
Lagi dan lagi Anggara serta Reyhan dibuatnya jatuh dari langit setelah portal itu menghilang. Mereka berdua jatuh sangat keras daripada yang tadinya.
BRUAKHH !!!
Anggara hanya mendesis kesakitan sementara Reyhan terdengar setengah berteriak kesakitan. Tak hanya itu saja entah apa yang sedang terjadi dengan Reyhan sekarang ini, hidungnya mengeluarkan darah dan itu mengalir.
“Reyhan?! Kok hidung lo berdarah?!”
Reyhan hanya menggelengkan kepalanya kuat dengan mata tertutup amat rapat. Ia menyentuh dadanya dengan terus merintih kesakitan. Anggara dengan segera menepuk-nepuk celana jeans sakunya untuk mencari kain atau tisu buat mengelap darah hidung Reyhan.
Karena tak ada sesuatu di sakunya, hanya ada handphone di saku celana, Anggara pun mengelap darah hidung Reyhan menggunakan telapak tangannya sendiri. Usai membersihkan darah sang sahabat, ada sebuah tangan yang membusuk akan mencakar Reyhan yang terbaring lemah.
“Reyhan awas hindar!!”
Dari samping, Anggara menahan tangan yang berkuku tajam tersebut. Reyhan menggulingkan badannya mengelak dari sebuah satu tangan yang semerbak bau busuk. Tangan tersebut berusaha mencakar wajah Anggara sedangkan Reyhan menatap tangan tersebut yang ternyata sepanjang ujung jauh hutan depan sana.
Kedua tangan Anggara semakin lama tidak kuat menahan tenaga tangan menjijikan itu. Melihat Anggara sudah mulai dalam bahaya, dengan memaksa diri Reyhan berdiri dan mengambil kayu berukuran besar untuk memukul tangan menjijikan itu dari Anggara. Reyhan berlari lalu bersiap memukul kuat tangan tersebut.
Reyhan mengayunkan balok kayu panjang yang telah ia pegang lalu ia pukul tangan busuk itu dari Anggara. Tangan yang bernyawa itu melampiaskan amarahnya ke Anggara, mencekik lehernya dengan sangat kuat. Reyhan mengerang tak terima dan terus memukul makhluk tangan mengerikan tersebut yang telah berhasil mencekik leher Anggara.
“Brengsek, lepasin Anggara! Atau kagak gue akan penggal tangan lo!!”
Ancaman Reyhan tak berpengaruh pada makhluk tangan tersebut yang mencekik leher Anggara, Anggara berusaha menyingkirkan tangan tersebut dari cekikan lehernya.
Reyhan tak bisa membiarkan Anggara terus-terusan di cekik makhluk menjijikan itu, ia harus mencari benda lainnya untuk mengalahkan makhluk tangan itu. Tibanya saat itu juga, Reyhan melihat sebuah benda tajam mengkilap dan panjang bentuknya.
‘Pedang?! Gak akan gue biarkan Anggara mati begini aja !’
“Anggara, bertahanlah sebentar!”
Reyhan berlari kencang mengambil pedang tersebut dari balik pohon, namun sialnya pedang tersebut sedang di tindih oleh ular hitam yang bertubuh besar. Reyhan menelan ludahnya disaat menatap ular yang mengerikan tersebut. Sementara wajah Anggara memerah akan kehabisan napasnya. Mulut Anggara berkomat-kamit mungkin memperingatkan Reyhan ada bahaya di hadapannya meskipun napas milik Anggara telah tercekat.
“R-rey uhuk! R-rey! H-hati-hati!”
Reyhan menoleh cepat ke Anggara yang masih berusaha sekuat tenaga melepaskan cekikan dari makhluk tangan busuk tersebut. Reyhan bingung tak bisa memikirkan jernih bagaimana bisa mengambil pedang tersebut dari tindihan ular hitam besar.
‘Ya Allah gimana ini Ya Allah?! Jika hamba hanya diam berdiri seperti ini tak ada yang hamba lakukan, nyawa sahabat hamba nggak akan selamat !’
Selama Reyhan dalam situasi panik dan bingung, ular hitam tersebut menegakkan kepalanya serta badan menghadap ke arah satu manusia yang berdiri menatapnya. Ular tersebut menjulurkan lidah panjangnya lalu mengeluarkan suara mendesis-desis. Bola mata yang sipit macamnya ular ganas dan berbahaya jika di dekati.
‘Oh iya, balok kayu tadi !’
Reyhan kembali berlari ke Anggara dan makhluk tangan untuk mengambil balok kayu panjang besar yang tadinya berguna buat memukul makhluk tersebut. Reyhan dengan berani berlari balik ke ular hitam tersebut. Kini Reyhan dan ular hitam besar berhadap-hadapan. Reyhan mengangkat balok kayu itu siap ancang-ancang memukul hewan ganas tersebut.
‘Abis ini lo bakal mati !’
Ular tersebut yang melihat manusia itu akan memukul balok kayu ke dirinya, segera membuka mulutnya lebar-lebar dan mencondongkan kencang ke manusia pemuda remaja tersebut.
‘Nih-nih bakal gue lempar lu kayak mukul bola kasti pake pentung !’
DUAGH !
Reyhan lebih dulu memukul kencang kepala sang ular hitam besar itu hingga terpelanting jauh ke samping sampai masuk tercebur di danau.
Plung !
Tanpa berpikir panjang lagi Reyhan membanting balok kayu begitu saja lalu mengambil pedang. Setelah mengambil pedang itu tersebut, Reyhan berlari dan segera memenggal makhluk tangan.
“HIIIIYAAAAAAA!!!”
SRET !!!
Bukan memenggal tetapi Reyhan malah menorehkan sayatan dalam pada makhluk tangan tersebut. Anggara yang dicekiknya sampai mengangkat tubuhnya, makhluk tangan tersebut melepaskan cekikan leher Anggara.
‘Alah sial! Harusnya gue penggal! Matilah gue dan Anggara, belum mampus nih makhluk tangan setan yang gak di didik ini !’
Brugh !
Anggara terjatuh di tanah akan tetapi beruntungnya tangannya menopang tanah agar tak jatuh lebih keras dan kepalanya tak terkena benturan.
Makhluk dua tangan tersebut menggerakkan para jari-jarinya sampai menimbulkan suara 'tek tek tek', dalam waktu sekejap dengan tak berlama-lama makhluk dua tangan tersebut menangkap leher Reyhan dari belakang dan menariknya hingga si Reyhan terseret jauh dari hadapan Anggara.
“ANGGARA TOLOOOOOONGG!!!”
Anggara yang masih terduduk di tanah, terbatuk-batuk dengan memegang lehernya menoleh ke Reyhan yang di seret makhluk mengerikan tersebut.
“R-reyhan! Aaaaakkhh dasar makhluk tangan sialan!”
Anggara yang belum mengumpulkan tenaganya kembali, memaksakan diri untuk berlari mengejar Reyhan yang diseret semakin menjauh. Anggara berlari kilat seraya terus memegang lehernya bersama satu tangannya.
“ANGGARA! TANGKEP PEDANGNYA!!!”
Reyhan melempar pedang tersebut ke Anggara, dengan sigap Anggara menangkapnya yang masih terus berlari. Seketika Anggara mempunyai ide untuk memusnahkan mengalahkan makhluk tangan busuk tersebut.
Anggara berlari ke samping Reyhan lalu dengan cepat Anggara menurunkan pedang tersebut dari atas dengan gesit. Hal itu satu tangan makhluk yang menarik leher Reyhan sampai diri Reyhan terseret, terpenggal oleh pedang yang di gunakan Anggara. Potongan tangan makhluk tersebut jatuh ke tanah. Anggara dapat melihat ada hewan kecil yang berjalan keluar dari dalam tangan makhluk tersebut. Ialah belatung.
Belatung tersebut menempel dan merayap-rayap di pedang tersebut yang banyak lumuran darah. Anggara dengan bergidik ngeri segera melempar pedang tersebut di sembarang arah. Sedangkan makhluk tangan yang akhirnya telah terpenggal tersebut lenyap menghilang dan tak ternampak lagi.
Reyhan yang sudah terlepas dari siksaan makhluk tersebut, menormalkan napasnya yang ngos-ngosan. Reyhan tak berlari tetapi sungguh detak jantungnya berpacu sangat cepat mengiranya menduganya Anggara gagal menyelamatkan dirinya.
Anggara menjatuhkan dirinya dengan keadaan kedua lutut menapak tanah. Bergantian Reyhan yang lemas kini ganti Anggara yang lemas. Lehernya terasa sakit imbas cekikan maut dari makhluk tangan tersebut.
“R-rey ... lo oke, kan?” ucapnya tanpa mendongak ke arah Reyhan.
“Iya Ga, gue oke kok. Tapi elo gakpapa, kan?!”
Anggara cukup menggeleng. “Gue gakpapa, cuman leher gue masih sakit.”
“Coba sini gue cek leher lo.”
Reyhan mendekatkan wajahnya untuk melihat kondisi leher Anggara yang habis di cekik. Disitu ada bekas cekikan kuat yang membuatnya leher Anggara menjadi kemerahan. Reyhan mengulurkan tangannya dan menyentuh leher Anggara yang sedikit luka.
“Akh jangan di sentuh, sakit!”
“Oh! sorry-sorry.”
Reyhan menarik tangannya dan mulai berdiri sambil mengusap-usap debu kotoran yang menempel di pakaiannya.
“By the way, thanks ya Rey lo udah nyelametin nyawa gue. Kalau tadi lo telat selamatkan gue, mungkin besar gue bakal mati.” Anggara mendongak kepalanya ke Reyhan seraya menampilkan sunggingan senyum tipis.
“Heh, gue pasti gak akan biarin lo mati lah, njir. Tadi tuh butuh ekstra rintangan buat selamatkan nyawa lo.”
“Ekstra rintangan?”
“Ho'oh .. gue sempet-sempetnya gebuk ular item gede sampe terpental jauh terus kecebur kolam danau di sana.”
“Emangnya di sekitar hutan sini ada air danaunya?”
“Ada, tuh di ujung jauh sana,” jawab Reyhan seraya menuding pakai jari telunjuknya.
“Terlalu gelap, gue sulit buat ngeliatnya.”
Reyhan mengangkat tangan Anggara untuk membantunya berdiri perlahan-lahan. Anggara pun bangkit berdiri dengan masih memegang lehernya.
Tetapi disaat Anggara berdiri, tubuh Anggara sedikit oleng ke samping membuat Reyhan menahan badan sahabatnya agar tak terjatuh.
“Sempoyongan lo anjir?! Katanya gakpapa cuma sakit leher, lah kok ini malah sempoyongan?!”
__ADS_1
“Gak usah berlebihan, gue kurang jaga keseimbangan. Lagian gue masih kuat kok, berusaha gak lemah.”
Reyhan terdiam dan kembali membantu sahabatnya berdiri. Tangan Reyhan merangkul-kan tangan Anggara ke tengkuknya bermaksud memapah Anggara berjalan.
“Gue bisa jalan sendiri-”
“Hah? 'Gue bisa jalan sendiri'? Lo aja keliatan lemes, masa gue biarin lo jalan sendiri, geh?”
“Udah gakpapa, lagian lo gak ngerepotin gue .. santuy (Santai) ae sama gue, Ga. Padahal kita kenal udah dari semenjak SMP loh, masa masih gini-gini aja sama gue?” ucap panjang lebar Reyhan tersenyum menyengir.
Anggara menghela napasnya. “Gue gak terbiasa minta atau menerima pertolongan dari orang lain bahkan dari sahabat-sahabat gue sendiri.”
“Minta pertolongan aja gak pernah, gue-nya yang gak mau, gue yang nolak. Gue luka pasti gue obati sendiri gak perlu bantuan sekali pun.”
“Kenapa? Kalau lu luka parah apa iya lu gak bakal minta pertolongan dari orang sekitar? Jika lo ngalamin kecelakaan besar kayak misal contohnya ketabrak truk dan posisi lo sekarat, apa lo masih gak mau minta pertolongan, pertolongan pertama?!”
“Ya mesti ada orang-orang yang nolongin gue. Gue yang udah gak bisa apa-apa hanya pasrah ... bersyukur juga- lu kok tiba-tiba nyasar ngomong kecelakaan segala ngapa sih, Nyuk?!”
“Ealah umpama Ga, um-pa-ma. Gue gak doain lo kecelakaan juga, kali.”
Anggara menarik napasnya panjang lalu membuangnya dengan pelan. Baru kali ini Reyhan mendengar ada orang yang tidak mau meminta pertolongan dari orang lain meskipun orang tersebut ingin menolongnya tetapi ia tolak. Reyhan menatap wajah letih Anggara dan mulai menanyakan padanya.
“Anggara?”
“Hm, kenapa?”
“Nyokap bokap, lo juga ada yang kayak lo? Gak mau meminta pertolongan orang lain bahkan menolak pertolongan?”
Anggara menggeleng pasti. “Gak ada. Orang tua gue kebanyakan dapet pertolongan dari orang lain. Meminta tolong cuman kadang-kadang.”
“Lalu, apa penyebabnya lo sampe begitu?”
Anggara membungkam mulutnya seperti tak bisa berkata untuk menjawab Reyhan. Ada sesuatu penyebab sifat Anggara menjadi seperti itu, namun Anggara tak mau membicarakannya pada Reyhan.
“Kok diem Ga-”
“Eh gak kok- gak ada penyebabnya sama sekali. Itu karena gue-nya aja yang mau,” jawab Anggara.
“Udah gak usah bahas itu lagi, mendingan kita lanjut perjalanannya aja supaya nantinya kita bisa ketemu Freya sama Jova,” sambung Anggara lagi dengan senyum kecut.
“Eeee ... oke.”
‘Anggara, apa ada yang lo sembunyiin dari gue?’
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Freya dan Jova yang habis terbangun dari pingsan, mengerjapkan matanya masing-masing dan melihat pesekitaran tempat. Di hadapannya mereka berdua ada garis-garis besi yang menghalang jalan mereka untuk keluar. Baru tersadar kalau ternyata Freya dan Jova di perangkap suatu macam penjara untuknya.
Kedua tangan mereka diikat oleh tali kencang sementara kakinya tidak di ikat. Jova meronta-ronta agar tali yang mengikat tangannya di belakang terlepas.
“Kok kita di penjara?! Kita salah apa?!” pekik Freya dengan wajah panik.
“Sialan! Aku rasa ada seseorang yang memasuki kita ke dalem sini!”
Flashback On
Di perjalanan misi mencari Anggara dan Reyhan, sepanjang perjalanan mereka tempuh. Tak ada kejanggalan di hutan tersebut namun pada akhirnya ada yang membuat mereka terhenti langkah pada sesosok yang menguntit mereka dari belakang. Sontak mereka berdua menoleh bersama. Dua orang lelaki tubuh semampai mengenakan topeng horor di wajahnya. Lelaki muda tersebut juga memakai pakaian yang sama yaitu warna hitam serta gaya pakaiannya.
“Anggara Reyhan kah?” tanya Freya senang.
“Heh, kalian berdua ngapain pake topeng horor segala? Mau ngagetin ama nakutin kita, yak?” tanya Jova dengan berkacak pinggang.
Dua pemuda tersebut tak menjawab tetapi malah saling lempar pandang satu sama lain. Dua lelaki itu mengangguk lalu mengeluarkan sebuah benda semacam pistol yang di dalamnya ada sebuah cairan warna hijau.
“K-kalian mau ngapain?!”
“Hei lihatlah belakang kalian, ada seseorang menatap kalian berdua,” ujar bersamaan pada dua pemuda asing.
Freya dan Jova langsung menoleh ke belakang yang mendapati tak ada siapa-siapa di belakang mereka. Dengan cepat dua pemuda itu memberikan obat bius dari benda yang mereka bawa masing-masing ke Freya dan Jova, seketika itu dua gadis tersebut tak sadarkan diri.
Dua gadis tersebut telah ditipu oleh dua pemuda yang ada di hadapannya, setelah itu para pemuda menggendong tubuh dua gadis tersebut dan di bawanya ke suatu tempat bangunan Kastil hitam.
Flashback Off
“Freya, waktu kita jalan di hutan kan ada dua orang cowok tinggi pake topeng ngikutin kita, berarti kalau aku nalar dua cowok brengsek biadab itu yang bawa kita ke ruangan pengap gelap ini!”
“Tapi kenapa kita? Kita salah apa? Apa jangan-jangan mereka berdua itu mau apa-apain aku sama kamu?!”
“Heeeehh! gak boleh sampe terjadi, kita harus lepas dari ikatan tali ini sama bebas dari jebakan penjara ini!”
“Tidak akan bisa yang kalian lakukan untuk keluar bebas dari tempat itu dan wilayah ini.”
Suara lelaki lainnya yang berbicara pada Freya dan Jova. Suara tersebut memang terdengar, tetapi orang yang mengeluarkan suara itu tak ada sedikit bayangan pun. Freya ketakutan sedangkan hati Jova meluap amarah.
“Heh! Manusia yang gak punya otak, siapa lo hah?! Apa maksud lo sekap kami berdua di dalem sini??!!”
“TUNJUKKIN DIRI LO SEKARANG JUGA!!!”
Suara derap langkah sepatu berjalan dari bawah tinggi sana. Lelaki yang dada bidang tubuh tinggi jangkung, mengenakan semacam kostum berjubah hitam. Mata sorot pemuda tersebut tajam sipit dan dingin. Siapa lagi kalau ia bukan Cameron.
“Hiks, kamu siapa? Apa salah kami berdua??!! kami mohon jangan sakiti kami, hiks hiks!” Freya menangis sesegukan, tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mengucur dari kening hingga ke pelipis mata.
“Hiks, kami sekarang ada dimana? Tempat apa ini? Hiks!”
“Kalian berdua ada di bawah Kastil ku, tepatnya sekarang kalian berada di bawah tanah Kastil.”
“K-kastil?! M-memangnya kamu siapa, sampai kamu punya Kastil?!”
“Oh iya aku belum beri tahu ya, aku adalah Cameron Hoelderon sang penguasa alam gaib ini. Kenapa? Kalian kaget ya haha!”
“P-penguasa alam gaib?! Lo-”
“Hahaha kalian memang sengaja aku kirimkan ke hutan alam gaib ku agar aku bisa menangkap kalian berdua, tetapi aku menyuruh pada anak buah ku untuk menangkap kalian. Tetapi sebenarnya aku tak menginginkan kalian berdua sebagai tumbal spesial.”
“Apa maksud lo tumbal spesial, hah?! Dasar setan Iblis gak punya hati!!”
“Huahahahaha! Aku tidak peduli pada ucapan-mu, Jovata Zea Felcia.”
“Argh! Tau darimana lo semua nama lengkap gue, hah??!!”
“Hahahaha, karena aku sang Iblis yang tahu segalanya para nama manusia-manusia.”
“K-kamu Iblis?! Tetapi kenapa wajahmu seperti orang biasa??”
“WAJAH BENTUKNYA YANG GAK IBLIS TETAPI JIWANYA YANG BERHATI IBLIS!!!”
“Wow-wow-wow, kau begitu marah padaku .. hahahaha, marah saja sepuas-mu aku tak akan melepaskan kalian berdua dari penjara perangkap ku.”
“Cameron Hoelderon, hiks mohon lepaskan ikatan tali ini hiks rasanya sesak, hiks!”
“Hmm, baiklah akan aku lepaskan, hanya ikatan tali saja, tidak untuk perangkapnya.”
“Gordio, lepaskan ikatan tali tangan mereka.”
Kwaakk !
Gordio sang burung Gagak hitam mata berwarna merah nyala, terbang ke arah Jova dan Freya untuk melepaskan ikatan tali tersebut dari tangan mereka masing-masing menggunakan mulut runcing tajamnya. Gordio dengan mudah tanpa rumit, menembus pintu perangkap tersebut membuat dua gadis itu melongo tak percaya.
__ADS_1
Gordio melepaskan ikatan tali satu persatu dengan mulutnya lantas itu menembus lagi pintu perangkap tersebut. Freya maju dan menyentuh pintu perangkap dan menggenggam tiang-tiang penjara tanpa berdiri.
“Cameron, jika kamu menangkap kami disini, itu artinya kamu juga sudah menangkap Anggara dan Reyhan, kan!”
“Anggara dan Reyhan ya, hmm tentu saja belum .. kini sekarang dua pemuda itu sedang mencari kalian berdua. Tak tahu mereka kalian berada di bawah Kastil ku.”
“Mari kita pantau dua sahabat kalian dari layar. Gordio, perlihatkan dua gadis itu dimana sekarang Anggara dan Reyhan berada.”
Gordio langsung menajamkan kedua matanya agar bisa menampilkan layar besar di hadapan Freya Jova. Layar itu akhirnya muncul dengan jelas dan ternampak di dalam layar tersebut adalah Anggara dan Reyhan tengah berjalan. Anggara terlihat sangat lemas sedangkan Reyhan terlihat memapah Anggara berjalan.
“Kenapa di leher Anggara merah dan luka?! Apa yang kamu lakukan dengan Anggara??!!”
“Itu karena kecerobohan Anggara sendiri,” jawab Cameron dengan nada santai.
“Dasar cowok angkuh!!” berang Jova.
“Sudah ku bilang aku tak peduli dengan hinaan darimu Jova, yang terpenting dan yang aku nantikan adalah Anggara.”
“Anggara? Apa yang akan kamu lakukan dengan Anggara??!!”
“Kalian lihat saja nanti, dan lagi pula kalian juga bakal bertemu dengan dua sahabat lelaki kalian kok. Tetapi dalam pertemuan yang menyayat hati.”
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Kepala Anggara terasa sedikit pening hingga ia menempelkan telapak tangannya di kepala sebelah kiri. Anggara juga menutupkan matanya untuk menahan rasa pening-nya.
“Pusing Ga?”
“Enggak.”
“Gak usah bohongin gue, bilang aja pusing .. lu kek nahan sakit gitu, loh.”
“Kepala gue pusing, tapi gue masih kuat.”
“Oke- oh Ngga! Ada danau apa perlu kita sebrang danau itu?”
“Buat apa? Jangan aneh-aneh, deh.”
“Tadi gue sempet liat ada bangunan gede kayak Kastil di gambaran kertas yang lo temuin tadi.”
“Hah? Oh maksud lo yang ini.”
Anggara mengeluarkan kertas coklat lusuh itu dan melihatkan ke Reyhan. Gambaran tersebut persis pada apa yang di lihat Reyhan tadi saat melemparkan ular hitam besar ganas itu ke kolam danau. Setengah yakin Kastil tersebut mirip pada gambaran yang Anggara perlihatkan
“Kita harus sebrang danau itu Ga, gue yakin pasti Freya sama Jova ada di sana!”
“Lo terlalu yakin, kalau bukan gimana?”
“Cek dulu, lah.”
Anggara memilih diam menuruti sahabatnya yang membawa dirinya ke jalan rerumputan pendek untuk menuju ke sebuah kolam danau yang ternampak luas. Anggara mengedarkan pandangan, mencari sesuatu untuk menyebrang danau tersebut.
“Kita renang?” tanya Anggara
“Yakali kita renang? Noh coba lo lihat, ada perahu. Kita gunain aja, yok!”
“Perahu? Udah lepasin gue, gue udah oke.”
“Iya-iya gue lepasin.” Reyhan melepaskan tangan Anggara dari tengkuknya perlahan. Kemudian Reyhan menengok ke dalam perahu kayu mencari alat dua pendayung.
Meskipun perahu tersebut terbuat dari kayu akan tetapi perahu tersebut terlihat masih baru. Anggara membungkukkan badannya mengambil dua benda panjang yang sama terbuat dari kayu. Akhirnya Anggara telah menemukan dua pendayung untuk membantu mereka menelusuri danau agar tiba di Kastil.
“Udah gue temuin, ayo naik.”
Reyhan anggukkan kepala lalu perlahan-lahan mengangkat kakinya ke dalam perahu kayu begitu pula dengan Anggara. Mereka berdua harus menjaga keseimbangan tubuhnya agar tak tercebur ke dalam air danau dikarenakan di saat menginjak ke dalam perahu, perahu kayu itu bergoyang-goyang.
Dua pemuda itu langsung duduk di persinggahan perahu lalu mulai mendayung alat pendayung masing-masing, dalam perlahan perahu itu bergerak maju sesuai arahan dayungan antara Anggara dan Reyhan yang kompak. Hingga pada akhirnya waktu telah termakan banyak mendayung-dayung hingga masih di pertengahan danau, butuh beberapa jam lagi mereka menuju ke sebuah Kastil.
Disaat fokus mendayung, tibalah sebuah goncangan di bawah perahu, seolah akan ada suatu benda yang menusuk perahu tersebut. Di posisi itu duduk Anggara dan Reyhan berhadapan, rasa cemas mulai menjulang tinggi di pikiran negatif dua remaja lelaki itu.
BUUUMM !!!
TRAKTAAKK !!!
Dentuman hebat membuat perahu terlempar atas dan itu begitu tinggi kemudian di tambahkan batu karang runcing tajam tinggi besar menusuk perahu di tengah-tengah Anggara Reyhan duduk berhadapan. Di antara mereka berdua tak ada yang korban tertusuk maut oleh batu tajam, namun sayangnya perahu kayu yang kokoh itu akan retak sedikit demi sedikit.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Cameron lah yang sengaja melakukan timpakan danau tersebut, membuat Anggara Reyhan panik bukan main, takut nyawanya melayang akibat kejadian bencana apa yang telah Cameron buat. Cameron dengan pejaman mata tenang serta menggerakkan tangannya di layar buku Lingkaran Bintang Iblis. Cameron bermulai membacakan mantra-mantra yang telah ia kuasai sejak lampau. Tak ada yang bisa memiliki kuasa mantra seperti Cameron terkecuali sang kakak perempuannya.
“Faseo ... Faseo ... keluarlah pintu gerbang Bintang Iblis pada mereka berdua, bawalah mereka ke Kastil Afsemoerdo milik sang aku penguasa alam gaib ini. Jangan ada kelolosan dari mereka. Faseo ... Faseo ... Faseo ... portal Bintang Iblis, terbukalah.”
Suara petir dari atas langit menggelegar kencang hingga sepenjuru hutan malam. Buku Lingkaran bintang Iblis bersinar-sinar warna merah, artinya mantra Cameron sedang bereaksi pada buku tersebut menuju ke sebuah danau tempat dimana Anggara Reyhan dalam situasi menegangkan.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Anggara Reyhan saling bertatapan bimbang, mereka berdua belum siap untuk meninggalkan dunia. Di tengah kebimbangan mereka berdua, di dalam air danau nampak samar-samar bentuk sebuah lingkaran layaknya pintu gerbang bersimbol bintang merah. Simbol bintang merah tersebut memancarkan cahaya hingga mengenai perahu tersebut.
Mereka terkejut dengan mulut menganga, apa yang ada di dalam air sana. Sayangnya kini tempat Reyhan retak dan Reyhan akan terjun jatuh ke dalam danau. Suara retakan semakin jelas di telinga. Disaat retakan perahu itu hancur di bagian Reyhan duduk, dengan sigap Anggara menangkap tangan Reyhan sehingga membuat diri Reyhan bergelantungan. Namun hal itu membuat beban perahu bagian Anggara duduk menjadi berat, suara retakan terdengar kembali di tempat Anggara.
KRTAAKK !!!
“WAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Teriakan mereka yang malangnya terjatuh ke dalam danau, kini di sertakan turunnya air hujan deras, suara petir besar menggelegar di atas langit gelap, dan seluruh danau tersebut berguncang-guncang hebat seperti bencana alam air laut.
BYUURRR !!!
Dua pemuda tersebut telah tercebur dalam danau yang kedalamannya 100 meter. Mereka tak tenggelam sampai sedalam air danau, akan tetapi mereka langsung di seret ke dalam Portal Bintang Iblis Cameron, Reyhan menggapai tangan Anggara agar tak terpisah dari sahabatnya.
Entah berapa lama menit kemudian, mereka anjlok ke lantai hitam tanpa ada garis pada sisi-sisinya. Jatuh tersebut sangat keras hingga terdengar benturan.
BRUUGGH !!!
Anggara dan Reyhan sama-sama memekik kuat karena tubuhnya yang terbentur keras di lantai. Kepala Anggara dan Reyhan juga terkena benturan, pada syukurnya tidak mengalami darah yang mendatangkan luka.
“Auuwwww! Udah berapa kali kepala gue terbentur mulu, bisa-bisa langsung gegar otak gue kalau begini, anjir!” gerutu Reyhan mengusap-usap kepalanya bagian belakang
Anggara membangkitkan diri dengan menahan rasa sakit dari sekujur tubuhnya lalu memandang sekeliling tempat ruangan. Ruangan yang gelap, lampu yang redup tak layak lagi digunakan, dan ruangan tersebut pengap. Para dinding-dinding berwarna hitam gelap.
Sepertinya Anggara ingat tempat ruangan mencekam ini.
“Anggara, kita dimana lagi?! Perasaan kita jadi bahan pengiriman aje, dah!”
Anggara menggeleng kepalanya ragu terlebihnya lagi ia masih belum bisa kembali membuka aura dan penglihatannya, seakan-akan ditutup begitu saja, tetapi Anggara tidak bisa memastikannya siapa dalangnya.
“AAAARRGH! Anggara TOLONGIN GUEEE!!!”
Anggara yang menghadap depan langsung memutar badannya ke belakang mendapati Reyhan berteriak meminta tolong-tolong padanya dengan membentang satu tangan, terlihat jelas Reyhan di seret kedua kakinya hingga ia jatuh tersungkur membuat tubuhnya menjadi terlungkup.
“REYHA-”
BUGH !
Dari belakang, Anggara di pukul keras tengkuknya menggunakan balok kayu hingga itu Anggara kehilangan kesadaran dirinya.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1