
Nampak gadis lugu tersebut yang mengenakan seragam rompi internasional SMA-nya tengah berlari terburu-buru di koridor sekolah. Kurang 15 menit lagi bel masuk akan dibunyikan secara nyaring, namun saking terburu-buru, Freya sampai tak sengaja menabrak tubuh Youra yang tangannya menggenggam cutter kecil, hingga dengan sengaja, Youra memberikan goresan sayatan luka di lengan Freya akibat benda tajam itu bertepatan Freya menubruk tubuhnya barusan.
“Ssshhh! Auw!” Freya langsung seketika merintih kesakitan dengan menyeka darah lengannya yang akan mengalir keluar. Kemudian gadis manis tersebut menatap Youra yang santainya melihat musuhnya nang terluka itu. “Your! Kamu bisa nggak sih, hati-hati kalau bawa pisau?!”
Youra dengan teganya tak mempunyai nurani hati, tangan kanannya yang kosong ia buat untuk mendorong tubuh mungil Freya hingga gadis cantik tersebut jatuh tersungkur ke belakang.
Brugh !
“Heh, anak cupu! Mata lo itu yang udah buta!! Mangkanya kalau lari itu pake mata, jangan pake dengkul! Eh tapi malah baguslah kalau lo kayak gini, gue justru seneng lihatnya, hahahaha!!!”
“Dasar perempuan kurang adab! Sejak kapan lari pakai mata?! Lari itu pakai kaki. Apa jangan-jangan kamu sengaja, ya buat aku begini?”
Youra tersenyum miring dengan sorot mata sinis. “Wow, diajarin sama siapa lo bisa bentak-bentak orang kayak beautiful queen Youra ini? Oh, pasti elo diajarin Jovalong sahabat cewek lo yang sok jagoan ya di sekolah papanya Alex?”
“Jaga mulutmu!! Kamu gak perlu memfitnah Jova yang sama sekali nggak pernah ngajarin aku seperti itu. Itu hanya aku sendiri, karena cewek yang kayak kamu ... emang gak pantas ditakuti dan dihormati!” bentak Freya semakin ngelunjak.
Mata Youra terbelalak kaget saat mendengar nada Freya yang sangat tinggi, bahkan dada musuhnya itu sampai naik-turun saking murkanya dengan sifatnya. Youra pun sangat tidak menerima atas ucapan Freya yang ia lemparkan padanya, dengan suara mengernyit yang keluar dari mulut, Youra melayangkan tangannya untuk menampar wajah gadis lugu itu yang kini terkesan seperti pemberani.
CEWEK BANGSAT!!! LO MAU APAIN FREYA, HAH??!!
Youra tersentak kejut saat mendengar suara teriakan lelaki yang tak jauh lagi dari jaraknya yang akan menyakiti Freya untuk sekian kalinya. Freya ikut terperangah karena waktu dirinya menoleh ke belakang, rupanya itu adalah Reyhan yang baru saja datang dengan menenteng tas punggung abu-abunya.
Reyhan melangkahkan kakinya cepat dengan raut wajah penuh emosi dengan menatap berang Youra yang terdiam atas kehadiran pemuda Friendly tersebut. Reyhan berhenti berjalan saat telah berada di dekat antara dua siswi itu. “Lo mau bully Freya lagi?! Ulah lo yang udah lama lo jarang lakuin?! Ternyata lo sama sekali belum kapok, ya setelah dulunya diberikan hukuman Skors selama berminggu-minggu.”
Lantas, bola mata Reyhan melirik apa yang digenggam oleh Youra. “Bajingan, lo! Elo mau bunuh sahabat gue dengan cutter itu, lo emang-”
Grep !
Reyhan yang hendak memberikan pelajaran untuk Youra dengan secara kekerasan fisik, lengannya ditahan oleh seseorang. Reyhan yang kesal, menoleh ke orang nang telah menghentikan aksinya. “Kenapa sih, lo- Angga?!”
Angga lah yang menahan tangan Reyhan sang sahabatnya itu yang jiwanya telah dilumuri lautan api lava. Angga nang sudah tak lagi berwajah pucat, menoleh menatap Youra dengan tatapan tajamnya beserta dengan tampang wajah dingin cool-nya.
“Kenapa?”
Suara Angga yang bernada Bariton dan terdengar sangat dingin itu, membuat Youra seketika ketakutan melihat aura wajah lelaki tampan tersebut yang masih memberikan sorotan mata tajam. “A-angga?! E-enggak kok, enggak! Aku pergi dulu!”
Dengan hati yang diselimuti rasa ketakutan bahkan terpampang jelas di ekspresi wajahnya, Youra langsung cekatan balik badan dan berlari meninggalkan ketiga remaja tersebut. Bertepatan saat Youra telah menjauh, Angga melepaskan tangannya yang mencekal lengan Reyhan.
Reyhan mendengus lalu menyerong tubuhnya menghadap ke arah Angga yang masih memperhatikan punggung siswi gadis licik itu. “Ngga! Elo apa-apaan sih, tadi?! Kenapa lo gak biarin gue buat ngasih pelajaran sama dia?! Freya tuh di bully, anjir!”
“Gue tau! Tapi dengan cara lo yang hendak melakukan tindakan seperti itu, sama sekali nggak pantas! Dia perempuan, Rey! Jadi lo gak seharusnya melukai fisiknya!” sentak Angga sekaligus memberikan sebuah teguran nada tegas.
Reyhan hanya mampu menghempaskan napasnya kasar dengan membuang mukanya dari Angga seraya memasukkan salah satu tangannya di kantong saku celana seragamnya. Sementara Freya yang terduduk dikarenakan tadi dijatuhkan oleh Youra, hanya menatap kedua sahabatnya secara bergiliran, hingga tibanya Angga menolehkan kepalanya ke arahnya untuk membantunya berdiri.
“Kamu masih baik-baik saja, kan? Ayo sini aku bantu.” Dengan tulus dan gerakan lembut, Angga perlahan mengangkat badan mungil gadis cantik tersebut untuk bangkit berdiri.
Namun saat sedang membantunya, Angga tak sengaja melihat sayatan goresan luka yang ada di lengan Freya. Dalam mulut Angga yang tertutup, gigi Angga menggertak dengan hati geram apa nang telah diperbuat oleh Youra pada Freya. Angga waktu itu memang belum datang, namun pemuda Indigo tersebut sanggup tahu apa yang telah terjadi.
Baru saja Reyhan akan mengeluarkan suaranya untuk mengajak kedua sahabatnya ke kelas yang ada di lantai 2, tiba-tiba dari undakan anak tangga, mereka bertiga mendengar suara teriakan gadis siswi yang tak asing di pendengarannya mereka masing-masing.
“Dasar kembaran toa Masjid!” sebal Reyhan seraya menatap Jova yang berlari kencang ke tiga sahabatnya dengan senyuman bahagia. Gadis itulah yang tadi berteriak memanggil mereka.
Gadis Tomboy itu menghentikan langkah larinya setelah berada di dekat para sahabatnya. Jova mengelap keringat keningnya sambil melihat Freya yang agak cengar-cengir kesakitan usai dibangkitkan Angga berdiri. “What happened girl? Why are you in such pain?”
“Sok pinter bahasa Inggris, lu!” sewot Reyhan dengan wajah yang menekuk.
Jova menaikkan alisnya pada Reyhan yang wajahnya nampak tengah kesal, entah karena apa. “Ini bocah napa sensitif bener, dah sama gue kayak kulit telor?”
Mata Reyhan auto mendelik. “Enak aja lo ngatain gue kulit telor, itu mulut apa lambe?!”
“Apa bedanya ...? Heh, tumben amat kamu ngomongnya sama aku pake gue-lo? Biasanya juga pake aku-kamu, lagi kesambet setan mana, sih?”
“Noh! Kesambet setan arwah penasaran yang menghuni di hutan Aokigahara negara Jepang!” ucap Reyhan dengan penekanan nada sambil menunjuk arah sana.
“Kurang kerjaan atuh itu namanya! Ngapain itu setan nyambet manusianya jauh-jauh dari negara tempat matinya?” Jova menyongsong badannya untuk menghadap ke Freya. “Oh iya, Frey? Kamu oke-oke aja, kan? Itu juga kenapa tanganmu luka begitu? Habis dicakar meong, kah??”
“Dicakar meong matamu! Si Freya habis dibully sama pacarnya Alexander Rosefel.”
“Reyhan!” geram Angga menatap tajam serta jengkel karena kejujuran terang dari sahabat Friendly-nya tersebut.
Reyhan mengerutkan keningnya sekaligus menaikkan dagunya. “Kenapa, sih? Salahkah?”
Angga mengangkat tangannya setengah ke atas dengan mengepalkan telapak tangan miliknya seperti ingin hendak memukul Reyhan. “Lo terlalu gamblang, bego!”
“Loh, gamblang gimana? Jujur itu kan lebih baik, Bro.”
Angga seketika telapak tangannya yang ia kepalkan untuk Reyhan, menuju ke arah kepala Reyhan buat menjitaknya keras. “Tapi gak gitu juga konsepnya, Kunyuk!”
Reyhan menggerutu sebal seraya mengusap-usap kepalanya yang usai dijitak oleh sahabat Introvert-nya, apalagi Reyhan sampai mengerucutkan bibirnya dengan menatap sengit Angga yang mana Angga pula memirsa Reyhan sengit.
“Oh my gosh, bener-bener minta di depak itu satu cewek brengsek!” geram Jova marah tak terima seraya menarik baju seragamnya bagian lengannya satu sama lain dan langsung balik badan ke belakang untuk mendatangi Youra.
__ADS_1
Tapi baru satu langkah Jova meninggalkan ketiga sahabatnya, Angga sudah lebih dulu mencegah gadis Tomboy tersebut dengan cara menahan kerah seragam bagian belakang Jova. “Gak usah! Kamu mau jadi preman di sekolah ini?”
Jova mendengus lalu memutar tubuhnya setelah Angga melepaskan cegahan untuk perempuan berambut coklat pirang itu. Jova bertolak pinggang dengan menatap Angga jengkel. “Aku bukannya mau jadi preman, tapi-”
“Cukup. Gak usah banyak kata, jika kamu melakukan tindakan yang hendak kamu lakukan itu .. sama saja kamu mau memperbesar masalah,” ungkap Angga dingin memungkasi.
Tatkala dalam sekejap detik, Jova diam dan tidak berkata apa-apa lagi dengan Angga yang telah menyudahi ucapannya nang telah dipotong oleh pemuda tampan itu tadi. Jova memejamkan matanya lalu menghembuskan napasnya rada kencang untuk meredakan emosinya yang ingin memuncak.
“Rey, temenin aku yuk ke parkiran.” Jova mengajak Reyhan tiba-tiba usai membuka mata kembali.
“Ngapain ke parkiran? Mau mendaftar jadi calon satpamnya mang Asep?” tanya Reyhan konyol.
“Cowok geblek! Ke parkiran nemenin aku buat ambil barang yang ada di dalem jok motorku, soalnya ada yang ketinggalan. Ayok lah, cepet! Keburu nanti bel!”
Reyhan berdecak. “Males, ah! Ambil aja sendiri. Toh lagian ini masih pagi, belum larut malem. Aku mau balik ke kelas sama Angga juga Freya.”
“Enggak. Gue sama Freya nggak akan ke kelas dulu, gue mau anterin Freya ke UKS sebentar untuk mengobati lukanya. Lo mending temenin Jova ke parkiran, gue dan Freya jalan duluan.”
Dengan tampang cueknya, Angga melangkah sembari mengajak sahabat kecilnya ke sebuah ruang UKS yang jaraknya lumayan dekat. Tangan Angga juga menarik lembut lengan Freya yang tak terluka oleh goresan sayatan tersebut.
Reyhan menatap punggung Angga dengan raut kecewa. “Dasar sahabat gak ada klop!”
“Udahlah ayok ke parkiran! Lelet banget, dah kayak siput!” tukas Jova sambil menarik telinga bagian kanan Reyhan dengan berjalan melangkah menuju lobby.
“E-e-eh! Lepasin woi, sakit!!” protes Reyhan.
Reyhan pun yang amat tidak terima karena ulah jahil dan nakalnya si sahabat perempuan Tomboy-nya, pemuda pemilik mata iris warna coklat tersebut lekas membalasnya dengan menarik pipi halus Jova untuk mencubitnya. Jova yang merasa sebal bersama tingkahnya Reyhan, sampai ngomel sembari pula berteriak meminta dilepaskan pipinya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Ruang UKS
Setelah Angga membersihkan darah lengan tangan sahabat kecilnya yang diam hanya memperhatikan tugas yang pemuda tampan itu lakukan untuk membantu mengobati lukanya, kini Angga mengajak Freya buat duduk di pinggir atas ranjang kasur UKS.
Freya pun menurutinya dengan senyuman yang terukir jelas cantiknya, sementara Angga tengah melangkah mendekati kotak putih P3K yang terpajang di tembok. Nampak yang Freya lihat, sahabat kecilnya membuka kotak tempat tersebut untuk mengambil alat tertentu.
Rupanya lelaki itu yang termasuk wakil PMR, mengambil sebuah hansaplast spray lalu kemudian menutupkan kembali kotak P3K tersebut. Seketika apa yang di bawa oleh Angga, Freya meneguk salivanya, yang ia bayangkan dan ia rasakan pasti jika diobati menggunakan obat spray itu akan terasa amat perih.
Karena saat Angga tadi mencari plester hansaplast yang di dalam kotak P3K sama sekali tak ia temukan alias telah habis, maka dari itu pemuda berbadan adiluhung 180 sentimeter tersebut segera melepaskan tas punggung hitamnya lalu membuka resleting tasnya untuk mengeluarkan plester yang lepau menutupi luka sayatan sementara.
Setelah mengambilnya, Angga melangkah mendatangi Freya dan duduk di sampingnya. Waktu dirinya meletakkan tas ranselnya di ranjang kasur yang kosong, dapat Angga lihat detail bahwa raut muka Freya terlihat takut bahkan sampai menutupi luka goresannya memakai telapak tangan sebelahnya.
“Kamu kenapa kayak takut gitu?” tanya Angga hendak ingin tertawa.
“Lah, kok jadi galak? Ppfft!”
“Gak usah ketawa! Di sini nggak ada yang ngelawak!” kesal Freya seraya menyingkirkan luka tangannya dari dekatnya Angga.
Angga menggelengkan kepalanya terkekeh geli pada nada Freya yang memakai nada tinggi. “Jangan marah, dong.”
Freya menatap Angga sebal, sedangkan Angga menatap wajah gadis polos tersebut santai. “Habisnya kamu ngapain sih pake obat itu?! Kan bisa langsung di tutupin pake plester yang ada di tangan kirimu!”
“Itu nanti, Freya. Masa lukamu itu langsung ditempel pake plester ini tanpa diobatin dulu? Udah, kamu nurut aja sama aku. Aku wakil PMR di sekolah ini loh,” ucap Angga dengan bibir nyengir.
“Aku tau, kali! Tapi pasti perih banget kalau di semprot pakai spray obat itu ...” cicit Freya menatap nanar botol spray hansaplast tersebut.
Angga tersenyum lembut pada Freya seraya masih menatapnya. “Enggak bakal, kok. Obat ini anti terasa perih atau sakit jika dikenakan ke lukamu. Sudah, mending kamu rileks aja, nggak usah takut. Percaya sama aku, nanti kamu gak akan ngerasa perih, paling cuman ngerasa dingin doang pas aku semprot pake botol yang aku pegang ini.”
“Kamu bohong!”
Angga menghela napasnya pasrah. “Yasudah kalau kamu memang gak percaya, awas saja akhirnya nanti kamu cengengesan.”
Dengan perlahan, tangan Angga menggenggam lengan Freya bagian yang tak terluka untuk menariknya ke dekatnya. Kemudian pemuda yang telaten serta hati-hati itu, menekan ujung botol penyembuh luka tersebut buat menyemprotkan ke luka sayatan sahabat gadisnya.
Setelah dua kali semprotan Angga kenakan di luka gadis manis tersebut yang kembali diam tak mengambil protes, dengan tenang lelaki itu mengambil satu kapas putih untuk menepuk-nepuk luka sayatan milik Freya bermaksud agar lukanya yang telah dikenakan air dari spray hansaplast, bisa kering sebelum Angga menempelkan plester hansaplast buat menutup luka goresan tersebut akibat ulah jahatnya Youra Adrienne Arabella.
Setelah semuanya beres yang Angga lakukan, lihatlah, Freya benar-benar cengengesan sesuai perkataannya Angga usai gadis Nirmala tersebut mengatakan dirinya bohong. Pemuda Indigo itu menoleh menatap ke arah Freya dengan wajah setengah dingin.
“Gimana? Aku bohong?”
“Hehehe, enggak. Bener deng katamu, gak kerasa perih pas diobatin pake semprotan itu,” gubris Freya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Marah, kah ...?” tanya Freya balik bersama nada lirih.
“Enggak, lah. Ngapain aku marah.” Angga kembali tersenyum dengan wajah santainya sambil mengusap-usap pucuk kepala Freya sebelum bangkit dari pinggir ranjang kasur untuk mengembalikan botol kesehatan itu ke tempat semula.
“Huft ... aku kira kamu marah, kamu kan kalau marah serem banget daripada marahnya Reyhan.”
“Emangnya mukaku keliatan lagi marah, ya?” tanya Angga usai menutup kotak P3K sambil memirsa Freya yang masih duduk anteng di sana.
Freya menjawabnya tanpa mengeluarkan suara dari dalam mulut, melainkan memakai gerakan tubuh yaitu geleng-geleng kepala sambil senyum meringis dengan kedua mata menyipit. Angga balik melangkah dan mengangkat tas ranselnya untuk ia tenteng di pundak kanannya.
__ADS_1
“Aku tadi sampe deg-degan, kalau luka aku tadi bakal dijahit.”
Ucapan yang Freya lontarkan pada Angga, membuat sahabat kecilnya itu nang sedang berjalan menghampirinya menepuk jidat sekaligus tertawa. “Hahahaha! Hadeh, ada-ada saja pikiranmu. Itu hanya luka sayatan kecil, bukan luka besar. Kalau sayatan lukamu itu besar dan juga dalam, artinya kamu perlu pergi ke rumah sakit untuk meminta pertolongan dari medis.”
Freya membuka mulutnya menjadi macam huruf O. “Berarti bukan darurat juga, ya?”
Angga menggelengkan kepalanya seraya menghentikan langkahnya setelah berada di hadapannya Freya. “Bukan. Kondisi luka seperti yang kamu alami, nggak perlu dikhawatirkan. Nantinya pasti juga bakal sembuh, kok. Untuk sementara plester itu tetap menempel di lenganmu, agar lukanya bisa tertutup kembali.”
“Iyaa. Terimakasih ya, Dokter atas penjelasannya.”
“Freya Septiara Anesha, aku bukan dokter. Jadi jangan sebut aku 'dokter', oke? Aku hanya petugas kesehatan di sekolah sini.”
“Tapi, cara penjelasan detail-mu ke aku udah persis kayak dokter, hehehe!”
Angga menghembuskan napasnya dengan menggelengkan kepalanya serta tersenyum tipis. Kemudian tangan pemuda itu mengulur untuk mengajaknya keluar dari ruang UKS yang sama sekali tidak ada penjaganya. “Ayo ke kelas. Atau mau di sini?”
“Nggak deh, udah nggak perih lagi, kok,” ujar Freya menanggapi kemudian menerima bentangan tangan sahabat kecilnya.
KRIIIIIIIINGG !!!
“Waduh, Ngga! Mana belnya udah bunyi, lagi!”
“Sudah, nggak apa-apa. Kamu yang santai dan tenang saja, paling enggak si Reyhan atau Jova ngasih tau ke pak Harry kalau kita berdua lagi di ruangan UKS. Yuk, kita keluar ...”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah tiba di dalam kelas XI IPA 2, terdengar riuh senda tawa yang amat berisik membuat Angga yang telah melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kelas tersebut ingin segera melindungi kedua telinganya. Namun, walau sudah jam tujuh lewat wali kelas sang pembimbing pelajaran di jam pertama ini belum sama sekali datang ke kelas, bahkan kursi gurunya masih kosong belum ada yang menempati.
“SISWA BEKU!!!”
Pandangan Angga teralihkan cepat saat ia mendengar suara pekikan kuat dari salah satu siswa yang kini sedang berlari menghampiri pemuda tersebut yang sudah absen sekolah.
“Akhirnya sekian lama kita tak berjumpa, kini gue lihat sosok lo lagi, Bro!” ucap Aji yang usai berlari sembari memeluk tubuh Angga.
Pemuda berwajah ceria itu kemudian melepaskan pelukannya dari temannya. “Lo udah sehat?!”
"Hm.” Angga menganggukkan kepalanya dengan sedikit memberikan senyuman tipis andalannya.
Lantas, bola mata Angga terpusat pada Reyhan yang melewatinya hendak membuang bungkusan makanan pedasnya ke tong sampah yang ada di luar kelas. “Udah masuk, lo malah makan.”
Reyhan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. “Hah? Oh, gak masalah dong. Sekarang semua guru lagi ngadain rapat di kantor, termasuk pak Harry. Jadi gue bisa bebas makan, maklum. Gue masih laper. Mending daripada lo berdiri di situ, duduk di bangku, sono.”
Angga menganggukkan kepalanya bersamaan Reyhan yang menolehkan kepalanya ke depan dan melanjutkan langkah kakinya untuk pergi keluar. Baru saja akan mendatangi bangkunya, tangan Angga sudah ditarik oleh Aji untuk mendekati bangku kursinya yang sudah lama tak ia duduki karena dirawat dalam rumah sakit.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Keesokan harinya ialah hari Sabtu, Angga tengah berada di atas kasur kamarnya. Nampak, pemuda tersebut tengah sibuk memainkan ponselnya, tak sekedar memainkan benda pipih miliknya itu, namun melakukan sesuatu. Di situ, Angga telah memiliki sebuah ide cemerlang untuk seseorang.
Kemudian berselang menit kemudian, Angga meletakkan handphone-nya di atas meja nakas, lalu gegas beranjak turun dari kasur dan membuka pintu kamar untuk keluar.
Sementara di sisi lain, Freya yang mengenakan tas selempang ciamik warna favoritnya tengah menunggu kedatangan kekasihnya yang belum nampak batang hidungnya. Dengan hati sabarnya, gadis cantik tersebut setia menanti Gerald.
Sampai tiba-tiba, Freya dikejutkan oleh sosoknya Angga yang telah berada di hadapannya. “Ya ampun, Ngga! Udah kayak setan, ih.”
“Hehehe, maaf. Habisnya kamu ngelamun sih, gak baik lho pagi-pagi tapi udah bengong. Oh iya, kamu di sini lagi nungguin Gerald, ya?”
Freya mengangguk semangat. “Seperti biasanya kalau hari Sabtu dan Minggu, hehe. Kenapa emangnya? Tumben kamu ke sini.”
“Hmmm ... kamu kan mau pergi, jadi sebelum kamu pergi dari komplek, aku boleh pinjem bentar HP-mu?”
Freya mengerutkan keningnya heran. “Buat apa? Gak biasanya kamu pinjem-pinjem HP aku. Tapi, boleh aja kok kalau mau pinjem. Sebentar.”
Gadis tersebut lekas membuka resleting tas selempangnya lalu merogohnya untuk mengeluarkan ponselnya dan memberikan benda pipih Androidnya kepada Angga. “Nih, kalau aku boleh ngerti. Kamu mau apain sama HP-ku?”
“Itu rahasia. Jelasnya, aku lagi memberikan sesuatu yang membuat kamu akan baik-baik saja.”
Freya hanya diam kata sembari menggaruk tengkuknya dengan memasang raut bingung apa yang dimaksud oleh Angga, terlebihnya kata sahabat kecilnya itu adalah sebuah rahasia yang tak boleh Freya tahu. Freya penasaran, karena sudah 5 menit Angga gunakan untuk mengotak-atik layar sahabat perempuannya dengan pandangan fokus serta teliti.
“Beres.” Angga menyerahkan kembali ponsel Freya usai ia matikan layarnya.
“Kamu emang cowok misterius, kamu ngapain sih, tadi? Aku kepo banget, lho.”
“Kan sudah aku omongin tadi ke kamu, 'itu rahasia' yang namanya rahasia, berarti nggak mungkin aku beri tahu apa yang aku lakukan barusan. Sudah deh, lebih baik hari ini kamu fokus sama pacarmu nanti, daripada mikirin apa yang aku lakuin sama ponselmu. Aku pulang dulu, ya.”
“Nyebelin! Habis itu kamu mau ngapain di rumah?”
“Biasalah kalau pagi hari libur cowok kayak aku bakal ngapain di dalem rumah,” jawab Angga sembari terus melangkah mendekati gerbang hitam rumahnya.
“Huh, dasar cowok rebahan!” sorak Freya dari jarak jauh, sedangkan Angga yang mendengar sebal nada sahabat kecilnya nang tengah berdiri di samping pagar, cuma terkekeh geli.
Apa yang telah sebenarnya Angga lakukan hingga mengotak-atik ponselnya Freya? Itu yang membuat gadis berwajah Nirmala tersebut bingungkan. Tapi, Freya tidak mau memusingkan nang sahabat lelaki Introvert-nya perbuat. Yang jelasnya, semua demi kebaikan untuk Freya lepau menghalanginya dari kejadian sesuatu nang amat lotak.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››