Indigo

Indigo
Chapter 97 | Give Last Chance


__ADS_3

KRIIIIIIIINGG !!!


Para siswa dan siswi usai menenteng tasnya dipundak mulai bertempiar keluar dari kelas untuk menuju pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan termasuk Angga, Freya, Jova, dan Reyhan berencana tidak pulang dulu sebelum bertemu dengan Kyra anak bangku kelas X IPA 5. Keempat remaja itu menuruni undakan tangga tempat menujunya ke lorong-lorong ruang kelas sepuluh. Bertepatan setelah turun dari tangga, Angga duluan yang menemukan Kyra sedang melangkah lemas bahkan mukanya terlihat lesu tak bersemangat.


Kyra yang melewati keempat kakak kelasnya tanpa sadar kalau ia ditatap oleh mereka, Angga gegas menghampirinya lalu mencekal pelan lengan adik kelasnya. Hal itu membuat langkah Kyra terhenti akibat dari Angga, gadis siswi berusia 16 tahun itu sontak langsung menoleh ke belakang. Saat menatap wajah kakak kelasnya yang ia kenali dari dulu semasa ia waktu kecil, Kyra menaikkan satu alisnya dengan sedikit tersentak kaget.


“Lho, Kak Angga?”


Angga tersenyum pada tetangga kelas sepuluhnya. “Kyra mau pulang ke rumah, ya?”


Kyra mengangguk sekaligus mengukirkan senyuman yang ia patri. “Iya, Kak. Kyra mau pulang, keburu nanti dicari mama sama papa di rumah. Emangnya kenapa, Kak? Eh ada Kak Freya, Kak Reyhan, dan Kak Jova juga di sini??”


Ketiga sahabatnya Angga tersenyum lebar dengan menyapanya lembut membuat hati Kyra menjadi nyaman atas kehadiran mereka. Kyra yang tadinya menatap ketiga remaja tersebut, balik menatap Angga yang masih memegang lengan tangannya.


“Kyra, mau ikut Kakak sebentar ke perpustakaan? Ada yang ingin Kakak tunjukkan sesuatu di sana nanti. Itu kalau kamu mau saja, kalau nggak mau juga nggak masalah.”


“Perpustakaan? Dan Kakak ingin menunjukkan Kyra sesuatu di sana? Menunjukkan apa, Kak Angga?” tanya Kyra bingung dengan mengerutkan dahinya.


“Pastinya nanti kamu bakal tau sendiri. Sekarang kamu mau atau tidak?” Angga bertanya seraya melepaskan cekalannya dari lengan tangan adik kelasnya.


Kyra nampak tengah mempertimbangkan ajakan Angga padanya. Tetapi Kyra yakin, para kakak kelasnya tersebut tak berniat jahat untuknya. “Ehmm ... yasudah deh, Kak. Kyra mau. Tapi kalau bisa jangan lama-lama ya, Kak. Soalnya Kyra takut dicari papa sama mama di rumah apalagi ini udah sore.”


Angga mengangguk pelan. “Nggak akan lama, kok.”


Freya sedikit melangkah lalu mulai menggandeng tangan Kyra dengan lembut bersama senyuman manis nyamannya. “Yuk, Dik.”


Kyra mengangguk bersama senyuman lebarnya yang merekah di wajahnya. Kemudian setelah itu, mereka berlima melanjutkan langkahnya ke arah yang berbeda yaitu ruang perpustakaan nang ada di lantai terakhir.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Cklek !


Reyhan membuka pintu ruang perpustakaan yang nampak di dalam ruangan baca buku begitu senyap, kepala Reyhan condong ke depan untuk menelisik meja kursi tempat biasa pak Arya berada. Sepertinya beliau tengah sedang pergi ke suatu tempat hingga meninggalkan ruang perpustakaan. Di kalangan rak-rak buku, pak Arya juga tak ada di sana, sangat sepi tak ada orang satupun saja.


“Yuhuuuu ... Pak Arya, where are you???” lirih Reyhan sembari bola matanya mencari keberadaan guru pria penjaga ruang perpustakaan tersebut.


“Bagus! Di sini nggak ada pak Arya. Jadi, lo bisa fokus buat Kyra habis ini, Bro.”


Reyhan orang pertama yang memasuki ruang perpustakaan tersebut lalu disusul oleh lainnya yang ada di belakangnya. Freya yang masih menggandeng tangan Kyra, mengajak duduk di salah satu kursi tempat khusus membaca buku. Jujur saja, Kyra tidak tahu apa yang akan dilakukan para kakak kelasnya bahkan mereka mengajaknya di tempat sunyi ini. Sementara itu, Angga menghampiri Kyra yang telah duduk kemudian jongkok di dekat adik kelasnya tersebut. Kyra yang sebelumnya tak menghadap ke arah Angga, kini menghadap ke arahnya. Kyra menatap wajah teduh Angga dengan dalam relung hati bertanya-tanya.


“Kyra jangan takut, ya. Kakak nggak mencoba untuk berniat jahat sama kamu, kok. Kakak di sini ingin menunjukkan kamu sesuatu.”


“Maaf sebelumnya, Kakak bukan bermaksud mengungkit tentang Almarhumah sahabatmu. Jika Kakak tanya, Kyra percaya kalau dulunya Emily meninggal karena bunuh diri?”


Kyra menggeleng kuat. “Kyra sama sekali nggak percaya, Kak! Yang Kyra yakin, pasti ada sesuatu yang membuat Emily meninggal, sahabat Kyra tuh orang yang tegar, jadi nggak mungkin dia bunuh diri!”


Angga menganggukkan kepala tanpa menatap Kyra, tetapi beberapa detik selanjutnya, Angga balik menatap adik kelasnya. “Kalau Kyra ingin tau Kakak ingin menunjukkan kamu sesuatu apa, Kakak ingin mengasih penglihatan tentang meninggalnya Emily yang sebenarnya padamu. Apakah kamu siap? Kalau nggak siap, Kak Angga nggak berani memberikan itu sama kamu.”


Kyra menatap Angga serius dengan mengangguk antusias. “Kyra siap, Kak! Meskipun Kyra nggak tau Kakak adalah apa, tapi Kyra harus tau kenapa Emily meninggal!”


Angga menipiskan bibirnya usai mendengar keyakinan dan keinginan Kyra yang ingin tahu kematian Emily nang sesungguhnya. Kalau sudah begini, Angga pun juga siap memberikan sebuah penglihatan menggunakan kekuatan Indigo-nya yang ia kuasai sejak tahun-tahun lalu. Penglihatan yang akan Angga kasih pada Kyra adalah yang mana sesuai di mimpi faktanya.


“Oke, kalau Kyra benar-benar siap. Sekarang, pejamkan matamu, rileks-kan pikiranmu agar kamu bisa melihatnya dengan lancar. Kyra paham apa yang Kakak katakan?”


“Paham, Kak.”


Tak hanya Kyra saja yang memejamkan mata kini, tetapi juga dengan Angga. Pemuda Indigo pemilik jiwa pemberani serta tangguh itu, mulai mengangkat kedua tangannya lalu mengusap-usap perlahan dua telapak tangannya tersebut. Sedangkan ketiga sahabatnya yang melihatnya dari belakang hanya bisa menatapnya saja pada aksi Angga memberikan sebuah penglihatan.


Kemudian usai itu, Angga membuka matanya dan menempelkan kedua telapak tangannya di muka Kyra. Fungsinya, karena Angga sudah memimpikan tentang kematian Emily, otomatis ingatannya hal tersebut telah ada di genggamannya lelaki tampan itu, begitupun setelah Angga tempelkan di wajah adik kelasnya, alur mimpinya menyalurkan ke otak memori baru Kyra.


Setelah ditunggu 5 menit, Angga melepaskan kedua telapak tangannya dari wajah gadis tersebut. Angga mampu merasakan, Kyra sedang melihat kejadian sahabatnya sebelum dijatuhkan dari ketinggian gedung sekolah melalui bayangan penglihatan yang telah Angga salurkan dengan baik tanpa hambatan.


Berselang menit kemudian, Kyra menitikkan air matanya dengan mengatupkan bibirnya dalam posisi matanya masih ia pejamkan. Bahkan suara isakan tangisnya mulai terdengar di telinga para kakak kelasnya yang saat ini tengah memandanginya.


“Kamu mau banget, sih disuruh-suruh gak berguna seperti itu?! Buat apaan coba kamu nulis surat kenangan terakhir buat aku?! Kalau jadi aku, aku gak sudi menuruti keinginan dia!” marah Kyra tanpa membuka mata namun alur penglihatan itu masih berjalan.


Reyhan, Freya, dan Jova saling melemparkan pandangan dengan muka setengah sendunya, sementara Angga yang posisinya masih jongkok bersama lutut kaki kanan ia menapak di lantai, fokus menatap wajah Kyra apalagi linangan air matanya semakin lama semakin membanjiri kedua pipinya.

__ADS_1


“Brengsek sekali kalian bertiga sama sahabatku sendiri! Dengan hati teganya kalian bermain fisik sama Emily!!”


“Apa yang mau kamu lakuin dengan Emily, Rainey?! Jangan! Jangan jatuhkan sahabatku dari atas gedung sekolah!!!” teriak Kyra.


Sampai akhirnya dengan tersedu-sedu oleh tangisannya sendiri, Kyra mengepalkan kedua telapak tangannya kuat. “KEJAM!!! Jadi Emily meninggal bukan karena bunuh diri, tapi ulahmu yang buat sahabatku meninggal!!! Hatimu bener-bener buta!! Kenapa orang sepertimu dan dua temanmu bisa diterima di sekolah ini??!! Yang padahal jiwa kalian adalah jiwa sakit! Jiwa psikopat!!!”


Angga meringis pada umpatan beserta emosi Kyra yang tak terkendalikan. Merasa hati Kyra semakin meracau tidak terkontrol karena amarah besarnya yang amat memuncak dan menggebu-gebu, Angga dengan segera meniup kedua telapak tangannya yang ia tadah lalu mengusapnya kembali, berikutnya ia tempelkan lagi ke muka Kyra untuk menutup penglihatannya yang telah usai.


Kyra langsung membuka matanya cepat dengan sklera mata yang merah akibat menangis. Gadis itu menatap Angga dengan isakan tangis. “Kakak!! Hiks mereka tega termasuk Rainey yang bunuh Emily- huhuhuhu!!!”


Freya yang tak tega melihat apalagi mendengar Kyra yang tangisannya makin kencang, gegas berlari mendekatinya lalu mendekap tubuh adik kelasnya. “Ky, udah jangan nangis seperti ini ...”


“Huaaaa!!! Mereka jahat, Kak! Mereka keterlaluan! Gak akan Kyra maafkan mereka karena sudah memperlakukan seperti itu sama Emily!! Sampai berlutut pun, tetap nggak akan Kyra maafin!!”


“Kyra kecewa banget sama mereka, Kak! Kecewa!!!”


Freya yang tak bisa berucap apa-apa pada Kyra yang murka misuh-misuh bersama tangisan derasnya, sekarang ia hanya mampu mengusap-usap punggung Kyra untuk meredakan murkanya dan juga nangisnya.


Jova yang tengah menggigit bibirnya karena ia juga merasakan pilu betapa terpukulnya siswi kelas X IPA 5 tersebut, bola matanya tak sengaja melintang ke jendela kaca yang diluar, langit senja menjadi berubah menghitam. Saking kaget tak menyangka, Jova menarik-narik jas almamater Reyhan bagian lengannya.


“Apaan sih main tarik-tarik jas orang?!” protes Reyhan menoleh ke arah Jova.


“R-rey! Itu kok langitnya tiba-tiba berubah jadi item gitu, sih?! Bukan mendung itu, mah!”


“Buju buneng!! Iya, anjir! Eh Ngga-ngga! Angga!!”


“Apa?!” sarkas Angga menjawab dengan menoleh ke belakang.


Reyhan tanpa aba-aba, langsung menarik tangan kanan Angga kencang hingga membuat sahabatnya spontan berdiri. Reyhan menarik terus tangan Angga hingga sampai di dekat jendela kaca ruang perpustakaan. “Ngga! Coba lo lihat kondisi langit yang di atas, serem banget, Cuy! Item gitu kayak arang!”


“Gawat, pertanda apaan lagi ini, Ngga?! Kalau di lihat dari sini, langit itu bukan pertanda akan hujan turun, kan?!” panik Jova.


“Ini cewek tumben panikan, biasanya kagak.”


“Diem, ah! Dasar cowok mulut bebek!”


“Yang bener aja lo, Ngga! Serangan apaan yang diluar nalar- eh jangan-jangan serangan makhluk gaib, lagi?!


“K-kita semua mau diserang sama makhluk astral, Ngga?!” kejut Jova berharap perkiraannya salah.


“Bukan. Bukan kita yang diserang, tapi orang lain. Orang lain? Sepertinya arwah itu sudah bertindak sesukanya untuk menuntaskan dendamnya.”


“Dendam?! Wah, kalau urusan berhadapan sama setan, elo aja deh! Gue gak mampu kalau auranya sudah negatif.”


Angga menatap Reyhan. “Gue ngerti.”


Kyaaaaaa !!! Tolong jangan siksa kami !!!


Tubuh mereka berlima yang ada di ruang perpustakaan menegang karena tersentak kaget mendengar suara jeritan siswi yang berasal dari atas atap sekolah. Kyra dengan perasaan takut, mendongakkan kepalanya ke atas usai Freya melepaskan pelukannya dari tubuhnya.


“S-suara jeritan siapa itu, Kak?!”


“Kak Freya juga nggak tau, Ky!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di rooftop SMA Galaxy Admara, bersama rambut arwah Emily tertiup ke atas karena amarah dendamnya, sosok menggentarkan itu mengangkat satu tangannya ke atas untuk menaikkan tubuh Rainey, Gantari, dan Eliana ke udara. Mantra sihir hitamnya mampu mencekik leher ketiga siswi yang dulu pernah membully-nya hingga mati.


“Kalian pasti suka dengan perbuatanku ini untuk kalian bertiga. Agar impas, kalian bertiga juga harus mati sepertiku saat aku masih bernyawa!!!”


BRAK !!!


Drap drap drap drap !!!


“Emily! Jangan kamu lakukan perbuatan yang akan kamu lakukan itu!!” cegah Angga setelah berada di tepat belakangnya arwah siswi sahabatnya Kyra dengan penuh nyali berani.


Emily menolehkan kepalanya yang bocor itu ke arah Angga dengan raut muka amarah besar karena kegiatannya telah diganggu oleh manusia Indigo tersebut yang mencegahnya. “Jangan ikut campur urusanku!!!”

__ADS_1


Emily menaikkan tangan pucat pasi satunya lalu menurunkannya secara menghempas, hal itu bagaikan hembusan angin kuat mampu membuat tubuh Angga terpelanting kencang ke belakang dan berakhir tubuhnya membentur tembok dinding pojok rooftop dengan hebatnya.


DUAKH !!!


“Akh!!”


Reyhan yang baru saja sampai di ambang pintu rooftop dengan napas terputus-putus, tersentak kaget melihat sahabatnya yang merintih kesakitan dalam posisi tubuhnya terlungkup di tepat belakang dinding tembok pojok rooftop.


“Ngga- Anggara!!!”


Reyhan kembali berlari untuk mendatangi sang sahabat kemudian setelah berada di dekatnya, pemuda humoris itu berjongkok mengecek keadaan Angga seraya hendak membantunya bangkit. “Ngga! Lo kenapa?! Apa yang udah terjadi sama lo sampe elo jadi kayak gin- buset mak jang!!”


Reyhan amat Syok melihat sosok menyeramkan di depan matanya, bahkan lelaki itu sampai memegang dadanya karena nyaris saja detak jantungnya berhenti. Sebegitu mengerikannya hingga muka Reyhan balik memucat seperti minggu lalu sekaligus keringat dingin muncul.


“Jangan tatap, Rey! Jangan tatap matanya!” ucap keras Reyhan pada diri sendiri seraya membantu Angga bangun dengan perlahan.


“Angga, lo nggak kenapa-napa?! Lagian lu napa sih main urusan sama setan itu? Biarin aja kenapa tiga cewek biadab itu mati?!” omel Reyhan namun detik selanjutnya ditatap Angga nyalang.


“Jangan seenak jidat, lo kalau ngomong! Gue gak mungkin nge-biarin mereka mati di tangan arwah sahabatnya Kyra!”


“Tapi lo bisa apa buat menghentikan dia?! Yang ada kalau lo ikut campur urusan Emily sama mereka, lo kena serangan dua kali! Jangan suka korban diri, Ngga! Pentingin keselamatan lo juga!”


Angga menggeram dengan menahan rasa sakit di dadanya yang tadi berhasil menghantam lantai sangat keras. Di sisi lain, Freya, Jova, serta Kyra tiba di rooftop bangunan sekolah internasional tersebut dan pandangan mereka mengarah ke pemuda-pemuda itu yang saling menatap tajam.


Baru saja berjalan dua langkah memasuki rooftop, tatapan Freya beralih melintang ke tiga siswi yang berada di atas udara. “Rainey?! Eliana?! Gantari?! Kalian kenapa bisa ...”


“Dugaan gue gak salah, udahan! Langit hitam dateng mendadak itu karena mereka lagi di ambang antara mati dan hidup akibat perlakuannya arwah cewek kemarin itu yang hadir! Gawat!” ucap Jova reflek punggungnya mengenai tembok putih pelosok rooftop.


Kyra bersembunyi di balik punggung Freya dengan mengeratkan pegangannya di jas almamater OSIS kakak kelasnya bagian dua pinggulnya. “K-kakak, Kyra takut ... dia siapa, kok bentukannya serem?!”


“Kyra nggak perlu takut, ya. Ada empat kakak kelasmu di sini, oke?”


Bertepatan setelah buras untaian kata Freya, angin berhamburan menerpa mereka berlima agar tak ada satupun mampu menghentikan kegiatannya untuk melakukan proses membunuh Rainey, Gantari dan Eliana. Rambut para kelima remaja itu tertiup kencang oleh angin yang kini kabut mengemuka.


“Woi! Anginnya coba tolong dikondisikan, dong! Nanti kalau kami terluka, mau tanggung jawab??!!” sengit Jova berkomentar.


Reyhan yang tengah mendekatkan lengan tangannya di wajahnya karena amukan angin tersebut, agak menoleh ke sahabat tomboy-nya. “Ini bocah malah marahin setannya, kena depak kek Angga baru tau rasa nanti!”


Tak ada yang bergerak untuk maju, karena amukan angin itu membuat mereka sukar untuk melangkah apalagi bangkit dari posisi duduk seperti Reyhan. Tetapi, bukan Angga namanya kalau tidak menerjang amukan angin gaib tersebut. Dengan memaksa kondisi, Angga mulai membangkitkan tubuhnya untuk berdiri.


Reyhan mengerutkan bibirnya karena kesal pada sahabatnya yang sifat batunya kambuh buat melawan kekuatan astral milik Emily nang hatinya berkecamuk amarah dalam dendam maksimumnya.


“Mulai keras kepala dia! Lo jangan ke sana, bahaya buat jiwa lo!!”


“Gue gak peduli!”


Angga melangkahkan kaki kanannya selanjutnya kaki kirinya. Pemuda Indigo yang wataknya keras kepala itu, menaikkan nyalinya untuk siap menerjang angin yang mengamuk tersebut, meskipun langkahnya sempat terseret ke belakang namun tetap Angga lawan dengan penuh keberanian, ia tak peduli dirinya kenapa-kenapa, satu paling terpenting adalah, lelaki itu sanggup menghentikan aksi Emily sebelum semuanya terlambat dan pupus.


Di belakang, macam Reyhan, Jova, Kyra dan juga Freya begitu khawatir dengan tindakan cepat Angga yang berusaha menghentikan perbuatan fatal dari arwah siswi tersebut, bahkan mereka tak dapat melihat keberadaan Angga sekarang ada dimana dikarenakan kabut tebal itu membuat mereka kesukaran memandang apapun termasuk posisi lelaki pemilik indera keenam yang telah melekat di jiwanya.


Amukan angin yang menderu kuat semakin menjadi-jadi itu, beruntungnya mampu Angga tahan tubuhnya supaya raganya tak terlempar ke belakang untuk kesekian kalinya. Rambut hitam yang menutupi keningnya, tertiup ke atas sementara lengannya ia dekatkan di wajah rupa tampannya. Bersama terus melangkah menerjang amukan angin gaib, Angga merasakan bahwa sebentar lagi ia dapat melewati kabut tebal tersebut dan tiba dimana Emily berada yang sedang fokus memberikan cekikan luar biasa di leher masing-masing orang hobi membully tersebut.


“Emily! Kakak tahu saat ini kamu sangat marah besar kepada mereka yang dulu menyakiti hatimu hingga membunuhmu! Tapi, tolong lunakkan hatimu dan berikan mereka bertiga kesempatan sekali lagi!”


Emily melimbai kepalanya kencang ke arah Angga yang telah bebas dari kabut tebal dengan raut amarah memuncak meski tak berniat menyerang Angga balik. “Mereka harus ku kasih pelajaran! Agar mereka tahu betapa kejamnya mereka padaku saat waktu silam! Kakak tidak tahu apa yang aku rasakan dan Kakak tidak tahu apa-apa soal tentang diriku yang mati karena ulah satu perempuan itu yang akan aku bunuh bersama kedua temannya sekaligus, jadi aku minta Kakak jangan mencampuri urusanku sebelum mereka mati di tanganku!!”


“Kakak tentu jelasnya tahu apa yang terjadi dengan dirimu. Kakak tahu semuanya. Tapi Kakak mohon sudahi semua ini, jangan bunuh mereka. Kasihkan mereka satu peluang kesempatan terakhir.”


“Apakah dengan mereka yang memperlakukan ku bejat seperti dulu, bisa aku ampuni mereka bertiga?!” damprat Emily dengan sedikit membuka kepalan tangannya yang ia angkat membuat belenggu sihir warna hitam Emily di leher para mereka bertiga melonggar. Hal itu jika arwah tersebut membuka kepalan tangan miliknya sepenuhnya, Rainey, Gantari, dan Eliana bisa terjatuh dari ketinggian gedung sekolah.


Angga meneguk salivanya susah payah dan menatap Emily kembali usai mereka bertiga. “Tolong ampuni mereka. Mereka memang bersalah, tapi bisakah kamu memaafkan mereka agar dendammu terhapuskan? Kamu adalah orang yang baik, semasa dulu masih hidup, kamu bukan perempuan yang dendam, hatimu bisa memaafkan siapa saja yang menyakitimu.”


“Kamu masih ingat Kyra sahabatmu? Semenjak kamu meninggal, dia banyak mengenang-mu karena kebaikanmu selama di dunia.”


Emily seketika sengap mendengar perkataan yang Angga utarakan barusan. Diam menatap pemuda Indigo tersebut tanpa melakukan penyerangan terhadap manusia itu yang berusaha meluluhkan hatinya dan membuang dendamnya.


Lalu, apa yang berikutnya terjadi? Apakah Emily akan memberikan keleluasaan kesempatan terakhir untuk Rainey, Gantari, dan Eliana? Bahkan makhluk gaib sang sahabat Kyra Letica Francesca, mengerti kalau Angga berupaya luluhkan hati dan sirnakan dendam yang ada di sosok tersebut.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2