
Setelah beberapa hari absen dari sekolah, kini Freya sudah bisa menjalani aktivitas pelajaran di sekolahnya. Gadis itu berjalan pelan sesekali mengedarkan kontak matanya untuk melihat pemandangan koridor yang desainnya luar biasa, bahkan di sana terdapat banyak tumbuhan yang nampak segar dan subur dikarenakan selalu dirawat dengan baik oleh warga SMA Galaxy Admara ini.
Berjalan lambat dengan hati yang penuh sendu? Ya, tentu saja. Freya tak mungkin bisa menghempaskan semua mimpi yang dirinya datangi terlebih membuat perasaannya campur aduk, entah itu akan menjadi sebuah pertanda buruk atau lainnya. Yang jelas saat ini ia kurang bersemangat untuk beraktivitas di sekolahnya nanti. Ingin berusaha melupakan apa yang telah terjadi, sukar. Sampai akhirnya gadis itu menghembuskan napasnya lara seraya menundukkan kepalanya dengan muka suram dan terpuruk seperti hatinya yang mendung bagaikan langit ingin turun air hujan.
“Heh, cewek Udik!”
Freya menghentikan langkah kaki mulusnya waktu mendengar suara nada yang menyentak ia untuk memanggil. Gadis itu menghela napasnya karena tahu siapa yang baru saja menyebut dengan cara merendahkan.
‘Pasti ini Youra. Kenapa, sih aku selalu diganggu mulu sama dia? Aku capek ...’ Setelah mengeluh di dalam batin, Freya mengangkat wajah cantiknya ke seorang siswi yang tak lain adalah Youra Adrienne Arabella.
“Masuk juga lo akhirnya! Gedeg banget gue sama lo, cewek gak tahu diri!!” Terlihat dari suara maupun raut ekspresi muka, Youra marah besar pada Freya, membuat gadis polos itu bingung.
“Aku salah apa?” tanya halus Freya karena tak ingin melibatkan sebuah masalah baru di sekolahnya.
“Lo bertanya salah apa?!” bentak Youra dengan maju selangkah bersama menghentakkan kakinya untuk mendekati Freya.
Meskipun bungkam saja, mata Freya tetap menatap mata Youra yang memerah seperti habis menangis. “Gara-gara ulah lo, gue putus sama Alexander!!!”
Freya terkesiap mendengarnya bahkan sampai menelan ludahnya karena takut melihat tampang raut berang Youra. “P-putus? Lalu, letak salahku dimana? Aku-”
Youra seketika mendorong dada Freya dengan hati membuncah jengkel. “Aku apa?! Ya, inilah kesalahan lo! Gara-gara elo yang always dibelain Alex, gue jadi dikucilkan sama dia, bahkan Alex minta gue untuk putus dari hubungannya dia! Emang Brengsek, lo sumpah!!!”
Flashback On
Youra membuka pintu rooftop dan langsung diperlihatkan sosok Alex yang sedang menghadap belakang untuk menatap pemandangan di langit sore, dengan sumringah lebar di bibir, gadis itu berlari kecil lalu merengkuh leher lelakinya untuk mendekapnya dari belakang.
“Alex, Sayang! Tumben kamu menyuruh aku dateng ke atas gedung sekolah milik papamu? Ada apa, nih? Oh aku tahu, pasti mau ngasih kejutan, kan?! Ayo, dong kasih tahu aku !” girang Youra.
Alex menghela napasnya jera lalu kedua tangannya saling melepaskan sepasang tangan Youra dari lehernya. Membuat gadisnya terkejut sekaligus bingung pada sikapnya Alex. “Aku menyuruh dirimu untuk ke sini karena aku ingin ngomong sesuatu yang penting.”
Youra mengulum senyuman cantiknya- ralat, maksudnya senyuman genit andalannya. Ia melangkah ke samping Alex lalu sikut tangan kanannya menopang di atas tembok pembatas rooftop.
“Apa, tuh? Aku penasaran.”
Lagi-lagi pemuda itu menghela napasnya karena ingin segera memberi jangkauan jaraknya dari Youra yang nampak tidak mengetahui arti ekspresi wajahnya. “Sebelum itu, aku ingin bertanya serius padamu.”
“Ih, apa?? Langsung to the point aja, dong. Biar jiwa penasaranku gak semakin menjulang karena dibuat kamu,” ucap Youra dengan tawa centil.
“Untuk apa kamu mengatakan Freya yang tidak-tidak lagi? Kamu masih ada hasrat untuk menghinanya? Bahkan sahabat-sahabatmu sampai menyumpah serapah agar Angga cepat meninggal di Komanya! Kalian sama sekali tidak ada kapoknya saat dulu di Skors tiga minggu?! Gak usah menyela atau membohongiku, karena aku melihat dan dengar semuanya apa yang kalian bertiga lakukan saat itu !!!”
DEG
‘Gawat, kenapa Alex pake acara denger sama lihat segala, sih waktu dua hari yang lalu itu. Bisa mati, gue hari ini !’
“Kenapa diam saja? Benar, kan? Apa kamu tidak mempunyai hati nurani untuk merasakan betapa hancurnya hati Freya saat kalian bertiga bilang seperti itu mengenai Angga?! Asalkan kamu tahu, antara Angga dan Freya itu sangat dekat, bahkan dulu mereka sempat menjadi sahabat sejak TK. Kamu pasti masih ingat, kan?! Gak mungkin kamu langsung melupakan segala kedekatan mereka berdua !!!”
Youra hanya bisa diam karena emosi Alex benar-benar meluap. Apalagi sekarang gadis itu menundukkan kepalanya disebabkan tak berani menatap murka lelakinya yang sedang mengeluarkan amarah besarnya terhadap ia.
“Kamu memang tidak bisa membiarkan Freya hidup bahagia, ya. Kamu dan dua sahabatmu itu sudah melukainya hingga berakhir masuk rumah sakit, apalagi kemarin ... kalian menyumpah serapah terhadap Angga biar cepat mati, ucapan itu adalah Doa! Jadi jangan sembarangan berbicara! Jaga mulut kalian bertiga !!!”
“Kamu kenapa, sih?! Selalu aja belain Freya! Sekali-kali aku, kek yang dibela! Kenapa harus cewek sok tenar itu yang kamu bela dengan sepenuh hati?! Emangnya di matamu ini aku apa, Lex?! Jadi pacar jangan jahat, dong !”
“Aku gak akan membela Freya jika kamu mau merubah segala sikap dan etikamu terhadap dia dan semua orang! Kamu memang pantas aku beri cara begini agar cepat sadar dimana kesalahanmu selama ini, Youra !!!”
Youra yang mendengar seluruh rentetan ungkapan emosi amarah Alex, mendesis dengan membuang mukanya ke sembarang arah. Melihat sikap Youra yang tak pernah berubah, membuat hati Alex sungguh muak untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan kekasihnya.
“Your, aku sudah terlalu sabar menghadapi segala sikapmu sampai dua tahun terakhir. Tapi ingat, setiap kesabaran orang pasti ada batasnya. Jadi hari ini juga aku akan memutuskan atas tindakanku yang telah aku putuskan secara matang-matang!”
“Aku minta hubungan kita berakhir.”
Mendengar hal itu, Youra menolehkan kepalanya ke arah Alex dengan tampang tercengang. “Apa?! Kamu minta hubungan kita berakhir?! Hubungan cinta yang selama ini terjalin sempurna, sekarang kamu ingin tamatkan begitu saja?! K-kamu pasti bercanda, kan sama aku?! Gak mungkin, lah kamu kan cinta dan sayang banget sama aku !”
“Betul, aku memang cinta dan sayang banget sama kamu .. tapi itu dulu, bukan kini. Diriku sudah lelah menghadapi sikapmu yang toxic! Aku sadar, kamu gak pantas buat aku! Jadi sekarang ini juga, aku ingin kita putus !!!”
Youra menggelengkan kepala dengan air mata berderai deras di pipi, kedua tangannya menggenggam erat lengan Alex yang hendak melangkah pergi meninggalkannya. “Jangan, Lex! Aku gak mau putus sama kamu! Aku janji akan berubah, tapi tolong jangan akhiri hubungan dan kisah kita berduaaaaa !!!”
Alex menoleh ke belakang dan menatap dingin nan tajam pada Youra. “Kamu pikir aku akan percaya dengan janjimu yang busuk itu? Kamu sudah terlalu banyak mengeluarkan janji manis padaku, tapi kenyataan yang aku dapatkan apa darimu? Janji yang pahit! Bahkan kamu berani melanggar semua janji dan sumpahmu! Sorry, aku gak bisa kembali denganmu. Serta mulai sekarang, jangan pernah mendekatiku untuk balik menjadi pacarmu apalagi mengharapkan jika aku sanggup bercinta padamu !”
“Kisah dan juga hubungan kita, berakhir di sini.”
Setelah mengutarakan kalimat terakhir, Alex menepis tangan Youra lalu berjalan pergi meninggalkan gadis itu tanpa ingin memedulikan kondisi Youra saat ini di belakangnya.
Melihat Alex yang telah masuk ke dalam gedung sekolah tanpa melupakan untuk menutup pintu dengan rapat, hati Youra semakin ambyar dicampur oleh rasa kebencian terhadap seseorang yang tentu pasti jelasnya.
“AAAAAAAARRGH! GUE BENCI BANGET SAMA LO, FREYA SEPTIARA ANESHA!! BENCI POKOKNYA! BENCI LAHIR BATIN !!!”
Flashback Off
“Lo pasti sudah puas, kan apa yang terjadi sama gue dan Alex?! JAWAB GUE!!!”
Nyali Freya untuk tetap menghadapi Youra yang berhati sengit padanya, lebih menciut dari biasanya. “Tapi masa itu salahku? Emangnya selama ini aku salah apa sama kamu?”
Kemudian Freya menunduk kepalanya takut. “B-bukannya selama ini kamu selalu mengganggu ketenanganku di sekolah ini ...? Jadi, bukan salahku.”
“Oh! Sekarang pinter jawab, ya?! Heh, dengerin gue!!” Youra tanpa segan-segan menjambak helai rambut panjang hitam Freya hingga nyaris rontok karena ia memakai tenaga kuatnya.
“Akh! Lepasin rambutku, Your! Sakit!!!” rintih Freya seraya berusaha melepaskan jari-jari dari telapak tangan Youra, walaupun kesusahan dikarenakan tenaganya lebih lemah dibanding tenaga milik siswi yang memiliki kebencian terhadapnya dari sejak kelas sepuluh.
“Rasain! Gara-gara lo, gue kehilangan cintanya Alex! Lo pasti pake sesuatu, kan yang membuat hubungan gue dan dia hancur?! PELET, YA??!!”
“Hiks!” Freya menggeleng kuat dengan terus menangis deras karena apa yang ia terima begitu menyakitkan nang mana Youra melukai fisiknya untuk kesekian kali.
“Enggak, apa?! Sudah jelas-jelas Alex keseringan buat ngebela elo daripada gue yang pacarnya! Emang cewek gak tahu diuntung!!!”
Youra melepaskan genggaman eratnya dari rambut Freya lalu mendorong tubuhnya kencang hingga gadis cantik itu terjatuh dengan sangat keras. Freya di lantai hanya bisa menangis tanpa ada niat membalas perbuatan Youra padanya, karena jika ia melawan, datang masalah baru baginya.
“Dasar cewek cengeng! Karena gue dan Alex sudah menjadi bekas, itu artinya lo sama Angga harus juga menjadi mantan! Karena apa? Karena cowok lo yang sok populer itu, gak mungkin bisa bertahan lama di dunia! Dia bakal cepet mati di dalem Komanya!!!”
Mata Freya yang menyusut karena air matanya telah banyak tertumpah di pipinya untuk membanjiri, melotot sempurna. Bahkan gadis itu yang jatuh terduduk di atas lantai, sekarang berdiri tegak dan menatap tajam Youra karena amat tak terima apa yang sudah siswi tersebut katakan.
PLAK !!!
“Cukup! Jika hubunganmu dengan Alex berakhir, bukan berarti kamu mengatakan bila aku dan Angga harus menjadi mantan! Ingat, kamu sama saja menyumpahi keras terhadap Komanya Angga di rumah sakit! Dan satu lagi. Kamu putus sama Alex, itu berarti kamu telah mendapatkan Karma karena selalu mengusik hidup orang!!!”
Youra menyentuh pipinya yang telah ditampar keras oleh Freya, begitu terkejut apalagi pada ujaran perkataan musuh bebuyutannya yang tidak lagi menampilkan kesan ketakutannya. “Wah! Lo udah berani melakukan ini sama gue?! Lo gak tahu, gue siapa?!”
Napas Freya naik-turun dengan sangat cepat karena emosinya sudah tak bisa ia tahan lagi. “Siapa emang?! Seorang siswi tenar di bangunan sekolah internasional miliknya pak Ansel papanya Alex?! Kamu, kan sama Alex sudah menjadi mantan! Kamu masih saja berlagak sombong!!!”
Youra membuang mukanya dari wajah murka Freya, dengan berdecih tak lupa mengukirkan senyuman iblisnya. “Oh my gosh, so amazing.”
Dengan setelah mengarahkan kepalanya lagi pada Freya yang raut amarahnya semakin terlihat, gadis siswi nang sering merundungnya setiap hari, menendang perut Freya kuat hingga membuat ia terjatuh balik dengan begitu keras.
BRUGH !
“A-auw! S-sakit!!!” pekik Freya seraya memegang perutnya yang usai didepak oleh Youra.
“Hahahaha! Sakit, ya? Mangkanya jadi siswi di sini, gak usah sok macem-macem sama gue! Tetap bagaimanapun, gue-lah cewek tertenar di sekolah ini. Dan, lo ... elo hanya sebatas siswi yang numpang karena mendapatkan bea siswa!”
Freya mulai menahan sakitnya lalu mendongak menatap Youra walau mukanya masih terlihat tertatih pada kram di bagian perutnya. “Kapan kamu bisa berubah?! Sampai kapan kamu akan terus diam di sikap burukmu itu?! Bukankah lebih baik kamu merubah segala sikapmu menjadi transenden? Agar tidak ada lagi yang menjauhimu. Apakah selama ini kamu tidak sadar, bahwa banyak sekali yang membenci kamu karena prinsip sikap-sikap dan semua etikamu?”
“Cih! Stop menggurui apalagi menasehati gue dengan mulut lo yang bikin diri gue muak!” sarkas Youra melayangkan tamparannya ke arah Freya.
Freya yang tak sanggup melawan, hanya bisa merapatkan matanya untuk siap merasakan tambahan sakit yang akan dirinya terima. Namun sepertinya tak ada rasa apapun nang menimpa ia, hingga Freya memutuskan membuka matanya perlahan untuk melihat situasi yang tiba-tiba bisu.
Mata Freya membulat dengan mulut menganga saat melihat Reyhan yang mencekal kuat lengan tangan Youra dari belakang. Gadis itu hanya mampu diam menatap sahabat lelakinya yang sorot matanya tajam.
“Ih! Siapa, sih?! Gangguin aja, deh- eh! Reyhan?!” Youra amat terkejut begitupula tak menduga kalau ada lelaki sahabatnya Freya yang berdiri tegap di belakangnya bersama menahan tangannya.
“Mau apa lagi, lo?!” bentak Reyhan dengan mata berubah mendelik langsai.
“A-aku ... aku gak ngapa-ngapain Freya, kok! Itu tadi ada nyamuk didekatnya Freya, mangkanya mau aku tampar!” dusta Youra.
Reyhan menghempaskan kasar tangan kiri Youra. “Hahaha! Yang bener? Gak usah bohong! Gue sudah lihat semuanya! Ternyata selain suka main tangan, lo cewek pembohong, ya. Pantesan aja diputusin Alex! Sekarang, mending lo pergi dari sini dan jangan pernah gangguin Freya lagi, atau gue laporin segala tindakan kekerasan fisik lo terhadap sahabat gue ke guru BK dan kepsek!?”
Youra hanya diam tak mau bergerak untuk melangkah meninggalkan Reyhan apalagi Freya, membuat pemuda bermata iris hazel menawan itu merasa sangat sengit serta muak.
“Kuping lo budeg, ya? Gue bilang, PERGI!!!”
Barulah saat diperintahkan oleh Reyhan dengan nada super tinggi, Youra berlari kencang meninggalkan ia dan juga Freya yang masih terduduk di lantai. Reyhan mendesis seraya menatap kepergian Youra yang semakin menjauh dari jarak mereka.
Setelah itu, Reyhan yang memanggul tas ranselnya di pundak memutar tubuhnya ke belakang untuk menghampiri Freya. “Kamu gak apa-apa?! Pasti sakit banget, ya? Ayo, aku bantu. Pelan-pelan saja.”
Reyhan mengangkat badan sahabatnya untuk membantunya bangkit berdiri. Terasa lemas sekali karena serangan yang ia dapatkan bahkan perkataan Jahannam nang keluar dari mulutnya Youra, bahkan kini Freya mengeluarkan air matanya bersama pandangan yang menunduk.
Reyhan yang mengerti, langsung memeluk tubuh mungilnya Freya untuk menenangkan hatinya. “Sudah, omongannya dia gak usah kamu ladenin apalagi masukin ke hati. Semuanya gak bakal terjadi, kok. Percaya sama aku, oke?”
“Hiks! Tapi ... Youra sudah pernah menyumpah serapah soal Komanya Angga, Rey! Gimana kalau semua yang dia bilang ada benarnya?! Aku gak mau!”
“Enggak! Kamu jangan mau mempercayai omongan lapuknya dia, semuanya gak ada artinya! Lebih baik, kita jalan ke kelas, yuk? Entar kita bisa telat masuknya, lagi. Ayo.” Reyhan mengajak Freya seraya melepaskan pagutannya dari tubuh lemas gadis itu.
“Jangan nangis lagi, ya? Nanti cantiknya bisa luntur,” tutur lembut Reyhan sambil mengusap air mata Freya dengan senyuman ramahnya.
__ADS_1
Freya mengangguk kepala lara, lalu tangan Reyhan setengah merangkul sahabat perempuannya untuk ia giring ke kelas yang berada di lantai terakhir. Mereka berjalan secara bersama walau mulut saling bungkam membuat suasana menjadi hening cipta.
‘Bisa memotivasi hidup orang untuk menyemangati, tapi dirinya sendiri gak mampu. Gue emang payah.’
Beberapa tempuh perjalanan hingga melintasi tempat ruang olahraga basket, terdengar suara ledekan yang membuat Reyhan serta Freya menghentikan langkah kakinya.
“Woi, Rey! Lagi kencan sama Freya, toh? Dosa, lho! Udah mempermainkan hati sahabatnya yang Koma!” pekik salah satu siswa nang telah usai memasukkan bola basket yang berwarna oranye tua itu ke ring.
“Mata lo, kencan! Lo pikir gue mau menusuk Angga dari belakang, hah?! Gue cuman mau ajak Freya ke kelas bareng-bareng! Lo tahu apa?!” sentak Reyhan.
“Tapi lo nempel banget sama Freya! Hati-hati, sosok ketiganya pasti iblis yang bakal buat kalian anu,” ledek siswa lainnya membikin Reyhan jengkel setengah mati.
Reyhan menghadapkan tubuhnya ke arah ruang olahraga basket yang di situ banyak sekali para siswa berkumpul. “Lo ngajak baku hantam sama gue?! Ayo sini cepetan! Gedeg bener, gue!!!”
“Eh! Slow, Bro ... slow, dibawa santai aja. Hehehehe! Gue, kan cuman bercanda- eh! Yah, bolanya malah keluar. Rey! Ambil terus bawain ke sini, dong!” pinta siswa berseragam non rapi itu.
Kebetulan karena bola basketnya berhenti menggelinding di depan kaki Reyhan, lelaki itu langsung mempunyai ide untuk membalas kejahilan teman-temannya yang berbeda kelas dan jurusan.
“Lo pengen gue bawain nih bola ke dalem? Oke! Terima ini,” ungkap Reyhan siap ancang-ancang menendang kencang bolanya.
“Noh, tangkep!”
Reyhan menendang segera bola basket tersebut ke arah siswa itu yang nampaknya kurang siap menerima bolanya nang melayang cepat padanya. Alhasil, bola basket tersebut berhasil menimpuk mukanya hingga tubuhnya terperosok ke lantai.
“Uakh! Muka handsome gue kena bolaaaa!” rengek siswa itu sampai menghentakkan kedua kakinya seperti bayi.
“Anjir, cug! Kena bola, dong! Emang sangar itu si Reyhan! Bro-bro, lo gakpapa?!” Siswa lainnya segera menarik tangan temannya untuk membangkitkan dari baringnya.
“Sakit pala gue, Anying! Woi, Rey! Lo pikir itu bola basket main tekniknya pake cara ditendang kayak bola futsal?! Basket ini, Cog! Harusnya di dribbling, bukan di kick ! Emang Kampret cowok satu ini! Gak bisa main basket, yak?!”
“Up to you ! Salah sendiri siapa ngomong gitu sama gue, hah?! Mampus kena ampasnya! Rasain puyeng sampe pulang sekolah! Mangkanya itu tutuk dijaga, jangan dibebasin kayak ayam!!!”
“Rey, tapi sampe pegang kepala gitu, lho. Pasti dia kesakitan banget gara-gara bola basketnya kamu arahkan ke siswa itu,” ujar Freya.
“Cowok dia, Frey. Paling cuman puyeng doang, gak sampe benjut apalagi gegar otak! Ayo kita pergi dari sini, daripada tanganku turun buat ngabisin mereka!”
Freya meneguk ludahnya dan hanya bisa pasrah tangannya ditarik oleh Reyhan dengan tampang kesalnya. Siswa yang terduduk di lantai sembari tetap mengusap kepalanya bersama mendesis, menatap laju langkahnya Reyhan serta Freya sang sahabat perempuan yang kondisinya ia tarik pergi.
“Reyhan kalau hatinya lagi broken, serem juga ya kayak momok di film-film gitu? Untung gue gak sampe diterkam kayak binatang reptil liar predator. Kalau iya, bisa good bye the beautiful dunia.”
“Wahahahahaha! Modar, lo!!!”
“Sialan lu, Bujang!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹-----------...
Kota Bogor - RS Medistra Kusuma
Terdapat seorang pria dan wanita yang berambut putih sedang berada di sisinya Angga untuk menemaninya di ruang ICU. Wajah-wajah beliau nampak telah keriput atau sebut saja mereka sudah lanjut usia, mereka adalah merupakan kakek serta nenek kandungnya sang pemuda Indigo tersebut.
Sementara seperti Agra dan Andrana, sedang berada di kota Jakarta untuk beristirahat di rumah yang berada di komplek Permata. Beliau nang sekarang menjenguk Angga di dalam ruang rawat intensif dengan hati setianya, memang sengaja menyuruh kedua orangtuanya Angga lepau melepaskan penat di rumah dikarenakan mereka berdua telah terlalu banyak menjaga diri lelaki tampan remaja yang berumur 17 tahun tersebut.
Wajah kakek dan nenek Angga, terlihat sangat muram menatap muka pucat cucu kesayangannya yang terbaring lemah Koma di atas ranjang pasien dengan tetap bersama beberapa alat medis yang selalu terpasang di tubuhnya untuk menunjang hidupnya nang tipis selama kondisinya masih belum stabil.
Perlahan sang kakek dengan tangan keriputnya walau kulitnya berwarna putih bersih, membentang untuk mengusap kepala Angga. Sebenarnya air mata beliau telah banyak mengalir di pipi, tetapi telah diseka oleh punggung tangannya.
“Bangunlah, Anggara ...”
“Hiks, kenapa cucu Oma harus menjadi seperti ini? Telah beberapa minggu kamu sudah lama terbaring Koma, Sayang.”
Kemudian neneknya Angga yang hatinya rapuh, menoleh ke belakang dengan agak menyamping untuk melihat monitor pendeteksi jantung milik cucunya. Terlihat angka HR medis cukup rendah, dibanding sebelumnya mereka ke rumah sakit ini lepau menjenguk pemuda tampan tersebut.
“Cepat sadar ya, Sayang? Oma dan opa tidak ingin kehilangan kamu yang merupakan cucu satu-satunya dari kami, hiks!” gundah sang nenek lalu mengelus telapak tangan kanan mulus Angga kemudian beralih mengangkat pantatnya dari kursi untuk mengecup kedua pipi pucat lelaki yang senantiasa terbaring lemah dengan mata terpejam.
“Kasihanilah mama dan ayahmu yang di kota jakarta, Ngga. Mereka sangat begitu mengharapkan kamu untuk segera kembali buka mata, begitupun juga Opa sama oma yang setia di sini menemanimu. Apalagi setelah naik ke tingkatan jenjang kelas dua belas ini, kurang setahun lagi kamu akan bertambah usia. Apakah Anggara tidak merindukan orang-orang yang menyayangimu? Hm?”
Kakek Angga yang berceloteh lebar untuk mengajak cucunya berkomunikasi halus, tetap mengusap kepalanya bersama tangan putih keriputnya. Beliau berusaha terus tersenyum walau hatinya tersiksa karena harus menerima keadaan parahnya sang cucu yang beliau amat sayangi.
Sementara istrinya yang juga telah berumur itu, terus menangis terisak-isak sembari menatap wajah lemas Angga nang mana mulutnya tersumpal selang ETT di dalam. Sungguh keadaan yang malang serta memilukan hati bila memandanginya secara depan mata langsung.
Mereka berdua yang ada di antara kanan dan kiri Angga, tetap berada di dalam ruang ICU sampai waktu menjenguk dibatas oleh jam yang telah ditentukan dari awal pemuda tersebut dirawat intensif.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah mengikuti berbagai materi pembelajaran sekolah dari hari ke hari, kini sekarang di Sabtu pagi Reyhan masuk ke dalam RS Medistra Kusuma usai diizinkan oleh kedua orangtuanya di kota Jakarta. Lelaki itu berjalan dengan menghadap lurus tanpa mau menatap para kaum hawa yang mengagumi ketampanannya serta postur tubuhnya yang ideal serta sempurna.
“Ya ampun, demi apa? Pagi-pagi gini udah ada yang mencuci mata gue, kyaaaaa!” heboh salah satu gadis sampai melompat-lompat.
“Suara lo kayak Kuntilanak, Anjir!” Kemudian gadis ketiga yang berambut pirang itu, menengok layar ponselnya nang di dalamnya ada sebuah aplikasi video yang termasuk populer tersebut yakni TikTok.
“E-eh, bentar! Cowok yang barusan lewat di depan kita itu, kan cowok yang pernah jadi korban aniaya di kota ini, Cuy! Sama sahabatnya yang sampe sekarang Koma! Noh, coba kalian lihat foto ijazahnya dia di layar HP gue! Persis, Jir!”
“Gue gak pernah menyimak berita, sih. Kurang minat aja, gitu. Mana emang fotonya? Gue penasaran!” Temannya dan gadis lainnya yang berada di dekatnya, mulai mencondongkan badannya untuk menilik foto ijazah lelaki Friendly tersebut.
“Lih! Iya, Cug!” kompak kedua temannya.
Reyhan yang mendengar kehebohannya mereka bertiga, langsung merapatkan mata dan bibirnya seraya mempercepat langkah jalannya yang tadi terlihat santai menyusuri koridor rumah sakit.
‘Viral bener berita itu, ya?! Malu banget, gue! Mana masuknya ke korban aniaya, lagi.’
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah pintu lift terbuka secara otomatis, Reyhan mulai melangkahkan kakinya untuk menginjak lantai lorong 4 ini. Pemuda itu yang usai menahan malu, kembali berjalan tenang menyusuri lorong buat menemui sahabat Komanya. Daripada suntuk di rumah, kan? Lebih baik mengobrol padanya walau tak akan mendapatkan respon dari sang sobat Introvert.
Sementara di sisi lain, kakeknya Angga membuka pintu ruang ICU untuk menerima telepon dari seseorang yang sama sekali tidak beliau kenal, dikarenakan bukan kontak nama yang tertera melainkan sebuah beberapa digit nomor. Setelah mengangkatnya dengan tanpa ragu, sang kakek memberikan beberapa respon namun tak dijawab olehnya dari sebrang telepon. Hingga tiba-tiba, panggilan ponsel beliau diputuskan dari sambungan yang sudah menelponnya.
“Astaga, salah sambung ini sepertinya.”
Saat akan memasukkan ponselnya ke dalam saku kantong kain baju hijau penjenguk pasien, “Heh!”
Kakeknya Angga terkejut dengan mata melotot sampai menyentuh dadanya waktu melihat seorang pemuda yang setara usia cucunya di tepat sebelahnya. Reyhan nang tak sengaja membuat beliau kaget setengah mati, ikut terperanjat hingga reflek memundurkan badannya.
“Eh! Aduh! Maaf-maaf, Kek! Kaget banget, ya?! Maafkan saya!” ungkap Reyhan cepat dengan mendekati beliau yang masih terkaget melihat sosoknya nang tiba-tiba muncul entah dari sejak kapan.
“Hm! Hampir saja jantung saya copot. Sahabatnya Anggara?” tanya sang kakek usai menetralkan detak jantung tuanya yang tadi berdegup kencang.
“Kok, Kakek bisa tahu?! Iya, saya adalah sahabatnya Anggara. Dan sekali lagi saya mohon minta maaf karena telah membuat beliau kaget karena saya.”
“Sudah, tidak apa-apa. Ayo sini, kita duduk dulu. Saya ingin mengenali lebih dalam tentang sahabat cucunya saya dan istri saya, hahaha!” ajak ramah kakeknya Angga.
“Baik, Kek.”
Reyhan melangkah untuk menuruti ajakan beliau dan duduk bersama di kursi panjang samping kaca jendela pembatas ruangan ICU. Di atas kursi, lelaki itu menampilkan senyumannya pada beliau yang juga sedang tersenyum hangat.
“Nama kamu siapa?” tanya lembut sang kakek dengan menyentuh bahu kokoh kiri Reyhan.
“Nama saya Reyhan Lintang Ellvano, cukup panggil saja saya dengan sebutan Reyhan. Salam kenal ya, Kek. Senang sekali berjumpa Kakek.”
“Namanya cukup modern, ya? Saya adalah Redo, dari kakek kandungnya Anggara. Dan jika istri saya yang berada di dalam ruang ICU namanya Yaksha, beliau juga merupakan dari neneknya Anggara.”
“Wuih, namanya keren-keren semua ya, Kek? Pasti dulu terlahir gaul,” gurau Reyhan.
“Hahaha! Kamu bisa saja. Oiya, kalau bisa jangan panggil saya 'kakek' panggil saja dengan sebutan opa. Biar terkesan kakek-kakek masa kekinian,” tawa kek Redo terdengar balik di pendengarannya Reyhan.
“Opa?”
“Iya. Opa Redo, hehehe!”
Reyhan terdiam sesaat. ‘Ngomong soal panggilan opa, kenapa gue malah jadi keinget Almarhum kakek gue? Padahal sudah lama gue lupain, juga oma. Ya, setidaknya kenangan itu masih tersimpan di memori.’
“Kamu yang sabar ya, Reyhan? Tetaplah tabah, Doakan selalu kakek dan nenekmu yang telah tenang di alam sana.” Ucapan kek Redo membuat anak muda remaja itu spontan tercengang.
“Opa b-bisa mendengar suara batin saya?! Indigo, dong!” pekik Reyhan.
Beliau lagi-lagi tertawa. “Kalau saya jujur, iya. Jika Anggara Indigo sudah pastinya kakeknya ini juga pemilik indera keenam. Jika diperhatikan dari sini, kamu mempunyai aura terbuka, ya? Auramu positif dan mampu membuat semua orang nyaman bila berada di dekatmu, terlebih watak kamu yang peramah.”
Reyhan hanya tersenyum kecil dengan mengangguk pelan menanggapi ucapan panjang lebarnya sang kakek sahabatnya. Ia sebenarnya dalam hati, amat bersyukur telah diberikan sebuah aura kelebihan untuk merasakan keberadaan makhluk gaib usai pasca Koma dari tragedi kecelakaan besar.
Saat sedang asyik berembuk ringan dengan sesekali mengeluarkan tawa untuk bersenda gurau, Reyhan dan kek Redo dikejutkan oleh dokter dan beberapa perawat yang berlarian masuk ke dalam ruang ICU-nya Angga. Mereka konstan berdiri dari kursi dengan rupa khawatir.
“Astaghfirullah! Apa yang terjadi lagi dengan cucuku?!” panik kek Redo seraya memegang dadanya yang detak jantungnya kembali berpacu kencang saat melihat tim medis mengepung raga Angga.
Sementara bola mata Reyhan terpusat singkat ke arah nek Yaksha yang posisinya sedang menangis keras walau suaranya sama sekali tak terdengar, dikarenakan ruangan intensif tersebut kedap suara. Tetapi berselang detik kemudian, napas Reyhan seperti dicekik oleh yang tak terlihat waktu dokter Ello memberikan kejutan alat nang beliau tempelkan di dada sahabatnya hingga membusung ke atas.
Sudah pasti dibuktikan jelas, bahwa detak jantung Angga kembali berhenti. Di luar Reyhan hanya bisa berdiri mematung menatap sang sahabat dengan air mata berlinang lagi membasahi kedua pipinya, bibirnya bungkam seakan mulut miliknya digembok.
Setelah beberapa kali usaha yang dilakukan oleh tenaga tangan dokter, dari luar jendela kaca transparan mampu kek Redo lihat dokter nang menangani cucu lelakinya kini sekarang membuka satu persatu mata Angga untuk menyorotkan pupilnya pada senter medis yang selalu beliau gembol di saku kantong jas putihnya.
“Saya masuk sebentar, ya!” gusar sang kakeknya Angga lalu meninggalkan Reyhan sendiri di ruang tunggu untuk masuk ke dalam ruangan rawat ICU milik cucunya.
Reyhan hanya mengangguk dan memperhatikan kek Redo yang berlari masuk ke dalam ruang ICU untuk menjumpai istrinya nang masih menangis tanpa berniat keluar usai diberi instruksi tegas oleh sang dokter.
__ADS_1
“Ada apa dengan Angga?!”
“WOY!” Reyhan langsung terjatuh di lantai usai dikagetkan hantu pemuda itu yang kembali ke dunia.
“Eh? Maaf! Kaget, ya?!” gegau Arseno.
Reyhan mendesis jengkel. “Gue gak akan kaget kalau lo kagak asal muncul tiba-tiba kayak gitu!”
“Hehehe! Iya, maaf. Namanya juga arwah, pasti langsung muncul mendadak tidak seperti manusia. Sini, aku bantu.” Arseno mengulur tangannya pada Reyhan untuk membantunya bangkit dari duduknya setelah terperosok.
BUM !!!
DUM !!!
BUM !!!
DUM !!!
“Suara hentakan siapa itu? Auranya juga terasa begitu kuat. Siapa, ya?” gumam Reyhan lalu tak ayal menolehkan kepalanya ke belakang untuk menengok.
Seakan-akan jantung Reyhan ingin stop berdetak saat melihat sosok makhluk pria bertubuh raksasa yang posisinya sedang menuju ke arahnya begitupun Arseno yang merupakan arwah pemilik energi dan aura positif. Sorot matanya amat tajam, ia menggunakan senjata mematikannya yang dirinya genggam untuk menyerang siapapun saja.
“Tutuplah matamu! Jangan dilihat kalau tidak ingin tenagamu melemah karena menatap aura negatifnya!” tukas Arseno sambil menggelapkan pandangan mata Reyhan pakai telapak tangannya.
“Ayo! Kita kabur dari sini!” Arseno menarik tangan Reyhan untuk mengajaknya lari dari makhluk raksasa mengerikan tersebut.
“JANGAN BERANI MENCOBA MANGKIR DARI HADAPANKU, WAHAI MAKHLUK LAZIM!!!”
“Cepat, Reyhan!!!” racau Arseno hingga tubuh manusia itu tertarik ke depan karena hantu tersebut tarik.
Mereka berdua kemudian berlari sekuat tenaga untuk menghindari makhluk menggentarkan itu yang lekas mengejarnya dengan langkah kaki besar. Suara hentakan itu, mampu menggetarkan jubin membuat keseimbangan tubuh Reyhan goyah terkecuali Arseno yang fokusnya tetap tak hilang.
“Sen! Lo bisa, kan jadi setan negatif bentar buat nyerang makhluk yang ada di belakang kita?! Daripada dikejar terus!”
Arseno menoleh ke arah Reyhan dengan wajah kagetnya. “Kamu sudah gila, ya?! Aku tidak bisa! Jika pun bisa, aku harus marah! Tapi sayangnya sekarang aku diselimuti ketakutan, bukan amarah! Bagaimana, dong?!”
“Ah payah banget, lo!”
“Hehehehe, maafkan aku!” ucap Arseno dengan bibir nyengir.
“Aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari wilayah tempat bangunan persinggahanku ini!” ancam makhluk raksasa.
“Mentang-mentang aku hanya sebatas hantu positif yang energinya setipis angin?! Ada hak apa kamu ingin menyingkirkan diriku, hah?!” sentak Arseno dengan suara tinggi walau hatinya dilanda cemas.
“KAAAAU!!!” geramnya.
“Duh, gawat! Dia semakin marah! Aku dan Reyhan harus segera pergi dari tempat ini secara otomatis!”
“Rey, kedipkan kedua matamu sebanyak empat kali! Kita berdua harus bergegas menghilangkan jejak dari makhluk kulasentana iblis itu!” komando Arseno.
“What the fucks?!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah menerima instruksi dari Arseno, Reyhan membuka matanya saat ia merasakan seperti sedang berada di atas udara yang banyaknya udara angin sepoi-sepoi nang mampu meniup rambut cokelat tulen miliknya Reyhan.
“Waaaaa!!!”
Arseno tersentak kaget nyaris jiwanya terlompat waktu mendengar Reyhan berteriak hingga reflek terjatuh di atas atap rumah sakit. Ada raut ketakutan luar biasa di manusia lelaki tampan itu yang Arseno lihat secara detail.
“W-woy! Lo Edan, ya ngajak gue ke genteng rumah sakit?! Bisa stop jantung, gue kalau caranya begini!” damprat kesal Reyhan usai menoleh ke arah arwah itu yang keadaannya tengah berdiri.
“Emangnya kenapa?!” pekik Arseno menjadi ikutan panik seperti Reyhan.
“Gue takut ketinggian, Anjiiiir!” rengek Reyhan sembari menghentakkan kedua kakinya layaknya seorang anak kecil yang tak dibelikan mainan sesuai keinginannya.
Arseno mengernyitkan dahinya. “Kok, bisa takut ketinggian?! Lelaki mana yang takut terhadap tinggi?”
“Gue punya penyakit Acrophobia, puas lo?!” bentak Reyhan karena rasa cemas nan takutnya semakin merajalela menyelimuti nirwana jiwanya.
“Penyakit apa tadi?!” Yang benar saja, Arseno tak dapat menangkap suara Reyhan ke dalam telinganya dikarenakan di ributkan oleh antara suara haluan angin beserta para kendaraan berlalu lalang di luar kawasan RS Medistra Kusuma.
“ACROPHOBIA!!! Itu kuping apa telinga, sih?!”
Arseno lantas langsung melindungi sepasang telinganya dari suara besar Reyhan yang meninggi dan menggelegar sampai meringis. “Kan, kuping sama telinga tidak ada bedanya, hehehe!”
“Argh, Bacot! Banyak cengengesan mulu, lo! Tanggung jawab lo karena sudah bawa gue kemari!”
Makhluk pemuda astral itu, meneguk ludahnya kasar di saat harus menghadapi manusia ini yang sedang dilumuri amukan emosi begitupula kecemasan. Arseno mulai membebaskan pendengarannya lalu melangkah untuk memberanikan diri menghampiri Reyhan yang rahangnya mengeras.
Ia berjongkok perlahan lalu menaruh pantatnya di atas atap genteng bitumen untuk duduk di sampingnya Reyhan. “Oke, aku akan dengan senang hati bertanggung jawab atas kesalahanku. Sekarang aku akan membantumu untuk menetralkan ketenanganmu, tunggu sebentar.”
Arseno mengambil napas panjangnya sejenak seraya mengangkat kedua tangan ke atas untuk mengeluarkan tenaga dalamnya, setelah itu ia mengusap dua telapak tangannya beberapa kali hingga timbulnya sebuah cahaya putih dipadukan asapnya dari bagian anggota tangan miliknya.
“Lo ...?! Lo mau apain gue lagi?! Elo gak ada niatan buat membunuh gue, kan?!” buncah Reyhan.
Wajah berseri Arseno yang terkena sorotan cahaya mantra abadinya, menggeleng kepalanya pelan dengan menatap Reyhan tersenyum. “Tenanglah, lebih baik sekarang kamu ikuti arahanku. Pejamkan matamu hingga aku selesai mengobati, kamu mengerti?”
Kepala Reyhan cuma manggut-manggut lalu memejamkan matanya perlahan untuk mengikuti arahan halus dari Arseno. Makhluk gaib itu tersenyum lalu segera menyentuh kedua bahu kokoh Reyhan yang mana cahaya mantranya masih setia bertengger di atas sepasang telapak tangannya.
Dalam mata yang tertutup, lambat berlalu Reyhan merasakan tubuhnya dibawa tenang oleh tenaga dalamnya Arseno yang dirinya salurkan bak aliran air di sungai. Sedamai tersebut mampu membuat hati Reyhan merasa tenang beserta detak jantung yang berdebar-debar kembali menjadi normal, walau keningnya masih basah dikarenakan terdapat keringat dingin akibat penyakit tertentu yang ia idap dari masa dini.
“Bagaimana? Sudah merasa sedikit tenang?” tanya lirih Arseno sambil melepas kedua telapak tangannya dari kedua pundaknya sang manusia.
Reyhan membuka matanya. Ia benar-benar merasakan bahwa hatinya kembali tenang seperti sediakala, dan sekarang ia mengangguk. “Hm, thanks.”
Arseno tersenyum lalu meluruskan kedua kakinya untuk bergaya selonjor. “Maaf, ya aku sudah melakukan teleportasi ke sini? Itu salah satu cara agar makhluk raksasa negatif tidak sanggup mengejar apalagi sampai mencari keberadaan posisi kita.”
Reyhan menghela napasnya dengan mengangkat wajah aura menawannya ke atas langit kelabu. “Ya, gue bisa memaklumi. Sebenarnya gue juga pernah melihat makhluk itu sebelumnya, hanya sesaat karena tiba-tiba semua pandangan gue gelap.”
“Akibat menatap auranya yang sangat negatif, kamu menjadi hilang kesadaran. Aku harus tahu banyak tentangmu, apalagi soal kelemahanmu. Ternyata ada banyak sekali, ya?”
“Ya, begitulah. Kalau kondisi gue sedang lagi gak sakit, gue mana mungkin bisa pingsan di depan ruang ICU-nya Angga? Gue masih bertanya-tanya, sebenernya itu makhluk apa. Heran saja, makhluk mengerikan yang seperti penghuni Neraka kenapa bisa berada di dalam rumah sakit sahabatnya gue.”
Arseno menghela napasnya panjang lalu ikut mendongakkan kepalanya ke atas luasnya langit. “Seperti yang ku tahu, itu adalah makhluk penyedot roh manusia setiap sang roh tak sengaja bertemu atau tercyduk padanya. Dia bernama Gilles.”
“Linggis?”
Arseno mendengus lalu terkekeh. “Gilles, Reyhan. Bukan linggis. Kamu pikir ada makhluk yang bernama linggis? Dasar konyol.”
Reyhan tersenyum hambar. “Lo tahu tentang makhluk titisan iblis itu darimana dan dari siapa?”
“Tidak dari siapa-siapa. Aku tahu sendiri begitu pertama melihat sosok raksasanya, tapi sepertinya aku sudah tidak bisa masuk ke dalam bangunan rumah sakit ini lagi esoknya. Dia sudah mengerti keberadaan diriku yang memiliki energi serta juga aura positif. Hhh, meresahkan.”
“Terima aja nasib apes lo,” cibir Reyhan.
Arseno menolehkan kepalanya dengan memasang muka lesu pada Reyhan. “Kamu ini. Tidak merasa kasihan kepadaku, kah?”
“Gak. Ngapain setan dikasihani? Don't level.”
Mulut Arseno menganga dengan menatap wajah dingin Reyhan yang tanpa ekspresi. Ia kemudian memilih kembali melihat langit kelabu nang mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
“Kapan lo sadar? Meski masih beberapa minggu, tapi kondisi Koma lo semakin parah, yang sering kehilangan detak jantung lah, apalah. Kalau begini caranya, bagaimana gue mau hidup tenang?” keluh Reyhan dengan bergumam.
Arseno yang mendengarnya, menoleh perlahan ke arah Reyhan nang mata hazel-nya masih setia memandangi langit. Ia juga bisa melihat air mata Reyhan turun dari pelupuk ke pipi secara sedikit demi sedikit. Reyhan telah banyak berusaha menenangkan pikirannya atau sekedar menghibur diri selama Angga masih tetap Koma, tetapi upayanya selalu dipersulit oleh keadaan buruk sahabatnya.
“Rey ...”
“Ya, apa?”
Arseno menghembuskan napasnya dengan mata menatap manusia yang bersedih hati itu. “Aku tahu hatimu hancur, aku tahu kamu kecewa dan tidak terima atas yang telah menimpa Angga karena perilaku ulah Gerald yang dendam padanya. Tetapi, apapun yang terjadi berikutnya, kamu harus siap jika Angga pergi meninggalkan kalian. Dikarenakan kondisi sahabatmu sudah sangat kurang dipastikan akan bertahan hidup lagi di dunia.”
Reyhan melimbai kepalanya kencang ke Arseno dengan wajah berantakan. “Kenapa lo ngomong gitu, Sen?! Lo ingin Angga mati?!”
“Bukan begitu, Reyhan! Dengarkan aku terlebih dahulu, aku tidak pernah berharap Angga mati. Aku inginnya dia tetap hidup di dunia bersama kalian, tetapi aku berbicara seperti itu karena aku selalu memperhatikan kondisi Angga setiap hari apalagi setiap dokter melakukan pemeriksaan pada sahabatmu! Jika itu memang terjadi, tolong lepas dan Ikhlaskan kepergiannya Angga. Agar di alam yang berbeda jiwanya tidak terkekang olehmu.”
Air mata Reyhan semakin berderai, bahkan dadanya kini terasa sesak setelah mendengar pernyataannya Arseno. “Gue gak bisa, Sen! Dia salah satu sahabat gue di dunia! Gue tidak akan mampu melepaskan kepergiannya, kami selalu bersama dari dulu SMP. Apakah segampang itu gue sanggup Ikhlas? Enggak!”
“Rey! Kamu tidak boleh seperti itu! Kamu jangan termakan dengan rasa egoismu! Bila memang kamu simpati pada Angga, tidak mungkin seharusnya kamu membiarkan dia tersiksa, kan?!” tegas Arseno.
“Ini hanya jika. Kamu bisa membantu Angga untuk sadar dengan selalu berdoa pada Tuhan untuk meminta kesembuhannya. Ku mohon, jangan terlalu terlarut dalam kepiluan, kamu harus mampu membangkitkan kembali dari patah semangatmu.”
Bibir Reyhan yang katup, bergetar. Air matanya terus mengalir saat ia memejamkan matanya dengan kuat. “Hiks! Anggara ...”
Kedua kaki Reyhan yang posisinya bertekuk, wajah sembabnya ia tenggelamkan di antara para lututnya. Suara isakan lengang itu mampu membuat hati Arseno menjadi kelam seketika. Dan pemuda arwah yang setara dengan usianya Reyhan, hanya bisa berinisiatif menepuk-nepuk punggung kokoh nang mana sekarang ini kondisinya amat tak berdaya.
INDIGO To Be Continued ›››
Note : Acrophobia adalah kondisi kesehatan mental dimana seseorang mengalami ketakutan yang intens terhadap ketinggian. Kondisi ini merupakan jenis gangguan kecemasan. Seseorang dengan Acrophobia mengalami ketakutan dan kecemasan yang intens ketika mereka memikirkan ketinggian atau saat berhadapan pada ketinggian
From_Halodoc
__ADS_1