Indigo

Indigo
Chapter 167 | Stop This!


__ADS_3

Napas Angga memburu dengan mulut terbuka tipis melihat sekumpulan para makhluk berjubah hitam seperti lelaki itu, berdatangan dari luar pintu. Peluh keringatnya meluncur membasahi pelipisnya dengan seluruh wajahnya yang masih begitu pucat.


Sampai tiba-tiba pintu kayu itu membanting tertutup dengan sendirinya setelah pemuda yang ingin merampas kekuatan Indigo milik Angga masuk ke dalam ruangan bawah tanah kastil ini.


Ia berjalan dengan penuh sikap arogannya walau tetap saja, mukanya tidak kasat mata. Hanya terlihat ranum gulita saja di sana sesuatu yang Angga tatap, dirinya melangkah mendekati entitasnya nang masih terbaring tak berdaya di atas batu lonjong bersama besi borgol yang merangkap beberapa anggota tubuhnya.


Angga ingat pada mimpinya itu. Sekumpulan para makhluk yang ada di belakangnya sosok pemuda misterius berjubah hitam tersebut adalah merupakan sekumpulan Sekte yang mendukungnya untuk melancarkan ritualnya hingga selesai.


Pemuda itu yang telah ada di sebelahnya Angga, terkekeh. “Kasihan sekali ya, kau?”


“Lepas!”


“Tidak akan! Aku tak akan mau melepaskan dirimu sekalipun kau memohon padaku. Ingin kau berkata 'lepas' hingga sampai seribu kali pun, aku tidak bakal mengurung niatku dari aktivitas terbesar ini. Aku akan melepaskan dirimu jika ritual pencabutan kekuatan itu telah berakhir.”


Saat lelaki yang telah berkomunikasi pada Angga baru berjalan mundur selangkah, suhu dingin begitu terasa memenuhi penjuru ruangan. Namun, Angga tak terlepas dari pandangannya menatap makhluk berjubah hitam itu yang memiliki energi dan aura negatif.


Tangan gosong lelaki itu terentang ke samping seperti ingin meminta sesuatu pada salah satu dari para sekumpulan Sekte yakni anak buahnya. Dengan segera dan patuh kepada pelopornya, beberapa anak buahnya ada yang berjalan maju lalu kedua tangannya menyerahkan sebuah buku tebal hitam.


Detak jantung Angga yang tenang, berubah berdebar tak karuan. Kedua matanya mendelik terkejut pada sebuah buku tebal berwarna hitam yang tak memiliki gambar cover penutupnya. Sementara, sosok makhluk pemuda misterius itu mulai membuka lembaran bukunya dengan santai.


Sekumpulan Sekte anak buah darinya, mulai melangkah memarani Angga lalu berhenti dan berdiri di sekitarnya. Lelaki tampan Indigo tersebut menggelengkan kepalanya dengan wajah ketakutannya apalagi ia sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan.


“Oh, kau pasti sudah tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. Tenang, ya? Hanya sakit sebentar. Setelah itu ku akan persilahkan kau untuk keluar dari ruangan dan bangunan kastil ini.”


Beberapa personelnya sosok bersuara pria itu, mulai menggunakan kekuatan singkatnya untuk mengambang di udara lalu bersedia berputar mengelilingi raga Angga sebelum ia memulai ritualnya dengan membaca semua rentetan mantra yang telah tercantum jelas di beberapa lembar kertas dalam buku tebal hitam istimewa ampuhnya.


“Tolong jangan lakukan itu.”


Pemuda itu yang hendak membacanya secara lisan, tertunda lalu mendongak serta menatap wajah Angga yang begitu lemas dan skeptis. Dirinya menggelengkan kepalanya kemudian tetap melakukan ritualnya tanpa memberikan Angga ampun mohon.


Meski mulutnya tak kasat mata, suara bacaan lisan dari lelaki sosok itu telah terdengar di kedua telinganya Angga. Di sinilah ia mulai merasakan efek sensasi yang luar biasa, dimana dadanya terasa terbakar, napasnya bak dihimpit oleh benda yang berat dan juga keras. Sedikit demi sedikit, kedua telapak tangan Angga mengepal kuat waktu merasakan kesakitan dahsyat yang menjalar ke sekujur tubuhnya.


Kedua matanya juga ia tutup rapat saat ia merasakan seperti ada ribuan kerikil batu yang mengendap di dalam kepalanya. Sungguh sakit sekali, bahkan kening serta leher milik Angga sampai hingga mengeluarkan air keringat yang membasahinya.


Dirinya masih tidak menyangka, mimpi buruknya itu justru menjadi kenyataan bukan hanya pertanda saja yang menunjukkan. Lalu ia harus bagaimana? Berusaha mencari cara untuk menghentikan ritual ini? Atau hanya pasrah kepada Sang Maha Kuasa?


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Ketujuh remaja dan satu kucing hitam mistik itu berhenti melangkah saat telah sampai di depan bangunan kastil hitam yang sangatlah amat besar dan tinggi. Kedatangan mereka semua disuguhkan oleh petir keras yang menggelegar di atas langit malam.


“Kastil? Kucing ini menunjukkan sesuatu yaitu bangunan kastil yang ada di depan mata kita?” tanya Freya tanpa berpaling dari kastil itu.


“Kenapa kita diarahkan ke tempat ini? Apa yang kamu omongin tadi, bener kalau Angga ada di dalem kastil?” Pertanyaan Jova hanya didiamkan Reyhan saja, membuat gadis itu cuma menghela napas panjang.


“Wey, Meng? Lo ngapain ngajak kami ke tempat kastil dedemit ini- lho, heh! Kucing itemnya kemana?! Kok udah hilang?!” kejut Aji setelah menoleh ke arah hewan pemilik sembilan nyawa itu yang telah tidak ada wujudnya.


Ketujuh remaja itu mencoba mencari keberadaan hewan mistik tersebut yang malah menghilang entah kemana. Sudah mereka cari melalui pandangan serius, tetapi kucing berjenis Kampung itu tetap tak nampak bahkan ekornya sekalipun.


“Kok aneh, sih? Padahal baru antara dua atau tiga menit kita menatap bangunan kastil ini, tapi kucingnya malah sudah hilang duluan ... apa mungkin itu bukan kucing sembarangan?” ucap Freya dengan nada lirih, cabar hati.


“Maksudmu, kucing hitam yang ngasih kita petunjuk jalan tadi adalah binatang hantu?!” desak Jova.


“Mungkin saja begitu. Orang kita sudah cari di sekitar sini, dia tidak ada ...”


“Palingan itu kucing lagi berburu tikus,” timpal Rena santai.


“Non waras, lo?! Ya masa di hutan ini ada tikus? Mungkin yang dibilang Freya ada benernya kalau kucing itu adalah binatang arwah atau siluman,” tutur Jova.


“Wah parah, sih. Tadi aja aku sama Rena habis lihat buaya siluman di wilayah tempat danau! Nah, kucing yang hitam tadi juga siluman?! Perasaan hewan di sini pada aneh-aneh.”


Reyhan berdecak. “Gimana sih, lo?! Namanya juga binatang di sini binatang yang berkarakter astral. Ya pasti pada aneh-aneh semua, lah! Dasar cowok Dodol!”


“Terserah elo, lah! Eh, coba sekarang lo bayangin. Itu kucing hitamnya dimana? Lo kan salah satu orang pengabdi meong,” oceh Aji.


“Otak lo, pengabdi meong! Bisa jadi juga kucing hitam yang telah hilang itu hanya memberi tahu kepada kita kalau kediamannya Angga berada di dalam kastil ini. Ada yang berani masuk?”


Jevran menelan ludahnya. “Oke! Gue berani, demi Angga temen gue. Kalau ada rintangan, kita terjang bareng. Gimana?”


“Ini cowok suka banget nakutin orang! Biasa aja ngomongnya, kenapa?! Ini nyaliku malah jadi ciut gara-gara kamu!” berang Lala.


Jevran mendengus. “Aku, kan berbicara apa adanya. Kamu-nya saja yang terlalu lebay!”


Lala memanyunkan bibirnya dengan wajah cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada. Sedangkan Freya yang sedang mempertimbangkan, antara berani masuk ke dalam kastil atau tidak, akhirnya angkat suara.


“Sebetulnya aku takut buat masuk ke dalam, karena pastinya ada penjahat di sana. Tapi gak apa-apa! Demi pacarku, aku berani. Aku harus bisa bertemu Angga kembali, dan Angga harus selamat dari mereka yang ingin bermacam-macam dengannya!”


Suara lengking yakin hati dari Freya, membuat kedua sahabatnya dan keempat temannya menoleh ke arahnya lalu mengangguk kompak dengan menerbitkan senyumannya masing-masing.


Mereka semua mulai melanjutkan langkahnya balik mendekati pintu utama yang ukurannya lebih besar dibanding rumah pada umumnya. Namun saat ingin membukanya walau tak ada handlenya, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya ke belakang dan langsung diperlihatkan perabotan-perabotan antik yang ada di ruangan primer.


Dengan langkah kakinya, mereka berjalan masuk lamban secara mengendap-endap layaknya seperti seorang maling yang ingin mencuri harta barang.


BRAK !!!


Yang ada di tepat belakang pintu utama, tubuhnya sedikit terlompat karena kaget mendengar bantingan keras dari pintu tersebut yang telah tertutup sendirinya bak tertiup oleh angin badai.


Freya meneguk salivanya susah payah dan tetap berusaha menepis rasa ketakutannya, fokusnya ini bukan pada egonya sendiri, tetapi pada Angga. Gadis itu harus bisa bertemu kekasih tampannya kembali, walau ia tidak tahu posisi lelakinya ada di berada mana.


‘Di mimpi Angga itu, ada gambaran kastil, ritual, dan bawah tanah. Berarti kediamannya sahabat gue ada dibawah tanah? Oke, gue harus mencari tangga turun dari ruangan utama ini. Gue yakin, kegiatan membahayakan itu ada dibawah lantai ini.’


Setelah Reyhan berkata secara relung hati, kedua mata sipit dari milik lelaki itu mulai menyapu seluruh ruangan utama yang sepi untuk mengedarkan pandangannya mencari undakan anak tangga atau semacam pintu yang mengarahkannya ke bawah tanah kastil.


Sampai tiba-tiba, mata hazel Reyhan menangkap sebuah macam papan triplek yang tersandar di belakang tembok samping tangga panjang yang berbentuk spiral untuk menuju ke lantai atas. Tanpa sungkan dan ragu, Reyhan melangkahkan kaki panjangnya mendekati papan besar tersebut, diikuti oleh lainnya yang ada di barisan belakangnya.


Setelah berada dihadapan papan triplek itu, Reyhan menatapnya intens dengan mengusapnya yang berbahan kasar. Pemuda tersebut merasa curiga dibalik papan ini, bukan hanya sekedar dinding dingin saja yang ada di belakangnya. Mesti ada sesuatu menurut dirinya sendiri.


Reyhan segera menggeser papannya ke samping untuk mengecek yang ada dibaliknya. Usai cukup menggesernya hingga tak menutupi pandangan, rupanya di belakang papan triplek tersebut terdapat sebuah pintu jati yang bercat cokelat.


“Pintu rahasia?” tanya Jova penasaran.


Reyhan mencoba menggerakkan handle gagang pintu aluminium itu ke bawah untuk membukanya, namun rupanya pintunya dikunci. Hal tersebut membuat Reyhan menghela napasnya dan kembali mengedarkan pandangan untuk mencari alat yang bisa membantunya buat membuka pintu ini.


Jevran yang sedang memijat lengan tangan kirinya yang kebas, tak sengaja menatap kunci anchor dengan warna emas nang tergantung di paku yang tertancap dibalik papan triplek. “Reyhan, itu ada kuncinya di belakang papan yang udah lo geser tadi.”


Reyhan langsung mencondongkan badan dan kepalanya sekaligus ke arah belakang papan triplek itu. Benar saja apa yang dikatakan Jevran, ada sebuah kunci jangkar emas di sana. Dengan lekas, Reyhan langsung mencabut kunci pintu tersebut yang digantung di paku nang posisinya horizontal.


Setelah melepaskannya dari paku, Reyhan mulai memasukkan kunci anchor itu ke lubang handle pintu aluminium dan memutarnya ke kanan untuk membukanya.


Cklek !


“Yes, berhasil!” ucap Reyhan dengan nada kemam.


Yang ada di belakangnya Reyhan, tersenyum bahagia dengan kedua mata membelalak lebar dan membulat sempurna. Kini sekarang, lelaki berambut cokelat itu kembali menggerakkan gagang handle pintu aluminum untuk membukanya. Setelah berhasil, Reyhan justru mendorong pintu itu semakin terbuka lebar.


Baru membukanya, ia dan lainnya disuguhkan ruangan yang tak terawat. Lantai dalam pintu tersebut pula kotor banyak debu, seluruh tembok dan dinding atas telah menjadi habitatnya para laba-laba yang sedang hinggap di sarang buatannya.


Tak ayal mereka bertujuh melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mulai menelisik setiap ruangan yang gelap dan berdebu itu. Bahkan saking banyaknya debu, mereka harus menutup hidungnya supaya kotoran yang bertebaran tersebut tidak berjaya masuk ke dalam lubang hidung mereka semua masing-masing.


Mata Reyhan melongok pada sebuah desain tangga kuno setengah putaran untuk turun ke bawah tanah kastil yang memiliki berbentuk huruf U. Tanpa ada ragu dan rasa takutnya, Reyhan yang menjadi pemimpin jalan untuk menentukan arah tujuan, mulai melangkah mendekati tangga itu untuk berjalan turun dari sana.


Kedua sahabat perempuannya dan keempat teman terbaiknya juga ikut membuntuti Reyhan dari belakang sambil menuruni undakan anak tangga hingga sampai terakhir.


Setelah tiba menginjak lantai paling bawah atau bisa disebut bawah tanah kastil, mereka melanjutkan perjalanannya yang jalur jalannya melurus ke depan tanpa ada pembelokan kanan atau kiri. Lorong tersebut biarpun gelap tetapi diisi oleh remang-remang cahaya.

__ADS_1


Seluruh dinding pada sisi-sisinya terlihat berwarna hitam dan itu malah menjadi terkesan mencekam bagi mereka semua, walau ada yang berani tentunya. Saat sedang fokus menempuh perjalanan untuk menemukan lagi suatu petunjuk buat membantu beberapa remaja itu menemukan Angga, Aji tak sengaja menoleh ke arah salah satu ruangan ranum yang mana pintunya lumayan terbuka lebar.


Aji berhenti jalan, dan memutuskan menajamkan matanya untuk melihat ke arah pada ruangan itu dari luar. Samar-samar lelaki itu seperti melihat sosok yang ada di dalam ruangan, entah siapa.


“Woi-woi, Guys !” bisik Aji dengan penekanan nada agar seluruh temannya yang sedang melangkah berhenti dan menoleh ke arahnya.


“Apaan? Lo ngapain berdiri di sana?” Jevran mengernyitkan keningnya setelah bertanya lalu merantas mendatangi Aji yang memanggil ia begitupun dengan lainnya.


“Ada apa?” Reyhan ikut bertanya seraya berjalan menghampiri Aji yang raut wajahnya tak mudah ditebak.


Aji melirikkan kedua bola matanya mengarah ke dalam ruangan ranum itu. “Gue lihat orang di dalem sana, tapi kurang jelas, sih. Soalnya peteng.”


Reyhan menyusutkan jidatnya tidak mengerti. “Orang? Orang siapa?”


Aji mengangkat dua bahunya. “Gue gak tahu pasti, dan gue gak bisa ngira-ngira siapa orang itu yang ada di dalem.”


“Apa jangan-jangan, Angga ...?” lengai Reyhan dengan wajah semarak.


“Ada baiknya kita bertiga masuk untuk mengecek ke dalam. Biar kita tahu, siapa orang itu sebenarnya,” tandas Jevran langsung.


“Gue setuju dengan pendapat lo. Ayo !” semangat Reyhan tetapi kemudian melimbai kepalanya terhadap Jova, Freya, Lala, dan Rena.


“Kalian berempat mending tunggu diluar saja, ya? Biarkan aku, Jevran, sama Aji masuk ke dalem ruangannya buat ngecek sebentar. Oke?”


Keempat gadis itu yang diam, mengangguk obral pada suruhan lembut dari Reyhan secara berbisik. “Kamu dan lainnya hati-hati, ya? Kami harap kalian tidak diberikan jebakan sesuatu pada mereka.”


Reyhan mengulas senyumannya pada Freya, sementara Aji dan Jevran menganggukkan kepala pada penuturan lemah lembut dari kekasih hatinya Angga.


Pemuda-pemuda itu tanpa hati gentar, menyelonong masuk ke dalam ruangan gelap tersebut. Tak ada cahaya lampu, bahkan saklar untuk menghidupkan penerangan buat ruangan tidak ada sama sekali. Di tiga langkah memasuki ruangan, mereka bertiga mencium bau aroma yang sangat tidak sedap.


Bau anyir, dan bangkai busuk. Bahkan saking tidak kuatnya menahan aroma yang menyeruak di penciuman inderanya, mereka mengapit hidungnya agar bau itu tidak dapat masuk ke dalam saluran alat pernapasan pada hidung masing-masing.


Sampai tiba-tiba, kaki Reyhan tidak sengaja menginjak genangan cairan yang berceceran di lantai. Pemuda itu berusaha memastikan dan meyakinkan pada dirinya bahwa cairan yang injak barusan adalah rembesan air biasa saja, tetapi apa yang ia yakinkan dan ia pastikan salah. Reyhan telah menginjak genangan cairan darah kental.


Meskipun gelap, tetapi Reyhan bisa mampu lihat kalau itu adalah cairan darah yang sudah menempel di bagian bawah sepatunya. Lelaki Friendly tersebut tak segan-segan menghindari cepat dari genangan cairan darah yang berceceran di lantai.


Jevran dan Aji yang merasa enek melihat genangan cairan darah kental di atas lantai ikut mengelak, tetapi pada akhirnya mereka berdua malah juga terkena genangan dari cairan merah pekat itu hingga muncrat menodai sepatu dan celana panjang yang dua lelaki itu kenakan.


Apalagi karena kurang berhati-hati alias ceroboh, kaki Aji tergelincir dari cairan darah itu hingga tubuhnya terhuyung ke belakang dan menabrak barang ringkih dengan sempurnanya.


Kretek !!!


“Akh, Sialan!” rutuk Aji meraba punggungnya yang terbentur benda aneh nang ada di belakangnya.


Seketika telapak tangan kanan Aji tidak sengaja menyentuh salah satu benda yang jika dinalar, bentuknya adalah bulat. Dengan segera lelaki itu memungutnya dari belakang lalu melihat apa yang sekarang ia pegang.


“K-kepala tengkorak manusia?!” Dengan meloya bersama rasa takutnya, Aji melempar tengkorak itu asal ke sembarang arah.


Jevran yang hendak menolong Aji untuk bangkit, tertunda saat matanya terbentur oleh pandangan yang tidak menyenangkan serta mengenakkan. Ketiga pemuda itu di dalam ruangan ranum ternyata sudah disuguhkan oleh tengkorak-tengkorak manusia yang bersimbah banyak darah amis, bahkan hal tersebut membuat tempat itu berantakan karena adanya barang-barang mengerikan dari makhluk hidup yang telah tewas definitnya.


“Kayaknya kita sudah salah masuk di ruangan ini, dah! Gak harusnya kita bertiga berada di dalem sini!” ujar Aji setelah kembali berdiri seraya berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah bimbang menyelimuti.


Waktu ingin kabur dari ruangan, mata Reyhan terpaku pada seseorang yang bertubuh lemah tak berdaya di atas kursi bersama tali-talinya yang melekat di hampir semua tubuhnya. Matanya terpejam dengan mulut dibekap oleh lakban. Siapakah ia?


Reyhan yang penasaran, berjalan maju mendekati pelan dengan tetap waspada bila itu sekedar jebakan untuknya. Sosok lelaki dengan sepadan usianya, berambut cokelat hickory, berkulit putih meski di bagian wajahnya terdapat lebam.


Kepalanya tertunduk dibawah bersama tanpa ada gerakan pada tubuhnya yang sangat tak bertenaga itu. Dengan lamban, tangan kanan Reyhan terbentang untuk melepaskan lakban yang menutupi mulut dari lelaki yang sama sekali belum ia kenali.


Reyhan yang ingin mengesahkan dari wajah pemuda asing itu untuk melihat siapa dirinya sebenarnya, Reyhan menyentuh ujung dagu dari orang itu lalu mengangkatnya perlahan ke atas. Begitu waktu menatapnya, Reyhan-Aji-Jevran terkejut bukan main.


“Kenzo?!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Emas itu amat menyilaukan kedua iris mata abu-abu autentiknya Angga, bahkan sang lelaki tampan tersebut sampai memejamkan matanya erat. Bukan takut terkena radiasi, tetapi teringat singkat pada mimpi buruknya yang telah datang berulang-ulang kali di alam bawah sadarnya.


Benda gaib yang ada di atas udara itu adalah melambangkan simbol atau julukan nang mereka buat bersama-sama untuk merampas paksa hak kekuatan mata batin milik Angga yang telah lama ia jaga secara menggenggamnya di dalam jiwa sejak masa dini hingga mencapai dewasa sekarang.


Lidah Angga kelu, dadanya masih tetap terasa terbakar, kondisi kepalanya saat ini pula masih terasa begitu sakit dikarenakan ulah bejatnya sosok mahkluk berjubah hitam itu yang merupakan pelopor dari para anak buahnya nang sedang menjalani tugasnya untuk mengitari raga Angga selama ritual belum berakhir dengan sukses.


Datanglah sorotan cahaya merah yang arahnya lurus ke raga Angga. Kini lelaki tampan tersebut bisa merasakan kalau tubuhnya sedang diangkat oleh sesuatu yang tak terlihat. Meski posisi matanya sedang ia tutup, Angga mampu memprediksikan jika kedua matanya sudah lumayan dekat pada kemilau dari lingkaran bintang iblis berwarna emas tersebut.


“Ini saatnya detik-detik terakhir kau menggenggam kekuatan Indigo yang ada di dalam jiwamu. Kau harus sanggup berlapang dada atas musnahnya mata batinmu, Angga. Dengan diriku merampas paksa hak milikmu yang sangatlah berharga ini, kekuatanku akan semakin bertambah dahsyat. Dan tidak ada yang bisa mengalahkan aku.”


Emosi Angga semakin meluap dan berapi-api atas penuturan angkuh dari makhluk berjubah hitam itu yang berbicara dengan menggunakan tinggi hatinya. Tetapi apa yang bisa Angga lakukan? Melawan? Mengubah takdir? Sungguh sulit dan mustahil. Bahkan, rasa emosi yang mendalam itu tambah berkurang dan melemah karena diserang oleh kepedihan pada kesakitannya yang merajalela.


Ingin berkata tidak untuk menolak atau bermohon sekalipun, itu sama sekali tidak ada gunanya. Karena Angga tahu, jawabannya pasti akan seiras persis pada ujar-ujaran perkataan seperti yang ada di dalam mimpinya.


Ini sangat sakit. Benar-benar sakit! Kulit yang ada di sekujur tubuhnya seperti dikelupas oleh alat tertentu. Ini sudah dipastikan dan betul, kekuatan Indigo miliknya dalam proses diangkat dari raganya. Apalagi Angga tengah berusaha tidak berteriak, karena ia akui bahwa ini begitu sakit, seolah-olah nyawanya ingin akan ikut tercabut bersama mata batinnya.


Tetapi lama kelamaan dalam proses pelepasan kekuatan Indigo ini, Angga semakin tidak kuat menahan. Keringat membasahi tubuhnya, wajah kulit tampannya bertambah pucat dibanding sebelumnya. Gerakan irama detak jantungnya bertingkat dengan cepat serta maraton.


Kedua telapak tangan Angga kembali meremat kuat dengan rahang mengeras, giginya menggertak hebat bersama kedua mata otomatis menyipit. Kurang beberapa menit lagi, kekuatannya akan tercabut dari raganya dan meluncur masuk ke dalam lingkaran bintang iblis tersebut yang masih setia mengambang di atasnya, menunggu sebuah asap putih menyembul keluar dari tubuh sang pemuda jentaka.


“AAAAAAAAAARRGH!!!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Reyhan dan Aji cepat-cepat membuka tali tambang itu yang membelenggu kencang kedua tangan Kenzo nang posisinya di belakang sandaran kursi, sementara Jevran dengan tangan satu melepaskan tali yang sesama jenis dari sepasang anggota kaki temannya yang telah disekap dalam ruangan gelap serta mengerikan nang tidak pantas dikunjungi ini.


Setelah Kenzo terbebas dari semua tali yang menjerat tubuh lemahnya, perlahan tubuh lelaki tersebut terkulai lemas dan jatuh di badan Reyhan yang hendak menyadarkan dari pingsannya.


Reyhan menarik raga temannya ke bawah hingga tubuhnya mencium lantai yang dingin tetapi tidak kotor seperti di daerah tempat dimana Reyhan beserta lainnya terkena genangan darah kenal yang menjijikkan tersebut.


Reyhan kemudian menopang punggung lemas Kenzo bersama satu tangannya, sementara tangan sebelahnya yakni telapak tangannya bergerak untuk menepuk-nepuk pipi Kenzo yang terdapat lebam.


“Zo? Sadar, Zo! Kenzo?!” Reyhan terus berupaya membangunkan temannya yang masih bergeming, bahkan kedua matanya tak kunjung buka.


“Ck! Apa yang telah mereka lakukan sama Kenzo?! Kenapa dia menjadi seperti ini? Bahkan sampe disekap dalem ruangan kayak gini!” kesal Reyhan.


Reyhan beralih menggoyangkan salah satu bahu Kenzo agar cepat sadarkan diri. Meskipun hanya teman biasa, tetapi ia juga cemas padanya.


“Gimana ini, Cog?! Kenzo juga gak sadar-sadar! Habis diapain, sih ini anak?!” gusar Jevran.


“Paling abis digebuk massal sama penghuni bangunan kastil ini,” celetuk Aji.


Jevran mendengus lalu segera menjitak kepala Aji. “Enteng bener lo ngomongnya?! Kalau digebuk massal, Kenzo pasti udah di Akhirat lah, Dongo!”


“Sumpret, lu! Sakit, tahu!” protes Aji dengan mengusap kepalanya tempat dimana Jevran tadi menjitaknya keras.


“Emh ...”


Aji, Jevran, dan Reyhan spontan menundukkan kepalanya ke bawah untuk menatap wajah Kenzo. Sayup-sayup barusan mereka bertiga mendengar lenguhan suara dari Kenzo. Ketiga pemuda yang cemas kepada Kenzo, hatinya lega saat melihat mata lelaki yang terpejam itu perlahan terbuka.


“Kenzo?! Alhamdulillah! Baru juga mau di Doain, udah sadar aja lo!” bahagia Aji dengan kedua mata terbelalak lebar.


“Zo, lo baik-baik saja?” tanya Reyhan dengan senyum terharu menatap kesadaran Kenzo yang telah kembali.


Pandangan Kenzo yang tidak lagi buram, membuat lelaki itu sangat terkejut. Napasnya memburu hebat seperti apa yang dirinya lihat bukanlah ketiga temannya nang telah berhasil menemukannya setelah sekian lamanya.


“Lo semua siapa?! PERGI, GAK DARI HADAPAN GUE??!! JANGAN LUKAI GUE LAGI!!!” lolong Kenzo kencang dengan napas tidak beraturan.


Aji yang panik, langsung membekap mulut sekaligus hidung Kenzo pakai telapak tangannya dengan rapat hingga temannya tidak memperoleh oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


“Mmmmppp!! Mmmmppp!!!” Kenzo berusaha melepaskan kedua telapak tangan Aji yang bertumpuk jadi satu di atas mulut begitupun juga hidungnya.


“Goblok! Bisa mati ini anak orang!!!” sarkas Reyhan dan Jevran bersamaan sembari membantu Kenzo balik menghirup oksigen dengan cara melepas paksa sepasang telapak tangan Aji, kasar.


Setelah dilepaskan, Kenzo langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa sakit-sakit. Lelaki itu dengan cepatnya, memutar posisi tubuhnya lalu menyeret pantatnya ke belakang yang ada di atas lantai kemudian meraih semacam besi panjang berukuran kecil lalu bersiap-siap menyerang ketiga temannya yang masih tak ia sadari sama sekali.


“Bergerak mendekat, gue bunuh kalian bertiga!!!” ancam Kenzo dengan mata mencuat, terlebih hela napas dadanya naik-turun begitu cepat.


Aji, Reyhan, dan Jevran terperanjat kaget dengan raut wajah yang lumayan takut pada ancaman Kenzo. “Eh! Slow, Bro! Slow, oke? Ya masa temen-temennya sendiri mau elo bunuh?!”


Bola mata Kenzo bergerak kesana-kemari untuk menatap ketiga pemuda yang duduk dihadapannya dengan secara bergiliran, senjatanya juga tidak kunjung ia turunkan.


“Kenzo, dengerin gue. Kami adalah temen lo, bukan musuh atau penjahat yang pengen nyakitin elo lagi. Percaya, please ...” pinta mohon Reyhan.


“Temen gue?” tanya Kenzo pelan kemudian segera mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan sosok yang ia lihat di depan.


Sosok pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam alias adalah jubah, berubah menjadi sosok ketiga temannya yang sedang menatapnya nanar. Kenzo mengerjap sebentar, dan rupanya tadi adalah sebuah halusinasinya saja jika itu adalah sosok makhluk yang menyakiti ia sebelum kedatangan para temannya.


Mata Kenzo sontak terbelalak lebar dengan hatinya yang penuh lega. “Aji?! Jevran?! Reyhan?! Itu beneran kalian bertiga?!”


Tiga temannya mengangguk dengan memberikan senyuman ramahnya pada Kenzo, dan Kenzo langsung lantas membuang besi panjang tersebut ke samping. Sementara Reyhan nampak bangkit dari duduknya lalu menghampiri Kenzo yang belum beranjak berdiri, malah justru menatapnya tak percaya bila yang dilihat adalah sungguhan ketiga temannya yang ada di dalam ruangan ini.


“Mungkin tadi di mata lo bukan kami yang datang untuk lo, tetapi makhluk jahat yang tadi menyakiti elo. Tenang, semuanya aman.” Reyhan mengatakan itu sambil mengangkat badan Kenzo untuk membantunya bangkit.


“Gue beneran gak nyangka, kami bertiga akhirnya menemukan elo! Gue kira lo sudah mati atas hilangnya itu. Alhamdulillah, dah! Gue lega banget rasanya,” timpal Aji ikutan memarani Kenzo.


Kenzo hanya senyum masam, sedangkan Jevran yang telah beranjak dari duduknya di lantai, juga mendatangi Kenzo bersama senyumannya yang tak pudar. “Ayo kita keluar dari sini, tempat ruangan ini gak pantes buat kita singgahi lama-lama.”


Reyhan, Aji, dan Kenzo mengangguk kepala. “Maafin gue ya soal yang tadi? Gue benar-benar gak sadar kalau itu adalah kalian bertiga. Gara-gara kejadian itu, membuat gue banyak halusinasi yang enggak-enggak, bahkan itu secara tiba-tiba.”


Reyhan semakin melebarkan senyumannya. “No problem, Zo. Gue tahu, lo pasti trauma atas peristiwa yang meniban diri lo tadi. Tenang, lo akan terhindar dari semua itu, karena sudah ada kami semua. Oke?”


Kenzo menyunggingkan senyuman tipisnya. “Oke, terimakasih lo sudah memahami gue, Rey dan kalian berdua.”


“Don't matter,” respon Jevran dan Aji bersamaan dengan masih tetap tersenyum pada Kenzo.


Kemudian setelah itu, mereka berempat melangkah bersama meninggalkan ruangan ranum nan mengerikan tersebut. Meski Angga belum mereka bertiga temukan, setidaknya Kenzo telah berhasil mereka jumpai.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di luar ruangan, keempat gadis yang menunggu lelaki-lelaki tersebut terlihat saling mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu.


“Itu tadi suara teriakannya siapa, ya?” tanya Freya terus mencari sumber suara teriakan seseorang tersebut dengan raut wajah bingungnya.


“Kayak teriakan bener, sih. Meski cuman terdengar samar-samar doang. Kira-kira siapa, ya yang tadi teriak? Suaranya kayak cowok gak, sih?” Jova menggaruk tengkuknya seraya pandangannya fokus mencari sendang suara yang berteriak itu.


‘Apa yang berteriak tadi itu ... Angga?! Duh, firasatku menjadi gak enak gini. Apalagi suara teriakan itu sudah nggak terdengar lagi,’ batin Freya sampai menggigit bibir bawahnya dengan perasaan kalut.


‘Kita ngapain, sih pake bisik-bisik gini? Pake yang biasa aja, napa?’


Rena mendengus sambil menolehkan kepalanya ke arah Lala. “Lo yang pinter dikit, dong! Ini tuh kastil, ye. Bagaimana kalau di lorong ini ternyata ada penjaganya terus denger suara-suara kita berempat? Lo nggak memikir sejauh itu?”


“Tahu, tuh! Kalau kita kepergok mereka, kan bisa mampus. Mana si Angga belum ketemu, lagi. Boro-boro Angga, Kenzo juga sama belum kita temuin,” tukas Jova dengan melipatkan kedua tangannya di dada sambil melirik sinis Lala.


“Kenapa menyebut namaku?”


Keempat gadis yang sedang sibuk mencari sendang suara teriakan seseorang yang telah tak terdengar lagi itu, menyusutkan keningnya kompak lalu menoleh ke arah sumber suara pemuda yang ada didekatnya mereka.


Saking terkejutnya dan tak menduga seolah mimpi, tubuh Jova sedikit terlompat menatap lelaki yang ciri-cirinya bertubuh tinggi, berambut cokelat hickory, berkulit putih, dan sang pemilik mata berwarna biru muda macam orang albino.


“K-kenzo? Kenzo Revansar Rafael?! Oh my gosh ...! It's real?!” gegau Jova gagap karena tidak percaya yang ia tatap adalah Kenzo si teman kelasnya nang selama ini menghilang secara misterius.


“Kenzo? Itu beneran kamu?!” kejut Freya masih dengan mata melebar seraya menunjuk kecil tubuh jangkung milik Kenzo.


“Daebak, jinjja?! (Wow, serius) Ini beneran Kenzo yang kita cari selama ini?! Cowok temen kita yang udah hilang lima hari itu?! Oh, apa jangan-jangan ini saudara kandung kembarnya Kenzo, lagi?!”


“Udah Gendeng, nih bocah!” sebal Rena dengan memukul lengan tangan Lala yang berujar sembrono.


“Sampai kaget begitu, ya? Maaf sudah membuat kalian kaget. Ini beneran aku, kok.” Kenzo berkata tersebut dengan dalam kondisi bibir nyengir ke kanan.


“Ya ampun, Alhamdulillah! Akhirnya kami berempat bisa melihat kamu kembali, Zo!” bahagia Freya seraya menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan agar suara pekiknya tak terlalu keras.


Kenzo menganggukkan kepala dengan melemparkan senyuman tipisnya pada Freya sang gadis cantik Nirmala tersebut. Tetapi kemudian, Kenzo mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang sepertinya ada yang kurang.


‘Hanya mereka bertujuh saja, ya? Apa Angga tidak ada di sini setelah gue mengirim pesan chat pada dia saat waktu itu?’


Reyhan melirik ke arah Kenzo yang berbicara dalam relung hati, hanya meliriknya tanpa ada inisiatif untuk menjawab pertanyaan batinnya. Karena jika menanggapinya, lelaki Friendly tersebut akan diinterogasi oleh Kenzo mengapa ia bisa dengar suara hatinya, dirinya tak mungkin memamerkan atau menunjukkan kelebihannya yang ada di dalam jiwa.


Aaaaaaaaaarrgh...


Kedelapan remaja itu spontan melongok kepalanya ke arah kiri saat barusan mendengar suara teriakan pemuda yang jelas terdengar sayup-sayup. Layaknya seperti tertutupi oleh suatu ruangan yang merubah suara yang ditangkap oleh telinga volumenya menjadi mengecil.


“Suara teriakan itu lagi?” lirih Freya.


Reyhan yang mendengar itu, langsung mengepalkan salah satu dari telapak tangannya sekaligus rahangnya mengeras. Tatapan mata yang tertuju pada arah teriakannya, pula sangat tajam hingga Reyhan berjalan mendekati suara tersebut dengan langkah kaki besarnya.


“Rey, lo mau kemana?” tanya Kenzo melihat Reyhan melangkah meninggalkan ia begitupun mereka.


Reyhan menghentikan langkahnya lalu menoleh kepalanya ke belakang dan menatap Kenzo. “Lo mending tetap di sini saja, kalian berenam juga. Gue nanti pasti akan kembali lagi ke sini.”


“Tapi, Rey! Gimana kalau itu hanya jebakan belaka? Kami gak ingin kamu kenapa-napa karena dari jebakan yang mungkin disengaja itu sama mereka,” risau Jova.


Reyhan tersenyum semu. “Kamu tenang saja, aku bakal baik-baik saja di sana.”


Reyhan kembali menghadap ke depan seraya melangkah dengan gerakan cepat. Telapak tangannya masih tetap mengepal kuat, rahangnya tetap mengeras yang terlihat, sorot matanya juga masih tetap tajam.


‘Kenapa insting gue itu dari teriakan suaranya Angga? Ya! Itu pasti sahabat gue! Apa yang mereka lakukan sama Angga?! Awas saja nanti jika ketahuan !’


Setelah bercakap dalam melalui lubuk hati, Reyhan mengganti langkahnya menjadi lari maraton untuk mendatangi sumber suara teriakan lelaki tersebut yang telah pastikan itu adalah Angga.


Usai tiba di pembelokan arah kanan, Reyhan seketika menghentikan larinya. Dari jarak kejauhan, pemuda berambut cokelat serta bermata iris hazel itu tak sengaja menatap sebuah pintu kayu yang posisinya tertutup rapat. Jaraknya begitu amat dalu.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Ritual yang sosok makhluk berjubah hitam itu masih dirinya lakukan dengan sepenuh hati, para anak buahnya juga masih konstan mengelilingi raga Angga untuk mendukung keberhasilan ritual menegangkan tersebut. Sedangkan Angga yang keadaannya terlentang di udara, terus merasakan kesakitan yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Matanya sangat sayu, bibir pucatnya mengering. Ia hanya bisa menatap nanar logo lingkaran bintang iblis emas itu yang sudah kenyataan dari mimpi buruknya nang sudah ia jumpai.


...Oke baiklah. Ayah yakin dan mau percaya denganmu, tapi dengar baik-baik, Ngga. Ayah sudah dari hari-hari lalu merasakan firasat yang sangat buruk mengenai dirimu. Angga tetap jaga diri dan selalu waspada, ya? Gunakan selalu indera kelebihanmu untuk melindungimu dari marabahaya. Ayah mohon lakukan saran ini yang Ayah berikan kepadamu...


Tersirat ucapannya Agra yang muncul dibenaknya. Mulut Angga terbungkam setelah teringat akan perkataan dan saran yang sang ayah berikan untuknya. Dirinya pikir, ia bisa menjaga baik-baik kekuatannya yang ia genggam ini. Tetapi malah justru menjadi sebaliknya.


‘Ayah, maafkan Angga ... maaf telah tidak bisa menjaga diri dengan baik-baik. Angga sekarang memang tidak bisa dipercayai ...’


BRAK !!!


“HENTIKAN RITUAL INI, BRENGSEK!!!”


Angga yang tadi memejamkan matanya, membukanya kembali dengan menoleh ke suara teriak amarahnya seorang lelaki yang terdengar familiar di telinganya. Meskipun pandangannya telah berkunang-kunang, Angga mampu melihat jika itu adalah Reyhan sahabatnya yang tangannya menuding kencang bersama raut wajah murkanya.


“R-reyhan ...”


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2