Indigo

Indigo
Chapter 163 | On the Abyss


__ADS_3

Freya dan Jova masih tidak mengerti maksud dari seseorang yang mengeluarkan sendang suara dari atas langit itu. Sementara Reyhan nampak tetap menggenggam telapak tangan Angga yang begitu amat panas, hati dirinya begitu kalut tak menentu. Terlebih lelaki berambut cokelat itu mampu merasakan kalau gerakan hela napas sahabatnya tidak beraturan. Reyhan juga tahu bila Angga sedang berusaha menahan rasa sakitnya yang menerjang hebat walau nyatanya sulit.


Meskipun itu sudah sangat lama yakni beberapa bulan silam, Reyhan masih mengingat beberapa untaian kata yang keluar dari mulut sang dokter pria nang menangani diri Angga saat mengalami Koma.


Obat itu tidak bisa diabaikan akan kerjanya untuk proses penyembuhan luka cedera di kepala sahabatnya walau efek tersebut hanya jelas meredakannya saja. Tetapi bila rasa sakit tersebut kembali mendatang dan tak segera meminum obatnya, itu akan memperburuk keadaannya Angga. Ya, Angga tahu semua itu. Tetapi mau bagaimana lagi? Ini masih di sebuah keadaan yang menyiksa baginya.


Ia hanya bisa pasrah dengan kondisinya. Tak tahu pula sampai kapan ia dan lainnya berada di hutan ini, sedangkan tidak ada satupun yang bisa menolong mereka semua kecuali kehadiran Mukjizat.


Dengan lambat, Angga membuka mulutnya dan mulai mengeluarkan tenaganya demi mengeluarkan suaranya untuk berbicara pada mereka semua yang setia berada didekatnya.


“Maafkan gue, maaf karena telah membuat kalian menderita di tempat ini. Andaikan gue tahu semuanya, kita pasti akan tercegah dari jebakan itu, gue memang tidak sehebat yang kalian kira ...”


Aji mendekati Angga lalu menepuk bahu kiri lemah temannya dengan tersenyum, sementara Angga masih memejamkan matanya. “Nggak apa-apa, Ngga. Gue juga tahu anak Indigo pastinya memiliki kelemahan tersendiri, lo jangan salahkan diri lo sendiri, ya? Kita semua pasti akan bisa keluar dari hutan ini. Kami yakin!”


Reyhan yang mendengar penuturan lembut dari Aji, tersenyum. Temannya itu memang terbaik menurutnya, meski kadang suka jahil pada satu sama lain. Sedangkan si Jevran yang posisinya sedang bersandar, mulai bangkit berdiri lalu sedikit melangkah ke depan Angga kemudian berjongkok dihadapannya.


“Angga, lo kedinginan? Kalau iya, pakai saja kemeja gue untuk mengatasi dingin yang menusuk,” tawar Jevran seraya hendak melepaskan kancing bajunya dari atas.


Angga perlahan membuka matanya walau ia tahu itu cukup berat baginya. Lelaki itu menatap Jevran yang sedang melepaskan kemejanya. “Gak perlu, makasih tawarannya ...”


Jevran tersenyum masam. “Beneran? Kalau emang kedinginan bilang saja, jangan sungkan.”


Angga menggeleng lemah. “Pakai jaket yang gue kenakan ini, sudah hangat. Thanks perhatiannya ...”


Tidak kuat membuka matanya dengan waktu yang lama, Angga memilih menutup matanya kembali sekaligus membungkamkan mulutnya. Sementara seperti Jevran dan Aji saling melemparkan pandangannya dengan raut muka gundah terhadap teman Indigo-nya.


“Gimana kalau kita pindah dan cari tempat lain yang hangat? Gue kasihan banget sama Angga. Terlebih, obat yang harusnya diminum, tetapi malah gak bisa karena ada di bangunan villa? Bagaimana, Guys?”


“Ih, lo gila kali, ya? Kondisinya Angga lagi kayak gitu, lho. Itu akan malah menambah beban keadaannya. Lebih baik kita tetap di sini saja sambil mencari cara bagaimana kita semua bisa keluar dari hutan ini,” tegur Rena.


Lala memanyunkan bibirnya saja tanpa lagi berkata untuk menjawab teguran dari Rena barusan. Reyhan yang masih menggenggam Angga, menolehkan ke samping buat melihat keadaan kedua sahabatnya.


Nampak Jova dan Freya termenung dengan wajah kebingungan, hal itu berhasil membuat kening Reyhan mengerut heran. Mereka kenapa? Itulah yang pemuda Friendly tersebut pertanyakan melalui relung hatinya.


“Kalian kenapa?” tanya Reyhan masih menatap kedua perempuan cantik itu.


Tatkala, Freya dan Jova melimbai kepalanya ke arah Reyhan yang mengeluarkan suara untuk mereka berdua. Salah satu di antara mereka menggelengkan kepala dengan senyum. “Bukan apa-apa, Rey.”


Reyhan beralih menatap salah satu gadis yaitu Jova. “Yakin? Tapi wajah kalian kayak bingung gitu? Jujur saja sama aku, kalian mendengar atau melihat sesuatu? Seperti contohnya suara aneh, makhluk halus ... mungkin?”


Yang pertama memang benar. Tetapi mereka berdua kompak tidak memberitahu untuk sekedar dalam menjawab pertanyaan Reyhan yang ekspresi wajahnya terlihat penasaran. Bahkan kedua sahabat perempuannya yang berkulit putih berseri itu, menggeleng pelan dengan tersenyum simpel.


“Rey ...”


Reyhan langsung menolehkan kepalanya ke arah Angga yang memanggilnya secara lemah. “Ya? Kenapa?”


“Gue ingin memberitahu lo tentang sesuatu ...”


Reyhan tersenyum dengan kenapa manggut-manggut. “Lo pengen ngasih tahu gue tentang apa?”


“Gue sudah mengalami mimpi buruk itu hingga berkali-kali. Gue tahu semua itu adalah pertanda mengerikan untuk diri gue, namun entah kapan. Tetapi gue berharap semoga saja itu tidak akan terjadi ...”


Mulut Reyhan bungkam dengan sambil mencerna maksud dari perkataan lirih dari sahabatnya. Ia benar-benar kurang paham. “Boleh lebih detailnya? Gue gak ngerti. Mimpi buruk yang apa? Mungkin lo sudah terlalu banyak mendatangi segala mimpi buruk dari alam bawah sadar.”


Angga mencoba mengeluarkan tenaganya lagi untuk merespon. “Perampasan Indigo milik gue yang diritualkan dibawah tanah kastil ...”


Reyhan langsung sengap seketika dan lumayan tersentak kaget pada jawaban Angga yang telah detail untuknya.

__ADS_1


‘Ternyata mimpi buruk yang itu? Tapi kenapa bisa? Berarti maksudnya Angga, dia bermimpi tentang itu secara berulang-ulang kali? Absurd banget.’


“Angga! Hidungmu keluar darahnya!!” teriak Freya dengan nada lengkingnya seraya menutup mulutnya pakai dua telapak tangannya.


Semuanya kecuali kekasihnya, tersentak kaget dengan spontan menoleh ke arah Angga dan sebagian ada yang berdiri dari tempatnya untuk memarani lelaki tampan tersebut. Sedangkan Angga membuka mata sayunya lalu mulai memoles darahnya yang ada di sebelah lekukan bibir kemudian melihatnya nang cairan merah pekat itu telah menempel di jari telunjuknya.


“Astaghfirullah! Kok bisa, lho?!” kejut Reyhan sedikit takut sambil mengelap sisa darah sahabatnya yang sudah terlanjur keluar dari kedua lubang hidung.


Kain kecil yang Reyhan temukan di saku kantong belakang celana panjang army miliknya, ia gunakan untuk membersihkan darah Angga mulai dari luar hidung sampai jari telunjuk tangan kanannya.


Detik kemudian setelah Reyhan menjauhkan kainnya yang telah bernoda darahnya sang sahabat, kepala Angga menjuntai lemas ke bahu kiri Reyhan, matanya juga terpejam dengan napas yang semakin berat.


“Ngga?” panggil Reyhan kelesa seraya melentung salah satu pipi Angga yang masih terasa panas.


“Ngga? Lo masih bisa dengar suara gue, kan?” Hati Reyhan sedari tadi sudah tidak tenang dengan kondisi parah yang menyerang raga sahabatnya. Bahkan pertanyaan barusan Reyhan yang agak getar tak lekas direspon olehnya.


“Angga?”


Melihat gerakan kepala dari Angga yang mana mengangguk laun, membuat Reyhan menghembuskan napasnya sedikit lebih lega. Hal ini mengingatkan Reyhan kembali tentang suara hati sahabatnya yang berbicara secara dalam batin.


...Semoga saja ini bukanlah yang terakhir kita bersama. Tetapi kalau memang sudah takdir, gue benar-benar minta maaf dengan kalian......


Tanpa sadar, Reyhan memejamkan matanya dengan kuat bahkan bibir tipisnya yang ia rapatkan. Bila itu terjadi, Reyhan sungguh tidak mengikhlaskan apa yang terjadi pada Angga.


‘Jangan pergi. Gue gak akan rela kalau lo benar-benar meninggalkan dunia ...’


Angga yang mendengar suara batinnya Reyhan, tetap diam. Wajahnya kali ini terlihat gundah, entah mengapa juga ia berkata seperti itu dalam lubuk hatinya. Mungkinkah ini adalah sebuah suatu firasat yang Angga rasakan?


“Siapa, sih yang sudah tega ngelakuin ini ke Angga?! Gue yakin pasti ini kerjaannya seseorang atau makhluk gaib sialan yang bikin manusia apes!” luap Jova.


Sementara Freya nampak ketakutan sambil setengah memeluk kedua kaki lurus Angga dengan tangisannya. Takut bila sesuatu yang tak diinginkan terjadi kepada kekasih tercintanya, sedangkan nang lainnya terlihat bingung dan panik harus berbuat apa. Mereka ingin sekali mengurangi rasa sakit Angga, tetapi apa yang mereka mampu? Sudah mustahil.


“Hey, jangan nangis. Aku masih oke, kok ...”


Sedangkan tangan Angga satunya meraih ujung atas kepala Jova untuk memulasnya berguna memberi ketenangan buat sahabat perempuannya. “Jangan terlalu risau denganku, ya? Hilangkan juga rasa emosimu di hati ...”


“Aku gak mau kamu lebih kenapa-napa dari ini, Ngga! Bahkan aku-nya dulu menjadi saksi telinga waktu dokter Ello memberikan saran untuk kamu. Kalau begini caranya, terus gimana? Yang ada akan justru memperparah kondisimu saat ini,” ujar Jova dengan air mata nyaris lolos membanjiri pipinya.


“Jangan bilang seperti itu, dong. Ucapan adalah Doa, lho ...”


Seketika Jova terdiam sesaat lalu mengeluarkan suara cicitnya untuk diri Angga yang menatap wajah cantiknya. “Maaf udah kebablasan ...”


Angga menarik kedua sudut bibirnya untuk melemparkan senyumannya pada Jova.


Jevran menghela napasnya karena lelah memikir cara bebas dari hutan keramat ini, memang sanggup menguras otaknya hingga membuat kepalanya pening. Pemuda itu kemudian beranjak dari tempatnya lalu melangkah ke jurang untuk mencari petunjuk sesuatu yang ada.


Dipinggir jurang, Jevran menyapu seluruh pemandangan dengan bertolak pinggang. Sampai tiba-tiba matanya terbentur oleh sebuah bangunan besar yang seperti rumah dan letaknya tersebut berada diseberang jurang sana. Bahkan saking penasarannya, lelaki itu menyusut kedua matanya untuk melihat jelas dikarenakan di sana sangat gelap.


“Itu rumah? Tapi kok besar amat? Kayak ...”


“Oi!”


Jevran terperanjat kaget seraya menoleh ke arah kanan yang telah ada Aji di sampingnya. “Sialan, lo! Untung gue kagak anjlok ke bawah jurang.”


“Hehehe, sorry. Lo lagi lihat apaan, sih? Serius amat kelihatannya,” tanya Aji.


Jevran memutar posisinya lalu menuding ke arah bangunan besar dan tinggi yang ujung atasnya ada benda lancipnya. “Lo nampak bangunan yang ada di sebrang jurang daerah sana, gak?”

__ADS_1


“Nampak. Kenapa emang?”


“Coba lo kira-kira saja. Itu rumah atau apa, ya?” komando Jevran.


Aji menatap sungguh-sungguh bangunan tinggi nan besar yang pemandangannya sangat ranum tersebut sampai ia menemukan jawabannya. “Kalau menurut gue, sih kayak istana gitu. Ya, bukan?”


“Mana gue tahu.”


Di sisi lain, Lala terlihat penasaran apa yang kedua teman lelakinya lakukan ditepi jurang. “Mereka lagi ngapain?”


“Kita samperin, yuk! Jova sama Freya juga ikut.”


Jova menoleh ke arah Rena yang mengajaknya begitupun dengan mengajak sahabat manis lugunya. “Apaan sih, ah? Kalau mau ke sono, ya sono sendiri sama Lala. Gue males jalan!”


“Heh! Barangkali Aji dan Jevran menemukan petunjuk jalan keluar? Ayo cepetan, biar kita berempat mampu mencari solusi buat bantu mereka berdua kalau disuruh nolong,” tutur Rena.


Freya membersihkan sisa air matanya lalu hendak bangkit dari duduk. “Ayo.”


“Tuh, si Dedek Freya anak pinter nurut.” Lala berkata sambil menarik pelan lengan tangan teman Nirmala-nya.


“Ih, aku bukan anak kecil lagi!” rengek Freya seraya menarik lengannya dari pegangan Lala yang bercanda dengannya.


Lala tertawa mendengar suara rengekannya Freya, sedangkan gadis cantik itu menatap tajam temannya yang tengah menertawakannya. “Lagian kita kan seumuran. Ngapain aku dipanggil 'Dedek'?! Bener kata Angga, kamu emang cewek yang aneh!”


“Idih, apa hubungannya sama Angga? Emangnya Angga dedek anak kecil?” tanya Lala sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Tingkah kegemasan dari Freya selalu berhasil membuat hati Angga terhibur apalagi di wajahnya memiliki aura yang cantik dan nyaman, hal itu membikin Angga semakin mencintai kekasihnya.


Kini sekarang keenam remaja telah berkumpul dipinggir jurang untuk melihat pemandangan gelap dengan disertakan bangunan besar menjulang tinggi diseberang. Jevran menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya kepada tetangganya untuk menyuruhnya ke sini.


“Lo gak lihat gue lagi nemenin siapa?” sewot Reyhan dengan menuding kecil Angga.


“Sudah, lebih baik lo ke sana saja. Jevran menyuruh elo karena ada perihal yang penting ...”


Reyhan menurunkan tangannya lalu menatap Angga serius. “Lo yakin gue tinggal nggak apa-apa?”


“Don't worry ...”


Sahabat ramahnya, mengangguk dengan senyum kecut. “Fine. kalau gitu gue ke sana bentar, ya? Entar gue balik lagi.”


Angga hanya menanggapi Reyhan dengan sebuah senyuman lemahnya. Setelah itu, Reyhan segera bangkit dari duduknya di tanah lalu berjalan menghampiri Jevran sang tetangganya.


Tetapi selang menit kemudian, Angga membuka mulutnya agak lebar dengan memegang kepalanya kuat. Ini sungguh begitu sakit dibanding tadinya, kedua telinganya saling berdenging, pandangannya lambat laun memburam di saat dirinya sedang menatap bangunan gelap yang patokannya berada diseberang jurang.


Tak hanya itu saja yang Angga rasakan pada kesakitannya, tetapi detak jantungnya juga berpacu amat kencang. Serangan apakah ini?! Lelaki tampan tersebut tanpa meminta pertolongan pada kesemua mereka yang masih ada dipinggir jurang, hanya cuma memegang dadanya lalu meremasnya dengan tidak pula mengeluarkan suara rintihan dari mulutnya.


Pandangan mata Angga terus tertuju pada bangunan horor maksimum tersebut walau telah blur, napasnya yang ia rasakan meningkat berat begitupun dadanya semakin sesak. “Kastil ...”


Angga yang kondisinya mendesau berkali-kali, perlahan matanya mulai terpejam tenang dengan tubuh ambruk tergelimpang lemah tak berdaya di tanah tanpa disadari oleh kedua sahabatnya, kekasihnya, dan keempat temannya.


Detik setelah Angga kehilangan kesadarannya, timbul sebuah asap hitam yang berada di jarak jauh dari belakang pemuda malang tersebut hingga lalu berubah wujud seperti manusia pada umumnya walaupun seseorang itu berjubah hitam layaknya sesosok malaikat pencabut nyawa.


Ia berjalan mendekati Angga lalu berhenti untuk menatap wajahnya yang sangatlah pucat apalagi dibawah dua kelopak matanya sedikit menghitam. Tangan kirinya terbentang lepau menyentuh bahu lemas dari lelaki pemilik kekuatan mata batin yang raganya sedang terbaring lemah di atas tanah.


Dalam sekejap mata, Angga beserta juga seorang berjubah hitam tersebut menghilang begitu saja secara halimunan dengan menyisakan tebaran debu asap berwarna abu.


Ingin dibawa kemana Anggara?

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2