Indigo

Indigo
Chapter 75 | Changing Destiny


__ADS_3

Minggu pukul 15.00 sore di rumah Joshua, para remaja antara banyaknya lelaki dan gadis tengah masih berkutat pada tugas PR Matematika yang mereka kerjakan bersama-sama meski tak di suruh oleh pak Harry. Reyhan yang duduk di kursi roda hanya pringas-pringis melihat kesemua temannya dan ketiga sahabatnya yang otaknya telah dikuras oleh lumuran jebakan tugas yang diberikan beliau.


“Jo, masih ada balok es nggak di freezer kulkas dapur? Kepala gue pengen gue ademin pake es batu.”


Raka melirik sinis Aji yang meminta balok es pada Joshua yang tengah mumet tujuh keliling soal tugas PR-nya. “Kenapa gak sekalian otak lo yang didinginkan pake balok es batu, biar beku! Ada-ada ae permintaanya ini bocah.”


“Diem lah lu, Rakato Samudra Pasifik!” kesal Aji yang semakin buat berantakan isi otaknya dan suasana hatinya yang sengsara gara-gara tugas sekolahnya.


Angga menghela napasnya sejenak sambil meletakkan bolpoin-nya di atas buku tugasnya kemudian merogoh ponselnya yang ia gembol di saku kantong jaketnya. Lelaki tampan pendiam itu dengan wajah datarnya akan mengirim sebuah chat kepada Andrana bahwa dirinya pulang terlambat. Sang ibu paling khawatir kalau anak putranya pulang telat dikarenakan wanita itu tak ingin Angga mengalami keletihan atau kalau hal tersebut sampai terjadi, kambuh dari cedera itu bisa muncul.


Namun baru saja akan membuka layar utama di benda pipihnya, Angga berdecak tanpa mengubah ekspresi mukanya. Sedikit kecewa karena ada sebuah notifikasi pemberitahuan bahwa kuota paket datanya telah habis total, itu artinya Angga susah mengirim pesan di aplikasi online tersebut.


“Kamu kenapa, Ngga?” tanya Freya pelan yang ada di kirinya. Gadis itu menyondong badannya ke depan sementara kepalanya menoleh ke arah Angga yang tengah menatap nanar layar ponselnya.


“Mau ngirim chat, kuota paket habis.”


Freya tertawa kecil sambil mengambil ponselnya yang ada di atas meja. “Oalah, kuota data seluler kamu udah habis, toh. Kamu mau ngirim pesan ke siapa emangnya?”


“Mama.”


“Tenang aja deh kalau gitu.” Freya menyerahkan ponselnya pada sahabat kecilnya. “Kamu chat aja mamamu pakai HP ku. Gampang, kan?”


“Nggak usah.”


“Halah, nggak apa-apa, kok. Kamu pasti mau nge-chat penting kan sama beliau? Udah pakai aja WhatsApp ku.”


Gadis cantik polos itu memberikan senyuman manis lebar kepada Angga dan Angga membalasnya dengan senyuman simpel andalannya bersama tatapannya. “Oke. Makasih, ya.”


“Siap. Sama-sama, hehehe.”


Reyhan yang ada di belakang Angga menatap curiga pada sahabat satunya itu. “Kok kuotanya pake habis, sih? Ini bukan tanda-tanda soal mimpi buruk gue itu, kan ya?”


Jova yang sibuk memakai rautan pensil untuk menajamkan alat tulis tersebut sontak saja menoleh ke arah Reyhan yang bergumam tidak jelas sesuai yang Jova tangkap pada indera pendengarannya. “Ngomong apaan sih kamu, Rey? Bicara sendiri, hih serem!”


Reyhan tersentak kaget lalu mengarahkan pandangannya melintang ke Jova. Lelaki itu nyengir kuda sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Hehehe, bukan apa-apa kok.”


‘Gak nyadar gue kalau di sebelah gue ada si Sableng Jova.’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Diperjalanan menuju ke komplek Kristal dengan Angga yang fokus menyetir mobilnya tiba-tiba mengeremnya, membuat Reyhan yang duduk di samping kursi kemudi menoleh ke arah sahabat yang menghentikan mesin mobilnya. Sementara jalan kota terlihat begitu padat di sore hari ini, banyak para kendaraan berlalu lalang membelah jalan aspal.


“Lo ngapain berhenti?”


“Gue mau beli kartu voucher di sebrang jalan,” jawab Angga seraya melepaskan sabuk pengamannya.

__ADS_1


Reyhan langsung saja menoleh ke arah kaca mobil dekat Angga yang duduk. “Tempat ruko-ruko itu?!”


Angga menolehkan kepalanya ke Reyhan dengan menyusutkan keningnya. “Iya, kenapa? Kok lo kayak kaget gitu? Aslinya mau beli di depan sekolahan tapi konternya tumben tutup.”


“Oh.”


Angga menautkan kedua alisnya sambil memicingkan dua matanya. “Napa? Jangan bilang lo mau nyuruh gue buat beliin lo roti hamburger yang di depan ruko-ruko situ?”


“Idih, tumben ngomongnya ngaco! Gue udah kenyang kali makan di tempatnya Joshua. Sumpek di dalem mobil. Ikut keluar ya, hehehehe.”


“Kebanyakan cengengesan! Mana ngerepotin gue mulu dari kemarin.” Angga berucap seraya melepaskan kunci mobilnya, sedangkan si Reyhan menganga.


“Nah, kan. Pada akhirnya gue ngerepotin lo segala banyak macem, gak jadi aja deh kalau gitu.”


Angga menggeleng-geleng kepalanya dengan terkekeh mendengar ungkapan reaksi Reyhan yang mendengar ucapannya nang asal bicara. “Bercanda. Oke, lo tunggu di sini bentar, bakalan gue ambilin kursi rodanya dulu di bagasi mobil.”


Angga memasukkan kunci mobilnya ke dalam saku kantong jaketnya, kemudian setelah itu membuka pintu mobil untuk segera mengambilkan kursi roda milik sahabatnya di dalam bagasi mobil Avanza hitamnya. Dan kini usai membantu Reyhan keluar dari mobil serta mendudukkannya di kursi roda, Angga menutup pintu mobil bagian kiri sekaligus sesudahnya, menekan tombol otomatis kunci mobil untuk mengunci mobilnya.


“Mau ikut nyebrang atau nunggu di sini?” tanya lelaki Introvert itu pada sahabatnya yang menghentikan kursi roda Reyhan di dekat trotoar.


“Di sini aja, gue gak mau lo kerepotan lagi. Udah sono-sono!” usir Reyhan dengan tertawa.


“Iya!” Angga melepaskan dua pegangan kursi roda yang fungsinya untuk menyorong kemudian pemuda cuek itu mulai menyebrangi jalan aspal yang sudah lumayan sepi dari arah berlawanan kanan serta kiri.


Dilihatnya, Angga tengah berdiri di salah satu dalam ruko-ruko tersebut yang di sana ada satu konter. Sahabatnya nampak tengah memberikan satu lembar uang seraya menerima kartu voucher kuota data seluler yang telah habis kandas di ponselnya. Kagetnya, Reyhan melihat beberapa segerombolan perempuan yang berusaha menggoda Angga.


“I-ini ... astaga gak mungkin kalau ini akan terjadi!” Reyhan menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan memejamkan matanya sangat rapat.


Setelah itu dengan firasat yang menjadi tak enak, Reyhan mendongakkan kepalanya ke atas langit. Langit oranye yang akan berganti langit petang yaitu Maghrib, lelaki friendly tersebut beralih sedikit menarik kemeja bagian lengan kanannya untuk menengok jam sport-nya yang bertengger di pergelangan tangannya.


‘Jam lima sore lewat dua puluh menit.’


Usai menyebutkan jarum angka di jam sport miliknya dalam relung hati, pandangan mata Reyhan tak sengaja mengarah ke sebuah mobil truk yang sedang melaju di arah kiri berlawanan. Tubuh Reyhan menegang seketika karena otaknya terputar langsung pada kejadian yang tak ia inginkan di dalam dunia alam mimpi buruknya nang menimpa Angga hingga meninggal dunia.


“Mobil truk itu, bukannya!”


Kecepatan maksimal dari mobil truk tersebut membuat jantung Reyhan berdetak melebihi batas normalnya, tanpa sadar air matanya mengumpul di pelupuk kedua mata sipitnya. Dengan tubuh bergetar, Reyhan menolehkan kepalanya ke depan. Di sana Angga terlihat menghindari para perempuan itu yang banyak menggodanya dengan caranya mereka tersendiri. Mata Reyhan mencuat tajam saat melihat sahabatnya memasang headset-nya lalu mulai melangkah menyebrangi jalan tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu, sementara truk yang melaju bersama kecepatan tingginya akan melajang dirinya Angga.


Suara klakson truk mulai terdengar begitu nyaring buat semua orang yang menjalankan aktivitas di luar menoleh ke arah mobil truk tersebut. Angga nampak tak mendengarnya dikarenakan mungkin saja volumenya di besarkan agar ia tidak bisa mendengar segala godaan beberapa gadis kecentilan tersebut. Sudah diperingatkan oleh banyaknya orang namun Angga tak menggubris bahkan tak secepatnya mengelak truk itu. Sementara Reyhan yang ada di pinggir jalan trotoar belakang mobil sahabatnya yang parkir di sana, mengeratkan kedua tangannya di pegangan kursi roda seraya dua kakinya ia gerak-gerakkan.


‘Gue ingin mengubah takdir Angga !’


Bersama refleknya tanpa hitungan aba-aba dari diri sendiri, Reyhan langsung tangkas menyelamatkan sahabatnya lalu mendorong dada Angga dengan menggunakan lengan tangannya sekuat tenaga.


BRUGH !!!

__ADS_1


“Ugh!”


Bisa Reyhan dengar pada pendengaran telinganya yang posisi kedua matanya ia tutup rapat bahwa ia mendengar suara rintihan sakit sahabatnya yang berada di bawahnya. Mereka berdua sama-sama merasakan kesakitan yang mana Angga yang diselamatkan oleh Reyhan, punggungnya menghantam keras di trotoar, sedangkan Reyhan yang telah menyelamatkan Angga dari kecelakaan tersebut, kedua lengannya membentur atas trotoar yang tangannya sudah memberikan tameng untuk kepala sahabatnya agar tak terbentur hebat.


Otomatis dengan itu memang sudah pasti tubuh Angga tertindih oleh Reyhan yang berhasil menyelamatkan dari hilangnya nyawa. Di sisi lain, orang-orang yang memperingati Angga tadi berhamburan lari menghampirinya dan mengepungnya. Ada sebagian pria menarik tubuh Reyhan perlahan yang tak sengaja menindih tubuh sahabatnya, begitupula dengan Angga yang dibangkitkan oleh tiga pria lainnya.


Mata Angga terpejam kuat dengan bibir yang ia rapatkan, merasakan punggungnya begitu amat sakit dahsyat akibat terhantam oleh sisi trotoar. “Dek, kamu nggak apa-apa?! Ada yang sakit?!”


Seorang lelaki usia 20 tahun menanyai keadaan Angga yang nampak menahan sakit berasal dari punggungnya. Angga berusaha membuka matanya sedikit untuk merespon orang itu. “Saya- baik-baik saja.”


“Nak, kamu juga baik-baik saja?! Tidak ada luka yang parah?!” tanya seorang wanita paruh baya yang memakai baju jas kantoran pada Reyhan.


“Tenang, Bu. Saya baik-baik saja dan tidak ada luka parah yang terjadi dengan saya.”


Wanita paruh baya itu menghela napasnya lega saat melihat kondisi tubuh Reyhan tak ada yang bermasalah ataupun luka-luka. “Alhamdulillah kalau begitu, lega sekali Ibu.”


Reyhan tersenyum yang sekarang posisi dirinya duduk langsung teringat sahabatnya yang tadi ia selamatkan. Menatap Angga langsung yang tengah di interogasi pada beberapa orang lain soal keadaannya. Lelaki friendly itu mampu bernapas dengan lega melihat sahabatnya masih baik-baik saja tanpa luka sedikitpun di anggota tubuhnya.


“Ya Allah, Dek! Hampir aja tadi kamu ketabrak truk, untung ada temennya yang selamatkan-mu. Tapi yang kami tanya, kamu baik-baik aja, kan?? Kalau ada yang sakit atau cedera saya akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga!”


“Tidak perlu, Kak. Saya masih baik-baik saja,” tolak Angga pelan tanpa ada kata nada menyinggung.


Angga yang hendak berdiri langsung dibantu oleh lelaki usia 20 tahun tersebut seraya lelaki itu menahan sakit di punggungnya. Reyhan yang duduk ikut beranjak berdiri dengan di tolong oleh salah satu pria yang kentara usianya Farhan. Angga melongo kaget tak percaya melihat Reyhan yang bisa kembali berdiri tanpa di pegang tubuhnya oleh orang yang membantunya.


“R-rey?! Elo-”


Belum selesai menuturkan kata, Angga langsung dipeluk erat oleh Reyhan bersama tangisan derasnya. “Gue berhasil nyelametin lo, Nggaaa!! Gue berhasil mengubah takdir lo!”


Angga dengan bungkam, tersenyum lebar sambil membalas pelukan sahabatnya lalu menepuk-nepuk punggungnya. Orang-orang yang mengepung mereka berdua hanya tersenyum haru bahkan ada yang sampai bertepuk tangan. Reyhan melepaskan pelukannya tanpa mengelap air matanya yang masih membanjiri kedua pipinya.


“Reyhan, lo sudah bisa berdiri lagi,” tutur Angga dengan sumringah bahagia.


Reyhan dengan mata terbelalak menundukkan kepalanya ke bawah untuk melihat kedua kakinya. Benar ucapan Angga, tanpa ia sadari ia bisa berdiri kembali. Dan soal penyelamatan tadi, itu artinya Reyhan pula tidak sadar kalau dirinya tadi berlari kencang untuk menyelamatkan jiwa Angga.


“Hahahaha Alhamdulilah Ya Allah! Angga gue sudah sembuh! Gue sudah sembuuuhh!!” Lagi-lagi Reyhan memeluk sahabatnya dibalas oleh Angga dengan senyuman bahagianya bersama lingkaran kedua tangan untuk memeluk Reyhan kembali.


“Syukurlah Mas-nya tidak ketabrak bersama mobil truk saya. Maafkan saya ya, Mas. Tadi Bapak bawanya sambil ngantuk.”


Permintaan maaf dengan nada lara penuh kesalahan dari pria yang berusia kisaran 58 tahun dibalas Angga usai Reyhan melepaskan pelukannya. “Bukan salah Bapak, tapi saya lah yang salah. Tidak seharusnya saya menyebrang tanpa melihat kanan kiri jalan terlebih dahulu. Maafkan saya Pak, dan semuanya.”


Mereka semua menganggukkan kepala secara bersamaan dan menerima permintaan maaf dari Angga yang mengalami kesilapan. Dan sore ini tadi sungguh momen yang amat mendebarkan, tetapi beruntunglah ada seseorang nang telah mengubah takdirnya, ialah Reyhan sahabatnya.


Begitupun dengan Reyhan, berkat lelaki friendly tersebut menyelamatkan nyawa Angga dari insiden kecelakaan fatal itu, dirinya mampu merasakan fisik yang normal kembali di kelumpuhannya yang telah hilang usai. Namun Reyhan yakin sekali bahwa semua itu adalah mukjizat dari Allah.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2