
Hari dimana sekarang masuk ke hari senin, Reyhan nampak terlihat lumayan bugar daripada sebelumnya terlihat lemas. Baru saja sampai di mading gedung sekolah Reyhan mendapatkan salam rindu dari adik-adik kelasnya. Ibaratnya Reyhan yang seperti Selebriti, mereka begitu hura-hura bertemu pemuda ramah tampan ini.
"Kak Reyhan! Ih ya ampun, udah lama gak ketemu Kakak! Empat hari nggak ada Kakak di sekolah, rasanya hampa banget," ungkap salah satu siswi kelas X.
"Hehehehe, gitu ya Dek? Maaf deh kalau begitu. Minggu lalu kan Kakak sakit, makanya lama gak hadir di sekolah," tanggap Reyhan ramah.
"Ouh gitu ya. Tapi ngomong-ngomong Kak Reyhan sudah sehat?"
Bola mata Reyhan beralih menatap satu siswi lainnya yang bangku kelas X. "Alhamdulillah, udah sehat kok. Kalian bertiga yang di sini harus jaga kesehatan ya, cuaca hari bulan ini emang gak tau kenapa sedang memasuki musim sakit."
"Siap Kak Reyhan!!" serempak semangat ketiga siswi kelas X dengan senyum lebar, sedangkan Reyhan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya bagian atas.
"Sip, yaudah kalau begitu Kakak jalan masuk ke kelas dulu ya. Nanti pas upacara atau istirahat ketemu lagi kok. Bye-bye adik unyuk-unyuk Sayang, I love you all."
Reyhan memberikan simbol hati dengan sesama kedua tangannya, pemuda itu menggodanya juga bersama kedipan satu matanya membuat siswi-siswi kelas X itu terpana-pana pada Reyhan.
Reyhan mengangkat kedua tangannya ke atas lalu melambai-lambaikan pada siswi-siswi tersebut bermaksud 'sampai jumpa'. Reyhan kembali melangkah menelusuri koridor sekolah hingga ia tiba-tiba punggungnya di colek oleh seseorang.
"Pagi-pagi udah godain adik kelas. Muka pas-pasan aja bangga," sewot gadis yang ber-tas pundak dengan posisi tangannya melipat di dada.
"Anjir, Sableng! Tumben berangkat jam segini?"
"Bangunin Nova dulu, sampe ujung-ujungnya aku siram pake air dari dalem ciduk. Parah sih, anak SMP kelas delapan kesiangan!"
"Kasian banget di siram air. Ckckck dasar gak berperikemanusiaan banget dah, adik itu harusnya di sayang-sayang, atau perlu dipeluk-peluk biar lengket kayak magnet."
"Idih, sepanjang umurku sampai sekarang nih ya .. gak pernah tuh aku peluk adikku sendiri, boro-boro aku peluk, dipeluk adiknya sendiri aja gak pernah."
"Hahahahahaha! Kasiman!"
"Wanjir ini bocah! Bukannya dikasihani malah diketawain, emang ya kalau sahabat laknat itu contohnya begini!"
"JOVATA ZEA FELCIA!!"
"Wleeeeeekkk!!" Jova menjulurkan lidahnya kesenangan bermaksud meledek Reyhan yang berjalan menuju ke kelas beriringan bersama.
Jova malah selanjutnya lari kabur dari Reyhan agar Reyhan tak dapat membalas Jova dengan apapun. Reyhan bersama geram langsung mengejar Jova yang berlari marathon dari sahabat resenya, Jova lari dengan tertawa ria sementara Reyhan menekuk wajahnya cemberut pada ulahnya Jova gadis tomboy.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Reyhan yang meletakkan tas punggungnya di kursi bangkunya, menatap sinis Jova sementara itu Jova tersenyum meledek sahabatnya tersebut.
"Apa lihat-lihat?!" kesal Reyhan.
"Ya apa??!!" damprat Jova menaikkan satu oktaf nada tingginya.
Reyhan mendengus lalu segera duduk di bangkunya dengan tampang muka masih ditekuk. Freya meringis mendengar suara antara Jova dan Reyhan yang akan berdebat kembali. Freya langsung bangkit dari bangkunya mencoba menengahi mereka berdua.
"Kenapa? Nggak terima aku bilang kamu sahabat laknat? Lho, itu kan sesuai fakta."
"Ya jelas gak terima lah! Mana ada aku sahabat laknat, sahabatmu yang begini dibilang laknat! Heh, tolong dikondisikan itu mulut ya Neng ... daripada aku ulek pake sambel setan!!"
"Oh ya? Siapa takut!!"
Sudah terjadi tragedi perdebatan seru antara Jova dan Reyhan kembali, tatapan mereka sungguh-sungguh sinis dan tajam. Reyhan mendengus penuh sebal, Jova menggertakkan giginya kuat dengan mengepalkan telapak tangannya di dekat wajahnya.
"Eh aduh! Kalian ini ya, jangan ribut-ribut dong! Masih pagi harusnya kalian berdua tenang. Ketemu pasti langsung perang mulut, apa nggak letih mulut kalian berdua?" lerai Freya.
"Orang dia dulu yang mulai!"
Reyhan dan Jova saling menunjuk yang mana Reyhan menunjuk diri Jova dan Jova menunjuk diri Reyhan. Freya menepuk keningnya dengan menggelengkan kepalanya pelan, jika ada Angga di kelas pastinya perdebatan itu akan terselesaikan dengan singkat.
"Huh, Rey .. kamu sudah sehat kah? Bener-bener udah nggak sakit?" tanya Freya mengganti topik baru.
"Aku udah sehat kok. Nih coba lihat, mukaku udah nggak pucet kan dibanding yang minggu lalu?"
Reyhan menunjuk mukanya sendiri dan dibalas Freya dengan angguk-angguk kecil." Syukur deh, akhirnya kamu sembuh juga. Oh iya Rey, ehm berhubung bu Sonya .. kamu sudah mengerjakan PR-PR dan catatan dari beliau, kah?"
"Ooohh, tenang Frey .. udah aku kerjain semuanya kok! Hampir aja aku begadang gara-gara itu tugas, tapi meskipun aku gak hadir aku tetep melaksanakan PR dari bu Sonya hehehehehe."
"Wah, anak rajin lo Rey." Tiba-tiba Jevran menghampiri Reyhan yang telah mengeluarkan buku tugas Kimia-nya dan diperlihatkan kepada Freya.
Reyhan menoleh ke Jevran kemudian tersenyum. "Makasih Bro, berkat lo gue gak bakal di hukum keluar kelas sama bu Sonya nanti."
Jevran menutup matanya, memajukan bawah bibirnya serta mengacungkan jari jempol tangannya kemudian menganggukkan kepala. Joshua yang menutup buku paket Kimia-nya untuk belajar, kini beranjak dari kursi bangkunya lalu menghampiri Reyhan yang berada di kursi bangku barisan ketiga.
"Reyhan, hari ini lo sanggup ikut upacara habis ini??" tanya Joshua selaku ketua kelas.
Reyhan mendongakkan kepalanya untuk menatap Joshua yang ada di sebelahnya. "Eh Pak ketua kelas, pastinya kok. Gak usah khawatir, gue udah sehat bugar kok."
"Mantap, berarti bisa ikut upacara ya hari ini. Tapi cuaca pagi ini gak mendukung buat kita kumpul ke lapangan laksanakan upacara, ya?"
"Gue masuk lobby tadi, emang udah mendung sih .. kayaknya bentar lagi turun hujan deh," ujar Aji tiba-tiba nongol di belakangnya Reyhan.
"Masyaallah Gusti! Heh, anjir lo Ajinomoto! Ngagetin aja hobinya! Kaget gue cuy!" reflek Reyhan memukul bahu Aji.
"Hehehehe! Sorry, eh ngemeng-ngemeng lo gimana? Udah sehat, Bro? Atau tambah parah sakitnya??"
"Lo punya mata kan? Mata gunanya buat apa? Ngelihat kan? Nalarnya dimana coba, gue sehat begini dibilang sakit parah."
"Gue kan gak bilang gitu, Rey."
"Tapi intinya kan, sama anjir! Lagian, kalau sakit gue parah .. mesti gue masuk rumah sakit, lah."
"Eeee, lah kan kemarin elo masuk-"
DUGH !
"Akh! Apaan sih Rey, sakit tau lo tendang! Lo pikir kaki gue ini bola futsal, apa?!" protes Jevran dengan menggerakkan kakinya yang ditendang keras oleh Reyhan.
Reyhan menatap tajam Jevran memberikan kode-kode agar Jevran tak melanjutkan ucapannya. Freya menggaruk tengkuknya tak mengerti apa arti dari tatapan tajam Reyhan untuk Jevran tersebut, sedangkan Jova memicingkan matanya menyelidiki apa yang disembunyikan dengan Reyhan. Namun Jova tak dapat menemukan apa yang disembunyikan oleh sahabatnya itu, Jova yang mencoba menerawang seperti Angga tentunya mustahil itu tidak mungkin.
"Hmmmm ... eh woi Rey, tadi gue sempet liat lo sama Jova kejar-kejaran kayak film India yak, hahahaha cocok tuh kalau jadi pasangan serasi, R dan J."
"Apaan tuh??" tanya kompak Reyhan serta Jova tak mengerti.
"Reyhan dan Jovata hahahaha!"
Gelak tawa Aji semakin seru membuat Reyhan dan Jova sangat sebal pada Aji, kedua sahabat sejoli tersebut ancang-ancang melempar topi upacara mereka masing-masing kemudian mereka tepat-kan sasaran pada mukanya si Aji Rivaldi Valentino.
TUAKH !!
"Argh muka ganteng tinggi dewa gue!! Ssshhh, apaan sih lo pada ah! Nanti kalau muka gue gak membentuk lagi gimana?! Kalian dua mau tanggung jawab?!"
"I don't care, sorry Bro hahahaha!"
Freya terkekeh pada suara bersamaan antara Jova dan Reyhan menanggapi ucapan Aji yang menanyainya dengan nada tinggi. Hampir sekelas tertawa pada respon satu gadis tomboy ini nan pemuda friendly ini.
KRIIIIIIIIIINGG !!!
Reyhan dan Jova mengambil topi upacaranya yang ada di tangannya Aji masing-masing. Namun ada satu siswa yang berlari tergesa-gesa ke dalam kelas. Ya, itu adalah Kenzo yang baru saja datang dan kini ia harus cepat-cepat mengambil topi upacaranya usai meletakkan tas punggungnya di kursi bangku.
Reyhan yang sudah keluar kelas sementara yang lainnya termasuk kedua perempuan sahabatnya telah jauh di depannya, Reyhan berlari kecil ke dalam kelas menghampiri Kenzo yang tergesa-gesa. Tangan Reyhan menarik perlahan Kenzo untuk membawa teman broken home-nya keluar kelas menuju ke lapangan upacara.
"Ayo Bro, cepetan nanti kita ketinggalan!" ajak Reyhan semangat pada Kenzo.
Kenzo mengenakan topinya di kepala sementara tangan kiri Reyhan merangkul tengkuk Kenzo dengan rasa pertemanan ramahnya. Dua pemuda itu segera cepat-cepat pergi ke lapangan yang cuaca langit tak mendukungnya alias mendung, dan sebelum pergi, Kenzo menutup pintu kelas XI IPA barulah bergegas berlari menyusul teman-teman lainnya yang berada di depannya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di pertengahan mengheningkan cipta pada melaksanakan kegiatan upacara di lapangan tertentu, semua murid dan para guru tak ada yang bersuara sama sekali mereka melaksanakan kegiatan tersebut bahkan mengikutinya dengan baik dan menuruti peraturan yang ada.
Angin berhembusan kencang meniup rambut para siswa dan siswi bahkan guru-guru mereka. Reyhan yang tengah menunduk melihat ujung jas almamaternya tertiup oleh hembusan kencang angin langit mendung. Reyhan terkejut setelah itu, mendengar suara jeritan antara lelaki dan perempuan di sekitar lapangan upacara. Reyhan lantas tersebut langsung mendongak dan kepalanya bergerak ke kanan ke kiri secara bergiliran namun tak ada wujud asal teriak jeritan yang ia dengar barusan.
Tiba-tiba turunlah hujan rintik-rintik yang menjadi deras pada menit kemudian, namun akan tetapi bukanlah air rintikan bening namun rintikan darah dari langit, Reyhan begitu amat tak menyangka apa yang ia lihat bahkan turunnya hujan darah tersebut berhasil membahasi seluruh pakaiannya bahkan mukanya dipenuhi air-air darah. Anehnya, semua siswa dan siswi para guru terkecuali Reyhan ternampak biasa saja pada hujan warna mengerikan tersebut.
"Vran! Vran! Ayo kita kabur! Lo gak lihat ada hujan darah yang basahi, elo?! Ayo cepetan kabur," Reyhan menarik tangan Jevran yang dingin sedingin es.
"Vran, tangan lo kok dingin banget kek di freezer?" Reyhan menoleh ke Jevran yang ada di sampingnya.
"HAH?! J-JEVRAN L-LO KENAPA MUKA LO JADI SEREM BEGINI??!!"
Semuanya selain Jevran menoleh menghadap ke Reyhan yang berteriak kaget pada ucapan barusan, mata Reyhan terbelalak cukup lebar melihat kesemua siswa-siswi dan para guru wajahnya begitu mengerikan berlumuran darah busuk, sementara pakaian yang mereka kenakan compang-camping. Mereka semua terkecuali Reyhan tertawa menyeramkan membuat gendang telinga Reyhan mau pecah.
Reyhan menutup kedua telinganya masing-masing agar suara menyeramkan itu sedikit tak terdengar, Reyhan berjalan mundur-mundur dengan mata tatapan masih menatap penghuni sekolah selain ia yang berjalan mendekati Reyhan nang masih saja tertawa dengan membelalakkan matanya. Karena saking takutnya, Reyhan tak sengaja terpleset genangan air darah yang ada di belakangnya.
Brugh !!
Topi upacara Reyhan jatuh mengenai genangan air darah tersebut. Reyhan tak memedulikan rasa sakitnya bagian punggungnya yang menghantam permukaan keras tempat berdirinya melaksanakan upacara. Reyhan menggerakkan kedua tangannya bersama kedua kakinya untuk menjauhi mereka yang mendekati Reyhan pada posisi Reyhan terduduk di bawah sampai-sampai Reyhan menabrak seseorang di belakangnya, Reyhan perlahan mendongak ke atas dan di situ terdapat salah satu ketua OSIS menatap ia tajam namun menyeringai. Siswa ketua OSIS tersebut membuka mulutnya selebar-lebarnya membentuk lubang oval dan mengeluarkan asap hitam dan beberapa kelelawar dari mulutnya.
Reyhan berteriak kencang dengan suara lelakinya dengan mulut terbuka lebar hingga rahangnya mengeras, asap-asap hitam dan beberapa kelelawar kecil tersebut dengan berjayanya masuk ke dalam mulut Reyhan membuat kedua bola mata hitam Reyhan menaik ke atas menimbulkan hanya warna putih saja di kedua mata sipit Reyhan.
Splash !
Reyhan membuka mulutnya sekaligus menarik napasnya yang terasa terhambat di seraya Reyhan membuka matanya cepat.
"Ehmmppp!" Mulut Reyhan membungkam cepat dengan mata terpejam kuat. Dirinya pun juga memegang dada kirinya yang terasa seperti ditusuk oleh pisau.
Reyhan yang membungkuk sembari menopang lututnya dengan satu tangan lainnya membuat Jevran yang ada di sampingnya memegang punggung Reyhan bersama wajah cemasnya.
"Eh, lo kenapa lagi Rey?!"
__ADS_1
Beberapa ketua OSIS dan PMR yang ada di paling belakang celingak-celinguk melihat satu siswa yang kesakitan tersebut.
Di sisi lain, Reyhan menggelengkan kepalanya bahwa ia tak apa-apa yang sebenarnya ada apa-apa.
"Beneran? Kalau sakit gue anter ke UKS," ucap Jevran.
"Gue nggak apa-apa, cuman agak nyeri aja kok. Gue masih kuat tenang aja."
'Yang bener saja sekarang gue diberikan teror Arseno lewat bayangan gue, sampai kapan gue akan diginiin terus sama arwah itu ? Tapi gue harus siap-siap kalau memang jiwa gue akan diakhiri dengan sosok itu.'
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di lapangan olahraga, Reyhan yang sudah berganti memakai baju olahraga nampak melamun di kursi tribun. Hanya ia seorang saja, yang lainnya sedang berjalan menuju ke lapangan olahraga. Hingga tiba-tiba Reyhan sedikit kaget pipinya disentuh oleh benda dingin.
"Ngagetin aja," ujar Reyhan terbuyar dari lamunannya oleh Jova.
"Hehehehehe, jangan ngelamun di sini. Nanti kesambet gimana hayo?"
Reyhan hanya tersenyum dengan menghela napasnya dan melihat Jova menggenggam botol air mineral dingin.
"Beli di mana air mineral dinginnya?" tanya Reyhan dengan menaikkan satu alisnya.
"Di kantin dong, habisnya lupa bawa minum dari rumah .. yaudah beli aja di kantin."
"Oooo, oke-oke."
"Cieeeee akur lagi nih yeeeee!!"
Reyhan dan Jova menoleh cepat kemudian langsung mendengus kompak pada teriakan heboh Aji begitupun Raka. Jova yang sudah emosi langsung memberikan kepalan tangan di dekat hadapannya Raka dan Aji lalu tangan sebelahnya menuding atas rooftop sekolah.
"Mau rumah sakit? Atau kuburan?" tanya Jova dengan nada geram.
"Milih rumah sakit berarti tanganku yang mengepal ini bakal lancar jotos kalian berdua satu persatu sampe sekarat, tapi kalau milih kuburan itu artinya aku tarik kalian ke atas rooftop sekolah habis itu aku lempar kalian dari atas biar mampus! Nah mau yang mana??"
Freya menutup mulutnya dan berkata, "Sadisnya sahabatku ini ..."
"Huh, untung gue korban ledekan-nya .. kalau nggak udah mati dulu gue di gebuk masal sama ini cewek sikopet," gumam Reyhan.
"Ngomong apa kamu Rey??!! Telingaku tajem loh kek kelelawar di gua .. mau aku kasih bogeman dari materi bela diriku dulu?!"
"Eh enggak-enggak! Ampun Va! Ampun hehehehe, kalau mau kasih bogeman dari jurusan bela dirimu, monggo (Silahkan) diberikan ke Aji dan Raka. Aku ikhlas Lillahi Ta Ala, kok."
"Maksud lo??!!" pekik Raka, Aji kesal.
Priiiiiiiiittt !!!
Pak Robby meniup peluitnya yang ia kalung kan di lehernya, menandakan pembelajaran olahraga di mulai. Kesemua muridnya pak Robby berlarian ke tengah lapangan khusus olahraga begitupun juga Reyhan bangkit dari kursi dan menyusul mereka semuanya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Usai melakukan gerakan pemanasan sebelum pembelajaran materi olahraga di mulai, kini pak Robby mengatur para muridnya untuk berbaris sesuai absen awal hingga akhir. Pak Robby juga memegang satu bolpoin hitam serta buku penilaian materi olahraga hari ini.
"Oke anak-anak, berhubung sekarang cuaca pagi ini panas berarti hari ini kalian semua siap ambil penilaian lari Sprint, ya. Siap semuanya?"
"SIAP PAK!!!"
"TIDAK!!!"
Pak Robby melongo terkejut pada jawaban tolak dari para murid siswinya terkecuali Jova dan Freya yang mengucapkan 'Siap Pak.'
"Lho kok 'tidak' kenapa? Dua temen perempuan kalian saja siap loh apalagi yang laki-laki. Apa alasannya?" tanya pak Robby.
"Aduh Pak Rob, masalahnya kami yang bilang tidak itu belum sama sekali siap. Masa cepet banget ambil penilaian lari Sprint-nya?!" protes Lala.
"Iya Pak, senin yang lalu saja saya sampai jatuh karna kurang seimbang. Jangan dong Pak, yayayayaya? Please Pak Rob!" pinta Rena.
"Kalau yang cowok mah pasti semuanya siap, tenaga-tenaga mereka kan gede-gede sedangkan kami yang cewek kecil-kecil tenaganya, Pak." Zara menyambung kata.
Pak Robby menepuk keningnya dengan menggelengkan kepalanya pada semua protes murid siswi-siswinya yang selain Lala, Rena, Zara.
"Dengarkan ucapan Bapak sekarang, kalian itu kurang semangat dan percaya diri. Ayo semangat! Demi nilai kalian, harusnya kalian punya rasa semangat yang tinggi dong sebagai Mahasiswi SMA Galaxy Admara."
"Eh ciwi-ciwi cakepnya A'a! Tenang saja meskipun kalian gak ada rasa semangat olahraga hari ini, ada aku yang menyemangati para malaikat bidadari Surgaku!" teriak Reyhan dengan nada super alay.
"Wuuuuuuuuuu!!" sorak para gadis teman-temannya jijik terkecuali Freya dan Jova yang menggelengkan kepalanya.
Reyhan mengerutkan keningnya. "Dikasih semangat dari cowok ganteng malah disoraki kayak begitu, terserah dah."
"Makanya jadi cowok gak usah sok kegantengan," ucap Jevran meledek
"Yeu, lo sebagai tetangga gue belain gue dong!"
"Sssstt! Jangan keras-keras, bego! Kalau yang lain denger bagaimana? Bisa tambah panjang ceritanya. Lagian, gue udah gakpapa kok."
"Haduh ... apa lo bisa gak ikut penilaian dulu sementara? Gue izinin pak Rob, aja ya."
"Eh nggak usah-"
"Pak Rob! Reyhan hari ini nggak-"
Reyhan cekatan membekap mulut Jevran dengan kuat membuat Jevran tak bisa bernapas dikarenakan hidungnya juga termasuk ditutupi oleh Reyhan. Pak Robby menghampiri Reyhan dan Jevran yang Jevran berusaha melepaskan telapak tangan Reyhan dari mulut sekaligus hidungnya.
"Ya Allah, Reyhan Lintang Ellvano .. itu kenapa mulutnya Jevran kamu bekap begitu?? Kayak mau menculik tetanggamu aja."
"Eh enggak kok Pak Rob! Hehehehe! A-anu itu tadi Jevran salah ngomong, daripada Jevran diketawain sama temen-temen lain, mending saya bekap aja kan Pak."
"Apa benar, Jevran??" tanya pak Robby curiga.
"Mmmmpp!! Mmmmpp!!"
"Ngomong tinggal ngomong kenapa sih Vran," ucap Reyhan santai.
Jevran menuding-tuding telapak tangan Reyhan yang masih membekap antara mulut dan hidungnya, Reyhan lupa kalau ia sedang menutupnya kemudian pemuda pelupa tersebut segera melepaskannya.
"Buaaahh! Sialan lo Rey! Lo mau bunuh gue ya? Dasar gila!"
Jevran menghirup udara sebanyak-banyaknya yang nyaris ia menjadi hantu karena tak ada oksigen akibat ulahnya Reyhan. Reyhan meringis-ringis dengan terkekeh melihat Jevran yang menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya.
"Ma-maaf ye hehehehe! Itu lo masih bisa jadi manusia kan, belum jadi hantu gentayangan di lapangan?"
"Pertanyaan lo pengen gue tonjok perut lo!!"
"Ih jangan lah! Pernah di tonjok cewek aja sakitnya gue sampe cengar-cengir, gimana kalau di tonjok cowok .. yang ada gue bablas mati menuju dunia akhirat!"
"Heleh, itunya aja yang dasarnya lo cowok lemah!"
Reyhan terdiam dengan menghembuskan napasnya pelan. "Iya sih, emang gue cowok yang lemah ... kali ini lo bener dan nggak salah."
"Eh buset bercanda Bro! Bercanda hahahaha!!"
Jevran merangkul tetangganya serta setelah itu mengacak-acak rambut Reyhan dengan tertawa sekaligus meminta maaf padanya. Reyhan hanya pasrah diperlakukan Jevran seperti itu bahkan rambutnya yang telah rapi di buat amburadul olehnya. Memang kalau wujudnya sudah rese sulit untuk mengubahnya.
Sekarang semua murid pak Robby mau tidak mau harus ikut penilaian yaitu lari Sprint. Freya yang tak bisa lari kencang, hanya berdoa dan meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melakukannya untuk mencapai nilai tertinggi. Reyhan yang dinyatakan mengalami Anemia oleh dokter Samuel berusaha mengacuhkan sakit itu dan tetap memaksakan dirinya ambil penilaian olahraga lari Sprint hari ini meskipun kedua orangtuanya Reyhan sepakat anaknya tidak boleh terlalu lelah.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Selesainya penilaian lari Sprint kesemua siswa dan siswi beristirahat duduk di tanah lapangan dengan meminum air dalam botol yang mereka bawa masing-masing. Freya merasa sangat bersyukur ia telah melakukannya dengan baik penilaian tadi.
"Mantap My best friend." Jova mengajak Freya untuk ber-tos ria dengan sesama kepalan tangannya.
"Hehehehe nggak nyangka aku bisa lari Sprint, aku kira aku bakal jatuh tadi."
"Kamu nggak bakal jatuh kalau spesifik dan keseimbangan-mu sempurna. Oh iya, kamu lihat deh si Reyhan .. capek bener si dia ya. Biasanya kalau latihan lari .. itu Kunyuk satu nggak mudah capek, dah."
"Hmmmm ... apa kesehatannya Reyhan belum sepenuhnya pulih ya, Va? Lihat deh mukanya Reyhan dari jauh sini kelihatan pucat, lagi. Nggak pas sebelumnya."
Di sisi lain, Reyhan mengelap keringat keningnya usai meminum air botol merk-nya. Dan sekarang Reyhan kembali merasakan pusing akibat dari lari Sprint. Jevran yang peka, mengerti apa yang dirasakan tetangganya.
"Sudah dibilang jangan ikut penilaian masih ngeyel! Sekarang kalau udah begini, siapa yang repot?!" kesal Jevran yang duduk di sampingnya Reyhan.
Reyhan yang meneduhkan mukanya dari terik matahari pakai telapak tangannya melirik Jevran.
"Lu kalau cuman protes, mending nggak usah ngomong. Pusing bener-"
Gawat! Lagi-lagi ada suatu cairan yang akan mengalir keluar dari lubang hidung Reyhan, dengan cepat-cepat Reyhan menutup seluruh hidungnya agar tak ada yang tahu bahwa Reyhan mimisan. Dan beruntung saja 1 menit lagi pembelajaran olahraga akan selesai dan berganti pelajaran selanjutnya.
"Haloooo ... wakil kelasnya mana nih?" tanya pak Robby.
Reyhan hanya mengangkat satu tangannya agar pak Robby melihat ke arahnya. Setelah menemukan wakil kelas XI IPA 2 yaitu Reyhan, pak Robby sembari menenteng membawa antara bola futsal dan bola voli menghampiri Reyhan dengan senyum ramahnya.
"Lho itu hidungmu kenapa kamu tutupi begitu? Orang nggak ada asap di sini."
Reyhan menggelengkan kepala. "Ehm nggak kenapa-napa, Pak."
"Yaudah kalau begitu, oh iya Bapak boleh minta tolong sama kamu tidak? Minta tolong kembalikan dua bola ini ke gudang olahraga?"
"Oh, boleh Pak! Boleh kok, sini Pak bola-bolanya," ujar Reyhan dengan menengadah satu tangannya.
"Dua tangan lah, masa satu tangan? Emangnya bisa?"
"Bisa dong Pak, masa nggak bisa."
__ADS_1
"Pak bola satunya biar saya yang bawa saja Pak, sekalian ganti seragam," tukas Jevran.
"Yaudah, nih tangkap bolanya."
Pak Robby melempar sedang ke arah satu muridnya ialah Jevran, sementara itu Reyhan menerima bola futsal yang ada di tangannya pak Robby. Jevran bangkit berdiri sembari membawa botol minumnya di tangan kiri sedangkan di tangan kanannya pemuda tetangga dekat Reyhan membawa bola voli, begitupun juga dengan Reyhan sama yang dilakukan oleh Jevran.
"Oke yang lain boleh kembali ke kelas dan ganti seragam, agak cepat ya karena sebentar lagi ganti mata pelajaran selanjutnya. Oke?"
"OKE PAK!!!"
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Reyhan dan Jevran melewati beberapa lorong ruangan di SMA Galaxy Admara dan tibalah mereka berdua di depan pintu gudang olahraga yang nampak kondisinya tertutup. Reyhan menggenggam gagang pintu kemudian membukanya perlahan, terlihat di dalam gudang sedikit gelap dan berdebu, sepertinya tempat dalam tersebut belum sempat dibersihkan oleh petugas kebersihan.
"Tinggal aja bolanya di sini, biar gue yang balikin bola-bolanya ke dalem."
"Beneran? Terus gue balik ke kelas, gitu?" tanya Jevran mengerutkan jidat.
"Yaiyalah, masa balik ke rumah."
"Hadeh, orang jalan lo tadi sempoyongan kayak orang lagi mabuk abis minum Miras (Minuman keras). Udah lo masukin bola-bolanya, gue tungguin di luar gudang."
"Heh! Gue nggak pernah yang sekalipun minum-minuman keras, bisa dicoret dari KK kalau gue sampe sekali coba. Udah deh sana balik ke kelas, gue bisa sendiri."
"Tapi kondisi lo gak meyakinkan, nanti kalau lo malah tiba-tiba semaput di gudang .. gue mana tau!"
"Khawatiran banget dah ini anak, tenang ae gue masih baik-baik aja kok."
"Ck yaudah-yaudah! Gue balik ke kelas, kalau sampe kenapa-napa gue hajar lo yak!"
"Gak usah ngegas sama ngancem juga, kali Somplak!"
Jevran mencibir ocehan Reyhan dengan cara memajukan bibirnya kemudian menggerakkannya, Reyhan mendengus saja tidak turun tangan untuk memukul tetangga Somplak-nya tersebut lalu mendorongnya untuk melangkah pergi meninggalkannya ke kelas. Jevran pun kemudian meninggalkan Reyhan di situ sendirian.
Reyhan menggiring bola voli yang di letakkan Jevran di lantai ke dalam gudang olahraga sedangkan itu Reyhan masih membawa botol air minum serta bola futsal di sepasang tangannya. Di dalam gudang, Reyhan mengangkat tangannya untuk menaruh bola futsalnya di atas rak khusus jenis-jenis bola, kemudian lantas itu Reyhan mengambil bola voli di depan kaki kirinya lalu menaruhnya di rak barisan kedua.
Baru saja akan memutar tubuhnya untuk meninggalkan gudang olahraga yang tanpa penerangan cahaya, bola mata Reyhan tak sengaja melihat dalam botol minum Tupperware-nya yang berpusar-pusar dengan sendirinya.
"Tanda-tanda apa lagi habis ini?"
Kriiiiiiieeett !
BRAKK !!!
Reyhan terlonjak kaget pada bantingan pintu gudang barusan, Reyhan berlari dan membuka pintu tersebut akan namun pintu gudang anehnya tak bisa dibuka ibaratnya terkunci.
"Woi yang di luar! Siapa yang kunciin gue dari dalem?! Cepetan buka pintunya!!"
Reyhan mendobrak-dobrak pintu gudang tersebut tetapi tak ada sahutan dari luar, artinya tak ada orang yang menguncikan pemuda itu di dalam gudang olahraga.
"Brengsek!" umpat Reyhan.
Tiba-tiba bohlam lampu yang tak ada cahaya kini bercahaya tanpa ada yang melakukannya kemudian mati, hal itu dilakukan secara berulang-ulang membuat Reyhan yang sebal menjadi ketakutan kembali. Bulu kuduk Reyhan berdiri, keringat dingin bercucuran, detak jantungnya berdegup sangat cepat seperti minggu yang lalu. Selain itu, rak-rak bola berguncang-guncang dan sebagian ada bola yang terjatuh akibat guncangan rak tersebut.
Kardus-kardus yang bertumpukan di pojok gudang ikut berguncang menimbulkan suara gaduhan keras yang dahsyat. Reyhan menutup kedua telinganya dengan posisi ia berjongkok di belakang pintu gudang.
"Arseno! Gue tau itu elo yang berbuat semena-mena sama gue! gue minta lo keluar!"
"KELUAR!!!"
Permintaan Reyhan dikabulkan oleh Arseno, sosok itu muncul secara tiba-tiba di hadapan Reyhan dengan senyuman menyeringai menyeramkan. Tentu saja arwah itu selalu memancarkan bau busuk setiap kedatangannya.
"Berani sekali kamu menyuruhku keluar? Wah keberanian mu mulai muncul, ya huahahaha!"
Tubuh Reyhan bergetar, sedikit demi sedikit dada Reyhan terasa sakit. Reyhan menekan dada kirinya apalagi itu tepat di jantungnya, Reyhan berusaha menatap berani pada Arseno yang menyakitinya dengan cara seperti ini.
"Aku bisa saja merusak organ jantungmu hingga kamu mati sia-sia."
Mata Reyhan mencuat terkejut dengan bibir gemetaran karena takut yang di ucapkan Arseno.
"Tapi nggak seru ah, aku mau melihat dirimu terluka yang mengakibatkan fatal di suatu saat nanti huahahahaha!"
Tangan pucat pasi Arseno mengulur mendekati leher Reyhan yang berkeringat dingin kemudian mencengkram-nya dengan kuat lalu mengangkat leher Reyhan yang berarti tubuh Reyhan juga terangkat ke udara, Reyhan hanya diam tak meronta karena jika ia meronta, Arseno akan menambahkan maksimal kekuatan aura hitamnya yang sebagai arwah negatif.
"Hei dengarkan aku manusia bodoh! Sebentar lagi kamu bakal menuju ke ujung kematian yang aku siapkan. Meskipun kamu menolaknya, aku tetap melakukannya karena itu kesalahanmu sendiri disaat melewati kawasan wilayah kematian ku."
Brugh !
Bersamaan Arseno menghilang, Reyhan terjatuh di lantai dengan keras. Dengan lemah Reyhan membangkitkan tubuhnya dan duduk sejenak.
"Uhuk uhuk uhuk!" Reyhan langsung menutup mulutnya beserta hidungnya menggunakan telapak tangannya dan saat melepaskannya, telapak tangan Reyhan sudah ada darah kecil.
Reyhan tahu itu berasal dari hidung Reyhan yang kembali mengeluarkan darah lagi, dengan segera Reyhan membersihkan darah tersebut kemudian beranjak berdiri yang pada kemudian ia jatuh kembali.
"Nggak, lo harus kuat Rey! Harus kuat!"
Reyhan berusaha berdiri dan merapikan gudang olahraga yang banyak berjatuhan ulahnya arwah negatif itu. Reyhan membersihkannya sendiri tanpa meminta bantuan dari siapapun.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di dalam kelas, tubuh Reyhan sangat lemas bahkan untuk meneruskan tugas dari pak Harry tak mampu hingga Reyhan mengangkat tangan kanannya dengan lemah.
"Pak ..." panggil Reyhan lemas.
Pak Harry yang sedang menuliskan tugas materi matematikanya untuk murid-muridnya dari buku paket di papan tulis, menoleh ke arah Reyhan yang memanggilnya.
"Iya Reyhan, ada apa?"
Bahkan sekelas menoleh ke arah Reyhan dengan tatapan bingung sementara Freya dan Jova merasa ketar-ketir pada wajah Reyhan yang pucat.
"Bolehkah saya izin ke UKS? Kepala saya pusing sekali, Pak Harry ..."
"Kepalamu pusing sekali? Yaudah nggak apa-apa baring ke UKS saja lebih baik, biar di antar salah satu temanmu."
"T-tidak perlu, Pak. Saya masih kuat kok buat jalan saja ke ruang UKS ..."
"Benar-benar kuat? Bapak tidak yakin kalau kamu jalan sendiri ke UKS."
"Beneran Pak, saya masih kuat."
Pak Harry akhirnya mengangguk mengiyakan kepada muridnya yang bermuka pucat itu. Dengan lemas, Reyhan beranjak dari bangkunya kemudian berjalan dengan langkah lunglai serta sempoyongan. Disaat Reyhan tengah membuka pintu kelas, ia hampir saja ambruk ke lantai namun bisa ia tahan. Kesemua yang ada di dalam kelas melihat Reyhan hendak menghampiri Reyhan.
"I'm fine, don't worry."
Reyhan membuka pintu kelas dan meninggalkan kelas usai itu. Jevran yang begitu khawatir pada Reyhan takut jika tetangganya itu kenapa-napa memutuskan berdiri.
"Pak Harry! Saya susul Reyhan ya Pak!"
"Baik silahkan, Jevran."
Jevran cekatan berlari mengejar Reyhan yang sepertinya sudah menjauh dari kelasnya. Freya dan Jova lebih bimbang pada keadaan Reyhan yang kembali seperti itu, dua gadis sahabatnya Reyhan berencana saat bel istirahat dibunyikan mereka segera menyusul menjenguk Reyhan di ruang UKS.
Di sisi lain, Reyhan memegang kepalanya yang jauh pusing dibanding sebelumnya apalagi langkah jalannya semakin lambat dikarenakan daya tubuhnya yang lemah. Kurang beberapa kilometer lagi ia sampai di ruang UKS.
"REY!"
Teriak asal suara seseorang itu tak asing di telinga Reyhan, Reyhan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Terlihat sekali Jevran berlari kencang menyusulnya.
"Hosh! Ayo sini gue anter ke UKS-nya, kenapa gak minta anter gue sih? Lo lagi lemah gini mana kuat jalan jauh ke UKS!"
"Please, jangan marahin gue ..." lirih Reyhan.
"Iye-iye sorry, habisnya daritadi lo buat gue takut bae sih. Yaudah sini biar gue tuntun."
Jevran mengambil tangan kiri Reyhan untuk merangkulnya memapah ke ruangan UKS.
Beberapa menit kemudian, dua pemuda tersebut telah tiba di ruang UKS. Jevran perlahan menuntun Reyhan ke ranjang kasur UKS yang sedikit tertutup oleh gorden. Jevran menyibakkan gorden biru muda tersebut dan kemudian setelah berada didekat ranjang kasur, Jevran melepaskan rangkulannya dari Reyhan kemudian membantu Reyhan untuk berbaring di atas kasur.
Setelah melepaskan kedua sepatu Reyhan, Jevran menarik selimut dari ujung kaki hingga badan Reyhan, mata Reyhan nampak memejam namun ia tak tidur hanya meredakan pusingnya.
"Eh anjir! Hidung elo berdarah lagi!"
"Hm?" Reyhan membuka matanya pada paniknya Jevran tiba-tiba.
Jevran segera mencabut selembar tisu di kotak plastik tisu ukuran sedang kemudian tetangganya Reyhan tersebut membersihkan darah hidung yang di dekat lubang hidung Reyhan hingga tak ada bekas sedikitpun. Jevran membuang tisu tersebut ke tong sampah kemudian duduk di kursi sisi ranjang kasur yang ditempati Reyhan.
"Rey, apa sebaiknya gue kasih tau sama sahabat-sahabat lo terutama Angga kalau lo kayak gini? Bahkan lo yang masuk rumah sakit dan dinyatakan Anemia sama dokter. Lo yang sakit parah gini masa lo sembunyikan dari ketiga sahabat lo?"
Reyhan menatap langit-langit dinding. "Gue cuman nggak mau buat mereka bertiga khawatir. Dan yang tau gue sakit seperti ini, hanya lo saja. Tolong jangan kasih tau sobat-sobat gue bahkan temen-temen lain apalagi guru, ngerti kan Vran?"
Jevran menghela napasnya panjang-panjang dan mengangguk mengerti maksud dari Reyhan.
"Lo mau teh anget? Gue buatin bentar."
Reyhan beralih menatap Jevran dan tersenyum menganggukkan kepala. "Makasih, Bro."
"Oke, tunggu sini gue ke dapur dulu."
Jevran bangkit dari kursi dan berjalan ke arah dapur kecil untuk membuatkan teh hangat khusus tetangganya yang sedang sakit. Reyhan yang berbaring di kasur, memejamkan matanya untuk tidur sebentar sampai Jevran selesai membuatkan teh untuknya.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1