Indigo

Indigo
Chapter 64 | Become the Second Target?!


__ADS_3

Gadis yang telah sampai di depan rumahnya yang tak lain adalah Freya, melepaskan helmnya lalu menyempatkan diri menoleh ke kiri untuk melihat sahabat kecil lelakinya. Freya reflek mencondongkan kepalanya ke depan saat sudah menghadapkan kepalanya ke samping kiri.


“Lha, Angga mana? Apa udah masuk ke dalem rumah, kali ya? Eh, tapi kok cepet banget masuknya kayak setan? Suara gerbang dibuka pasti terdengar, dong dari sini. Kemana, ya?” Freya setelah itu memutar sedikit kepalanya ke belakang mencari keberadaan Angga saat ini. Pemuda itu tak ada di belakangnya, malah kosong sepi di belakang.


Gadis cantik yang suka penampilan anggun dan feminim tersebut menggaruk pelan kepala bagian sebelah dengan mengerucutkan bibirnya disertakan memicingkan matanya.


“Apa si Angga lagi mampir-mampir dulu buat beli sesuatu? Atau malah pergi ke suatu tempat? Ah, kebiasaan deh dia tuh mampir gak bilang-bilang dulu! Eh, gimana ngomongnya kalau waktu tadi kondisinya lagi ngendara motor? Ya ampun, dasar bodoh kamu Freya.”


Freya menepuk keningnya usai bermonolog diri sendiri lalu memutuskan standar-kan satu motor putih kesayangannya kemudian turun dari motor matic tersebut untuk membuka gerbang hitam rumahnya. Gadis polos yang rambut hitam legamnya tergerai indah dan nampak halus, tak mau memusingkan keberadaan sahabat kecilnya. Akan tetapi saat Angga sudah sampai di rumah, niatnya Freya akan bertanya langsung pada lelaki tampan sahabatnya tersebut.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Jl Jiaulingga Mawar


Keadaan Angga yang tergeletak di pinggir jalan pintas sunyi tersebut membuat seorang pengendara mobil Pajero mengerem mobilnya dan segera turun dari mobil tersebut bersama penumpang di sebelah kursi kemudi atau bisa dibilang itu adalah salah satu teman dari pengendara mobil.


Seseorang dua pria paruh baya berlari dengan panik menghampiri Angga yang tergeletak di tanah pinggir jalan dengan mata tertutup dan mulut bungkam. Kedua pria tersebut bersamaan berjongkok di samping Angga terbaring yang nampaknya tengah tak sadarkan diri.


“Mas?! Mas?! Mas bangun, Mas?!” panggil panik salah satu pria paruh baya seraya menepuk keras kedua bahu Angga dengan mengguncang-guncangnya.


Sayangnya, Angga tetap bergeming. Tak ada pergerakan darinya bahkan responnya. Kedua pria paruh baya tersebut mulai mengubah posisi Angga menjadi terlentang, menjadi miris melihat kondisi wajah Angga yang terlihat pucat. Seorang pria paruh baya yang memiliki kumis tipis bernama Gandi atau pak Gandi, ikut mengguncang anggota tubuh Angga yaitu satu tangannya namun lelaki remaja yang pak Gandi bangunkan tetap tak kunjung sadar.


“Pak! Haduh bagaimana, ini?! Mas-nya gak segera-segera sadar! Kalau saya lihat dari sini kayaknya anak ini nggak kecelakaan, deh Pak. Mukanya juga pucet banget!” panik pak Gandi tak tahu harus bagaimana.


Pria paruh baya satunya tanpa ada kumis ialah bernama Amran atau pak Amran dengan cekatan mengeluarkan botol minyak angin ukuran kecil di dalam kantung kemeja batiknya yang beliau bawa. Pak Gandi terus menatapi Angga dengan membawa pikiran negatif jika lelaki itu ada terjadi apa-apa.


“Pak, sepertinya saya harus cek pernafasan Mas-nya dulu, memastikan Mas-nya masih bernyawa atau sudah tidak bernyawa lagi.” Pak Amran mengangguk setuju kemudian beliau yang berinisiatif mengecek pernapasan milik Angga dengan cara menempel sisi jari telunjuk tangannya di dekat hidung mancung Angga tepatnya di dekat kedua lubang hidungnya.


Pak Gandi membelalakkan kedua matanya dengan mulut menganga lebar, yang beliau rasakan sudah tak ada hembusan napas Angga. Beliau spontan menoleh ke pak Amran dengan wajah Syok-nya dan paniknya. “Ya Allah, Pak! Mas-nya sudah meninggal!”


“Astagfirullah! Yang benar, Pak?!” Pak Gandi yang tak percaya pada temannya, mencoba dengan cepat mengangkat tangan lemas pemuda tersebut yang ada di depannya kemudian menekan denyut nadinya yang berada di pergelangan tangannya.


“Bagaimana, Pak?! Benar kan?!”


Pak Amran berdecak lantas itu menoleh ke pak Gandi yang di hadapannya. “Bapak ini ngomong apa, sih?! Anak ini belum meninggal tapi masih hidup! Haduh, sore-sore udah bikin saya takut saja, deh.”


“Oh begitu ya, Pak?! Alhamdulillah kalau begitu! Ck tidak benar nih, pasti gara-gara saya yang terlalu panik sama keadaan mas-nya.Tapi Pak, urang kedah kumaha?! Kusabab geus lima menit, mas oge teu hudang! Anjeun tiasa ningali sorangan, beungeutna bener bulak (Tapi Pak, kita berdua harus bagaimana?! Karena sudah lima menit mas-nya juga nggak bangun-bangun. Bapak bisa lihat sendiri, kan wajahnya sungguh pucat sekali)”


“Nah itulah, Pak! Kondisinya juga keliatan lemah bener. Pas saya sentuh pipinya juga panas, pasti dia sedang demam hingga anak ini pingsan di pinggir jalan. Sepertinya begitu, Pak Gandi.”


Beruntung saja pak Amran mengerti bahasa Sundanya pak Gandi yang beliau lontarkan pada pak Amran. Sekarang pak Amran membuka tutup botol minyak angin yang warnanya dominan hijau dan akan beliau dekatkan ujung aroma minyak angin tersebut ke hidung Angga. Tetapi pak Gandi sudah dahulu menghentikan tangan pak Amran yang mengulur.


“Jangan atuh, Pak Amran!”


“Lho, memangnya kenapa, Pak?!”


“Haduh, bahaya Pak! Minyak angin itu kan aromanya sangat menyengat, takutnya mas-nya yang kondisinya lagi pingsan ini malah jadi bahaya banget. Takutnya dan bahayanya pernafasannya bisa terganggu karena aroma minyak angin ini.”


“Lho, Pak? Bukannya malah terbalik, ya? Memang benar aromanya menyengat tetapi ini sangat berguna untuk cepat menyadarkan mas ini.”


Pak Gandi yang berpikir pada ucapan pak Amran dengan merenungkan, beliau akhirnya melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan pak Amran. Pak Amran dengan begitu di lepaskan, mulai mengoles pelipis Angga bersama Fresh Care kayu putih yang di pegang oleh beliau dan beralih setelah itu pak Amran mendekatkan ujung aroma minyak angin kayu putih tersebut di hidung pemuda itu yang masih saja senantiasa tutup mata.


“Ayo Nak, sadar. Bapak minta tolong,” pinta pak Amran dengan tangan tetap memegang alat yang dalamnya terdapat minyak aroma kayu putih.


Sedangkan pak Gandi mencari sesuatu di kantong saku jaket coklat Angga untuk menghubungi keluarga dari pemuda tersebut, namun yang di temukan pak Gandi malah bungkusan obat yang terkemas di strip.


“Pak, mas ini punya penyakit sesuatu apa gimana, ya? Lihat nih Pak apa yang saya temukan.”


Pak Amran yang mengharap Angga segera sadar dari pingsannya menarik wajahnya sedikit dan menatap apa yang kini pak Gandi pegang. “Obat?”


“Iya Pak betul sekali. Saya pastikan ini bukan obat yang memiliki zat berbahaya tetapi obat resep dari dokter. Obat medis.”


Pak Amran mengangguk pelan. Kemudian pak Gandi mulai mencari ponsel Angga yang keluarganya bisa untuk dihubungi. Setelah menemukan ponsel Angga yang ada di dalam saku celana jeansnya di bagian depan, pak Gandi segera membuka layar ponsel milik pemuda tersebut. Akan tapi malangnya rupanya layar beranda HP-nya tak bisa dibuka sebelum kata angka sandinya dibuka dengan 6 digit yang sangat tepat.


“Waduh-waduh! Gimana ini atuh, Pak! Mana HP mas-nya di kunci pakai kata sandi, lagi. Saya jadi susah buat hubungi keluarganya.”


Pak Amran yang mempunyai tindakan sesuatu segera menyingkirkan Fresh Care tersebut dari hidung Angga lalu menutupnya dengan tutup asalnya. Beliau memasukkan alat kecil yang beraroma menyegarkan itu ke dalam kantong kemejanya kembali.


“Mas-nya dari tadi kita bangunin nggak ada sadarnya bahkan dengan saya terapi pakai minyak angin juga gak ada efeknya. Pak, bagaimana kalau kita bawa anak ini ke rumah sakit. Kalau kita diamkan di sini terus, bisa bahaya juga, lho Pak. Apalagi sudah sepuluh menit ini mas-nya gak kunjung bangun.”


“Apa tidak masalah, Pak? Lalu bagaimana dengan keluarganya yang ada di rumah?”


“Itu kita pikirkan nanti, lebih baik sekarang kita bawa anak ini ke rumah sakit. Masih muda juga jangan dibiarkan sakitnya tambah parah. Ayo Pak!”


“Iya-iya, Pak!”


Pak Amran perlahan mengangkat kepala yang habis ini beliau dan pak Gandi angkat tubuhnya Angga yang terasa panas itu ke dalam mobilnya pak Amran. Akan tetapi baru saja akan mengangkat tubuhnya, Angga membuka matanya perlahan membuat pak Amran dan pak Gandi menampilkan wajah sumringah bahagianya dan hatinya begitu lega.


“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak.” Pak Amran perlahan membangkitkan tubuh Angga untuk berposisi duduk sementara pak Gandi meluruskan kedua kaki Angga.


Wajah Angga nampak linglung, seperti tak ingat apa yang terjadi dengannya. Setelah tak menunggu beberapa menit, pandangan Angga yang blur menjadi jelas, bahkan kini pemuda itu membuka suaranya dengan sangat lemah.


“Bapak ini siapa ...?”


“Bapak dan teman Bapak lewat sini dan melihat kamu tergeletak di pinggir jalan. Kamu pingsan, tadinya sebenarnya Bapak ingin membawamu ke rumah sakit soalnya kamu gak kunjung sadar, tapi Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga, Mas.”


“S-saya pingsan ...?” Angga memastikan perkataan pak Amran.


“Iya, Mas. Oh iya Mas-nya gimana? Pusing? Sakit kepala? Atau mual?” tanya pak Gandi.


Angga yang sebetulnya kepala dirinya masih terasa begitu sakit, menggelengkan kepalanya bahwa ia tak apa-apa. Ya, pemuda itu tak ingin merepotkan kedua pria paruh baya tersebut yang tadinya telah menolongnya.


“Beneran, Mas? Mukanya pucet bener, loh! Tubuh kamu juga panas, Mas-nya lagi demam kok malah pergi-pergi atuh? Bahaya buat kesehatan Mas-nya,” ucap pak Gandi dengan nada risau.


“S-saya tidak apa-apa, Pak ...”


“Kamu jangan begitu, tubuhmu lemes banget soalnya. Gini saja biar aman dan selamat, kamu Bapak antar ke alamat rumahmu. Nah biar pak Gandi yang bawa motor kamu sampai rumah.”


“J-jangan, Pak. Tidak perlu sampai begitu ... saya tidak ingin sekali merepotkan Bapak, saya juga masih kuat mengendara motor sampai ke rumah.”


“Mas-nya yakin? Kami tidak mau Mas-nya kenapa-napa di jalan, apalagi yang namanya mengendarai itu harus fokus. Kalau lagi sakit tapi malah jalanin kendaraan malah justru membahayakan Mas sendiri. Tolong ya, Mas biarkan kami membantu Mas-nya.”


“Tidak usah Pak, Bapak tidak perlu menghawatirkan keadaan saya. Saya benar-benar masih kuat ... kalau begitu saya pamit pulang, ya Pak. Terimakasih atas tawarannya tadi dan terimakasih sudah menolong saya.”


Angga perlahan dengan tenaga lemah bangkit berdiri dan dengan langkah sempoyongan pergi menuju ke motornya. Pak Gandi dan pak Amran meringis memperhatikan cara langkah pemuda itu yang masih begitu lemas, namun karena Angga lelaki keras kepala mereka berdua hanya membiarkannya saja alias tak memaksa.


Sebelum Angga menjalankan kecepatan standar motor Hondanya, Angga menyempatkan diri menolehkan kepalanya yang telah terbungkus helm ke arah pak Amran dan pak Gandi untuk melemparkan senyumannya. Lalu setelah itu Angga menghadapkan kepalanya kembali ke depan dan kemudian pemuda tersebut menjalankan mesin motornya meninggalkan kedua pria paruh baya itu sekaligus meninggalkan Jl Jiaulingga Mawar yang terkenal sepi jarang ada kendaraan berlalu lalang.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di perjalanan kota menuju ke gang komplek Permata, Angga terus mengedipkan matanya dan menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa sakit kepalanya yang masih menerjang yang membuat Angga kurang fokus berkendara. Sialnya dan gawatnya pandangan mata Angga kembali buram dengan 98 persen.


Angga memutuskan mempercepat laju mesin motornya agar segera tiba di komplek Permata yang mana itu adalah lokasi alamat rumahnya begitupun Freya. Dan akhirnya setelah usaha pemuda itu, tibalah di gang komplek Permata. Perlu menempuh beberapa kilometer untuk sampai di rumahnya.


Angga menyusuri beberapa rumah warga dalam komplek dengan kondisi motor oleng-oleng bahkan saking harus menahan rasa hebat sakitnya itu, dirinya merapatkan kedua bibirnya.


Sesampainya di depan gerbang rumah, Angga mematikan mesin motornya melalui kunci motornya dengan cara di putar. Angga turun dari kendaraan miliknya. Kedua tangan saling gemetaran itu membuka gerbang hitam rumahnya dengan sekuat tenaga yang Angga punya, baru saja mendorongnya sedikit gerbangnya kepalanya serasa di pukul oleh palu beberapa kali, amat sakit sekali. Hal itu membuat satu tangan Angga terlepas dari gerbangnya dan memegang kepalanya dengan menunduk sementara telapak kiri tangannya menempel di bagian gerbang yang Angga buka.


Di sisi lain, Freya yang ingin menyisir bulu halus sutranya hewan kucing peliharaannya yang berjenis Persia malah mencoba kabur lari dari rumah. Gadis cantik itu yang tak mau kucing kesayangannya pergi begitu saja terlebihnya takut di ambil oleh orang lain meletakkan segera sisir khusus kucing tersebut yang ia pegang lalu cekatan berlari mengejar kucingnya yang telah berhasil melesat melewati gerbang rumahnya yang sedikit terbuka.

__ADS_1


“Heh Kouko jangan kabur! Nanti kalau kabur gak aku kasih makan, loh!” ancam Freya pada kucing putih Persia-nya.


Sementara Rani dan Lucas yang sibuk bersama mengurusi tanaman-tanaman bunga yang terlihat indah, hanya terkekeh pada ancaman anak putrinya itu yang terdengar menggelikan cara bicaranya pada kucing kesayangannya.


Sekarang di luar gerbang, gadis itu akhirnya berhasil menangkap tubuh gempal kucing miliknya. Tapi saat sedang menggendongnya, Freya tak sengaja melihat ke arah depan tepatnya Angga yang nampak diam bukan hanya diam saja, akan namun seraya menahan rasa sakitnya. Gadis itu penasaran apa yang terjadi dengan sahabatnya, maka dari hal tersebut Freya segera memasukkan kucing putihnya ke dalam rumah sebentar lalu setelah itu menghampiri Angga.


Karena rumah Freya dan Angga hanya bersebrangan hanya beberapa sentimeter saja Freya telah sampai di rumah pemuda itu lebih betul-nya depan gerbang. Angga sebenarnya tahu Freya ada di sampingnya namun faktor dari sakit kepalanya itu membuat Angga sukar mengeluarkan kata-kata apapun.


“Ngga? Ngga? Kamu kenapa, kok kayak kesakitan begitu?!”


Yang di tanya dengan rasa perasaan risau, hanya menggertakkan giginya kuat dan sedikit terdengar merintih. Freya mencoba memegang tangan Angga yang telapaknya ia tempel di gerbang. Terasa panas dan bergetar.


“Ngga! Kamu kenapa, sih?! Tanganmu panas banget!”


Freya beralih menangkup wajah Angga yang sementara sedari tadi Angga telah melepaskan helmnya dari kepala. Kedua telapak tangan yang Freya tangkup di muka Angga, memang seiras panasnya tangan yang tadi gadis itu pegang. Freya mencoba memutar posisi kepala sahabatnya ke arahnya.


“Ya ampun, Angga! Muka kamu pucet banget! Ih, kamu ini habis darimana sih?! Pulang-pulang langsung bikin getir begini!”


Angga mendongakkan kepalanya lemah untuk menatap lemas wajah sahabat kecilnya. “M-m-maaf ...”


Bersamaan itu dada Angga terasa tercekat dan sesak, mencoba bertahan agar Freya yang ada di hadapannya tak kalut pada kondisinya, sedangkan dirinya telah termasuk melanggar ucapan sang dokter yang memantaunya dulu di RS Kusuma kota Bogor, yang mana sang dokter menyarankan untuk tidak menunda-nunda meminum obat tersebut jika rasa sakit kepalanya kembali menyerang.


Namun apa daya? Pandangan Angga secepat itu buram 100 persen, dan setelahnya telinganya berdenging bahkan kepalanya pusing berputar-putar. Baru saja Freya akan memanggil kedua orangtuanya Angga yang ada di dalam rumah, Angga sudah tumbang ambruk di aspal.


Brugh !


“Nggaaaaa!!!”


Teriakan lengking gadis itu membuat Andrana dan Agra yang sedang menyiapkan makan malam segera meninggalkan dapur dan pergi keluar rumah untuk mencari sumber teriakan Freya begitupun dengan kedua orangtuanya Freya yang sibuk merawat para tanamannya.


“Ngga! Kamu bisa dengar aku?!” Freya dengan panik mengguncang kedua bahu Angga yang sang empu telah menutup mata. “Ngga! Ayo bangun dong! Jangan bikin aku takut lagi kayak dulu!”


Gadis itu dengan paniknya dan air mata yang bergulir ke pipinya menarik-narik kedua kerah jaket Angga agar pemuda itu segera sadarkan diri. Namun nihilnya tak berjaya.


Sepasang suami istri yang telah keluar dari gerbang rumah Angga begitu terkejut melihat anak semata wayangnya terbaring lemah pejam mata. Sedangkan Freya yang masih berjongkok tengah berusaha membangunkan Angga.


“Ya Allah, Nak??!!” Andrana ikut berjongkok di samping Angga dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


Andrana yang panik langsung segera menoleh ke arah Freya. “Nak Freya! Angga kenapa?!”


“Freya nggak tau, Tante! Tiba-tiba saja Angga pingsan!”


Sementara Agra mulai kalut dan bingung harus bagaimana. “Jangan panik seperti itu, lebih baik anakmu di bawa dulu ke dalam rumah. Biar aku sama istriku bantu kalian.”


Ucapan Lucas langsung di beri angguk kepala oleh Agra dan Andrana yang telah mengeluarkan air matanya. Freya mulai melepaskan kedua tangannya dari kerah jaket Angga dan bangkit berdiri, membiarkan kedua orangtuanya serta kedua orangtuanya Angga membawa tubuh sahabatnya ke dalam rumahnya. Gadis itu menggigit bibirnya dengan detak jantung berdebar sangat takut Angga terjadi sesuatu yang berbahaya seperti dulu, apalagi sampai tak sadarkan diri lagi seperti ini.


Freya bersama langkah kaki yang gemetaran mengikuti Agra, Andrana, Rani, dan Lucas dari belakang sambil memainkan jari jemari lentik dari tangannya dengan rasa kalut tak karuan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Setelah beberapa lama jam Angga pingsan, akhirnya pemuda itu kesadarannya kembali berangsur pulih. Dirinya membuka mata perlahan-lahan, pandangan buram itu Angga coba mengerjapkan matanya berkali-kali hingga pandangan miliknya sangat jelas. Bukan di dalam rumah, bukan di rumah sakit tetapi tempat yang sepi senyapnya larut malam.


Ya, Angga tahu ia ada dimana. Jalan pintas yang mana tadi sore Angga tergeletak tak sadarkan diri tepat baringnya saat ini. Angin sepoi-sepoi mencekam membuat Angga yang masih terbaring mulai bangkit dan berposisi duduk. Tangannya meraih kepalanya yang terasa sakit sembari memandang sekeliling tempat ia berada sekarang.


“Bukannya tadi gue sudah pulang ke rumah? Kenapa gue bisa ada di sini lagi?” Angga merenung. “Jadi, siapa yang naruh gue di sini?”


“Siapa lagi kalau bukan aku, Anggara? Wahahahaha!!”


Suara menyeramkan itu membuat Angga sedikit terkejut dan mendongak kepalanya ke atas. Karena memang sendang suara itu berasal di atas langit yang tertutup banyaknya dedaunan pepohonan besar tersebut.


“Kenapa? Apakah kamu terkejut? Hahahaha, sudah aku duga itu kamu pasti nggak menyangka!”


“Sesuatu yang aku inginkan tentunya. Jadi, aku harap kamu bersenang-senang apa yang aku buat padamu habis ini, huahahahaha!”


Angga meraung marah dengan geram pada ungkapan Arseno yang mengajaknya ia bermain sesuatu yang pastinya mampu mengancam nyawa lelaki Indigo tersebut. Angga cepat berdiri dan memutuskan mangkir dari permainan nanti.


Angga berlari ke satu arah untuk pergi ke rumahnya meskipun tak ada alat transportasi yang Angga gunakan. Tak ada motor, bahkan ponselnya yang di dalam saku jeansnya. Namun sudah sejauh mungkin Angga berlari memakai tenaga maksimalnya untuk menghindari Arseno yang tak ada wujudnya, bahkan suaranya sudah tak ada...


Duagh !


Brugh !!


“Argh!”


Angga terpental dan jatuh mendarat di aspal tengah jalan dengan keras. Angga memegang tangannya bawah bahu seraya mendesis. Bodohnya dirinya Angga tak tahu kalau di sana terpampang tembok transparan yang sekali sentuh bisa membuat terpelanting contohnya seperti dirinya ini.


“Sial! Gue sudah di perangkap sama Arwah negatif itu!”


Dengan tertatih-tatih karena sekujur tubuhnya telah menghantam aspal, Angga berusaha bangkit berdiri dan melangkah tetap bersikeras mencari jalan keluar untuk terbebas dari jalan sunyi gelap tersebut.


Sepertinya Angga harus pergi ke arah yang lain yang mana pastinya Angga akan menuju ke jalan kota yang terjadi sering kemacetan padat, tapi kalau sudah sangat malam seperti ini mungkin jalan telah lumayan sepi.


Baru beberapa langkah dengan mendesis kesakitan, Angga sudah merasakan janggal duluan di jalan yang akan ia pijak. Angga menghentikan jalannya dan membentang satu tangannya ke depan untuk memastikan feeling miliknya benar atau tidak.


Drrzz !


“Akh! Sssshh!”


Sebuah dinding transparan yang sepadan seperti dinding berada di belakang sana ternyata memiliki efek-efek yang berbeda ialah tembok transparan pertama mampu yang menyentuhnya membuat terpantul kuat dan tembok transparan kedua mengandung setruman berbahaya jika di sentuh sedikitpun. Lihatlah telapak tangan Angga, bukannya menghitam tetapi membiru keabuan. Sungguh tak bisa dimengerti dan tak bisa masuk ke dalam logika.


Angga memegang pergelangan tangannya yang telapak tangan miliknya berubah warna kulit akibat menyentuh tembok kematian itu. Pemuda tersebut rada mengibaskan telapak tangannya yang terasa kebas dan otot-otot jarinya terasa kaku.


Angga berpikir sambil menatap tembok mematikan itu yang tak terlihat sebagai jebakan untuknya. Kalau dirinya menyentuh lama dinding itu, kemungkinan besar nyawanya direnggut sia-sia begitu saja. Dan artinya Angga kalah dalam permainan mengerikan ini dari Arseno yang memberikannya pada manusia si indera keenam dengan tega.


Angga sedikit membungkukkan badannya dan mulai mengepal telapak tangannya yang kebas perlahan agar otot tulang jari-jarinya kembali berfungsi seperti sedia kala, sementara tangan satunya terus menggenggam pergelangan tangan kanannya.


Tanpa Angga sadari dari depan ujung sana, jalan tersebut sedikit demi sedikit meretak beraturan lurus mengarah menuju ke Angga yang tengah berdiri. Namun karena suara retakan aspal itu terdengar begitu jelas bukan samar-samar, Angga menghadapkan kepalanya ke samping tepatnya pada retakan jalan aspal itu yang akan runtuh menerjunkan Angga jatuh ke bawah.


Mata Angga mencuat kaget dan spontan berjalan langkah mundur cepat menghindari retakan yang mulai tak beraturan akan runtuh. Tak hanya retakan itu saja akan tetapi di tambah tempat jalan pintas tersebut berguncang-guncang dahsyat membuat tubuh Angga terombang-ambing kencang sampai langkahnya menjadi mundur-mundur dengan sendirinya hingga kakinya sampai di tepi jurang.


Angga berupaya menjaga keseimbangannya agar tubuhnya tak terjatuh ke jurang, namun itu mustahil sekali kalau sampai Angga hebat sekali menahan dirinya untuk tak jatuh ke jurang. Guncangan itu begitu kuat sehingga Angga sukar menjaga keseimbangan tubuhnya.


baru akan memegang erat pohon agar ia tak terhuyung ke belakang, kerah belakang jaketnya di tarik kencang oleh Arseno ke jurang. “Dasar manusia Indigo yang bodoh! Bisa juga kamu tidak peka keberadaan sosok auraku, huahahahaha!!”


Sreett !


Disaat Angga dijatuhkan Arseno ke dalam jurang yang gelap itu, jalan aspal yang seharusnya retak tak beraturan dan guncangan tempat tersebut malah merata kembali dan tak terjadi lagi goyangan kuat seperti musibah gempa alam besar. Di dalam gelapnya jurang, Angga tak langsung terjun namun jurang yang juga curam itu berhasil buat tubuh Angga terguling-guling kencang di situ.


Angga di dalam sana hanya bisa menahan rasa sakit yang ada di seluruh tubuhnya, tanah curam permukaan keras serta puluhan bebatuan ukuran sedang mengenai punggung, dada kepala dan anggota tubuh lainnya. Angga tak posisi buka mata tetapi memejamkan matanya, merasakan apa yang terjadi dengannya selanjutnya setelah penderitaan yang masih berlangsung dan tak berhenti-henti.


Sekarang setelah begitu lama ia merasakan kesakitan dan dirinya yang berguling-guling kecepatan maksimal, Angga merasakan dirinya terjun ke bawah dengan kencang hingga rambutnya tertiup ke atas. Tubuh dirinya tak menegang tetapi lemas, karena tidak ada yang bisa ia lakukan selain terjun sedalam ini.


BRUGH !!!


Lebih kuat di banding ia mendarat jatuh di aspal jalan usai terpental dari tembok transparan pertama, ini jauh hebat benturan itu. Lagi-lagi Angga membentur kuat di permukaan yang kasar membuat dirinya kesulitan untuk bangun, sendi tulang punggungnya seakan-akan mau patah. Suara kesakitan Angga yang menggema mengisi kesunyian gua.


Gua? Bagaimana bisa? Tidakkah itu masuk akal? Angga menopang kedua tangannya di atas permukaan kasar yang berbau tanah, untuk berusaha bangun dengan sekuat tenaga yang kini ia miliki. Seluruh pakaian yang pemuda tersebut kenakan begitu menjadi kotor termasuk sepasang sepatu merk yang ia pakai.


Meskipun kepalanya terasa pusing, tapi Angga mencoba mendongak ke atas dinding gua yang bagaimana mungkin ia bisa berada di dalam tempat gelap dan yang jarang ia kunjungi kecuali dalam mimpi. Oh ternyata yang benar saja dirinya bisa jatuh di dalam gua, rupanya ada sebuah lubang besar di ujung atas sana. Hanya satu lubang saja, tak ada lebih dari satu lubang. Di atas sana terpampang jelas sedikit langit terlihat, tentunya langit malam yang sudah tak ada bulan yang menerangi. Ya, bulan indah itu telah ditutup oleh sang awan malam.

__ADS_1


Angga menundukkan kepalanya dengan menghembuskan napasnya dengan letih. Tanpa sengaja ia ketahui, telapak tangan kanannya yang kulitnya berbeda akibat kejadian tersebut kembali seperti kulit aslinya. Untung saja efeknya bisa menghilang secara berangsur beberapa menit.


Krek !


Tek !


Tek !


Tek !


Bunyi suara tulang-tulang yang tak jauh dari pendengaran Angga, membuat lelaki itu yang meratapi telapak tangan kanannya mendongak ke arah suara bunyi tulang-tulang yang berisik tersebut.


Tubuh Angga mematung beku dengan pandangan mata tetap hadap depan apa yang ia tatap ini. Meskipun begitu, detak jantung Angga tak ikut mematung diam namun berdebar kencang dan darahnya bersedir saking terkesiapnya.


‘Tengkorak hidup?!’


Bola mata Angga bergerak menatap satu persatu tengkorak-tengkorak yang terdapat banyak bercak-bercak darah. Makhluk tulang hidup itu nampak berbaris secara Horizontal, meskipun tak mempunyai bola mata namun Angga bisa lihat dan pasti bahwa tengkorak hidup berbau amis itu menatap Angga.


Bersamaan Angga menghembuskan napasnya lewat mulutnya yang sedikit terbuka, para tengkorak yang bak memiliki nyawa melangkah sejajar mendekati manusia itu yang telah berkeringat dingin.


“Mau kemana kamu wahai, anak muda?” tanya para tengkorak itu yang mampu bersuara.


“Tengkorak aneh!” Angga memaksa diri untuk bangkit berdiri dan lari balik badan kabur dari tengkorak-tengkorak tersebut. Angga semakin menambah kecepatan laju larinya menjadi marathon karena tulang hidup itu malah justru mengejar dirinya secara brutal.


Tiba saat itu juga Angga melihat sebuah pintu besi yang posisinya tertutup rapat. Inilah kesempatan terbaiknya tak lagi melihat beberapa tengkorak tersebut yang baunya menyengat. Kedua tangan Angga mengulur langsung setelah hampir di dekat pintu besi tersebut.


BRAKK !!


Angga membuka kencang pintu besi itu dengan sepenuh tenaga karena yang namanya pintu besi pasti begitu berat untuk di buka secara di dorong. Para tengkorak itu yang nampak marah segera Angga tutup kencang dan rapat pintu itu dengan tenaganya yang sekarang ia punya.


BRAKK !!


“Hosh ... hosh ... hosh ...”


Angga membungkukkan badannya dengan kedua telapak tangan menyentuh lutut kakinya masing-masing seraya menetralkan aturan napasnya yang tersengal-sengal akibat berlari kencang tadi. Dan sekarang Angga berada di tempat yang ada penerangan cahaya lampu membuat hati Angga lumayan tenang daripada yang sebelumnya.


Angga menegakkan badannya dan mulai memutar tubuhnya ke belakang, Angga menautkan kedua alisnya bingung. Ruang Laboratorium?


Tersusunnya alat-alat khusus untuk praktek kimia di dalam ruangan tersebut. Tempatnya juga bersih dan rapi, tak ada bau-bau aneh serta kekotoran yang membuat Angga tidak betah dan ingin keluar. Angga berjalan di atas lantai lalu menyusuri dalam ruangan itu dengan menatap sekeliling tempat yang bertembok kanan kiri putih sementara dinding atas berwarna dominan warna biru muda.


Namun ada sesuatu yang menjadi perhatian Angga, kontak matanya terpusat pada pintu kecil di bawah meja praktek. Angga menyipitkan dua matanya lalu berjongkok di hadapan pintu kecil tersebut.


“Pintu apa ini?”


Angga yang penasaran, menggapai gagang pintu kecil tersebut menggunakan satu tangannya untuk membukanya dan mengecek ada apa di dalam pintu asing yang baru pertama Angga lihat ini.


Krieeett !


Whuuuuuusst...


Kompaknya Angga membuka pintu jati tersebut, datanglah hembusan angin yang tiba-tiba ada. Sepertinya saat Angga melihat ruangan ini tak ada ventilasi jendela untuk angin ini mampu masuk dengan bebasnya.


Angga agak menarik hidungnya ke atas karena bau anyir yang menyeruak masuk ke dalam penciuman hidung lelaki tersebut. Kemudian Angga menoleh ke belakang dan melihat sesuatu yang tak ia duga.


Banyaknya jumlah potongan daging busuk besar yang di gantung bersama rantai di atas dinding, di wadah bening alat kimia juga terisi beberapa bola mata manusia dengan urat-urat yang terdapat di bagian putih matanya tersebut. Tak itu saja yang ada, namun ada pula bekas cipratan darah di setiap tembok di ruang Laboratorium yang menjadi terai aura mencekam.


Dinding-dinding semua itu telah pudar cat warnanya bahkan ada yang sampai terkelupas, lampu di atas juga redup yang menjadi suasana buruk di pandang. Baru fokusnya memandang situasi ruangan tersebut, ada tangan yang mencekal kaki tulang kering Angga dengan begitu kuat.


Saat Angga melihatnya, rupanya sepotong tangan manusia yang hanya sampai pergelangannya lah yang memegang kuat kaki dirinya. Angga dengan ekspresi jijik karena busuknya tangan tersebut, segera menariknya dari kaki miliknya kemudian dengan berani melemparnya kuat ke tembok hingga tangan yang ringkih itu hancur begitu saja.


Angga menelan ludahnya, tak menyangka setelah ia meremukkan telapak tangan mengerikan yang berlendir itu ia di datangi puluhan telapak tangan yang sama seperti yang telah Angga hancurkan. Entah berasal darimana tangan manusia tersebut, tetapi sekarang telapak tangan busuk dan berlendir itu dengan cepat mengejar Angga bersama langkah jari-jarinya tersendiri.


Angga segera membuka lebar pintu jati itu dan segera memasukinya. Aman sekali karena ukuran pintu itu adalah seperti Angga jika merangkak. Kini Angga mulai merangkak dan memasuki dalam pintu tersebut dengan langkah kilat.


Setelah berhasil masuk, tempat ruangan lorong yang lumayan lebar untuk Angga berbalik posisi tangan Angga spontan menutup kencang pintu jati itu dengan rapat. Tetapi para telapak tangan manusia menjijikan itu yang ada di luar malah mendobrak-dobrak pintu tersebut yang Angga tahan menggunakan tangan kanan bawah pundaknya.


Angga meringis tak tahu bagaimana agar makhluk berjumlah puluhan itu tak berjaya memasuki dalam pintu ini, tetapi mata Angga menangkap besi berukuran sedang namun panjang. Ide cemerlang otak Angga muncul, untuk menggunakan benda itu sebagai penahan pintu agar makhluk-makhluk tersebut yang di luar tak berhasil masuk. Angga memasang besi panjang itu di dalam bolongan gagang pintu dengan tepat.


Setelah memasangnya, Angga perlahan melepaskan tangannya dari pintu jati. Memastikan makhluk tangan telapak busuk berbau bangkai itu tak bisa membanting pintu tersebut.


Yeah! Apa yang dilakukan Angga berhasil juga akhirnya!


Angga tersenyum miring dan kembali berbalik badan dengan masih merangkak. Baiklah, sekarang Angga perlu menyusuri lorong ini hingga mendapatkan jalan keluarnya. Butuh beberapa lama ia menempuh lorong yang arahnya tak ada pembelokan sama sekali.


Rasa gerah di tubuhnya menyelimuti karena lorong tersebut begitu pengap meskipun ada oksigen namun tak ada udara segar. Arwah negatif itu memang sengaja membuat Angga menderita, tetapi manusia itu tak ada yang namanya menyerah. Jiwanya selalu pantang mundur kecuali kalau itu sudah takdirnya.


Usai merasakan kegerahan yang membuat Angga ingin secepatnya keluar, akhirnya dirinya menemukan jalan keluarnya. Angga butuh merangkak lagi untuk bisa keluar dari lorong panjang itu dan setelahnya baru Angga bangkit berdiri.


Angga berdecak dalam lubuk hatinya, bukan jalan keluar yang tepat tapi tempat yang asing lagi. Sungguh membuat dirinya kesal. Di bawah sana terdapat pusaran air yang gelap bahkan pemuda itu sampai merinding melihat pusaran air tersebut.


Ada jalan lain tetapi ada di jauh depan sana. Angga tak bisa melangkah menuju ke ujung sana karena tak ada jalan seperti jembatan atau lain-lainnya yang bisa Angga langkah untuk sanggup pergi ke sana.


Angga berjalan ke tepi yang di bawahnya adalah pusaran air. Tunggu, diperhatikan dengan sungguh-sungguh ternyata ada jalan jembatan lurus yang wujud bendanya bening. Ini sangat memungkinkan Angga bisa pergi ke sana untuk menjadi kebebasan jalan keluar.


Angga melangkahkan kaki kanannya ke depan dan memijak jembatan itu, lalu selanjutnya kaki kiri yang ia langkahkan ke depan. Pemuda tersebut mulai berjalan di atas jembatan bening nyaris tak terlihat itu hingga sampai di pertengahan jembatan.


Ting !


Ting !


Ting !


Ting !


Ting !


Suara seperti ketukan gelas kaca hingga lima kali, jembatan yang menetap di situ dan dilangkahi Angga menghilang begitu saja. Apa boleh buat sekarang? Aduh!


“Sial! Gue di jebak lagi!”


Angga terjun kembali jatuh ke dalam pusaran air yang masih bergerak berputar, terjatuh sia-sia yang padahal dirinya hampir sampai di ujung sana.


BYUR !!



Pusaran air itu berhenti setelah Angga terjebur dalam air gelap tersebut walaupun hanya sedikit cahaya terang di atas permukaan air. Angga membuka matanya dalam permukaan air tersebut, sepertinya di sekitarnya tak ada ikan predator yang akan menerkamnya hidup-hidup.


Jantung Angga seolah-olah ingin berhenti atas kehadiran Arseno di hadapannya secara tiba-tiba. Kedua bola matanya yang bergelantungan di bawah organ matanya menatap Angga penuh arti dan senyuman menyeringai menyeramkan, namun Angga tak takut dengan Arwah itu sama sekali.


Tak ada yang Angga lakukan pada sosok hantu itu, namun Arwah lelaki seumurnya dengan cekatan mencekik leher Angga bersama kedua tangannya. Cekikan itu membuat napas Angga tercekat apalagi dirinya yang belum keluar dari dalam permukaan air.


“Angga .. Angga, aku heran padamu. Kenapa di sepanjang perjuanganmu untuk bebas dari permainanku, kamu nggak menggunakan terawangan kelebihan mu? Apakah mata batin yang kamu kuasai telah menghilang dengan sendirinya?”


Angga tak bisa mengeluarkan suaranya bahkan membuka mulutnya selama di dalam air, sedangkan Arseno tertawa kencang bahagia di atas penderitaan manusia Indigo itu yang menjadi target keduanya.


“Apakah kamu tidak sadar kalau yang bergantian memberikan hidup yang sengsara dan teror untukmu adalah dari aku sendiri? Bagus kamu sedari tadi nggak menyadarinya. Kamu memang manusia Indigo yang mempunyai otak stupid dan cara berpikir mu terlalu dangkal, huahahahaha!”


Arseno menghilang pergi dari hadapan Angga yang masih diam tak bergerak sedikitpun. Ingin sekali Angga berenang ke atas, namun seluruh tenaganya telah habis. Merasa sudah tak sanggup buka mata, perlahan mata Angga terpejam dengan tubuh mengambang di dalam permukaan air yang gelap.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2