Indigo

Indigo
Chapter 125 | Regret


__ADS_3

Meneguk minuman hangat seperti kopi susu saat di malam hari memang sangatlah nikmati, contohnya macam yang dirasakan oleh Angga. Pemuda tersebut tengah sibuk mengirim pesan chat pada salah satu orangtuanya ialah Andrana. Nampak sang ibu begitu banyak mengirim beberapa ketikan dalam chat tersebut karena begitu merindukan putra semata wayangnya yang beliau satu-satunya miliki bersama suaminya.


Bertepatan Angga memencet tombol tanda kirim di atas layar keyboard pojok kanan untuk Andrana yang masih terlihat online menunggu anaknya membalas pesan chat wanita paruh baya tersebut yang berada di kota Semarang, sontak kepala Angga mendongak ke arah luar balkon kamar karena dirinya mendengar suara mesin motor di depan pagar rumahnya Freya.


Angga lantas segera beranjak dari karpet sutra warna hitamnya, kemudian melangkah menuju luar pintu balkon, sementara ponselnya ia tinggalkan di atas kasurnya tak juga dengan cangkir mug-nya yang masih berada di pegangannya.


Angga memicingkan matanya curiga pada sosok Gerald yang sedang menggandeng tangan halusnya Freya ke motor Ninja hijau kesukaannya. Padahal sudah pukul jam 20.00 tetapi Gerald kembali mengajak Freya jalan bersamanya entah kemana. Bahkan Freya mengenakan gaun rok yang terlihat indah dan rapi.


Tanpa sadar, Angga menyangga tangannya di atas pagar hitam pembatas halaman balkonnya. Mata lelaki Indigo itu terus memantau mereka berdua dari jarak yang lumayan jauh. Terlihat kini si Gerald menyalakan mesin motornya menggunakan kunci motor yang telah ia gantungkan di tempat khusus.


Bola mata Angga menelisik kepergian mereka berdua yang semakin melaju meninggalkan gang komplek Permata. Angga menghembuskan napasnya dengan masih menampilkan raut wajah tampan yang begitu curiga mau di bawa kemana sahabat kecilnya oleh Gerald.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam perjalanan, Freya yang posisinya duduk menyamping di atas jok motor besar Gerald, hanya diam menikmati pemandangan kota dan berselang menit kemudian yang pacarnya tempuh menggunakan kelajuan sedang motornya, Gerald membelokkan stang motornya ke suatu jalan sepi dan gelap karena tak ada pajangan tiang lampu untuk mengisi cahaya malam di jalan itu.


Macam sebuah jalan pintas, namun bukan JL. Jiaulingga Mawar. Freya ingin bertanya pada Gerald yang fokus mengendarai motornya, tetapi ragu karena pasti kekasihnya tersebut tak dengar karena keadaannya mengenakan helm full face miliknya.


Banyak sekali beberapa pohon besar yang menjulang tinggi, bahkan gadis polos itu nang mengenakan gaun lengan pendek berwarna peace favoritnya, menelan ludahnya karena merasa takut pada hawa yang ia dan Gerald tempuh bersama.


Hingga 30 menit kemudian, motor Gerald membelok ke sebuah bangunan dengan hiasan lampu-lampu penuh beberapa warna yang terkesan sangat meriah. Banyak sekali kendaraan mobil dan motor terparkir di depan bangunan besar tersebut.


‘Tempat apa, ini? Kok kayaknya aku belum pernah lihat sebelumnya? Tapi kalau dilihat-lihat bener, sepertinya acaranya meriah dan menyenangkan,” batin Freya agak kagum.


Bola mata Freya terus menelisik setiap luar bangunan dengan hati terkesima tanpa turun dari motornya Gerald terlebih dahulu. “Ayo turun. Udah aku duga, kamu pasti bakal suka sama tempatnya, ini masih pandangan luar, coba aja nanti kalau kita masuk ke dalem. Kamu bakal jauh lebih terpukau sama suasana ramainya.”


“Bakal aku kenalin sama temen-temenku nanti pas kita masuk ke dalem,” lanjut Gerald seraya menarik lengan tangan kekasih polosnya dengan lembut.


Freya mengangguk dengan senyum manisnya seperti gulali, kemudian turun secara anggun dari motornya sang pacar yang memiliki postur tubuh tinggi. Setelah itu, sepasang kekasih tersebut melangkah beriringan menuju masuk ke dalam bangunan.



Setelah melangkah masuk ke dalam bangunan yang penuh banyak orang ramai nang berseru ria, disertai banyak lampu disco begitupun musik yang dimainkan oleh seorang disc Jockey atau DJ. Freya melongo tak percaya melihat keramaian tersebut. Setelahnya, gadis lugu itu mengalihkan pandangan dari mereka semua yang sibuk berjoget ke anak-anak muda seumurannya sedang saling ber-tos gembira dengan menggunakan gelas bir yang mereka pegang masing-masing.


Freya segera menolehkan kepalanya ke pacarnya yang melambaikan tangannya pada seseorang yang sedang duduk santai sambil bermain kartu. “Gerald, katanya ada acara ulang tahun? Tapi kok ini kayak aneh gitu ...?”


“Ini namanya pesta besar-besaran, Sayang. Ayo sini ikut aku, aku mau ngenalin kamu banyak ke temenku yang ada di sana,” jawab Gerald seraya menggandeng tangan Freya untuk mengajaknya ke sekelompok remaja yang berada di ujung sana.


Freya pun menganggukkan kepalanya tanpa lupa mengukirkan senyumannya. Setelah sampai di sekelompok anak muda yang sibuk meminum bir dari botol kaca warna hijau lumut, Gerald melepaskan gandengannya lalu bertepuk tangan untuk mengalihkan perhatian mereka.


“Wah-wah! Minum-minum gak ngajak gue?” tanya Gerald dengan wajah angkuhnya.


Temannya yang memiliki rambut gaya punk warna ungu ialah Teivel, meletakkan botol kacanya yang habis ia teguk isinya. “Woi, Gerald! Akhirnya dateng juga, lo hahaha!”


Gerald tersenyum miring kemudian melangkahkan kakinya untuk mendekati temannya tersebut dan duduk di sebelahnya. Sementara Freya yang terlihat canggung melihat kondisi suasana asing ini, hanya berdiri diam saja macam patung tak ada niatan untuk duduk di sebelah kekasihnya.


Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak Freya agak kencang hingga membuat gadis cantik tersebut tubuhnya nyaris terlompat. Freya segera menoleh ke samping untuk melihat siapa yang telah mengagetkannya. “Ehm- eh- h-hai ...”


Freya terbungkam langsung saat menatap salah satu perempuan dewasa berumur 20 tahun dengan wajah make up cetar, bahkan pakaiannya sangat ketat apalagi gunung kembar di dadanya begitu menonjol, buat Freya mengasih jangkauan jarak dari perempuan tersebut.


“Lo pasti ceweknya Gerald Avaran Dedaka, ya?” tanya perempuan itu kemudian memonyongkan bibirnya yang memakai lipstik merah menor seraya melihat Freya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Wow, tubuh elo seksi juga, ya rupanya. Apalagi lo keliatan cantik kayak boneka, Gerald emang kalau soal milih pasangan bener-bener top dan berkelas.”


Freya hanya senyum kecut dengan agak menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya ia posisikan di depan rok gaun indahnya. Hingga perempuan tersebut membuat Freya kaget lagi yang mana ia menarik tangan gadis polos 17 tahun secara tiba-tiba.


Freya diajak duduk di kursi sofa panjang warna merah maroon. Namun ada yang membuat perempuan itu merasa aneh pada tingkah Freya yang banyak diam bahkan kepalanya terus menunduk. “Lo kenapa? Oh iya, gue lupa intro gue siapa. Kenalin nama gue adalah Lebria Griya Fantosa, panggil aja gue Bria. Jika elo?”


Freya menerima jabatan tangan Lebria dengan agak sungkan. “N-namaku Freya Septiara Anesha. Kamu bisa cukup panggil aku Freya .. salam kenal, ya.”


“Hm! Nama lo bagus banget, cantik!” kagum hati Bria sambil mencubit gemas dagu Freya.


“Heh, Gerald! Sumpah demi apa lo bawa cewek secantik kayak Freya ini?! Nanti boleh gue karungin gak pacar lo ini ke rumah?? Gemes banget, tau!” heboh Bria.


“Enak aja, lo!” Gerald segera merangkul tengkuk Freya yang tertutupi oleh rambut hitam halus hitam legamnya dan menariknya ke dekatnya hingga menempel di bahu kirinya.


“Oh iya. Kenalin, ini adalah Freya Septiara Anesha, pacar gue yang paling cantik di kota Jakarta! Dia juga perempuan gue yang begitu sayang dan cinta sama gue. Ya kan, Cintaku?”


Freya menganggukkan kepalanya lalu lantas ia menolehkan kepalanya menatap wajah Gerald untuk mengubah topik pembicaraan kekasihnya yang memujinya depan banyak para teman-temannya nang sedang meneguk nikmat bir. “Rald, siapa yang ulang tahun di malem ini? Ulang tahunnya gak dirayain pake kue, kah? Tapi dengan pesta meriah seperti di tempat ini?”


Salah satu teman perempuannya yang sedang menghisap batang rokok, mengerutkan keningnya bingung dari pertanyaan yang Freya lontarkan. “Lho, Rald? Di sini kan nggak ada yang ulang tahun. Kenapa pacar lo bilang begitu?”


“Aaaahh ... goblok banget, lu!”


Freya yang mendengarkan ucapan dari gadis nang kembali menghisap nikmat rokoknya, segera melepaskan tangan Gerald yang merangkul tengkuknya. “Jadi di sini gak ada yang ulang tahun? Kamu bohongin aku, ya?!”


“St-st-st! Jangan marah gitu dong, Sayang ...” Gerald menangkup wajah pacarnya dengan muka aura yang membuat Freya jadi tak nyaman.

__ADS_1


“Kamu harusnya bahagia karena aku sudah membawamu ke tempat ini yang spektakuler. Dan aku sudah janji akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya,” ujar Gerald lagi seraya beranjak berdiri mepet pada tubuh Freya.


“G-gerald! Kamu mau apa?!” tanya Freya takut.


“Sayang, kamu itu adalah wanita cantik yang aku punyai. Nggak ada perempuan secantik selain dirimu. Jadinya, aku pengen sekali menikmati tubuhmu yang seksi ini.”


“M-maksudnya??!!”


“Duh, Rald! Pacar lo ini polos banget, dah! Udah deh langsung aja, nih udah gue videoin biar viral,” tukas Bria siap memvideokan aksi Gerald pada Freya.


Detak jantung Freya berpacu tidak beraturan, mukanya memucat disebabkan takut. Sekarang tangan Gerald asyik melepas kancing baju gadis Nirmala tersebut satu persatu dengan penuh nafsu.


“Nih di minum dulu, biar lo tenang.“ Bria mengulurkan tangannya untuk hendak menyuapi Freya dengan minuman bir yang mengandung alkohol.


Dengan cepat, Freya menepis tangan Bria kencang hingga gelas bir tersebut terlempar jatuh dan pecah di lantai. Kemudian bersama sekuat tenaganya yang gadis lugu itu miliki, ia menendang alat kelaminnya Gerald sekaligus mendorongnya kuat hingga lelaki jiwa bejat tersebut menubruk meja clubbing.


Freya secara berlari kilat mangkir dari Gerald, Bria, Teivel dan teman-temannya Gerald yang lelaki bermata iris hijau itu telah Freya anggap mantan serta bukan lagi kekasihnya saat Gerald melakukan tindakan buruk padanya.


Freya terus berlari sambil menahan isakan tangisnya yang padahal air matanya telah lolos dari pelupuk matanya dan berakhir membanjiri kedua pipi halusnya. Setelah berlari dengan tempuh yang gadis tersebut, Freya menemukan sebuah tempat sepi nang ada di pojok ruangan gelap. Sepertinya itu adalah pelosok bangunan minimalis dari tempat dalam clubbing.


Di situ Freya jongkok dengan punggung menempel di belakang tembok dingin, di sampingnya terdapat satu jendela kaca. Freya menutup mulutnya karena suara isakan tangisannya tak bisa lagi ia tahan, apalagi linangan air matanya terus saja banjir tidak bisa berhenti. Gadis polos itu sama sekali tak menyangka bahwa Gerald adalah seorang lelaki yang begitu cabul bahkan ingin mengambil keperawanan dirinya.


Freya tidak tahu arah menuju keluar dari tempat terlarang ini. Bahkan saking bingung dan takutnya, Freya tidak membuka ponselnya untuk menghubungi seseorang yang bisa menyelamatkannya di malam ini.


“Hiks ... hiks ... hiks ...”


Freya terus menangis terisak dengan tubuh amat bergetar hebat, wajahnya terlihat sangat pucat karena perilakunya Gerald padanya tadi. Beruntung saja Freya cerdiknya membanting ponsel mahal Bria agar kesenangannya untuk memvideokan aksi itu, gagal karena ponselnya telah rusak-pecah berat.


Sampai tiba-tiba, mata Freya terbelalak terkejut setengah mati melihat kaki seseorang yang bersepatu merk. “Aku mohon jangan sakiti aku, Gerald ...”


Pemuda itu hanya diam macam patung, hal itu membuat Freya menarik wajah cantiknya yang berlumuran air mata ke atas. Ia tak mengenal lelaki berbadan jangkung tersebut, bahkan rupa wajahnya pun tak terlihat karena tertutup oleh topi gaya baseball miliknya.


“S-s-siapa, kamu?! Hiks! Jangan sakiti aku!” pinta Freya kembali menangis.


Lelaki tersebut tersenyum smirk yang membuat Freya semakin ketakutan kalau orang yang ada di hadapannya akan melukainya. Kemudian, pemuda itu berjongkok perlahan lalu kaki kirinya ia tapak di atas lantai.


“Jangan dekati aku, huhuhuhu!!!”


Lelaki tersebut dengan perlahan melepaskan topinya. “Ini aku, jangan takut ...”


Suara nada lembut yang tak asing lagi di pendengaran Freya, sontak gadis manis malang tersebut berhenti menangis dan mendongak lagi menatap lelaki tersebut. Rupa wajah tampan itu membuat tangisan Freya makin pecah.


“Hiks! Hiks! Akhirnya kamu dateng ke sini, huhuhu!!” Tangisan sahabat kecilnya itu semakin keras di dalam dekapan tubuh lelaki Indigo tersebut.


Angga melingkarkan kedua tangannya untuk membalas pelukan Freya, lalu mengusap-usap lembut belakang kepala sahabat gadisnya itu untuk sedikit memberikan ketenangan sebisa dirinya. “Sudah, jangan nangis lagi ... sekarang kamu aman karena ada aku.”


“Hiks! Aku t-takut, Ngga! Gerald tadi mau macem-macem sama aku, huwaaaa!!!”


“Sudah-sudah. Sudah, ya ...? Lebih baik kita segera keluar dari sini dulu, aku tau tempat ini buruk banget buat kamu.”


Angga kemudian melepaskan pelukannya begitupun Freya yang tubuhnya masih saja bergemetaran takut. Setelah itu, Angga membangkitkan tubuh Freya untuk berdiri. “Sebentar, ya ... aku mau ubah gaya rambutmu dulu.”


“Buat apa ...?” tanya Freya dengan nada parau dan serak.


“Untuk penyamaran agar Gerald nggak bisa mengenal dirimu siapa ... semoga penyamaran ini berhasil hingga kita bisa keluar dari dalam bangunan,” jawab Angga seraya mengubah model rambut Freya menjadi sanggulan tanpa alat untuk mengikat rambut sahabat kecilnya yang sangat lembut.


Tanpa basa-basi lagi, Angga segera mengenakan topi baseball lainnya berwarna cokelat ke atas kepala Freya. “Jangan nangis, lagi ... aku jamin kamu bakal aman bersamaku.”


Freya menganggukkan kepalanya lemah dengan ekspresi wajah cantik yang tak berdaya, sementara Angga menghapus air mata gadis tersebut seraya memberikan senyuman aura tampannya yang membuat hati Freya dalam waktu singkat cepat tenang.


Usai mengelap air bening dari mata Freya, Angga beralih untuk mengenakan topinya yang sebetulnya jarang ia gunakan. Selepas itu, kedua tangan lelaki tersebut memegang kedua bahu sahabat kecilnya lepau mengajak pergi dari ruangan gelap itu.


Kini Freya dan juga sahabat pelindungnya, kembali berada di tempat penuh keramaian banyak orang yang sibuk berjoget mendengarkan musik DJ nang dimainkan oleh seseorang, dan beberapa anak muda menikmati minuman beralkoholnya. Freya mengeratkan kedua telapak tangannya, di depan roknya dengan detak jantung berdebar-debar. Bagaimana tidak? Freya saja melewati tempat mana dirinya yang hampir diambil keperawanannya nang mampu menghancurkan masa depannya nanti.


“OH! Ternyata lo masih hidup, anak pecundang!!”


DEG !


Langkah kaki Angga terhenti seketika dan juga langkah kakinya Freya. ‘Sialan! Semuanya gagal !’


“Angga, itu suaranya Gerald. Aku takut ...” lirih Freya akan menangis kembali.


“Freya, sekarang dengerin apa yang aku katakan. Kamu lari saja ke jalan pembelokan arah kiri, di sana adalah pintu keluar dari bangunan dugem. Setelah itu kamu pergi ke parkiran motorku. Kamu hapal, kan plat nomer motornya aku?”


“Aku hapal,” tanggap Freya ikut berbisik.


“Nah, bagus. Kamu pergi saja dari sini, jangan pedulikan aku sementara. Ada yang perlu aku lurusin.”

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya-tanya lagi, Freya langsung berlari kencang ke arah jalan keluar sesuai apa yang Angga beri tahu untuknya. Walau sebenarnya, hati Freya getir pada sahabat kecil Introvert-nya yang sang lelaki tameng hidupnya.


Grep !


“Berani-beraninya elo nyuruh pacar gue buat kabur dari gue?” tanya Gerald dengan aura hitamnya dengan merengkuh leher Angga usai topi musuh bebuyutannya ia lepas secara kasar.


Angga dengan cepat, menarik tangan Gerald untuk lepas dari lehernya. Kemudian Angga memutar badannya gesit menatap Gerald bersama senyuman miringnya. “Pacar gue? Apa lo gak salah ngomong begitu? Dia sekarang bukan kekasih lo lagi, BRENGSEK!!!”


Seketika suara nada Angga yang sangat tinggi, membuat sang DJ menghentikan musiknya begitupun para anak-anak muda lainnya yang berhenti berjoget dan menoleh menatap Angga. Di sisi lain, Teivel dan Rain amat terkejut.


“Tuh, kan. Apa gue bilang ... itu cowok cupu masih bernyawa! Gerald sih pake gak percaya segala!” ucap kesal Teivel menghentikan permainan kartunya bersama Rain.


Gerald yang sangat sengit pada ungkapan kata Angga, langsung menarik kerah jaket milik musuhnya sekaligus ia tarik ke atas. “Bangsat, lo! Elo belom kapok apa yang gue lakuin sama lo di waktu itu??!!”


Angga berdecih sinis. “Oh, yang itu? Maaf, tenaga lo buat membunuh gue belum seberapa. Gue tau waktu itu lo mau menamatkan jiwa gue, tetapi sayangnya semuanya gak berhasil dengan mulus. Hahaha!”


BUGH !!!


Angga membogem kencang pipi Gerald hingga kepala lelaki pemilik aura ketaksaan itu tertoleh ke samping saking kuatnya tenaga pukulannya Angga. “Jangan lo kira dengan gue lemah seperti dulu, gue nggak akan bisa apa-apa untuk membangkitkan diri!”


DUAGH !!!


Angga memberikan kesakitan lagi pada Gerald secara menendang dadanya seperti apa yang dilakukan Gerald dahulu. “Gue bukan orang lemah seperti apa yang lo kira!”


Gerald memegang dadanya yang terasa nyeri akibat tendangan hebat dari Angga. “Lo harusnya sadar diri, kalau lo itu adalah seorang pembunuh yang dulu membunuh sahabat gue yang gue sayangi! Inget keburukan bajingan elo yang lo perbuat, pecundang!”


Angga menepiskan ucapan Gerald yang berusaha mengingatkan dirinya ke masa lalu kelamnya. “Terserah lo mau bilang gue 'seorang pembunuh'. Gue gak akan terpengaruh sedikitpun!”


Secara tidak sengaja, Angga menatap beberapa sekelompok remaja yang tengah melongok di atas kursi sofa merah maroon. Seketika pandangan itu membuat Angga sedikit tersentak kaget. ‘Mereka ini sama persis seperti sosok yang datang di mimpi gue dan juga halusinasi gue yang hadir secara tiba-tiba. Enggak! Gue gak akan mau terforsir ke masa lampau itu lagi.’


Gerald mempunyai kesempatan emas untuk membalas perilaku Angga terhadap dirinya tadi karena sekarang ini musuh bebuyutannya terlihat lengah dan melihat ke arah lain. Gerald segera melayangkan pukulan kerasnya ke wajah tampan Angga, namun dengan mudah pekanya, Angga mengarahkan bola matanya ke arah Gerald yang posisinya ingin menyerang dirinya.


GREP !


Angga dengan cekat, mencekal tangan Gerald lalu kemudian memelintir tangan lelaki bermata iris warna hijau tulennya tersebut sampai ia berteriak kesakitan, sedangkan Angga hanya bertampang wajah datar-dinginnya.


“Ada beberapa kata yang harus lo dengarkan wahai orang tiada adab. Lo sekarang bukan lagi kekasihnya dari Freya, dan ... gue minta lo jauhi dia!! Lo sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Freya sahabat gue! Gak seharusnya Freya memilih cowok hati busuk kayak lo yang sama sekali nggak bisa menjaga kehormatan perempuannya!”


Angga melepaskan tangannya Gerald, kemudian sebelum ia melangkah pergi meninggalkan tempat clubbing tersebut, ia mengasih tendangan dahsyatnya ke muka Gerald sebagai pelajarannya karena nyaris mengambil keperawanan sahabat kecilnya hingga membuat jiwa Freya amat tertekan.


Gerald terjatuh ke belakang dengan sangat keras, lalu dengan santainya si Angga membungkukkan badannya untuk mengambil topi baseball miliknya. Gerald memperhatikan punggung kokoh yang sang empu melangkah pergi meninggalkannya. Gerald mengusap cairan merah pekat yang keluar dari lubang hidungnya menggunakan jari jempol tangan kirinya.


“Ya. Emang belum seberapa, tindakan gue yang gue lakukan buat diri lo nggak berdaya waktu masa itu. Tetapi lihat saja nanti, gue akan pastikan membuat diri lo ninggalin dunia ini termasuk sahabat elo yang sok menyembilu itu ... Reyhan Lintang Ellvano.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Angga menemukan Freya yang tengah berjongkok dengan wajah muramnya di samping motor Honda Vario hitam matic-nya yang terparkir. Angga berjongkok perlahan bersama senyuman lembut untuk sahabat kecilnya yang jemari tangannya tengah mengetuk-ketuk sepatu pantofel putihnya.


“Hiks! Aku menyesal karena telah memilikinya, Angga! Aku memang cewek yang bodoh dalam memilih pasangan!” sesal Freya dengan kembali menangis yang sempat terhenti.


“St-st! Jangan ngomong seperti itu, Freya. Kamu bukan cewek yang bodoh, dianya saja yang memang buruk untuk kamu. Yang penting, sekarang kamu sudah selamat dari ulahnya Gerald, oke?”


“Aku nyesel, Ngga! Nyesel, huhuhu!” ujar Freya dengan masih menangis dalam pelukan hangatnya Angga yang sempat Angga dekap tubuh mungil lemah sahabat kecilnya.


“Aku sudah nggak mau berhubungan sama dia lagi! Aku jera banget dengan Gerald, Ngga! Cowok itu udah berhasil buat aku trauma untuk kembali memiliki pacar! Hiks! Dia jahat, Ngga! Jahat!!”


Angga balik mengelus-elus lembut belakang kepala Freya yang tangisannya tak kunjung reda. “Iya, aku tau ... tapi tolong jangan nangis lagi, ya? Kita pulang sekarang juga. Soal ini, biar aku yang jelaskan semuanya pada mama dan ayahmu.”


Angin berhembus kencang membuat siapapun yang tak mengenakan pakaian hangat akan kedinginan, termasuk Freya yang telah melepaskan pelukannya kemudian mendekap tubuhnya. Melihat itu, Angga dengan inisiatif batin pekanya, lekas melepas jaketnya lalu ia pakaikan pada sahabat gadis cantiknya.


“Aku pakaikan jaketku, ya? Supaya diperjalanan ke rumah nanti, tubuhmu nggak bakal kedinginan.”


“Terus, kamu gimana? Kalau kamu gak pake jaket, kamu juga bisa kedinginan, lho ...” ujar Freya dengan nada serak.


Angga tersenyum lebar. “Itu nggak masalah buat aku. Aku mah kebal dari dingin, mangkanya lebih baik jaket ini kamu kenakan saja sampai tiba di rumahmu.”


Angga menarik resleting jaket krem-nya ke atas untuk menutup baju gaun Freya yang lumayan tebal bagian badannya. “Yuk, kita pulang ... pasti orangtuamu risau karena nunggu anaknya yang belum balik-balik.”


Tanpa senyuman yang tertampil di wajah pucat-nya, Freya menganggukkan kepala dengan gerakan lemah. Tulusnya, Angga menarik lengan Freya lembut untuk membangkitkan berdiri dari jongkok-nya. Setelah mereka berdua naik di atas motor, Angga mulai memundurkan kendaraannya untuk keluar dari parkiran khusus roda dua.


Selepas telah keluar dari parkiran, Angga menarik gas motornya pada stang untuk melaju meninggalkan bangunan dugem. Dan dalam perjalanan berlangsung untuk menuju kembali ke komplek Permata, kedua tangan Freya saling melingkar di pinggang Angga lalu mengeratkan diri di perut lelaki tersebut.


Angga melepaskan salah satu tangannya dari stang motor bagian kanan lalu mengusap-usap lembut kedua telapak tangan Freya dengan memakai perasaan. Angga betul sungguh mengerti, keadaan sahabat kecilnya tengah begitu menyedihkan meski Gerald tak berjaya mengambil keperawanan Freya untuk menjadikannya perempuan miliknya seutuhnya.


“Semuanya sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu lagi takut dan cemas akan hal peristiwa tadi ...”


Freya yang menempelkan samping kepalanya di punggung Angga, lagi-lagi menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya. Hingga pada akhirnya setelah Angga menempuhi perjalanan selama 30 menit, motornya telah memasuki gang komplek Permata.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2