
Terdapat seorang gadis termenung gelisah di persinggahan duduk tempat menunggu, gadis tersebut beranjak dari kursi dan berjalan mondar-mandir gusar, ia memainkan jemari-jemari lentik tangannya. Air mata yang telah kering kembali basah mengalir di pipi putihnya. Ya, itu adalah Freya yang tengah menunggu seorang dokter keluar dari ruang IGD. Freya sangat takut jika ada sesuatu buruk dari Anggara yang tak diinginkan Freya. Freya berharap Anggara baik-baik saja setelah ditangani oleh sang dokter dan beberapa perawat di dalam ruangan tersebut.
Freya terus merapalkan doa dalam relung hati, meminta kepada sang maha kuasa pada kesembuhan dari Anggara. Linangan dari air mata gadis itu semakin deras, tak hentinya dalam hati ia berdoa sampai dokter keluar dari ruangan IGD. Suasana lorong rumah sakit Kusuma sangatlah sepi tidak ada seseorang pun berlalu lalang di situ, hanya ada Freya seorang.
"Ya Allah, kenapa dokter daritadi belum keluar-keluar juga? Apa yang terjadi sama Anggara??"
Freya bergumam-gumam dengan wajah gundah cemasnya. Freya menilik jam ponselnya yang sudah ia hitung adalah memasuki 2 jam lebih. Pikiran negatif terus menerus menggerogoti otaknya, air mata tidak bisa Freya bendung. Freya berhenti jalan mondar-mandir dan menatap pintu putih yang di atasnya bertuliskan 'IGD'. Freya kembali mondar-mandir lalu duduk dengan perasaan melebihi kegelisahannya sebelumnya.
Freya menutup mukanya dengan terus menangis sesegukan tanpa ada orang yang memperhatikannya ataupun menjadi pusat perhatian pada seorang gadis yang tengah menangis terisak dan sesegukan. Lorong rumah sakit malam ini hampa tak ada suara orang-orang yang mengobrol-ngobrol.
Disaat Freya sibuk menangisi Anggara, seseorang pria berjas putih di sertakan alat yang untuk memeriksa detak jantung yang melingkar di leher pria tersebut. Melihat gadis itu menangis terisak-isak, pria yang merupakan seorang dokter itu menepuk dan mengusap pundaknya sambil memanggilnya.
Freya yang merasa di usap-usap pundaknya lembut langsung melepaskan kedua telapak tangannya lalu mengelap tangisannya yang melumuri di wajah pipinya. Freya tersentak kaget ternyata yang mengusap pundaknya adalah dokter yang menangani Anggara.
"D-dokter?!" Freya langsung bangkit berdiri dan menatap dokter dengan wajah kecemasannya.
"Dok, bagaimana dengan Anggara?! Anggara baik-baik saja, kan?!"
"Saudara kandung dari pasien Anggara?"
"Bukan Dok, saya sahabatnya sekaligus tetangganya Anggara."
"Baiklah kalau begitu, untuk keadaan pasien Anggara Alhamdulillah sekarang dia sudah membaik meskipun sebelumnya detak jantung dari pasien Anggara sempat berhenti."
"S-sempat berhenti, Dok?!"
"Iya, tetapi kamu tidak perlu khawatir. Detak jantung serta pernapasannya yang melemah kini sudah kembali normal. Beruntung pasien Anggara segera dibawa ke rumah sakit, kalau tidak secepatnya segera di bawa ke rumah sakit ... ada kemungkinan besar nyawa pasien Anggara tak dapat tertolong."
Freya menggigit bibirnya dan juga terkejut, gadis itu bernapas lega beruntungnya sahabatnya dapat diselamatkan meskipun demikian, nyawanya nyaris tidak tertolong.
"Tusukannya di perut pasien Anggara juga lumayan dalam."
"Apa perlu harus di operasi, Dok?!"
"Tidak perlu, Nak."
Dokter itu tersenyum lembut ramah pada Freya dan mulai mengutarakan kata padanya lagi.
"Setelah ini, pasien akan kami pindahkan ke kamar rawat, ya."
"Baik Dok," jawab Freya sopan santun.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Kini, Anggara telah dipindahkan dari IGD ke kamar rawat lantai 5 bersama sang Dokter bernama Ello, beberapa perawat begitupun Freya yang ada di sampingnya. Freya yang sedang berdiri di sisi sahabat kecilnya, menatap wajah pucat Anggara yang belum sadarkan diri, sementara pakaian Anggara telah di ganti pakaian baju rumah sakit khas rumah sakit Kusuma Bogor.
Freya menatap dokter Ello yang tengah membenarkan selang infus Anggara. "Dokter, kapan sahabat saya akan sadar?"
Mata dokter Ello beralih menatap Freya dengan murah senyumannya. "Anggara tidak mungkin bangun di malam ini, akan tetapi Anggara akan bangun saat pagi mendatang. Oh iya, jika Anggara besok sudah sadar, kamu tidak perlu memanggil Dokter. Secara pengobatan setelah Anggara bangun dari pingsannya, keadaan Anggara akan menjadi pulih dari lemahnya."
Freya tersenyum mengangguk. "Baik Dokter, saya senang mendengarnya. Terimakasih juga Dokter telah menyelamatkan jiwa sahabat saya, Dok."
"Sama-sama, Nak. Ada yang mau kamu pertanyakan lagi atau ada yang mau kamu sampaikan ke Dokter?"
"Tidak ada, Dok."
"Baiklah, kalau begitu Dokter dan suster-suster pamit keluar dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam, Dokter," lembut Freya menjawab salam dari dokter Ello.
Freya menatap kepergian dokter Ello serta para perawat keluar dari kamar rawat Anggara nomor 208. Dokter Ello membuka pintu kamar rawat lalu keluar bersama perawat-perawat yang mengikutinya dari belakang, usai itu Dokter Ello menutup kembali pintu kamar rawat Anggara setelah berada di luar.
Freya menarik kursi dan ia dekatkan di sisi kasur ranjang milik Anggara, Freya menduduki kursi tersebut lalu menatap hangat sahabat kecilnya. Mata sembab di wajah Freya, ia bentukkan senyuman bibir di wajah cantiknya seraya mengangkat tangan lemas Anggara, setelah itu Freya menggenggamnya tangan sahabat kecil lelakinya.
"Cepet sembuh ya Ngga. Maaf ya, aku malah telpon mama kamu soal kamu yang keadaannya lagi begini. Besok tante Andrana sama om Agra kesini kok, ini mereka baru saja pulang dari kota Semarang."
Freya menghembuskan napasnya pelan. Dihatinya telah lega, karena Anggara akan baik-baik saja setelah bangun dari pingsannya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di parkiran luar gang hutan Bogor ternama, terlihat delapan remaja akan memasuki mobilnya. Andra yang akan membuka pintu mobilnya memanggil Reyhan yang akan memasuki mobil Anggara.
"Rey, kalo Anggara udah baik-baik aja .. tolong kasih tau gue ya, gue mau minta maaf sama Anggara juga orangtuanya."
Reyhan mengangguk lemah. "Ya."
"Yaudah kalo gitu, kami semua pamit pulang dulu ya Rey, kalian bertiga hati-hati ke rumah sakitnya."
"Iya Ndra, kamu dan juga yang lainnya hati-hati ya," ucap Jova.
"Kami pasti hati-hati kok, Va," timpal Rena.
Raka menghampiri Reyhan lalu menepuk-nepuk pundaknya dengan wajah iba. "Yang sabar ya Rey ... kami disini berharap Anggara baik-baik aja dan gak ada kejadian yang buruk."
"Makasih, Ka."
Raka mengangguk dengan senyuman lebar yang ia patri. Meskipun sifat Raka menjengkelkan dan membuat sengit hati, tetapi Raka termasuk teman terbaik Reyhan dalam memberikan semangat dari terpuruknya masalah dan kesedihan yang temannya alami atau derita.
Raka, Andra, Lala, Zara, dan juga Rena memasuki mobilnya Andra. Andra yang telah berada di kursi kemudi membunyikan klakson untuk berpamitan pulang pada Reyhan, Jova, serta Rangga. Jova melambaikan tangannya sebelum mobil Andra melaju pergi meninggalkan parkiran. Reyhan menghembuskan napasnya seraya sedikit mengacak-acak rambutnya lalu memasuki mobil Anggara bagian kursi kemudi, di ikuti Jova dan Rangga masuk ke dalam mobil Anggara.
Reyhan menyalakan mesin mobil lalu menancapkan gas, lalu mobil Anggara yang di kendara Reyhan melaju di kecepatan sedang meninggalkan parkiran hutan Bogor ternama. Di perjalanan menuju rumah sakit Kusuma, Rangga memberi rute-rute arah jalan yang langsung cepat di pahami oleh Reyhan. Di dalam mobil, yang hanya bersuara cuma Rangga saja selain Rangga tak ada yang membuka suara. Rangga terus mengarahkan Reyhan dengan sesekali menuding ke depan sampai tiba di sebuah rumah sakit Kusuma.
Mobil Anggara memasuki area parkiran rumah sakit Kusuma khusus roda empat. Suasana rumah sakit Kusuma sangatlah sepi tetapi rumah sakit tersebut masih terbuka. Ketiga anak SMA itu turun dari mobil tak lupa si pengemudi mobil mengunci mobil dengan menggunakan kunci otomatis.
Secara beriringan melangkah memasuki lobby rumah sakit Kusuma, Rangga menoleh pandangan ke kanan dan ke kiri. Rangga kemudian menyikut lengan Reyhan membuat yang disikut mengarahkan kepalanya.
"Rey, lo punya nomor teleponnya Freya?"
"Ehm, iya gue punya."
"Yaudah gih, lo telpon aja, sekarang Anggara di rawat ruang mana."
"G-gue? Gue yang telpon Freya?!"
"Hm'em," respon Rangga menganggukkan kepala.
"Eee anu, mending Jova aja yang telepon Freya. Gue mana berani."
"Aduh, sorry banget nih Rey. Aslinya aku mau telepon si Freya, tapi data paket aku udah abis. Mau beli di konter, tapi udah tutup," tutur Jova melas.
"Duh," Reyhan menepuk keningnya.
"Udah lah, mending kamu aja deh yang telpon Freya."
"Ck, masalahnya tuh Freya udah marah banget sama aku, apalagi dia kecewa sama aku soal aku salah paham sama Anggara. Kalo aku nelpon dia, yang ada bukannya di angkat malah di tolak."
"Alah, udah deh gak usah ngomong yang enggak-enggak segala. Freya gak mungkin kayak gitu kok, udah telpon aja. Daripada kita berdiri disini terus, nanti ngiranya kita di anggep mau maling, lagi."
Reyhan cukup menghela napasnya sambil melihat ke arah layar handphonenya yang di situ sudah tertera kontak dari Freya di aplikasi WhatsApp. Reyhan menarik napas panjangnya lalu membuangnya perlahan, ia dengan perasaan hati tidak enak segera menekan tombol simbol telepon yang ada di jauh samping foto profil chattingan Freya.
Reyhan menunggu, menunggu Freya sampai mengangkat teleponnya yang sekarang sedang berdering.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Freya masih menggenggam lembut tangan Anggara yang pemuda itu tetap masih dalam kondisi pingsan, cairan infus perlahan menetes menyalurkan ke selang infus sampai di tangan Anggara yang telapak tangan kirinya ditancap jarum infus dengan satu perawat tadi. Dalam kesunyian kamar rawat, tiba-tiba ada suara ringtone ponsel Freya bergetar dari saku celana jeans abu-abunya. Lantas, si Freya melepaskan satu tangannya dari genggamannya di tangan Anggara lalu merogoh mengambil handphonenya yang berbunyi.
"Reyhan," gumam Freya.
Gadis itu menghela napasnya sebentar lalu mengangkat teleponnya dari sang sahabat SMP-nya tersebut.
...REYHAN...
^^^Ya^^^
Freya ... eee aku
^^^Tinggal ngomong aja^^^
Ehm, aku Jova sama Rangga udah nyampe di rumah sakit Kusuma nih
^^^Ya terus^^^
Boleh kasih tau dimana sekarang Anggara dirawat, nggak?
^^^Lantai 5 nomer 208^^^
Oh yaudah kami kesana, ya
^^^Hm^^^
...----------------...
Freya mematikan teleponnya Reyhan lalu ponselnya ia letakkan di atas meja nakas. Freya sekarang begitu lelah badannya juga telah pegal-pegal. Perlahan Freya meletakkan tangan Anggara di atas ranjang kasur. Sementara usai itu, Freya menyandarkan punggungnya di kursi.
Sedangkan di sisi lain, Reyhan menghembuskan napasnya pasrah pada segala jawaban telepon Freya yang singkat dan padat. Ia sudah menduganya, sahabat perempuannya itu sangat marah pada Reyhan.
"Singkat banget jawabnya ..."
"Yaelah Rey, ambil positif thinking aja deh. Mungkin bisa aja Freya udah letih, apalagi dia kan, sedari tadi jagain Anggara," ucap Jova santai agar Reyhan tak begitu negatif thinking.
"Yaudah mending kita langsung kesana aja, tuh suster yang ada dimeja resepsionis sampe ngeliatin kita terus. Ayo," ajak Rangga.
Reyhan dan Jova mengangguk lalu mereka segera melangkah menuju ke lift dan memasukinya pada lift yang kondisinya sangat sepi. Rangga lebih dulu masuk ke dalam lift selanjutnya adalah Jova dan Reyhan. Rangga menekan tombol angka 5 untuk menuju ke nomor lantai dan nomor kamar rawat sesuai apa jawaban dari Freya tadi disaat di dalam telepon. Tak menunggu beberapa lama menit lagi, ketiga remaja tersebut telah tiba di lantai 5. Suasana lorong lantai tersebut begitu sepi sama seperti di lobby utama.
Mereka melanjutkan langkahnya dan mencari kamar rawat bernomor 208, mereka mencari dengan teliti hingga pada akhirnya mereka menemukannya. Rangga mengulurkan tangannya untuk memegang gagang pintu besi lalu membukanya secara perlahan.
Cklek...
Di dalam, Freya langsung duduk tegak karena ada yang membuka pintu kamar rawat sahabat kecilnya. Begitu tahu ternyata yang datang adalah Rangga, Freya hanya tersenyum tipis begitupun Rangga yang langsung menyapa ramah Freya.
"Hai Freya."
"Hai juga, Rangga."
Suara Freya terdengar sumbang dan serak, akibat sedari tadi ia terus menangis. Wajahnya di mata juga sembab, tetapi meskipun demikian, wajah Freya masih terlihat cantik dan anggun. Jova juga telah masuk ke dalam kamar rawat Anggara begitupun Reyhan, namun Reyhan tidak masuk lebih ke dalam, ia berdiri di tengah pintu dengan wajah ekspresi menyesal.
Freya yang menatap Reyhan langsung mengalihkan pandangannya ke depan lurus, biasanya jika Freya menatap Reyhan, Freya langsung membuka obrolan dengannya. Namun ini tidak, Freya malah justru diam saja bahkan tidak ingin menatap Reyhan sendiri.
"Ehm, Va .. nih kamu bawa aja kunci mobilnya Anggara." Reyhan menyerahkan kunci mobil Anggara pada Jova yang ada di tepat sebelahnya.
"Lah, kok kamu yang suruh aku bawa??"
"Aku soalnya mau pulang aja, jadi bawa aja nih."
Reyhan membentangkan tangannya yang di genggamannya ada kunci mobil Anggara. Jova dan Rangga mengerutkan keningnya bersamaan, sementara Freya kembali menoleh dan menatap Reyhan bingung.
"Lah? Kok pulang sih, Nyuk?? Kenapa??"
"Aku gak enak sama Freya terutama Anggara kalo dia udah siuman. Daripada Freya gak betah aku disini, mending aku mutusin pulang aja. Apalagi aku udah buat Anggara luka sampe masuk rumah sakit, gak pantes aku disini."
Freya mengerutkan keningnya lalu beranjak berdiri dari kursi, ia berpaling menatap Reyhan yang mukanya gundah penuh rasa penyesalan di hati.
"Jangan, kamu jangan pulang."
Reyhan menatap Freya dengan gundah. "Kenapa? Aku udah buat kamu kecewa banget, loh. Aku juga udah buat sahabat kecilmu masuk rumah sakit. Benar ya, kesalahan paham bisa buat malapetaka."
"Dan mungkin, kamu masih sulit buat maafin aku, jadi mending aku pulang kan, ya hehe."
Freya menggelengkan kepalanya. "Kamu disini aja, nemenin Anggara. Dan lagi Rey, aku sudah maafin kamu, kok."
"Tapi coba kamu lihat sendiri, Anggara masih juga belum siuman. Itu karna aku, kesalahan aku."
Freya menghela napasnya lambat. "Meskipun Anggara belum siuman, tapi kata dokter Ello setelah besok pagi Anggara sadar, secara pengobatan Anggara langsung kembali pulih dari lemahnya. Tadi juga, detak jantung Anggara sempet berhenti."
DEG !
"A-apa?! B-berhenti?!" kejut Rangga dan Juga Jova bersamaan.
Freya mengangguk pelan sedangkan Reyhan menundukkan kepala sambil menghembuskan napasnya panjang lalu meraup wajahnya kasar, Reyhan menjadi semakin bersalah besar terhadap Anggara. Freya bisa merasakan hati Reyhan sedang diliputi kekacauan serta kekesalan pada diri sendiri.
Freya melangkahkan kakinya mendekati Reyhan yang di dekati masih menunduk beserta wajah kalutnya. Freya memegang tangan Reyhan yang diam, dan menatapnya kembali.
"Rey, aku udah maafin kamu kok. Aku juga salah karna tadi aku membentak-bentak kamu, maafin aku ya."
Reyhan mendongak kepalanya lemah. "Kamu gak usah minta maaf, wajar banget kamu marah besar sama aku tadi .. maaf, aku udah keterlaluan," lirihnya sambil menundukkan balik kepalanya.
"Udah, gakpapa kok ..."
"Berarti kamu mau maafin aku?" tanya Reyhan sembari mendongakkan kepalanya melihat ke Freya.
"Iyaaa, aku mau memaafkan kamu kok. Kamu itu sahabatku, mana mungkin juga aku gak bakal maafin kamu. Mau kamu salah kecil atau besar pun, aku tetep maafin kamu."
"Tapi aku tolong banget sama kamu Rey, terakhir ini aja kamu jangan berprasangka buruk, gak cuma hanya Anggara saja tapi juga semua orang. Kamu jangan lihat satu sisi doang. Paham kan, Rey?"
"Iya Frey, aku paham kok. Sekali lagi aku gak bakal mengulangi kesalahan yang sama lagi. Jika itu ada kejadian lagi, aku bakal melihat semua sisinya."
Freya mengangguk dengan senyuman manisnya, Jova dan Rangga yang memandanginya tersenyum lebar akhirnya Freya dengan tulus iklhas memaafkan kesalahan besar dari Reyhan.
"Lalu, apa Anggara bakal oke-oke aja?"
"Tenang, kata dokter, Anggara udah membaik. Kamu gak perlu cemas sama Anggara."
"Alhamdulillah." Reyhan bernapas lega.
"Bukannya tadi aku sudah ngomong, ya? Kok baru tau sekarang?"
"Anu- itu aku gak denger tadi ... kayaknya," ucap Reyhan kikuk sambil menggaruk tengkuknya.
"Jawabnya santai aja Rey," tutur halus Freya.
"Oh iya Frey, kamu udah kasih tau tante Andrana kalo Anggara di rumah sakit ... rumah sakit ..." Jova seperti lupa dan memikir nama rumah sakit yang ia datangi.
"Kusuma, Va."
"Nah iya Ga maksudku itu. Begitu Frey, kamu udah kasih tau kah, sama tante Andrana??"
"Oh kalo itu udah kok. Tadi pas di luar ruangan IGD aku udah telpon tante Andrana, waktu itu ternyata om Agra sama tante Andrana udah di perjalanan menuju komplek Permata, mungkin ini udah nyampe."
"Tante Andrana sama om Agra sebenernya mau kesini, tapi aku suruh besok aja kesini-nya. Kan pasti mereka capek banget, makanya aku suruh mereka istirahat dulu dirumah .. besoknya baru pergi ke rumah sakit ini."
"Widih perhatian banget sama orangtuanya Anggara, ih makin sayang aku sama kamu."
Jova mencubit kedua pipi Freya gemas yang membuat Freya kembali protes dengan mengaduh-aduh. Reyhan hanya senyum tipis sementara Rangga tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putih bagian atas.
"Ehehehe terus nih Frey, kamu kok tadi pas di telpon Reyhan .. kamu-nya jawab Reyhan singkat bener dah?"
"Oh itu, itu mah bukan karna aku masih marah sama Reyhan, itu karna aku posisinya udah capek banget. Jadi aku jawabnya singkat deh. Hehehe maaf ya, Rey."
"Iya, gak masalah kok Frey," jawab Reyhan kemudian diam kembali.
"Yaudah atuh mah, kamu istirahat aja di sampingnya Anggara. Bobok, yah cantik?"
Mata Freya berkaca-kaca pada ucapannya Jova di sebelahnya. "M-maksud kamu, aku tidur di sebelahnya Anggara?! Tidur di kasur ranjangnya Anggara?!"
"Ppppfft sumpah, bisa banget Anggara ditemuin sahabat konyol kek begini deh. Duh bikin geleng-geleng kepala bener!"
"Ha?" Freya tidak mengerti.
"Maksudku itu kamu tidurnya di kursi samping keranjang tidurnya Anggara, Freyaaaa Septiara Aneshaaa ... bukan tidur bareng Anggara di sebelahnya. Kalo tidur di sebelahnya Anggara mah, mending kalo udah resmi jadi suami dan istri."
"Iiih, kamu apa-apaan sih ..." lirih Freya namun wajahnya terlihat mimik kesal.
Rangga yang mendengarnya terkekeh geli pada tingkah lucunya Freya apalagi lontaran Jova yang meledek Freya mengenai Anggara. Reyhan hanya tetap menampilkan senyuman tipisnya tak ada suara darinya bahkan tertawa ataupun terkekeh geli seperti Rangga.
"Kamu jangan pulang ya Rey, disini aja," pinta Freya dengan menarik lengan Reyhan perlahan lalu menutup pintu kamar rawat.
"Nah betul tuh Rey, disini aja. Kalo pulang yang ada kamu kena begal."
"Masa cowok di begal," lirih Reyhan.
Pada kemudian Freya berjalan dan duduk kembali di kursi lalu menumpukkan kedua tangannya di atas kasur ranjang Anggara, habis itu ia letakkan kepala di atas tumpukkan kedua tangannya di jadikan sebagai bantal. Sementara itu seperti Reyhan, Jova, dan Rangga berjalan dan menduduki kursi sofa belakang jendela kamar rawat yang saat ini gorden jendela tersebut di tutup oleh tirai berwarna putih.
Keempat remaja itu beristirahat tidur sambil menunggu Anggara yang masih senantiasa menutup mata tenang. Malam ini sungguh menjadi malam yang tak akan pernah mereka bisa lupakan. Malam yang begitu mendebarkan detak jantung begitupun ancaman nyawa yang di derita Anggara.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Sinar mentari pagi teriknya matahari, tak juga menyinari seluruh ruangan kamar rawat nomor 208 dikarenakan gorden tirai jendela belum ada yang membukanya. Keempat remaja itu masih lelap dalam tidurnya, sementara jam pagi ini menunjuk pukul 07.00
Anggara yang terbaring di atas ranjang kasur bersama baju pasien dominan warna biru muda yang dikenakannya, mata Anggara mengernyit pelan. Sedikit demi sedikit Anggara membuka mata sayu-nya, pertama yang ia lihat adalah samar-samar dinding berwarna putih. Anggara langsung menyadari kalau ia sedang dirawat rumah sakit. Mata sayu Anggara yang setengah buka ia alihkan pandangannya dari dinding atas ke seorang gadis yang masih tidur nyaman bersama tangan yang menggenggam tangannya Anggara.
Wajah tidur cantiknya tentu Anggara mengenalnya, ia adalah Freya sahabat kecilnya dari Anggara. Tangan Anggara yang di infus ia angkat untuk membelai-belai lembut rambut hitam legam halusnya Freya. Freya yang merasa terusik pada tidurnya, segera mengerjapkan matanya lalu bangun duduk seraya mengucek-kucek matanya ditambah menutup mulutnya disaat tengah menguap.
Freya membuka matanya, betapa terkejutnya bertambah hati senang gembira, melihat Anggara telah sadar dari pingsannya. Freya duduk tegak lalu sedikit mencondongkan badannya ke depan dan mengangkat tangan Anggara yang masih ia genggam.
"Anggara?!"
"Alhamdulillah! Bener kata dokter Ello, kamu sadarnya di pagi ini! Gimana Ngga, kamu udah baik-baik aja, kan?! Atau perut kamu masih perih?!"
Anggara tersenyum tipis dengan memejamkan matanya lalu membukanya kembali. "Gak usah risau, aku udah lumayan kok."
Freya tersenyum sumringah dengan terus tak terlepas dengan ia menggenggam tangannya Anggara lembut. Namun meskipun Anggara telah siuman, muka milik Anggara masih terlihat pucat.
"Aku ... di rumah sakit, ya?"
"Hm'em." Freya mengangguk kepalanya. "Semenjak setelah kamu pingsan di Villa, kamu langsung dilarikan ke rumah sakit Kusuma kota Bogor ini."
Anggara membuka mulutnya membentuk huruf O pertanda ia mengerti. Sementara itu disisi lain, Jova bangun dengan meregangkan otot kedua tangannya ke atas lalu beralih menggaruk punggungnya, ia fokuskan ke satu pandangan yaitu Anggara. Satu kali tatapan, berhasil membuat si Jova melongo mata terbelalak lebar. Di mulut posisi menganga terbentuk dan terlihat mengukirkan bibir yang bahagia.
"ANGGARA UDAH SADAR WOY!!!"
Teriakan reflek dari Jova membuat Reyhan dan Rangga terkaget lalu tersentak bangun duduk tegak. Rangga menoleh ke sepenjuru ruangan rawat Anggara dengan wajah penuh terkejut usai bangun dari tidurnya. Rangga menoleh kepada Jova.
"Apa kenapa?! Ada Tsunami Va??!!
"Hah, Tsunami? Gak ada kok Ga, itu loh si Anggara udah sadar," kekeh Jova seraya menuding Anggara.
Eh Ngga, lo udah sadar?! Alhamdulillah dah," lega Rangga dibalas Anggara anggukan kepala pelan dengan senyuman tipis.
Rangga beranjak dari sofa lalu menghampiri Anggara. Tangan Rangga ia ulurkan menyentuh pundaknya Anggara.
"Lo gimana Ngga, lo udah baik-baik aja, kan?"
"Lumayan, Ga. Oh, ngomong-ngomong lo disini? Enggak pulang atau-"
"Enggak Ngga, gue disini nemenin lo juga. Apalagi gue itu tetangganya si Reyhan, jadi kalo Reyhan pulang gue juga ikut pulang."
__ADS_1
"Reyhan?"
"Ngga?! Kamu gak inget siapa Reyhan?!"
"E-enggak gitu Va, emangnya Reyhan disini??"
"Lah, kamu gak nyadar? Itu si Reyhan lagi duduk anteng di sofa noh. Parah kamu Ngga, matamu tuh buta yak kalo ada si Reyhan???"
"Ih ya ampun gak boleh ngomong gitu!" omel Freya.
Reyhan yang ada di kursi sofa hanya diam tak mengeluarkan suaranya sama sekali. Pandangannya menunduk ke bawah. Meskipun wajah Reyhan tak terlihat karena tengah menunduk, Anggara bisa menerawang ekspresi wajah Reyhan dan membaca pikiran hati Reyhan kalau sahabatnya tersebut tengah bermuka murung serta hati yang penuh menyesal.
Baru saja Anggara ingin memanggil Reyhan, tiba-tiba pintu kamar rawat di buka oleh seseorang pria berumur 50-an tahun serta wanita berumur 40-an tahun. Mereka adalah Agra dan Andrana, sang kedua orangtuanya Anggara. Dengan cepat Andrana setelah memasuki ruangan, ia berlari dan memeluk Anggara yang merupakan anak putra kandungnya. Anggara begitu syok melihat kedatangan mama dan ayahnya.
"Ya Allah Nak, kamu kenapa bisa begini sih hah?! Kamu ini ya, bikin Mama Ayah hampir jantungan loh!" untai Andrana penuh nada khawatir sambil terus memeluk erat tubuh sang Anggara.
"M-mama?! Mama bukannya harusnya masih ada di kota Semarang?! Kok bisa sampe sini?!"
Andrana melepas pelukan eratnya dari tubuh Anggara. "Loh kenapa? Anggara gak suka Mama sama Ayah jenguk Anggara??"
"Aduh bukan gitu maksudnya Ma, Mama sendiri kan yang bilang kalo Mama sama Ayah pulangnya bulan depan."
"Gak jadi bulan depan, tapi bulan ini. Kemarin-nya Mama sama Ayah udah siap-siap pulang balik ke kota Jakarta. Terus pas malem tiba-tiba Freya nelpon Mama kalo Anggara masuk rumah sakit. Siapa yang gak khawatir coba?!"
"I-iya, maafin Anggara ya, Ma udah buat kalian berdua khawatir. Tapi sekarang Anggara gakpapa kok."
"Duh, pengap banget." Agra yang ada di sampingnya Andrana segera berjalan ke jendela untuk membuka tirai dan membuka jendela agar udara segar masuk ke dalam ruang kamar rawat milik anaknya.
"Nah kalo gini kan, seger. Huh udara yang segar hmmm." Agra menghirup udara pagi dengan gaya dramatis.
Disaat itu juga, Agra menoleh ke Reyhan yang diam menundukkan kepalanya. Senyuman Agra mengembang di wajah lalu duduk di samping Reyhan sambil merangkul Reyhan si anak dari sahabatnya Agra yaitu Farhan.
"Wih, apa kabar Kang komedi! Lama nih, Om gak ketemu kamu."
Tak ada sahutan dari Reyhan, membuat Agra terheran-heran pada Reyhan yang biasanya langsung cerewet dengannya.
"Rey? Reyhan? Lah, Om di cuekin nih?"
"Hiks! Om, maafin Reyhan! Maafin Reyhan Ooomm!!"
Reyhan memeluk Agra secara tiba-tiba dengan nangis di pelukannya, Agra langsung kaget Reyhan yang diam menunduk tiba-tiba memeluknya sambil menangis terisak-isak.
"Ini semua karna Reyhan! Reyhan yang udah buat Anggara masuk rumah sakit, hiks!"
"Eh bentar-bentar, kamu mah main tiba-tiba gini .. Om jadi bingung, kan."
Andrana terkejut. "Maksudnya Nak Reyhan gimana? Apa maksudnya dari Nak Reyhan kalo Nak Reyhan yang udah buat Anggara masuk rumah sakit?!"
Anggara hanya terdiam bingung, bingung bagaimana ia membantu Reyhan untuk menjelaskan apa maksud dari Reyhan, secara.. Kejadian tadi malam itu adalah malam yang sangat mengerikan. Anggara tak tahu harus bercerita darimana dulu.
"Reyhan yang buat luka Anggara, sampe hilang kesadaran. Reyhan saat itu udah keterlaluan, mudah terhasut omongan."
"Gini-gini, Reyhan itu nusuk perut Anggara pake pisau-" Jova yang belum selesai menjelaskan, tetapi sudah ada Andrana yang memotong.
"HAH?! Nak Reyhan, kamu kok-"
Ucapan dari Andrana yang kaget, melotot pada Reyhan langsung di potong oleh Anggara. Anggara menggenggam tangannya sang mama berusaha meyakinkannya.
"Ma, tolong jangan salah paham dulu. Dengerin Anggara, ada sebuah jebakan yang sudah di tentuin sama wanita umur tiga puluh dua tahun."
"Wanita? Umur tiga puluh dua tahun?? Dia itu manusia atau makhluk astral?" tanya Agra.
"Makhluk astral, Yah. Itu bermulai dari datangnya chat yang ada di HP Andra, dan di posisi itu, kontak sama nomer teleponnya tuh sama persis nomer kontaknya milik neneknya Andra Yah, Ma."
"Berarti wanita itu punya siasat buruk untuk menjebak Andra?"
"Iya Ma, di kontak nomer telepon itu ... Andra di suruh pergi ke hutan puncak di daerah Bogor sini buat mengunjungi bangunan Villa."
Agra membelalakkan matanya. "Tunggu bentar Ngga, Villa yang ada di puncak hutan Bogor ternama itu?! Puncak yang paling terpencil itu, iya?!"
"Iya, Yah ... disitu."
"Lah? Bukannya itu bangunan udah lama gak kepakai ya? Kok masih bisa kalian tempati??"
"Gini Tan, waktu kami udah nyampe di Villa, bangunan Villa itu keliatan masih baru terus rapi banget pekarangannya apalagi dalem Villanya," jawab Freya menanggapinya.
Agra nampak memikir lalu arah bola matanya berpusat ke istrinya yang semakin terkejut pada jawabannya si Freya. Sementara Reyhan diam, diam tak berkata apa-apa lagi.
"Ma, kok bisa gitu ya? Padahal, kan Villa itu udah lama terbengkalai semenjak ada kejadian pembunuhan berantai antara seorang ibu dan satu anak laki-laki. Mereka berdua tewas ngenes disana, hingga arwah mereka itu gak tenang. Istilahnya gentayangan."
"P-pembunuhan berantai, Om?!"
"Iya Freya, kamu baru tau ya?"
"Iya Om, Freya baru tau sekarang."
"T-terus akibatnya Reyhan menusuk pisau ke Anggara itu karna apa? Sebabnya apa?" tanya Andrana penuh ingin tahu.
"Itu karna ada satu arwah cowok sekiranya anak kampus, menyamar jadi Anggara. Arwah yang menyamar Anggara itu, meyakinkan kami bahwa dia adalah Anggara, sahabat kami bertiga. Tapi, Freya udah ngerasa kalo dia itu bukan Anggara. Meskipun arwah itu sengaja menjelma jadi Anggara untuk menjebak Jova dan yang lain-lainnya, Tante Om."
"Hah?! Berarti yang nyamar jadi Anggara tuh, si arwah cowok anak kampus, Va?!" tanya Freya baru mengetahuinya.
"Iya Frey, licik bener itu setan! Sampe si Anggara yang jadi korban. Yang harusnya kenanya Andra eh malah jadi Anggara yang kena korban. Sebenernya tuh dua arwah satu ibu sama satu anak itu, pengennya Andra bukan Anggara, tapi karna arwah anak dari wanita itu katanya mencium bau aura luar biasa dari Anggara, arwah anak itu sama arwah ibu itu incernya Anggara bukan Andra lagi. Bukan mau dijadiin tumbal ya Tan, Om ... tapi mau membuat Anggara jadi menderita barangkali kelebihannya Anggara menghilang."
"Berarti tujuan dari arwah gentayangan itu hanya pengen menyakiti manusia yang melanggar batasan wilayah mereka? Bukannya waktu itu sudah di beri batasan garis polisi? Apa kalian melewatinya atau di antara kalian yang di ajak Andra memotong garis batasan itu??" introgasi Agra serius.
"Pas jalan menuju ke Villa, Anggara sama yang lain gak ngeliat ada batasan garis polisi kok, Yah. Kosong gak ada apa-apa. Bahkan disana gak ada papan tanda larang."
"Gini aja deh Ngga, disaat kamu melangkah kesana .. kamu ngerasain hawa yang aneh nggak? Kamu bisa baca, kan bersama aura penerawangan kamu."
"Anggara di ganggu banyak bisikan dari para arwah, Ma. Bisikan itu seolah ancaman untuk Anggara, tetapi Anggara berusaha cuek gak peduliin. Kalo Anggara hiraukan, yang ada arwah yang bisikin Angga makin menjadi-jadi."
Anggara terdiam sebentar lalu menguntaikan kata lagi, "Apa ini akibatnya Anggara terlalu gak peduli segala bisikan semua makhluk gak kasat mata itu ya Ma, Ayah?"
Andrana menatap sendu Anggara. "Bisa begitu, Nak." Andrana menoleh menatap Reyhan yang wajahnya nampak masih saja murung. "Tadi setelah Tante dengerin semua ceritanya Nak Jova, Tante jadi paham kenapa Nak Reyhan sampe melakukan itu ke Anggara, kamu terbawa percaya sama omongan tipuan dari arwah anak lelaki itu kan, Nak Reyhan?"
"Iya Tante, tolong maafin Reyhan. Reyhan bener-bener nyesel ngelakuin itu ke Anggara. Kalau memang Tante sama Om gak mau maafin Reyhan, Reyhan gakpapa kok. Reyhan terima aja."
"Enggak Rey, Om sama Tante maafin kamu kok. Secara, itu hal salah paham doang. Om sama Tante bisa maklumi kalo begitu, udah gak usah murung lagi itu muka. Senyum dong," tutur pinta dari Agra.
Reyhan mendongak kepalanya lalu menatap gundah Anggara. "Ngga, maafin gue banget udah buat lo masuk rumah sakit. Gue janji gak bakal kayak begitu lagi."
"Ucapan permintaan maaf lo, udah gue maafin semenjak lo udah nusuk gue sebelum gue gak inget apa-apa lagi. Karna gue tau, posisi di elo udah hilang kendali kontrol emosi."
Reyhan tersenyum kecut. "M-makasih Anggara. Gue kira lo sulit buat maafin gue yang udah keterlaluan lewat batas."
Anggara tersenyum. "Apapun kesalahan lo pada gue, pasti tetep gue maafin."
"Oh iya Ngga harusnya kamu berterimakasih sama Rangga. Rangga itu yang udah nolongin kamu waktu kamu sekarat di Villa," ujar Jova sambil menyenggol lengan Rangga.
Anggara menolehkan kepalanya ke Rangga. "Oh ternyata elo yang nolongin gue? Makasih banget ya, Ga."
"Iya sama-sama Ngga, karna waktu malem itu kondisi lo udah bikin khawatir banget, makanya gue gak segan-segan buat hubungi mobil ambulans pihak rumah sakit ini."
Anggara mengangguk senyum. "Tapi kayaknya lo bisa banget ya minta pertolongan medis, kalo boleh gue tebak .. lo anak anggota PMR, ya?"
"Wah tebakan yang jitu Ngga, iya gue anak anggota PMR semenjak dari SMP."
"Wah keren Ga! Berarti kamu sama kayak Anggara dong, Anggarara juga termasuk dari anak anggota PMR semenjak dari SMP sampe sekarang," senang Freya.
"Hmm, pantesan aja waktu itu kamu gegas banget ambil pertolongan pertama buat si Anggara yang hampir mati."
"Ih, Jovata! Ada Tante Andrana sama Om Agra loh! Ngomongnya jangan buat orangtuanya Anggara takut ih!"
"Lah kan itu fakta Frey, bukan mitos."
"Maksudnya Nak Jova, Anggara mau meninggal, gitu?!"
"Iya Tan, orang kata Freya jantungnya Anggara tadi malem sempet berhenti."
"Ngomongnya pas gak tepat banget sih kamu Va!" protes Freya.
Anggara yang mendengarnya sontak duduk tegak. "Berarti aku hampir mati dong?!"
"Ho'oh untung ada dokter yang ngelakuin terbaik buat ngembaliin detak jantungmu, kalo enggak ... hilang deh satu sahabat, tinggal tiga doang."
Anggara tersenyum getir. "Oh oke-oke, lagian aku masih hidup kok."
"Eh Masyaallah?! Kalian kembar?! Tante baru tau!" sontak Andrana menunjuk sedikit ke Rangga.
"Ya Allah, memangnya Mama gak nyadar kalo disini ada Rangga, apalagi tadi si Rangga ngobrol loh. Parah deh."
"Maaf deh Nak, Mama gak liat tadi hehe."
"Hai Tante salam kenal, nama saya Rangga Vindo Gavindra, Tante dan Om bisa panggil Rangga saja," sopan Rangga lembut.
"Iya Nak salam kenal juga. Nama Tante, Andrana terus yang duduk di sampingnya Reyhan namanya Om Agra."
"Oh baik, Tante."
"By the way, kamu sama Anggara tuh kembar apa mata Om-nya aja yang ngaco karna masih pagi?"
"Mau mirip Om, kulitnya aja beda kok. Si Anggara kulitnya putih, si Rangga kulitnya agak item. Maaf loh Ga, aku gak bermaksud menghina kamu hehehe," kata Jova cengengesan.
"Hehehehe oh iya Nak Rangga, kamu temen barunya Anggara, ya?"
"Bener Tan, Rangga sebenarnya anak pindahan dari kota sini dan sekarang tempat tinggal Rangga ada di kota Jakarta daerah Komplek Kristal. Hehehe, tetangganya Reyhan."
"Wow mantap tuh Rey! Punya tetangga baru yang mukanya hampir mirip kek Anggara." Agra mengacak-acak rambutnya Reyhan yang tertata rapi.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di siang hari akan senja tiba, Reyhan masih saja bertampang muka murung tak seperti biasanya. Wajah ceria humoris kian lenyap begitu saja imbas dari kejadian mengerikan itu. Kemungkinan besar, itu menjadi suatu trauma besar bagi Reyhan. Jova yang tidak betah pada sifat Reyhan kali ini, mencoba duduk mendekatinya.
"Rey, murung mulu daritadi. Ayo dong bersuara, kan kamu pinter cairkan suasana dingin jadi anget. Ayok lah Rey," pinta Jova.
"Aku lagi gak mood," singkat Reyhan lirih.
"Hmmm, kalo gak mood- oh mending ke kantin aja yuk, makan-makan di kantin!"
"Aku gak laper."
"Hadeh, terus kamu maunya apa?"
"Diem aja."
Reyhan menghela napasnya panjang lalu tiba-tiba terdengar suara ringtone HP Reyhan. Reyhan melihat layar yang tertera di ponsel miliknya.
"Tante, Reyhan keluar sebentar ya."
"Mau kemana, Nak?"
"Mau angkat telpon mama."
"Oh Tante Jihan, yak? Yaudah gih kalo gitu."
Reyhan tersenyum simpel lalu segera bangkit dari sofa dan melangkah membuka pintu kamar rawatnya Anggara. Setelah berada di luar, tak lupa Reyhan menutupnya. Reyhan menggesek tombol hijau ke atas untuk mengangkat telepon dari Jihan.
...MY MOTHER...
Reyhan, Assalamualaikum...
^^^Waalaikumsallam, Ma^^^
^^^Kenapa Ma, nelpon Reyhan?^^^
Sayang, Mama sama Papa udah pulang nih hehehehe
^^^Oh ya? Kapan pulangnya?^^^
Barusan, Nak
Reyhan sekarang lagi dimana? Mama Papa baru pulang dari kantor, kok Reyhan malah pergi sih??
^^^Anu Ma, Reyhan lagi ada di rumah sakit^^^
APA?! KENAPA??!!
KAMU SAKIT APA SAYANG??!!
^^^Astagfirullah Mama! Bisa nggak, jangan pake teriak? Apalagi ini ditelpon loh. Bisa-bisa Reyhan dibawa ke dokter THT^^^
Iya deh maap-maap. Terus kamu kenapa ada di rumah sakit? Siapa yang lagi sakit??
^^^Anggara, Ma^^^
Anggara?! Sakit apa Anggara, Nak?!
^^^Eeeee bingung Ma jelasinnya^^^
^^^Panjang banget soalnya^^^
Oalah yaudah deh kapan-kapan aja Reyhan ceritanya. Semoga Anggara cepet sembuh ya
^^^Iya Ma, nanti Reyhan sampein ke Anggara^^^
Iya, anakku. Oh iya, Reyhan pulangnya kapan nih?? Mama sama juga Papa kangen banget loh sama Reyhan! Berhari-hari udah gak ketemu
^^^Reyhan nanti bakal pulang kok, Ma. Bilang ke Papa ya^^^
Yaudah deh nanti mama bilangin. Yaudah, kamu ngobrol-ngobrol dulu aja sama Anggara. Mama tutup telponnya yak
Assalamualaikum, Nak..
^^^Waalaikumsallam, Ma..^^^
...----------------...
Reyhan mematikan handphonenya. Disaat telah mematikan benda pipih-nya. Bola mata Reyhan terpusat oleh seorang pemuda yang memakai baju jaket hoodie hitam beserta topeng wajah di mukanya, saat Reyhan memperhatikan, pemuda itu langsung menghindar seperti bersembunyi. Dengan itu, tak ayal Reyhan berjalan menghampiri pemuda tersebut yang sedang bersembunyi di balik tembok putih pembelokan lorong.
Setelah sampai, anehnya Reyhan tak menemukan pemuda itu. Reyhan mengedarkan pandangannya sekeliling untuk mencari keberadaan pemuda misterius itu yang kini malah menghilang. Reyhan mengusap tengkuknya dengan kening berkerut heran. Tak ingin memusingkan orang itu, akan lebih baiknya Reyhan memutuskan kembali masuk ke dalam kamar rawat sahabatnya.
Cklek !
Reyhan menutup pintu kamar rawat usai ada di dalam. Reyhan melangkahkan kakinya ke sofa dan duduk anteng tak bicara.
"Kok lama?" tanya Anggara.
"Sorry, tadi ada orang."
"Orang?"
"Hm'em. Tadi kayak ada orang yang lagi mengawasi di balik tembok belokan."
"Siapa? Gimana ciri-cirinya?" tanya Anggara intens.
"Kalo orangnya, gue gak tau siapa tapi ciri-cirinya dia pake jaket hoodie hitam terus juga pake topeng."
"Orang gila kali itu Rey, atau enggak orang tersesat. Udah kamu tanyain?" Kini Jova yang menanya Reyhan.
"Aku samperin, dianya udah gak ada disitu."
"Hmmm, kira-kira itu siapa ya Rey?"
"Aku gak tau, Frey."
Agra hampir terlompat kaget saat ia lagi sibuk menyimak pembicaraannya Anggara serta ketiga sahabat anaknya. Agra merogoh HP-nya dan di situ tertera 'Pak Dandy' si ketua RT di Komplek Permata. Agra segera keluar dari kamar rawat Anggara.
"Ma, Nak, Ayah angkat telpon bentar ya!"
Sang anak dan sang istri mengangguk mengiyakan, lalu Agra pun keluar untuk mengangkat telepon dari pak Dandy ketua RT Komplek Permata. Beberapa lama menunggu Agra di luar berbincang-bincang dengan bapak ketua RT melalui telepon, Agra pun mengakhiri teleponnya dan masuk kembali ke kamar rawat Anggara.
"Siapa Yah yang nelpon?"
"Si pak Dandy, Ma. Oh iya Ma, kita pulang dulu yuk. Soalnya ada urusan warga Komplek yang harus kita ikut."
"Lah? Ini anak kita aja lagi begini, masa ditinggal sih??"
"Gakpapa Ma. Lagian urusan itu kan, penting banget. Mending pulang aja gak kenapa-napa kok, Anggara juga- akh!!"
Kondisi yang tak tepat, kepala Anggara yang menghilang rasa sakit kini mendatang lagi. Anggara tidak hanya mengaduh-aduh saja, akan tetapi juga merintih kesakitan. Tangannya menempel di kepalanya sambil menekannya.
"Nak?! Eh kamu kenapa Sayang?!
Semuanya menghampiri Anggara termasuk Reyhan yang tengah duduk diam di kursi sofa. Anggara merapatkan bibirnya sementara satu tangannya mencengkram kepalanya, ia begitu merasakan kesakitan hingga sulit untuk ia tahan. Hal itu membuat Agra dan Andrana panik tak karuan.
"Mama panggilkan dokter ya!"
"Ng-nggak usah Ma- Anggara gakpapa kok, cuman harus istirahat aja- nanti juga sembuh."
Di setiap kepala Anggara terasa sakit berdenyutan bak di tusuk oleh palu beberapa kali, wajah Anggara berubah menjadi pucat. Sudah pucat bertambah pucat lagi, tentunya kedua orangtuanya yang sayang sekali pada Anggara mesti khawatir. Andrana memegang kedua pundak sang anaknya yang masih merintih kesakitan.
"Nak, tapi muka kamu pucet banget!! Pokoknya Mama harus panggil dokter-"
Tangan Andrana yang mau menekan tombol merah di atas kepala Anggara, cekatan Anggarara mencekal tangan lembut Andrana. Satu gelengan kepala dari Anggara membuat Andrana mengurung niatnya tak juga dengan wajah ekspresi risaunya. Anggara berusaha kuat dihadapan kedua orangtuanya agar mereka tidak begitu khawatir padanya.
"Mama, Ayah ... udah gakpapa, Anggara bakal baik-baik aja kok. Mending Mama sama Ayah pulang aja, katanya ada urusan warga Komplek? Itu pasti pak Dandy udah nungguin kalian," tutur Anggara senyum paksa.
"Tapi Nak, Mama gak bakal tenang kalo keadaan Anggara seperti ini."
Anggara mengusap halus lengan Andrana. "Udah Ma, sakit ini cuman sebentar doang kok. Nanti kalo Anggara buat tidur, pasti udah mending. Percaya sama Anggara ya, Ma?"
Andrana menggigit bawah bibirnya dengan perasaan getir, tetapi di sisi lainnya yaitu Agra sang suami mengangguk mengiyakan ucapannya dari Anggara. Andrana pun yang tadinya melirik Agra balik menoleh sedih kepada anak semata wayangnya.
"Yaudah kalo begitu. Nanti Mama sama Ayah balik kesini lagi ya, Nak."
"Iya Ngga, nanti kalo urusan warga di Komplek udah kelar, pasti Ayah Mama bakal langsung balik lagi kesini."
Agra mengelus puncak kepala Anggara dibalas Anggara dengan senyuman angguk mengerti penuturan kata dari ayahnya. Agra lalu mengambil HP-nya yang ia letakkan di kursi sofa.
"Mama sama Ayah pamit dulu ya, Nak."
"Oke Ma, hati-hati dijalan, ya."
"Iya Nak, Mama sama Ayah pasti bakal hati-hati dijalan kok. Baik-baik ya, Sayang."
__ADS_1
Andrana mencium kening Anggara lalu ia menoleh ke Freya yang tersenyum terlihat di wajah cantiknya.
"Nak Freya, nanti kalo ada apa-apa langsung telpon Tante atau enggak Om, ya?"
"Siap Tante!" Freya mengangkat kedua jari jempolnya di setiap masing-masing tangannya.
"Sip, makasih ya Sayang," lembut akan tutur kata Andrana dengan mengelus pucuk kepala Freya.
"Iya Tan, sama-sama."
"Woi anaknya Farhan!"
"Eh iya Om?"
"Eaaa jangan murung-murung bae itu muka ... udah lupain aja lagian udah berlalu, toh?"
"Eee, iya Om."
"Mantap Rey! Tos dulu kita."
Agra memberikan kepalan tangan agar Reyhan mau segera bertos tangan dengannya. Reyhan dengan senyuman pun membalas kepalan dari tangan Agra, ia tempelkan kepalan tangannya di kepalan telapak tangan Agra, layaknya memakai simbol akan berpisah.
"Udah ya jangan murung lagi, mukanya jelek loh ... gantengnya juga ilang wehehe."
"Om Agra gaul banget kayak Om Farhan," ucap Jova terkekeh.
"Oh iya dong, Om kan sahabat SMP-nya Om Farhan, kayak si Anggara sama Reyhan." Agra meringis bahagia dibalas tawa oleh Andrana.
"Yaudah yuk Ma. Ayah sama Mama pulang ya Ngga, nanti kesini lagi kok."
"Iya Yah," jawab Anggara.
"Di buat tidur, biar reda." Andrana mengusap kepala Anggara dibalas dengan anaknya sebuah anggukan kepala.
Anggara yang di titah oleh Andrana, langsung membaringkan tubuhnya karena kepalanya menjadi terasa berat bila tidak di baringkan. Andrana dan Agra pamit dengan ketiga sahabat Anggara serta satu teman barunya Anggara. Agra menggenggam gagang pintu lalu membukanya perlahan, kemudian mereka bergegas pulang yang pak Dandy sang ketua RT Komplek Permata telah menunggunya.
Anggara menghembuskan napasnya dengan meraih kepalanya bersama satu tangannya yang telapaknya di infus. Reyhan yang disampingnya menatap Anggara penuh kegelisahan.
"Ehm Ngga, mau gue beliin obat di apotik? Kebetulan pas malem tadi gue, Jova sama Rangga mau masuk ke gang rumah sakit Kusuma, gue sempet liat toko apotik yang tutup. Mungkin tokonya sekarang udah buka. Gue beliin ya? Biar lo gak kesakitan gini."
"Gak usah Rey, kan tadi gue udah bilang .. gue cuman perlu tidur aja. Dengan gue tidur, Insyaallah pasti reda lagi kok."
"Beneran Ngga? Gak usah? Gakpapa kok, orang deket toko apotik-nya. Cuma di sebrang depan jalan rumah sakit Kusuma."
"Gak usah. Daripada lo berdiri terus kesemutan, mending lo duduk deh."
Reyhan menggaruk tengkuknya. "Yaudah deh kalo gitu. Lo tidur aja ya Ngga," suruh Reyhan dengan senyum ramah.
Anggara mengangguk tapi lalu mengutarakan kata pada Reyhan, "Eh terus dua arwah gentayangan itu gimana?! Kalian bisa keluar dari tempat itu dengan keadaan aman-aman aja, kan?!
"Tenang, Ngga. Aman dan kami gak ada penyiksaan lahir batin. Karna, ada satu orang yang hebat banget yang musnahkan dua arwah sialan itu," ujar Jova merespon Anggara.
"Hah? Siapa?! Dan caranya gimana musnahkan itu dua arwah?!"
"Coba kamu lihat ke samping aku, kamu pasti langsung tau siapa yang udah hebat ilangin ibu anak arwah itu ke alam sepantasnya."
Anggara menoleh ke samping Jova yang disitu terdapat ada Reyhan. "E-elo yang udah ngusir setan-setan itu??!!"
"Hm'em, gue yang udah memusnahkan dua arwah itu pakai cara gue. Sebenernya gue langsung terbaca sama gelagat arwah wanita itu yang takut ngeliat ponselnya Rangga."
"Berarti, arwah wanita itu takut sama ponselnya Rangga? Oh gue tau, pasti dia takut sama kamera bahkan kalo difoto."
"Terlebihnya dia lebih takut dalam posisi jebret foto pake flash cahaya kamera. Sumpah sih Ngga! Empat kali potret yang di ambil Reyhan, berhasil banget buat itu setan-setan biadab yang incer kamu, pergi lenyap begitu saja!!"
Anggara melongo. "Hebat banget lo ... bukannya lo takut sama setan, ya?"
"Mungkin disaat itu gue udah emosi banget, makanya rasa takut gue ilang."
"Kayaknya aku gak ada di sana, ya?"
"Ya iyalah Frey, kamu kan ikut ke mobil ambulans. Jadi kamu gak tau deh, termasuk Anggara. Ya meskipun dengan sendirinya, Anggara langsung tanggep."
"Udah Ngga, tidur sono nanti malah tambah parah sakitnya." Jova reflek meraup wajah Anggara hingga Anggara langsung ambil protes untuk Jova.
"Duh, iya-iya .. gak perlu acara pake tutup-tutupin mukaku segala, kali Va."
"Ehehehehe, maap-maap."
"Anggara, gue minta maaf ya sekali lagi. Jujur, gue bener-bener nyesel udah ngelakuin itu ke elo, sampe kesini."
"Iya-iya gakpapa, lo gak perlu sampe minta maaf mulu. Semuanya di kesalahan paham lo udah gue maafin," ucapnya tersenyum sembari memejamkan matanya.
Sekarang Anggara telah benar-benar tidur sedangkan yang lainnya menemani Anggara, mereka duduk di kursi sofa.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Sore hari mau menjelang maghrib, Andrana dan Agra belum kunjung balik ke rumah sakit Kusuma. Bisa mungkin dikarenakan hal tersebut urusan mereka sangat banyak di Komplek Permata bersama pak Dandy.
Freya melihat ke arah Anggara yang masih tengah tidur lelap posisi hadap lurus. Freya bernapas lega, dari mata Anggara bisa Freya lihat Anggara tidur dengan nyaman. Jova nampak lagi berdiri di depan jendela yang terbuka lebar di sertakan semilir angin sore di senja hari. Langit berwarna jingga menandakan matahari akan tenggelam.
Maka dari itu, Jova tak Akan siakan momen kesempatan untuk memotret langit sunset beserta matahari yang mulai tergelincir pelan akan berganti bulan di malam hari. Dengan sunggingan senyuman menawan Jova si gadis tomboy itu, ia zoom kamera di ponselnya agar terlihat lebih jelas matahari yang mulai tenggelam tersebut.
"Hei Va, mending kamu foto-foto di pantai sambil nungguin sunset tiba," celetuk Rangga.
"Wah bener Ga! Tapi, waktu gak pernah meluangkan untukku. Sungguh meresahkan, amat meresahkan."
BRAKK !!!
Bertepatan setelah Jova memotret pemandangan senja itu, suara dobrakan pintu yang tidak sengaja terdengar sangat keras ke telinga mereka terkecuali Anggara yang sedang menikmati masa tidurnya.
Spontan Reyhan dan Rangga berdiri beranjak dari kursi sofa dengan tatapan ke depan penuh waspada. Takut jika ada sesuatu, secara bersamaan dua pemuda itu melangkah maju ke pintu kamar rawat.
Cklek...
Saat Reyhan telah membuka, betapa kagetnya ia melihat bercak-bercak darah Kental segar yang mengarah jalan lurus hingga ke tangga lantai terakhir. Rangga yang melihatnya juga kaget begitupun Freya dan Jova yang mengikuti dua pemuda itu dari belakang.
"Darahnya siapa ini?!" kejut Reyhan bergidik ngeri.
"Kok ada darah?! Ini darah, apa sirup merah Marjan yak?!" syok Jova tanda tanya.
GREP !
Saat sibuk menyimak darah segar dan kental itu di luar kamar rawat Anggara, tiba-tiba ada empat orang yang membekap mulut mereka masing-masing menggunakan kain yang dalamnya terdapat sedikit air bius yang membuat mereka berempat secara bersamaan pandangannya mengabur dan menggelap. Orang-orang yang membius para empat remaja SMA itu langsung dengan kasar menyeretnya entah kemana.
Sementara, Anggara telah bangun dari tidurnya. Di luar jendela, banyak burung-burung berkicau beterbangan kembali ke tempatnya. Anggara duduk bangun sambil mengusap wajahnya pelan. Ia mengedarkan pandangannya ke kursi sofa. Kosong, tak ada seseorang pun disana.
"Lah? Mereka semua pada kemana? Hmm mungkin pada pulang."
Namun saat Anggara akan menyalakan televisi untuk menonton film, tiba-tiba Anggara mendengar bisikan satu sosok yang mengusik di telinga kanan Anggara.
"Selamatkan mereka."
"Cepatlah, mereka sedang kondisi dalam bahaya."
"Kalau enggak, mereka akan meninggalkanmu buat selama-lamanya."
DEG !
Tubuh Anggara menegang dan merinding, matanya tak berkedip lalu keringat dingin datang kembali. Tiga bisikan dari satu sosok membuat darah Anggara berdesir cepat. Apa maksudnya? Siapakah sosok itu yang membisiki telinga Anggara untuk kesekian kalinya?
"Mereka? Mereka siapa yang dia maksud?"
Mata Anggara terbelalak kuat. "A-apa jangan-jangan itu-"
Anggara bergegas melepaskan jarum infus milik ia dengan paksa, tak peduli telapak tangan ia berdarah yang hanya satu titik darah. Kaki Anggara menapak di lantai lalu berjalan dalam kondisi sempoyongan.
"Argh! Sssssshh!"
Perut Anggara terasa perih dan kram, tapi ia berusaha menahannya karena ia telah mempunyai firasat buruk lagi mengenai sahabat-sahabatnya dan satu teman sekolah barunya. Anggara membuka pintu kamar rawat dan kagetnya ia melihat darah yang mengarah lurus kesana. Tanpa lama-lama berpikir jauh-jauh, Anggara gegas mengikuti darah kental segar tersebut sambil merintih memegang perutnya.
Anggara terpaksa harus menaiki tangga yang darahnya juga ternyata menuju di tangga yang ia naikin sekarang. Layaknya sebuah penyiksaan, perut Anggara terasa lebih sakit perih dan kram di banding tadi.
Ternyata tangga yang Angga pijak dan menaikinya, itu adalah lantai terakhir atau bisa di bilang lantai 6.
Darah itu berhenti di sebuah gudang yang posisinya pintu tengah tertutup rapat. Tanpa berjalan lambat, Anggara mempercepat jalannya hingga sampai di tempat itu.
Baru saja Anggara mau membukanya, Anggara mendengar suara amukan Reyhan dan suara tangisan Freya yang sesegukan. Dan ada beberapa orang yang membentak-bentak mereka. Anggara yang khawatir segera mendobrak pintu tersebut dengan sekuat tenaga.
BRUAAKK !!!
Mata Anggara mencuat tajam melihat kesemua sahabatnya dan satu temannya di sekap dalam gudang kotor itu.
"Sialan! Lepasin mereka!!" bentak Anggara.
"Eh lo siapa dah?"
Satu orang yang memakai topeng itu berjalan ke Anggara.
"Lo gak perlu tau gue siapa! Lepasin mereka!! Apa maksud lo sekap mereka, hah?!"
"Brengsek! Dateng-dateng malah ada orang pengganggu hiburan gue aja!!"
Orang bertopeng itu menarik kerah baju pasien Anggara. Walau orang tersebut memakai topeng, tetapi Anggara bisa melihat raut wajah orang tersebut yang merupakan psikopat yang di incar banyak polisi di kota Bogor.
"Wah, lo pasien di rumah sakit ini ya? SOK-SOKAN BERANI LAGI, SAMA GUE!!!"
BRUGH !!!
Psikopat itu mendorong Anggara kuat hingga terjatuh kencang di lantai. Badan pun posisi terlungkup, hal itu membuat perut Anggara yang di perban sakit kembali dengan sakit amat sangat. Psikopat itu mendengus marah mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Rintihan Anggara membuat Psikopat itu senang sekali buat satu orang pasien RS Kusuma kesakitan.
"Perut lo sakit? Luka ya? Nice! Artinya gue akan buat lo makin kesakitan luar batas!!"
Pisau lipat itu ia turunkan cepat akan menusuk tubuh Anggara, dengan cekatan Anggara menggulingkan tubuhnya mengelak pisau itu yang nyaris mengenai dirinya.
Anggara memaksa diri untuk berdiri lalu menendang kuat topeng wajah psikopat itu hingga setengah retak. Jangan ia kira, Anggara akan menyerah begitu saja, malah justru Anggara akan melawan sengit psikopat itu.
"MANUSIA BRENGSEK!!!"
Setelah mengatakan Anggara seperti itu, psikopat yang topengnya setengah retak, menendang perut Anggara hingga Anggara sendiri membentur tembok dengan sangat keras.
BUAGH !!!
"Aaaaaarrghh!!!" Anggara berteriak kesakitan memegang perutnya yang luka itu. Kepala yang ikut terbentur, membuat kepala Anggara sakit dahsyat.
"MAMPUS LO!!!"
Psikopat itu menarik kerah Anggara paksa lalu membanting tubuh Anggara hingga ia jatuh tersungkur. Kening Anggara menghantam kuat di lantai namun beruntungnya tidak berdarah.
Anggara yang masih bisa menguatkan diri, membuat psikopat itu geram menarik Anggara kembali lalu melempar Anggara kencang ke tembok. Punggung Anggara seakan-akan rontok sendi-sendinya. Anggara tak mampu lagi untuk berdiri, Anggara menjadi terkulai lemas karena benturan keras di kepalanya begitu amat kuat.
"Kenapa? MASIH BELOM MENYERAH??!!"
Psikopat itu menarik Anggara kembali dan langsung di cekal Anggara kuat. Tetapi karena tubuh Anggara saat ini lemas, psikopat itu dengan mudahnya membanting tubuh Anggara lagi ke lantai lalu mencekik leher Anggara kuat. Napas Anggara terhambat membuat dadanya terasa sangat sesak.
"UHUK UHUK UHUKK!!!"
"AAAAAAARRRGGGHHH!!!" Teriakan Anggara yang kesakitan itu membuat diri Reyhan meronta-ronta dari ikatan tali itu.
"RASAIN LO!! Suruh siapa lo ganggu hiburan gue, hah??!!"
"MATI AJA LO HARI INI!!!"
Psikopat manusia kejam itu langsung melepaskan cekikan-nya dari leher Anggara lalu melempar tubuh Angga setelah mengangkatnya ke atas.
DUAGH !!!
Oh tidak! Manusia kejam itu melempar Anggara ke tembok hingga kening Anggara terbentur kuat hingga membuat keningnya mengalir berdarah. Freya berteriak menangis dengan berusaha melepaskan diri walau ia di cegah oleh teman-teman dari psikopat itu.
"HAHAHAHAHA MANUSIA GAK TAU DIRI!! GAK PANTES LO HIDUP, LO HARUS MATI!!!"
BRUGGHH !!!
Sadisnya dari manusia kejam itu, Anggara langsung di angkat dengan dalam kondisi sekaratnya, psikopat itu membanting Anggara jauh lebih kuat daripada yang tadi sampai menimbulkan suara yang amat keras. Sudah parah kening Angga yang menjadi luka tambah aliran darah kening merembes hingga ke pelipis matanya.
Reyhan yang terlepas dari ikatan talinya karena satu teman dari psikopat itu kurang kencang mengikatkan talinya untuk Reyhan. Reyhan menempelkan satu telunjuk jari tangannya menyimbolkan agar dua sahabat perempuannya serta satu tetangganya tak bersuara. Reyhan mengambil balok kayu yang ada di belakangnya lalu dengan tenaga maksimal, Reyhan memukul belakang kepala para teman psikopat itu secara bergantian.
BUAGGH !!!
BUAGGH !!!
BUAGGH !!!
BUAGGH !!!
Empat psikopat itu yang tadi menyeret Reyhan dan juga yang lain, kini jatuh tak berdaya dengan kondisi tak sadarkan diri. Cekatan dan gesit Reyhan langsung melepaskan ikatan tali para lainnya hingga mereka bertiga bebas terlepas dari ikatan tali itu dan sekap di gudang. Reyhan setelah itu berlari mencari keberadaan Anggara sekarang ada dimana.
"NGGAAA!!!"
Reyhan yang melihat Anggara lemah tak berdaya di lantai bawah segera menuruni tangga di ikuti oleh Jova, Freya, dan Rangga panik. Reyhan berjongkok di samping Anggara lalu menolehkan kepala Anggara ke hadap lurus, begitu tahu Reyhan melihat luka kening serta darah merembes terlanjur sampai pelipis mata apalagi kondisi Anggara setengah sadar, Reyhan cepat meminta bantuan dokter. Namun alangkah itu, banyak orang-orang pengunjung rumah sakit Kusuma berlarian menghampiri Anggara yang tengah sekarat.
Di depan ada dokter, ia dokter Ello yang menangani Anggara waktu masuk IGD. Anggara menatap lemah yang di samping dokter Ello adalah beberapa perawat berseragam putih. Seketika itu pandangan Anggara memburam dan samar-samar dokter Ello, para perawat dan orang-orang pengunjung berlarian menghampirinya dengan panik. Ingin Anggara tahan sebentar sampai orangtuanya datang, namun apa daya? Anggara justru tak kuat lagi. Anggara menyilih menatap Reyhan untuk terakhir sebelum mata Anggara menutup dengan tenang sekali dan juga damai.
"Eh Ngga?! Ngga?!" Reyhan menangkup wajah Anggara dengan terus memanggilnya. Air mata Reyhan perlahan membanjiri kedua pipi dan semakin deras.
"Hiks! ANGGA BANGUN NGGA!! LO GAK BOLEH BEGINI!!!"
Sementara dokter Ello yang telah sampai langsung memeriksa detak jantung Anggara menggunakan alat stetoskop, alat tersebut beliau tempelkan di dada tengah Anggara beralih ke dada bagian kiri Anggara. Dokter Ello bergantian menekan denyut nadi tangan pasien yang tangan dari sang empu telah lemas. Ada wajah raut dokter Ello yang tak bisa mereka semua tebak.
"Suster."
"Baik Dok!"
Satu suster yang di panggil dokter Ello langsung paham apa maksud dari beliau. Perawat tersebut mengambil kasur roda di sebuah ruangan di bantu oleh satu perawat lagi. Kini dua perawat tersebut kembali dengan mendorong kasur roda, tetapi bertepatan dengan itu si Agra dan Andrana keluar dari lift dan melihat dua perawat mendorong kasur roda kosong seperti ada yang urgent.
Agra mengalihkan pandangannya ke depan, ia melihat banyak kerumunan orang pengunjung yang mengepung seseorang di depan para mereka. Agra dan Andrana langsung berlari memastikan siapa disana. Di sisi lain, Freya nampak dibuat senam jantung pada kondisi Anggara yang terluka parah.
"Permisi Pak, ini ada apa ya? Kok ramai-ramai?" tanya Agra sambil celingak-celinguk ke depan.
"Ada yang terluka parah, Pak. Masih muda anaknya, lelaki sekolah SMA kalo di lihat dari sini. Kasian banget Pak, kondisinya sekarang malah gak sadarin diri."
'Lelaki sekolah SMA?! Ya Allah, dia siapa Ya Allah,' batin Andrana kalut perasaan tak enak.
Orang-orang yang mengepung langsung memberi jalan pada dua perawat yang mendorong kasur roda. Setelah itu beberapa perawat mengangkat tubuh lemah Anggara ke kasur roda.
DEG !
Agra dan Andrana syok melihat ternyata yang terluka parah adalah anaknya sendiri. Andrana langsung menerobos kerumunan orang-orang pengunjung lalu menangkup wajah pucat dari Anggara.
"Anggara! Ya Allah Nak, kamu kenapa Sayang?! Ayo buka mata kamuuuu!!"
"Dokter, apa yang sudah terjadi dengan anak saya?!"
"Ibu adalah orangtuanya dari pasien Anggara?" tanya Dokter Ello yang ada di sisinya Anggara.
"Iya Dok, saya dan suami saya yang di belakang adalah orangtuanya Anggara!"
"Anak Ibu dan Bapak terluka begitu parah, maka dari itu Anggara harus di bawa ke ruang ICU."
"Huhuhuhuhu! Anggaraaa!"
Freya dan Jova menerobos kerumunan orang dan menghampiri Anggara yang ada di atas kasur roda. Kini dengan langkah cepat mereka langsung menggiring kasur roda yang kini ada Anggara di atasnya ke ruangan ICU. Sementara Reyhan, Rangga, dan Agra berlari ke tangga lantai 6 untuk mengejar psikopat yang telah membuat keadaan Anggara miris oleh luka di kepala.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Usai berapa langkah keadaan gawat darurat hingga di lihat prihatin oleh semua pengunjung rumah sakit, sekarang Anggara sedang posisi di masukkan ke dalam ruangan ICU.
Di dalam, Anggara di angkat oleh beberapa perawat dan dokter Ello ke ranjang pasien yang tersedia di ruangan ICU tersebut. Usai itu tim medis melakukan tugasnya dengan cepat untuk nyawanya Anggara. Satu perawat menancapkan jarum infus ke telapak tangan kiri Anggara, suster yang kedua memasang semacam beberapa kabel medis elektronik ke badan Anggara satu persatu, suster ketiga menjepitkan jari telunjuk tangan kanan Anggara menggunakan pulse oximeter. Dokter Ello dengan telaten membersihkan darah luka kening Anggara lalu selanjutnya kening Anggara di tambal oleh balutan perban yang melingkar hingga ke belakang kepala si pasiennya.
Namun tiba-tiba alat monitor pendeteksi jantung berbunyi mengiung ke sepenjuru ruangan beserta layar monitor pendeteksi jantung pada sesuai irama detak jantung Anggara, mendatar lurus.
"Dokter! Detak jantung pasien berhenti!"
"Tolong ambilkan alat tindakan Sus, segera!"
"Baik Dokter!"
Perawat yang ada di hadapan dokter Ello di komando oleh dokter tersebut untuk mengambil alat tindakan, yaitu Defibrillator (Alat pacu jantung).
Alat tersebut di dekatkan ke oleh dokter Ello. Dokter Ello mengambil alat pacu jantung tersebut dan menempelkan keduanya di dada Anggara, dokter tersebut menekan tombol energi di masing-masing alat pengembalian detak jantung itu secara bersamaan. Tubuh Anggara seketika terangkat sedikit lalu turun kembali usai dokter Ello menekan tombol energi di alat tindakan.
"Belum berhasil Dok!"
Dokter Ello kembali menempelkan alat tersebut di dada Anggara kemudian tubuh Anggara terangkat lagi. Dokter Ello menggelengkan kepalanya disaat melihat layar monitor pendeteksi jantung grafiknya masih tetap sama, mendatar lurus.
Dokter Ello menggosokkan kedua masing-masing Defibrillator tersebut lalu menempelkan alat tersebut ke dada Anggara kembali. Setelah tubuh Anggara terangkat dikarenakan efek kerjanya alat pembantu aliran listrik ke jantung, di layar monitor pendeteksi jantung pada akhirnya grafik yang tadinya mendatar kini kembali bergelombang tenang sesuai detak jantung milik Anggara.
Dokter Ello menghela napasnya lega lalu mengembalikan alat Defibrillator itu ke tempat asalnya. Beliau kemudian membuka mata Angga satu persatu menggunakan senter kecil untuk menyorotkan mata Angga sekaligus memeriksa pupil matanya. Dokter Ello menggeleng pelan dengan wajah yang resah.
Satu perawat langsung memasangkan masker oksigen ke hidung Anggara sekaligus mulutnya agar ia mendapatkan pernapasan oksigen yang keadaannya tengah buruk itu.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di luar ruangan, seorang gadis dan wanita tengah duduk di kursi tunggu sambil menangis terisak-isak dengan berpelukan. Mereka adalah Freya dan Andrana serta Jova yang menangis perlahan dengan menundukkan kepalanya risau pada sahabat introvert-nya.
Cklek !
Mendengar suara pintu ruang ICU di buka oleh dokter Ello, Freya dan Andrana saling melepaskan pelukannya lalu berdiri dan menghampiri dokter Ello dengan raut kesedihan khawatir begitu pun Jova yang menyeka air mata linangan-nya.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan anak saya?! Hiks!"
Dokter Ello menunduk lalu mendongak menghadap ke Andrana sambil menghela napasnya pelan.
"Ada luka cedera di kepala anak Ibu, luka cederanya bisa di bilang begitu parah begitu juga terjadi pembekuan otak dari anak Ibu, sehingga membuat anak Ibu ..."
"Sehingga apa Dokter?! Membuat anak saya kenapaaaa??!!"
"Maaf Ibu, sebenarnya ini sangat berat buat saya ungkapkan pada Ibu dan semuanya."
"Anggara telah, Koma."
Ibaratnya mereka bertiga di sambar oleh petir mendengar ucapan dokter Ello dengan wajah prihatinnya, Freya, Jova, dan juga Andrana sangat terkejut setengah mati hingga menguntaikan kata kekagetannya secara bersamaan.
"Apa?! Koma Dok?!"
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1