
Setiap ucapan yang di lontarkan oleh arwah lelaki bernama Arseno Keindre, darah dari mulutnya bermuncratan mengenai wajah Reyhan yang hanya diam menatap tak berdaya pada satu sosok ini yang begitu menyeramkan. Dalam sekejap mata, Arseno menghilang meninggalkan Reyhan sekaligus melepaskan cengkraman kerah kemeja Reyhan.
Reyhan yang sangat lemah melihat sosok gaib beraura hitam gelap, dirinya perlahan ambruk jatuh pingsan sedangkan kaki kirinya belum terbebas dari timpakan motornya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Anggara yang posisi sedang duduk di pinggir kasur meminum teh hangatnya sontak berdiri tegak dengan mata terbelalak secara tiba-tiba.
"Reyhan!"
Entah mengapa Anggara langsung menyebut nama panggilan sahabatnya, dan tidak tahu kenapa ia merasa ada feeling buruk mengenai Reyhan.
Brak brak brak brak !!
Mata sipit Anggara mengarah ke sebuah lemari pakaiannya yang terdapat ada cermin disalah satu pintu kiri lemarinya. Suara gaduhan keras terdengar jelas di dalam lemari pakaian pemuda tersebut. Dengan rasa jiwa pemberani-nya, Anggara yang sudah terlepas dari perban kepala melangkah perlahan usai meletakkan cangkir mug kacanya di atas meja nakas. Tatapan Anggara seketika tajam dan tak terlepas dari fokusnya.
Kedua tangan Anggara memegang masing-masing gagang pintu lemarinya, lalu membukanya dengan kencang. Namun anehnya rupanya tak ada siapapun di dalam, bersikap acuh tak acuh serta tak peduli dirinya kembali menutup pintu lemarinya. Tetapi alangkah terkejutnya namun hanyalah ekspresi Anggara saja yang menunjukan bahkan ia begitu tersentak kaget.
Sosok lelaki seiras umurnya ialah 17 tahun mengenakan seragam SMA putih abu-abu berjas almamater hitam dan terdapat ada name tag di samping kanan jas almamater tersebut. Arseno Keindre, sesosok arwah yang telah membuat Reyhan celaka dan jatuh pingsan di jalan Jiaulingga Mawar.
Mata Anggara melotot lebar dengan menelan salivanya susah payah lalu bersama nyali yang terkumpul berani, ia balik badan untuk menatap arwah pemuda tersebut.
"Apa mau lo?" tanya pemuda Indigo tersebut yang menatap arwah itu dengan muka dingin.
Arseno tersenyum miring lalu menyeringai seram. "Aku hanya ingin memberi tahu kamu saja, aku yakin kamu akan tidak menduganya."
"Memberi tahu apa?"
"Sahabatmu yang bernama Reyhan Ivander Elvano, lelaki yang sudah berani melewati kawasan tempat aku mati sebelum menjadi arwah .. sekarang celaka karena diriku sendiri, dan aku tak akan segan-segan memberinya teror secara bertubi-tubi untuknya."
Anggara begitu terkejut lalu mengepalkan kedua telapak tangannya. "Apa maksud lo hah?!"
"Apa kamu tidak tahu tentang aku yang mati karena diberi kesadisan dari seseorang? Aku mati karena mereka, dan aku akan berbalas dendam siapapun yang berani melewati jalan kawasan wilayah ku. Coba sekarang kamu lihat, banyak kecelakaan-kecelakaan di jalan Mawar Jiaulingga Mawar dan itu ulahku sendiri .. aku tak ada rasa enggan pun untuk meneror yang berani memijak ataupun melewati jalan itu hingga mati!"
"Itu juga termasuk Reyhan, tapi tenang saja teror ini gak seberapa menurutku. Namun, tetap saja aku akan membuat sahabatmu menderita bahkan hingga mati!"
"J-jangan lo lakuin itu!! Sahabat gue gak tau apa-apa soal sebab lo meninggal karena apa!!"
"Hahahaha! Aku nggak peduli apa larangan-mu Anggara, aku bisa menepis segala rencana-mu untuk amankan jiwa Reyhan!"
Arseno yang merupakan aura arwah sosok negatif kini menghilang secara tiba-tiba, meninggalkan Anggara yang mulai tersulut rasa kecemasan dan kemarahan.
"Woi dimana lo!! Lo jangan harap bisa bikin sahabat gue mati!! Selama gue masih ada, gue akan sebisa mungkin jaga Reyhan!!"
Percuma Anggara berteriak marah-marah pada Arseno dikarenakan arwah negatif itu telah menghilang entah kemana dan Anggara kini mulai mengontrol dirinya dengan duduk di pinggir kasur dengan meraup wajahnya kasar.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Hujan deras mengguyur begitu deras, sayangnya serta malangnya kini tubuh Reyhan basah kuyup akibat hujan yang mengguyur. Meskipun hujan deras melanda, Reyhan masih pada kondisi yang sama. Dirinya tak kunjung bangun dari pingsannya, apalagi bibirnya sudah pucat dikarenakan berhadapan dengan arwah negatif tersebut. Tentunya Reyhan mempunyai satu titik kelemahan ialah arwah negatif, itu semua mengalahkan nyali Reyhan terlebihnya lagi daya tahannya menjadi drop.
Di sisi lain, Farhan dan Jihan yang baru saja pulang dari rekan kerjanya kini mereka berdua melewati jalan Jiaulingga Mawar tanpa lupa berdoa meminta keselamatan pada Allah. Farhan yang menyetir mobil sampai menyipitkan kedua matanya karena jalannya tak begitu jelas akibat hujan deras ini.
"Duh Ma, mana deras banget. Aku jadi gak bisa lihat apa-apa dengan jelas."
"Pelan-pelan saja, dan tetap berhati-hati. Nyetirnya santai nggak perlu buru-buru, di sana ada jurang."
Farhan menyalakan alas pembersih kaca mobil bagian depan sendiri untuk menghilangkan air hujan yang terus mengguyur tanpa henti. Namun Jihan reflek mencondongkan badannya karena melihat ada seorang yang terbaring di aspal begitupun motornya yang posisinya menimpa kaki kirinya.
"Innalilahi!! Itu siapa yang kecelakaan?!"
Farhan mempercepat laju mobil yang ia kendarai lalu mengerem mobilnya. "Ma, kayaknya anak itu perlu kita tolong deh."
"Iya Pa, tapi payungnya ada di bagasi mobil susah ngambilnya."
"Pakai payung kecil aja Ma, Mama bawa kan di tasnya Mama?"
Jihan mengangguk. "Iya Pa, Mama bawa. Yaudah yuk Pa keburu kedinginan anak itu."
Namun tiba-tiba hujan lumayan reda dibanding tadi, sekarang hanya tersisa gerimis kecil. Jihan dan Farhan bersamaan melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobilnya masing-masing.
Disaat telah berada di dekat anak SMA tersebut, Farhan sedikit membungkukkan badannya karena merasa tak asing pada merk motor serta plat nomor motor pemuda tersebut. Jihan perlahan menghampiri sang pemuda yang tak bergerak sementara posisi kepalanya membelakangi Jihan yang meneduhkan dirinya menggunakan payung.
Jihan berjongkok lalu menggoyang-goyang punggung pemuda itu yang sudah basah kuyup.
"Nak? Kamu tidak apa-apa?"
Tak ada jawaban bahkan sahutan dari pemuda tersebut seolah-olah pemuda itu tengah terbaring tak sadarkan diri. Farhan berinisiatif diri untuk mengangkat motor yang telah menimpa satu kaki pemuda tersebut. Sedangkan di sisi lain, Jihan memegang kepala remaja itu dengan kedua tangan. Wanita itu hadapkan kepalanya ke hadapan lurus hingga Jihan dan Farhan amat syok yang rupanya remaja pemuda yang terkena musibah kecelakaan adalah Reyhan.
"REYHAN??!!" pekik syok Jihan dan Farhan bersamaan.
Farhan segera standar-kan motor milik sang anak putranya, sementara Jihan menepuk pipi Reyhan yang dingin karena terkena air hujan. Jihan langsung menyeret tubuh anaknya sedikit dan ia letakkan kepalanya di atas lengan tangannya yang ia rengkuh tengkuknya Reyhan. Kedua orangtua Reyhan begitu tak menyangka anaknya bisa seperti ini apalagi kondisinya tak sadarkan diri.
"Reyhan! Nak?! Ya Allah kamu kenapa bisa kecelakaan segala sih hah?! Hiks Nak!!"
Jihan menggoyangkan dada Reyhan agar anaknya tersebut segera kunjung sadar, akan namun hal itu tak berhasil. Dengan gemetar, Farhan yang berjongkok mendekatkan jari telunjuknya di dekat hidung Reyhan untuk mengecek napasnya.
"Huft Alhamdulillah. Ma, Reyhan hanya pingsan saja kok .. kita bawa Reyhan ke rumah aja dulu ya Ma, siapa tahu nanti sampai rumah Reyhan bakal siuman."
Jihan melenggangkan kepalanya menoleh Farhan yang ada di depannya. "Apa itu mungkin Pa?! Nanti kalau ternyata kakinya Reyhan cedera parah bagaimana?! Itu kaki anak kita terjepit sama motor loh!! Sudah berapa lama itu??!!"
Farhan menelan ludahnya mendengar istrinya yang mencak-mencak tak karuan, Farhan mengerti Jihan begitu khawatir dengan Reyhan yang sampai sekarang belum sadar.
Hujan yang hanya sisa rintik-rintik kecil itu lama-lama habis dan sudah tak ada lagi hujan turun. Jihan memeluk tubuh Reyhan karena mengerti-nya Jihan anak semata wayangnya kedinginan bahkan pakaiannya sampai sepatunya basah kuyup, sementara di bibir bungkamnya ternampak pucat.
"Permisi Om, Tante? Ini ada apa ya?"
Farhan dan Jihan sedikit terlompat terkejut mendengar suara pria yang tiba-tiba celetuk entah darimana.
Seorang pria berbadan adiluhung mengenakan pakaian baju hem biru tosca, bercelana jeans panjang, bersepatu pantofel, beserta yang membuat terkesan tak asing adalah pria berumur 30-an tahun itu mengenakan kalung kartu nama yang ada fotonya juga di situ. Menyimpulkan bahwa pria tersebut merupakan seorang kantoran kerja.
Farhan menatap pria lelaki berumur 34 tahun tersebut. "Anak kami terkena musibah kecelakaan kecil Mas, Mas-nya siapa ya?"
"Saya orang lewat jalan ini Om, dan kebetulan saya melihat Om dan Tante panik makanya saya hampiri saja."
Lelaki itu beralih tatapan mata ke Reyhan yang masih pada kondisi tetap sama. "Mau saya bantu Om dan Tante? Sepertinya anak kalian harus di bawa ke tempat yang hangat karena di sini cuaca malam ini begitu dingin apalagi usai hujan lebat."
"E-eh tidak usah Nak, kami berdua bisa sendiri kok .. kami hanya tidak ingin merepotkan kamu, terimakasih ya Nak."
"Tidak apa-apa kok Tante, saya tidak merasa direpotkan. Mari saya bantu anak kalian ke dalam mobil."
Farhan dan Jihan saling menatap lalu mengangguk bersamaan. Pria itu tersenyum ramah kemudian berjalan lantas tersebut mulai mengangkat kedua kaki Reyhan sementara Farhan mengangkat badan Reyhan. Jihan yang telah membuka pintu mobil belakang memperhatikan antara pria paruh baya berumur 50-an tahun dan pria orang kantoran berumur 30-an tahun.
Kini Reyhan telah dimasukan ke dalam mobil dalam diposisikan baring di kursi mobil bagian belakang. Jihan mencondongkan badannya ke bagasi mobil untuk mencari selimut buat anaknya yang kehujanan, namun sayangnya tak mungkin Jihan dan Farhan di antara salah satu mereka membawa selimut di dalam mobil. Sekarang kursi mobil menjadi basah karena terkena basahan kuyup pakaian Reyhan yang pemuda itu kenakan, meskipun dirinya sudah di pindahkan tak ada sama sekali satu remaja SMA tersebut pulih oleh sadarnya.
"Saya yakin, anak Tante dan Om segera sadar. Dia hanya pingsan nantinya juga pastinya siuman."
Jihan dan Farhan menoleh ke pria tersebut dengan senyuman rasa berterimakasih. "Makasih sekali ya Mas, karena sudah membantu anak kami."
Pria itu mengukirkan senyumannya. "Tidak masalah Om, yang terpenting sekarang anak Om dan tante harus dibawa pulang. Berikan tempat yang hangat, dikarenakan suhu tubuhnya sedikit hangat saat saya sentuh tadi."
"Iya Mas terimakasih sarannya," ucap Farhan.
Kedua orangtua Reyhan menatap Reyhan yang masih saja pejam mata, bibirnya yang pucat membuat sang ibu ketar-ketir dalam hati. Sepasang suami istri tersebut kembali lagi menoleh ke belakang untuk berterimakasih banyak pada pria setelan pakaian kantor.
"L-loh?! Mas-nya tadi mana?! Kok sudah hilang?!" pekik Farhan.
Jihan mengangkat tangannya dan sedikit menuding ke depan usai menoleh belakang. "Bukannya tadi anak itu ada di belakang kita Pa?! Kok sekarang sudah nggak ada sih?!"
Farhan mengerjapkan matanya beberapa kali dengan merapatkan bibirnya kuat-kuat lalu membuka mulutnya dan berkata, "Baru noleh ke depan satu menit dan saat kita berdua balik noleh ke belakang, anak kantoran itu sudah hilang tanpa jejak." Kepala Farhan menunduk ke bawah di tengah-tengah lontaran ucapan.
Jihan melihat sekeliling jalan pintas bernama Jiaulingga Mawar yang sangat sepi tak ada satupun kendaraan melewati jalan tersebut, angin sepoi-sepoi meniup dedaunan para pohon membuat suasana malam begitu mencekam sampai-sampai Jihan mengusap-usap bahu kirinya pakai satu tangannya karena tiba-tiba merinding.
"P-pa udah yuk kita pulang aja, Mama jadi takut kalau berlama di sini apalagi ini sudah mau jam sepuluh lho. Ayo Pa."
"Iya Ma, tapi sebelum kita semua pergi meninggalkan jalan ini. Lebih baik kita bagi tugas saja ya Ma, Papa yang mengendarai motor Reyhan nah Mama yang nyetir mobil. Bisa aman kan Ma?"
"Aman Pa, aman. Yasudah Mama masuk mobil dulu ya Pa."
Suami Jihan mengangguk senyum. "Iya Ma, duluan saja .. Papa perlu ngecek motornya Reyhan dulu ada yang rusak atau tidak."
"Iya Pa, Papa hati-hati ya. Ini sudah malem banget soalnya."
"Santai Ma."
Farhan memberi kode pada Jihan untuk pergi meninggalkannya terlebih dahulu barulah nantinya Farhan menyusulnya dari belakang. Jihan mengangguk paham lalu menutup pintu mobil belakang tempat Reyhan baring kemudian Jihan berlari kecil membuka pintu kemudi kemudian memasukinya, wanita itu yang sudah ahli dalam menyetir langsung mulai menyalakan mesin mobil dan menancapkan gas berlalu meninggalkan Farhan.
Sedangkan Farhan mengangguk kembali meratapi mobil yang telah menjauh darinya, pria umur 50-an tahun tersebut mengambil helm Reyhan yang tergeletak di aspal jalan, beruntungnya tak ada lecet sedikitpun pada helm milik anak putra humorisnya. Farhan begitu lega setelah mengecek motor Reyhan yang rupanya masih baik-baik saja tak ada bermasalah, beliau menaiki motor Reyhan tak lupa memakai helm dan mengunci pengait helm setelah itu berlalu meninggalkan JL Jiaulingga Mawar si jalan pintas penghindar macetnya kota.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Kediaman Anggara pemuda yang masih belum tidur. Dirinya di kamar tengah scroll korban-korban kecelakaan di JL Jiaulingga Mawar, sesekali Anggara mendesis dengan berdecak melihat insiden kecelakaan mengerikan dan tragis yang di siarkan di berita meskipun ia melihatnya di youtube beserta browsing untuk menggali informasi tentang kecelakaan maut tersebut di jalan itu.
Bola mata Anggara bergerak kesana kemari membaca banyaknya tulisan berita mengenai kecelakaan antara mobil pribadi dan mobil truk, ini begitu meresahkan dan mengerikan dimana mobil pribadi tersebut yang sang pria berumur sekitar 30-an tahun mengenakan pakaian kantor yang mana berbaju hem biru tosca, bersepatu pantofel serta mengenakan kalung kartu nama beserta foto di dalamnya layaknya pria yang di deskripsikan melalui tulisan berita tersebut merupakan anak kantoran.
Anggara sedikit menelan ludahnya membaca pria itu tewas dikarenakan mobil miliknya meledak hingga sampai 3 kali banyaknya, sekujur tubuhnya hancur dan karena ledakan yang menimbulkan api berkobar, tubuh pria itu menjadi terbakar hangus bersama mobilnya yang hancur berkeping-keping tanpa sisa apapun nang masih utuh.
Anggara menutup mulutnya karena bisa membayangkan betapa tragis tewasnya pria berumur 30-an tahun tersebut.
Cklek !
Kepala Anggara mendongak ke arah pintu yang dibuka oleh Andrana. "Mama?"
Andrana tersenyum dan menghampiri anaknya yang ternyata masih terjaga di larut malam ini.
"Lho Nak, kok sudah jam segini belum tidur?"
"Eeee iya Ma, nanti Anggara tidur kok."
Andrana mengangguk dan duduk di sampingnya Anggara, namun wajah anaknya yang menandakan keresahan di ekspresinya tang tak bisa disembunyikan membuat Andrana bertanya pada Anggara.
"Anggara? Kenapa? Kok wajahmu kelihatan resah begitu? Ada masalah apa Nak?"
Anggara sedikit mengatupkan bibirnya kemudian segera menekan tombol untuk mematikan layar ponselnya agar Andrana tak tahu apa yang sedang Anggara baca.
"Itu, Eeee ... Anggara ..."
"Apa Sayang? Bicara saja sama Mama, kalaupun kamu punya masalah pasti Mama dan ayah bantu Anggara kok asalkan Anggara mau bercerita."
Anggara menghempaskan napasnya kasar dengan menggelengkan matanya sembari memejamkan matanya yang otak benaknya masih memiliki feeling buruk mengenai Reyhan. Jika Anggara berbohong pada Andrana itu semua tidak berjaya dengan lancar dikarenakan Andrana tahu isi hati anaknya beserta jalan pikirannya.
"Kok gak dijawab Nak? Hayo kamu jangan mau mencoba cari alasan yang ternyata kamu lagi bohongi Mama. Anggara berbohong pasti Mama bakal tahu lho."
Anggara mengeratkan genggaman ponsel miliknya lalu menatap mata Andrana lekat-lekat, Andrana menyerong badannya untuk hanya pasang 4 mata antara beliau dan anak lelakinya.
"Anggara yakin Mama bakal nggak percaya kalau Anggara bercerita sesungguhnya. Karena tentang itu bisa mustahil bisa benar."
Andrana mengerutkan keningnya. "Maksudnya Anggara bagaimana? 'Bisa mustahil bisa benar'? Mama masih nggak paham apa yang Anggara ngomong barusan."
Anggara menghela napasnya berat lalu mulai bercerita apa yang telah terjadi. "Ma, tadi sekitar dua puluh menit yang lalu Anggara didatangi sesosok arwah lelaki seumuran Anggara. Intinya dan tujuan arwah itu hanya mengasih tau saja kalau Reyhan dibuat celaka dan akan di teror. Alasannya Reyhan sudah melanggar aturan kalau jalan Jiaulingga Mawar telah menjadi kawasan wilayah itu."
"Hah?! Reyhan akan di teror?! Ini Anggara gak mimpi kan tadi?! Anggara bener-bener lihat wujud arwah yang berkomunikasi Anggara tadi kan?!"
"Iya Mama, Anggara nggak bohong semuanya fakta gak ada khayalan apalagi Anggara buat-buat. Dan yang kali ini Anggara takuti ... Jiwa Reyhan akan terancam olehnya."
"Astaghfirullahaladzim!! Lalu Anggara sekarang sudah pastikan kondisi Reyhan sekarang bagaimana?"
"Anggara belum telpon apalagi chat Reyhan, inginnya Anggara mau mastikan tapi mungkin jam segini Reyhan sudah tidur. Haaaahhh!!"
Anggara mengacak-acak rambutnya dengan kasar bersama diliputi rasa kecemasan yang berlebihan. Sebelumnya Anggara tak pernah merasa takut dan cemas seperti ini. Mana sih sahabatnya yang tidak takut dan risau bahwa sebentar lagi sahabat setianya akan di teror secara bertubi-tubi serta jiwanya terancam?
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di kamar Reyhan, nampak pemuda itu telah digantikan oleh pakaian panjang hangat dan diberikan selimut tebal yang menutupi kedua kaki hingga batasan ulu hatinya. Jihan berusaha membangunkan kesadaran Reyhan dengan mendekatkan jari telunjuknya yang telah di tuang sedikit oleh minyak angin.
"Nak, bangun dong ..."
Sedangkan Farhan sibuk memijat kedua kaki Reyhan untuk melancarkan peredaran darahnya, mungkin Farhan takutnya kalau darah dalam tubuh Reyhan tersumbat akibat kecelakaan kecil tersebut.
Hingga berlama menit kemudian, kedua mata Reyhan terbuka sangat perlahan dan memfokuskan pandangannya di atas yang buram.
"Reyhan?! Alhamdulillah Nak akhirnya Mama papa tunggu, kamu sadar juga!" pekik Jihan bahagia.
Reyhan menolehkan kepalanya lemah ke sumber suaranya yang tak asing di pendengaran telinganya.
"Ma .. Mama ..."
__ADS_1
"Iya Reyhan ini Mama. Bagaimana keadaanmu sekarang? Masih pusing? Badanmu sakit-sakit semua atau apa?"
Reyhan menggeleng samar. "Bukannya ... Reyhan ada di jalan itu- ssshh akh sakit!!"
Reyhan merintih kesakitan disaat merasakan sendi otot kaki kirinya begitu amat sakit akibat ketimpa motornya. Untuk menggerakkan seperti mengangkatnya Reyhan tak mampu, apakah kaki kiri Reyhan cedera?
"Sudah Nak, kamu jangan banyak gerak dulu ... yuk sini duduk dulu dan minum teh hangatnya biar tubuhmu anget gak dingin."
Farhan sigap menopang punggung Reyhan dan beliau sandarkan di kepala ranjang, sementara Jihan mulai menyuapi Reyhan teh hangat di gelas yang Jihan kini pegang.
Usai meneguk hingga 3 kali, Jihan meletakkan gelas teh hangat buatannya kemudian mulai menempelkan telapak tangannya di leher Reyhan beserta pipinya.
"Duh mana anget lagi badanmu, besok izin tidak masuk sekolah dulu ya Nak. Kamu harus istirahat dulu di rumah."
Reyhan menggeleng tersenyum. "Nggak lah Ma, masa izin? Reyhan besok harus tetap berangkat ke sekolah, lagian siapa coba siswa yang mau ketinggalan materi pelajaran? Nggak ada kan."
"Tapi Nak, kamu tadi jatuh dari motor .. itu mempengaruhi kondisimu yang seperti ini Nak, bahkan suhu tubuhmu naik. Pokoknya Reyhan besok izin saja, habis ini Mama chat guru wali kelas-mu, oke?"
"Ck, nggak usah Ma. Reyhan masih kuat kok, Reyhan juga nggak mau ketinggalan materi pelajaran sekalipun."
"Haduh ngeyel kamu ya Reyhan. Dibilangin besok kamu harus istirahat dan dari mulai sekarang, nanti kalau sakit kamu menjadi parah gimana? Apa nggak ngeri?" tanya Farhan.
Reyhan mengangkat tangannya dan membentuk jarinya simbol lambang 'oke' mengisyaratkan bahwa Reyhan akan baik-baik saja pada esok hari datang.
Jihan tersenyum hambar sendu dan menyuruh anaknya untuk kembali berbaring agar tidur, dibantu oleh Farhan membaringkan anaknya karena akibat kaki kirinya yang amat sakit Reyhan menjadi susah bergerak walau hanya satu kaki saja yang tertimpa oleh motor.
Jihan mengelus kepala Reyhan dan berkata, "Reyhan sekarang tidur saja ya, biar siapa tau besok kamu bisa sembuh. Oke Nak?"
Reyhan tersenyum lebar dengan sedikit memicingkan matanya. "Oke Ma."
Jihan dan Farhan mengangguk dengan senyum hangat kepada anaknya yang tengah terkena musibah tersebut. Meskipun Reyhan dapat masalah yang begitu besar dan berat apalagi kesakitan yang Reyhan rasakan, pemuda itu berusaha tetap tersenyum dan kuat di hadapan kedua orangtuanya supaya Jihan dan juga Farhan tak begitu khawatir pada kondisinya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Hembusan angin pagi yang menerobos masuk ke dalam ventilasi jendela kamar Reyhan membuat pemuda itu terbangun dari tidurnya, dilihat saat pemuda tersebut membuka matanya diluar kamar balkon hari sudah pagi dan jam dinding di atas tembok kamar menunjuk jam pukul 05.00
Reyhan mulai menopang kedua tangannya di atas kasurnya untuk membantu dirinya bangkit berposisi duduk, pemuda itu mengumpulkan nyawanya hingga 5 menit kemudian perlahan kedua kakinya ia tapak-kan di lantai namun saat hendak beranjak dari kasurnya, Reyhan memegang kaki kirinya yang masih amat terasa sakit.
"Akh!!" Reyhan memaksakan dirinya berjalan melangkah keluar kamar dan menuju ke kamar mandi.
15 menit Reyhan habiskan waktu hanya untuk membersihkan dirinya, Reyhan kembali ke kamarnya akan memakai baju seragam hari senin dimana pastinya harus memakai jas almamater dengan tulisan lambang logo yang menandakan bahwa itu adalah sekolah internasional di SMA Galaxy Admara kota Jakarta.
Reyhan menepuk jidatnya lumayan keras dikarenakan ia belum menata jadwal buku pelajarannya yang ia masukkan ke dalam tas, dirinya melangkah ke meja belajarnya yang terdapat banyak tumpukan buku mata pelajaran beserta satu laptop silver miliknya. Dengan langkah pincang, Reyhan memutuskan segera melengkapi buku mata pelajarannya sesuai jadwal senin ini di sekolah. Usai mengecek buku-buku paket, dan segalanya kebutuhan untuk di sekolah Reyhan cek dengan teliti ia menutup resliting tasnya kemudian menenteng tas tersebut di pundak sebelah kiri.
Cklek !
Reyhan menutup pintu kamarnya dan kembali melanjutkan langkahnya ke undakan turun tangga, Reyhan terdiam menatap undakan anak tangga yang harus ia pijak buat melangkah menuruni tangga.
'Mampus lu Rey ... mana kaki lu lagi begini, lu harus rela-rela turun tangga. Demi sekolah mana ada tolak, Bismillah aja dah.'
Reyhan memegang pegangan tangga agar ia bisa menjaga keseimbangannya. Di bawah sana terlihat Farhan dan Jihan menyiapkan sarapan sembari menatap anak humorisnya agak kesukaran menuruni tangga apalagi keadaan kakinya masih belum bisa di ajak kompromi.
"Reyhan, mau Papa bantu?"
Reyhan menolehkan kepalanya ke Farhan yang ada di ruang meja makan. "Nggak usah Pa, Reyhan bisa sendiri kok."
Jihan mendesis. "Hati-hati Nak."
Reyhan hanya memberikan senyuman lebarnya kemudian melanjutkan melangkah menuruni tangga, setelah perjuangan menuruni tangga akhirnya Reyhan tiba di bawah tangga dan dengan langkah pincang ia jalan ke ruang meja makan yang sudah tercium aroma sedap di hidangan sarapan pagi ini. Reyhan duduk di kursi perlahan dan melepas tas pundaknya lalu ia taruh di sebelah kursinya.
Meskipun sarapan dari masakan Jihan, Reyhan hanya menatapi makanan tersebut tanpa ada niat untuk mengambilnya lalu melahapnya. Ia merasa hilang selera makan kali ini, sungguh aneh padahal perutnya terasa lapar namun Reyhan tidak selera makan.
Jihan yang menyeruput pelan sup daging ayamnya ke dalam mangkuk menatap anaknya yang hanya cuma diam tak mengambil makanannya.
"Reyhan, kok gak dimakan? Ayo Nak dimakan sarapannya nanti bisa telat sekolah lho. Nih Mama ambilkan saja ya sarapan buatmu."
Reyhan mengangguk pelan tanpa memandang wajah Jihan yang tersenyum padanya. Hari ini Reyhan bisa merasakan bahwa badannya sedang kurang enak, kepalanya lumayan pusing bahkan kaki kirinya jika di gerakan terasa berdenyutan membuat yang menjalankannya merintih kesakitan.
"Rey, Papa gak bisa lihat kamu yang begini. Papa sarankan hari ini kamu harus Papa anter ke sekolah pakai mobil. Nggak ada kata penolakan harus diterima, oke?"
"Pa, Reyhan gak mau ngerepotin Papa. Reyhan berangkat sendiri aja pake motor-"
"Reyhan." Suara Farhan seketika dingin memanggil sebutan nama panggilan Reyhan, dan itu terdengar tegas.
Reyhan menundukkan kepalanya karena tak berani menatap muka Farhan yang sudah datar. Mau bagaimana lagi, mungkin Farhan ingin menjaga keselamatan Reyhan.
"I-iya Pa, maafin Reyhan."
Farhan menghela napasnya lalu mengangkat tubuhnya dari kursi lalu menepuk pucuk kepala Reyhan yang masih menunduk tak berani bertatapan dengan pria itu.
"Papa cuman nggak mau kamu kenapa-napa dijalan, kamu anak satu-satunya dari Papa dan mama. Jadi kali ini Reyhan harus nurut sama Papa ya, nanti pas pelajaran sekolah sudah selesai Papa jemput. Hubungi Papa kalau sudah pulang, paham kan Rey?"
"Paham Pa, maaf Reyhan tadi nggak nurut."
"Sudahlah nggak apa-apa Rey, yaudah mending kamu segera tuntaskan makan-mu dulu habis itu kita berangkat," ujar Farhan mengusap kepala putranya.
Reyhan mengangguk patuh lalu segera melahap sarapannya dengan terpaksa, namun kalau ia membiarkan perutnya bergejolak rasa lapar, Reyhan bisa terganggu pencernaan dalam perutnya. Ia memakan sup daging ayam hangat buatan Jihan yang telah Jihan ambilkan untuk Reyhan sementara kedua orangtuanya pun menikmati sarapannya dengan penuh rasa cita rasa kenikmatan.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di bangku kelas XI IPA 2 nampak kedua gadis sahabatnya Anggara tengah mengobrol-ngobrol suatu yang berbau-bau mistis terlebihnya Jova yang tengah sibuk bercerita horor. Hingga Freya yang mendengarkannya secara seksama membuat kepalanya ia miringkan karena ada yang berbeda dari Jova.
"Stop dulu deh ceritanya, BTW kamu kok tumben banget yah cerita-cerita horor gitu biasanya cerita-cerita tentang kehidupanmu di rumah hahahahaha," tawa Freya.
"Eeee entah sih, aku juga baru sadar kalau aku lagi cerita soal dedemit. Hmmm, keknya aku ketularan Reyhan deh."
"Tuh kan Reyhan yang disalahkan. Kasian tau dia jadi serba salah gitu hahaha!"
"Emang dia patut disalahkan, apalagi kehidupannya yang selalu sial sedunia."
Freya cengengesan mendengar penuturan Jova, sedangkan Jova mulai mengeluarkan topi upacaranya karena sebentar lagi bel upacara akan berbunyi. Namun gadis tomboy itu merasa ada yang kurang dikelasnya, ya itu adalah Reyhan. Sahabat yang selalu rese padanya sampai sekarang hingga jam kini Reyhan belum nampak batang hidungnya.
Jova memutar badannya ke Freya. "Frey, Reyhan kok belum dateng kelas ya? Apa jangan-jangan Reyhan sakit terus hari ini gak hadir."
"Haduh jangan ngomong begitu lah Va, mana mungkin Reyhan sakit. Buktinya tadi malam Reyhan sehat-sehat aja kok."
"Ya itu kan kamu Frey. Kemarin aja pas di jalan, katanya badannya pegel-pegel ya tau kalau dia mau kena masuk angin."
"Berarti Reyhan sakit dong?"
"Liat apaan sih Frey- eh buset bayi gede!"
Jova terlompat kaget di belakangnya sudah ada Reyhan yang duduk di kursi bangkunya sementara Jova duduk di kursi bangkunya Anggara. Jova mendengus pada Reyhan yang nampak melepas tas punggungnya, bibirnya yang tak ada sunggingan senyuman membuat Freya mengerutkan kedua alisnya.
"Reyhan kamu kenap-"
"Woi!! Kayak setan ya kamu! Salam kek, apa kek langsung nongol gitu aja!" protes kesal Jova pada Reyhan.
Reyhan tak menjawab bahkan ia membenamkan wajahnya di tumpukan kedua tangan di atas mejanya. Freya memutar tubuhnya menghadap ke belakang lalu menyentuh lembut bahu Reyhan.
"Rey, kamu kenapa? Kok keliatannya gak semangat?" tanya Freya.
"Kalau gak semangat, bolos sekolah aja!" sarkas Jova timpalnya.
Reyhan sedikit memindah posisi kepalanya tanpa membuka mulutnya untuk menanggapi Jova, Jova mengerucutkan bibirnya sementara alisnya saling bertautan seraya tangannya menggaruk kepalanya.
"Ini bocah kenapa dah? Aneh bener, perasaan tadi malem gak kenap-napa dah. Woi kesurupan ya kamu, Nyuk??"
Reyhan hanya menjawab dengan gerakan kepala menggeleng.
Jova merasakan ada yang meraba kedua bahunya yaitu satu seorang pemuda teman kelasnya.
"Hayolo Va, Reyhan pasti lagi marah banget sama kamuuu. Kasian deh hehehehe."
"Maemunah Aji!!" pekik Jova keras tambah jengkel karena suaranya Aji yang mencoba menakuti temannya.
Aji langsung melepaskan kedua bahu Jova dan berjalan mundur, dalam pikirnya Aji teman perempuannya telah mengeluarkan khodam singa betinanya. Aji cengar-cengir mendengar napas Jova yang mendengus sebal seperti banteng yang melihat kain merah.
"Ampun-ampun hehehehe, eh ngomong-ngomong itu si Reyhan kenapa dah? Diem mulu daritadi."
"Anu Ji, si Reyhan baru datang kok."
"Hah baru datang? Oh oke-oke, terus kalau aku boleh tau si Reyhan kenapa Frey? Reyhan habis diputusin sama pacarnya ya?"
"Pacar? Kayaknya Reyhan gak punya pacar deh, kalau punya sih pasti ngomong. Benar kan Rey?"
"..."
Freya tak digubris sama sekali oleh Reyhan, karena gadis polos itu curiga apa yang terjadi dengan pemuda sahabatnya itu ia meraih lengan tangannya yang dekat rambut miliknya. Freya menyentuh lengan Reyhan yang rupanya terasa hangat.
"Ya Allah! Reyhan! Kamu sakit demam?!"
Kaget Freya yang spontan teriak membuat kesemua temannya mulai dari Raka, Andra, Aji, Ryan, Joshua, Jova, Lala, dan Rena menghampiri Freya sekaligus Reyhan.
"Kenapa Frey?! Reyhan kenapa??" tanya Joshua penasaran selaku ketua kelas.
Joshua sang pemuda yang mengenakan kacamata mencoba menyentuh anggota tubuh Reyhan yang terasa hangat, ketua kelas tersebut mendekati Reyhan dan merangkulnya.
"Ayo ke UKS gue anter," ajak Joshua.
Reyhan perlahan mengangkat kepalanya namun pandangan matanya masih menunduk ke bawah, menampilkan rambutnya acak-acak tak beraturan.
"Ayo sini berdiri, lo istirahat di UKS aja."
"Nggak," tolak Reyhan lirih dengan menyingkirkan tangan Joshua yang merangkulnya.
Sementara datanglah satu siswa yang baru datang ke kelas yang bernama Kenzo Revansar Rafael pemuda mahasiswa yang suka banyak diam seperti Anggara, namun Kenzo termasuk anak broken home dimana kedua orangtuanya selalu bertengkar yang membuat Kenzo sering tak pulang ke rumah melainkan menginap di tempat rumahnya Joshua.
Tepat Kenzo datang, bel ucapara telah dibunyikan. Semua siswa dan siswi mengambil topi upacara dan berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Sementara Jevran tengah sibuk merogoh tas ranselnya dengan penuh ekspresi takut.
Reyhan yang masih memiliki rasa peduli dan penasaran, menatap arah Jevran. "Lo cari apa?"
"Duh gimana nih Bray, topi upacara gue ketinggalan di rumah jir! Mampus gue senin ini, pasti bakal dihukum sama pak Harden karna gak bawa topi!"
Reyhan menghela napasnya lalu membuka resliting tas bagian depan sendiri untuk mengambil topi upacaranya.
"Udah gak usah panik lo dihukum, nih pakai aja topi upacara gue. Kebetulan gue hari ini gak ikut upacara sementara."
Reyhan menyodorkan topinya kepada Jevran dengan senyuman tipis. "Wah thanks banget ye Bray! Sumpah lu emang tetangga the best gue asli emang!"
"Oh iya lu gak ikut upacara ya? Yaudah lo di sini aja, lo juga lagi gak enak badan. Kalau gak kuat langsung ke UKS ya jangan dipaksain."
"Calm down Bro."
Jevran mengacungkan jempolnya lalu memakai topi upacara tetangganya kemudian meninggalkan Reyhan sendirian di dalam kelas. Usai Jevran tak nampak lagi dari pandangannya, Reyhan kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Kepalanya terasa berat dan pusing akibat terlalu memikir kejadian semalam pada tragedi musibah yang tak Reyhan sangka mendapatkannya.
Namun tiba-tiba beberapa menit kemudian belum ada setengah jam...
BRAKK !!!
Reyhan terkaget hingga reflek menegakkan badannya menatap pintu kelas yang tertutup banting dengan sendirinya, kemudian tak berselang kemudian lampu kelas yang mati kini hidup sendiri dan mati sendiri hal tersebut secara berulang-ulang kali. Kepala Reyhan menoleh cepat disaat melihat gorden jendela terbuka menutup tanpa ada orang yang melakukannya, ditambah sekarang ada cap telapak tangan yang berlumuran darah di luar banyaknya jendela kelas XI IPA 2.
Mata Reyhan mencuat kuat dan terbelalak lebar dipenuhi hati rasa ketakutan hebat. Terkejutnya Reyhan lagi kini terpampang jelas pada papan tulis putih bertuliskan 'mati' pada para huruf kapital, bukan spidol hitam namun tulisan tersebut menggunakan darah yang masih segar tulisan darah itu merembes mengotori papan tulis tersebut. Napas Reyhan naik turun dengan mode cepat, keringat dingin mengucur deras dari kening, mukanya memucat karena dibelit ketakutan.
Sekarang Reyhan dibuat lebih syok menatap darah yang mengalir lancar dari atas bohlam lampu kelas darah itu terus mengalir membasahi lantai hingga meluas memenuhi lantai kelasnya, lantai tersebut kini menjadi berlumuran darah sementara para bangku teman-temannya dan sahabatnya dipenuhi bercak-bercak darah yang menjijikan bahkan para bangku tersebut selain bangku yang Reyhan duduki berlendir berbau anyir.
Reyhan menelan salivanya kuat susah payah memperhatikan tumpahan darah dari atas bohlam lampu hingga pada akhirnya darah yang membasahi lantai kelas, di depan kelas terbentuklah wujud menyerupai postur tubuh manusia yang tak lain adalah Arseno mahasiswa arwah yang menepati ucapannya bahwa akan meneror Reyhan.
"E-elo lagi?!"
"Huahahahahaha! Hai bertemu lagi kita, Reyhan Ivander Elvano. Apa kabar? Kamu baik-baik saja? Oh tentu saja tidak, karna kehidupanmu akan hancur jika kehadiranku!"
"Gue minta lo pergi sekarang juga!!!" tekan Reyhan.
"Kamu menyuruhku pergi? Bagaimana bisa aku akan pergi tanpa bermain dulu dengan kesenanganku untuk meneror manusia? Hari ini dan hari ke hari berikutnya aku akan meneror dirimu bertubi-tubi hingga ragamu tak mempunyai jiwa lagi."
DEG !
Tubuh Reyhan bergemetar hebat, detak jantungnya melewati batas normalnya sangat cepat daripada biasanya jika ketakutan.
"Argh!"
Reyhan menyentuh dadanya dan sedikit mencengkram-nya dikarenakan entah kenapa tiba-tida dadanya terasa ditusuk oleh benda tajam, dan ditambah sesak yang mendatang. Sebenarnya ini adalah risiko Reyhan dihadapi oleh makhluk tak kasat mata terlebihnya lagi memiliki aura negatif antara lain berwarna hitam penuh kegelapan.
Reyhan menundukkan kepalanya merasa ada yang lengket dan berair di bawah sepatunya, ya itu adalah lumuran darah dan lendir yang memenuhi sepenjuru lantai kelas XI IPA 2. Hingga Reyhan merasa ada beberapa benda beban berat yang melayang dan mengambang di udara, dan itu sontak Reyhan lebih syok sampai memundurkan badannya hingga terjungkal dikarenakan ia melihat meja kursi bangku semua siswa dan siswi di dalam kelasnya banyak yang bertumpukan di udara.
__ADS_1
Arseno nampak tengah mengangkat kedua tangannya di atas seraya menatap seru dan bibirnya menyeringai ke arah Reyhan yang ketakutan setengah mati.
"Kamu lihat yang di atas ku? Ini akan terlihat menjadi hiburanku kalau semua bangku ini akan melayang cepat ke arahmu. Mau merasakannya?"
Reyhan menggelengkan kepalanya kuat dan Arseno nampaknya tak peduli pada tolakan Reyhan yang sebuah gerakan tubuh saja, sosok itu menarik kedua tangannya ke belakang yang posisinya masih di atas lalu dengan tepat sasarannya, semua bangku kelas tersebut melayang kilat ke arah Reyhan. Reyhan sigap membentengi seluruh wajahnya menggunakan dua lengan tangannya.
"WAAAAAAAAA!!!"
Reyhan cepat menutup matanya tanpa mengelak dari lemparan para kursi bangku tersebut. Namun Reyhan tak merasakan dirinya dilempar benda-benda tersebut, tetapi malah ada beberapa orang yang memangil-manggil namanya dengan mengguncang-guncang tubuhnya. Reyhan membuka matanya cepat dan melihat ada teman-teman sekelasnya dan kedua gadis sahabatnya di sekelilingnya.
"Ya Allah Rey lu kenapa?! Kenapa teriak-teriak, ada apa Rey?!" panik Ryan.
"Lo gakpapa kan?! Lu gak habis di gigit buaya darat, kan?!" Aji berkata bodoh.
"Yang buaya darat itu ya kamu Maemunah! Janji-janji busuk kayak jambu busuk!" kesal Rena dengan menjitak kepala Aji lumayan keras.
"Duuuuuhh!! Apaan sih Ren, main asal pukul aja kamu tuh! Inget ini bukan kendang tapi kepala manusia!"
"Lu juga eror, goblok! Mana ada Reyhan habis di gigit buaya?! Kelas kita gak ada rawa tau njir!" Sekarang bergantian Raka yang menjkak kepala Aji begitu sangat keras.
"Anying!! Sakit Ka!!" protes Aji tidak terima.
"Ada apa Rey?" Joshua melihat sepenjuru kelas untuk mengecek apa yang membuat temannya yang berteriak ketakutan.
Reyhan berdiri dari kursinya lalu memegang kedua bahu Joshua dengan begitu erat. "Gue tadi liat kelas ini dipenuhi darah dan lendir, baunya juga amis Jo! Terus ditambah ada sosok cowok setan yang mau bunuh gue Joshuaaaa!!"
"S-setan cowok?! Dan maksud lo kelas kita semua ini berhantu?! Lo jangan ngada-ngada deh Rey! Hantu itu gak ada!"
Reyhan menoleh cepat dengan ekspresi takut bercampur marah pada Jevran. "Gue liat mata kepala gue sendiri Vran!! Gue serius! Buat apa gue bercanda hah??!!"
"Tapi apa yang lo liat tadi gak nyata! Buktinya apa, setan yang lo omongin dan kelas kita yang berdarah dan berlendir lo ucapkan itu gak ada! Lo mimpi, gue yakin."
"Enggak! Gue gak mimpi!! Sama tetangga sendiri gak percaya banget sih!!"
Joshua segera melepaskan kedua tangan Reyhan yang memegang kuat pundaknya masing-masing lalu menatapnya dan menenangkan temannya yang tersulut emosi serta dirinya masih amat ketakutan.
"Sudah Rey, sudah. Mohon tenang dulu, oke? Lu lagi sakit setidaknya lo jangan kayak begini. Mungkin itu efek lo dari demam akhirnya lo malah kena imajinasi tinggi."
Bertepatan siswa ketua kelas tersebut menenangkan anggota kelasnya, temannya yang berwajah begitu pucat memegang kepalanya dikarenakan kepalanya kembali mendadak pusing. Seluruh tenaganya pada emosi yang memuncak ia keluarkan membuat tubuh Reyhan menjadi lemas dan jatuh terduduk di kursinya yang ada di tepat belakang.
Freya mengusap-usap punggung Reyhan begitupula Jova ikut mengusap punggung Reyhan dengan sama-sama wajah yang suram. Sementara itu Reyhan memindah posisinya dengan menenggelamkan mukanya di atas meja, Reyhan memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya sementara sekaligus meredakan pusingnya.
Jova tiba-tiba menarik tangan Freya yang mengusap punggung Reyhan, Freya hanya pasrah pada Jova yang selalu menariknya tanpa memberi tahunya dahulu. Jova menarik Freya sampai ke depan papan tulis.
"Kenapa Va?" tanya Freya rada pelan.
Jova merangkul tangannya di tengkuk Freya secara memutar tubuhnya dan dirinya membelakangi bangku-bangku.
"Frey, jangan-jangan Reyhan ngeliat sosok yang gak bisa diliat semua orang? Kamu tau kan kejadiannya Reyhan waktu di SMP Dewantara?"
Freya mengangguk. "Iya aku tau kok, atau jangan-jangan sahabat kita sedang di teror arwah?!"
Jova menjentikkan jarinya tanpa menimbulkan suara bunyi. "Nah, aku juga berpikir seperti itu! Karena kalau Reyhan sampe demam itu artinya Reyhan sedang di teror! Bener nggak? Bener nggak?"
"Bener banget Va!" respon Freya.
Jova nampak merenungkan pikiran lalu menoleh ke arah Freya kembali. "Kalau begitu caranya kita berdua harus kasih tau Anggara, ya kan sahabat kita yang berjulukan Six Sense."
"Duh jangan dulu deh Va, kita belum tau pasti kebenarannya kalau Reyhan di teror. Nanti ujung-ujungnya kita berdua salah paham."
"Ehm, ck iya juga sih ya. Atau tanya Reyhan aja kali ya dia kenapa? Tapi udah jelas banget loh dia bilang kalau di kelas kita semua ada setan."
"Hei ayo anak-anak, ngapain kalian masih memakai seragam OSIS? Ayo cepat ganti baju olahraga, ini kan jadwal kalian olahraga sama Bapak."
Seorang guru pria berbadan tinggi dan sedikit kekar tentunya beliau selalu fitnes pada sore hari setiap minggunya. Perkenalkan nama beliau adalah Robby.
Jova melepaskan rangkulan dari tengkuk Freya lalu menoleh menghadap ke pak Robby lalu tersenyum menyengir bersama pada sang beliau guru penjaskes yang berdiri di ambang pintu sembari menyenderkan pundak kanannya serta kepalanya dengan begitu santai.
"Ehehehehe iya Pak Rob, ini kami semua mau ganti baju olahraga kok Pak. Santuy Pak, santuy. Woi para kelen semua yang di deketnya Reyhan! Cepetan guys kita ganti baju PJOK!!"
"YOI!!!" serempak semangat kesemua temannya yang menjawab Jova.
Pak Robby hanya menggelengkan kepalanya dengan cekikikan pelan, beliau menegakkan tubuhnya lalu berjalan menghampiri kesemua murid-murid solidaritasnya. Namun disaat mata pak Robby terbentur tak sengaja menatap satu siswanya yang terlihat lemas di bangkunya.
Pak Robby mengerutkan kedua alisnya lalu mendatangi siswa tersebut. Pak Robby yang guru olahraga bersifat ramah lingkungan mengusap kepala siswa itu layaknya membangunkan muridnya pada muka yang membenam di atas tumpukan kedua lengan tangannya.
"Reyhan? Kamu kenapa? Bapak lihat tadi kamu juga tidak mengikuti upacara ya, kamu sakit?"
Reyhan yang dipanggil segera dengan lemah mengangkat kepalanya dan badannya menjadi tegak lalu menatap pak Robby bersama mata sayu-nya.
"Astaghfirullahaladzim Reyhan, mukamu pucet banget kayak tauge!" kejut pak Robby.
"Memang kayak tauge kok Pak, saya kira Reyhan nyamar jadi makanan tauge yang biasanya buat soto," lontar Aji sekenanya.
"Bisa aja kamu Ji, ini teman kamu lagi sakit atau bagaimana?" tanya pak Robby yang menempelkan telapak tangannya di kepala Reyhan.
"Habis kesurupan tentara Belanda Pak."
Joshua dan Kenzo menepuk keningnya bersamaan merasa bahwa temannya yang bernama Jevran Adifian Luji itu sangat stress dan kurang obat. Sedangkan Jova yang masih mengenakan topi upacaranya ia ambil dari kepalanya lalu melemparkannya kencang ke Jevran.
Tuk !
"Auwh! Sssshh anjir siapa sih yang ngelempar gue topi upacara ini!"
"Aku, kenapa? Heh anak bunda! Kamu kalau ngomong di teliti dulu yak sebelum umbar! Lama-lama lambe-mu aku timpuk pake batu bata biar kapok!"
"Haduh-haduh Va, udah dong jangan marah-marah ini masih pagi loh. Lebih baik kita ganti baju olahraga yuk di toilet," ajak Freya usai menegur lembut Jova.
"Ayo-ayo semua murid-muridnya Bapak, segeralah ganti baju olahraga lalu setelah kembali ke dalam kelas jangan lupa bawa botol air minum karena kita akan berolahraga ekstra."
"Ih apaan tuh Pak?! Jangan tinju-tinjuan loh Pak, saya gak bisa bela diri!" tolak Lala tiba-tiba.
"Sudah, kamu juga akan tahu sendiri. Sudah sana cepat ganti baju, jam olahraga kita hanya sampai tiga jam saja."
"Alah Pak! Tiga jam olahraga ekstra lama-lama sendi-sendi saya bisa rontok nih!"
"Lha-lha kok kamu malah enakan protes sama Bapak sih Ren? Sudah sana jangan banyak komentar, cepat ganti baju atau tidak Bapak hukum kalian semua lari keliling lapangan sepuluh kali."
"Eh jangan dong Pak, kasian nafas kami nanti! Iya-iya deh!" Lala ngacir keluar dari kelas setelah mengambil pakaian olahraganya dari dalam tas.
Sebelum Jova pergi meninggalkan kelas bersama Freya, Jova menatap Jevran. "Woi babunya aku! Itu topiku masukin dalem tas yaaa!!"
"Iya Nona Sableng! Puas?!" kesal Jevran mengambil topi upacaranya Jova dengan tak ikhlas lalu memasukinya ke dalam tas teman tomboy-nya.
Semua siswi kelas XI IPA 2 telah keluar meninggalkan kelas terkecuali para siswa-siswa.
"Heh yang cowok-cowok kenapa masih di sini? Ayo sana ganti baju!" tegas pak Robby.
"Bentar Pak, ini si Reyhan gak ikut olahraga?" tanya Jevran.
"Reyhan badannya lagi begini, gak mungkin bisa ikut olahraga. Biar Reyhan Bapak antar ke UKS dulu sebelum Bapak menuju ke lapangan."
Kesemua siswa yang masih ada di dalam kelas mengangguk mengerti lalu mengambil pakaian olahraganya masing-masing di dalam tas kemudian meninggalkan pak Robby serta Reyhan di dalam kelas.
"Ayo Rey, Bapak antar kamu ke UKS."
"Nggak usah ... Pak, saya masih kuat."
"Yang bener? Tubuhmu anget gini loh, Bapak tahu kamu lagi demam. Tahu begitu tadi kamu izin absen sekolah saja, istirahat di rumah kalau sudah sehat baru sekolah lagi."
"Nggak apa-apa Pak, lagian saya tidak mau ketinggalan materi pembelajaran di sini."
Pak Robby menghela napasnya lalu mengangguk. "Lalu kamu mau tetap di dalam kelas atau tidur di UKS?"
Reyhan tak menginginkan keduanya, ia sangat takut dan trauma jika sedang sendirian pasti nantinya ia di teror kembali oleh Arseno.
"Pak, saya ikut Bapak ke lapangan saja ya. Saya juga mau ngelihat teman-teman saya dan sahabat-sahabat saya olahraga."
"Yakin mau ikut ke sana, Reyhan? Cuaca hari ini terik panas banget lho. Nanti kepalamu tambah pusing kalau deket panas sinar matahari."
"Nggak bakal kok Pak."
"Hmmm." Pak Robby mempertimbangkan pada penuturan murid kebanggaannya. "Yasudah kalau mau kamu begitu."
Reyhan beranjak dari bangkunya dan hal itu pak Robby langsung menuntun jalan langkah Reyhan yang rada sempoyongan. Di lorong kelas saat mereka berdua menelusuri beberapa kelas untuk menuju ke luar lapangan, Reyhan menolehkan kepalanya ke arah pak Robby yang berjalan menghadap depan.
"Pak Rob, ini jam berapa ya?"
Pak Robby langsung mengangkat tangannya dan menilik jam sport-nya untuk menengok lingkaran jarum jam tangannya.
"Ini sudah jam tujuh lewat lima puluh menit Rey, memangnya kenapa?"
"Oh nggak apa-apa kok Pak, saya hanya bertanya saja."
'Pas gue di teror tadi gue sempet lihat jam dinding kelas dan itu masih jam tujuh tepat. Ngapa alur jam hari ini begitu cepet daripada biasanya ?'
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di lapangan, Reyhan tengah duduk di kursi tribun yang berdekatan di pojok lapangan. Pemuda yang tengah sakit demam itu memperhatikan pak Robby yang memberikan pemanasan pada murid-muridnya, Reyhan melihat itu sambil berteduh dan tentunya di atasnya sudah ada genteng kecil pada fungsi untuk meneduhkan yang duduk di situ.
Angin semilir tenang mengundang kantuk Reyhan hingga pada akhirnya ia tertidur. Baru tidur 2 menit Reyhan langsung terbangun dan kembali melihat fokus pemanasan yang dilakukan para temannya dan para sahabatnya. Akan tetapi mata Reyhan kembali terbelalak terkejut mengetahui bahwa lapangan sekolah ini menjadi lapangan yang terbengkalai dan mempunyai hawa mencekam.
Bisa dilihat jalan tapak lapangan banyak rerumputan hijau pendek retak-retak, bangunan sekolah pada tembok cat warna putih sebagian banyak yang terkelupas dan kotor penuh jaringan laba-laba, dan terakhir langit biru yang cerah menjadi kelabu mendung. Reyhan sungguh tak mempercayai ini ia merasa terbawa oleh alam gaib yang penuh gambaran-gambaran mencekam serta mengerikan di pandang.
Reyhan menghadap ke depan lurus melihat kesemua temannya dan kedua sahabatnya berdiri diam tegak membelakangi Reyhan, rambut para mereka nampak acak-acak berantakan sedangkan pakaian baju olahraga mereka lusuh dan nampak bernoda kotor.
"Guys?" panggil Reyhan hati-hati.
Kesemua orang yang dipanggil Reyhan memutar badannya dan tubuhnya mereka kini menghadap ke arah Reyhan. Seakan-akan detak jantung Reyhan nyaris berhenti dikarenakan tampang wajah yang menyeramkan menyamakan bentuk muka arwah Arseno dimana kedua bola matanya bergelantungan di bawah mata, kesemua siswi dan siswa kelas XI IPA 2 menyeringai tersenyum lebar hingga menyobek sudut bibirnya masing-masing kemudian sunggingan itu melebar hingga mengenai telinganya.
Sekarang datanglah pak Robby yang berwajah jauh mengerikan daripada murid-muridnya, satu tangannya menggenggam gergaji mesin dan itu berguna untuk memenggal kepalanya sang beliau sendiri. Suara mesin gergaji kini terdengar mendengung di kedua telinga Reyhan, hingga pada akhirnya pak Robby dengan semangat menggergaji lehernya hingga membuat kepalanya putus, darah bermuncratan saat kepala guru tersebut telah di penggal oleh dirinya sendiri.
Napas Reyhan naik turun tak menentu, keringat dingin bercucuran deras, detak jantungnya berdegup begitu amat cepat. Reyhan terpaku di kursi tribun yang ia duduki, hingga pada kemudian setelah menyaksikan adegan tersebut, Reyhan di kaget-kan sosok Arseno yang bertubuh terbalik karena posisi ia sedang di atas genteng layaknya seperti kelelawar sedang menikmati tidurnya.
"MATI!"
"WAAAAA!!!" Reyhan reflek berteriak kencang karena sudah syok ditambah lagi takut sekali pada wujud Arseno yang mengerikan.
Reyhan membuka matanya cepat dengan wajah yang semakin memucat, dirinya di perhatikan oleh kesemua temannya dan kedua sahabatnya dan juga pak Robby dari dekat apalagi pak Robby nampak tengah menggenggam gergaji mesin entah untuk apa. Reyhan yang melihatnya begitu syok ketakutan hingga menimbulkan tekanan darah menjadi menurun, oksigen yang ada di dalam tubuh Reyhan berkurang. Kesemua yang ada dihadapan Reyhan nampak sangat khawatir pada Reyhan sampai memanggil-manggil namun suara mereka yang Reyhan tangkap di pendengarannya menjadi samar-samar.
Hingga pada kemudian tubuh Reyhan limbung ambruk ke samping, akan tetapi dengan sigap pak Robby menopang badan Reyhan yang hampir ambruk.
"Rey! Reyhan?!" Pak Robby menepuk-nepuk pipi Reyhan beberapa kali namun sudah tak direspon oleh muridnya apalagi kedua matanya sudah menutup.
Kesemua murid-muridnya pak Robby yang ada di belakang sangat terkejut melihat Reyhan yang tiba-tiba hilang kesadaran. Tanpa berlama-lama, pak Robby berjongkok sambil memegang kedua tangan Reyhan lalu menggendong belakang muridnya untuk membawanya segera ke UKS.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di dalam UKS yang begitu luas, Reyhan yang ada di punggung pak Robby perlahan beliau baringkan Reyhan di kasur ranjang UKS dibantu oleh Johan XII IPS 3 sang ketua PMR. Pak Robby meletakkan perlahan kepala Reyhan di atas bantal empuk sementara Johan melepas sepatu hitam adik kelasnya kemudian sepatu tersebut di letakkan dekat kasur ranjang tempat Reyhan dibaringkan oleh dirinya dan pak Robby. Karena Johan adalah seorang ketua di bidang PMR, dirinya pasti memberikan kenyamanan dan kehangatan pada adik kelasnya yang tengah tak sadarkan diri yaitu ia kenakan selimut UKS hingga batasan ujung rompi seragam milik Reyhan.
"Pak Rob, sebenarnya Reyhan tadi kenapa?" tanya Johan.
"Bapak juga nggak tau, Han. Tapi tubuhnya Reyhan terlihat sedang nggak fit apalagi demam. Mungkin itu faktornya."
"Baik Pak, Bapak bisa tinggal Reyhan biar saya yang menjaga Reyhan di UKS. Untuk soal guru di kelas saya, Pak Rob tenang saja di kelas saya jam ini ada jam kos kok jadinya saya bisa santai dan tenang menjaga Reyhan di sini."
"Oh begitu Han, yaudah ya Bapak tinggal dulu. Eh ini kalau tanpa wakil PMR gak kenapa-napa kan Han?"
"Nggak apa-apa kok Pak, lagian Anggara belum pulih dari sakitnya. Saya bisa mengatasinya sendiri kok Pak bahkan hari ini anggota-anggota PMR juga banyak yang izin tidak masuk sekolah, tidak tahu juga karena apa kenapa."
"Oh yasudah, terimakasih ya Johan. Bapak tinggal dulu ke lapangan, Assalamualaikum."
"Baik Pak Rob, Waalaikumsalam."
Pak Robby tersenyum lalu berbalik badan meninggalkan siswa XII IPS 3 dan siswa XI IPA 2, pak Robby membuka pintu UKS dan berjalan keluar lalu menutup pintu UKS. Johan duduk di kursi samping adik kelasnya yang terbaring lemah, menunggunya hingga Reyhan sadarkan diri. Sebelumnya Johan tak pernah melihat adik kelasnya sampai pingsan bahkan sakit pun tak pernah dan kini ia baru melihatnya pertama kali.
Beberapa lama Johan menunggu adik kelasnya siuman hingga 3 jam berlalu dan ini saatnya istirahat telah tiba namun belum ada tanda-tanda Reyhan membuka matanya, bibirnya yang bungkam pucat sertakan wajahnya membuat Johan berdecak memutuskan keluar dari ruang UKS sebentar untuk meminta nomor WA kedua orangtua Reyhan di kelas XI IPA 2 yang saat ini Johan menggenggam ponselnya.
Johan menutup pintu UKS perlahan dari luar meninggalkan Reyhan sebentar saja lalu segera kembali ke UKS usai mendapatkan nomor kontak WA kedua orangtua Reyhan untuk menghubungi salah satu kedua orangtua adik kelasnya.
Sementara hembusan angin yang meniup gorden UKS, ini adalah pertanda bahwa arwah sosok lelaki mahasiswa yang meneror Reyhan datang kembali. Sosok itu benar-benar muncul lagi, dan ia berjalan menatap Reyhan yang terbaring lemah tak sadarkan diri, Arseno memperhatikan gerakan hela napas manusia tersebut yang naik turun lumayan lambat.
"Dasar manusia yang lemah."
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1