Indigo

Indigo
EPILOG


__ADS_3

5 Minggu Kemudian....


Di luar ruangan kelas XII IPA 4, Reyhan mulai membentangkan tangan kanannya dengan menggenggam ponselnya. Hingga lelaki itu tersenyum lebar saat panggilannya yang melalui video, terhubung usai menunggu 3 menit.


“Bang Angga!! Wih, akhirnya diangkat juga, nih VC dari panggilan gue!” riang Reyhan.


Aslinya mau gue tolak panggilan video lo, tapi bokap suruh angkat. Definisi dipaksa! Lo ngapain, sih pake video call? Kenapa gak telepon biasa?


Reyhan tertawa melihat wajah Angga yang sedang kesal terhadapnya nang telah melakukan hubungan panggilan melalui VC via WhatsApp. “Bagaimana sama Terapinya tadi pagi? Lancar, kah?”


Alhamdulillah, lancar. Bukannya tadi pas di chat sekitar dua puluh menit yang lalu, udah kasih tahu ke elo?


“Sori, gue malah mendadak Amnesia!”


Kebiasaan. Masih muda, tapi ingatannya sudah tua, bahaya buat umur


“Yaelah, Ngga. Bahaya-bahaya gitu, tapi gak bikin usia gue kepotong, kan? Hahaha!” Ucapan Reyhan dengan gelak tawanya membuat Angga yang ada di dalam layar ponselnya, menggelengkan kepala.


Soal Terapi yang tadi pagi, sekarang gue lagi istirahat. Lelah juga ternyata karena harus bolak-balik ke ruangan


“Get well soon, Bro! Oh iya, berhubung karena ini udah bel pulang sekolah dibunyikan, kami semua mau jenguk lo di kota Bogor, nih! Gimana? Boleh, gak?” tanya Reyhan sambil menggerakkan ponsel miliknya ke arah teman-temannya untuk memperlihatkan.


Boleh sih, boleh. Tapi ini ke rumah sakitnya secara rombongan? Banyak banget yang pengen jenguk. Ada sepuluh lebih, ya?


“IYA! ROMBONGAN, KAMI SEMUA!!!”


Angga menyempatkan diri untuk menyipitkan kedua matanya saat gendang telinganya serasa ingin pecah karena mendengar teriakan serentak dari mereka semua termasuk sahabatnya, yang padahal ia sedang tidak menggunakan headset.


Haha, oke. Thanks banget, ya? Gue akan menunggu kalian sampai datang


“Sip, Bang Anggara! Tapi, ngeliat dari segi muka .. lo gak nanyain gue soal Freya? Jangan bilang lo udah lupain si cewek cantik itu?”


Dih, sembarangan lo kalau ngomong! Pacar gue, itu! Masa gue lupain? Emangnya gue cowok apaan buat Freya? By the way, perempuan gue mana? Di layar HP gak kelihatan soalnya


Reyhan tersenyum miring dengan tanpa ada rasa pegal karena terusan memegang ponsel. “Nah, nanya juga! Kayaknya emang kudu gue pancing duluan, dah.”


Jawab pertanyaan gue, Kunyuk !


“Iye-iye! Singa jantan amat, perasaan. Cewek tercinta lo lagi ngembaliin buku novel sama Jova di perpus sini. Ngapa? Kangen Freya, yak?” tanya Reyhan lagi untuk bermaksud meledek Angga.


Kalau iya gue kangen, kenapa?


“CIEEEE! UHUUUY, ASEEEEEEEK!!!”


Angga sedikit menggembungkan kedua pipi putihnya lalu mengempiskannya dan menghembuskan napasnya saat ia di sorak-sorak habisan oleh mereka. Memang tergolong makhluk hidup tengil, sih.


Yasudah kalau begitu. Gak ada yang mau diinfokan lagi, kan? Kalau memang nggak ada, gue tutup. Mau istirahat lagi


“Iya, Zeyeng. I miss you ...”


Anjir lo, Sialan! Mau muntah, gue dengernya tahu?! Sudahlah


Angga dengan gregetan, langsung mematikan panggilan videonya dari Reyhan. Tentu saja membuat lelaki Friendly itu yang berdiri di barisan paling depan, tertawa melihat tingkah sensinya Angga karena ulah nakalnya.


“Gas, lah kita- eh tapi bentar, biar gue kirim chat sama Jova dulu!”


Reyhan segera beralih mencari kontaknya sang sahabat perempuan Tomboy-nya untuk memberi tahu sesuatu kepadanya. Nampak sekarang pemuda itu tengah sibuk mengotak-atik keyboard layarnya.


“Kami tunggu kamu dan Freya di parkiran motor, ya.” Ia berbicara secara gumam sambil mengetik lalu segera mengirimnya.


“Nah, beres! Yok, Guys! Kita turun sekarang!!” semangat Reyhan mengajak seluruh temannya.


“Goooooo!!!” kompak mereka semua ikutan bersemangat seperti Reyhan yang kini melangkah menuju lantai pertama.


Bagaikan seorang kapten pemimpin jalan, mereka membuntuti dari langkah kakinya Reyhan yang menyusuri lorong-lorong kelas untuk menjumpai parkiran nang ada di luar bangunan besar SMA Galaxy Admara.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Angga mematikan ponselnya lalu menurunkannya ke bawah dengan memejamkan matanya untuk meredakan rasa sebalnya terhadap Reyhan tadi. Ingin melanjutkan istirahatnya akibat letih, tetapi malah diganggu olehnya. Tidak apa, namanya juga sahabat.


“Kesel banget itu mukamu?”


Pemuda tampan tersebut, membuka matanya lalu menolehkan kepala ke arah Agra yang tengah duduk santai di kursi sofa panjang bersama Andrana. Angga di atas ranjang pasien, mulai memasang wajah jengahnya sambil menatap ayahnya.


“Gara-gara Ayah.”


Agra membelalakkan matanya dengan menaikkan kedua alis hitam tebalnya, sementara ibunya Angga hanya menutup mulutnya untuk menahan tawa. “Kok, jadi Ayah yang kamu salahkan?”


“Iya! Ayah ngapain maksa-maksa Angga untuk angkat video call-nya Reyhan kalau pada akhirnya bikin kesel sendiri?” omelnya.


“Hahaha! Kirain Ayah, kenapa. Lagian buat apa kesal, sih? Orang itu juga, kan sahabatmu. Bukan banci,” jawab sang ayah.


Angga cukup mendengus saja karena sedang tidak ingin melakukan aksi perdebatan terhadap ayahnya yang kini tersenyum kemenangan. Sekarang ia mulai menaruh ponselnya di meja nakas lalu mengambil remote TV.


“Kamu mau minum ini?” tawar Agra dengan menyodorkan sebotol teh Pucuk Harum ke putranya yang hendak menekan tombol power pada remote.


Angga menoleh kembali, usai itu menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak, buat Ayah saja.”


Agra menghela napasnya dengan senyum yang berubah hambar. “Kamu itu semenjak pasca Koma, sering kehausan. Di minum saja tehnya, agar tidak gampang dan terkena dehidrasi.”


“Iya yasudah, mana sini tehnya.”


Agra tersenyum lalu bangkit dari kursi sofa dan melangkah menghampiri anak putranya untuk memberikan botol teh tersebut. Dengan lekas, Angga meletakkan sementara remote-nya yang ia pegang buat meneguk air teh segar itu usai membuka tutup botolnya.


“Dihabiskan saja juga gak kenapa-napa,” ucap ayahnya seraya balik badan untuk kembali duduk bersama Andrana.


“Perut Angga bisa kembung, nanti.”


Setelah menenggak minumannya hingga sampai empat kali, Angga menutup botolnya lalu siap menonton acara televisi di salah satu channel. Karena di genteng RS Medistra Kusuma dipasang para bola, lelaki Indigo tampan ini mampu bebas menyaksikan acara televisi apa saja.


Tapi baru saja selesai memilih salah satu channel untuk ia tonton depan mata, Angga langsung dibuat terperangah oleh jumpscare dari sesosok hantu menyeramkan yang ada di dalam layar televisi digital.


“Jantung gue hampir copot ...” lirih nada Angga dengan mengelus dadanya.


Andrana tersenyum masam dengan menatap wajah kagetnya sang anak semata wayangnya yang tangannya sibuk mengelus dada bersama mata terpaku pada layar televisi. “Untung saja kepalamu tidak terbentur di kepala ranjang, kamu ngapain nonton itu?”


“Film horor favoritnya Angga, Ma. Jadi lumrah kalau anakmu memilih nonton di satu channel TV ini.”


“Pantesan saja jadi sering buronan makhluk halus di dunia nyata dan alam mimpi. Kesukaan film-mu ternyata memang genre Horor,” timpal Agra.


Mata Angga melotot dengan menatap Agra yang sedang tersenyum sinis. “Eh! Ayah dulu semasa muda juga begitu, ya! Selalu berurusan dengan hantu.”


“Hahaha! Tapi, kan Ayah sekarang sudah tua, jadi jarang mendapatkan gangguannya dari makhluk gaib. Hantu lebih suka menyerang anak remaja seperti kamu.”


Andrana yang mendengar suara suaminya nang seperti mengajak Angga bertarung mulut ke mulut, mendengus dengan sesekali menggelengkan kepala.


“Sudah dong, Yah. Suka banget buat Angga kesal seperti itu. Ingat, anak kita berdua lagi proses menuju ke pemulihan, jangan dibikin naik darah. Nanti Ayah yang dapat teguran dari dokter Ello, siapa emangnya yang mau menolong?”


“Tuh, dengar.” Angga mendukung dari penuturannya sang ibu.


“Iya-iya, Ayah minta maaf.”


Kini sekarang lelaki yang telah masuk di umur 18 tahun, kembali memfokuskan pandangannya ke layar televisi. Inilah yang Angga gemari, suasana film nang penuh kegelapan dan mencekam, seolah mampu memacu adrenalinnya di sore hari.


Sampai pada akhirnya, Angga menghempaskan napasnya dengan posisi kedua tangan saling melipat di dada, sementara punggungnya ia sandarkan secara nyaman di kepala ranjang yang di belakang punggung miliknya telah dirinya sediakan bantal sedari tadi sebelum mengangkat video call dari Reyhan.


“Sssssh ...” desis Angga dengan memegang kening sentralnya, membuat Andrana lekas beranjak dari duduknya dan menghampiri anaknya.


“Ada apa, Nak? Kepalanya sakit lagi?” tanya lembut sang ibu sambil mengelus bahu kanan Angga setelah berada di samping ranjang pasien.


“Pusing,” launnya menjawab Andrana yang fokus menatap kondisi wajah pucat tampannya si Angga.


“Hmm, kebanyakan duduk ini pasti. Kan, kamu harus istirahat total, Sayang. Dibuat rebahan sama tidur saja, ya? Ayo, Mama bantu.”


Angga langsung melepaskan jari telapak tangannya yang masih menempel di kening, lalu melirik mata teduh ibunya. “Angga dari tadi sudah banyak rebahan lho, Ma. Masa disuruh tidur lagi? Bosen. Lagian kalau cuman rebahan tanpa melakukan aktivitas ringan, yang ada tubuhnya Angga tetap kaku.”


“Padahal waktu itu, tidurnya betah sampai setahun. Apalagi kayak gak mempunyai beban karena rebahan melulu,” celetuk Agra yang sekarang mengangkat kaki kirinya untuk beliau sangga di atas paha kaki kanan.


Angga yang merasa disindir oleh sang ayah, kembali lagi menoleh dengan perasaan hati yang kesal. “Itu Koma, bukan tidur, Yah! Ayah gak bisa bedain mana yang keadaan Koma dan yang mana keadaan tidur?”


“Ayaaaaah! Mulai lagi, kan? Bisa gak, sih sehari ini saja jangan membuat Angga keluar nada tinggi? Orang anakmu tidak ngapa-ngapain, lho. Malah diserang terus! Heran, Mama,” protes Andrana sesudah menoleh kepalanya ke belakang.


“Hehe. Ampun, Nyai Kraton!”


Istrinya yang melihat sikap Agra, menggelengkan kepalanya sambil memutar tubuhnya ke hadapan meja nakas untuk mengambil sesuatu untuk Angga. “Ini, nih faktor dulunya dekat sama papanya Reyhan. Jadi tertular, deh!”


“Hei, Ma. Meskipun demikian, Ayah masih memiliki jiwa aslinya Ayah, lho. Tapi mungkin setengahnya sudah milik jiwanya Farhan di dalam raga Ayah,” respon Agra.


“Haduh, terserah.”


“Lain kali kalau ayah sudah seperti itu, gak usah ditanggapi saja, Ma. Mungkin ayah sekarang lagi bungah, makanya jalan otak pikirannya kurang satu ons,” ujar Angga.


“Bilang apa tadi kamu, Ngga? Ayo coba ngomong seperti itu lagi. Lama-lama kualat, dirimu!” calak Agra.


“Maaf, Yah. Lagipula Ayah duluan yang mulai, jadi gak ada salahnya, kan jika Angga ikut-ikutan?” sahut putranya.


Seketika Agra bungkam mulut setelah mendengar untaian kata Angga yang mampu membuat beliau kehabisan ucapan untuk anak semata wayangnya.


“Nah, kan? Terdiam seribu kata!” seru Andrana.


Ayahnya Angga auto menundukkan kepalanya dengan mengusap tengkuk. ‘Bisa-bisanya aku dikalahkan anakku sendiri.’


Angga dan Andrana yang sama-sama memiliki kekuatan Indigo, tersenyum lalu tertawa lepas begitu saja usai dapat menerima suara hati Agra yang menggerutu. Sedangkan Agra nang ditertawakan istri sekaligus anaknya, hanya menghela napas dan memilih mengalah terhadap Angga. Indigo melawan Indigo? Haha, yang benar saja.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di lorong lantai 5, para remaja yang masih lengkap dengan seragam OSIS-nya bersama stelan jas almamater rapinya nang saling mereka kenakan, berjalan dengan penuh hati senang. Tetapi jalan mereka langsung terhenti saat melihat kedua perawat yang mendorong kasur roda bersama pasien nang ditutupi oleh kain kafan.


Hal itu membuat pandangan mereka terpusat pada pasien yang telah merupakan Jenazah tersebut. Bahkan tatapan fokus beberapa remaja itu, membuat kedua perawat nang mengenakan seragam putihnya, juga menghentikan aktivitasnya lalu menatap para anak muda itu.


“Gue, kok merinding, ya? Siapa yang ada di dalem kain kafan itu,” gumam Aji.


“Sus! Ini Jenazahnya siapa, ya?” Bodohnya Reyhan malah bertanya kepada mereka yang sedang menjalani tugasnya. Mungkin bertanya juga tak ada masalah.


“Eh, parah ini Bocah!” kaget Jova mendengar celetuk sahabat lelakinya yang penasaran terhadap nang ada dibalik kain kafan itu.


Salah satu perawat pria yang berusia 30-an tahun menjawab Reyhan, “Oh, ini Jenazah yang akan kami masukkan ke kamar mayat atas bernama Anggara.”


Mereka semua yang mendengar, begitu syok termasuk Freya nang diam. Namun berhubung dengan satu nama yang disebutkan, gadis Nirmala cantik itu menggelengkan kepalanya untuk tak memasukkan overthinking di hatinya.


“Anggara siapa, Sus? Apakah Jenazah pasiennya memiliki nama lengkap?” tanya Freya dengan penuh nada lembut.


“Punya, kok. Nama lengkapnya Anggara Iqbal Dimasantara. Kenapa emangnya, Dek? Ini semua temannya dari jasadnya pasien?”


“Oalaaaaaaah!”


Mendengar pekikan mereka, membuat Kenzo dan Freya mendengus lalu menggelengkan kepala secara kompak. Membuat perawat satunya yang berdiri di bagian kiri, menghempaskan napasnya kesal.


“Dasar anak SMA! Kalau ini bukan dari temen-temennya, gak usah menghentikan pekerjaan saya dan rekan saya, dong! Saya bentar lagi ada cuti, malah nambah-nambahin beban diri saya, huh!”


Bibir Freya nyengir. “Duh, tolong maafkan kami semua ya, Sus?! Maaf karena telah mengganggu tugas yang sedang dilaksanakan.”


Perawat pria yang berada di sisi kanan kasur roda Jenazah, mendesis mendengar amukan dari rekan kerjanya nang membantu melaksanakan sebuah tugas penting di rumah sakit ini.


“Eh! Gak apa-apa kok, Dek. Tidak masalah, wajar kalau ingin bertanya, kan? Hehe.”


Perawat itu kemudian menoleh ke arah rekan temannya. “Cuti saja yang ada di kepalamu! Kerja di sini juga gak pernah bener. Hati-hati kalau dipecat sama pihak rumah sakit Medistra Kusuma ini, saya tidak akan mau menolong sedikitpun!”


“Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Adek-adek sekalian?”


Beberapa remaja itu yang tadi dibuat terkejut setengah mati, menganggukkan kepalanya dan kini sekarang dua perawat tersebut mulai melangkah sambil mendorong kasur roda untuk menuju ke dalam ruang Jenazah.


“Hampir kena overthinking, kan?” tanya Kenzo yang bersedekap di dada dengan menyenderkan bahu kirinya di tembok yang berwarna cat cream.


“Kirain nama Anggara tuh, sahabat gue, Cuy!” pekik Reyhan seraya menatap Kenzo.


“Hadeh, kalau nama depan sama, bukan berarti identitasnya juga seiras, kali! Yang bener aja, orang Angga, kan lagi di dalam kamar rawatnya!” sentak Jova.


“Dasar, Suster kok baperan amat! Untung tua, kalau muda kek gue ... udah gue tonjok tuh, ginjalnya!” umpat Raka.


Pada akhirnya mereka semua yang sempat menghentikan langkahnya, kembali menyusuri lorong lantai 5 yang terkenal sepi untuk menuju ke ruang perawatannya yang Angga tempati di bagian nomor 205


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Brak !


“Gue kira yang mati elo, Vert!”


Angga yang selesai menelan obat pilnya bersama meneguk air putih, mendapati suara Reyhan beserta wujudnya. Lelaki tampan tersebut mendengus kesal karena suara lantang dan kerasnya sang sahabat, membuat ia nyaris tersedak.


“Sahabat Laknat! Ucapkan salam dulu! Malah asal teriak kayak begitu. Dateng-dateng, justru ngagetin!” protes Angga dengan menatap tajam Reyhan.


“Heh, siapa yang mati? Kamu itu, masuk ke sini langsung bikin kaget saja!” kata Agra dengan agak memekik.


“Angga, Om.”


Andrana yang masih berdiri di sampingnya Angga, melebarkan kedua mata. “Astaghfirullah! Lah, ini Angga di sini. Mungkin wajahnya saja yang mirip.”


“Gini-gini lho, Tante Andrana yang Cantik melebihi bidadari. Tadi tuh, kan kami mau sampe ke kamar rawatnya si Angga. Nah, kebetulan kami ngeliat ada dua suster yang giring kasur roda pake kain kafan. Ditanya, deh sama Reyhan. Nama pasien Jenazahnya siapa? Anggara. Dikirain nama lengkapnya Anggara Vincent Kavindra, eh tau-taunya ternyata 'Anggara Iqbal Dimasantara'. Gitu, Tan.” Jova menjelaskan.


“Ya Allah Ya Robbi, ternyata kalian salah paham hanya perkara nama?” tanggap Agra lalu menggelengkan kepala.


Angga yang mendengar dari penjelasan detailnya Jova, kembali melipatkan kedua tangan di dada bidangnya tetap dengan menyandarkan punggung. “Emangnya yang nama Anggara, cuma gue? Banyak! Terus, kalau itu raganya gue yang mati, lah ini siapanya? Setannya?!”


“Iye-iye, maap! Perasaan dari tadi sejak gue VC elo, sensitif mulu kayak kulit bayi baru lahir? Hehehe, good afternoon.”


“Hm, afternoon too.” Angga menjawab.


Reyhan cengengesan lalu memberanikan diri untuk menghampiri sahabatnya walau dari tatapan mata sungguh tajam. Wajar kalau ia kesal, karena memang Reyhan sengaja berbuat ulah buat memancing emosinya Angga.


“Gue ada sesuatu buat lo,” ucapnya lalu membuka resleting tas ranselnya dan mulai mengeluarkan sebotol susu aneka rasa cokelat.


“Di minum ya, Bro? Tadi sebelum ke rumah sakit ini, gue sempet mampir dulu di Indomaret hanya buat beli kayak gini.”


“Thanks, buah tangannya.” Angga menerimanya dengan gerakan tangan santai, meskipun ia tidak akan meminumnya dikarenakan perutnya telah kembung duluan akibat terlalu banyak minum air.


“Oh, iya! Ada cemilan yang lo sukai.” Reyhan yang teringat, langsung merogoh tangannya ke dalam tas untuk memberikan cemilan keripik dengan bumbu rasa ayam panggang.


Kemudian lelaki Friendly itu menyodorkan bungkusan makanan ke arah Angga. “Elo gak dilarang sama dokter soal makanan yang mengandung micin, kan?”


“Gak ada pantangan makanan sama sekali. Makasih banyak udah mau repot-repot belikan ini untuk gue, padahal gak minta.”


“Ye, buah tangan gak harus minta, yaelah! Gimana sama kondisi lo hari ini?” tanya Reyhan ramah sembari menenteng tas ransel abu-abu nya kembali ke pundak.


“Lumayan, tapi masih agak kaku dikit. Mungkin gue harus Terapi lagi sampai benar-benar pulih,” respon Angga.


“Semangat, Ngga! Nih, tadi aku sama yang lain mampir ke gramedia mall Jakarta buat beliin kamu buku novel genre Horor. Udah pastinya kamu bakal suka, deh atas pilihan terbaikku!” semarak Jova sambil memberikan dua buku novel kepada Angga.


Pemuda Indigo tampan itu dengan mengubah ke senyum masam, mengulur tangan kanannya sedikit untuk menerima dua buku novel terkini dari Jova. Mata dengan bola mata iris abu-abu autentik itu, menelisik setiap background cover pada kesemua buku tersebut.


“Bagaimana dengan uangmu? Kalau dilihat dari segi gaya buku ini, harganya lumayan mahal, ya?” ungkap Angga.


Jova dengan tersenyum menawan, mulai meletakkan tangannya di atas bahu kanan sahabat lelakinya. “Gak apa-apa, lah! Demi kamu, uang harus aku relakan. Kamu tahu, gak? Buku novel yang sekarang kamu pegang, baru rilis lho. Hm, sekitar tiga hari yang lalu kalau nggak salah. Gimana? Keren, kan?!”


Angga mendongakkan kepalanya untuk menatap Jova yang sedang berdiri di sisi kanannya, sementara Andrana sudah kembali duduk di kursi sofa bersama Agra.


“Kamu kenapa harus repot-repot sampai begini, sih? Tapi gak apa-apa, aku suka, kok sama dua buku novel ini. Makasih ya, Va?”


“Yey! Angga suka ternyata sama buku-buku novel yang gue beliin! Masama, Anggara yang seganteng Pangeran!” puji senang Jova.


Angga yang dipuji lebih oleh sahabat perempuan Tomboy-nya, menggelengkan kepala dengan tersenyum simpel. Ia sudah terbiasa dipuji seperti ini, apalagi kalau soal tentang yang sepele. Hingga tak lama kemudian, pandangan mata Angga bertemu pada seorang gadis cantik dengan wajah bak boneka impor dari luar negeri. Siapa lagi kalau bukan Freya?


“Freya? Kok, kamu memojokkan diri di tembok situ? Oh iya, aku sudah lama banget gak berjumpa denganmu. Jadi, maukah kamu memelukku? Aku rindu.”


Kedua mata Freya yang kering, menjadi kembali berair dimana bulir air mata telah menumpuk di pelupuk matanya waktu Angga membentangkan kedua tangannya dengan tersenyum lebar.


“Hiks, Ngga!”


Freya berlari kencang lalu mendekap erat tubuh kekasihnya yang memang sangat ia rindukan selama ini. Tetapi di dalam pelukannya, gadis itu menangis keras hingga membuat Angga membelalakkan matanya dengan sempurna karena kaget.


“Lho-lho?! Kenapa kamu nangis?!” Tidak mungkin Freya menangis seperti ini hanya karena amat merindukannya, pasti ada alasan dibalik derai tangisan air mata pujaan hatinya.


“Aku kira aku bakal memeluk batu nisan milikmu, Ngga! Tapi ternyata aku masih bisa memeluk ragamu, hiks! hiks! Aku benar-benar nggak menyangka kalau kamu kembali hidup di dunia, huhuhu!”


“M-maksudnya?! Aku gak ngerti!” Sungguh, seketika otak Angga menjadi blank.


Mereka terdiam seperti tak mempunyai jawaban untuk atas kebingungannya Angga terhadap Freya yang masih menangis sesenggukan di dalam pelukan tubuhnya. Kecuali, Reyhan lah yang akan menanggapi keterkejutan sahabatnya.


“Sebenarnya lo sudah mati waktu itu. Dokter menyatakan elo telah gak bisa diselamatkan lagi di ruang ICU tempat diri lo mengalami Koma. Tetapi sepuluh menit kemudian yang mendatang, tiba-tiba gak ada angin, hujan, petir lo bangkit dari kematian itu.”


Napas Angga langsung tercekat mendengar perkataannya dari Reyhan. Bahkan matanya melotot kuat karena amat syok atas penuturan sahabatnya.


“G-gue, mati suri ...”


Jova menganggukkan kepala. “Padahal aku, Freya, Reyhan, om Agra, tante Andrana, sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melepaskan kepergianmu setelah dokter Ello sama perawat ingin memindahkan kamu ke ruang Jenazah. Tapi kami bersyukur banget, karena Allah memberikan suatu keajaiban dan Mukjizat untuk mengembalikan jiwamu ke raga.”


“Itu momen bahagia yang paling pernah ada bagi kami berlima, Angga. Gue juga gak nyangka kalau lo bisa bertahan lagi. Gue kira dari detak jantung lo yang henti, sudah gak bisa berdetak kembali .. tetapi kenyataannya, sungguh membahagiakan hati kami semua,” ucap Reyhan.


Angga bungkam, pandangan matanya ke bawah karena masih tidak percaya atas apa yang pernah terjadi kepadanya di beberapa minggu silam. Namun pada akhirnya ia mempercayai kedua sahabatnya, mana mungkin mereka membohongi dirinya yang Indigo?


Freya kini mengurai pelukannya lalu menatap mata Angga dengan wajah sembab. “Hiks, aku gak bisa membayangkan kalau kamu beneran pergi tinggalin aku, Ngga! Karena aku takut banget jika kehilanganmu!” Gadis itu memeluk raga kekasihnya kembali yang mana tubuh Angga masih diam tak berkutik.


Tetapi mendengar kembali isakan tangisnya dari Freya, membuat Angga mengangkat kedua tangannya untuk membalas dekapan erat kekasih hati miliknya. Air mata pun perlahan keluar dan mengalir membasahi kedua pipinya, Angga memejamkan kedua mata seraya mengusap-usap lembut punggung mungil Freya.


“Maafkan aku, ya? Ternyata aku sudah buat kamu takut, padahal niatku gak membuatmu seperti ini. Mungkin semasa aku masih di dalam kondisi Koma, aku telah membikin kamu menangis sepanjang hari karena keadaanku yang parah. Maafkan aku ya, Freya? Maaf sekali!”


Freya menggelengkan kepala. “Enggak! Kamu sama sekali gak bersalah, kok! Kamu gak pernah ada salah sama aku, hiks! Aku se-takut ini karena aku sudah beberapa kali dihantui oleh mimpi buruk.”


“Mimpi buruk?” tanya Angga untuk memastikan kebenaran, seraya melepaskan kedua tangannya Freya perlahan dari pelukan raganya.


“Iya. Aku sering diberikan mimpi buruk tentang mengenai kamu. Bahkan yang buat aku gak tenang, di saat mimpi itu kita sudah menjadi mantan,” jujur Freya.


“Mantan? Kamu sampai mimpi yang seburuk itu? Astaga, tapi sebenarnya ada artinya, lho kenapa kamu mimpi itu. Barangkali setelah aku menjelaskan, aku bisa mengurangi rasa ketakutanmu.”


“Hiks, apa itu?”


“Begini, kamu mimpi buruk tentang aku karena di saat itu dirimu terlalu diserang oleh rasa takut dan kepanikan yang menjadi satu di hatimu. Bukan berarti kamu mimpi seburuk itu, aku akan meninggalkanmu. Paham, sekarang?”


Mata Freya membulat. “Jadi, aku hanya diserang rasa ketakutan dan kecemasan yang hebat?! Bukan yang akan menjadi fakta?!”


Angga menggelengkan kepala dengan senyum manis. “Enggak, dong. Coba kamu lihat, aku masih di sini, kan? Belum pergi?”


“Enggak, kamu masih menginjak planet Bumi, kok.”


Dengan hati yang bungah, Angga kini bergantian mendekap tubuh wangi milik Freya. “Jangan pernah sedih lagi, ya? Aku tetap di sini, kok untuk kamu. Biarpun selamanya, kita selalu bersama.”


“Aamiin, itu yang aku harapkan! Semoga ini yang terakhir kamu mengalami insiden malapetaka itu, ya?! Aku gak mau kamu menjadi korban aniaya lagi, hiks! Itu cukup membuatku trauma.”


“Iya, Freya. Dan aku terimakasih banget denganmu karena kamu sudah sukarela menyumbangkan darahmu untuk aku. Hanya karena aku mengorbankan diri, kamu langsung membalas itu semua. Tapi, padahal kamu paling takut kalau soal jarum. Ya, kan?” ujar Angga.


“Aku gak peduli, Ngga! Lebih baik aku mementingkan keselamatan nyawamu karena kehabisan banyak darah, daripada harus menghindari rasa sakit di tubuhku.”


Angga kini dengan senyuman lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya di bagian atas. Dirinya sungguh bangga dan tidak menyesal mencintai seorang perempuan hebat seperti Freya.


“Subhanallah, Mama terharu sekali dengan sikapnya Freya! Kalian berjodoh-lah, supaya Mama bisa cepat menjadi besannya tante Rani!” pekik gembira ibunya Angga.


“T-tunggu Angga lulus Wisuda dulu, Ma. Jangan terburu-buru, masih juga jalan. Nanti kalau sudah pada waktunya, Angga akan lamar Freya.”


“ANJAAAAAAAAAY!!!”


Mulai hebohnya, kan?


“Aamiin, Ya Allah bisa langgeng! Ayah juga tidak sabar menjadi besannya om Lucas, kira-kira mau menimang cucu cowok atau cewek, ya?” Ucapan bahagianya Agra membuat putranya terperanjat kaget.


“Ayah sama saja!”


“Gila, Om Agra pikirannya sudah jauh banget sampe nabrak satelit luar angkasa. Tapi Reyhan juga gak sabar buat Angga nyebarin kartu undangannya, hehehe!”


Angga beralih menatap Reyhan dengan mulai memasang tampang jengkelnya. “Lo emang gak ada duanya, ya? Capek gue ngadepin orang Stress kayak elo!”


Tangisan Freya yang tadi berlangsung kini tergantikan menjadi senyum dan tertawa, karena melihat tingkah lakunya Angga, Reyhan, Agra, dan Andrana sekalipun.


“Nah gitu, dong. Tersenyum dan tertawa. Kamu jangan menangis lagi, ya?” Angga menghapuskan air matanya Freya dengan sebatas menggunakan jari jempolnya saja.


Freya menganggukkan kepalanya hingga kedua tangan Angga kembali menarik tubuhnya untuk memeluknya. “Aku cinta kamu, Freya.”


“Aku juga cinta kamu, Anggara.”


“Udah dong, melow-nya. Bikin baper aja, emangnya cuma Freya doang yang kangen? Kami juga!” protes Jova.


“Tahu, tuh! Masa pacarnya aja, sih yang digunain? Sahabat-sahabatnya juga digunain, lah! Gak adil, Anjir!” timpal Reyhan.


Angga yang mendengar omelan dari kedua sahabatnya, tertawa lalu membentangkan satu tangannya ke samping. “Okay, come on.”


Mereka semua yang melihat adegan cerah dan manis ini, terharu dengan tersenyum lebar menatap keempat remaja itu saling berpelukan. Bahkan Andrana sampai menyentuh dadanya saking hatinya sangat terenyuh, sementara Agra bersama senyumannya merangkul lembut tengkuk istrinya.


“Thanks, karena lo sudah mau bertahan hidup demi kami bertiga, Ngga.”


“Aku bersyukur banget karena semua keyakinan dan kepercayaan diriku terhadap kondisimu yang dulu, terkabulkan dengan indah.”


“Kamu memang lelaki yang kuat bagi kami semua, Angga. Separah-parah apapun Koma-mu, tetapi ternyata kamu berhasil melampauinya.”


Angga tersenyum lebar setelah mendengar segala rentetan perkataan yang keluar dari mulut kedua sahabatnya dan kekasih tercintanya. Cukup memberikan senyuman, telah mampu menghangatkan suasana dalam ruangan ini.


“Akhirnya, hari-hari yang dulu dipenuhi kelam dan kepedihan, sekarang berubah menjadi penuh senyuman bahagia di antara mereka bertiga. Gue sangat lega, karena Angga kembali bangkit.”


“Bener, Ji. Gue kira akan menjadi suasana yang dipenuhi lumuran air mata dan kedukaan yang mendalam, tetapi rupanya really be perfect,” ungkap sumringah Jevran.


Kini rasa kesedihan, kerapuhan, kehancuran, telah musnah dikarenakan Angga yang mereka dambakan kembali bangkit dari kematiannya. Kemungkinan besar, jika lelaki tampan itu pergi, akan ada patah hati nasional yang melanda.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


2 Bulan Kemudian...


Pagi yang cerah ini, terlihat di rumah Freya dipenuhi keramaian meriah dimana di dalam ruang utama sudah digantung para balon warna-warni beserta hiasan glamor lainnya. Beberapa remaja juga telah banyak yang berkumpul di sana dan kini sambil memejamkan mata waktu menghayati suara merdu nan konvensional dari seseorang yang bernyanyi bersama gitar akustik hitamnya untuk sebagai alat musik pengiring.


♫ Hidup ini takkan indah


Tanpa kau ada di hati


Ceria ini takkan ada


Tanpa kau ada di sisi ♫


♫ Kekasihku, kau bunga mimpiku


Tiada yang lain, hanya dirimu


Yang kusayang dan selalu kukenang


'Kan selalu bersama dalam suka dan duka ♫


♫ Dirimu satu yang kumau


Takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah, kasih, kaulah dambaanku ♫


Sekarang Angga yang tetap memainkan senar gitarnya untuk mengalunkan sebuah lagu romantis kepada Freya, menatap mata manik indahnya sang pujaan hati bersama senyuman yang mengembang di wajah tampannya.


♫ Walau 'kan datang badai menghadang


Kita 'kan selalu bersama


Tetap satu dalam cinta


Tiada yang mampu berubah ♫


♫ Dirimu satu yang kumau


Takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah, kasih, kaulah dambaanku ♫


Mereka semua nampak terhibur mendengar Angga bernyanyi dengan penuh penghayatan dan bahagia, bahkan suara merdunya dari lelaki Indigo itu, sampai menuju ke arah ruang keluarga tempat dimana Andrana, Agra, Rani, serta Lucas bersinggah di kursi sofa panjang untuk berbagi cerita tentang masa lalu yang penuh kemanisan.


♫ Wajah manis yang lembut dan ayu


Bagaikan untaian mutiara


Takkan kulepas hingga akhir masa


'Kan selalu bersama dalam suka dan duka ♫


♫ Dirimu satu yang kumau


Takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah, kasih, kaulah dambaanku ♫

__ADS_1


♫ Dirimu satu yang kumau


Takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah, kasih, kaulah dambaanku ♫


“Happy birthday, Sayangku.”


Beberapa remaja yang telah mendengarkan nyanyian dari Angga sampai akhir, membuka matanya lalu bertepuk tangan dengan ria. Angga yang dihadiahkan kemeriahan tersebut, hanya tersenyum saja kemudian meletakkan gitar hitam miliknya di samping kursi tempat dirinya duduk bersampingan dengan Freya.


Freya menarik senyuman manisnya untuk Angga yang mana gadis itu mengenakan gaun pendek warna peace gaya ciamiknya bersama model rambut yang ia bentuk kuncir miring. Tentu saja menjadi terkesan cantik karena Freya jarang sekali yang namanya mengubah gaya rambut selain digerai.


“Suara dari nyanyianmu, merdu banget hingga memikat hatiku. Terimakasih, ya kamu sudah membawakan lagu indah ini.”


Angga menganggukkan kepala dengan tak ingin melenyapkan senyuman bibirnya. Bukan hanya Freya saja yang terpana akan senyuman tampan dari Angga, tetapi mereka semua yang merupakan perempuan, sedangkan seperti lelaki lainnya tersenyum lebar dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan.


“Suaranya Angga bikin candu, pecah abis! Jarang banget gue denger nyanyinya dari pacarnya si Freya! OW MAI GAT!!” heboh Lala.


Angga beringsut menoleh ke arah Lala yang duduk di lumayan pojokan. “Makasih pujiannya.”


“Aaaaa! Masama Anggara yang paling Ganteng seduniaaaaa!”


Freya yang tadi tersenyum, mengubahkan gaya bibirnya bak sedang tengah cemberut. “Hati-hati sama ngomong gantengnya, Angga punyaku!”


Kekasihnya Freya justru kembali menoleh kepalanya karena terkejut mendengar perkataannya yang rada sewot. “Eh! Cemburu, nih?”


Para remaja tertawa kencang menengok wajah sinis Freya terhadap Lala, termasuk Kenzo yang juga tertawa walau kecil. Sementara Angga hanya menggelengkan kepala dengan terkekeh pada tingkah laku barunya si pacar.


“Iya-iya, Angga punyamu! Tapi andaikan kamu bukan pacarnya dia, pasti udah aku curi hatinya Angga, kyaaaaa!” sorak Lala.


Freya dengan mendesis kesal, langsung merangkul tangan Angga yang ada di tepat sebelahnya. “Pokoknya gak boleh! Dosa, kalau ngambil pacarnya orang! Tuh, mendingan kamu pacaran saja sama Jevran, mumpung dia masih Jomblo.”


“Uhuk-uhuk! Hm? Aku?!” Jevran yang kaget sampai tersedak potongan kue tart stroberi, menunjuk diri sendiri sambil menatap Freya serius.


“Hahahaha! Hebat, Frey! Emang sahabat cewekku yang top markotop, dah! Aku setuju kalau Lala jadian sama Jevran!” pekik gembira Reyhan seraya bertepuk tangan riang.


“Wa, I'm too !” sahut Jova.


“Argh, Shibal (Sialan) kalian berdua!” kompak kesal antara Jevran dan Lala.


Angga yang gemas terhadap Freya, mulai mengacak-acak rambutnya. “Sekarang makin tengil, yaaaaa!”


“Hehehehe! Jangan marah, dong La, Vran? Aku cuma bercanda doang, kok.” Freya mengangkat dua jari tangannya untuk mengajak mereka berdua damai dengannya.


“Aku gak marah samamu, Frey. Tapi itu, lho si Kunyuk sama Sableng satu! Ngajak perang tempur, emang!” sungut Jevran.


Freya kemudian mengambil piring kecil yang di atasnya ada sepotong kue tart stoberinya, lalu gadis itu memberikannya kepada Angga yang tengah memperhatikan teman-temannya bersama senyumannya.


“Angga? Nih, mending kamu makan saja dulu kuenya. Pilihan mamamu memang hebat, deh. Kuenya juga lezat.”


Angga memiringkan kepalanya dengan tersenyum miring. “Kayak anaknya, kan?”


Freya mendorong pelan wajah tampan dari kekasihnya sambil tertawa lirih. “Kamu sekarang beda banget, ya? Pede!”


“Hahahaha! Ya, dong. Semakin menanjak usia, aku harus berubah!” ucap Angga lalu mulai menyendok kue ulang tahunnya Freya.


Aji yang tersenyum lebar, mulai menanyai Angga pada suatu hal, “Ngga? Gue boleh tanya sesuatu, gak? Kenapa di umur delapan belas tahun lo ini, lo jadi berubah drastis kayak gini? Banyak senyum, tertawa, apalagi ramah. Seolah-olah, gue mendapatkan teman baru yang wujudnya sangat persis dengan lo.”


Angga meletakkan piring kecilnya di atas meja yang mana kuenya masih tersisa, ia kemudian mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Pemuda itu sesudahnya, menatap Aji dengan bersama muka raut teduhnya.


“Lo ingin tahu alasannya kenapa gue jauh berbeda daripada di saat umur gue masih dibawah delapan belas tahun?”


Aji menganggukkan kepalanya antusias. “Emang apa alasannya?! Gue pengen ngerti.”


“Gue sudah terlepas dari masa lalu yang mengekang jalan hidup gue. Sekarang, gue bisa merasakan bahwa gue sudah tidak mengalami beban hidup yang selama ini gue hadapi sampai dewasa.”


“Oh. Jadi itu ya, alasannya? Hebat, Ngga! Karena gue sudah tahu semua tentang masa lalu lo di waktu kecil. Ternyata ngeri banget, ya jadi elo? Tapi gue salut banget, karena lo sanggup bertahan untuk melewati semua ini. Perfecto !” buras Jevran.


“Huh! Itu semua gara-gara Gerald, Anjir! Udah main fisik ke Angga sampe buat Angga Koma setahun! Apa, sih mau dia?! Ya, oke gue tahu! Gerald pengen si Angga mati!” raung Rangga emosi.


“Sudah, Ga. Gak apa-apa, gue sudah baik-baik saja, kok. Dan lo jangan pernah lagi membicarakan tentang Gerald, dia sudah meninggal. Setidaknya nama buruknya jangan disebut kembali,” ujar Angga untuk menenangkan hati temannya yang emosinya sedang memuncak.


“Ah, gak urusan gue, Ngga! Malah bagus, kan kalau kebiadabannya disebut-sebut?! Biar siksaannya dia dipertambahkan di api Neraka Jahannam! Orang yang keparat kayak gitu, emang harus mendapatkan siksaan abadi yang merajalela!” lolong Reyhan.


“Hahaha! Emang ada hikmahnya Reyhan kecelakaan hingga Kritis selama tiga hari. Di lokasi itu, Gerald langsung terkena senjata makan tuan! Mampos tubuhnya remuk dan hancur berkeping-keping! Bahkan nih, ya .. seluruh rakyat di dalam negara kita, berhati merdeka atas tewas ngenesnya Gerald Goblok Avaran Dedaka!” damprat Jova.


“Astaghfirullah ...” gumam Angga mendengar Jova yang mengolok-olok Gerald nang telah menjadi Almarhum.


“Gerald mati, aku bahagia sejahtera!” pekik Freya dengan sumringah penuh lebar.


Angga beralih menghadapkan kepalanya ke arah Freya yang menyandarkan punggung di sandaran kursi event. “Frey, dimana-mana orang kalau mati pasti sedih dan berduka. Tapi kamu malah justru senang, jangan kayak gitu ...”


“GAK CUMA FREYA, KOK. KAMI PUN JUGA SAMA SENANGNYA!”


Pemuda dari musuh bebuyutannya Gerald, terperanjat kaget pada suara nada tinggi mereka kecuali Kenzo dan Freya yang hanya diam. Hal itu, membuat Angga menggaruk-garuk tengkuk putihnya dengan senyum kecut.


“Emang kenapa sih, Ngga aku gak boleh bahagia soal Gerald yang mati?! Cowok bajingan kayak dia itu memang harus mendapatkan balasan yang setimpal! Aku gak mungkin sudi karena kamu selalu ditindas habis-habisan sama Gerald!” benci Freya usai mendengus.


“Allahu Akbar! Ngomongnya dijaga, gak boleh bicara kasar seperti itu!” pekik Angga seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir tipis kekasihnya.


Mata Angga yang melotot menjadi redup dengan menampilkan wajah sendunya. “Jangan berbicara amoral seperti yang barusan, ya? Kamu perempuanku yang lemah-lembut. Kamu gak pantas mengeluarkan perkataan yang tidak seharusnya dilontarkan. Oke?”


Air mata Freya turun di waktu Angga mengucapkan nada lembut tersebut dengan mengusap pipi mulusnya. “Dia jahat banget sama kamu, Ngga ...”


Angga mendekap raga mungil Freya. “Iya, aku tahu Gerald jahat.” Kini sekarang lelaki tampan tersebut, menggerakkan telapak tangannya untuk mengelus kepala belakang Freya. “Tapi kamu jangan berbicara seperti itu, paham? Selama ragaku masih mampu menemanimu, jangan pernah mengumpat hal kasar dalam bentuk masalah apapun. Aku gak mau, pikiran dan hatimu menjadi rusak karena tenggelam di masa lalu.”


Gadis cantik itu, menarik ingusnya lalu membalas pelukan hangatnya Angga. “Maaf ...”


Angga melepaskan pagutannya kemudian menghilangkan bekas air mata Freya yang masih basah di bagian pipinya. “Iya, gak apa-apa. Sudah, jangan nangis. Ini hari ulang tahunmu yang ke delapan belas tahun, lho. Jadi kamu harus bahagia, apalagi karena aku masih ada di sini, kan?”


“Hm'em. Selain bahagia karena ada yang merayakan ulang tahunku, aku juga bahagia karena di ulang tahunku ini kamu masih ada di dunia,” tutur Freya dengan tersenyum.


Angga mendekatkan bibirnya di kening sentral milik Freya untuk mengecupnya singkat lalu memundurkan jarak kepalanya dari kekasihnya. “I love you.”


“I love you too,” balas Freya dengan senyum penuh arti.


“Woy lah, Angga! Lo bisa gak, sih nggak usah bikin kejiwaan Jomblo gue meronta-ronta?! Iri, Anying!” kesal Ryan.


Angga menolehkan kepalanya ke arah temannya yang lahirnya di daerah kota Semarang tersebut. “Heh, iri adalah penyakit hati. Tapi lo Jomblo akut, bukan urusan gue.”


“Sialan lo, Ngga! Gelut, kita?! Ayok!” tantang jengkel Ryan saat mendengar Angga tertawa meledeknya.


Dengan berani, Angga hanya terkekeh geli lalu matanya terbentur pada Reyhan yang diam dengan hati yang sedang dirundung emosi karena kembali mengingat kejadian pahit dan malapetaka itu, apalagi berhubungan dengan peristiwa parahnya Angga.


Lelaki Indigo itu, menghembuskan napasnya lalu segera bangkit dari kursi untuk memarani Reyhan yang duduk di seberangnya. Angga duduk di samping pemuda Friendly tersebut yang mana pandangan matanya kosong.


“Rey?”


“Hm?” respon Reyhan sambil menoleh sedikit ke arah Angga yang telah duduk di tepat sebelahnya.


“Jangan memikirkan tentang masa lalu itu lagi, gue mohon. Semuanya sudah tuntas, dan diri gue juga telah hilang dari beban hidup. Mungkin di mata lo, gue terlalu baik dengan Gerald. Tetapi sebenarnya gue ada rasa marah-kecewa di saat dia melakukan sesuatu untuk menghancurkan semua reputasi gue.”


“Meskipun gue marah apalagi kecewa, bukan berarti gue menyimpan rasa benci dan dendam. Karena jika di sisi hati gue ada itu, kekuatan Indigo ini akan menjadi sia-sia dan berubah menjadi aura negatif,” ulas Angga.


Reyhan yang 1 menit lalu memalingkan wajahnya dari tatapan Angga, kembali seperti semula dengan tampang lumayan kaget. “Lo serius?”


“Gue serius. Buat apa gue bohong? Emang lo mau, gue jadi seperti Emlano? Gak, kan?”


Reyhan menggelengkan kepalanya, dan Angga mulai merangkul tengkuk sahabatnya dengan senyuman lebar. “Tolong jangan menyimpan benci lagi, ya? Lupakan semua dan anggaplah peristiwa itu tidak pernah terjadi. Semuanya telah berlalu sudah.”


Reyhan menutup matanya sejenak untuk menarik napasnya dengan panjang lalu menghembuskannya keluar agar emosinya cepat mereda. “Ya, oke.”


“Ku bukan superstar kaya dan terkenal, ku bukan saudagar yang punya banyak kapal. Ku bukan bangsawan, ku bukan priyayi. Ku hanyalah orang yang ingin dicintai~” Suara nyanyian Aji yang terdengar sumbang, membuat menjadi pusat perhatian oleh kesemua temannya.


“Lo yang nyanyi, gue yang sesak nafas.”


Aji tersentak kaget saat Angga berkata seperti itu, bagaikan sedang menghinanya. Bagaimana tidak terima, si Aji? “Sompret lo, Ang! Bisa-bisanya sekarang lo malah cosplay jadi Reyhan bin Kunyuk Sutres!”


“Ada-ada aja lo, Nggaaa.” Joshua yang menahan tawanya, memilih menggelengkan kepalanya.


“Yang penting gak cosplay jadi patungan sawah, kan? Hehehe!”


“Lama-lama gue tendang, lo sampe nyangsang di planet Uranus! Biar sekalian cosplay jadi manusia beku kalau perlu!” sebal Aji dan ingin rasanya membuat muka tampan Angga menjadi babak belur.


“Melayang lagi dong, nyawa gue?”


Aji mendengus kesal, karena tidak ada lagi balasan ucapan untuk Angga yang pintar menghilangkan seribu katanya. Sementara lainnya, tertawa keras dan kencang akibat mendengar gaya komunikasinya dari Angga yang memang amat berbeda. Ya, pada akhirnya suasana dalam ruangan utama rumahnya Freya ini tergantikan kembali menjadi berubah kondusif seperti biasanya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Masih di tempat yang sama. Reyhan terlihat sedang fokus melihat berita-berita orisinal di internet ponselnya, lelaki itu memang suka sekali menggali informasi yang belum sama sekali ia tahu. Bahkan saking seringnya, Reyhan sampai tahu mana berita yang hoax mana berita yang mengandung fakta.


Sampai tiba-tiba, mata Reyhan terbelalak dengan wajah terperangah. “I-ini sumpah?”


“Hah?! Gila, Cooooooog!!!” teriak Reyhan kemudian, membuat Angga yang ada di sampingnya lekas menutupi telinga bagian kirinya.


“Lo bisa gak, sih nggak usah pake teriak-teriak segala?! Kalau gendang telinga gue pecah gimana?! Heboh banget, kayaknya. Kayak lagi lihat setan!”


“Ini bukan pasal karena sosok setan, Bro! Sini cepetan! Ada yang mau gue liatin sesuatu ke elo!” tukas Reyhan sambil menarik kerah belakang kemeja miliknya Angga.


“Sial! Jangan narik-narik baju gue!” kesal Angga karena perilaku Reyhan yang tiba-tiba tersebut.


“Alah, gak-nya sampe sobek! Nih, coba lo sekarang baca naskah tulisan ini yang ada dibawah gambar bangunannya! Gue aja sampe bener-bener gak nyangka, Njir!”


Jova dan Freya yang sibuk membaca buku novel genre Fantasi, sampai tertunda karena kehebohan dari Reyhan yang duduk diseberang bersama Angga. Kedua gadis itu saling memasang wajah bingungnya serta penasaran.


Jadi telunjuk Reyhan yang menuding tulisan-tulisan digital itu, membuat Angga langsung membacanya secara lisan.


“Bangunan villa Ghosmara yang terletak pada hutan di daerah kota Bandung, telah resmi ditutup oleh manager. Alasan disebabkan, bangunan tersebut sudah terlalu banyak menelan jiwa korban pada beberapa tahun yang lalu.”


“APA?! RESMI DITUTUP??!!”


Angga menoleh ke arah mereka semua yang telah berteriak dengan menciptakan rasa keterkejutan satu sama lain. “Eee, itu yang gue baca barusan. Bahkan penyewaan dari villa itu juga ditutup dan tidak lagi diselenggarakan.”


“Alhamdulillah, Ya Allaaaaah! Sudah gak ada korban lagi di villa malapetaka ituuu!” bahagia lega Aji sambil mengangkat kedua tangan di atas untuk berterimakasih kepada Sang Maha Kuasa.


“Gue juga gak menduga kalau bangunan villa itu pada akhirnya beneran ditutup. Jika sudah begini, memang tidak akan ada lagi korban luka atau tewas sekalipun,” buras Angga menanggapi kawannya.


“Pak Richard emang the best, deh! Karena beliau waktu dulu itu udah berniat buat menghubungi teman managernya untuk segera menutup bangunan villa itu. Dan gak hanya itu saja, semua tentang bangunan villa Ghosmara tempat liburan para pelancong anak remaja juga dihapus dari internet. Agar tidak mempengaruhi peminatan remaja-remaja seperti kita!” ungkapan detail panjang dari Rena, membuat Angga dan Reyhan mengangguk.


“Untung saja kisah penutupan dari bangunan villa ini yang terletak di hutan kota Bandung, langsung viral di mana-mana termasuk sosial media. Supaya mereka mengerti kalau bangunan megah itu sangat bahaya dan menyimpan malapetaka,” timpal Reyhan.


“Tapi ... itu villa setan gak dibobol aja? Kan, malah lebih aman. Karena jaman sekarang, tuh anak muda banyak yang penantang kematian,” tanya Zara.


“Lebih tidak aman kalau bangunan itu sampai dihancurkan, Zar. Karena memang villa itu telah banyak dilumuri segala keangkeran dan mistis yang mendalam. Jikapun mereka berniat seperti itu, yakinlah. Akan menjadi sangat fatal, bahkan mengerikannya lagi, mereka yang telah menjadi arwah gentayangan bakal mengamuk dan meneror seluruh manusia apabila berani melewati wilayah jalan dalam hutan maupun jalan wilayah luar hutan.”


Mereka semua yang mendengar pernyataan dari Angga, begitu amat kaget setengah mati. Percaya tidak percaya, karena memang itulah yang diterawang oleh Angga sebagai anak Indigo.


“Ngeri banget! Untung saja enggak sampe dirobohkan. Kalau iya, pasti masalahnya akan semakin rumit,” sanggah Jova.


“Iya, kamu benar.”


Angga kini beranjak dari kursinya yang ada dibelakang jendela lebar. “Yang penting, kita bersembilan telah selamat dari ancaman jiwa itu yang pernah ingin merenggut nyawa kita masing-masing.”


“Mau kemana, Ngga?” tanya Freya saat melihat kekasihnya memutar langkah untuk keluar dari rumahnya.


Angga menolehkan kepalanya ke belakang lalu tersenyum pada Freya. “Kamu juga akan tahu. Aku ke sana dulu, ya?”


Lelaki tampan dengan pemilik tubuh jangkung itu, kembali melangkah meninggalkan rumah Freya dan entah ingin pergi kemana. Bahkan kepergiannya yang mendadak, membuat mereka semua mengumpulkan beberapa tanda tanya di dalam kepala.


Kedatangan Angga kembali setelah 5 menit pergi dari rumah Freya, membuat mereka beringsut memiringkan kepalanya tak mengerti mengapa Angga membawa keranjang warna merah muda. Kini pemuda itu berjongkok di hadapannya Freya sembari menaruhkan benda yang berukuran lumayan besar.


“Kamu mau ngasih aku kue cupcake? Ih, aku udah kenyang banget, Ngga! Nih, perutku aja sampai begah. Sudah gak muat kalau diisi makanan lagi,” komplain Freya.


Justru, Angga terkekeh lalu tangannya mulai membuka keranjang bersih itu dan mengeluarkan sesuatu dari dalam. Sekarang di pegangan Angga terdapat seekor makhluk berbulu lebat dengan kedua mata yang belo.


“Meow ...”


“KUCING?!”


“Kurang ajar, emang! Helep, gue takut!” Aji yang panik langsung melompat ke punggung kokoh Reyhan dimana lelaki sahabatnya Angga telah berdiri.


“Woi! Hati-hati, dong! Entar kalau gue anjlok ke lantai gimana?!” omel Reyhan dengan reflek menyangga pantat temannya.


Kucing menggemaskan itu terdengar mendengkur bahagia di pegangan tangan Angga. “Sebagai hadiah spesial-ku di ulang tahunmu, aku memberikan kamu seekor makhluk kucing Persia!”


Freya yang masih syok, mengerjapkan mata dengan menunjuk dirinya sendiri. “Buat aku?”


Angga menganggukkan kepala sambil menyodorkan makhluk imut itu ke pacarnya. “Iya, ini buat kamu. Aku tahu, Meiko mati dampak dari keracunan tikus. Jadi, aku berusaha mencari pengganti kucingmu untuk kamu. Bagaimana? Kamu suka?”


“Suka banget! Ciri-cirinya hampir sama kayak Meiko, hanya saja lensa matanya berwarna biru seperti kelereng,” riang Freya sesudah menerima hadiahnya.


“Maaf, ya? Mungkin kucing ini gak seiras sama Meiko yang dulu. Tapi coba, deh kamu lihat. Ada kalung namanya di leher.”


Mata Freya yang kondisinya berbinar, mulai menatap Angga yang masih jongkok. “Gak apa-apa kok, Ngga! Aku pasti menghargai dari pemberian hadiah spesial kamu ini. Akhirnya aku mempunyai penggantinya Meiko!”


“Tapi, kamu tahu darimana kalau kucingku mati karena keracunan? Perasaan aku belum pernah ngasih tahu soal ini, deh.”


“Aku tahu dari mamamu. Mama kamu sendiri yang kasih tahu waktu aku masih menjalani perawatan di rumah sakit. Nah, karena di situ mendekati tanggal ulang tahunmu, aku mulai merancang sebuah rencana untuk membelikan hadiah makhluk hidup ini,” jelas Angga.


“Anjay, Angga so sweet banget! Kalah mungkin cowok lain yang di luar sana. Mana ini anak bijaksana, lagi. Siapa, coba yang gak demen?” celetuk Zara.


“Turun lah, Ajinomoto! Bisa cepet auto encok, nih punggung gue! Lagian buat apa, sih hewan kayak gitu ditakutin?! Cemen!” maki Reyhan.


“Cemen?! Lo bilang gue 'Cemen'?! Heh, gue takut kukunya sama gigi taringnya! Nanti, bisa tamat hidup gue!”


“Kucingnya Freya gak gigit, Syaiton! Down atau gue banting, nih?!” ancam Reyhan.


Aji yang takut pada ancaman sadisnya Reyhan yang tidak main-main, langsung melompat ke lantai. “Udah, nih! Galak banget, sih lo kayak godzilla?!”


Jova bangkit dari kursi yang ada di sebelahnya Freya untuk menghampiri Reyhan. “Oi, Rey?”


“Apaan?”


“Kamu mau baca novel ini, gak? Keren, lho tentang alam dunia sihir. Kamu, kan paling suka ada alur cerita yang penuh tantangan dan petualangan.”


“Wih! Mana sini, aku baca! Keknya seru, nih alur ceritanya. Padahal baru denger di mulutmu doang, hahaha!”


Andra yang melihat kedekatan antara Reyhan dan juga Jova, tersenyum lalu beralih menoleh ke arah Angga yang mulai mendudukkan pantatnya di atas lantai.


“Angga! Dulu, kan kekuatan mata batin lo sempet mau dirampas sama cowok misterius berjubah hitam itu. Kira-kira lo masih bisa menggunakan kekuatan Indigo itu, gak?” tanya Andra.


“Alhamdulillah, masih bisa. Kenapa? Lo mau lihat buktinya?”


Andra tersenyum lebar dengan menganggukkan kepala sambil duduk tegak. “Boleh, tuh!”


“Oke, sebentar. Hmmm ...” Angga terlihat tengah mencari sesuatu gaib yang mampu ia terawang secara langsung, hingga pandangan matanya terpusat pada Reyhan begitupun Jova yang sedang membaca buku novel secara bersama.


Hal itu, membuat Angga mengubah senyuman biasanya menjadi smirk. Bahkan Reyhan yang menyadarinya, auto mempunyai firasat yang tidak enak saat menatap senyuman sinisnya dari Angga.


‘Sial, ini anak mau ngapain? Kok, feeling gue jadi kurang sedap gini, sih?’


“Reyhan Lintang Ellvano dan Jovata Zea Felcia. Gue sebagai sahabat kalian, ingin membocorkan tentang hal yang terkait pada hubungan akrab dari kalian berdua. Dan gue yakin, hari ini akan ada kegemparan jika gue kasih tahu ke mereka semua termasuk Freya pacar gue.”


“Kalian berdua harus jujur. Saling mencintai, kan? Karena gue bisa lihat, kalau elo Rey, sudah suka sama Jova dari lama bahkan semenjak gue masih mengalami Koma di kedua kalinya.”


DEG DUAR


“Apaan sih, lo?! G-gue-”


“Gue apa? Percuma kalau lo bohongi hati lo sendiri, Rey. Cinta gak bisa dipaksakan. Kalau lo memang suka, udah langsung ungkapin saja ke Jova. Lagipula, kami gak melarang kalian, kok.”


“A-angga! Sumpah, ya! Orang aku sama Reyhan cuman sebatas sahabat, kok! Gak lebih! Kamu sok tahu, deh!” kesal Jova.


“Yakin, aku sok tahu? Padahal kamu di sini lagi degdegan setelah aku mengeluarkan perkataan tadi. Bukannya sombong, karena aku bisa untuk segalanya.”


Reyhan hanya diam dengan kedua pipi bersemu merah, ia menggigit bawah bibirnya bersama detak jantung yang berdebar tak karuan. Dasar Indigo!


“TEMBAK!! TEMBAK!! TEMBAK!!”


Reyhan yang terusik pada sorakan mereka yang serentak dengan tepuk tangan itu, menutup buku novelnya Freya lalu menghembuskan napasnya untuk menenangkan diri pada kericuhan ini. Sementara Angga menaikkan salah satu alis hitam tebalnya, tentunya membuat Reyhan ingin menimpuk sahabatnya pakai buku yang ia bawa sekarang.


“Berisik ah, kalian! Entar gue juga yang nembak congor kalian semua pake pistol!” sarkas Reyhan naik darah.


Reyhan menarik napasnya dengan dalam kemudian menghembuskan napas keluar dari mulut. Ia kini menyenggol-nyenggol pelan lengan tangan Jova.


“Jovata?”


“Y-ya?” Tatapan mata hazel dari Jova, berhasil membuat Reyhan gugup seketika. Walau endingnya ia tepis-kan.


“Do you want to be my girlfriend?”


Kedua mata Jova langsung melotot sempurna saat Reyhan mengungkapkan perkataan itu dalam bahasa asing, yakni Inggris. Jantungnya berdegup sangat kencang, apalagi ia merasakan gerah entah mengapa. Padahal di rumahnya Freya dilengkapi angin AC, bukan gurun.


Gadis dengan julukan anak remaja Tomboy itu, memejamkan matanya rapat untuk siap menjawab dari ungkapan manisnya Reyhan.


“Yes, I want to !”


Mata Reyhan berkedip sebentar setelah mendengar jawaban setuju dari Jova. “Really?!”


“Yeah, really ...”


Mereka semua yang menyaksikan adegan itu, bersorak ria dengan bertepuk tangan. Tak menduga juga sebenarnya jikalau Reyhan dan Jova telah pula menjadi sepasang kekasih seperti Angga-Freya.


“Akhirnya mereka jadian!” pekik Freya dan pujaan hatinya lalu tertawa lepas.


“Hah?! Reyhan sekarang pacarnya Jova?!”


Kesemua remaja tersebut menoleh ke arah pria paruh baya yang berdiri tegak dengan tampilan muka terkejut itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Agra?


“Wah! Ini gak bisa dibiarkan! Om harus kasih tahu om Farhan sekarang juga kalau anak putranya sudah bukan Jomblo akut lagi. Sayang, kan masa berita heboh nggak disebarkan?”


“E-eh! Jangan kasih tahu papanya Reyhan, Om! Jadi makin kacau entar!!” paniknya saat Agra hendak menempelkan layar ponselnya di telinga.


“Halo, Far!”


Halo juga, Gra! Wah, gimana kabarnya? Baik? Sudah lama gak pernah ketemu


“Aku baik. Oh, iya aku mau berikan kabar baik buat kamu tentang Reyhan.”


Kabar baik apa, Agra?!


“Itu, anak putra tunggalmu sama Jihan sekarang jadi pacarnya Jovata! Sudah bukan single lagi si Reyhan, hahaha!”


Ya ampun, demi apa?! Kamu serius, Gra?! Waduh, kabar yang penuh kembang mawar ternyata! Terimakasih, ya infonya?! Habis ini akan aku memberi tahu ke istriku


Reyhan yang ada di ruang utama, memajukan bawah bibirnya karena ayahnya telah mengetahui semuanya gara-gara ulahnya Agra. Kini nampak si ayahnya Angga, mematikan teleponnya.


“Yang langgeng, ya kalian berdua? Om Farhan kelihatan bahagia sentosa, tuh. Sudah, nikmati lagi saja ngobrolnya. Om mau masuk dulu.” Agra balik badan dengan terkekeh sambil melangkah meninggalkan putranya begitupun anak remaja lainnya.


Reyhan yang mendapatkan malu itu, tubuhnya langsung merosot ke lantai bersama rambut yang berantakan sesuai pada wajahnya terkini. “Huhuhu ... Bangsat lu, Anggara!”


“Haha! Bodo, amat. Emangnya gue pikirin?”


Freya terkekeh geli dengan mendekap lembut kucing baru dari hadiahnya Angga di dada. “Gak usah malu-malu. Aku seneng banget, lho akhirnya kalian menjadi sepasang kekasih. Kayak aku sama Angga, hihi!”


“Y-ya emang, sih .. tapi, kan papa sama mamaku entar jadi tahu kalau aku bukan cowok Jomblo lagi,” lesu Reyhan menjawab sambil memegang dinding untuk bangkit berdiri dari lantai.


“Percuma juga kalau lo main rahasia-rahasia gitu dari bokap sama nyokap lo. Toh, pada akhirnya pasti mereka bakal juga tahu kalau lo udah punya doi,” timpal Angga dengan melipat kedua tangan di dada bidangnya.


“Lo ngapain nyaut-nyaut, Sialan! Ini semua gara-gara elo, ya! Pake pinter menerawang segala! Hancur, dah riwayat gue!” jengkel Reyhan menendang angin.


“Hancur atau lestari ...!” Inilah, bukannya membiarkan emosi Reyhan mereda, Angga malah menambahkan luapan emosi sahabat lelakinya. Ya, begitulah sosok asli dari Angga, jahil.


Reyhan mendengus macam banteng dengan muka memerah padam, sedangkan Angga tetap tersenyum karena berhasil membantu sahabatnya untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Jova.


“Selamat ya, Rey! Akhirnya di kelas dua belas ini, lo bukan cowok single lagi seperti dulu. Sekarang lo sudah mempunyai seseorang perempuan yang bisa mendampingi hidup elo,” ucap Angga.


“Lo gak sadar? Gue sebenarnya tadi hanya ingin membantu lo saja. Bukan ingin memalukan di depan semua orang, gue tahu lo kesusahan untuk mengungkap. Ternyata memang harus gue pancing, baru lo ada keberanian karena takut ditolak.” tambah Angga berceloteh.


“Huh, iya! Makasih banget atas bantuan lo yang bermakna ini ya, Bro? Lega juga akhirnya bisa ungkapin. Dan ternyata begini, ya rasanya jatuh cinta kepada seseorang apalagi sama sahabat sendiri?”


Angga hanya diam walau tak memudarkan senyuman di bibirnya, jika Freya cukup menganggukkan kepalanya saja sambil membelai-belai bulu putih kucingnya di atas kursi.


Kini sekarang Reyhan perlahan-lahan melirik mata Jova yang tubuh gadis itu berada di dekat sebelahnya. Jova yang dilirik dengan sebuah senyuman tampan pun, mulai mengukirkan senyuman lebarnya kendatipun kedua pipinya ada rona merah. Tidak menyangka, ya?


“Huh, akhirnya. Sudah tidak ada lagi jebakan tentang yang di bangunan villa pembawa malapetaka itu. Mungkin sampai kapanpun, villanya gak akan lagi dibuka kembali setelah mereka mendapatkan kabar buruk mengenai banyaknya kematian korban anak remaja yang liburan di hutan Bandung.”


Mendengar ungkapan Kenzo dimana bola mata lelaki itu menengok ke atas dinding, membuat Reyhan beserta Angga beranjak dari persinggahannya lalu menghampiri Kenzo yang memang tengah duduk sendiri.


“Eh! Kalian?” kejutnya saat mendapati kedua temannya yang telah duduk di sebelahnya.


Reyhan yang ada di tepat samping kanannya Kenzo tersenyum ramah. “Iya, untung sudah ditutup. Meski gak dibobol, tapi yang penting sudah nggak ada korban satupun lagi akibat villa itu dibuat terbengkalai.”


“Em, iya. Dan, sekali lagi gue minta maaf banget, ya sama kalian berdua? Gara-gara kebodohan gue, kalian malah jadi korban aniaya. Seharusnya itu gak pernah terjadi, apalagi kalian gak pantes diberi kekejaman seperti beberapa bulan lalu,” pinta maaf Kenzo dengan nada agak lirih.


“Lo minta tolong pada orang yang tepat. Gue dan Reyhan juga gak mempermasalahkan soal peristiwa yang nyaris merenggut nyawa kami. Intinya, lo telah selamat dari jebakan Emlano,” celetuk Angga sambil menepuk bahu kiri temannya.


Kenzo mendongakkan kepalanya lalu menatap Angga dan Reyhan secara bergiliran. “Beneran? Tapi, gue jadi merasa bersalah dengan kalian berdua.”


Kedua lelaki pemilik antara iris mata grey beserta iris mata hazel itu, mulai saling merangkul tengkuknya Kenzo untuk melepaskan kesalahannya yang dirinya sama sekali tak bersalah. “Don't matter.”


“Berhubung dengan jebakan itu, untung gue sama Aji berbagi tugas waktu di dalem markas tempat kalian berdua disekap.”


Reyhan mengerutkan keningnya. “Berbagi tugas apaan?”


“berbagi tugas antara, gue menelpon polisi soal kejadian kriminal yang terkait, dan Aji yang menelpon ambulan untuk lo sama Angga. Kami emang harus segera, kalau enggak? Tamatlah, sudah!” detail Jevran.


“Thanks, pertolongannya. Kalau gak ada kalian, mungkin gue sudah bener-bener mati di tangannya.” Entah mengapa setelah menganggukkan kepala, Angga dan Reyhan menjawabnya dengan secara kompak.


Joshua yang selesai meneguk es soda Sprite-nya di gelas kaca ukuran kecilnya, membentuk senyum nyengir di bibir sambil menatap kedua temannya. “Bisa barengan gitu, ya ngomongnya?”


“Sehati, mungkin.” Raka menimpali.


“Bener, dong! Sehati sama sahabat sejati!” pekik Reyhan riang seraya mencubit-cubit salah satu pipinya milik Angga.


“Gila! Gue masih normal, Sialan!” protes pemuda Indigo itu dengan menepis kasar telapak tangannya Reyhan.


Kemudian Angga yang tak terima, langsung menarik hoodie cokelat wood punya Reyhan di bagian perutnya. “Gue tarik juga lambung lo, lama-lama!”


“Sadis banget sih, Bang? Kenapa gak sekalian jantung gue yang lo tarik dari organ?! Dasar Psikopet!” semprot Reyhan.


Mereka yang melihat tingkahnya antara Reyhan dan Angga nang mulai berdebat yang sepele, tertawa kencang. Pastinya, suasana ini tidak mungkin ada kesunyian dan ketegangan yang tercipta.


Ya, hari yang penuh kebahagiaan serta bukan lagi kepedihan akan kalbu.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Malam hari yang telah tiba pada pukul jam 19.00, Angga keluar dari dalam mobil Avanza Toyota hitamnya usai mengeluarkannya dari dalam gerbang rumah. Ya, di malam ini lelaki itu ingin mengajak kekasihnya untuk kencan yang sebelumnya memang belum pernah sama sekali ia lakukan bersama Freya.


“Silahkan masuk, Ya Nona.” Freya tersenyum saat ia disambut nada manis oleh Angga dengan membukakan pintu mobil bagian kiri samping kemudi.


“Kamu bisa aja. Makasih!” jawab ceria gadis cantiknya Angga yang telah lengkap dengan pakaian hangatnya.


“Masama, Cantikku!”


Andrana, Agra, Rani, dan Lucas yang menyaksikan gaya sikapnya Angga sampai melongo tak percaya. Walau sebenarnya sikap Angga telah berubah drastis sejak sebulan yang lalu, tetapi mereka masih saja tetap mengira ini hanya mimpi.


“Apakah karena pasca Koma, Angga jadi berubah seperti ini akan sifatnya?” kemam Agra yang langsung didengar oleh istrinya.


“Bukan begitu, Ayah. Anak kita berubah, kan karena telah terlepas dari masa lalu kelamnya. Bahkan Mama bahagia banget, watak aslinya Angga kembali seperti dulu.”


Bersamaan Freya memasukkan diri ke dalam mobil, Angga menolehkan kepalanya ke arah kedua orangtuanya serta kedua orangtuanya sang kekasih. “Kami berangkat dulu, ya?”


“Iya. Hati-hati ya, Nak? Ingat, bawa mobilnya jangan sampai mengebut, jalan raya sana rame banget soalnya. Bahaya kalau kamu langgar,” ucap Andrana peduli.


Angga menghela napasnya pendek dengan senyum hambar. “Ya gak mungkin lah, Ma. Angga posisinya bawa Freya juga. Mana mungkin asal main ngebut. Tenang, Angga bawanya bakal santai, kok.”


“Sudah ya, Ma? Assalammualaikum.”


Mereka semua menjawab salamnya Angga sebelum lelaki itu menuju ke pintu kemudian untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil usai mengunci sabuk pengaman, Angga menekan klakson lepau berpamitan kepada mereka hingga mobil Avanza Toyota tersebut pun melaju keluar dari gang komplek Permata.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di perjalanan dengan pemandangan indah di luar mobil, suasana sepi tercipta di antara mereka berdua. Angga fokus menyetir, sementara Freya memainkan ponselnya bersama senyuman bahagianya.


Sampai akhirnya Angga melirik gadisnya yang sedang sibuk mengetik keyboard pada layar ponsel Android. “Freya, main HP-nya entar dulu, nanti matamu bisa rusak.”


“Siapa juga yang main HP? Orang aku lagi ngirim chat, kok.”


Angga mendengus dengan senyum. “Sama saja, kali. Emangnya lagi chat sama siapa?”


“Ini lho, Ngga. Si Jova sama Reyhan ribut banget di grup kita berempat, soal kita lagi pergi kemana. Wajar, kan kalau aku jawab? Soalnya mereka sempet protes karena aku cuman nyimak dari kiriman chat mereka.” Freya sedikit memiringkan handphone-nya agar Angga melihatnya.


Angga terkekeh kecil saat membacanya hingga akhir. “Astaga, mereka berdua kelihatan heboh banget. Sayang, aku tolak mereka pas minta ikut.”


“Kenapa pas mereka di rumahku, gak kamu bolehin untuk ikut?”


“Biar nggak ganggu malam mingguan kita berdua. Mereka, kan paling ribut kalau soal jalan-jalan. Ya, meskipun mereka sudah jadi sepasang kekasih, tapi mereka masih saja suka debat gak jelas,” jawab Angga dengan kembali fokus menatap kaca utama.


Freya tertawa mendengar celotehnya Angga yang kekasihnya balik fokus menyetir. “Tapi kamu sudah janji, kan sama mereka berdua kalau kumpul di alun-alun mulai besok pagi?”


“Yap. Aku sudah punya rencana untuk besok kita berempat kumpul di alun-alun. Aku kasih request jam delapan saja, karena kalau lebih dari jam itu, suasananya bakal panas. Kan, jadi males kalau ngobrol apalagi panas-panasan di taman kota kita yang ada di sana.”

__ADS_1


“Keren, request yang mantap!”


“Haha, oke.”


Kini sepasang kekasih yang mendapatkan julukan serasi dan sempurna itu, kembali senyap dan fokus pada kesibukannya. Tetap di menit ke 20, Angga menolehkan kepalanya ke Freya yang sedang senyam-senyum sambil menatap pemandangan para bangunan cakar langit.


“Hatinya lagi berbunga-bunga, ya karena aku memberikan hadiah kucing tadi untuk kamu?” tebak Angga walau ia tahu tebakan yang keluar dari mulutnya, salah.


Freya menggelengkan kepala. “Kalau itu hanya standar, Ngga. Aku begini karena lagi bahagia banget.”


“Wih, bahagia karena apa?”


“Karena kamu masih ada di dunia,” respon Freya lembut, membuat Angga membungkam mulutnya.


Angga sekarang yang posisi duduknya tegak, menyandarkan punggungnya dengan menghembuskan napasnya bersama senyumannya. “Begitu, ya?”


“Iya. Aku gak nyangka, ternyata kepergianmu hanya dalam jangka waktu yang sangat pendek. Dan itu, bukan selamanya. Aku sudah takut duluan kalau kamu beneran meninggal, Ngga. Apalagi saat aku teringat semua ucapanmu sebelum kamu menutup mata.”


Angga terdiam sejenak dengan mulai menegakkan badannya kembali. “Aku hanya merasakan firasat buruk tentang tubuhku. Seolah, jiwaku ingin pergi dari raga saat itu juga. Bahkan aku siap kalau meninggalkan dunia walau terpaksa.”


“Tapi semua firasatku dibalik oleh fakta. Aku kembali hidup dengan kondisiku yang langsung dinyatakan stabil oleh dokter. Dan yang mampu menyelamatkan aku, bukan dokter Ello, tetapi Allah. Aku bersyukur sekali karena aku masih bisa melihat kalian semua yang peduli dan sayang denganku.”


Wajah senyuman Freya tergantikan menjadi pilu. “Jikapun pasca Koma, kamu mengalami kelumpuhan secara permanen, aku tetap mau jadi kekasihmu, kok. Aku terima kamu apa adanya. Fisikmu terluka, aku tetap masih sanggup mencintaimu.”


Angga sangat tertegun pada ucapan manisnya Freya untuk dirinya. Ia sungguh tidak menyangka bisa memiliki perempuan sehebat Freya yang tetap resmi menjadi pujaan hatinya.


“Terimakasih ya, Sayang? Separah-parahnya kondisi Koma-ku yang dulu, tapi kamu masih saja tetap setia menungguku hingga aku sembuh. Padahal, aku sudah membuat hatimu terluka sampai menangis ...”


Air mata Freya kembali berlinang ke pipi mulusnya dengan senyum. “Kalaupun aku disuruh untuk mencari penggantimu, bakal langsung ku tolak. Karena aku gak mungkin semudah itu mengkhianati kamu hanya karena sakit Koma.”


“Iya, Freya. Iya ...” lirih Angga dengan air mata bercucuran ke pipi sambil membelai pucuk kepala gadis setianya.


Dan di dalam mobil ini, terdengarlah suara sound musik yang mengalun indah nang terdengar di alat pemutar lagu canggih. Angga lekas menyeka air matanya yang membekas di pipi putih bersihnya lalu tersenyum tampan dengan menatap Freya.


“Sekarang, hapuslah tangisanmu, lepaskan segala resah, ketakutan, dan kesedihan. Kita bernyanyi bersama-sama. Lagu favoritmu dan aku, nih. Masa kita di mobil melow melulu?”


Freya menatap sekilas alat pemutar lagu yang telah terhubung dari flashdisk. “My Love-Westlife? Pas banget ini musik favoritnya kita berdua!”


“Ya, kan?” kata Angga setelah terkekeh.


Freya mengangguk antusias dengan reflek menyipitkan kedua matanya, sedangkan Angga tersenyum lebar melihat kekasihnya yang berwajah semarak.


“Are you ready?”


“Of course.”


♫ An empty street, an empty house


A hole inside my heart


I'm all alone, the rooms are getting smaller


I wonder how, I wonder why


I wonder where they are


The days we had, the songs we sang together


Oh, yeah ♫


♫ And oh, my love


I'm holding on forever


Reaching for the love that seems so far ♫


Angga dan Freya saling melempar tatapan teduhnya bersama senyuman bahagia dengan seraya tetap bernyanyi penuh penghayatan. Suara mereka berdua juga terlihat konvensional, mungkin jika ada orang lain yang menyaksikan suara merdu dari sepasang kekasih ini, langsung menjadikannya konten viral dari video yang diunggah ke sosmed.


♫ So, I say a little prayer


And hope my dreams will take me there


Where the skies are blue


To see you once again, my love


Overseas, from coast to coast


To find a place I love the most


Where the fieldals are green


To see you once again


My love ♫


Sungguh adegan yang tidak menyangka dibawah langit malam yang indah ini. Kini sekarang Freya mampu bernyanyi tenang dengan bersama Angga sang kekasih, padahal waktu itu ia hanya menyanyi secara solo di salah satu ruangan yang membuat seringkali mengalami kegelisahan.


Tetapi, lihatlah sekarang. Gadis itu bisa bernyanyi secara duet bersama Angga dengan penuh keindahan. Nada mereka berdua juga menyatu dengan sempurnanya, bahkan apalagi dipadukan senyuman tampan nan cantiknya yang mengembang di wajah. Mereka bernyanyi musik barat populer tersebut hingga akhir.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Langit biru di pagi cerah, walau matahari nampaknya belum muncul sama sekali dari jam 06.00, entahlah mungkin air hujan ingin kembali mengguyur seluruh kota Jakarta.


“Indahnya menikmati duniawi!” gembira Reyhan dengan memekik lalu menurunkan kedua kakinya secara menghentak sesudah ia angkat sedikit untuk meregangkan otot.


“Akh! Jangan injak kaki gue, Nyuk!” kesal Angga saat kaki kanannya diinjak oleh sahabatnya.


Reyhan menoleh cepat ke arah Angga yang telah kesakitan. “Mana ada gue injek kaki elo? Ngadi-ngadi lo, Bambang!”


“Terus siapa yang injak kaki gue kalau bukan elo?! Pesawat tempur?! Angkat kaki lo daripada gue amputasi!” ancam Angga.


“Apaan, sih- eh! Iyak, sepatu lo kena tindih kaki gue, hehehe! So sorry.” Reyhan dengan terkekeh, segera mengangkat kakinya untuk menyingkirkan dari kaki Angga yang tak sengaja ia injak kuat.


“Emang dasar Sutres,” gerutu Angga seraya mengusap telapak kakinya yang terbungkus sepatu Reebok warna cokelat umber-nya.


“Hahahahaha, kalian ini!” tawa Jova dan Freya yang menyaksikan kedua lelaki itu nang kembali menunjukkan sikap konyol.


Reyhan melibatkan kedua tangannya di dafa sambil mendengus menatap Angga yang sibuk mengusap kakinya. “Cielah! Paling memar doang, itu kaki. Gak sampe lumpuh.”


Angga menegakkan badannya lalu menatap tajam Reyhan. “Enak bener lo ngomongnya, ya?! Sini! Gue buat lumpuh lagi, kaki lo!”


“Anjing. Gue dulu sini yang buat cedera lagi, kepala lo!” balas Reyhan.


“Heh, kalian berdua!” sentak kedua gadis cantik itu yang duduk bersama mereka.


Merasa terpanggil, Reyhan dan Angga menolehkan kepalanya kompak. “Apa?”


“Mulutnya itu, lho! Kalau debat itu yang sewajarnya saja. Jangan yang buat main nyawa!” tegur Jova galak.


“Tahu, tuh. Kebiasaan deh, kalian.” Freya menimpali lalu menggelengkan kepala.


“Siapa juga yang main nyawa? Eh!” Kedua pemuda tampan itu, saling melemparkan pandangan dengan muka kaget.


“Lu ngapain niru-niru omongan gue, Anjir?! Dasar manusia Plagiat!”


Angga menekan seluruh giginya yang ada di dalam mulut dengan menatap sengit wajah raut menyebalkannya Reyhan. “Minimal kalau mau ngomong, mikir dulu! Siapa juga yang meniru ucapan lo, hah?!”


“Itu, elo! Emang siapa lagi? Lelembut?!”


“Terserah!” pungkas Angga sembari bangkit dari kursi taman lalu melangkah meninggalkan mereka bertiga yang masih duduk anteng di kursi panjang.


“Ngga! Mau kemana?” teriak Jova saat sahabat lelakinya menjauh dari jaraknya.


Angga memutar tubuhnya beberapa derajat untuk menoleh ke belakang. “Pergi ke Akhirat, udah dijemput maut.”


Lelaki Indigo itu mengubah bentuk bibir datarnya menjadi nyengir waktu mata mereka melotot tajam kepadanya. Bahkan ia merasakan bahwa sebentar lagi akan diamuk karena pengucapannya.


“Mampus, tatapannya.” Angga langsung berlari kencang untuk mangkir dari tatapan horor mereka.


“ANGGARA!!!”


Iya-iya, maaf! Gue hanya bercandaaaaaa !!


Reyhan mendesis jengkel sambil menuding Angga yang sedang berlari maraton ke suatu arah. “Sudah dari kemarin, lho itu anak ngajak berantem!”


“Huh! Pacarmu, Frey?” tanya Jova ketus dengan menoleh ke arah sahabat lugunya yang tengah duduk sambil memendam rasa kesalnya terhadap Angga.


“Iya, itu pacarku. Beda banget, ya daripada yang dulu? Ini sikapnya lebih ke nakal. Kalau nyebelin sama keras kepala, udah biasa.”


Reyhan menyandarkan punggungnya yang pegal ke sandaran kursi lalu menutup kedua matanya sejenak kemudian menatap luasnya langit di atas. Hingga lelaki itu yang tadi tersenyum, menjadi lenyap saat mengingat suatu memori yang singkat terbesit dibenak.


Flashback On


Reyhan memeluk tubuh kakunya Angga dengan tangisan derasnya dimana sang sahabat telah terbangun dari kematian/Koma. Lainnya yang menyayangi Angga pun juga begitu, melepaskan segala rindu.


Hingga mata Reyhan sedikit disilaukan oleh sumber cahaya dari pelosok ruangan ICU-nya Angga. Tanpa sungkan, ia mulai menolehkan kepalanya untuk mencari asal sumber cahaya terang itu.


Pemuda itu begitu terkejut melihat sosok Arseno yang tengah berdiri dengan senyuman damainya. Namun kagetnya, tak membuat Reyhan melepaskan tangannya yang memeluk raga sahabatnya.


“Reyhan, gue pamit untuk pergi, ya? Semuanya telah berlalu dan tergantikan menjadi sempurna atas kembalinya Angga. Terimakasih lo telah mau jadi teman manusia singkat gue, kita pasti akan bertemu lagi setelah akhir waktu. Berbahagialah selalu, selamat tinggal.”


Arwah Arseno kini telah tak terlihat lagi, setelah ada sebuah asap putih yang menggiringnya pergi tuk selamanya. Apalagi Reyhan sudah tidak bisa merasakan keberadaan aura milik teman hantunya kembali.


Arwah Arseno kini telah tak terlihat lagi, setelah ada sebuah asap putih yang menggiringnya pergi tuk selamanya. Apalagi Reyhan sudah tidak bisa merasakan keberadaan aura milik teman hantunya kembali.


Arseno telah pergi, ke tempat abadi yang seharusnya ia huni selamanya untuk beristirahat dengan tenang.


“Sen ...”


Flashback Off


“Reyhan Ellvano!”


“Eh, iya apa?! Kaget aku, Ayang!” pekik Reyhan seraya mengelus dadanya.


“His! Diajak ngomong malah bisu. Kamu ngapain, sih?!” semprot Jova sambil berkacak pinggang.


Reyhan menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan cengengesan, hal itu membuat Freya menggeser tempatnya untuk lebih dekat ke Jova bersama tatapan serius buat melihat wajah sahabat lelakinya.


“Kamu kenapa, Rey? Ada masalah, kah? Itu mukamu juga kelihatan lagi sedih. Kalaupun ada masalah, cerita saja.” Freya menganjur.


Reyhan menurunkan tangannya dari kepala lalu memalingkan wajahnya. “Em, sebenarnya bukan masalah, kok. Aku hanya keingat sama arwah yang pernah kita bertiga temui.”


Jova diam untuk mencerna yang dimaksud kekasihnya, sampai ia membulatkan matanya. “Oalah! Yang kamu maksud itu, Arseno?!”


“Pinter, iya. Dia.”


“Kenapa dengan Arseno, Rey?” tanya penasaran Freya.


Lelaki Friendly itu, menghela napasnya panjang. “Kalian sadar, gak akhir-akhir ini Arseno gak hadir di hadapan kita?”


Jova mengedipkan kedua matanya beberapa kali. “Iya, sih! Dia dimana, ya? Bukannya aku sama Freya bisa lihat hantu itu? Tapi kenapa sekarang dia jarang terlihat di mata kami?”


“Bukan kami, tapi kita,” ujar Reyhan usai menggelengkan kepala secara pelan.


“Aku tahu Arseno sekarang ada dimana, tempat yang penuh ketenangan, kedamaian. Dan intinya dia sudah gak ada di dunia buat selamanya,” tambah Reyhan.


“Hah?! Maksudnya?!” Sungguh, Freya maupun Jova tidak mengerti apa yang Reyhan ucapkan kali ini.


“Arseno Keindre? Hantu arwah yang dulu pernah menyimpan rasa dendam besar hingga melampiaskan semua ke amarahnya kepada lo untuk meneror diri elo secara mati-matian?”


“Hapal juga, lo- Anjir! Angga?!” Raga Reyhan nyaris saja melompat waktu kaget melihat Angga yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


“Dasar, cowok kok kagetan? Bapak-bapak, lo?!” cemooh Angga.


“Sialan lu, Edan! Muka masih ganteng kayak gini dipanggil bapak-bapak! Mata lo kena minus satu juta?!” sembur Reyhan.


“Ngarang! Tampan itu gak harus muda, ada juga tampan tapi sudah berumur. Lo lagi bahas Arseno, ya?” tanya Angga dengan langsung mengalihkan topik.


“Tahu darimana, lo?”


“Dari jauh sana udah kelihatan kalau lo lagi membahas arwah itu,” respon Angga lalu kembali duduk di tempatnya.


“Dasar Indomie!” Dampratnya Reyhan, membuat Freya menepuk keningnya.


“Indigo kali, Rey. Bukan Indomie. Kalau Indomie, mah makanan anak rumahan atau kos.”


Angga tertawa geli mendengar ucapannya Freya yang duduk di paling pinggir sendiri. “Kamu bisa saja. Oh iya, bahasnya tadi sampai mana?”


“Dua bulan yang lalu, Arseno pamitan sama gue kalau mau balik ke tempat alam abadinya setelah begitu tahu bahwa lo bangkit dari kematian,” jawab Reyhan to the point.


Angga membutuhkan diam sebentar untuk mencerna pembahasannya Reyhan yang langsung to the point. Tetapi setelah 5 menit ia gunakan buat memikir secara logika, lelaki Indigo itu menganggukkan kepalanya paham.


“Harusnya lo tahu dan bisa ngerasain kalau Arseno ada di sekitar ruangan itu. Tapi kenapa lo seolah gak peka?” tanya Reyhan membutuhkan jawab pastinya Angga.


Angga menghela napasnya pendek dengan memejamkan mata. “Bukannya gue gak peka sama kehadirannya Arseno yang arwah. Waktu itu, kan gue masih setengah sadar. Juga lebih fokus ke tubuh ini yang kaku dilematis.”


“Lho? Beneran masih setengah sadar, Ngga? Tapi pas aku panggil, kamu langsung merespon, tuh.”


Angga mengarahkan pandangannya ke arah gadisnya sesudah membuka mata. “Memang sudah merespon, tapi di lainnya pikiranku masih linglung aku dimana.”


“Apalagi pas Reyhan bilang 'sahabat gue masih hidup' aku malah jadi tambah linglung. Jadi kesimpulannya seperti ini, selagi ragaku belum sehat total, itu artinya kekuatan mata batinku juga harus membutuhkan proses pemulihan untuk menuju ke energi yang kuat,” lanjut Angga.


“Oalah! Paham-paham. Jadi kayak gitu, ya? Penjelasan yang detail banget, Ngga!” puji Jova dengan mengacungkan dua jari jempolnya.


Freya menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, aku juga baru paham. Ternyata begitu, ya yang mempunyai kekuatan indera keenam itu? Keren juga!”


Angga hanya menanggapi kekasihnya dengan senyumannya saja, lalu ia mulai kembali menatap Reyhan. “Terus? Alasan lo berwajah sedih gini, karena pisah selamanya sama Arseno?”


“Bukan sedih juga, sih. Cuman gak nyangka aja pertemanan gue dengan dia ternyata hanya memiliki jangka waktu yang singkat. Kami juga sempat akrab dan pernah saling berbagi tugas tentang hal-hal supranatural gitu.”


“Wow, kece! Bagaimana? Berarti lo lebih mending gue mati, kan daripada ditinggal sama arwah Arseno yang udah beristirahat tenang di alam sana? Karena, gue sudah ngerti alasan tertentu-nya dia kenapa kembali ke dunia.”


Reyhan menggelengkan kepalanya kuat dengan mata membelalak lebar, bahkan pemuda itu langsung memeluk tangan kirinya Angga. “Mana ada, Ngga?! Gue lebih baik ditinggal pisah sama Arseno, daripada kehilangan sahabat gue ini!”


“Jangan meluk tangan gue juga, kali! Cepetan singkirin. Malu dilihat semua orang yang ada sekitar sini! Lo itu cowok, bukan cewek!” tegas Angga sambil menarik tangan Reyhan agar melepaskan segera tangannya.


Reyhan mendengus sebal lalu melepaskan tangannya dari lengan tangan Angga. “Habisnya buat apaan, sih lo ngomong kayak gitu?!”


“Gue hanya bertanya. Emangnya salah?”


“Ya pasti salah, lah! Kami bertiga mana mau, sih kamu tinggal mati?! Bikin nyesek doang, tahu kalau kamu pergi!” protes Jova usai mendorong samping kepala Angga pakai sebatas jari telunjuk lentiknya.


“Aduh, iya-iya. Aku minta maaf,” urita Angga seraya mengusap kepalanya.


“Heran, gue! Kalau sama cewek gampang banget ngalahnya. Tapi kalau sama cowok, susah banget ngalahnya,” omel Reyhan.


“Nih, ada pepatah. Perempuan selalu benar, dan kadang lelaki suka salah di mata perempuan. Kita sebagai cowok harus bisa mengalah sama cewek, bukan ngelawan terus!” bijak Angga.


Jova bertepuk tangan. “Wih, mantap! Ternyata si Angga cepat menyadarinya. Gak kayak si Reyhan, lambat menyadari!”


“Angga memang cowok idaman semua cewek. Kalau si Reyhan, sih cowok ogeb,” sambung Jova.


Freya mengerutkan keningnya, sepertinya ia pernah mendengar sebuah kata 'ogeb' bahkan kini pun ia baru ingat. “Ogeb, kan artinya bego, ya?”


“Astaga, malah diperjelas!” Angga menepuk keningnya yang tertutupi oleh rambut hitamnya dengan tertawa karena merasakan tobat memiliki pacar yang otaknya begitu polos.


“Betul kan, Ngga?”


“Iya, Frey! Betul banget,” respon Angga menanggapi dengan bibir cengar-cengir.


“Parah kamu, Va! Pacar sendiri masa dihina yang gak sepantasnya kayak gitu, sih?! Apa salahku, coba?” rengek Reyhan.


“Karena IQ-mu agak tiarap, hahaha!”


Reyhan menghempaskan napasnya dan memilih diam untuk mengalah pada Jova yang telah resmi menjadi kekasihnya. Mendingan mempunyai pacar yang jiwanya barbar kayak cowok daripada mempunyai pacar yang berjiwa buruk serta hatinya sekalipun.


“Buat kalian.” Angga memberikan sebuah jajanan makanan dan minuman segar ke mereka bertiga secara satu persatu.


Mata Reyhan berbinar saat menatap wadah source OPS yang di dalamnya ada dua sosis nang ukurannya besar dengan toping mayones, keju, saus tomat, serta juga diisi toping saus pedas.


“Top, Bang! Emang sobat the best, lah. Tau aje, lu kalau gue lagi butuh asupan jajanan luar!”


Angga mendengus. “Tentang lo, semua gue pasti tahu. Tapi yang penting lo suka yang gue beliin untuk kalian bertiga.”


“Thank so much, Ngga! Ini susu cokelatnya berasa kayak bubuk Chocolatos, lho. Tahu banget ini anak Indigo kalau aku suka sama minuman seger kek ini. Hehe, markotop!” sanjung Jova lalu memakan satu sosis bakar lezatnya.


“Lo sendiri gak beli?” tanya Reyhan yang menyedot minuman cokelatnya nang ada di dalam gelas cup.


“Beli.” Angga kemudian mengangkat plastik beningnya yang di dalamnya masih ada tersisa antara makanan dan minuman yang sesuai seperti kedua sahabatnya serta kekasih hatinya.


“Lho, Ngga? Sosisnya ada saus pedasnya, loh. Nanti kalau kamu sakit perut, gimana? Kamu aja pernah kepedasan sampe mau pingsan di sekolah. Bahaya banget buat kesehatanmu.”


“Enggak, kok. Tadi aku minta gak dikasih saus pedes sama kakak penjualnya. Jadi, bakal aman saja, kok. Di makan, gih mumpung masih anget,” ucap Angga.


Freya tersenyum. “Oke, deh.”


“Pft! Andai, aja gue waktu itu udah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, pasti gue bisa lihat ekspresi kepedesannya Angga yang gokil. Lumayan, dapet hiburan.”


“Psikopat, lo! Gue lagi menderita, lo malah bahagia! Belum juga sampe masuk IGD,” komplain Angga yang hendak makan.


“Lho, di situ gue justru dapet followers berjuta-juta di aplikasi Instagram karena memposting adegan seru itu! Bisa juga, tuh gue tunjukkin ke om Agra sama tante Andrana, hehehe!”


“Enak aja main spoiler-spoiler aib kejadian gue ke bokap sama nyokap! Gue congkel itu dua biji mata lo kalau berani. Lumayan, bisa buat mainan kelereng untuk anak panti asuhan.” Ungkapan Angga yang cukup sadis, membuat mereka bertiga seketika meneguk ludahnya.


“A-anying, Calonnya psikopat, kah ini anak satu?! Sungguh mengintimidasi my heart,” lengai Reyhan.


“Angga ngeri ...”


“Maaf, Freya. Aku cuma bercanda, lagian kalau misalnya aku calon psikopat udah dari dulu aku mau bekerja sama dengan mereka bertiga yang menculik Reyhan di markas hutan kota Bandung itu buat memutilasi semua organ tubuhnya Reyhan, huahahahahaha!”


‘Mimpi apaan gue semalem bisa ngeliat cowok sadis ini kayak Angga?’ batinnya sang lelaki Friendly.


“Buset, dah! Ini si Angga kesambet setan apa lagi, sih?! Dari tawanya aja udah kayak dari jelmaannya iblis,” tukas Jova.


Angga berhenti tertawa lalu melegakan tenggorokannya. “Sudah, oke? Aku capek ngeluarin omongan terus!”


“Ya, suruh siapa banyak ngoceh?!” jawab Jova seraya menyentil telinga kiri Angga.


Lelaki tampan Indigo itu, mendesis sambil mengusap daun telinganya yang sehabis di sentil keras oleh Jova nang barbar. Tanpa melawan? Ya, itulah dirinya.


“Oh, iya! By the way soal Instagram, nanti kita berempat foto bareng, yuk?! Kesempatan dalam keluasan, nih. Mumpung kita semua lagi di taman alun-alun. Ya, gak? Ya, gak?”


“Setuju!” pekik Freya dan Reyhan.


“Gak setuju!”


Mereka bertiga langsung cepat menoleh ke arah Angga yang telah berkata tak setuju tentang potret foto hari ini secara bersama, bahkan pemuda tersebut menggelengkan kepalanya dengan wajah melas.


“Yaaaah! Kenapa, Ngga?! Ini, kan bakal menjadi momen spesial untuk kita berempat. Masa gak setuju, sih? Ayolah!”


Angga menghela napasnya lagi sambil menatap mata hazel-nya Jova. “Aku tahu setelah ambil foto, akan kamu posting ke aplikasi akun Instagram-mu itu. Nanti banyak yang tahu, dong kalau aku teman dekatmu. Secara, aku pernah sempat viral di berita karena jadi korban aniaya.”


Jova menghembuskan napasnya dengan menyentuh kening tengahnya. “mana letak kesalahannya, Anggaaaaa? Malah bagus, dong kalau netizen followers-ku tahu. Aku kepengen cepet-cepet ditandai centang biru. Kebangetan, Cuy! Yang ngikutin udah sampe M, tapi masih saja belum ditandai. Apa kurangnya cerdasnya ideku sama kepopuleran-ku?”


“Yeh, malah curhat!”


“Lu gak gaul dan klop sama kami, Bro! Emangnya dimana problem-nya, sih kalau soal foto doang? Gak-nya lo langsung diajak nikah sama nenek-nenek,” lanjut Reyhan.


“Omongan lo gak nyambung! Emangnya lo gak ada rasa malu kalau lo sampe diketahui sama mereka yang sebelumnya tahu lo karena berita viral itu? Bukannya elo sama-sama termasuk korban aniaya kayak gue, ya?” sewot Angga.


“Haha, dasar ini bocah anak einstein satu! Buat apa malu, Bang? Malah keren, dong kalau sampe netizen tahu. Barangkali langsung jadi cowok populer, kan senegara Indonesia? Secara, gue itu tergolong orang yang tampan, rupawan, dan berkilauan.”


“Najong!”


Kini sekarang Angga beranjak dari kursi lalu menggeser langkahnya ke samping. “Gue pokoknya gak mau ikutan foto sama kalian! Silahkan berfoto dengan sesuka hati, biarkan gue berdiri sambil nunggu kalian selesai foto bertiga, bisa dimengerti?”


“Ih! Ayo dong, Ngga! Fotonya cuman sebentar doang, kok. Enggak lama, janji!” rengek Jova sambil menarik tangan sahabat lelakinya.


“Enggak, kalian bertiga saja!” tolak Angga.


“Gak ada kata bertiga-bertigaan! Kita ini dari dulu selalu berempat, jadi foto pun juga harus berempat, kagak kurang! Cepetan, ah!” sarkas Reyhan dengan ikut menarik tangan kirinya Angga.


“Orang gue gak mau, napa lo maksa?! Lepasin tangan gue!”


“Enggak akan, sebelum lo mau diajak foto bareng!” sentak Reyhan dengan terus menarik tangan sahabat Indigo-nya.


Freya yang diam melihat kedua sahabatnya, tersenyum sambil berjalan ke arah mereka. “Ikutan, ah!”


“Freya? Kamu juga?! Anjir, lepasin!! Entar kalau tangan gue ini sampe patah, kalian harus ganti rugi!” ancam Angga berusaha tetap kuat menahan tubuhnya yang ingin tertarik ke depan karena aksi mereka bertiga yang kompak.


“Bodo amat! Tarik yang kenceng, Reeeeeeeey!!” seru Jova yang dibantu pula oleh Freya.


“Ini juga udah kenceng! Tapi Angga kuat banget, Coooooy!! Lo kenapa sih, Ngga?! Kayak mau di kill aja, dah!”


“Ayo dong, Angga! Foto sekali ini saja gak akan ada yang bikin kamu nyesel seumur hidup, kok!” pinta Freya tetap menarik.


“Ya ampun, Freya! Masa kamu satu pihak sama mereka berdua, sih?! Tolongin aku, dong! Aku lagi kesusahan!”


“Kali hari ini aku gak mau nolongin kamu! Kamu kalau dibilangin jangan ngeyel, dong. Kamu juga, kok yang bahagia! Kita kapan lagi, sih bisa foto tenang seperti ini! Momen pas jangan sampai terlewatkan!” sangkal tegas pujaan hatinya Angga.


“Tahu, tuh! Entar kalau misalnya kami cuman foto bertiga, yang ada di sosmed-ku bakal banyak yang duga jika kamu masih stay Koma di Bogor!


Angga yang berusaha menarik diri agar tangannya terbebas dari cekalan kedua sahabatnya dan kekasihnya, tersentak kaget pada ungkapan lantangnya Jova. “Naudzubillah Min Dzalik, jaga mulutmu!”


“Makanya, ayo cepetan!”


Hebohnya mereka bertiga langsung didapati pusat perhatian banyak pengunjung taman alun-alun di kota ini. Banyak yang melongo karena tingkah mereka nang menarik paksa seorang lelaki tampan bak setampan Korea tersebut.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Kondisi Angga kini berwajah tampan, walau rupawan ketampanan auranya masih ada di sana. Bagaimana tak masam? Ia saja pada akhirnya mau menuruti permintaan mereka bertiga walau, forced.


“Senyuman yang sungguh memadai. Thank you banget ya, Anggara yang Ganteng? Bisa langsung aku posting, nih ke akun Instagram-ku, hehehehe!”


Lelaki tampan itu yang belum sempat membenarkan posisi rambut hitamnya untuk merapikannya, bersedekap di dada. “Aku gak seganteng Romeo.”


“Masa? Kegantengan lo sama Romeo dua belas banding dua belas, kok!” ucap Reyhan.


“Hm.”


Freya menggelengkan kepala pelan dengan tersenyum manis seraya mengambil gelas cup minuman milik Angga yang ada dibawah. Gadis itu kemudian membentangkan tangan untuk menempelkan ujung sedotan di bibirnya sang kekasih.


“Jangan ngambek. Nih, di minum dulu. Daripada kamu kehausan.”


Angga menghembuskan napasnya lambat seraya menerima gelas plastik minuman itu yang ada di tangan Freya. “Aku gak ngambek, cuman lelah. Main tarik-tarik kayak tadi udah berasa lagi lomba tarik tali tambang.”


“Hehe, tapi lelah begitu sudah gak buat sakit kepalamu kambuh, kan setelah kamu kembali bangun dari kematian itu?”


“Alhamdulillah, Mukjizat Allah.” Angga kemudian mulai menikmati minumannya yang masih terasa segar bila diteguk, ya meskipun langit pagi tak terlihat cerah.


“Beneran gak nyangka, ya? Kita kembali lengkap. Rasanya terenyuh banget karena kejadian itu tidak menjadi berubah diselimuti kedukaan yang mengundang air mata,” lirih Jova berucap seraya mengusap foto ia dan mereka bertiga yang ada di dalam layar ponselnya.


Angga yang paham apa yang dimaksud Jova, hanya diam meskipun bibirnya membentuk senyuman hangat. Ia juga tidak menduga sekali bahwa dirinya bisa hidup kembali bersama mereka di dunia. Bukannya menyerah karena kondisi, tetapi dikarenakan raganya yang terlalu lemah untuk bangkit dari kesakitan waktu dulu.


“Kalau tanpa ada lagi sosok hebat itu, mana ada kata bahagia di hati? Semuanya akan terasa hancur lebur,” lanjut Jova.


“Benar. Sosok seperti dia di dunia sangat jarang untuk ditemukan, mungkin hanya ada satu saja. Berasa ingin punah,” timpal Reyhan.


“Setuju. Seorang yang paling berharga di seumur hidup kita bertiga, dan seorang penyelamat hidup yang tidak terlupakan.” Freya menyambung perkataan mereka.


“Cukup. Gue masih ada di sini untuk kalian bertiga, dan gue gak akan mungkin pergi meninggalkan kalian. Kita berempat ini sudah tergabung dalam circle kehidupan, apakah kalian ingat? Sehidup semati. Itu adalah sebuah pengungkapan kata yang pernah keluar dari mulut kita waktu masih duduk di bangku kelas sepuluh di SMA kita.”


Freya, Jova, dan Reyhan menoleh ke arah Angga yang ada di tengah-tengah mereka bertiga. Lelaki tampan itu nampak berbicara sembari menatap langit dengan bulir air mata yang mulai menyembul Keluar dari pelupuk.


“Gue ingin mati bersama kalian. Gue gak ingin kalau kita pada akhirnya beda alam hanya karena maut yang memisahkan kita berempat. Gue hidup, karena kebaikan kalian semua yang mau mendoakan gue. Gue bertahan, karena segala motivasi yang kalian berikan sempurna untuk diri gue. Tanpa kalian, hidup gue akan tetap suram seperti di masa lampau.”


Reyhan menundukkan kepala dengan wajah sendu. “Kalaupun lo beneran mati, itu seharusnya kami ikut mati bareng lo. Malaikat yang mencabut nyawa kami, bukan kami yang mencabut nyawa dari raga. Kita ini selalu berempat, apa-apa selalu bersama. Itu berarti kesimpulannya jika mendekati kematian kita harus bisa menghadapinya bersama-sama.”


Angga menghembuskan napasnya lirih lalu mulai mengangkat kedua tangannya untuk merangkul mereka bertiga. “Sekalipun maut memisahkan nyawa dari tubuh kita, yakinlah! Kita akan tetap selalu bersama.”


“Aamiin.” Jova maupun Freya menanggapinya lembut secara kompak, mata pandangan juga posisinya mengarahkan ke langit luas seperti Angga.


“Kenal lebih lekat dengan kalian, gue akhirnya mampu mencapai semua kebahagiaan gue yang selama ini tertunda karena masa lalu. Dan kini sekarang ...”


“Gue bisa merasakan apa itu bahagia tanpa jeda. Terimakasih kalian, kalianlah yang paling terbaik di sepanjang hidup gue. Sampai kapanpun, gue akan selalu mengingat atas jasa yang telah kalian sumbangkan dengan sepenuh hati.”


Keempat remaja itu saling merangkul ramah dan saling menampilkan senyuman hangat. Mereka di taman alun-alun kota Jakarta, tetap memandangi luasnya langit di atas sana yang telah dipadukan oleh semilir angin tenang. Air mata juga berderai untuk mendominasi akan segala semua ini.


Sehidup-Semati? Ya, itu adalah berasal dari semboyannya yang telah berada di dalam suatu circle mereka berempat. Dan, Best Four Forever pula termasuk dari slogan julukan yang telah mereka kuatkan dalam kebersamaan hingga akhir hayat.


Kebahagiaan mereka pun akan menjadi suatu keabadian yang begitu istimewa untuk selama-lamanya.


^^^-Good bye, Sadness-^^^


•••


Akhirnya kisah cerita ini selesai juga! Wah, memang sungguh gak aku sangka, sih. Dan Alhamdulillah novel horor ini benar" berakhir dengan bahagia/happy ending


Dan entah kenapa imajinasiku yang keluar, bisa" nya antara Jova sama Reyhan aku jodohin di cerita epilog ini, hahaha! Gak papa, deh yang penting mereka gak lagi menderita Jomblo akut, xixixixi


Untuk Readers tercinta, terimakasih ya kalian selama ini telah mau tetap setia bersinggah di lapak karya horor Indigo ku yang ceritanya diluar nalar ini. Pokoknya makasih banget! Tanpa kalian yang mendukung cerita ini, novel ini gak akan ada istimewa" nya sama sekali dan masuk ke genre Horor On Going yang populer, hehehehe!


SAYONARA, ALL! ♡

__ADS_1


^^^_Warm greetings from Author Ansyanovels_^^^


__ADS_2