Indigo

Indigo
Chapter 199 | Converted


__ADS_3

“Sendiri di sini menjalani sepi, oh senyapnya hatiku ~”


Reyhan menyanyikan lagu yang berdasarkan karangan ciptaannya. Ya, sesuai kamar rawatnya yang sepi tak ada seorangpun selain dirinya. Kedua orangtuanya sedang ada urusan sesuatu di luar dan mengharuskan Reyhan kembali sendiri.


Kini lelaki Friendly itu mendudukkan pantatnya di pinggir ranjang pasien dan menaikkan kedua kakinya ke atas usai pergi dari toilet, tiang infusnya juga ia posisikan dengan benar.


Berkat dari penyemangat hidup dari Jova, kini membangun suasana hati Reyhan walau masih beberapa persen kurang dari 100 persen. Ia hari ini ingin menonton film Thriller namun di layar televisi sayangnya tak ada channel yang menarik bagi Reyhan, seharusnya di internet ponsel ada plot twist keren dari film yang ia sukai, tetapi dirinya belum sempat membeli ponsel yang baru.


Reyhan hanya bisa menghela napasnya pasrah, sampai tubuhnya ketarik ke belakang saat ada seseorang yang menarik kerah baju pasien birunya. Dengan lekas, pemuda itu menolehkan kepalanya ke arah belakang.


Namun rupanya tidak ada siapapun di belakang, membuat jiwa Reyhan yang penakut langsung meremang. “Siapa, barusan?!”


Tiba-tiba kran air yang ada di wastafel menyala dengan sendirinya tanpa ada orang yang melakukan kegiatan tersebut. Hal itu membuat Reyhan semakin tak karuan apalagi ia hanya masih sorang.


“Woy, lah! Jangan gangguin gue! Gue, kan gak ganggu kalian yang setan!” kesal Reyhan dengan raut bimbang.


Reyhan berusaha menormalkan balik detak jantungnya yang berdegup kencang dan kemudian lelaki itu menolehkan kepalanya ke samping kanan untuk melihat situasi aura dan hawa yang berbeda.


“BO!”


“Innalillahi Wa Inaililahi Raji'un!” lantang Reyhan berucap saking kagetnya sampai tubuhnya hampir terjungkal.


“Tidak apa-apa. Aku, kan sudah mati sejak beberapa bulan yang lalu.”


Reyhan memegang dadanya dengan masih menatap dirinya yang telah sengaja mengejutkannya seperti adegan jumpscare. “Hhhh, elo? Sumpah! Ngagetin aja!”


Arseno terkekeh. “Takut, ya? Harusnya kamu cepat sadar, dong kalau yang melakukan tadi itu adalah aku, bukan hantu lain.”


Mata teman manusianya terbelalak lebar. “Oh! Berarti lo yang biang keroknya?! Pake jahilin gue segala, untung jantung gue masih aman.”


“Iya, ya. Aman dari Akhirat.”


“Sabar, sabar ...” lirih ungkap Reyhan menghadapi hantu temannya satu ini yang suka sekali mengerjainya.


“Lo ngapain dateng di mari?” tanya Reyhan sewot usai menormalkan detak jantungnya.


“Ya, ingin menemuimu, lah! Masa mau teror kamu lagi secara bertubi-tubi seperti dulu? Aneh!”


“Eeh, dih! Nyolot banget, jawabnya?!” serang Reyhan dengan mulutnya.


“Malah bagus jika nyolot, kan? Daripada bernada gemulai seperti perempuan. Yang ada aku jenis setan banci,” respon Arseno.


Reyhan mendengus lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sementara Arseno mulai menduduki tepi tempat istirahatnya, membuat Reyhan tak segan-segan menyenggol kencang punggung pemuda arwah tersebut.


“Ada larangan bagi setan yang duduk di miliknya manusia. Noh, duduknya ngambang aja! Gak usah duduk sini, lo! Ini tempat gue.”


“Pelit kuburannya sempit, lho. Aku sedang ingin menikmati bagaimana rasanya menjadi manusia lagi, aku sudah bosan melayang seperti makhluk bergentayangan yang tidak tahu arah dan tujuan,” protes Arseno.


“Iya, kan? Contohnya cowok gerangan demit kayak elo.”


“Apa?! Argh, kenapa aku bisa sial sekali mempunyai teman gila sepertimuuuu?!” jengkel Arseno dengan mengacak-acak rambut tebalnya.


Melihat Arseno yang mengeluarkan umpatan sebalnya, berhasil membuat Reyhan menyembul gelak tawanya. Dan hal itu, membikin lelaki makhluk gaib tersebut menghempaskan napasnya dengan kondisi rambut yang amat berantakan karena ulahnya ia sendiri.


“Oh, ternyata sudah bisa tertawa? Senang juga aku melihatmu yang seperti ini,” ujar Arseno meski sambil memasang muka jengah.


Kedua sahabatnya Reyhan sebenarnya telah sampai di ruang rawat no. 144, tapi mereka terhenti mematung saat melihat pemuda itu tengah berbincang sendiri seolah didekatnya ada seseorang selain ia.


Jova seketika memeluk tangan kanan Freya usai meneguk ludahnya, pandangannya terus tertuju pada Reyhan yang sibuk mengeluarkan suara seraknya.


“F-frey?! Otaknya Reyhan lagi ada masalah apaan, sih? Apa jangan-jangan ... cowok itu terkena keterbelakangan mental gara-gara Depresinya?!”


Freya yang kesal pada pengucapannya Jova, langsung memukul agak keras lengan tangan sahabatnya. “Ngaco! Bisa banget kamu bilang gitu terhadap Reyhan? Mana mungkin dia keterbelakangan mental?! Aku yakin, dia lagi berkomunikasi sama hantu.”


“WHAT?! THE GHOST !!??”


“Eh ...! Turunkan volume suaramu!” gegau Freya dengan sigap membekap mulut Jova agar mau memelankan suaranya yang memecahkan kesunyian lorong.


Reyhan yang dikagetkan suara dua gadis nang asalnya berada di ambang pintu, menoleh kencang. “Lho? Kalian sudah dateng? Sejak kapan?”


Jova segera mengurai pelukannya dari tangan Freya lalu berlari menghampiri Reyhan. Sahabat lelakinya terkejut saat gadis Tomboy itu langsung menarik tangan kanannya, membuat badannya juga ikut tertarik seperti tangannya.


“Eeeh, kenapa?!”


Jova mendekatkan wajah cantiknya di muka tampan Reyhan, membuat mata pemuda itu terpaku. “Kamu lagi ngomong sama hantu, kah?”


“Ha?” Reyhan kemudian mengarahkan bola matanya ke sembarang arah untuk menghindari tatapannya dari Jova. Ia juga bingung harus menjawab apa untuk sahabat perempuannya ini yang rupanya telah memperhatikan ia yang mengobrol seru bersama Arseno. Mungkin si Freya pula mendengarnya kalau ia seakan sedang berbicara sendiri.


“Iya, dia berbicara denganku.”


Freya yang akan hendak masuk, tertunda karena terkesiap waktu melihat seorang pemuda berseragam putih abu-abu SMA dengan jas almamater biru navy, yang tiba-tiba muncul di samping kiri ranjang pasien miliknya Reyhan.


“Hai! Senang sekali bertemu dengan kalian berdua. Kalian pasti dari sahabatnya Reyhan, kan?” sapa Arseno bahagia berjumpa gadis cantik tersebut.


Freya tak bisa berkata apa-apa, saat ini hatinya terkejut setengah mati, mata terpaku kuat di tatapan pemuda remaja 17 tahun itu yang merupakan sosok makhluk gaib. Sedangkan Jova nang telah dibuat kaget, langsung menarik kerah baju bagian belakang Reyhan untuk bersembunyi dibalik tubuh sahabat lelakinya.


“Jangan ditarik kayak gitu, Va! Bajuku bisa rusak, kamu yang jadi ganti rugi,” omel Reyhan.


“Woi, kamu gak bisa ngerasain kalau aku lagi ketakutan, hah?! Itu cowok tiba-tiba asal muncul kayak demit. Mananya aku gak kaget?!” sentak Jova tanpa mau melepaskan kerah Reyhan.


“Enggak.”


“Huh, dasar cowok gak peka!” cerca Jova sembari memukul kepala lelaki berambut cokelat autentik itu.


“Sakit, Sinting!” protes Reyhan dengan suara nada sentakan seraya mengelus kepala belakangnya yang usai dipukul keras oleh sang gadis bermata hazel indah.


“Kamu juga Sinting! Enak aja kamu ngatain kalau aku sinting, sendirinya saja iya. Dasar ...” Ucapan yang belum kelar, Jova hentikan karena matanya terbentur pada identitas nama siswa pemuda yang ada di sebelahnya Reyhan.


Berdasarkan identitas nama, lelaki berambut hitam dengan kulit putih bersih nan cerah layaknya bercahaya itu, bernama 'Arseno Keindre' sesuai di name tag samping jas almamater punyanya. Hal itu, membuat kedua mata Jova mencuat tajam bersama muka amarah yang menyembul keluar.


“Lo, Arseno Keindre? Setan yang dulu pernah buat sahabat gue ini terbaring Koma sampe empat bulan, kan?! Wah, ini gak bisa dibiarin!”


Reyhan yang raganya nyaris melompat ke udara akibat suara nada Jova yang tinggi bercampur hati nang marah, langsung menatap gadis itu yang kini melepaskan kedua tangannya dari baju birunya Reyhan dan beralih mendatangi Arseno.


Arseno yang dihampiri dengan penuh hati berang oleh manusia perempuan Tomboy itu, meneguk ludahnya sambil melangkah mundur. “Ampunilah aku.”


“Ompan, ampun! Gak ada kata ampun bagi gue buat elo. Enak saja dulu buat hidup Reyhan sengsara hingga Koma! Heh, lu tau kan sahabat gue hampir aja mati karena lo?!”


“Va, sudah nggak apa-apa. Itu sekarang masa lalu, jadi-”


“You shut up !” potong Jova dengan menunjuk kencang Reyhan yang dari nada menurutnya sedang membela hantu nang ia marahi habis-habisan.


“Apes,” gumam Reyhan dengan membentuk bibirnya nyengir dan memilih pasrah untuk mendengar omelan Jova yang sahabat gadisnya lontarkan kepada Arseno.


“Aduh, maafkan aku! Iya, memang itu salahku. Tetapi aku sudah meminta maaf sebesar-besarnya dengan Reyhan, kok. Tolong ampuni aku, ya?! Aku tahu apa yang aku lakukan dulu sangat fatal ke Reyhan hingga membuat dia lumpuh walau bukan permanen,” pinta ujar Arseno dengan saling menempelkan kedua telapak tangannya untuk bermohon amat pada Jova yang tengah mendengus bak binatang banteng.


“Idih, emangnya gue sudi maafin segala kesalahan lo yang dulu? Gak bakal!”


Arseno yang mendengar itu, seketika membuat hatinya tertohok hingga ia menjatuhkan kedua lututnya di lantai tanpa mengubah posisi tangannya. “Ayolah, maafkan diriku! Tolong.”


“Oke, apa imbalannya?” tanya Jova dengan wajah juteknya.


Freya yang sedari tadi diam dengan melongo, bungkam mulut tatkala sekaligus menggelengkan kepalanya kuat lalu berlari memarani sahabat Tomboy-nya yang ada di hadapannya arwah positif itu.


“Kamu ini kenapa, sih?! Dia minta maaf sampai seperti itu, kenapa masih saja kamu tolak? Mana harus pakai imbalan, lagi!” tegur Freya.

__ADS_1


Freya menghembuskan napasnya lalu menolehkan kepalanya ke arah depan. “Sudah, Sen. Gak apa-apa, kok. Lagipula itu masa lampau. Em, by the way kamu salah satu korban jiwa yang dulu meninggal dibawah jurang dari jalan Jiaulingga Mawar karena dibunuh oleh mereka, ya?”


Arseno tersenyum. “Iya, begitu kronologinya. Tolong maafkan semua kesalahan terbesarku yang dulu, ya? Aku benar-benar sudah khilaf atas apa yang telah aku lakukan tanpa nurani hati itu ...”


Freya melebarkan senyumannya dengan sampai matanya menyipit. “Iya, kami semua sudah maafkan semua kesalahanmu di beberapa bulan yang lalu, kok.”


Jova menoleh ke arah Freya yang sedang tersenyum manis. “Kami?! Kamu, Angga, sama Reyhan doang, kali yang udah maafin. Aku gak mau!”


“Maafin!” geram Freya dengan mencubit pinggang Jova sampai sahabat gaya barbarnya mengaduh kesakitan.


Reyhan yang ada di atas ranjang pasien, hanya bisa menutup mulutnya dengan sisi kepalan tangan kanannya untuk menahan tawanya nang nyaris nongol dari mulut.


“Iya-iya, gue maafin! Puas kan, lo?!”


Arseno bertepuk tangan dengan wajah yang kembali semarak. “Yeeey, puas, dong! Terimakasih banyak, ya? Untung saja ada Freya. Kalau tidak, sudah pasti aku akan seperti ini sampai hari Kiamat.”


“Idih,” cibir Jova.


“Lagian kenapa gak kamu maafin dari tadi? Kamu pasti tahu, kan kalau Arseno bukan hantu yang sifatnya gak sejahat dulu? Auranya sudah dipastikan juga kalau positif, bukan negatif lagi.”


Arseno menaikkan kedua alisnya sambil bangkit berdiri dari duduk bersimpuh. “Kamu diberitahu dengan siapa? Mengapa kamu seolah tahu tentang diriku yang berubah?”


“Angga. Setelah kamu pergi dari dunia karena dendammu sirna, dia bilang jika auramu berubah menjadi positif. Kematian mereka berdua yang dulu tega membunuh jiwamu dengan virulen, membuat tugasmu selesai. Tetapi aku heran, mengapa kamu bisa kembali ke dunia? Ada alasannya, kah?”


“Pertanyaanmu sama seperti Reyhan. Iya, ada suatu alasan yang pasti. Aku ingin menjaga sahabatmu ini dari marabahaya,” jawab Arseno.”


“Menjaga sahabatku dari marabahaya?” tanya Freya untuk memastikan.


Arseno menganggukkan kepala, sementara Jova melipatkan kedua tangannya di dada dengan menatap arwah itu bersama tatapan sinis. “Jagain dari marabahaya apaan kalau kemarin-kemarin aja Reyhan sampe kecelakaan! Apa itu yang dinamakan menjaga?! Perlu gue beliin buku KBBI, kah?”


“Jovaaaaa! Sudah, dong. Arseno jangan kamu marahin kayak gitu. Kamu gak bisa lihat wajahnya yang kasihan setiap kamu amuk?” tegur Freya lagi.


“Tunggu dulu! Iya, aku memang gagal. Tetapi ada yang harus kamu tahu, Reyhan hampir saja mati di tangannya Rain dan Teivel, orang yang membenci Angga selain Gerald. Aku melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Reyhan. Kalian tahu apa yang aku lakukan pada mereka?”


“Lakukan apa?” penasaran Freya dan Jova dengan sampai berujar secara kompak.


“Merasuki raganya Reyhan untuk melenyapkan semua nyawa mereka.”


Freya lagi-lagi dibuat terperangah oleh Arseno tentang barusan, sedangkan Jova kembali mendengus untuk mengumpulkan segala luapan emosinya pada makhluk astral satu itu.


“Oh my gosh ! Lu bilang apa, tadi?! Merasuki raganya Reyhan?! Bener-bener minta dihajar sampe babak belur ini, mah! Lo gak tahu, apa setelah lo nge-rasuki tubuh sahabat gue, kondisinya seperti apa?! Noh, kadar oksigennya nurun drastis! Tanggung jawab!!” raung Jova.


“A-apa yang salah dengan diriku?! Huhu Reyhan, tolong!” Arseno yang ketakutan mendengar lolongan amarah Jova nang kembali, segera berlari ke samping.


“Lu ngapain, Anjir?!” kejut Reyhan saat mengetahui teman arwahnya bersembunyi di belakang punggungnya.


“Meminta perlindungan, lah! Kamu tidak lihat betapa marahnya sahabat perempuanmu yang itu?!” semprot Arseno.


Reyhan berdecak melihat sikap Arseno yang sungguh ketakutan menghadapi Jova. “Cemen, lo! Sama cewek kayak dia aja takut.”


“Ekhem! Itu dampak cekikannya, BTW. Bukan karena dari tubuhku setelah diarahkan sama Arseno, gak ada hubungannya, kali. Emangnya dia diem-diem ambil separuh nafasku?”


Jova yang ditatap teduh oleh Reyhan sekaligus diberi penjelasan agar ia mengerti, memicingkan matanya. “Lagi nyoba belain, ya?”


“Apaan dah, ini cewek?! Aku membela sesuai fakta, ya! Enggak ngarang.”


Gadis Tomboy itu menaikkan kedua alis cokelat rapi nan tipisnya lalu menghembuskan napasnya untuk meredakan emosinya, alhasil ia tak jadi memberi pelajaran kepada Arseno karena pemberian jelas-detail dari Reyhan.


“Oh, begitu? Oke, maap.”


Freya menggelengkan kepalanya seraya melipatkan sepasang tangan di dadanya. “Makanya, lain kali kalau orang lagi jelasin atau ceritain, di dengerin dulu. Daripada salah paham kayak tadi.”


“Dia bukan orang, tapi setan!” timpal Jova.


“Kenapa sakit sekali, ya setiap aku disebut nama setan?” tanya Arseno dengan muka nanar.


“Karena itu memang sudah dari takdir lo. Terima aja,” jawab Reyhan sekenanya.


“Kamu ini,” lesu Arseno dengan menatap wajah Reyhan.


“Kamu tahu, rasanya sengsara sekali menjadi hantu seperti ini. Tidak bisa dilihat keluarga, teman dan semua orang yang aku sayangi. Tapi, musibah siapa yang tahu? Tuhan yang mengetahui semuanya. bahkan sebelum terjadi, Sudah ditulis di buku diary dimana tanggal kematianku.”


Reyhan yang mendengar curahan hati dari sosok Arseno Keindre, nyengir. “Sudahlah, gak usah sedih kayak gitu. Yang penting dendam yang ada di hati lo telah musnah. Bahkan lo merasakan sendiri, kan kalau jiwa lo sekarang tentram?”


Arseno menundukkan kepalanya dengan ekspresi lara. “Iya, kamu benar.”


“Kasihan banget, ya jadi dirimu? Dibunuh padahal gak bersalah hingga menjadi arwah seperti ini. Mereka yang tidak punya adab dan nurani hati, sekarang di Akhirat harus mendapat ganjarannya dibawah lautan api Neraka,” iba Freya untuk Arseno.


Jova menghela napasnya seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa usai mendudukkan pantatnya di kursi panjang tersebut.


“Ngapain harus dikasihani, sih? Lagian itu salah lo! Buat apa segala dulu pas masih jadi manusia, lewat kawasan yang malapetaka itu?! Kan, ini akibat kesalahan lo yang utama. Makanya, apa-apa tuh baca Doa! Nyesek, kan pada endingnya?! Sukurin!”


“Astaghfirullah! Orang dia lagi sedih, malah kamu kasih protes sama ceramah gitu. Namanya juga kecelakaan, siapa yang tahu, coba?! Aku heran, deh sama kamu. Jangan-jangan kamu maafin Arseno dengan rasa tanpa Ikhlas, lagi?”


“Aku Ikhlas, kok! Ikhlas pake BGT, malahan! Aku cuman kesel aja sama jalan otaknya si Arseno, bego amat dulu saat jadi manusia. Sekarang pas jadi hantu seutuhnya malah pinter. Kan, sayang sama raganya yang udah di dalem liang lahat kubur,” tutur Jova menanggapi Freya.


Arseno yang sudah kembali ke arah posisi awal yaitu lumayan menjauh dari Reyhan, menghela napasnya. “Kalau aku bego waktu masih menjadi manusia, mana mungkin aku terpilih menjadi anggota organisasi siswa intra sekolah?”


“Hei, Reyhan. Mengapa kamu bisa mempunyai sahabat jenis karnivora seperti Jova? Kamu betah memiliki dia yang selalu membawa emosi setiap hari? Oh! Sepertinya itu adalah julukan yang sangat tepat untuk sahabat rambut cokelat-mu, Jova sama dengan Karnivora. Hehehehe!”


Freya yang duduk anggun, menggembungkan bawah mulutnya untuk menahan tawanya, apalagi matanya sampai menyipit saking tak menyangka kalau Arseno sampai menghina Jova dengan hewan ganas.


Kaki kanan Jova yang ada di atas paha kaki kirinya untuk bergaya pose duduk menyilang, ia hentakkan di lantai lalu berdiri dengan penuh hati emosi yang menggebu-gebu. Bahkan suara hentakan tersebut mampu membuat Arseno dan Reyhan terperanjat secara bersamaan.


“Heh, Setan mata lato-lato! Udah dari tadi, ya elo buat gue mencak-mencak kek mau makan orang! Sekarang rasain, nih bogeman mentah hasil jurusan Karate Jovata Felcia. Hiyaaaaaaa!!!”


Arseno langsung merangkum kepalanya dengan kedua tangannya saat Jova berlari kencang ke arahnya untuk melancarkan segala jurusan bela diri yang ia pelajari sebelum menjadi mantan Karate. Berlari buat mengelak akan serangannya gadis Tomboy itupun tak mungkin, sang hantu pemuda hanya bisa mengunci kepalanya bersama sepasang tangan sekaligus rada menekuk dua kaki panjangnya.


Namun apesnya, waktu menodongkan pukulan kerasnya di muka bersihnya Arseno, tangan Jova hanya bisa dapat menembus angin saja. Dan...


Gadis itu akhirnya terpeleset karena tak sanggup menahan larinya yang telah kencang bak binatang cheetah nang berhabitat di padang rumput besar di dalam negara Afrika.


“Waaaa!”


Brugh !


Freya begitupun Reyhan mencuatkan matanya dan membuka mulutnya lebar bersama secara kompak saat melihat Jova yang terjatuh sempurna di atas lantai dingin dengan posisi tubuh yang terlungkup.


Arseno yang memejamkan matanya erat untuk merasakan endingnya karena telah mengejek manusia gadis tersebut, membuka matanya saat ia mendengar ada suara keluhan sakit dari bawahnya.


“Lah? jatuh?!” Arseno reflek menggeser tempatnya lalu seketika menyadari bahwa manusia biasa seperti Jova tak bisa memukul, jangankan memukul, menyentuh saja tidak mampu. Alias menembus jiwa arwah lelaki ini.


“Hm! Makan, tuh karma. Jatuh, kan? Udah tahu dia setan, masih aja mau dipukul. Nembus, woy!” komplain Reyhan kemudian kembali menyadarkan punggungnya.


“Jova! Kamu gak kenapa-napa, kan? Mana saja yang sakit?!” Freya yang telah berlari menghampiri Jova, hendak berjongkok untuk membantu sahabatnya yang tubuhnya telah mencium mesra di ubin.


“Huhu, duh! Gunung kembar gue bisa auto kempes, nih lama-lama.”


Freya mengerutkan keningnya dikarenakan tak mengerti pada keluhan kata dari Jova. “Gunung kembar?”


‘Mampus! Pake ngomong toxic segala ini, anak! Udah ngerti ada Freya,’ batin Reyhan.


“Kamu punya gunung kembar? Wah! Hebat, dong. Di daerah kota mana?!” kagum Freya.


Reyhan tersenyum hambar sambil menepuk pelan keningnya pada kepolosan dari pikiran positifnya sahabat Nirmala-nya. Suara tepukan itu, berhasil membuat Freya menoleh ke arah Reyhan.

__ADS_1


“Kamu kenapa, Rey? Kok mukamu kayak resah begitu? Benar, kan kalau si Jova punya gunung kembar. Daerah kota mana, tuh? Jakarta, mah gak mungkin. Di kota kita, kan enggak ada gunung apapun. Wah, pasti di daerah kota Semarang, ya?!”


‘Ya Allah Ya Robb, gini amat punya sahabat yang polosnya gak ketulungan! Padahal gunung kembar, tuh bukan permukaan tanah yang tinggi itu. Tapi bagian yang dipunyai cewek ...’ kata Reyhan dalam relung hati.


“Kejauhan banget kalau di Semarang! Gunung kembarnya tuh di sini, kok. Anjirlah, demit laknat! Pake harus nembus segala, lagi! Untung ini jidat gak penyok,” buras Jova seraya mulai membangkitkan tubuhnya dari tengkurap.


“Tapi, gunung di Jakarta tuh gak ada. Adanya pantai. Atau gunung kembar itu nama lain dari benda sesuatu ya, Rey?” Reyhan terkaget langsung saat Freya menolehkan kepalanya untuk menyuruhnya menjawab satu pertanyaan sensitif ini.


“Hah?! Apa? Anu ... itu, apa ya?” Inilah, bukannya menjawab tetapi malah bertanya balik.


Freya memundurkan kepalanya reflek. “Kok, nanya balik? Kan, aku nanya? Kamu gak tahu, arti gunung kembar itu apa?”


“T-tahu, kok ... itu, tuh-”


“Sudahlah, serahkan saja pertanyaanmu kepadaku agar aku segera menjawabnya. Jadi, gunung kembar itu adalah buah da-”


Reyhan bergegas membekap mulut Arseno yang hantu itu telah tiba didekat sampingnya kembali, untuk menutup jawaban teman arwahnya dengan menggelengkan kepalanya kuat apalagi sampai memejamkan matanya rapat.


“Jangan dijelasin! Jangan dijelasin! Bahaya banget buat Freya!”


“Ha? Bahaya? Emangnya itu mengandung kutukan dan kematian? Jelasin ke aku, dong! Aku pengen ngerti. Biar bertambah wawasan, yayaya?”


Reyhan cengengesan sambil membebaskan mulut Arseno dari telapak tangannya lalu membuka matanya kembali untuk menatap wajah cantik Freya yang sedang kebingungan.


“Entar kalau Angga udah bangun, tanya aja sama dia, ya? Dia pasti tahu banget kok dari pertanyaanmu. Jika misalnya aku, Arseno, ataupun Jova yang menjawab, nanti kamu pasti gak bakalan mudeng karena kurang jelas.”


Muka Freya menjadi murung. “Iya, kalau Angga bisa bangun lagi ...”


“Eh, kok ngomong gitu?!” kaget Reyhan.


Freya menggelengkan kepalanya dan memutuskan membantu Jova untuk berjalan menuju ke kursi sofa. “Kakimu sekarang pincang gitu, ya?”


“Hm'em! Pas jatuh, langsung keseleo. Sakit bener deh, pokoknya!” jujur Jova.


Reyhan dan juga Arseno hanya memperhatikan kedua gadis itu yang mulai kembali duduk di atas sofa abu-abu. Kini sekarang, kedua tangan Freya saling mengangkat kaki kiri sahabat Tomboy-nya.


“Naikin dulu, deh kakimu di atas pahaku. Biar aku pijat bentar.”


“Eh, jangan! Berat, lho kakiku tuh. Nanti pahamu bisa bengkak,” tolak Jova.


“Ya enggak, dong. Emangnya pahaku terbuat dari gabus yang gampang rapuh? Sini, kakinya dinaikkan. Biar pas setelah dipijat, kakimu ini bisa agak mendingan,” lembut nada Freya.


“Bengkak? Emang itu kaki, kakinya gajah?” cemooh Arseno.


“What?! Heh, itu mulut pengen gue puter kayak bianglala?! Mingkem, dah! Gue gak lagi mau debat sama lo! Capek juga gue lama-lama ngadepin setan sesat kek elo,” kesal Jova.


Reyhan melirik Arseno lalu mencibirnya, “Lo mau gantiin posisi gue buat terusan cekcok sama Jova?”


“Sebenarnya tidak juga, tapi rasanya seru juga mengajak perang mulut dengan sahabatmu itu, hehehe.”


“Parah, gilak.”


“Heh, Setan!” panggil Jova.


“Jangan panggil aku 'Setan' panggil aku Arseno!” tak terima hantu itu saat disapa dengan nama julukan gaib.


“Sama aja, kali. Setan dan Arseno itu berdasarkan sinonim dengan beda kata tetapi maknanya sama. Aku mau tanya, deh. Mengapa kita berdua yang manusia dan bukan juga Indigo, bisa melihat dirimu yang arwah? Apakah itu wajar?”


“Dih, tumben kamu menanya padaku.”


“Jawab pertanyaan gue!!!” bentak Jova yang lagi-lagi dibuat emosi oleh Arseno.


“Eh, iya-iya! Setelah aku mengetahui kalian ada di ruangan ini, aku menggunakan sebuah mantra multifungsi untuk mencampakkan semua wujud arwahku pada kalian, karena aku tahu kalian berdua tidak bisa melihat sosokku yang merupakan hantu. Tetapi mantra yang aku pakai ini hanya berlaku selama tiga puluh menit saja, ya? Sehabis itu, kalian tidak bisa melihatku lagi. Butuh beberapa jam jika ingin mendapatkan wujudku di dalam dunia.”


“Gila, emangnya siapa yang mau nunggu sampe selama itu?! Jadi, kegunaan yang merupakan cenayang itu cuman bisa hingga tiga puluh menit? Lumayan, sih. Ternyata ada juga setan yang punya hal-hal mistik kayak gitu,” urita Jova.


“Sebenarnya jika di hantu lain ada yang tidak memakai batas waktu. Contohnya seperti arwah yang berpenghuni di dunia selama tahunan. Misalnya satu tahun, dua tahun, bahkan sepuluh tahun ke atas. Karena jika mereka yang memiliki mantra yang sekuat itu, artinya kekuatan mereka lebih hebat daripada aku yang masih beberapa bulan di dunia.”


“Wow, banget. Aku yang sebatas manusia tanpa mendapatkan anugerah istimewa dari Allah seperti pacarku, baru tahu tentang hal yang kamu jelaskan. Tentu sekali aku terkagum,” bungah Freya sambil memijat kakinya Jova.


“Emang keren, tapi lo bisa gak ngomong bahasanya tuh jangan terlalu baku? Bisa, kan ngomongnya jangan pake aku-kamu lagi?”


Arseno mengarahkan pandangannya ke arah Reyhan yang sedang mengkritik dirinya. “Salah, kah?”


“Enggak salah juga, sih. Cuman kalau didenger kurang enak sama kurang sreg aja. Coba lo kalau bicara pake bahasa yang bukan baku. Pakai gue-lo.”


“Gue? Sama lo? Em, aku sudah jarang menggunakan kata-kata yang seperti itu setelah nyawaku berakhir dari raga. Semenjak aku menjadi arwah yang negatif ... tapi, mungkin lain kali akan aku coba seperti apa yang kamu suruh.”


“Sip. Karena biasanya kalau cowok pakenya bahasa gue-lo, bukan aku-kamu. Kalau pakai bahasa yang kedua, sih biasanya buat ngomong sama cewek. Temen, sahabat, atau pacar. Bagi gue begitu, tapi kalau dipake buat ngomong sesama jenis, kayak gimana gitulah ... kurang macho.”


“Kamu tidak lagi sedang menyelipkan sebuah perkataan untuk menghinaku, kan?”


“Gak!” sentak Reyhan merespon.


“Oh iya, Sen. Waktu kamu masuk ke dalam tubuh Reyhan, mengapa saat aku menyuruhmu untuk keluar, gak mau? Kamu bahkan tetap bersikeras untuk melancarkan aksimu membunuh Teivel dan Rain.”


Arseno kembali tersenyum pada Freya yang dari suara pertanyaannya begitu penasaran apa yang terjadi. “Belum aku jelaskan, ya? Begini, sebenarnya aku memiliki dua alternatif, di antara itu adalah positif dan terakhir yaitu negatif. Di waktu kamu ingin menyuruhku untuk keluar dari raganya Reyhan, jiwa arwahku yang kembali menjadi negatif walau hanya sementara. Jadi mohon maafkan aku, karena jika aku berubah di negatif, otomatis sudah tidak bisa dibantah lagi, aku harus bersikeras untuk mengakhiri semua malapetaka yang ingin terjadi.”


“Kenapa tiba-tiba langsung jadi negatif? Kamu gak ada sisi dendam kayak dulu, kan?” tanya Jova bingung.


“Tidak, kok. Aku bukan dendam, tetapi di segala perlakuan mereka yang membuat Reyhan tidak berdaya, membuat amarahku muncul. Dan jika aku sudah marah, itu artinya jiwa aura negatif dari hantu-ku timbul,” jelas Arseno dengan sangat detail.


Jova menganggukkan kepalanya. “Oalah, begitu? Oke, thanks penjelasannya. Ternyata ngeri juga, ya? Berarti bahaya, dong kalau semisalnya kami membuatmu keluar tanduk?”


“Iya, tapi tenang saja. Aku tidak mudah untuk marah, kok. Hanya hal tertentu saja yang membuat hatiku membuncah.”


“Gue sudah tahu,” celetuk Reyhan.


“Bukan kamu! Aku cuma menjelaskan kedua sahabatmu ini,” semprot Arseno.


Freya menggedikkan bahunya dengan meringis. “Aku gak bisa bayangin rupa wujudmu jika menjadi negatif, serem banget!”


“Mau lihat, tidak?” tawar Arseno dengan tersenyum menyeringai.


Reyhan yang terkejut setengah mati walau Arseno belum mengubah wujud penampilan mengerikannya, langsung duduk tegak sembari menunjuk kencang teman arwahnya dengan perasaan sebal.


“Jangan pernah lo tunjukin muka burik itu di depan gue lagi. Daripada gue banting, lo ke alam baka!”


“Astaga! Aku hanya bercanda, lagipula bagaimana mungkin aku bisa menjadikan wujudku ke negatif kalau hatiku saja di sini sedang bahagia?” ucap keras Arseno bersama menekan nada karena ancaman sadis dari teman manusianya.


Jova tertawa kencang melihat gaya raut ekspresinya Arseno yang setelah menerima ancaman dari sahabat lelaki Friendly-nya, sementara Freya hanya sebatas mengeluarkan tawa kecil. Asalkan gadis Nirmala cantik bak boneka ini bisa memancarkan senyuman manisnya lagi walau hatinya masih ditengah-tengah rasa kerapuhan dan kehancuran mengenai terhadap kondisi kekasihnya.


Dan tentang kekhilafannya Arseno, memang dari hatinya hantu itu sendiri. Ia telah jera memperlakukan semua teror pengancam nyawa itu pada Reyhan yang padahal manusia tersebut memiliki kalbu nang tidak seperti Arseno kira dan duga. Bahkan pun jika ia kembali berubah ke energi-aura negatif, ia usahakan untuk tidak melemparkan segala kemurkaannya ke Reyhan yang sudah kokoh dalam menjadi kawan akrabnya selama di dunia.


INDIGO To Be Continued ›››


•••


Siapa yang masih misuh" sama Arseno, hayoooo? Dia udah resmi jadi arwah yang baik ya, Readers


Kalaupun masih benci kesumat dengan hantu itu, bolehkan minta keikhlasannya sedikit buat memaafkan segala kesalahannya dia pada Reyhan... Kasian banget, tau kalau kalian gak sudi mau maafin, xixixixi


Arseno Keindre be like : “Maafkan segala semua kesalahanku, ya? Tapi jika kalian tidak mau memaafkan diriku, siaplah saja.. Akan ku teror sampai mati, huahahaha!”


Canda, peace {>_<}

__ADS_1


__ADS_2