Indigo

Indigo
Chapter 95 | Occult Hint


__ADS_3

“Astaga! Siapa yang ngunci?!” pekik kaget Freya dan Jova seraya berjalan mundur yang dua sahabat lelakinya ada berdiri di belakang mereka.


Sekejap detik kemudian, angin yang entah berasal darimana karena ruangan ini tak ada satupun ventilasi jendela, menerpa kencang keempat remaja yang belum pulang tersebut. Semacam badai yang mampu mengguncangkan para benda-benda nang di dalam gudang olahraga. Empat sahabat itu sama-sama mendekatkan satu lengan tangannya di wajah, barangkali ada debu atau barang terlempar ke muka mereka.


“Angin apa badai sih, ini?! Kenceng amat!” pekik Jova sampai tak bisa membuka matanya sepenuhnya melainkan setengah saja.


“Kalau mau teror kami yang normal-normal aja, kenapa?!” protes Reyhan agak berteriak dipertengahan angin kuat ini.


Usai sudah mereka diterpa angin seolah seperti badai itu. Angin tersebut berhenti dan menghilang layaknya puas memberikan hal tersebut pada mereka. Baru saja menyingkirkan lengan tangannya dari muka, kotak kardus coklat yang ada di tumpukan atas Reyhan, terjatuh karena posisi letaknya tak seimbang gara-gara angin badai tersebut.


“Wadow!” Kotak kardus itu berhasil menimpa kepala Reyhan hingga pemuda yang selalu kena sial tersebut spontan jongkok dengan mendesis mengusap-usap pucuk kepalanya lalu menatap kotak kardus kecil yang telah berjaya mengenai kepalanya.


“Kardus gak ada didikan! Main asal jatuh-jatuh aja di kepala orang! Untung ae gak bocor!” omel Reyhan menatap kardus kecil itu yang tergeletak di lantai depannya ia jongkok.


“Idih! Benda mati kamu marahin, emang dasar Stress dari lahir!” timpal Jova dengan tertawa.


“Huhuhu ... hiks hiks hiks ...”


Tubuh keempat kelas sebelas itu, menegang karena apa yang mereka tangkap di pendengarannya masing-masing adalah suara raungan tangisan sendu perempuan yang sama sekali tidak ada wujudnya. Bahkan Angga yang pemilik indera keenam juga tak bisa melihat sosok nang menangis lirih membuat merinding tersebut.


“Kak Jova ... Kak Freya ... Kak Reyhan ... Kak Angga ...”


“Siapa tuh yang manggil?! Siapa tuh?! Siapa?! Huaaa! Angga, gue takut!!” Reyhan memeluk erat kedua kaki Angga sang sahabat yang keadaan lelaki friendly itu tengah masih belum bangkit dari jongkok-nya.


“Heh, lepasin!” kesal Angga bersama menggerak-gerakkan sepasang kaki jangkungnya agar Reyhan mau melepaskan dekapannya. Memang saat ini sahabat humorisnya sedang ketakutan dengan suara panggilan lengai menyeramkan barusan dari sosok tak kasat mata perempuan tersebut.


“Eh kalian berdua! Badan kalian kan pada gede-gede, dobrak gih, pintunya. Kalau kita berempat di sini terus-menerus, yang ada pasti gerbang sekolah dikunci sama mang Asep,” suruh Jova.


Reyhan yang menelungkup mukanya di kaki Angga, menoleh ke arah Jova. “Lah terus yang badannya kecil-kecil bantu apaan??”


“Bantu Doa,” serentak jawab kedua gadis sahabatnya dengan senyum lembut.


“Yeee, ringan amat?! Mentang-mentang kami cowok, nyuruhnya yang berat banget! Iya kalau habis didobrak pintunya nggak kenapa-napa, kalau jebol? Kalian berdua harus tanggung jawab sama ganti rugi.”


“Cepetan bangun! Cerewet mulu dari tadi, sepet gue dengernya!”


“Iya-iya, Bang! Sabaran dikit, dong!”


Dengan menggerutu, Reyhan melepaskan kedua tangannya dari sepasang kaki Angga lalu dirinya mulai bangkit berdiri. Lelaki friendly itu nampak sekarang tengah membersihkan seragamnya yang kotor karena terkena debu, selanjutnya ia melangkah mendekati Angga yang telah berada di tepat depan pintu gudang olahraga, sementara Freya dan Jova memperhatikan mereka berdua dari dekat rak-rak bola.


Angga dan Reyhan dengan bersama ancang-ancang untuk mendobrak pintu tersebut sekuat tenaga yang mereka punya. Satu kali dobrakan kencang tak membuahkan hasil, membuat kedua perempuan sahabatnya mengukirkan senyuman getirnya. Dua pemuda itu telah berusaha mendobrak pintu gudang olahraga agar terbuka, namun hasilnya tetap sama saja. Pintu tersebut tak mau bekerja.


“Payah!” Reyhan kemudian melihat Angga yang menghindari pintu gudang olahraga. “Udah nyerah, Ngga?”


Di situ Reyhan langsung bisa membaca pikiran Angga bahwa dengan ia berjalan menghindari pintu dan lalu berlari memarani pintu tersebut, otomatis saat didobrak lagi, hasilnya berbuah. Reyhan berbalik badan menghampiri sahabatnya yang ada di belakang tumpukan-tumpukan kardus yang ukurannya berbeda-beda.


“Hitungan sampai tiga kita mulai ya, Cuy. Satu .. dua .. tiga!!” Setelah aba-aba dari Reyhan, mereka berdua berlari mendatangi pintu gudang olahraga kembali lantas mendobrak kencang dengan tenaga maksimalnya.


BRAK !!!


Akhirnya pintu gudang olahraga terbuka dengan lebar tanpa ada cacat atau kerusakan sedikitpun, tetapi yang terjadi dengan Reyhan adalah....


Gedebuk !!!


“Aduh mak'e! Apes, apes!”


Reyhan terjerat oleh tali sepatunya yang membuat ia berakhir jatuh di lantai dengan keras. Angga yang posisinya telah berada di luar ruangan, spontan menoleh ke belakang arah Reyhan yang terjatuh keadaan tubuh tengkurap.


“Pecicilan,” kemam Jova sembari menggelengkan kepalanya.


Freya yang melihat Reyhan terjatuh dengan mengomel-ngomel pada dirinya yang ceroboh, berlari kecil menghampirinya lalu membantu sahabat humorisnya untuk bangkit berdiri. Sementara pandangan Angga membentur kepada sosok perempuan siswi yang mengenakan seragam OSIS SMA Galaxy Admara sedang berdiri di tengah-tengah jalan dari kejauhan. Rambut kusut bernoda darahnya menutupi wajahnya dan apa yang Angga rasakan sekarang, siswi itu adalah merupakan arwah yang bergentayangan di sekolah internasional ini.


Ketiga sahabatnya yang menatap arwah menyeramkan itu, auto detak jantungnya berpacu cepat batas dari normalnya. Bahkan keringat dinginnya saling mengucur termasuk Reyhan yang mukanya langsung memucat karena melihat makhluk astral mencekam untuk kesekian kali.


Jiwa pemberani Angga seolah mendorong raganya buat melangkah maju memarani arwah siswi tersebut yang hanya diam macam patung. Ya, lelaki Indigo itu benar-benar melangkahkan kakinya mendekati sosok itu yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja. Karena jika menerawang auranya, hantu tersebut seperti ingin meminta bantuan sekaligus memberikan sebuah petunjuk gaibnya.


Kepala Angga menunduk karena tinggi badan hantu itu lebih pendek dibanding pemuda tersebut yang adiluhung 180 sentimeter, sementara siswi arwah itu hanya 159 sentimeter. Angga berinisiatif menapakkan lutut kirinya di lantai saat berjongkok depan arwah tersebut, sedangkan ketiga sahabatnya begitu kagum pada keberanian Angga yang menghadapi makhluk halus menggentarkan itu.


“Apa tujuanmu?” tanya Angga berkomunikasi pada hantu siswi tersebut.


Arwah tersebut tak menjawab apapun dari pertanyaan manusia Indigo itu, dan pandangan Angga beralih menatap name tag siswi tersebut yang ada di samping jas almamaternya. Sayangnya, identitas nama sosok tersebut tertutup oleh bercak-bercak darah. Tapi karena Angga memiliki mata batin yang mampu menembus sesuatu, ia pastinya sanggup mengetahui identitas namanya. Usai menembus darah hantu itu menggunakan matanya, pemuda tampan tersebut tersentak kaget.


“Emily Michaela S? Emily Michaela Sophia??” lirih Angga bermonolog.


Arwah siswi perempuan berseragam itu yang rupanya adalah Emily, menganggukkan kepalanya dengan gerakan lambat. Kemudian arwah hantu Emily membentangkan satu tangannya untuk mengangkat tangan berkulit putih Angga dari bawah lengan manusia berjulukan Six Sense tersebut.


Jari telunjuk tangan kiri Emily gadis arwah itu tunjukkan di dekat lengan Angga yang ia angkat, kemudian dengan rasa sakit yang Angga terima, Emily mengukirkan sebuah tiga huruf kapital memakai sihirnya, seakan-akan hal itu seperti menyayat lengan pemuda Indigo tersebut.


“Emph!” Angga mengernyitkan matanya dan merapatkan bibirnya untuk berusaha menahan goresan yang diberikan Emily sementara. Darah lengan Angga nang timbul jelas agak mengalir keluar dari dalamnya.


Di sisi lain, Freya penasaran bersama menelan salivanya apa yang dilakukan arwah siswi itu pada sahabat kecilnya. “Hantunya lagi ngapain, sih?”


“Pengen nyamperin tapi gak punya nyali,” imbang Jova.


“Udah, kalian berdua jangan kemana-mana. Tetep di belakangku aja, nanti kalau misalnya itu setan nyerang ke arah kita pake sihir atau mantranya, biar aku dulu yang kena serangannya,” ujar Reyhan melindungi dua sahabat perempuannya.


“Reyhan Lintang Ellvano, ih!!” jengkel kedua sahabatnya menyebut nama lengkap Reyhan secara bersamaan sambil mengasih pukulan di punggungnya. Yang mana Freya memukul lelaki humoris itu pakai telapak tangannya, sedangkan Jova memukulnya menggunakan tinjuan kepalan tangan.


“Aduh! Apa salahku, coba?!”


Angga membuka matanya perlahan dan mengubah bibirnya tak mengatup lagi, bola matanya langsung mengarah ke lengannya yang digores untuk mengukir beberapa huruf tanda kapital. Ia menyipitkan matanya waktu ia melihat tiga huruf tersebut yang ukurannya lumayan besar. Sampai hingga mulut Angga membuka buat mengeluarkan suaranya.


“RGE? Apa artinya?” Pemuda Indigo itu mendongakkan kepalanya ke wajah Emily yang tertutup oleh rambut panjang kusut berantakannya.

__ADS_1


Emily melepaskan tangan pucat pasinya dari bawah lengan Angga tanpa meresponnya terlebih dahulu, sebenarnya Angga tak terlalu mengharap Emily menjawab pertanyaannya pada soal huruf 'RGE'. Beberapa menit kemudian, sosok Emily seperti mundur secara mengambang menjauhi manusia Indigo tersebut. Angin ringan gaib membuat rambut Emily tertiup dan memperlihatkan antara muka serta matanya yang amat menyeramkan dibanding saat ia masih beraga.


“Anjir, auranya ngeri!” Reyhan langsung menutup kedua matanya gesit agar tak mempengaruhi tubuhnya yang menjadi berubah melemah atau jatuh sakit kembali seperti dulu.


Setelah mengambang mundur, sosok hantu Emily memudar lalu menghilang. Huruf-huruf yang tercantum di lengan kanan Angga menjadi sebuah tanda-tanda tanya di dalam kepalanya. Angga sangat yakin ini adalah sebuah petunjuk gaib yang telah diberikan oleh Emily dan tugas Angga yang sebagai anak remaja Indigo, mencari tahu tentang arti tiga huruf misteri tersebut.


Angga merasakan bahwa ketiga sahabatnya yang memperhatikan ia sudah selesai berkomunikasi dan menghadapi arwah siswi kelas X IPA 5 itu, berjalan menghampirinya. Freya, Jova, Reyhan melongo tak mengerti singkatan apa dari tiga huruf yang tertera jelas di lengan tangan kanan sahabat jiwa pemberaninya, apalagi terlihat ada seraut muka bingung di ketiga remaja yang tak tahu apa-apa mengenai hal tersebut.


“Angga? Itu apa yang ada di lenganmu? Mana tulisannya berdarah, lagi. Kayak tanganmu habis digores ukir begitu,” ujar tanya Freya bergidik ngilu.


“Ada suatu petunjuk dari arwah itu yang dia berikan padaku. Yaitu tiga huruf yang perlu aku cari artinya,” jawab Angga tanpa menoleh sedikitpun ke Freya yang berdiri di sebelahnya.


Mata ketiga sahabat Angga terbelalak sempurna saat tulisan goresan di lengan milik Angga menghilang dengan sendirinya, sementara pemuda sifat pendiam itu hanya tampang biasa saja karena hal-hal gaib seperti tersebut, ia memang sudah terbiasa semenjak dari masa kecil.


“Waaa tulisannya hilang!!!” teriak Reyhan kencang sambil menuding saking takut dan Syoknya.


Jova dengan segera membekap mulut Reyhan hampir seperti menampar. “Nggak usah teriak gitu juga, sengklek! Norak amat, sih?! Orang kamu sering diteror sama Arseno mesti dapet begituan, lah!”


Jova melepaskan tangannya dari mulut sahabat yang selalu perang mulut dengannya. “Tetep aja aku kaget! Setan manapun kalau sudah serem apalagi ngasih hal janggal kayak gitu bikin jantung mau copot, pasti aku takut!”


“Penakut banget, sih jadi cowok?!” damprat Jova memandang Reyhan keki.


“Gak usah ngomong gitu sama aku, kalau kamu sendiri juga penakut!”


“Ih sori, ya. Aku bukan cewek penakut,” gaya Jova dengan sombongnya.


“Apa? Apa? Buktinya kamu ngacir dari toilet gara-gara ngeliat tulisan darah di cermin sekaligus suara nangisan perempuan. Itu apaan kalau bukan penakut, hm?!”


“Cukup! Ayo kita pulang sekarang, mumpung gerbang sekolah belum dikunci beliau,” lerai Angga seraya hendak berdiri.


Lantas menutup perdebatan antara dua sahabat sejoli tersebut, mereka berempat mulai meninggalkan dalam bangunan SMA Galaxy Admara yang suasananya sudah begitu sepi dan mulai gelap. Mereka melangkah bersama keluar dari lobby lalu menuju ke parkiran khusus roda dua kemudian menaiki motor Honda Vario serta Beat matic-nya masing-masing.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Komplek Permata - Rumah Angga


Di ruang dapur tepatnya ruang makan, nampak malam pukul 19.00 para keluarga Indigo di rumah sedang menikmati hidangan makanan malamnya yang telah dimasak oleh sang ibu Angga. Nampak semuanya sibuk menikmati makanan tersebut ialah sup daging ayam yang biasa Andrana masak, ditambah di beberapa piring yang saling berjejeran ada lauk pauk nang tercium lezatnya.


“Angga?”


“Ya, Ma?” respon singkat Angga tanpa melihat Andrana yang memanggilnya.


“Minggu depan besok, Mama sama ayah sudah balik lagi ke kota Semarang. Karena cutinya telah berakhir, Nak. Jadi maafkan kami ya, Nak. Kalau kamu ditinggal lama lagi oleh Mama dan ayah.”


“Oh. Begitu, yasudah nggak apa-apa, kok. Lagi pula tugas Dinas kalian di luar kota lebih penting.”


Andrana tersenyum sendu. “Tidak begitu juga, Nak. Tetap bagaimanapun, Angga lebih penting dari semua itu bagi untuk Mama, ayah.”


Angga mengangguk kepala dengan senyum tipis. Agra yang selesai meneguk air putihnya, menatap putranya yang akan menyendok pelan kuah sup hangatnya. “Dua bulan lagi, kamu melaksanakan Ujian, kan? Untuk penentuan kenaikan jenjang berikutnya?”


“Sayang banget ya, Nak ... Mama sama ayahmu sudah nggak ada di kota Jakarta, kami juga nggak bisa menemanimu di sini semasa besok Ujian tiba. Sebenarnya Mama pengen banget beri dukungan untuk Angga tanpa bertugas di kota Semarang.”


Angga menghembuskan napasnya sangat pelan kemudian menoleh untuk menatap sang ibunya. “Jangan terlalu berlebihan, Ma. Angga sudah terbiasa ditinggal Mama sama ayah pergi keluar kota. Angga juga sudah dewasa, pasti bisa jaga diri.”


Andrana kembali mengukirkan bentukan senyumannya, meskipun beliau rada khawatir kalau minggu depan telah meninggalkan anaknya bersama suaminya pergi keluar kota untuk melanjutkan tugas Dinas di kantornya. Andrana tidak ingin sama sekali Angga mengalami kejadian yang buruk seperti dahulu.


“Kalau diperkirakan hari Minggu mama sama Ayah mulai packing barang, dan besok minggu depan hari Senin waktu Subuh, mama, Ayah berangkat ke kota Semarang. Tidak apa-apa kan, Ngga?”


“Iya. Nggak masalah, Ayah.”


Agra tersenyum lebar pada jawaban putranya yang sedikit menampilkan senyuman simpel. Selang detik kemudian, pandangan Angga mengarah ke Andrana yang menatap lekat gundah padanya. “Kenapa, Ma?”


“Berarti Mama sama ayah bertemu Angga di sini cuman tinggal dua hari dong, ya? Wah, pasti Mama dan ayah bakal rindu banget denganmu. Mama harap, saat orang tua Angga di luar kota, Angga bisa jaga diri baik-baik ya, Sayang? Tolong jangan sampai kami mendengar lagi kabar buruk yang mengenai tentang keadaan kondisimu.”


“InsyaAllah ya, Ma.”


“Ingat ya, Ngga. Kalau cederamu kembali kambuh atau kamu merasakan sakit di kepalamu, tolong segera minum obatnya. Jangan ditunda-tunda, paham? Kalau kamu menunda-nunda, itu semakin memperburuk keadaanmu lho, Angga.”


“Itu pasti. Ayah tenang saja.”


“Dan juga, kamu nggak boleh melakukan aktivitas yang membuatmu kelelahan lho, ya? Aktivitas-aktivitas berat seperti itu, kamu masih dilarang sama dokter Ello, Angga. Bisa kamu turuti perintah Ayahmu ini, kan? Soalnya kamu itu anak keras kepala, kadang susah diatur.”


Angga melirik Agra dengan hilang senyuman. “Memangnya Ayah sendiri nggak keras kepala dan kadang susah diatur?”


“Eh?? Aduh kamu ini ya, Nak. Ternyata sudah pintar menjawab tanya seperti itu sama orang tua, ya.”


Andrana yang mendengar seksama pertanyaan anak putranya dan jawaban suaminya, tertawa kecil dengan menggelengkan kepalanya. Pada akhirnya satu keluarga tersebut di rumah, kembali melanjutkan kegiatan makan malamnya hingga tuntas.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam kamar, Angga nampak tengah menyandar punggungnya di kepala ranjang tidur. Posisi pandangannya menghadap depan, memikir tentang kedatangan arwah Emily dan pemberian petunjuk gaib dari hantu tersebut. RGE? Huruf-huruf itu tetap masih menjadi sebuah pertanyaan di benak kepala pemuda Indigo itu, haruskah ia lekas mencari tahu segera arti dari tiga huruf kapital tersebut untuk membantunya agar supaya Angga dapat membuka kunci serta mengantarkan arwah itu ke alam abadinya?


Tring !


Tring !


Tring !


Pikiran Angga terbuyar singkat ada saat suara notifikasi grup WhatsApp di ponselnya barusan, dampak dari suara berisik tersebut, fokus Angga menjadi terusik sudah. Angga berdecak kemudian mendengus karena lupa menonaktifkan silent atau mode senyap di pengaturan layar atas handphone miliknya. Kini tangan Angga membuka layar utama ponselnya kemudian membuka aplikasi chat online-nya. Nampak grupnya tengah sedang ramai yang mengirim beberapa chat-nya masing-masing.


...----------------...


...FOUR TRUE FRIENDSHIP...

__ADS_1


[Jova]


Guys, Kira" tadi sore itu setannya ngapain, yak? Gue pengen nyamperin sih waktu itu, tapi kayaknya itu setan bakal ngamuk ke gue deh. Ngapain, ya?


[Reyhan]


Mana saya tau, saya kan ikan


[Jova]


Oooo, aku sumpahin kamu jadi ikan beneran, mampoz!


[Reyhan]


Kronis parah!!


[Freya]


Aduh kalian berdua ini mesti nggak lupa buat ribut! Eeee, kalau soal hantu itu, aku nggak tau sih, Va. Tapi kalau kamu nanya ke Angga, mesti dia tau


[Jova]


Cowok kutub Utara itu? Buang" waktu kalau aku nanya sama dia, paling juga si Angga udah tidur. Dia kan kalau urusan tidur paling awal. Lagian toh Angga cuman jelasin kalau dia dikasih petunjuk horor dari arwah serem itu


[Reyhan]


Tidur apaan, woi?! Noh, orangnya nyimak grup dari tadi. Sumpah lo Ngga. Jawab napa? Jangan diem bae di grup, aktif dikit


^^^Banyak ngatur!^^^


[Reyhan]


Ya harus gue atur dong! Soalnya kehidupan lo sungguh dark, kayak patung, sama kayak robot. Eh, kami mau tanya soal tadi sore pas di dalem sekolah, dong. Lo diajak komunikasi apa saja sama arwah itu?


^^^Gue gak diajak komunikasi tapi dikasih petunjuk 3 huruf yang dia berikan^^^


[Freya]


Nah itu, kamu sudah nemuin arti dari tiga huruf RGE itu tadi yang udah hilang di tanganmu, Ngga??


^^^Belum. Sama sekali belum, mungkin agak sulit karena kayaknya itu sebuah teka-teki yang harus dipecahkan^^^


[Jova]


Misteri banget, anjir! Eh bisa jadi itu merk dari benda yang menjadi sebuah petunjuk dari setan itu


^^^Bukan. Bukan merk, tapi nama tiga orang yang disengajakan pakai inisial^^^


[Freya]


Wah sudah hampir ketemu jawaban artinya tuh, Ngga! Tapi kita masih belum tau RGE itu nama siapa saja. Oh iya, kamu tau siapa nama arwah itu, Ngga?


^^^Emily Michaela Sophia^^^


[Jova]


WHAT??!! Kamu seriusan, Ngga?! Namanya Emily Michaela Sophia?! Gilak! Berarti setan cewek yang minta tolong sama aku, Reyhan di toilet... Emily, dong?!


^^^Iya. Kamu bener^^^


[Reyhan]


Oh my gosh! Gue gak nyangka, Bro! Gue yang bisa liat setan ama ngerasain keberadaan aura pasca Koma aja gak tau, anying! Eh terus" RGE itu apaan? Apa tiga orang yang dulu pernah nyakiti hati Emily? Atau... Membully Emily saat di sekolah kita berempat?


^^^Begini aja, kita tutup dulu tentang Emily. Biar lebih jelasnya kita bahas besok pas di sekolah. Setuju?^^^


[Reyhan]


Anjir kelamaan! Tapi okelah, gue setuju-in aja


[Freya]


Oke deh kalau bagusnya begitu. Aku setuju sama kamu


[Jova]


Hmmm... Boleh banget tuh! Soalnya kalau bahasnya di sini otakku blank


^^^Oke^^^


[Reyhan]


Halah! Mangkanya itu otak kudu banyak di update setiap hari biar gak blank kayak game nge-bug!


[Jova]


Nge-chat apa kamu, Nyuk?! Awas aja ya pas besok Senin, aku tampol mukamu pake sepatuku!


^^^Gue off dulu, ya^^^


...----------------...


Angga mematikan layar ponselnya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur, sementara kepalanya ia letakkan di atas bantal nyamannya. Walaupun telah berbaring di atas kasur Spring Bed-nya, kedua mata Angga masih melek. Satu pertanyaan di dalam relung hatinya, apakah inisial RGE itu adalah tiga gadis siswi yang bermain fisik pada Emily dan berakhir dibunuh secara dijatuhkan dari ketinggian gedung sekolah SMA Galaxy Admara saat penglihatan mendadak itu muncul di alam mimpinya?

__ADS_1


Angga menghembuskan napasnya pasrah karena dalam kondisi cedera kepalanya yang belum ada perkembangannya untuk pulih, ia tak mampu menerawang lebih jauh. Sepertinya ini yakni sudah dari jalan takdirnya memiliki penderitaan tersebut.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2