
Bola mata Angga terus menatap pemuda tinggi berjubah hitam itu yang berjalan mengitarinya dengan posisi bersedekap angkuh di dada. Baiklah, ini bukan lagi rasa takut yang menyelimuti lelaki Indigo tersebut, tetapi datangnya amarah.
“Lepas! Lepaskan gue!”
Pemuda itu seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Angga yang masih terbaring di atas batu lonjong dengan ukuran besar beserta empat anggota tubuhnya yang dibelenggu oleh borgol besi.
“Tidak bisa. Kau sudah ada di sini, dan tidak ada kesempatan kau untuk melarikan diri.”
“Kenapa? Gue sama sekali nggak ada hubungan apa-apa dengan lo!” Dampratnya Angga membuat makhluk arogan itu kembali berjalan untuk mendekatinya.
“Tentunya ada tetapi hanya sedikit, lebihnya ada di tepat aura dan energi dalam jiwamu. Kau harus lepas dari semua kekuatan itu yang telah kau kuasai sejak bertahun-tahun dahulu. Kau sangat tidak pantas untuk terus memiliki.”
Angga tersenyum miris dengan napas memburu. “Lo siapa mengatur-atur jalan hidup gue? Dan kenapa gue yang harus rela hilang akan dari kekuatan ini?”
Pemuda itu memiringkan kepalanya yang tertutupi tudung hitamnya. “Kekuatan Indigo-mu jauh lebih begitu kuat dibanding orang-orang lain yang memiliki kelebihan mata batin itu. Tak ku sangka, aku menemukan dirimu untuk ku jadikan rampasan.”
“Sial!” umpat Angga geram.
Dengan perlahan, pemuda makhluk mistis itu mengulurkan tangan kulit hitam gosongnya untuk meraih rahang milik Angga lalu mencengkramnya kuat, hal itu membuat korbannya mengerang.
“Kau mending diam saja. Beberapa anak buahku sedang merancang mantra-mantra yang akan aku lakukan kelak untuk ritual pencabutan kekuatanmu dari jiwa dan raga.”
Angga dengan raut benci, langsung memalingkan kencang mukanya dari makhluk berjubah hitam itu hingga tangannya yang mencengkram rahangnya terlepas. Tetapi selang detik kemudian dengan kasar, pemuda tersebut menghadapkan mukanya Angga ke arahnya kembali bersama cara menarik rambut hitamnya.
“Kau dengarkan aku, dirimu tidak ada peluang sedikitpun untuk kabur dari kastil yang terkunci ini. Dan, kau tenang saja. Dengan setelah aku merampas Indigo-mu dari jiwa maupun raga, kau tidak akan mati, kemungkinan tubuhmu akan melemah dalam waktu yang lama.”
Setelah mengutarakan ucapan tersebut, pemuda itu tertawa kemenangan tanpa melepaskan tangannya yang menarik rambut Angga. Sementara lelaki sang pemilik indera mata batin, rasa emosi di hatinya menanjak naik hawa dan nyaris saja tidak terkontrol.
Makhluk yang mengenakan jubah itu, mendekatkan mukanya di telinga kiri Angga. ’Jadi, katakan selamat tinggal pada kekuatanmu saat nantinya.’
Usai membisiki Angga dengan beberapa kata untuknya, pemuda itu balik badan dan mulai melangkah meninggalkan Angga sendirian dibawah tanah kastil. Setelah menutup pintu dari luar secara rapat lalu tak lupa menguncinya, lelaki tampan malang tersebut mulai berteriak buat melampiaskan kemurkaannya pada nasibnya yang begitu naas ini. Bahkan teriakannya mampu menggema sepenjuru ruangan bawah tanah dari bangunan kastil gaib.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angin semilir di hutan mencekam itu menyambut mereka semua dengan tanjakan jalan terjal yang ada di depannya. Beberapa remaja tersebut nang ada di belakang kucing hitam Kampung mistik tersebut, menatapnya tidak percaya. Apakah mereka harus melintasinya untuk menaiki agar sampai di atas sana?
“Kita bisa jatuh kalau jalan naiknya gak berhati-hati, karena tanah yang menanjak itu becek dan licin.” Reyhan berkata dengan terus menatap jalan yang landai.
“Perlu pake tali buat menuju ke atas?” tanya Lala pada Reyhan seraya memiringkan badannya.
“Gak usah! Kayak mau panjat tebing aja,” tukas Rena menjawab pertanyaan Lala.
Sementara kucing hitam yang memiliki bulu tipis itu mulai berjalan menaiki jalan curam tersebut dengan pandainya, bahkan tak sampai berjalan saja tetapi bersama melompat agar lebih cepat. Ketujuh manusia yang masih ada dibawah, mendongakkan kepalanya saat melihat hewan mistik itu telah berada di atas dan sekarang sedang sibuk menjilati seluruh tubuhnya dengan tenang sambil menanti beberapa manusia tersebut naik.
“Santai banget itu kucing satu di situ? Mana kayak gak punya rasa Dosa ngelihat kita menderita!” gerutu Aji jengkel.
Jevran yang mendengar gerutuan Aji, langsung menendang pantat temannya. “Kucing gak punya Dosa! Jangan lo samakan dengan manusia yang memiliki banyak Dosa!”
Aji mendengus dengan memegang pantatnya yang telah ditendang oleh Jevran dari belakang, lalu menoleh sebal ke arah teman menyebalkannya itu. “Iya, ngerti! Tapi gak usah nendang-nendang bokong anak orang, kan juga bisa!”
__ADS_1
Reyhan menghela napasnya sebentar kemudian memutar sekujur tubuhnya dan mulai menatap keempat temannya begitupun kedua sahabat perempuannya dengan wajah tanpa ekspresi.
“Kalau begitu gue duluan yang bakal naik ke atas. Dan setelah itu, gue akan bantu kalian dari sana.” Reyhan langsung memutar balik tubuhnya dan kedua kakinya mulai bergerak untuk melangkahi jalan yang bertanah dan curam.
Mereka memperhatikan Reyhan yang dengan hati-hati tanpa bersikap ceroboh menaiki jalan landai tersebut hingga berhasil mencapai ke atas. Kemudian lelaki berambut cokelat itu balik badan dan duduk bersimpuh lalu mengulurkan tangan kanannya untuk siap membantu mereka semua yang ada dibawah.
“Ayo, cepet.”
Satu persatu Reyhan tarik tangan mereka untuk menolongnya ke atas dengan tetap berhati-hati, bahkan saking licin dan beceknya, mereka yang ada dibawah harus melangkah kilat agar tidak berujung terpleset.
“Ayo, Jova! Tinggal kurang kamu,” cakap Reyhan dengan tangan tetap terbentang ke depan untuk membantu sahabat perempuannya yang masih berdiri dibawah jalan bertanjak terjal.
Dengan lincah, gadis Tomboy berpakaian baju kodok dengan style terkininya mulai melintasi jalan tanah yang curam tersebut dan salah satu tangannya mulai mengulur supaya Reyhan langsung menggapainya.
Senyum Reyhan yang terlihat walau sedikit, menjadi pudar saat bola matanya tak sengaja melihat seekor makhluk kecil bertubuh panjang dengan tekstur lencun dan lidahnya menjulur keluar bersama mengeluarkan suara desisan. Karena di daerah itu gelap, maka Reyhan harus memicingkan kedua matanya untuk mengamati jelas binatang apakah itu.
Kedua mata Reyhan membelalak dengan lebar usai mengetahuinya bahwa rupanya yang ia perhatikan adalah seekor ular bersisik gold dan memiliki satu mata di tengahnya ia yaitu berwarna merah.
“Jovata, awas ular!!!” teriak Reyhan dan langsung menarik kencang tangan gadis itu, membuat salah satu dari dua antara kakinya terseret kuat.
Setelah menarik tangannya, sepasang dari tangan Reyhan saling mengunci tubuh Jova istilah mendekapnya untuk membawanya ke atas sebelum kepala dan leher panjang milik ular ganas itu mencondong ke depan buat mematuk kaki sahabat perempuannya Reyhan.
Brugh !!
Freya yang melihat Reyhan dan Jova terjatuh di tanah, langsung berlari menghampiri sahabatnya lalu bergegas duduk berlutut untuk memastikan kondisi mereka berdua. “Kalian tidak apa-apa?!”
Reyhan melepaskan kedua tangannya yang memagut tubuh Jova lalu perlahan bangkit bangun dari baringnya bersama sahabatnya yang ada di samping persisnya. “Aku nggak apa-apa.”
Freya bernapas lega dengan menganggukkan kepalanya. Syukurlah kedua sahabatnya baik-baik saja dan tidak mengalami luka sedikitpun. Setelah itu, Freya bersama sifat pedulinya, mengibaskan kotoran-kotoran debu yang menempel di pakaian Jova bagian punggung begitupun Reyhan.
“Yah ... sepatu gue jadi kotor,” kecewa Jova menatap nanar salah satu alas kakinya yang kotor karena terkena tanah becek.
Reyhan yang posisinya masih duduk, mengulurkan kedua tangannya untuk membersihkan tanah basah yang menodai sepatu milik Jova. “Gak apa-apa kotor, yang penting nyawamu masih selamat dari ular yang mau gigit kamu.”
“Iya, makasih udah menyelamatkan aku- eh tapi jangan dibersihin juga, kali sepatuku! Kan, tanganmu malah jadi kotor!”
“Gampang, bisa aku bersihkan kotoran tanah ini pakai daun.” Yang benar saja, Reyhan langsung mengelap kedua telapak tangannya yang kotor dengan menggunakan sebuah daun nang mempunyai ukuran sedang.
Hingga tiba-tiba, ular yang ada dibawah itu kini menyembulkan kepalanya dan mulai bersiap menyerang dengan cara mematuk para manusia yang ada di sana. Mata merah nang menyala tersebut, membuat beberapa gadis itu ketakutan dan berusaha menghindari sang hewan kecil nan panjang namun terdapat efek di dalam serangannya.
“Ular mata Dajjal?!” syok Aji dengan mata terbelalak saat menatap mata merah menyala dari ular itu.
“Padahal kita gak ganggu dia, tapi kenapa ular itu kayak mau menyerang kita semua?” tanya Jevran dengan wajah penuh waspada.
Reyhan yang berada di depan sendiri, mundur selangkah kemudian mengambil balok kayu yang ada di sampingnya untuk bersiap menggebuk ular ganas tersebut. Tetapi terlambatnya Reyhan, hewan yang merupakan seekor siluman itu menyemburkan semacam percikan api hingga mengenai tangan kiri Jevran yang terbungkus oleh kemejanya.
“Argh!” Jevran mengerang saat efek dari serangan itu mulai timbul di dalam tangannya, bahkan percikan api tersebut berhasil membuat lengan bajunya koyak.
“VRAN??!!” Mereka berenam tergemap sementara kucing hitam mistik itu hanya mendesis dengan kedua daun telinga mungilnya mundur ke belakang, apalagi bulu ekornya sampai mengembang. Sudah ditandakan bahwa binatang sembilan nyawa tersebut sedang marah pada ular siluman ganas yang telah melukai salah satu manusia.
__ADS_1
Reyhan yang posisinya sedang buncah bersama hati yang amburadul karena hilangnya Angga, emosi itu kembali datang dan langsung tak segan-segan lelaki bertubuh postur jangkung itu memukul kuat kepala ular berwarna sisik gold serta bermata merah menyala tersebut hingga sebuah cairan kental muncrat keluar dari tubuh ular yang dianggap julukan iblis.
Anehnya, setelah Reyhan gebuk pakai balok kayu dengan sangat dahsyat, tubuh ular yang sudah hancur termasuk kepalanya tidak mengeluarkan darah yang berwarna cairan merah pada umumnya, tetapi berwarna cairan hijau. Bahkan, ketujuh manusia itu yang menyaksikannya begitu tidak menduganya.
Freya langsung menggeser langkahnya untuk bersembunyi dibalik tubuh Jova waktu ular siluman ganas itu yang telah tewas Reyhan bunuh dengan cara sadis, menghilang bagaikan hamburan debu.
“Ular setan rupanya, Cuy! Gak nyangka gue- eh, Vran?!” Aji langsung segera menghampiri Jevran yang terduduk bersama kedua lutut menopang tanah, bahkan posisinya itu temannya sedang merintih kesakitan sembari memegang lengan tangannya yang terkena serangan gaib dari ular nang telah tewas dan menghilang tersebut.
Tak hanya Aji saja, namun juga yang lain terkecuali sang kucing hitam bersifat mistik. Reyhan yang sebagai tetangganya Jevran nampak khawatir dengan kondisinya. “Apa yang lo rasain dari efek itu?!”
Jevran yang mengeluarkan peluh keringat dari keningnya, mulai menoleh ke arah Reyhan dengan berupaya menahan rasa sakit. “Kebas, tapi gue masih oke-oke saja, kok.”
“Gak mungkin cuman kebas! Lo bahkan sampai kesakitan begitu,” tanggap Reyhan tak percaya.
Jevran menundukkan kepalanya untuk menatap lengan tangannya yang ototnya sedang ia regangkan. “Kebas tapi rasanya seperti kram, bagian seluruh tangan gue yang ini juga kayak mau kaku.”
Reyhan menggenggam kedua telapak tangan Jevran yang mulai terasa kaku untuk merasakan suhunya yang ada di atas kulitnya. “Efeknya ternyata nggak sampai itu saja, serangannya juga membuat tangan lo mendingin.”
“Pantesan aja warna kulitnya Jevran yang itu sama sebelahnya gak sinkron,” timpal Aji.
Apa yang diamati Aji memang betul, warna kulit tangan Jevran yang terkena serangan percikan api itu menjadi berbeda dari tangan satunya nang ada di tangan bagian kanan. Warna kulit tangan kiri pemuda tersebut terlihat jelas pucat bak mayat.
Lala berjongkok dihadapannya Jevran dan menatap wajahnya. “Jevran, selain itu yang kamu rasain apaan? Sakit kepala? Pusing? Mual?”
Jevran memberikan Lala senyum tipis dengan menggelengkan kepala. “Hanya satu doang, gak ada yang lainnya kecuali itu.”
“Ehem! Denger-denger, kok lu perhatian amat sih sama Jevran? Naksir, yak?” ledek Rena seraya menyenggol-nyenggol lengan Lala dengan raut jahilnya.
Lala yang kesal, lekas menampik tangan Rena sekaligus menaboknya bersama lemparan tatapan tajamnya. “Nyebelin banget sih, lo?! Kagak ada naksir-naksir, ya! Cuman, teman! Kurang jelas? Nih, gue perjelaskan. T-e, te! M-a-n, man! Teman! TEMAN!!!”
“BAH!! Anjir, berisik banget sih, lo?! Suara lo ngalahin klakson mobil truk, ngerti gak?!” sangkak Jova dengan mata melotot kepada Lala.
Freya yang berjongkok dengan anteng, menatap mereka bertiga bersama mulut agak menganga secara bergantian. Sedangkan Reyhan mulai kembali fokus kepada Jevran yang masih tertatih-tatih.
“Lo bisa berdiri? Jika gak bisa, biarkan gue papah lo.” Reyhan menawar bantuan dengan hati tulusnya.
“Sans. Gue bisa berdiri, kok. Serangan tadi hanya mengenai tangan gue saja, gak juga lainnya seperti kaki apalagi kepala. Lo jangan khawatir sama gue,” buras Jevran dengan senyum.
Reyhan tersenyum simpel dengan mengangguk. “Ayo, gue bantu ...”
Reyhan beranjak berdiri dengan kedua tangan saling mengangkat badannya Jevran perlahan untuk membantunya bangkit. “Gak salah, ya gue punya tetangga the best dan setia kayak elo? Makasih.”
“Hal memberi bantuan seperti ini sudah biasa bagi gue.”
Senyuman lebar tetangganya semakin melebar terhadap kebaikan tulusnya Reyhan. Biar bagaimanapun memiliki sifat yang nakal, jahil, menyebalkan dan mampu membuat naik darah, yang terpenting paling utamanya, Reyhan tetap mempunyai sisi hati mulia.
Dan... Tragedi kedatangan ular emas dengan bermata satu yang berwarna merah menyala apalagi itu merupakan binatang siluman, membuat ketujuh remaja tersebut tercengang setengah mati terkecuali sang kucing hitam mistik nang amarahnya mereda setelah ular gaib itu tewas dibunuh virulen oleh salah satu manusia dari antara tujuhnya, yaitu adalah Reyhan Lintang Ellvano.
Hutan keramat ini memang sangat jauh berbeda sekali dari hutan dunia mereka. Lebih mengerikan, tidak mudah ditangkap oleh logika, diluar pikiran nalar otak, dan sebagainya.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››