
4 minggu telah berlalu, sebentar lagi menginjak satu bulan namun Reyhan masih belum bisa untuk kembali ke sekolah mengikuti materi pembelajaran di SMA internasional tersebut. Padahal ia sudah rutin mengonsumsi banyak obat yang dari resep dokter di RS Wijaya kota Jakarta, tetapi sayangnya belum ada efeknya sama sekali.
“Huh, sampai kapan gue begini terus? Gue juga kangen bisa jalan lagi kali,” keluh Reyhan dengan wajah murung.
“Lo harus sabar, Rey. Proses itu memang lama, tapi dengan lo selalu meminum obat secara rutin, pastinya lo akan bisa sembuh. Untuk sekarang lo bersabar aja dulu,” respon Angga yang tengah mendorong kursi roda sahabatnya dengan santai.
Angga memang sedang mengajak Reyhan jalan-jalan keliling komplek Kristal agar sahabatnya tak merasakan jenuh karena berada di dalam rumah melulu. Reyhan mendengus dengan menegakkan kepalanya tanpa menoleh ke arah belakang yang di sana ada Angga. “Tapi lo tau, kan kalau dua bulan lagi bakal ujian. Masa gue susulan?”
Lelaki Indigo pendiam itu menghela napasnya panjang dengan memejamkan matanya sejenak. “Pikirkan dulu kesehatan lo, soal ujian bisa belakangan.”
“Gampang lo bilangnya,” gumam Reyhan yang masih dapat bisa didengar Angga dari belakang, namun Angga hanya diam saja dan menghadapkan pandangannya ke depan jalan.
“Rasanya cacat duduk di kursi roda pasti hidupnya sengsara ya, hahahaha!!”
“Lihat saja mukanya kusut kayak ban mobil yang kena lumutan!”
Reyhan mengernyit jengkel atas sindiran dari dua pemuda yang enakan nongkrong di warung. Reyhan sepertinya peka sekali sindiran itu. Ya, mereka sedang menyindir dirinya. Satu telapak tangan Reyhan meremat kuat di pegangan sisi kursi rodanya, matanya terpejam berusaha menahan emosinya yang mau meledak. Namun Angga nampak menyondongkan kepalanya dan badannya ke depan lalu membisiki sesuatu di dekat telinga sahabatnya.
“Nggak usah lo ladenin omongan mereka dan gak perlu lo pedulikan sindiran mereka buat lo, anggap saja mereka angin yang lewat.”
Reyhan mulai mengontrol-kan emosinya dengan kepala mengangguk mengerti pada sarannya Angga. Lihatlah, dua pemuda yang tengah nongkrong di depan warungnya pak Dodi dengan nikmatnya menghisap rokok yang membuat asap berhamburan dimana-mana. Angga memutuskan mempercepat laju kursi roda sahabatnya tetapi tetap hati-hati.
Di belakang kedua lelaki itu terdengar sedang membicarakan Angga begitupun Reyhan yang mengalami kelumpuhan. Napas Reyhan naik turun cepat karena merasa begitu geram pada celotehnya mereka berdua yang ada di warung nang telah dilewati, Angga kemudian lantas segera mengusap-usap satu bahunya Reyhan untuk menurunkan rasa emosionalnya sang sahabat. Kalau tak segera diberikan ketenangan santai, Bisa-bisa endingnya Reyhan malah mengeluarkan perkataan racun kotornya yang sahabatnya Angga lemparkan untuk mereka berdua.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
“Buat lo.”
Reyhan yang masih duduk di kursi roda, menarik wajahnya ke atas. Melihat Angga yang memberikan makanan jajanan bulat-bulat kecil yang dicampur kecap serta saus pedas di dalam gelas plastik. “Cilok? Beli dimana?”
Angga menunjukkan tempat penjual cilok di dekat taman komplek cukup dengan dagunya saja. Dengan senyuman mengembang di wajah, bersama senang hati Reyhan menerima jajanan pemberian dari sahabatnya. Sahabat cueknya kemudian melangkah dan duduk di kursi taman tepat yang di depan kursi tersebut adalah kursi roda manual milik Reyhan.
Saat Reyhan akan menusuk satu cilok berbentuk bulat itu menggunakan tusukan sate, dirinya menoleh ke arah Angga yang juga ingin memakan cilok yang sahabatnya beli. “Eh, Ngga?”
“Hmm.”
“Anjir tanggapannya! Ini ciloknya lo beli pake uang lo sendiri??”
Angga menatap Reyhan sekilas lalu balik melihat arah cilok punyanya yang hendak ia tusuk. “Ya, Gue Sabtu ini traktir elo.”
Mulut Reyhan menganga lebar dengan mata terbelalak sempurna. “Idih! Mantap banget lo, Ngga! Emang sahabat terbaik gue dah elo. Tau aja duit gue pas-pasan.”
“Gak usah lebay! Makan itu cilok daripada di colong kucing garong!”
Reyhan menelan ludahnya susah payah. “Yaelah Ngga, gak habis-habisnya lo ketus ama gue. Itu bensin Pertamax kapan kandasnya?”
“Tanya aja sama alam.”
Reyhan menaikkan satu alisnya karena bingung maksud ucapan Angga yang cepat itu. “Alam? Alam apa, Bang?”
“Alam kematian!”
“Anjay mulutnya Astaghfirullah! Lama-lama gue capit itu mulut lo pake lima jepitan jemuran!” semprot Reyhan menuding Angga.
Angga menanggapinya biasa dengan melahap satu biji ciloknya, hingga otak Reyhan terputar mendadak seperti teringat sesuatu. “Eh soal alam kematian ... oh iya!!”
__ADS_1
Reyhan tak sengaja mengejutkan Angga secara menepuk kedua telapak tangannya yang tengah menikmati hidangan ciloknya. “Uhuk! Apaan?!”
“Eh?! Kesedak lo, Ngga?! Waduh sorry-sorry gak bermaksud, hehehe!”
Angga mengelap bibirnya yang terdapat sedikit bekas kecap yang ada di makanannya seraya menatap tajam sahabatnya yang nyengir. “Kenapa?”
Reyhan menegakkan badannya dengan wajah seriusnya. “Ehem! Gue mau bilang sesuatu sama lo, dan ini ada kaitannya sama Arseno.”
Angga mengerutkan keningnya dengan menyerong tubuhnya menghadap ke Reyhan yang ada di sebelahnya. “Gimana? Apa lo udah nemuin informasi yang tepat soal kematiannya yang dibunuh?”
Reyhan menggelengkan kepalanya. “Sebenernya gue belum menemukan infomasi yang tepat siapa yang membunuh Arseno, tapi kalau di pikir-pikir kayaknya gue nalar sesuatu ada seseorang yang pasti merekalah yang membunuh Arseno di waktu bulan silam.”
“Mereka siapa?” tanya Angga.
“Apa lo ingat saat gue digebuk habis-habisan sama mereka? Sampe gue jadi babak belur gara-gara dua pria malak itu? Lo pasti masih inget karena disaat itu lo sudah masuk sekolah.”
“Gue inget. Dan motor lo sampai lecet gara-gara dua orang itu, oke. Lalu kenapa?”
Reyhan semakin menatap Angga dengan lekat. “Gue ada rasa curiga dan janggal sama mereka, Ngga. Dari sorot matanya gue feeling kalau mereka yang selama ini sudah membunuh Arseno. Apalagi gelagat dua pria brengsek gak tau diri itu udah kayak perampokan.”
Angga berdeham seraya menempelkan sisi kepalan telapak tangannya di kening sentralnya yang jidatnya tertutupi oleh rambut hitamnya. “Saat itu gue ngelihat suatu terawangan bayangan. Dan itu tentang kematian arwah itu.”
“Serius?! Ngga! Apa bener dua pria mata duitan itu yang bunuh Arseno?!”
Angga melepaskan telapak tangannya dari kening lalu mendongak menatap Reyhan dengan wajah datarnya. “Maaf, di situ gue cuman dilihatin dua bayangan hitam aja, jadi gue nggak tau pasti kalau mereka yang bunuh Arseno yang lo maksud tadi.”
“Agh, sialan!” kecewa Reyhan.
“Lo dilihatin begituan di tempat mana? Atau itu hanya penerawangan dadakan??” sambung Reyhan bertanya lagi.
Kedua mata Reyhan mengerjap tak percaya apa yang dijawab oleh sahabat ketusnya. “Yang bener aja lo dikasihnya di jalan pintas banyak rawan kecelakaan itu?!”
“Iya. Sebenarnya gue ingin terus menerawang lebih dalam tentang kasus pembunuhan itu yang terjadi sama Arseno, tapi gue sadar kalau gue belum bisa melakukan tindakan seperti itu. Kalau gue gak ngalamin cidera kepala segala, mungkin dengan waktu singkat gue mampu tau siapa yang membunuh Arseno empat bulan lalu.”
“Maafin keteledoran gue ya, Ngga. Gara-gara kesalahan pahaman itu, lo jadi kayak gini.”
Angga memegang lengan Reyhan dengan lemparan senyuman tipis. “Bukan salah lo, tenang saja.”
Reyhan membalasnya dengan sunggingan senyum hambar. Tentang kematian Arseno tersebut ternyata belum bisa diketahui siapa pembunuhnya, namun firasat Reyhan sudah berkata bahwa yang membunuh adalah Aditama serta Arkie. Sedangkan Angga, pemuda itu tengah berusaha ikut menggali informasi soal kasus tragis tersebut.
“Gue yakin, kalau yang membunuh Arseno udah ditemuin, arwah Arseno gak akan lagi meneror gue bahkan terlebihnya hantu itu nggak mungkin gentayangan lagi untuk mencari korban target.”
Angga mengangguk antusias pada penuturan kata sahabatnya yang bijak. “Suatu ketika pembunuhan itu pasti akan ketemu, dan yang jelas arwah aura negatif itu sedang menyimpan dendam besar pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan mereka yang membunuh dirinya hingga kehilangan nyawa.”
Angga melepaskan tangannya dari lengan Reyhan. Kemudian karena Angga tak ingin ambil pusing dulu tentang kematian mengerikan dari Arseno, ia memutuskan melanjutkan kegiatan makan-nya begitupun dengan Reyhan. “Besok Minggu jam pagi ada kegiatan di rumah ketua kelas.”
“Iya? Kegiatan apaan?” tanya Reyhan seraya melahap ciloknya yang masih hangat.
“Kerja kelompok, biasa.”
“Terus? Elo ikut kerja kelompok di rumahnya Joshua??”
Angga menghela napasnya. “Iya. Sebenernya gue males kerja kelompok di rumah orang.”
Reyhan tertawa renyah. “Hahahaha! Lah, terus kenapa lo mau ikut kerja kelompok di sana kalau lo sendiri bawaannya malesan mulu?”
__ADS_1
“Kalau bukan satu orang yang maksa gue buat ikut, gue ogah. Lebih baik ngerjain tugas PR di rumah sendiri daripada di rumah orang.”
“Satu orang siapa?” penasaran sahabatnya dengan nyengir.
Angga mendengus. “Freya Septiara Anesha.”
Seketika tawa Reyhan meledak mendengar tanggapan Angga yang wajahnya mendadak lesu seperti lap kain basah yang belum dijemur di terik matahari. “Yakali, elah! Dipaksa sama sahabat kecilnya, hahahaha!”
Angga melemparkan tatapan tajam pada Reyhan yang seru menertawakannya. “Gak usah ketawa!”
“Ya ampun, ketawa itu kan manusiawi, Anggara Vincent Kavindraaa! Hahahaha! Habisnya kalau udah Freya yang tandang atau nyuruh, lo mau aja! Fix pasti ada hubungan spesial di antara Freya dan lo.”
Mata Angga melotot dan bola matanya mencuat dengan menggertak giginya. “Hubungan spesial apa?! Gue sama Freya cuman sahabatan doang dari kecil! Lo gak usah mikir yang bukan-bukan, deh! Daripada gue hajar, lo!”
“Eh iya-iya ampun!!” Reyhan lalu mengangkat tangannya membentuk simbol peace dengan dua jarinya. “Bercanda, hehehe!”
Angga menghembuskan napasnya lalu meneruskan aktivitas makan-nya. Namun baru saja akan memasukinya ke dalam mulut, Reyhan memanggilnya membuat Angga menghela napasnya pendek. “Apa lagi?”
“Ehm, besok pagi kan lo kerja kelompok di rumahnya pak ketua kelas ... hehehehe, gue ikut boleh, gak?”
“Hah? Yakin mau ikut?”
Reyhan nyengir. “Napa, Ngga? Ngerepotin elo banget, ya? Karena pasti lo bakal kerepotan ngurusin gue ini itu?”
“Bukan gitu, heh! Lo yakin mau ikut kerja kelompok? Maksud gue lo baik-baik aja kalau misalnya ke sana? Gue mesti harus wanti-wanti sama kondisi lo. Lagian lo ke sana mau ngapain, elo juga gak bertugas.”
“Biar bisa bincang-bincang sama semua temen besok. Soal kondisi, lo tenang aja. Gue bakal gak kenapa-napa kok. Cedera tulang belakang doang, bukan cedera otak.”
Angga menutup kedua matanya sambil menganggukkan kepalanya paham. “Yasudah, berarti besok gue jemput lo ke sana pake mobil.”
Mata Reyhan berbinar. “Eh lo beneran mau ajak gue ke sana?! Kirain lo ogah.”
Angga membuka matanya dengan menatap Reyhan malas. “Kenapa harus ogah? Toh, biar hati lo gak kosong. Sekalian refreshing di tempat lain.”
“Anjay sahabat pengertian bener lo, Bro! Jarang lho sahabat yang kayak lo ini. Eh tapi Ngga, kalau gue boleh tau. Maaf, gue gak bermaksud mengungkitkan elo soal masa lalu.”
“Kenapa? Tinggal ngomong aja,” tutur Angga dengan nada standar.
“Gue perhatiin, lo lebih terbuka sama orang-orang terdekat lo aja, ya? Seperti sahabat-sahabat lo, orang tua lo. Terkecuali orang lain kayak temen-temen kita di sekolah. Gue pengen tau alasannya, kenapa lo bisa seperti itu.”
Angga memalingkan wajahnya dari Reyhan, namun tak ada salahnya kalau dirinya memberikan alasan yang tepat untuk sahabat nang ia akrab dekat ini. “Hmmm ... kalian yang paling bisa gue percayai, itu yang utama.”
“Maksud lo? Berarti kayak sama temen-temen sekolah, Raka, Aji, Andra, Joshua, Ryan, dan lainnya kagak bisa lo percayai omongannya?? Begitu?”
Angga mengangguk lirih. “Maaf. Meskipun gue bisa berteman dengan mereka yang ada di sekolah, tapi ada satu yang gak gue bisa ... mempercayainya dalam hal-hal pembicaraan suatu kepentingan. Dan untuk tentang gue, mereka gak perlu mengetahuinya.”
Reyhan yang mendengar seksama dari alasan tepatnya si Angga sampai bermuka ekspresi sendu. “Jadi itu alasannya. Huh oke, bisa gue maklumi. Yang penting walau sikap lo kayak gitu tapi seenggaknya lo masih bisa tertawa sama tersenyum. Itu lebih terbaiknya. Nggak usah lo kasih penjelasan alasan lagi yang dalem banget, karena gue sudah ngerti maksud lo seperti itu karena sebabnya apa.”
Angga mengangguk kembali bersama senyuman yang lelaki itu ukir. “Thanks.”
Reyhan dengan wajah slow dan calm, mengacungkan jari yang bentuknya bersimbol tanda 'oke' seraya tersenyum ramah nang merekah di wajahnya. “No problem, Angga.”
Antara pemilik mata abu-abu dan pemilik mata coklat tersebut saling menatap bersama wajah teduh yang saling bersahabat.
Anggara, iya pemuda yang pendiam dan cuek itu. Ia memang terlihat dingin dimata orang luar namun tak dimata orang yang ia sayangi, dikarenakan Angga menunjukkan sikap hangat akrabnya pada mereka terkecuali orang yang hanya sebatas teman biasa ataupun orang lain yang tak Angga kenal sama sekali. Akibat dari masa lalu kelam dan pahit itu membuat dirinya seperti ini pada orang lain beserta teman-temannya yang ada di sekolahnya. Tak mau terbuka bahkan susah mempercayai ucapannya.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››