Indigo

Indigo
Chapter 24 | Between Spirit and Soul


__ADS_3

Reyhan, Rangga, dan Agra berlari kencang mengejar lima manusia psikopat itu yang larinya sungguh terbirit-birit. Dengan tangisan amarah yang melumuri pipi Reyhan dan hati yang amat meluap emosi, ia berlari sekencang-kencangnya agar bisa menangkap manusia kejam yang telah membuat Anggara harus dimasukkan ke ruang ICU.


"HEH! KAMU HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS PERBUATANMU TERHADAP ANAK SAYAAA!!!" teriak Agra sangat marah sambil terus berlari mengejar manusia-manusia psikopat tersebut.


"MANUSIA BIADAB!! SIAP-SIAP LO SEMUA DI PENJARA SEUMUR HIDUP ATO KALO PERLU DIHUKUM MATI!!!"


Suara teriakan luapan menggebu-gebu amarah dari Reyhan melebihi suara teriakan amarahnya ayahnya Anggara. Sementara, Rangga hanya diam dengan terus fokus ke depan satu arah mengejar psikopat-psikopat tersebut.


Sepertinya dua pemuda dan satu pria paruh baya itu gagal mengejar lima psikopat tersebut dikarenakan mereka semua telah masuk ke dalam lift. Reyhan, Rangga, dan Agra tak tahu akan ke lantai mana lima orang psikopat itu. Namun saat Reyhan mengatur napasnya tiba-tiba ada satu bantuan pikiran dari otaknya.


"Lantai satu! Lantai satuu!!"


Usai mengucapkan kata reflek itu, Reyhan kembali berlari kilat menuruni tangga sampai di bawahnya ia menabrak banyak orang-orang pengunjung rumah sakit Kusuma, Reyhan tak memedulikan protes-protes orang-orang saat ini.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Dokter Ello menganggukkan kepala dengan wajah amat prihatinnya. Kedua gadis dan wanita tersebut yang mendengarkannya secara seksama, menutup mulutnya sambil kembali mengeluarkan air mata beningnya.


"D-dokter, kenapa itu bisa terjadi?! Hiks hiks hiks!"


Dokter Ello menghela napasnya lemah. "Karena kepala Anggara terkena benturan keras amat kuat sehingga membuat Anggara Koma, Ibu. Kini sekarang kondisi Anggara dalam posisi buruk."


Air mata Freya terus mengalir deras membasahi kedua pipi putihnya, kontak mata yang menatap muka tampang Dokter Ello sedih ia alihkan berpusat ke arah Anggara melalui pembatas jendela kaca. Yang Freya lihat, Anggara terbaring lemah di ranjang pasien bersama alat-alat medis yang tertempel di tubuhnya. Hati Freya seakan-akan rapuh terhadap sahabat kecilnya yang telah dinyatakan Koma.


DRAP DRAP DRAP DRAP !!!


Suara langkah sepatu derapan lari seorang semakin menjelas terdengar yang akan melintasi orang yang menangisi Anggara serta Dokter Ello. Freya yang menyentuh pembatas jendela kaca itu tiba-tiba rambutnya tertiup kencang pada seorang pemuda yang tengah berlari kencang penuh rasa amukan besar melekat di hatinya.


"Reyhan!" panggil Jova teriak telat yang Reyhan sudah melewati mereka duluan.


Reyhan berlari tergesa-gesa sampai-sampai ia tak tahu kalau yang barusan ia lintasi adalah ruang ICU lantai 3 tempat Anggara terbaring menutup mata tenang di dalam sana. Larinya sangat kencang sekali sehingga Reyhan menjadi pusat perhatian pada orang pengunjung lantai 3.


Dokter Ello yang memperhatikan Reyhan berlari semakin menjauh tak terlihat, sekarang kembali menatap Andrana dan ingin menanyakan sesuatu penting ke sang mamanya Anggara.


"Bu, saya mau bertanya pada Ibu."


"Hiks, baik Dok silahkan."


"Apakah sebelum Anggara seperti ini, Anggara sering mengeluh kesakitan di kepalanya? Atau merasa mual-mual?"


"Maaf sekali Dok tetapi saya tidak tahu. Saya baru saja pulang dari kota Semarang kemarin, jadi di sebelumnya itu .. saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Anggara."


Freya yang gundah menatap wajah pucat Anggara, menoleh ke dokter Ello. "Dok, semasa sebelum ini terjadi, saya sering sekali melihat Anggara memegang kesakitan di bagian kepalanya. Itu tidak sekali saja Dok, tetapi beberapa kali. Bahkan di setiap rasa sakit kepala yang di terima Anggara, seketika muka Anggara berubah menjadi pucat, tubuh juga menjadi lemah. Begitu, Dokter."


"Baiklah terimakasih atas penjelasannya dan jawabannya, Nak." Dokter Ello menghembuskan napasnya sedikit kencang serta menggelengkan kepalanya. "Andai saat Anggara berkeluh sakit seperti itu, Anggara langsung di bawa ke rumah sakit. Mungkin jika seandainya seperti itu, tidak berkeadaan buruk seperti sekarang."


"Melihat kondisi Koma dari Anggara, sudah saya pastikan Anggara belum sepenuhnya akan kembali sadar di waktu yang singkat. Luka kepala begitu parah, napas akibat cekikan leher membuat napas dari milik Anggara sedikit terganggu. Kami akan terus memantau kondisi Anggara hingga benar-benar ada perubahan dan perkembangannya."


Andrana membungkukkan sedikit badannya. "Hiks, b-baik Dokter. Terimakasih."


"Baik Bu, sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsallam, Dok." Secara bersamaan pada suara sepadan yaitu nada serak Freya, Jova, dan Andrana menjawab salam dokter Ello yang mulai melenggang balik badan dan pergi meninggalkan mereka.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Reyhan tak henti-hentinya berlari kencang tak memedulikan tatapan-tatapan aneh dari orang-orang. Beberapa tempuh lari yang Reyhan maksimalkan dan ia gunakan, Reyhan berhenti berlari disaat di luar lobby rumah sakit Kusuma. Ia mengatur napasnya seraya bola matanya menatap sepenjuru parkiran yang posisi ia berada.


Reyhan menegakkan badannya dengan keringat tubuh membasahi pakaiannya, jangan lupa amarah hati yang memuncak.


"S-sialan! Dimana manusia-manusia anjing itu?!" geram Reyhan sambil terus menormalkan napas.


Hari juga sudah malam, sulit untuk melihat keberadaan lima psikopat itu dalam gelap. Sedangkan, si Rangga dan Agra mengejar Reyhan lalu berhenti usai tiba di luar lobby. Agra memegang dadanya dengan napas tersengal-sengal, ayahnya Anggara sudah sangat jarang berlari marathon. Rangga membungkukkan badannya sembari mengelap keringat jidatnya yang basah.


"Hosh ... hosh ... hosh." Rangga ngos-ngosan dengan melirik Reyhan. "Rey, udah Rey! Kita bertiga udah ketinggalan jejak dari mereka hosh ... hosh ..."


"Goblok! Kurang gesit gue ngejarnya! Aaaarrgghh!!!"


Dengan melampiaskan keamarahannya, Reyhan menendang tembok lobby rumah sakit Kusuma sangat kuat. Reyhan mendengus-dengus emosi lebih di banding emosi setengahnya tadi.


"Astagfirullah, capek banget aku!"


"Duh Om Agra, seharusnya Om gak usah ikut mengejar," ucap Rangga mendekati Agra.


"Tapi Ga, Om bener-bener gak nerima! Anggara aja sampe digituin, masuk ruang ICU, lagi!"


"Seenak jidat para manusia brengsek itu!! Bisa-bisanya kabur gak mau tanggung jawab!!" mencak-mencak Reyhan.


"Reyhan, Om Agra .. sebaiknya kita langsung ke ruang ICU-nya Anggara aja. Lima psikopat itu sudah berhasil melarikan diri dari kita-kita. Gak mungkin juga kita nyari sampe ketemu, apalagi langit di atas udah malam."


Setelah mendengar penuturan kata Rangga, Reyhan menjadi pasrah begitupun Agra. Reyhan kira bantuan dari bacaan pikirannya bisa mampu bertepatan bertemu lima psikopat itu agar tak ada peluang lagi untuk manusia-manusia primitif itu kabur apalagi banyak orang-orang pengunjung rumah sakit Kusuma, namun bantuan itu tak berjalan dengan lancar. Kini sekarang, dua pemuda dan pria paruh baya tersebut berbalik badan untuk menuju ruang rawat ICU Anggara.


"Kita nggak tau dimana ruang ICU yang Anggara tempati," lesu Agra.


"Tadi pas Reyhan ngejar orang-orang itu, Reyhan sempat selintas ngeliat dokter yang bawa Anggara ke ruang ICU. Mungkin ruang rawatnya disitu," ujar Reyhan sambil berjalan tanpa menoleh ke Agra sedikitpun.


"Lantai berapa, Rey?" tanya Rangga.


"Lantai tiga."


Rangga mengangguk pelan begitupun Agra yang hatinya di atas rasa kalut terhadap anak putra semata wayangnya di ruang ICU, Agra berharap anak kesayangannya tidak terjadi apa-apa.


Karena tenaga mereka bertiga telah habis karena di buat lari marathon, mereka memutuskan untuk pakai lift saja daripada menaiki tangga dan menaiki tangga lagi untuk sampai di lantai tempat Anggara di rawat insentif. Usai masuk ke dalam lift dan beberapa menit kemudian telah sampai lantai tujuan, Reyhan, Rangga, dan Agra melangkah keluar dari lift sebelum lift tertutup secara otomatis.


Lantai lorong tersebut lumayan sepi daripada lantai 5 yang sangatlah sepi. Agra mengedarkan pandangannya sekeliling lorong untuk mencari istrinya yang pasti ada bersama dengan Anggara serta sahabat-sahabat anak putranya. Tiba-tiba Rangga yang berjalan sejajar dengan Reyhan dan Agra di sebelah kiri, Rangga melihat dua gadis serta wanita berumur 30-an saling menangis di luar ruang ICU seseorang.


"Om, Reyhan ... itu bukannya tante Andrana terus Jova sama Freya, ya?"


Agra menoleh ke kiri dan benar itu adalah Andrana sang istri milik Agra dan kedua sahabat perempuan anaknya. Agra yang melihat Andrana menangis sesegukan di kursi tunggu bersama Freya dan Jova. Agra berlari-lari kecil menghampiri istrinya yang saat ini pipinya berlumuran air mata.


"Mama?!"


Andrana sontak langsung noleh ke sumber suara yang ia sangat kenal. "Ayah!"


Andrana langsung berdiri dan memeluk Agra begitu tahu suaminya ada di hadapannya. Andrana menangis sejadi-jadinya membuat Agra di belenggu rasa takut cemasnya.


"Ma?! Mama, kenapa nangis gini?!"


Agra membalas pelukan Andrana dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang sampai ke punggung Andrana. Agra mencoba mengambil pikiran positifnya kenapa istrinya menangis seperti ini.


"Ma, Mama kenapa?" lirih Agra.


"Huhuhuhu! Ayah, A-anggara Koma hiks hiks!!"


DEG !


Reyhan, Rangga, dan Agra tersentak kaget mendengar Andrana mengatakan Anggara Koma. Reyhan perlahan jatuh lemas terduduk di lantai diiringi tangisan pedihnya.


"A-anggara Koma, Ma?!" Air mata Agra perlahan turun mengalir ke pipinya sambil menopang dagunya di pundak Andrana berposisi memeluknya erat.


"Hiks huhuhu iya Ayaaahh!! Anak satu-satunya kita Koma huaaaaa!!"


Andrana menangis kencang membuat Agra menjadi nangis terisak-isak tak terlepas dari pelukannya Istrinya.


"Ya Allaaaahh!!!" Agra mengucapkan kata itu di samakan tangisnya sambil mengusap-usap punggung Andrana.


Reyhan yang terduduk lemas dengan lutut menopang lantai, menatap telapak tangan kirinya dengan nanar. Di situ ada sebuah darah Anggara yang mengering disaat Reyhan menangkup wajah dari pucat Anggara. Tangan telapak kiri Reyhan mengepal kuat lalu memukulnya di lantai dengan perasaan hati yang telah hancur mengenai sahabat terbaiknya telah Koma.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Layaknya terbawa macam pusaran angin topan hingga melayangkan dirinya ke lantai dingin di suatu ruangan. Ia tak merasakan hantaman kuat di lantai karena setelah di layangkan ia di taruh perlahan di lantai dingin tersebut.

__ADS_1


Ternyata itu adalah seorang pemuda berumur 17 tahun. Mata yang terpejam tenang ia buka perlahan-lahan. Dinding putih serta suara yang memilukan hati yaitu suara alat monitor pendeteksi jantung. Selain itu juga, ada suara tangisan yang menangisi seseorang. Pemuda itu bangkit duduk lalu berdiri. Betapa kagetnya ia rupanya berada di ruangan ICU yang berbau obat-obatan.


Pemuda tersebut melangkahkan kakinya yang tanpa menggunakan alas, ia memakai baju pasien rumah sakit biru muda mencolok berlengan panjang serta celana biru mudanya. Pemuda itu sedikit mengerutkan keningnya karena ia merasa kenal pada pria dan wanita yang menangisi satu lelaki muda terbaring lemah di ranjang pasien bersama pasangan alat-alat medis yang ada di tubuhnya.


"Mama?! Ayah?!"


Suara kaget dari pemuda itu tak membuat wanita dan pria di sisi lelaki muda menoleh ke sumber suara yang pemuda itu keluarkan dari mulutnya, seolah sepasang suami istri itu tidak dapat mendengarkannya.


Wanita dan pria itu bernama Andrana serta Agra, tentu pemuda tersebut sangat mengenalinya. Pemuda itu sangat bingung mereka sedang tengah menangisi siapa. Bola mata pemuda tampan itu beralih ke papan nama ranjang pasien yang bernamakan Anggara Veincent Kaivandra. Hei, nama lengkap lelaki muda itu sama persis pada nama pemuda yang berdiri di depan lelaki muda tersebut yang nampaknya sedang membutuhkan pemantauan medis.


"Anggara Veincent Kaivandra?! Bukannya, itu semua nama panjang gue? Atau memang nama cowok itu sepadan dengan nama-nama gue??"


Pemuda itu semakin bingung, apalagi melihat Mamanya menangisi lelaki muda tersebut dengan menempelkan telapak tangan kanan lelaki muda tersebut di pipi yang berlumur air linangan. Jari telunjuk tangan kanan lelaki yang sama seperti pemuda itu dipasang jepit oleh alat pulse oximeter.


Pemuda itu mencoba mendekati sang mama. Pemuda itu menyentuh pundak Andrana, namun anehnya bukannya dapat menyentuh tetapi malahan menembus layaknya pemuda ini adalah makhluk halus.


"Hah, nembus ..." lirih pemuda itu kaget.


"Hiks, Anggara sayang mama mohon bangun Nak, huhuhu! Mama gak nyangka Anggara bakal seperti ini hiks hiks hiks!"


Wajah pucat yang terbaring lemah dan juga masker oksigen yang menghiasi setengah wajah warna pucatnya, sama mirip pemuda yang gagal menyentuh Andrana. Pemuda itu beralih melihat layar monitor pendeteksi jantung, disana terlihat pergerakan gelombang grafik yang bergerak sesuai irama detak jantung. Suara dari alat monitor pendeteksi itu berbunyi di setiap detak jantung yang berdetak.


Pemuda itu langsung menyilih pandangannya cepat ke Andrana, pemuda itu meyakinkan kalau ia ada di sampingnya Andrana bukan terbaring lemah di ranjang pasien dengan pasangan alat-alat medis ruang ICU.


"Ma, ini Anggara Ma!"


"Huhuhu Anggara, bangun Nak! Hiks hiks, Mama gak mau Anggara seperti ini huhu!!"


"Mama! Lihat Anggara Ma, Anggara di sampingnya Mama!" bentak pemuda yang rupanya itu adalah Anggara sendiri.


"Hiks! Andai Mama sama Ayah cepet dateng ke rumah sakit, pasti Anggara gak bakal kayak gini!"


"Ya Allah Ma, Mama denger Anggara gak sih?! Suara Anggara tentu pasti Mama denger, tapi kenapa Mama gak noleh ke Anggara?! Anggara disini Ma! Bukan di kasur itu!"


"Ma, udah Ma udah. Kasian Anggara, Anggara hari ini perlu istirahat .. jangan nangisin Anggara terus," tegur Agra berjongkok seraya menepuk punggung kecil Andrana yang terus menangis sesegukan.


"Mama begini karna takut Anggara begini Yah!! Anggara Koma juga gara-gara kita yang gagal menjaga Anggara, kan! Anak kita sekarang kayak gini, Yah! Apa yang harus kita lakuin huhuhu!!"


"Kita dukung Anggara dengan berdoa, pasti Anggara bakal bangun kok. Ayah gak tau Anggara kapan akan bangun, tapi kita berdoa saja ya, Ma."


"Apa yang terjadi sama gue? Koma? Itu artinya gue sekarang bukan manusia, tapi roh. Jiwa yang terpisah dari raganya," lirih Anggara sendu.


"Tapi kalo gue roh, kenapa Mama sama Ayah gak bisa ngeliat wujud gue? Mereka, kan juga Indigo harusnya mereka bisa ngeliat gue yang sekarang jadi roh."


"Oh, mungkin kalo gue coba sentuh di salah satu dari mereka."


Anggara membentangkan satu tangannya untuk mengusap pipi Andrana. Sial sudah! Tidak mempan rupanya! Tak ada yang berhasil, malahan masih menembus bagaikan semilir angin. Anggara menghembuskan napas kasarnya lalu berjalan ke ranjang pasien raganya di sisi kiri. Anggara menatap penuh datar pada muka pucat raganya yang terbaring Koma.


"Lu kenapa sih pake Koma segala? Lu kenapa coba sampe begini? Terus kalo udah gini gue harus ngapain, hah?" Anggara bertanya-tanya pada jasadnya sendiri disertakan nada dinginnya.


"Oke kalo gitu! Gue gak mau jadi roh lama-lama, jadi sebaiknya gue masuk ke raga lo!"


Anggara mulai mendekati raganya yang tengah Koma dan mulai masuk ke dalam raganya agar siapa tahu raganya akan sadar bangun dari Komanya. Namun malangnya, ibaratnya seperti magnet yang didekatkan pada kutub yang sama, antara roh Anggara dan raga Anggara menolak dengan sempurna.


"Anjir! Kok malah nolak?!"


Anggara begitu kaget mendapat reaksi saat ia akan masuk ke dalam raganya. Raganya justru menolak seperti tak mau membantu Anggara untuk masuk ke dalam raganya kembali. Hati Anggara benar-benar kecewa percobaannya gagal total. Ia menatap balik pada wajah pucat raganya yang terpasang oleh masker oksigen plastik transparan. Lihat dari napas hidungnya lemah yang ternampak di alat pernapasan oksigen tersebut mengembun dengan lemah. Anggara berpikir apakah keadaan raganya yang saat ini begitu lemah buruk membuat Anggara sulit untuk memasuki raga miliknya.


"Anggara, bangun Nak ..."


Suara lirih Andrana yang bernada parau serta wajah cantik sembabnya mengelus lembut pipi kanan raganya Anggara. Disaat pipi raganya di sentuh lembut oleh mamanya yang begitu menyayangi anak semata wayangnya, Anggara yang berdiri di hadapan Andrana merasa pipinya juga terasa di sentuh lembut hangat oleh tangan Andrana. Ya, Anggara merasakannya.


Itu berarti jika raganya kesakitan ataupun disakiti oleh seseorang ataupun sesosok misterius, Anggara yang telah menjadi roh ikut merasakan kesakitan yang sama. Anggara berdiri, berdiri diam di hadapan Andrana yang terus menangisi jasadnya. Di setiap lontaran kata yang memilukan hati dari Andrana, lama-lama perlahan Anggara yang mendengarkannya mengeluarkan air mata.


Anggara berjalan ke sampingnya Andrana lalu berjongkok di sisinya, ingin Anggara mengusap paha kaki dari mamanya yang duduk di kursi namun itu sudah sangat mustahil jika menyentuhnya. Anggara sudah tidak bisa menyentuh makhluk seperti manusia.


"Hiks maafin Mama Ayah Nak, maaf orangtua Anggara udah gagal menjaga Anggara hiks hiks!"


Anggara mengepalkan telapak tangannya, air mata yang mengalir perlahan berubah makin deras. Anggara tidak suka melihat kedua orangtuanya menangis apalagi menangisi dirinya.


"Nak, kamu kok nangis? Anggara bisa dengar Mama?!"


Anggara mengangguk kepalanya tak juga pada raganya yang Koma.


Andrana meraih wajah raga Anggara untuk menghapuskan air mata yang hanya setetes saja. Padahal kini pipi putih Anggara telah dibanjiri oleh air matanya tetapi raganya tidak sampai berlumuran air mata, hanya setetes saja.


"Tuh Ma, Mama nangis si Anggara juga ikut nangis, kan. Udah Ma, jangan nangis lagi .. Anggara pasti bakal baik-baik aja kok," tutur Agra sambil mengusap air matanya.


Andrana menggenggam tangan raga Anggara penuh sayang. Andrana mencoba untuk tersenyum pada raga milik anaknya.


"Mama udah buat Anggara nangis, ya? Yaudah Mama gak bakal nangisin Anggara lagi deh, tapi Anggara harus janji sama Mama ya .. kamu gak boleh tinggalin Mama sama Ayah. Cuma Anggara satu-satunya yang paling berharga di keluarga kami, kamu satu-satunya anak Mama dan Ayah."


Andrana menempelkan telapak tangan jasad anaknya di hidung mulutnya seraya menghapus banyak air matanya dengan satu tangannya. Meskipun senyuman Andrana sudah terlihat namun tetapi hati Anggara terenyuh mendengar semua lontaran dari Andrana yang takut sekali kehilangan dirinya.


"Enggak Ma, Anggara gak bakal tinggalin kalian berdua," ujar Anggara merespon.


"Anggara pasti capek, ya? Mama minta maaf ya udah buat Anggara tidurnya nggak tenang." Andrana mengusap-usap kepala raga Anggara dengan penuh lembut dan sayang. Agra yang berada di samping Andrana sedikit tersenyum haru pilu serta di wajahnya masih terlihat bekas air mata begitupun Andrana hingga bawah kantung matanya membengkak dikarenakan terus menangis sedari tadi.


Anggara yang melihat kedua orangtunya, menghela napasnya pendek dengan menunduk. Ia begitu sedih karena ia tidak bisa memasuki dalam raga punyanya. Anggara memilih pergi meninggalkan ruang ICU.


Disaat Anggara menggenggam gagang pintu ruang ICU-nya, Anggara sulit menggenggamnya. Ternyata tak hanya sulit menyentuh manusia tetapi menyentuh benda dimensi manusia saja juga sulit. Anggara terkesiap melihat tangannya menembus pintu ruang ICU, tentunya Anggara menjadi orang yang tak terlihat apalagi ia sekarang merupakan makhluk halus ialah roh.


Kalau begitu caranya, Anggara akan mencoba melewati pintu tersebut. Dan apa yang terjadi? Rasanya saat tengah melewati alias menembus pintu ICU itu, seperti di tiup angin sebentar bahkan Anggara sampai menutup matanya kuat takut kalau itu sangat menyakitkan. Kini Anggara mendengar suara tangis kesedihan dari seorang gadis.


"Suaranya kayak kenal," gumam Anggara dengan membuka matanya perlahan.


Anggara menoleh kebelakang, akhirnya ia bisa menembus pintu ruang ICU. Sekarang posisi Anggara sedang di luar ruangan. Mata Anggara reflek mengarah ke sendang suara yang begitu memilukan kedua telinganya masing-masing.


Seorang gadis berambut panjang hitam legam tengah di dekap oleh satu gadis lagi yang berambut panjang warna coklat lumayan gelap. Anggara tersentak yang ia lihat adalah Freya dan Jova. Mereka berdua ada di kursi tunggu. Bibir Anggara terbungkam lalu dengan langkah perlahan ia mendekati kedua sahabat perempuannya. Anggara berjongkok di depan dua gadis sahabatnya, Anggara sudah tahu dua sahabatnya itu tak bisa melihat diri Anggara yang tak mempunyai kelebihan melihat sesuatu tidak kasat mata.


Anggara meringis dengan mimik wajah gundah menatap Freya terus menangis dengan menyebut nama Anggara dan nama Anggara. Jova yang tetap mendekap tubuh kecil Freya hanya bisa menenangkannya bersama air linangan mata mengalir membasahi kedua pipi.


"Huhuhu Anggaraaaaaa!!"


"Eh hei udah dong Frey, kamu jangan nangis terus. Kalo kamu nangis, aku malah tambah nangis nih .. udah ya jangan nangisin Anggara mulu."


"Huaaa aku gak mau Anggara kayak gini huhuhu!!"


"Iya-iya aku juga sama Frey, tapi kalo kamu nangisin Anggara mulu, Anggara gak bakal bangun, loh."


Anggara menggertakkan giginya kuat. "Aku benci kamu nangis! Tolong jangan nangisin aku terus, Freya! Hilangin tangisanmu, aku gak suka kamu nangis begini!"


Anggara membentak pun tak ada gunanya juga. Disini tidak ada yang bisa mendengar suaranya Anggara. Anggara membentang tangannya untuk mengelap air mata dari sahabat kecilnya yang masih saja belum berhenti menangis.


Wush...


Lagi-lagi yang terjadi seperti ini, tangan Anggara hanya bisa menembus pipinya Freya saja. Tidak bisa mengelap air matanya kalau ia bukan manusia seperti sahabatnya. Tangan Anggara mengepal kuat, rahangnya mengeras. Ia tidak suka seperti ini, menjadi roh sangat-sangat berat baginya.


Bola mata Anggara terpusat pada air kran wastafel yang dinyalakan oleh satu pemuda berbadan tinggi 180 sentimeter. Ia mengenakan pakaian style kemeja, dari postur tubuh dan gaya rambut warna coklatnya sepertinya Anggara mengenalnya. Pemuda itu keadaannya posisi menghadap belakang dengan mencuci tangannya. Hal itu Anggara langsung beranjak berdiri dari jongkoknya lalu menghampiri pemuda tersebut.


Anggara berdiri di tepat samping sisi wastafel lalu mengamati jelas-jelas wajah tersebut. Reyhan Lintang Ellvano, Reyhan yang tengah mencuci tangan bersama ekspresi wajah sedih. Pandangan Anggara menunduk ke telapak tangan Reyhan yang sedang Reyhan basuh. Disana terdapat darah telapak tangan kirinya yang ia cuci. Darah tersebut nampaknya telah mengering jadinya Reyhan cukup lama menghilangkan noda darah di telapak tangannya.


"Kenapa ada darah? Apa yang udah terjadi sama lo, Rey?"


Anggara sudah seperti orang Amnesia, ia sungguh tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi dengannya hingga raga tubuhnya Koma. Melihat sendunya wajah sahabat lelakinya membuat Anggara ikut sendu bersama hatinya.


Lama-lama semakin terkena air dari kran, darah yang mengering di telapak kiri Reyhan menghilang, menyisakan sisa air dalam wastafel berwarna kemerahan akibat terkena darah tersebut. Anggara mengacak-acak rambutnya barangkali ia langsung dengan cepatnya mengingat apa yang terjadi dengannya. Mungkin Anggara harus mengingat dengan cara ekstra penuh agar kembali mengingatnya.


Wajah sendu Reyhan kini berubah drastis menjadi 180 derajat. Menunjukan tampang muka amarah besar, napasnya bergerak naik turun cepat. Reyhan mematikan air kran secara kasar lalu membenamkan wajahnya di lengan tangan setelah lengan tangannya ia tempel di tembok putih luar kamar rawat ICU sahabat SMP-nya.


"Andai aja gue bisa nyelamatin lo, lo gak bakal Koma!!" geram Reyhan langsung dihampiri oleh Rangga yang duduk di samping Jova memeluk Freya.

__ADS_1


Rangga tak mengeluarkan suaranya namun ia menepuk punggungnya Reyhan untuk meredakan emosinya yang mulai meninggi kembali.


"Gue nyesel! Nyesel buat kedua kalinya sama Anggara!!"


"Udah Rey udah ... gak ada untungnya lo nyesel kek begini. Dengan lo kayak gini, gak ada yang bisa buat Anggara bangun dari Komanya. Kita berdoa aja, minta kesembuhan sama Allah. Oke Rey?"


"Nyelamatin gue? Apa gue kecelakaan?"


Gigi Reyhan bergemeletuk, tangan kepalan ia benturkan di tembok. Menunggu jawaban dari Reyhan yang diam masih emosi akhirnya Reyhan mengangguk lemah menjawab Rangga. Rangga tersenyum tipis sambil terus menepuk-nepuk punggung Reyhan rasa pertemanannya.


"Mending gue pergi aja, toh mereka juga gak bakal jawab suara gue apalagi ngeliat wujud miris gue."


Anggara berjalan lesu pasrah meninggalkan daerah tempat kamar rawat ICU tubuh raganya, Anggara menjauh dari semuanya yang hatinya sangat hancur mengenai keadaan jasadnya yang terbaring lemah Koma. Anggara berjalan melangkah tak tahu ia kemana, rasanya ia roh yang bergentayangan tanpa tujuan. Anggara menemukan tempat bersandar pojok lorong lantai 5, lalu segera ia kesana berdiam mematung menyadarkan punggungnya di tembok putih pojok lorong tanpa duduk.


Anggara mendongak kepalanya ke atas stress dengan nasibnya ini. Ia tak tahu bagaimana caranya agar rohnya dan raganya kembali bersatu. Dalam hati yang penuh gundah, Anggara merosot hingga ke bawah lantai. Kaki-kaki yang posisinya menekuk, lengan tangannya ia letakkan di atas lutut. Ia tenggelamkan wajah sendunya di lengannya atas lutut kakinya. Sama saja Anggara saat ini tengah berada di ambang antara mati dan hidup.


Kediaman Anggara yang menenggelamkan wajahnya di atas lengannya, tiba-tiba munculah seorang gadis cantik berjalan sambil melompat-lompat ria dan bersenandung merdu. Mata gadis itu menyipit saat melihat di depannya terdapat seorang Anggara memakai baju pasien rumah sakit Kusuma. Melihat aura Anggara itu dari jarak kejauhan membuat gadis itu tersenyum ingin sekali mendekatinya dan berkenalan dengannya. Anggara mendongak kembali kepalanya ke atas penuh frustasi yang ternampak dari wajah putih tampannya.


"Ih ada cowok ganteng banget! Deketin ah, siapa tau bisa jadi temen gue!" semangat gadis itu berjalan ria menghampiri Anggara yang tak menyadari kehadiran gadis tersebut.


Usai gadis itu ada di tepat sampingnya Anggara, gadis itu menyapanya dengan ramah lembut.


"Hai, nama kamu siapa?"


Anggara melihat ke gadis itu. "Anggara," singkat Anggara lalu menoleh ke arah depan.


'Idih dingin banget ini cowok satu?! Ih tapi cowok ini cool is the best banget sumpah !'


Gadis itu berjongkok lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan pada Anggara. "Namaku Senja Intara Alandara, kamu bisa panggil aku Senja."


"Ya oke-" Ucapan Anggara terpotong dengan dirinya sendirinya. Anggara fokus melihat dua rambut putih di sela-sela rambut hitam panjangnya Senja. Anggara sedikit berpikir gadis ini masih muda atau sudah nenek-nenek.


'Ini cewek udah tua apa gimana? Kok udah ada putih-putihnya di rambutnya?? Oh apa ini nenek operasi wajah jadi orang berumur tujuh belas tahun, makanya keliatan muda.'


'Ini cowok ngapain dah kok bengong gitu, ada yang aneh sama rambut gue ? Oh iya di tengah rambut gue kan warna putih, duh mampus gue pasti cowok ini ngiranya gue nenek tua !'


"Baik Nek salam kenal," jawab Anggara.


'Nah udah gue duga ini cowok bakal manggil gue sebutan nenek! Huh ternyata gak cuman Cahya doang yang bilang gue gitu, ini si Anggara sama aja !'


"Heh enak aja kamu manggil aku nenek! Aku masih muda tau!"


Anggara sedikit terlompat kaget mendengar amukan Senja yang memarahinya, lagi sedih malah dimarahi. Nasib apes Anggara memang. Anggara menyerong tubuhnya ke hadapan Senja yang tatapannya tajam pada Anggara.


"Eh maaf, Nek Senja masih muda-"


"Ih kuping kamu budeg yak! Aku masih muda loh! Baru umur tujuh belas tahun!"


"Lah, y-ya maaf- kirain kan kamu udah nenek-nenek. Habisnya itu di tengah-tengah rambutmu ada putih-putihnya, aku ngira kamu udah nenek-nenek."


"Huft yaudah deh gakpapa. By the way nama panjang kamu siapa? Kamu tadi nyebutin nama panggilan doang gak sama nama lengkap."


"Anggara Veincent Kaivandra- eh tunggu bentar, kamu bisa lihat aku?!"


"Ya bisa dong masa enggak dong."


"Kamu manusia atau apa?" tanya Anggara.


"Aku hantu."


"Hantu? Tapi kenapa kamu bisa lihat aku, bahkan kamu bisa interaksi sama aku?"


"Memangnya kamu apa?" tanya Senja sambil telengkan kepalanya ke kanan.


"Jiwa yang terpisah dari raganya."


"Oh kamu itu roh, toh? Hmm kalo gitu berarti memang kita bisa saling lihat, menyentuh, dan sama bisa interaksi dong, gak usah di heranin lagi," ucap santai Senja sambil mengibas kibaskan tangannya.


Anggara menyusutkan keningnya. "Kenapa gitu? Kamu hantu sedangkan aku roh. Kita beda jenis, kan? Kamu sudah meninggal, aku masih hidup meskipun aku telah menjadi roh, apa yang sama coba?"


"Kita memang beda, Ngga. Tapi kalau antara hantu dan roh itu sama aja. Jadi kita bisa saling lihat, nyentuh dan berinteraksi, bedanya begini kamu masih ada tujuan hidup sementara diriku gak ada tujuan hidup lagi."


"Oh oke." Anggara memalingkan wajahnya dari Senja ke depan.


"Kamu jadi roh karna tubuhmu yang disana lagi Koma yak?"


"Hm'em."


"Apa kamu ingat penyebab kamu Koma?"


"Aku gak tau," ucap lesu Anggara.


"Hmmm, kecelakaan mobil motor? Kecelakaan pesawat? Jatuh dari jurang? Keracunan? Minum alkohol berlebihan? Atau di hajar sama orang penjahat??"


"Aku gak tau, aku gak inget kenapa aku bisa Koma. Terakhir aku inget, aku lagi jalan di lorong lantai lima ini. Tau-taunya malah jadi roh."


"Jalan di lorong? Bisa saja kamu Koma gara-gara jatuh dari tangga rumah sakit ini."


"Udahlah, pusing aku banyak mikir!"


Senja mengerucutkan bibirnya, tetapi entah mengapa melihat Anggara hati Senja terenyuh, Senja merasakan Anggara memiliki aura yang sungguh baik dipandang orang meskipun lelaki tersebut sangat Introvert.


' Ganteng-ganteng gini tapi keliatan Introvert banget dah, ih sumpah berasa ngeliat selebritis di depan mata kyaaa ! ' jerit batin Senja dengan senyam-senyum sendiri.


"Biasa aja kali mujinya, gak usah berlebihan."


"Eh loh kok kamu tau aku muji kamu?!"


"Aku bisa baca pikiran orang, apalagi pikiran hantu."


"Termasuk aku dong?!"


"Hmm."


' Ih sumpah dehem doang jawabnya, untung ganteng kalo kagak, udah gue ulek-ulek itu pala cowok. Please deh Ja, ngapain sih lo malah kenalan sama ini cowok cuek dingin gini?! Bikin sakit hati aja ! '


"Kalo gitu gak usah kenalan biar gak sakit hati!" ketus Anggara.


Senja hanya bisa memicingkan matanya lalu tersenyum paksa. "Yes sir!" Senja merubah wajahnya menjadi mimik muka kesal ingin memukuli Anggara. "Puas kamu?!"


"Terserah."


Anggara bangkit dari duduk dari lantai dan akan melengos pergi meninggalkan Senja. Namun saat akan melangkahkan satu kakinya ke depan, tangan Anggara dicekal Senja kuat.


"Mau kemana?!"


"Pergi."


"Pergi ke Surga?!"


Anggara menoleh ke belakang dengan tatapan tajamnya. "Ya gak lah, lagian siapa sih yang mau mati?"


"Yaaa siapa tau aja mau ma--"


"Diem dulu!"


Anggara menempelkan jari telunjuknya di mulutnya untuk agar Senja diam sebentar. Anggara mendengar seperti suara rantai besi yang di seret-seret. Sendang suaranya berasal dari jalan pembelokan lorong. Mata Senja mencuat jelas lalu menarik Anggara membawa pergi bersamanya.


"Eh kamu mau bawa aku kemana?!"


"Gilles Ngga! Gilles, ayo cepet ikut aku! Kamu harus hindari dari arwah jahat itu!!"

__ADS_1


Secara spontan, Senja gegas menarik Anggara terbang ke atas untuk menembus dinding-dinding menuju atap rumah sakit Kusuma. Anggara begitu kaget dirinya tak menapak di lantai lagi, ia terbang di udara bersama tarikan hantu gadis cantik itu. Anggara hanya diam pasrah di bawa melayang oleh Senja Intara Alandara yang merupakan hantu arwah beraura benderang tak ada sedikit sekali aura pertanda ketaksaan.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2