganti dengan yang baru.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Kedua gadis cantik antara pemilik rambut hitam legam dan cokelat bersemu terang itu, menatap nanar Reyhan yang sedang dipasang alat bantu napas yakni masker oksigen oleh dokter pria nang telah memeriksanya dengan telaten. Sementara telapak tangan bagian kiri Reyhan sudah ditancap jarum infus dengan perawat.


“Dok, apa yang terjadi dengan anak putra saya?” tanya Farhan bersama nada cemas.


Dokter tersebut yang telah memasang masker oksigen itu di wajah pucat Reyhan, menatap salah satu keluarga dari pasien yang beliau tangani.


“Kadar oksigennya sangat turun, Pak. Akibat dari semua itu yang terjadi, disebabkan Reyhan kekurangan banyak oksigen di tubuh. Dan di bagian lehernya yang merah ini, sudah dipastikan bekas dari cekikan yang membuat anak Bapak dan Ibu kesulitan untuk bernafas pada sebelumnya.”


Jihan yang ada di samping kanan ranjang pasien milik anaknya, meneguk salivanya. “Ada seseorang yang mencelakai Reyhan, Dokter?”


“Jika itu saya kurang tahu, Bu. Tetapi yang jelas Reyhan nyaris saja kehilangan semua nafas dari dalam tubuhnya. Namun, kalian tenang saja. Dengan bantuan alat yang terpasang di wajah Reyhan, itu akan membantu menaikkan jumlah kadar oksigennya, dan secepatnya Reyhan bisa kembali siuman.”


“Oh, terimakasih banyak atas penjelasan yang melegakan ini, Dok!” ucap Jihan sambil membungkukkan badannya dihadapan dokter.


“Iya, sama-sama, Bu. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ya? Reyhan akan baik-baik saja.”


“Baik, Dokter.”


Beliau tersenyum ramah pada mereka yang meresponnya secara kompak, setelah itu sang dokter bersama para perawat berpamitan dan meninggalkan ruang kamar rawat no. 114


Usai satu perawat menutup pintu dari luar, seperti Freya, Jova, Jihan, dan Farhan mengalihkan pandangannya ke arah muka pucat Reyhan yang terpasang masker oksigen untuk meningkatkan kadar oksigennya yang amat turun.


Jova menyentuh atas telapak tangan putih kanan milik Reyhan dengan agak memanyunkan bibir, sementara Freya dengan gerakan lembut, mengelus lengan tangan sahabat lelakinya. Raut mereka berdua yang tertampil, terlihat sedih. Walau ada hati leganya bahwa keadaan lelaki itu akan baik-baik saja sesuai apa yang dokter ungkapkan.


Di luar RS Paviliun Wijaya tepatnya di jalan raya, ramai banyak mobil polisi yang telah berdatangan. Bahkan banyak para orang nang ingin membantu untuk mengevakuasi Rain dan Teivel yang sudah menjadi korban tewas dari kecelakaan mengerikan. Apalagi sang supir truk ikut turun dan ambil tanggung jawab usai tidak sengaja menabrak kedua anak remaja yang usianya masih menginjak 17 tahun.


Banyak yang rela bergotong royong untuk memunguti semua organ daging nang berceceran menjijikkan itu di jalan aspal. Bahkan ada beberapa orang di kota itu, berbalik badan buat mengalihkan pandangannya saking tidak kuat melihat kemalangan tersebut yang terjadi di malam ini.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2