
Telah 2 hari Angga di dalam rumah sakit untuk masih memerlukan perawatan di bangunan kesehatan tersebut. Pemuda tampan tersebut yang menyandarkan punggung lemasnya di bantal dengan kepala ia dongak ke atas langit-langit dinding yang bercat warna putih. Sore ini tak ada satupun orang yang menemaninya di kamar rawat, tetapi itu tidak masalah bagi Angga, lagipula jika ada yang menjaga atau menemaninya, menurutnya itu sangat merepotkan.
Di sini Angga berusaha menghempas mimpi buruknya yang terjadi di dua hari silam, entah mengapa rasanya sulit. Dan itu pastinya ada sebuah satu pertanda dimana Angga harus memecahkan teka-teki dari mimpi menyeramkan yang kelebihan Indigo-nya dirampas habis oleh sosok lelaki misterius hitam itu di kastil bawah tanah.
“Apa ini alasannya gue sakit Demam tinggi agar gue bisa mendapatkan mimpi buruk nggak bermutu itu?”
Pintu kamar rawat dibuka oleh seseorang yang menampilkan sosok Reyhan dan Freya nang ada di belakang punggungnya lelaki humoris tersebut. Mereka berdua tersenyum berseri pada Angga setelah mereka memasuki ruangan rawat itu.
“Kalian?” Angga tersenyum setelah melihat kehadiran sahabatnya dan kekasihnya.
Namun usai itu, kepala Angga celingak-celinguk mencari seseorang yang baginya kurang. “Kalian berdua saja yang datang ke sini? Jova mana?”
“Jova lagi di kantin rumah sakit yang ada di lantai pertama, sebenarnya dia mau langsung ke sini bareng kami tapi temen-temennya kita maksa Jova buat makan dulu di sana,” jawab Freya.
Angga mengerutkan keningnya. “Temen-temen kita? Lho, emangnya para teman kelas juga ada di dalam rumah sakit sini, ya?”
“Betul, Bro. Mereka ke rumah sakit karena ingin menjenguk keadaan lo. Mereka itu adalah teman kita yang pernah belajar bareng di rumah lo,” tanggap Reyhan usai menganggukkan kepalanya.
Angga menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis sedangkan Reyhan memberikan senyuman lebar untuknya. Hingga suara ringtone ponsel milik Angga mengangetkan ketiga remaja tersebut yang siap sedia mengobrol ringan.
Angga segera melongok melihat layar ponselnya yang ada di meja nakas samping ranjang pasien. Mata Angga terbelalak lebar saat membaca nama kontak yang menelpon dirinya. “Mampus, nyokap!”
Angga langsung mengambil ponselnya lalu menatap profil Andrana yang berdekatan samping Agra nang mengenakan baju pengantin di acara pernikahannya. Angga menghela napasnya, karena pasti sang ibu akan menginterogasi mengenai kondisinya.
“Mengapa mama nelpon di sikon yang kurang tepat seperti ini, sih?” gusar Angga dengan kemam.
Freya menyentuh lembut pucuk pundak kanan kekasihnya dengan tersenyum cantik. “Angkat aja telponnya mamamu. Jangan tega-tega gitu, masa dibiarin gitu aja, sih? Ayo angkat, gih keburu nanti malah mati.”
“Kamu ini,” ucap Angga menatap Freya dengan memelas dan hal itu membuat Reyhan tertawa melihat ekspresi wajah sahabatnya yang berbeda.
Angga menghembuskan napasnya dengan memejamkan matanya sejenak, lalu menggesek tombol hijau ke atas yang tepat di layarnya.
...----------------...
...MAMA...
^^^Assalamu-^^^
Ini Angga, kan??!!
^^^Iya, Ma. Ini Angga, kok^^^
Alhamdulillah, Ya Allah! Akhirnya Mama bisa lagi mendengar suaramu, Nak! Mama ini sedari kemarin terus saja mengkhawatirkanmu, Sayang!
^^^Angga sudah baik-baik saja, Ma^^^
Hiks! Syukurlah kalau begitu- tapi kamu lagi tidak membohongi Mama kan, Nak?!
^^^Untuk apa Angga berbohong sama Mama. Angga benar-benar sudah baik-baik saja, kalau bisa dibilang lumayan gak seperti kemarin. Mama di kota Semarang jangan cemas, ya?^^^
BAGAIMANA TIDAK CEMAS, NGGA??!! Kamu saja membuat mama panik hingga menangis, bisa tidak sih menjaga diri selama Ayah dan mama di Semarang?!
...Mata Angga melotot dengan detak jantung nyaris terlepas dari organ tempatnya saat mendengar suara Agra yang sengaja mengalihkan pembicaraan telepon ponselnya Andrana. Angga berakhir menelan ludahnya karena kalau sudah bersama Agra apalagi nada yang memarahinya, ia takut...
^^^A-ayah...?^^^
Kaget yang sekarang berbicara denganmu, Ayah?! Angga! Sudah berapa kali Ayah bilang jagalah keselamatan kepalamu agar tidak mengalami benturan lagi, kamu tidak ingat? Atau tuli?!
^^^Ayah tahu darimana kalau Angga mengalami insiden peristiwa itu?^^^
Kamu bertanya seperti itu pada Ayah?! Apakah kamu tidak ingat kalau Ayah Indigo sepertimu, hah?! Tentu pastinya Ayah tahu semuanya apa yang terjadi denganmu, Anggara Vincent Kavindra!!
...Angga menjauhkan ponselnya dari telinga kanannya karena Agra terus memarahinya secara berteriak membentak pada dirinya. Namun di situ, Reyhan tak hanya diam saja ia harus mencairkan suasana tegang ini segera dengan mengambil ponsel dari tangan sahabatnya yang hanya pasrah sang ayah memarahinya...
Kamu dengar atau tidak?!
^^^Om! Tenang dulu, Om! Jangan marah kayak begitu!^^^
Lho?! Reyhan Lintang Ellvano?! Om belum selesai berbicara dengan Angga! Berikan HP-nya kepada anaknya Om sekarang juga!!
^^^Berbicara atau memarahi nih, Om? Hehehe! Om Agra yang ganteng, jangan emosi gitu dong, Om. Kasihan tuh Angga yang lagi sakit Demam, nanti malah tambah sakit. Om yang tanggung jawab, lho^^^
Reyhan!
^^^Yaelah, kok malah tambah emosi sih, Om? Kalah dong sama anaknya Om yang stay kalem, sabar. Angga saja jarang yang namanya emosi-emosi kayak burung Angry Bird warna merah itu, hehehe!^^^
....
^^^Jangan marah-marah lagi ya, Om Agra Viencent Havindra? Entar kalau marah mulu kerjaannya nanti Om bisa cepat tua, lho. Hati-hati, Om^^^
Om, kan memang sudah tua
^^^Oh iya deng, Reyhan lupa^^^
Huh, Om seperti ini karena Om dan tante Andrana takut terjadi sesuatu dengan Angga, Rey. Om sangat takut bila kejadian bahaya itu kembali terulang lagi, kamu ingat, kan apa yang dulu Om ceritakan padamu dan juga dengan lainnya?
__ADS_1
^^^Iya, Om. Reyhan ingat, kok. Reyhan juga tahu Om seperti ini karena bimbang akan kondisinya Angga jika itu terjadi lagi, tetapi semuanya baik-baik saja kok, Om. Keadaannya Angga sekarang kian lumayan pulih, satu atau dua hari lagi sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit^^^
Huft... Begitu, ya? Syukurlah, Om agak tenang setelah mendengar ini. Tapi Rey, Om bisa minta tolong untuk memberikan HP yang kamu pegang ke Angga? Om ingin berbicara serius dengannya sebelum Om mematikan telponnya
^^^Oh oke, Om! Dengan berat hati- eh maksudnya dengan senang hati^^^
...Reyhan langsung memberikan ponsel Android itu pada Angga yang sedari tadi mendengar suara Agra yang nadanya telah melunak berkat bantuan Reyhan...
^^^Ayah, maafkan Angga...^^^
Angga, Ayah seperti ini hingga memarahi kamu karena Ayah begitu sangat menyayangimu begitupun juga dengan mama. Ayah dan mama sungguh tidak ingin kehilangan dirimu, Nak. Jadi, apakah Ayah bisa meminta satu permintaan pada Angga? Tolong jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kamu mengalami luka parah yang terjadi di kepalamu yang telah rawan itu
^^^Iya, Yah...^^^
Kamu bisa janji sama Ayah? Janji mampu menjaga diri selama orang tua Angga masih berada di Semarang? Atau begini saja, jika perlu Ayah dan juga mama akan ambil cuti untuk kembali ke kota Jakarta. Ayah bisa melakukannya itu demi kamu
^^^Tidak usah, Yah! Gak perlu sampai mengambil cuti segala, lagipula kurang satu bulan lagi pekerjaan kalian usai dan mendapatkan cuti untuk kembali ke sini, kan? Tapi Angga minta maaf, Angga nggak bisa janji dengan Ayah. Tetapi Ayah tenang saja, Angga akan sebisa mungkin menjaga diri, InsyaAllah^^^
^^^Tolong yakinkan pada Angga, Yah^^^
Oke baiklah. Ayah yakin dan mau percaya denganmu, tapi dengar baik-baik, Ngga. Ayah sudah dari hari-hari lalu merasakan firasat yang sangat buruk mengenai dirimu. Angga tetap jaga diri dan selalu waspada, ya? Gunakan selalu indera kelebihanmu untuk melindungimu dari marabahaya. Ayah mohon lakukan saran ini yang Ayah berikan kepadamu
^^^Baik, Ayah. Angga akan mengikuti saran yang Ayah kasih kepada Angga. Dan tolong sampaikan sama mama, ya? Kalau Angga benar-benar minta maaf karena sudah membuat mama menangis^^^
Iya, nanti akan Ayah sampaikan. Saat ini mama lagi ada kesibukan, tetapi nanti tetap Ayah sampaikan pada mama. Kalau begitu Ayah tutup teleponnya ya, Ngga? Ayah Doakan dari sini agar kamu terlindung dari aura energi negatif yang mendatangimu
^^^Ya, Yah. Terimakasih untuk semuanya. Ayah juga harus baik-baik ya di sana begitu juga dengan mama?^^^
Iya, Nak. Assalammualaikum
^^^Waalaikumsalam^^^
...----------------...
Angga menghembuskan napasnya usai teleponnya dimatikan oleh Agra di sebrang sana. Dirinya kini berpikir keras, firasat sangat buruk apa yang sang ayah maksud. Namun Angga tetap mengikuti saran Agra yang beliau berikan untuknya, walau menggunakan kelebihan Indigo selalu jelas pastinya memakai tenaga. Bahkan Angga sudah sering berurusan dengan makhluk gaib untuk membuka kunci supaya mereka bisa mengunjungi alam abadi kelak selamanya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Kini sekarang Angga menatap para temannya yang memang benar menjenguk dirinya nang posisinya mengenakan seragam OSIS-nya masing-masing. Bahkan mulut pemuda tampan itu sampai sedikit menganga karena sebegitu banyaknya teman-teman kelasnya yang datang untuk menjenguk. Walau sebenarnya sudah Reyhan katakan bahwa yang datang adalah teman yang dulu pernah belajar bersama di rumahnya.
Beruntung saja ruangan ini tak lingkup. Luas jadi muat untuk tiga belas orang. Sementara Jevran menghampirinya dengan membawa sekeranjang isi beberapa aneka buah yang tadi pemuda itu beli sebelum datang ke RS Wijaya. “Nih, buat lo. Get well soon, Angga.”
Angga menerima buah tangan dari Jevran yang nampak tulus memberikannya, dengan senyumannya pemuda tampan itu mengangguk. “Thanks.”
“Don't matter, Kawan.” Jevran mengacungkan sebuah jari jempol dari tangannya untuk menanggapi Angga secara ramah teman.
“Makasih, Sayangku.”
Blush...!
Kedua pipi Freya merah merona akibat ucapannya Angga yang terdengar manis dan romantis di sepasang indera pendengarannya. Freya yang sangat malu karena ditatap para temannya langsung menyenggol-nyenggol lengan kanan pacarnya.
“Bilang sayangnya jangan pas ada mereka, dong. Aku malu banget, tau ...!”
“Ehem-ehem! Makin beda ae, nih si Angga. Coba aja kalau di perkumpulan orang lain misalnya pasar malem, auto cosplay jadi patung negara tuh!” timpal Rena dengan melipat kedua tangan melihat sepasang kekasih itu.
“Patung tidak bernafas. Jadi jangan samakan aku dengan patung lagi.”
Senyuman sinis Rena menjadi hilang saat mendengar suara Angga yang kembali berubah dingin, bahkan tampang muka tampannya jadi datar. Gadis berambut cokelat madu keriting model pendek itu meneguk ludahnya sendiri. “Dingin lagi ini bocah satu! Heran dah gue, si Angga tuh bisa jadi cowok cool, romantis, berhati malaikat. Yang gue tanya-tanya sekarang tuh, apa pacarnya Freya bisa jadi cowok yang jahat, ye?”
Freya berdiri dengan berkacak pinggang bersama sorot mata tajamnya atas ungkapan tanya Rena yang sepertinya asal. “Rena! Maksud kamu apaan, sih?! Angga gak akan pernah bisa jadi cowok jahat kecuali tubuhnya dirasuki setan!”
Angga menoleh cepat ke arah Freya yang gadisnya masih menatap sebal Rena. Sedangkan mereka yang mendengar segala perkataannya Freya tadi tertawa kecuali Angga yang hanya menggelengkan kepalanya. Sampai akhirnya Joshua selaku ketua kelas, menyudahi tawanya lalu menatap senyum Angga.
“Angga, tujuan kami datang di mari, bukan hanya ingin menjenguk lo saja. Tetapi juga ingin belajar bersama-sama untuk tes Ujian minggu depan besok. Lo mau ikut belajar bareng atau enggak, itu terserah lo saja. Gue gak memaksa elo belajar bersama kok, lagipula lo masih sakit. Eh kalau gue sarankan, jangan ikut deh.”
Angga menggelengkan kepalanya. “Nggak. Gue tetep ikut belajar bersama, sakit gue juga gak terlalu parah. Tapi gue nggak bawa buku pelajaran apapun ke sini.”
“Angga! Tangkep bukunya!” komando Reyhan dengan melempar buku paket Matematikanya kepada Angga dan itu langsung sahabatnya tangkap cukup tangkas.
Angga lalu mendengus setelah berhasil menangkap buku paketnya Reyhan. “Lo kalau lempar yang kira-kira. Untung jarum infus gue gak tercabut!”
“Halah, dipasang lagi sama suster. Gampang,” santai Reyhan tanpa merasa bersalah bahkan dirinya sambil memakan cemilan bertabur pedas yang ada di dalam kemasannya.
Angga menghela napasnya panjang memilih diam tak membalas Reyhan secara adu mulut. Sementara Jova melongo menatap sahabat Friendly-nya. “Lah? Kamu ngasih Angga buku paket gitu, emangnya kamu kagak belajar??”
“Gak. Males berurusan sama pelajaran Matematika yang bikin mati otak! Mending ngemil,” respon Reyhan seraya balik memakan cemilan favoritnya yang telah ia beli di Alfamart.
“Makan mulu kerjaan lo. Awas, noh kalau kebanyakan makan yang ada lo cepet gembrot. Mana mau cewek punya cowok gemuk kayak sapi. Dijamin dah, lo Jomblo seumur hidup,” cemooh Raka.
“Idih. Yang namanya sesungguhnya mencintai itu bukan karena dari fisiknya tetapi hatinya. Lagian, gue kalau nyari jodoh lihatnya hati dulu bukan fisiknya yang diutamakan,” ucap bijak Reyhan.
“Oh? Begitu? Coba, Angga! Truth or dare?” tanya Raka dengan senyuman miringnya.
“Truth.”
__ADS_1
“Lo milih truth? Oke. Sekarang gue tanya, lo cinta sama Freya karena apa?”
“Karena hatinya yang tulus. Kalau lo mengira gue cinta dengan Freya karena berdasarkan fisiknya yang sempurna, memiliki postur tubuh ideal, berwajah cantik, lo salah. Lagipula jika misalnya gue belum bercinta dan melihat seorang perempuan yang secantik seperti pacar gue, tetapi sisi lain hatinya mempunyai hati yang busuk, gue gak akan mau jadi miliknya. Percuma gue miliki, itu hanya bakal menghancurkan hidup gue sendiri.”
Kedua sahabatnya dan para seluruh temannya menggelengkan kepalanya karena terpukau pada ucapannya Angga yang mengatakan tanpa kebohongan. Bahkan Freya nang ada di sampingnya hanya diam menundukkan kepalanya karena merasa amat malu.
“Lebih baik gue memiliki seorang perempuan terkasih yang otaknya polos, dan menerima gue apa adanya.” Angga kini dengan berani mengangkat tangan kanannya untuk merangkul sayang tengkuk leher Freya membuat detak jantung kekasihnya berdebar-debar kencang.
‘Stop, Angga, stop! Jangan buat aku makin salting kayak gini, dong ...! Iya, aku memang pernah bercinta pada seseorang tetapi tingkahmu membuat aku malu berlipat-lipat ganda.’
Dulu semasa masih menjadi seorang sebatas sahabat kecil, Angga hanya pernah memeluk Freya tidak juga dengan sampai merangkulnya seperti sekarang. Bahkan setelah menjadi kekasihnya, watak asli Angga justru semakin jelas bahwa sebenarnya lelaki tampan itu adalah seorang lelaki yang hangat. Tetapi akibat masa lalunya, Angga berubah menjadi seorang yang amat pendiam, tertutup, dingin, dan pula cuek.
“Padahal gue juga tertarik sama Freya untuk menjadikannya sebagai jodoh gue kelak. Kapan, ya bisa menjadi kekasihnya?” tanya Andra mengestimasi Freya yang menahan malunya karena ulahnya Angga.
Angga yang tadi tersenyum sumringah menjadi berubah pudar saat Andra menanyakan tentang hal itu. “Gak ada kapan-kapan! Freya tetap milik gue selamanya.”
“Iya deh, iya! Si paling hebat melindungi dan menjaga pacarnya sampe rela menjadi korban,” sindir Aji pada Angga.
“E- itu ... itu sudah dari tugas gue untuk memberi Freya perlindungan dari bahaya. Lagian kalau misalnya gue gak cepat-cepat menyelamatkan dari insiden peristiwa itu yang dibuat oleh Youra, Freya pastinya bakal terluka. Lebih baik cowoknya yang terluka daripada ceweknya.”
“Tapi gara-gara kamu menyelamatkan aku dari kejahatan yang Youra perbuat, kamu jadi sampai masuk rumah sakit!” kesal Freya menatap Angga.
Angga melepaskan rangkulan tangannya dari tengkuk leher Freya lalu beralih membelai-belai lemah lembut salah satu pipi putih kulit halus pujaan hatinya bersama senyuman hangatnya. “Gak apa-apa, kok. Yang penting kamu gak mengalami luka sedikitpun, itu yang aku bersyukur, Cintaku.”
Kedua mata Freya terbelalak pada ucapan Angga yang terakhir menyebut dirinya dengan 'Cintaku' sungguh membuat hatinya bergetar karenanya. Freya menggigit bawah bibirnya karena harus menahan malunya karena dilihat oleh banyak orang.
‘Senyumanmu yang tampan dan juga sebutan nama dari yang kamu ucapkan, bikin hatiku meleleh- eh! Es krim, apa ya kok bisa meleleh? Aneh banget kamu, Freya.’
“Sial, sial! Harusnya konsentrasi belajar eh malah ada bucin (Budak cinta) di sini! Baper gue, Coy!” protes Aji seraya meletakkan buku paket Matematikanya yang terbuka, di atas lantai dimana keadaan Aji duduk bersimpuh.
Reyhan menghela napasnya panjang dengan mengelus-elus dadanya dramatis seraya memejamkan matanya karena ia masih bernasib apes belum menemukan jodoh pantas. Hingga dirinya melontarkan kata yang membuat para temannya tertawa.
“Yang Jomblo, kuat batin!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Hari pelaksanaan kegiatan Ujian sekolah telah tiba dimana sekarang para seluruh siswa-siswi tenang di kelasnya masing-masing untuk mengerjakan soal tesnya dengan amat bersungguh-sungguh agar mendapatkan hasil nilai yang sangat baik.
Di bangku, Angga menghembuskan napasnya untuk fokus dan berkonsentrasi pada kegiatan Ujian hari ini. Ia telah membuang hal-hal lapuk dari otaknya sementara demi menggenggam nilai yang berguna. Kini sekarang Angga memegang pensil 2B untuk membundar jawaban salah satu dari pilihan ganda.
Namun di dalam kelasnya, Angga melihat beberapa siswa yang saling memberikan contekan jawaban pilihan ganda secara kode jari tangan. Pemuda tersebut tidak melaporkan hal itu kepada sang dua guru pengawas di depan kelas, melainkan cuek tidak memedulikan mereka.
Sekarang sudah saatnya Angga membaca soal pertama untuk segera ia jawab di sebuah kertas pengisi jawaban soal Matematikanya ini. Tak perlu menghitung karena Angga sudah tahu apa jawabannya yang tepat, ini masih soal ke 1 pastinya diawali dengan without difficulty.
Angga lekas membundar penuh salah satu huruf pilihan ganda dengan hati-hati menggunakan perasaan. Hingga saat menyingkirkan sudut pensil yang ia pakai untuk membaca soal nomor selanjutnya, Angga dibuat terkejut bersama sebuah pola yang sedang berproses membentuk sesuatu di kertas LJK Ujiannya.
Angga meneguk ludahnya untuk berusaha tenang saat melihat pola dengan darah itu membentuk sebuah lingkaran begitupun ditengahnya ditambahkan sebuah bentuk logo bintang. Pola logo itu selesai terbentuk dengan jelas serta sempurna. Hal itu tidak membuat Angga merasa biasa saja untuk memandangi logo di kertas background putihnya, tetapi membuat detak jantung miliknya berpacu kencang dengan napas yang terputus-putus. Keringat dingin mengucur membasahi dari kening hingga merembes ke pelipis matanya.
Tumbal...
Ingin tumbal darimu...
Angga lantas langsung menutup kedua telinganya setelah mendengar suara bisikan menyeramkan yang mengusik pendengarannya. Mukanya berubah menjadi pucat dengan napas masih terputus-putus, detak jantungnya pun enggan balik macam semula.
Cepat, serahkan seluruh aura energimu pada kami...
Kelebihanmu lah yang paling hebat dan kuat dari antara manusia-manusia Indigo lainnya. Kau harus menuruti apa atas perintahku, Angga...
“Gak akan gue serahkan! Tolong pergilah!!!”
Seluruh orang yang ada di dalam kelas XI IPA 2, terkejut dan menoleh ke arah Angga saat mendengar pemuda Introvert tersebut berteriak dengan nada penuh amarah. Bu Sonya sebagai pengawas menatap murid satunya itu dengan kening berkerut.
“Ada apa denganmu, Anggara? Kenapa kamu berteriak seperti itu?” tanya bu Sonya seraya bangkit berdiri dari kursi dan menghentikan tugasnya yang ada di laptopnya.
“Kamu baik-baik saja, Anggara? Apakah kepalamu kembali terasa sakit hingga kamu berteriak seperti itu?” tanya pak Sobri cemas yang menghentikan mencatat sesuatu di buku datanya.
Angga langsung melepaskan kedua telapak tangannya yang menutup sepasang telinganya lalu menatap dua guru pengawasnya yang menatapnya khawatir. “S-saya baik-baik saja, Pak, Bu. Maafkan saya telah mengganggu beliau dan juga lainnya.”
“Kamu yakin, Anggara? Kalau cedera kepalamu kembali datang kambuh, kamu boleh pergi ke ruang UKS untuk meminum obat lalu beristirahat di sana,” tutur pak Sobri.
“Tidak, Pak. Tidak ada masalah di kepala saya, dan saya juga masih baik-baik saja.”
Bu Sonya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada muridnya yang sopan itu. “Baiklah kalau begitu, silahkan kembali kerjakan tes Ujianmu.”
“Baik, Bu.”
Kedua pengawas itu kemudian kembali melanjutkan kesibukannya masing-masing seraya terus mengawasi para muridnya tanpa ada lengah sama sekali. Di sisi lain, Angga menghembuskan napasnya panjang dengan menggelengkan kepalanya. Dilihatnya simbol logo darah lingkaran bintang itu telah menghilang entah sejak kapan.
Angga menyentuh kening bagian sentralnya dengan siku tangan kanannya menopang atas mejanya. Dirinya memejamkan matanya sebentar. Kepalanya begitu menjadi sangat pusing setelah menerima kejadian dari astral serta bisikan-bisikan pengusik tersebut. Beruntung saja mereka yang terhenti akan kesibukannya kembali berkutat dengan fokus.
Reyhan menghentikan kegiatan untuk mengisi seluruh jawaban soalnya di kertas LJK miliknya, untuk memiringkan badannya lalu berbisik pada Angga yang nampaknya kurang sehat, “Angga? Lo oke, kan? Muka lo pucet lagi. Mau gue anterin ke ruang UKS buat berbaring di ruangan sana?”
Angga menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana bisa Angga meninggalkan pekerjaan untuk menjawab semua soal Ujiannya ini? Dirinya harus mengikutinya tanpa ada bolong sedikitpun, untuk pusing yang terasa di kepalanya sanggup Angga tahan hingga bel istirahat dibunyikan.
Tentang logo lingkaran bintang berpola darah segar berbau anyir itu membuat Angga menjadi terbayang-bayang akan apa maksudnya. Seperti petunjuk tetapi bukan petunjuk, tepatnya sebuah pertanda. Apalagi Angga telah mendengar beberapa bisikan sosok gaib yang terdengar di sepasang indera pendengaran tajamnya bak seekor kelelawar.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››