Indigo

Indigo
Chapter 162 | Two More Days?


__ADS_3

Masih di tempat yang sama, keempat remaja itu masih duduk di atas tanah dengan berdiam diri. Yang mana Freya dan Jova sibuk memakan apel nang sama sekali tidak busuk dan beracun, Angga yang memejamkan matanya dengan keadaan punggung masih bersandar di belakang batu besar nan kepalanya sedikit mendongak ke atas langit sembari merasakan hembusan angin yang meniup wajah pucat tampannya.


Jika Reyhan... Lelaki itu nampak diam mematung dengan hati yang begitu Syok. Mulutnya menganga, raut ekspresinya terlihat jelas terperangah tentang suara hati Angga tadi yang keluar dan mampu bisa ia dengar secara langsung.


...Semoga saja ini bukanlah yang terakhir kita bersama. Tetapi kalau memang sudah takdir, gue benar-benar minta maaf dengan kalian...


Kedua bulir air mata Reyhan mulai menampak dibawah kelopaknya lalu dengan perlahan turun ke pipi untuk mengalir. Ia berharap itu bukan dari suaranya Angga tetapi halusinasinya saja, namun mau bagaimana? Ia bisa tahu bahwa yang telah bersuara melalui batin itu adalah sahabatnya.


Apa maksudnya Angga?! Hati Reyhan seolah tidak tenang setelah mendengar akan hal tersebut. Apakah ini yang dinamakan sebentar lagi salah satu sahabatnya hendak meninggalkannya untuk selamanya? Reyhan langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat, karena itu tidak boleh sampai terjadi sama sekali!


“Rey? Lah, kamu kok nangis? Ada apa??” tanya Freya terkejut seraya menyerong badannya untuk menghadap ke arah Reyhan.


Reyhan seketika tersentak dan menatap gadis cantik itu yang melihatnya bingung. “Eh? Enggak! Aku gak nangis, kok. Aku kan cowok yang kuat, mana mungkin gampang nangis.”


Jova menurunkan apelnya yang telah ia gigit. “Kalau kamu emang gak nangis, itu kenapa airnya keluar dari matamu?”


“Oh, astaga! Ini tuh karena mataku kena angin debu, jadinya kelilipan, deh! Wajar dong kalau mataku sampe ngeluarin air dari mata, hehehe!” ucap Reyhan dengan cepat menyeka seluruh air matanya yang terlanjur membasahi kedua pipinya.


Reyhan langsung memalingkan mukanya ke samping dari kedua sahabat perempuannya. ‘Sial, malu banget gue nangis di depan mereka berdua !’


“Kamu yakin cuman kelilipan, Rey? Kalau nangis, mah bilang aja. Gak usah malu-malu, kita semua kan adalah sahabatmu. Nggak perlu kamu sembunyikan,” ujar lembut Freya dengan senyum.


Reyhan langsung kembali menoleh ke arah Freya lalu menggelengkan kepalanya bersama tersenyum secara paksa. “Bener, aku cuman kelilipan! Aku udah jarang, kok punya masalah. Alhamdulillah, hehe!”


“Andai aja aku punya kelebihan yang bisa membaca pikiran orang dan mendengar suara hatinya orang, aku pasti bakal tahu kalau kamu lagi bohong,” tukas Jova sambil melipatkan kedua tangannya dengan wajah cemberut.


“Kasian deh, lo ... lagian mana darimana aku bohong sama kalian berdua? Kan, emang kenyataannya beneran sebatas hanya kelilipan doang. Nih ya, cowok yang gampang nangis itu artinya cowok yang cengeng dan mempunyai sisi kelemahan!”


“Lah? Kan, kamu emang cowok yang lemah,” ejek Jova dengan tertawa pelan.


“Eh?! Menghina banget, ya! Aku gak lemah, kok. Aku kuat ... kayak Anggara Vincent Kavindra!” sangkak Reyhan tak terima.


Angga membuka satu matanya untuk melirik Reyhan yang dari tadi banyak mengoceh. “Kenapa gue yang dibawa-bawa?”


Justru yang ditanya malah diam saja seperti terkena sihir beku oleh sang penyihir, lelaki humoris itu hanya menatap mata abu-abu autentik dari Angga yang sedang meliriknya tanpa menggunakan ekspresi.


“Biasalah, Ngga. Reyhan tuh dari dulu pengen banget jiwanya seperti kamu, hahahaha!” respon Freya mewakili Reyhan yang terdiam bisu.


“Abisnya jiwamu jiwa yang keren, susah mungkin yang mau menyaingi.” Jova berkata dengan kembali melanjutkan aktivitas mengisi perut.


Angga lagi-lagi tersenyum pada Reyhan. “Yasudah sih, kalau mau tukeran jiwa sama gue gak masalah.”


“E-edan, lo!” ucap Reyhan sedikit gugup.


“Hahaha! Dibawa santai saja, Bro. Gue hanya bercanda, kok. Nggak ada seriusannya sama sekali.”


“Bro?!”


Angga membuka mata sebelahnya lagi kemudian menatap Freya, Jova, dan Reyhan bergiliran yang telah menyebut kata tersebut secara bersamaan bahkan lumayan berteriak. “Kalian ini kenapa?”


“T-tumben kamu ngomong 'Bro'?! Biasanya aja gak pernah kecuali Reyhan yang bilang,” tutur Jova dengan masih ternampak jelas wajah kagetnya.


“Mungkin karena Angga sudah terlalu move on dari masa lalunya, pikiran dan sifatnya lebih jernih kali, ya?” urita Freya.


“Di sini lo banyak ada perubahannya ya, Ngga? Tapi gue seneng sih, kalau elo emang bener sudah move on dan terlepas dari masa lalu gelap.”


Kini senyumnya Angga dengan memperlihatkan deretan gigi putih bagian atasnya. “Gue sebenernya juga ingin memiliki jiwa yang kayak elo. Tapi sedikit saja deh, jangan banyak-banyak. Entar otak gue malah bablas jadi gesrek kayak lo.”


“Tega bet (Banget) lo, Ngga! Bisa-bisanya moncong lu bilang kayak gitu sama gue?! Gue bukan gesrek, tapi kresek!”


Freya dan Jova yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak karena Reyhan nang membuat kata kelucuan di dalam hutan sunyi mencengkau ini. Sedangkan Angga hanya menggelengkan kepalanya dengan masih terlihat senyuman menawannya.


Waaaaaaaaa...


Kedua gadis itu yang sedang tertawa riang karena lelucon tuturnya Reyhan, berhenti seketika saat mendengar teriakan seseorang walau sayup-sayup. Bila didengar secara betul-betul, sendang suara itu berasal dari daerah Reyhan yang posisinya masih tetap duduk. Ralat, jarak beberapa meter dari Reyhan duduk.


Spontan usai dengar pekikan itu, ketiga remaja berdiri cepat dari istirahatnya lalu disusul oleh Angga yang duduk di pertengahan mereka. Begitu saat telah beranjak berdiri, kepala milik lelaki tampan itu kembali terasa pusing ditambah kedua telinganya semu berdenging.


“Itu tadi suara teriakannya siapa?” tanya Jova menatap ketiga sahabatnya.


Reyhan menggedikkan kedua bahunya. “Aku kurang tahu, suaranya pas teriak kek bersamaan gitu. Apa mungkin ada beberapa orang yang sedang ada dalam bahaya di daerah sana, ya?”


“Ya ampun ... padahal kita berempat lagi santai dan tenang di sini, tetapi ada saja suaranya,” ujar Freya agak tertekan oleh keadaan ini.


Angga memejamkan matanya dengan tangan mulai meraba kening bagian sentralnya saat ia melihat pandangan dirinya lumayan memburam. Ia tidak boleh sampai pingsan, dirinya harus kuat karena semuanya belum berakhir. Bahkan akibat tubuhnya sempoyongan laun akan jatuh limbung, Angga sampai tak sengaja menggenggam lengan tangan kiri Freya yang terbalut oleh sweater pakaiannya.


“Angga?” panggil Freya seketika seraya menoleh ke arah pacarnya.


Gadis lugu cantik itu menyentuh telapak tangan putih Angga yang menggenggamnya secara reflek. Kekhawatiran di hatinya muncul kembali saat merasakan bahwa tangan lelakinya semakin hangat dibanding yang sebelumnya.


“Kepala lo pusing lagi, kan?! Suruh siapa lo berdiri? Ayo sini duduk balik. Jangan banyak gerak dulu, oke?” Reyhan segera menopang tubuh Angga yang sempoyongan itu untuk membantunya duduk.


Tetapi baru saja ingin mendudukkan sahabatnya kembali, tubuh Reyhan ditabrak oleh seseorang dari belakang membuat keseimbangan lelaki Friendly itu langsung tangkas hilang hingga tersungkur ke depan nan berhasil membikin ketiga sahabatnya terdorong dan tersungkur kencang seperti dirinya.


BRUGH !!!


“Aduh, kaki gue!” geram Jova kesakitan seraya memegang betis kakinya usai terjatuh di tanah bersama para sahabatnya.


Jova yang ada di barisan terakhir, menoleh kuat ke belakang dengan menatap Reyhan sengit. “Rey! Kamu apa-apaan, sih?! Sakit banget, tahu!”


“Bukan aku! Salahin aja orang yang nabrak kenceng aku dari belakang!” cerca Reyhan jauh lebih sengit sambil menuding orang yang telah menabraknya.


Dengan menahan sakit, Angga mencoba untuk bangkit dari baringnya yang posisi terlungkup. Ia begitu terkejut siapa yang dirinya lihat depan mata. “Kalian berempat?!”


“Aduh, maaf-maaf! Gue gak sengaja nabrak ... lho, kalian?!” Aji yang telah menabrak kendati tidak disengaja, baru menyadari kalau rupanya ia menabrak keempat temannya yang sedang dirinya cari bersama lainnya.


“Aji?! Jevran?! Rena?! Lala?! Itu kalian?!” kaget Freya tidak menduga sambil menatap keempat remaja tersebut secara bergantian.

__ADS_1


Reyhan membangkitkan tubuhnya yang terbalik alias tengkurap dengan memegang kepala kanannya seraya membentuk bibirnya nyengir saat usai terbentur pada salah satu tulang pinggang Angga yang ada di depannya. Bahkan Reyhan sampai mengumpat kesal kepada satu temannya yang membuat dirinya dan ketiga sahabatnya saling berjatuhan dikarenakan terdorong layaknya seperti kartu domino.


“Beruntung gue belum sampe gegar otak! Apaan, sih lo?! Asal nabrak-nabrak orang, buta ya mata lo?!” kesal Reyhan dengan mata mendelik tajam macam belati.


Aji dengan takut langsung saling mendempetkan kedua telapak tangannya sekaligus dengan menempelkan bagian-bagian jarinya di hidungnya. “Maafin gue, Rey! Sumpah, gue beneran gak sengaja! Gak ada yang luka, kan? Kalau ada gue bakal auto tanggung jawab, dah!”


“Gak ada!” jutek Reyhan.


Angga agak merapatkan bibir tipisnya dengan di seraya mengubah posisinya menjadi duduk. “Kalau boleh menebak, kalian kah yang tadi berteriak di bagian daerah sana? Kami berempat mendengarnya sebelum kalian tiba.”


Jevran yang hendak menjawab dengan menyibukkan diri yaitu membersihkan seluruh debu yang menempel di kemejanya, tiba-tiba terdengar suara hentakan-hentakan kaki seseorang dari belakang mereka berdelapan. Terlihat saat para remaja menoleh, ada dua pria berpakaian serba hitam bersama topeng wajah yang dipenuhi banyak darah.


“Itulah yang membuat kami berempat berteriak! Kami dikejar brutal sama mereka berdua!!” pekik Rena seraya bangkit berdiri disusul oleh lainnya.


Untuk memperlambat kedua psikopat itu, Reyhan harus melemahkan mereka dengan senjatanya yang ia bawa. Lelaki tersebut lekas mengeluarkan pistol hitam yang ia simpan di kantong saku bajunya lalu segera menarik pelatuk lepau menembak salah satu kaki dari mereka secara bergiliran.


DOR !!!


DOR !!!


“AYO CEPAT KITA SEMUA KABUR!!!” komando Reyhan dengan berlari maraton meninggalkan kedua manusia tanah Jahannam tersebut yang tengah merintih kesakitan sembari menyeka darahnya yang keluar dari kakinya karena peluru nang tembus.


Angga yang berada di barisan paling belakang, berusaha berlari sekuat tenaga walau tenaganya sudah sangat berkurang. Namun karena keseimbangan tubuhnya hilang, lelaki itu pada akhirnya terjatuh keras di tanah.


Brugh !


“Akh!”


Angga menggunakan otot tenaga dari kedua tangannya yang menyangga tanah untuk membantunya bangkit. Tetapi malangnya kedua psikopat tersebut yang masih memiliki tenaga buat mengejar target domisilinya, semakin mendekat ke arah Angga.


Sementara mereka bertujuh yang telah sampai di pembelokan jalur jalan, melihat kondisi Angga yang terduduk sembari menatap kedua manusia pembawa maut tersebut. Mata Reyhan langsung mencuat seketika melihat situasi membahayakan jiwa sahabatnya. Reyhan yang tak mungkin hanya menonton aksi nang segera dimulai, melangkah sedikit dengan menodongkan pistolnya.


“Jangan sentuh sahabat gue!!!”


DOR !!!


Satu psikopat telah tewas di tempat waktu peluru dari pistol Reyhan menembus jantung dirinya yang ada di dalam dada kirinya. Di sisi lain, Angga telah bangkit berdiri dan berjalan mundur seraya menatap tajam psikopat satunya yang melangkah menghampirinya bersama tawanya.


Ctek !


Ctek !


“Argh! Ayolah, kenapa gak bisa?!” Reyhan terus menarik pelatuk di bagian pistol hitamnya yang sepertinya telah tak berfungsi lagi sebagai senjata.


Tamatlah sudah riwayatnya!


Reyhan berusaha semaksimal mungkin membuat pistol itu kembali berfungsi seperti sediakala, tetapi apa boleh buat? Hasilnya tetap nihil. Hatinya bercampur aduk antara marah dan panik, ia tidak boleh membiarkan nyawa Angga menjadi taruhannya dari psikopat yang membawa senjata gobang.


Sampai tiba-tiba dipertengahan situasi yang menegangkan, Angga menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Reyhan. “Lo pergi saja! Cari tempat yang aman untuk kalian semuanya!”


“Tapi lo bagaimana?!” teriak Reyhan dari kejauhan.


“Gue gak bisa biarin lo dalam bahaya seperti ini, Ngga!! Lo jangan gila! Dia cukup maut buat keselamatan nyawa lo sendiri!” sangkal Reyhan.


“Gak ada waktu lagi, Rey!!!”


“Jika lo memang seorang latif sebagai sahabat gue, biarkan gue menghadapinya sendiri! Gue gak ingin nyawa lo melayang karena dia.”


Pikiran Reyhan begitu kacau, tetapi ia mau tidak mau harus menuruti keinginan Angga yang terlihat sedang menunjukkan keberaniannya kepada psikopat tersebut.


“Pistol gak bermutu, Sialan!!” sungut Reyhan dengan membanting pistol itu ke tanah.


Reyhan kemudian bersama berat hati, melangkah pergi meninggalkan Angga dengan psikopat bengis dan agresif itu. Ia berlari kencang menghampiri kedua sahabat perempuannya beserta keempat temannya yang telah menemukan tempat aman.


Angga memutar tubuhnya ke arah pria berpakaian hitam itu dengan sorot mata tajam dan juga wajah yang terlihat sangat menantang. Ini sangat seru bagi psikopat tersebut dikarenakan targetnya tidak memiliki rasa takutnya sama sekali terhadap ia.


“Hadapi dan serang gue.”


Psikopat itu tersenyum iblis, itulah yang dilihat Angga melalui mata indera batinnya. “Oh, tentu dengan senang hati.”


Tetapi belum apa-apa, dada bidang Angga sudah ditendang duluan dengan kuat oleh psikopat itu hingga membuat tubuhnya terpental dalu dan kencang ke belakang sejauh 4 meter dari berdirinya manusia kejam tersebut.


Hal itu kekasihnya, kedua sahabatnya, dan keempat temannya Angga yang mendekam di tempat aman di suatu pembelokan jalan, amat terkejut. Mata Freya terbelalak sangat lebar saat pacarnya didatangi oleh psikopat bertopeng dan bersenjata mematikan itu.


Ingin hendak menolong, tetapi tangannya telah dicegah oleh Jova sembari menggelengkan kepalanya dengan kuat. Jelas saja itu sangatlah berbahaya untuk bagi keselamatan nyawanya, apalagi Reyhan yang terpaksa menjadi penonton saksi mata, hatinya begitu buncah tak karuan.


Angga yang ingin bangkit, kerah jaket jeansnya lebih dulu ditarik oleh pria itu hingga Angga terbangun. Ia mendorong tubuh lelaki itu sangat kencang hingga tubuh belakangnya membentur keras di pohon. Tetapi, Angga tetap tidak takut sama sekali bahkan tak merasakan jiwanya terancam.


“Sok-sokan banget, sih? Gak usah pura-pura jadi cowok pemberani, deh. Dasar Belagu!!”


BUGH !!!


Angga memejamkan matanya erat saat perutnya ditonjok kuat oleh pria itu, bahkan pukulannya berhasil mengenai ulu hatinya. Kini sekarang, psikopat tersebut melepaskan cengkramannya membuat diri Angga yang kesakitan terjatuh begitu saja di tanah.


Namun Angga tak akan diam saja, ia segera membalas perbuatannya dengan menendang wajah pria itu dengan sekuat tenaga. Lihatlah, karena balasan yang Angga berikan berjaya membuatnya agak terpental ke belakang dengan kondisi topeng yang telah retak karena tendangan dari Angga.


Otomatis, senjata gobang itu terlepas dari genggamannya psikopat tersebut dan ini kesempatannya Angga untuk membuang alat tersebut jauh-jauh supaya dirinya hanya menyerang Angga memakai tangan kosong.


Pria itu menggeram murka seraya bangkit berdiri dan menatap targetnya yang telah berdiri tegak dihadapannya. “Bangsat, lo!! Punya nyali berapa sih, hah? Berani juga sama gue! Lo gak tahu gue siapa?!”


“Gue gak perlu tahu siapa diri lo, tidak penting.”


Keempat gadis itu yang ada di sana, detak jantungnya saling berdegup kencang sekali. Sementara keempat pemuda yang bersama dengan semua gadis itu, nampak gregetan pada sikap arogan psikopat tersebut yang menjadi lawannya Angga saat ini. Sungguh pemandangan yang memacu adrenalin mereka.


“Aaaaaarrghh!!!” Psikopat itu yang telah berkecamuk emosi, melayangkan bogeman mentahnya ke muka Angga. Tetapi dengan cepat, targetnya yang ingin ia jadikan korban lekas menahannya lalu memelintir tangan miliknya sekaligus langsung membanting tubuhnya dahsyat.


BRUGH !!!

__ADS_1


Ketujuh remaja itu yang menyaksikannya depan mata, begitu terkejut pada tenaga kuatnya Angga nang membanting raga psikopat tersebut. Walau kondisinya sedang lemah, tetapi Angga masih tetap bisa menyerangnya.


Angga dengan tak sengaja menoleh ke arah jurang yang ada di jarak kejauhan. Dalam sekejap detik, pemuda tampan pemilik indera keenam itu mempunyai ide cermat waktu menatap jurang yang berada di sana.


‘Apa gue perlu memancing psikopat itu ke daerah tepi jurang? Jika gue terus melawannya tanpa ada inisiatif untuk mengakhiri, ini akan membuang waktu.’


“Akh, gue gak percaya semua ini. Cowok yang hebat seperti gue dan pandai bermain taktik ke korban, bisa diserang olehnya. Dasar Bajingan!” umpatnya seraya kembali berdiri.


“Manusia seperti apa lo-” Belum menyelesaikan perkataan angkuhnya, Angga sudah melakukan gerakan back flip atau dinamakan salto belakang hingga kedua telapak kakinya berjaya mengenai para rahang pipi pria itu sampai tubuhnya terjungkal berlawanan arah dan kembali terjerembab di tanah.


“Sangar, Ngga!! Ayo, Angga! Serang terus!! Kalau perlu buat dia mati saja sekalian!!!” seru Aji berteriak dengan hati penuh gregetan bersama teman lelaki lainnya yang ikut geram melihatnya.


“Diem, lo!! Habis dia, gue akan menghabisi nyawa lo tanpa ampun!!!” sembur sadis psikopat itu hingga berhasil membuat Aji menelan ludahnya kasar.


Angga balik badan dan melangkah meninggalkan psikopat itu untuk menuju ke tepi jurang. Ya, sangat berguna buat memancing pria agresif tersebut dalam menyiksa fisik tubuh korban. Sementara para remaja itu yang memperhatikan Angga, bingung dan tidak tahu apa yang ia lakukan setelah ini.


“Apa yang kamu lakuin, Ngga? Itu di sana jurang, kamu bisa jatuh dan meninggal di dalam,” gumam Freya hingga tak sadar kedua telapak tangannya mengepal.


Kurang beberapa langkah lagi untuk menuju ke pinggir jurang, entah dari kapan psikopat itu sudah menarik kerah jaket belakang milik Angga lalu membalikkan tubuhnya hingga menatap ke arahnya. Di sini, Angga tidak terkejut sama sekali karena sudah tahu kalau pria itu akan menghampirinya.


“Lo mau ngapain pergi ke jurang? Lo ingin mengakhiri nyawa lo sendiri? Bodoh sekali!” cemooh psikopat itu kemudian beralih balik mencengkram dua kerah jaket jeans abu-abunya Angga.


Pria tidak tahu diri itu, segera mendorong tubuh Angga ke belakang hingga kedua kakinya sampai tiba di batasan jurang. Jurang tersebut begitu dalam yaitu mencapai 100 meter.


“Lo akan mati di sana! Dan setelah itu, mereka juga akan mati menyusul diri elo ke Akhirat! Hahahaha!”


“Jangan bahagia dulu,” ucap Angga santai seraya memutar posisinya gesit untuk menghindari jurang yang gelap itu.


Kini keadaan mereka berbalik posisi, psikopat itu telah menjadi berada di pinggir-pinggir jurang, sementara jika Angga tetap berada dihadapannya dengan memakai tatapan tajamnya. Lelaki tampan tersebut setelahnya, merogoh kantong saku jaketnya untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam.


“Siapa yang bodoh? Ya diri lo. Otak lo terlalu cetek untuk memahami pikiran entitasnya yang juga ingin bermain taktik curang kepada elo. Jadi, siapa yang akan mati ke dalam jurang? Gue atau lo?” tanya Angga dengan raut iblisnya menghadapi sang psikopat seraya menodongkan pistol hitam berkarat yang tadi dijatuhkan oleh Reyhan.


Angga bisa melihat ekspresi kagetnya psikopat itu yang melihat senjata pistol itu, sedangkan dirinya tak memiliki senjata apa-apa alias tangan kosong. “Cih, psikopat penakut, ya? Lucu sekali. Segampang itu, kah lo ingin menjadikan gue korban untuk kesenangan malam lo dibawah bulan purnama?”


“Selamat menikmati di tempat api Neraka abadi.”


DOR !!!


Tembakan yang terkena sasaran kening berhasil menembus otak psikopat itu hingga tewas. Ia tergelimpang langsung dan terjun terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam nan ranum tersebut, Angga nang ada di tepi jurang, menurunkan tangannya yang memegang pistol lalu menghembuskan napasnya lelah. Baru pertama kali ini dirinya melakukan adegan membunuh orang.


“Keren Angga, Cog! Udah kek oppa Korea yang main di drama-drama genre action gitu yang gue tonton di ponsel ama laptop. Aaaaa ... makin cayang, deh!” kagum Lala tanpa melihat situasi kondisi yang mana ada kekasihnya Angga didekatnya.


Rena yang mendengarnya, langsung menyiku kencang bahu Lala. “Drakor mulu yang ada dipikiran lo! Lo gak sadar di sini ada Freya?! Mampus lu kalau diputusin dari temen!”


“Omo ! (Waduh) Gue lupa, Anjir ...”


Rena menggelengkan kepalanya dengan menatap tajam Lala yang cengengesan, sementara kedua lelaki yaitu Aji dan Jevran menepuk keningnya karena kekonyolan dari gadis berambut lurus itu.


Seperti Freya, Jova, dan Reyhan melongo apa yang sudah Angga lakukan di sana untuk psikopat tersebut yang telah tak bernyawa di dalam jurang. Mereka bertiga sama-sama tidak percaya dan menduga bahwa Angga bisa melakukan adegan sadis yang mana sanggup menamatkan jiwa seseorang.


‘Kejadian ini hampir sama seperti di mimpiku dan Jova. Apa mungkin mimpi yang kami alami hanya sebuah kebalikan? Nyatanya mereka berdua masih tetap hidup bernyawa gak seperti mimpi waktu dulu itu,’ batin Freya dengan terus memperhatikan Angga yang nampak menundukkan kepalanya.


‘Sumpah demi apaan, coba? Ternyata gak cuman Reyhan doang yang bisa berbuat sadis, Angga juga sama seperti dia. Oh my gosh ...’ cakap Jova ikut melalui relung hati.


‘Gimana bisa, Cuy?! Bukannya pistol yang Angga bawa itu udah gak ada fungsinya lagi? Kenapa sahabat gue mampu tarik pelatuk untuk menjebloskan peluru ke psikopat itu?! Jiyah! Jangan-jangan pistol karatan itu cuman ngalamin macet doang? Payah emang lo, Rey.’


Detik kemudian saat sedang menundukkan kepala, seperti ada suatu benda yang menusuk di dalam kepala milik Angga. Rasanya seperti ditikam berkali-kali oleh alat tak kasat mata, begitu sakit sekali.


Angga reflek menjatuhkan pistolnya ke tanah, dan mulai memegang kepalanya dengan sekaligus mencengkram rambut hitamnya. Ia sungguh merasakan kesakitan hebat di kepalanya yang kembali menyerang setelah sekian lama tak merasakannya.


Reyhan yang melihat Angga membungkukkan badannya dengan kondisi memegang kepalanya pakai tangan kanannya, segera berlari menghampiri sahabatnya. Di sana terlihat Reyhan ikut membungkukkan badannya sembari menyentuh bahu lemas bagian kirinya Angga.


“Ngga, lo kenapa lagi?!”


“Kepala gue sakit!” Angga terpaksa jujur karena tidak ada kata untuk membohongi Reyhan dalam sekedar mengurangi rasa cemas sahabatnya.


Reyhan berdecak dengan raut muka berantakan lalu tanpa berkata-kata lagi, ia segera menyampirkan salah satu tangan Angga di tengkuknya untuk dirinya papah ke tempat yang pantas buat sahabatnya beristirahat. Setelah mendudukkan sahabat Introvert-nya di tanah, perlahan Reyhan memundurkan badannya Angga agar punggungnya menempel alias bersandar di belakang batu yang ukurannya cukup sedang.


“Rey, ini wajah sahabatmu, kan?! Ini Masih tetep Angga, kan?! Mukanya kok pucet banget kayak arwah?!” getir Rena.


Reyhan menoleh ke arah Rena. “Sakitnya yang dialami Angga kembali kambuh, mangkanya dia menjadi seperti ini.” Kemudian Reyhan beralih menggenggam telapak tangan sahabatnya. “Sial, panas banget!”


Reyhan kini menatap wajah Angga. “Ngga, obatnya dimana?! Lo bawa, kan?”


Angga cukup menggelengkan kepalanya, tak sanggup mengeluarkan suara karena kesakitan yang ia terima kali ini membuat dirinya tidak bisa apa-apa. Dadanya yang ia rasakan kembali sesak, matanya sengaja Angga pejamkan waktu dipapah oleh Reyhan.


“Mampus, sudah! Bagaimana ini?! Kalau lo gak segera meminum obat itu, elo akan bertambah parah!” tutur Reyhan dengan mengacak-acak rambutnya hingga tak rapi lagi.


“Santai, Rey ... santai,” ucap Aji seraya mengusap-usap bahu temannya yang kondisi ekspresi wajahnya begitu Stress.


“Santai gimana, Ji?! Kalau Angga kenapa-napa gimana, hah?! Sedangkan kita semua belum menemukan satu titik jalan untuk keluar dari sini! Kalian tahu, niat kita menolong Kenzo .. tetapi ujungnya berakhir membahayakan kita sendiri, termasuk Angga!”


“Kita dibuat tersesat di sini, dan dibuat menderita seperti ini! Siapa yang akan menolong kita? Gak ada, kan?!” tambah Reyhan semakin emosi.


Angga yang masih bisa mendengar suara Reyhan, meraba telapak tangan sahabatnya dan mengusapnya lemah, bermaksud untuk menenangkan hatinya Reyhan yang berkecamuk emosi dan panik.


Setelah itu, Reyhan lekas meletakkan kepalanya Angga di atas pundak kirinya. “Lo harus bertahan dulu ya, Ngga? Kami akan berusaha berpikir gimana caranya kita bisa pergi meninggalkan hutan ini.”


Angga menganggukkan kepalanya dengan berupaya tersenyum menjawab penuturan Reyhan yang setengah mendekap tubuh lemahnya. Sementara seperti Jova dan Freya sukar memfungsikan pikiran otak yang jernih tentang cara bebas dari tempat asing disebabkan kondisi lelaki Indigo tersebut.


Bahkan air mata Freya telah mengumpul di kedua pelupuknya, tak juga Jova yang mengatupkan bibir tipisnya rapat-rapat dengan berusaha berpikir kritis untuk mencari cara atau tanda jalan yang bisa membantu mereka semua keluar dari hutan mencekam.


Dua hari lagi kalian akan merasakan kepedihan...


Freya dan Jova langsung mendongakkan kepalanya ke atas langit setelah mendengar suara seseorang. Anehnya, hanya mereka berdua saja yang sanggup mendengar suara tanpa wujud itu. Termasuk layaknya seperti Reyhan dan Angga yang memiliki kelebihan, tidak mampu mendengar sumber suara tersebut.


Siapakah ia? Apa maksud dirinya berkata seperti itu kepada Jova begitu juga dengan Freya? Mengapa hanya mereka berdua saja yang sanggup mendengar? Kenapa mereka yang lainnya tak bisa?

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2