Indigo

Indigo
Chapter 100 | Special Person


__ADS_3

Reyhan terkejut setengah mati memandang kehebatan kecelakaan beruntun tersebut yang mendatangkan maut. Mulutnya sampai menganga karena saking tak percayanya apa yang ia lihat di malam hari ini. Mobil saling bertabrakan. Ada pula yang terlempar kencang hingga menghantam tiang lampu sampai tiang tersebut bengkok, parahnya lagi karena akibat tumpahan minyak bensin Pertamina yang berasal dari salah satu mobil truk, terjadi ledakan dahysat beberapa kali hingga menimbulkan api dan banyak kendaraan terbakar.


“Apa yang bikin ada kecelakaan separah ini?” tanya Reyhan dengan bola mata fokus melihat kecelakaan beruntun yang sedang berlangsung tersebut.


“Mobil truk tadi yang melaju dengan kecepatan tinggi maksimal, sementara remnya mengalami blong ...” jawab Angga dengan nada lemah.


Reyhan menoleh ke arah Angga yang wajahnya sangat letih bahkan napasnya terengah-engah akibat berlari marathon hanya untuk mencegah sahabatnya. Kedua tangan Reyhan memegang kedua bahu Angga dan menatapnya serius. “Lo tau darimana semua ini?”


Angga menelan salivanya bersama tatapan lemahnya. “P-penglihatan yang tiba-tiba muncul ... dan gue bermaksud mengejar elo, hanya untuk mencegah dari kecelakaan maut. Apa yang ada di penglihatan gue tadi setelah lo pergi, lo tewas di insiden kecelakaan itu.”


“Tubuh lo hancur karena terjepit di bawah badan truk yang membuat lo tutup usia. Maka dari itu, gue berusaha sebisa mungkin buat mencegah dan menyelamatkan elo dari kecelakaan maut itu.”


Mata Reyhan berkedip-kedip tak menyangka pada penglihatan Angga yang menciptakan sebuah kebisuan karena banyaknya yang menjadi korban jiwa. Reyhan melihat tubuh sahabatnya bergetar disertakan muka pucat-nya karena yang sebenarnya Angga sungguh tak kuat melihat insiden memilukan mengundang duka apalagi sahabatnya yang terlibat pada musibah itu, meskipun kematian Reyhan hanya ada di penglihatan mendadaknya tadi. Dan ia sangat bersyukur karena Reyhan yang ada di hadapannya ini benar-benar tidak terlibat di dalam kecelakaan maut.


Reyhan yang sekarang gantian memeluk Angga untuk memberikan ketenangan. “Sudah, nggak apa-apa, Ngga. Nggak apa-apa ... gue masih hidup, gue masih hidup.”


Reyhan mengusap-usap punggung Angga yang dada sahabatnya masih terasa bergemuruh dan sesak. Angga hanya mampu menganggukkan kepala dengan gerakan lemah walau kini matanya terlihat sembab karena menangis tadi. Reyhan memejamkan matanya bersama sedikit mengukirkan senyumannya bahkan lelaki itu sempat meneteskan air matanya, berkat Angga yang mengejarnya tadi, Reyhan menjadi selamat dari kecelakaan maut itu.


Reyhan melepaskan pelukannya dari tubuh lemas sahabatnya yang kini bungkam mulut. Namun setelah itu, Reyhan mengerutkan keningnya dengan hati diliputi dua antara yaitu risau dan takut melihat Angga memegang kepalanya lumayan mencengkram-nya.


“A-argh! S-sakit!!”


Suara napas Angga yang terputus-putus bahkan rasa sakit kepalanya seolah-olah dihantam benda keras beberapa kali membuat Angga sangat merintih kesakitan tanpa meminta tolong pada sahabatnya yang berada di tepat depannya. Namun dalam singkat waktu, pemuda Indigo berwajah pucat tersebut tumbang tergeletak tak sadarkan diri di samping.


Reyhan menyeka cepat air matanya lalu mendatangi sahabatnya dengan perasaan cemas tak karuan. “Dasar pe'ak lo, Rey! Malah cuman diem aja!”


Reyhan menangkup wajah Angga ke hadapannya yang sebelumnya menghadap ke samping. Sementara tangan kanannya itu menepuk-nepuk pipi sahabatnya. “Ngga!! Sadar, lah! Yakali gue nunggu lo di sini ampe bermenit-menit?!”


Reyhan melepaskan telapak tangannya dari wajah Angga kemudian kepalanya ia toleh kanan kiri karena bingung bagaimana cara membawa sahabatnya ke rumah. “Aduh! Pake acara pingsan di sini, lagi sobat gue satu! Gue harus gimana, anjir?!”


Reyhan beralih mengguncang-guncang tubuh Angga dengan nada merengek untuk memintanya segera siuman. “Angga! Bangun, dong!! Gue bawanya cuma motor, kalau mobil sih gue bisa bawa lo ke rumah. Kalau motor, gue bawa lo-nya gimana?! Masa gue harus sihir lo jadi semut dulu?! Sadarlah, Bro!!”


Reyhan melenggangkan kepalanya ke arah tengah jalan. “Apa gue minta bantuan orang aja yang nggak terlibat sama kecelakaan beruntun itu? Eh tapi ini yang banyak lewat mobil ambulan sama mobil polisi, nanti endingnya si Angga malah di bawa ke rumah sakit. Orang ini anak gak di bawa ke sono juga nggak masalah.”


Reyhan memutuskan fokus pada sahabatnya yang kehilangan kesadarannya kembali. Lelaki humoris itu yang masih diliputi rasa bingung dan panik, mengangkat kepala Angga perlahan lalu ia taruh di kaki pahanya. Reyhan menatap wajah sahabatnya yang pucat itu belum hilang, sementara kening Angga dipenuhi banyak peluh keringat begitupun lehernya. Reyhan bukan malu melihat kondisi Angga, tetapi ia bingung bagaimana cara membawa sahabatnya ke rumah. Reyhan sempat bertanya di dalam lubuk hatinya, bahwa apakah ia harus menggendong belakang Angga untuk membawanya segera ke rumah, sedangkan motornya biar terparkir di pinggir jalan? Atau tetap menanti kesadaran sahabatnya?


“Gue tau kenapa lo pingsan mendadak begini, karena kelelahan. Tapi bermenit-menit itu berapa, Ngga? Lima menit, delapan menit, atau sepuluh menit? Jangan lama-lama semaput-nya, Bro. Gue bingung bener sekarang gue harus apa buat elo ...”


Sampai tiba-tiba ada sebuah mobil sedan berhenti dari jarak jauh Reyhan dan Angga berada. Sang pengendara mobil, kemudian keluar dari mobilnya dan berlari memarani kedua pemuda anak SMA tersebut yang seseorang itu sangat tak asing dengan mereka berdua.


“Kayaknya gue emang harus bawa Angga pake tenaga, deh. Kalau di sini terus malah jadi nggak aman buat dia,” ucap Reyhan sendiri hendak mengangkat kepala sahabatnya dari pahanya.


“Reyhan?”


“Angga?!” Pria itu yang melihat muka pucat remaja pemuda itu yang matanya nampak terpejam tenang, berjongkok cepat lalu menyentuh pipi kirinya Angga.


Reyhan terlonjak kaget lalu menarik wajahnya ke arah pria paruh baya yang suaranya sangat familiar. “Pak Robby?! Bapak kenapa bisa ada di sini?!”


Pak Robby menoleh menatap muridnya yang wajahnya terlihat bersemu risau. “Bapak sebenarnya ingin bertemu teman Bapak yang ada di rumah, tapi Bapak kaget banget di jalan lalu lintas ada kecelakaan beruntun apalagi melihat kalian berdua di pinggir jalan.”


“Terus ini Angga kenapa?! Mukanya juga pucet kayak tauge! Sahabatmu pingsan?!” tanya pak Robby.


“Iya, Pak! Sebetulnya udah dari tadi pingsannya dan sekarang belum siuman,” jawab Reyhan seraya meletakkan kepala sang sahabat balik.


“Yasudah biar Bapak bawa Angga ke rumah sakit!”


“Eh nggak perlu, Pak Rob! Angga nggak di bawa ke rumah sakit juga gak ada masalah, kok. Ini dia pingsan hanya karena cedera kepalanya kembali kambuh. L-lebih baik Angga di bawa ke rumahnya saja, Pak. Tolong ya, Pak? Soalnya saya bawanya motor bukan mobil.”

__ADS_1


Pak Robby mengangguk antusias. “Oh boleh! Bapak akan tolongin Angga, tapi gurumu ini nggak tau lokasi alamat rumah sahabat kamu. Gimana?”


Reyhan kini merenungkan sesuatu hingga kemudian ia dapat sebuah ide. “Begini saja, Pak .. rumahnya Angga kan terletak di gang komplek Permata, mestinya Bapak bingung rumahnya Angga yang mana. Jadi, biarkan saya tunjukkan rumah Angga. Bapak ikuti saya dari belakang, ya?”


“Wah ide cemerlang, tuh. Oke kalau begitu. Ini Bapak masukin Angga dulu ke mobil, tapi agak rumit buat puter baliknya. Kalau kamu kan gampang, orang sama motor doang.”


“Hehehe,” Reyhan nyengir kemudian mengambil helmnya, sementara pak Robby mengangkat tubuh Angga untuk beliau bawa ke dalam mobil sedan miliknya.


Usai itu, Reyhan bangkit dari duduknya lalu berbalik badan melangkah menuju ke motor Vario-nya dengan helm yang ia pegang. Dipertengahan dirinya melangkah, Reyhan menggedikkan bahunya karena ngilu melihat tragedi kecelakaan maut tersebut. Setelah pak Robby berhasil memutar balik mobilnya dan Reyhan melaju lebih dulu, beliau mulai mengikuti motor muridnya yang duduk di bangku kelas XI IPA 2


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Komplek Permata - Rumah Angga


Di dalam rumah terasa sepinya yang tercipta. Namun di situ, Angga ditemani beberapa orang yang menanti kesadarannya kembali pulih. Reyhan dan pak Robby sama-sama memandangi wajah Angga yang mana mata tersebut belum terbuka.


Tak hanya ada mereka berdua saja di situ, tetapi juga ada Freya yang tengah duduk manis di sofa single. Gadis cantik itu tak terlepas tatapannya dari sahabat kecilnya yang terbaring lemah di atas kursi sofa panjang. Bibir Freya agak manyun sementara kedua tangannya tengah ia letakkan di atas paha-pahanya dengan badan rada membungkuk.


“Apa ini selalu terjadi sama Angga?” tanya pak Robby tiba-tiba.


“Tidak juga, Pak. Kambuh sakitnya Angga nggak selalu terjadi, tapi kadang-kadang saja. Namun rasa sakit kepalanya mesti akan datang secara mendadak, jadi Angga selalu membawa obatnya kemanapun dia pergi. Begitu, Pak Rob,” jelas Freya.


“Oalah, begitu. Kata Reyhan kambuhnya gara-gara terlalu letih, ya? Hmmm ... berarti jika ada pelajaran praktek olahraga di lapangan, Angga sering izin. Bapak jadi mengerti, karena setiap praktek materi dari Bapak selalu membuat lelah.”


“Betul sekali, Pak. Orangtuanya Angga sudah pernah bilang ke saya kalau Angga dilarang melakukan aktivitas yang membuat Angga cepat letih, dikarenakan itu akan berpengaruh pada cedera kepalanya, Pak. Jadi, minta kerjasamanya ya, Pak Rob? Untuk sementara waktu, Angga izin dari praktek olahraga kalau itupun seperti lari sprint atau apalah yang membuat sahabat kami menjadi capek.”


“Iya, Rey. Iya, Bapak bisa memahami. Bapak juga tidak mau kalau murid Bapak ini mengalami hal seperti itu buat kesekian kalinya.”


“Tapi, Pak kalau saya mengatakan jujur pada beliau ... kejadian itu sudah beberapa kali di Angga. Bahkan pernah sampai masuk rumah sakit karena saking parahnya apalagi hingga demam tinggi. Kami pula tidak tahu sampai kapan Angga mengalami kesakitannya ini yang berterus-terusan.”


“Astagfirullah! Parah sekali jika sampai masuk rumah sakit. Sepertinya Bapak juga harus memberi tahu kepada guru-guru lain termasuk pak Harry guru wali kelas kalian bertiga. Mereka perlu tahu rumor tentang Angga yang mengalami sakit seperti ini dan juga ucapan kamu tadi barusan, Freya.”


“Yasudah ya, Nak. Bapak permisi mau pamit pulang, apalagi ini hampir larut malem. Bapak tinggal, nggak apa-apa, kan?”


“Tidak apa-apa kok, Pak. Bapak pulang saja, nanti takutnya malah jadi kecapekan apalagi beliau besok pergi ke SMA Galaxy Admara.”


“Ya ampun, ternyata masih ada, ya murid yang perhatiannya begini. Sudah pintar, cantik pula,” puji pak Robby dengan nyengir.


Freya tersenyum malu. “Bapak bisa saja.”


Sedangkan Reyhan nampak tengah menilik jam di layar utama ponselnya. Amat tersentak kaget karena rupanya ini telah jam menunjukkan pukul 21.00


“Walah! Kok udah jam sembilan?! Gawat, nih gue harus pulang juga! Bisa-bisa nyokap ama bokap khawatir karena anak tampan tersayangnya belom balik!”


Pak Robby tertawa kecil mendengar celoteh muridnya yang terkejut itu sambil menatap layar ponsel miliknya. “Yasudah, ayo bareng Bapak- eh iya terus si Freya gimana??”


Freya tersenyum lembut. “Saya mau tetap di sini saja, Pak. Saya nggak mungkin meninggalkan Angga sendiri di sini, apalagi orangtuanya sudah tidak ada di rumah melainkan ada diluar kota. Lagian, saya juga sudah terbiasa menemani Angga sendirian, kok. Pak Rob sama Reyhan lebih baik pergi pulang saja.”


“Oalah yasudah kalau mau kamu begitu. Bapak dan Reyhan pulang dulu ya, Nak. Ayo Rey, kamu itu malah main game.”


“Hehehe! Menikmati masa muda, Pak.” Reyhan kemudian mematikan gamenya di ponselnya lalu ia masukkan ke dalam tas ransel abu-abunya. “Aku sama pak Rob, balik dulu ya, Frey. Besok kita bertemu di sekolah, oke?”


“Oke, Rey.”


Setelah itu, Reyhan dan pak Robby beranjak dari duduknya lalu melenggang balik badan meninggalkan Freya beserta Angga di sana. Pak Robby membuka pintu rumah muridnya dengan perlahan lalu keluar diikuti Reyhan dari belakang. Dampak terjadinya tragedi mengerikan yang menjadi saksi bisu itu, mereka berdua terpaksa mengambil jalan di kawasan JL. Jiaulingga Mawar untuk menuju pulang ke rumah masing-masing. Jelasnya kalau sudah jam 21.00 pasti jalan pintas itu amat sepi dan terasa angkernya.


Setelah 2 menit kepergian pak Robby dan juga Reyhan, Freya menyenderkan punggungnya yang terasa pegal karena tadi posisinya membungkuk. Gadis polos itu menatap Angga kembali yang keadaannya masih sama saja. Freya menarik napasnya dalam lalu menghembusnya pelan.

__ADS_1


“Daripada aku cuman diam aja di sini, mending aku buatin Angga teh anget, deh. Jadi nanti kalau Angga sudah sadar, tinggal di minum tehnya yang aku bikin untuknya.”


Freya bersama senyumannya yang tertancap di muka kulit putih bersih cantik jelitanya, gadis itu beranjak dari kursi sofa lalu meninggalkan Angga sebentar ke ruang dapur. Freya meminjam ruang dapur yang ada di rumah sahabatnya lepau membuatkan teh hangat khusus untuk pemuda tampan tersebut seraya menunggu oksigennya menaik yang buat kesadaran Angga kembali.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Hari esoknya ialah Rabu yang mana seluruh siswa maupun siswi mengenakan seragam rompi internasionalnya di SMA Galaxy Admara. Kini pada pukul 06.45 sekelompok empat sahabat remaja tersebut tengah berada di rooftop macam biasanya.


Jova yang tengah mengayun-ayunkan bawah kedua tangannya di luar pembatas tembok rooftop, memulai obrolan pada ketiga sahabatnya, “Gue kaget bener liat berita tadi pagi tentang kecelakaan beruntun yang memakan banyak korban jiwa di dekat komplek Freya sama Angga.”


“Oh, berita yang itu. Aku tadi pagi juga lihat, gak cuman di TV aja, sih. Tapi juga di kenyataan, pas aku berangkat ke sekolah pakai motor bareng Angga. Banyak polisi yang masih mengevakuasi korban yang terjepit di kolong-kolong mobil seperti truk dan lainnya. Parah banget, deh ...”


“Huh, gak bisa bayangin kalau kita yang terlibat di kecelakaan beruntun itu. Korban luka jumlahnya cuman sedikit, tapi yang jadi korban jiwa jumlahnya banyak banget. Parahnya lagi nih ya, gara-gara minyak bensin Pertamina tumpah di jalan membuat banyak ledakan-ledakan bahkan seperti kendaraan termasuk pengendara ada sebagian yang ikut terbakar. Itu yang aku denger dan tahu dari berita TV yang aku tonton sama keluargaku.”


“Iya, Va. Aku jadi kasihan banget dengan keluarga yang ditinggalkan karena tewas di peristiwa tragedi tadi malam itu. Beruntung saja kita bertiga nggak ada yang lewat situ, kalau ada ... gak tau deh apa jadinya,” ujar Freya.


“Ya, namanya juga kecelakaan beruntun. Awal dari sebelum kecelakaan itu ada sebuah mobil truk yang remnya ngalamin blong. Gue akui yang namanya truk itu pasti pembawa malapetaka,” celetuk Reyhan.


Angga yang menjadi pendengar suara para sahabatnya hanya menghela napasnya dengan wajah lesunya. Bahkan kepalanya menunduk di ketinggian atas gedung sekolah, terlihat juga muka pucat-nya masih tertera jelas di lelaki Indigo tersebut yang trauma pada penglihatannya tadi malam bahkan kejadian langsung di depan mata.


Freya yang mengetahui Angga berwajah lunglai, sedikit mencondongkan kepalanya ke depan dan menoleh menatap muka pucat sahabatnya. “Angga, kamu baik-baik saja, kan? Lesu banget mukamu. Ada apa? Kamu ada masalah baru, ya?”


Angga menggelengkan kepalanya dengan mulut bungkamnya. Sedari tadi lelaki tersebut hanya diam membisu yang padahal ketiga sahabatnya sibuk mengoceh. Jova, Freya tak tahu apa yang terjadi pada Angga, kecuali Reyhan yang telah mengetahui semuanya.


Reyhan menyentuh pundak kiri Angga lalu menepuknya beberapa kali sambil memberikan senyuman ramah. Jova menautkan kedua alisnya dan mulai bertanya karena gadis jiwa tomboy itu sangatlah kepo apalagi Reyhan yang seakan-akan tahu apa yang terjadi dengan Angga, “Sebenernya ada apa, sih? Ini kayaknya si Reyhan tau, dah. Kasih tau kami berdua dong, Ngga. Kami pengen ngerti.”


Angga sedikit merapatkan bibirnya dan menghela napasnya sejenak. Tak ada salahnya juga kalau ia memberi tahu soal penglihatannya tadi malam kepada sesama sahabat. “Tadi malam ... aku mendapatkan penglihatan tentang tragedi kecelakaan maut itu yang di nyata belum terjadi. Semua itu di dahulukan dari penglihatan mendadak yang muncul. Aku melihat banyak kehancuran di kecelakaan beruntun itu yang disebabkan kefatalan satu, rem blong pada salah satu truk yang melaju dengan kecepatan tinggi.”


“Ledakan-ledakan, tabrakan secara berantai, bahkan teriakan dari para korban terdengar jelas di telingaku meski itu di penglihatan yang datang. Dan ... yang membuat aku menjadi lumayan trauma karena dampak kematian ... ehm ...”


Angga tampak tidak bisa melanjutkan soal tentang mata bayangan penglihatannya. Dan Reyhan tahu dampak kematian siapa yang sahabatnya maksud, lelaki friendly tersebut kembali menyentuh bahunya Angga dengan berkata, “Sans, biar gue aja yang mewakili kelanjutan dari alur penglihatan lo.”


Reyhan menolehkan kepalanya ke arah Freya dan Jova yang makin penasaran pada cerita penglihatan Angga. “Dampak kematian yang Angga maksud itu, si aku. Karena di penglihatannya, aku juga terlibat dalam insiden membahayakan nyawa itu. Dan pada akhirnya jiwaku dipertaruhkan di lokasi tempat kecelakaan yang sekarang polisi-polisi lagi mengevakuasi korban tewas yang ada di bawah kolong mobil truk, dan mobil lainnya.”


Mata kedua sahabat perempuannya mencuat sempurna setelah mendengar ujaran panjang lebar Reyhan secara seksama. Reyhan yang melihat itu langsung cengar-cengir, sudah pastinya mereka akan terkesiap mendengar cerita alur penglihatan pemuda Indigo tersebut.


“Tenang! Jangan kaget, nanti bisa jantungan! Itu cuman ada di penglihatannya Angga doang, kok. Kalau di nyata, Angga bisa dibilang sudah menyelamatkan aku dari kecelakaan berjulukan maut itu. Karena saat bawa motor buat pulang ke rumah, aku ngeliat Angga ngejar diriku yang aku lihat melalui dari kaca spion motorku. Kalau nggak ada Angga yang mencegah aku saat malam tadi, sudah pastinya semua penglihatan Angga menjadi nyata seratus persen.”


“Berarti kalau itu beneran terjadi denganmu, kami nggak sekolah melainkan pergi ke pemakamanmu buat memanjatkan Doa di sana ...” ucap lirih Freya.


Reyhan tersenyum hambar. “Oh, ayolah. Jangan sedih gitu, ngenes aku liatnya hahaha! Itu nggak terjadi sama aku, kok. I'm still alive.”


“Gue bersyukur karena lo masih diberikan keselamatan dengan Allah. Gue hanya perantara saja, jadi itu terlebihnya karena lo mungkin belum saatnya meninggalkan dunia,” ucap Angga dengan menyongsong badannya menghadap Reyhan.


Reyhan tersenyum lebar merasa begitu bangga dan tidak menyesal memiliki sahabat seperti Angga. Lelaki humoris itu kemudian memeluk sang sahabat. “Tetap bagaimanapun, gue makasih banget sama lo, Ngga. Karena lo telah menyelamatkan gue dari kematian mengerikan itu. Lo memang orang hebat yang kami kenal.”


Reyhan melepaskan pelukannya dari raga sahabatnya yang sudah membalas pelukannya. Jova beserta Freya juga ikut merasa bangga, menampilkan ukiran senyum lebar yang merekah di wajahnya. Angga yang dikatakan seperti itu kepada Reyhan tadi, hanya tersenyum tipis saja tanpa berkata apapun yang keluar dari mulutnya.


“Angga, kamu adalah orang terspesial yang kami punyai. Dengan mudahnya kamu menyelamatkan orang dari keburukan hingga sampai musibah sesuatu termasuk Reyhan. Aku yakin banget kekuatan Indigo-mu yang dari Anugrah Allah penuh kemuliaan di dalamnya. Bahkan kelebihan yang kamu miliki seutuhnya itu tidak membuat kamu menjadi hilang jati diri aslimu.”


“Betul banget, Va! Aku setuju! Angga tuh udah seperti pahlawan super hero yang kadang sering tayang di film-film TV. Wih, keren banget kamu, Ngga!!” ucap Freya dengan bertepuk tangan ria.


Angga menahan tawanya meski senyuman miliknya berubah menjadi lebar. “Kalian kenapa, sih? Sungguh berlebihan.”


“Nah! Ini momen-momen yang gue tunggu dari lo, senyuman lebar yang membuat cewek-cewek terpana atas ketampanan elo, hahaha! Selalu begini ya, Bro? Gue seneng banget lihat lo yang full smile.”


Reyhan merangkul Angga dengan senyuman ramah andalannya, sementara entah mengapa Freya dan Jova malah justru tertawa kecil. Tepatnya mereka berdua bahagia karena telah melihat Angga yang sudah menampilkan senyuman lebarnya nang jarang lelaki rupawan tampan tersebut ekspos.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2