Indigo

Indigo
Chapter 94 | Trapped In A Dark Room


__ADS_3

Angga langsung terbangun dari mimpinya dengan posisi terduduk bersama basahan keringat beserta napas yang tersengal-sengal akibat mimpi buruk yang ia alami barusan. Tangan kanannya terulur menggapai kepalanya yang lumayan sakit.


“Apa yang tadi gue mimpikan? Seakan-akan itu adalah penglihatan mendadak yang peristiwa terjadi pada lima bulan silam.”


“A-argh!” Kepala Angga kini terasa berdenyutan hebat hingga pemilik kepala tersebut tertatih-tatih pada penderitaan sakit ini yang belum sama sekali ada kemajuan untuk pulih kembali.


Tangan kiri Angga membentang gegas ke meja nakas dan meraba-raba strip obat yang terletak di sana. Usai mendapatkan, lelaki Indigo itu langsung cepat membuka bungkusan blister obat pereda sakit cedera kepalanya yang kambuh lalu memasukkan satu pil putih tersebut ke dalam mulut disambung meminum air putih yang ada terisi di dalam gelas. Angga meneguknya hingga tandas setengah.


Angga meletakkan gelas tersebut lalu bungkusan obatnya. Dirinya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang tidur sejenak untuk meredakan sakit kepalanya. Tak hanya itu saja, detak jantungnya memburu kencang akibat penglihatannya yang datang di alam bawah sadarnya tadi.


“Kenapa firasat gue mengatakan kalau mimpi gue ada faktanya? Berarti kematian Emily bukan disebabkan oleh bunuh diri. Gue nggak menerawang tapi penglihatan itu muncul mendadak dengan sendirinya sesuai jalanan mimpi.”


Bola mata Angga yang tunduk ke bawah, beralih menatap kesenangan kedua arwah sahabat abadi yang sedang bermain bola mantra kuasanya nang mereka miliki masing-masing. Si Cahya memiliki bola mantra menawannya dengan warna biru muda dipadukan sinar, si Senja memiliki bola mantra cantiknya dengan warna pink magenta dicampur cahaya terang macam bohlam lampu.


“Bisa hancur kamar gue, kalau kalian berdua main bola mantra seperti itu,” celetuk Angga.


“Eh, lo udah bangun, Ngga? Gak kok, mantra ini nggak membahayakan. Lagian pula, gue sama Senja bosen banget. Mangkanya kami main mantra yang kami punya buat mengatasi kebosanan.”


Senja yang tengah menggenggam kekuatan sihir mantranya, menoleh menatap Angga. “Ngga, dengar-dengar ... kondisimu memprihatinkan, ya? Kalau semisalnya kejadian itu terulang, kamu bisa jadi di antara takdir, antara Koma atau mati. Kalau kamu mati, kamu selamanya jadi temen abadi kami berdua, loh.”


Angga memberikan tatapan sinis tajam pada Senja yang berbicara lantang. “Berucap lah dengan benar, jangan seenak jidat kalau ngomong. Aku di dunia ini menginginkan umur panjang bukan umur pendek.”


Senja dan juga Cahya cengengesan pada suara nada dingin manusia Indigo tersebut. Angga yang melihatnya justru menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya keluar. Angga di atas kasur mengangkat kedua tangannya sampai di ulu hati, ia menatap dua telapak tangannya, tatapan nanar ada di pada muka tampan dirinya.


‘Mimpi itu sudah muncul, dan memori baru itu sudah ada di ingatan gue. Lalu, apa yang bisa gue bantu arwahnya kalau gue sendiri nggak sanggup menerawang untuk menyelesaikan tentang hal gaib itu? Sebaiknya harus gue pikir dulu sebelum bertindak.’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


SMA Galaxy Admara - Koridor


Gadis dan lelaki yang tengah berlari tersebut matanya sama-sama membentur para kerumunan seluruh siswa-siswi. Reyhan dengan gesit melanjutkan lari yang sempat ia hentikan bersama Freya, Freya yang telah dilepaskan tangannya oleh Reyhan, mengikuti sahabatnya dari belakang buat menghampiri para kerumunan ramai itu.


Grep !


Reyhan merebut ponsel salah satu kelas X yang ingin menekan tombol video di kameranya. Seorang siswi tersebut tersentak kaget pada perilaku Reyhan. “Eh, Kak Reyhan?!”


“Tolong jangan video-kan peristiwa itu. Mengerti?” tanya Reyhan memberikan tatapan datarnya pada siswi gadis itu hingga membuat ia menunduk dan meminta maaf kepada kakak kelasnya.


Reyhan memberikan kembali ponsel adik kelasnya dan langsung diterima dengan pelan oleh siswi itu dengan masih kepala menunduk. Selanjutnya Reyhan menerobos kerumunan usai memberi paham gadis tersebut yang ada di kerumunan paling belakang. Yang Reyhan pandang sekarang adalah, Jova yang tengah akan memberikan sebuah pukulan tonjokan secara bertubi-tubi.


Reyhan yang kini telah berada di belakang Jova, lelaki friendly itu langsung cepat menarik badan sahabatnya ke belakang. “Stop, Va! Berhenti!”


Jova yang sadar dirinya ditarik oleh Reyhan, auto menolehkan kepalanya ke belakang dengan tampang wajah raut sengit tergambar. “Aku belum puas beri dia pelajaran! Kembaran nenek lampor kayak Youra harus dikasih ngerti!!”


Jova yang hendak maju untuk menyerang balik Youra, lekas cepat ditahan oleh Reyhan dengan tenaga kuat. “Udah jangan! Kamu mau di bawa ke ruang BK dan dikasih hukuman?!”


Jova terdiam namun matanya masih nyalang melotot pada Youra bersama napas naik turun cepat. Dan di situ, kontak mata Reyhan bertemu pada Alex yang juga tengah menahan tubuh kekasihnya. Sorot matanya menjadi berubah dingin dipadukan muka datarnya, begitupun juga dengan Alex.


Sementara Kyra sudah tak ada di situ, dikarenakan Jova telah menyuruhnya pergi ke kelas agar ia bisa menyelesaikan urusannya dengan Youra, Febrie, serta Claudie. Di sinilah, suasana jam istirahat ini menjadi tegang karena mereka takut akan ada tragedi berdarah antara Reyhan dan Alex. Tapi dugaan mereka justru salah, karena dua lelaki tersebut hanya saling tatap-tatapan datar tanpa melakukan aksi baku hantam yang mengakibatkan babak belur terjadi.


Alex menarik Youra untuk mengajak pacarnya itu pergi dari kerumunan yang membuat Alex muak. Youra pun hanya diam menuruti ajakan lelakinya. Reyhan menghela napas panjangnya untuk mengendalikan emosinya karena telah bertemu dengan pemuda gerangan macam Alex musuh bebuyutannya yang pernah ia hadapi.


“Semuanya yang ada di sini tolong bubar!!” perintah Reyhan dengan menaikkan oktaf nadanya.


Mendengar suruhan tegas dari salah satu siswa bangku kelas XI IPA 2, mereka yang tengah sibuk asyik menonton aksi perkelahian antara siswi dan siswi, akhirnya menuruti apa yang Reyhan minta di seraya mengeluarkan suara keluhan kesal karena adegan tragedi berdarah itu telah dihentikan singkat oleh Reyhan. Beruntung saja belum terlambat dan Reyhan datang dengan tepat waktu sebelum ada guru datang dan menggiring gadis sahabat tomboy-nya beserta Youra ke ruang BK untuk meminta penjelasan apa yang terjadi hingga mereka menimbulkan pertengkaran hebat.


Kini tinggal yang masih berada di koridor, tiga remaja yaitu Reyhan, Jova, dan Freya. Pemuda itu memegang pundak kanan belakang gadis sahabat tomboy-nya untuk mengajaknya duduk di atas tembok pendek koridor tempat mana yang mampu diduduki siapapun saja. Melihat suasana hati Jova yang masih berantakan, maka dari itu Reyhan mengajaknya duduk untuk merendahkan emosi sang sahabat. Freya yang tengah berdiri, ikut duduk di sebelah mereka.


Reyhan menatap muka tampang berang Jova yang belum menghilang, sampai akhirnya Jova yang menyadari bahwa ia di tatap oleh Reyhan, kepalanya menoleh. “Apa lihat-lihat?! Mau aku colok matamu pake setrum kabel?!”


Reyhan spontan kaget hingga memundurkan badannya dengan mata berkedip satu kali. “Galak amat, Neng? Kayak mau makan orang. Hehehe, santai, santai. Jangan marah-marah, dong .. masa aku yang kena lampiasan-nya, sih? Kan gak seru.”


“Bodo!” ucap Jova ngegas melipat tangannya di dada sambil melimbai kepalanya kencang ke kiri agar tak melihat wajah sahabat lelaki humorisnya.

__ADS_1


Reyhan mendengus pelan dengan senyuman getir kemudian kedua tangannya menangkup muka Jova untuk ia balikkan posisi wajah gadis marah tersebut ke arahnya. Namun karena terlalu kencang menyentuhnya, pipi-pipi Jova menjadi meleyot. “Jangan ngambek, dong.”


“Lagian kamu kenapa sih malah niru-niru kelakuanku semasa aku suka tawuran sama Alex? Padahal aku sama itu anak satu udah jarang main jotos-jotosan. Coba saja, kalau semisalnya aku biarin kamu bertengkar seperti itu sama Youra, kamu dan dia bakal kena giring BK. Gimana kalau endingnya jadi memalukan, kamu dan Youra kena hukum Skors.”


Jova menggertakkan giginya. “Kamu tuh bela aku apa bela Youra, sih?!”


“Ya bela kamu, atuh. Masa si Youra tukang pembuat onar itu? Mana mungkin. Mending kamu cerita aja deh sama aku dan Freya, kenapa kalian bisa tawuran kayak gitu tadi? Awal permasalahannya apa?”


Kedua tangan Jova dengan kasar melepaskan sepasang tangan Reyhan dari wajahnya sambil mendengus sengit. “Nih asal kamu tau aja, ya! Tadi pas aku mau balik ke kelas, aku ngeliat Youra sama dua sahabat tingkah musang itu bully Kyra di sini! Mereka mengolok-olok Kyra, main fisik, dan terakhir menghina Almarhumah sahabatnya yang udah lama meninggalkannya! Aku sebagai kakak kelas, gak terima banget dong kalau adik kelas ditindas sama atasannya!”


“Kyra di bully?! Terus sekarang Kyra dimana?!” kejut Freya baru tahu dan bertanya pada Jova yang fokus menatap muka Reyhan sekaligus menjelaskannya semua apa permasalahannya hingga menimbulkan pertengkaran hebat.


“Kelasnya. Beruntung aja Kyra gak dapet luka yang dia terima, karena saat itu aku cepet datang dan mencegah Febrie yang mau menyobek buku lembaran diary Kyra. Jiwanya sakit gak, tuh?!”


Freya terdiam bungkam tak menjawab apapun untuk menanggapi Jova yang misuh-misuh. Sementara itu, Reyhan menggelengkan kepalanya karena tobat pada perilaku mereka bertiga kepada Kyra yang merupakan anak siswi kelas junior. “Sudah ya, Va. Jangan marah-marah lagi, toh Kyra nggak kenapa-napa. Nanti kalau marah mulu, cepet nenek lho.”


Jova menekuk mukanya dan menghembuskan napasnya hingga membuat rambutnya yang acak-acak berantakan, satu helai rambut nang ada di dekat muka menjadi tertiup ke atas. Reyhan yang ada di tepat sebelah sahabatnya, tangannya mulai beraktivitas untuk merapikan kembali rambut Jova dengan gerakan lembut. Freya yang melihatnya hanya tersenyum saja tanpa melakukan apa-apa untuk menghibur hati sahabat perempuan SMP-nya. Ya, gadis polos tersebut susah menaikkan mood Jova saat ini.


“Ayolah, jangan ngambek. Senyum dikit, please ...” pinta Reyhan sembari terus merapikan rambut indah Jova.


“Gak mood senyum, titik gak pake koma!”


“Jangan gitu, dong.” Setelah selesai mengubah rambut coklat menawan Jova menjadi rapi semula, bola mata lelaki itu mendongak ke atas untuk memikirkan cara supaya hati Jova lunak dan luluh.


‘Oh iya, ya! Ini cewek kalau gue sogok sama makanan pasti bakal luluh hatinya. Eh tapi kalau gue sogok itu, ujungnya pasti gue yang traktir dia ...Yasudah lah korban duit dulu bae, yang penting ini bocah suasana hatinya jadi perfect. Oke, saatnya beraksi !’


“Eh, Va!” panggil Reyhan dengan senyum sumringah menghiasi wajah tampannya dengan mata melebar.


“Apaan?!” sarkas-nya.


‘Buset, masih ngotot.’


“Ehehehe, gimana nanti pas pulang sekolah aku traktir kamu makan lontong sate ayam di pak Damar? Mau, nggak? Oh iya, kamu kan tadi berangkat sekolahnya pakai taksi online, jadi habis makan sate di sana, aku anter kamu deh sampe komplek rumahmu? Bagaimana?”


Jova yang mukanya ia tekuk karena masih kesal, berubah menjadi raut ekspresi bahagia dan kepalanya ia toleh ke arah Reyhan. “Hah?! Beneran nih Rey, kamu mau traktir aku lontong sate ayam pak Damar sama anterin aku pulang ke rumah?!”


Mata gadis tomboy itu berbinar dengan wajah cerianya. “Kebetulan banget uangku sekarang lagi pas-pasan gara bayar ongkos taksi online. Waaaa makasih banget Reyhaaann! Kamu the best pol jadi sahabat!!”


Jova kemudian reflek memeluk erat tubuh Reyhan karena saking gembiranya. Reyhan yang dipeluk otomatis ingin copot jantungnya, bola matanya auto mencuat sempurna dengan raga mematung seketika. Freya yang menyaksikannya ikut terkejut bukan main sampai mulutnya menganga.


‘Anjir, dipeluk lagi dah, gue huhu! Iya sih cuman sahabat, tapi gue kalau dipeluk sama cewek rasanya aneh bet kecuali kalau adek sepupu gue dan nyokap.’


Freya beranjak berdiri dari duduknya kemudian gadis itu menatap satu persatu kedua sahabatnya di depan mereka. Kedua tangannya saling ia posisikan di belakangnya bersama senyuman meledek. “Ehem! So sweet sekali kalian berdua. Ih, cocok deh kalau Reyhan sama Jova jadi pacar, hihihi!”


Reyhan membuka mulutnya dengan lebar bersama mata yang masih mencuat, sedangkan Jova bingung mengapa Freya mengatakan seperti itu. “Freya kenapa ngomong gitu, dah?! Emangnya yang gue peluk siapa kalau bukan Freya, mana nyaman banget lagi ini tubuh gue dekap.”


Jova mengangkat wajahnya ke atas dan menilik siapa yang ia peluk sebenarnya. Dalam sekejap detik, kedua mata Jova melotot dengan mulut menganga lebar membentuk oval. “Kyaa! Kok aku bisa meluk kamu, sih?!”


Jova cepat-cepat melepaskan dekapannya dari tubuh Reyhan. “Harusnya yang aku peluk si Freya, kok malah jadi kamu yang aku peluk. Gak sadar parah aku!”


Reyhan mendesis dengan mata balik seperti sediakala. “Mangkanya kalau meluk itu liat arah dulu! Biar gak salah peluk orang!”


“Maaf, aku nggak sengaja ...”


“Eeerr, i-iya nggak apa-apa.”


Freya menatap kedua sahabatnya dengan cengengesan. “Cieee, malu-malu kucing nih, yaaa. Sepertinya alam semesta sudah merestui kalian untuk saling bercinta.”


Reyhan dan Jova yang tengah sama-sama malu berat, mendongakkan kepalanya menghadap ke Freya yang sibuk asyik meledek mereka berdua bersama senyuman nakalnya. “Eh apa-apaan, nih?! Kok kamu nyerang balik, sih?!”


Freya beralih menatap Jova. “Biarin. Salah sendiri siapa waktu itu kalian sering ngeledek aku sama Angga? Harus gantian, dong supaya impas. Wleeekk!”


Freya menjulurkan lidahnya dengan bola mata ia juling-kan, membuat Jova dan Reyhan menjadi gregetan serta gemas ingin menangkap tubuh mungil gadis lugu tersebut yang telah pintar meledek orang bahkan sukses buat kedua sahabatnya malu berlipat-lipat ganda.

__ADS_1


“Awas ya kamu, Freya! Reyhan, ayo kita tangkap terus habis itu kita gelitiki dia biar kapok!” komando Jova dengan senyum miring.


“Siap, Nona!” buras Reyhan dengan melakukan gaya hormat pada bendera merah putih saat Upacara.


“Yiha, kabuuuuurr!!!” teriak Freya seraya berlari sekencang-kencangnya agar tak bisa ditangkap oleh kedua sahabatnya. Di sisi lain, Jova dan Reyhan beranjak dari kursi gesit dan mulai mengejar gadis berambut hitam legam cantik tersebut yang tertawa ria setengah takut kalau dirinya berhasil dicekal dengan sahabatnya.


“Hei Freya, jangan kabur! Awas aja ya kalau kena tangkep, aku siksa kamu nanti. Huahahaha!!”


“Setuju! Jangan kasih kendor! Maju teruuuuss!!” pekik Reyhan sembari lari marathon di depan kedua gadis sahabatnya yang tengah berlari.


“Ampun hahahaha! Angga toloooongg!! Aku dikejar penjahat psikopaaaatt!!!”


“Waduh parah nih anak bisa-bisanya, hahahaha!!!” kompak seru Reyhan serta Jova bersamaan.


Tiga sekelompok sahabat sejati tersebut kini di jam istirahat saling kejar-kejaran di imbuh dengan tawa gembira yang menaikkan suasana hati mereka. Tak peduli mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi lain ataupun para guru yang lewat, yang penting hari ini mereka bertiga merasakan kebahagiaan yang mengisi hati mereka masing-masing.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam kelas XI IPA 2 nampak ramai penuh dengan senda gurau di pagi hari Jumat ini. Hingga nampak ada salah satu siswa masuk ke dalam kelas bersama menenteng tas ransel di pundaknya lalu menuju ke bangku miliknya.


Seperti Reyhan, Freya, Jova yang tengah asyik bercerita dengan gelak tawanya menjadi teralihkan pada seorang pemuda yang mereka kenali sekali. Terlihat siswa itu sedang menaruh tasnya di atas kursi dan hendak duduk di bangkunya tersebut. Mata ketiga sahabat itu terbelalak senang atas kehadirannya.


“Wah Angga udah berangkat!!” pekik ketiga sahabatnya yang nampak wajahnya bahagia melihat kedatangannya kembali yang sudah antara Rabu dan Kamis absen sekolah.


Angga sontak langsung menutup telinganya karena mendengar suara teriakan para sahabatnya yang kini menghampiri bangkunya, lelaki tampan itu menatap mereka. “Biasa aja manggilnya, nggak perlu sampai teriak begitu.”


Angga menghela napasnya kemudian duduk di kursinya. Sementara Freya duduk di bangkunya lalu memutarkan tubuhnya agar menghadap ke arah sahabat kecilnya. “Hehehe, kirain minggu depan kamu baru masuk sekolah. Kan besok udah libur, tuh.”


“Sayang sama pelajarannya, daripada ketinggalan banyak.”


“Woi, Bro! Gilak lo, udah gak berangkat dua hari. Sepi tau hati gue nggak ada lo di sekolah,” protes Reyhan dibalas Angga tatapan jengah.


“Lebay! Baru juga dua hari, nggak sampe dua bulan.”


“Hahahaha!”


Jova tertawa renyah mendengar jawaban Angga. Padahal tanggapan tersebut bagi Angga tak ada yang lucu, mungkin mood sahabat gadisnya hari ini sungguh baik. Dan tawa Jova disusul oleh Freya begitupun Reyhan, sementara Angga yang balik diam, menggeleng-gelengkan kepalanya bersama senyuman tipis di bibirnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


KRIIIIIIIINGG !!!


Para siswa dan siswi banyak berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumahnya masing-masing, begitupun juga dengan Angga, Freya, Jova, serta Reyhan. Kini mereka berempat tengah menuruni undakan anak tangga bersama buat menuju ke lantai pertama. Usai menurunnya hendak melangkah pergi ke lobby, keempat remaja tersebut dikejutkan suara jeritan wanita yang berasal dari dalam gudang olahraga.


Spontan saja Angga dan para sahabatnya menghentikan langkahnya dan kepalanya menoleh ke sumber suara, suara tersebut nampak jaraknya jauh dari mereka berdiri di dekat mading. Kedua gadis sahabat pemuda Indigo itu meneguk salivanya dan menatap takut, si Reyhan bergidik ngeri nan bulu kuduknya berdiri macam landak, sedangkan Angga menatapnya dengan tatapan mata tajam tanpa ada rasa takut yang menyelimuti dirinya.


Angga yang ingin mengecek dan memastikan suara jeritan wanita itu, kakinya kembali melangkah mendatangi gudang olahraga yang jaraknya lumayan jauh. “Ngga! Udah, lo jangan ke sana! Kita mending pulang aja, nanti kalau itu jebakan persis kayak waktu kita camping di hutan kota Bogor, gimana?!”


Angga tak menggubris paniknya Reyhan yang teriak-teriak memperingati sahabatnya untuk tak berjalan ke arah gudang olahraga. Lelaki humoris itu berdecak jengkel pada Angga yang keras kepala, mau tak mau ia mengikuti Angga dari belakang begitupun Freya dan Jova.


Sekarang Angga telah berada di depan pintu gudang olahraga yang mana dalamnya banyak sekali peralatan olahraga dan banyaknya rak jenis-jenis bola beserta tumpukan kardus di pojok gudang. Tangan lelaki tersebut mengulur untuk menggenggam gagang pintu lalu membukanya. Namun baru saja hendak membuka, terdengar suara lain ialah gaduhan macam barang kotak kardus yang saling berjatuhan. Angga tetap bersikap tenang kemudian membuka pintu tersebut dengan perlahan.


Cklek !


Angga menarik pintu itu dengan lebar dan mata abu-abu autentiknya mulai menelisik seluruh ruangan gelap tersebut, sedangkan ketiga sahabatnya berada di belakang punggung milik Angga. Bersama jiwa beraninya, kaki kanannya melangkah menginjak lantai putih gudang olahraga.


“Ini bocah dibilang, ngeyel banget!” rutuk Reyhan bergumam seraya tetap membuntuti sahabatnya yang udah masuk ke dalam gudang.


Entah mengapa aura dalam gudang olahraga yang gelap itu mendadak berubah jadi menegangkan dan hawanya sangat dingin. Bola mata para keempat remaja berwajah paras tampan dan cantik tersebut mengitari sepenjuru ruangan. Sahabat-sahabatnya Angga kompak mengusap tengkuknya tersendiri dengan muka raut ekspresi waspada jika nanti ada yang terjadi secara tiba-tiba.


“Perasaan tadi kita semua denger suara barang jatuh deh di dalam gudang ini? Tapi nyatanya kok di sini rapi-rapi aja?! Ya ampun serem,” buras Freya yang ada di belakang sendiri.


Keringat dingin mengucur dari kening Reyhan lalu pemuda jiwa penakut tersebut menelan ludahnya susah payah sambil bola matanya terus menyidik seluruh dalam ruangan gelap gudang olahraga. Sementara si Angga nampak tengah merasakan eksistensi aura janggal ini melalui kekuatan Indigo yang ia pertuankan.

__ADS_1


Kendati alangkah terkesiap-nya mereka berempat, pintu gudang olahraga nang ruangannya telah mereka masuki, tanpa ada seseorang yang melakukannya, pintu satu daun tersebut menutup membanting dengan amat kencang serta dari luar terdengar jelas pintu gudang olahraga itu dikunci secara misterius.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2