Indigo

Indigo
Chapter 195 | Backfire


__ADS_3

Reyhan termenung di salah satu dalam warung bakso yang patokannya berada di pinggir jalan raya. Sikut tangan kirinya menopang di atas meja dengan telapak menyangga dagunya. Bola matanya menaik ke atas untuk mengingat semua ceritanya Dania tentang pertemuannya sang sahabat.


‘Apa bener tebakan gue kalau yang Dania dulu temui itu, rohnya Angga? Huh ...’


“Woi! Ngelamun, ae! Di makan baksonya, Bro! Keburu dingin jadinya kagak enak,” celetuk Aji yang membuat tubuh Reyhan nyaris melompat.


“Sialan lo, Anjing! Lo mau punya temen yang penyakit jantung?!” sentak Reyhan tak terima.


“Serangan jantung, kali yang bener ...” gumam Jevran tanpa mau menatap wajah murka Reyhan usai dikejutkan oleh Aji secara menggebrak meja.


“Lo mingkem aja! Gak usah banyak ngoceh!” Bentakan Reyhan untuk tetangganya, berhasil membikin Jevran terperangah setengah mati hingga meneguk ludahnya dengan kasar.


“Gue salah apa, Nyuk?” rengeknya.


“Pikir pake otak, jangan pikir pake bokong!” damprat Reyhan yang sedang tidak ingin diajak berbincang.


Lala yang sedang menyedot es teh manisnya, nyaris saja tersedak saat mendengar ucapan Reyhan. “Ih, sereeeeem ...!”


“Pake BGT, sih**,” bisik Rena dengan mencondongkan kepalanya sembari mencibir Reyhan yang ada di depannya.


Jova mematikan layar ponselnya dengan posisi makanan onigiri-nya satu suapan lagi akan habis. Usai ia menghabiskannya, gadis Tomboy itu menarik kursinya ke belakang untuk segera beranjak dari situ.


“Lo mau kemana, Va?” tanya Lala sambil menge-letus es batunya di dalam mulut.


“Buang bungkusan onigiri ini ke tong sampah diluar warung. Kenapa, lo mau ikut gue?”


“Idih, ngapain? Kurang kerjaan banget.”


“Yaudah,” singkat Jova menanggapi lalu berdiri dari kursi walau gadis itu kemudian menepuk pundak Reyhan dengan kepala mencondong ke dekat sahabat lelakinya yang tengah bisu.


“Di makan, gih baksonya. Aku mau buang sampah dulu di luar, oke?”


Reyhan menganggukkan kepalanya lalu menolehkan kepalanya ke arah Jova dengan melemparkan senyuman tipis. “Ya, oke.”


“Sip-”


“Ehem-ehem! Perhatian amat sama sahabat cowoknya,” kompak Jevran dan Aji bermaksud untuk meledek Jova yang hendak memutar langkah.


“Diem, gak usah banyak cingcong!”


Kedua pemuda itu terperanjat kaget dengan saling melotot waktu mendengar suara Jova yang menggelegar, bahkan sampai pedagang bakso nang sedang menyiapkan pesanan untuk pengunjung, menoleh ke arah gadis berambut panjang nan berwarna cokelat indah tersebut.


“Hahahaha, rasain! Mamam, tuh!” seru antara Lala dan Rena dengan serentak gembira.


Reyhan menghela napasnya lalu mengeluarkan ponselnya untuk ia mainkan, hal itu membuat Aji yang melihat aktivitasnya sang teman, langsung ambil komplain.


“Disuruh makan sama Jova, eh malah main HP! Badung, bener jadi orang. Heran, gue!”


“Terserah gue mau ngapain, bukan urusan lo lagian!” sebal Reyhan karena memang sedari tadi ia terus ditegur oleh temannya itu bahkan sampai di ceramah.


“Haish ... nyesel, gue ngasih protes gratis buat elo!”


Sementara di luar, Jova membuang bungkusan makanan onigiri rasa tuna mayo miliknya yang telah habis. Usai membuangnya, gadis itu ingin membalikkan badannya ke belakang untuk kembali ke dalam warung bakso mie ayam miliknya pak Satria.


Tetapi tiba-tiba, Jova dipanggil seseorang sekaligus memakai siulan merdu agar ia menoleh ke sumber suara. Jova mengerutkan jidatnya waktu ada seorang pemuda setinggi badan Andra Jaka Saputra yaitu 178 sentimeter, menghampirinya dengan tampang sok kegantengan.


“Hai, Cewek. Cantik banget, lo kayak Bidadari. Body lo juga goals, menarik buat gue.”


Jova mendesis jijik. “Idih! Sok muji-muji orang, lagi! Lo siapa, dah?! Dateng gak diundang udah kayak setan di alas! Ngaca, noh! Muka pasaran aja, udah pinter memuji cewek yang sampe segitunya!”


Reyhan yang masih berada di dalam warung bersama teman-temannya, melirik ke arah luar. “Itu cewek lagi debat sama siapa? Suara lawannya juga cowok, Jangan-jangan dia mau macem-macem sama sahabat gue?”


Reyhan tanpa basa-basi kepada para temannya, bangkit dari kursi lalu lekas keluar dari warungnya pak Satria. Begitu tahu rupanya Jova sedang dirayu-rayu oleh seorang pemuda yang setara dengan umurnya, Reyhan langsung menatap tajam padanya sambil maju melangkah mendekati Jova.


“Heh, Tokek Kejepit! Lo mau apain cewek ini, hah? Mau macem-macem ya, lo?!” tukas Reyhan dengan mata mendelik.


Jova langsung menoleh ke samping saat suara lelaki yang merendahkan orang itu, terdengar familiar di telinganya. ‘Etdah, buset! Kapan datengnya ini cowok?’


“Heh, Rambut Kuda Coklat! Gak usah sok gaya, lo di sini! Terserah gue, dong mau ngapain buat si cewek cantik kayak dia. Emang lo siapa, dah sok-sokan banget mau jadi pahlawan?!” sentak dirinya.


“Gue siapanya dia?” tanya Reyhan dengan menaikkan salah satu alis tebal cokelatnya.


Setelah itu, Reyhan tanpa ada rasa malu sama sekali terhadap Jova dan lainnya yang berada di dalam warung, merangkul sahabat perempuannya dengan tersenyum sinis.


“Gue pacarnya.”


DEG DUAR


Rena, Lala, Aji, dan Jevran yang memperhatikan dan mendengar dari seluruh rentetan ucapan menantangnya Reyhan, membuka lebar mulutnya masing-masing saking terkejut serta tak menduga. Termasuk Jova yang terperanjat bukan main seraya menoleh untuk menatap muka tampannya Reyhan.


“K-kok ...”


Reyhan segera mengedipkan satu matanya untuk memberikan sebuah kode pada Jova agar cepat mengungkapkan kebohongannya kepada lelaki yang ingin menjadi miliknya.


Jova setelah itu langsung menatap pemuda tersebut yang ada dihadapannya. “Ekhem! Iya, dia pacar gue. Kenapa? Kaget, ya? Lebih ganteng daripada elo.”


“Makasih atas pujiannya, Sayang.” Reyhan membalas ungkapannya Jova dengan tersenyum manis seraya menatap wajah cantiknya.


‘What?! S-sayang??!! Oh my gosh, udah sinting ini kunyuk satu! Eh ... tapi, kok jantung gue degdegan gini, ya? Huwaaaa! Ada apa gerangan?!’ batin Jova dengan berusaha menormalkan debaran dari jantungnya yang ada di dalam dada.


Sementara Lala yang terkejut usai mendengar kata 'Sayang' dari Reyhan untuk Jova, ingin rasanya hatinya menjerit karena melihat adegan tersebut. Sementara lelaki yang ada dihadapannya Reyhan dan Jova, justru terkena mental akibat ucapannya duo sahabat sejoli ini.

__ADS_1


Memang sebenarnya jika dipandang seperti ini terlihat serasi, sih. Tetapi kemungkinan besar mereka tidak mungkin sampai mengubah rasa persahabatan tersebut menjadi rasa percintaan, apalagi kedua remaja itu tak pernah yang namanya selalu akur, mesti selalu ada percekcokan di antara mereka berdua.


“Oh, shits !” Dengan umpatan jengkel dan dongkol, pemuda itu lantas langsung balik badan lalu meninggalkan keduanya bersama perasaan kesal bercampur aduk merata.


“Anjay ... so sweet banget! Moga-moga cepet bisa langgeng, yeeee!”


Sorakan gembira dari keempat remaja dari dalam warung makan, membuat Jova dan Reyhan auto menoleh ke arah mereka dengan tampang terkejutnya. Hingga lelaki Friendly itu langsung cepat menarik tangannya yang bertengger di tengkuk Jova.


“Eh! S-sorry... Bener-bener gak bermaksud, sumpah.”


Jova yang dibuat kikuk beberapa menit lalu oleh Reyhan, hanya bisa mengangguk dengan senyum kaku. Sementara teman-teman mereka senantiasa bertepuk tangan seraya huru-hara melihat adegan manis tadi.


Tentu saja setelah kepergiannya orang yang merayu sahabat perempuannya, membuat Reyhan tatkala amat malu apa yang telah ia perbuat. Walau semua itu dirinya lakukan dengan sebuah akting saja.


Reyhan mengusap tengkuknya dengan wajah tersipu sambil menatap kembali muka kulit putih dari Jova. “Va, aku sebenernya-”


Drrrtt !


Drrrtt !


Gara-gara suara nada dering ringtone, membuat Reyhan harus menunda ucapannya pada Jova yang belum terselesaikan, apalagi suara tersebut mampu memecahkan kecanggungan di antara mereka berdua.


“Sebentar, ya? Aku mau angkat telpon dulu, kamu ... mending masuk dulu, gih. Tunggu aku sampe selesai teleponnya.”


“O-oke.” Setelah menjawab itu, Jova segera memutar tubuhnya untuk kembali ke dalam warung bakso mie ayam.


Di dalam, Jova langsung disambut dengan sorakan-sorakan heboh dari Lala dan Rena. Sementara Jevran serta Aji tertawa bermaksud untuk meledek gadis Tomboy tersebut.


“Hahaha! Sumpah, demi apaan?! Lo kalau ama Reyhan serasi pake banget bagaikan sepasang doi. Seandainya begitu,” ujar Lala dengan posisi tangan menangkup salah satu pipinya.


Jova menatap tajam Lala amat tajam sambil menurunkan pantatnya untuk duduk di kursi tempat semulanya. “Apa sih, lo?! Gak jelas!” Kemudian Jova mengulurkan tangannya untuk menyentil jidat temannya itu. “Tetep gimanapun, gue sama Reyhan sahabat! Sebatas sahabat, gak lebih. Lo pikir kayak Freya dan Angga?! Jadi orang boleh, lah jangan sinting-sinting!”


“Gitu, yak? Terus itu kenapa muka lo sampe semburat merah kayak gitu, dah? Gak mungkin, dong itu muka kena air panas. Lo pasti salting, kan pas Reyhan bilang gitu buat cowok yang udah ngerayu manja elo? Hahahaha, ngaku aja!” timpal Rena.


Mata Jova terbelalak. “M-mana ada?! Ngadi-ngadi lu, Serenong! Gue biasa aja, kok waktu si Reyhan bilang gitu sama dia. Toh, gue bukan pacarnya.”


“Jovata Zea Felcia, tolong dong jangan pernah sesekali menyembunyikan rasa hatimu tentang Reyhan. Jujur aja kalau kamu sebenernya suka sama cowok itu.” Yang benar saja, tuturan dari Jevran berhasil membuat Jova naik tanduk.


“Apaan, ya?! Aku gak suka! Aku cuman suka dalem persahabatannya doang saja, lebihnya gak ada! Lagian mana mau aku punya pacar kek Reyhan kalau hobinya ngajak perang dunia sama diriku. Dih, ogah!”


Mereka berempat yang duduk di depannya Jova, memasang tatapan curiganya dengan tersenyum smirk.


“Udah dong, ah! Lama-lama ini garpu nancep di biji mata kalian semua!”


“Kenapa, Ma? Tumben nelpon?” Nampak di luar, Reyhan telah mengangkat sebuah telepon dari seseorang yakni sang ibunya sendiri.


Kamu lagi dimana, Nak? Kok, diseberang sana rame banget?


Tebakan yang bagus! Iya, Mama hari ini mau masak untuk hidangan makan malam nanti. Tapi masalahnya barang-barang di dapur banyak yang sudah habis, Rey. Jadi, Mama boleh minta tolong belikan bahan-bahan untuk Mama masak habis ini, bisa?


“Bisa kok, Ma. Reyhan juga lagi santai-santai sama mereka. Bahannya apa saja, Ma? Biar sekarang Reyhan belikan. Tuh, di depan kebetulan ada supermarket.”


Hmmm! Baiknya anak Mama! Yasudah, setelah ini Mama ketikkan bahan-bahannya, ya di WhatsApp? Eh, bentar! Tapi kamu gak capek?


“Enggak kok, Ma. Apapun untuk Mama, Reyhan bisa. Langsung kirim aja ya, Ma? Biar Reyhan cepet beliin.”


Hahahaha! Iya deh, Mama percaya. Maaf banget ya, Nak? Pasti karena masakannya Mama enak banget, mangkanya bahan-bahan dapur sampe habis


Reyhan tersenyum. “Pede banget. Yasudah ya, Ma? Reyhan tutup dulu sekalian mau nyebrang jalan.”


Iya, Sayang! Kamu hati-hati, ya? Ingat kalau nyebrang lihat arah kanan dan kiri terlebih dahulu. Jangan meleng, fokus. Oke?


“Siap, Mama tenang aja. Assalamualaikum.”


Waalaikumsalam, Rey


Reyhan menyingkirkan segera layar ponselnya dari telinga lalu memencet tombol merah untuk mengakhiri hubungan teleponnya dari Jihan. Setelah itu, Reyhan memasukkan handphone-nya ke dalam saku celana seragam OSIS miliknya sekaligus pamit sejenak kepada mereka yang yang sedang saling mengobrol ramah.


Di tepi jalan raya aspal yang banyak sekali para jenis kendaraan berlalu lalang, Reyhan berdiri dengan menunggunya sampai sepi sebelum melangkahkan kaki panjangnya untuk menyebrang.


Sementara di sisi lain, terdapat sesosok lelaki yang lumayan tampan sedang tersenyum miring sembari menatap kaca besar utama dalam mobil Fortuner hitamnya.


Ia nampak tenang menatap Reyhan yang hendak menyebrang jalan, salah satu jari telunjuknya dari tangannya mengetuk-ketuk atasan stir mobil pribadinya. Di tangan kirinya ia memegang batang rokok dengan menghisap rokoknya penuh nikmat.


Ia menghembuskan napasnya untuk menghamburkan asap rokoknya keluar lalu mematikan putung rokok miliknya sebelum beraksi.


‘Hidup nyawa lo akan berakhir di hari ini.’


Di luar sana, Reyhan siap menyebrang setelah meneliti jalannya yang telah sepi. Ia melangkahkan kakinya untuk berjalan ke depan dan menuju ke sebuah supermarket, tetapi saat hendak bergerak, tiba-tiba di hatinya bertanya-tanya akan sesuatu.


“Kok, seperti suaranya Gerald, ya? Jarak batin hatinya juga lumayan dari sini. Ah, gak mungkin! Dia masih dikurung dalem penjara, pasti itu isi suara hati cowok lain.”


Reyhan berusaha tak memedulikan dari relung kalbu seseorang tersebut, kemudian melanjutkan langkahnya untuk segera menyebrang sebelum ada beberapa kendaraan yang akan melintas ke dekatnya.


“Kalau gue gak bisa membuat Angga mati, berarti lo harus kehilangan jiwa lo detik ini juga, hahaha!” seru Gerald seraya menancapkan gas mobilnya untuk melajang raga Reyhan yang sedang tenang dalam menyebrang.


Gerald sengaja semakin Memaksimalkan kecepatan laju mobilnya dengan tersenyum bahagia bersama mata iris hijaunya. Sementara Reyhan yang merasa ada kejanggalan di arah kanannya, langsung menolehkan kepalanya. Tapi naas...


DUAGKH !!!


Karena tidak ada peluang kesempatan untuk mengelak dari tabrakan mobil sang pengendara tersebut, tubuh Reyhan berakhir dengan melayang dan terlempar kuat hingga kepalanya mendarat hebat di trotoar. Sisa raganya terbentur kuat di jalan tapak.

__ADS_1


Meskipun banyak yang meneriaki Gerald karena telah menabrak satu orang nang sedang menyebrang, namun Gerald malah justru tertawa usai melihat kepala Reyhan yang bercucuran darah dengan kondisi masih sadar. Tetapi tidak tahu, kah wahai pemilik aura hitam?


Saking menangnya menyerang raga Reyhan hingga terbaring tak berdaya di dekat trotoar, Gerald sampai tidak sadar bahwa di depannya ada seekor kucing di depannya. Dengan segera lelaki Antagonis itu membanting stir ke kanan untuk menghindari kucing tersebut.


Tetapi...


BRUAKH !!!


DUAAAAARRR !!!


Reyhan yang terbaring lemah di sana dengan posisi masih setengah sadar, menatap ledakan dahsyat dari mobil Gerald yang tadi sudah menabrak pohon besar samping jalan aspal, bahkan terdapat potongan-potongan tubuh dari sang pengendara yang telah sengaja menabraknya, nang berceceran di luar lokasi kecelakaan.


Ia tentu tahu setelah menengok mobil Fortuner itu. Yakni, Gerald lah yang menabrak tubuhnya hingga lemas seperti ini. Banyak teriakan-teriakan dari para orang yang melihat insiden mengerikan tersebut, bahkan sebagian ada yang langsung berlarian menghampiri.


Baru saja akan menegakkan kesadarannya dan berusaha untuk kuat, Reyhan dalam sedetik kemudian langsung memuncratkan darah segar dari mulutnya ke sisinya. Ia memegang perutnya dengan mengerang saat ia merasakan kesakitan yang luar biasa, terlebih lagi darah dari kepalanya telah merembes membasahi atas trotoar.


Dadanya terasa sesak dengan posisi mulutnya yang telah berlumuran darah. Setelah itu bersama setengah kesadarannya yang masih terkumpul, Reyhan mencoba mengangkat tangannya ke atas. Namun, sayangnya dirinya sudah direbut duluan oleh kegelapan yang menjumpainya, hingga pada akhirnya tangan nang berhasil terangkat, terjatuh begitu mata Reyhan menutup sempurna.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Freya perlahan menggenggam telapak tangan kiri kekasihnya yang di sana terdapat jarum infus nang tertancap. Dengan susah payah, gadis cantik itu meneguk ludahnya waktu mampu merasakan kalau tangannya Angga bertambah dingin.


Wajah lelaki tampan dengan rambut hitam itu juga semakin memucat dalam kondisi Komanya yang masih berlangsung. Sementara Rangga nang berada di sebelahnya Freya, menghembuskan napasnya sendu seraya menatap muka lemas temannya.


Rangga jelas tahu sekali jika kondisi Angga terus terperangkap dalam keparahan Koma. Raut ekspresi dari pemuda itu tak sama sekali menunjukkan kebahagiaan yang terpampang, apalagi melihat selang Intubasi nang selalu tersumpal di mulut Angga.


“Kamu harus sabar ya, Frey? Kita tetap Doakan Angga. Aku yakin suatu saat nanti, dia akan sadar.”


Freya mengangguk lemah dengan memejamkan mata. “Iya, Ga ...”


Rangga melemparkan senyumannya pada Freya yang hatinya masih terasa amat hancur. Sedangkan seperti kedua orangtuanya Angga tengah ada urusan di ruangan dokter Ello untuk kembali disampaikan kabar sesuatu mengenai kondisi kekasihnya Freya yang belum ada perkembangannya.


Sementara di luar ruang ICU-nya Angga, terdapat beberapa sosok hantu yang tengah memandang raga manusia Indigo tersebut nang sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Soal aura mereka seperti apa, mereka pemilik energi dan aura yang positif serta bukan negatif.


Wajah mereka memang bersinar bak penghuni Akhirat Surga, tetapi raut mereka yang terpasang nampak duka melihat pemandangan nang cukup menyayat hati.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Tubuh Jova, Lala, Rena, Aji, dan Jevran yang saling menegang usai mendengar suara ledakan hebat dari dalam warung makan tempat mereka bersinggah untuk mengisi perut dan melegakan tenggorokannya yang kering, langsung beranjak dari kursi lalu berlari keluar dari tempat tersebut buat mendatangi beberapa kerumunan di daerah sebelah ledakan mobil pribadi pemilik pengendara.


“Permisi-permisi! Ini kepung-kepung gini ada apa, ya?” tanya Jova sehabis melihat mobil seseorang yang hancur dengan dipenuhi api-api membara.


Salah satu orang yakni pria berumur 48 tahun menoleh ke belakang dengan wajah risau. “Ada seseorang yang menabrak sengaja korban hingga korban mengalami kecelakaan yang sangat hebat.”


“K-kecelakaan?! Apakah ada identitas nama dari korban yang mengalami kecelakaan, Pak?!


“Ada, sih. Yang kecelakaan itu cowok, nama korbannya ...”


Jova yang membelah jalan para orang-orang nang masih saja mengepung sang korban kecelakaan, matanya terbelalak lebar dengan nyaris jantungnya stop dibuatnya.


“Reeeeeeeeey!!!” teriak histeris Jova dengan berlari untuk masuk ke dalam kerumunan para masyarakat kota.


Beberapa orang yang akan membenarkan posisi Reyhan menjadi terlentang, menghindar untuk memberikan jalan luas Jova. Gadis Tomboy itu dengan kaki gemetar, menjatuhkan kedua lututnya di jalan tapak.


Sebelum benar-benar meyakinkan jika itu adalah sahabat lelakinya, Jova menatap name tag samping jas almamater korban untuk membacanya. Bulir air matanya mulai terlihat setelah begitu tahu jika ini memang sahabatnya sendiri.


“Ini beneran sahabat gue!” Tangis Jova pecah dengan kedua tangan meraih raga lemah Reyhan untuk meletakkan tubuhnya di atas pangkuan gadis cantik tersebut.


“Eh, Mba-nya kenal sama mas korban?! kejut sang wanita paruh baya yang berusia 35 tahun.


Jova mendongakkan kepalanya yang mana pipinya sudah banyak dibanjiri oleh air matanya nang berlinang. “Iyalah! Orang korban ini adalah sahabat saya!!”


“Lah, kirain pacarnya!”


“Lho! Bentar-bentar, bukannya mas ini yang dulu pernah jadi korban aniaya sampai viral di berita, ya?!”


“Heh, iya! Astaga saya baru sadar. Kasihan, ya malah kena musibah lagi sampai dua kali. Bisa selamat gak, ya?! Mukanya pucat sekali! Apalagi luka di keningnya juga lumayan parah.”


“Ya ampun cowok ganteng yang namanya Reyhan Lintang Ellvano kan, ya?! Ya Allah, parah!”


Tangisan Jova semakin kencang dan menjadi-jadi, di saat sedang genting seperti ini mereka malah justru membicarakan tentang sahabatnya yang dulu sempat viral di seluruh berita karena penganiayaan.


“Hubungi ambulans segera!!! Ibu-ibu ini udah tahu lagi panik, malah gosipin temen saya!” kesal Aji.


Jevran menyenggol lengan Aji. “Kenapa gak lo aja yang hubungin ambulans rumah sakit Paviliun Wijaya?!”


“HP gue ketinggalan di warung bakso, Cog!” sembur Aji tak kalah menyentak.


“Anjir. Bego lu, Sumpah!”


Jova dengan tangisan yang tersedu-sedu, menggoyangkan tubuh Reyhan nang tidak berdaya bersama kepalanya yang senantiasa berdarah hingga sampai meluncur di pelipis.


“Angga lagi Koma lho, Rey! Masa kamu malah kecelakaan sampe kayak gini, sih?! Ayo bangun, doooong!!!”


Saking paniknya yang masuk setengah maut, Jova reflek memeluk tubuh sahabat lelakinya dengan masih tangisan yang membuat pilu semua orang di sekitarnya. Termasuk Rena dan Lala, walau sebenarnya kaget melihat Jova mendekap erat raga Reyhan, tapi rasa terkejutnya dikalahkan oleh kepanikan yang begitu.


Pria yang memiliki kumis tebal, mulai berjongkok untuk mengambil ponsel milik korban dari saku celana seragam dan segera menghubungi keluarga Reyhan. Tetapi saat telah mengeluarkannya, pria itu dikagetkan pada kondisi ponselnya yang setengah hancur. Meskipun demikian, namun handphone Reyhan telah tak bisa dinyalakan kembali akibat dari tubuhnya yang tadi terbentur keras di jalan tapak bersama kepalanya nang terhantam trotoar.


Semua orang termasuk para teman dan satu sahabat perempuannya Reyhan menunggu kehadiran mobil ambulans yang kurang 3 menit lagi akan menuju ke lokasi kejadian. Di bagian daerah sana tempat dimana Gerald mengalami kecelakaan mengenaskan, terdapat beberapa polisi yang bertugas untuk mengevakuasi.


Hal ini bisa dibilang bahwa Gerald telah terkena bantunya atau lebih tepatnya, senjata makan tuan. Ia memang telah membuat Reyhan celaka, tetapi kebahagiaannya itu berhasil mengundang maut untuk diri sendiri dampak akibat dari perbuatan jiwa iblisnya.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2