Indigo

Indigo
Chapter 85 | Uncovered Already


__ADS_3

“Matilah! Kita salah jalan, Anggara!”


Dua pria tersebut yang tak lain adalah Arkie dan Aditama menatap kedua pemuda SMA itu dengan menyeringai sambil menggenggam alat senjata tajamnya untuk membacok Angga serta Reyhan. Raut Reyhan sudah jelas ketakutan, sedangkan sahabatnya menampilkan wajah aura dinginnya.


“Elo?” Aditama menunjuk Reyhan dengan pisau belatinya dari jarak jauh, senyuman sadis itu membuat Reyhan tak bisa berkata apa-apa karena teringat mimpi buruknya.


“Jangan hadang kami berdua! Gue dan sahabat gue nggak ada sangkut pautnya sama lo berdua! Jadi biarkan kami pergi dan lepas tali itu sekarang juga!!” bentak Angga keras.


“Apa? Lo siapa ngatur-ngatur kesenangan kami?! Kayaknya kalau dari lihat gelagat lo, lo cowok pemberani, ya? Hm! Kita buktikan saja Tam, seberapa hebatnya cowok satu ini!”


“Gawat, Ngga! Kita udah gak bisa kabur dari dua pria bau bangkai tikus itu. Nyawa kita pasti bakal jadi taruhannya karena kita cuman pakai tangan kosong, sedangkan mereka berdua pakai tangan isi.”


Arkie menatap kedua pemuda itu yang berseragam dengan dibungkus oleh jaketnya masing-masing yang tanpa resleting tertutup. “Kenapa diam aja? Takut ngelawan kami? Dasar pengecut!!”


Reyhan menggertakkan giginya karena tidak terima dirinya dan Angga dikatakan seperti itu, tangan telunjuknya menuding ke arah Aditama dengan raut ekspresi amarahnya. “Heh mulut-mulut tokek! Jangan lo pikir kami pengecut, ya! Kami gak ada takutnya sama lo berdua bahkan senjata kalian sekalipun!”


Angga diam tak berkata apa-apa lagi, pemuda itu merasakan akan ada pembantaian yang mendebarkan. Untuk kabur menghindari Aditama dan Arkie rasanya begitu sulit. Arkie serta temannya yang gregetan pada mulut lantang Reyhan dan menganggapnya sok berani, mereka berdua langsung berlari maju mendekati kedua lelaki siswa dari SMA Galaxy Admara sambil mengangkat senjata tajamnya yang mereka bawa masing-masing, yang mana Aditama menggenggam pisau belati, sedangkan Arkie menggenggam kapaknya.


Tentu saja, bukannya melarikan diri dari dua pria berotot setengah psikopat itu, Angga dan Reyhan malah ikut maju berlari ke arah mereka dengan tampang wajah beraninya serta tidak ada hati takut yang menyelimuti mereka berdua.


Aditama yang melancarkan pisau belatinya ke arah bagian anggota tubuhnya, dengan cekatan Reyhan langsung menahan tangannya dan memelintir tangan pria berkulit sawo matang itu ke belakang, kemudian kakinya menendang punggung kokoh Aditama hingga yang ditendang justru tersungkur ke depan.


Badan Angga meliuk-liuk bersama gesitnya mengelak setiap serangan yang diberikan oleh Arkie. Saat Angga meliuk ke samping berlawanan dengan Arkie, kesempatan lelaki itu memegang badan Arkie dan mengangkatnya lalu membanting tubuh lawannya. Aditama yang melihatnya sangat terkejut rupanya sahabat yang Reyhan bawa tenaganya begitu kuat. Arkie yang hendak bangkit ingin memberikan depakan untuk Angga, sudah lebih dulu Angga yang memberikan tendangan kencangnya ke muka kulit hitam pria bersenjata kapak tersebut hingga mengeluarkan cairan darah dari lubang hidungnya, lebih parahnya gigi Arkie sebagian di dalam patah dan berdarah akibat tendangan maksimum Angga.


Di sisi lain, posisi Reyhan didorong maksimal oleh Aditama hingga punggung serta kepalanya menghantam hebat di pohon hingga pohon tersebut bersemu bergoyang. Tangan kiri Aditama menarik kerah seragam Reyhan ke atas sedangkan tangan kanannya mendekatkan pisau belati tajamnya di leher Reyhan sebatas 2 sentimeter. Reyhan sudah membatin kalau Aditama akan menggorok lehernya yang membuat nyawanya melayang.


“Lo mau gorok leher gue? Udah kayak di film-film gitu, dong!” Inilah kenapa Reyhan malah sempatnya berbincang seperti itu pada Aditama yang sorot matanya sudah layaknya kesetanan.


“Banyak omong!” Aditama yang menempelkan sisi pisau belatinya di leher Reyhan untuk ia gorok, tangan Reyhan yang bebas tidak di apa-apakan, auto menepis tangan kanan Aditama dengan kencang hingga dirinya tak sengaja membuat pria berbadan kekar itu tersayat lebar serta dalam di pipi sebelah kirinya oleh pisau belati miliknya sendiri.


Reyhan menyeringai bahagia. “Eh sorry, nggak sengaja hahahaha!”


Setelah menertawakan Aditama dengan renyah, salah satu tangan Reyhan menonjok muka Aditama tepatnya di hidungnya membuat tulang hidungnya patah ditambah Reyhan mengasih tendangan tungkai kakinya hingga mengenai rahang pipi Aditama yang satunya tidak terluka. Hal itu membuat pria berbadan kekar tersebut menjadi jatuh ke samping dan tubuhnya menghantam aspal dengan keras.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Galaxy Admara - Kelas XI IPA 2


Freya mengetuk-ketuk meja bangkunya dengan jari-jari tangan lentiknya sembari pandangan tak terlepas dari jam dinding kelas. Jarum jam terus berputar, sementara kedua sahabat lelakinya belum kunjung datang. Sedangkan Jova yang ada di kursi tempat bangkunya menoleh ke arah belakang yang mana terdapat dua bangku siswa nang masih kosong belum ada yang menempatinya.


Joshua yang selesai membersihkan kacamatanya yang sempat terkena debu kemoceng akibat ulah salah satu teman kelasnya, menghampiri dua siswi perempuan temannya yang tengah menanti seseorang. “Freya, Jova. Sahabat-sahabat kalian Hari ini masuk atau enggak? Sebentar lagi jam tujuh, lho.”


Freya menoleh ke arah Joshua yang berdiri di samping kirinya. “Eh, aku nggak tau. Tapi masa mereka berdua sama-sama absen?”


“Hm'em. Jarang banget Angga apalagi Reyhan dateng ke sekolahnya telat, mereka selalu dateng awal. Kira-kira mereka lagi dimana, yaa? Mana lagi jam pertama si guru Fisika killer!” sambung kata Jova melipat kedua tangan di dada seraya menyender punggungnya di sandaran kursi yang di situ ada terdapat tas ransel ungunya.


Freya dan Joshua mengedikkan bahunya dengan gelengan kepala. Sebagai ketua kelas, Joshua setidaknya harus mengetahui dimana keberadaan kedua temannya yang terpopuler di sekolah SMA elite ini.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


BRUGH !!


Reyhan dibanting dahsyat oleh Aditama yang pria itu tak lagi memegang pisau belati tersebut dikarenakan senjata tajamnya telah dibuang oleh Reyhan sendiri ke jurang. Aditama mendelik menatap Reyhan yang kesakitan di sekujur tubuhnya.


“Emangnya kalau lo sudah buang senjata gue, gue gak bisa ngapa-ngapain elo?”


BUGH !!!


Aditama menghentakkan kakinya yang bersepatu di atas perutnya Reyhan membuat pemuda itu berteriak memegang perutnya dengan merintih-rintih, bahkan posisi keadaan Reyhan yang terbaring ia ubah menjadi menyerong ke samping. Kesempatan emas Aditama adalah melancarkan aksinya membogem mentah muka Reyhan beberapa kali begitupun selanjutnya menendang-nendang badan serta sepasang kedua kakinya yang bercampur perasaan emosi dan terhibur.


“Reyhan?!” Fokus Angga menjadi pudar saat melihat sahabatnya terkapar tak berdaya di atas aspal yang posisinya dihajar habis-habisan oleh Aditama.


Arkie menengadah satu telapak tangannya dan mengeluarkan gigi-giginya yang patah. Pria itu merasakan sakit ngilu dalam mulutnya yang sebagian giginya patah dan mengakibatkan berdarah tersebut. Arkie mengepalkan telapak tangannya tersebut. Arkie menatap Angga dengan senyum miring karena lelaki berbadan adiluhung 180 sentimeter itu nampak beralih fokus melihat ke arah lain yaitu pada Reyhan yang terlihat sudah tak sanggup berbuat apa-apa.


Arkie berdiri dan tangannya yang mengepal itu ia buat menonjok pipi Angga kencang hingga yang terkena serangan tersebut bagian pipi kirinya lebam karena kuatnya pukulan tinju tersebut. Malang gara-gara hilang fokus, bergantian lah Arkie yang mengangkat tubuh Angga lalu membantingnya dahsyat di aspal yang permukaannya keras dan kasar tersebut.


BRUGH !!!

__ADS_1


Angga merapatkan bibirnya begitupun kedua mata sipitnya. Dirinya berusaha menahan sakit yang ada di sekujur tubuhnya termasuk kepalanya yang sudah ikut membentur aspal jalan yang ada di bawahnya. Cedera kepala yang Angga alami membuat sekarang menjadi pusing bahkan pandangannya hampir memburam.


Angga memaksakan dirinya untuk tetap sadar lalu membuka matanya, begitu terkesiap-nya melihat layangan dari kapak membahayakan itu yang akan mengenainya. Dengan cepat Angga langsung menggulingkan tubuhnya ke samping untuk menghindari serangan berbahaya tersebut. Alhasilnya kapak Arkie menapak aspal, bukan tubuh pemuda tersebut.


Di situ Angga langsung menemukan kelemahan lawannya tersebut dengan cepat. Kaki yang masih mampu Angga gunakan, ia mulai layangkan kakinya dan menjegal sepasang kedua kaki Arkie tepat benarnya di lutut-lututnya. Maka dari itu yang Angga lakukan membuat Arkie jatuh kembali untuk kedua kalinya.


Angga bangkit berdiri dengan memegang kepalanya yang terasa sakit karena kejadian tadi. Bola mata Angga bersilih gilir menatap Aditama yang tak ada henti-hentinya menghajar sahabatnya hingga terjadi babak belur. Angga yang tak terima segera berlari ke arah mereka sambil melepaskan tas punggungnya.


BUAGH !!!


Angga yang telah mengayunkan tas ransel hitamnya ke arah Aditama akhirnya tepat sasaran yang dirinya sasarkan, selanjutnya saat melihat Aditama terbaring di aspal Angga melangkah mendekati pria itu kemudian menginjak ulu hati Aditama dengan menekannya agar ia merasakan kesakitan yang sama dialami sahabatnya.


Angga nampak peka kedatangan Arkie yang ingin balik menyerangnya dengan raut wajah murka. Lelaki tampan itu yang dekat di tanah tepi jurang sedalam 30 meter, menyeret gesit balok kayu panjang setelah itu memungutnya.


BUGH !!!


Tanpa melepaskan kakinya dari atas ulu hati Aditama, Angga memukul hebat kepala botak Arkie memakai balok kayu yang sebagai senjata utamanya. Jidat hitam pria berbadan kekar itu mengeluarkan darah yang timbul mengalir, dan Angga menatapnya puas bersama senyuman menyeringai.


Angga menyingkirkan kakinya dari ulu hati Aditama yang dirinya injak dengan cara sadisnya. Pemuda pemberani tersebut meraih kapak Arkie yang telah terlepas dari genggaman pria hati buta itu. Arkie yang tidak mempunyai rasa takut pada siapapun kini pria itu takut pada sorot mata Angga yang auranya terlihat berbeda begitupun juga dengan temannya yang terkapar lemah di aspal. Sepertinya tanpa sadar Angga menggunakan kekuatan Indigo-nya yang membuat kedua pria itu bergidik takut dan ingin pergi dari tempat sepi ini.


Angga menodongkan kapak itu ke arah Arkie dan Aditama secara bergantian dengan tatapan dinginnya. “Gue yakin kalian nggak akan bisa bohong. Kalian berdua, kan yang sudah membunuh satu korban yang kalian jadikan target. Arseno ... Keindre.”


“E-elo?! D-”


Angga menolehkan kepalanya ke belakang dan memotong ucapan Aditama yang belum selesai. “Hahaha, kenapa? Kaget, karena sudah terbongkar?”


Kedua pria itu seolah mulutnya telah dijahit karena saking terkejut dan tak menduganya bahwa Angga mengetahui semuanya tentang kematian arwah negatif tersebut. “Kalian berdua nggak usah perlu tahu gue mengetahui itu darimana. Tapi yang jelas, KALIANLAH PELAKU SEBENERNYA!!!”


Mata Angga berubah melotot tajam bahkan suaranya yang menggelegar hingga menggema membuat nyali berani Aditama dan Arkie semakin menciut karena dari aura Angga sudah terlihat menyeramkan bagi mereka berdua.


“Ayo Bro kita kabur aja!!” takut panik Aditama seraya bangkit dan berlari menarik tangan Arkie untuk mengajaknya pergi meninggalkan Angga sekaligus JL. Jiaulingga Mawar.


Angga memperhatikan kepergian mereka berdua dengan deretan gigi atas bawahnya saling menempel kuat, bahkan Angga mengepalkan kedua telapak tangannya serta raut ekspresinya begitu marah pada mereka berdua yang telah melaju pergi menggunakan kendaraan roda duanya.


Angga membuang kapak yang ia genggam ke sembarang arah, lelaki itu kemudian memutar tubuhnya ke belakang dan menghampiri Reyhan yang terbaring lemah di aspal. Angga berjongkok di sisi Reyhan lalu kedua tangannya menggoyangkan badan sahabatnya yang matanya nampak terpejam. Sementara mukanya penuh banyak lebam dimana-mana dibandingkan Angga hanya satu lebam di bagian pipi kirinya.


“Gue masih sadar, woi ...”


Angga yang sedikit gusar, bernapas lega saat mendengar suara dari Reyhan bahkan kedua mata sahabatnya yang tadi tutup kini dirinya buka kembali dengan bibir nyengir. “Cuman nutup mata doang, soalnya badan gue sakit-sakit semua. Sapa tau bakal reda kalau gue pejam mata.”


“Huh, oke. Ayo gue bantu-” Angga yang hendak menarik kedua tangan Reyhan, langsung dihentikan oleh sahabatnya sendiri.


“Jangan! Kalau gue bangunnya begini, bisa tambah kram ini perut! Gue punya cara,” ucap Reyhan seraya mengubah tubuhnya menjadi tengkurap lalu mulai bangkit bangun perlahan-lahan, namun di situ Angga tetap bersikukuh membantunya supaya ia tak kesukaran untuk bangkit.


Posisi Reyhan kini telah menjadi duduk usai sahabat yang ada di belakang membantunya. “Orang-orang biadab gak punya nurani hati itu udah pergi, ya? Terus berarti bener, kalau mereka berdua yang telah membunuh Arseno? Cih, keterlaluan si bangsat bau bangkai tikus itu!”


“Sudah terkuak, kan misteri kematian arwah itu? Gimana kalau kita selesain masalah ini? Gue gak mau anjir, Arseno nyimpen-nyimpen dendam besar gara-gara ulahnya mereka.”


Angga memegang kedua bahu Reyhan sambil berkata, “Kita pikirkan itu nanti saja, sebentar lagi pelajaran di sekolah dimulai.”


Lantas, Angga mengangkat tangan kanan Reyhan untuk ia rangkul di tengkuknya. Reyhan mulai mengaduh-aduh saat sahabatnya itu membangkitkan dirinya berdiri, bahkan tangan satunya Reyhan sampai memegang perutnya yang rasanya amat kram akibat tadi di hentakkan oleh Aditama.


Langkah kaki Reyhan nampak pincang disaat Angga menggiringnya menuju ke motornya masing-masing. “Lo kesakitan begitu, atau hari ini kita ke rumah sakit sekarang?”


“Mendingan sekolah aja gue daripada pergi ke rumah sakit yang puncaknya pasti dirawat inap lagi di sono!” semprot Reyhan.


“Yasudah sih, napa harus ngegas?!”


Kedua pemuda tersebut yang telah bebas dari cegatan pria-pria itu yang telah pergi jauh, mulai mendekati motornya. Angga perlahan melepaskan rangkulannya setelah sampai di motornya Reyhan. “Lo bisa?”


“Sans, aman terkendali.”


Angga menganggukkan kepalanya ragu kemudian mengarah ke motor Honda Vario hitamnya lalu menaikinya. Sesudah memasang pengait helm begitupun juga dengan Reyhan, mereka mulai menyalakan mesin motornya untuk melaju ke gedung sekolah.


“Eh?! Lho Angga! Kok talinya yang di sana udah gak ada, Cuy?! Perasaan tadi ada, deh!” pekik Reyhan terkejut karena sudah tak melihat tali yang menjadi hambatan mereka berdua menjalankan motornya.


“Sudah ayo kita pergi saja dari sini, daripada yang ada nanti kita telat masuknya.”

__ADS_1


Sementara tadinya, Aditama dan Arkie mengambil jalur arah jalan berlawanan yang mana mereka tidak memasang tali di sana. Kedua pemuda SMA tersebut yang masih selamat akan jiwa nyawa, kini telah melaju bersama meninggalkan jalan pintas sunyi tersebut yang sinar matahari terhalang oleh daun-daun pohon yang ada di atas.


Angga tahu mengapa tali itu sudah tidak ada lagi. Ya, karena Arseno yang telah menghilangkannya memakai sihir mantranya untuk tidak terlalu membuang waktu. Arwah berumur 17 tahun itu sebetulnya sedari tadi memantau mereka berempat yang beradu jotos begitupun pembicaraan Angga soal kematian raga dirinya yang telah dimakamkan secara layak serta juga Reyhan yang ingin membuka kunci untuk ia pergi ke alam yang terdapat hanya kebahagiaan abadi di sana.


Usai memantau mereka dari kejauhan, Arseno menghilang secara tiba-tiba sampai menyisakan butiran debu asap hitam.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Cklek !


Angga membuka pintu kelas XI IPA 2 yang menjadi pusat perhatian seluruh siswa siswi dan guru yang tengah membimbing para muridnya di dalam kelasnya. Angga mendorong pintu kelasnya sedikit lebar.


“Loh?! Kenapa kalian baru datang, hah?!” bentak bu Aera dengan berkacak pinggang.


“Maaf Bu, tadi ada kendala besar, mangkanya kami baru datang,” ucap Angga.


“Halah alasan aja kalian! Sudah, lebih baik kalian pergi dari kelas saya! Saya malas melihat murid-murid kurang disiplin seperti kalian berdua!”


Reyhan maju menginjak lantai kelasnya. “Alah Bu! Kok tega banget sih sama kami?! Kami udah berjuang mati-matian buat dateng ke sekolahan ini loh, Bu-”


“Baik kalau Ibu maunya kami pergi dari kelas. Maafkan saya dan Reyhan karena sudah menyita waktu Ibu mengajar di sini, kami pamit keluar.”


Angga langsung menarik tudung jaket abu-abunya Reyhan untuk mengajaknya keluar dari kelas, Tapi sempatnya Reyhan melambaikan tangannya kecil pada Freya dan Jova dengan wajah sendunya.


“See you later dua sahabat cantikku.”


Klap !


“Oke, kita sambung belajarnya. Biarkan mereka berdua meratapi nasibnya karena sudah melanggar aturan di sekolah ini.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di luar ruangan kelas, Angga dan Reyhan hanya bisa diam sambil meratapi nasib malangnya hari ini. Namun setidaknya mereka berdua masih bisa menyelamatkan jiwanya masing-masing dari Arkie serta Aditama. Hingga tiba-tiba seorang guru pria yang tak lain adalah pak Harry wali kelas XI IPA 2 datang menghampiri kedua murid siswanya yang keadaannya sungguh kacau.


“Angga dan Reyhan ikut Bapak ke ruang BK sekarang juga.”


Badan Reyhan melemas dengan berdecak karena pada ujungnya ia serta pula Angga disuruh ikut ke ruangan Bimbingan Konseling. Angga yang menatap beliau dengan wajah setengah pasrahnya, menganggukkan kepalanya pelan. Namun Reyhan yang merasa tak salah apa-apa seketika ambil komplain oleh pak Harry yang hendak pergi mendahului mereka.


“Tapi Pak! Emangnya saya dan Angga salah apa?! Kok malah disuruh ke ruangan BK, sih? Lagi dihukum loh kami berdua, Pak sama bu Aera gara-gara telat.”


Angga menyiku lengan tangan Reyhan untuk tidak terus protes pada pak Harry yang muka beliau sudah beraura tegas dan tak mau dibantah. “Udah ayo!”


Mau tak mau mereka berdua melangkah mengekori pak Harry yang telah berjalan di depannya. Reyhan melirik sahabatnya yang tampang mukanya tidak ada rasa kalut kalau nanti misalnya hukuman mereka berdua ditambahkan oleh gurunya, sedangkan Reyhan detak jantungnya berdebar sangat cepat karena baru kali ini akan masuk ke ruang BK yang jarang ia masuki.


Dan di dalam Reyhan yang hanya bisa mengeluarkan umpatan kesalnya, akhirnya Angga yang mewakili dirinya untuk menjelaskan kebenaran yang telah terjadi hingga mereka mengalami babak belur tersebut meskipun yang jauh lebih parah adalah Reyhan dibanding Angga. Angga di dalam ruang BK bersama sang sahabat, pak Harden, pak Harry, dan pak Rizky mulai memberikan kesimpulan bahwa ia serta Reyhan tidak melakukan aksi tawuran tetapi membela diri dari marabahaya.


Maka dari itu ketiga guru mereka yang telah banyak menginterogasi para muridnya dengan tatapan curiga, menjadi mengerti dan percaya atas cerita fakta dari Angga yang sebelumnya sempat banyak yang salah paham terhadap kedua siswa kelas XI IPA 2 tersebut.


Dan setelah semuanya telah selesai dengan tanpa hukuman, pak Harden menyuruh kedua muridnya untuk pergi ke UKS saja. Melihat banyaknya lebam di wajah murid humorisnya membuat para guru pria itu mendesis, Angga tanpa lama-lama segera merangkul tangan sahabatnya di tengkuk lepau dirinya tuntun ke ruang UKS yang jaraknya lumayan jauh dari ruangan Bimbingan Konseling.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di perjalanan menuju ke ruang UKS yang sebentar lagi mereka tiba di ruangan tersebut, Reyhan tak ada berhentinya merintih kesakitan dengan memegang perutnya yang masih amat kram ditambah salah satu kakinya yang pincang akibat ditendang brutal oleh Aditama.


“Bentar lagi sampai, tahan dulu.”


Angga terus menuntun sang sahabat yang sepanjang perjalanan mengeluh melulu pada rasa sakit yang sahabatnya rasakan. Namun selang menit kemudian Reyhan menghembuskan napasnya. “Untung gue gak kena patah tulang kaki, Alhamdulillah banget kita masih hidup, Ngga. Nyawa itu di sayang bukan dihilangkan.”


Angga melirik Reyhan dengan senyuman sinis. “Yakin lo sayang nyawa? Padahal waktu itu mau ngelakuin aksi bunuh diri, untung langsung gue cegah.”


Seketika mulut Reyhan terbungkam mendengar penuturan Angga yang tersenyum miring padanya. “Ehm- e- anu i-itu kan- gara-gara gue ... pastinya ya lo tau kan, ehehehe.”


Angga terkekeh dengan menggelengkan kepalanya mendengar suara gagap sahabatnya yang nampak ketakutan meskipun dirinya tidak jadi melakukan hal membodohkan tersebut. “Iya gue tau. Lo nggak akan ngelakuin aksi itu kalau bukan pengaruh Depresi elo yang saat waktu di rumah sakit.”


Reyhan tersenyum bera dan Angga kini mengembalikan posisi raut wajahnya menjadi biasa kendati dirinya lumayan membentuk senyuman di bibirnya yang ia patri. Mereka tetap berjalan hingga tiba di ruang UKS untuk mengobati bagian luka lebamnya dan dilanjutkan beristirahat berbaring di ranjang kasur yang saling berjejeran di dalam ruang tembok serba putih tersebut.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2