
Nampak Jova duduk termenung di lantai balkon kamar dengan menyenderkan bahu kanannya di pagar besi pembatas luar balkon. Dalam wajah sedihnya Jova, ia meminum White Coffee di cangkir mug bermotif daun-daun berwarna oranye serta ungu, sementara latar belakang cangkirnya berwarna Mocca.
Satu tegukan minum, berhasil melegakan tenggorokan Jova yang kering. Sebenarnya yang paling tepat adalah meminum air putih hangat di pagi hari seperti cuaca yang mendung ini, tetapi gadis jiwa tomboy tersebut lebih memilih meminum susu kopi buatannya. Keluarganya yang ada di rumah tak ada yang mau menggugat Jova dulu, dikarenakan suasana hatinya sangat buruk. Sudah dari kemarin, Jova tak menampilkan senyumannya sama sekali pada Echa, Agatha, dan Nova. Yang ada hanya muka suram murungnya yang ada di raut wajah cantiknya.
Jova menghembuskan napasnya lemah. “Kenapa sih akhir-akhir hari ini semakin gak ngenakin banget? Dulu yang sakit parah, si Angga. Dan yang sekarang di pertengahan bulan ini ... malah gantian Reyhan sama Freya.”
Jova mendongakkan kepalanya melihat atas langit yang tak mendukung hatinya saat ini. “Apa selanjutnya, gue? Eh gak lah! Gak! Yakali adegan meresahkan ini berantai kayak di film-film Barat! Huh, mikir apaan sih gue sumpah! Akal otak gue gak sehat apa gimana?”
Jova bermonolog pada dirinya sendiri seraya memukul-mukul kepalanya pelan, menetralkan pikiran parak-nya di dalam otak. Kini, angin berhembusan kencang meniup rambut coklat panjangnya Jova, gadis itu memutuskan kembali meneguk minuman favoritnya untuk melegakan pikiran dan meredakan suasana buruk di hatinya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di Ornaliea Asgremega, tongkat ajaib yang menjadi kekuatan Nearmala perempuan dewasa itu mengulum ujung atas tongkatnya dengan penuh rasa nikmat. Ya, rasanya manis sekali. Reyhan yang melihat hal tersebut, tersenyum hambar dengan menggaruk-garuk kepalanya, sementara si Adretio bersedekap di dada seraya menggelengkan kepalanya bersama muka datarnya.
“Hehehe, aku nggak tau sebelumnya kalau tongkat sihirmu juga sebuah permen Lollipop,” ucap Freya.
Mendengar suara lembut itu, Nearmala langsung mengeluarkan bola lingkaran yang merupakan juga sebuah permen yang enak di hisap. “Ya, jelas dong. Selain tongkat sihir, ini adalah makanan penghilang stress ku terhadap Adretio. Kesimpulannya, tongkat kesayanganku ini adalah suatu obat untuk menyembuhkan jiwaku yang meronta-ronta ingin melemparkan temanku itu ke ujung dunia.”
“Hahahahaha! Wah, ternyata kamu gokil juga! Ada-ada saja kata-katamu barusan.” Reyhan tertawa meledak pada perkataan Nearmala yang sekarang menatap sinis Adretio sebaliknya lelaki dewasa itu menghempaskan napasnya kasar dan memalingkan mukanya segera dari teman karibnya.
“Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?” tanya Freya dengan terkekeh.
“Coba saja kamu lihat tampang gayanya Adretio, sudah seperti manusia batu yang ada di luar Negara, ah entahlah aku lupa di Negara mana, tapi yang jelas wajahnya sama sifatnya itu tidak menyenangkan. Kemungkinan besar dia akan sulit mendapatkan pacar kalau jiwanya tidak pernah berubah.”
Reyhan langsung berhenti tertawa dan memulai percakapan lebar panjangnya. “Kalau denger-denger apa yang kamu bicarain tadi, sudah persis temanmu seperti sahabatku.”
“Sahabatmu? Lho, sahabat kamu sebenarnya ada berapa? Aku kira sahabatmu hanyalah Freya si cantik dan anggun ini,” kata Nearmala dengan menuding Freya yang tengah duduk manis di tepi danau.
Reyhan menggeleng lalu kemudian ia mengangkat tangannya dan jarinya membentuk simbol Peach. “Ada dua lagi yang di sana, mereka juga sahabat terbaik kami yang sudah lama kami akrab. Satu cowok dan terakhir satu cewek, namanya Angga sama Jova.”
“Nama lengkapnya? Terdengar nama yang sepadan modernnya seperti kamu dan juga Freya.”
“Kenapa kamu selalu menanyakan nama lengkap orang? Rasa keinginan tahu kamu tingkat dewa,” tutur Adretio nada dingin.
“Terserah aku mau menanya nama panggilan saja, nama lengkapnya, atau bahkan nama keluarga mereka masing-masing! Aku seperti ini agar bisa lebih akrab dan kenal lebih dalam pada Reyhan serta Freya, memangnya seperti kamu yang terlalu cuek segala macam? Oh, itu tidak akan. Aku tidak bakal bisa tertular sifat buruk kamu yang tak aku sukai!”
“Kamu- ah sudahlah ... percuma berdebat denganmu, itu tidak akan ada ujungnya atau selesainya. Lebih baik aku mengalah daripada mendatangkan masalah baru padamu.”
“Oh, baguslah kalau kamu lebih mengalah pada temanmu yang kadang menyebalkan!”
“Eh, Nearmala! Itu bola lingkaran tongkat sihirmu bisa kamu gigit, kah? Pastinya bisa dong, kan permen.” Reyhan mengalihkan topik.
“Bisa! Baiklah, aku tunjukkan padamu bahwa benda kekuatanku mampu untuk di gigit.”
“Tidak usah bertingkah aneh-aneh!” sarkas Adretio.
“Aku sedang tidak berbicara denganmu! Lebih baik kamu diam saja, tidak usah banyak protes padaku!”
Adretio mengembuskan napasnya pelan. “Astaga, salah apa aku berteman denganmu? Diam salah, tidak diam juga salah. Lalu aku harus bagaimana?”
“Pikir saja sendiri! Jangan seperti anak kecil!” Nearmala sekarang membelakangi Adretio alias menghadap belakang dengan kedua tangan melipat di dada. Ya benar, perempuan dewasa itu cemberut ngambek pada lelaki dewasa temannya tersebut.
Adretio yang ingin mengeluarkan kata-katanya, terhenti olehnya sendiri, ia lebih memilih diam untuk membiarkan mood Nearmala kembali baik. Di sisi lain, Reyhan menghampiri Freya dan duduk di samping gadis sahabat polosnya dengan duduk posisi kedua kaki bersilang.
“Eh, Freya lihat deh tingkah mereka berdua. Lama-lama kalau di amati detail, sifatnya udah sama kayak Angga dan Jova, woi.”
“Hmmm.” Reyhan sedikit terkejut pada jawaban Freya yang hanya berdeham, pemuda itu kemudian lantas segera menoleh dan menatap wajah Freya. Melihat depan mata, muka sahabatnya nampak murung dan tak bahagia waktu itu saat melakukan hal menyenangkan bersamanya.
“Frey, hei, kamu kenapa? Kok mukanya cemberut begitu? Ada masalah kah, tiba-tiba?” lirih Reyhan bertanya.
Freya menggeleng pasti, gadis itu menolehkan kepalanya ke Reyhan. “Aku kangen mereka, Rey.”
__ADS_1
Reyhan menyusutkan keningnya. “Hah? Kangen mereka siapa yang kamu maksud?”
“Mama, ayah, sama dua sahabat kita lainnya yang ada di sana. Jujur, aku malah jadi rindu mereka semua. Kita bisa balik ke tempat asal kita berdua kan, Rey??”
“Frey, aku saja nggak tau kenapa aku bisa di sini. Bahkan untuk kembali ke sana, aku juga nggak tau. Tapi baru sebentar kamu berada di sini, secepat itu banget kamu kangen mereka.”
Reyhan tersenyum hangat membuat Freya justru malah bermuka raut gundah, sementara itu Nearmala berbalik badan dan langsung bertatapan dengan Adretio. Lelaki dan perempuan dewasa berumur 21 tahun tersebut nampak ekspresi wajahnya begitu pasrah. Adretio dan Nearmala langsung melangkah mendekati Freya.
“Freya, sebenarnya jika kamu berkata seperti itu dan ada rasa hatimu rindu pada seseorang yang ada di sana ... itu sudah ada pertanda untuk kamu saatnya kembali meninggalkan Ornaliea Asgremega.”
“Maksud kamu apa, Adretio? Meninggalkan gimana? Aku gak ngerti.”
Adretio menghela napasnya sejenak kemudian menjawabnya, “Begini Reyhan, itu sudah di pastikan dan benar-benar terbukti kalau hal seperti itu memang akan terjadi. Dan kamu sendiri, sepertinya jika aku tebak, dirimu masih sangat nyaman dan bahagia di tempat ini. Hhhh, baiklah aku jelaskan saja, sebenarnya Ornaliea Asgremega, bukan tempat sembarangan untuk bagi yang menempatinya akan tetapi bagi yang sangat berbeda dari seseorang yang ada di sana. Aku tidak ingin memperluas penjelasan, biarkan kalian yang mengetahuinya sendiri.”
“T-tapi, aku dan Freya masih tetap manusia yang memiliki jiwa dan raga, kan? Bukan Roh atau Arwah??”
“Sudah aku bilang, kalian-”
“Eh! Ya ampun, itu apaan??!!” Pekikan Freya yang secara tiba-tiba membuat tanggapan Adretio terpotong begitu saja.
Semuanya yang berada di sekitar danau, menoleh cepat pada dentuman rada keras. Freya dan Reyhan melongo tak percaya kalau benda itu benar-benar ada. Seiring lebar luasnya lubang lingkaran berwarna seperti langit luar angkasa, hal yang membuat terkejut terjadi pada sang gadis polos tersebut.
“F-freya! K-kok ... tubuh kamu kayak hilang memudar begitu?! Kamu kenapa?! Apa yang terjadi sama kamu?!” panik Reyhan dan khawatirnya.
Freya menatap takut pada telapak tangannya yang ikut memudar layaknya akan menghilang, apalagi di tambah seperti semacam serbuk bersamaan pudarnya tubuh Freya yang buat Reyhan menyentuh kedua bahu Freya. Adretio dan Nearmala hanya bisa diam tak berkata apa-apa.
“Reyhan,” lirih Freya sebelum dirinya menjadi berubah macam serbuk putih yang melayang ke arah portal entah portal menuju kemana.
“Freya!!” teriak Reyhan mengejar sahabatnya, tapi sayangnya apa yang ia kejar portal itu telah menutup dengan cepatnya.
Reyhan yang sudah ada di tepat depan portal yang sudah hilang sekejap mata, terdiam seperti patung tak menyangka sahabatnya pergi bersama portal yang tak ia ketahui sama sekali. Adretio yang telah berdiri di belakang Reyhan, memegang bahunya.
“Kamu jangan khawatir pada sahabatmu, sahabatmu baik-baik saja. Kamu tahu? Freya kembali ke tempat yang seharusnya.”
Dari bawah kelopak mata Reyhan, air mata mengalir dan membasahi hingga ke pipinya. Tangannya satu telapak tangannya mengepal, mulutnya terbungkam sulit untuk membuka suaranya. Dirinya sekarang tak bisa apa-apa untuk mencari Freya si sahabatnya, karena hatinya berkata bahwa alamnya dengan Freya mungkin sudah berbeda.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di RS Wijaya tepatnya di kamar rawat no 112, Rani dan Lucas tak habisnya panik pada keadaan anak putri kesayangannya yang tak sadar-sadar padahal telah dua hari berlalu. Jova yang ada di sisi ranjang pasien milik Freya terus saja menggerutu menyumpah serapah Youra dan kedua sahabatnya yang telah di Skors selama tiga minggu. Sedangkan Angga tengah berdiri di sebelah Jova dengan menggenggam tangan kulit halus sahabat kecilnya. Angga memang begitu cemas pada kondisi Freya yang tak kunjung sadarkan diri, namun ia berusaha untuk diam dan tenang.
“Anak hati Kriminal!! Kalau sampai terjadi buruk dengan Freya, Ayah gak segan-segan datangi rumahnya atau perlu langsung laporkan ke polisi!” geram Lucas.
“Ya Allah, tenang Yah .. tenang. Anak kita pasti bakalan sadar, kok.” Rani mengusap-usap sayang bahu suaminya untuk memenangkannya.
“Sadar apanya sih, Ma?! Sudah dua hari anak gadis satu-satunya kita juga masih seperti ini! Mama ingat, kan apa. kata dokter kemarin, kalau kondisi Freya masih seperti ini dan tidak ada perubahan untuk segera bangun hingga empat hari mendatang, Freya bakal di bawa ke ruang perawatan Intensif kayak Reyhan! Ayah nggak mau, kalau anak kita berdua akan sama seperti kondisi Reyhan yang masih Koma!”
“M-mama juga tidak mau Freya seperti sahabatnya yang kondisinya masih sangat buruk, Yah. Tapi percuma saja, kalau Ayah hanya marah dan marah! Itu juga nggak bakal buat anak kita bangun, kok!”
“Eungh ... Mama sama Ayah kok, berantem ...?”
Suara lemah yang berasal dari ranjang pasien, membuat Angga yang menunduk, Jova yang ketar-ketir menyaksikan pertengkaran Rani dan Lucas, beserta kedua orangtuanya gadis polos tersebut yang bertatapan tajam, menoleh cepat ke sendang suara.
“Freya!” kejut senang kedua sahabatnya dan kedua orangtuanya.
Rani dan Lucas yang tak bisa menahan rindu dan kebahagiaan mereka mengetahui anak putri semata wayangnya telah membuka matanya segera memeluk Freya dengan tangisan senangnya.
“Alhamdulillah Ya Allah, Nak! Hiks, Mama sama Ayah seneng banget dan lega kamu sudah sadar!” ungkap Rani.
“Kamu hampir saja mau buat Ayah jantungan karena keadaan kamu yang bikin khawatir! Tapi sekarang Ayah bahagia banget Freya sudah sadar,” kata Lucas dengan mencium kening anaknya.
“Memangnya Freya kenapa? Terus kok, di sini kayak tempat kamar perawatan di rumah sakit?”
__ADS_1
“Kamu dilukai sama tiga manusia brengsek itu! Saking parahnya luka kamu, kamu akhirnya di bawa ke rumah sakit beberapa hari yang lalu. Tapi, mereka bertiga di rumah lagi ngerasain kok, rasanya di Skors.”
Freya menolehkan kepalanya pelan pada suara gadis yang menjawabnya. “Eh, Jova?! Kamu di sini?!”
“Yaiyalah, nungguin kamu sadar.” Melihat Rani dan Lucas melepaskan pelukan dari tubuh mungilnya Freya, Jova langsung mencubit gemas pipi tembam sahabatnya. “Aaaaa ... kamu kenapa sih bikin kami semua risau?! Untung gak terjadi apa-apa lebih sama kamu!”
“Sayang, apa sekarang kamu sudah mendingan? Atau masih ada sebagian yang sakit?” tanya sangat ibu.
“Auw ... Freya sudah baik-baik aja kok, Ma. Mama sama Ayah juga nggak perlu khawatir,” tutur lembut nada sang anak.
“Ini tadi Mama sama Ayah kenapa bertengkar? Kan, nggak boleh berantem,” cicit Freya.
“Maafin Ayah, Sayang. Tadi Ayah dan Mama cuman khawatir aja sama keadaan Freya. Tapi Ayah sama Mama udah baikan lagi kok. Ya kan, Ma?”
Lucas setelah itu merangkul lembut istrinya, dan Rani segera menjawabnya dengan sepenuh hati. “Iya Yah benar, Freya nggak usah pikiran ya, hehehehe. Oh iya, Freya mau minum atau makan?”
“Hmmm, nggak semuanya deh, Ma. Freya enggak haus apalagi lapar.”
“Oh yasudah, tapi Mama sama ayah keluar dulu buat beli bubur ayam di pinggir rumah sakit, ya Nak. Buat persiapan saja kalau kamu nantinya lapar.”
“Eh, biar Ayah aja Ma yang beli bubur ayam untuk Freya. Mama di sini aja sekalian istirahat.”
Rani menarik tangan Lucas dan berbicara sangat lirih membuat suaminya mendekatkan telinganya di dekat mulut Rani. “Kasih luang waktu buat Freya ngobrol sama sahabat-sahabatnya, Yah. Kita berdua sekalian keluar saja. Pasti nantinya mereka ngomongin tentang urusan anak remaja, sekolahnya atau lain-lainnya.”
“Ayah mengerti,” tanggap Lucas dengan menganggukkan kepalanya.
Pada kemudian akhirnya, Rani dan Lucas pamit keluar dari kamar rawat anaknya dan pergi membeli bubur ayam lezat di pinggir RS Wijaya. Sementara Jova kembali mencubit gemas kedua pipi Freya membuat gadis itu protes.
“A-aduh Va! Cubit-nya kok dua kali, sih? Sakit, tau!” Freya mengusap pipinya beberapa kali. Namun disaat ia tengah mengusap-usap pipinya, ada ingatan memori sesuatu dimana ia pernah menampar pipinya sendiri yang berkaitan dengan Reyhan.
“Reyhan!”
Angga dan Jova saling mengerutkan keningnya dan melemparkan pandangannya bingung. “Kamu kenapa tiba-tiba nyebut Reyhan?” tanya Angga.
“Iya, kangen?” Jova gantian bertanya.
“Sebelum aku jawab kalian, aku mau tanya! Reyhan udah sadar dari Komanya, kan?!”
“Kamu bicara apa, Reyhan sama sekali belum sadar dari Komanya, Frey. Boro-boro, melewati masa Kritisnya aja juga belum,“ jawab Jova.
“Hah?! Tapi, tadi aja aku ketemu sama Reyhan, kok!”
“Bertemu dimana? Aku yakin kamu terbawa sama alam mimpi. Kalaupun kamu bertemu sama Reyhan, yang kamu lihat Reyhan masih terbaring lemah di ruang ICU-nya.”
“L-lho, kok gitu sih, Ngga?! Aku gak mimpi! Nyata beneran! Nih ya, aku tuh tadi nampar pipiku sendiri tapi aku ngerasa sakit. Itu artinya aku nggak mimpi, dong.”
Angga terdiam seketika, mencoba menerawang apa sebenarnya yang di maksud Freya bahkan ungkapan kata-katanya begitu aneh dan tidak masuk akal. Sedangkan Jova mengusap tengkuknya.
“Masa nyata, sih? Kamu ketemunya kapan?”
“Tadi, Va! Tapi tiba-tiba belum lama aku di sana, ada sebuah portal yang narik aku dari tempat Ornaliea Asgremega itu namanya kalau gak salah!”
“Apaan tuh? Tempat Wisata alam??”
“Lih, bukan Va! Tempat yang istimewa!”
“Aduh, makin bingung deh aku! Aku gak ngerti apa maksud kamu. Tapi kalau aku nalar pake otak logika, kamu cuman terfosir bawaan mimpimu.”
“Apaan! Orang real banget!”
“Hadeh, gak tau lagi deh aku jawab apa ... bingung bener aku sumpah sama kamu, Freya.”
__ADS_1
‘Freya dan Reyhan. Mereka berdua sama-sama jadi Roh di suatu alam tempat? Hanya sementara untuk Freya, bukan buat Reyhan. Jadi bener ... Freya ketemu Rohnya Reyhan, bukan raganya. Oke, gue jadi paham setelah menerawang maksud dari Freya.’
Indigo To Be Continued ›››