
Riuhnya suara para siswa-siswi di kantin pada hari Jumat pagi ini jam pukul 09.00, Banyak yang di sana mengisi kehebohan kantin dengan gelak tawanya dan yang lainnya, tetapi yang jelas banyak sekali nang duduk di kursi meja kantin untuk menikmati hidangan mereka masing-masing buat mengisi perut yang telah keroncongan, beserta minum dengan nikmat agar tak mengalami Dehidrasi.
Di salah satu meja kantin, tepatnya adalah di sekelompok empat sahabat dari bangku kelas XI IPA 2 tengah menyantap Indomie kuah instan yang ada di dalam mangkuk bersama toping telur setengah matang di atasnya.
Reyhan yang sibuk memakan mienya dan sesekali menyeduh kuah segarnya dengan memainkan ponsel Android Oppo-nya, terhenti seketika dari makan-nya. Kedua mata lelaki humoris itu terbelalak sangat lebar hingga bola matanya nyaris keluar dari rongganya.
“Oh my gosh ...!”
“Ada apa, Rey?” tanya Freya yang akan menyendok kuah mienya.
“Halah! Paling juga si Reyhan nemuin aplikasi game bagus dan teraktual di dalem play store aplikasi bawaannya. Gak tau aja itu anak ngincernya game online, untung aja gak sampe ngincer nyawa orang,” sewot Jova.
“Lambe! Lagian sok tau banget, sih! Siapa juga yang nemuin aplikasi game bagus teraktual?! Boro-boro nemuin aplikasi, dari tadi aja aku gak buka play store, kok!” sebal Reyhan.
“Gak usah pake ngegas, kali kayak knalpot motor! Ada apaan, sih? Kok kamu setengah heboh gitu lihat layar HP-nya? Ada berita menggemparkan lagi, kah?”
“Nah! Itu baru bener! Ho'oh, barusan tadi aku baca informasi suatu berita yang sangat menggemparkan. Eh mungkin gak semua orang kali, ya? Karena sekolah itu gak cukup terkenal.”
Freya mengerutkan jidatnya dengan menatap sahabat lelakinya. “Sekolah apa yang kamu maksud, Rey?”
“Bentar ...” Reyhan kembali membaca berita tersebut yang ia temukan di internet dengan amat teliti. “Oh! SD Bakti Siswa di kota Jakarta.”
“Apa? Bakti Siswa?” tanya Angga agar Reyhan mengulanginya lagi, yang sebelumnya itu si Angga terlihat cuek-cuek saja informasi berita apa yang sahabatnya temukan di internet ponselnya.
“Lah?! SD Bakti Siswa, kan bukannya sekolah Angga yang dulu?? Kok bisa masuk berita, sih?!” kejut Jova.
“Ya bisa, atuh! Ini sekolah udah hampir sering masuk berita karena terdapat banyak kasus pembunuhan di bangunan itu. Eh, tapi gue kurang tau sih kalau ini SD sekolahnya si Angga.”
“Kurang tau? Emangnya nama sekolah SD-nya Angga banyak yang sama dikalangan bangunan sekolah SD lainnya di kota kita?” tanya Freya usai membelalakkan kedua matanya.
“Agak gak peduli yang itu, sih. Tapi mungkin ...” Reyhan memutar posisi ponselnya menghadap ke belakang supaya Angga bisa melihat layar HP-nya. “Ngga, ini bangunan sekolah dulu lo bukan?”
Angga menganggukkan kepalanya apa yang diperlihatkan Reyhan betul. Jova melongok menatap lelaki tampan tersebut yang tampang mukanya dingin dan datar macam kanebo kering. “Kok kamu masih bisa kenal itu bangunan SD sekolah Neraka Jahannam-mu??”
Angga cukup hanya mengarahkan kedua bola matanya untuk melirik sahabat Tomboy-nya yang bertanya padanya. “Mungkin karena bangunan sekolah itu nggak pernah diubah, direnovasi, atau didekorasi. Mangkanya aku masih bisa mengenali.”
“Oh, gitu.” Jova kemudian menoleh kembali menatap Reyhan yang balik memutar posisi HP-nya. “Rey, berita apa yang bikin gempar? Aku penasaran banget, dah.”
“Iya, Rey. Aku juga,” timpal Freya.
“Oke, simak dan denger baik-baik. Jadi tuh informasi berita yang aku baca di internet, di SD Bakti Siswa terjadi peristiwa hilangnya tiga siswi kelas enam usai beberapa hari silam terjadi pembunuhan tragis. Sang pihak sekolah dan kepala sekolah yang bertanggung jawab tengah berusaha mencari keberadaan tiga anak usia dua belas tahun itu yang menghilang secara misterius, dengan dibantu oleh para kepolisian yang masih menyelidiki. Para wali murid ketiga siswi tersebut juga dalam ikut mencari anak mereka masing-masing dikarenakan memang, mereka waktu jam pelajaran sekolah usai, belum kunjung-kunjung balik pulang ke rumah.”
Reyhan menghembuskan napasnya usai membacakan semua informasi berita yang terkait pada di bangunan SD Bakti Siswa. Dan di situ, Jova langsung angkat pertanyaan, “Bentar, dah. Emangnya mereka bertiga itu enggak dijemput sama ortu (Orang tua) mereka masing-masing?”
“Kebetulan tiga siswi kelas enam itu sering pulang sendiri naik angkota umum,” tanggap Reyhan cepat.
“Lah? Tadi pas kamu bacain buat kami bertiga, kok kalimat yang itu gak ada?”
“Hehehe! Ya kan aku bacain yang penting-penting aja, Va.”
“Yeh, dasar Kunyuk Sutres!” sungut Jova.
“Waduh, Kira-kira tiga siswi itu menghilang kemana, ya? Gak mungkin juga mereka dibawa pergi sama angin Tornado,” tutur Freya.
Tawa Jova dan Reyhan pun meledak akibat ucapan polosnya Freya sang kekasihnya Angga, hingga mereka berdua mengutarakan kata yang bersamaan. “Ngelawak kamu ya, Frey?!”
Freya yang ditertawakan oleh kedua sahabatnya, hanya menggaruk kepalanya sambil cengengesan nang mana memajangkan raut wajah cantik nan menggemaskannya. Sedangkan Angga yang diam, tengah menoleh ke kanan dengan kepala sedikit menunduk. Jelasnya pemuda tampan itu tengah mengingat-ingat seluruh rentetan ucapan para tiga remaja perempuan wujud makhluk astral itu, yang ingin meminta pertolongan pada Angga.
...Tolong temukan jasad kami, Kak ......
...Hanyalah Kakak yang bisa membantu kami untuk memberikan ketenangan arwah kami ... nyawa kami semua telah dilenyapkan oleh seseorang yang membenci kami bertiga ......
...Kami harap, Kakak mampu menemukan raga kami untuk membuka kunci kemana seharusnya kami berada ......
Angga memejamkan kedua matanya. Suara-suara mereka yang terdengar lengai dan mampu membuat bulu kuduk menaik, masih bisa Angga ingat betul. Bahkan lelaki tampan itu sempat berpikir bahwa ketiga siswi hilang secara misterius dari sekolah SD Bakti Siswa sesuai fakta di berita internet ponsel Reyhan, adalah tiga makhluk astral berwajah hancur yang meminta pertolongan kepada Angga melalui mimpinya tadi. Apakah benar?
Freya yang sedari tadi memperhatikan kekasih tampannya itu, kini mencoba menyentuh lengan tangan kirinya Angga. “Kamu kenapa, Ngga?”
Kedua sahabat sejoli yang banyak sering dijuluki Tom&Jerry tersebut, mengerutkan keningnya masing-masing dengan menatap keanehan dari Angga. Tanpa lama-lama mereka berdua kompak melihat ke bawah meja tempat mereka makan dan minum bersama lainnya. Tidak ada apapun di situ, hanya ada kaki mereka berempat tersendiri yang posisinya menapak di lantai kantin.
Kemudian setelah itu, Reyhan duduk tegak menatap Angga sang sahabat Indigo-nya. “Ada apa sih, Bro? Lo lihat apaan coba? Ya kali ada kucing astral di bawah meja. Atau ... lo sakit?”
Angga menghela napasnya lalu membuka mata kembali untuk pula duduk tegak, memirsa sahabat humorisnya yang penasaran ada apa dengannya. “Dua-duanya salah.”
‘Gue harus cek berita itu sendiri,’ kata Angga dalam hati dengan melihat ponsel Reyhan yang tengah pemuda Friendly itu pegang.
‘What? Wah, ada something, nih. Gue yakin, si Angga sahabat Indigo gue yang paling spektakuler ini bakal mau menerawang tentang berita internet tersebut yang beredar,’ batin Reyhan yang tadi mendengar suara relung hati Angga.
“Terus, kamu kenapa dong, Ngga? Soalnya kalau tadi aku perhatiin detail raut wajahmu, kamu kayak lagi merenungkan sesuatu. Apalagi setelah Reyhan membacakan berita tentang hilangnya tiga anak SD kelas enam itu yang bersekolah di Bakti Siswa.”
Angga beralih menatap mata indah gadis polos tersebut dengan sedikit mengulas senyum. “Sebentar, ya.” Usai mendapatkan jawaban Freya dengan sebuah gerakan tubuh yaitu anggukan kepala, Angga berbalik menoleh ke arah Reyhan. “Rey, gue mau pinjam HP lo.”
“Siap, nih!” respon Reyhan semangat seraya menyerahkan ponselnya kepada tangan Angga yang telah mengulur serta menengadah.
__ADS_1
Pacarnya beserta kedua sahabatnya, memperhatikan Angga serius dalam posisi lelaki pemilik indera keenam itu yang tengah seperti mencari atau menggali informasi sesuatu yang terkait jelas pada berita. Bola mata Angga begitu fokus membaca rentetan tulisan tentang mengenai peristiwa tersebut yang terjadi di lokasi dalam SD-nya yang menjerumus ke masa lalunya. Angga terus saja meng-scroll tanpa tergesa hingga di ujung bawah tulisan, Angga menemukan tiga foto berjejer seseorang tiga siswi yang telah masuk menjadi korban hilang misteriusnya.
Wajah tampang dingin Angga memang tidak sedikitpun menunjukkan ekspresi keterkejutan, namun hatinya yang kaget saat menatap ketiga foto anak kelas VI yang masing-masing mengenakan seragam merah putihnya walau yang terlihat hanya bagian atasnya saja. Tanpa sadar pun, Angga mencengkram ponsel milik sahabatnya.
“Yang benar saja.”
Ketiga remaja tersebut yang sibuk fokus menatap wajah dingin Angga, sontak menaikkan kedua alisnya secara bersamaan. “Kenapa, Ngga?!”
Angga tak menggubris kekagetan mereka yang jiwanya telah menggebu penasarannya. Kemudian setelah itu dengan cueknya, Angga mengembalikan ponsel tersebut ke tangan Reyhan. Reyhan yang kesal karena sahabatnya tidak menjawab, mendengus. “Jawab dong, Ngga!”
Angga memicingkan kedua mata sipitnya dengan menghela napas kasar. “Lo nggak bisa buat sabar sedikit?”
Bibir Reyhan terbungkam tanpa memudarkan muka sebalnya pada Angga, bahkan lelaki itu terus menatap sang sahabat Introvert. Sementara tangan si Angga menggapai pangkal hidungnya untuk memijat-nya. Matanya pun yang memicing juga ia pejamkan. “Mereka sama seperti di mimpi gue.”
“Hah?” Sungguh, Jova dan Reyhan tak mengerti apa yang dimaksud oleh Angga. Namun jika seperti Freya yang ada di sebelah pemuda tampan tersebut, sedang mencerna dan memikirkan ucapan apa yang dimaksud oleh dari kekasihnya.
“Mereka sama seperti di mimpimu? Oh, apa mungkin yang kamu maksud tadi .. kamu mimpi tentang mereka bertiga yang menghilang secara misterius itu sesuai apa yang disebarkan ke berita?”
Angga menatap Freya lalu menarik satu sudut bibirnya. “Kamu memang peka.”
Freya yang agak kaget, menutup mulutnya pelan dengan salah satu tangannya tanpa berpaling dari muka pacarnya. “Mimpinya kapan?”
“Tadi.” Angga menghembuskan napasnya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, kepalanya pun kembali menghadap depan macam semula. “Gue mimpi itu sekitar antara malam atau dini hari. Di sana gue berada di sebuah dalam bangunan sekolah, entah itu sekolah SD gue atau bukan karena saat gue melihatnya, tempat itu rusak parah alias terbengkalai.”
Angga menghentikan ceritanya sebentar untuk menundukkan kepalanya sedikit ke atas meja yang terdapat di situ ada mangkuk berisi Indomie kuahnya. “Di saat gue ingin melangkah menyusuri tempat koridor sekolah itu, tiba-tiba gue dipanggil oleh ketiga siswi berseragam merah putih SD. Tepatnya siapa sosok yang memanggil gue adalah hantu arwah. Tujuan mereka memanggil gue karena tiga hantu kelas enam itu ingin meminta bantuan pertolongan dari gue sendiri.”
Angga mendongakkan kepalanya menghadap depan dengan muka dinginnya. “Karena mereka yakin pasti, bahwa gue mampu menolong ketiga arwah gentayangan itu yang jasadnya sama sekali belum ditemukan.”
“Terus?” tanya Reyhan makin penasaran pada cerita Angga yang terdengar dan terkesan seru, nang padahal itu adalah sebuah mimpi faktanya.
“Tamat.”
“Bah? Segitu doang alur mimpinya? Gak ada yang lain selain itu??”
Angga mendengus jengkel pada pertanyaan Reyhan yang menghujani dirinya, hingga Angga memberikan tatapan tajamnya. “Lo itu sangat cerewet!”
“Hahahaha! Bener, Ngga! Cerewet kayak bebek yang berjalan di pinggir sawah!” hina Jova sambil bertepuk tangan bahagia.
Bola mata Reyhan melirik sinis Jova yang duduk di sampingnya. “Dasar cewek gesrek gak ngotak!”
Freya yang telah menyimak cerita mimpinya sang kekasih, melemparkan lontaran pertanyaan lembut padanya, “Apa mereka bertiga gak ada ucapan terakhir sebelum kamu bangun dari mimpi?”
“Ucapan terakhir mereka itu yang meminta bantuan sama aku. Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu dengan mereka bertiga tentang raganya yang sama sekali belum ketemu. Tetapi pertanyaanku yang akan ku lontarkan pada mereka langsung tertunda saat waktu ada hembusan angin kencang. Dan setelah deruan angin itu pergi, tiga hantu yang minta ditolong malah justru menghilang entah kemana.”
Freya manggut-manggut kepala paham setelah ditanggapi dan dijelaskan Angga detail. “Waduh, kematian mereka jadi misteri banget.”
Reyhan yang kedua jari salah satu dari tangannya mengetuk-ketuk meja kantin, sekarang menatap Angga dengan serius. “Berarti maksudnya elo lagi mempertimbangkan keinginan tiga arwah itu, lo mau menuruti atau enggak?”
Angga menganggukkan kepalanya. Beserta detik kemudian, lelaki Indigo tampan tersebut samar-samar menarik satu sudut bibirnya ke atas sekaligus menggelengkan kepalanya pelan. “Dulu masa pembullyan di tahun lalu. Dan sekarang masa pembunuhan di tahun sekarang, sekolah yang tidak mendidik dan bermutu.”
Reyhan melongo tak percaya sampai reflek mencondongkan kepalanya ke depan. “Ini Angga, kan? Sejak kapan itu anak mengatai sekolah SD-nya sendiri yang pembawa malapetaka?”
Jova yang dapat mendengar gumaman suara Reyhan, langsung memiringkan badannya untuk mendekatkan bibirnya di telinga Reyhan walau rada berjarak. “Sabarnya Angga sudah habis kali, Rey. Setiap orang, kan mempunyai batas kesabaran.”
“Hmm. Mungkin ...”
Freya yang memperhatikan suasana yang malah jadi hening, menggelengkan kepalanya kuat dan segera membuka suara untuk kedua sahabatnya begitu juga kekasihnya yang kembali diam bisu usai menurunkan sudut bibirnya sedia kala. “Sudah-sudah. Daripada mikirin yang enggak-enggak, dan membicarakan masa lampau, kita lanjutin yuk makan-nya. Nanti kalau kita gak selesai-selesai makan, bel malah udah bunyi terus di kelas kita masih kelaparan.”
Angga menolehkan kepalanya untuk memberikan tatapan wajah hangat teduhnya pada Freya lalu menganggukkan kepalanya satu kali. Rupanya tak hanya Angga saja yang pengertian dengan kekasihnya, tetapi Freya juga mampu hebat dalam pengertiannya terhadap seperti apa kondisi Angga. Dan kini sekarang mereka berempat yang masih berada di kantin, memutuskan buat menuntaskan kembali kegiatan makan serta minumnya bersama-sama yang sempat tertunda akibat sebuah berita kasus misterius tersebut nang beredar.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Rumah Anggara - Pukul Jam 19.00 PM
Di dalam kamar, Angga terlihat merenungkan pikirannya tentang kematian misterius dari ketiga arwah siswi SD tersebut yang meminta pertolongan sangat padanya. Angga merenungkan akan hal tersebut lebih intens dan dalam. Hingga kepalanya menoleh ke arah pintu balkon yang diketuk-ketuk pelan oleh seseorang dari luar sana.
Tanpa berdiam lama macam patung di situ, Angga segera bangkit dari pinggir kasurnya lalu mendatangi pintu balkon yang posisinya tertutup rapat. Setelah itu, dengan jiwa keberanian, Angga membuka pintu balkonnya dan langsung menemukan sesuatu dari lantai balkon luar. Terdapat sebuah tulisan angka yang menggunakan cairan darah.
00.00
Begitulah tulisan angkanya yang menyimpulkan sebuah pukul jam. Angga mengerutkan keningnya tak mengerti seraya menatap angka jam tersebut, dirinya berjongkok perlahan dengan terus melihat tulisan jam angka dari cairan darah gaib tersebut.
“Apa maksudnya?”
Baru saja akan mencerna apa yang dimaksud dari tulisan darah angka jam itu, tulisan tersebut langsung pudar dan menghilang dengan sendirinya. Angga yang menyaksikan gaibnya, menghembuskan napasnya kasar. Coba saja kalau Reyhan yang menyaksikannya, lelaki ramah itu akan berteriak-teriak ketakutan dan berlari kencang ke atas kasurnya lalu bersembunyi dalam selimut.
Angga beranjak berdiri dari jongkok-nya lalu menatap langit malam sebentar yang tak ada sedikitpun taburan para bintang di sana. Setelah menatapnya sejenak, Angga memutuskan kembali masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu balkon karena angin dingin menerpa sekujur tubuh postur tingginya.
Di dalam, Angga berhenti melangkah saat telah menemukan maksud dari tulisan gaib tersebut yang sudah hilang dengan sendirinya. Ya, itu adalah sebuah petunjuk dimana nanti tengah malam dirinya harus menemukan jasad mereka bertiga. Dimana? Sesuai naluri hatinya Angga...
SD Bakti Siswa JL. Simpang 07
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
__ADS_1
00.00 PM
Sungguh hebat meski sudah sangat larut malam, mata Angga masih terjaga dan tidak merasakan kantuk yang mendatang. Dirinya berangkat dari rumah sekitar pukul sebelas lewat empat puluh lima menit lalu, dan kini ia sekarang tengah mengendarai motornya di jalan kota yang terlihat begitu sepi. Mungkin ada beberapa kendaraan entah motor atau mobil yang masih berlalu lalang di atas jalan aspal.
Motor Angga terus melaju dengan mesin kecepatan lumayan tinggi hingga lelaki tampan tersebut yang tentunya pasti mengenakan helmnya untuk menjaga kepalanya dari kecelakaan, membelokkan kedua stang motor Honda Vario hitam matic pada ke arah kiri. Di situlah lokasi tempat bangunan sekolah SD-nya yang terletak di JL. Simpang 07
Pada detiknya sampai tujuan, Angga memarkirkan motornya di pinggir jalan SD Bakti Siswa. Belum turun dari motor, ia sudah merasakan hawa menyeramkan pada seluruh bangunan sekolah tersebut. Angga segera melepaskan helmnya yang terbungkus di kepalanya lalu ia gantungkan di atas kaca spion. Lantas, Pemuda yang memiliki paras wajah yang tampan serta memiliki kulit putih bersih tersebut mencabut kunci motornya dari tempatnya lalu memasukkannya di kantong saku jaket warna cokelatnya.
Setelah melangkah mendekati pagar kecil sekolah yang berkarat itu, Angga mengangkat tangannya untuk membuka pagar tersebut yang sama sekali tak digembok oleh penjaga sekolah. Tetapi alangkah kagetnya, pagar karat itu terbuka mendorong sendiri.
Angga menghembuskan napasnya amat pelan lalu langsung memasuki pagar besi berkarat tersebut. Di sini Angga tertuju pada sebuah lapangan Upacara bendera. Kedua kaki panjang Angga terus bergerak melangkah menyusuri tempat sekolah yang pernah ia juluki 'Tekanan Lahir Batin'.
Namun saat berjalan tegap menyusuri koridor-koridor sekolah, Angga melihat sebuah macam tiga permata putih kelap-kelip yang mengambang di atas udara. Angga menghentikan langkahnya, memperhatikan benda aneh tersebut hingga satu pikiran dalam otak dirinya muncul.
“Pasti ini adalah ketiga arwah para mereka yang sengaja menyamar benda seperti permata.” Angga tentu langsung tahu kalau itu adalah hantu ketiga siswi tersebut, karena secara datang dirinya bisa merasakan eksistensi aura beberapa makhluk gaib itu.
Di saat Angga sedang diam berdiri menatap mereka yang wujudnya macam permata putih nang bercahaya serta berkelap-kelip, mereka mengambang pergi meninggalkan manusia lelaki Indigo 17 tahun tersebut. Dengan segera, Angga melanjutkan langkahnya untuk mengikuti mereka bertiga.
Sepanjang tempuh perjalanan kaki yang Angga gunakan tanpa ada rasa lelah, dirinya kembali menghentikan langkahnya waktu mereka bertiga yang menyamar sebagai permata cahaya astral menghilang begitu saja saat berhenti di atas gundukan tanah kecil. Dan Angga baru sadar sekarang ia berada di belakang sekolah, lokasi peristiwa dimana dulunya ia dituduh banyak orang karena diduga membunuh Zhendy sahabatnya Gerald.
Tanpa memutar otak ke masa lalu yang membahayakan kehidupannya, Angga memilih melangkah mendekati gundukan tanah tersebut yang macam seperti tanah kuburan meski tak ada batu nisan di sana. Kepala Angga menunduk ke bawah untuk melihat detail gundukan tanah tersebut.
Di sinilah Angga merasa sangat curiga pada dalam gundukan tanah itu. Tanpa berpikir jangkau waktu yang lama, kepala Angga celingak-celinguk mencari alat sesuatu yang bisa menggali tanah gundukan kecil ini. Hingga kepala Angga berhenti menoleh ke sana kemari saat dirinya melihat sebuah cangkul yang berdiri tegak di pojok dinding batu bata.
Walaupun di sana begitu gelap karena ini sudah sangat malam, namun mata Angga yang penglihatannya begitu tajam masih mampu melihat keberadaan alat untuk merimbas tanah tersebut. Pemuda yang mengenakan alas kaki sepatu krem-nya, menghampiri cangkul itu dan mengambilnya dari sana.
Tanpa membuang waktu lebih, Angga cepat mendekati gundukan tanah tersebut lalu mulai mencangkul tanah itu untuk menggalinya dalam. Setelah sepuluh kali banyaknya dirinya memangkur, Angga mulai tak sengaja mencium bau aroma tak sedap alias busuk yang ada di dalam tanah tersebut nang telah ia gali berkali-kali hingga menjadi seperti liang lahat pemakaman Jenazah.
Mata Angga terbelalak terperangah apa yang ia lihat di dalam tanah tersebut. Terdapat jasad tubuh kaku berwarna kulit pucat pasi di antara beberapa siswi di sana yang keadaannya saling bertumpukan. Angga seketika juga langsung menutup hidungnya menggunakan satu telapak tangan bagian depan karena bau busuk menyengat dari tubuh tak bernyawa mereka semakin menjadi-jadi.
Tetapi tak ada gunanya juga Angga menutupi hidungnya tersebut secara terus-menerus agar tak dapat mencium bau busuknya. Angga harus lekas segera mengeluarkan jasad mereka semua dari dalam sana. Satu persatu dirinya tarik mereka keluar pakai tenaganya yang ia punya.
Setelah 5 menit, Angga berjaya mengeluarkan jasad mereka semuanya yang dalam kondisi amat tragis dan membaringkan ketiga siswi kelas enam tersebut yang nyawanya telah lama melayang secara berjejeran. Sosok lelaki yang Introvert macam Angga ini bisa merasakan iba melihat keadaan mereka yang telah tidak bernyawa lagi.
Baru hendak akan mengeluarkan ponselnya dari kantong celana jeans hitam bagian depan untuk segera menghubungi nomor polisi terdekat, Angga berhenti melakukannya saat dirinya mendengar suara cekikikan wanita yang terdengar menyeramkan, membuat tubuh Angga terpaku tak bisa berkutik di sana.
Dengan nyali yang telah kembali cepat terkumpul di jiwanya, Angga mencoba menolehkan kepalanya ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat sosok hantu arwah aura negatif sang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya merah. Memori otak Angga langsung terputar ke masa lalu dimana dirinya selalu diusik hidupnya oleh sosok tersebut saat masih kecil dan bersekolah di dalam bangunan ini. Bahkan hantu wanita itulah yang paling berkuasa di sekolah SD Bakti Siswa, jadi tak heran lagi kalau sekolah ini selalu menjadi biang masalah dan malapetaka. Karena sosok aura negatif ini selalu menginginkan tumbal dari siswa maupun siswi di sini.
Tapi sangat sayang sekali karena sosok arwah wanita itu yang bernama Matyda tidak bisa membunuh manusia Indigo seperti Anggara Vincent Kavindra, karena keberaniannya yang melekat di jiwa serta kekuatan Indigo-nya nang sangat luar biasa, membuat Matyda enggan menamatkan nyawa manusia lelaki tersebut yang telah tumbuh dewasa.
Spontan, Angga berdiri dari jongkok dengan menatap setengah terkejut pada Matyda yang berdiri di hadapannya meskipun berjarak. Angga sudah menduga wanita arwah yang menguasai bangunan sekolah keramat ini masih senantiasa bersinggah di tempat bangunan tersebut.
Matyda tanpa basa-basi, langsung mengangkat salah satu tangannya lalu menggerakkannya cepat seperti menghempaskan angin. Hal tersebut kekuatannya yang sosok hantu wanita itu kenakan pada Angga, membuat manusia Indigo terpental kuat hingga terpentok tembok batu bata.
Dengan satu gerakan langkah memarani Angga, Matyda cepat tiba pada dirinya secepat halilintar. Otomatis wajah Angga kini berdekatan dengan muka Matyda yang bentuknya menyeramkan setengah hancur di bagian wajahnya. Kini Matyda, meraba rahang pipinya Angga dengan tangannya yang memiliki jari berkuku panjang runcing.
“Oh, lihatlah. Betapa tumbuh dewasanya kamu, wahai Anggara Vincent Kavindra, hihihihihi!” bahagia Matyda karena sudah lama tidak memberikan penyiksaan pada manusia Indigo tersebut.
Angga berusaha menghindari arwah aura negatif itu yang kuku tajamnya tengah mengelus-elus pipi mulusnya. Bahkan karena Matyda tahu Angga ingin kabur dengan caranya, sosok wanita setengah iblis itu langsung beralih cepat mencekik leher Angga. Tangannya mengangkat ke atas hingga membuat kedua kaki Angga tak menapak di atas tanah melainkan mengambang di udara.
“Jangan berusaha untuk kabur dariku! Hei, meskipun kamu adalah anak Indigo tetapi aku bisa membaca pikiranmu itu. Dan, sudah lama kita tidak bertemu setelah kamu meninggalkan bangunan sekolah ini karena lulus. Boleh, dong aku menyiksamu malam ini karena sudah berani mengeluarkan jasad tiga anak tidak tahu diuntung itu!”
Angga kesulitan untuk berbicara dikarenakan saat ini lehernya di belenggu erat oleh tangan tenaga dahsyatnya Matyda. Hal tersebut suara pita Angga terhambat buat mengeluarkan suara. Yasudah biarlah dirinya disiksa seperti ini dan dilakukan apapun oleh arwah wanita itu, yang terpenting Angga telah menolong ketiga hantu siswi tersebut lepau menemukan raganya mereka. Karena jika saja Angga berkeputusan salah yaitu menolak dan mengacuhkan permintaan mereka, ketiga siswi usia 12 tahun makhluk astral itu akan dijadikan Matyda sebagai anak buahnya dimana mengubah aura mereka menjadi negatif dan berbuat kemaksiatan.
Usai menanti wajah tampan Angga yang memerah karena keterusan digencet lehernya hingga hampir kehabisan oksigen untuk kesekian kali, Matyda tersenyum miring yang menyatukan aura negatifnya. Dengan rasa tanpa kasihan dan tanpa tidak rela, tangan sosok makhluk tak kasat mata tersebut melempar tubuh Angga kencang ke samping secepat angin.
DUAKH !!!
Kepala Angga tepatnya keningnya berakhir membentur keras pada tembok batu bata pojok tempat belakang sekolah di bagian kanan. Raga lelaki tampan tersebut terjatuh ke tanah dengan pandangan sedikit berkunang-kunang, Angga mencoba untuk tetap kuat dan tetap sadar, namun sayangnya benturan keras itu menjalar menyerang kepalanya dimana cederanya masih ada di sana. Akhirnya usai berupaya bangkit dari baring, Angga kembali jatuh terbaring di tanah sementara kedua matanya telah terpejam hilang kesadaran.
Matyda yang melihat tubuh raga manusia Indigo itu tidak ada pergerakan sama sekalipun terlebihnya kedua matanya terpejam damai, membuat arwah wanita yang mengenakan kebaya merah itu tersenyum kemenangan. Lalu setelahnya, dirinya menghilang begitu saja.
Beberapa selang menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dua orang yang berjalan ke belakang sekolah. Rupanya itu adalah dua pria paruh baya petugas kebersihan sekolah, entah apa yang ingin beliau lakukan pada tengah malam begini. Di saat tengah mengobrol-ngobrol ringan untuk mengatasi kesenyapan suasana, dua pria paruh baya petugas kebersihan tersebut amat terkejut setengah bergidik ngeri tak sengaja menatap ketiga jasad siswi yang terbaring di atas samping tanah nang berlubang layaknya macam liang lahat kuburan.
Namun mereka dengan segera menepiskan rasa kengeriannya yang meliputi hatinya masing-masing lalu berlari kencang menghampiri raga siswi-siswi kelas VI yang telah hilang nyawa. Sudah tentu dua petugas kebersihan itu ingin muntah karena bau busuk tubuh kaku mereka.
“Astaghfirullah! Ini kan Fani, Bunga, dan Jesika! Kenapa mereka bisa ada di sini dengan kondisi yang mengenaskan seperti ini, Pak?!” panik pak Danu.
Pak Tian yang bekerja sama pada pak Danu sebagai bertugas kebersihan di lingkungan SD Bakti Siswa, meneguk ludahnya dengan susah payah seraya berjongkok menatap ketiga siswi yang mukanya telah sama-sama hancur. “Mereka kayaknya telah meninggal dunia, Pak. Tubuhnya mereka sudah kaku dan berwarna pucat pasi seperti mayat.”
Pak Danu dan pak Tian berpikir positif bahwa ada seseorang yang telah menemukan jasad ketiga siswi tersebut entah siapa. Kini pak Danu yang posisinya menyenter beberapa tubuh dari mereka pakai flash ponselnya, beralih memberikan sorotan cahaya ke arah lain barangkali selain mereka ada seseorang lagi di sekitar belakang sekolah ini. Benar! Memang ternyata ada seseorang di sana, namun keadaannya tergeletak lemah tak berdaya di atas tanah.
“Allahu Akbar!! Siapa yang terbaring di sana?!” pekik pak Tian seraya bangkit dari jongkok lalu berlari menghampiri anak remaja pemuda yang tergelimpang di pojok dinding batu bata tersebut di arah kanan.
Pak Tian cepat-cepat berjongkok balik di depannya pemuda tampan tersebut yang matanya terpejam. Beliau dengan segera menepuk-nepuk salah satu pipi Angga. “Mas! Mas! Bangun, Mas! Mas-nya tidur, pingsan, Koma, atau mati?!”
Dari belakang pak Danu memukul punggung tua temannya dengan agak kesal pada perkataan nada paniknya pak Tian. “Semuanya saja ditanya! Ada apa?!”
“Dua mata Bapak ada di belakang kepala?! Ini saya lagi bangunin mas-nya! Saya khawatir kalau anak ini kenapa-napa, soalnya saya bangunkan malah masih bergeming apalagi mukanya lumayan pucet! Bantu saya lah, Pak!”
Pak Tian berusaha kembali membangunkan Angga berharap segera membuka matanya dengan cara mengguncang-guncang tubuh Angga lumayan kencang usai beliau ubahkan posisi lelaki tersebut menjadi terlentang. Sementara pak Danu hanya diam saja karena merasa familiar pada anak muda 17 tahun yang kondisinya sangat tak berdaya itu apalagi meskipun raganya telah diguncang oleh pak Tian, lelaki tampan berambut hitam tersebut masih tetap bergeming tak merespon.
“Astaghfirullahaladzim, Pak Danu!! Diam saja seperti patung! Bantu anak ini, dong! Masa cuman diam saja di situ! Tidak merasa kasihan apa gimana?!” damprat pak Tian yang masih berupaya menyadarkan Angga.
__ADS_1
Kedua mata Angga tetap masih terpejam tenang dan juga tubuh lemas yang bergeming tak ada pergerakannya sama sekalipun, kendati ada dua pria paruh baya sang petugas kebersihan sekolah yang berusaha membangunkan dirinya dari hilang kesadarannya. Namun di sini, lelaki Indigo tersebut telah bermaslahat mengabulkan permintaan mohon arwah tiga siswi itu meski jasad mereka belum dimakamkan kepada tempat yang mustahak.
INDIGO To Be Continued ›››