Indigo

Indigo
Chapter 33 | Don't Know it


__ADS_3

Hari jumat ini langit pagi lumayan begitu mendung, matahari yang tertutup oleh awan langit tersebut menjadi gelap dan tak panas lagi seperti 10 menit kurang yang lalu.


Di mendung langit pekat seperti ini, lagi-lagi Anggara ditinggal sendiri dikarenakan kedua orangtuanya yang jarang ke rumah kini pergi ke rumah untuk merawatnya dengan membersihkan seluruh dalam rumah dan pekarangan rumah yang terdapat banyak tanaman-tanaman bunga. Ini pun Anggara tidak berat hati kalau ditinggal sendiri dirumah sakit apalagi disaat pagi-pagi buta contohnya jam sekarang.


Pemuda itu yang bersandar diri di kasur ranjang pasien lebih baik mengatasi kesepiannya adalah hanya dengan mengambil headsetnya sekaligus ponselnya lalu menyalakan lagu POP santai favoritnya kemudian ia mendengarkannya melalui headsetnya yang telah ia pasang di masing-masing telinganya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di dalam perpustakaan gedung SMA Galaxy Admara, Reyhan tengah duduk diam membaca buku tema Thriller. Pemuda itu lengkap dengan seragam polos lengan pendeknya dan di ujung baju seragam lengan pendeknya terdapat motif kotak-kotak berwarna abu-abu pasir basah, kemudian dasi warna abu-abu porpoise, serta ia mengenakan juga rompi seragam abu-abu pebble.


Jendela perpustakaan sebelah jauh Reyhan membaca buku novel di meja kursi khusus untuk membaca semua buku, begitu berhembusan lumayan kencang. Rupanya tak hanya kota Bogor saja yang langitnya pekat mendung akan tetapi kota Jakarta juga sama, Reyhan menyesal tak memakai jaketnya yang ia bawa di tas pundaknya tapi malas juga untuk pergi mengambilnya ke kelas yang jarak antara ruang perpustakaan dan kelasnya sangat jauh. Pemuda itu melebihkan membaca kembali buku novel Thriller yang berjudul 'I Will Kill You '


Yang mana buku cover depannya menggambarkan seorang pria seperti tengah menyeret kapak senjatanya dengan berlumuran darah di benda keramat tersebut, suasana dalam cover tersebut menunjukan bahwa itu sangatlah mencekam isi ceritanya. Kini pun Reyhan membacanya sampai di halaman 10 chapter 4. Meskipun judul itu menggunakan bahasa Inggris, akan namun di dalam buku bahasa tersebut memakai bahasa Indonesia.


Reyhan begitu menikmati membaca novel buku yang baru saja rilis 3 hari yang lalu, tentunya buku yang sekarang Reyhan pegang adalah buku pinjam dari rak perpustakaan.


Tak ada pak Arya disana, beliau tengah berada di ruang guru sebentar karena ada urusan mendadak. Disaat Reyhan sedang membaca cerita tersebut yang menurut ia alur novelnya begitu menantang dan seru, tibalah datang kedua gadis sahabat akrabnya menuju dimana Reyhan berada.


Saking fokus membacanya, Reyhan sampai tak menyadari bahwa barusan kedua sahabatnya melewatinya serta berhenti di belakang punggung si Reyhan. Jova sang gadis tomboy rese pengganggu istilahnya sebuah gulma, kakinya berjinjit untuk melihat buku apa sedang sahabat 'Kunyuknya' baca.


'Buset dah ini si Reyhan lagi baca novel Horor apa Thriller nih? Perasaan serius banget bacanya.' Jova memiringkan senyumannya mendapat ide siasat jahil pada Reyhan yang tengah asyik membaca buku novelnya. 'Gue kerjain ah lumayan kan dapet jatah hiburan.'


Jova mengangkat kedua tangannya dan di turunkan-nya untuk menepuk kencang kedua bahunya Reyhan.


"DITEMBAK DOR!!"


"I KILL YOU !!" teriak Reyhan spontan.


Jova terkejut dengan melongo. "Gila, sahabatnya sendiri mau dibunuh."


Reyhan mengelus dadanya sayang, dengan mengembuskan napasnya beberapa kali lalu dengan suara geramnya ia berbalik badan dengan masih duduk di kursinya.


"Mak jang! Mak jang! Kebiasaan sih ngagetin jantung orang! Untung aku gak kena serangan jantung!" omel Reyhan.


"Ya kalau kena serangan jantung terus kenapa?" tanya Jova santai.


"Anying nih anak, ya mati lah! Kecuali kalau serangan hati nah itu baru sadboy."


"Yahahaha ngaku kalau kamu sadboy, kacian jomblo mulu panjang umurmu. Terus kalau kamu mati, ya tinggal di kuburin lah, gitu aja ribet."


"Eh Ya Allah, Jova kamu nggak boleh ngomong gitu dong .. jujur nih aku capek tegur kamu yang setiap hari harus kasih nasihat demi kebaikan kamu."


"Yaudah Frey, sana panggil asisten Anggara," timpal jawab Jova sewot.


"Enggak gitu maksudku, huh udah lah gak usah di bahas. Ehm Rey, kamu lagi baca buku novel apa?" tanya Freya usai menghela napasnya.


"Baca novel Thriller Neng, adegannya ngeri-ngeri weh. Psikopat."


"Ih parah buset! Kemarin hari rabu di rooftop keknya kita bahas psikopat eh sekarang kamu malah baca cerita kek begituan."


"Napa? Gak suka? Ya biarin lah, daripada baca novel horor aku dapetnya malah merinding nanti."


"Kalau Thriller jauh lebih serem tambah ngeri dong Reyhan," tukas Freya.


"Hehehehe begitu ya? Emang cerita ini ngeri banget kok, jiwaku sempet masuk ke dalem novel ini. Soalnya semakin dihayati semakin seru .. yaaa meskipun bikin ngeri sih. Oh Freya mau baca novelnya? Nih baca aja."


Freya mengangkat kedua tangannya yang tertampil lima jemari masing-masing dengan menggelengkan kepalanya, tentunya maksud gadis itu ia menolak untuk membaca buku cerita novel tema Thriller yang dibaca oleh Reyhan.


"Enggak deh Rey, aku kalau baca-baca begituan malah jadi takut. Kamu lanjutin aja bacanya, aku mau ambil buku novel lainnya."


Reyhan tersenyum menyengir. "Kamu ngapain ngambil buku novel lainnya? Kamu gak liat di depanku ada setumpuk buku novel? Udah noh ambil aja, kebetulan yang di atas sendiri udah aku baca kemarin."


"Oh mengurutkan hari baca nih ye ceritanya? Lagian matamu kuat, apa baca buku novel segepok itu?" tanya Jova sedikit meledek.


"Napa? Kamu mau baca juga? Sini ambil," ketus Reyhan dengan mimik kesal.


Jova melempit kedua tangannya di dada serta mendengus sebal. "Giliran aku aja jutek! Kalau Freya aja kalem."


"Kamu kuat mental kalau aku ketusin apalagi aku bentak, lah Freya itu cewek yang gak bisa di kasar. Dulu Anggara pernah ngomong sama kita berdua, kan?"


"Hah? Anggara ngomong begitu sama kalian berdua? Lah aku posisinya dimana?" Freya kemudian memasang wajah melas. "Anggara gak chat Japri (Jawab pribadi) kan di WA?"


"Ya ampun gak mungkin lah cantikku, Anggara gak setega itu kali. Orang Anggara ngomongnya pas kita dulu masih SMP kok, dan itu kamu gak masuk waktu itu."


Freya memalingkan wajahnya dari Reyhan. "Oh, kirain Anggara main rahasia-rahasia."


"Kenapa emangnya Frey? Kalau Anggara main rahasia, kamu bakal melabrak si Anggara kah? Sahabat kecilmu itu hehehe."


"Ih ya enggak dong, cuma hal sepele doang ngapain sampe dilabrak. Selama Anggara masih sakit, jangan dimarahin nanti sakitnya nambah parah."


"Cieee perhatian nih ye sama Anggara, uhuy pasti ada apa-apanya nih sama Anggara. Hayolo ngaku kamu."


"Aduh apaan sih kamu Rey, kebiasaan deh kerjaan-mu ngeledek aku soal Anggara mulu. Gak ada ledekan yang lain apa?" Suara Freya terdengar jutek mengalahkan juteknya Jova.


"Buset ketus amat Neng?? Iya deh iya, aku bercanda kok bercanda. Tolong jangan dimasukin ke hati ya, nanti jadi sakit hati kek lagunya vokalis Yovie and Nuno."


"Kamu suka lagu albumnya Yovie and Nuno, Rey?"


"Oh ya tentu suka dong Sableng. Nih ya tipe lagu aku sama Anggara tuh sama persis, menggemari lagu tahun 2000-an hahahaha!"


"Begini nih reff lagunya." Reyhan duduk tegak meletakkan buku novelnya lalu dengan mata terpejam ia mulai bernyanyi.


"Aku sakit aku sakit hati! Kau terbangkan ku ke awan lalu jatuhkan ke dasar jurang-"


"Pppfft sengsara banget sih hidupmu Rey, udah di terbangkan cintanya eh malah dijatuhi, ups rasanya gimana tuh kalau udah dijatuhkan apalagi ditinggalkan tanpa sebab sama pasangan hidup?"


"Uh, rasanya hatiku seperti ditusuk-tusuk oleh beribuan pisau yang tertancap di hatiku ini," ungkap Reyhan gaya dramatis dengan menyentuh dadanya tepat di hatinya.


"Buset!" kaget Jova sambil memonyongkan bibirnya.


Freya mendengus bukan sebal namun saking menahan tawanya pada sikap tingkah laku konyol dramatis alay-nya Reyhan yang selalu membawa sebuah humoris pada semua sahabat-sahabatnya. Sepertinya kalau tanpa ada Reyhan, hidup seakan-akan menjadi suram pudar yang dirasakan oleh para ketiga sahabatnya apalagi dikala sedih terpuruknya antara mereka, Reyhan selalu hebat menghibur hati ketiga sahabatnya kalau ada yang sedih ataupun terpukul pada siapapun.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Anggara masih mendengarkan musik favoritnya melalui headset yang masih terpasang pada telinga-telinganya, namun sembari mendengarkan lagu santainya, Anggara membuka-buka lembaran kertas gambar pada buku gambarnya yang telah selama ini ia gambar-gambar di buku tersebut. Mulai dari lembaran pertama sampai lembaran pertengahan, namun Anggara terhenti membalik-balik lembarannya disaat ia meratapi gambar sosok arwah yang dulu merasukinya 3 hari yang lalu.


Anggara menghela napasnya berat, membayangkan apa saja yang ia lakukan pada psikopat yang dulunya mencelakai ia hingga Koma 2 bulan. Tentunya dan pastinya menurut dalam pikiran Anggara, arwah yang mempergunakan raganya melakukan hal sesukanya hingga psikopat tersebut tewas mengenaskan.


Angin hembusan tenang datang secara tiba-tiba sebelum Anggara kembali membuka lembar kertas gambarnya berikutnya, aura janggal mampu Anggara rasakan saat ini. Anggara menghembuskan napasnya perlahan lalu memberanikan dirinya untuk mendongak kepalanya ke arah depan televisi yang terpajang di dinding tembok serba putih bersih.


Seketika kemudian Anggara merapatkan bibirnya yang pada sebelum itu mulutnya sedikit terbuka. Kedua tangan yang memegang buku gambarnya ia cengkram, dengan sedikit menelan salivanya. Arwah yang sudah lama tak nampak di depan mata Anggara sekarang muncul kembali, menatap Anggara dengan wajah tanpa ekspresi.


Suara Anggara sulit mengeluarkan vokal kata-kata apapun dari mulutnya, seperti terbelit oleh tali. Namun mata pemuda Indigo tersebut terus menatap arwah seumurnya yang bertekad diri memasuki raganya pada hari-hari telah berlalu.


Akan tetapi demikian, Anggara masih ada nyali mental kuat untuk terus menatap wajah mengerikan dari arwah lelaki pasien tersebut. Tinggi badannya yang 180 sentimeter sama dengan adiluhung-nya Anggara, namun lama menit kemudian ada yang berbeda dari diri arwah tersebut. Ya, menampakkan hilangnya wujud menyeramkan-nya menjadi wujud aslinya. Wajah yang kulit putih manusia, tanpa ada lagi lumuran darah yang ada di bawah mulutnya hingga dagunya, serta juga baju biru pasien yang ia kenakan menjadi bersih rapi layaknya tertampil masih baru.


Anggara hanya lumayan tersentak pada perubahan wujud arwah tersebut, matanya mengerjap-mengerjap dengan menurunkan buku gambarnya yang posisinya ia tegakkan. Sebetulnya Anggara sudah terbiasa perubahan wujud di segala arwah yang sering ia lihat dulu, namun entah mengapa ia seperti lupa pada memori-memori dulu yang ia alami dan ia hadapi, hanya sedikit saja yang sanggup Anggara ingat. Atau mungkin karena faktor kepalanya yang telah terluka cedera membuat diri Anggara ingatannya setengah berkurang.


"K- mu ke- pa- dat- ang ke- ni?!" ujar Anggara pada akhirnya bisa mengeluarkan suaranya meskipun tergagap-gagap.


Arwah tersebut tersenyum. "Aku disini ingin meminta maaf sekaligus berterimakasih padamu."


"A-apa?" tanya Anggara pada gagapnya telah sedikit mereda.


"Maafkan aku sudah memaksamu waktu itu, maaf karna diriku bertekad masuk kedalam ragamu. Alasannya karena tekad ku sudah sangat bulat dan nggak mungkin bisa aku urungkan. Apa aku membuatmu terluka pada saat malam itu?" tanya arwah itu berhati-hati.


Anggara mengembuskan napasnya pelan. "Tidak, aku nggak apa-apa."


"Baiklah, tapi aku mohon maafkan aku. Aku sudah membuatmu trauma karena aku sendiri, tetapi pada hari itu aku sudah nggak bisa diam lagi. Hanya kamulah penolongku untuk membuat hatiku tenang di alam sana nanti."


Anggara mengangguk paham dengan menampilkan senyuman tipisnya. "Aku maafkan kamu, dan aku mengerti apa yang kamu maksud."


Arwah itu berwajah sedih. "Apakah kamu ikhlas memaafkan diriku yang fatal ini? Aku memang telah menjadi arwah seutuhnya tetapi jika aku berbuat kesalahan, aku sungguh tidak tenang."


"Tenang, aku sudah maafin kamu. Aku ikhlas, dan sepertinya aku tau jalan pikiranmu mengapa kamu membunuh orang yang membunuhmu waktu silam, bukan hanya karena ingin membalas dendam kan, tetapi juga untuk menyelamatkan orang-orang di rumah sakit ini?"


"Betul, ada dua kenapa aku bertekad seperti itu .. ya, itulah dia yang barusan kamu ucapkan. Ternyata kamu paham sekali jalan pikiranku," ujar arwah lelaki itu dengan tersenyum.


"Dan aku sangat berterimakasih padamu," sambung arwah.


Anggara menggeleng kepala. "Seharusnya aku yang berterimakasih padamu, karena hal yang kamu lakukan itu sama saja kamu menyelamatkan orang-orang di sekitar sini termasuk wilayah kota ini. Terimakasih ya. Jika orang itu masih di dunia, bisa-bisa aku bakal mati."


"Kenapa kamu bilang seperti itu?"


"Waktu itu aku dibantai sama psikopat yang sudah kamu bunuh, hingga aku Koma dua bulan. Sebelum aku mengalami Koma, yang aku ingat dia kayak dendam besar denganku. Bahkan dia menginginkanku cepat mati. Eerrr itu yang aku ingat sampai sekarang, sepertinya yang lain nggak terlalu ingat."


"Baiklah aku paham, kamu beruntung sekali masih hidup walau dirimu pernah Koma sampai sepanjang itu. Ya, aku harus menerima takdirku ini. Meninggalkan keluarga yang aku sayangi dan lain-lainnya."


"Lebih baik, pergilah. Pergilah dan istirahatlah dengan tenang di alam sana .. urusanmu telah usai sudah. Tidak ada perlu lagi yang kamu selesaikan, semuanya telah berakhir." Anggara berkata dengan senyuman simpel.


Arwah itu mengangguk dengan senyuman ramah lebarnya. "Baik, terimakasih Anggara, kamu manusia Indigo yang luar biasa. Aku harap di kehidupanmu berikutnya sangat baik dan tidak ada yang mengusik ketenangan dirimu."


"Semoga," singkat Anggara tetap senyum simpel.


"Hari ini aku akhirnya bisa beristirahat di alam sana. Selamat tinggal, Anggara."


"Selamat tinggal."


Setelah Anggara menjawab ucapan salam terakhir dari arwah tersebut, ia memudar dan menghilang lalu disamakan angin yang berhembus tenang. Anggara menarik napasnya lalu membuangnya dengan lega, akhirnya ia berjaya membuat satu arwah pergi ke tempat alam sesungguhnya dengan tenang serta juga damai.


Anggara menyandarkan punggungnya dengan menutupi wajahnya bersama buku gambar miliknya. Hari mendung pagi ini bagi Anggara adalah hari yang sungguh melegakan yang awalnya amat penuh menegangkan.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Sabtu pagi jam pukul 06.30 Jova mendengus sebal melihat chat dari Reyhan yang meledeknya mulu setiap hari bahkan hari ini. Akan tetapi malam sabtu Reyhan berencana menjenguk Anggara di rumah sakit kota Bogor dan langsung di setujui oleh dua-dua gadis sahabatnya.


Jova menuruni tangga santai dengan menatap layar ponselnya berang, Novaro yang sedang bermain game di HP-nya beralih pandang menatap kakaknya yang terus menatap handphonenya dengan kaki tetap gerak jalan menuruni undakan anak tangga.


"Kakak, baca novelnya nanti dulu atuh! Liat jalan noh, nanti jatuh guling-guling kek trenggiling terus kepalanya benjol di lantai sebesar bakpao, mau taruh mana muka Kakak? Kan nanti bang Reyhan kesini mau anter Kakak sama kak Freya ke rumah sakit buat jenguk bang Anggara."


"Ck, cerewet banget sih punya adek satu. Udah deh diem aja mulutmu gak usah banyak bla-bla-bla-bla!" kesal Jova tanpa mengalihkan pandangan matanya dari ponsel android kesayangannya.


Novaro hanya bisa mendengus serta memanyunkan bibirnya yang tak pantas untuk lelaki menurut kakak perempuan kandungnya yang setiap hari selalu minta perang tempur negara. Novaro menghadap ponselnya kembali yang casing-nya berwarna biru navy, memainkan game action berupa ala tembak-tembakan yang sempat ia pause game tersebut untuk hanya karena mengomentari kakaknya.


"Ayo Jova Sayang, sarapannya keburu dingin," tutur sang ibu bernama Echa.


"Iya-iya Ma. Ini Jova lagi turun kok."


"Ayo ya ampun lama banget turunnya kayak lagi memandang keong berjalan," timpal sang ayah bernama Agatha.

__ADS_1


"Iya-iya Papa," jawab Jova lalu mematikan layar ponselnya lalu segera turun dari undakan tangga.


Terlihat Echa, Agatha, beserta Novaro menunggu Jova duduk di kursi meja makan untuk melaksanakan kegiatan sarapannya yang tidak boleh di tunda. Setelah Jova menuju ruang makan, kemudian anak gadis tomboy-nya dari Echa dan Agatha menarik kursi lalu segera duduk. Jova menatapi seluruh masakan yang telah di masak oleh kedua orangtuanya yang juru ahlinya memasak. Banyak lauk-lauk lezat yang berjejeran di atas meja makan, membuat selera makan Jova tergugah seketika dan ingin segera mengambil satu piring dan melahap lauk-lauk yang aromanya sungguh wow.


"Laper tinggal makan Kak, gak usah dilihatin seperti itu kek orang kelaparan di jalan tapi gak punya duit."


"Kakak setrika mulutmu ya, Nov!" ancam Jova menatap sinis yang ada di sampingnya.


"Yaudah sih, kan Novaro bercanda .. Kakak aja yang gak bisa di ajak gurau! Wuu!"


"Eh udah-udah jangan berantem, anaknya Mama. Mending daripada ribut yang sepele, kalian berdua makan deh sarapannya," ucap Echa yang ada di hadapan kursinya antar Jova dan Novaro.


"Nah tuh dengerin kata Mama, Jova nanti juga pergi kan sama Reyhan dan Freya. Yaudah cepetan sarapannya, gak enak kalau sampe ditunggu. Oh iya Reyhan kesini bawa naik apa?" tanya Agatha usai menimpali ucapan Echa.


"Reyhan bawa mobil, Pa."


"Loh, bang Reyhan bisa nyetir mobil? Ih sejak kapan??" tanya Novaro tak menduga.


"Sejak rakyat Indonesia dijajah sama negara Belanda!" damprat Jova.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Anggara di atas ranjang pasien menatap kepergian langkah dari Andrana dan Agra untuk keluar rumah sakit membeli bubur ayam pinggir jalan. Usai menutup pintu kamar rawat no 208, Anggara lagi-lagi menyandarkan punggungnya pada ranjang manual yang telah di naikkan otomatis oleh Andrana agar Anggara mudah bersandar dengan nyaman. Musim terlihat telah berganti, kini telah nampak cuaca diluar panas oleh pagi terik matahari menaik ke atas, burung berterbangan secara berdampingan berkicau semarak.


Anggara mengangkat tangan kirinya untuk iseng menyentuh selang infusnya dan ia gerak-gerakkan, layaknya ia sekarang ini tengah bosan bingung mau melakukan apa. Mendengarkan musik memang ide yang sangat cermelang namun kali ini Anggara tak ingin menyalakannya apalagi mendengarkannya dikarenakan kepalanya terasa pusing, tentunya akibat dari ia semalam begadang alias tak bisa tidur gara-gara sakit kepalanya kambuh.


Tiba-tiba Anggara mendengar suara langkah kaki sepatu berjalan mendekatinya, Anggara berpikir itu bukan manusia yang sedang berjalan ke arahnya karena posisi tersebut pintu kamar rawat itu tertutup. Lalu siapakah ia kalau bukan manusia?


"Anggara."


Anggara yang berusaha cuek pada makhluk yang tak ia kenal itu, malahan kepalanya tak bisa di ajak kompromi untuk mengacuhkan panggilan tersebut. Begitu melihat sosok yang sangat dekat di posisinya membuat ia terkaget sementara tangan kiri Anggara tak sengaja menyenggol tiang infus hingga oleng akan ambruk, dengan sigap Anggara menangkapnya tiang infus tersebut lalu membenarkannya agar kembali tegak.


Seorang sosok arwah gadis menatap Anggara hingga matanya berkaca-kaca, sedangkan Anggara mengerutkan keningnya merasa ia tak kenal pada sosok gadis cantik tersebut. Gadis berambut agak coklat, serta di sela-sela rambutnya terdapat rambut warna putih bagian kanan dan juga kiri, mata lensa berwarna ungu fantastis membuat Anggara semakin mengernyitkan dahinya sampai ia telengkan kepalanya ke kanan.


'Arwah perempuan, bermata lensa ungu sama juga di tengah-tengah rambutnya berwarna putih kayak rambut nenek-nenek. Siapa dia? Kenapa dia dateng pada gue?'


"Hai, wah akhirnya kamu udah bangun Ngga .. ku kira Koma-mu masih panjang."


Anggara sedikit memundurkan badannya lalu bertanya serius pada arwah gadis yang menurut ia perempuan arwah tersebut sok kenal padanya apalagi ia tahu nama panggilan dari Anggara.


"Kamu siapa? Dan tujuan kamu kesini apa?" Anggara menyipitkan kedua mata lalu bertanya kembali, "Kamu kenal aku? Sampai kamu kenal namaku."


Gadis arwah itu terdiam dengan raut wajah terkejut, temannya dulu rupanya sudah tidak mengingat siapa gadis itu. Namun gadis arwah itu tetap akan menjawab pertanyaan Anggara.


"Aku Senja. Senja Intara Alandara, kamu pasti ingat namaku."


"Senja? Senja ... Senja siapa tadi?"


Gadis arwah yang rupanya itu adalah Senja, menepuk keningnya. "Senja Intara Alandara, inget kan?"


Anggara menggeleng pasti. "Ingat aja enggak gimana lagi kenal. Kamu siapa sih? Sok kenal sama aku."


Inilah dia, ucapan Anggara selalu saja terkadang membuat hati seorang perempuan tertohok oleh perkataan yang keluar dari suara vokal Anggara. Bahkan Senja mendengus perlahan dengan memasang wajah lara.


"Kok bilang gitu sih?!" rengek Senja bertambah wajah kesal.


"Kok bilang gitu sih gimana? Aku gak kenal sama kamu, jadi lebih baik daripada banyak basa-basi bilang aja, apa tujuanmu menemui aku disini."


Senja bukannya menjawab malah justru mengembungkan wajahnya kesal dengan melempit kedua tangan kulit putihnya di dadanya, matanya menatap tajam pada Anggara hingga Anggara dibuat bingung oleh Senja sendiri. Senja memutar bola matanya ke arah televisi yang terpajang di dinding tembok depannya, lalu menghela napasnya dengan berat.


"Tujuan aku kesini, mau ngajak ngobrol kamu. Sebelumnya aku gak tau ternyata kamu telah sadar dari Koma-mu dan Kritis-mu yang udah terlewati. Aku datang ke kamar rawat ICU-mu, dan disana dah kosong gak ada penghuninya .. aku mencoba berjalan berkeliling ke lantai lorong lima tempat dulu katamu jalan-jalan di lorong lantai lima ini, juga tempat awal kita bertemu."


"Bentar-bentar, 'awal kita bertemu'? Memangnya kita berkenalan? Sejak kapan?"


"Itu sudah lama banget, awal dari kamu mengalami Koma di hari, tanggal, bulan yang sama. Tapi kok aku heran sama kamu sih Ngga, kenapa kamu seolah lupain aku? Aku padahal temenmu. Tapi kok kamu udah lupa aku siapa, apa jangan-jangan kamu lagi bercanda, ya." Senja kembali menoleh ke Anggara dengan tatapan serius.


"Aku? Bercanda? Aku gak ada niatan bercanda padamu sedikit pun itu. Aku justru yang heran, kenapa kamu keliatan akrab sama aku? Padahal baru pertama kenal."


"Baru pertama kenal, katamu!" Mata Senja mencuat kuat dengan nada menekan tinggi.


"Heh! Kita udah lama kenalan tau apalagi berteman, apalagi kamu pernah bilang sama aku kalau kamu adalah teman curhatku. Apa kamu lupa?!"


"Teman curhat? Sejak kapan aku bilang seperti itu? Aaahh! Aku pusing dah sama kamu. Jangan bicara yang ngarang deh! Aku gak kenal siapa kamu sebelumnya itu, dan di otakku bahkan di ingatanku gak ada sama sekali ucapan 'teman curhat' sepertinya kamu salah orang."


Senja menggeleng kepalanya kuat dengan mata mengernyit keras. "Enggak! Aku lagi gak salah orang apalagi alamat, jelas-jelas ini adalah kamu temanku. Nama kamu Anggara Veincent Kaivandra, aku masih ingat nama panjang-mu Anggara!"


Anggara terdiam sebentar dengan mata terus menatap Senja begitupula dengan Senja yang menatap lekat teman arwahnya yang seperti mengalami Amnesia. Anggara menghempaskan napasnya dari mulut, lalu bertanya kembali dengan nada pelan lirih.


"Kamu kenal aku berarti? Kita pernah berteman?"


"Iya, kamu temanku. Kita kenal sudah lama banget, sampai sekarang aku gak pernah ngelupain kamu yang selalu memotivasi aku dari masa-masa pedih itu. Tapi kalau memang kamu sudah lupa aku siapa, nggak apa-apa kok. Aku milih gak memaksa ingatanmu buat mengingat aku siapa-mu."


"Eeee ..."


"Ternyata ingatan roh dan raga itu berbeda banget ya."


"Hah? Maksudmu?" tanya Anggara tak paham.


"Ehm bukan apa-apa, aku asal ngomong kok. Yaudah deh maaf udah menganggu harimu. Aku pamit aja."


"Eh, marah?"


"Ehm udah ya Anggara, aku pergi dulu. Maaf udah buat kamu pusing karna aku, sebenarnya aku gak bermaksud seperti itu. Tapi mungkin ingatanmu sama aku berkurang, Good bye."


"Eh S-senja tung-"


Swingh !


Gadis arwah itu telah pergi menghilang entah kemana, tak sempat juga pemuda itu menyuruh Senja jangan pergi dulu, namun Senja terburu sudah menghilang. Anggara menghela napasnya dengan memejamkan matanya, wajahnya nampak setengah lesu, setengah bingung. Maksud dari Senja itu apa, sungguh otak Anggara belum mampu mencernanya.


Anggara kembali bersandar untuk punggungnya dengan menepuk mukanya bersama kedua telapak tangannya sesekali menghembuskan napasnya lelah.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di jalan lorong lantai 5, ketiga sahabat Anggara tengah berjalan melangkah santai dengan mengisi obrolan ringan tanpa berat-berat agar tak tercipta suasana hening sunyi mendatang. Reyhan yang ada di kiri Jova menyenggol lengannya dengan siku tangan, hingga yang di senggol menoleh ke arahnya.


"Napa kau? Senggol-senggol, don't touch me." Jova menarik tangannya dari siku lengan Reyhan, melihat ucapan yang terdengar di telinga Reyhan berhasil membuat pemuda itu mendengus sebal. Ya, sampai kapanpun Jova akan terus membuat diri sahabat tukang sesat-nya selalu hati kesal.


"Idih, emangnya aku makhluk apa hah? Manusia lendir?"


"Eeeeuww ... jorok kek yang ngomong."


'Aduh sumpah deh, aku harus bagaimana coba buat tegur mereka berdua biar dua sahabatku itu gak debat mulut lagi? Kalau berurusan sama Anggara, pasti langsung akur.'


"Ehm, lorong ini memang selalu sepi ya?" tanya Freya berusaha mencari pusat perhatian pada sahabatnya agar kedua sahabatnya itu berhenti berdebat.


Reyhan yang protes kesal pada Jova berhenti dan menoleh kepalanya yang ada di sebelah Jova. "Oh emang lorong ini selalu sepi kok, gak tau kenapa .. hmmm atau mungkin pengunjung di sekitar lantai lima ini sedikit kali yak, beda dari lorong lantai-lantai lainnya."


"Berasa jalan di lorong wilayah setan," celetuk Jova yang di tengah-tengah kesal pada Reyhan.


Reyhan tanpa menjawab hanya mencibir Jova dengan gerakan bibirnya yang ia majukan. Sepertinya debat antara mereka berdua tak bakal mungkin mereka lupakan, selain membuat kesal sendiri tapi juga hiburan mengatasi mood yang mendengarnya bahkan menyimaknya.


"Udah lah yok ke pemakamannya Anggara." Reyhan salah ucap.


Kedua sahabatnya terkejut sampai melongo. "Gilak kali pemakamannya Anggara! Yang bener tuh mana, Nyuk?!" protes Jova.


"Eh Ya Allah gusti! Salah ngomong! Maksudku ruang ICU-nya Anggara."


"Ruang ICU-nya Anggara?!" kompak gadis sahabatnya.


"Eh ralat sorry! Anu, maksudku lagi kamar rawatnya Anggara yang nomer dua ratus delapan."


"Ck, ternyata selain orangnya sesat juga dengan ngomongnya belibet kek kloset."


"Matamu ah Va!"


"Kualat kamu tuh sama aku! Suruh siapa daritadi ngasih komentar mulu sama aku? Siapa suruh debat terus sama aku? Tuh noh sekarang punya mulut tapi belibet kek kabel yang kusut!"


"Anjir nih anak satu, kalo menghina pedes banget kek bon cabe level seratus!"


"Biarin dong! Kan enak banget menghina cowok gerangan kek kamu yang otaknya ilang alias sesat dunia kiamat!"


"Duh kalian berdua ini kayak anak TK ya lama-lama, dibilang jangan kebanyakan ribut nanti malah jadi cekcok. Sama satu lagi nih, ini tuh kita di dalam rumah sakit, dilarang kebisingan," tegur Freya dengan nada lirih namun sedikit menekan.


Reyhan dan Jova cengengesan menyengir pada teguran Freya yang merupakan gadis anggun polos itu, namun di selanjut kemudian Reyhan berlari mendahului sahabatnya. Pemuda itu berlari kilat seperti habis membaca pikiran seseorang.


"Eh woi- gilak main ninggalin!" jengkel Jova, sementara Freya hanya menggelengkan kepalanya.


Setelah Reyhan menemukan kamar rawat no 208, tanpa mengetuk apalagi mengucapkan salam langsung membuka pintu kamar rawat Anggara dengan gesit membuat Anggara yang berdiam diri di atas ranjang pasien terkaget bukan main sampai nyaris terlompat.


Anggara mengelus dadanya dengan menghembuskan napas beberapa kali lalu menatap Reyhan dengan wajah lara bercampur wajah ekspresi berang.


"Ini kalau gue mati cepet di usia sekarang, lo pasti bakal bahagia!"


"Ya Allah Ngga gitu banget ngomongnya, ya maaf deh soalnya gue mendengar suara sesuatu dari luar."


"Apaan-"


'Eh jangan-jangan Reyhan denger gue ngomong sama arwah cewek tadi.'


Reyhan mendekati Anggara dengan tampang seriusnya, membuat Anggara menelan salivanya takut semuanya ketahuan. Setelah berada di sisi Anggara, Reyhan bersedekap di dada dengan melegakan tenggorokannya.


"Ehem! Tadi gue samar-samar denger lu lagi ngomong sama seseorang yang gue gak tau. Gue gak ngeliat dokter, suster bahkan pun siapapun keluar dari kamar rawat lo. Hmmm apa jangan-jangan lo tadi lagi ngobrol sama arwah ya!"


"Eee- gak gue-"


"Halah jujur aja sih Ngga, lagian gue udah tau kok lo anak Indigo. Bilang aja. Oh iya cewek apa cowok Ngga yang ngajak ngobrol lo tadi?!"


"Ehm, cewek."


"Wih keren! Cantik nggak Ngga?!"


"Gak tau, gue gak peduli mau dia cantik atau enggak."


"Anjir lo Ngga, emang cowok gak peduli lu!"


"Biarin lah, lagian ngapain nanggepin wajah paras begituan? Males nyimak."


"Tobat gue punya sahabat kek lo Ngga."

__ADS_1


"Anggara!!"


Anggara beralih pandang dikarenakan mendengar suara teriakan yang tak lain Jova memanggil dirinya, dan juga ada Freya di belakangnya tanpa berteriak bahkan pun memanggil Anggara.


Anggara kembali menatap Reyhan. "Kalian bertiga kesini gak ngabarin gue dulu apa gimana."


"Ya jangan di kabarin dong, biar suprise for you boy. Hahahaha gimana kaget kan kita bertiga dateng kesini."


"Gak, biasa aja."


"Njir, gak asyik mah lo Ngga!"


"Anggara, aku mau ngomong sama kamu nih tentang Reyhan bilang kamu ini itu!"


"Noh ngadu noh ngadu, dasar Sableng satu bisanya ngadu kek anak PAUD."


"Kenapa Va? 'Bilang kamu ini itu' gimana?"


"Ini loh Ngga masa tadi Reyhan bilangnya 'Udah lah yok ke pemakamannya Anggara' gilak ngomongnya begitu dong."


"Ck, sesat dilawan," singkat Anggara.


"Gak cuman itu Ngga, Reyhan bilangnya lagi pas abis ngomong itu si Kunyuk bicara gini 'Maksudku ruang ICU-nya Anggara.' makin gak jelas."


"Koplak pala gue, heh Rey lo masih ngira gue di rawat ruang ICU kah?"


"Ya enggak lah Ngga, lo kan udah gak kronis. Udah membaik harusnya di rawat sini bukan ICU lagi."


"Ehm ngomong soal ruang ICU aku jadi teringat mimpiku deh."


"Hah? Kamu mimpi Apa, Frey?" tanya Anggara padanya.


"Ehm mimpi aku sebelum kamu bangun dari Koma sih Ngga."


"Oh begitu, hmm yaudah kamu ceritain kamu waktu itu mimpi apa."


"Aku gak mau bikin kalian kaget termasuk kamu, Ngga."


"Udah gakpapa ceritain aja. Aku lagi gak mau membaca pikiran orang, takutnya malah sok tau."


Freya menghela napasnya berat. "Aku mimpi ... kamu meninggal dunia, Ngga."


"What?! Beneran kamu mimpi Anggara meninggal dunia?! Seriusan Neng?!"


"Ih masa aku ngada-ngada sih Rey, ya beneran lah."


"Ih sedih, kok bisa-bisanya kamu mimpi Anggara meninggal di saat Anggara masih Koma waktu itu?" tanya Jova rada syok.


"Aku nggak tau kenapa aku tiba-tiba mimpi seperti itu."


Anggara menyongsong badannya menghadap Freya dengan duduk tegak tanpa menyender punggungnya kembali.


"Kamu beneran mimpi aku seperti itu?"


"Iya, beneran!"


"Langsung gitu? Kamu mimpi aku meninggalnya?"


"Enggak awalnya di mimpiku itu aku ngeliat dokter Ello sedang berusaha menyelamatkan jiwamu. Tapi karna jantungmu gak merespon lagi, semua alat-alat yang di pasang di tubuhmu di lepas dan di ambil. Kagetnya aku, kamu di tutupin selimut sampe kepala."


"Waduh, kalau itu mah emang udah tandanya Anggara sudah meninggal. Tapi calm Freya, itu cuman mimpi aja kok hehehe gak nyata juga."


"Iya Rey, tapi mimpi aku tuh rasanya kayak nyata banget. Bangun-bangun ternyata semua hanya mimpi, huh lega banget aku."


Anggara tersenyum hambar mendengar cerita mimpi Freya yang membuat ia setengah kaget. "Jiwaku posisi itu diselamatkan dokter? Oh oke-oke aku paham." Anggara kemudian meraih puncak kepala Freya lalu menepuk-menepuknya. "Udah, jangan sedih gitu. Coba kamu pikir deh sekarang antara mimpimu dan juga dunia nyata, kamu mimpi aku meninggal dan di nyata aku masih hidup. Berarti mimpi kamu gak jadi kenyataan, tapi kebalikan."


"Kebalikan?"


"Hm'em. Eh tapi jangan-jangan di mimpimu kamu pasti nangis ya aku pergi, hehehehe."


"Ya jelas lah! Dasar malah cengengesan lagi! Kayak nyata tau, air matanya aja sampe kebawa dunia nyata pas aku bangun tidur kok."


"Iya-iya deh, aku ngerti kok hehehehe. Jangan ngambek dong, nanti cantiknya bisa luntur."


"Kamu pikir aku pakai make up tebal?" tanya Freya sedikit kesal.


"Di pandanganku sih begitu, lagi pake make up tebal ya?"


"Ih mata kamu lagi ngaco yak?! Masih di dalem mimpi jangan-jangan."


PLAK !!


"AKH!!" pekik Anggara sembari memegang punggungnya yang di gampar oleh Reyhan.


"Oh gak mimpi," santai Reyhan dengan angguk-angguk kepala.


Anggara menggertak giginya dengan mendesis kesakitan karena ulah Reyhan begitu sangat tidak ramah.


"Lu pikir gue nyamuk Aedes, apa?! Asal gampar-gampar punggung orang. Sakit anjir setan alas dedemit genderuwo!!"


"Membuktikan aja, lo mimpi atau enggak. Lo bisa ngerasain sakit berarti gak mimpi kan hehehehehe."


"Hehahehahehahe ... mata lo gue mimpi! Ngajak bercanda gue sama Freya, lu-nya aja yang gak peka tapi peak!"


"Ppppfft!" Jova menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan kepalan tangannya sementara siku tangannya menopang di atas lengan tangan satunya Jova yang ia tempelkan di ulu hatinya.


"Kalau ketawa, ketawa! Gak usah nahan-nahan gitu kek menahan ungkapan cinta padaku."


"Huek amit-amit! Lagian muka jelek gitu mana mungkin ada cewek yang tertarik sama kamu? Idih muka buruk rupa masa ada yang mau sih."


Reyhan sungguh tak terima dirinya yang 'tampan' itu dikatakan buruk-buruk oleh Jova. "Jahat bener! Aku ganteng kek gini sampe adek-adek kelas kita fans berat sama aku loh, tapi sayang gak ada yang minta tanda tangan sama aku."


"Bego! Impian lo tinggi-tinggi terus! Lu pikir lu artis, apa? Sampe ada yang minta tanda tangan segala, fix gak bakal laku," hina Anggara.


Reyhan mendengus sebal pada Anggara yang memakinya, namun ada sesuatu paling besar yang Reyhan inginkan sekarang juga. Ia menghadap badannya ke meja nakas lalu mengambil pisau kemudian badannya ia putar ke arah Anggara begitu pula ujung tajamnya pisau mengarah dekat wajah Anggara. Mata Anggara reflek juling dikarenakan posisi pisau yang di pegang Reyhan ada di tengah mukanya. Sedikit menelan salivanya melihat wajah datar dingin Reyhan yang jarang tak datang mencolok.


Freya dan Jova diam mematung, tak mempunyai baca pikiran Reyhan apa yang akan Reyhan lakukan pada Anggara hingga ia menodongkan pisau tersebut di dekat wajah Anggara. Over thinking dua gadis itu muncul, Reyhan bersiasat buruk pada Anggara. Dan sepertinya mereka berdua trauma melihat dulu Anggara di lukai Reyhan yang begitu parah.


"Gue bercanda tadi, turunin pisaunya."


"Gak! Gue pengen sesuatu," ujar Reyhan semakin mempererat ujung pisau yang ia genggam di satu tangannya.


"P-pengen l-lo a-apa?!"


"Lu kok takut gitu sama gue?" Reyhan memutar bola matanya cepat lalu berbalik lagi menatap Anggara. "Tolong iris-kan apel ini dong, gue laper pengen makan apel."


Wajah datar itu kembali memudar mendatangkan wajah ramahnya pada semula, Anggara menarik napasnya lalu membuangnya lega begitupun juga kedua sahabat gadisnya.


"Hhh lu kalau minta tolong jangan kayak begitu bisa nggak sih? Gue kira lu mau bunuh gue."


"Ya Allah mana ada gue mau bunuh lo, sahabat sendiri masa dibunuh. Gue cuman minta tolong iris apel ini sama pisau."


"Oh yaudah sini pisaunya sama apelnya."


"Eh Ngga emangnya kamu udah bisa mengiris-iris gitu, kamu udah sanggup gerakin maksimal tenaga tanganmu?"


"Kalau soal itu tangan aku udah mampu kok. Oh iya Rey, lu emang gak bisa motong-motong gitu ya?"


"Ya lu tau sendiri lah ya Bang, gue soal dalam memasak apalagi sampe memotong mengiris-iris gitu paling rendah peringkat gue. Kalo lo dalem urusan masak, emang paling jago dah peringkat tinggi, tapi yang penting jangan jadi kanibal."


"Sialan! Masih punya hati nurani gue, orang yang cocok jadi kanibal tuh ya elo!"


"Ya Allah Ngga, jahat bener lu sama gue. Ih gue sampe kapanpun gak mungkin jadi kanibal. It's impossible."


"Yaaa siapa tau aja kan, orang lo cowok termasuk jiwa sadis. Gak lah becanda gue, kalau gue jelek-jelek elo nanti yang ada gue bakal lo lempar dari jendela."


"Idih buset! Psikopat gue, apa?! Kalo gue melempar elo dari jendela, takdir lo memalangkan, pass away."


Anggara hanya berdehem sembari mengiris rata kulit apel dengan rata dan amat rapi. Ukuran dalam memotong terlihat sama, tak ada satu besar, satu sedang, dan satu kecil. Mata Anggara terlihat santai saja mengiris pisau tanya ada tatapan was-was apalagi takut kalau terkena irisan pisau di tangan yang memegang buah apel merah. Hal itu karena Anggara telah ahli dalam mengiris-iris bersama pisau dapur.


Setelah semua telah diiris oleh Anggara, kemudian Anggara memberikan hasil potongan buah apelnya pada Reyhan. Tangan Anggara yang menengadah, langsung diterima Reyhan dengan senang hati usai Anggara menyodorkan apelnya yang telah berpotong-potong rata begitu juga rapi.


"Anggara."


Anggara menoleh ke Jova. "Iya kenapa lagi?"


"Mumpung aku inget nih, kamu ingat nggak yang dulu kita Camping bersama di hutan kota ini?"


"Camping? Oh hutan Bogor ternama itu ya ... kalau itu aku inget kok, emang kenapa?"


"Ini loh, bentar yak tunggu dulu aku mau liatin foto burung gagak yang gak sengaja aku foto tiga bulan yang lalu."


Anggara menganggukkan kepalanya sedangkan Jova menarik tas punggung kecilnya ke depan lalu membuka resliting tas punggung kecil lavender-nya kemudian merogoh mengambil handphonenya. Jova segera menekan tombol hidup layar dan membuka layar HP-nya yang di dahului membuka sandi angka pada layar ponselnya.


Jova mencari album galeri foto lalu bergegas cepat memencetnya dan mencari foto gambar burung gagak misterius itu yang berdiam di dahan pohon. Namun akan tetapi, foto gambar burung gagak misterius tersebut telah tak ada lagi. Jova mencoba scroll ke atas untuk tetap mencari foto itu namun hasilnya nihil, gadis tomboy itu tidak menemukannya sama sekali. Lalu ada dimana foto gambar burung hitam itu? Sungguh tidak masuk akal kalau foto itu terhapus dengan sendirinya.


"Loh-loh-loh?! Kok fotonya gak ada, sih?!"


"Foto apaan dah?" tanya Reyhan usai menelan kunyahan buah apel segarnya.


"Eh kalian bertiga wajib liat nih! Sumpah foto burung gagak yang gak sengaja aku foto itu udah ilang woi! Ih masa di hapus setan sih?!"


"Di hapus setan gimana?" lirih Freya bertanya Jova seraya matanya mengarah ke layar ponsel Jova.


Anggara dan Reyhan memperhatikan beberapa foto-foto yang tertera di layar Jova, tetapi jari telunjuk Jova menuju ke arah foto pemandangan alam hutan Bogor. Anggara begitu terkejut begitu juga dengan lainnya, melihat tak ada sosok burung gagak hitam tersebut yang ada di dalam foto album galeri milik Jova.


"Aku masih inget banget waktu itu letak dari foto itu ada disini!" kata Jova sambil menuding sebelah pemandangan hutan Bogor yang terakhir.


"Kenapa bisa hilang coba?! Masa iya menghapus sendiri, di fitur galeri HP-ku gak ada yang kek gitu tuh kecuali kalau pengen memulihkan foto melalui album 'baru saja dihapus' itu pasti ada tanggalnya kapan akan dihapus secara permanen. Tadi udah aku cari disitu juga, tetep gak ada dong! Gimana deh kalau begini, gak wajar kan, gak masuk akal?"


"Burung gagak bermata merah itu? Hmm itu bukannya hewan peliharaan raja Iblis yang menghasut jati diri Cameron ya. Aku tau penyebabnya kenapa foto burung itu udah gak ada lagi di galeri HP-mu, karena gagak peliharaan makhluk merasuki jati diri Cameron, telah musnah di barengi oleh raja Iblis itu jadinya gagak mata merah itu udah gak lagi tampil di foto yang gak sengaja kamu foto."


"Njir, wah masuk akal banget bro! Sepertinya begitu dah. Soalnya itu foto udah gak lagi singgah di galerinya Jova."


"Kata-kata Anggara ada benarnya juga, gagak itu kan hewan spesial raja Iblis itu sekaligus pengikutnya," timpal Freya.


"Huh, udah lah hal itu gak usah dibahas lagi. Toh itu udah berlalu banget," ujar Jova sembari keluar dari galeri fotonya lalu mematikan ponsel.


Ketiga sahabatnya hanya mengangguk anggukkan kepala. Dan di setelah membahas kejadian barusan, otak Anggara terputar yang mana ia tadi ditemui sosok gadis arwah cantik yaitu Senja. Ia masih bingung maksud dari Senja itu adalah apa, dan sampai sekarang pun Anggara belum bisa mengingat siapa arwah gadis tersebut. Serasa ingatan Anggara memang tak ada pada momen-momen kebersamaan pada Senja yang ucapnya kalau Anggara adalah teman akrabnya serta teman curhatnya.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2