Indigo

Indigo
Chapter 79 | Their Anxiety


__ADS_3

Di jam ini tepatnya masih hari Jumat, para guru tengah sedang mengadakan rapat di kantor. Suasana diluar juga tidak mendukung ialah mendung akan hujan seperti biasa. Dan di dalam ruang UKS sudah banyak yang menunggu lelaki ramah itu yang sampai sekarang masih senantiasa tutup mata. Luar tubuh yang hangat sudah diprediksikan oleh mereka bahwa Reyhan tengah demam untuk kesekian kalinya.


Angga yang sudah lama duduk di kursi sisi ranjang kasur sahabatnya kini mendengus dengan muka bersemu cemas. Ya, sebetulnya Angga telah terbiasa Reyhan seperti ini.


Angin kencang memasuki lewat jendela ruangan UKS hingga menerpa rambut mereka yang menanti kesadaran dari Reyhan termasuk rambut Reyhan pula. Johan yang lagi mengecek obat komplit di kotak putih P3K, seketika menoleh ke arah jendela yang masih terbuka lebar. “Kayaknya bakal hujan deres, nih.”


“Jangan gitu lah, Bang! Kalau hujan nanti balik pulangnya gimana? Yakali pake pintu ajaib Doraemon,” oceh Aji.


“Halah, kebanyakan berimajinasi, elu! Kan lo bawa jas hujan! Gitu aja ribet amat!” sarkas Raka menimpali ucapan Aji yang ada di sebelahnya.


“Perasaan kalau lihat gini, kok gue jadi dejavu ya?” Jevran bertanya pada diri sendiri seraya menggoyang-goyangkan kakinya dalam posisi ia bersandar di tembok.


“Dejavu apa?” tanya Aji menaikkan kedua alisnya sambil menoleh ke tetangganya Reyhan.


Jevran menatap Aji. “Lo inget Reyhan pingsan seperti ini dulu hari Jumat sebelum dia mengalami kecelakaan besar itu? Hampir sama kan kejadiannya.”


“Oh iya gue inget! Gue inget. Yang waktu Reyhan kehujanan gara-gara ke sekolah malah jalan kaki, kan?!”


Jevran menganggukkan kepalanya merespon Aji, dan Johan yang selesai mengecek kotak alat kesehatan tersebut langsung duduk di kursi kosong satunya yang terletak dari antara kasur ranjang yang saling berjejeran. “Hampir sama emang, tapi beda versi. Reyhan waktu itu hilang kesadarannya pas jam bel masuk kelas belum bunyi, sedangkan kalau ini dia pingsannya disaat jam mata pelajaran berlangsung.”


“Gue heran sama Reyhan, kenapa setiap sakit dianya mimisan? Apa punya suatu kanker penyakit yang belum diketahui sama orangtuanya apalagi Reyhan sendiri?” lanjut Johan.


Freya sontak mendengar pertanyaan bingung Johan langsung menunjukkan ekspresi kagetnya. “K-kak, jangan bilang gitu dong. Kami yakin kok Reyhan nggak punya penyakit kanker, mungkin bisa jadi karena itu sudah dari dasarnya setiap Reyhan demam.”


“Ada benarnya juga sih kamu, Frey. Waktu itu dokter udah jelasin yang mengakibatkan Reyhan mimisan karena pusing berlebihan apalagi Anemia. Ya, itu yang aku ingat dari perkataan beliau,” ujar Jevran.


“Besok hari apa sih, Bang Johan?” tanya adik kelasnya yang bernama Andra Jaka Saputra.


“Sabtu. Malah bagus buat Reyhan, libur dua hari cukup untuk dia reses total di rumah.”


Oksigen yang telah kembali terkumpul dalam tubuh Reyhan yang mendadak sempat turun karena sakit demamnya, perlahan matanya kembali terbuka dengan suara lenguhan sangat lirih. Kepalanya yang terasa begitu pusing ia edarkan pandangannya untuk menatap langit dinding bercat putih yang pertama dirinya lihat.


Angga yang duduk bersandar punggung di sandaran kursi seketika badannya ia tegakkan saat melihat kedua mata sahabat dari SMP-nya terbuka kembali. Amat sayu sorot matanya bahkan wajah yang jauh lebih pucat dibanding sebelumnya. Mereka selain Angga yang menatap itu menyunggingkan senyuman lebar yang merekah di mukanya masing-masing.


Tetapi ada suatu raut wajah Aji yang tergambar, seolah-olah ia ingin mengerjai temannya tersebut yang baru saja sadar dari pingsannya. “Akhirnya sekian lama kami menunggu, lo sadar juga.”


Reyhan yang mendengar suara Aji perlahan menolehkan kepalanya ke arah temannya dengan gerakan lemah. Hanya menatapnya tanpa berkata apapun. Angga tak perlu memikirkan pusing pada muka jahilnya Aji, lelaki yang memiliki indera keenam itu sudah mengetahuinya apa yang akan dilakukan oleh Aji pada Reyhan.


“Dah enam tahun lo gak sadar, sampe sepet kami nunggunya.”


“Apa?! Gue enam tahun gak sadarkan diri?! Berarti selama ini gue Koma lagi dong?!” pekik kejut setengah mati Reyhan sekaligus bangkit duduk dengan muka ekspresi terperangah.


“B-berarti umur gue sekarang, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, dua puluh ...” Setelah Reyhan menghitung umurnya bersama jari tangannya, mata Reyhan terbelalak lebar. “Dua puluh lima tahun, tua amat anjir! Mana masih single, lagi! Haduh! Kok bisa gini sih nasib gue?!”


Menatap kepanikan Reyhan serta suara rengek Reyhan membuat hampir sang penanti siuman lelaki itu tertawa kencang. Kedua alis Reyhan saling bertautan karena bingung, disaat hati dan pikirannya panik tetapi malah justru tersebut mereka menertawakan Reyhan, terkecuali Angga yang hanya menggelengkan kepalanya.


“Wah emang parah sih si Aji, itu anak baru sadar lo langsung ngomong ngelantur kagak jelas. Kasian noh mukanya Reyhan jadi panik kayak istrinya mau lahiran,” cemooh Andra.


“Hah? M-maksudnya, Ndra??”


“Hadeh, lo mau banget sih di bohongin sama Ajinomoto? Elo itu cuman gak sadarkan diri selama enam jam, Reyhan. Iya kali nalarnya gimana coba? Kalau sampe enam tahun, elo bukan terbaring di sini tapi rumah sakit!” tutur Jevran.


Reyhan menyeringai dengan muka mulai kesal pada Aji, puncak pada akhirnya semuanya tidak benar. Dirinya yang gregetan mengambil bantal yang ada di belakangnya dan ingin melemparkannya kepada muka tengil Aji. “Sontoloyo! Dasar manusia dunia tipu-tipu! Gue lempar mantap juga nih bantal ke muka ngeselin elo!”


“Weits! Santai, Bro! Jangan marah-marah dong. Elu masalahnya baru aja sadarkan diri, nanti kalau balik pingsan, gue gak mau tanggung jawab.”


‘Kena karma kan lo, salah sendiri siapa kemarin ngerjain gue. Jadi lebih parah orang yang ngerjain lo, biar sepadan,’ batin Angga menatap mata coklat Reyhan.


Reyhan menurunkan bantalnya lalu ikut memberikan tatapan pada Angga. ‘Dih, emangnya gue gak bisa dengerin batin hati lo? Gue denger anjir.’


‘Mangkanya nggak usah isengin orang, kena akibatnya kan lo. Kualat sama sahabatnya.’


‘Huh, ini atas suruhan dari lo, kan?! Awas aja kalau lo sampe bilang 'iya'. Gue pelintir itu mulut mingkem.’


‘Gue masih sabar menghadapi lo yang suka nuduh-nuduh orang. Jangan sampai kesabaran gue habis, sabar ada batasnya.’


‘Heleh-heleh, pinter bener omongannya. Sok menggurui gue, lagi. Itu mata pengen gue colok pake colokan kabel blender !’


‘Lo pikir gue takut sama ancaman gak bermutu dari lo? Mimpi panjang dulu saja sana.’


Kedua pemuda tersebut saling menatap tajam dengan beradu relung hati atau istilahnya berdebat dalam lubuk hatinya tersendiri. Mereka yang menyaksikan hal tersebut membuat menjadi getir, harapnya mereka Angga dan Reyhan tak hingga berbaku hantam.


‘Yaelah, pasti Angga sama Reyhan lagi ngobrol lewat telepati, kebiasaan banget dua cowok itu.’ Freya membatin dengan yakin sembari nyengir bersama gelengan kepala pelan.


“Gilak muka lo itu udah pucet banget kayak penderita kanker Leukimia stadium akhir.”


Reyhan yang sedang menatap berang Angga, beralih menolehkan kepalanya pada Aji dengan mata tajamnya. “Lu bilang gue apa tadi?! Heh Maemunah! Gue gak punya penyakit kanker apapun, ya! Apalagi termasuk Leukimia. Yang bener aja lo kalau ngomong!!”

__ADS_1


Freya yang merinding mendengar suara menyeramkan dari Reyhan langsung memundurkan langkah kaki kecilnya lalu tubuhnya bersembunyi di punggung Jova. “Reyhan galak banget ih ...”


“Lagian kalau gue punya kanker itu, mustahil besar buat gue bertahan hidup!!” Astaga Reyhan tidak henti-hentinya memarahi Aji, sudah wajar kalau itu terjadi, dikarenakan memang dari awal ia sadar tadi dirinya sengit pada Aji.


“Padahal sendirinya punya darah rendah, lah kok malah darah tinggi sekarang,” gumam Jevran tak menatap Reyhan alias menunduk.


“Diem, lo!!”


Reflek Jevran mendongakkan kepalanya dan menatap Reyhan dengan wajah serta perasaan takut. “E-eh maapin gue, Rey! Tapi kan gue ngomong sesuai fakta.”


“Santai, Nyuk, santai. Kamu baru aja sadar dari semaput, nanti kalau pingsan lagi, siapa yang repot?” tanya Jova sembari datang mengusap-usap punggungnya Reyhan.


“Dedemit!”


“Woi! Aku ngomongnya nyante, kamu malah ngegas! Slow bos!” Jova beralih menoyor belakang kepala hingga sang empu mendumel tidak jelas.


Reyhan mengelus-elus kepalanya dengan lirikan tajam melihat mata Aji, yang diberikan tatapan nyalang seperti itu mulai nyengir. “Lo jangan mati dulu, Dosa lo pada gue belum lo tebus. Nih ya, setelah gue hitung Dosa lo, berlipat-lipat ganda. Emang dasarnya gue punya temen sesat, laknat, dan berlumuran Dosa!”


“Malaikat Atid, lu?! Pake acara ngitung-ngitung Dosa gue?!”


Cklek !


“Bukan, tapi gue adalah malaikat Izrail yang akan mencabut nyawa dari raga lo, wahahahaha!!”


“OMG (Oh My Gosh)! Oke batas kesabaran gue udah hangus!”


Reyhan melemparkan bantal yang sedang ia pegang ke arah Aji. Namun sempat-sempat beruntungnya, Aji memiringkan badannya. Hal tersebut meleset tak mengenainya tetapi malah justru...


Mengenai wajah pak Harden sang kepala sekolah di SMA Galaxy Admara, yang mana beliau telah datang di ruang UKS bersama wali kelas XI IPA 2 yaitu pak Harry.


BUG !


Para siswa dan siswi sangat terkejut termasuk Reyhan yang telah bersalah besar kepada beliau. ‘Mati gue hari ini! Pasti dapet ceramah atau di Skors.’


Pak Harden memegang seluruh mukanya sementara satu tangannya memungut bantal UKS yang terjatuh di lantai tepatnya di bawahnya sang kepala sekolah. Karena lemparan tersebut cukup kencang.


“Bapak tidak apa-apa?!” Pak Harry dengan menghela napasnya langsung menatap salah satu murid kelas XI IPA 2. “Reyhan Lintang Ellvano!”


Reyhan segera saling menempelkan kedua telapak tangannya seolah sedang bermohon. “Aduh maaf, Pak! Saya benar-benar nggak sengaja huhu!”


“Dan teruntuk Pak Harden yang rupa wajahnya masih awet muda, ganteng, serta bijaksana. Maafkan muridmu ini ya, Bapak Harden tampan. Hehehehe!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Hujan deras masih melanda dimana saat Reyhan pulang sekolah. Dan di dalam kamarnya, dirinya hanya bisa berbaring lemah di atas kasurnya. Meletakkan tangannya di atas kening seraya mendesis karena kepala yang terasa pusing beserta badan yang kurang enak. Wajahnya terlihat pucat, sementara kedua orangtuanya ada di sebelahnya untuk menemaninya.


“Nah gimana? Baru kapok, Nak? Tadi Mama sudah peringati buat Reyhan jangan berangkat sekolah. Kualat kan akhirnya sama Mama,” omel Jihan.


“Maaf, Ma ...” lirih lemah Reyhan.


“Maaf-maaf! Sudah terlambat, jadi gini pada puncaknya!” sarkas Farhan.


Jihan menolehkan kepalanya dengan menatap tajam suaminya karena sudah memarahi putranya yang tengah sedang sakit demam. “Papa! Anakmu tuh lagi sakit, jangan dimarahin lah!”


“Iya Mama, Papa cuman bercanda kok. Ehm, tadi kamu gak main hujan-hujanan kan pas pulang dari sekolah?”


“Aneh, sekali kena air hujan aja langsung drop. Ya enggak lah, Pa. Reyhan langsung pulang kok pakai jas hujannya yang ada di jok motor ...”


“Oke yasudah. Mau Papa buatin teh anget di dapur?” tawar Farhan bangkit dari pinggir kasur.


“Wah boleh tuh! Oh iya Pa, sekalian bikinin mie rebus ya hehehe, jangan lupa kasihi telor ceplok.”


“Lah malah meminang? Jangan suruh Papa yang masakin mie rebus dong, Rey. Mama aja yang masak, ya? Papa gak ahli masak lho, nanti kalau malah keasinan, Papa juga pasti yang malu.”


“Tau malu, Pa?” tanya Jihan seraya tersenyum menyeringai pada sang suami.


“Ya taulah, Ma! Lagian anakmu mintanya yang freak, kan bisa yang lain.”


“Freak? Walah Pa, Reyhan kan mintanya dibikinin mie rebus, bukan geret planet Pluto yang ada diluar angkasa! Hehehe, buatin ya Papa ganteng Sayangnya Reyhan.”


Farhan menghela napas berat. “Yasudah. Tapi kalau kuahnya apalagi mienya rasanya asin, tolong jangan protes sama Papa lho. Papamu udah berusaha yang terbaik.”


“Buset, udah kayak di acara televisi MasterChef Indonesia bae. Papa tenang aja, ada juri yang akan mencicipi hasil masakannya Papa, meski Papa selalu ada di peringkat terakhir kek anaknya.”


“Jangan suruh Mama yang ke dapur, soalnya Reyhan lagi pengen ditemenin sama Mama Jihan cantik jelita,” sambung Reyhan sambil memeluk tangan sang ibu dengan perasaan sayangnya bersama senyuman tampan bahagia.


“Dasar anak manja.”

__ADS_1


Jihan terkekeh sembari mengacak-acak rambut anak semata wayangnya dengan sunggingan senyuman lebar, sementara Farhan mendengus mengiyakan perkataan Reyhan kemudian berjalan meninggalkan anak dan istrinya dari kamar.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di malam hari, Reyhan tengah tidur karena badannya lebih jauh tidak enak bahkan kepalanya masih saja pusingnya belum kunjung reda, entah kapan pulihnya dikarenakan sepertinya demamnya parah. Itu hanya menurut Reyhan.


GEDEBUK !!!


Spontan Reyhan terbangun dari tidurnya saat mendengar kegaduhan dari luar kamarnya. Jika Reyhan tebak suara itu berasal dari bawah tangga. Reyhan mengeluh karena tidurnya menjadi terusik pada suara di jam pukul 22.59 ini. Dengan terpaksa Reyhan melepaskan kain kompresnya yang ditempelkan oleh Jihan di keningnya lalu meletakkan kain kecil tersebut di atas meja nakas. Lelaki itu memutuskan beranjak berdiri dari kasur untuk mengecek suara tersebut di luar kamarnya.


Dalam keadaan jalan sempoyongan karena kepala yang mendadak keliyengan, Reyhan tiba di dekat tangga. Pandangannya menelisik ruangan bawah dari atas. Namun apa yang dirinya lihat tidak ada apa-apa apalagi benda yang terjatuh. Reyhan memegang kepalanya dengan mengerang.


“Akh! Aduh kepala gue!” Reyhan yang hampir jatuh karena keseimbangan tubuhnya kurang, ia sigap pegang railing tangga untuk menyempurnakan keseimbangan tubuh miliknya.


Tetapi tiba-tiba Arseno yang ada di belakang Reyhan mulai menendang punggung Reyhan menggunakan kekuatan gaibnya hingga membuat Reyhan yang tak siap jatuh ke undakan tangga dan raganya terguling-guling kencang di sana dan sempatnya sebelum tubuhnya menggelinding, keningnya terbentur di salah satu undakan anak tangga.


Arwah itu yang ada di atas tangga tertawa gembira menatap manusia tersebut yang ia celakai. Reyhan berhenti terguling waktu tubuhnya berada di lantai bawah tangga. Kening bagian kanannya terdapat darah yang mengalir pelan sampai mengenai alisnya, begitupun cairan merah pekat dari luar dua lubang hidungnya.


“Satu yang ingin aku harap kepadamu, cepatlah kamu ke penghujung kematian!”


Bersamaan keinginan ungkap yang Arseno utarakan pada Reyhan yang menatap tak berdaya arwah negatif beraura hitam tersebut, lelaki itu perlahan menutup mata usai kegelapan gulita mendatanginya dengan dalam waktu singkat.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Jihan tengah membelai lembut kepala sang anak bersama wajah penuh lara. Kening kanan Reyhan yang ditambal oleh perban kasa usai luka darah keningnya diobati oleh dokter, beserta lelaki itu terpasang alat oksigen untuk membantu oksigennya dalam tubuh kembali terkumpul dan dengan tersebut Reyhan mampu secepatnya sadar.


Wajah pucat dan damainya yang matanya masih terpejam membuat Jihan mulai diselimuti rasa kecemasan begitupun Farhan, masalahnya anak mereka telah tak sadarkan diri semenjak tadi malam hingga sampai pagi hari ini. Meskipun semalam kedua orangtuanya Reyhan cepat-cepat membawa anak putranya ke RS Wijaya.


“Bukalah matamu, Sayang. Sudah dari tadi malam kamu nggak segera sadar-sadar. Mama takut kamu kalau malah kenapa-napa,” pinta Jihan seraya tangan kanannya mengangkat tangan lemas Reyhan lalu telapak tangan pemuda itu ditempelkan ke pipi sang ibu yang air matanya telah mengering.


Farhan yang ada di samping istrinya, mulai menyentuh punggung Jihan lalu mengusapnya pelan. “Jangan terlalu sedih seperti itu, Ma. Reyhan bakal baik-baik saja kok.”


Jihan hanya memberikan sebuah anggukan kecil untuk menanggapi ujaran lembut suaminya. Farhan yang berdiri menatap anak humorisnya nang terbaring lemah di ranjang pasien bersama pakaian baju pasien biru muda yang dikenakannya.


Cklek !


Klap !


Seseorang telah ada yang membuka pintu ruang rawat kemudian menutupnya. Farhan memutar kepala dan badannya beberapa derajat dalam beliau melipat kedua tangannya di dada. “Eh kalian sudah datang?!”


Agra beserta Andrana tersenyum lebar, sementara Angga hanya tersenyum tipis. Agra berjalan melangkah mendekati Farhan yang sudah beliau kenal dari lama waktu masih muda. “Hai Farhan, bagaimana kabarmu? Sehat?”


“Alhamdulillah sehat, Agra. Terimakasih ya kamu, istrimu, dan juga anakmu telah datang ke sini.”


“Iya sama-sama.” Agra beralih pandang menatap Reyhan yang masih belum kunjung sadarkan diri. “Far, gimana dengan keadaan Reyhan? Semuanya baik-baik saja kan? Nggak ada luka atau cedera yang serius?”


“Untung saja nggak ada, dokter bilang itu hanya benturan kecil yang terjadi sama anakku. Tapi sebenarnya aku dan juga istriku khawatir karena sampai sekarang Reyhan belum siuman. Kami harapnya gak ada sesuatu buruk dengan Reyhan.”


Agra kembali tersenyum ditambah menganggukkan kepala. “Aku yakin Reyhan pasti baik-baik saja. Sabar saja, Far.”


Agra menepuk-nepuk pundak Farhan sang sahabatnya untuk memberikan kesabaran. Sementara Andrana yang telah ada di sebelahnya Jihan mulai sedikit merangkulnya bersama senyuman lembut yang merekah di wajah cantiknya.


“Jihan, kalau aku boleh tahu Reyhan kenapa bisa jadi seperti ini? Aku kaget banget dapat telepon dari kamu bahwa anakmu masuk rumah sakit lagi.”


Jihan menghela napasnya sambil menurunkan tangan Reyhan dan beliau letakkan di ranjang pasien. “Aku kurang tahu, tapi kayaknya Reyhan terjatuh dari tangga.”


“Astagfirullah! Ya ampun kasihan sekali anakmu, tapi yasudah. Kamu jangan sedih begini ya, Reyhan pasti bakal cepat bangun kok.”


“Terimakasih, Andrana.”


“Ngga, mau di situ jadi patung? Diem aja di sana. Kamu nggak mau nyamperin sahabatmu yang lagi sakit begini?” tanya Agra.


Angga cukup mendengus dan setelahnya melangkahkan kedua kakinya maju menghampiri Reyhan yang terbaring lemah di ranjang pasien. Sedangkan kedua orangtuanya begitupula dua orangtuanya Reyhan meninggalkan ranjang pasien untuk sarapan yang mana tadi Agra membeli makanan biasa ialah bubur ayam berjumlah lima bungkus. Dua wanita paruh baya beserta dua pria paruh baya menduduki kursi sofa dan memulai sarapan.


“Angga, kamu nggak sarapan?” tanya Andrana menatap teduh anaknya yang menarik kursi.


“Nanti saja, Ma.”


Andrana mengangguk senyum. Dan Angga kini telah duduk di kursi yang tadi Jihan duduki, bukan hanya sekedar menatap muka pucat Reyhan namun juga ingin mencari tahu mengapa Reyhan bisa menjadi parah seperti ini apalagi sampai masuk rumah sakit.


Kedua tangan Angga saling mengulur menggapai telapak tangan Reyhan. Tangan kiri menyentuh telapak tangan sahabatnya bagian atas, tangan kiri menyentuh telapak bagian bawah. Angga menutup matanya dan mendeteksi kejadian celaka Reyhan melalui mata batinnya.


Dalam konsentrasinya mencari tahu, Angga seperti ditarik oleh waktu secara tiba-tiba. Dan sekarang munculah suatu gambaran jelas apa yang ia terawang. Terdapat Reyhan yang ada di atas tangga rumahnya, Angga melihat sosok arwah Arseno yang menendang Reyhan bermaksud mendorong Reyhan supaya jatuh dari tangga yang sempat dirinya memegang railing tangga sebelum dijatuhkan.


Yang membuat keningnya terluka berdarah adalah dimana saat jidatnya membentur salah satu dari undakan anak tangga tersebut. Angga menggertakkan giginya dan rahangnya mengeras karena sangat murka pada ucapan Arseno sebelum akhirnya Reyhan menutup mata karena tidak tahan pada sakitnya yang ia alami ulahnya sosok tersebut.


Raga Angga layaknya didorong kuat bersama selang waktu dan saatnya pemuda Indigo itu membuka matanya kembali. Raut amarahnya berganti menjadi pilu. Meskipun sifatnya demikian, Angga juga merasa risau pada sahabatnya yang kedua matanya masih terpejam tenang. Lemas tangan Reyhan bisa Angga rasakan bahwa kondisinya sedang tidak baik-baik saja, akan namun kendatipun dirinya adalah manusia Indigo, Angga tidak mampu memprediksikan kesadaran Reyhan kapan bahkan cara mengobati sakitnya. Angga juga bukanlah seorang Paranormal semestinya.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2