Indigo

Indigo
Chapter 138 | Prone


__ADS_3

Pemuda tampan Indigo itu sedang memasang kunci motor pada tempat khusus yang semestinya, lalu memutarnya ke kanan untuk menyalakan mesin motor Honda Vario hitamnya. Akan tetapi anehnya saat Angga menyalakan mesinnya menggunakan kunci, mesin motornya tak mau menyala. Angga bahkan mencoba membolak-balikkan arah putaran kunci motornya secara berulang-ulang kali namun hasilnya tidak berbuah.


“Masalah apa lagi dengan motor ini?” tanya Angga dengan monolog.


Angga menghempaskan napasnya kasar. Tak mungkin juga mesin motornya rusak secara tiba-tiba nan juga tak mungkin bensinnya habis. Dikarenakan kemarin hari Minggu, dirinya pergi ke Pom bensin untuk mengisi ulang oli motor tersebut.


“Selamat pagi, Angga!”


Sapaan panggilan semangat dari seorang gadis yang bernada lengking tersebut tak asing lagi di pendengaran telinga Angga. Pemuda itu segera menolehkan kepalanya ke samping. “Pagi juga.”


“Kamu udah siap, nih? Kamu janji, kan mau berangkat bareng sama aku, hehehe!” ucap Freya seraya masih melangkah untuk menghampiri kekasihnya yang berada di samping motor.


“Iya. Tapi sebentar, ya? Mesin motorku gak mau nyala, nggak tau kenapa,” tanggap lembut Angga kemudian fokus kembali pada motornya yang nampaknya memang tengah bermasalah.


Freya yang telah berada di sebelahnya Angga, kedua telapak tangannya saling menekan jok motor lelakinya dengan berjinjit. “Lah? Ada apa sama motormu? Bukannya kemarin hari Minggu bensinnya udah kamu isi di sana?”


“Iya, kemarin sore sebelum Ashar sudah aku isi bensinnya. Tapi entah kenapa, motornya gak mau menyala. Aku juga cuman punya kunci ini gak ada cadangannya, salah kunci juga tidak mungkin.”


Freya menganggukkan kepalanya. “Aneh juga, sih. Sebelumnya kan motormu sudah kamu servis gara-gara kecelakaan yang dulu. Gini aja deh, daripada terlalu banyak memakan waktu dan kita berakhir terlambat ke sekolah, mending kita ke sekolahnya naik bus aja, yuk.”


“Naik bus?”


“Hm'em. Soal motornya lebih baik diurus nanti saja pas pulang sekolah, gimana?” tanya Freya membutuh kepastian jawaban Angga.


Pada ujungnya pula Angga menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis. “Oke kalau maumu begitu, ayo.”


“Kunci motornya? Gak kamu masukin dulu ke dalem rumah?” tanya Freya lagi dengan menunjuk kunci motor yang sedang pacarnya cabut.


Angga langsung memasukkan kunci motor punyanya di tas ranselnya bagian paling depan sendiri. “Ribet. Taruh dalem tas aman gak mungkin hilang, kok.”


“Yaudah, ayo!” semangat girang Freya seraya menarik kencang tangan kanan Angga.


Di jalan komplek untuk menuju halte bus yang ada di sebrang gang komplek Permata, sepasang kekasih tersebut berjalan secara beriringan, tentunya sambil bergandengan tangan. Para wanita paruh baya yang sedang membeli sayur-mayur di pedagang pria bertopi yang menggunakan mobil pickup Carry, menatap kedua remaja SMA itu yang nampak bahagia berjalan bersama dengan senda guraunya.


“Eh, Ibu-ibu? Itu kok si Angga sama Freya gandengan tangan gitu, ya? Bukannya mereka berdua hanya sebatas sahabat dari kecil? Sahabat rasanya seperti pacar kalau dilihat,” ujar salah satu wanita paruh baya yang mengenakan baju daster pada para tetangganya.


“Iya, ya! Mana mesra banget, lagi. Apa jangan-jangan sudah jadi sepasang jodoh kali ya, Bu? Mereka kan udah lama banget bersama apalagi dua anak itu tetangga seberangan,” jawab tetangganya yang di rambutnya memakai bandana merah muda.


“Aduh, aku jadi penasaran banget! Mereka itu beneran udah jadi pacar atau masih sahabat. Soalnya heran juga, sih Freya pacaran sama Angga. Apalagi itu anaknya bu Andrana dan pak Agra, dingin banget. Mana mau Freya berkasih dengan Angga yang sifatnya cuek, kaku.”


Angga yang mendengar para gosip ketiga wanita paruh baya tersebut yang berpakaian daster itu, begitu amat risih malar mereka membicarakan tentang dirinya. Bahkan hal itu, membuat sang pemuda tampan berkulit putih bersih melirik sinis dengan tampang wajah dinginnya.


‘Dasar ibu-ibu rempong. Kerjaannya hanya bisa menggosip orang lain saja.’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah menunggu mobil bus untuk menuju ke SMA Galaxy Admara, kini Angga dan Freya tengah duduk di kursi bus belakang barisan kedua. Sebelum menduduki pantatnya, Angga meminta kekasihnya buat duduk di pojok kaca jendela yang posisinya terbuka agak lebar, alasannya agar gadis cantik miliknya itu terlindungi dan aman dari seseorang yang berusaha menggodanya atau menyakitinya.


“Kamu kalau duduk di situ, bakal aman. Gak akan ada orang yang mau apa-apain kamu,” tutur Angga.


Freya tersenyum manis pada Angga. “Dijagain banget pacarnya kayak benda harta kesayangan.”


“Bukan begitu. Aku gak mau kamu terluka, sekecil pun saja aku gak ingin apalagi kalau kamu sampai dibully sama mereka bertiga.”


“Ehmm .. maksud kamu Youra, Febrie, sama Claudie?” tanya Freya memastikan dengan menatap mata abu-abu kekasihnya.


Angga menganggukkan kepalanya. Kemudian Freya membuka mulutnya untuk bercakap pada Angga yang masih nyaman menatap gadis cantik jelita itu bersama wajah tampan teduhnya, “Tapi mereka sudah jarang bully aku kok. Cuman terakhir aja Youra ganggu aku pakai silet tajam itu.”


Angga mengubahkan wajahnya menjadi dingin. “Intinya kalau dia atau dua sahabatnya gangguin kamu lagi, jangan segan-segan untuk lapor sama aku.”


Freya mengerutkan jidatnya. “Emangnya kalau aku lapor sama kamu, kamu bakal apain mereka? Jangan dilabrak, loh!”


Angga menghembuskan napasnya lembut. “Buat apa aku labrak mereka? Melabrak orang saja aku gak pernah.”


“Hahahaha! Iya deh, iya. Aku percaya kok sama kamu,” tanggap Freya seraya tangannya mengeluarkan sekotak bekal.


Angga menggelengkan kepalanya melihat wajah riangnya Freya yang sangat cerah itu, kemudian setelah itu dirinya menyandarkan punggungnya usai melepaskan tas ransel hitamnya dan ia dekap di dada. Berselang menit setelahnya, otak Angga terputar pada kejadian 2 hari lalu yang terjadi di kawasan kolam renang rumahnya.


Bisikan, beberapa sosok bayangan. Itu terus memenuhi pikirannya Angga, bahkan ia berusaha menghilangkan memori tersebut namun susah. Sesuai apa yang Angga alami, dirinya tak bisa mengetahui aura Emlano apalagi maksud dari hal-hal gaib waktu 2 hari lepas. Sementara Freya sedang membuka kotak bekal pink magenta miliknya yang di dalamnya ada dua roti selai anggur.


Freya menggoyang-goyang lengan kanan Angga dengan menawari roti yang ia bakar menggunakan bread toaster tadi di rumah sebelum berangkat bersama sang kekasih terhebatnya. Tetapi nampaknya Angga sama sekali tak berkutik atas goyangan yang dilakukan gadis lugu tersebut.


Pandangan lurus ke depan dengan kosong. Freya mendengus disertakan memanyunkan bibirnya karena lagi-lagi hal ini terulang lagi. Segera tangan kirinya ia angkat untuk mencolek-colek pipi mulus bagian kanan Angga pakai jari lentik telunjuknya.


Colekan itu yang diberikan Freya, membuat seketika Angga terhilang dari lamunannya. Pemuda tersebut menolehkan kepalanya ke arah pacarnya yang mukanya cemberut. “Kamu kenapa cemberut?”


“Aku gak akan cemberut kalau kamu enggak ngelamun!” ketus Freya menatap tajam Angga.


Angga tersenyum pahit dengan mengusap tengkuk miliknya yang dingin karena terkena angin. "Maaf. Kamu bawa bekal apa, tuh?”


“Punya mata, kan? Coba lihat aja aku bawa apa buat kamu!” ketus gadis itu lagi.


Angga menghela napasnya. “Iya-iya ampun. Jangan marah begitu, dong.”


“Jangan ngelamun lagi! Nanti kalau ragamu ujung-ujungnya dimasukin setan, gimana? Hih! Apa enggak ngeri?”


Angga tertawa kecil melihat Freya yang bergidik takut setelah mengeluarkan kalimat tersebut yang gadis cantik itu ucapkan untuknya. “Semuanya buat aku, nih roti bakar selai anggurnya? Makasih!”


Angga langsung mengambil kotak bekal kekasihnya dari paha kaki Freya. Freya melongo dengan menyusutkan jidatnya melihat laku tingkah lelaki tampan tersebut yang asal ambil tanpa izin. Refleknya, Freya memukul pelan ringan tangan kanan Angga. “Enak aja! Jangan semuanya juga dong! Berbagi!”


“Pppfft! Oke-oke, aku hanya bercanda doang, kok.” Angga mengembalikan kotak bekal Freya dengan di imbuh dengan tertawa renyah karena berhasil membuat kekasihnya menampilkan muka sebalnya.


“Tingkah gelagatmu itu, loh.”


“Kenapa?” tanya Angga berhenti tertawa.


“Bikin aku gak bisa marah lagi sama kamu,” jawab Freya seraya mengambil salah satu roti bakar selai anggurnya lalu menggigitnya dari ujung.


“Bagus, dong. Karena kamu itu adalah perempuan yang nggak gampang marah, bisa dikatakan kamu itu perempuan kalem yang setenang damainya air.”


“Bisa aja kamu, Ngga.” Kini Freya tertawa akibat Angga yang memang berusaha membuat dirinya kembali tertawa.


Angga tersenyum hangat. “Ini rotinya boleh aku ambil, nih? Perutku keroncongan lihat roti bakarnya.”


“Boleh. Tapi ada satu syarat, kamu harus bayar seharga dua ribu, sesuai roti bakar yang dijual Bi Oda kantin sekolah,” seloroh Freya.


Angga tersenyum miring karena dirinya sangat tahu bahwa pacarnya sedang mengajak bergurau dengannya. “Sama pacarnya sendiri dilarang pamrih.”


Angga mengatakan kalimat itu pada Freya dengan menarik hidung mancung sempurnanya sang kekasih cantiknya, membuat Freya mengaduh kesakitan dan merengek minta dilepaskan segera. Tengoklah, para perempuan siswi yang bersekolah di SMA lain begitu iri melihat kemesraan sepasang kekasih tersebut. Mereka ingin diperlakukan gemas, sayang seperti itu dengan lelaki, namun masalahnya mereka sedang mengalami Jomblo. Tidak apa-apa, itu artinya mereka tengah dicarikan jodoh yang sangat pantas lepau mereka bersama Sang Maha Pencipta untuk dikirimkannya ke mereka.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Jam telah berganti. Di waktu istirahat masih berlangsung, gadis berambut hitam legam sepunggung yang tak lain adalah Freya tengah berada di dalam ruang perpustakaan untuk mengembalikan buku novel genre Fantasi tentang kerajaan duniawi sihir yang dirinya pinjam beberapa hari yang lalu.


Setelah meletakkan di rak pada yang sepantasnya sesuai genre jenis buku novelnya, Freya balik badan meninggalkan ruang perpustakaan lantai 3 tak lupa berpamitan sopan santun pada pak Arya yang sedang berkutat dengan game online sepak bolanya di ponsel Androidnya di kursi tempat menjaga ruangan khusus membaca buku tersebut.


Di lorong yang sepi, gadis bertubuh postur tinggi 164 sentimeter tersebut menyusuri jalan lantai 3 untuk turun dari lantai itu. Masih ada beberapa menit lagi buat Freya temui kedua sahabatnya dan sang kekasih tersayangnya di suatu tempat.


Baru saja akan menuruni undakan anak tangga, Freya terkejut setelah matanya menangkap sosok Youra yang sedang berdiri bersandar di dinding samping tangga dengan mengulum permen sunduk Chupa Chups rasa stoberinya. Ada rasa takut dan kesal menjadi satu di hatinya Freya.


‘Aduh, kenapa aku harus bertemu dengan Youra, sih? Mending aku pura-pura gak lihat saja deh biar aman dan gak terjadi apa-apa. Huh, tenang Freya ...’


Freya menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya keluar. Gadis tersebut tetap melangkah dengan santai dan tenang, seolah benar-benar tidak melihat gadis aura hitam itu yang matanya sedang mengintai dirinya. Namun karena Freya tak melihat langkah kakinya, berakhirlah saat Youra mengangkat kaki kirinya untuk menjegal kakinya Freya, musuh bebuyutannya Youra tersandung jatuh ke bawah tangga.


“Aaaaaa!”


DUAKH !!!


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Lorong Lantai 1 - Kantin


Jova bersama satu sahabatnya yaitu Reyhan, memakan siomay hangatnya sembari menunggu kedatangannya Angga yang belum kunjung kembali ke kantin. Kepala Jova celingak-celinguk melihat luar gang kantin beberapa kali.


“Lama banget dah si Angga! Keburu siomaynya dingin!” protes Jova seraya mengunyah makanannya yang terkumpul di dalam mulutnya.


“Udah, gakpapa. Nanti kalau bel masuk bunyi dan Angga belum balik-balik, siomaynya biar aku makan,” timpal Reyhan usai menyedot minuman jeruk perasnya pakai sedotan plastik yang tersedia.


“Kan bel masuk, Nyuk! Mana boleh makan,” respon Jova dengan menoleh ke arah sahabat lelakinya.


“Tau! Maksudnya biar dibungkus sama abangnya terus jam istirahat kedua aku makan. Begitu, lho maksudku. Hih! Gak ngerti-ngerti!”


“Salahnya situ ngomong setengah-setengah! Bicara tuh yang jelas! Oh iya, si Freya juga belum ke sini juga? Padahal cuman balikin buku novelnya doang,” celoteh omel Jova.


“Berisik amat, dah! Paling Freya ketemu sama Angga dijalan terus Angga ngajak pacarnya ngedate di taman sekolah. Kemungkinan begitu, soalnya aku sendiri gak bisa menerawang keberadaan mereka berdua yang suka mesra-mesra, bikin rasa iri-ku tuh meronta-ronta karena masih Jomblo. Udahlah mending kamu makan aja siomaynya! Tuh, saking banyak kwek-kwek-kwek air liur bekas makananmu netes dari mulutmu. Iyuh!”


Mata Jova membelalak saat disadarkan oleh Reyhan yang air liurnya memang benar menetes. Segera, Jova cabut secarik tisu kering dari wadak kotak persegi lalu mengelap mulutnya secepat mungkin. Namun dirinya juga kesal pada perkataan Reyhan.


“Kwek-kwek-kwek?! Kamu pikir aku bebek?! Heh! Yang suka banyak bacot kayak bebek bertelur itu kamu, Kunyuk Sutres cowok memperngeseliiiin!!!” sengit Jova menarik rambut cokelat Reyhan bagian atas.


“Akh-akh-akh! Jangan jambak rambutku, woi! Bisa plontos kepalaku, Nona Sableng cewek memperkampreeeet!!!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Mata Youra mencuat dengan mematung kaget apa yang dirinya lihat. Sementara Freya yang tadi mendengar suara benturan yang sangat keras ke tembok, membuka matanya. Ia tidak merasakan kesakitan tubuh dimanapun, bahkan sepertinya ada seseorang yang melindunginya dari benturan tembok tangga tersebut.


Freya mencoba membangkitkan tubuhnya yang posisinya terlungkup, namun di saat waktu gadis cantik tersebut menggerakkan tubuhnya, ada dua tangan yang jatuh terkulai lemas ke lantai dari punggung mungilnya. Freya mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menolongnya.


DEG !


“Angga??!!!”


Detak jantung milik Freya berdebar-debar tak menentu saat melihat mata kekasihnya terpejam tidak sadarkan diri di hadapannya dalam posisi terduduk di lantai. Gadis tersebut menangkup wajah Angga dan menggoyang-goyangkannya berharap segera bangun.


“Angga, bangun-” Freya berhenti meminta Angga untuk kembali sadarkan diri dan menolehkan kepalanya ke arah Youra yang berada di atas tangga dengan tampang terkejutnya.


“Youra! Bantuin aku ...!” rengek mohon Freya pada gadis yang sedikit berdandan tersebut, bahkan air matanya telah berkumpul di kedua pelupuk matanya.


Yang diminta pertolongan darurat, malah justru berlari kencang untuk kabur dari masalah yang telah ia perbuat. Yang celaka harusnya Freya malah Angga yang celaka karena mengorbankan diri untuk kekasihnya. Freya dari bawah menggertakkan giginya dikarenakan orang yang ia minta tolong sudah lari mangkir darinya begitupun Angga yang masih belum sadarkan diri.


Freya kembali menolehkan kepalanya ke arah Angga dengan raut wajah paniknya. “Ih! Kamu kenapa sih malah nyelametin aku! Udah tau kepalamu itu rawan banget yang namanya kebentur benda keras!”


KRIIIIIIIING !!!

__ADS_1


Freya menarik wajah cantiknya ke atas saat mendengar suara bel masuk kelas dibunyikan secara sangat nyaring. “Duh gawat! Mana udah bel, lagi! Apa yang harus aku lakukan buat Angga?!”


Freya menarik kedua bahu lemas pemuda tampan Indigo tersebut yang otomatis badannya tercondong ke depan. Gadis itu memeluk tubuh lemah tak berdaya milik Angga, lalu tangannya meraih kepala bagian belakang pacarnya untuk mengecek kondisinya. Ternyata saat Freya sentuh, kepalanya lumayan panas akibat terkena benturan kuat di tembok tadi, parahnya berhasil membuat Angga hilang kesadaran langsung.


“Baik, Kak nanti di jam istirahat kedua Alex akan beritahu ke pak Harden soal tentang yang terkait.”


“Mantap, Lex! Sono balik ke kelas, gue juga mau balik ke kelas,” suruh Johan yang hendak menaiki tangga ke lantai 3


Freya sontak menoleh ke bawah tangga yang di sana terdapat dua siswa berpakaian seragam jas almamaternya. “Kak Johan?! Alex?!”


Yang merasa terpanggil oleh gadis, Alex sang ketua OSIS dan Johan sang ketua PMR kompak menolehkan kepalanya ke samping. Alex mengerutkan keningnya melihat orang terdekatnya Angga di lantai tangga. “Freya??”


“Wakil gue kenapa, Coy??!!” teriak panik Johan seraya menaiki tangga dengan mata melotot lebar saat melihat Angga yang lemah tak berdaya di dalam dekapannya Freya.


“Kakak! Tolong bantuin Freya! Angga pingsan!!” gusar Freya sambil mengurai pelukannya dari tubuh lemasnya pemuda tampan itu.


“Kronologinya bagaimana kok Angga bisa pingsan seperti ini?!” tanya Alex dengan nada tinggi, jujur saja lelaki pemegang bangunan sekolah internasional milik Ansel itu juga panik melihat keadaan sahabatnya Reyhan.


“Tadi sebelum Angga pingsan, kepalanya Angga terbentur di tembok ini, Lex! Itu yang mengakibatkan Angga gak sadarkan diri sampai sekarang!” jelas Freya dengan menyentuh dinding untuk menunjukkannya pada Alex.


“Aduh! Bahaya juga, nih! Yasudah, biar Kakak bawa Angga ke ruang UKS!” desak Johan seraya menarik kedua tangan lemas adik kelasnya untuk menggendong belakang Angga dan lekas cepat membawanya ke ruangan UKS yang ada di lantai 2


Freya bangkit dari duduknya di lantai yang dingin seraya mengusap air matanya, begitupun Alex yang bangkit dari jongkoknya. Kini Johan dengan gesit namun tetap hati-hati, menuruni undakan anak tangga terakhir diikuti oleh Alex begitupun kekasihnya Angga yang sedang menahan rasa panik dan takutnya bila terjadi sesuatu pada Angga.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Para siswa-siswi banyak berhamburan keluar dari kantin hingga tempat kantin tersebut menjadi sepi atas kepergian mereka semua karena harus segera masuk ke dalam ruang kelasnya masing-masing termasuk Reyhan dan Jova.


Kedua sahabat sejoli itu yang sedang tengah mengeluarkan gelak tawa untuk menepis kecanggungan diperjalanan menuju kelas XI IPA 2 yang terletak di lantai 2 ini, dihentikan oleh suara Alex yang memanggilnya dari depan.


Reyhan begitupun gadis sahabat Tomboy-nya menghentikan langkahnya bersamaan saat mendapatkan sosok Alex. “Lex? Kenapa lo manggil kami?”


“Gue hanya ingin memberitahu kalian berdua kalau Angga masuk UKS. Kondisinya saat ini lagi nggak sadarkan diri. Itu saja info yang gue berikan,” ucap Alex.


“Apa?! Lo yang serius!” kejut Reyhan dengan tak percaya atas informasi yang Alex lontarkan.


“Ini hal penting yang harus gue kasih tau! Buat apa juga gue menipu atau mengada-ada? Kalau lo memang gak percaya, lo cari aja buktinya di UKS-”


“Alexander Rosefel!” panggil salah satu siswa anggota OSIS seraya berlari tergesa-gesa mendatangi ketua OSIS-nya yang sedang berdiri di hadapannya Reyhan dan Jova.


“Ada apa?” tanya Alex.


Siswa itu berhenti dan mengatur napasnya sejenak. “Hosh! Hosh! Woi! Lo dipanggil sama kepala sekolah .. seluruh OSIS ada suatu rapat di ruangan. Cepetan, Bro! Selak ditungguin, noh!”


“Bukannya kemarin hari Jumat sudah ada rapat OSIS, kenapa ada rapat lagi?” tanya Alex dengan santainya.


“Bah, nanya mulu dah lo! Gue juga gak tau, tapi rapat penting, Cuy! Capek juga gue ada rapat melulu!”


“Oke. Rey, Va gue duluan. Kalian kalau memang mau jenguk Angga tinggal jenguk saja, gue pergi dulu.”


Reyhan menganggukkan kepalanya. “Makasih infonya tadi soal mengenai Angga.”


Siswa itu segera menarik tangan Alex. “Dadah my Darling Jova yang cantik, aku pergi dulu, ya? Kiss jauh buatmu, muah!”


Siswa itu melakukan gerakan kiss bye untuk Jova membuat gadis Tomboy itu bergidik geli. “Idih! Dasar cowok buaya darat! Mending aku sama Reyhan aja daripada sama elo yang playboy!”


“W-what?!” kaget Reyhan dengan mata mendelik.


Alex yang mendengarnya hanya merapatkan bibirnya untuk menahan tawanya karena melihat ekspresi terkejutnya sang teman yang dulu pernah menjadi musuh bebuyutannya. Jova pun menutup mulutnya dikarenakan tersadar kalau dirinya barusan asal omong kelepasan, sementara kedua pemuda OSIS itu telah meninggalkannya.


‘Apa yang barusan gue katakan?! Gilak! Jangan sampe si Reyhan kege-eran soal apa yang gue bilang.’


Jova langsung meninggalkan Reyhan yang sedang melongo lebar karena masih tak percaya apa yang sahabatnya lontarkan. Tentu saja, Jova berjalan ke ruang UKS sambil menahan malunya karena tak sengaja mengatakan hal seperti itu, bahkan gadis tersebut sampai menepuk-nepuk mulutnya.


“Stupid-stupid-stupid-stupid !”


“Va! Tungguin, dong! Asal main minggat aja! Lupa, apa kamu lagi sama sahabatnya sendiri?!” teriak Reyhan seraya berlari menghampiri Jova yang sudah menjauh.


“Kamu-nya aja yang kelamaan!!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam ruang UKS yang hanya diisi suara hembusan angin yang masuk melalui jendela nang terbuka dengan lebar, Freya tengah memijat lengan tangan kiri lemas kekasihnya yang matanya senantiasa terpejam tenang. Mungkin di jam pelajarannya bu Sonya sang guru Kimia, Freya meninggalkannya untuk sementara dan memilih menemani Angga yang terbaring lemah di salah satu kasur ranjang UKS.


“Angga, bangun dong ...”


BRAK !


Freya terperanjat kaget nyaris tubuhnya terlompat dari kursi saking kerasnya bantingan pintu ruangan yang dibuka kasar oleh seseorang. Freya segera menyerong badan mungilnya ke arah pintu dan langsung mendapati Jova yang masuk ke dalam ruangan UKS. “Jovata?! Ih, kaget loh aku!”


“Sori, kekencengan. Hehehe! Anu, si Angga gimana kondisinya?! Udah sadar belum??” tanya cemas Jova sambil berjalan mendekati kasur ranjang tempat sahabat Introvert-nya terbaring bersama selimut yang menyelimuti tubuhnya.


“Ehm ...” Freya menggelengkan kepalanya lemah dengan wajah gundahnya.


Jova menghembuskan napasnya pasrah dengan kondisi keadaan Angga yang kembali seperti ini. Sementara Reyhan yang baru saja sampai, segera berlari mendatangi sahabat lelakinya dengan panik. Dirinya langsung melihat wajahnya Angga yang pucat walau sebelumnya terlihat biasa.


“Frey! Coba kamu ceritain ke aku sama Jova, gimana kronologinya si Angga bisa pingsan?! Tadi pas mau menuju ke kelas, aku dan Jova dikasih tau sama Alex mengenai kondisinya Angga.”


Freya menggigit bibirnya dengan menundukkan kepalanya secara perlahan-lahan. “Tadi Angga menyelamatkan aku dari celaka yang dibuat sama Youra, Rey ...”


“Youra punya niat jatuhin aku dari tangga. Kukira yang bakal terluka dari insiden itu, aku sendiri. Tapi rupanya justru malah Angga yang terkena insiden peristiwa itu. Aku gak bisa menyalahkan Youra, karena dia pastinya hanya ingin aku saja yang kena siasat jahatnya, bukan Angga.”


Reyhan mengeraskan rahang bawahnya dengan tangan terkepal kuat, ia harus mampu meredam emosinya dikarenakan yang membuat Angga celaka adalah perempuan bukan lelaki. Jika lelaki, sudah lain jadinya.


“Bangsat itu cewek satu! Emang gak ada habis-habisnya ganggu sahabat gue! Perlu kasih pelajaran yang sedap, ini!” emosi Jova seraya memutar tubuhnya, namun langkahnya terhenti saat tangannya dicekal kuat oleh Reyhan.


“Gak usah! Kamu mau buat keributan lagi sama dia yang pernah kamu lakukan?! Aku gak mau, ya kamu masuk BK karena ulahmu!” tegas Reyhan.


Jova mendengus saja tanpa menyangkal Reyhan yang telah bersuara tegas padanya. Baru kali ini lelaki humoris tersebut memberikan ketegasan padanya. Kemudian, Reyhan menoleh menatap Freya yang kepalanya terus menunduk.


“Kamu ngapain nunduk gitu? Mana mukanya kayak takut gitu, lagi. Ada hantu, kah?” tanya Reyhan.


“Bukan karena ada hantu. Suara kamu tinggi banget kayak tower, kan suaranya jadi serem ...” jawab Freya apa adanya.


“Eeee ... maaf-maaf. Aku gak bermaksud begitu, terlanjur emosi duluan sama dia, huh!”


“Hahahaha!”


Reyhan menoleh sinis Jova. “Bisa ketawa juga kamu, ya? Gak usah ketawa!”


Jova seketika langsung tersihir dari suara suruhan Reyhan. Gadis tersebut menghentikan tawanya lalu mengubahnya dengan bawah bibir yang ia majukan. Freya yang melihat reaksi Jova yang tumben menuruti Reyhan, menggelengkan kepalanya bersama senyuman tipis.


“Lebih baik kalian ke kelas saja deh, sana. Pasti sekarang bu Sonya lagi menerangi materi di kelas,” komando Freya lemah lembut.


“Lalu kamu gimana?” tanya Jova nang harusnya yang bertanya itu adalah Reyhan.


“Aku tetap di sini buat jagain Angga. Jadi nanti kalau Angga sudah sadar dan butuh sesuatu, biar aku yang tandang.”


Reyhan menganggukkan kepalanya. “Oke kalau begitu. Aku sama Jova ke kelas dulu, ya? Nanti kalau jam istirahat kedua dibunyikan kami ke sini lagi sama temen-temen lain.”


“Siap, Rey. Kalian yang semangat ya belajarnya, hehehe!”


Reyhan hanya meringis senyum menanggapi ucapannya Freya yang tersenyum manis padanya. “Ayo, Va kita ke kelas sekarang. Entar, kita ketinggalan materi, lagi!”


“Your life is so unfortunate, Angga.” Jova yang belum kunjung meninggalkan ruang UKS dan malah masih menatap sendu Angga, membuat Reyhan menghela napasnya yang pemuda itu telah berada di ambang pintu. Segera Reyhan hampiri sahabatnya dan ia rangkul kencang.


“Udah ayo, cepetan! Nanti bisa jenguk Angga lagi kalau udah jam istirahat kedua!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah beberapa jam tidak sadarkan diri, pemuda tampan Indigo itu membuka matanya dengan gerakan yang sangat lemah. Pandangan pertama yang Angga lihat adalah begitu tak jelas alias buram, namun ia bisa merasakan bahwa ada beberapa orang di sekelilingnya terbaring. Sungguh, kepalanya terasa amat sakit berdenyut-denyutan hingga membuat ia terpaksa memejamkan matanya bersama meraih kepalanya untuk ia pegang.


Kedua mata Freya berkedip-kedip karena baru menyadari kekasihnya telah siuman apalagi kini sekarang tengah memegang kepalanya. “Angga?! Kamu sudah sadar?!”


Angga mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengembalikan pandangannya supaya menjadi jernih macam semula. Setelah 5 menit berlalu, Angga akhirnya bisa melihat beberapa remaja yang rupanya sedari tadi menunggunya sadar. Mereka nampak saling menenteng tas ranselnya masing-masing dipundak kanan.


“K-kalian ...”


“Jangan bilang lo gak kenal kami semua, Ngga?!” takut Jevran dengan meringis menatap Angga.


Dengan lemas, Angga menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke arah Jevran yang ada di depannya. “Maksudnya ...?”


Lala langsung menyiku kencang lengan Jevran dengan tampang wajah kesal. “Ini anak, ya! Temennya baru sadar, kamu malah ngomong gak jelas begitu! Kamu pikir Angga Amnesia, hah?!”


“Apaan, sih?! Sakit, tau! Y-ya kan siapa tau aja gara-gara kepalanya kebentur tembok tadi bikin Angga hilang ingatan seketika,” protes Jevran seraya mengusap-usap lengannya.


Freya perlahan membangunkan Angga dari baring untuk mengubah posisi pacarnya menjadi duduk. Freya juga menegakkan bantalnya di kepala ranjang agar lelaki tampan bermuka pucat tersebut bisa bersandar dengan nyaman. Setelah menyenderkan punggung Angga di belakang bantal, Freya mengambil segelas air putih dari meja nakas.


“Nih, di minum dulu. Pasti kamu haus,” sodor Freya lembut dengan memberikan gelas itu pada Angga.


Tanpa mengeluarkan kata, Angga mengangkat tangannya dengan lemas untuk menerima gelas berisi air putih tersebut dari Freya. Lantas, dirinya mendekatkan gelas itu ke mulutnya untuk meneguk air putih agar tenggorokannya tak kering lagi.


Dalam situasi ini, tentu membuat Angga linglung. Ia tak ingat apa yang telah terjadi dengannya hingga-hingga dirinya bisa berada di ruang UKS. “Kenapa gue bisa ada di sini ...?”


“Kamu tadi pingsan, Ngga. Mangkanya kamu sekarang berada di ruang UKS,” tanggap Rena.


“Lo pingsan setelah nyelametin Freya dari insiden yang dibuat si Yoyo itu- eh maksudnya Youra. Lo pingsannya sampe berjam-jam dan sadar lo, yah ... coba saja lo lihat sekarang jam berapa,” ujar Aji.


Angga langsung menengok jam lingkaran di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul jam 15.30, itu artinya ia telah tidak sadarkan diri selama 6 jam kurang lebihnya begitu. “Gue nyelametin Freya? Kapan ...?”


Reyhan menepuk keningnya. “Sudah-sudah. Don't dipikirkan, oke? Sekarang kami di sini udah lega banget akhirnya lo sadar juga. Soal itu dah gak penting lagi, deh.”


“Oh, iya. Elo tuh tadi berangkat ke sekolahnya naik motor, kah?” tanya Reyhan menambah kata.


“Enggak, Rey. Tadi motornya Angga bermasalah, mesinnya gak bisa hidup. Mangkanya Angga berangkat ke sini-nya naik bus bersama aku.”


Reyhan beralih menatap Freya. “Oalah begitu, toh? Terus ini kalian pulangnya juga naik bus? Kalau iya, si Angga biar aku anter sampe rumah, ya? Soalnya kalau dilihat dari sini pacarmu lemes banget. Aku takut Angga kenapa-napa nantinya kalau malah naik bus, terlebih pasti nanti nyebrang jalan juga.”


“Eh gak usah deh, Rey. Tadi pas Angga belum sadar, ayahku sempat ngirim pesan chat di WhatsApp kalau nanti pulangnya kami berdua bakal dijemput beliau pakai mobil. Mungkin sekarang ayahku lagi panasin mobil deh sebelum berkendara.”


“Aman, tuh! Yasudah dah kalau emang dijemput sama calon ayah mertuanya Angga,” tanggap Reyhan gamblang.


“Hah?! C-calon ayah mertuanya Angga?!” kejut Freya.

__ADS_1


“Hahaha! diamini gitu lho, Frey. Masa kaget begitu, sih.”


“Apaan sih kamu, Va?! Lagian aku sama Angga masih jalan, kok. Belum sampe mikirin ke situ, hih!” sebal Freya kepada Jova yang tertawa.


Reyhan, Lala, Rena, Aji, dan Jevran tertawa melihat muka sebalnya Freya yang terkesan menggemaskan itu, sedangkan Angga hanya senyum lemah tipis saja. Pada kemudian setelahnya, kedua sahabatnya Freya dan juga para temannya pamit pulang duluan meski sebelumnya Reyhan menawari Angga untuk dituntun jalannya atau tidak. Tapi karena Angga menolak, Reyhan pun juga tak memaksa sangkalan sahabatnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di kursi panjang luar lobby sekolah, Freya tengah menunggu sang ayah tercintanya datang. Karena mobilnya masih belum terlihat menuju masuk ke dalam gerbang. Sementara Angga posisinya sedang membungkukkan badannya dengan menutupi seluruh wajah tampannya pakai kedua telapak tangan. Kepalanya begitu terasa amat pusing, bahkan disertai kurang enak badan. Jelas tentu saja semua ini karena dari faktor kepalanya terbentur kuat tadi untuk menyelamatkan Freya dari bengis siasatnya Youra.


“Angga? Kamu masih kuat, kan?”


Pertanyaan Freya hanya dijawab Angga dengan anggukan kepala lemah. Usai itu, kekasihnya mengelus-elus punggungnya yang bersemu panas. “Sebentar lagi ayahku dateng, kok.”


Pip !


Gadis polos tersebut menoleh ke sumber suara klakson mobil pengendara. Rupanya itu adalah mobilnya Lucas, karena Freya membaca angka plat nomor yang terpajang di depan mobil ayahnya. Tak menunggu berapa lama, Lucas segera keluar dari mobilnya setelah berdekatan dengan lobby.


Lucas segera menghampiri anak putrinya serta Angga yang tubuhnya nampak begitu lemas tak seperti tadi pagi yang sehat bugar. “Angga, ayo Om bantu.”


Lucas mengangkat tangan kanannya Angga untuk beliau rangkul di tengkuk dengan hati tulusnya. Sementara Freya melepaskan tas ransel pemuda tampan tersebut dari pundak untuk dirinya bawa supaya kekasihnya tidak terlalu keberatan beban.


Lucas membuka pintu belakang mobil bagian kanan dengan lebar kemudian dengan perlahan dan hati-hati sang ayah Freya memasukkan Angga ke dalam mobil serta mendudukkannya di kursi mobil. Setelah putri anak semata wayangnya masuk ke dalam mobil, Lucas menutup pintu tersebut lalu lekas berjalan membuka pintu kemudi.


Kini mereka bertiga meninggalkan parkiran begitupun bangunan sekolah elite yang telah sepi meski ada beberapa kendaraan nang masih terparkir di sana. Lucas memundurkan mobilnya seraya menatap layar TV kecil canggih untuk melihat belakang mobilnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Diperjalanan menuju komplek Permata, tak ada satupun yang mengeluarkan pembicaraan. Sunyi walau diisi dengan suara AC mobil. Freya yang melihat Angga memegang pangkal hidungnya, segera ia tarik kepala kekasihnya lembut untuk ia letakkan di bahu kecil kirinya.


Angga membuka matanya setengah usai kepalanya diletakkan di pundak kekasihnya sebagai bantal. “Maafkan aku karena sudah banyak merepotkanmu dan juga ayahmu ...”


Freya tersenyum manis terhadap Angga yang merasa bersalah karena keseringan merepotkan dirinya begitupun orangtuanya. “Enggak kok, Ngga. Sudah, ya jangan terlalu dipikirkan. Mending sekarang kamu tidur saja biar kamu agak enakan nantinya pas habis bangun, oke?”


Angga hanya memberikannya senyumannya lalu kembali memejamkan matanya untuk tidur di sandaran bahunya Freya. Lucas yang melihat adegan tulus dan kasih sayangnya Freya terhadap Angga melalui cermin kaca tengah, tersenyum simpul.


“Freya?”


“Hm? Iya, Ayah? Kenapa?” tanya Freya lembut usai dipanggil Lucas.


“Ayah ingin mendengar cerita dan penjelasanmu soal mengenai Angga. Angga kenapa bisa menjadi parah seperti itu? Padahal sebelumnya saat pagi, Angga kelihatan bugar, lho. Ini sekarang mukanya pucat sekali seperti mayat.”


“Ayah, ih! Angga masih hidup, masa disamain kayak mayat? Soal itu karena dampak Angga menyelamatkan Freya dari peristiwa insiden, Yah. Gara-gara nyelametin Freya, kepala Angga jadi terbentur ke tembok dengan cukup keras banget.”


“Astaghfirullahaladzim! Haduh, Angga itu kepalanya lagi cedera, lho! Kalau kepalanya sampai terbentur lagi, itu bisa memperburuk keadaannya, Nak! Emangnya Angga menyelamatkan kamu dari insiden apa?”


Freya terdiam sebentar. ‘Aku gak mungkin jawab kalau semua awal kejadian itu adalah kesalahan Youra yang dia perbuat. Ayah pasti akan marah kalau aku menceritakannya yang sebenarnya.’


“Jatuh dari tangga, Yah. Anakmu ini memang suka ceroboh, hehehe!”


“Astaga, Sayang! Untung saja ada Angga yang sebagai tameng pelindungmu, bagaimana kalau gak ada Angga di saat itu?”


“Ya, jadi beda cerita, Yah.” Freya cengengesan walau amat merasa berdosa karena telah membohongi Lucas demi kebaikannya.


Lucas menghela napasnya panjang. “Walau Angga memiliki cedera di kepalanya, tapi tetap masih aja kekasihmu itu tidak memedulikan sakit yang dia alami. Angga lebih mementingkan keselamatan orang lain daripada dirinya sendiri. Angga memang beda dari yang lain.”


“Iya, Ayah. Tapi kalau Angga suka mengorbankan diri terus untuk menyelamatkan orang lain bahkan arwah yang sebagai panggilan untuk Angga selesaikan, nyawa Angga bisa jadi taruhannya, Yah. Dan Freya nggak mau kalau itu benar-benar terjadi sama Angga.”


“Ini ceritanya kamu tidak mau kehilangan Angga?”


“Ayah, mah! Ya gak mau kehilangan, lah. Angga tuh cowok paling berharga buat Freya,” jujur putrinya yang polos membuat Lucas agak sulit meredam tawanya.


“Iya-iya, Sayang. Ayah tadi hanya bercanda saja, kok. Jangan dimasukkan ke hati ya, Nak? Hahaha!”


“Tertawanya yang kencang aja sekalian, Yah. Biar Angga bangun.”


“Oh ya jangan, dong. Kasihan nanti si Angga pacar setiamu. Nih-nih Ayah sudah nggak ketawa lagi.”


Sekarang Lucas setelah tertawa, kembali lebih fokus konsentrasi dalam mengendarai mobil Avanza putihnya untuk segera cepat tiba di gang komplek Permata. Sementara Freya yang duduk manis, menyenderkan kepala bagian sampingnya di kepalanya Angga yang terasa sangat hangat dikarenakan kekasihnya mengidap Demam.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Rumah Freya - Pukul Jam 20.00 PM


Setelah menghabiskan makan malam bersama kedua orangtuanya, Freya masuk ke dalam kamar desain dekorasi indahnya yang bernuansa peace. Di situ, gadis cantik tersebut nang mengenakan baju piyama panjang pink bubble gum miliknya, melangkah menuju ke meja belajar untuk mengambil ponselnya.


Freya ingin tahu kondisi kekasihnya sekarang di dalam rumahnya yang selalu sepi tersebut, maka dari itu Freya segera menghubungi Angga lewat telepon handphone-nya. Tertera jelas ada tulisan berdering di bawah foto profil Angga yang kosong.


...----------------...


...ANGGARA KAVINDRA...


^^^Assalamualaikum? Halo Angga! Gimana kondisi kamu sekarang?? Sudah membaik, kah?^^^


Waalaikumsalam... Masih sama seperti tadi


^^^Oh, begitu. Mau aku samperin ke rumahmu, nggak? Kamu pasti belum makan malam. Biar aku masakin sesuatu di dapur rumahmu. Sekarang aku lagi senggang, kok!^^^


Nggak perlu, Freya... Lagipula gara-gara ini, nafsu makanku jadi lenyap, apalagi kan ini sudah malam. Lebih baik kamu tidur saja, besok sekolah...


^^^Yakin nih, Ngga?? Suaramu lemah banget. Kamu harusnya makan, biar cepat sembuh. Aku ke sana, ya?^^^


Aku bilang gak perlu, Frey. Kamu jangan terlalu menghawatirkan aku, aku baik-baik saja kok di rumah...


^^^Ih, tapi aku takut kamu kenapa-napa, Angga! Apalagi di rumah cuman ada kamu sama kucingmu. Siapa juga yang jagain kamu dalam kondisi dirimu yang sedang Demam gitu?!^^^


Tenang, aku hanya...


^^^Aku hanya apa??^^^


....


^^^Angga? Halo?!^^^


....


^^^ANGGA!!! Jawab aku dong! Jangan bikin aku takut! Anggara!!^^^


....


^^^Ngga! Please jangan buat aku panik begini! Jika kamu masih dengar suaraku, tolong jawab!!^^^


....


^^^Ah! Kamu ini benar-benar!^^^


...----------------...


Freya langsung mematikan teleponnya Angga dengan hati yang gusar lalu segera balik tubuh keluar dari kamar, namun gadis tersebut yang hendak berlari malah menubruk badan Rani nang sedari tadi cemas karena mendengar putrinya teriak-teriak dengan menyebut nama Angga.


“Sayang! Kamu kenapa panik begitu?! Ada apa, Nak?!” tanya Rani menatap Freya.


“Hiks! Angga, Ma! Angga!”


“Angga kenapa?! Kamu tenang, dulu.”


“Enggak bisa, Ma! Ada yang nggak beres sama Angga!!” Freya langsung menerobos jalan yang sang ibu menutupi jalannya.


Rani sontak langsung memutar tubuhnya dengan cepat melihat kepergian anak gadis semata wayangnya yang berlari kencang keluar dari kamar. “Freya!! Kamu mau kemana, Nak?!”


Sungguh firasat Freya begitu sangat tidak baik mengenai kekasihnya yang tengah sakit di rumah. Bahkan Lucas yang sedang menikmati kopi panas buatan sang istri, melihat kilat larinya sang putri. “Sayang?! Kamu mau pergi kemana?! Ini sudah malam, lho!”


“Rumah Angga!!!”


Lucas menaikkan kedua alisnya bingung pada gelagat tingkah panik anak perempuannya yang pastinya hatinya begitu kalut tak karuan. Segera, beliau berdiri dari kursi meja makan dengan bertepatan Rani telah menuruni undakan anak tangga.


“Ma, Freya kenapa, sih?! Ke rumahnya Angga kok larinya sampe terburu-buru gitu dan mukanya panik seperti itu, ada apa sebenarnya?!” tanya Lucas saat mengetahui Rani menghampirinya.


“Mama juga tidak tahu, Yah. Tapi sebelum Freya pergi meninggalkan kamarnya, Freya bilang kalau ada yang nggak beres sama Angga. Setelah anak kita berdua berkata seperti itu, feeling Mama jadi gak enak banget, Yah. Freya Sampai nangis juga.”


Lucas mendengus dengan menolehkan kepalanya ke belakang pada pintu rumah yang terbuka cukup lebar karena Freya. Kini bergantian pria paruh baya berusia 50-an tahun tersebut yang merasakan firasat buruk mengenai kondisi Angga sekarang.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Cklek !


Yang benar saja, pintu rumahnya tidak Angga kunci sama sekali. Buktinya, Freya bisa membuka pintunya. Tak berlama-lama, gadis cantik tersebut segera nyelonong masuk ke dalam rumah kekasihnya dan menaiki tangga dengan cepat untuk menuju ke kamarnya Angga.


Freya berhenti berlari saat sudah masuk ke dalam kamar sunyi milik Angga. Matanya terpaku melihat kondisi pacarnya yang tergelimpang lemah di atas kasurnya, bahkan ia sama sekali tak ada pergerakan.


Freya menyingkirkan ponsel pemuda tampan tersebut dari genggaman lemas telapak tangannya. “Angga?! Angga?! Kamu dengar suaraku?!” Freya menangkup wajah pucat kekasihnya dengan menggoyangkannya beberapa kali.


Matanya yang terpejam tenang, tak merespon ucapannya, sudah dipastikan Angga pingsan kembali. Bahkan yang membuat air mata Freya bercucuran membasahi kedua pipi putihnya di saat melihat luar lubang hidung milik Angga berdarah hingga mengenai bibir bagian atasnya.


“Hiks Angga bangun!! Bangun, Ngga!! Tadi kamu bilang gakpapa! Tapi kenyataannya apa?! Kamu jadi kayak gini, huhuhuhu!!!”


Dengan air mata yang terus lolos keluar dari pelupuk kelopak bawah kedua matanya, Freya mengusap darah hidung Angga pakai jari jempol tangan kanannya. Bersamaan itu, Rani dan Lucas masuk ke dalam kamarnya Angga.


“Ya ampun, Angga?!” pekik Rani dengan berlari menghampiri lelaki tersebut yang posisinya tak berdaya di atas kasur.


Rani sedikit Syok melihat cairan merah pekat yang keluar dari lubang hidungnya Angga, terlebih sekarang anak semata wayangnya tengah membersihkan darah pemuda tampan tersebut nang nampaknya kesadarannya telah menghilang. Freya terus menangis di sampingnya Angga, sementara Lucas yang bingung harus apa langsung memutuskan tindakan sesuatu.


“Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Lebih baik Angga dibawa ke rumah sakit lagi saja, ya?! Kondisinya juga gak memungkinkan jika sadar secara singkat. Sebentar, Ayah panaskan mobil dulu untuk Angga!”


“Freya ikut!” desak gadis cantik tersebut yang bernada parau karena posisinya masih sedang menangis deras.


Lucas menganggukkan kepalanya dengan memberikan senyuman hangat lalu mengusap sayang kepala Freya yang memiliki rambut hitam legam nang panjang itu. Kemudian Lucas segera cepat bergegas keluar dari rumahnya Angga untuk memanaskan mobilnya.


Sementara di dalam kamar, Freya dan juga Rani masih setia di dalam ruang kamar senyap tersebut. Kini sekarang Freya mendudukkan pantatnya di pinggir kasur lalu menggenggam lengan tangan kanan kekasihnya yang terbungkus baju oblong cokelat lengan panjangnya. Perempuan itu begitu sangat risau akan keadaannya Angga yang kembali parah seperti ini, baru saja tadi pagi merasakan bahagia bersama Angga dengan segala gelak tawanya malah malam ini diisi lagi bersama ketegangan yang membuat hati buncah.


Sedangkan Rani hanya bisa mengelus-elus lembut kepala putrinya yang tetap menangis hingga terisak akan kondisinya Angga sambil menunggu Lucas datang kembali untuk membawa lelaki Indigo tersebut ke dalam mobil buat melarikannya ke rumah sakit Wijaya pusat kota Jakarta.


Mungkin ini juga kesalahannya Angga sendiri kurang mampu menjaga keselamatan kepalanya yang mengalami cedera ringan. Tetapi untuk menjaga, melindungi Freya dari marabahaya itu sudah tugas bagi dirinya lepau sebagai tameng perisai kekasihnya, walau pastinya ada saja yang membuatnya menjadi kena korban kesekian kalinya yang pernah terjadi.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2