Indigo

Indigo
Chapter 141 | A Bad Sign


__ADS_3

Beberapa hari kemudian ialah dimana memasuki Ujian yang terakhir sebelum mendapatkan pengumuman bahwa akan diakan libur panjang oleh pak Harden selaku kepala sekolah SMA Galaxy Admara yang terkenal paling favorit, elite, penuh talenta di kota Jakarta.


Di dalam kantin, kedua mata sipit Angga fokus membaca sebuah bacaan cerita alur novel yang terpajang di layar ponselnya. Tentunya pasti genre Horor yang pemuda tampan itu baca. Tepat saat Angga meng-scroll layar HP ke bawah, matanya ia pejamkan.


Tersirat kembali tentang kejadian yang pernah dirinya alami, dimana mendapatkan sebuah logo darah lingkaran bintang yang muncul di kertas LJK jawaban soal Ujian Matematika di jam pertama secara astral, ditambah suara-suara bisikan sosok yang amat mengganggu ketenangannya. Walau Angga bisa tetap fokus mengerjakan semua Ujian hari ke hari sampai hari terakhir ini, namun tetapi ia tak bisa melupakan apa yang terjadi waktu silam.


Angga kembali membuka matanya dengan sesekali menghembuskan napasnya lalu melanjutkan bacaannya secara batin. Tetapi alangkah langsungnya, mata abu-abu Angga terbentur pada kedua gadis yang sedang termenung menunduk di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Freya dan Jova?


Angga menatap intens sahabat perempuannya dan kekasihnya itu. Seperti ada yang aneh, bukan karena ada yang janggal atau bagaimana tetapi mereka seperti tengah merenungkan diri bersama pikiran negatif serta hati yang cukup kalut. Reyhan pun yang melihat kedua gadis cantik itu, mengunyah roti bakar selai cokelatnya sebentar lalu menelannya.


“Ladies, kalian kenapa murung kek begitu? Itu makanan kagak di makan, nih? Sini biar aku aja yang makan. Mumpung perutku masih minta diisi!” serobot Reyhan seraya tangannya mengambil mie kuah instan milik Jova, namun baru akan menggeret-nya, tangannya sudah dipukul oleh Angga duluan bersama tatapan tajamnya.


Reyhan yang telah dipukul seperti itu dengan Angga, cengengesan. Sahabat pendiamnya itu mendengus dengan masih menatap tajam dirinya yang sedang duduk di sebelahnya. “Rakus ya, lo. Itu aja belum habis.”


“Apanya?? Ini? Perkedel ini, Ngga! Cuman lauk, mana kenyang gue kalau makan perkedel doang?! Secara, ukuran gedenya kan kayak biskuit oreo!” protes Reyhan.


Angga menghela napasnya dengan menggelengkan kepalanya usai mendapatkan protes omelan dari Reyhan yang kini memakan dua sekaligus perkedel dan itu ia masukkan ke dalam mulut. Angga yang melihatnya justru kaget pada kelakuan barbar sahabat satunya itu.


“Astaga ... tersedak, gue sukurin!” Perkataan Angga tak digubris oleh Reyhan yang sibuk mengunyah dua perkedel hangatnya nang telah memenuhi dalam mulutnya, bahkan saking banyaknya, kedua pipi Reyhan otomatis menggembung.


Angga menghembuskan napasnya pelan untuk tak meladeni sahabatnya, ia kini menolehkan kepalanya ke depan untuk melihat kedua gadis itu yang masih tunduk bermuka muram secara bergiliran. “Kalian habis mimpi buruk? Mimpi yang alurnya sama?”


Jova langsung mendongakkan kepalanya ke arah Angga dengan tampang terkejut. “Hah?! Kok kamu bisa tau?!”


“Tentu. Aku dari tadi diam di sini membaca pikiran kalian berdua, mimpinya mengganggu kalian di dunia nyata, kan? Seolah-olah sampai sekarang mimpi itu menghantui pikiran kalian masing-masing,” tebak Angga lagi.


Freya kini yang menarik wajah cantik murungnya ke arah pacarnya yang tebakannya tak pernah meleset. “Kamu bener! Sumpah, Ngga! Serem banget- eh sebentar! Kamu tau kalau mimpi aku dan Jova mimpi yang sama plek?”


Angga menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis. Freya merapatkan kedua bibirnya, masih bisa membayangkan betapa mengerikannya mimpi yang ia datangi begitupun pula dengan Jova. Reyhan nang telah berhasil menelan hasil kunyahan makanannya menatap serius kedua sahabat perempuannya sambil menarik gelas es teh manis.


“Se-serem apaan, sih mimpinya? Kalian berdua mimpi dikejar sama om-om buat dinikahin secara paksa?” tanya Reyhan.


Jova menggebrak mejanya dengan sisi telapak tangan kanannya sekaligus melotot pada Reyhan yang pertanyaannya ngawur diluar kenyataan. “Parah! Kita nih lagi serius, lho! Situ malah nanya yang goblok!”


Reyhan tersentak gegau sampai punggungnya tersandar di sandaran kursi. “Anjir, kaget! Ampun, Neng! Jangan galak-galak kayak cabe rawit, dong. Aku kan cuman nanya, bener apa salah. Oke-oke nih sekarang aku serius, kalian berdua mimpi apaan? Dihantui setan, kah? Atau apaan?”


“Huh! Lebih mengerikan daripada setan!” Setelah Freya mengutarakan jawaban itu pada Reyhan, kini gadis polos tersebut dan Jova menegakkan badannya bersamaan. “Aku mimpi kalian dibunuh!!”


BRUSH !!!


Saking kagetnya setengah mati, Reyhan sampai tak sengaja menyemburkan tehnya ke arah Angga dan itu berhasil mengenai wajah kulit putih tampannya. Reyhan menutup mulutnya apa yang barusan ia lakukan secara tidak sengaja kepada sahabatnya. Angga yang terkena semburan teh nang di minum Reyhan, hanya menutup matanya serta membungkamkan bibirnya untuk meredam kekesalannya terhadap pemuda humoris tersebut.


Hal itu membuat para siswi kelas X atau junior terkejut apa yang telah terjadi pada Angga nang telah bernasib terkena semburan air teh dari Reyhan. Bahkan di satu meja itu, mereka tertawa karena seorang Anggara Vincent Kavindra sang lelaki paling cool di SMA Galaxy Admara, bisa mendapatkan nasib juga rupanya.


“Waduh, hahaha! Kasihan deh muka gantengnya Kak Angga kena semburan tehnya kak Reyhan. Gakpapa kok, Kak. Kakak masih tampan di mataku,” ucap genit salah satu siswi kelas X pada Angga lalu mengedipkan satu matanya karena siswa kakak kelas tampan itu fans beratnya dirinya.


Angga yang selesai mengelap wajahnya menggunakan tisu keringnya, langsung menoleh ke arah belakang menatap siswi centil itu. Dalam batin Angga, ia sangat tidak menyukai sikapnya yang berlebihannya tersebut. Bahkan ada beberapa siswi adik kelasnya lain yang nampak terpesona akan ketampanannya dan Angga hanya membalas bersama tatapan datar-dinginnya.


“We love you, Kak Anggara!!!” pekik alay kesemua siswi itu yang duduk di satu meja kantin.


Angga yang mendengar teriakan para siswi nang menyukai dirinya langsung memutar bola matanya malas dan dengan cuek menolehkan kepalanya ke arah depan membelakangi mereka. Tetapi justru itu beberapa siswi tersebut makin tergila-gila karena betapa cuek dan gaya cool-nya Angga.


“Aaaaa! Meskipun cuek kayak begitu, tapi di mata kami Kak Angga adalah cowok yang tampan tapi misterius. Tau gak, sih kayak itu lho Kak, film drakor-drakor gitu. Ih! Cinta banget, deh! Tapi sayang ... aku sendiri udah gak bisa dapetin hatinya Kakak karena sudah ada yang punya, mana cantik lagi daripada aku, huhuhu!”


“Nah! Tuh sadar diri! Heh, Dek. Kalau kamu tau kalau kak Angga sudah punya pacar, ngapain situ masih ngejar-ngejar hatinya kak Angga? Mana kalian pake we love you-an segala, lagi.” Jova protes komentar pada siswi adik kelasnya lalu tertawa.


Adik kelasnya tersebut yang berkepang dua, auto memanyunkan bibirnya. “Iya deh, Kak! Iya! Tapi, kan gak enak banget kalau terus-terusan Jomblo. Nanti aku jadi perawan tua.”


Jova tertawa atas celotehan adik kelasnya yang berbadan pendek itu. Gadis Tomboy tersebut kemudian mengangkat dua jarinya membentuk simbol peace untuknya dengan senyuman ramah. “Kita berdua seri. Kak Jova juga masih Jomblo, kok.”


Sementara Freya tak ada pudarnya dimana muka cantiknya terus saja murung bahkan pandangannya kembali menunduk. Ia takut kalau mimpi tersebut suatu ketika menjadi kenyataan. Kekasihnya yang menatap dirinya teduh, tidak mengambil komplain pada Freya yang sedang sedikit memajukan bibir bagian bawahnya.


“Begini aja, dah. Daripada aku sama Angga bingung, mending salah satu di antara kalian berdua ceritain tuh mimpi pada kami. Kalau dipendem gitu, gak ada selesainya malah.”


Freya dan Jova saling menatap satu sama lain dengan hati getir. Bisa dua pemuda tersebut baca pikiran mereka bahwa mereka bingung harus bercerita atau tidak, bahkan sudah dipastikan ada cabar hati yang diterima oleh kedua gadis itu. Sampai tiba-tiba Freya menggigit bawah bibirnya seraya menggoyang-goyangkan lengan tangan kanan Jova.


“Kamu aja deh yang ceritain ke Angga sama Reyhan!” pinta Freya sangat.


“Lah? Kenapa harus aku yang kudu menceritakan mimpi kita berdua ke mereka?! Ogah, ah! Kamu aja mending, aku lagi berusaha ngelupain tau dengan ngajak celoteh ama adek kelas,” sangkal Jova.


“Enggak mau! Pokoknya kamu aja yang ceritain! Kasihani aku dong, Va ... kamu pasti tahu kan kalau sahabat polosmu ini takut banget!” sanggah Freya dengan merengek.


“Enggak mau! Kamu aja, Frey!”


“Jova, mah! Tinggal ceritain ke mereka apa susahnya, sih? Kasihan lho Angga sama Reyhan nungguin kita. Apalagi kurang beberapa menit lagi bel akan bunyi. Ayolah, Va!”


“Kagak! Kamu aja yang ceritain, ini kan udah di dunia nyata! Bukan dunia maya kek di mimpi buruk kita itu!”


Reyhan yang menatap serius kedua sahabat perempuannya menjadi jengah karena bukannya bercerita malah justru berdebat seperti itu. “Buset, dah. Ini dua cewek malah berantem. Jadi gak, nih?”


Angga yang memahami kondisi Freya dan Jova, menghela napasnya pelan dengan senyum yang ia berikan pada mereka berdua. “Kalau salah satu dari antara kalian gak ada yang mau bercerita, juga nggak masalah. Ini bukan pemaksaan yang mengharuskan kalian menceritakan mimpi buruk kalian itu. Lagipula, mimpi buruk emang kadang harus dilupakan, tidak diingat atau dibayangkan.”


“Oke! Bakal aku ceritain semuanya!” pekik Jova tiba-tiba dengan kembali duduk tegak.


“Perasaan tadi nolak-nolak kayak lagi ditawari, kok sekarang malah jadi mau cerita? Oh, gue tau nih! Pasti karena denger suara Baritonnya Angga, Jova terhipnotis langsung. Ih, iya banget!”


Angga menoleh ke arah Reyhan dengan wajah sebalnya karena ucapan sahabatnya yang asal. Tanpa sungkan pun, Angga langsung menoyor pucuk kepala Reyhan dengan lumayan keras. “Kalau gak tau, gak usah pake acara ngaco segala!”


Reyhan menggeram sebal. “Sakit, Sialan!”


Jova menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Matanya ia pejamkan dengan tenang untuk menceritakan semua alur mimpinya yang sama dengan mimpi Freya tanpa ada satupun perbedaan.


“Jadi mimpinya itu ...”


Flashback On


Entah mengapa apa yang membuat mereka berempat menginjak alam yang gelap, mereka berada di sebuah hutan nang amat luas. Luas namun terkesan mencekam dan memiliki sifat aura mengerikan serta bernuansa hantu.


Secara berjalan sejajar, mereka berempat terus melangkah tanpa ada arah tujuan yang membuat mereka berhasil menemukan jalan keluar. Sampai tiba-tiba, angin malam berhembusan kencang menerpa rambut kedua gadis dan kedua lelaki itu. Tetapi mereka terus saja melangkah ke jalan yang melurus ke depan, mereka tak akan mengambil jalan arah lain selain lurus karena mereka tidak ingin semakin tersesat di dalam hutan yang mempunyai banyaknya ribuan pohon besar nang menjulang tinggi.


“Sepertinya kita telah mendapat target untuk kita permainkan fisiknya, Bro.”


Keempat remaja SMA itu yang memiliki postur tubuh sempurna, berhenti melangkah lalu memutar tubuhnya bersamaan ke belakang. Mereka dikejutkan dua pria berpakaian hitam beserta mengenakan topeng wajah tersenyum devil. Mereka nampak menggenggam senjata tajam yang mereka bawa masing-masing.


“S-siapa mereka?! Kenapa mereka membawa benda tajam?!” bimbang Freya dengan tubuh mendadak bergetar karena saking takutnya melihat senjata tajam tersebut.


“Apakah mereka seseorang psikopat yang suka memakan korban target?!” tanya Jova berusaha berani menghadapi kedua pria itu.


Angga dan Reyhan sama-sama berwajah penuh waspada tanpa ada rasa takut yang meliputi hatinya, malah justru mereka berdua memunggungi kedua gadis tersebut untuk memberikan perlindungan.


“Lo mau apa?” tanya Angga dingin.


Mereka berdua yang mengenakan topeng itu hanya saling menatap tanpa mau menggubris pertanyaan Angga yang bernada dingin. Hal itu membuat Reyhan geram marah. “Jawab! Tunarungu ya elo pada?!”


Para pria bertopeng wajah itu tertawa meledek Reyhan dengan menggelengkan kepalanya. Pemuda humoris berambut cokelat tersebut, mengerutkan keningnya. Apa yang lucu, coba?


“Jangan sok berani kalian berdua pada kami. Gak perlu menutupi rasa hati ketakutan kalian melihat kami berada dihadapan kalian,“ ucap salah satu pria dengan melipat kedua tangannya di dada. Sudah terlihat sombongnya.


Reyhan tersenyum miring. “Sori, kami berdua gak ada rasa hati takut sedikitpun! Menyingkir-lah kalian dari sini. Kami berempat nggak ada segala urusan apapun dengan kalian berdua !”


“Oh ya, kah? Lo yakin lo semua gak takut sama kami berdua? Mata lo buta gue dan temen gue bawa apaan? Lo semua akan mati di tangan kami, karena sepertinya akan begitu menyenangkan mempermainkan fisik kalian semua terutama dua cewek cantik yang ada di belakang punggung kalian berdua.”


Angga menggertakkan giginya kuat karena amarahnya telah dipancing oleh pria bertopeng tersebut, segera ia tuding kencang dirinya. “Jangan mencoba untuk bermacam-macam! Gak akan ada yang bisa menyakiti mereka berdua, selama kami ada di sini untuk menjaganya !!”


Freya terkejut apa yang kekasihnya lontarkan penuh penekanan nada tinggi. “Angga ...”


Pria satunya menganggukkan kepalanya dengan gerakan angkuhnya. “Oke. Jika diartikan pakai logika, cewek-cewek itu akan mati diakhir dan kalian berdua-lah yang pertama kami habisin !!”


Mata Reyhan terbelalak. “Udah gak sehat lagi, ini orang !”


Angga menatap tajam kedua pria itu yang masih setia berdiri di hadapannya bersama Reyhan. “Kita semua sudah dalam bahaya.” Angga menoleh ke belakang dengan tatapan menuntut. “Kalian ikuti perintahku, cari tempat yang aman untuk kalian berdua. Agar kalian selamat dari intimidasi mereka.”


“T-tapi kalian berdua gimana?! Bagaimana kalau kamu sama Reyhan terluka parah?! Apa kamu gak lihat kalau mereka saja memakai senjata tajam untuk menghabisi nyawa kita semua?! Kita berempat harus tetap bersama! Gak boleh ada yang berpisah !”

__ADS_1


Reyhan menggelengkan kepalanya kuat pada tolakan Freya. “Jangan! Kamu gak boleh gegabah! Ini situasi bahaya dan darurat, bener kata Angga. Kalian harus mencari tempat yang cukup aman supaya kalian selamat dari kedua pria brengsek itu !”


“Aku gak mau, Rey-”


“Udah ayo, Freya! Lebih baik kita berdua mengikuti atas komando suruhan dari Reyhan sama Angga! Apa yang mereka bilang emang ada benernya. Kita harus cari tempat yang aman terlebih dahulu !”


Jova menarik tangan sahabat polosnya dengan kencang untuk mengajak berlari kabur dari kedua pria tersebut yang akan menjadi urusannya Angga dan Reyhan buat melakukan pertarungan sengit serta mengancam jiwa. Kini sekarang usai berlari mencari tempat persembunyian, kedua gadis tersebut menuju ke batu tegak berdiri yang ukurannya sangat besar serta panjang.


Cocok bagi mereka berdua bersembunyi demi keselamatan nyawa. Di belakang batu, Freya dan Jova memantau kedua lelaki tersebut yang masih sedang berhadapan dengan kedua pria psikopat.


“Dua cewek itu berani-beraninya menuruti ucapan mereka itu yang sok pemberani,” ujar satu pria berbicara pada temannya yang ada di samping.


“Lewati kami terlebih dahulu! Kalian gak bisa asal menyakiti kedua perempuan sahabat gue untuk menjadikan target korban kesenangan kalian secara kejam!” damprat Reyhan.


Pria yang ada dihadapannya Reyhan mengeratkan genggaman pisaunya bagian gagang silikon hitamnya. Ia begitu murka dan gregetan ingin langsung mempermainkan fisik Reyhan secara kejam dan sadis. Tanpa bersabar, pria itu langsung berlari dengan mengangkat pisaunya untuk menghujam Reyhan.


“Reyhan! Berhati-hatilah!!” peringat Angga.


“Sial! Kalau begini caranya gue gak bisa asal langsung nyerang ini bocah satu!” Reyhan yang tak punya pilihan lain, langsung berlari terlebih dahulu menghindari pria yang ingin membunuhnya sebelum menyerangnya nanti.


Reyhan berlari sekilat mungkin bahkan dirinya dari depan bisa mendengar suara tawa kencangnya pria itu yang sedang mengejarnya brutal. Rasa ingin membantainya penuh nafsu dan Reyhan tidak boleh mengalami lengah, kesilapan sedikitpun karena itu bisa merenggut nyawanya sendiri.


“Lihatlah! Lo takut sama gue, hahaha! Nyatanya, elo malah lari dan kabur dari gue !”


“Siapa bilang?!” Reyhan menghentikan larinya dengan secara langkahnya terseret bersama sepatu yang ia kenakan. Di samping pohon, Reyhan langsung mengambil balok kayu yang tergeletak di rerumputan.


“Jangan ada kata lagi bahwa gue takut dengan lo!! Karena itu sama sekali gak mungkin !!!”


BUAGH !!!


Bersama tenaga yang sangat kuat dan maksimal, Reyhan memukul kepala bagian sebelah kiri pria itu dengan balok kayu sebagai senjatanya hingga kepala ia terluka dan mengeluarkan banyak darah.


Pria itu akhirnya terpental ke samping lalu terjatuh ke tanah dengan keras. Ia memegang kepalanya yang telah dipukul hebat oleh Reyhan yang pemuda Friendly tersebut masih tetap menggenggam senjata balok kayu yang ujung atasnya telah ada jejak bercak darah.


Sementara di sisi lain, Angga nampak meliuk-liukkan badannya mengelak serangan yang tiap pria lawannya berikan hingga satu kesalahan dimana psikopat itu telah memahami gerak-gerik targetnya menggunakan taktik akal cerdasnya, dengan segera pria itu yang tak ingin mengulur-ulur banyak waktu, mengangkat tubuh Angga lalu membenturkan kepalanya di pohon dengan cukup kuat.


Freya yang melihat aksi kasar dan sadis itu nang melukai Angga sang kekasih, menutup mulutnya dengan air mata keluar lolos dari pelupuk matanya. Setelah tubuh Angga dilepas oleh psikopat bertopeng tersebut, lawannya pemuda Indigo itu mengayunkan tendangan kaki kanannya ke dada Angga. Namun dengan tangkas, Angga menangkapnya lalu memelintir kuat kaki pria itu hingga terjatuh ke tanah dalam posisi tubuh terlungkup.


Kesempatan emas Angga, langsung membangkitkan paksa tubuhnya dari baringnya lalu menginjak punggung psikopat tersebut untuk mengambil sebuah pistol dari saku kantong celana jeans biru belakangnya. Sampai tiba-tiba Angga terperangah mendengar teriakan Reyhan dari ujung depan jauh sana.


Sementara Jova dan Freya sama-sama menahan tangisannya saat melihat Reyhan disiksa habis-habisan usai kalah melawan psikopat lawan miliknya. Keadaan sekarang, kepala Reyhan dibenturkan kuat ke pohon berkali-kali sampai kepalanya mengeluarkan banyak darah. Jelas tentu psikopat yang menyerang Reyhan tak terima atas perbuatan Reyhan tadi, maka dari itu Reyhan harus diberikan pembalasan yang setimpal.


Tangan kanan Reyhan meraba-raba untuk cepat merebut pisau yang dipegang oleh psikopat tersebut. Ya, berhasil! Kini sekarang Reyhan dengan pembalasannya terhadap lawannya, menikam bahu kiri pria itu dengan pisau yang sekarang ada di tangannya. Merasa kurang, Reyhan mencabut pisaunya lalu menusuknya secara berkali-kali agar psikopat bertopeng wajah itu kekurangan banyak darah karena darahnya ini merembes mengalir keluar dengan bebasnya dikarenakan lukanya terbuka lebar.


“ARGH!! DASAR BANGSAT YA LO !!!”


Psikopat itu langsung melempar tubuh Reyhan kencang hingga mendarat keras di rerumputan hingga belakang kepalanya tepat membentur bebatuan yang tertancap di dasar rerumputan hijau. Pandangannya dalam sekejap memburam karena apa yang Reyhan rasakan darah kepalanya terus mengalir keluar hingga dirinya tak ada tenaga untuk bangkit.


Reyhan berusaha menahan sakitnya itu, dan terus memukul-mukul kepalanya agar kesadarannya tetap ada untuknya. Ia tak boleh pingsan sebelum semuanya berakhir dengan baik-baik saja dan ia harus memastikan kedua sahabat perempuannya selamat tanpa ada marabahaya yang mengancam jiwa nyawa mereka.


“Nyawa lo cukup kuat ya. Sudah berkali-kali gue menyerang diri elo, tapi lo masih senantiasa hidup,” kata pria itu seraya melangkah mendekati Reyhan yang terbaring lemah di atas rumput.


“J-jangan mendekat ... tolong ...”


“Yes! Inilah yang gue suka! Suara lemah yang terdengar merdu di telinga seorang psikopat seperti kami. Kasian, lo pasti sebentar lagi akan menyerah dan membiarkan detak jantung lo berhenti untuk selamanya, hahahaha !”


Reyhan hanya bisa mendengar suara tawa renyah bahagianya psikopat itu. Ia sudah tidak bisa berbuat-apa-apa untuk membalas perbuatan kejinya dirinya. Psikopat berpakaian hitam tersebut berjongkok setelah berada di sebelahnya Reyhan.


“Apa yang akan dia lakukan lagi sama Reyhan, hiks!” takut Freya bila kehilangan sosok sahabat lelakinya.


Jova yang di sampingnya Freya langsung memeluknya erat bersama tangisan derasnya. Mereka hanya bisa berpasrah kepada Tuhan apa yang akan terjadi setelah ini, di malam mengerikan ini. Psikopat tersebut yang bersama Reyhan, mencekik leher korban targetnya tanpa menunjukkan wujud rupa mukanya.


“L-lepas! Lepasin gue ...!” teriak Reyhan berusaha meronta.


“Oh! Masih bisa teriak, rupanya? Apakah lo ingat sebelum penyerangan ini dimulai lo ngatain kami berdua dengan sebutan 'tunarungu'? Bagaimana kalau sekarang gue coba menulikan kedua kuping lo dan membuat diri lo bisu? Wah, pasti adegannya bakalan seru jika dilakukan.”


Reyhan menggelengkan kepalanya berkata jangan pada psikopat tersebut. Tetapi yang namanya seorang psikopat pasti suka semaunya dan tak mempunyai belas kasih kepada siapapun apalagi korban target yang ia bunuh demi kesenangannya yang sebagai hobi utama.


Psikopat itu kemudian mengambil pisaunya yang tergeletak di sebelah Reyhan usai terlepas dari genggaman tangan korbannya. Setelah itu, pria tersebut mengangkat pisau miliknya yang telah berlumuran darahnya nang sebentar lagi akan bercampur darahnya Reyhan.


“Sssstt! Jangan berisik, ini sudah malam. Lo harusnya segera cepat tidur dengan tanpa sanggup lagi melihat matahari terbit esok pagi, hahahaha !”


Tanpa aba-aba, psikopat tersebut langsung menusuk pisaunya ke dalam telinga Reyhan hingga mengenai gendang telinga pemuda berambut cokelat yang sekarang telah berantakan. Kesakitan yang amat itu berhasil membuat Reyhan berteriak hingga rahangnya mengeras. Belum berakhir, psikopat tersebut langsung mencabutnya paksa dari telinga Reyhan yang gendangnya telah pecah lalu menusuk telinga korban sebelahnya sampai mengenai gendangnya.


“Ayo! Ayo! Berteriak-lah dengan yang sangat kencang!! Gak akan ada yang bisa menyelamatkan lo malam ini !” gembira pria itu seraya mencabut kasar pisaunya dari telinganya Reyhan yang darahnya telah keluar dengan derasnya.


Akibat serangan jahat itu, muka milik Reyhan bertambah pucat karena kekurangan banyak darah. Dan yang melihatnya di dekatnya bahagia dan tertawa lagi dengan sangat kencang. “Sekarang tinggal suara lo aja yang akan gue hilangkan. Tapi pasti nyawa elo bakal ikutan hilang.”


“Ayo lakukan ...” Psikopat itu mengernyitkan keningnya dengan memiringkan kepalanya karena korbannya itu masih mendengar suaranya yang padahal gendang telinganya Reyhan telah ia pecahkan menggunakan tusukan pisau. Tapi tidak apa, psikopat itu masih ada cara lain selain itu.


“Hmmm! Akhirnya lo menyerahkan diri juga, Sobat! Mengapa? Sudah gak ada tenaga yang cukup, kah? Apakah ada kata-kata terakhir sebelum lo mati?”


“Cepat lo enyah dari dunia ...”


“Hah? Hahahaha! Lelucon apa ini?! Itu saja kata-kata terakhir sebelum lo mati? Okay, good bye !”


JLEB !!!


“REYHAAAAAAAANN!!!” teriak histeris antara Freya dan Jova setelah melihat leher Reyhan tepat di nadinya ditusuk oleh psikopat tersebut hingga darah bercucuran bersimbah di luar tubuh Reyhan.


Psikopat itu bangkit dari jongkok usai mencabut pisaunya dari leher Reyhan yang mana korbannya telah diujung kematian. Pria tersebut menoleh ke belakang dan menatap kedua gadis itu yang berteriak histeris.


DOR !!!


Angga menembak topeng pria psikopat itu menggunakan pistol senjata lawannya yang tengah hilang kesadaran usai ia pukul tengkuknya dengan sangat kuat. Pelurunya itu berhasil mengenai mata kanannya hingga membuat ia kesakitan hebat.


“Di saat itu lo buat sahabat gue kesakitan hingga sekarat, dan kini giliran elo !!”


DOR !!!


Angga menembak dada psikopat itu tepat pelurunya mengenai jantungnya. Bisa dilihat Freya, Jova, beserta Angga bahwa pria itu tumbang jatuh tergeletak di rerumputan dalam posisi telah tak bernyawa lagi. Angga berakhir menurunkan pistolnya yang ia gunakan sebagai senjata ampuhnya, lalu kepalanya menoleh ke arah Reyhan yang terbujur kaku di atas rerumputan.


Dengan segera, Angga berlari kencang dalam keadaan pandangannya berkunang-kunang karena kepalanya telah dibenturkan keras oleh lawannya tadi di pohon. Setelah berlari mendatangi Reyhan, Angga berjongkok di samping sahabatnya yang matanya telah terpejam damai.


Hatinya tersayat-sayat saat disuguhi dengan tubuh Reyhan yang bersimbah banyak darah segar. Angga kemudian meraih tubuh lemah sahabatnya lalu dengan gemetaran jari telunjuknya mendekat ke arah pernapasan hidung milik Reyhan. Pemuda tampan itu tergemap saat merasakan bahwa tak ada lagi napas Reyhan yang berhembus pelan sekalipun.


Isakan tangisan lirih keluar dari mulut Angga, dirinya beralih memeluk erat sahabatnya yang telah meninggalkannya untuk selamanya. Air matanya terus mengalir membasahi pipi hingga menetes mengenai darah Reyhan yang belum mengering. Angga sudah tahu semua ini akan mendatangkan sebuah risiko besar ialah kehilangan sosok dalam hidupnya dan ternyata itu adalah Reyhan.


Jova dan Freya menangis tersedu-sedu dibalik batu lonjong besar itu tanpa ada niatan untuk menghampiri mereka berdua, karena mereka tahu bahwa ini masih dalam bahaya. Hingga salah satu dari gadis itu melotot saat psikopat satunya yang telah sadarkan diri mendekati Angga seraya mengangkat pisau belatinya ke lelaki tampan tersebut.


“Angga, awas di belakangmu !!!”


Setelah diperingati oleh Freya sang cahaya matanya, Angga langsung menyerong badannya ke belakang beberapa derajat seraya menarik pelatuk pistolnya untuk menembak psikopat tersebut.


DOR !!!


Tak sesuai dugaan! Angga hanya mengenai sasaran peluru pistolnya di lengan tangan psikopat itu yang posisinya terangkat menggenggam pisau. “Haha! Segitu doang kemampuan lo? See, lo sudah buat temen kesayangan gue mati tragis !”


“Temen lo juga sudah buat sahabat terbaik gue mati secara mengenaskan !!” sarkas Angga murka dengan penuh penekanan nada.


“Bagus, dong! Impas, itu namanya. Dan pasti sekarang hati lo hancur diperlihatkan sosok sahabat lo yang telah meninggalkan dunia, dan ... akan gue pastikan dua cewek terdekat lo itu merasakan kehancuran hati yang sama setelah melihat kematian lo secara depan mata sebelum mereka berdua mati di tangan gue.”


Angga tersenyum sinis. “Baiklah. Kita lihat saja siapa yang akan mati duluan, gue atau elo.”


Angga membaringkan raga Reyhan perlahan di rerumputan lalu bangkit dari jongkok-nya. Ia siap berhadapan dengan psikopat pria ini tanpa ada rasa getir dan takut menyerang. Pria tersebut langsung cepat melawan Angga dengan menghujam pisaunya ke arah lawan.


Angga dengan gesit meliukkan badannya ke samping untuk mengelak. Namun karena kepalanya yang telah pusing berkunang-kunang, Angga menjadi tak fokus karena pandangannya terus saja memburam.


DUAGH !!!


Psikopat tersebut yang mempunyai peluang kesempatan, menendang dada bidang Angga bagian tengah hingga pemuda Introvert itu terpelanting ke belakang dan mendarat keras di atas rerumputan. Angga memejamkan matanya kuat saat bagian belakang kepalanya harus terbentur gara-gara ulah bengisnya psikopat tersebut, dirinya berusaha menahan rasa sakit dahsyat itu yang terjadi di kepalanya.


Psikopat terakhir itu berdecak-decak seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan mendekati Angga yang posisinya hendak bangkit dari baringnya, namun karena gerak psikopat itu lebih cepat dibanding Angga, ia menyergap langsung ujung atas baju korbannya ke atas hingga tubuhnya terangkat secara dipaksa.

__ADS_1


“Tolong jangan lukai Angga lagi! Aku mohon!!” pinta Freya terus menangis karena tak rela kehilangan kekasihnya.


Psikopat itu menolehkan kepalanya lalu tertawa. “Diam saja di sana dengan cantik, Sayang. Beberapa detik lagi elo dan samping lo akan melihat kematian cowok sok belagu ini ke jurang yang sangat begitu dalam. Pasti akan seru, hahaha !”


“A-apa?! Jurang?!” Jova langsung mencari letak jurang itu dengan pandangan bola matanya. Hingga setelah menelisik sekeliling tempat, pandangan Jova berhenti di sudut arah yang di sana adalah benar-benar gelap alias jurang.


Jova dengan memberanikan diri, berdiri dari jongkok-nya lalu memperlihatkan diri pada pria psikopat bertopeng yang telah bolong karena ditembak oleh Angga. “Gue sudah kehilangan satu cowok sahabat gue, jadi tolong jangan bunuh Angga!! Dia bahkan gak ada salah sama lo !”


“Lepaskan Angga sekarang juga !!!”


“Lo menyuruh gue untuk melepaskan sahabat terakhir cowok lo ini yang sok berani? Itu mustahil! Apalagi dia sudah berani-beraninya membunuh teman gue, jadi dia harus mendapatkan pembalasan yang setimpal, hahahaha !”


“Argh! Tapi temen lo juga sudah bunuh Reyhan!! Dia pantas mendapatkannya, Bajingan!!” berang emosi Jova.


“Va, cukup!! Percuma kamu berkata seperti apapun, semuanya sudah nggak ada gunanya lagi! Kamu berbicara untuk menyelesaikan, gak ada yang mempan sama sekalipun! Lebih baik sekarang kamu lindungi saja Freya, jagain dia.”


“A-angga ...?! Kamu kenapa bilang kayak gitu, seolah-olah hal ini akan terjadi padamu!” kejut Jova masih saja berusaha ingin menuntaskan walau ia tak bisa bergerak untuk menolong Angga.


Psikopat itu yang tadi menatap Jova sekarang beralih kembali menatap wajah Angga yang juga memucat. “Apa lo gak sadar? Secara, itu sebuah pertanda kalau lo akan mati sebentar lagi.”


Psikopat tersebut langsung menarik kencang Angga tanpa melepaskan sergapan dari baju sang korban, ke tepi atas jurang. Pria bengis tak punya hati itu mulai mencondongkan tubuh Angga ke bawah, walau Angga sendiri tak merasa takut dengannya. Biarpun dirinya kehilangan nyawa tetapi lawannya harus mati terlebih dahulu agar kedua perempuan terdekatnya tetap selamat tanpa ada ancaman jiwa.


“Setelah lo mati terjun ke dalam jurang gelap ini, gue akan membunuh dua cewek itu sebagai kesenangan gue di malam ini, hahahaha !”


Angga balik tersenyum smirk. “Oh, ya? Tapi semua itu gak akan terjadi, karena ...” Lelaki tampan pemilik jiwa pemberani itu mengeluarkan sebuah pistol yang ia simpan di kantong saku jaketnya lalu ia todong senjata mematikan itu bila dirinya menarik pelatuk dari pistol tersebut ke arah sasaran jidat psikopat yang hendak akan membunuhnya.


“Lo akan mati duluan dengan senjata pistol ini. Dan itu artinya elo lah yang mati terlebih dahulu sebelum gue !”


Angga menarik pelatuk pistol hitam tersebut usai membidik sasaran ke arah kepala psikopat itu dengan sangat tepat, sementara lawannya telah tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan Angga.


DOR !!!


Psikopat bertopeng itu akhirnya jatuh tergeletak tidak bernyawa seperti temannya yang telah mati dibunuh oleh Angga. Dan hal tersebut otomatis cengkraman kedua tangan pria itu terlepas begitu saja dari kaos blangko milik Angga.


“ANGGA!! ENGGAK !!!”


Freya yang berteriak barusan, langsung berlari dari tempat persembunyiannya untuk menyelamatkan kekasihnya yang hendak terhuyung jatuh terjun ke dalam jurang. Dengan cepat, tangan kanan mungil Freya menangkap kuat salah satu tangan milik Angga yang telah berlumuran darah karena terkena noda darah tubuhnya Reyhan.


Sekuat tenaga, gadis lugu tersebut menarik tubuh Angga dari atas meskipun tubuh Freya bergetar hebat karena telah menyaksikan Reyhan dibunuh secara tragisnya dan lainnya yang membuat dirinya Tremor seketika. Bahkan saking tidak mau jatuh, tangan kiri Freya berpegangan pinggiran ujung tanah.


“Tetap genggam tanganku, Angga!! Jangan kamu lepaskan, aku bakal tarik kamu dari sini !”


Tidak hanya Freya saja yang membantu lelaki tampan itu kembali ke atas, tetapi juga dengan Jova yang siap menolongnya dengan cara seperti sahabat Nirmala-nya. “Ayo, Ngga! Aku bantu sama Freya! Please kamu jangan mati! Reyhan sudah pergi ninggalin kita, dan kamu gak boleh mati! Kamu tetap harus bersama kami berdua !!”


“Kalian tetaplah di atas, biarkan aku jatuh.” Angga tersenyum hangat seolah-olah senyuman terakhir untuk mereka berdua, karena akibat lumuran darah itu membuat pegangan tangan Freya dan Jova licin, bahkan lengan tangannya Angga merosot ke bawah.


Kedua gadis itu menggelengkan kepalanya dan melontarkan pekikan kompak, “Gak! Jangan, Ngga !!”


Angga tetap memajang senyuman di wajah tampannya. “Kalian jaga diri baik-baik, ya. Maaf kalau selama ini aku ada salah dengan kalian berdua.”


Pada akhirnya tubuh Angga terjun ke bawah dengan secepat angin, Freya berusaha menggapai tangan kekasihnya namun yang ia dapat adalah hembusan haluan angin saja. “Anggaraaaaaaa !!!”


Freya berteriak menangis kencang setelah melihat Angga kekasih tercintanya terjun ke dalam jurang, hingga terdengar suara dentuman dari bawah jurang gelap tersebut. Gadis polos itu mencengkram atas tanah dengan tangisan kuat yang menjadi-jadi.


Jova yang sadari tadi menangis terisak-isak karena kini telah ditambah kematian dua sahabat lelakinya yang berhati malaikat itu, mulai bangkit berdiri dan menghampiri Reyhan yang sudah terbujur kaku menjadi mayat bersama kondisi mengenaskan dimana terdapat banyak luka parah di tubuhnya.


Jova menjatuhkan kedua lututnya di rerumputan hijau, menatap Reyhan nanar dengan hati yang amat sangat hancur. Melihat kulit putih pasi sahabatnya terlebih nyawanya telah lama melayang dibuat oleh psikopat pertama yang telah mati jua karena ditembak pistol dengan Angga sebelum sahabat Introvert tampannya menyusul kepergiannya Reyhan.


Tangisan Jova berubah menjadi pecah dalam sekejap, meratapi takdirnya bersama Freya yang seperti ini. Kini hanyalah tinggal kenangan terindah yang akan mereka kenang selalu atas kebaikan Angga dan Reyhan semasa masih hidup.


Flashback Off


“Begitulah ...” pungkas Jova dengan linangan air beningnya lolos keluar dari pelupuk matanya.


Freya pun menganggukkan kepalanya dengan muka sendunya, bahkan gadis cantik lugu itu ikut mengeluarkan air matanya karena betapa pedihnya mimpi buruk tersebut yang ia dan Jova datangi. Sementara Angga dan Reyhan saling menatap bersama hati yang tersentuh dari cerita mimpinya gadis Tomboy sahabatnya mereka itu.


“Parah, sih emang ...” ucap Reyhan menutup matanya dengan menyentuh kening tengahnya sambil nyengir.


Angga mengulum senyuman untuk ia berikan pada kedua gadis tersebut. “Begitu, ya? Kalian mimpi itu tadi malam?”


“Iya! Cocok dengan mimpi kami berdua yang suasana saat itu masih malam, tepatnya tengah malam. Aku juga gak tau kenapa aku sama Jova dikasih mimpi buruk mengerikan kayak gitu,” respon Freya berusaha menyeka air matanya.


“Di mimpi itu, yang mati ngenes si Reyhan doang. Kalau si Angga, mah agak mending. Langsung jatuh ke jurang,” timpal Jova.


“Orang aku yang dari tadi menyimak ceritamu soal mimpi kelam itu, bisa ngebayangin, Cuy! Eh tapi aku salut banget lho, sama kamu!”


“Salut apaan?” tanya Jova pada Reyhan dengan mengernyitkan dahinya bingung.


“Iya, salut! Bisa-bisanya sepanjang alur mimpi yang kalian jumpai itu, masih kamu ingat banget. Aku aja kalau misalnya mimpi panjang kayak rel kereta api gitu, langsung cepet gak ingat pas bangun tidur.”


“Lo-nya aja yang dasarnya cowok pikun!” ledek Angga dengan nyaris tertawa.


“Apaan, ya! Maksud gue tuh cuman inget setengah doang, kagak semuanya!” protes Reyhan tak mau menerima atas ledekan sahabatnya.


Angga mendorong kepala Reyhan dengan satu tangannya. “Halah! Bilang saja nggak mau kalah sama gue.”


Reyhan yang diberikan dorongan tangan seperti itu pada Angga, langsung memanyunkan bibirnya sedikit dengan memegang kepala bagian samping kirinya tanpa komplain lagi pada Angga yang sekarang tertawa kecil. Sementara Freya mengarahkan bola matanya menatap kekasihnya.


“Angga, aku mau tanya sama kamu.”


Suara cicit Freya yang sedang bersedih membuat Angga menolehkan kepalanya dengan tersenyum. “Iya, kamu mau tanya apa sama aku?”


“Arti mimpi jatuh ke dalam jurang tuh apa, ya? Aku yakin pasti kamu tau artinya karena kamu sudah banyak berpengalaman segala banyak mimpi buruk.”


Angga berdeham kecil tanpa memudarkan senyuman tampan miliknya. “Arti dari mimpi jatuh ke jurang itu adalah dimana kita akan mendapatkan sebuah pertanda buruk yang mendatang entah kapan, setahu aku begitu.”


Freya menggigit bibirnya dengan hati kalut tak karuan, di situ Angga bisa melihat kekasihnya kalau panik tak karuan yang tergambar di raut wajah cantiknya. “Sudah, jangan dibuat pikiran. Lupakan saja mimpi kamu itu apalagi kamu juga, Va.”


Jova menghela napasnya dengan wajah lemasnya kemudian gadis berambut cokelat itu menatap Reyhan yang sedang menyeruput minumannya penuh nikmat. “Reyhan, arti mimpi buruk dibunuh pake senjata tajam apa, ya? Penasaran banget aku.”


Reyhan melirik Jova dengan menaikkan kedua alis tebalnya lalu meletakkan gelas es teh manisnya di meja. “Apa, ya? Gak tau sih aku. Bentar, aku cari tau dulu di internet, biasanya langsung ada jawabannya.”


Jova menganggukkan kepalanya dengan sedikit menarik senyumannya. Kini sekarang Reyhan membuka layar ponselnya untuk mencari tahu apa yang dipertanyakan oleh Jova, di aplikasi Google dan mengetiknya di kolom kecil pencarian.


Reyhan menelan ludahnya dengan meringis setelah apa yang ia temukan jawabannya. “Udah ketemu nih jawabannya. Arti dari mimpi buruk dibunuh tuh yang aku temuin di sini, dimana akan mendapatkan sebuah musibah atau masalah yang mungkin segera dialami- eh, gue dong berarti?!”


Jova melongo tak percaya. “Lagian cepet amat nemu jawabannya? Jangan-jangan kamu salah nyari, lagi?!”


“Eh enak aja! Enggak, kok. Nih kalau kamu nggak percaya, aku kalau soal model-model nyari sumber ilmu pengetahuan di internet manapun udah pakar.” Reyhan langsung membalikkan ponsel Androidnya untuk memperlihatkan jawaban yang ia temukan.


Tak hanya Jova saja yang melihatnya namun juga Freya dan Angga. Kemudian gadis berambut cokelat tergerai lurus tanpa poni itu mendengus lalu kembali menatap Reyhan. “Masalahnya itu pertanyaannya 'Arti Mimpi Dibunuh Orang Yang Tidak Dikenal' pantesan aja jawabannya kayak begitu.”


“Woi, kan sama aja. Aku dibunuh sama psikopat yang gak aku kenal, emangnya pelaku yang bunuh aku Jevran Adifian Luji?”


“Eh! Itu kan temen kita, Nyuk! Kok malah bawa-bawa nama temen segala, sih? Tetanggamu, pula!“


“Nah! Tuh kamu tau, huh! Lagian kita berempat ngapain bisa sampe ke hutan segala, sih? Ada apa gerangan dibalik tempurung kelapa?”


Angga menatap Reyhan dengan wajah jenuh. “Gue gak paham apa yang lo maksud barusan.”


“Gak usah di ladenin, gue lagi ngomong asal.”


“Gak tau juga sih, Rey. Kenapa kita berempat bisa berada di hutan dalam mimpi buruk itu, langsung aja tanpa ada keterangan kayak ngadain rencana atau perkara apa yang buat kita semua memasuki hutan mencekam itu,” tanggap Freya.


Angga mengetuk-ketuk dua jari dari tangan kanannya di atas meja. “Kalau mimpinya sudah seperti itu, artinya kalian berdua diberikan sebuah pertanda buruk besar untuk aku sama Reyhan.”


“Hah?! Pertanda buruk besar untuk kamu dan Reyhan?! Ah! Yang bener aja dong, Ngga! Jangan nakutin aku sama Freya!” sebal Jova.


“Aku hanya memberi tahu saja. Barangkali kamu penasaran apa yang dimaksud dari mimpi itu, apalagi di sana sudut pandang point of view mimpi kalian menjurus ke aku dan Reyhan yang dibunuh dengan dua psikopat.”


Freya yang mendengarnya hanya diam seraya kembali menggigit bibirnya, hatinya begitu kalut jika misalnya memang akan ada suatu musibah atau masalah tertentu yang mendatangi mereka berdua. Sementara Reyhan juga diam mencerna ucapannya Angga yang otaknya sempat blank namun puncaknya mengerti dan paham juga maksud dari sahabat Indigo-nya usai menjabarkan ke Jova dengan detail.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


Note : Tremor adalah gerakan gemetar tidak terkendali yang terjadi secara berulang, tanpa disadari dan terjadi di satu atau beberapa bagian tubuh


From_alodokter


__ADS_2