Indigo

Indigo
Chapter 88 | Explanation Before Saying Goodbye


__ADS_3

Mulut Angga terbungkam saat Arseno menghilang begitu saja, meskipun yang Angga rasakan dendam besar arwah itu telah sirna usai tewasnya Aditama dan Arkie yang tak wajar nan mengenaskannya. Lihatlah di depan, Angga disuguhkan banyak organ-organ yang terpisah. Darah serta daging penuh mengotori tengah jalan.


Angga kembali berbalik badan dan jongkok di samping Reyhan yang belum ada tanda-tanda untuk sadar. Kedua tangannya itu saling menepuk para bahu sahabatnya. “Ayo bangun Reyhan! Semuanya sudah tuntas berakhir ...”


“Nggaaaaaa!!!”


Dengan wajah cemasnya, Angga menoleh ke sumber suara yang meneriaki namanya. Nampak dari kejauhan jarak Angga berjongkok bersama Reyhan yang terbaring lemah, kedua gadis sahabatnya beserta keempat temannya berlarian menghampirinya.


“Gilak! Apa yang terjadi sama Reyhan woi?! Soalnya dari tadi di dalem mobil pas adegan tawuran, gue cuman nutup mata doang!” panik Aji setelah berlari dan kini berada di sebelahnya Angga jongkok.


“Yeee, cowok penakut lo! Mangkanya itu mata gak usah ditutupin segala! Ketinggalan info dijalan, kan!” semprot Jevran jengkel.


“Astaghfirullah, malam macam apa ini?! Organ daging manusia semuanya!” protes Rena ngeri


“Siapa bilang daging ikan paus?!” sewot Lala memajukan mukanya ke Rena.


“Gue tampar nih lo berdua satu-satu! Bisik amat, dah!” Jova yang menatap nyalang dua teman gadisnya itu kemudian menatap balik sahabat lelaki ramahnya yang sampai sekarang kesadarannya belum naik.


“Yaelah Rey, bangun napa?! Kamu masih hidup, kan?! Iya kan?! Sadar dong, laaaaahh!” rengek Jova sambil menggoyang-goyangkan kaki kanan Reyhan.


“Kalau manggil gue gak usah pake ngegas, napa?!”


“Siapa yang manggil elo, geblek?! Itu otak sama kuping jangan sering kege-eran!” sembur Jova pada Lala.


Freya yang diam sedari tadi sesudah berlari, sedikit kaget melihat lengan kemeja Reyhan yang terdapat darah nang masih basah. Gadis polos itu sudah tahu bahwa tangan sahabatnya terluka akibat ulahnya pria berbadan kekar kulit sawo matang yang sekarang tubuhnya telah hancur mengerikan.


“I-ini setannya kemana, lagi?! Perasaan tadi kami liat ada deh, tapi kok sekarang ngilang?! Hm! Kebiasaan nih, yang namanya demit suka hilang gak jelas!” omel Aji dengan kepala celingak-celinguk.


“Angga, sekarang kita semua harus gimana? Apalagi Reyhan juga belum sadar-sadar. Serangan tadi yang mereka kasih buat Reyhan udah cukup kuat banget, Ngga. Gue khawatir kalau peredaran darahnya tersumbat karena pukulan dan tendangan keras itu.”


Angga menatap nanar Jevran lalu selang detik kemudian beralih menatap muka pucat Reyhan yang terdapat sedikit lebam di sana ditambah darah yang terletak di sudut bibir bagian kiri. Angga memejamkan matanya sebentar dengan menghela napasnya panjang, dirinya sepertinya tidak mungkin membawa sahabatnya pulang ke rumah komplek.


“Kita bawa Reyhan ke rumah sakit.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


RS Wijaya - Luar Ruang IGD


Ketiga sahabat dan kelima teman Reyhan saling bisu dan memilih menanti seorang dokter keluar dari ruangan IGD. Angga yang tadinya berdiri serta punggungnya menempel di dinding putih sebelah pintu ruangan, perlahan tubuhnya merosot ke bawah dan berubah menjadi jongkok. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang tengah dilanda rasa kekhawatiran terhadap sahabat SMP-nya.


Aji yang melihat teman Introvert kelasnya termenung bimbang seperti itu, segera mendekatinya dan jongkok di tepat sampingnya. “Jangan dibuat cemas, Ngga. Nih, gue ramal. Pasti habis ini dokter menyatakan bahwa Reyhan baik-baik aja dan gak ada luka atau cedera yang serius.”


Angga melepaskan kedua telapak tangannya dari wajah tampannya. “Begitu?”


“Hm'em. Percaya aja deh sama temen lo ini yang hebat soal peramalan. Lamaran gue gak pernah salah dan meleset pokoknya!”


“Ramalan, kali! Emangnya lo mau lamaran sama siapa?? Rena?” ledek Jevran yang tangannya melipat di dada.


“Rena? Serena Ara Claretta?” tanya Aji memastikan dengan memandang wajah Rena yang menatap Aji Rivaldi Valentino.


Rena yang ditatap dalam seperti itu oleh Aji, langsung memalingkan pelan mukanya dari pemuda tersebut. Namun di situ mata Lala terbelalak sempurna dengan senyuman lebarnya. “Anjir! Eh itu pipi-pipinya kenapa jadi merah tomat gitu dah, Ren?! Cieeee, lo suka yak sama Aji?! Wah semoga cepet langgeng ye kalian berdua, ahahaha!”


Aji yang berjarak jauh dari keempat gadis teman sekolahnya langsung skakmat pada ucapan Lala, apalagi mulutnya sampai menanga lebar saking tak menduganya Lala bilang seperti itu di rumah sakit. Jova yang mendengar kebisingan dan tawa Lala langsung segera menjambak rambut temannya rada kencang.


“A-auw! Apaan sih, Va?! Masa rambut cantik gue lo jambak?! Nanti kalau rontok, lo siap ganti rugi?!”


“Siap. Gue bakalan gantiin rugi rambut lo pakai sapu ijuk! Puas, lo?! Udah ah jangan berisik! Di sini tuh lagi khawatir, lo jangan banyakin perkara!”


Lala mendengus dengan memanyunkan bibirnya. “Iya-iya, calon ayangnya Reyhan.”


Jova mendelik terkejut dan menatap kembali Lala yang entengnya berbicara seperti itu padanya. “Bisa-bisanya lo ngomong gitu sama gue! Gue sama Reyhan cuman sahabatan dari SMP, ya!”


“Barangkali sahabat jadi cinta.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Reyhan ...”


Pemuda itu yang sedang asyik melangkah seraya menikmati udara nang amat sejuk, secara spontan ia menghentikan jalan kakinya kemudian menoleh ke belakang dengan senyuman seperti biasa. Tetapi selang menit kemudian senyumannya itu sedikit hilang saat yang ia temui adalah sosok Arseno pada wujud manusia.

__ADS_1


“Arseno? Elo kenapa ada di sini?”


Arseno tersenyum hangat pada Reyhan yang masih kaget atas kedatangannya. “Aku ke sini ingin meminta maaf dan berterimakasih padamu.”


“Maafkan aku selama ini sudah membuatmu menderita dan terluka karena olehku yang sudah sangat lama meneror-mu secara keseluruhan, dendamku pada mereka tidak bisa terkendali hingga kamu yang menjadi pelampiasan amarahku. Aku juga telah menjadikan alasan tempat larangan saat kamu lewati waktu malam hari itu. Aku sebenarnya dan aslinya ingin melindungi kalian dari tempat membahayakan itu, karena setiap malam Aditama dan Arkie yang sudah mati itu selalu mencari korban target untuk mereka tamatkan riwayatnya.”


“Siapa yang tidak mau menuruti keinginan atau permintaan di antara mereka berdua, dia akan dibunuh secara kejam. Contohnya seperti ragaku.”


“Setelah lo menjelaskan semuanya pada gue, gue tau semua apa yang lo maksud. Lo memang ingin berusaha melindungi mereka yang melewati jalan lintas itu waktu malam hari, namun saja cara lo secara ilegal dan membahayakan nyawa manusia lain. Di sisi lain, hati lo menyimpan dendam besar yang belum sirna dan terselesaikan.”


“Benar ...” ucap lirih Arseno dengan kepala menunduk bersama wajah sendunya.


Reyhan maju melangkah mendekati Arseno lalu menepuk bahunya. “Udahlah, nggak usah mengheningkan cipta begitu. Semuanya sudah terlewati kok. Dan untuk minta maaf, gue udah memaafkan semua kesalahan fatal lo yang pernah lo lakuin dengan diri gue.”


Arseno mendongakkan kepalanya seimbang ke arah Reyhan yang sama-sama tinggi 180 sentimeter. Arwah itu kembali tersenyum. “Terimakasih Reyhan, kamu telah mau memaafkan kesalahan besar ku kepadamu. Dan terimakasih juga kamu telah membantuku untuk menuntaskan semua ini, aku kira kamu sama seperti mereka. Tidak punya hati.”


Reyhan menggelengkan kepalanya dengan senyum simpel. “Kalau ada yang harus ditolong, gue pasti bakal mau banget buat nolong. Apalagi permasalahan yang bikin lo jadi dendam.”


“Terimakasih, Reyhan.”


“Iya sama-sama.” Reyhan memeluk arwah telah berubah menjadi positif tersebut. “Sen, sekarang lo sudah nggak lagi memiliki dendam yang ada di hati. Pergilah dengan damai dan tenanglah saat di atas nanti, kawan.”


“Tidak ada lagi yang mengusik ketenangan elo, semuanya telah berakhir dengan tuntas. Gue harap, lo bahagia di sana.”


Arseno membalas pelukan manusia berhati baik itu dengan senyuman lebar yang merekah di wajah bersihnya. “Aku pasti akan tenang di alam sana. Dan sebelum aku pergi, sekali lagi aku amat berterimakasih padamu dan juga Angga karena telah membuka kunci untuk mengantarkan ku ke alam yang seharusnya aku berada di sana.”


Reyhan menganggukkan kepala. Betapa kagetnya saat tengah memeluk arwah pemuda itu, sebuah cahaya terang menyinari Arseno dari bawah hingga ujung atas kepala. Sontak langsung manusia yang berada di alam bawah sadar tersebut melepaskan pelukannya dari hantu itu. Rongga kedua mata Reyhan melebar saking kagetnya melihat pemandangan itu yang ada di depan mata asli.


“Waktunya aku pergi, Reyhan. Selamat tinggal.”


“Selamat tinggal, Arseno Keindre.”


Senyuman terakhir Arseno diiringi cahaya yang semakin benderang menerpa mata milik Reyhan. Semacam butiran putih yang terbang ke udara kemudian memudar dan menghilang secara lamban. Di bawah, kepala Reyhan terus mendongak ke atas langit yang cerah itu. Dirinya sudah tak lagi merasakan aura hantu tersebut yang kini akan menikmati bahagianya di alam abadi nang ia jumpa.


“Dia bener-bener udah pergi, untuk selamanya ...”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah Reyhan dipindahkan ke kamar rawat lantai 3 kini ada beberapa orang yang menemaninya di dalam sampai ia membuka matanya kembali. Selang hidung oksigen yang terpasang di kedua lubang hidung Reyhan berfungsi untuk memberikan oksigen agar mampu menaikkan saturasi dalam tubuh yang masih sangat lemah. Sementara itu, tangan lengan kanan yang terluka akibat sayatan pisau kini telah diobati dan terakhir dibaluti oleh perban dengan tenaga medis.


Farhan mengelus-elus kaki putranya dengan sayang sembari menanti sangat kesadarannya. Pucat-nya muka sebetulnya membuat pria paruh baya tersebut begitu getir dan payahnya beliau tidak tahu apa yang sudah terjadi pada anaknya hingga masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya.


Angga yang berdiri dan punggungnya menyandar di tembok dinding putih nang dingin, memandang sahabatnya yang terbaring lemah di ranjang pasien bersama mata kantuknya. Seperti yang lainnya sedang diam dan tak terlepas kontak matanya menatap Reyhan yang belum kunjung sadarkan diri.


“Beruntung kata dokter kamu baik-baik saja, Rey. Tapi masa sampai sekarang kamu belum sadar?” tanya Jihan lembut seraya merapikan rambut coklat milik anaknya.


Farhan mendengus pelan. “Dokter nyaranin Reyhan buat inap di sini selama dua hari. Huh, apa yang sudah mereka lakukan sama anak kita hingga kayak gini?!”


“Tenang, Om! Mereka berdua sudah mati!” tegas Jevran.


Farhan dan Jihan menoleh cepat ke arah Jevran. “Sudah mati?!”


“Betul Om, Tan. Dua pria yang menghajar Reyhan sudah mati secara ngenes di jalan pintas itu. Eits, tapi bukan Reyhan loh yang membunuh mereka,” timpal Rena.


“Ho'oh. Tapi arwah itu yang udah buat dua pria beringas hilang akan nyawa, sangar tenan (benar).”


Mata Farhan berkedip-kedip tak percaya. “Sejak kapan hantu bisa membunuh, Ji? Setau Om hantu itu hanya bisa menakuti atau meneror saja. Tapi kali ini beda banget, diluar kepala.”


“Ya ampun, Om Farhan. Namanya juga setan, pasti bisa ngelakuin segala macem! Kerjaannya aja udah diluar nalar otak manusia, wah ternyata demit jaman sekarang tuh unik bener, ya! Aji malah pengen jadi arwah, pasti bisa melakukan apa yang Aji mau.”


Jevran yang mendengarnya auto terperanjat kaget dan langsung memukul pundak Aji dengan kesal. “Heh! Otaknya dipake!”


Aji nyengir dengan memegang bahunya yang dipukul Jevran, pada menit kemudian lelaki berambut pirang itu melirik Angga yang matanya posisi terpejam tidur dengan keadaan berdiri, sementara kedua tangannya bersedekap di dada. Freya yang ada di sebelah sahabat kecilnya, menoleh ke arah Angga.


“Loh kok tidur? Hm pasti dia capek,” gumam Freya hendak membangunkannya pelan.


“Ngga-”


PLAK !

__ADS_1


“Oi bangun, Ngga!! Udah kek ikan paus aja kalau bobok modelnya berdiri!” pekik Aji membangunkan Angga dengan menepuk bahunya kencang membuat temannya itu begitu tersentak kaget bersama kedua mata yang terbuka lebar.


Freya mendengus karena perilaku Aji. “Aji! Maksud kamu apaan sih bangunin Angga kayak ngagetin gitu?! Nanti kalau Angga kena serangan jantung gimana?! Kamu ingin tanggung jawab?!”


“Mampus lu! Suruh siapa gangguin Angga tidur, hah? Kena amuk Freya kan jadinya, sukur!” hina Jevran dengan senyum smirk.


Angga yang tengah mengusap-usap dadanya karena sangat kaget atas tingkah Aji yang tiba-tiba, sontak langsung menoleh ke arah Freya nang memarahi Aji habis-habisan. “Eh kok ngomong begitu?!”


“Aji nyebelin!” tuding Freya dengan muka kesal.


Jihan yang memperhatikan ketiga remaja itu hanya menghela napasnya meski menampilkan senyuman tipisnya, beliau kembali menatap Reyhan yang matanya masih terpejam tenang dalam kondisi pingsannya. Angga yang ingin menggeser rasa kantuknya, memilih melangkah mendekati sahabatnya di ranjang pasien.


Kendatipun puncaknya Reyhan yang menjadi korban, tetapi permasalahan konflik tersebut telah selesai dan tuntas. Dua pria yang sudah tak bernyawa lagi itu membuat dendam besar Arseno termusnahkan dengan baik tanpa celaka apapun, Angga juga bernapas lega sahabatnya tak mendapatkan luka serius ataupun cedera yang serius. Rupanya benar ramalan Aji.


1 jam yang telah terlewati, mereka masih setia menunggu Reyhan bangun. Bahkan mereka tidak memutuskan untuk pulang dulu sebelum pemuda friendly itu terbangun dari ketidaksadaran dirinya. Hingga 3 menit kemudian, Angga tak sengaja melihat tangan kiri sang sahabat yang pada jarinya sedikit gerak-gerak, apalagi pendengaran milik Angga menangkap suara lenguhan yang berasal dari Reyhan.


Angga spontan memajukan badannya dengan wajah terenyuh-nya. “Rey, lo sudah sadar?”


“Eh beneran, Ngga?! Mana?!” kejut Aji mendatangi teman pendiamnya dengan menggeser tubuh Angga sampai temannya itu nyaris terhuyung jatuh ke samping.


Angga mengernyit kesal pada perilaku teman nakalnya tersebut. Sementara itu mata Aji terbelalak senang melihat kedua mata Reyhan terbuka pelan. “Info! Reyhan udah sadar, woi!!”


Angga segera menutup kedua telinganya karena tak ingin gendang kupingnya bermasalah dan mengakibatkan pecah karena teriakan Aji di malam hari bahkan di dalam kamar rawat RS Wijaya. Keempat gadis yang mojok di dinding sebelah pintu keluar, auto langsung menghampiri Reyhan cepat dengan senyuman sumringah bahagianya.


Kini yang Reyhan lihat pertama adalah dimana ia dikelilingi banyak orang yang tengah tersenyum haru padanya. Dirinya juga merasakan sedang terbaring di atas kasur empuk dan nyaman. “Kalian ... ”


“Alhamdulillah, lo akhirnya sadar juga. Elo hampir aja dibunuh di lokasi tempat itu, Rey.” Jevran berucap yang ada di samping kiri Reyhan.


Reyhan hanya menatap lemah Jevran yang mengobrol dengannya meski di lubuk hatinya ia sangat kaget, tapi untunglah saja dirinya tidak jadi dibunuh oleh Aditama dan Arkie yang sudah mati. Hingga tiba-tiba Reyhan mendesis kesakitan saat rasa perih di lengan tangannya balik terasa. Otomatis itulah Reyhan menolehkan kepalanya ke kanan sambil memegang hati-hati lengan tangannya yang telah diperban kasa.


“Lho, Mama kok di sini?!” gegau Reyhan baru menyadari bahwa sang ibu ada di berada dekatnya.


“Kenapa? Nggak boleh?? Ih kamu ini ya, Nak! Selalu aja bikin Mama sama papa khawatir akan keadaanmu!” protes omel Jihan sambil memeluk tubuh anaknya.


“Rey, pas Papa ditelpon sama Angga sahabatmu kalau kamu masuk rumah sakit lagi, Papamu ini hampir jantungan, lho!”


Reyhan hanya nyengir getir saat Farhan sedikit memukul kakinya. “Maafin Reyhan, Pa.”


Jihan melepaskan pelukannya dan beralih menatap kembali Reyhan dengan senyum sendu. “Kamu benar-benar sudah nggak kenapa-napa kan, Nak? Semenjak kamu pergi tadi, firasat Mama udah enggak enak soal mengenai kamu. Ternyata benar feeling Mama, ya.”


“Hehe, firasat seorang ibu gak pernah salah. Reyhan udah nggak apa-apa kok, Ma. Cuman, rada pegel gara-gara peristiwa tadi,” jawab Reyhan seraya hendak bangkit duduk.


“Akh! Aduh perut gue!” keluh Reyhan agak berteriak dengan memegang perutnya yang terasa muncul kram.


Disaat itu juga Angga memegang kedua bahu Reyhan dan ingin membaringkannya di ranjang. “Jangan bangun dulu, lo belum pulih. Mendingan dibuat tiduran aja sampai bener-bener sembuh.”


Angga membaringkan tidur sahabatnya di ranjang balik dengan sangat perlahan-lahan. “Untuk sementara lo disarankan dirawat di sini selama dua hari buat proses kesembuhan elo.”


“D-dua hari?! Lama amat, bah!” protes Reyhan.


“Jangan khawatir. Dua hari juga sekolah libur, kan. Sabtu dan Minggu. Tenang, hari Senin lo pasti sudah bisa lagi beraktivitas di sekolah. Buat sekarang, lo banyakin istirahatnya, kurangin banyak pikiran.”


“Sebuah rencana yang kita susun secara optimal, berhasil dan gak ada yang namanya gagal total. Semuanya berjalan dengan lancar. Maksud gue, permasalahannya sudah tuntas terselesaikan. Selamat, ya akhirnya lo terbebas dari segala penderitaan yang lo alami selama berbulan-bulan.”


Angga menepuk-nepuk pundak kiri Reyhan dan yang ditepuk bahunya hanya diam seperti patung karena tidak menyangka semuanya telah tuntas walaupun ia sendiri yang menjadi korban luka. Kendati Reyhan diam seperti ini, namun Angga tahu apa yang sedang Reyhan pikirkan serta renungkan.


‘Ternyata itu maksud kedatangan Arseno di mimpi gue sebelum arwah itu pergi ke tempat alam yang sesungguhnya. Gak, bukan gue yang menyelesaikan semuanya ... tapi Angga. Ya, gue yakin banget itu. Sok jago lo, Rey. Nyatanya elo gak bisa melakukannya sendirian.’


‘Hehehe, thank you so much Angga my best friend.’


“Untuk kalian yang masih di sini, makasih ya sudah menolong anak Om,” tutur Farhan menatap para remaja satu persatu kecuali Reyhan.


“Tidak masalah, Om. Ini sudah dari tanggung jawab kami semua,” tanggap Angga dengan senyumannya.


Farhan dan Jihan tersenyum bangga karena ucapan Angga yang terkesan dewasa itu. “Makasih banget ya guys, kalian emang terbaik buat gue, hehehe!”


Ketujuh remaja tersebut melihat ke arah Reyhan kemudian mengukirkan senyuman yang mereka patri secara kekompakan. Senyuman bak malaikat menurut si Reyhan yang dalam relung hati sangat bahagia dan mampu bernapas lega seperti diterpa angin sejuk dikarenakan masalah besar ini telah sungguh-sungguh terlampaui dengan molek.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2