Indigo

Indigo
Chapter 113 | Feel Loose


__ADS_3

Salah satu pintu kamar rawat yang ada di lantai 4 dibuka oleh perawat lelaki nang memasuki ruang perawatannya Angga. Perawat tersebut yang membawa sebuah alat catatan beserta bolpoin, melangkah mendekati tiang infus lalu di sana ia mencatat sesuatu yang sebagai tugasnya.


Di sisi lain, pemuda pemilik indera keenam yang ia pertuankan semenjak bertahun-tahun lalu, nang nyaris memasuki 2 hari tak sadarkan diri akibat rendahnya kadar oksigen dalam tubuh, akhirnya perlahan lelaki tampan itu membuka matanya kembali dengan secara lemah, sementara di bawah kantung matanya nampak sedikit hitam yang sepadan dengan wajah pucat-nya.


Efek yang ia terima saat kembali siuman, kepalanya yang baik-baik saja kini terasa sakit hingga Angga reflek mengeluarkan suara lenguhan karena merasa kesakitan di bagian kepalanya yang cenat-cenut. Hal itu otomatis, sang perawat nang berusia kisaran 20 tahun menoleh ke arah pasien yang telah sadarkan diri. Perawat yang murah senyum itu, tersenyum ramah pada Angga.


“Anggara sudah sadar?” panggil perawat tersebut membuat Angga yang mengenakan pakaian pasien, mengarahkan kedua bola matanya menatap perawat tersebut yang telah selesai bertugas mencatat sesuatu di depan tiang infus.


Bertepatan saat bola matanya telah menatap perawat tersebut, pandangan Angga yang tadi masih memburam kini telah menghilang dan menjadi jelas seperti pada sediakala. “Jangan banyak gerak dulu, ya? Dokter menyarankan untuk kamu memperbanyak istirahat total buat masa proses pemulihan. Kalau begitu saya permisi dulu.”


Dengan lemparan senyuman lebar, perawat lelaki yang memiliki rambut cepak memutar tubuhnya ke belakang untuk meninggalkan Angga sang pasien dari kamar rawat yang terasa amat sunyi. Setelah membuka pintu dan menutupnya dari luar, Angga beralih menengok jendela yang terbuka lebar. Sinar matahari di pagi hari yang cerah, masuk menerobos ke jendela kaca. Angin semilir tenang, meniup rambut hitam Angga bagian yang menutupi keningnya.


Nampak hanya Angga seorang sendiri di dalam ruangan tersebut, sementara kedua orangtuanya Reyhan akan datang di jam nanti. Pemuda tampan tersebut yang masih menggunakan bantuan alat oksigen, perlahan mengangkat tangan kirinya yang ada di atas perut, terlihat telapak kirinya tertancap oleh jarum infus. Yang benar saja, dirinya tengah berada di rumah sakit, entah berapa lama pula ia tidak sadarkan diri. Tetapi yang jelas saat ini, Angga masih merasakan lemas, pusing, dan sakit dada.


Swingh !


Swingh !


Munculah dua serbuk putih berupa asap di sebelah kanannya Angga. Terlihat rupanya itu adalah Cahya dan Senja sang arwah positif yang telah menjadi teman manusia Indigo tersebut. Kedua makhluk astral tanpa ketaksaan itu saling membuka mulutnya bahagia saat melihat mata Angga telah terbuka.


“Akhirnya kamu sadar juga, Ngga! Huft, lega deh aku. Kukira kamu bakal Koma buat kedua kalinya,” ucap Senja seraya menyentuh dadanya lega.


Angga cukup meresponnya dengan melimbai kepalanya ke arah Senja yang berceloteh padanya usai meletakkan balik tangan kirinya di atas perut. Cahya melipat kedua tangannya di dada. “Nggak gue sangka lo bakal sadar, abisnya itu muka kayak mau jadi mayat. Terus gue mikirnya lo bakal jadi arwah, karena kata dokter, elu hampir aja mati karena kekurangan banyak oksigen.”


Angga mengerutkan keningnya tanpa menjawab dengan sepatah kata apapun yang keluar dari mulutnya nang masih bungkam. Senja nang mempunyai mata ungu fantastik tersebut mendekati Angga yang masih terbaring lemah meski telah kembali siuman. Pemuda tampan berbibir pucat itu, memperhatikan gadis hantu yang menghampirinya.


“Kamu mending istirahat lagi aja, kamu belum sembuh total dari sakit-mu. Jangan banyak gerak juga, ya? Sayang banget, ganteng-ganteng kayak Korea gini tapi sampe kena Hipoksia. Cepat sembuh ya ganteng, hihihi.”


“Ekhem!” Cahya melegakan tenggorokannya dengan bersuara keras. Sengaja agar Senja sadar apa yang barusan sahabatnya katakan pada Angga.


Angga yang mendengar segala perkataan Senja Intara Alandara, hanya menghela napasnya tanpa berpaling dari makhluk gaib macam Senja tersebut, sang temannya dulu saat manusia Indigo itu masih menjadi roh, namun sampai sekarang belum mampu Angga ingat kalau dirinya mengalami terpisah dari raganya yang Koma tersebut.


Sementara Cahya untuk mengalihkan rasa bosannya, mulai mengeluarkan bola mantranya yang berwarna cerah itu lalu mulai ia buat main secara lempar dan tangkap secara berulang-ulang. Tetapi arwah lelaki itu yang mengenakan seragam putih abu-abu SMA-nya dengan jas almamater navy, sedikit memberikan jangkauan jarak jauh dari Angga supaya bola sakti miliknya tak mengenai manusia Indigo tersebut, karena memang dasarnya kalau sampai terkena sedikitpun saja, bisa membahayakan jiwanya Angga sendiri.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Saat pulang sekolah yang mana para siswa dan siswi berhamburan keluar dari pintu kaca otomatis SMA Galaxy Admara, dan banyak beberapa yang menuju ke parkiran kendaraannya masing-masing.


“Gimana rasanya, ya dikasih hukuman bersihin toilet sama bu Aera?” tanya Jova dengan nyengir sembari mengambil helmnya dari kaca spion motor Honda warna ungunya.


Reyhan yang merogoh tas ransel abu-abunya untuk mengeluarkan kunci motornya, sontak menoleh cepat ke arah gadis sahabatnya yang kini tersenyum sumringah. “Eh! Kamu nyindir aku, ya?!”

__ADS_1


Jova yang telah mengenakan helmnya namun belum memasang pengait helm punyanya, mengejek Reyhan dengan cara menarik satu kelopak mata bagian bawah sekaligus menjulurkan lidahnya. Reyhan yang mendapatkan ejekan menyebalkan itu, mendengus sebal.


“Salah sendiri lupa ngerjain PR!” tukas Jova dengan tertawa renyah.


Reyhan kembali menoleh menatap tajam Jova saat usai memasang kunci motornya di motor miliknya. “Gak usah ketawa! Kamu belum pernah di sumpelin roti pembalut rasa stroberi, yak?!”


“Ih jorok banget, sih jadi cowok?!” protes Jova hendak menaiki motor kesayangannya.


“Biarin! Namanya juga aku ini cowok pikun, lupa kalau kemarin ada soal PR di pelajaran Fisika. Huh, turun level deh aku sebagai cowok ganteng populer di sekolah elit ini,” kecewa Reyhan.


“Huek! Apa kamu tadi bilang? Cowok ganteng populer?! Yaelah kegantengan-mu sama populernya kamu masih menangan Angga, lah! Dia tuh ya, cowok paling tampan yang nggak ada sama sekali saingannya. Kamu mah masih level rendah!”


Ibaratnya hati Reyhan yang berwarna merah, kini menjadi pudar akibat dari hinaan Jova sang sahabatnya sendiri. “Tega banget kamu! Masa aku dihina-hina kayak gitu?! Tapi, kalau kamu emang anggap aku cowok level rendah ... ya, nggak apa-apa sih, aku terima aja. Ngalah!”


Jova terpukau pada perkataan Reyhan dan sifat barunya itu. “Kesambet sama demit apaan, kamu? Tumben mau ngalah, biasanya ngajak ribut kayak emak-emak rempong tetangga.”


“Kesambet Jin Tomang! Heh mulut kadal! Kalau ngomong jangan sekate-kate, napa?! Masa kamu samain aku kayak emak-emak rempong tetangga, itu lambe sebelum nyocot disterilkan dulu ya, Neng?!


“Kamu tuh yang kebanyakan nyocot kayak emak-emak rempong tetangga! Aku mah cewek kalem yang anggun,” ujar Jova dengan santainya.


“Cuih! Kalem yang anggun darimana, coba?! Orang kamu ceweknya petakilan kayak kucing kampung! Naik-naik meja bangku orang tanpa permisi, kalau teriak-teriak kayak istri orang lagi hamil mau brojol! Terus ... dari segi mukanya kek celurut.”


Jova mendengus macam banteng kemudian hendak memukuli tubuh sahabat lelakinya itu yang sangat rese dari tadi. Namun dengan melesat kencangnya, Reyhan berlari kencang menghindari Jova. Tidak, Jova tak hanya diam saja, gadis tomboy tersebut mengejar langkah besar Reyhan yang larinya begitu cepat.


“Ampoooooonnn!!!”


“Gak ada ampun bagimu! Muka cantik jelita imut kayak artis Barat Selena Gomez gini dibilang celurut, itu mata apa biji salak?!”


“Cantik jelita imut kayak artis Barat Selena Gomez dari Hongkong?! Hahahahaha!!!”


“Halah! Muka kayak air got aja bangga!” kesal Jova menghina Reyhan seraya mempercepat larinya untuk menangkap lelaki nakal tersebut.


Reyhan seketika berhenti berlari dan balik badan karena tidak terima wajah super tampannya dikatakan oleh Jova dengan 'air got'. Tapi di situ Jova langsung segera melayangkan pukulannya ke Reyhan. Reyhan dengan gesit, memiringkan badannya ke samping, alhasilnya sahabat perempuannya hanya memukul angin saja.


“Eits! Gak kena, hahahaha!”


Jova yang merupakan seorang mantan bela diri yaitu Karate tak mau menyerah begitu saja, gadis tersebut langsung bersilih ganti melancarkan tendangannya ke sahabatnya, akan tetapi Reyhan dengan cepatnya auto mencekal kaki kiri mulus Jova yang telah gadis itu angkat. Jova menggertakkan giginya kesal karena gagal memberikan tendangan hebat ke Reyhan untuk sebagai pelajarannya karena telah menghinanya secara jelek-jelek.


Jova kemudian menoleh ke atas atap gedung sekolah lalu menuding dengan mata mendelik. “Reyhan! Ada Arseno!!”


“Arseno?! Mana?! Dimana?!” Reyhan celingak-celinguk melihat sesuai arah yang ditunjuk oleh Jova.

__ADS_1


BUGH !


“Akh sialan anying!!” umpat Reyhan dengan memegang perutnya setelah ditendang Jova dan sahabat perempuan yang sama-sama nakal sepertinya, tertawa puas seraya bertepuk tangan riang.


“Tapi boong!”


Reyhan yang posisinya mengatupkan bibirnya dengan menahan rasa sakitnya di perutnya karena ditendang kuat oleh Jova, mendongakkan kepalanya. “Anak maksiat! Sakit, tau!!”


“Hehehe! Gimana? Enakkan? Mangkanya kalau punya mulut, remnya digunain!” tanggap Jova dibalas Reyhan dengan mencibirnya.


Gadis berambut coklat pirang indah tersebut memutar tubuhnya ke belakang untuk menuju ke motornya tanpa memedulikan Reyhan yang sibuk kesakitan merintih memegang perutnya. Namun saat melangkah, Jova menghentikan jalannya waktu tak sengaja melihat Freya yang baru saja keluar dari lobby sekolah. Gadis cantik nan manis itu melangkah dengan anggunnya menuju ke gerbang luar sekolah sembari memainkan ponselnya.


“Huh! Pasti dia dijemput sama cowok mentah pacarnya itu,” gumam Jova tak suka.


Jova menghampiri Reyhan lalu menarik lengan tangan kanan lelaki humoris itu untuk mengajaknya pulang dari parkiran. “Ayo Rey, pulang!”


“Sabar, dong! Udah tadi nendang, sekarang asal main tarik-tarik tangan orang aja!” protes gratis Reyhan.


Pada kemudian akhirnya dengan mengeluh, pemuda tersebut bangkit berdiri perlahan lalu pasrah ditarik oleh Jova yang wajahnya nampak sebal. Dan setelah keluar dari gerbang sekolah bersama menggunakan kendaraannya masing-masing, kedua sahabat sejoli tersebut melihat pandangan yang tak mengenakkan. Seorang Gerald sang kekasihnya Freya tengah di atas motor Ninja-nya, sementara Freya yang belum menaiki motor pacarnya. Terlihat jelas mereka yang mempunyai hubungan cinta itu tengah mengobrol-ngobrol berbincang tentang sesuatu.


Freya yang tersenyum paksa pada percakapannya Gerald, matanya membentur ke Jova yang menatapnya dingin. “Hai Jova! Mau pul-”


Jova dengan wajah sinis tidak suka, mulai menutup kaca helmnya kemudian membelokkan arah motornya ke jalur jalan kanan lalu melajukan kendaraannya di kecepatan tinggi dengan tanpa sadar Jova telah meninggalkan Reyhan di situ. Reyhan melongo menatap kepergian Jova yang semakin jauh tak terlihat.


‘Buset, main pergi-pergi aja. Mentang-mentang mau ke rumah sakit, gue ditinggal, begonoh?’


Reyhan membungkamkan mulutnya, kemudian menyempatkan diri menatap Gerald selintas dengan tatapan tajam dan muka dinginnya, lalu beralih ganti menatap Freya sahabat lugunya. “Aku duluan.”


Reyhan yang tanpa basa-basi lagi, menutup kaca helmnya setelahnya membelokkan stang motornya ke arah jalan kanan lalu segera menyusul Jova yang akan menuju ke RS Wijaya. Freya menatap nanar atas kepergian kedua sahabatnya yang selalu bisa menghiburkan di kala ia sedang terpuruk. Rasanya begitu hampa melihat situasi ini. Ada rasa yang Freya rasakan bahwa ikatan persahabatannya ia dengan mereka mulai sayup-sayup merenggang.


‘Kenapa yang aku rasain di hati, persahabatanku dengan mereka bertiga terasa mulai renggang, ya? Ikatan yang kami jalin bersama sampai selama ini, sekarang menjadi berubah.’


Tanpa Freya sadari, air bening yang mengumpul di pelupuk matanya kini tak bisa ia bendung lagi. Sayangnya saat ini, gadis cantik polos itu masih belum bisa berbuat apa-apa untuk sekedar melakukan perbincangan obrolan hangat pada mereka sahabatnya semua. Terlebihnya, Gerald terus saja melarang Freya untuk tidak boleh menemui Angga dengan alasan yang lelaki kulit kuning langsat itu berikan adalah 'aku nggak ingin kamu disakiti sahabatmu itu sama sikap cuek dan tidak pedulinya.'


Menurut Freya, Angga tidak suka menyakitinya sama sekalipun. Ia cuek dan kadang tak peduli karena hal tersebut sudah dari kriteria wataknya. Freya sudah sangat lama mengenal Angga lebih dalam, jadinya gadis lugu tersebut begitu tahu sifat jati dirinya Angga.


Freya sering mati kutu saat mendengar ancaman Gerald kalau dirinya sampai berani melanggar ucapannya. Freya Septiara Anesha, sudah beberapa kali menyelidiki sikapnya sang pacar jika waktu gadis itu membahas tentang Angga. Insting Freya sepertinya benar, bahwa ada suatu permasalah antara Gerald dan Angga. Butuh beberapa jangka durasi lagi, Freya yakin semuanya akan terkuak.


Freya memang bukanlah seorang perempuan Indigo yang mempunyai kemampuan nang amat sungguh luar biasa, tetapi Freya memiliki suatu indera firasat kuat dan kepekaan yang tajam.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2