
Setelah sarapan dan meminum obat yang dianjurkan oleh dokter nang telah dipersiapkan, kini Angga memutuskan mencari suasana baru karena semakin lama ia di dalam ruang perawatan, makin tidak betah. Maka dari itu, Angga tanpa bilang atau izin pada Freya, menyingkap selimut tebalnya kemudian menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang pasien ke lantai lalu tangan kirinya menggenggam tiang infus yang ada tepat di sebelahnya.
Freya awalnya diam, apa yang akan dilakukan sahabat kecilnya tersebut. Namun detik kemudian saat melihat Angga hendak akan mendekati pintu kamar rawat, gadis tersebut langsung bangkit dari kursinya kemudian berlari mendatangi Angga.
“Lho, Angga?! Kamu mau pergi kemana??”
Angga menghentikan langkahnya begitupun tiang infusnya yang ia dorong lalu menoleh ke arah Freya. “Mau keluar.”
“Aduh, jangan dulu, dong! Kan dokter udah nyaranin buat kamu untuk harus istirahat total.” Kedua tangan gadis cantik tersebut menggenggam lengan tangan kanan Angga ingin akan menariknya. “Balik lagi, ya ke kasurmu?”
Angga menggelengkan kepala menolak komando lembut dari Freya dengan senyum tipis. “Ngerasa sumpek di sini terus, mangkanya aku mau keluar aja. Aku gak lama, kok keluarnya.”
Freya menghela napasnya panjang lantas itu melepaskan kedua tangannya dari lengan lelaki tampan tersebut yang muka pucat-nya belum hilang. “Yasudah deh gini aja, aku ikut kamu.”
“Eh, nggak usah. Kamu di sini aja, nanti kamu capek kalau kamu ikut sama aku. Orang aku mau keliling rumah sakit.”
Freya mendengus. “Malah justru itu kamu lebih capek daripada aku. Pokoknya aku ikut kamu, titik gak pake koma! Lagian dengan kondisimu yang masih kayak gini, kamu gak boleh sendirian jalannya. Harus ada yang mendampingi. Toh, aku juga gak mau kamu di luar kenapa-napa.”
“Ta-”
“Jangan dibantah, ya?!”
Angga menghela napasnya pasrah dengan wajah lesunya. Mendengar suara tegas dari Freya membuat pemuda itu hanya sanggup nurut saja. “Iya-iya. Gak aku duga, ternyata kamu bisa tegas juga, ya?”
“Ya, dong! Soalnya kalau aku gak tegas, kamu makin keras kepala!” sebal Freya seraya menuding dada kanan Angga sampai ujung jarinya menempel di dada bidang sahabatnya tersebut.
Angga yang melihat dan mendengar reaksi sebalnya Freya, terkekeh geli hingga menggelengkan kepalanya. Karena kalau sahabat kecilnya sudah sebal, wajahnya terlihat sangat lucu nan menggemaskan. Kemudian mereka berdua yang masih berada di dalam ruang perawatan, melangkah keluar meninggalkan kamar rawat no 111.
Di luar ruangan tepatnya saat menyusuri lorong lantai 4 untuk menuju ke sebuah satu lift secara berjalan beriringan, Freya menoleh ke arah Angga buat membuka suara, “Angga. Daripada keliling-keliling rumah sakit terus dampaknya jadi capek, mending kita ke taman aja, yuk.”
Angga pun melimbai kepalanya ke Freya yang ada di samping kanannya. “Oke, aku setuju.”
Freya kembali mengulas senyumannya dan itu dibalas oleh lelaki Indigo tampan tersebut yang mengembangkan senyuman khasnya, senyuman aura yang terpancar nyamannya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
__ADS_1
Setelah berada di sebuah taman RS Wijaya, nampak sekarang sepasang sahabat kecil tersebut sedang duduk santai di kursi taman yang telah disediakan. Di atas kursi yang lumayan panjang, Angga memejamkan kedua matanya tenang dengan punggung yang bersandar di sandaran kursi. Pemuda tersebut tengah mengirup udara oksigen pagi ini yang dipenuhi semilir angin sejuk, senyuman Angga pun juga tidak pudar sampai sekarang.
Freya yang memandangi wajah Angga nang tidak lagi seperti sebelumnya, tersenyum lega karena dirinya bisa melihat kembali senyuman sahabatnya. Bahkan dari muka tampannya yang tertera tersebut, terlihat lebih cerah dibanding hari-hari lalu.
“Angga?” panggil Freya yang membuat Angga jadi membuka matanya dan menoleh ke gadis cantik tersebut dengan lemparan senyumannya.
“Ya, kenapa?”
Freya semakin mengukirkan senyumannya itu berubah lebar. “Hari ini tuh aku seneng banget, deh ngeliat kamu yang senyum kembali kayak dulu. Nah, ini loh yang aku harap-harap, sahabatku satu ini nggak sedih melulu.”
Angga menghadapkan kepalanya ke depan sekaligus mendongak ke atas langit yang berwarna biru terang. Ia menghembuskan napasnya dari mulut. “Aku lagi berusaha untuk melupakan masa lalu buruk itu yang ada di tahun silam, mulai dari sekarang. Dan ... aku minta maaf ya karena udah lama terlarut dalam kesedihan. Jujur saja, sebenarnya aku berupaya gini, juga terasa berat bagiku. Tapi, harus aku lakukan agar memori yang belum sama sekali hilang dari benakku itu, tidak lagi menganggu ketenangan jiwaku bahkan hidupku.”
Freya terpukau dengan reflek membelalakkan mata indahnya pada Angga yang masih menampilkan senyuman tampannya tersebut. Namun pengucapan kata Angga yang keluar dari mulutnya, membuat Freya hanya diam tersenyum manis tanpa berkata-kata. Lantas, berselang menit kemudian lelaki itu menoleh lagi menatap gadis polos cantik sahabat TK-nya.
“Freya, aku mau bilang makasih banget sama kamu. Karena berkat ada kamu yang memberikan motivasi buat aku, aku menjadi tersadar atas semuanya yang ku pikirkan bahkan tentang aku yang mendadak pesimis. Sungguh, aku memang sudah salah.”
“Iya, Angga. Aku juga senang, karena aku mampu mengembalikan kamu menjadi semangat lagi. Lagipula, orang cowok kayak kamu gini, harus butuh asupan motivasi hidup.”
“Gak gitu juga kali, Frey.”
Angga menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang menjadi berubah lebar. Sementara selepas itu, Freya mengangkat tangannya lalu menaikkan jari kelingkingnya kepada Angga. “Janji?! Suka duka tetap selalu bersama?”
Angga pun dengan wajah tenangnya macam gerakan air damai, mengangkat jari kelingkingnya setelah itu ia tautkan di jari lentik kelingking sahabat perempuannya. “Janji.”
Rupanya bukan aura wajah Angga saja yang membuat orang nyaman, tetapi pula juga aura wajah Freya. Itu yang Angga rasakan. Dan pemuda itu baru sadar sekarang, dikarenakan dulunya hatinya begitu tertutup hingga ia tak terlalu merasakan aura cantik nan manis sahabat kecilnya sendiri yang satu komplek bersamanya.
1 jam mereka gunakan untuk mengisi hati masing-masing dengan menikmati udara angin sejuk serta canda tawa mereka yang Freya dan Angga keluarkan tanpa ada rasa canggung nang meliputi hatinya. Kini sekarang, giliran Freya yang menyadarkan punggungnya di sandaran kursi tepat sebelahnya Angga duduk.
Tatkala setelah itu, Freya kembali ingat ucapan yang sudah ia rencanakan untuk curhat dengan Angga. Sepertinya apa yang akan ia lontarkan pada sahabatnya hari ini, sangat cocok apalagi jika posisi mereka sedang berada di taman yang hanya mereka berdua di sana.
“Angga, aku boleh curhat, nggak sama kamu?” tanya Freya dengan wajah sedikit resah.
“Tentu. Kamu mau curhat apa sama aku?” Terlihat Angga sedia mendengarkan isi curhat yang hendak keluar dari mulut gadis polos tersebut.
Freya menarik napasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan bersama raut wajah lesunya. “Aku kan sama Gerald udah pacaran dari lama, tapi kenapa ya Ngga akhir-akhir ini .. si Gerald sifatnya jadi posesif banget denganku?”
__ADS_1
Angga seketika mengedipkan matanya beberapa kali sampai spontan duduk tegak lalu badannya menyongsong ke arah Freya. “Posesif gimana maksudnya?”
Freya kini membentuk sunggingan senyum yang menjadi melengkung ke bawah bersama wajah separuh gundah. “Iya, Ngga. Gerald tuh sekarang keliatan posesif banget kalau sama aku, dia bahkan anti bener aku deket dengan cowok lain. Kenapa Gerald akhir-akhir ini aneh, sih ...”
Angga membungkamkan mulutnya seketika sekaligus berpaling dari wajah cantiknya Freya yang tengah murung karena sikap kekasihnya. Dalam sekejap mata pula, muka Angga berubah jadi dingin setelah mendengar curhatnya sang sahabat perempuan mengenai soal tentang Gerald.
Freya menatap Angga setelah menundukkan kepalanya dengan sembari memainkan jari-jemari lentiknya. “Ngga, kok kamu diem gitu?”
Angga reflek menggosok-gosok luar hidungnya yang sama sekali tidak gatal, kemudian lelaki berupa tampan akan wajahnya tersebut mulai kembali menolehkan kepala ke Freya yang sedang menunggu responnya. “Ehm, nggak apa-apa kok.”
Freya mendengus. “Oh iya, nggak cuman itu aja. Setiap aku bahas soal kamu ke Gerald, dia tuh kayak gak suka gitu apalagi dari raut muka ... Gerald terkesan kayak benci sama kamu.”
“Emang.”
Freya terperanjat kaget mendengar jawaban lantang Angga yang sedari tadi menyimak cerita curhatnya. “Hah?! Jadi Gerald emang benci sama kamu, Ngga?!”
“Eh- apa?! Enggak-enggak, bukan itu maksudnya. Maksudku, emangnya iya, ya? Si Gerald benci sama sahabatmu ini?”
“Oalah ... kirain Gerald benci sama kamu. Iya, terkesan jelas kalau pacarku nggak suka denganmu. Atau, ini cuman perasaanku saja ya, Ngga? Soalnya tuh Gerald mendadak aneh semenjak dia kenalan sama kamu.”
“Aku juga gak tau. Apalagi aku juga bukan tentang urusanmu dengan Gerald. Tapi, dia cuman bersikap posesif sama kamu saja, kan? Tidak ada yang lain selain itu?”
Freya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tipis. “Enggak ada kok, Ngga. Dia cuman bersikap posesif selain itu sama sekali gak ada. Mungkin Gerald bersikap tegas dan ketat gitu sama aku, karena dia nggak mau aku diambil cowok lain, hehe.”
Angga hanya senyum tipis, kemudian menghembuskan napasnya dengan mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius pada Freya. “Baguslah kalau Gerald emang berniat baik seperti itu padamu, artinya dia masih menyayangimu dan mencintaimu. Tapi, kalau Gerald sampai berbuat macem-macem sama kamu .. jangan segan-segan ngomong ke aku, ya? Tolong jangan pernah kamu menyembunyikan hal keburukan apapun tentang ulahnya pacarmu ke kamu dari aku.”
Freya terdiam tanpa berpaling menatap wajah intensnya Angga yang berbicara sungguh-sungguh kepadanya, bahkan mata gadis itu tak sedikitpun berkedip. “Tujuan aku bilang seperti ini, karena aku ingin melindungi-mu. Aku gak ingin kalau kamu sampai berada dijalan yang salah.”
Freya mengerti mengapa Angga berkata seperti itu padanya, sahabat kecilnya hanya ingin melindungi dirinya dari celaka yang merusak masa depannya. Dari dulu juga, Angga selalu menjadi tameng hidup untuk gadis Nirmala manis tersebut. Terlebihnya Freya sudah tahu, bahwa kekuatan Indigo yang dimiliki Angga begitu sangatlah kuat nan tajam.
Sementara di sisi lain dari kejauhan taman, ada seseorang dua remaja yang tengah memantau pembicaraan Angga dan juga Freya. Mereka berdua layaknya mengenakan aksesoris topi model couple.
Siapa lagi kalau bukan Reyhan dan Jova?
Dua sahabat sejati itu walau kadang berprofesi macam film kartun Tom&Jerry alias bertengkar mulu, tengah memandang lega sepasang sahabat kecil tersebut yang sedang bersama. Jova dan Reyhan telah sepakat untuk tidak menganggu waktu mereka berdua, biarkan gadis Nirmala begitu juga lelaki Introvert itu menghabiskan waktu bahagianya. Sementara si Reyhan melipatkan kedua tangannya di dada bidangnya seraya terus memperhatikan mereka dari kejauhan yang kembali bersenda gurau meskipun dirinya serta pula Jova tidak dengar suara-suara mereka berdua.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››