
Di perjalanan menuju ke rumah komplek Kristal, nampak Farhan fokus menyetir di dalam mobilnya sementara Reyhan diam dengan menyenderkan samping kepalanya di kaca mobil. Sampai-sampai akhirnya Reyhan membuka suara dengan menghadap kepala ke arah Farhan.
"Papa, Reyhan minta maaf soal perkataan Reyhan yang tadi ya .. Reyhan nggak bermaksud ngatain Papa seperti itu."
Farhan menoleh ke samping menatap anaknya yang menundukkan kepalanya merasa sangat bersalah padanya. Farhan tersenyum mengerti keadaan anaknya yang sedang sakit.
"Sudah, nggak apa-apa Rey. Papa maklumi kamu ngomong seperti itu .. udah gak usah dipikirin. Oh iya, ini kepalamu masih pusing?"
"Masih, Pa. Nggak tau kenapa, sekarang banyaknya pusing terus."
Farhan membalikan posisi pandangannya ke depan. "Kamu itu sebenernya nggak boleh kecapekan Nak, kamu belum sembuh total. Udah, pokoknya nanti sampai di rumah kamu harus istirahat di kamar. Untung aja besok masih minggu, jadi bisa istirahat penuh."
"Tapi Pa, Reyhan ada tugas mencatat sama tugas esai dari bu Sora Kimia. Kemarin sore Reyhan dikirimin tugas-tugas itu sama Jevran, masa Reyhan istirahat penuh tanpa ngerjain semua PR-nya?"
"Pentingkan kesehatanmu dulu dong Rey, kalau kamu paksakan kapan kamu sembuhnya? Kamu aja sakit dulu sampe satu minggu, parah kan?"
"PR-nya dipikirin belakangan aja, sekarang kamu tidur aja. Perjalanan kita berdua masih jauh lho."
Reyhan menganggukkan kepalanya lemah dan mulai menutup matanya sementara itu siku tangan kirinya menyangga sisi tempat tombol untuk membuka jendela kaca mobil, di situ kedua jari Reyhan antara jempol dan telunjuk menyentuh pangkal hidungnya.
Berselang menit kemudian, di dalam mata yang ia pejamkan Reyhan mendengar suara hembusan-hembusan yang di dekat telinga Reyhan. Reyhan berpikir AC mobil sedang bermasalah hingga terdengar hembusan yang berbeda.
"Pa, AC-nya kayaknya ada masalah deh."
"Eh udah bangun? Enggak kok, AC mobil kita bertiga nggak ada masalah. Rusak juga nggak ada," jawab Farhan dengan mengotak-atik mesin AC mobilnya.
"Mungkin kamu salah denger," sambung Farhan.
Reyhan baru sadar, dirinya dan sang ayah tengah melewati JL Jiaulingga Mawar tempat dimana rawan kecelakaan terjadi dan banyak memakan korban jiwa. Bulu kuduk tubuh Reyhan menaik bak landak, rasa meremang atau merinding tiba kembali. Entah pandangan mata Reyhan dan perasaan Reyhan atau bagaimana, jelas-jelas yang pemuda tersebut rasakan jalan pintas ini begitu mencekam dan lumayan gelap dikarenakan langit atas terhalang oleh daun-daun pohon menjulang tingkat tinggi. Jalan tersebut sangat sepi, yang menelusuri JL Jiaulingga Mawar hanyalah mobil Farhan sekaligus mobilnya Reyhan dan sang istri tercintanya Farhan yaitu Jihan.
"Reyhan ..."
"Kenapa Pa? Ngomongnya gak usah pakai bisik-bisik segala kali, kayak mau main rahasia aja sama anaknya hehe."
"Eh lah? Papa gak ngomong sama kamu deh perasaan."
"Masa? Jelas-jelas itu suara Papa yang manggil Reyhan pake nada bisik."
"Beneran, Papa itu gak manggil kamu, Rey. Mungkin salah denger lagi kali."
Tiba-tiba Reyhan merasakan hawa aura hitam di kursi belakang, dengan rasa penasaran dicampur rasa takut Reyhan memberanikan diri menoleh ke belakang. Mata Reyhan mencuat dan perlahan membalikan kepalanya posisi ke depan lurus dikarenakan sudah bertatapan oleh sosok Arseno yang menyeringai padanya.
"Reyhan, sampai kapanpun itu aku akan selalu hadir untuk meneror mu hingga kamu mati. Tapi aku tidak sabar mengambil energi di dalam tubuhmu. Karena, nyawamu adalah incaran ku."
Reyhan mematung tak bisa berkutik pada ucapan bisikan mengerikan dari Arseno, detak jantungnya berdegup sangat cepat.
"Nyawamu adalah incaran ku."
Arseno mengucapkan kata-kata barusan secara berulang-ulang, Reyhan mengepalkan kedua telapak tangannya di atas pahanya masing-masing karena telinganya terasa panas saat mendengar ucapan tersebut yang di ulang-ulang, jantungnya masih saja belum normal detaknya. Reyhan harus menunjukan ekspresi wajah biasanya agar tak di curigai oleh Farhan yang lagi fokus menyetir mobil.
Kini, dengan masih berucap kata yang sama Arseno menambahkan teror yang makin mendebarkan jantung Reyhan serta memaksimalkan ketakutan di jiwa Reyhan. Kaca depan mobil dipenuhi lumuran darah segar, tulang-tulang manusia sekaligus kepingan sebuah daging-daging busuk manusia yang berjatuhan layaknya hujan turun ke permukaan bumi.
Bau anyir dalam mobil menyeruak di penciuman hidung Reyhan, Reyhan menarik satu kali napasnya dan mencoba menahannya tanpa menutup hidungnya dengan tangan.
"Bentar lagi sampe, nanti istirahat langsung di kamar ya. Biar Papa sama Mama nyiapin makan malam."
Reyhan mengangguk saja tanpa mengeluarkan suara untuk menanggapi ucapan Farhan. Farhan tak bisa merasakan apa yang dialami oleh anak putra satu-satunya.
'Ayo dong Pa, ngebut aja kalau perlu!! Bisa-bisa anakmu ini mati konyol gara-gara nahan nafas terlalu lama.'
Rahang Reyhan mengeras, telinga Reyhan semakin memanas serta wajah pucatnya sudah terlihat. Reyhan berharap Farhan tak menoleh menatap Reyhan yang kondisinya tak aman seperti ini.
"Nyawamu adalah incaran ku."
Suara ucapan itu datang kembali yang sebelumnya menghilang, lagi-lagi dan lagi Arseno mengulang-ulang kata-kata tersebut dengan nada bisikan yang menyeramkan. Seketika aura dalam mobil terasa kelam hitam, itu yang Reyhan rasakan kini.
"HENTIKAN!! GUE BILANG HENTIKAAAANN!!!"
CKIIIIIIIIITT !!!
Farhan menepikkan atau mengerem mobilnya secara mendadak pada suara teriakan Reyhan untuk menghentikan mobilnya, menurut Farhan sendiri.
"Kenapa Rey?! Kok Papa suruh berhenti?? Baru sampai di rumahnya Pak RT masa di suruh berhenti? Kenapa? Ada apa?"
Reyhan tak merespon Farhan malah justru melepaskan sabuk pengamannya dengan terburu-buru lalu membuka pintu mobil kencang dan menutupnya secara membanting. Reyhan berlari secepatnya mungkin tak memedulikan warga-warga komplek melihat tingkah Reyhan yang lari-lari seperti di kejar oleh setan.
"REYHAN!! REY!!" teriak Farhan yang kepalanya mencondong keluar dari kaca mobil.
Jevran melongo yang sedang akan memasukan motornya ke dalam teras rumahnya. Pemuda itu bingung melihat tingkah tetangganya yang ngibrit membuka pintu gerbang rumahnya.
"Woi Kunyuk! Yaelah, itu anak kenapa lagi sih?! Variasi apaan coba?!"
Reyhan membuka pintu rumahnya cepat dan kembali berlari menuju ke tangga tanpa memedulikan Jihan yang lagi mencuci piring.
"Reyhan Lintang Ellvano! Nak! Hei, pulang gak ngucapin salam asal nyelonong lari kayak di kejar hewan anjing!"
Reyhan masih tak merespon dari segala orang yang memanggilnya mulai dari Farhan tadi, Jevran, dan Jihan barusan. Sang ibu memberikan protes pada anaknya namun anaknya tak menggubrisnya sama sekali.
"Sayang! Ya Allah, kamu kenapa sih sore ini?! REYHAN!!"
BRAKK !!!
Hampir saja piring yang berbusa sabun terlempar ke atas karena saking-nya Jihan kaget Reyhan menutup kencang pintu kamarnya. Jihan meletakkan satu piringnya yang berbusa di asah-asahan kemudian mencuci kedua telapak tangannya yang juga berbusa sabun.
Di kamar, Reyhan nampak bersandar di pintu dalam posisi duduk di lantai. Reyhan mendekap kedua lututnya sementara dagunya menopang di atas lutut. Tubuhnya gemetaran hebat, detak jantungnya juga tak kunjung normal kembali seperti semula. Kepala Reyhan berubah menjadi sakit hingga keluarlah cairan merah pekat dari lubang hidung Reyhan, Reyhan dengan segera cepat menyeka darah hidungnya yang mengalir tersebut.
Tak ada yang mengetahui bahwa Reyhan sedang di teror mati-matian oleh Arseno, tetapi hanyalah satu orang yang tajam tahu kalau Reyhan berkondisi jiwa tak aman. Pastinya dan tentunya si Anggara Vincent Kavindra pemuda Indigo Introvert.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Flashback On
'Rey, gue tau apa yang barusan lo pikirin. Gak peduli apa yang terjadi, gue pasti akan selidiki arwah itu.'
__ADS_1
Flashback Off
Angga yang teringat apa yang ia pikirkan barusan langsung meletakkan cangkir mug teh hangatnya hasil buatan teh yang ia minum
kemudian usai meletakkannya di atas meja, Angga bergegas menuju ke tangga pergi ke kamar mandi wastafel.
Angga benar-benar tak percaya Reyhan sekedar kepleset di kamar mandi, jelasnya pasti ada terjadi sesuatu hingga Reyhan berubah sifatnya. Setelah Angga tiba di wastafel dalam kamar mandinya, Angga hanya perlu berdiri tegak diam dan memejamkan matanya tenang. Angga sedang menajamkan indera penglihatannya melalui penerawangan mata batin miliknya. Meskipun di sekeliling Angga gelap karena posisi matanya ia tutup, namun Angga samar-samar melihat sosok antara satu manusia dan satu arwah, siapa lagi kalau bukan Reyhan dan Arseno?
Di dalam penglihatan mata gaib Angga, pemuda itu melihat Reyhan syok menatap hal-hal yang sangat mendebarkan jantungnya.
"Beberapa bola mata? Darah air di kran?"
Angga bertanya sendiri dalam mata yang masih ia pejamkan, kepalanya sedikit ia telengkan gambaran-gambaran yang ada di mata batinnya. Nampak, Reyhan bermohon-mohon pada arwah itu karena ia sudah tak bisa apa-apa, melawan pun tentu saja mustahil. Hingga pada akhirnya kedua alis Angga saling berkerut melihat tubuh sahabatnya di angkat ke udara kemudian setelah melihat gerak-gerik mulut Arseno yang sedang berbicara, Arseno dengan mudah menghempaskan tubuh Reyhan hingga sahabatnya Angga tersebut membentur tembok tepat di belakangnya.
Reyhan memegang kepalanya dengan kedua tangan yang kepalanya ikut terkena benturan tembok, Angga menggigit bibirnya serta mengepalkan satu telapak tangannya kuat-kuat. Rupanya itulah yang membuat Reyhan tidak sadarkan diri, benturan keras tersebut yang mengenai kepalanya membuat dirinya hilang kesadaran.
Angga membuka matanya cepat di sembari menghembuskan napasnya kasar, bola mata pada mata sipitnya bergerak kesana kemari.
"Arwah itu!!" geram Angga tak terima.
"Angga?"
Angga terperanjat kaget pada sendang suara nan lembut memanggil dirinya dari belakang. Ia memutar tubuhnya ke belakang untuk mengecek siapa yang memanggilnya.
"Eh, Mama udah pulang?!"
"Kamu kenapa kaget begitu, Nak?" Andrana celingak-celinguk apa yang dilihat anaknya. "Angga lihat lagi, ya? Dimana? Di sekitar sini?"
Angga menggelengkan kepalanya dengan melangkah mendekati Andrana lalu perlahan-nya pemuda itu memutar tubuh sang ibu lantas itu mendorongnya keluar dari wastafel kamar mandi.
"Udah Ma, nggak usah di bahas-bahas. Oh iya Mama sama ayah lapar nggak? Mau Angga masakin buat kalian berdua?"
"Aduh nggak usah Nak, kamu itu lagi sakit. Mending istirahat lagi di kamar. Mama mau nyiapin makan malam di bawah, nanti kalau udah waktunya makan malam, Mama panggil Angga buat turun, ya?"
Angga mencondongkan sedikit kepalanya ke depan. "Angga bantuin, ya."
"Nggak perlu Nak, Mama nggak mau kamu capek-capek nanti sakit-mu bisa kambuh lho."
"Mending kamu istirahat di sofa aja, nungguin Mama sama ayah selesai buat makan malam. Gimana? Daripada di kamar? Sendirian, kan jadinya malah tambah bosen."
Angga menyengir sedikit terkekeh. "Bukannya tadi Mama nyuruh Angga istirahat di kamar? Lah kok katanya udah beda suruhannya?"
"Yaudah sana gih belok ke kamar, Mama mau turun."
"Eh nggak gitu maksudnya Angga! Cuman tanya doang lho, hm yaudah-yaudah kita turun aja terus Angga duduk di sofa, puas kan?"
"Hehehehe gitu dong, itu baru anaknya Mama."
Angga menghela napasnya panjang dengan tersenyum seraya masih mendorong lembut punggungnya Andrana menuntunnya jalan melewati kamarnya Angga. Namun senyuman Angga demi sedikit menghilang karena bayangan-bayangan tadi masih menetap dalam benak pikiran dirinya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Matahari mulai terbenam dan saatnya matahari menggantikan bulan untuk menerangi malam yang akan datang.
"Duh, Ga ... Ga andai lu udah pulang dari Bogor, lu pasti tau keadaan Reyhan kayak gimana," gumam Jevran gusar.
Jevran memandang Reyhan dengan mata sayu-nya dimana posisi Reyhan terbaring di suatu kasur putih bersama Nasal Cannula (Selang oksigen hidung) yang terpasang di lubang hidung Reyhan. Bibir Reyhan nampak pucat pada mulutnya yang sedikit terbuka amat sedikit, matanya pula masih senantiasa tertutup.
"Vran, ini udah mau maghrib .. gak pulang?"
"Nanti aja deh Om, nunggu Reyhan bangun dulu habis itu Jevran pulang. Lagian kalau maghrib masa pulang sih Om, kan gak baik maghrib-maghrib keluar."
"Oh iya ya, hhh yasudah kalau begitu."
Di beberapa menit kemudian, secara sayup-sayup Reyhan mendengar suara beberapa orang yang mengusik dirinya. Reyhan perlahan membuka matanya dengan keadaan kepalanya yang terasa amat sakit, ia juga merasakan ada sesuatu yang janggal di hidungnya. Pandangan pemuda itu ternampak buram dan majulah seorang pria tinggi menghampirinya.
"Hai Reyhan, sudah bangun ya? Bagaimana keadaan dirimu? Sudah mendingan?"
Reyhan mengerjapkan matanya beberapa kali dengan lamban lalu pandangannya tak berpaling pada suara pria yang tak ia kenal.
"Anda siapa ...?"
Pria berkacamata serta berjas putih tersenyum ramah yang menatap pemuda itu seperti tengah linglung.
"Perkenalkan, saya adalah dokter Samuel .. Reyhan bisa panggil saya dengan dokter Sam."
"Dokter Sam?" Reyhan memejamkan matanya sejenak dan kembali membukanya pada pandangan yang telah jelas.
"Kenapa bisa dokter? Memangnya, saya ada dimana?" tanya Reyhan lemah.
Dokter Sam tersenyum. "Kamu ada di rumah sakit, Reyhan."
Seketika Reyhan begitu amat terkejut.
"HAH?! SAYA DI RUMAH SAKIT??!!"
Bersama kejutan teriakan suara yang Reyhan lontarkan, Reyhan langsung bangkit duduk dengan mata terbelalak lebar. Jevran segera memegang kedua bahu Reyhan dari belakang.
"Woi-woi, santai Bro! ... santai oke. Baru aja siuman, udah kayak gini."
"K-kok gue bisa ada di rumah sakit?! Emangnya apa yang terjadi sama gue sebelumnya?! Jelasin, Vran!"
"Eh buset dah! Iye-iye tapi lo tenang dulu, gak usah pake panik karna lu baru aja bangun dari pingsan. Oke?"
Jihan dengan gundah menghampiri anaknya lalu menyentuh puncak kepala Reyhan. "Sayang, tadi kamu ditemukan Mama sendiri pingsan di kamar."
Flashback On
Jihan berlari usai mematikan kran tempat asah-asahan cuci piring. Wanita itu menuju ke kamar Reyhan dan mengetuk-ketuk pintu kamar anaknya dengan panik.
Tok tok tok tok !!
"Nak-nak! Buka pintunya, sayang!"
__ADS_1
"Reyhan?! Nak, kamu dengar Mama kan?! Reyhan Ellvano?!"
Karena tak ada jawaban sama sekali di dalam kamar, dengan tak sabar Jihan membuka pintu kamar anaknya. Namun pintu tersebut nampak tertahan oleh sesuatu, membuat Jihan menundukkan kepalanya melihat apa yang membuat pintu kamar Reyhan tertahan.
"REYHAN!!"
Mata Jihan mencuat kaget saat mendapati Reyhan terbaring lemah di tepat belakang pintu kamarnya, karena pintu tersebut sulit untuk dibuka lebar karena tertahan tubuh Reyhan di dalam sana, dengan tak sungkan karena tubuhnya kecil, Jihan menyelipkan tubuhnya di sela-sela pintu kemudian berjongkok usai berjaya masuk ke dalam kamar anaknya.
Jihan menggeret tubuh Reyhan menjauh dari pintu lalu kepala Reyhan ia letakkan di paha Jihan yang posisi wanita itu tengah duduk di lantai. Air mata Jihan menetes disaat mengetahui hidung anaknya berdarah serta bekas darah di pangkal telapak tangan kanan Reyhan, mata Reyhan yang tertutup membuat Jihan begitu panik.
"Astaghfirullah Nak! Ya Allah bangun Nak! Kamu kenapa lagi, sih hah?! Hiks! Reyhan ayo dong sadar!"
Jihan mendekap tubuh lemah Reyhan dengan tangisan menjadi-jadi karena sudah terlanjur panik pada anaknya yang seperti ini. Di sisi lain, Farhan dan Jevran yang telah datang melongo terkejut mengetahui Reyhan tidak sadarkan diri. Jevran menutup mulutnya di luar kamar Reyhan sementara Farhan mendorong pintu kamar Reyhan untuk menghampiri istri yang dicintainya serta anak yang disayanginya.
Flashback Off
Reyhan hanya terdiam dengan mulut menganga lumayan lebar, bahkan ia tak tahu kalau tadinya ia tidak sadarkan diri.
"Biarkan Dokter jelaskan, kamu mengalami Anemia. Apakah Reyhan pernah sekali atau dua kali tiba-tiba merasa pusing?"
"I-iya Dok, tidak hanya sekali atau dua kali tetapi berkali-kali."
"Nah itu berarti darahmu terlalu rendah makanya kamu tadi pingsan. Untuk menjaganya hanya perlu dijaga pola makan-nya ya, dan sementara tidak boleh beraktivitas berat-berat dulu."
'Weh lah anjir, kenapa gue malah jadi kayak Angga kalau peraturannya begini? Haduh ...'
"Lalu Dok, apa yang membuat anak kami mimisan? Kejadian itu sudah tiga kali, Dok. Itu yang sebenarnya membuat saya dan istri saya risau pada anak kami," timpal Farhan.
"Itu karena Reyhan juga mengalami pusing yang berlebihan, Pak. Bisa jadi itu akibat dari Reyhan yang terlalu menggunakan aktivitas beratnya. Dan untuk penyembuhan anak Bapak dan ibu, Reyhan harus dirawat inap dulu di sini hanya malam ini saja, besok sudah di perbolehkan pulang."
"Waduh nginep deh," lirih Jevran.
"Aduh Dok, boleh tidak kalau hari ini saya pulang saja? Saya sudah baik-baik saja kok, Dok."
"Reyhan, tolong mohon turuti atas kata Dokter ya .. hanya satu malam ini saja kok, besok kamu sudah di perbolehkan pulang," jawab dokter Sam dengan mengangkat jari telunjuknya bersama senyuman lebar ramah pada pasiennya.
Reyhan menghela napasnya dan pasrah. "Yasudah kalau yang itu terbaik Dok, saya menuruti."
"Anjay, langsung nurut."
"Lu bisa diem gak, Vran?!"
Dokter Sam terkekeh dengan menggelengkan kepalanya mendengar tingkah ucapan pasiennya yang memarahi temannya meskipun sang pasien kondisinya masih lemas.
"Jangan lupa meminum obatnya ya, Reyhan." Dokter Sam nampak mengangkat plastik bening yang di dalamnya terdapat 3 tablet obat.
"D-dok, harus minum obat?!" tanya Reyhan tak menduga.
"Iya Reyhan, agar kondisimu bisa teratasi dari sakitnya. Dan juga lekas sembuh, jangan di tolak ya. Itu bukan racun, kok."
"Saya tahu Dok, e kalau begitu terimakasih."
"Iya sama-sama, Reyhan. Kalau begitu Dokter permisi dulu ya .. mari Pak, Bu, Nak."
"Baik Dok," serempak kompak respon 3 antara yaitu Farhan, Jihan, dan Jevran.
Dokter Sam melangkah keluar dari kamar rawat Reyhan. Usai Dokter Sam menutup pintu kamar rawat, Reyhan menempelkan telapak kirinya yang di infus ke mukanya.
"Kenapa gue bisa kena Anemia? Dulunya aja gue gak pernah sesakit kayak gini. Hhhh."
"Yang sabar ya Bro, inget kalau sabar pasti disayangi sama Allah. Allah pasti segera sembuhkan sakit lo ini, kok."
Reyhan melepaskan telapak tangannya dari jangkauan wajahnya. "Nggak usah sok ngajarin gue, lo."
Jevran yang mengusap-usap punggung Reyhan untuk bersabar, terhenti pada ucapan lontaran dari tetangganya. Farhan dan Jihan juga diam menatap Reyhan yang berbicara seperti itu.
"Bercanda, jangan dibawa serius hehehehe."
"Wah sialan lo, Nyuk!"
Jevran yang sebal langsung mencubit punggung Reyhan hingga yang dicubit mengaduh-aduh kesakitan.
"Dasar kepiting satu lo! Sakit anjir!"
"Hehehehehe, balasan buat lo. Sakit ya? Heleh paling gak seberapa, sakit pol tuh cubitannya si Jova, noh."
"Apaan bawa-bawa Jova?"
"Yeee siapa tau aja lu kangen sama cewek itu, sayang banget lho Rey belum ada yang punya. Sono dah besok pas sekolah di tembak hatinya, diterima kok tenang aja."
"Eh?! Woi lu apa-apaan sih, Vran?! Gak ada gak ada! Gue tuh anggep Jova sebagai sahabat gue doang, gak lebih. Bahkan untuk jadi pacar gue, gak mungkin. Bercinta pada seseorang, mending belakangan aja dah karna gue lagi gak mau berpacaran."
"Ehem! Yakin kamu Rey? Siapa tau aja kamu menyimpan hati buat Jovata. Orang yang kayak kamu begini, pasti ada yang mau lho. Masa gak nyadar, sih?" ledek Farhan.
"Papa! Apa-apaan sih?! Kok tiba-tiba malah ngomong ngelantur begini?! Gak jelas tuh!"
"Kamu itu ganteng, fans-fans mu di bawahan kelas kamu juga banyak. Lihat deh adik-adik kelas-mu. Pada klepek-klepek ngeliat humorisnya anak Papa heheheheh!"
"Eh?!"
"Hahahahaha! Heh Rey, lo napa dah ekspresi lo gak sesuai ekspektasi gue sama Om Farhan? Biasanya kan lo kalau di puji langsung terbang ke awan."
"Dih, kalau misalnya di sini ada Jova yang ada gue yang lagi enakan diterbangkan ke awan malah langsung di anjlok ke bawah jurang. Sablengnya kalau udah keluar, gue cuman miris doang tanpa kata."
"Hahahahahaha!!!"
"Lah, malah ketawa ..."
Reyhan yang menanggapi tawanya kedua orangtuanya serta satu tetangganya dengan lirih langsung menggelengkan kepalanya. Reyhan menolehkan kepalanya menghadap pemandangan di luar jendela. Langit malam yang bersemiliran angin meniup rambut coklat Reyhan. Di dalam diamnya Reyhan sekarang, ia merenungkan sesuatu pada keselamatannya belum selesai, Reyhan takut kalau memang Arseno berniat mengakhiri hidupnya.
Namun meskipun begitu, Reyhan di depan harus menunjukan sikap humorisnya terhadap orang-orang yang ia sayangi-nya. Jangan sampai Reyhan menunjukan sikap bedanya seperti tadi, ia akan menutupi masalahnya dari para sahabatnya, kedua orangtuanya dan lain-lainnya. Tentu dan tepatnya ini adalah sebuah rahasia Reyhan yang Reyhan simpan dan ia pendam sendiri.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1