
Reyhan berhenti melangkah usai keluar dari lobby sekolah. Lelaki bermata hazel menawan itu, menatap langit oranye dengan wajah muramnya. Hingga keluarlah, hela napas dari mulut Reyhan.
“Sudah tiga bulan ya, Ngga? Lo masih Koma ... masa iya lo sadarnya pas bulan depan kayak gue dulu? Kalau bisa jangan kelamaan. Bukannya gue bosen nunggu, gue gak betah ngerasain kondisi lo yang teruk banget di sana.”
Reyhan !
Pemuda itu tersentak waktu dirinya di panggil dari jarak yang lumayan jauh. Reyhan segera mengembalikan posisi kepalanya seperti semula lalu mencari sumber suara yang memanggilnya. Mulut Reyhan sedikit menganga saat pandangannya menangkap sosok Arseno yang tersenyum lebar sembari melambaikan satu tangannya di atas, bahkan arwah lelaki tersebut tengah menduduki jok motornya Reyhan.
‘Lah, Arseno? Ngapain dia di atas motor gue?’ Tanpa lama-lama, Reyhan mulai kembali berjalan untuk menuju ke parkiran yang ada di pojok kanan.
Bola mata Arseno memperhatikan teman manusianya yang sedang menghampirinya dengan bibir agak tersenyum. “Akhirnya kamu keluar juga! Aku sudah lama menunggumu di sini.”
Reyhan yang telah menghentikan langkah kakinya, mengerutkan kening. “Lo nungguin gue? Sorry, tadi ada pelajaran seni musik. Jadi pulangnya agak terlambat.”
“Oalah. Begitu, toh? Aku tidak tahu kalau hari ini ada seni musik di sekolahmu,” jawab santai Arseno.
Reyhan hanya menarik senyumannya saja tanpa mengeluarkan kata-kata untuk teman hantunya. Kini lelaki pemilik rambut cokelat dengan style keren itu melihat Arseno yang menggeser pantatnya untuk mundur, membuat Reyhan bingung.
“Ayo, kita pulang ke rumah! Hari semakin sore, nanti kamu bisa kena amarah kedua orangtuamu,” ajak Arseno semangat.
“Maksud lo, bokap? Nyokap gue jarang kalau marahin gue, terkecuali papa yang sering marah.”
Arseno tertawa kencang setelah mendengar kejujurannya Reyhan yang barusan, membuat lelaki nang masih berdiri di samping motor menampilkan muka jengah. “Malah ketawa. Biasanya juga suara tawanya bikin gue merinding, ini jauh beda lagi.”
“Hahaha- hah? Y-ya, kan auraku sudah lain dari negatif, jadi pastinya suara tawaku tidak seperti dulu saat aku masih menyimpan dendam. Sudah, dong jangan mengingatkanku tentang masa lalu itu, aku malah menjadi semakin bersalah denganmu.”
Reyhan terkekeh pelan. “Iya-iya, maaf.”
Arseno menganggukkan kepalanya dengan tetap tersenyum kepada teman manusianya, sementara Reyhan mulai mengambil helmnya dari kaca spion. Namun saat akan mengenakannya di kepala, pemuda itu menatap arwah pemuda tersebut dengan mata lumayan terbelalak.
“Eh? Bentar! Terus, ini ceritanya gue boncengin elo?! Atau mau pake teleportasi yang sering lo gunain buat menuju ke suatu tempat lokasi?” tanya Reyhan.
Arseno cengengesan. “Nebeng, boleh?”
“Hah?! Lo yakin mau nebeng di motor gue, apa normal itu namanya?” kejut Reyhan.
__ADS_1
“Astaga, memang apa salahnya aku ikut kamu sampai ke rumah? Kan sama-sama lelaki. Toh, pasti sesekali kamu nebeng bersama sahabatmu yang sedang mengalami Koma, ya, kan? Ya, kan?”
“Tahu darimana, lo?! Em ... gue sebelumnya belum pernah boncengin cowok kecuali cewek kayak nyokap, sahabat, dan sepupu gue. Kayak kerasa aneh saja kalau gue boncengin cowok.”
“Kenapa? Terkesan homo? Kamu pikir dengan perkara lelaki nebeng di motor lelaki, termasuk golongan homo? Lagian kita bukan bergandengan tangan atau apalah yang membuat terkesan otak kita kurang normal,” oceh Arseno.
“Aku begini karena ingin mencegah kamu dari marabahaya saja, bukan lainnya seperti ingin menikmati semilir angin di sore hari. Dan satu lagi, di dunia ini hanya beberapa persen manusia yang memiliki kekuatan Indigo. Jadi tidak semua orang bisa melihat wujud diriku yang arwah.”
Reyhan menghela napasnya. “Oke. Daripada gerbang sekolah keburu ditutup, mending langsung pulang.”
“Nah. Gitu, dong! Ayo cepat naik ke motor,” suruh Arseno dengan nada ambisius.
“Ck, sabar! Makhluk-makhluk kayak lo gini apa gak punya hati yang sabar, kah?” gerutu Reyhan sambil menaiki motor Honda-nya.
“Enak saja kalau bicara! Heh, tidak hanya manusia saja yang bisa mempunyai hati sabar, hantu juga bisa, kok. Emangnya kamu kira arwah sepertiku tidak memiliki kesabaran?”
“Hem.”
Arseno mengernyitkan dahi sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. “Hem apa?”
“Gak penting. Udah, jangan berisik mulu! Daripada gue usir, lo dari jarak gue! Biar sekalian gak ada temen manusia di diri lo!”
“Mangkanya kalau jangan, diem! Jangan bikin kepala gue makin pusing karena dari tadi denger ocehan burung Beo mulut lo!”
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di dalam perjalanan menuju ke komplek Kristal, Arseno dari belakang menepuk bahu kokoh sang empu pengendara motor.
“Apaan lagi?!” sentak Reyhan.
“Kenapa aku ditakdirkan mempunyai manusia yang pemarah sepertimu? Aku hanya memberikan saran, jangan melewati jalan raya. Di sana macet total, lebih baik kamu ambil jalan arah kiri saja untuk melintasi jalan Jiaulingga Mawar, bagaimana?”
“Jalan pintas yang sering rawan kecelakaan itu?! Ini udah terlalu sore buat motor gue lewatin kawasan sana. Entar kalau gue digangguin setan, gimana? Mau tanggung jawab?!” ketusnya.
“Mana ada? Ini masih sore jam empat, belum jam lima menjelang Maghrib. Lagipula aku juga setan, mengapa harus takut?”
__ADS_1
“Oiya, lo kan setan. Napa gue bisa pikun?”
Arseno berakhir menepuk keningnya lalu menurunkan tangannya dari dahi. “Keterlaluan- eh tapi justru malah bagus, sih. Sama saja kamu menganggap aku di dunia ini sebagai manusia.”
Reyhan hanya diam walau dalam hatinya mengiyakan ucapan teman arwahnya. Yang benar saja, setelah menatap di depannya, terdapat banyak sekali para jenis kendaraan berhenti untuk menunggu hilangnya kemacetan jalan raya. Tentu hal itu membuat Reyhan malas menanti dan memilih membelokkan stang motornya untuk pergi memasuki wilayah jalan pintas yang selalu sunyi. Nama jalan pintas apa lagi kalau bukan Jiaulingga Mawar?
Setelah memasuki wilayah angker tersebut, bola mata Arseno saling menelisik setiap tempat yang dilengkapi oleh pepohonan besar. Bahkan dirinya pula sempat menengok lokasi kematian dari raganya, tentu segera hantu itu alihkan pandangan supaya memorinya tak terbesit.
“Auranya begitu mencekam ya, Rey? Hawa di jalan ini juga terasa dingin.”
“Ah! Gak usah diterang-terangin! Merinding gue, Anjir!” semprot Reyhan pada Arseno.
“Yah, dasar manusia penakut! Badannya saja yang besar, tapi nyalinya sekecil semut,” cemooh Arseno lalu menertawakan temannya.
Dibalik kaca helm, kedua mata Reyhan melotot karena terperangah mendengar hinaannya Arseno untuknya. Lelaki tampan tersebut kemudian sedikit menolehkan kepalanya ke belakang buat memberikan tatapan tajamnya kepada teman hantu satunya itu.
“Ngejek gue kayak gitu sekali lagi, awas aja! Gue dorong, lo ke jurang biar mampus!”
Arseno menaikkan satu alisnya di bagian wajah kulit putih bersihnya. “Ye, hantu tidak bisa mampus seperti kamu bilang. Arwah itu merupakan abadi dan mustahil untuk mati, hahaha!”
“Hhh, terserah!” kesal Reyhan acuh lalu kembali fokus ke depan.
DOR !
STOP OR DEATH !!!
Reyhan dengan gerakan tergesa, langsung mengerem motornya secara mendadak saat telah mendengar suara tembakan pistol yang pelurunya di arahkan ke atas dan suara pemuda nang berteriak dengan nada yang begitu mengintimidasi hati serta nyali diri Reyhan.
Arseno diam walau wajahnya menjadi berubah dingin dan datar untuk menatap dua pemuda yang sengaja mencegat motor Reyhan dari depan. Sementara detak jantung lelaki Friendly itu, berhamburan bersama keringat meluncur dari kening hingga pelipis matanya.
“Mau apa, mereka berdua menghadang jalan motor gue?” kemam Reyhan.
Reyhan beralih menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap Arseno, namun hantu itu malah hilang entah kemana. Hal tersebut berjaya membuat Reyhan rasanya resah tak karuan, terlebih dua orang yang mencegahnya terus meninjaunya dengan muka sangar.
‘Dia kemana?! Gak mungkin, kan kalau gue dijebak lagi untuk kesekian kali yang pernah kejadian?!’
__ADS_1
Kemanakah hilangnya Arseno Keindre? Dan apakah benar, Reyhan ditimpa jebakan moralitas oleh arwah lelaki tersebut yang telah lama menjadi kawannya?
INDIGO To Be Continued ›››