
Langit sore telah berubah menjadi langit malam, langit malam yang kini tak ada bintang indah bertaburan, bulan juga sudah tertutup oleh awan malam. Empat remaja yang usai dibuat bingung oleh foto burung gagak yang tak sengaja terpotret, membuat mereka lelah dan tidur karena sudah larut malam.
Anggara mengubah posisi baringnya menyamping. Baru saja mau memejamkan mata karena mata sangat lelah, tiba-tiba Anggara mendengar suara gaduhan seperti hantaman dentuman keras di ujung hutan jauh dari tenda Anggara begitu juga tenda sahabat-sahabatnya. Anggara langsung bangun duduk tegak mencoba mendengarkan suara dentuman keras tadi yang kini malah menghilang.
Suara itu datang lagi, Anggara tak tahu apa yang sedang terjadi di ujung jauh tenda Anggara, sementara ia tak dapat merasakan aura dan penglihatannya secara singkat melemah. Anggara memutuskan untuk keluar dari tenda dan membawa ponsel serta senter.
Di luar rupanya tak hanya Anggara saja yang mendengarnya, akan tetapi kesemua sahabatnya dapat mendengarnya. Anggara saling bertatapan kepada ketiga sahabatnya yang beraut wajah bingung dan takut.
“Kamu juga denger Ga?” tanya Freya yang baru sadar Anggara keluar dari tenda.
Anggara mengangguk. “Iya, aku denger.”
Sekarang dentuman itu ditambah suara teriakan histeris yang sama sendang suaranya asal dari beberapa kilometer jauhnya. Rasa penasaran Anggara meninggi, Anggara ingin tahu siapa yang berteriak apalagi histeris pada malam jam pukul 00.00
Tanpa sepatah kata satu pun dari mulut Anggara, Anggara berlalu meninggalkan ketiga sahabatnya yang mematung takut pada suara teriakan histeris itu. Anggara tak ada sedikitpun rasa takut, ia malah justru berani bercampur rasa penasaran tinggi.
“W-woi Anggara! Lu mau kemanaaa?!”
“Gue mau cari suara teriakan itu,” jawabnya sembari kembali melangkah.
“Udah gilak ya lu, Ga! Buat apa lu cari suara itu?! Ini udah malem banget loh!”
Anggara menoleh ke arah Reyhan dengan muka datarnya. “Gue bakal balik kalau suara itu hilang, tapi kalau suara itu semakin menjadi-jadi gue bakal cari sampe gue tau siapa yang teriak histeris malem-malem jam segini.”
Anggara orangnya sangat keras kepala, selalu ingin cari tahu sendiri tanpa bantuan dari orang-orang bahkan pun ketiga sahabatnya. Tetapi meskipun Anggara orang keras kepala batu, mereka bertiga tetap tidak segan-segan menyusul Anggara.
Ctak !
Anggara menghidupkan senternya sebagai penerang jalan gelap hutan malam begitupun Freya, Jova, dan juga Reyhan. Mereka berempat berjalan satu baris.
“Reyhan, kamu di belakang sendiri, ya!” Jova menarik lengan Reyhan ke belakangnya.
“Why?! Kok aku?!”
“Kamu kan cowok, jaga-jaga aja kalau ada hewan buas, orang jahat pembunuh .. pokoknya kamu dulu yang ngelawan.”
“Sialan! Nakut-nakuti aja deh kamu! Yaudah-yaudah fine it's okay.”
Reyhan memundurkan langkahnya ke paling belakang sementara Jova ada didepan Reyhan dan Freya berada di belakang Anggara. Anggara di depan sendiri sebagai pemimpin jalan.
KYAAAAAAAAAKK !!!
“Suara itu lagi!” kejut Anggara.
Anggara mengeratkan pegangan senternya dan mempercepat jalannya begitu pula ketiga sahabatnya yang sudah berada di sela-sela ketakutannya. Jantung berpacu lebih cepat dari biasanya apalagi suara teriakan histeris itu makin keras terdengar. Meskipun suaranya semakin dekat, akan tetapi di jauh sana Anggara menyenternya tak ada wujudnya sama sekali pada teriakan kencang tersebut.
Sekian lamanya Anggara berjalan yang bak ketua pemimpin jalan, ia berhenti, sedikit menyeret kakinya untuk menghindar sesuatu.
“Kok berhenti Ga?” tanyanya Freya yang berada di belakang Anggara.
“Sekarang di depanku ada jurang, kalau lompat kita bakal gak berumur panjang alias mati.”
“Eeemmm tapi kayaknya suara itu udah hilang deh, bukannya tadi kamu bilang kalau suara itu hilang kamu bakal balik,” ujar Freya.
“Yasudah, Kalau beg-”
AAAAAAAARRRRGGGHH !!!
Suara teriakan histeris perempuan yang tadi sekarang bergantian suara teriakan histeris dari seorang pemuda. Sumber suara tersebut berasal dari bawah jurang, Anggara mencondongkan badannya sedikit ke bawah untuk memastikan suara itu. Suara itu kembali muncul lagi bahkan lebih keras daripada sebelumnya.
‘Apa yang sebenernya udah terjadi? Bahkan gue gak bisa ngerasain aura dan gue rasa penglihatan gue di tutup sama seseorang.’
Anggara mengepalkan tangannya kuat dengan tatapan nanar melihat tangan yang ia kepalkan.
Ctek !
Suara jentikan jari yang di bunyikan dari belakang sementara Reyhan telah berada di samping Anggara. Suara sederhana biasa itu tak membuat Anggara menoleh ke belakang tetapi yang menoleh hanya Reyhan saja. Reyhan terkejut setelah ia menoleh badannya ke belakang, Freya dan Jova tak berada lagi di situ. Lalu kemana dua gadis itu?
“L-lho?! K-kok mereka gak ada?!”
“Siapa yang gak ada?”
“Anggara! Freya sama Jova yang gak ada!!”
Anggara tersontak ikut menoleh ke arah belakang, dan benar saja Freya dan Jova secara tiba-tiba tak ada di situ, padahal tadinya ada di belakang Anggara Reyhan.
“Freyaaaaa! Jovaaaaa! Hey, kalian dimanaaaa!!”
Reyhan berteriak memanggil dua sahabatnya yang menghilang dari ia beserta Anggara. Anggara ikut memanggil dua sahabatnya secara berteriak menyamakan Reyhan. Karena Anggara jarang berteriak yang membuat tenggorokan menjadi sakit dikarenakan Anggara jarang berteriak.
“M-mereka berdua gak mungkin jatuh ke jurang kan, Ga?!”
“Gak mungkin, nalarnya dimana kalau mereka berdua benar-benar jatuh ke jurang, pasti sedari tadi kita melihatnya dan satu lagi jika mereka berdua jatuh ke jurang, pasti dalem terjun ke bawah jurang di antara Freya sama Jova teriak meminta tolong kita.”
“Iya juga sih, terus mereka berdua dimana dong Ga?! Masa kita diam aja tanpa nyari kemana Freya Jova?!”
“Panik gak bisa selesaikan masalah,” ujar Anggara singkat.
Reyhan terdiam, sahabatnya benar ia tak seharusnya panik, itu bisa mengakibatkan gagal berpikir keras. Anggara mengedarkan pandangannya sekeliling.
“Bisa aja Freya sama Jova denger suara sesuatu yang mungkin kita gak denger.”
“Apa kita perlu balik ke tenda? Barangkali dua sahabat kita malah balik karena takut.”
“Kalau mereka balik, pasti mereka bilang sama kita,” jawab Anggara.
“Oh gue tau! Gue coba telpon salah satu dari mereka.”
Anggara mengerutkan keningnya. “Emangnya di hutan ini ada sinyal?”
“Gue bakal coba dulu.”
“Hm oke.” Anggara mengangguk dan kembali menerangi jalan yang ia berdiri.
Reyhan menyesal mengeluarkan HP-nya karena tenyata ponselnya tak ada sinyal. Tak bisa menghubungi dari salah satu dua sahabat perempuannya yang menghilang tanpa meninggalkan jejak.
“Gimana? Bisa gak?”
Reyhan menggeleng kepalanya. “Disini gak ada sinyal. Terus gimana sama Freya Jova, gue gak mau mereka berdua kenapa-napa!”
“Teriak juga percuma, mending kita langsung cari Freya sama Jova-”
“Freyaaaa! Jovaaa! Where are yooooouuu !!!”
Anggara hanya mampu pasrah Reyhan berteriak memanggil Freya Jova. Suara Teriakan panggilan dari Reyhan hingga menggema sepenjuru hutan malam.
Anggara kembali menyalakan senternya setelah Reyhan menyalakan senter. Tanpa Anggara sadari saat menoleh ke samping, Anggara melihat selembar kertas yang terselempit oleh batu-batu.
“Rey tunggu!”
“Hah, kenapa Ga?”
Anggara berjongkok dan mulai menyingkirkan batu-batu tersebut dari kertas yang tertindih. Anggara menyenter kertas coklat lusuh itu yang ternyata di situ tergambar sketsa bangunan Kastil besar.
“Kastil? Kok ada kertas gambar itu? Apa ada pengunjung hutan dulu yang menggambar Kastil itu?” tanya Reyhan.
“Gue gak tau.”
__ADS_1
“Halah, udahlah mending kita lanjut cari sahabat kita daripada pusingin gambar itu.”
Reyhan kembali berjalan meninggalkan Anggara yang masih berjongkok, Reyhan tak menyadari di bawah ada sebuah dedaunan yang berbentuk melingkar
SRAAKK !!!
“AKH!”
Reyhan yang hampir terjun ke bawah tanah, ia lebih dulu memegang dahan batang yang membuat ia bergantungan di situ.
“REYHAN?!”
Anggara dengan panik berlari dan memegang tangan Reyhan yang dirinya mau terjatuh ke bawah sana. Anggara menarik tangan sahabatnya dengan sekuat tenaga.
“A-anggara di belakang lo!!”
Seseorang mendorong Anggara hingga Anggara begitupun Reyhan jatuh ke bawah seperti dasar jurang. Dengan cepatnya mereka jatuh ke bawah yang permukaannya sangat kasar dan tak tahu apa yang terjadi dengan mereka selanjutnya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di sisi lain, Freya dan Jova telah berada di sebuah hutan yang berbeda daripada sebelumnya. Suasana gelapnya lebih mencekam dibandingkan hutan yang tadi. Keadaan mereka berdua tertatih-tatih karena merasakan tubuhnya jatuh dengan sangat keras dari ketinggian atas langit.
“Uagh! Sialan kita kenapa tadi, kok tiba-tiba kita jatuh kesini!”
Jova mengubah posisinya menjadi duduk dengan memegang kepalanya yang terasa sakit pusing. Freya pun juga ikut bangkit yang bersuara mendesis tertatih-tatih pada sekujur tubuhnya yang serasa remuk.
“Aw, aku juga gak tau- akh setau ku kita jatuh dari ketinggian atas langit deh.”
“Sialan brengsek bener anjir! Siapa coba yang ngirim kita ke alam nuansa momok horor gini?!”
“Pada sebelum kita disini, yang ku inget kita kayak di tarik seseorang tanpa wujud. Aku dan kamu berusaha berteriak meminta tolong sama Anggara Reyhan, tapi entah ngapa aku gak bisa ngeluarin suara ... tercekat rasanya.”
“Emangnya kamu doang, aku juga gak bisa ngeluarin suaraku bahkan membuka mulut saja, kek di lem!”
Freya menghela napasnya dengan masih mengusap-usap tangannya yang sakit akibat terhantam tanah. Seketika itu Freya mengedarkan pandangannya dengan mata terbelalak.
“B-berarti, kita terpisah dari Anggara sama Reyhan dong!”
“Bukan terpisah tapi lebih tepatnya dipisah! Mesti sekarang mereka nyariin kita yang menghilang tanpa jejak.”
Jova mulai bangkit berdiri dan membersihkan debu-debu yang menempel pada seluruh pakaiannya. Jova usai itu mengulurkan tangannya membantu Freya untuk berdiri. Tangan Freya terulur menerima uluran tangan sahabatnya, namun Freya merasakan salah satu kakinya ada yang terkilir hingga ia nyaris terjatuh.
“Aaaaww, kakiku!”
“Eh kenapa? Kakimu berdarah?!”
“Enggak, bukan .. kakiku kayaknya terkilir.”
“Sini-sini aku papah kamu.”
“Gak usah, aku masih bisa kok.”
“Jalanmu aja kesusahan gitu kok, udah sini aku bantu kamu jalan .. pokoknya kita harus keluar dari hutan ini paling enggak kita kalau bisa bertemu balik sama Reyhan Anggara.”
Jova mengangkat satu tangan Freya ke tengkuknya untuk memapahnya berjalan. Meninggalkan tempat tersebut dimana mereka berdua jatuh di situ.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Beberapa meter Anggara dan Reyhan terjun ke bawah layaknya dasar jurang, hingga tibanya mereka berdua jatuh menghantam tanah yang keras.
BRUGH !!!
Dengan bersaman Anggara dan Reyhan berteriak reflek dikarenakan kesakitan. Punggung serta kepala menghantam keras di tanah membuat itu rasa sakit hebat.
Anggara yang sedari tadi memejamkan mata, membuka matanya perlahan. Pertama ia lihat adalah sebuah langit gelap di atas tanpa adanya bintang-bintang indah. Reyhan menggulingkan badannya satu kali lalu bangkit duduk seraya menyentuh kepalanya yang terhantam tanah.
Anggara menolehkan kepalanya. “Gue gakpapa.”
Anggara mengubah posisinya jadi duduk dan mulai mengedarkan pandangan sekeliling tempat. Tempat hutan nuansa yang jauh amat berbeda, Anggara dan Reyhan sangat hafal pada hutan sebelumnya.
“Wanjir! Kita ada dimana woi?! Ini hutan apaan kok angker gini?!”
“Ada yang bawa gue sama Reyhan kesini?”
“Apa Ga?”
Anggara terkejut Reyhan masih bisa mendengar dumelannya dirinya. “Enggak bukan apa-apa.”
“Huft gue masih hidup, gue kira gue dan lo udah mati karena jatuh dari jura- lho bentar-bentar! Kita jatuh darimana dah? Kok di atas cuma ada langit-langit? Yakali gua sama lo jatuh dari awan malem!” kejutan Reyhan saat mendongak.
“Sepertinya kita emang sengaja di kirim ke alam sini, gue gak tau ini alam apa, yang jelas hutan ini jauh lebih beda dibanding hutan tadi,” kata Anggara.
Di samping Anggara terdapat kertas coklat lusuh yang ia ambil dari hutan yang sebelumnya, Anggara mengambilnya lalu kembali menatap gambaran tersebut.
“Apa ada hubungannya sama gambaran Kastil gede ini?”
“Gue gak tau pasti Ngga, rasanya janggal banget kalau gara-gara gambaran itu. Coba aja kalau gue hati-hati tadi, pasti gue dan lo gak masuk ke hutan alam setan ini!”
“Hhhh, bodoh banget, gue!”
“Udah, gak usah salahin diri lo sendiri, itu cuma kecelakaan. Lebih baik kita cari jalan keluar dari hutan ini.”
“Sekalian cari Freya sama Jova, gue yakin pasti mereka juga di kirim kesini juga.”
Anggara mengangguk setuju pada ucapan Reyhan, Anggara bangkit berdiri baik maupun Reyhan. Mereka berdua yang rasa sakitnya mulai menghilang, meninggalkan tempat tersebut disaat mereka jatuh lalu mencari kembali Freya serta Jova yang belum ketemu.
Mereka berjalan sambil mengecek senternya masing-masing apakah masih berfungsi atau sebaliknya. Senter itu masih menyala dengan cahaya terang. Di sepanjang perjalanan hutan, semua pepohonan gundul tanpa ada daun-daun di atasnya, selain itu banyak kabut tebal yang menghalangi jalan dua pemuda itu.
Hutan nuansa itu sungguh memacu adrenalin manusia termasuk Reyhan yang lelaki penakut. Anggara terlihat biasa-biasa saja tetapi di wajahnya terpampang jelas menggambarkan wajah waspada. Ada beberapa seekor burung gagak yang di atas pohon mengawasi mereka berdua. Tak terpikirkan oleh Anggara dan Reyhan, ada banyak sekali burung Gagak. Burung tersebut menatap misterius meskipun ia hanya hewan.
“Anggara, burung Gagak itu ngeliat kita kok kayak ada sesuatu ya .. gue takut nih kalau itu ternyata siluman.”
“Gak usah lo peduliin, terus jalan lihat ke depan jangan lihat kemana-mana selain hadap lurus.”
“K-kenapa? Pamali kah?!”
“Ck, bukan! Itu biar pikiran negatif lo gak kemana-mana. Gue tau lo cowok yang takut pada tempat yang angker, gue cukup kenal lo.”
“Ehm, oke Ngga thanks udah beri saran.”
Anggara hanya mengangguk tanpa menoleh ke Reyhan yang berjalan di depannya. Di hati Anggara bertanya-tanya ada apa dengan burung-burung gagak itu. Tepatnya di depan mereka sudah ada kabut tebal yang menghadang sangat tebal hingga dua pemuda tersebut tak dapat melihat jalan depan.
“Duh ini awan apa gimana sih?! Susah liat jalan, anjay!”
“Kabut bego! Bukan awan!”
“Suara lo serem Ga kalau ngegas, lo ngalahin suaranya Genderuwo.”
“Bodo amat.”
Reyhan berlari dan menarik ujung bawah jaket Anggara karena tak ingin tertinggal dari Anggara yang berjalan dalam kabut tebal.
“Apaan sih Rey! Gak usah narik-narik jaket gue! Gue tarik juga leher lo!”
“Psikopat lu Ga! Nanti kalau gue tersesat gara-gara kabut ini gimana hayo!”
“Ya bagus jadi gak ada lagi yang ceriwis kayak bebek.”
__ADS_1
“Tega kamu Mas, Dedek Reyhan mewek nih.”
“Ngomong gitu sekali lagi, gue cekokin mulut lo pake senter gue!”
“Garang ih!”
“Makanya mingkem!”
“Salah lagi, salah lagi, salah lagi! Apalah dosaku?”
Anggara capek menggubris Reyhan yang dari tadi banyak omong tidak ada habis-habisnya untuk berhenti sejenak. Anggara membiarkan Reyhan memegang ujung bawah jaket Anggara sampai tiba-tiba Reyhan kembali menarik-narik jaket Anggara dengan kencang.
“Ck, apaan lagi sih, hah!”
“A-anggara please berhenti bentar, gue denger suara kepakan sayap burung di atas langit deh!”
“Haaaahh ... suara kepakan sayap burung?” Anggara menghentikan langkahnya begitupun Reyhan yang terlihat ketakutan. Anggara dengan perlahan menoleh mendongak ke atas langit.
Sayup-sayup yang sedikit tertutup kabut, Anggara melihat jumlah banyak burung gagak yang mengepakkan sayapnya sembari menatap mistis Anggara dan Reyhan. Para burung tersebut mencondong tubuhnya ke arah dua pemuda yang menatapnya serius, tak terduga olehnya Anggara dan Reyhan, semua burung gagak itu terbang melayang ke arah mereka berdua seolah-olah mau menyerang.
“Reyhan ayo lari!” teriaknya sambil menarik tangan Reyhan dari pegangan ujung bawah jaket milik Anggara.
Karena terlalu tergesa-gesa senter yang di genggam Reyhan terjatuh ke tanah sedikit terlempar ke belakang hingga senter tersebut tak menyala lagi.
“Aduh gawat mak! Senter guru jatoh!”
“Udah, lo gak usah pedulikan senter lo yang jatuh, pentingin keselamatan nyawa kita berdua, Rey!”
Burung-burung Gagak itu terus mengejar Anggara Reyhan dengan brutal, mata merah menyala membuktikan kalau itu adalah burung Gagak setan. Tak ada henti tak ada rasa lelah berlari kencang menghindari kejaran dari para burung hitam menyeramkan tersebut.
Reyhan terjerat pada tali sepatunya yang terlepas membuat dirinya terjatuh dengan sangat keras dan tarikan dari Anggara sampai terlepas.
BRUGH !!!
“ARGH!”
Anggara yang merasakan Reyhan terlepas dari genggaman tarikannya, Anggara juga mendengar suara orang terjatuh jauh dari belakangnya. Anggara menoleh ke belakang yang Reyhan terjatuh posisi tengkurap. Terlambatnya Anggara, semua burung Gagak tersebut menarik-narik kuat hoodie belakang Reyhan dengan mulut runcingnya.
“Akh lepasin gueeee!”
Anggara berlari menghampiri Reyhan dan mulai melakukan sesuatu pada burung-burung Gagak wujud setan itu.
“Gagak sialan! Lepasin sahabat gue!”
Anggara melancarkan tendangannya ke tubuh burung gagak tersebut, bukan takut pada manusia pemuda pemberani itu, hewan itu malah merasa marah dan ingin menyerang mencabik-cabik tubuh Anggara.
‘Gagak itu pemakan daging manusia?!’ batin Reyhan dengan tubuh bergemetaran dan keringat dingin.
Anggara dengan cekatan melepas jaketnya untuk sebagai senjata melawan burung Gagak itu. Dengan tenaga penuh, Anggara menyibakkan jaketnya dan menghempaskan burung-burung Gagak tersebut hingga terhantam pohon tanpa daun di atasnya sebagiannya lagi terlempar kencang ke belakang jauh entah kemana.
BUAGH !!!
BUAGH !!!
BUAGH !!!
BUAGH !!!
Suara hantaman benturan itu terdengar sampai di telinga Reyhan. Anggara masih fokus menyerang, menghempas, menendang, memukul, menangkis pada serangan burung gagak tersebut yang makin banyak mendatang. Reyhan yang ingin bangkit membantu Anggara rasanya tak mampu, usai setelah para burung itu menarik-narik Reyhan tubuh Reyhan tak bisa lagi menopang alias sangat lemas.
Rambut Anggara teracak-acak berantakan, keringat tubuh membasahi tubuhnya begitupun sedikit membasahi kaus oblong putih lengan pendek Anggara. Di setiap menyerang, Anggara mendahului terlebih dahulu menendang Gagak setan itu. Reyhan membalikkan tubuhnya menjadi terbaring dan menatap lemah Anggara yang menyerang melawan burung-burung setan itu.
Burung Gagak yang kewalahan menyerang Anggara, terkena serangan hebat manusia pemuda Indigo itu hingga terpental semua. Takut tak ingin lagi melawan menyerang Anggara, semua burung Gagak tersebut melarikan diri terbang jauh tinggi ke langit gelap malam tersebut. Napas Anggara tersengal-sengal akibat tenaganya terkuras menyerang burung setan itu tadi.
Anggara menolehkan kepalanya ke Reyhan yang menutup matanya, wajahnya kembali pucat tak berdaya. Nampak Reyhan tidak bergerak di tengah ia terbaring, Anggara dengan panik menghampirinya segera jongkok lalu menyentuh kedua pundaknya.
“Rey? Reyhan, lo masih bisa denger gue, kan?!”
Reyhan membuka matanya lemah dan mengangguk menatap wajah Anggara penuh ekspresi cemas pada keadaannya. “Gue masih denger kok.”
Anggara menghembus napasnya lega dengan tersenyum sederhana. “Alhamdulillah deh lo masih hidup.”
“Yaelah ... gue belum mati,” ucap lemah Reyhan.
“T-tapi muka lo pucet banget gini?!”
“G-gitu ya .... padahal tadi .... Gagak itu cuma narik-narik baju gue, tapi gue gak tau kenapa gue lemes banget sekarang. Rasanya tenaga gue di serap ama Gagak setan itu.”
Anggara mengerutkan dahinya pada ucapan kalimat kata Reyhan yang di akhir. Ada perang pikiran antara nalar dan tidak nalar, sementara itu Anggara tak bisa merasakan aura, penglihatan miliknya serasa di hambat, dan firasat kuatnya.
Anggara memandang wajah Reyhan sendu, lalu mengangkat punggung Reyhan untuk posisi duduk. Reyhan menundukkan kepalanya memang terlihat sahabatnya Anggara yang ada disisinya benar-benar lemas.
“Lo kedinginan gak? Pake jaket gue kalau emang badan lo kedinginan.”
“Gak usah, gue gak kedinginan kok. Lebih baik kita lanjut nyari Freya sama Jova yok, tempat yang serem ini bahaya banget buat sahabat-sahabat cewek kita,” tutur lemah Reyhan.
“Lo yakin? Lo masih lemes gini, lo bilang mau nyari mereka berdua?”
“Halah, gue masih kuat kok. Tuh mending jaket lo di pake, daripada masuk angin.”
“Iya-iya gue pake.”
Kemudian Anggara memakai kembali jaketnya. Meskipun Anggara orang yang dingin kadang cuek, tetapi ia punya rasa peduli terhadap sesama termasuk para sahabatnya dan orangtuanya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di dalam Kastil yang begitu sunyi hampa ruangan tak ada keramaian sedikitpun. Kamar Cameron hanya ada suara api unggun di tempatnya. Cameron berdiri dengan tangan yang ia letakkan di atas meja buku simbol lingkaran bintang iblis. Cameron dan Gordio memantau intens pada layar pada lembar kertas buku lingkaran bintang Iblis.
“Cih, mereka sangat dekat bahkan saling peduli satu sama lain. Tak akan aku biarkan ini .. aku pasti akan membuat kedekatan mereka merenggang apa yang aku perbuat nanti pada Anggara termasuk Reyhan.”
Kwaakk !
“Hah? Ya kau betul Gordio, Pemuda yang bernama Anggara Veincent Kaivandra memang orang yang pemberani dan pantang mundur. Tetapi aku tak suka itu!”
“Karena kalian telah sudah memasuki alam gaib menarik ini, tunggu saja sebentar lagi kalian akan aku tarik kalian dengan bersama portal Arwah milik sang aku, huahahahaha!”
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Anggara berjalan sambil merangkul-kan tangan Reyhan di pundaknya. Langkah mereka melambat karena ada suara aneh lagi di depan tanpa ada penampakan wujud.
“G-ga .... itu suara apa lagi?” Mata Reyhan terlihat sayu sedikit menutup.
“Gue gak tau juga, kita lanjut aja jalannya- oh atau mau istirahat dulu?”
Reyhan menggeleng jelas. “Gak Ga, kita harus nemuin Freya sama Jova.”
Anggara mendesis mendengar suara lemah Reyhan serta melihat wajah pucat-nya. Anggara mengangguk mengiyakan Reyhan lalu melanjutkan perjalanan dalam melakukan pencarian kedua sahabat perempuannya yang tak kunjung jumpa.
Petir yang entah asal darimana menyambar ke tanah. Anggara dan Reyhan sama-sama memundurkan langkahnya agar tak terkena sambaran petir juga.
Kini munculah lubang lingkaran kecil yang lama-lama menjadi membesar seukuran besarnya pohon yang ada di sana.
“P-portal?!” terkejut Anggara.
Di dalam portal warna hitam terdapat lubang yang berputar-putar. Dalam sekejap waktu, Anggara dan Reyhan langsung di lempar kuat ke dalam portal hitam tersebut.
Apa yang akan terjadi berikutnya pada Anggara dan Reyhan?
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››