Indigo

Indigo
Chapter 189 | Unlock Secrets


__ADS_3

Di ruang makan, bola mata Reyhan memperhatikan Jihan yang menaruh piring untuknya nang telah diisi nasi goreng kesukaannya. Di atasnya juga terdapat toping lalapan sayuran beserta telur mata sapi. Memang terlihat menggoda selera nafsu, tetapi lelaki tersebut sama sekali tidak ada rangsangan untuk melahap sarapannya di pagi ini.


Farhan yang terlihat mengenakan jas blazer hitam dengan dasi rapinya di kerah bajunya, menatap putranya yang hanya melihat makanannya saja tanpa mau memakannya. “Gak di makan, Rey? Ayo cepetan, nanti kamu bisa telat ke sekolah.”


Reyhan yang mendengar titahnya sang ayah, menghela napas lalu tangannya mulai terangkat untuk menyendok nasi goreng hangat nang telah dihidangkan oleh Jihan. Kedua orangtuanya yang makan sembari meninjau wajah muramnya, menjadi kurang selera makan.


“Reyhan, mau sampai kapan kamu akan terpuruk di dalam kesedihanmu? Ayolah, kamu harus bisa membangun semangatmu. Jangan memikirkan kondisi Angga melulu, itu akan membuat hatimu semakin menjadi tidak baik-baik saja,” tutur lemah lembut sang ibu.


“Apa yang dibilang mama benar, Rey. Tidak seharusnya kamu selalu memikirkan seperti apa keadaan Angga di rumah sakit, kamu juga gak bisa terus-terusan murung kayak gini. Ini Papa terakhir lihat kamu seperti ini,” timpal sang ayah.


Reyhan mengunyah nasi gorengnya dengan hati hancur, terlebih harus mendengar suara nasihat dari kedua orangtuanya yang begitu peduli kepadanya. Bagi Reyhan, di pagi ini mereka terlalu memberikan ia ceramah-ceramah yang membuat perasaan hatinya ambyar.


BRAK !


Reyhan berakhir menggebrak mejanya membuat Jihan dan pula Farhan amat terkejut karena tingkah dirinya yang tiba-tiba. Mata pemuda itu juga tajam menatap kedua orangtuanya secara bergiliran, napasnya naik-turun cepat karena bisa dibuktikan bahwa emosinya telah membalik kembali.


“Cukup! Ma, Pa! Reyhan pusing denger segala ceramah-ceramah kalian berdua yang hanya untuk menasehati Reyhan! Emangnya dengan Mama Papa seperti itu ke anak kalian, akan menjadi lunak? Itu gak akan sama sekali terjadi kalau kalian ingin tahu!”


“REYHAN!!! Apa maksudmu berkata seperti itu ke Papa dan Mama, hah?! Setelah kamu membentak gitu, apa kamu ingin menjadi anak Durhaka?! Iya?!” sentak Farhan sampai berdiri dari kursi.


Reyhan mengepalkan kedua telapak tangannya yang ada di atas meja makan dengan menatap tajam ayahnya. Matanya melotot disebabkan emosinya benar-benar tak bisa dikendalikannya.


“Papa gak tahu seperti apa perasaan hati Reyhan saat ini! Papa hanya bisa marah dan marah tanpa mau membaca kondisi keadaan anaknya! EGOIS!!!”


“R-reyhan, dengarkan perkataan Mama untukmu. Mama tahu, kok seperti apa kondisi hatimu sekarang mengenai Angga yang Koma. Tetapi tolong jangan lampiaskan semua amarahmu ke papa, dia adalah ayah kandungmu, Sayang ...” tegur lemah Jihan untuk memungkasi permasalahan kecil.


“Reyhan tahu, Ma! Gak perlu Mama bilang itu, Reyhan sudah ngerti!” sahut Reyhan dengan nada keras.


“Kalau kamu mengerti, kenapa kamu membentak mama, hah?! Sekarang jawab pertanyaannya Papa!” cerca Farhan.


“PAPA TAHU APA??!!”


Reyhan langsung menarik tas ransel abu-abunya dari kursi bagian sebelah untuk mengajaknya keluar rumah. “Reyhan pergi!”


“Reyhan! Tapi makanan milik kamu belum habis! Tidak mau dihabiskan dulu sebelum kamu berangkat ke sekolah?!” teriak Jihan karena jarak langkah anaknya telah jauh.


Reyhan hanya bisu dengan seraya tetap melangkah meninggalkan kedua orangtuanya yang masih di ruang dapur, membuat Farhan angkat suara nang mana rahangnya telah mengeras karena dibuat putranya sendiri.


“KALAU MAMA BERTANYA ITU SEGERA DIJAWAB! KAMU SUDAH KEHILANGAN PENDENGARAN TELINGA??!! JIKA KAMU SEPERTI ITU SECARA MENERUS, DIRIMU BISA TERCATAT ANAK DURHAKA, REY!!!”


Reyhan menolehkan kepalanya ke belakang dengan salah satu tangan membuka pintu rumah. “Terserah Papa, Reyhan gak peduli!”


BRAK !!!


Jihan terperanjat kaget waktu Reyhan membanting pintu rumahnya dengan sekuat tenaga, hingga wanita paruh baya tersebut mengelus dadanya bersama wajah gundahnya mengenai perasaan hati sang anaknya yang memang sedang dilanda kehancuran.


“DASAR ANAK KURANG AJAR! LIHAT SAJA KAMU NANTI! KAMU AKAN KUALAT!!!”


“Papa! Sudah, Pa! Papa jangan ikutan emosi hanya karena cuma melihat perilaku Reyhan yang seperti itu. Lebih baik kita sementara mendiamkan Reyhan dulu sampai hatinya benar-benar membaik. Papa pasti tahu, kan kalau hati dia lagi terluka disebabkan Gerald membuat anak dari sahabat kita berdua mengalami Koma? Sudahlah, biarkan saja dahulu. Reyhan pasti juga membutuhkan banyak waktu untuk menerima segala semua kenyataan yang menimpa Angga ...”


“Iya, Mama benar! Tapi Reyhan sudah keterlaluan! Dia pantas untuk diberikan nasehat dari kita- ah sudahlah ... lama-lama Papa lelah juga karena marah terus,” ucap Farhan lalu menghembuskan napasnya untuk membuang emosinya.


Jihan tersenyum sendu lalu mengajak suaminya untuk duduk kembali di kursi. “Papa seperti itu tadi, karena tidak ingin melihat Reyhan yang menderita sebab kondisi Komanya Angga, Ma. Sudah lebih dari seminggu, dia selalu menampakkan hati kelamnya.”


“Mama tahu, Pa. Mendingan sekarang Papa lanjut habiskan sarapannya, ya? Nanti bisa terlambat, loh ke kantornya ...” ungkap lembut istrinya sambil mengelus sayang bahu kanan Farhan.


Farhan mengusap wajahnya dengan gusar lalu menganggukkan kepala untuk mengiyakan komando perintahnya dari Jihan buatnya. Untuk sekarang ini, beliau memutuskan memudarkan segala amarahnya tentang mengenai perilaku kasarnya Reyhan tadi yang telah pergi ke sekolahnya.


Di sisi lain, Arseno yang duduk diam di atas tangga, sudah mengetahui konflik kecil yang telah terjadi di keluarga inti sang teman manusianya. Pemuda arwah itu yang ada di sana, menghela napasnya panjang karena rupanya hari Reyhan semakin dikacaukan oleh keadaan.


“Kenapa malah menjadi bentrok seperti ini? Apakah aku bisa membantu menyembuhkan luka hatinya Reyhan dari sang pelaku yang telah membuat sahabatnya terserang Koma hingga sampai sekarang?”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Dimana jam sekolah akan berakhir, Reyhan mengangkat tangannya pada bu Aera yang sedang menerangkan sebuah materi Fisika di buku paket nang beliau tengger di telapak tangannya. Melihat salah satu siswanya angkat tangan dengan muka datarnya, bu Aera bertanya mengapa bersama menaikkan dagunya.


“Kenapa, Rey? Itu muka dari tadi kok perasaan saya lihat, kusam mulu? Ada apa? Saya lagi tidak bertanya untuk suruh menjawab soal, lho.”


Reyhan menghela napas kasar seraya tetap mengangkat tangannya walau sudah pegal. “Emangnya siapa yang ingin menjawab soal pertanyaan dari Ibu? Saya ingin izin ke toilet.”


“Toilet?” Bu Aera kemudian mengangkat tangan kanannya untuk menilik jamnya yang melingkar di pergelangan miliknya.


“Tapi bentar lagi mau bel pulang. Tahan dulu saja, ya? Ada beberapa pembelajaran materi penting yang harus saya terangkan untuk kamu dan lainnya di dalam kelas ini,” sangkal halus bu Aera sambil menatap muridnya.


Bukannya mengiyakan perkataan untuk menuruti gurunya, Reyhan justru bangkit dari bangkunya lalu berjalan meninggalkan kelas. Di saat waktu ia membuka pintu, guru wanita yang mengenakan rok span pendek hitamnya meneriakkan namanya.


“Reyhan Lintang Ellvano! Kamu mau ngapain?! Apakah saya mengizinkanmu untuk ke toilet? Duduk di bangkumu sekarang juga! Kalau ditolak ya jangan dilakukan, dong. Ayo!”


Reyhan melebarkan pintu kelasnya lalu menatap dingin bu Aera yang kedua matanya rada melotot. “Ibu mana mau saya ngompol di dalem kelas? Itu akan terkesan membuat image nama Ibu di SMA ini jadi turun karena tidak mampu menjaga murid siswanya dengan baik dan profesional.”


Reyhan menghadapkan kepalanya ke depan lalu melangkahkan kakinya keluar kemudian lekas menutup pintunya dengan rapat untuk segera pergi menuju ke toilet yang jaraknya lumayan jauh dari ruang kelas XII IPA 4


“A-apa?! Dia ... astaga, Reyhan!” Bu Aera menepuk keningnya memakai buku paketnya yang posisinya telah beliau tutup.


Tentunya atas perilaku Reyhan yang beda membuat guru wanita mata pelajaran Fisika sekaligus wali kelas tersebut begitu amat terkejut. Sementara Freya dan Jova yang mendapati sikap sahabat lelakinya akhir-akhir minggu ini, menghembuskan napasnya gundah bersama muka cantik muramnya.


“Tolong maafin sikapnya Reyhan ya, Bu?” celetuk Jova.


Bu Aera beralih menoleh dan menatap murid siswinya. “Saya bisa memaklumi, tapi jika saya bertanya pada kamu .. apa semenjak Angga Koma, Reyhan sudah berubah seperti itu? Sikap Reyhan lebih parah dan mendalam daripada waktu Angga dulu pernah mengalami Koma selama dua bulan.”


Jova menganggukkan kepalanya. “Bener, Bu. Gara-gara salah satu konflik, Reyhan menjadi seperti itu akhir-akhir minggu ini.”


Bu Aera menghempaskan napasnya lara seraya meletakkan bukunya di atas meja lalu melipatkan kedua tangannya di dada dihadapannya banyak murid. “Saya, tuh heran sama pelaku yang buat Angga sampai terserang Koma itu. Ada masalah apa, sih sebenarnya? Dia yang kalau gak salah namanya Gerald itu kayak mempunyai suatu dendam yang melekat di hatinya pada Angga. Mereka berdua merupakan musuh?”


“Kalau dari segi perasa, mungkin iya, Bu. Bisa jadi Angga itu musuhnya Gerald. Tapi gak tahu juga, sih kalau mereka berdua memang bermusuhan, saya nggak terlalu akrab sama Angga, hehehe!” ungkap salah satu siswa yang duduk di bangku belakang paling pojok.


“Haduh, gimana sih kamu? Masa sama temennya sendiri gak akrab?” protes bu Aera dengan muka jengah melihat muridnya yang cengengesan.


“Maap kali, Bu. Mending daripada ribet sendiri, tanya aja langsung sama sahabatnya apa enggak pacarnya, deh. Paling juga tahu semuanya.”


‘Asem! Gak tahu saja perasaan hati kami ingin menceritakan ke bu Aera kayak gimana,’ rutuk Jova.


“Tetapi setidaknya siswa yang bernama Emiliano Baskatar Leonard yang dulunya pernah mendaftar menjadi siswa di SMA ini, telah di DO dari oleh pihak sekolah secara resmi. Saya benar-benar tidak menyangka, seorang siswa teladan di sekolah ini rupanya bekas kasus kriminal yang pernah menjadi buronan polisi dengan rekannya sekaligus.”


“Karena memakai dan mengonsumsi obat-obatan narkoba, Bu! Emang pantes banget dia di penjara lima tahun sekaligus dikeluarin dari sekolah elit ini, biar kapok sekalian karena dulunya kurang ajar buat Reyhan Kritis ampe empat hari!” sungut Aji.


“Masih mending Emlano, lah. Lo lihat aja si Gerald, dia dihukum penjara sampe sepuluh tahun lamanya. Gara-gara sudah berani bikin Angga Koma dengan kondisi Kronisnya di rumah sakit Bogor!” sahut Raka.


“Heh, woi! Cukup! Elo ini, gak bisa menghargai perasaan hatinya Freya, kah?! Ada orangnya, lho! Mana membahas pacar sama mantannya, lagi! Tolonglah, kasihani Freya. Pikirannya dia itu lagi berat banget, lo malah nambah-nambahin bebannya!” tegur Joshua dengan nada tegas.


Ya, di kelas dua belas ini Joshua menjadi sang ketua kelas lagi seperti di kelas sebelumnya. Banyak dari mereka yang mengambil suara untuk memilih lelaki berkacamata minus tersebut kembali berprofesi jadi ketua kelas hingga akhir lulus di sekolah SMA Galaxy Admara internasional.


‘Sepertinya lebih baik saya tutup mulut untuk tidak menyuruh di antara salah satu mereka bercerita tentang permasalahan konfliknya Angga dan juga Gerald. Bisa mungkin itu adalah merupakan masalah pribadinya mereka,’ batin bu Aera.


Freya meremat rok pendeknya yang modelnya di atas lutut, kepalanya menunduk dibawah, ia meneguk salivanya dengan susah payah, bahkan sampai menipiskan bibirnya untuk menahan rasa sakitnya di hati. Tetapi perlahan air matanya kembali berderai layaknya seperti biasa, dirinya telah terlalu banyak membuang air tangisannya setelah merasakan kondisi kekasihnya yang semakin lama semakin parah.


“Nak, nih tisunya.”


Freya mengangkat wajah lumuran basahan air matanya ke seseorang yang menyodorkan selembar tisu kering untuknya. “Bu?!”


Bu Aera tersenyum manis. “Bersihkan air matamu pakai tisu ini, ya?”


Dengan raut kikuk, Freya menerimanya. “Terimakasih banyak, Bu Aera. Maafkan saya karena malah nangis di dalam kelas ...”


Bu Aera menganggukkan kepalanya dengan tangan terangkat untuk mengelus pucuk kepala murid siswinya yang hatinya sedang membutuhkan kenyamanan. “Sudah, jangan minta maaf. Saya tahu, kok apa yang tengah kamu rasakan hari ini ... saya mengerti ini sangat berat untukmu, tetapi kamu harus bisa menerima kenyataan, ya?”


Freya hanya mempunyai tenaga untuk menjawab dengan mengangguk kepalanya lemah, gadis itu juga terus mengelap air matanya yang mana air linangan miliknya terus mengalir membasahi kedua pipi mulusnya. Hingga tiba akhirnya, Jova beranjak dari bangkunya lalu memeluk lembut sahabatnya dari samping.


“Please, jangan nangis ... kita tetap Doakan Angga agar supaya sanggup sadar dari Komanya, oke?”


“Hiks! Y-ya ...”


Jova semakin mempererat pelukannya di tubuh mungil nan tak berdayanya Freya yang berusaha menahan tangisannya untuk kali ini. Bu Aera beserta siswa-siswi lainnya begitu merasakan rapuhnya mereka berdua, bahkan di dalam ruangan kelas ini tak ada sedikitpun kehangatan diakibatkan hampir setiap hari dipenuhi suasana yang memalangkan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹-----------...


Alex menutup pintu perpustakaan usai mengembalikan buku novelnya di waktu kelasnya terdapat jam kos atau bisa dibilang adalah jam kosong. Namun, saat akan menyerong badannya ke arah kiri untuk balik ke ruang kelas jurusannya, secara tidak sengaja pemuda dari mantannya Youra ditabrak oleh tubuh seseorang di depannya.


BUG !!


“Jalan pake mata!” sarkas kesal antara Alex dan lelaki yang sepadan dengan umurnya.


Mata Alex melotot karena terkejut melihat siswa yang tak asing di penglihatannya. “Reyhan?!”


“Elo?” sahut Reyhan bersama muka dinginnya.


Alex kemudian celingak-celinguk ke belakang tubuh Reyhan sembari mengernyitkan dahinya, lalu kembali menatap wajah tampan nan datar lelaki tersebut. “Lo mau kemana? Ini jam sekolah kita belum habis, kurang lima menit lagi bel bakal dibunyikan. Balik kelas, gih.”


“Gak usah ngatur-ngatur hidup gue!”


“Akh!” pekik Alex tertatih usai tubuhnya disingkirkan oleh Reyhan dengan tenaga maksimal dan kasarnya hingga membuat teman beda kelas serta jurusnya, membentur pintu ruangan perpustakaan yang beruntunglah di dalam tak ada siapapun termasuk sang guru pengawas ruang khusus baca-pinjam buku yakni pak Arya.


Reyhan menunda langkah kakinya yang ia gunakan untuk menoleh ke belakang yang mana Alex masih merintih kesakitan akibat dorongan kekuatannya. “Urusan gue, bukan urusannya lo. Ingat!”


Reyhan menghadapkan kepalanya ke posisi semula sekaligus melanjutkan larinya ke menuju suatu tempat yang biasa ia huni untuk menenangkan diri. Melihat Reyhan pergi meninggalkannya, Alex segera tanpa sungkan meneriaki temannya itu.


“Gue tahu ini semua karena tentang kondisinya Angga yang lagi Koma! Tapi bukan berarti lo harus menjadi seperti gitu! Ingatlah, dengan lo yang begini, elo nggak akan mudah membantu Angga cepat sadar dari Komanya di rumah sakit!”


Reyhan tetap berlari dengan acuh tak acuh pada teriakannya Alex dari belakang hanya untuk menasihati dirinya. Bahkan kini sekarang pemuda tersebut menaiki undakan anak tangga.


“Rey?! Reyhan! Ah! Percuma gue teriak-teriak begini, semua gak akan ada arti dan fungsinya.”


Sementara, Reyhan sudah tiba di atas atap gedung sekolah yakni rooftop yang jarang didatangi oleh para siswa dan siswi. Lelaki itu yang sempat menghentikan larinya, sekarang melangkah biasa untuk menjumpai tembok kecil pembatasan tempat rooftop yang terdapat semilir udara angin sejuk menerpa.


Pupil kedua mata Reyhan yang dikelilingi oleh iris dengan berwarna cokelat hazel, menatap lurus di depan. Perlahan-lahan kedua telapak tangannya yang diam di atas tembok, bergerak untuk mengepal kuat. Luapan emosi yang sangat sulit ia tahan, berhamburan begitu saja di hatinya. Hela napasnya pula naik-turun cepat buat menghasilkan murka besarnya terhadap seseorang yaitu sang pelaku yang telah entengnya membuat raga sahabatnya Koma.


“HANCUR! HATI GUE HANCUUUUUUUUR!!!”


KRIIIIIIIING !!!


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah mendengar suara bel pulang dibunyikan secara nyaring, seluruh siswa-siswi segera keluar kelas dengan membawa tas ranselnya masing-masing. Ada sebagian yang turun ke lobby untuk pergi menuju ke parkiran, ada juga sebagian siswa dan siswi berbelok arah buat melakukan serta mengikuti ekstrakurikuler di sekolah tersebut.


Sementara seperti Freya dan Jova tengah berdiri di luar kelas, tentunya sedang menunggu sahabat lelakinya yang sedari tadi belum kunjung balik ke kelasnya hingga bel akhir jam sekolah datang.


“Itu anak sebenernya lagi dimana, sih?! Izin ke toilet, kok sampe bermenit-menit? Lagi main air di sana kali, ya!“ sebal Jova.


“Kamu pikir Reyhan masih anak TK? Mungkin dia lagi sibuk karena dipanggil guru atau sesuatu yang lain. Mendingan kita tunggu dulu saja dia di sini, paling sebentar lagi Reyhan kembali, kok.” Freya menjawab usai menoleh ke arah Jova yang sedang bersandar gusar di tembok lorong kelas.


“Kalian lebih baik pulang saja. Ini sudah sore, entar orang tua kalian malah khawatir,” celetuk Jevran setelah menghampiri kedua gadis cantik itu.


“Eh, Jenggot?!” lantang Jova berucap karena telah dikejutkan suara Jevran yang tiba-tiba keluar kelas bersama Aji di belakangnya.


Mata Jevran terbelalak lebar. “Woi! Jevran, kali yang bener! Jenggot itu namanya siapa?! Itu mulut apa mulut, dah?!”


Freya mencubit kecil pinggang Jova. “Lain kali kalau mau menyebut nama orang yang benar, dong. Kan, si Jevran jadi tersinggung karena omongan kamu.”


Jova menghela napasnya bosan seraya bersedekap di dada dengan menutup matanya lelah. “Jevran itu bukan jadi tersinggung, tapi jadi sigung!”


“What?! Are you crazy?!” pekik kaget Jevran mendengar mulut Jova bertutur seenak lutut.


Aji yang menyimak suara mereka berdua, menutup mulutnya dengan bagian telapak tangannya yang terkepal untuk menahan tawanya nang nyaris keluar. Kemudian setelah itu, lelaki tersebut melangkah melewati Jevran dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Jova serta temannya yang selalu terkena lampiasannya.


“Perasaan yang kamu ajak ngobrol, bukan Reyhan. Kenapa Jevran yang jadi kamu serang, dah? Hahaha! Oiya, kalian berdua mendingan pulang aja, deh. Biar kami bergerak buat nyari Reyhan. Itu bocah paling lagi di perpus apa enggak lagi di rooftop,” sabda Aji.


Freya menerbitkan senyuman manisnya. “Kalian yakin ingin mencari Reyhan? Yasudah, deh kalau begitu. Makasih banget ya, Ji. Kamu juga, Vran.”


“Siap, Neng! Serahkan saja pada kami,” semangat Aji dengan tangan terangkat untuk bergaya hormat kepada Freya, membuat gadis kekasihnya Angga terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.


“Aku sama Jova pulang dulu, ya? Nanti kalau kalian berhasil menemukan Reyhan, di salah satu antara kalian boleh chat kami. Good bye all,” pungkas Freya dengan hati ramahnya.


“Good bye too, Semanis Gulali!” respon Jevran dan Aji dengan melambaikan tangannya pada Freya yang menarik lengan tangan Jova untuk mengajaknya turun ke lobby bersama-sama.


Dengan langkah kaki yang berjalan secara beriringan, Jova menoleh ke arah Freya untuk menatap wajah cantik sahabatnya. “Kok, kamu cuman ngucapin good bye doang sama mereka, sih? Kurang, atuh!”


Freya mengerutkan keningnya bingung. “Kurang gimana? Bukannya itu udah tepat, ya?”


“No, kurang banget! Nih, aku kasih tahu sama sekalian aku contohin buat kamu ke mereka berdua.” Jova menoleh ke belakang dengan muka jahilnya.


“Good bye, Ajinomoto Ahli Kubur and Jenggot Ahli Nerakaaaaa!!” Teriakannya Jova mengucapkan selamat tinggal untuk besok ke pemuda-pemuda itu, berjaya membuat mereka melotot tajam.


“Bahahahahaha!!!” Tawa Jova menggelegar sampai Freya mengharuskan diri untuk cepat-cepat melindungi kedua telinganya dari suara kencangnya sang sahabat Tomboy.


“Anjir, ini cewek satu! Barbar bener, dah kayak kucing oyen yang lagi viral itu?! Mana suara kencengnya nyaingin terompet Sangkakala, Parah!” cerca Aji.


“Ogah nyaut, males gue!” jengkel Jevran bak di atas kepalanya muncul dua tanduk merah.


Jova yang mendapatkan respon seperti itu dari antara Aji dan Jevran, langsung mengubah matanya menjadi juling ke tengah sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek mereka yang menurut ia pantas dihina begitu. Selanjutnya, Jova menarik tubuh mungil Freya pergi menuruni undakan tangga yang jaraknya masih lumayan jauh untuk di tempuhi.


“Ada masalah hati apa, sih itu cewek? Perasaan semenjak Angga ngalamin Koma, otaknya rada geser dikit buat jadi orang sinting gila miring, dah!” ungkap Jevran.


BUG !!!


“Wadoh!”


Aji tertawa puas melihat Jevran terjatuh di lantai dengan sempurna usai mukanya dilayangkan sepatu sebelahnya Jova. Di sana, terlihat gadis itu mendengus macam binatang banteng karena telah mendengar lontaran ucapan Jevran untuknya yang membuat dirinya naik darah. Sedangkan Freya yang memperhatikan lakunya Jova, hanya nyengir saja.


“Ambilin sepatu gue! Tanpa debat, tanpa lelet! Now !”


“IYE, SABAR! Ngamok aja teros, dasar Kaum Hawa!!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Angin di atas rooftop itu terus meniup suasana pemandangan sore yang di sana masih terdapat Reyhan berdiri dengan berdiam diri. Ia mengambil napasnya berat lalu menghembuskannya secara gundah, matanya terlihat sayu sesuai pada hatinya yang berwarna kelabu.


Perlahan memori Reyhan terputar ke masa lalu dimana Angga mengutarakan kata sesuatu di dalam lubuk kalbunya. Suatu lontaran ucapan yang membuat diri Reyhan menjadi sering was-was terhadap kondisi Koma sahabatnya di daerah kota Bogor.


...Semoga saja ini bukanlah yang terakhir kita bersama. Tetapi kalau memang sudah takdir, gue benar-benar minta maaf dengan kalian......


Reyhan meneguk ludahnya dengan batin tersiksa setelah kembali mengingat ucapan tersebut yang ada di hatinya Angga. Bulir air mata itu kini terlihat hingga bebas mengalir melumuri kedua pipinya, padahal lelaki tersebut berusaha untuk kuat menghadapi situasi ini, namun entah mengapa ia amat tak mampu.


Reyhan memejamkan matanya dengan kepala tertunduk ke bawah lantai atas gedung sekolahnya. “Satu yang gue minta dari lo, Ngga. Bertahanlah! Gue gak bisa jika kehilangan sosok sahabat seperti elo, hiks! Gue mohon, lo harus tetap kuat ...”

__ADS_1


Di belakang Reyhan dengan jarak yang jauh, Jevran membuka pintu rooftop dan langsung menemukan tetangganya yang bersedih sorang di depan tembok pembatas atasan gedung SMA Galaxy Admara, ia begitupun Aji samar-samar mendengar isakan lirih dari sumber suaranya Reyhan.


Kedua pemuda itu saling melemparkan pandangannya bersama muka sendu, sampai akhirnya di salah satu antara mereka berdua tersenyum nan menganggukkan kepala. Yaitu Aji. Tentu Jevran mengerti kode yang temannya berikan, mereka mulai kembali melangkah untuk mendekati Reyhan nang posisi hatinya dibawah kerapuhan.


“Rey-”


“Mengapa dunia ini selalu gak andil untuk membuat lo bahagia?! Walaupun gue tidak mengalami seperti apa yang lo rasakan, tetapi gue bisa mendalami peristiwa yang terjadi di masa lalu lo!” teriak Reyhan marah.


“Rey? Reyhan?”


Reyhan menutup mulutnya saat mendengar nama dirinya dipanggil oleh Jevran sang tetangganya, ia memutar tubuhnya ke belakang dengan gerakan lemas. “Kalian?”


Jevran tersenyum hambar. “Lo sedang apa di sini? Ini sudah terlalu sore, elo gak mau pulang?”


“Harusnya itu yang gue tanya ke kalian. Kalian kenapa dateng ke sini?! Terserah gue mau ngapain di atas gedung sini! Bukan urusan lo pada, kan?!” sentak Reyhan menjawab.


“Sudah pastinya ini termasuk urusan kami berdua, karena kami adalah temen lo. Dan kami gak bisa ngeliat temen sendiri yang hancur kayak gini, Bro. Mau sampe kapan lo akan begini terus? Sebulan? Emangnya lo betah setiap hari selalu seperti ini? Tolonglah, gak bakal ada yang bisa buat Angga bangun jika lo patah semangat, Rey.”


Reyhan mendengus dengan menatap Aji tajam setajam pisau belati, tangannya mulai membentang untuk menunjuk kencang temannya. “Berhenti ceramahin gue! Gue lagi gak butuh dinasehati, ngerti?!”


Saking tak beraninya memakai jangkauan dekat di Reyhan, Aji mundur selangkah dengan muka takutnya. Lain dari Jevran, lelaki itu justru berjalan maju menghadapi Reyhan yang nampaknya bahaya bila untuk dihampiri.


“Lagi gak butuh dinasehati? Itu perlu! Karena sejak Angga menyambangi masa Koma, lo jadi berubah seratus delapan puluh derajat kayak gini, Rey! Lo sadar gak, sih kalau sikap asli lo hilang bagaikan ditelen bumi? Mikir, Rey! Mau lo sedih bentuk apapun karena terlalu mikirin gimana keadaannya si Angga, semuanya gak akan sanggup membantu dia untuk cepat melewati dan sadar dari Komanya!”


“Tetangga gue yang berpenduduk di komplek Kristal, sifatnya gak buruk seperti ini. Dan lo tahu?! Diri gue menghadapi tubuh lo, kayak lagi menghadapi orang yang baru saja gue kenal! Please, Rey! Kembalikan sifat lo seperti dulu, jangan bersifat kayak gini. Gue kagak mau!”


“Gue tahu, seperti apa bentuk hancurnya hati lo. Tetapi dengan lo yang begini, semuanya gak akan ada untungnya, Rey. Malah justru menjadi memperburuk suasana dan juga keadaan!” ulas Jevran tanpa ada takutnya menatap mata Reyhan.


Reyhan membuang mukanya dari Jevran lalu menundukkan pandangannya. “Gue seperti ini hanya karena gak ingin kehilangan Angga! Gue sudah terlalu banyak mendengar kabar buruk dari dokter tentang mengenai kondisi parahnya Koma sahabat gue, terlebih hidupnya dibuktikan telah tipis untuk bertahan di dunia ini. Lo gak tahu, kan?”


‘Apa? Hidupnya Angga dibuktikan udah tipis buat bertahan di dunia? Gue gak salah nyimak suaranya Reyhan kan, ya?’ batin Aji seraya mendongakkan kepalanya menatap temannya.


“Jika dia pergi, apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hidup gue? Begini saja gue terlalu sulit untuk menjalani hari. Gue ingin Angga merasakan bahagia sebelum menempati alam Akhiratnya. Selama dia masih sadar, Angga menahan sikap menyerahnya dari kehidupannya yang selalu kelam menemaninya. Gue sangat yakin, gara-gara itu masa lalu, sahabat gue menjadi susah banget mencapai kebahagiaan di duniawi ...”


“Tetapi di situ, Angga tangguh melawan segala penderitaannya yang dia alami. Angga terlalu memendam rasa sakit selama bertahun-tahun silam, tetapi ketangguhan dan kekuatannya menghadapi semua sengsaranya berakhir mengenaskan tempat dimana ia terkulai lemah di rumah sakit sampai sekarang. Kalau- hiks!”


Jevran yang tak bisa menahan empatinya untuk Reyhan, segera memeluk tubuh lemas lelaki itu. “Cukup sudah, tolong jangan berpikiran yang bukan-bukan. Yakinkanlah saja esok nanti, Angga akan kembali bangun dari sakit kronisnya. Iya, kita memang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyadarkan dia selain tetap memperkuat Doa kepada Allah ...”


Memperhatikan sikap barunya Jevran yang tumbenan, membuat Aji melongo nan tak percaya apa yang ia lihat. ‘Buset, dah! Lagi kesambet apaan ini si Jevran? Katanya gak suka dipeluk sama memeluk? Lah, ini kok malah berbalik omongan?! Anjay.’


Tangisan yang bercampur dada sesak itu, membuat Reyhan membalas pelukannya sang tetangga yang tengah menomorsatukan rasa empati sederhananya untuk memberikan ketenangan perasaan hatinya yang masih hancur lebur berkeping-keping. Air mata nang saling setia membasahi pipi cesplengnya terus berurai, sementara Jevran melumas punggung Reyhan sampai tangisan pilunya mereda. Aji yang sedari tadi hanya cuma diam memandangi suasana meresahkan ini, kini menggerakkan langkah kakinya lepau mendekati kedua temannya dengan menerbitkan senyuman sedihnya yang terlukis di bibirnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Jihan sang ibunya Reyhan menghela napasnya dengan amat resah. Pandangannya tak terlepas dari jam dinding yang berbentuk kotak di dalam ruang dapur nang beliau tilik. Terlihat di sana telah menunjukkan pukul 19.00 malam, akan namun Reyhan belum kunjung pulang.


“Ck, kamu dimana sih, Nak? Mengapa jam segini kamu juga belum pulang ke rumah?”


Wanita paruh baya tersebut kemudian beralih menengok layar ponsel yang berada di sampingnya. “Mama telpon, gak diangkat. Mama chat kamu juga, tetapi cuma centang satu. Jangan membuat mamamu ini khawatir dong, Rey. Apalagi papa sekarang lagi diperjalanan untuk pulang dari kantor.”


Saat sedang berkutat memikirkan dimana posisi anaknya, Jihan dikagetkan suara klakson mobil yang dekat sekali di kawasan pekarangan rumah. Dengan raut bahagia semu, beliau mengangkat pantatnya dari kursi makan untuk beranjak berdiri dan menuju pintu rumah yang letaknya ada di ruang utama.


Cklek !


“Assalammualaikum,” salam sapa ramah suaminya yang membawa tas kerjanya.


Bersama senyuman yang merekah di wajahnya, Jihan menjawab, “Waalaikumsalam, Papa sudah pulang?”


“Ya sudah dong, Ma. Oiya, Reyhan dimana?” tanya Farhan seraya mencium kening istrinya dengan sebuah kecupan lembut.


Ekspresi Jihan menjadi berubah gundah. “Reyhan dari tadi usai pelajaran sekolah telah berakhir, belum pulang, Pa.”


“Lho, belum pulang bagaimana?! Ada suatu acara yang membuat Reyhan pulang terlambat?”


Ibunya lelaki Friendly itu, menggelengkan kepala. “Mama kurang tahu. Ayo, lebih baik Papa masuk saja dulu ke dalem rumah, diluar masih hujan deras apalagi ditambah angin kencangnya yang dingin banget. Daripada nanti Papa bisa terkena masuk angin, kan?”


Jihan menarik lengan tangan Farhan yang masih terbalut jas blazer rapinya, untuk mengajak sekaligus memasukinya ke dalam rumah. Setelah menggiringnya masuk, wanita paruh baya itu yang memiliki potongan rambut berwarna cokelat seleher menutup pintu rumah dengan sempurna agar supaya hembusan angin kuat tersebut tidak berjaya menerobos ke dalam rumah keluarga intinya.


“Jadi gimana, Ma? Mama sudah berinisiatif untuk menghubungi Reyhan atau mengirim pesan?” Pertanyaan Farhan direspon Jihan dengan anggukan kepala.


“Mama sudah berkali-kali menelpon Reyhan, tapi gak diangkat. Mama chat dia melalui WhatsApp-nya juga malah centang satu, Pa. Apalagi sayangnya, Mama gak tahu anak kita berdua sedang berada dimana.”


“Duh!” keluh Farhan risau sambil mengusap muka tampannya.


“Apa karena ucapan kerasnya Papa tadi pagi yang bikin Reyhan gak sudi kembali ya, Ma?! Mama merasa kalau dari segi perkataan, Papa mengusir Reyhan dari rumah? Papa jadi kepikiran kalau begini caranya,” cemas Farhan diselimuti rasa bersalah.


Jihan menggelengkan kepalanya dengan mengelus bahu kokoh suaminya. “Enggak sama sekali kok, Pa. Mungkin sekarang ini Reyhan lagi terperangkap hujan. Papa mau tahu, tidak? Jas hujannya Reyhan tertinggal di meja teras rumah.”


“Pakai ketinggalan segala, lagi! Hhh, Papa harap Reyhan mau menunggu sampai hujannya reda. Jika dia berani menerobos air hujan itu, bisa-bisa berbahaya untuk metabolisme tubuhnya Reyhan.”


Istri tercintanya dari Farhan hanya manggut-manggut dengan mengukirkan senyuman pilunya. Ada rasa bimbang yang tertancap di hatinya sang ibu terhadap Reyhan, termasuk pula sang ayah. Walaupun Farhan sebelumnya marah pada sikap etika putranya, tetapi beliau tak bisa menahan rasa khawatirnya. Tetap bagaimanapun, Farhan menyayangi Reyhan yang merupakan anak satu-satunya yang dimilikinya bersama Jihan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Nampaknya air hujan tersebut semakin deras begitupun angin kuatnya yang menerpa dedaunan para pohon besar, serta kulit tubuh manusia. Seorang pemuda yang tak lain adalah Reyhan, tengah berdiri di depan toko waralaba minimarket. Bola matanya terus menelisik langit malam yang disertai hujan lebat. Dirinya mendekap raganya dengan agak menggigil karena kedinginan, malangnya ia juga tidak membawa jaket dari rumah.


“Sial! Kenapa gue harus kejebak hujan segala, sih?! Niat mau bantu meringankan pekerjaan nyokap yang sebagai ibu rumah tangga, gue malah dapet nasib apes kayak gini.”


“Mana jas hujannya ketinggalan di rumah, lagi! Goblok bener!” sungut Reyhan mencemooh diri sendiri.


Sembari tetap memeluk tubuhnya, Reyhan memikirkan kondisi keadaaan kedua orangtuanya yang berada di rumah. “Pasti mereka khawatir dan bertanya-tanya gue ada dimana. Mau balik, tapi itu awan malem nangisnya gak kelar-kelar. Kagak kasihan sama makhluk hidup yang menginjak tanah bumi ini, apa?!”


Reyhan beringsut menoleh ke arah motor Honda Vario silver-nya yang terparkir di ujung kanan bersama motor-motor pengendara lainnya. “Mau sampe kapan gue berdiam kayak patung di Alfamart? Masa iya gue pulang tengah malem hanya gara-gara nungguin hujannya berhenti?”


“Emang gak ada pilihan lain, gue harus terobos ini hujan. Lagian jarak antara toko yang gue kunjungi sama komplek Kristal, lumayan deket. Cuman membutuhkan tempuhan beberapa kilometer, bakal cepet sampe rumah. Oke! Ide yang tepat.”


Reyhan mulai berlari gesit menghampiri motornya lalu segera menungganginya kendati separuh tubuhnya sudah terkena basahan air hujan. Pemuda si keras kepala itu, menyalakan mesinnya lalu melaju singkat meninggalkan toko Alfamart dengan menggunakan kecepatan yang begitu tinggi.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam rumah, Jihan menghidangkan makan malam dengan perasaan hati yang tidak enak sekaligus khawatir terhadap Reyhan. Sementara Farhan nampak meletakkan tas kerjanya di atas kursi sofa depan TV digital, wajahnya juga terlihat dipenuhi kerisauan pada putra semata wayangnya.


Sampai tiba-tiba buah hati yang mereka nanti-nantikan, datang usai membuka pintu rumah. Begitu mengerti, Farhan dan Jihan berlari ke ruang primer untuk menghampiri lelaki tersebut dengan perasaan bimbang. Usai berada dihadapannya, mereka berdua dikejutkan oleh keadaan tubuh Reyhan yang telah terkena banyaknya guyuran dari air hujan deras.


“Astaghfirullah, Reyhan! Kenapa kamu basah kuyup begini sih, Nak?!” pekik Jihan sambil menangkup wajah sang anak yang terasa basah dan dingin.


Farhan memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki putranya dengan kondisi mata melotot lalu beralih untuk menatap Reyhan yang mukanya mulai terlihat lemas. “Kamu main hujan-hujanan diluar sana?!”


Reyhan menggeleng laun. “Reyhan sudah dewasa, Pa. Untuk apa anakmu pergi main hujan-hujanan? Tadi Reyhan hanya menerobos hujannya saja ...”


Farhan menepuk keningnya kencang. “Kenapa diterobos air hujannya sih, Rey?! Yasudah, bentar! Papa ambilkan handuk dulu di lemari.”


Farhan bergegas balik badan untuk mengambil handuk kering yang dilipat rapi di dalam suatu lemari dekat wastafel kamar mandi. Sementara dengan kurangnya tenaga yang ada di dalam tubuh, tangan Reyhan terulur buat menyodorkan plastik putih berukuran besar bersama logo dari toko waralaba minimarket yang sudah ia datangi untuk membeli.


“Ini buat Mama,” ucap Reyhan.


“Apa ini, Sayang? Kamu belikan Mama apa?” tanya ibunya dengan menerima halus pemberian dari Reyhan yang menenteng plastik tersebut.


“Semua yang ada di dalem plastik, bahan-bahan yang sering ada di dapur. Reyhan sudah belikan minyak wijen, kecap, bumbu racikan, sambal terasi, dan lain-lainnya juga untuk Mama. Reyhan begini karena sekalian mau minta maaf atas perilaku kasarnya ke Mama dan papa, Reyhan ngaku kalau tadi pagi sudah salah banget ...”


“Ya ampun, Reyhan. Tapi gak perlu sampai seperti ini juga, lihat. Kamu menjadi basah kuyup gini hanya karena belikan semua ini buat Mama ... bahan-bahan ruang dapur ini, lebih penting kesehatanmu, Nak. Tetapi, terimakasih ya, Sayang kamu sudah rela hujan-hujanan demi cuma ke minimarket untuk Mama.”


Reyhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, selanjutnya Jihan melepas tas ransel abu-abu milik anaknya yang di depannya ditutup oleh kain pelindung tas dari air hujan. Sementara sang ayah Reyhan kembali berlari ke arah putranya lalu mulai mengeringkan sekujur tubuhnya yang telah basah kuyup karena terkena guyuran air hujan lebat.


“Reyhan gak mau membuat kalian khawatir, Pa. Terlebih HP punyanya Reyhan lowbat dan mati total, jadinya Reyhan sulit menghubungi atau kasih kirim chat ke salah satu dari antara kalian berdua,” respon putranya yang nadanya terdengar lirih.


“Pantesan ... badanmu juga sudah mulai lemes gini, udah pastinya efek dari air hujannya itu! Lain kali, kalau kamu memang terjebak hujan lagi, ditunggu saja sampai benar-benar berhenti. Jangan nekat, kurangin itu rasa keras kepalamu! Mengerti?”


Mendengar ketegasan suara Farhan, membuat Reyhan takluk hingga menundukkan kepalanya. “Iya, Pa. Maaf, Reyhan tidak akan mengulanginya lagi ...”


Farhan menghela napasnya lalu tersenyum. “Iya, sudah tidak apa-apa. Habis ini langsung mandi air hangat, ya? Biar tubuhmu gak kedinginan lagi. Papa juga mau minta maaf soal yang tadi pagi, Papa sudah terlalu membentak dan bernada kasar padamu. Jika ada perkataan Papa yang membuat hatimu tersinggung, Papa tidak akan segan-segan menarik semua ucapan itu.”


Reyhan mendongakkan kepalanya lalu menggeleng pelan dengan mimik sedih. “Papa jangan minta maaf, ini salahnya Reyhan. Gak seharusnya Reyhan terhanyut dalam kegundahan, Reyhan hanya kurang mampu menerima segala yang sudah menimpa raga Angga.”


“Dan mungkin ... Reyhan harus siap bila suatu saat nanti kehilangan sosok Angga.”


Kalimat terakhir yang Reyhan keluarkan dari mulut, berhasil membuat kedua orangtuanya terkejut setengah mati dan bingung maksud dari omongannya pemuda Friendly tampan itu.


“Maksudmu bagaimana, Rey?! Kenapa kamu berbicara seperti itu terhadap mengenai Angga? Kondisi sahabatmu di rumah sakit, semakin parah?” tanya risau Farhan.


Sedangkan Jihan berjongkok untuk melepaskan ikatan tali sepatu sekolahnya Reyhan dengan sembari memikirkan dari perkataan anaknya. Sementara Reyhan yang dipertanyakan oleh ayahnya, memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


“Lupakan saja, Pa ... Reyhan lagi gak mau mikir, kepala Reyhan sekarang pusing banget. Mungkin karena faktor dari kena hujan,” pungkasnya.


“Kepalamu pusing? Yasudah, mendingan kamu langsung naik tangga dan mandi, ya? Lalu habis selesai membersihkan diri, kamu ke kamar saja. Gak usah turun ke bawah untuk makan malam bersama Mama dan Papa, biar nanti Mama antarkan makanan sama minumannya ke kamarmu.”


Reyhan tersenyum pada ketulusan Jihan. “Makasih ya, Ma sudah terlalu perhatian sama Reyhan.”


“Iya, Sayang. Sama-sama. Urusan sepatu sekolahmu yang basah, biar Mama saja. Sepatu kamu harus dikeringkan dulu di belakang kulkas, kalau diluar teras rumah, kan gak mungkin.” Jihan terkekeh.


Anaknya hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman yang diterbitkannya, lalu Farhan menyampirkan handuknya di pundak kiri lalu memegang salah satu pergelangan tangan Reyhan.


“Papa antar kamu sampai di depan kamar mandi, ya? Tubuhmu sudah terlihat lemas banget, takutnya nanti pas jalan malah jatuh.”


Reyhan menarik tangan Farhan untuk melepaskannya dari pergelangannya. “Gak perlu, Pa. Reyhan bisa jalan sendiri, Reyhan masih kuat.”


Reyhan kemudian balik badan dan mulai bergerak melangkah meninggalkan kedua orangtuanya yang memperhatikan tubuhnya nang sempoyongan dalam berjalan menuju ke atas tangga. Setelah 5 menit tiba di ruang kamar mandi, Farhan dan Jihan mulai berunding untuk saling bertanya maksud dari penuturan kata Reyhan tadi mengenai Angga.


“Maksud Reyhan tadi apa ya, Ma? Kenapa dari segi ucapannya itu seolah kalau Allah akan berkehendak ingin mengambil nyawa Angga untuk mengajaknya berpulang?”


Jihan tersentak kaget. “Papa, jangan bilang seperti itu, dong! Kalau Angga meninggal, kasihan dengan Andrana dan Agra. Bahkan mereka sampai rela lelah menjaga Angga setiap hari di rumah sakit, mereka sayang sekali dengan anaknya, Pa! Mereka pasti akan terpukul banget jika Angga benar-benar pergi meninggalkannya untuk selamanya.”


Farhan menghela napasnya dengan panjang bersama raut muka sendunya menatap istrinya yang selesai berucap untuknya.


“Papa tahu itu, Ma. Semoga saja Allah tidak mempunyai tindakan untuk mengangkat nyawanya Angga dari dunia.”


“Aamiin, Pa. Mama sungguh tidak bisa membayangkan bila hal itu akan terjadi pada Angga suatu ketika nanti. Mama harap Angga mampu melewati masa Komanya dan segera bangun dari kronisnya ...”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Esok hari dimana matahari mulai memancarkan cahaya mentarinya untuk menyinari seluruh dunia dibawah bumi, Reyhan telah lengkap dengan seragam OSIS-nya. Di dalam kamarnya, tangan ia sibuk memasukkan buku-buku tugas, catatan, paket, beserta LKS sekalipun ke dalam tas ranselnya.


Namun setelah memasukkan para buku pelajarannya sesuai jadwal hari Selasa, kedua tangan Reyhan tidak sengaja menggebrak meja belajarnya dengan mata ia pejamkan lemas. Hal itu, berjaya membuat Arseno yang berada di pelosok tembok kamar teman manusianya, terkaget.


“Kamu baik-baik saja, Rey?” tanya Arseno.


Reyhan mengambil napasnya sejenak dengan salah satu tangan meraih kepalanya yang terasa pusing. Akibat terkena lebatnya hujan semalam, imun tubuhnya menurun. Tanpa menjawab hantu tersebut, Reyhan menutup resleting tasnya dan menentengnya ke pundak kanannya.


Melihat pemuda itu melangkah gontai ke arah pintu yang posisinya tertutup rapat, membuat hati Arseno resah. “Keadaanmu sedang sangat tidak baik-baik saja, apakah sebaiknya kamu absen sekolah dahulu sampai kondisimu kembali pulih? Lihat di cermin, mukamu begitu pucat.”


“Diamlah, gue masih kuat ...”


“Tapi-”


Cklek !


Arseno membungkam mulutnya waktu Reyhan keluar dari kamar lalu menutup pintunya. Lelaki arwah positif itu hanya mampu menghela napasnya panjang, baru menyadari kalau ternyata teman manusia setengah Indigo-nya ini memiliki sisi dangkar.


Di sisi lain, Reyhan yang telah sarapan hingga memakan waktu 10 menit untuk menghabiskannya, kini pergi beranjak keluar dari rumahnya tak lupa berpamitan dan menyalami tangan orangtuanya yang sebetulnya telah melarang dirinya untuk berangkat ke sekolah SMA Galaxy Admara.


Di luar teras, Reyhan menguatkan raganya untuk menuju ke motor yang terparkir di samping rumah. Usai mendorongnya keluar dari gerbang, lelaki itu di sapa ramah oleh tetangga sebrang rumahnya yang tak lain adalah Jevran.


“Bro! Udah mau berangkat, nih?! Yok, lah kita ke sekolah bareng-bareng. Udah lumayan jarang kita ke SMA secara berbarengan,” ajak Jevran yang tengah memanasi motornya.


Reyhan menolehkan kepalanya ke arah Jevran lalu melemparkan senyuman tipisnya. “Oke.”


“Sip- eh?! Muka lo, kok pucet banget?! Elo lagi sakit, apa gimana?!” kejut Jevran usai menatap wajah Reyhan yang memang sangat pucat.


Tetangganya menggeleng kepalanya dengan memberikan senyuman lemah. “Gue gak apa-apa, lo santai saja ...”


“Lo yakin gak apa-apa? Muka lo sumpah pucet banget, Rey! Gak mungkin mata gue lagi ngaco karena masih pagi.”


Reyhan hanya senyum untuk menutupi kejadian yang terjadi padanya tadi malam, ia sekarang beralih mengangkat kaki kanannya untuk menaiki jok motor Honda Vario-nya lalu mengambil helmnya dari atas kaca spion dan segera memakainya tak lupa mengunci pengaitnya.


Begitupun dengan Jevran, lelaki itu mulai mendorong kendaraan roda duanya menggunakan kedua kakinya yang mana motor miliknya telah sang empu tunggangi. Saat hendak menyalakan mesin motornya pada kunci motor, Jevran tak sengaja melihat Reyhan yang terdiam sembari menundukkan kepalanya, sementara mukanya telah tertutup oleh kaca helm.


Reyhan membuka matanya dan langsung mendapati jika pandangannya mulai berkunang-kunang. Dadanya sakit bergemuruh apalagi lemah tubuhnya sudah tidak bisa ia topang dengan sekuat tenaga.


Reyhan, lo baik-baik saja, kan?


‘Gue memang cowok keras kepala ...’


BRUKH !!!


Mata Jevran mencuat sempurna saat melihat tubuh Reyhan jatuh tergelimpang lemah di aspal bersama motornya sekaligus yang posisinya terperosok menindih setengah tubuhnya. Hal itu, membuat Jevran segera melepas helmnya dan turun dari motor untuk menghampiri raga tetangganya yang nampaknya telah tak ada pergerakannya.


“REYHAN!” Jevran yang hatinya begitu panik, segera menurunkan kaki kanan Reyhan dari badan motor lalu lekas mendirikan motor temannya untuk membebaskan kaki kirinya tak lupa standar-kan kendaraan tersebut agar motornya Reyhan tidak ambruk.


Setelah menegakkan motor Vario tetangganya, Jevran mulai berjongkok didekat Reyhan dan kedua tangannya terbentang untuk melepaskan helmnya lelaki Friendly itu dari kepalanya. Jevran tambah terkejut waktu melihat kedua luar lubang hidung Reyhan mengeluarkan cairan darah.


Jevran segera meletakkan helmnya Reyhan kemudian berinisiatif menggoyangkan tubuh pemuda itu dengan menyebut-nyebut namanya. Wajah Jevran kali ini begitu berantakan karena tidak mendapatkan respon dari temannya, apalagi matanya tetap terpejam enggan terbuka.


“Reyhan, sadar! Rey?! Lo kenap- owh! Anjir, kok pipi dia bisa panas gini?! Apa jangan-jangan dia pingsan karena sakit Demam?! Gawat!” racau Jevran.


Jevran meraup mukanya. “Mampus! Gue harus gimana?! Mana ini anak gak sadar-sadar, lagi!”


Saat dilanda kepanikan, Jevran tanpa sengaja mendengar suara mobil yang berasal dari dalam gerbang rumahnya Reyhan. Tak ingin mengulur-ulur waktu, pemuda yang jongkok di sampingnya Reyhan langsung bangkit berdiri dan langsung berlari masuk ke dalam gerbang rumah tetangganya.


Bertepatan setelah masuk, Jevran melihat seorang pria paruh baya berpakaian kantor rapi dengan jas blazer cokelatnya sedang mengeluarkan mobil Xenia-nya dari tempat garasi. Tetapi detik kemudian, Farhan keluar dari mobilnya karena kelupaan sesuatu, dan di situ Jevran segera bergegas kembali berlari untuk menghampiri ayahnya Reyhan.


“Om Farhan!”


Beliau menghentikan langkahnya di teras rumah seraya menoleh ke arah salah satu anak muda lelaki remaja yang memanggilnya dengan gusar. “Lho, Jevran? Kok, belum berangkat ke sekolah? Ini udah siang. Entar telat.”


“Nah ya mangkanya itu, Om! Jevran mau ngasih tahu sama Om Farhan kalau Reyhan pingsan!!” Ungkapan Jevran membuat Farhan membelalakkan matanya.


“Pingsan?! Dimana?!” kejutnya.


“Di depan gerbang, Om!” jawab tangkas Jevran dengan menunjuk arah tempat dimana Reyhan jatuh pingsan bersama motornya.


Tanya ingin banyak bertanya lagi, Farhan segera berlari kencang keluar dari gerbang rumahnya lalu langkah kakinya berhenti untuk lari saat matanya terbentur pada putranya terbaring lemah di aspal dalam posisi tubuh terlentang.


“Rey!” Dengan detak jantung yang berdebar tak karuan, Farhan meraih cepat tubuh lemah Reyhan dari aspal lalu menopang kepala anaknya di atas lipatan tangannya.

__ADS_1


Farhan setelah itu menepuk-nepuk pipi Reyhan yang terasa sangat panas lalu beralih menyingkap rambut putra semata wayangnya ke belakang. “Reyhan? Ayolah sadar, Nak! Kualat, kamu sama papa dan mama! Dibilang jangan berangkat sekolah dulu, malah ngeyel!”


“Om Farhan! Mendingan Reyhan dibawa ke dalam rumah saja. Biar motornya, Jevran giring ke teras rumahnya Reyhan!” usul Jevran.


Farhan mengangguk antusias lalu segera memanggul raganya Reyhan yang terlihat lemah ke dalam rumah segera dan akan membaringkannya di kamar tidur putranya. Sementara si Jevran mulai memungut helm temannya dan menggantungkannya di kaca spion. Sesudahnya, ia mendorong masuk motor Reyhan ke teras rumah.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Reyhan. Ayo bangun, Sayang ...” lembut nada Jihan dengan memijat tangan kanan anaknya untuk melancarkan peredaran darahnya.


Jevran yang berdiri di samping ibunya Reyhan, membuka suaranya nang sedari tadi diam, “Jadi Reyhan Demam karena dampak faktor dari kehujanan tadi malam, Om?”


“Iya. Masalahnya Reyhan gak mau menunggu hujan kemarin sampai reda, jadilah kayak gini. Tadi sebelum Reyhan keluar rumah, Om dan tante Jihan sudah memperingati Reyhan untuk jangan pergi ke sekolah tetapi dia membangkang,” jelas Farhan sambil melepas semua kancing jas almamater seragamnya Reyhan dan juga melonggarkan ikat pinggang yang melingkar di celananya.


Setelah semuanya beres, Farhan melebarkan selimut tebal untuk memberi kehangatan tubuh putranya yang sedang mengalami sakit Demam. Sementara, Jihan menolehkan kepalanya ke arah Jevran yang kembali senyap.


“Nak, lebih baik kamu berangkat ke sekolah saja, ya? Reyhan nanti juga pasti sadar, kok. Nanti bisa terlambat,” tutur Jihan.


Jevran menganggukkan kepala dengan mengulas senyuman simpelnya. “Oh! Iya, Tante. Kalau begitu Jevran mau pamit ke sekolah dulu, Assalamualaikum.”


“Iya, Waalaikumsalam.”


Setelah direspon oleh kedua orangtuanya Reyhan dengan kompak dan ramah hati, Jevran balik badan untuk menaruh tas ransel abu-abunya Reyhan terlebih dahulu lalu baru melangkah keluar dari kamar temannya, tidak lupa menutup pintu dengan perlahan.


“Ma, Papa juga mau berangkat kerja dulu, ya? Nanti kalau Reyhan sudah siuman, tolong kabarkan ke Papa,” titah Farhan seraya beranjak dari tepi kasurnya sang putra.


“Iya, Papa hati-hati dijalan.” Responnya Jihan diberikan suaminya dengan kecupan kedua pipi dan keningnya sekaligus sebelum pergi meninggalkan komplek Kristal.


“Eh! Ma! Lupa mau nanya, dompetnya Papa dimana, ya? Tadi, tuh Papa turun dari mobil karena kelupaan bawa dompet!” pekik Farhan sambil menepuk dahinya.


Jihan mendengus. “Kan, tadi pas lagi sarapan, dompetnya Papa ditaruh di atas meja makan. Masa Papa sendiri yang letak, lupa?”


Setelah memikir selama 10 detik, tatkala Farhan langsung ingat. “Oh, iya! Tadi, kan pas Papa lagi mengecek kartu KTP di ruang dapur, dompetnya Papa taruh di atas meja makan! Kok bisa lupa, sih? Hahahaha!”


“Bahaya tahu, Pa. Kasihan Reyhan sampai menurun sifat otak pelupanya Papa!” tegur Jihan pada kekonyolan suaminya di pagi hari.


“Hehe! Maaf, Ma.”


“Yasudah. Sekalian ya, Ma! Assalamualaikum!” teriak Farhan sambil berlari karena kurang 15 menit lagi, beliau akan terlambat ke kantor perusahaannya.


“Ck, Waalaikumsalam.”


Setelah melihat ambang pintu, Jihan memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Reyhan yang terbaring tak berdaya di atas kasur empuk nan nyamannya. Dengan sebuah senyuman yang ditampilkan beliau, Jihan mengangkat tangannya dan meraih kepala Reyhan lepau membelainya bersama rasa kasih sayang.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Galaxy Admara - Ruang Perpustakaan.


Siang sekitar antara pukul jam 11.00, terdapat ada beberapa siswa-siswi berkumpul di ruang perpustakaan untuk sekedar membaca buku novel sesuai kegemaran genre dan mengobrol seru-ria.


Jova menutup buku novel Horor/Misteri yang selesai ia baca walau masih sebagian bab. Gadis Tomboy itu mulai meregangkan kedua otot tangannya di atas meja dengan melenguh panjang.


“Kamu kenapa sih, Va?” tanya Freya dengan seraya menghadapkan buku novel genre Fantasinya di muka jelitanya.


“Huhu, Capek! Pengen langsung pulang aja ke rumah!” rengek Jova lalu membuka mulutnya dengan lebar untuk menguap.


“Ish! Kalau menguap, tuh langsung ditutupin. Gak sopan, tahu!” omel Freya.


“Biarin! mumpung lagi gak ada guru, jadi sopan-ku masih layak di mata mereka semua,” sanggah Jova.


Freya memutar bola matanya malas ke arah lembaran naskah buku dari wajah lesu sahabatnya. “Terserah kamu saja, ah.”


“Hehehehe! Jangan ngambek, dong ..” rayu Jova sambil mencubit-cubit pipi mulusnya Freya dengan kepala ia letakkan jengah di atas meja.


“Siapa juga yang ngambek? Orang aku mau baca buku lagi, kok. Kamu-nya saja yang berlebihan banget.”


“Ha?” Mata Jova sedikit membelalak saat mendengar jawabannya Freya yang dari nadanya terdengar dingin.


“Hahahahahaha!”


Jova mendesis keki seraya menoleh ke arah seluruh semua temannya yang tengah menertawakan dirinya. “Apa ketawa?! Gue sumpelin gading gajah satu persatu, mampus kalian pada!”


“Njir, galaknya kek Reyhan ...” gumam Aji lalu menyibukkan diri agar Jova tak membalas perkataannya.


“Oh, emji hellooooow! heh, Bumbu Racikan Masako! Dengerin, ye. Jangan pernah sikapku kamu samain dengan sikapnya Reyhan! ku gak suka, kami tuh beda! Gak seiras, Sialan!” damprat Jova usai menegakkan balik badannya dari lelahnya menjalani aktivitas sekolah.


Lala tertawa renyah mendengar suara nada kekesalannya si Jova pada Aji. “Va, lo kalau suka Reyhan tolong reveal and confess, dong. Jangan memperlakukan dia kayak anak yang disandera dalem gudang sama ibunya!”


“Mata lo, disandera! Gue suka sama Reyhan hanya sebatas sahabat. Sahabat! You know best friend? Kalau tahu gak usah pake acara interogasi-interogasi segala kayak polisi! Apaan, dah ini anak. Bikin mood gue makin amblas!”


Sementara Jevran yang duduk di paling pojok sendiri dekat jendela ruangan, menghela napasnya sejenak usai mempertimbangkan sesuatu untuk mempertanyakan suatu hal pada seseorang. Lelaki itu mulai menyongsong badannya untuk menghadap ke arah Freya yang matanya sibuk membaca buku novel.


“Eee, Freya?” panggil Jevran dengan senyum sederhana.


Freya mengangkat wajah cantiknya dan menoleh ke arah temannya yang memanggil namanya. “Ya, Vran?”


“Aku ... Boleh tanya sesuatu yang penting sama kamu? Di sini aja, biar mereka semua tahu.”


Freya mengernyitkan keningnya tak mengerti maksud dari Jevran. “Kamu mau tanya apa sama aku? Kamu bilang tadi, penting?”


Jevran menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, kamu benar. Mungkin yang aku tanya habis ini agak sensitif kali, ya? Jujur saja aku ingin tahu sebenernya apa yang udah terjadi.”


Freya meletakkan buku novelnya santai di atas meja lalu menatap lekat mata Jevran. “Oke, tanya saja dengan aku. Apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Ini perihal saat dulu kamu dirawat dalem rumah sakit Medistra Kusuma kota Bogor karena mengalami penurunan kesadaran secara mendadak. Apakah Gerald itu masa lalu kecilnya Angga?”


DEG


Tubuh Freya dan Jova spontan menegang hebat usai mendengar pertanyaannya Jevran yang serius. Di situasi rumit ini, membuat mereka berdua terjebak oleh sebuah pertanyaan yang menyembul dari mulutnya sang pemuda tetangganya Reyhan.


Joshua yang mendorong atas kacamatanya nang melorot ke pangkal hidungnya, menyipitkan matanya waktu menatap raut muka panik kedua teman gadis anggota kelasnya.


“Hei, kalian berdua kenapa terlihat panik begitu? Kalian bimbang apa karena yang ditanya Jevran, benar?” Kini sang ketua kelas yang menanyai gadis-gadis beda warna rambut itu.


“Ah! Apa? Enggak, kok! Kami biasa aja, gak panik atau bimbang. Matamu aja kali yang kero, hahaha!” ungkap Jova ceria untuk berusaha menutupi tetap rahasia terpendamnya Angga.


“Jangan ditutupin kayak lubang sumur, dong. Jawab sejujurnya saja sama kami semua. Kalaupun itu rahasia, kami bakal sepakat menggembok rahasia itu, bagaimana?” celetuk Rena.


“Buset, dah! Asal nongol gitu kayak setan. Terkejot gue, Anjir! Lo kemana aja, sih dari tadi?! Malah baru dateng sekarang!” protes Jova.


Rena yang ada di belakang tubuh Jova, menggaruk kepalanya. “Sori, tadi gue abis ke kantin buat beli siomay dua porsi. Sekarang, sih perut gue udah kenyang banget.”


“Itu perut apa tong? Kenapa satunya gak kamu kasihi ke aku? Aku belum makan, lhoooo ...” lunglai Aji dengan memasang muka melasnya sambil mengelus perutnya yang keroncongan.


“Idih, beli aja sana sendiri! Emang kamu pikir aku pesen siomay pake koin recehan?! Tinggal jalan beberapa kilo ke kantin juga bakal sampe. Tuh, harga jajanannya cuman nyampe lima ribu doang!”


“Males, bet!”


“Yaudah, emang apa pedulinya aku?”


Aji mendengus dan memilih menahan rasa laparnya di perut. Ingin segera mengisi kekosongan perutnya, tapi begitu malas untuk melangkah ke kantin yang ada di lantai 3 ini. Sementara Freya nampak menundukkan kepalanya dengan tanpa mau menjawab pertanyaan Jevran yang telah keluar sejak 3 menit lalu.


“Freya? Apa yang tadi aku tanya itu, betul kalau Ge-”


“Aku gak bisa membocorkan rahasianya Angga. Aku tahu itu adalah rahasia yang paling pribadi baginya, hanya boleh beberapa orang yang bisa dia percayai untuk memberi tahu rahasianya selama ini,” potong Freya dengan wajah lara.


Zara menggenggam tangan Freya untuk memintanya. “Kami mohon ceritakan semua masa lalunya Angga, Frey. Kami adalah teman kelas sekaligus baiknya pacarmu, jadi kami harus tahu latar belakangnya.”


“Iya, Frey tolong. Karena setelah aku bayang-bayangkan soal dendamnya Gerald terhadap Angga, kayak bisa dibuktikan kalau mereka berdua itu adalah masa lalu yang terjadi pada Angga,” ujar Ryan.


“Kentara banget, ya?” tanya Jova dengan nyengir.


Ryan hanya menganggukkan kepala tanpa menerbitkan senyumannya pada gadis cantik berambut cokelat itu. Freya menghela napasnya, bingung? Jelas. Semua itu adalah rahasia masa lalu kelam kekasihnya yang mungkin sangat rentan bila disebarkan ke orang lain.


“Jova ...” lirih Freya melirik mata sahabat terbaiknya.


Jova diam-diam menyelipkan tangannya untuk memegang lengan tangan Freya yang ada di atas rok. “Kita coba uji kepastian mereka bila bisa menjaga rahasia yang ada di Angga.”


Freya melebarkan kedua matanya usai mendengar bisikan suara Jova untuknya. Terdengar konyol memang. Tetapi apa salahnya menguji ketahanan hati mereka untuk tidak membongkar rahasia masa lalu itu ke orang-orang lain?


Freya beralih menatap semua temannya lalu kembali menundukkan kepalanya sambil menghembuskan napasnya berat dengan memejamkan matanya untuk tetap tak mengambil Overthinking.


“Ya, Gerald adalah masa lalu kecilnya Angga.”


“Kalian ingin lebih tahu dalam? Oke, gue akan menceritakannya walau gak keseluruhan, entar malah bel. Di masa SD dulu, Angga seorang siswa yang selalu mendapatkan rangking tiga besar sekaligus siswa yang berprestasi.”


“Kalau itu, mah gue tahu! Dari kelas sepuluh Angga sering jadi juara kelas meski dia gak minat ikut Olimpiade apapun,” timpal Lala.


“Gue belum selesai cerita!” semprot Jova.


Lala terperanjat kaget mendengar semburan nada tinggi dari Jova, lalu gadis itu langsung dijewer oleh Rena karena telah mengganggu temannya bercerita.


“Seorang siswa yang bernama Gerald Avaran Dedaka, gak suka keberadaannya Angga yang selalu menjadi kebanggaan dan kesayangannya para guru karena kepintarannya apalagi kecerdasannya dalam setiap mengikuti kegiatan belajar di sekolah dengan julukan Tekanan Lahir Batin.”


“Kenapa lo sampe kasih nama julukan sekolah SD-nya Angga dan Gerald kayak gitu? Emangnya sekolah itu gak berperikemanusiaan dan manusiawi?” tanya bingung Rena.


“Ya. Mengapa diberi julukan yang merendahkan itu? Karena, semasa dulu Angga selalu dibully, ditindas, dihujat, dirundung, bahkan dijatuhkan harga dirinya sebagai siswa di Bakti Siswa. Huh ... antara mereka yang memperlakukan jahat itu pada Angga adalah Gerald, Zhendy, Rain, dan Teivel.”


“A-apa?! Angga dulu diperlakukan gak manusiawi kayak begitu sama calon-calon psikopat itu? Termasuk mantanmu sekalian?!” kejut tak percaya Andra.


Freya mengangguk lemah. “Iya, terserah kamu mau percaya atau tidak. Karena aku bercerita sesuai fakta pada kejadian peristiwa yang merusak jiwanya Angga.”


“Anjing! Sumpah, gue gak duga ini! Anggara cowok yang ganteng, cool, dingin, cerdas berprestasi di sekolah ini ... dulu diperlakukan gak senonoh seperti itu?! Bajingan si Gerald!” umpat murka Raka.


“Mulai dari situ Angga mempunyai masa lalu ranum yang terbilang tak bisa dia lupakan. Masa lalu kecil yang membuat hati Angga sangat hancur! Gerald boleh benci Angga karena di matanya kalau pacarku telah membunuh Zhendy sahabatnya, tapi dia gak perlu juga sampai balas dendam hingga membuat Angga terserang Koma untuk kedua kalinya! Gerald terlalu maniak buat melenyapkan Angga dari dunia, hiks!”


“Pokoknya jika aku sampai kehilangan Angga, aku akan menetapkan hatiku untuk tidak memaafkan kesalahan fatalnya Gerald, sekalipun dia bersumpah dan bertekuk lutut padaku!”


“Dia memang cowok brengsek! Aku menyesal pernah mencintainya, hiks! huhuhuhu!” raung Freya.


Melihat Freya yang kembali menangis tersedu-sedu hingga napasnya terputus-putus karena amat sesak dadanya mengingat kisah itu, Jova segera meraih tubuh mungil sahabatnya untuk memeluknya secara vertikal.


“Jadi kalian sudah tahu, kan cerita latar belakang masa lalunya Angga? Gelap, ya? Memang. Dan gue harap kalian yang telah menyaksikan cerita antara Freya dan gue tentang masa lalu Angga, simpan rahasia ini di hati. Tolong jangan sesekali kalian umbar ke orang lain. Bisa minta kerja samanya, Guys?”


Teman-temannya saling menganggukkan kepalanya dengan melemparkan senyuman lembutnya kepada Jova yang masih setia mendekap tubuhnya Freya.


“Kamu tenang saja. Kami akan tutup mulut tentang masa lalunya Angga yang merupakan rahasia terbesarnya, terimakasih telah mau mempercayai kami semua,” ucap Kenzo.


“Oh my gosh. Keparat banget, sumpah! Kalau gue satu sekolah sama Angga dulu, gue pasti bakal membela pacarnya Freya! Sayang, masih anak Bogor.”


“Sabar-sabar, Bro ... Kuatkan sabar di hati biar Allah makin sayang sama lo.” Aji mengelus-elus punggung Rangga untuk meredakan emosinya yang hampir meluap diakibatkan kelakuannya Gerald dan lainnya masa dahulu.


“Anjay! Dramatis bet, lo?” tukas Rangga sambil melirik mata Aji.


“A-aku sama sekali gak mau Angga ninggalin aku. Gak mau, hiks! Hanya karena terciptanya konflik, cowok yang aku sayangi menjadi Koma karena kejahatan yang telah diperbuat Gerald untuk membuang segala dendam kesumatnya dari hati. Setiap ucapan pasti menimbulkan Doa, jangan sampai semua perkataan dia yang mengharapkan atau menyumpahi diri Angga untuk mati, dikabulkan oleh Allah, hiks!”


“Enggak! Allah gak akan mau mengabulkan permintaannya Gerald untuk menghempaskan Angga dari dunia, dia gak pantas untuk didengar oleh Ilahi, Frey. Percayalah denganku, ya?! Tolong jangan sedih banget kayak gini. Angga pastinya akan tetap diberikan kesempatan untuk bertahan hidup, Angga juga gak mungkin tega meninggalkan kekasih yang dia cintai untuk selamanya. Angga, tuh sayang banget sama kamu.”


Freya hanya diam tanpa tangisan yang enggan mereda, wajah sebabnya sengaja ia sembunyikan pakai kedua telapak tangannya. Sedangkan Jova yang usai melebarkan semua kata-kata halusnya tuk menenangkan hati rapuhnya Freya, tetap mendekap sahabat lugunya. Suara yang sesenggukan membuat beberapa gadis yang tak bukan adalah Rena, Lala, dan Zara bangkit dari kursinya lalu saling memeluk raganya sang pujaan hatinya Angga.


Sedangkan para lelaki yang masih setia berada di kursinya masing-masing, hanya menatapnya dengan ekspresi raut muram serta pilunya tersendiri. Bagaimana tak lara hati mereka? Menengok kerapuhan yang dihadapi Freya membuat mereka semua tak bisa memakai bahagianya sebelum kembali melihat gadis pemilik rambut hitam legam panjang itu sumringah seperti sediakala.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Hah?! K-kalian membongkar seluruh rahasianya Angga yang selama ini telah kita bertiga sepakati untuk menjaganya?! Gila, ya!”


“Santai dulu dong, Nyuk! Kamu itu lagi sakit, baring lagi!” suruh Jova sambil mendorong muka tampan lelaki sahabatnya hingga membuatnya terbaring di kasur.


“Awal sebelum kita berdua mau ceritain semua latar belakangnya Angga, tuh kek dibawa panik gitu. Tapi ada leganya juga pas kami selesai menceritakannya ke mereka semua yang ada di perpustakaan sekolah,” jelas Jova mendetail.


“Lega apanya? Kamu langsung percaya kalau mereka bisa tutup mulut untuk gak membocorkan rahasia yang udah kalian bongkar?!”


“Iya. Emang kenapa? Salah, ya?!” takut Jova.


Reyhan mendengus dengan senyum masam. “Ya, enggak. Kalian menceritakan seluruh kisah masa lalunya Angga ke mereka juga sudah aman-aman saja, kok. Tanpa diperingati, disogok, atau diancam mereka mau menjaga semua rahasianya Angga. Gak hanya rahasia sahabat kita berdua, tapi perihal rahasia pribadi lainnya.”


“Wah! Berarti gak sia-sia, dong aku sama Freya menceritakannya semua! Rasanya tuh plong banget karena udah ngeluarin aib-aib bangsatnya Gerald, hahahaha!”


Jova membentangkan kedua tangannya ke depan untuk meregangkan ototnya yang kaku itu. “Oh, ya sebenernya aku mau misuh-misuh sama kamu pas pulang sekolah tadi.”


“Ih, kenapa?! Marah karena aku gak bisa masuk sekolah?” tebak Reyhan.


“Right, Bro! Kamu tahu gak, sih? Aku sama Freya tadi di perpus kesulitan nyari jawaban untuk jawab pertanyaannya Jevran soal masa lalu kecilnya Angga, Cuy! Kalau misalnya kamu gak absen sekolah, mah tinggal suruh baca auranya mereka. Bisa dipercaya apa kagak!”


“Mentang-mentang aku punya kelebihan itu yang dari keturunan Almarhum Opa-ku, kah? Tapi, kan semuanya yang udah terselesaikan itu gak datengin masalah. Jadi, lebih baik dibawa tenang saja. Gak usah diperumit segala,” buras Reyhan.


“Santai, besok aku berangkat sekolah, deh. Biar kamu gak marah lagi,” ulas Reyhan menyambung ujaran.


Jova langsung lekas menyabit wajah pucat sahabat lelakinya menggunakan kain kompres yang jatuh di atas selimut tebalnya milik Reyhan. “Gak ada kata berangkat-berangkat sekolah! Please stay at home sampai sembuh, oke?”


“Ah! Mukaku jadi basah!” geram Reyhan ingin mencubit hidung mancung sahabat perempuannya.


“Cieelah! Basah doang kena air baskom, bukan air dari kloset WC. Jadi cowok jangan lebay, doooong!” sahut Jova seraya menjambak rambut kerennya Reyhan.


“Akh, woi! Rambutku jangan ditarik! Nanti kepalaku bisa botak kayak Upin-Ipin!” teriak Reyhan melepaskan tangan Jova dari helai rambut cokelatnya.


Setelah dilepaskan oleh Jova, Reyhan tak sengaja menatap Freya yang bungkam menundukkan kepala. Pandangannya nampak sedang kosong, dan entah apa yang sedang dipikirkannya.


“Freya? Kamu kenapa? Wajahmu kelihatan ...” Reyhan menghentikan bicaranya waktu ingat kalau pasti gadis cantik itu sedang meratapi kondisi Angga di luar kota.


Freya menghela napasnya berat. “Mimpi itu, terus selalu menghantui pikiran benakku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melupakan mimpi buruk itu yang mengenai kepergiannya Angga, tetapi apa yang aku upayakan ... gagal total dan aku tahu kalau diriku gak mampu membuang memori mimpi yang aku jumpai waktu itu.”


“Aku masih bingung, maksud dari mimpi itu apa. Pertanda, kah atau sesuatu hal yang akan menjadi fakta? Kalaupun iya, selamanya hatiku tidak akan bisa tenang. Bahkan rasa tenang ini ditenggelamkan bersama pikiran negatif-ku yang aku alami. Begini, ya rasa sakit sesungguhnya? Lebih pedih daripada dibully rupanya.”


Bulir air mata Jova semakin kentara jelas. “Frey ...”


Jova kembali memagut tubuh mungil nan lemas Freya dengan air mata yang berderai meluncur membasahi kedua pipi kulit putih bersihnya. Sementara Reyhan yang berbaring di atas kasur bersama pakaian lengan panjangnya nang ia kenakan, mulai bangkit bangun lalu memajukan posisinya untuk mendekati Freya.


Hati kalbu mereka bertiga sama-sama sakit dan pedih saat saling mendekati. Benar, di antara mereka bertiga ada yang kurang bisa menerima keadaan nang terjadi pada Angga sampai sekarang. Tetapi...


Gunanya apa kalau tidak bisa menerima? Ini sudah takdir, takdir yang tak bisa dibentuk atau diputar ke masa lampau! Mereka tahu bahwa Angga tidak pantas untuk ditangisi, tapi pantas untuk didoakan sepanjang hari agar pemuda Indigo tampan itu sanggup melampaui Komanya di rumah sakit.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2