Indigo

Indigo
Chapter 96 | The Real Doer


__ADS_3

Kepergian Andrana dan Agra ke kota Semarang karena tugas Dinas kantor di sana, membuat rumah Angga terasa menjadi sepi kembali. Namun Angga tak kesah, karena lelaki mandiri itu sudah terbiasa ditinggal lama di luar kota dengan kedua orangtuanya yang begitu sayang padanya.


Kini sekarang para siswa-siswi nampak rehat sejenak usai berolahraga bersama pak Robby sang guru mata pelajaran PJOK. Banyak sebagian murid-muridnya beliau istirahat dengan meminum air botol yang mereka bawa masing-masing termasuk Angga dan ketiga sahabatnya yang tengah duduk di kursi tribun lapangan.


“Bro, nanti kan ada materi pelajaran olahraga yang membutuhkan banyak keringat dan menguras tenaga, lo sementara jangan ikut dulu, ye? Nanti gue bilangin sama pak Rob kalau jam rehatnya dah selesai.”


Angga memejamkan matanya dengan menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya. “Ya.”


“Nah, sip! Soalnya tadi pas gue nyampe di sekolah, gue dikirim chat sama nyokap elo, buat jagain elo ama cegah jangan sampe ngelakuin aktivitas yang bikin lo cepet letih. Kalau itu mah, udah dari tugas gue yang utama untuk lo yang sebagai sahabat gue.”


Angga hanya manggut-manggut pasrah usai mendengar ucapan Reyhan. Freya yang menutup botol minum Tupperware-nya, menoleh ke arah sahabat kecilnya yang diam. “Angga, tadi pas Subuh aku lihat dari atas balkon kamar, tante Andrana sama om Agra berangkat ke kota Semarang pakai mobil yang biasa kalian pakai, ya? Tumben bener lho, padahal waktu dulu-dulu nggak pakai mobil Avanza hitam yang milik kalian.”


“Mama sama ayahku nggak mau merepotkan bibi dan pamanku untuk mengantarkan beliau ke sana memakai mobil mereka berdua. Pada akhirnya mama ayah gunain mobil pribadi yang di rumah,” jawab Angga detail.


“Oalah, jadi dulu paman ama bibimu sering mengantarkan mama dan ayahmu setiap ke kota Semarang untuk melanjutkan tugas Dinas kantornya sehabis cuti?”


“Iya.”


“Lagian juga aku nggak bakal pakai mobil yang sekarang di bawa orang tuaku. Jadi, biar beliau yang bawa untuk melaju ke sana. Kalau pergi pun sekarang aku pakainya motor bukan mobil, mobilnya biar dipakai mereka saja.”


“Widih, ternyata kamu bisa jawab panjang ya, Ngga? Tumben amat.”


Angga memberikan lirikan pada Jova. “Salahnya dimana? Kalau aku jawabnya singkat, kamu pasti ngomel ke aku karena apa yang aku katakan secara pendek atau singkat, otakmu gak mudah menangkapnya. Iya, kan?”


“Ehehehe, tau aja kamu. Maaf deh maaf,” ucap Jova dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Reyhan melipat tangannya di dada bidangnya. “Dibilang juga di grup kemarin apa. Heh, itu otak kudu di update setiap hari, biar gak nge-bug kayak game!”


“Dengkulmu! Oh iya hampir lupa, sini kamu! Aku tampol muka sok ganteng-mu pake sepatuku!” Jova benar-benar melepaskan salah satu sepatunya di kakinya dan hendak ia kenakan di mukanya Reyhan yang sifatnya rese.


“Eh iya minta ampun, Bu jagooo!!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...

__ADS_1


Galaxy Admara - Rooftop


Di jam istirahat bukannya di kantin untuk mengisi perut yang telah kosong, tetapi malah berdiri di tembok kecil pembatas rooftop bangunan sekolah. Setelah pelajaran Olahraga selesai, mestinya para siswa-siswi yang duduk di bangku kelas XI IPA 2 mengganti seragam OSIS-nya kembali waktu melaksanakan Upacara tadi.


Biasanya jika soal menggosip pasti mengenai tentang seseorang, namun tidak dengan keempat remaja sahabat tersebut. Malah justru uniknya mereka menggosip atau membahas persoalan hantu yang bergentayangan ialah arwah Emily nang hadir di minggu yang lalu. Sambil menikmati angin semilir sejuk, mereka mulai membahas kematian Emily yang sekarang telah menjadi makhluk astral.


“RGE? Nama siapa, ya yang menggunakan inisial tiga huruf itu? Aku pun yang bukan anak Indigo malah pusing mikirin kayak gitu. Udah ketemu belum, Ngga nama-nama inisial yang sebagai petunjuk horor itu?” tanya Jova nang rambut coklatnya ditiup oleh angin sepoi-sepoi.


Angga menggelengkan kepala. “Belum. Tapi, aku pernah mimpi soal kematian Emily. Di mimpiku, dia diberikan kekerasan dan berakhir dibunuh dengan salah satu siswi, detailnya ... ada tiga siswi yang memperlakukan tidak senonoh itu sama Emily.”


“Kamu mimpi se-mengerikan itu, Ngga?! Memangnya Emily dikasih kekerasan dan dibunuh tempat lokasi mana??” Sepertinya penasaran Freya semakin menjulang setelah mendengar cerita alam mimpi yang Angga jumpai.


“Di tempat lokasi yang sekarang kita datangin. Yang masih aku ingat jelas, Emily dibunuh dengan cara dijatuhkan dari ketinggian bangunan sekolah ini. Aku belum mengerti pasti kenapa aku mimpi itu, tapi firasatku mengatakan kalau semua itu ada faktanya. Dan aku nggak tau siapa saja nama mereka bertiga yang sudah memperlakukan keji seperti itu dengan Emily.”


Reyhan yang sedari tadi senyap tak bicara karena merenungkan dari cerita mimpi sahabatnya, mulai menyerong badannya ke samping dan kepalanya menghadap ke arah Angga berdiri. “Berarti maksud dari mimpi lo itu, Emily matinya dibunuh? Bukan bunuh diri??”


Angga mengangguk mantap. Habis itu Jova yang masih penasarannya belum tertuntaskan, bertanya pada sahabat Introvert tersebut, “Ngga, ada lagi yang kamu masih inget soal mimpimu mengenai kematiannya Emily sahabatnya Kyra?”


“Hmmm ... Oh, iya ada. Sebelum Emily dibunuh, mereka bertiga memaksa Emily untuk menuliskan surat di satu kertas coklat. Yang aku lihat dari dalam mimpi, itu seperti surat terakhir buat Kyra.”


“Bentar! Yang lo lihat di mimpi lo, Emily dijatuhin dari atas rooftop sekolah, kan? Kayaknya gue jadi tau deh siapa pelaku yang berbuat beringas sama Emily!” ujar Reyhan dengan menekan nadanya.


“Hah siapa, Rey?!” kejut Freya dan Jova dengan mata terbelalak sempurna.


“Kalau gue memutar waktu, yang mana Emily mau dilarikan ke rumah sakit Wijaya, gue selintas melihat tiga cewek yang ada di atas rooftop ini. Tapi saat gue tatap mereka, mereka langsung cepet-cepet pergi. Gak cuman itu saja ... kalian berdua tau tiga siswi kelas sepuluh IPA lima yang namanya Rainey, Gantari, dan Eliana?”


“Tau-tau!”


“Nah! Mereka bertiga itu kayak seneng banget ngeliat kondisi Emily yang sekarat. Gue dari awal sudah curiga sama mereka bertiga, tapi insting gue belum pasti menemukan kalau mereka biang kerok tindakan Kriminal itu sama Emily.”


“Rainey? Gantari? Eliana?”


“Iya, Ngga! Tiga siswi itu. Hadeh, lo mah mana kenal mereka bertiga, lo aja siswanya cuek pake bet!”

__ADS_1


“Itu nggak penting sekarang! Dari nama tiga siswi itu yang lo sebut, jika gue samakan dengan tiga huruf kapital misteri yang sebagai petunjuk misteri arwah Emily, itu artinya berarti pelaku sebenarnya ...”


“RGE. Rainey, Gantari, Eliana. Lho, inisial itu sama persis seperti nama huruf pertamanya mereka! Astaga dragon ! Sudah terpecahkan misteri kematian Emily sesungguhnya, rupanya mereka bertiga lah yang membuat Emily meninggal karena perbuatan asli tiga cewek centil itu!”


Angga dan Reyhan menganggukkan kepalanya dengan wajah tampang seriusnya pada ungkapan Jova yang kini sangat murka dengan Rainey, Gantari, beserta Eliana. Sementara Freya menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.


“Kejam banget, mereka ...”


Di sisi lain dalam lantai ruangan, tiga siswi perempuan yaitu Eliana, Gantari, dan Rainey sang ketua pembully nampak sedang mengintip pembicaraan obrolan kakak-kakak kelas mereka yang dari bangku kelas XI IPA 2. Detak jantung mereka bertiga mendadak tak beraturan karena pelaku yang membunuh Emily telah ditemukan.


Dengan tubuh bergetar, Rainey menjauhi pintu rooftop dengan muka pucat dan keringat yang membasahi keningnya. “Mampus, kita! Kak Angga, kak Reyhan, kak Freya, sama kak Jova udah tau pelaku yang membunuh Emily itu kita bertiga!”


“Aduh, gimana nih, Bos?! Bisa mati kita kena lapor polisi kalau di antara mereka berempat melaporkan tindakan kasus itu dengan buktinya yang kakak-kakak kelas kita temui!” panik Gantari.


“Kok mereka berempat bisa tau, sih kalau yang ngelakuin Emily kayak gitu di atas gedung sekolah itu kita bertiga?! Mereka dapat informasi darimana, coba?! Kakak kelas sialan!” kesal Eliana.


“Oke, lebih baik kita bersikap tenang kalau kita berhadapan dengan mereka berempat, agar mereka nggak curiga sama gelagat kita. Dan buat sekarang, mending kita cepet kabur dari sini sebelum kak Angga, kak Freya, kak Jova, atau, kak Reyhan melihat kita yang ngintip di sini! Ayo gegas!” perintah Rainey.


Tiga siswi berhati kejam pada Emily waktu dulu itu, mulai melangkah pergi meninggalkan pintu rooftop dan akan menuruni anak tangga yang mana menuju ke lantai tiga. Namun langkah mereka terhenti spontan pada suara yang memanggil mereka bertiga dari belakang.


“Kalian mau kemana? Jangan kalian kira kami tidak tau kalau sedari tadi kalian bertiga mengintip pembicaraan kami, ya! Ngapain kalian?!” tegas Jova dengan mata sedikit mendelik.


“Enggak kok, Kak. Kami nggak ngapa-ngapain, cuman lewat aja,” jawab santai Eliana.


“Kamu jangan mencoba membohongi kakak-kakak kelasmu ini ya, El. Ternyata kalian cukup anak yang kepo ya, sampai pembicaraan Kak Freya, kak Jova, kak Reyhan, kak Angga kalian dengarkan,” kata Freya dengan senyum pahit.


“Heh, lo bertiga! Apa aja yang kalian denger pas ngintip? Lama-lama udah kayak setan Jin, ya tukang mengintip!” sarkas Reyhan.


Sampai tibanya mereka tak sengaja menatap mata Angga yang sorotnya membuat Rainey beserta kedua anak buahnya menjadi berubah gelagat aneh dan tak tenang. Padahal sikapnya sudah mereka kontrol untuk tetap bersikap santai dan tenang, namun akibat mereka melihat kedua mata sipit kakak kelas pemuda tampan tersebut, tingkah mereka bertiga berbeda daripada sebelumnya.


“K-kami bertiga gak tau apa-apa, Kak! Kalau gitu kami pergi dulu! Ayo cepet!”


Setelah di komando gesit oleh Rainey, dua anak buahnya yang menjadi pesuruhnya menuruti ia untuk meninggalkan keempat kakak kelasnya yang kini menatapnya tajam. Terlihat jelas langkah mereka tergesa-gesa menuruni undakan anak tangga. Hingga setelah punggung tiga gadis kelas sepuluh itu tak terlihat lagi di mata mereka, Jova berdecih sinis dengan bersedekap di dada.

__ADS_1


“Mau kalian menghindari gue dan sahabat-sahabat gue, kalian tetap pelaku sebenarnya. Ingin lari dari masalah besar? Hahaha, nggak akan bisa.”


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2